The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Masjid Agung Purworejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Masjid Agung Purworejo. Tampilkan semua postingan

Bedug Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo

Setelah Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo selesai dibangun, KRA. Cokronagoro I merasa belum puas tanpa adanya perangkat lainnya yang isitimewa dan hebat. Lalu, beliau menghendaki adanya bedug yang besar yang akan ditabuh sebagai pertanda adzan akan dikumandangkan untuk saatnya waktu shalat tiba.
Selanjutnya, beliau mengumpulkan para pejabat dan kerabat Kadipaten Purworejo untuk menyampaikan maksudnya untuk membuat bedug yang istimewa kepada para hadirin. RT Prawironagoro, Wedana Purwodadi, yang tidak lain adalah adik kandung beliau sendiri, menyanggupinya untuk membuat bedug besar yang bahannya sudah ada di daerah kekuasaannya, yaitu berupa tunggul atau bongkot kayu jati Pendowo, yang batang serta cabang-cabangnya sudah dipakai untuk tiang-tiang Masjid Agung dan Pendopo Kadipaten Purworejo, yang berada di Dusun Pendowo, Desa Bragolan, Kawedanan Purwodadi.


Semuangnya mufakat akan usulan dari RT Prawironegoro. Bedug besar harus dibuat dengan ukuran yang besar guna mengimbangi kebesaran Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo. Maka diputuskan agar segera dibuat bedug besar oleh RT Prawironegoro. Sedangkan, untuk kulit bedug besar diserahkan kepada Wedana Loano, yang di daerahnya banyak terdapat sapi besar jenis benggala atau ongale. Sedangkan nanti pengangkutannya diserahkan kepada kerabat Bupati. Ketika bedug besar tersebut selesai dibuat (selama 6 tahun), kerabat Bupati mulai berusaha mengangkut bedug tersebut namun ternyat tidak satupun sanggup untuk melaksanakan tugas tersebut.
RT Prawironegoro setelah berpikir, lalu memberanikan diri untuk mengusulkan kepada Sang Bupati, bahwa menantunya sendiri yang akan bersedia untuk menerima tugas memimpin pekerjaan tersebut. Adapun menantu Sang Tumenggung ialah seorang kyai atau na’ib dari Desa Solotihang, Loano, yang bernama KH. Muhammad Irsyad yang mempunyai kemampuan lebih daripada orang lain.
Akhirnya, Sang Bupati menyetujui. Lalu, oleh beliau diangkatlah dengan resmi KH. Muhammad Irsyad guna melaksanakan tugas berat tersebut. Dalam istilah Jawa disebut “Kasinengkakaken ing ngaluhur”, dari orang biasa menjadi orang terhormat yang mendapat kepercayaan dari KRA. Cokronagoro I. Karena tugas ini diberikan kepada orang luar kerabat Bupati, di mana hanya ada hubungan istrinya yang masih kerabat dalem, dalam istilah Jawa “sinered ing bengkung” (bengkung atau stagen adalah ikat pinggang wanita yang terbuat dari kain, untuk mengikat kain batik yang dipakainya).
Bedug yang saat ini dikenal sebagai Bedug Ageng Kyai Pendowo atau Kyai Bagelen, memiliki panjang 292 cm dengan diameter bagian depan 194 cm, diameter bagian belakang 180 cm, keliling bagian depan 601 cm, dan keliling lingkar bagian belakang 564 cm. Semula kulit penutup bedug bagian depan dan belakang terbuat dari kulit sapi ongale, namun pada tanggal 3 Mei 1936 bagian belakang diganti kulit lembu dari Desa Winong. Jadi hanya bagian depannya saja yang masih asli dari kulit sapi ongale.
Untuk memaku kulit bedug di bagian depan dipergunakan paku keeling sebanyak 112 buah. Bagian belakang dipergunakan paku keeling sebanyak 98 buah. Pada bulan Mei 1993, bagian belakang rusak lagi, dan diganti kulit lembu yang besar. Pembuatan bedug besar ini diperkirakan antara tahun 1834 hingga 1840 Masehi.
Diyakini hingga kini, hanya Bedug Ageng Kyai Pendowo atau Kyai Bagelen ini sajalah satu-satunya bedug yang mempunyai ukuran paling besar yang terbuat dari kayu jati utuh tanpa ada sambungan sedikitpun. Bahkan mungkin yang terbesar di Indonesia, boleh jadi di Asia Tenggara maupun seluruh dunia. ***  

Kepustakaan: 
  • HR Oteng Suherman, 2011, Kisah Masjid Agung Purworejo dengan Bedug Raksasanya, Purworej: PD Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Purworejo.
Share:

Mimbar Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo

Mimbar khutbah yang berada di dalam Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo, bahannya berasal dari kayu jati Pendowo. Ornamen hias yang indah, dinding luar diberi kaca. Sedangkan, di samping kiri kanan diberi ornamen ukiran bermotif Kawungan dan bunga ceplok

.

Bagian muka atas dihias kaligrafi Arab yang bertuliskan kalimat tauhid, dengan tiang sepuluh buah. Di tengah tiang terukir hiasan piala dan buket bunga serta tulisan Arab: IMAM. Atap mimbar berbentuk limasan brunjungan dengan mustoko bunga teratai yang sedang mekar. ***
Share:

Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo

Harapan Kanjeng Raden Adipati (KRA) Cokronagoro I (Bupati pertama Purworejo) untuk membangun sarana ibadah bagi ummat Islam yang ada di Kota Purworejo, rupanya dapat segera terwujud, karena sarana bahan bangunan untuk pembuatan Masjid Agung sudah tersedia di wilayah alam Purworejo sendiri.
Untuk kebetuhan kayu, sudah tersedia pohon jati yang cukup banyak di Desa Bragolan, Onder Districht Purwodadi kala itu. Adapun yang menjadi Wedana Purwodadi adalah Raden Tumenggung Prawironagoro yang tiada lain adalah adik kandung Bupati KRA. Cokronagoro I.


Untuk umpak (landasan) dari tiang utama (sokoguru) masjid tersedia batu-batu persegi bekas yoni (pasangan lingga). Lingga dan yoni ini banyak ditemukan berserakan di sepanjang tepi Sungai Bogowonto, sehingga banyak pula yang dijadikan umpak rumah maupun masjid di daerah Purworejo, karena sudah tidak dipakai untuk pemujaan lagi.
Batu-batu fondasi banyak didapat dari sungai-sungai yang mengalir di sekitarnya. Batu kapur (gamping) dapat diperoleh dari Bukit Menoreh, serta batu bata merah dapat dengan mudah disediakan oleh masyarakat Purworejo.


