Minggu, 24 Juni 2012

Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik terletak di Jalan Pos Kota No. 2 Jakarta Barat, yang termasuk di kawasan Kota Tua Kota Jakarta dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 sampai 15 menit dari stasiun kereta api Jakarta Kota (Beos) maupun terminal busway Jakarta Kota.


Museum ini merupakan salah satu museum yang menempati bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua Jakarta. Gedung Seni Rupa dan Keramik yang merupakan hasil karya arsitek atau Hoofd Ingenier Jhr. W.H.F.H. Van Raders ini dibangun pada tahun 1870. Bangunan ini mempunyai ciri arsitektur gaya Neo Klasik. Pada awalnya gedung ini digunakan sebagai Lembaga Peradilan Tertinggi Belanda (Raad Van Justitie Binnen Het Casteel Batavia) 21 Januari 1870, pada masa Batavia diperintah oleh Gubernur Picter Mijer. Pada masa pendudukan Jepang dan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung ini dijadikan sebagai asrama NMM (Nederlandsche Mission Militer) oleh tentara KNIL. Pada masa kedaulatan Republik Indonesia diserahkan kepada TNI dan dimanfaatkan sebagai gudang logistik. Selanjutnya pada tahun 1970 – 1973 digunakan sebagai kantor Walikota Jakarta Barat.
Pada tahun 1974 dilakukan renovasi atau pemugaran gedung kemudian digunakan sebagai Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Atas gagasan Wakil Presiden Adam Malik, tanggal 20 Agustus 1976 diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto. Di dalam gedung ini terdapat Museum Keramik yang diresmikan oleh Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) pada tanggal 10 Juni 1977.
Semenjak tahun 1990 Balai Seni Rupa digabung dengan Museum Keramik menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik. Sesuai dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 475 Tahun 1993 tentang Penetapan Bangunan-Bangunan Bersejarah di DKI Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya dan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya, Museum Seni Rupa dan Keramik termasuk ke dalam golongan A. Bangunan ini dilindungi oleh Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0128/M/1998.

Koleksi Museum
Sesuai dengan namanya, museum ini memiliki 2  jenis koleksi berupa koleksi seni rupa dan koleksi keramik. Museum ini memiliki 500-an karya seni rupa terdiri dari koleksi lukisan, sketsa, patung dan totem kayu. Koleksi lukisan tertua berupa lukisan Bupati Cianjur karya R. Saleh Syarif Bustaman (1801-1880). Dari masa Mooi Indie (1908-1936) terdapat koleksi lukisan yang mengacu pada keindahan karya Wakidi, M. Pirngadi, Ernest Dezentje serta Basuki Abdullah. Masa Persatuan Ahli Gambar Indonesia (1938) yang menjadi masa kebangkitan seni rupa di Indonesia diwakili lukisan karya Agus Djaya, S. Sudjojono, Henk Ngantung, Emiria Sunassa, RGA Sukirno dan lain-lain. Masa Revolusi/Pendirian Sanggar (1945) terdapat lukisan karya Sudjana Kerton, Affandi, Trubus, Hendra Gunawan, Barli Sasmita dan lain-lain.


Kemudian dari masa lahirnya Akademi (1950an) terdapat lukisan Kusnadi, Widayat, Bagong Kusudihardjo, Abas Alibasyah, Sunarto PR, Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Srihadi, AD Pirous, Amang Rahman, Rudi Isbandi, OH Supono dan lain-lain. Tahun 1960an terdapat koleksi Nyoman Gunarsa, Mulyadi, Joko Pekik. Tahun 1970an terdapat lukisan karya Abdulrahman, Sri Warso Wahono, Nunung WS. Tahun 1980an terdapat lukisan karya Ivan Sagito, Dede Eri Supria, Sarnadi Adam Subandiyo. Kemudian dekade 1990an terdapat lukisan karya Nasirun dan I Made Sukandana.
Di antara koleksi-koleksi tersebut ada beberapa koleksi unggulan dan amat penting bagi sejarah seni rupa Indonesia. Koleksi tersebut berjudul Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan, Bupati Cianjur karya Raden Saleh, Ibu Menyusui karya Dullah, Seiko karya S. Sudjojono dan Potret Diri karya Affandi.
Koleksi seni rupa yang lain yaitu patung yang bercirikan klasik tradisional dari Bali, totem kayu yang magis dan simbolis karya I Wayan Tjokot, totem dan kayu patung karya seniman G. Sidharta, Oesman Effendi, Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Srihadi S, Fajar Siddik, Kusnadi, Rusli, Nashar, Zaini, Amang Rahman, Suparto, Irsan, Mulyadi W, Abas Alibasyah, Amri Yahya, AS Budiman, Barli, Sudjana Kerton dan masih banyak seniman dari berbagai daerah.


Sementara koleksi keramik sekitar 8000 koleksi yang terdiri dari keramik lokal dan keramik asing. Keramik local baru berasal dari berbagai sentra industri keramik di Indonesia seperti Kasongan, Plered, Singkawang, dan lain-lain, sementara keramik lokal tua yang sangat bernilai sejarah berupa keramik Majapahit dari abad 14 yang memperlihatkan ciri, keistimewaan serta keragaman bentuk dan fungsi.
Museum ini juga memiliki kermaik asing yang berasal dari Eropa yaitu Belanda serta dari Asia seperti Cina, Jepang, Vietnam, dan Thailand. Sebagian besar dari keramik asing tersebut berasal dari Cina, terutama dari Dinasti Ming dan Ching. *** [210612]

0 komentar:

Posting Komentar