The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Daftar Bangunan Kuno di Yogyakarta

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Yogyakarta:

Apotek ini terletak di Jalan Malioboro No. 129 Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Benteng ini terletak di Jalan Ahmad Yani No. 6 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bruderan ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 18 Kampung Yudonegaran RT.09 RW.01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gedung Agung ini terletak di Jalan Ahmad Yani No. 3 Kampung Ngupasan RT.09 RW.03 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gedung BI ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 4 Kampung Yudonegaran RT.09 RW.01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gedung BNI ini terletak di Jalan Ahmad Dahlan No. 1 Kampung Kauman RT.38 RW.11 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gedung ini terletak di Jalan Malioboro No. 54 Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gedung ini terletak di Jalan Trikora No. 4 Kampung Kauman RT.38 RW.11 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gedung Manulife Financial Yogyakarta
Gedung ini terletak di Jalan Margo Utomo No. 20 Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Pugeran
Gereja ini terletak di Jalan Suryaden No. 63 Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Gereja Katolik Santo Antonius Kotabaru
Gereja ini terletak di Jalan Abu Bakar Ali No. 1, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran
Gereja ini terletak di Jalan Bintaran Kidul No. 5, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

GPIB Jemaat Marga Mulya Yogyakarta
Gereja ini terletak di Jalan Ahmad Yani No. 5, Kampung Beskalan RT. 05 RW. 02, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Hotel Inna Garuda Yogyakarta
Hotel ini terletak di Jalan Malioboro No. 60 Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Indraloka Family Homestay Yogyakarta
Homestay ini terletak di Jalan Cik Di Tiro No. 18 Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Jogja Library Center
Jogja Library Center ini terletak di Jalan Malioboro No. 175 Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kantor Asuransi Jiwasraya Kotabaru
Kantor ini terletak di Jalan Faridan Muridan Noto No. 9 Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Kantor Pos Besar Yogyakarta
Kantor pos ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 2 Kampung Yudonegaran RT.09 RW.01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kawasan Malioboro ini membentang dari Stasiun Tugu Yogyakarta di sebelah utara menuju ke selatan hingga perempatan Panguraksan atau perempatan benteng.

Kompleks sekolah ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 32 Kampung Yudonegaran RT.09 RW.01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kraton ini terletak di Jalan Alun-Alun Utara, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Malioboro Indomaret Point terletak di Jalan Malioboro No. 123 Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Masjid Gedhe ini terletak di Jalan Kauman Alun-Alun Kraton Yogyakarta, Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Museum ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 75 Kelurahan Terban, Kecamatan Gondukusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Museum ini terletak di Jalan Trikora No. 6 Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pasar ini terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 16 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pura Pakualaman terletak di Jalan Sultan Agung, Kelurahan Semaki, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta
Rumah sakit ini terletak di Jalan Jnderal Sudirman No. 70 Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Rumah Sakit Mata Dr. Yap Yogyakarta
Rumah sakit ini terletak di Jalan Cik Di Tiro No. 5 Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Rumah sakit ini terletak di Jalan Cik Di Tiro No. 30 Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Stasiun Kereta Api Lempuyangan
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Lempuyangan, Kelurahan Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

SMP ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 28-30 Kampung Yudonegaran RT.09 RW.01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Stasiun ini terletak di Jalan Margo Utomo No. 1 Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

The Phoenix Hotel Yogyakarta
Hotel ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 9 Kelurahan Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Vihara Buddha Prabha Yogyakarta
Vihara ini terletak di Jalan Brigjen Katamso No. 3 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Share:

Stasiun Kereta Api Lempuyangan

Stasiun Kereta Api Lempuyangan (LPN) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Lempuyangan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 114 m di atas permukaan laut.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Lempuyangan, Kelurahan Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi stasiun ini berjarak sekitar 1 kilometer di sebelah timur Stasiun Yogyakarta.


Bangunan Stasiun Lempuyangan ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Solobalapan-Yogyakarta yang dikerjakan oleh Perusahaan Kereta Api milik swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, dari tahun 1871 dan selesai pada tahun 1872. Kemudian stasiun ini diresmikan pembukaannya pada 2 Maret 1872.
Jalur sepanjang 58 kilometer ini merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa yang terkenal dengan Semarang-Vorstenlanden sejauh 166 kilometer. Daerah Vorstenlanden secara harafiah berarti “wilayah-wilayah kerajaan”. Sebutan ini merupakan satu istilah yang digunakan pada sejarah Nusantara, terutama di daerah Jawa, untuk menyebut daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan empat monarki pecahan dari Dinasti Mataram Islam, yaitu Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.


Stasiun ini memiliki 6 jalur dengan jalur sepur lurus yang menghubungkan dengan Stasiun Yogyakarta yang berada di sebelah baratnya, sedangkan ke arah timurnya menghubungkan ke Stasiun Maguwo. Selain itu, di Stasiun Lempuyangan ini ada jalur rel yang menghubungkan ke Balai Yasa yang berada di sebelah utaranya. Uniknya, jalur itu melintasi pemukiman penduduk yang membaur dengan lorong-lorong yang ada pemukiman tersebut.
Sebelum terjadi pemisahan layanan kereta api, terutama di Jawa, sebenarnya stasiun ini sudah sejak dulu dijadikan tempat pelayanan KA ekonomi yang diberangkatkan dari Yogyakarta, seperti KA Empu Jaya jurusan Pasar Senen (sekarang berganti nama menjadi KA Progo) dan KA Argopuro jurusan banyuwangi (sekarang menjadi KA Sri Tanjung serta KA Gajah Wong jurusan Pasar Senen. *** [200815]

Fotografer: Gigih Suprayoga, S.IP

Share:

Hotel Inna Garuda Yogyakarta

Rasanya belum lengkap pergi ke Yogyakarta tanpa mengunjungungi Malioboro. Kawasan Malioboro merupakan kawasan komersial yang masih menyimpan jejak bangunan lawas. Begitu turun dari Stasiun Yogyakarta, Anda langsung bisa menuju Malioboro melalui jalan kaki. Tapi kalau tidak ingin capek, bisa menggunakan jasa transportasi becak atau andong. Kalau naik taxi terlalu dekat jaraknya. Apa pun sarana untuk menuju ke Malioboro dari stasiun tersebut tidak menjadi masalah, karena sebenarnya jarak antara stasiun dengan Malioboro cukup dekat atau secara geografis boleh dikata berdampingan.
Begitu memasuki Jalan Malioboro dari stasiun tersebut, atau tepatnya dari sisi utara, Anda akan menyaksikan bangunan menjulang di sebelah kiri. Bangunan tersebut adalah Hotel Inna Garuda. Hotel ini terletak di Jalan Malioboro No. 60 Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi hotel ini berada di pojok tempat pertemuan antara Jalan Maliobor dan Jalan Abu Bakar Ali.


Pada awalnya, bangunan hotel ini merupakan sebuah cottages yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908 dan selesai pada tahun 1911. Terus mulai dioperasikan sebagai penginapan yang mewah dan terbesar di Yogyakarta. Yang menginap hanya dikhususkan untuk tamu-tamu Gubernur Belanda atau militer. Oleh karena itu, cottages ini akhirnya diberi nama Grand Hotel de Djokja.
Pada tahun 1938 diadakan perbaikan pada hotel ini dengan mengubah bentuk bangunan menjadi dua sayap, sayap utara (north wing) dan sayap selatan (south wing) serta bangunan utama di tengah. Kesemua perbaikan tersebut menjadikan bangunan hotel ini berlantai dua. Baik bangunan sayap utara maupun sayap selatan, memiliki bentuk yang sama dan saling berhadapan. Di tengah-tengah bangunan sayap utara dan sayap kiri terdapat dormer pendek. Di tengah dormer tersebut menjulang sebuah menara pendek.
Pada tahun 1942, Jepang datang dan menguasai Hindia Belanda, termasuk Yogyakarta. Kejatuhan  Yogyakarta membawa dampak diambilalihnya Grand Hotel de Djokja oleh Jepang. Kemudian namanya diubah menjadi Hotel Asahi.


