Sabtu, 10 Juni 2017

Masjid Paromosono Surakarta

Baluwarti merupakan sebuah kelurahan yang berada di Kecamatan Pasar Kliwon. Kelurahan ini memiliki keunikan dibandingkan dengan semua kelurahan yang ada di Kota Solo, karena berada di dalam tembok Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Hal ini selaras dengan asal muasal baluwarti itu sendiri. Baluwarti berasal dari bahasa Portugis ‘baluarte’ yang berarti benteng, dalam bahasa Jawa artinya tembok istana.
Karena itu, di wilayah kelurahan ini banyak peninggalan kuno yang berhubungan dengan keberadaan kraton tersebut, seperti dalem para pangeran, abdi dalem, sekolah maupun masjid. Salah satunya masjid yang masih berbentuk bangunan lawas tersebut adalah Masjid Paromosono. Masjid ini terletak di Jalan Sasono Mulyo, Suronatan RT. 01 RW. 02 Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi masjid ini berada di sebelah timur Sasono Mulyo, atau sebelah barat Kori Brojonolo Lor.


Masjid Paromosono merupakan masjid Kagungan Dalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) II, bersamaan dengan kepindahan Kraton Kartasura ke Desa Sala 17 Februari 1745. Sebelum masjid nagari (Masjid Agung Surakarta) berdiri, terlebih dahulu dibangun Masjid Paromosono. Hal ini dilakukan untuk memberikan tempat beribadah bagi para abdi dalem  dan kerabat kraton yang memeluk agama Islam, yang tinggal di dalam lingkungan tembok istana.


Konon yang memberi nama masjid ini diserahkan kepada abdi dalem suronoto. Abdi dalem suronoto merupakan bagian dari abdi dalem Istana (Kraton) atau abdi dalem lebet, yang bertugas sebagai ulama kerajaan. Abdi dalem suronoto (ulama) ini sering menyertai raja bila bepergian yang berkenaan dengan pemberian doa pada setiap upacara yang dilakukan oleh pihak kraton. Seperti halnya dengan kedudukan abdi dalem yang lainnya,  abdi dalem suronoto juga mendapat tempat tinggal di Baluwarti, yaitu berupa tanah pemberian dari raja yang terletak di dekat Masjid Paromosono. Oleh karena itu, daerah tersebut kemudian dikenal dengan Kampung Suronatan.


Masjid Paromosono ini tidak memiliki lahan parkir yang cukup, karena di sebelah baratnya adalah garasi kereta kuda milik Kraton, sebelah selatannya adalah Jalan Sasono Mulyo, sebelah utaranya berupa permukiman magersari yang cukup padat, dan sebelah timurnya merupakan jalan menuju ke Kampung Surmulyo (Suronoton dan Sasono Mulyo).
Masjid Paromosono ini memiliki bangunan atau ruangan utama berada di tengah dan diapit oleh dua ruangan lainnya. Ruangan yang berada di selatan ruangan utama digunakan untuk Tempat Pendidikan Al Qur’an (TPA), sedangkan ruangan yang berada di sebelah utara ruangan utama digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang milik masjid. Teras atau seambi masjid berada di sebelah timur ruangan utama. Di teras tersebut ditempatkan sebuah bedug, dan di sebelah timur bedug merupakan tempat wudlu bagi warga yang akan menunaikan shalat.
Di antara teras yang menghubungkan ke bangunan utama terdapat tiga pintu di mana pintu yang tengah lebih besar ketimbang dua pintu sebelahnya. Selain itu, di tengah-tengah teras terpasang lampu gantung warna keemasan yang bercorak klasik.
Dalam Sistem Informasi Masjid (Simas) milik Kementerian Agama Republik Indonesia diketahui, bahwa Masjid Paromosono ini masuk tipologi masjid bersejarah dengan ID 01.5.14.31.000027, yang mempunyai luas bangunan 600 m² yang berdiri di atas lahan seluas 1000 m².  Dulu, pengelolaan masjid ini dilakukan oleh abdi dalem suronoto namun sekarang telah dikelola oleh Takmir Masjid yang umumnya merupakan warga dari Kampung Suromulyo. *** [300814]

Kepustakaan:
http://simas.kemenag.go.id/index.php/search/?provinsi_id=14&kabupaten_id=220&kecamatan_id=3179&tipologi_id=6&keyword=pasar+kliwon&filter=FILTER
http://www.kerajaannusantara.com/id/surakarta-hadiningrat/rumahtangga/

0 komentar:

Posting Komentar