Saturday, July 28, 2018

Pasareyandalem Kyai Ageng Henis Laweyan

Saat ambil libur kemarin bertepatan ada acara jelajah Kampoeng Batik Laweyan yang diselenggarakan oleh komunitas Soerakarta Walking Tour (Sabtu, 21/07), sehingga saya pun berkesempatan mengikutinya. Sesuai tema jelajah, maka lokasi yang disasar adalah Kampoeng Batik Laweyan yang kaya akan sejarah. Bahkan sejarahnya ada yang lebih tua keberadaannya dari Kota Surakarta, atau Kota Solo itu sendiri.
Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Pasareyandalem Kyai Ageng Henis. Pasareyan ini terletak di Jalan Liris, Kampung Belukan RT. 04 RW. 04 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi pasareyan ini berada di belakang Masjid Laweyan, atau sebelah barat daya Jembatan Laweyan.
Kata pasareyan diambil dari bahasa Jawa yang artinya kuburan atau makam. Namun, ketika kata pasareyan itu digandengkan dengan kata dalem maka pengertiannya menunjukkan bahwa kuburan atau makam tersebut bukanlah sembarang makam pada umumnya. Karena dalam penggunaan bahasa Jawa yang memakai gandengan dengan kata dalem, umumnya merupakan penggunaan bahasa Jawa yang berasal dari kedaton atau kraton. Hal ini disebabkan karena yang bersemayam di makam tersebut masih ada kaitannya dengan trah kraton. Jadi, yang dimaksud dengan Pasareyandalem Kyai Ageng Henis itu menunjuk kepada makam Kyai Ageng Henis.


Kyai Ageng Henis, atau terkadang disebut juga Ki Ageng Enis (ada pula yang menyebutnya Kyai Ngenis, adalah putra Ki Ageng Sela (keturunan langsung Bhre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V, raja terakhir Majapahit) dengan Nyai Bicak yang merupakan putri Ki Ageng Ngerang (Sunan Ngerang I, keturunan dari Maulana Maghribi II).
Kyai Ageng Henis mempunyai putra Ki Ageng Pemanahan yang berputra Sutawijaya, yang akhirnya menjadi Panembahan Senopati, yakni pendiri Kerajaan Mataram Islam. Ketika menjadi punggawa di Kadipaten Pajang, Ki Ageng Henis dianugerahi tanah perdikan Laweyan, hingga ia dianggap sebagai cikal bakal masyarakat Laweyan. Penduduk setempat menganggap Kyai Ageng Henis adalah orang sakti (linuwih), karena ia keturunan Ki Ageng Sela yang terkenal bisa ‘menangkap’ petir.
Kyai Ageng Henis ini juga mempunyai julukan Kyai Ageng Laweyan atau Manggala Pinituwaning semasa Jaka Tingkir berkuasa menjadi Adipati Pajang.
Ki Ageng Henis, memang dianggap sebagai salah seorang leluhur Raja-raja Mataram yang merupakan keturunan Brawijaya V, yang tentu memperoleh gelar kehormatan nama “Ki Ageng”, karena memiliki arti sebagai tokoh besar keagamaan dan pemerintahan yang dihormati dan memiliki kelebihan, kemampuan dan sifat-sifat kepemimpinan masyarakat.


Kyai Ageng Henis dulunya beragama Hindu Jawa, namun semenjak singgahnya Sunan Kalijaga di daerah ini ketika hendak menuju Kadipaten Pajang, Kyai Ageng Henis pun kemudian masuk Islam. Setelah menyatakan masuk Islam dan menjadi murid Sunan Kalijaga. Ki Ageng Henis (nama sebelum memeluk agama Islam) itu akhirnya dididik dengan agama Islam dan ilmu yang tinggi oleh Sunan Kalijaga. Pada akhirnya Ki Ageng Henis menjadi orang yang waskita. Bahkan Ki Ageng Henis menjadi ulama yang derajatnya menyerupai wali.
Kemudian Ki Ageng Henis yang mendapat sebutan sebagai Kyai Ageng Henis mendapat tugas dari Sunan Kalijaga untuk mensyiarkan agama Islam di tlatah Pajang. Dalam berdakwah, Kyai Ageng Henis menerapkan cara-cara seperti yang dilakukan oleh gurunya, Sunan Kalijaga, yang membumi tanpa kesan menggurui, dengan damai, masuk akal dan penuh welas asih sangat mengena di hati masyarakat yang pada saat itu banyak memeluk agama Hindu.
Dari cara inilah akhirnya mengantarkan Kyai Ageng Henis dapat menjalin persahabatan dengan Ki Ageng Beluk, seorang pendeta agama Hindu di Laweyan yang cukup berpengaruh, yang di kemudian waktu membuahkan hasil yang tidak disangka-sangka. Dengan suka rela Ki Ageng Beluk menasbihkan diri masuk Islam dan menyerahkan pura miliknya pada Kyai Ageng Henis untuk diubah menjadi sebuah masjid (sekarang bernama Masjid Laweyan).


Masjid yang akhirnya menjadi sentra dakwah dan seiring berjalannya waktu dari masjid tersebut berdirilah pesantren yang mempunyai santri lumayan banyak. Saking banyaknya santri yang menimba ilmu kepada Kyai Ageng Henis, pesantren tersebut selalu menanak nasi untuk keperluan makan para santrinya, hingga menimbulkan ‘beluk’ atau asap dari dapur pesantren. Oleh karena itu kemudian daerah itu dikenal dengan Kampung Belukan.
Kyai Ageng Henis adalah tokoh negarawan sekaligus ulama yang mempunyai integritas tinggi yang mempunyai pemikiran maju ke depan. Ia tidak hanya berpikir mengenai akherat saja, namun diseimbangkan dengan kehidupan dunia. Para santri yang jumlahnya semakin banyak tidak hanya melulu diajarkan mengenai ilmu agama, namun juga kegiatan yang akhirnya akan memberikan kemapanan dari segi ekonomi keluarganya. Di Laweyan, selain berdakwah, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan bagaimana cara membatik.
Setelah Kyai Ageng Henis meninggal pada tahun 1503, ia dimakamkan di belakang Masjid Laweyan di mana ada kompleks makam kerabat Kadipaten/Kraton Pajang yang beberapa tokoh dan petinggi kerajaan dikebumikan di sana. Sepeninggal Kyai Ageng Henis, cucunya yang bernama Sutawijaya atau yang biasa disebut Raden Ngabehi Loring Pasar menempati rumahnya. Cucu inilah yang akhirnya menjadi raja pertama di Kerajaan Mataram.
Rombongan Soerakarta Walking Tour memasuki kompleks makam Kyai Ageng Henis melalui gapura berbentuk paduraksa yang berada di selatan halaman Masjid Laweyan. Area pertama dari kompleks makam yang terjamah adalah sebuah lahan yang sebagian digunakan oleh kediaman juru kunci dari makam tersebut. Area pertama ini dikelilingi oleh empat gapura paduraksa, namun yang dilengkapi dengan gebyok pintu hanya dua buah, yaitu yang berada di sebelah timur atau menghadap ke Jalan Liris, dan yang berada di sebelah selatan. Sedangkan, gapura yang berada di sebelah barat dari area pertama ini merupakan gapura untuk masuk ke bagian area kedua yang terdapat dalam kompleks makam itu.


Di dalam area kedua ini, peserta rombongan dapat menjumpai sebuah pendopo yang konon diangkat dari pindahan Kraton Kartasura ketika kompleks makam ini direnovasi secara besar-besaran oleh Paku Buwono X. Sebelum direnovasi, kompleks makam ini terkesan sebagai pemakaman umum biasa. Tiada terkesan kemegahannya sebagai sebuah kompleks makam leluhur Raja-raja Mataram.
Pendopo Makam Kyai Ageng Henis ini memiliki bangunan utama seluas 93,96 m² dan dibangun dengan konstruksi tradisional berupa atap joglo. Seluruh rangkaian dari pendopo makam itu terbuat dari kayu jati yang berasal dari hutan Donoloyo yang terkenal memiliki kualitas dan kekuatannya. Sejak didirikan mulai tahun 1745, seluruh elemen kayu yang terpasang belum pernah diganti.
Di sebelah utara pendopo makam terdapat bangunan paseban berbentuk limasan yang multiguna. Mulai dari tempat untuk meletakkan jenasah sebelum masuk ke liang lahat maupun untuk tempat istirahat bagi mereka yang gemar melakukan tetirah di kompleks makam tersebut. Di sebelah barat dan timur dari paseban ini terlihat beberapa makam tua.


Setelah menginjakkan kaki di area kedua, peserta rombongan melanjutkan ke area ketiga. Mereka melintasi jalan setapak yang diapit di antara pendopo dan paseban melalui pintu gerbang paduraksa yang berada di sisi barat dari area kedua ini.
Di area ketiga ini, peserta rombongan akan dimanjakan oleh ribuan nisan kuno yang umumnya terbuat dari batu andesit berwarna hitam. Namun umumnya dari nisan-nisan tersebut jarang memuat tulisan untuk jasad siapakah yang dimakamkan di sana. Barangkali sudah terlalu aus dimakan usia, atau memang tidak diberi tulisan, mengingat dulunya di sekitar kompleks makam ini menjadi pusat dakwah agama Islam di Laweyan.
Setelah melintas area ketiga dan melewati pintu gerbang paduraksa terakhir ini, sampailah peserta rombongan ke dalam area keempat yang merupakan area utama dari kompleks makam tersebut. Karena di dalam area ini disemayamkan sejumlah orang-orang ‘ageng’, ‘agung’, ‘trahing kusuma rembesing madu’, di antaranya terdapat makam Kyai Ageng Henis, Paku Buwono II, Permaisuri Paku Buwono V, Pangeran Widjil I Kadilangu (Pujangga Dalem Paku Buwono II-Paku Buwono III), Nyai Ageng Pati, Nyai Ageng Pandanaran, GPH Prabuwonoto (anak bungsu dari Paku Buwono IX, Kyai Ageng Proboyekso, dan lain-lain.


Di dalam area keempat ini, peserta rombongan juga bisa menyaksikan pohon nagasari yang tergolong tanaman langka, usianya sudah ratusan tahun lebih. Konon, usia pohon tersebut sama dengan keberadaan kompleks makam tersebut.
Kompleks makam Kyai Ageng Henis yang memiliki lahan seluas satu hektar ini terdapat sekitar 4.000 makam. Pada hari dan bulan tertentu, makam Kyai Ageng Henis ini akan banyak dikunjungi oleh peziarah baik dari Kota Solo maupun dari luar Solo. Mereka umumnya melakukan ziarah kubur untuk mendoakan para arwah yang bersemayam di dalam kompleks makam tersebut, tetapi ada pula berziarah dalam pengertian laku seperti tirakat dan sebagainya. Peziarah yang demikian ini umumnya memilih mengunjungi makam pada malam maupun dini hari karena memilih saat suasana sepi dan hening.
Eksistensi Pasareyandalem Kyai Ageng Henis menunjukkan sesuatu yang bersifat penting untuk perkembangan heritage karena kompleks makam tersebut memiliki landasan historis maupun arkeologis. Oleh karena itu, melalui Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta Nomor 646/116/I/1997 kompleks makam Kyai Ageng Henis ditetapkan sebagai cagar budaya dengan nomor 01 63/F/Lw/2012. Dengan demikian, kompleks makam Kyai Ageng Henis ini dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. *** [210718]

Kepustakaan:
Novitasari, L.N, Santi, M.Y. & Shubhan, N.B. (2017). Momen Sambungan Purus Takian Pada Struktur Pendopo Ki Ageng Henis Surakarta. https://caridokumen.com/download/mekanika-teknik-bangunan-pada-pendopo-masjid-agung-laweyan-surakarta-_5a46c595b7d7bc7b7a1dcfa1_pdf
Shodig, Fajar. (2017). Kyai Ageng Henis Dalam Sejarah Industri Batik Laweyan Surakarta. https://media.neliti.com/media/publications/61344-ID-kyai-ageng-henis-dalam-sejarah-industri.pdf

0 comments:

Post a Comment