Setelah Indonesia merdeka, Hotel Asahi diambil alih oleh bangsa Indonesia dan sesuai dengan keadaan serta semangat pada saat itu hotel tersebut diganti dengan nama Hotel Merdeka. Pada Desember 1945 sampai dengan Maret 1946, kamar 911 dan 912 yang terdapat pada Hotel Merdeka digunakan sebagai kantor Markas Besar Oemoem (MBO) Tentara Keamanan Rakyat pimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Ketika kota Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia, Hotel Merdeka dijadikan kantor untuk bekerja para kabinet pada saat itu. Sebagai manifestasi dari Lambang Negara Republik Indonesia yaitu Burung Garuda, maka hotel ini diubah namanya menjadi Hotel Garuda. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan dengan nama hotel lain yang menggunakan nama Hotel Merdeka di seluruh Indonesia.
Pada tahun 1975 pemerintah menyerahkan pengelolaan hotel kepada PT. Natour berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1975. Konsekuensinya nama hotel tersebut juga diubah menjadi Hotel Natour Garuda. Tahun 1982 PT. Natour merenovasi Hotel Natour Garuda dan menjadikan hotel tersebut yang awalnya berbintang satu menjadi hotel berbintang empat. Pelaksanaan renovasi berakhir pada tahun 1984 dan menelan biaya hampir 9 milyar.
Untuk mempertahankan citra sebagai hotel yang bernuansa sejarah, maka bangunan sayap utara dan sayap selatan dipertahankan serta bangunan utama yang di tengah dijadikan tingkat tujuh. Di awal tahun 1985 Natour Garuda yang berstatus BUMN melaksanakan Trial Opening sebanyak 120 kamar. Pelaksanaan acara Grand Opening Ceremony dilaksanakan pada 29 Juni 1985. Pada tahun 1987 secara resmi Natour Garuda dikukuhkan oleh pemerintah melalui Depparpostel sebagai hotel berkategori bintang empat dengan 240 kamar.
Tahun 1993 PT. Natour bergabung dengan PT. Hotel Indonesia Internasional, dan menjadi PT. HII-Natour melalui Departemen Keuangan Pasal 108 UU Nomor 1 Tahun 1995 tentang perseroan terbatas. Secara legalitas PT. HII-Natour berubah menjadi PT. HIN (Hotel Indonesia Natour) pada 19 Maret 2001. Pada akhir tahun 2002 hingga sekarang hotel-hotel, restoran, dan catering di bawah naungan PT. HIN menyandang Inna sebagai nama bisnis korporat sekaligus nama komersial. Termasuk salah satunya hotel yang ada di Kota Yogyakarta berubah menjadi Hotel Inna Garuda. *** [160815]
Share:

Gedung DPRD DIY

Koridor Jalan Malioboro menjadi salah satu simbol bagi Kota Yogyakarta dan mempunyai fungsi bangunan bersejarah yang ada di kota tersebut. Meskipun dari dulu hingga kini Koridor Jalan Malioboro tetap menjadi kawasan perdagangan (komersial), namun masih menyisakan sejumlah bangunan kuno. Karena fungsi bangunan bersejarah bisa menjadi penanda sebuah perjalanan bagi daerah tersebut. Salah satunya adalah Gedung DPRD DIY.
Gedung DPRD ini terletak di Jalan Malioboro No. 54 Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah utara Maliboro Mall, atau selatan Dinas Pariwisata DIY.
Dulu, bangunan gedung DPRD DIY ini bernama Loge Mataram. Nama resminya dalam bahasa Belanda adalah Loge Mataram te Djokjakarta, Nederlands Oost-Indië. Didirikan pada tahun 1870 bersamaan dengan semakin bertambahnya jumlah orang Belanda maupun Eropa lainnya yang berada di Yogyakarta. Pada umumnya mereka menetap di Yogyakarta karena berhubungan dengan pesatnya perekonomian Yogyakarta dengan hadirnya 17 pabrik gula. Perkembangan industri gula ini menyebabkan infrakstruktur tumbuh pesat, seperti rel kereta api dan jalan raya yang menghubungkan pusat-pusat ekonomi dan kawasan penghasil gula. Tidak hanya itu saja, orang-orang Belanda maupun Eropa lainnya juga menanamkan investasinya di sejumlah perkebunan tebu untuk memasok pabrik gula yang lumayan banyak itu.


Loge (orang Jawa menyebutnya Loji) bermakna rumah atau gedung yang besar, sedangkan Mataram diilhami para pendiri loge yang sadar akan kebesaran Jawa. Jadi, pilihan nama Loge Mataram ini didasarkan pada keberadaan tempat loge yang dibangun tersebut, yaitu di pusat kerajaan pewaris trah Mataram.
Dahulu, Loge Mataram ini merupakan pusat teosofi dan gerakan Freemansonry. Freemansonry atau dalam bahasa Belanda disebut Vrijmetselarij,  merupakan Tarekat Mason Bebas yang sempat berkembang di Hindia Belanda. Tarekat ini mengumumkan diri sebagai sebuah organisasi persaudaraan internasional.
Paham Mason mulai masuk ke wilayah Yogyakarta ditandai dengan pendirian Loge Mataram di Yogyakarta pada tahun 1870 atas prakarsa tiga puluh orang anggota Mason. Di antaranya terdapat nama-nama seperti Weijnschenk, Raaff, Soesman, dan Monod de Froindeville. Mereka adalah orang-orang Indo-Eropa yang kaya, yang pada awal abad 19 membeli tanah-tanah yang luas dari Sultan dan berhasil mengembangkannya.
Dalam perjalanannya, Loge Mataram dikenal juga dengan sebutan Loji Setan. Dinamakan demikian karena dalam setiap pertemuan Tarekat Mason Bebas tersebut, para anggotanya sering melakukan aktivitas ritual memanggil arwah-arwah atau roh-roh. Sehingga, loji tersebut kelihatan angker dan seram.
Pada masa jayanya Tarekat Kaum Mason Bebas di bawah Timur Agung Nederland di Hindia Belanda mempunyai sekitar 1.500 anggota, terbagi dalam 25 bentara. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan sebagai Kantor Agraria. Kemudian, pada waktu Yogyakarta menjadi ibu kota Negara Republik Indonesia pada tahun 1946, gedung ini digunakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta (DPRD DIY) hingga sekarang.
Pada masa Agresi Belanda yang ingin merebut kembali Hindia Belanda setelah Indonesia sudah merdeka, mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia. Setiap kehadiran orang Belanda di Indonesia yang sudah merdeka pada waktu itu mendapat tekanan, sehingga hal ini menyebabkan anggota Freemansonry dengan cepat merosot. Semua kegiatan Tarekat Mason Bebas pun akhirnya berakhir pada Februari 1961 lewat Lembaran Negara Nomor 18 Tahun 1961 di mana Presiden Soekarno membubarkan dan melarang keberadaan Freemansonry di Indonesia. Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara.
Karena pada waktu disita, gedung tersebut digunakan sebagai DPRD DIY maka fungsi gedung tersebut tetap dipertahankan hingga kini menjadi gedung DPRD DIY, dan masih bisa disaksikan kemegahan gedungnya yang memiliki gaya arsitektur Indische Empire Style. Gedung ini mempunyai kemiripan dengan gedung Freemasonry yang ada di Jakarta, yang sekarang menjadi Gedung Kimia Farma Jakarta.

Kepustakaan:
Dr. Th. Stevens, 2004. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
http://www.academia.edu/12786053/Golongan_Kemasonan_Sekolah_Netral_dan_Masyarakat_Yogyakarta
http://www.tasteofjogja.org/contentdetil.php?kat=artk&id=OTM=&fle=Y29udGVudC5waHA=&lback=a2F0PWFydGsmYXJ0a2thdD0xNyZsYmFjaz0=&page=2
Share:

Pasar Beringharjo Yogyakarta

Pasar sebagai pusat kegiatan perekonomian daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat dari struktur bangunan pasar, kondisi fisik pasar, fasilitas, barang yang diperjual belikan, harga yang diperjual belikan, dan intensitas kunjungan para pembeli, selain itu latar belakang historis suatu pasar juga akan mempengaruhi karakteristik suatu pasar. Sebagai contohnya adalah Pasar Beringharjo.
Pasar ini terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 16 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi pasar ini berada di sebelah utara benteng Vredeburg.
Menurut sejarahnya, keberadaan Pasar Beringharjo tidak lepas dari eksistensi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Selang dua tahun kratonnya dibangun, Sri Sultan Hamengkubuwana (HB) I mulai menata nagari atau ibu kota dari Kesultanan Yogyakarta dengan menggunakan sumbu imajiner utara-selatan yang berkorelasi dengan Kraton sebagai poros utamanya ke Tugu Pal Putih di sebelah utara dan Panggung Krapyak di sebelah selatan. Konsep filosofis ini kemudian diwujudkan dalam bentuk jalan yang membentang dan membelah kawasan Malioboro tersebut. Semula kawasan ini masih berupa daerah berlumpur yang banyak ditumbuhi pepohonan beringin (Ficus benjamina). Seiring itu pula, Sultan HB I membangun sarana perdagangan melalui pasar tradisional berupa deretan lapak-lapak saja. Wilayah pasar ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh rakyat Ngayogyakarta dan sekitarnya.


Bermula dari deretan lapak-lapak, pasar tersebut kemudian berkembang bersamaan dengan semakin ramainya ibu kota Kesultanan Yogyakarta. Pada waktu Pemerintah Hindia Belanda mulai mengembangkan pemukiman orang Belanda beserta fasilitas publik lainnya di sekitar kawasan pasar tersebut, yang diikuti pula oleh orang-orang Tionghoa, Sultan HB I menangkap situasi tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan pasar yang masih sederhana tapi luas dan ramai itu. Pada tanggal 24 Maret 1925, Sultan HB I memberikan proyek pembangunan los-los pasar kepada Perusahaan Beton Hindia Belanda atau Nederlandsch Indisch Beton Maatschappij. Pada akhir Agustus 1925, 11 kios telah terselesaikan, dan kemudian yang lainnya menyusul secara berrtahap. Pada akhir Maret 1926, pembangunan pasar bergaya arsitektur Art Deco selesai dan mulai dipergunakan  sebulan setelah itu.
Sebelum bernama Pasar Beringharjo, pasar ini lebih dulu populer atau dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dengan nama Pasar Gedhe. Nama Pasar Gedhe diberikan karena pasar itu merupakan satu-satunya yang terbesar di seputar Kota Yogyakarta pada waktu itu, serta satu-satunya pula yang terdapat di kawasan jalan utama yang membentang dari depan Kraton sampai Tugu Pal Putih. Pada masa kolonial Belanda, Pasar Gedhe ini pernah mendapatkan julukan sebagai Passer Op van Java, yang mempunyai arti pasar terindah di Pulau Jawa.
Nama Beringharjo diberikan dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Kata “beringharjo” berasal dari gabungan dua kata dari bahasa Jawa, yaitu bering dan harjo. Bering berarti pohon beringin, dan harjo mempunyai arti kebesaran. Dengan demikian, Pasar Beringharjo dapat diartikan sebagai tempat yang diharapkan mampu memberikan pengayoman bagi masyarakat Yogyakarta, seperti layaknya pohon beringin yang dapat menjadi peneduh dari sengatan matahari dan terpaan air hujan, yang di kemudian hari diharapkan dapat memberikan kesejahteraan.
Pasar ini merupakan bagian dari proses kelahiran Kerajaan Islam yang ada di Pulau Jawa, yaitu sebagai perwujudan konsep pembangunan Catur Tunggal yang bertujuan untuk menggenapi keberadaan kraton sebagai pusat kerajaan. Konsep Catur Tunggal ini meliputi bangunan kraton, alun-alun, masjid dan pasar.
Pasar Beringharjo merupakan pasar tradisional yang menyediakan berbagai macam barang dagangan dan fasilitas. Barang dagangan yang tersedia mulai dari hasil bahan pangan, kerajinan tangan hingga berbagai macam pengolahan kain batik.
Pasar Beringharjo ini terdiri dari dua bagian bangunan pasar, yaitu Beringharjo barat dan Beringharjo timur. Beringharjo barat merupakan bangunan tiga lantai yang pada umumnya didominasi oleh produk garmen dengan segala aksesoris penunjangnya. Sedangkan, Beringharjo timur juga terdiri dari tiga lantai yang pada umumnya menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, daging sapi, daging ayam, krupuk, emping, dan aneka jajan pasar lainnya. Selain itu, di Beringharjo timur ini juga terdapat penjual tas maupun sepatu namun merupakan produk yang berkualitas sedang, dan bisa ditawar-tawar.
Pengelolaan dan pengembangan Pasar Beringharjo diarahkan ke dalam visi yang diemban oleh  Dinas Pengelolaan Pasar Kota Yogyakarta, yaitu “Terwujudnya pasar tradisional dengan pengelolaan modern sebagai pusat perkembangan perekonomian, wisata dan edukasi.” Hal ini bisa dimengerti mengingat daya tarik yang paling signifikan dari Pasar Beringharjo adalah nilai historis dan lokasinya yang sangat strategis. Lokasinya yang berada di kawasan Malioboro dengan diapit oleh beberapa tempat wisata populer di Yogyakarta, seperti Benteng Vredeburg dan Taman Pintar inilah yang membuat tingkat kunjungan konsumen ke pasar sangat tinggi. *** [160815]

Share:

Vihara Buddha Prabha Yogyakarta

Kesempatan melihat sebuah klenteng di Kota Yogyakarta, berlangsung pada waktu penulis selesai melakukan pertemuan dengan salah seorang Dosen Psikologi dari UI di Prawirotaman (16/08). Pulangnya dari Prawirotaman, penulis sengaja melakukan jalan kaki menuju Stasiun Yogyakarta karena memang berkeinginan menjajal backpacker dalam rute tersebut. Salah satu bangunan kuno yang dijumpai adalah sebuah klenteng tua yang memiliki arsitektur khas Tiongkok. Klenteng tersebut dikenal dengan nama Vihara Buddha Prabha.
Vihara ini terletak di Jalan Brigjend Katamso No. 3 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi vihara ini berada di sebelah timur Kompleks Sekolah Marsudirini, atau tepatnya berada di selatan perempatan lampu merah Gondomanan.
Menurut catatan yang disimpan oleh pengelola klenteng, Vihara Buddha Prabha ini mulai dibangun pada tanggal 15 Agustus 1900 dan selesai pada tahun 1907 atas usaha seorang mantan Mayor Tionghoa bernama Yap Ping Liem, di atas tanah hibah yang diberikan pada tahun 1845 oleh Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono V yang memerintah untuk kedua kalinya dari tahun 1828 hingga 1855. Hibah tersebut memang dimaksudkan untuk membangun rumah ibadah bagi masyarakat Tionghoa yang bermukim di Yogyakarta.


Awalnya nama bangunan vihara ini adalah Hok Tik Bio, yaitu tempat kebaktian bagi Hok Tik Sin yang oleh orang Tionghoa dipercaya sebagai Dewa Bumi. Namun, pada masa Orde Baru berkuasa, nama klenteng yang berbau Tiongkok diganti namanya menjadi Vihara Buddha Prabha. Karena pada waktu itu hanya terdapat lima agama resmi yang diakui oleh pemerintah, sehingga unsur Buddha yang tetap diizinkan untuk digunakan.
Vihara Buddha Prabha yang memiliki lahan seluas 1.150 m² ini menghadap ke barat dan dikelilingi oleh halaman yang cukup luas. Bangunan vihara ini berdenah persegi panjang, yang terdiri atas ruang utama di tengah, ruang sisi utara, ruang sisi selatan, dan ruang belakang, sedangkan di tengah-tengah bangunan vihara terdapat pelataran terbuka. Ciri utama dari vihara ini adalah atapnya berbentuk Ngang San dengan bubungan yang kedua ujungnya melengkung ke atas. Atapnya dihiasi dengan dua patung naga berekor tegak ke atas yang sedang mengapit bola api. Bola api ini merupakan simbol dari mutiara milik Sang Buddha. Dalam tradisi Tionghoa, naga melambangkan kekuatan dan perlindungan, sedangkan bola api melambangkan kesucian.
Pada dinding, pilar, dan bagian lain dari bangunan vihara ini, terdapat banyak lukisan atau ukiran berlatarbelakang budaya Tiongkok dengan berbagai ragam hias. Pada ruang utama vihara ini terdapat beberapa altar sembahyang lengkap dengan patungnya. Altar yang berada di tengah ruangan merupakan altar pemujaan bagi Buddha Gautama, Dhyani Bodhisatva Avalokiteswara, Prajna-Paramita, dan Maitreya. Selain itu juga terdapat altar untuk memuja Hok Tik Cing Sin, Day Yang Sing Kun, Day Ing Poo Sat, Kong Tik Coen Ong, dan Thian Siang Sing Bo yang merupakan Dewa Utama dalam Taoisme.
Pada ruang samping kiri terdapat altar untuk pemujaan bagi Hiang Thian Siang, sedangkan di ruang samping kanan terdapat altar untuk memuja Kwan Tee Koen dan Kong Hu Cu. Di ruang belakang terdapat altar untuk melakukan persembahan kepada tokoh-tokoh Buddha yang dilambangkan dalam patung-patung berukuran kecil yang menggambarkan Buddha Gautama, Dhyani Buddha Amitabha, Bhaisajyaguru Buddha, Dhyani Bodhisatva Avalokiteswara dan Maitreya. Di ruang atas yang merupakan ruang tambahan, terdapat altar untuk Buddha Gautama, Dhyani Buddha Amitabha, Bhaisajyaguru, Ananda, dan Sariputra.
Bangunan vihara ini merupakan bangunan kuno yang telah terdaftar sebagai warisan budaya dan heritage tertanggal 26 Maret 2007 berdasarkan Surat Perintah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007, dan di halaman depan vihara juga telah dipasangi papan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan yang menunjukkan bahwa bangunan vihara ini merupakan cagar budaya yang dikenal luas oleh masyarakat Yogyakarta sebagai Klenteng Gondomanan. *** [160815]

Share:

Bruderan FIC Yogyakarta

Pada waktu tumbuh dan berkembangnya perkebunan tebu semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921), berbagai jenis pabrik, perbankan, asuransi, perhotelan dan pendidikan juga turut bermunculan. Pada waktu itu, komunitas Belanda di Yogyakarta berkembang pesat.
Seiring dengan perkembangan komunitas Belanda di Yogyakarta, Pemerintah Hindia Belanda juga mulai membangun fasilitas-fasilitas pendukung yang diperlukan oleh orang-orang Belanda yang bermukim di Yogyakarta. Salah satu fasilitas pendukung bagi pendidikan dan keagamaan, dibangunlah Bruderan FIC di kawasan nol kilometer Yogyakarta.
Bruderan ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 18 Kampung Yudonegaran RT. 09 RW. 01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi Bruderan ini berada di sebelah timur Kantor Bank Indonesia Yogyakarta, atau di sebelah selatan benteng Vredeburg.
Y. Indarti N, Tri Hartini dan Sri Suharini dalam tulisannya yang berjudul Kilas Sejarah Bruderan FIC Yogyakarta (Buletin Narasimha No. 07/VII/2014) mengulas mengenai keberadaan Bruderan FIC di Yogyakarta, sebagai berikut:
Kegiatan pewartaan agama Katolik bagi orang-orang Jawa berlangsung pada periode 1914-1940. Perkembangan karya misi tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran para misionaris Serikat Jesus atau yang sering dikenal dengan ordo Jesuit. Dalam melakukan pengembangan misi di antara orang-orang Jawa, sejak awal telah disadari oleh para misionaris Jesuit bahwa sekolah dapat dijadikan salah satu sandaran dan sekaligus sebagai bentuk karya sosial yang nyata dalam pengembangan misi tersebut. Kebutuhan baru masyarakat untuk memperoleh pengajaran modern dapat dikatakan mempunyai kesesuaian dengan fungsi strategis sekolah bagi proses pewartaan agama Katolik. Dengan demikian sekolah harus dikelola secara baik dan sedapat mungkin terus ditambah jumlahnya.


Dalam rangka pengembangan sekolah tersebut, maka misionaris Jesuit sangat mengharapkan peran aktif para Bruder biarawan. Mereka dianggap memiliki pengalaman dan ketekunan yang tinggi serta perhatian dan dasar-dasar kerohanian yang kuat. Para Bruder tersebut dinilai tidak hanya akan dapat memberikan ilmu pengetahuan tetapi juga sendi-sendi keagamaan kepada peserta didik dan guru-guru pendidiknya melalui interaksi sosial dan keteladanan hidup setiap hari.
Keinginan ordo Jesuit untuk melibatkan para Bruder dalam mengelola sekolah misi juga terwujud di Yogyakarta. Kedatangan mereka di Hindia Belanda sebenarnya telah lama dinantikan oleh misionaris Jesuit. Permohonan bantuan tenaga secara resmi diajukan pertama kali oleh pemimpin misi Jesuit, yaitu P.J. van Santen. Pada tahun 1919 permintaan tersebut diulangi kembali oleh P.J. Hoeberechts. Setelah disanggupi, maka pada tahun 1920 lima orang Bruder FIC yang pertama berangkat ke Hindia Belanda dengan tujuan Yogyakarta.
Perlu diketahui bahwa Kongregasi Bruder FIC dalam bahasa Latin disebut dengan Congregatio Fratres Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis, dalam bahasa Inggris disebut dengan Congregation of the Brothers of the Immaculate Conception of the Blessed Virgin Mary. Sedangkan dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Maria yang Tak Bernoda (FIC). Kongregasi tersebut didirikan oleh Pastor Ludovicus Rutten pada tanggal 21 November 1840 di Kota Maastricht, Belanda. Pada tanggal 28 Desember 1919, ketika dirayakan pesta berdirinya 75 tahun kongregasi, ada pengumuman dari Dewan Umum bahwa pada tahun 1920 akan dibuka Bruderan FIC di Yogyakarta. Hal ini bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah sehingga dapat mendukung karya misi Katolik di Kota Yogyakarta. Dari 113 Bruder yang mendaftarkan diri ke Dewan Umum untuk menjadi misionaris di Jawa, akhirnya pada pesta Paskah pada tahun 1920 Dewan Umum mengumumkan bahwa akan ada 5 Bruder yang ditulis menjadi misionaris, yakni Br. August, Br. Lebuinus, Br. Eufrasius, Br. Contantius, dan Br. Ivo.
Pada hari Minggu tanggal 8 Agustus 1920, sesudah misa agung di Biara Induk De Beyart di Maastricht, Br. August dilantik sebagai pemimpin Komunitas FIC St. Fransiskus Xaverius di Yogyakarta. Pada tanggal 14 Agustus para misionaris pertama yaitu Br. August, r. Constantius, Br. Lebuinus, Br. Eufratius, dan Br. Ivo berangkat ke Jawa naik kapal Wilis dari pelabuhan Rotterdam menuju Batavia. Dan pada tanggal 19 September 1920 mereka sampai di Tanjung Priok. Pada waktu itu Pastor van Lith sendiri yang hadir di pelabuhan untuk mengucapkan “Selamat Datang”. Hal ini merupakan suatu peristiwa yang mengandung makna bahwa betapa pentingnya kedatangan mereka. Di Batavia mereka menginap semalam di Gereja Katedral. Pada tanggal 20 September 1920, mereka melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah melewati Cirebon, Purwokerto, Kroya, Kebumen hingga sampai di Yogyakarta. Di Stasiun Tugu mereka dijemput oleh Superior Misi, Pastor Hoeberechts. Sesudah disambut di Pastoran Kampementstraat (pastoran Kidul Loji sekarang) dan bertemu dengan Pastor Henri van Driesche. Para Bruder baru tersebut mendapat rumah sangat dekat dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berbatasan dengan alun-alun, tepatnya di Kampementstraat atau sekarang Jalan Panembahan Senopati No. 18 Yogyakarta. Sejak itu, tanggal 20 September dikenang dan diperingati sebagai tanggal hadirnya para Bruder FIC di Indonesia.
Dewan Pusat di Maastricht menyatakan bahwa para Bruder yang diutus akan bekerja untuk anak-anak pribumi di Hindia Belanda, dalam hal ini anak-anak Jawa. Dengan demikian HIS (Hollandsch-Inlandsche School) adalah satu-satunya tipe sekolah yang dapat menerima para Bruder. Pada tahun 1920 dua buah HIS Putera di Yogyakarta diambil alih pengelolaannya oleh para Bruder FIC asal Maastricht, Belanda. Perlu diingat bahwa para Bruder FIC selain mengelola HIS Putera di Yogyakarta, sebagian dari mereka juga mengelola HIS Putera di Muntilan. Kongregasi biarawan dari Maastricht ini memang sangat akrab dengan dunia pendidikan dan pengajaran. Di Belanda pada tahun 1920-an mereka mengelola lebih dari 50 sekolah. Pada tanggal 7 Juli 1921 komunitas Yogyakarta diperkuat lagi dengan kedatangan Br. Laurentius dan Br. Marcellianus.
Peran para Bruder dalam proses pewartaan Katolik menjadi lebih luas ketika pada tahun 1922 dipercaya untuk mengelola percetakan/penerbitan Kanisius yang hingga saat ini memiliki sumbangan besar bagi gereja dan masyarakat Indonesia. Para Bruder secara nyata berperan dalam menebarkan pengaruh dan ikut membentuk wacana-wacana baru melalui buku-buku yang diterbitkan. Dapat dikatakan bahwa buku memiliki fungsi strategis untuk mengatasi keterbatasan komunikasi lisan. Mengingat penerbit Kanisius merupakan bagian integral dari perangkat pengembangan misi, maka arah kebijakan perbukuannya juga tidak akan menyimpang dari kerangka pewartaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedatangan para Bruder baru tersebut di Yogyakarata sangat bermanfaat bagi kegiatan misi. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun sejak kedatangan rombongan pertama, Kongregasi Bruder FIC telah dapat mengelola suatu divisi baru tanpa harus mengabaikan sektor pengajaran yang dipercayakan kepadanya. Kongregasi Bruder FIC melalui percetakan Kanisius selain berperang dalam pengadaan buku juga ikut menciptakan lapangan pekerjaan bagi sejumlah umat Katolik di Yogyakarta.


Perlu diketahui bahwa misionaris Jesuit mendirikan “Perkumpulan Kanisius” yang kemudian hari berubah namanya menjadi “Yayasan Kanisius” yang mengelola sekolah-sekolah Katolik di Yogyakarta. Para Bruder menjadi guru di bawah Kanisius sebagai pengurus sekolah, baik sekolah Eropa maupun Jawa. Segala gaji masuk kas Kanisius sehingga Kanisiuslah yang membayar 100 gulden sebulan kepada Bruder-Bruder yang tak termasuk subsidi. Pada tahun 1922 Perkumpulan Kanisius membangun gedung HIS dan Bruderan (rumah Bruder). Gedung sekolah HIS tersebut bertingkat 2 dengan 18 ruang kelas. Pada tanggal 13 Januari 1923 gedung sekolah tersebut diberkati. Setelah pembangunan sekolah tersebut selesai, kemudian direncanakan untuk mulai membangun gedung Bruderan yang baru. Pada waktu arsitek J. Th. van Oyen sudah membuat perhitungan untuk pembangunan gedung Bruderan tersebut, tetapi karena biayanya dianggap terlalu tinggi sehingga tidak dapat diterima.
Pada tanggal 1 Maret 1923 dua rumah tentara diserahkan kepada pihak misi. Pada waktu itu, kongregasi membayar 52.000 gulden. Pembongkaran rumah tersebut dimulai pada tanggal 24 Maret 1923. Perkumpulan Kanisius yang melakukan penandatangan kontrak pembangunan gedung Bruderan seperti pada pembangunan sekolah yang telah dilakukan terlebih dahulu. Dalam buku Donum Desursum diuraikan bahwa setelah rumah militer tersebut dibongkar, maka para Bruder dapat melihat Kampementstraat dan Benteng Vredeburg dari jendela rumah mereka. Pada tahap pertama pembangunan gedung baru Bruderan meliputi kamar tamu, kapel dan beberapa tempat tidur. Pembangunan tahap pertama selesai pada bulan Oktober 1923 sehingga komunitas Bruder tersebut dapat segera pindah tempat. Pada tanggal 7 Desember 1923 Sakramen Mahakudus dilaksanakan di kapel baru dan hari berikutnya dilaksanakan Misa Agung pertama.
Selanjutnya dilakukan pembangunan gedung Bruderan tahap kedua yang terdiri atas ruang rekreasi, ruang makan, dapur dankamar tidur. Pada Maret 1924 Bruderan baru tersebut diberkati oleh Pastor Frans Strater. Akhirnya para Bruder dapat menempati perumahan yang lebih sesuai dan sekarang dikenal dengan Bruderan FIC Fransiskus Xaverius.
Para Bruder misionaris, selain berkarya di sekolah, juga berusaha menarik panggilan para pemuda pribumi ke Kongregasi FIC. Dua tahun sesudah kedatangan mereka di Yogyakarta, ada dua calon Bruder FIC pribumi dan keduanya menerima pendidikan sebagai Bruder FIC di Belanda. Pada tahun 1924, kedua calon Bruder FIC pribumi yaitu Br. Aloysius Sugiardjo dan Br. Jacobus Hendrowarsito mengikrarkan kaul pertama di Maastricht. Calon-calon berikutnya juga mengalami pendidikan sebagai calon Bruder FIC di Belanda.
Sejak tanggal 1 Agustus 1936 dimulailah pendidikan calon Bruder di Jawa dan sampai hari ini pendidikan tersebut berjalan terus. Dengan berkembangnya jumlah Bruder FIC pribumi, maka berkembang pula jumlah komunitas dan karya yang ditangani. Para Bruder tetap berusaha melanjutkan dan membangun pondasi Kongregasi yang telah dibangun Pastor Rutten dan Br. Bernardus beserta para misionaris yang datang ke Hindia Belanda. Dapat dikatakan bahwa dalam kurun waktu antara tahun 1920, yaitu tahun berdirinya misi FIC di Hindia Belanda dan bulan Desember 1941 ketika pecah Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik, karya para Bruder  berkembang dengan lancar. Dari Belanda secara teratur ada Bruder-Bruder baru diutus ke Jawa untuk mengajar di sekolah-sekolah dasar maupun menengah yang makin bertambah jumlahnya.
Pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang. Dalam masa penjajahan Jepang, kehidupan rakyat semakin sulit. Pada tanggal 12 April 1942 Bruderan Yogyakarta disita oleh tentara Jepang. Bruderan kemudian dipakai untuk Kempetai. Hampir semua Bruder Belanda diinternir oleh Jepang. Mereka yang diinternir dibawa ke kamp-kamp yang kehidupannya begitu menyedihkan. Makanan amat kurang dan fasilitas hidup pun jauh dari layak. Dengan kata lain, kehidupan para Bruder begitu menyedihkan. Untunglah pada waktu itu, FIC telah melahirkan para Bruder pribumi. Mereka adalah Br. Aloysius Soegihardjo, Br. Timotheus Wignjosoebroto, Br. Petrus Claver Atmosoejitno, Br. Mario Hardabudja, dan Johanes de Deo Wangsadimedja. Para Bruder pribumi inilah yang menjadi “penyelamat” kehidupan para Bruder dan kelangsungan FIC di Hindia Belanda. Dari luar kamp, para Bruder sedapat mungkin meringankan beban hidup para Bruder yang diinternir.
Sekolah-sekolah misi yang menggunakan bahasa Belanda juga ditutup dan dibubarkan. Dengan demikian sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) juga dibubarkan karena Sekolah Menengah Katolik pada waktu itu tidak diperbolehkan. Untuk itu, para Bruder pribumi yang tidak diinternir kemudian menempati asrama bekas MULO tersebut. Pada waktu itu tinggal 2 orang Bruder yang tinggal di bekas asrama bekas MULO. Asrama tersebut penuh dengan perabot rumah milik Bruderan.
Asrama para Bruder sangat dekat dengan Kempetai sehingga selalu ada kemungkinan salah seorang anggota Kempetai mengunjungi tempat mereka. Pada tahun 1943 asrama para Bruder tersebut mendapat pemeriksaan dari Kempetai. Pada waktu itu para Kempetai yang melakukan pemeriksaan heran melihat asrama penuh dengan perabot rumah dan sebagainya. Br. Mario yang tinggal di asrama tersebut menjelaskan bahwa semua itu milik Gereja Katolik. Perundingan dengan anggota Kempetai tersebut menggunakan bahasa Jepang. Pemeriksaan berlangsung dengan baik, dan ketika akan meninggalkan asrama para anggota Kempetai memeriksa harmonium yang ditempatkan di dekat pintu. Harmonium tersebut model Perancis, bentuknya mirip dengan lemari. Pada waktu anggota Kempetai bertanya apakah itu radio, Br. Mario menjelaskan bahwa itu bukan radio tetapi alat untuk mengiringi perayaan ibadat. Kemudian para Kempetai tersebut mendengarkan lagu Katolik. Lagu tersebut rupanya berkenan di hati dan telinga anggota Kempetai tersebut. Ketika para anggota Kempetai hendak pulang mereka berpesan: “Apabila para Bruder pernah mengalami gangguan, katakan saja kepada kami”. Sesudah itu tidak ada anggota Kempetai yang berkunjung ke asrama tersebut.
Pada tahun 1945, para Bruder mulai merasakan bahwa tentara Nippon mulai lunak dalam tindakannya. Mereka sering melihat orang Jepang dalam pakaian preman atau sipil. Pada tanggal 5 Juli 1945 Pastor Paroki Bintaran yaitu Romo Martowerdaya memberitahukan bahwa Kempetai akan meninggalkan Bruderan di Kidul Loji. Pada waktu itu Br. Mario tinggal sendirian karena Br. Petrus Claver pindah ke Bara menjabat Superior Misi sekaligus pemimpin Novis di Bara. Br. Mario berhasil memperoleh surat keterangan rangkap dua di atas meterai yang menyatakan bahwa rumah atau Bruderan tersebut akan dikembalikan kepada pemilik yang sah. Br. Mario menerima semua kunci Bruderan, sehingga ia segera dapat memulai membersihkan gedung serta mengatur penjaganya. Pada waktu itu para guru belum berani untuk membantu membersihkan gedung Bruderan. Br. Mario dengan dibantu para murid dan pemuda mulai membersihkan Bruderan. Para pemuda tersebut sibuk mencari senjata dengan cara memeriksa semua kamar Bruderan, membuka semua lemari dan laci. Akan tetapi mereka tidak menemukan revolver maupun granat tangan. Selain itu mereka juga menggali lubang di sebelah selatan kapel, tetapi juga tidak menemukan senjata maupun granat.
Berkat pertolongan para murid dan pemuda, maka tugas tersebut dapat terlaksana. Ruangan Bruderan dapat ditempati kembali dan Br. Mario kemudian menempati memilih kamar yang dekat pintu masuk, sedangkan beberapa murid tidur dalam kamar-kamar lain. Pada tanggala 13 September Br. Leonardo datang ke Yogyakarta. Kedatangan Br. Leonardo tersebut membantu Br. Mario mempersiapkan gedung Bruderan menerima para Bruder yang akan datang dari Jawa Barat, Bandung dan Cimahi. Selepas masa internir para Bruder kembali mengolah kehidupan dan karya-karya yang hancur kembali ditata.
Sesudah tahun 1950 ketergantungan pemimpin FIC di Indonesia pada Kongregasi di Belanda semakin berkurang. Kongregasi FIC di jawa semakin mandiri, meskipun bantuan keuangan dari Belanda masih tetap diharapkan dan dibutuhkan. Dengan adanya pasang surut situasi politik dan ekonomi di Indonesia ikut mempengaruhi keadaan para Bruder. Hubungan dengan Belanda dapat dikatakan semakin longgar atau bahkan putus sama sekali, pada waktu Pemerintah Indonesia melarang kontak apapun dengan Belanda. Dengan kata lain, misi di Jawa harus mandiri, yaitu bertindak sendiri dan mengambil keputusan sendiri.
Dalam perkembangan hingga sekarang, jenis karya Kongregasi FIC di Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta pada khususnya tidak banyak berubah. Pengajaran dan pendidikan tetap merupakan karya utama. Karya pelayanan bidang pendidikan Kongregasi FIC berada di bawah naungan Yayasan Pangudi Luhur (YPL) yang berpusat di Semarang. Yayasan itu mengurus lembaga pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA. Beberapa Bruder yang saat sekarang tinggal di Bruderan FIC adalah Br. Herman Yoseph, Br. Valentinus Naryo, Br. FX. Teguh Supono, Br. Christoforus Sangsung, Br. Wensilaus Parut, dan Br. Andreas Purwanto.
Bangunan Bruderan FIC berbatasan dengan SMA Pangudi Luhur di sebelah barat, Kantor Pelayanan Pajak Pratama di sebelah timur, Jalan Panembahan Senopati di sebelah utara, dan pemukiman penduduk di sebelah selatan. Bangunan ini menghadap ke utara dan di depannya terdapat halaman yang dibatasi dengan pagar besi.
Bangunan bernah O, dan terdiri dari 5 bangunan yaitu bangunan depan, bangunan sayap barat, bangunan sayap timur, bangunan belakang, dan kapel. Ketinggian dinding dari kelima bangunan yang terbuat dari bata berplester setebal 30 cm, dan dicat warna putih krem. Permukaan dinding bawah diberi tatanan batu andesit setinggi 65 cm yang dicat warna hitam pada batunya, dan di sela batu dicat warna putih, kemudian di atasnya terdapat list setinggi 15 cm. Lantai bangunan dari tegel warna abu-abu ukuran 20 cm x 20 cm dengan pelisir tegel warna merah dengan ukuran sama. *** [160815]

Share:

Gedung Bank Indonesia Yogyakarta

Kawasan nol kilometer Yogyakarta menyimpan memori, dan menyisakan sejumlah bangunan peninggalan kolonial Belanda. Mulai dari benteng, gedung pemerintahan, bangunan ibadah, sekolah hingga bank. Salah satu bangunan lawas bercorak kolonial yang ada di kawasan tersebut adalah Gedung Bank Indonesia (BI).
Gedung BI ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 4 Kampung Yudonegaran RT. 09 RW. 01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah timur Kantor Pos Besar, dan sebelah barat Gedung BI yang baru.
Semenjak awal berdirinya, bangunan ini memang telah berfungi sebagai bank. Dahulu gedung ini berfungsi sebagai kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Yogyakarta yang dibuka pada tanggal 1 April 1879 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Djokjakarta.


Kantor cabang ini merupakan kantor cabang ke-8 setelah Semarang, Surabaya, Padang, Makassar, Cirebon, Surakarta, dan Pasuruan, yang berdiri lantaran adanya usulan dari berbagai pihak, terutama Firma Dorrepaal & Co Semarang yang memiliki kepentingan usaha (perkebunan) di daerah ini. Presiden Direktur DJB ke-7, Norbertus Petrus van den Berg (1873-1889) dan jajaran direksi menyetujui permintaan itu mengingat cerahnya angka perdagangan di Yogyakarta. Karena pada waktu itu, Yogyakarta berkembang secara pesat perekonomiannya dengan hadirnya pabrik gula yang seluruhnya berjumlah 17 buah dengan nilai perputaran uang kala itu mencapai angka 2 – 3,5 juta gulden. Sebagai daerah penghasil gula, nilai produksi yang dicapai sekitar 2.580 ton/per tahun setara 300.000 pikul per tahun.
Pada tahun 1912, dibangun gedung permanen dua lantai di lokasi yang saat ini ditempati. Pada awal berdirinya, Kantor DJB Cabang Yogykarta menggunakan bangunan yang terletak di Kampung Gondomanan seluas 300 m². Sebagai lembaga keuangan yang dibebani kepercayaan dan kehati-hatian dalam mengelola keuangan, DJB memilih gaya arsitektur yang konservatif dalam menanamkan brand-image pada masyarakat, yaitu Neo Renaissance atau gaya Ekletisisme. Perancangan gedung baru ini dilakukan oleh biro arsitek terkemuka di Hindia Belanda bernama N.V. Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam yang didirikan pada tahun 1910 oleh Eduard Cuypers dan Marius J. Hulswit bersama A.A. Fermont.


Gedung permanen tersebut akhirnya selesai pembangunannya pada tanggal 15 Februari 1915, dan sebagai pemimpin cabang pertamanya adalah A.F. van Suchtelen.
Pada masa pendudukan Jepang, kegiatan DJB terhenti akibat kebijakan penglikuidasian seluruh bank Belanda, Inggris, dan beberapa bank China oleh Jepang. Baru pada tanggal 10 Oktober 1945 ketentuan tersebut dicabut, disusul dengan pembukaan kembali beberapa kantor cabang kecuali kantor cabang yang berada di daerah pedalaman. Salah satu kantor cabang yang dibuka kembali adalah Kantor Cabang Yogyakarta, yaitu pada tanggal 30 Desember 1948. Namun, tanggal 30 Juni 1949 kantor ini ditutup untuk kedua kalinya, dan dibuka kembali tanggal 22 Maret 1950 hingga sekarang.
Setelah mengalami nasionalisasi pada tahun 1951, kegiatan di Kantor DJB diambil alih oleh Pemerintah RI dan dijadikan Bank Indonesia mulai 1 Juli 1953, termasuk yang berada di Yogyakarta ini. Seiring dengan perkembangan kegiatan operasional yang meningkat, mulai tanggai 4 Februari 1993 gedung baru BI yang bersebelahan dengan gedung lama diresmikan. Selanjutnya sebutan Kantor BI Cabang Yogyakarta sejak tanggal 1 Agustus 1996 berubah menjadi Kantor BI Yogyakarta.
Setelah kegiatan operasional BI dpindahkan di gedung yang baru, gedung yang lama mulai direnovasi sebagai bagian dari program konservasi bangunan heritage yang dilakukan oleh BI, dan sejak tahun 2012 gedung lama ini difungsikan sebagai museum dan cyber library kantor Bank Indonesia. *** [160815]

Fotografer: Gigih Suprayoga, S.IP



Share:

Kantor Pos Besar Yogyakarta

Penjajahan Belanda membawa pengaruh pada aspek kehidupan masyarakat Indonesia, baik aspek ekonomi, religi, seni dan filsafat, maupun arsitektur dan interior bangunan yang berkembang pada saat itu. Masa kolonial Belanda telah memberi pengaruh positif dalam perkembangan arsitektur kota. Jejak-jejak arsitektur kolonial turut memberi warna khas wajah kota Yogyakarta. Karakteristiknya yang kuat menjadikan arsitektur kolonial sebagai langgam yang mudah dikenal, seperti misalnya gedung Kantor Pos Besar Yogyakarta.
Kantor pos ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 2 Kampung Yudonegaran RT. 09 RW. 01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi kantor pos ini berada di sebelah barat Gedung Bank Indonesia dan di sebelah timur BNI 46, atau tepat berada di pojok tenggara dari perempatan benteng.
Bangunan kantor pos ini dibangun pada tahun 1912 dari hasil rancangan insinyur-insinyur yang tergabung dalam Burgerlijke Openbare Werken (BOW), sebuah Departemen Pekerjaan Umum semasa pemerintahan Hindia Belanda. Bangunan megah yang berdiri di sudut pertemuan antara Jalan Panembahan Senopati (dulu bernama Kampementstraat) dan Jalan Trikora (dulu dikenal dengan Kadasterstraat) ini, memiliki luas bangunan 1.121,45 m² di atas lahan seluas 6.400 m².


Bangunan ini dibangun sebagai fungsi kantor pos dari awal berdirinya hingga saat ini. Dulu namanya Post, Telegraaf en Telefoon Kantoor. Kondisi bangunan ini masih terawat dengan baik. Di atas bangunan ini terlihat atap dormer selurus vertikal pintu utamanya. Dormer adalah jendela yang diletakkan pada atap bangunan. Jendela ini merupakan bagian dari ruangan di bawah atap, dibuat menjorok keluar dalam posisi tegak lurus dan sering memiliki atap tersendiri.
Selain dormer, bangunan ini juga memiliki kekhasan pada bukaan yang berada di fasadnya. Bukaan di kantor pos ini ada dua jenis,  yaitu bukaan persegi panjang dan bukaan setengah lingkaran. Namun di antara bukaan tersebut, yang dominan menonjol pada fasad adalah bukaan setengah lingkaran, jumlahnya ada enam buah. Tujuan bukaan pada kantor pos ini untuk memasukkan sinar matahari ke dalam bangunan tersebut.
Bangunan kantor pos ini menghadap ke arah utara, atau ke arah benteng Vredeburg. Denah bangunan berbentuk tapal kuda ini menerapkan konsep arsitektur transisi. Perubahan gaya arsitektur pada zaman transisi atau peralihan (antara tahun 1890 sampai tahun 1915), dari gaya arsitektur Indische Empire Style (abad 18 dan 19) menuju arsitektur Kolonial Modern (setelah tahun 1915) sering terlupakan. Mungkin karena waktunya relatif singkat.
Karya yang bisa digolongkan sebagai arsitektur transisi sekarang kebanyakan sudah dibongkar. Tapi beruntunglah Kantor Pos Besar Yogyakarta yang masih berdiri dengan kokoh. Kekokohan ini menjadi saksi akan perjalanan bangunan tersebut yang telah beberapa kali berganti nama hingga menjadi PT. Pos Indonesia (Persero) seperti sekarang ini. *** [160915]

Share:

Gedung KONI DIY

Kawasan nol kilometer Yogyakarta merupakan kawasan yang berada di seputaran perempatan benteng, mulai dari sebelah utara alun-alun sampai di Pasar Beringharjo. Kawasan nol kilometer ini tergolong sebagai pusat kota Yogyakarta. Sebagai pusat kota, kawasan nol kilometer menyimpan memori sejarah dengan deretan bangunan kuno yang terdapat di kawasan tersebut. Salah satunya adalah gedung KONI DIY.
Gedung KONI ini terletak di Jalan Trikora No. 4 Kampung Kauman RT. 38 RW. 11 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah selatan gedung BNI 46, atau sebelah barat Kantor Pos Besar.
Dari data Potensi Budaya di Kecamatan Gondomanan Yogyakarta, diketahui bahwa bangunan gedung KONI ini didirikan pada tahun 1775 oleh masyarakat Tionghoa. Orang Tionghoa di Yogyakarta sudah mulai menetap sejak kota Yogyakarta pertama kali didirikan pada tahun 1755. Hal itu diikuti dengan adanya seorang kapten Tionghoa untuk daerah Mataram pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I bernama To In. Selain To In, ada sosok Tan Jin Sing yang menjadi kapten, penerjemah, asisten, sekaligus teman baik dari Sultan Hamengku Buwono III. Ia juga mempunyai peran penting dalam membantu Sultan Hamengku Buwono III menjadi sultan. Nama Jawanya adalah Secodingrat dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT), yang kemudian menjabat bupati dan tinggal di Ndalem Secodingratan (sekarang menjadi Bank Indonesia).
Dari sejarah orang Tionghoa di Yogyakarta, terlihat bahwa masyarakat Tionghoa mempunyai hubungan yang erat dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Meskipun banyak masyarakat Tionghoa saat itu lebih berorientasi ke Barat dan Tiongkok, etnis Tionghoa di Yogyakarta tetap menghormati dan menghargai Sultan dan kraton sebagai penguasa Yogyakarta. Hubungan yang baik antara masyarakat Tionghoa dan Kesultanan Yogyakarta dapat terlihat dari bangunan klenteng yang berdiri di atas tanah milik Kesultanan Yogyakarta. Kesultanan Yogyakarta memberikan suatu wilayah untuk masyarakat Tionghoa bertempat tinggal dan membuka usaha serta berkumpul. Salah satunya tempat berkumpul orang-orang Tionghoa adalah gedung yang digunakan untuk kegiatan KONI ini.


