Thursday, June 7, 2012

Candi Sari

Candi Sari merupakan salah satu situs peninggalan purbakala yang berada di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Candi Hindu ini kali pertama ditemukan sekitar 1967.
Bukit tempat Candi Sari berada dipercaya sebagai sumber mata air yang penting bagi kehidupan warga sekitar. Situs sejarah itu dikeramatkan oleh warga. Candi Sari dikelilingi beberapa desa yang warganya masih memegang kepercayaan dan menjaga kelestarian bangunan.

Desa yang mengelilingi antara lain Candirejo, Candisari dan Josari.

“Warga selalu menomorsatukan candi ini untuk diziarahi. Biasanya kalau mereka akan menyelenggarakan hajat, warga memberikan sesaji di candi ini,” jelas Wido Walyadi, juru kunci Candi Sari sejak 1970.

Sebelum diberi nama Candi Sari oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng, candi tersebut bernama Candi Sono. Sono berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti anjing. Disebut demikian karena konon dengan penglihatan gaib, candi tersebut merupakan kerajaan yang dijaga oleh seekor anjing berwarna hitam.

“Dulu kala, saat musim hujan, banyak warga yang terserang kutu anjing, padahal di daerah sini tidak ada anjing. Sehingga itu dipercaya dari anjing yang menunggui candi,” papar Wido.

Wido menceritakan pernah ada kasus warga yang tiba-tiba sakit setelah mengambil tanaman untuk pakan ternak di sekitar candi tanpa permisi.

Mitos yang berkembang, warga sering mendengar suara-suara tanpa rupa dari candi tersebut. “Biasanya setiap awal dan akhir bulan Sura, kalau dilihat secara gaib candi itu ramai. Pada Sura juga sering digelar wayangan,” jelasnya.

Di bukit tempat Candi Sari berada, terdapat sebuah pohon beringin besar yang bisa jadi penanda. Para pengunjung cukup mencari arah menuju pohon beringin .

“Masih banyak yang sering datang ke sana, niatnya macam-macam ada yang bersemedi juga mencari pusaka,” jelasnya. - Oleh : Nenden Sekar Arum N

*) SOLOPOS edisi Minggu Pon, 3 Juni 2012 hal. 1

0 comments:

Post a Comment