Selasa, 29 Mei 2012

Museum Rajekwesi

Diawali dengan mengumpulkan benda-benda bersejarah temuan dan hibah dari warga masyarakat dan ditempatkan di halaman gedung lingkungan kantor kabupaten sehingga keberadaan benda-benda tersebut amat rawan hilang dan rusak. Maka atas usul kerjasama antara Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Daerah Kabupaten Bojonegoro dan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bojonegoro, dikumpulkan dan ditata benda-benda tersebut di suatu gedung lingkungan Kantor Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Bojonegoro yang difungsikan sebagai museum dan diberi nama museum “Rajekwesi” sampai sekarang ini.


Museum sederhana yang di dalamnya menyimpan prasasti cikal bakal Kabupaten Bojonegoro,  didirikan pada tahun 1992. Museum dengan luas bangunan sekitar 8 meter x 26 meter itu terletak di samping Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, tepatnya di Jalan Patimura No. 9 Bojonegoro.


Di dalam museum terdapat tiga ruangan. Ruang Pajang di depan yang menyimpan koleksi benda-benda purbakala, ruang tengah menyimpan koleksi benda-benda zaman sejarah klasik dan ruang belakang yang menyimpan koleksi etnografi. Fosil purbakala yang disimpan di antaranya fosil kepala gajah dengan panjang 37 cm, lebar 25 cm, dan tebal 20 cm. Fosil kepala gajah ini diperkirakan pernah hidup satu juta tahun yang lalu itu ditemukan di Dukuh Poh, Desa Jawik, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro.



Koleksi benda masa sejarah klasik atau sekitar 10 ribu tahun yang lalu juga cukup banyak. Ada arca Siwa yang terbuat dari bahan batu andesit menemani arca Ganesa yang sedang bersila. Kondisi arca Siwa dan Ganesa itu terawat dengan baik. Koleksi benda bersejarah lainnya yang tidak kalah penting adalah keris pulanggeni pada masa kerajaan Majapahit. Keris itu dibuat oleh Empu Ki Supo ketika mendampingi Raja Jayanegara saat melarikan diri ke daerah Bedander – sekarang dikenal sebagai Dander, salah satu kecamatan di Bojonegoro.



Raja Jayanegara mengungsi ke Bedander karena ada pemberontakan Semi dan Kuti. Keris pulanggeni itu tersimpan rapi di museum itu. Salah satu koleksi yang menjadi penanda cikal-bakal Kabupaten Bojonegoro juga tersimpan di sini. Prasasti Adan-Adan yang berupa tulisan Jawa Kuno pada 17 lempengan tembaga ditemukan di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, pada tahun 1992. Prasasti itu diperkirakan ditulis pada 1.300 tahun lalu pada masa kerajaan Majapahit. Prasasti itu menyebutkan tentang adanya Kadipaten Rajekwesi yang menjadi cikal-bakal Kabupaten Bojonegoro. *** [080512]

4 komentar:

  1. sugeng rahayu,

    perkenalkan nama saya pungky hoesni

    saya ingin bertanya, apakah dulu di Rajegwesi ini ada seseorang Penghulu Besar yang bernama Kiai Noer Iman ? dan ketika itu Bojonegoro diperintah oleh bupati R.T. Prawirodirdjo

    terimakasih banyak atas bantuannya

    salam hormat,
    pungky hoesni

    BalasHapus
  2. Mohon maaf sebelumnya atas keterlambatan membalas comment dari Bapak? Saya masih kesulitan untuk menjawab pertanyaan Bapak, karena ketika saya mengunjungi museum tersebut, memang sedang "hangat-hangatnya" arkeolog menanyakan translate komperhensif dari Prasasti Adan-Adan.
    Namun demikian, saya sangat menyukai pertanyaan Bapak mengenai hal ini? Saya jadi ingin mengetahui lebih lanjut sejarah Bojonegoro? Semoga saya segera mendapatkan data mengenai pertanyaan Bapak? Sakderengipun nyuwun pangapunten ingkang sak ageng-agengipun.

    BalasHapus
  3. Kok selama ini saya belum pernah denger ya? apakah museum ini dinuka untuk umum?

    BalasHapus
  4. Informasi yg salah sekali. Bedander bukan berarti kecamatan Dander yg berada di selatan Kota Bojonegoro, tetapi ada salah satu desa di sebelah selatan Babat Lamongan. Di situ lebih masuk akal karena pusat Kotaraja Majapahit ada di Mojokerto sekarang, jadi kalau Bedander yg antara Babat dan Jombang lebih tepat yg dahulu lokasi pelarian Raja Majapahit.

    BalasHapus