Semula bangunan tersebut masih belum sebesar ini, namun seiring perjalanan waktu bangunan tersebut menjadi besar. Kemudian ketika orang-orang Tionghoa memiliki perkumpulan yang diberi nama Chung Hua Tsung Hui (CHTH) pada akhir 1945 atau setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut digunakan untuk pertunjukan kesenian sekaligus untuk koordinator kelompok atau klub kesenian Tionghoa hingga tahun 1965. Di gedung pertunjukan CHTH ini pernah berlangsung pergelaran dua lakon sekaligus. Yang satu lakon saduran Hendrik Ibsen di bawah sutradara Sunardi, dan satu lagi lakon saduran Arnold Strindberg di bawah sutradara Umar Kayam. Aktris dan aktor terkemuka dari kalangan mahasiswa ketika itu, antara lain Irawati (istri Masri Singarimbun) dan Heryani (istri Busono Wiwoho), WS Rendra dan Purbatin Hadi. Akan tetapi, sejak Umar Kayam melanjutkan studi ke Amerika Serikat untuk meraih gelar MA di New York University (1963) dan Ph.D di Cornel University, Ithaca (1965), seolah repetoar-repetoar pun turut meredup.
Pada perkembangannya, nama gedung CHTH berganti nama menjadi BAPERKI (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) pada tahun 1964. BAPERKI ini bertugas untuk memuluskan integrasi orang Tionghoa kepada Republik Indonesia, dan pada awalnya memang tidak terafiliasi PKI atau komunis atau kiri.
Akan tetapi, seiring menguatnya hubungan PKI dengan Partai Komunis Tiongkok maka pengaruh komunis di BAPERKI semakin kuat dan mencengkeram BAPERKI, dan hal ini sesuai dengan ideologi BAPERKI yang menolak menghilangkan kebudayaan Tiongkok dari warga negara Indonesia yang keturunan Tiongkok.
BAPERKI yang pada waktu itu kegiatannya telah berafiliasi dengan PKI, mendirikan sebuah universitan dengan nama Res Publika. Ruang kuliahnya berada di bagian belakang gedung BAPERKI, yang kala itu masih dipakai sebagai tempat latihan bulutangkis oleh perkumpulan Chung Hua Tsing Nien Hui atau sering disebut dengan Tsing Nien Hui (TNH) saja. Suatu ketika terjadi perselisihan antara pihak universitas dengan organisasi TNH yang membawahi olahraga bulutangkis tersebut. Berlarut-larutnya perselisihan ini, akhirnya tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Sehingga, TNH melaporkan masalah tersebut kepada aparat yang berwenang, di mana pada waktu itu ditangani dan diselesaikan oleh Corps Polisi Militer (CPM) di bawah komando Kolonel Mas Subagio. Akhirnya, ruangan yang dipakai Universitas Res Publika dikembalikan kepada TNH untuk dapat digunakan berlatih bulutangkis kembali, dan kemudian diperluas dengan angkat besi, tenis meja, judo dan billiard.
Pada waktu meletus peristiwa G30S/PKI, gedung BAPERKI ini sempat direbut dan dikuasai oleh ormas komunis. Kemudian aparat militer merebutnya dengan melakukan kontak sejata. Setelah berhasil dikuasai oleh aparat militer, gedung BAPERKI tersebut tidak diperbolehkan digunakan untuk kegiatan apapun termasuk kegiatan olahraga. Sejak saat itu, gedung BAPERKI dikuasai oleh TNI dari Batalyon 403 di bawah komando Kapten Gideon.
Lalu, gedung BAPERKI ini digunakan sebagai kantor Kesra Kodya Yogyakarta, dan sejak tahun 1978 gedung ini digunakan sebagai gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, atau biasa disingkat menjadi gedung KONI DIY.
Gedung yang memiliki luas bangunan 1.000 m² di atas lahan 1.000 m² ini memiliki denah segi empat dengan atap limasan. Pada bagian depan terdapat berada dengan tiang besi, sedangkan di bagian belakang masih terdapat ruang pertunjukkan untuk kesenian.
Terbersit berita bahwa setelah gedung baru KONI yang berada di bagian timur GOR Amongrogo nanti ditempati, rencananya gedung lama KONI DIY yang telah berusia ratusan tahun lebih akan dialihfungsikan menjadi Museum Olahraga DIY. *** [061012]

Kepustakaan:
http://databudaya.net/index.php/databudaya/databudayaatribut/cabud/id/1937
https://groups.yahoo.com/neo/groups/umarkayam/conversations/messages/32
http://m.kompasiana.com/setiawan_78/lekra-gerwani-BAPERKI-pki_552fd1206ea83460418b4638
http://tnh-judo.blogspot.co.id/2008/12/profil-klub-tnh.html
http://www.kompasiana.com/inunknastiti/harmoni-kehidupan-cina-di-kota-gudeg_550e6c6d813311b82cbc6293
http://www.kompasiana.com/ismawatiretno/sepuluh-pusaka-heritage-di-yogyakarta-nol-kilometer_54ffaff1a33311894c510e3b
Share:

Gedung BNI 46 Yogyakarta

Setelah puas menikmati keindahan Gedung Agung, menyeberang Jalan K.H. Ahmad Dahlan sedikit, Anda akan menemukan bangunan megah dua lantai bercat putih yang berada di pojok perempatan atau lampu merah beteng. Bangunan lawas tersebut adalah Gedung BNI 46.
Gedung BNI ini terletak di Jalan Ahmad Dahlan No. 1 Kampung Kauman RT. 38 RW. 11 Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gedung ini berada di pojok perempatan atau lampu merah benteng, atau berada pada pertemuan Jalan Ahmad Dahlan dan Jalan Trikora.
Menurut catatan sejarah yang ada, gedung BNI ini dulunya merupakan gedung yang digunakan untuk kantor Nederlandsch- Indische Levensverzekeringen en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ). NILLMIJ merupakan perusahaan asuransi jiwa yang didirikan oleh C.F.W. Wiggers van Kerchem, seorang financier pertama di Hindia Belanda, pada 31 Desember 1859 dengan Akta Notaris William Hendry Nomor 185. Van Kerchem juga kelak menjadi Presiden Direktur De Javasche Bank periode 1863-1868.


Gedung tersebut merupakan hasil rancangan Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, mulai dibangun pada tahun 1921 dan selesai pada tahun 1922. Kantor-kantor NILLMIJ di Hindia Belanda, pada umumnya dibangun dengan cita rasa arsitektur tinggi. Ghijsels, arsitek yang dipercaya mendesain kantor NILLMIJ Yogyakarta ini, merancang dengan langgam Art Deco. Gaya khas arsitektur ini ditandai dengan konstruksi pilar-pilar tinggi. Pintu dan jendela yang lebar dan tinggi pada gedung ini merupakan ciri-ciri bangunan Eropa. Dinding dihiasi dengan roster yang berfungsi sebagai sirkulasi udara dan pencahayaan sekaligus mempercantik tampilan arsitektural.
Kemegahan arsitektur gedung ini tidak terlepas kiprah NILLMIJ di Hindia Belanda. Sebagai satu-satunya perusahaan asuransi jiwa di Hindia Belanda, membuat NILLMIJ mampu memonopoli industri asuransi. Kedekatan Van Kerchem dengan Pemerintah Hindia Belanda menjadikan NILLMIJ mendapat banyak keuntungan ekstra. Semua pegawai di pemerintahan maupun di militer direkomendasikan ke NILLMIJ sebagai alternatif lain untuk menabung selain dari sistem pensiun yang berlaku. Sehingga, wajar bila gedung NILLMIJ yang memiliki luas bangunan 1.141,8 m² di atas lahan seluas 1.343,8 m² ini dibangun megah dan kokoh.
Pada waktu Jepang menduduki Yogyakarta, gedung ini diambilalih oleh Tentara Dai Nippon untuk digunakan sebagai kantor radio Jepang dengan nama Hoso Kyoku. Setelah Jepang hengkang, dimanfaatkan sebagai studio siaran radio Mataramse Vereniging Voor Radio Omroep (MAVRO). MAVRO ini sebagai perintis Radio Republik Indonesia (RRI) Nusantara II Yogyakarta. Setelah RRI lahir pada 11 September 1945, gedung NILLMIJ digunakan juga oleh RRI untuk melakukan siaran.
Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, RRI memegang peranan penting. RRI Yogyakarta berulang kali menyiarkan berita kecurangan Sekutu, seperti mengikutsertakan Belanda dan mempersenjatai orang-orang Belanda yang dibebaskan dari tahanan. Karena siaran itu dianggap merugikan, maka pada 25 dan 27 November 1945 pesawat udara yang dikenal dengan Royal Air Force, melakukan pengeboman terhadap gedung RRI Yogyakarta yang pada waktu itu masih berada di gedung NILLMIJ.
Kini, bekas gedung NILLMIJ ini digunakan untuk gedung BNI 46 Yogyakarta. Gedung ini menjadi tonggak sejarah bagi BNI karena BNI ternyata lahir di di gedung ini.  Kelahiran bank ini dibidani oleh Margono Djojohadikusumo pada 5 Juli 1946, dengan tujuan untuk kelancaran pemerintah di bidang keuangan dan perekonomian masyarakat. Pada 5 Juli 1946, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 1946 tentang pembentukan BNI. Upacara peresmian dilakukan oleh Wakil Presiden (Wapres) Mohammad Hatta berlangsung di gedung ini.
Melihat kesejarahannya, pantaslah jika gedung BNI 46 Yogyakarta ini ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai cagar budaya di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. Sebagai cagar budaya, gedung ini dilindungi UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. *** [160815]


Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami