The Story of Indonesian Heritage

Situs Bandar Kabanaran

Usai eksplorasi Dalem Djimatan, rombongan peserta Jelajah Kampoeng Batik Laweyan (Sabtu, 21/07) melanjutkan perjalanan menuju sebuah peninggalan sejarah yang ada di Laweyan lainnya, yaitu Situs Bandar Kabanaran.
Situs ini terletak di Jalan Nitik, Kampung Kidul Pasar RT. 04 RW. 01 Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi situs ini berada di dekat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bandar Kabanaran Kampoeng Batik Laweyan, atau di sebelah utara makam Kyai Haji Samanhoedi.
Bandar Kabanaran ini merupakan sebuah bandar yang berkembang pada masa Kerajaan Pajang yang berada di tepi Sungai Jenes, anak Sungai Bengawan Solo. Sungai Jenes berhulu di lereng Gunung Merapi dan bermuara di Sungai Bengawan Solo dekat Jembatan Mojo.
Keberadaan Sungai Jenes di Situs Bandar Kabanaran itu juga sekaligus menjadi pembatas antara wilayah Kota Solo dengan Kabupaten Sukoharjo, karena di sisi sebelah selatan sungai masuk wilayah adminstratif Kelurahan Banaran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.


Dahulu masyarakat setempat menyebut sungai ini sebagai Sungai Kabanaran. Pada masa lalu, sungai itu merupakan jalur utama transportasi dan perdagangan yang terhubung langsung ke Sungai Bengawan Solo. Sehingga, Bandar Kabanaran ini dulunya digunakan sebagai penghubung lalu lintas perdagangan dari pedalaman Jawa menuju bandar besar Nusupan maupun Semanggi yang berada di tepian Sungai Bengawan Solo.
Semenjak Bumi Laweyan diberikan kepada Kyai Ageng Henis oleh Raden Patah, penguasa Kerajaan Demak Bintoro, sebagai tanah perdikan, daerah ini menjadi berkembang dan menonjol. Tidak hanya sebagai sentra dakwah agama Islam di Jawa bagian selatan, akan tetapi Laweyan juga berkembang menjadi pusat perekonomian batik terkemuka pada waktu itu. Hal ini karena didukung oleh keberadaan Sungai Jenes dan kedekatan secara geografis dengan Bandar Kabanaran yang menjadi penentu berkembangnya Pasar Laweyan.
Dulu, Pasar Laweyan merupakan salah satu pasar yang cukup ramai. Ketika Kerajaan Pajang lahir, pasar ini menjadi penyokong utama kegiatan perdagangan yang ada di Laweyan, atau tlatah Kerajaan Pajang. Jaraknya yang hanya sekitar 100 meter dari Bandar Kabanaran menjadikan Pasar Laweyan terus tumbuh dan berkembang.


Laweyan yang banyak menghasilkan tanaman kapas kala itu mampu menghasilkan kain mori maupun kain batik untuk diperdagangkan dengan daerah lain. Setiap hari dari Laweyan melalui Bandar Kabanaran diangkut oleh perahu-perahu yang tertambat di Bandar Kabanaran menuju ke Bandar Nusupan untuk selanjutnya diangkut oleh perahu yang lebih besar menuju ke Bandar Gresik, dan sebaliknya komoditas dari daerah lain pun juga berdatangan ke Laweyan setelah berganti perahu di Bandar Nusupan.
Kemuduran Bandar Kabanaran sebagai pelabuhan sungai terkemuka di Laweyan disebabkan oleh semakin berkurangnya debit air akibat pendangkalan yang dialami oleh Sungai Jenes. Sungai yang pernah menjadi jalan publik tanpa kemacetan itu mengecil perannya seiring surutnya volume air yang ada di sungai tersebut. Selain itu, lambat laun pula peran Sungai Jenes tergerus oleh adanya infrastuktur jalan yang bernama Jalan Dr. Rajiman sejak pindahan kraton dari Kartasura menuju Surakarta, dan dibangunnya jalur rel kereta api oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij dari tahun 1870 sampai dengan 1872. Situasi dan kondisi yang demikian menyebabkan para pengusaha dari Laweyan pun akhirnya memindahkan moda transportasi bagi usaha dagangnya kepada sarana transportasi yang lebih modern.
Kini, Bandar Kabanaran sudah tidak berbekas lagi. Tak ada bekas fisik yang tersisa maupun aktivitas bongkar muat perahu-perahu lagi. Peserta rombongan tinggal menyaksikan sebuah alur sungai yang dangkal dengan airnya yang berwarna hitam pekat serta bau yang menyengat.
Jika tidak ada papan nama bertuliskan Situs Bandar Kabanaran, mungkin orang-orang yang melintas di situ tidak akan pernah tahu bahwa di lokasi itu dulunya ada sebuah bandar atau pelabuhan sungai yang cukup ramai dan memainkan peran penting sebagai urat nadi perekonomian di Laweyan pada khususnya maupun tlatah Kerajaan Pajang pada umumnya. *** [210718]

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami