Friday, June 1, 2012

Masjid Saka Tunggal Cikakak

Berkunjung ke Banyumas, tak ada salahnya kalau kita mampir ke masjid yang berumur ratusan tahun. Masjid Baitussalam yang terletak di Desa Cikakak, Kecamatatan Tunggal, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, telah berusia 723 tahun.
Masjid bergaya arsitektur lawas dan memiliki tiang penyangga tunggal (saka tunggal) ini masih berdiri kokoh dan mempertahankan semua tradisi sejak didirikan. Sehingga masjid ini masuk dalam kawasan cagar budaya yang perlu dilestarikan.
Masjid Baitussalam ini lebih dikenal dengan nama Masjid Saka Tunggal karena bangunan masjid ini hanya ditopang dengan satu tiang (saka). Tiang dari kayu jati tersebut memiliki ukuran 12 x 8 meter dengan ornamen ukir-ukiran beraneka macam. Dan pada salah satu tiang ada huruf Arab yang bertuliskan angka 8821 (dibaca tahun 1288), sehingga usia masjid ini sudah sangat tua, bahkan lebih tua dari walisongo.
Selama ratusan tahun berdiri, warga dan jamaah di Cikakak sama sekali tidak mengganti bangunan utama yang ada di tempat itu, kecuali hanya membangun tembok sekeliling masjid sebagai penopang. Karena masjid ini sebagai pertanda bahwa syiar Islam di Banyumas telah dimulai ratusan tahun silam. Secara pasti memang tidak ada bukti tertulis. Namun dari cerita turun temurun yang berkembang, warga desa tersebut meyakini kebenaran cerita itu.
Menurut Sopani (65), mantan juru kunci Masjid Saka Tunggal Cikakak, tokoh penyebar Islam di Cikakak bernama Mbah Mustolih yang hidup dalam Kesultanan Mataram Kuno. Makanya, tidak heran kalau unsure Kejawen masih cukup melekat.
Selama melakukan syiar Islam. Mbah Mustolih ditemani tokoh yang disebut sebagai Mbah Kanjeng Adipati Kaleng dan Mbah Kanjeng Sregi. Dalam syiar Islam yang dilakukan, Mbah Mustolih memang menjadikan Cikakak sebagai markas dengan ditandai pembangunan masjid dengan tiang tunggal.
Sampai suatu ketika, sebelum akhir hayatnya, Mbah Mustolih kemudian menyerahkan pemeliharaan masjid kepada muridnya yang dipercaya, supaya anak cucunya masih dapat melihat Masjid Saka Tunggal, sebagai salah satu bukti perjuangan syiar Islam di Banyumas.

Sumber :
§  WAWASAN Edisi Minggu Pahing, 4 Maret 2012 halaman 14.

0 comments:

Post a Comment