Selasa, 15 September 2015

Gedung Agung Yogyakarta

Selesai melihat bangunan cagar budaya GPIB Marga Mulya, perjalanan berikutnya menyaksikan bangunan kuno yang berhalaman luas. Bangunan tersebut, oleh masyarakat Jogja, dikenal dengan Gedung Agung.
Gedung ini terletak di Jalan Ahmad Yani No. 3 Kampung Ngupasan RT. 09 RW. 03 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gedung ini tepat berada di depan benteng Vredeburg, atau berada di sebelah utara BNI 46 dan di sebelah selatan GPIB Marga Mulya.
Seperti halnya Loji Besar (sekarang dikenal dengan Benteng Vredeburg), Loji Kebon juga menjadi saksi sejarah. Loji Kebon ini merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat Jogja pada waktu itu untuk menyebut Gedung Agung karena halaman luas yang dimiliki oleh rumah besar (loji) tersebut. Halaman yang luas tersebut, oleh masyarakat Jogja, kerap disebut dengan kebon.
Menurut catatan sejarah, Loji Kebon atau Gedung Agung ini dibangun pada Mei 1824 atas prakarsa Residen Belanda ke-18 di Yogyakarta, Anthonie Hendriks Smissaert. Pada waktu itu, sang residen mengajukan pembangunan gedung ini sebagai kediaman resmi atau rumah dinas bagi residen yang bertugas di Yogyakarta. Karena tidak mau kalah dengan wibawa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, maka pembangunan gedung ini pun juga tak kalah megahnya dengan kediaman Sultan Yogyakarta tersebut.


Dalam pembangunan gedung ini, Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Godert Alexander Gerard Phillip Baron van der Capellen (1816-1826), menunjuk langsung seorang arsitek bernama Antonie Auguste Joseph Payen. Payen adalah seorang arsitek berkebangsaan Belgia yang gemar melukis dan membuat litografi. Ia lahir di Brussel pada 12 November 1792. Setelah lulus arsitek di Doomik Belgia, kemudian ia menjadi murid di studio H. Van Assche di Brussel. Lalu, ia ditunjuk sebagai pelukis untuk Natural Sciences Commision di bawah Prof. C.G.C. Reinwardt, dan berkesempatan melakukan perjalanan ke Jawa, Maluku dan Sulawesi. Tiba di Hindia Belanda pada tahun 1817, dan tinggal di Bogor. Pada waktu tinggal di Bogor, Payen mendapat kepercayaan untuk membuat rancangan guna merenovasi Istana Bogor.
Setelahnya, Payen mendapat kepercayaan lagi dari Gubernur Jenderal untuk merancang sebuah kediaman resmi residen di Yogyakarta. Pengalamannya di Bogor, menginspirasi Payen dalam mendesain Loji Kebon dengan suasana taman yang luas seperti Istana Bogor. Selain sebagai arsitek, Payen dikenal juga sebagai guru dari Raden Saleh, dan membantu Raden Saleh mencarikan beasiswa dari pemerintah untuk belajar seni selama dua tahun di Belanda. Kembali ke Eropa pada tahun 1826. Selama di Hindia Belanda, ia berhasil membuat sekitar 500 lukisan, dan menulis mengenai Hindia Belanda. Tulisannya memberi informasi penting bagi Hindia Belanda selama beberapa periode. Sebuah koleksi besar dari pekerjaannya adalah di Volkendundig Museum (National Museum of Ethnology) di Leiden. Ia meninggal di Doomik, Belgia, pada 18 Januari 1853.
Pembangunan gedung ini sempat tertunda karena terjadinya Perang Jawa (1825-1830). Perang gerilya yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya, nyaris membuat Pemerintah Hindia Belanda mengalami kebangkrutan. Sehingga, pembangunan gedung tersebut terbengkelai. Baru dilanjutkan kembali setelah berakhirnya perang tersebut, dan selesai pada tahun 1832. Pada 10 Juni 1867, gedung ini mengalami rusak parah akibat gempa bumi yang melanda Yogyakarta, dan dipugar kembali pada tahun 1869.
Pada 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi di mana gubernur menjadi penguasa tertinggi. Dengan demikian, gedung tersebut menjadi kediaman para gubernur Belanda di Yogyakarta. Beberapa gubernur Belanda yang pernah mendiami gedung ini, adalah J.E. Jesper (1926-1927), P.R.W. van Gesseler Verchuur (1929-1932), H.M. de Kock (1932-1935), J. Bijlevel (1935-1940), sampai pada L. Adam (1940-1942).
Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan  untuk kediaman petinggi Jepang bernama Kooch Zimmukyoku Tyookan. Kemudian, setelah Jepang hengkang dari Yogyakarta, pada tanggal 29 Oktober 1945 gedung ini digunakan untuk Kantor Komite Nasional Indonesia. Namun, sejak 6 Januari 1946, gedung ini resmi menjadi Istana Kepresidenan Republik Indonesia bertepatan dengan dijadikannya Yogyakarta sebagai ibukota sementara pada waktu itu. Ketika Presiden dan Wakil Presiden sudah kembali ke Jakarta pada 28 Desember 1949, gedung ini digunakan untuk menerima tamu-tamu para petinggi RI pada waktu ingin mengunjungi Yogyakarta. Oleh karena itu, masyarakat Jogja menyebutnya dengan Gedung Agung, yaitu sebagai tempat penerimaan tamu-tamu agung. Begitu pula halnya dengan keberadaan Presiden Soekarno beserta keluarga yang pernah tinggal dan berkantor di gedung ini, maka gedung ini juga mendapat julukan sebagai Istana Kepresidenan Yogyakarta.
Gedung yang berdiri di atas lahan seluas 43.585 m² ini memiliki banyak ruangan, namun dilihat dari arsitekturnya terlihat bahwa gedung ini memiliki langgam Indische Empire Style. Gaya rumah Indische serta gaya dari kebun yang menyertainya diadopsi dari gaya arsitektur yang berkembang di Perancis pada abad ke 17 dan 18. Gaya ini merupakan tiruan dari gaya aristokratik kalangan atas orang-orang Eropa. Kebanyakan yang membangun rumah tersebut adalah para pejabat VOC di Hindia Belanda. *** [160815]

0 komentar:

Posting Komentar