Berbekal dari bahan-bahan yang tersedia tersebut, KRA Cokronagoro I segera memerintahkan kepada Ki Patih Cokrojoyo, yaitu Pepatih Dalem Kadipaten Purworejo untuk memulai membangun Masjid Agung dengan tiada henti-hentinya memohon kepada Allah SWT agar terlaksana dengan sebaik-baiknya, dan dapat menjadi sarana ibadah yang berharga bagi rakyat Kadipaten Purworejo sampai kelak kemudian hari. Konon, arsitek masjid ini adalah Khasan Muhammad Shuufi, seorang arsitek kenamaan pada masa itu.
Di atas tanah wakaf yang luasnya hampir 9.000 meter persegi, Masjid Agung Purworejo dibangun. Tercatat dalam Babad Kedhung Kebo, pembangunan Masjid Agung Purworejo dengan sengkalan “Guna Sad Giri Bumi” (Guna = 3, Sad = 6, Giri = 7, Bumi = 1). Berdasarkan kaidah bahasa Jawa, pembacaan sengkalan tersebut dimulai dari belakang. Jadi 3671 dibaca dari belakang menjadi 1763. Tahun Alip 1763 Jawa tersebut bertepatan dengan tanggal 16 April 1834 M.
Arsitektur bangunan Masjid Agung Purworejo meniru bentuk Masjid Agung Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, di mana sewaktu masih mengabdi menjadi Mantri Gladag di Kraton Kasunanan dengan nama Raden Ngabehi Resodiwiryo, sering melakukan ibadah di Masjid Agung Surakarta.
Bentuk bangunan tersebut, dalam Kitab Kawruh Kalang (Buku Ilmu Bangunan Jawa) disebut model Tajug Lawakan Lambang Teplok di mana tiang utamanya menopang langsung atap (brunjungan). Sedangkan, bangunan serambi menggunakan atap limasan yang disebut Limasan Trajumas.
Pada awalnya, ukuran Masjid Agung Purworejo adalah 21 m x 21 m, sedangkan serambi berukuran 8 m x 21 m. Tinggi brunjungan 23 m.
Tiang utama (sokoguru) ada 4 buah dengan ukuran 54 cm x 54 cm, dan tinggi 15 m, yang terbuat dari kayu jati Pendowo, dan berdiri di atas umpak yoni. Sedangkan, tiang pananggap (pembantu) berjumlah 12 buah ukuran 70 cm x 70 cm terbuat dari batu bata.
Bentuk atap brunjungan terdiri atas 3 tingkat, yaitu atap 1 (terbawah) disebut atap panitih, melambangkan syariah. Atap 2 disebut atap pananggap, melambangkan thoriqoh. Atap 3 disebut atap brunjung, melambangkan hakikat.
Puncak yang menjadi bagian tertinggi dari Masjid Agung Purworejo, dinamakan mustoko, yang melambangkan ma’rifat. Mustoko ini terbuat dari perunggu dengan hiasan Daun Kadaka Hutan yang dari jauh tampak seperti angsa yang menari.
Mihrab Masjid Agung dibuat kemudian, jauh setelah bangunan masjid selesai, yaitu tahun 1326 Hijriyah atau 1904 Masehi, dengan sengkalan berbentuk gambar hiasan pada lengkungan mihrab yang berbunyi “Pang Pinajang Srikaya Sagodhonge” (Pang, cabang = 6, Pinajang, dihias = 2, Srikaya, buah Srikaya = 3, dan Godhong, daun = 1).  Jika dibalik, membacanya menjadi 1326 (Hijriyah).
Pada masa pemerintahan Bupati Letkol H. Supantho (1975 – 1985), pada tahun 1976 – 1977 dilakukan renovasi serambi. Serambi yang berukuran 8 m x 21 m menjadi dua kali lipatnya, yaitu 16 m x 21 m. Atap Limasan Trajumas dirubah menjadi bentuk kubah, serta tampak depan yang jauh berbeda dari bentuk semula.
Selanjutnya pada pemerintahan Bupati Drs. H. Goernito (1990 – 2000) dan Sekwildanya dijabat oleh Drs. H. Soetarto Rachmat, yaitu pada tahun 1993 diadakan renovasi besar-besaran. Bangunan serambi diperluas lagi menjadi dua kali luas sebelumnya, kemudian atap kubah diganti dengan dua buah atap limasan. Tampak muka tetap seperti semula hanya dimajukan. Di halaman masjid, sebelah tenggara dibangun sebuah menara berbentuk tugu dengan dasar segi lima, melambangkan Pancasila. Tingginya sekitar 25 m.
Pada masa Kepala Kantor Departemen Agama dijabat oleh Drs. H. Mochammad Soeripto, dan Ketua Takmir Masjid Agung adalah K.H. Drs. M. Ghufron Faqih, dengan persetujuan para ‘alim ulama, Masjid Agung Purworejo diberi nama, yaitu Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo. Masjid ini berlokasi di Jalan Mayjen Sutoyo No. 81  Sindurjan, Purworejo.***


Kepustakaan:
  • HR Oteng Suherman, 2011, Kisah Masjid Agung Purworejo dengan Bedug Raksasanya, Purworej: PD Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Purworejo.
  • Paper Tugas Akhir di Jurusan Arsitektur FT UNDIP, dengan nama file: RIA_TAURINA_D.pdf.
  
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami