Rabu, 28 Oktober 2015

Gedung Bank Indonesia Yogyakarta

Kawasan nol kilometer Yogyakarta menyimpan memori, dan menyisakan sejumlah bangunan peninggalan kolonial Belanda. Mulai dari benteng, gedung pemerintahan, bangunan ibadah, sekolah hingga bank. Salah satu bangunan lawas bercorak kolonial yang ada di kawasan tersebut adalah Gedung Bank Indonesia (BI).
Gedung BI ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 4 Kampung Yudonegaran RT. 09 RW. 01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah timur Kantor Pos Besar, dan sebelah barat Gedung BI yang baru.
Semenjak awal berdirinya, bangunan ini memang telah berfungi sebagai bank. Dahulu gedung ini berfungsi sebagai kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Yogyakarta yang dibuka pada tanggal 1 April 1879 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Djokjakarta.


Kantor cabang ini merupakan kantor cabang ke-8 setelah Semarang, Surabaya, Padang, Makassar, Cirebon, Surakarta, dan Pasuruan, yang berdiri lantaran adanya usulan dari berbagai pihak, terutama Firma Dorrepaal & Co Semarang yang memiliki kepentingan usaha (perkebunan) di daerah ini. Presiden Direktur DJB ke-7, Norbertus Petrus van den Berg (1873-1889) dan jajaran direksi menyetujui permintaan itu mengingat cerahnya angka perdagangan di Yogyakarta. Karena pada waktu itu, Yogyakarta berkembang secara pesat perekonomiannya dengan hadirnya pabrik gula yang seluruhnya berjumlah 17 buah dengan nilai perputaran uang kala itu mencapai angka 2 – 3,5 juta gulden. Sebagai daerah penghasil gula, nilai produksi yang dicapai sekitar 2.580 ton/per tahun setara 300.000 pikul per tahun.
Pada tahun 1912, dibangun gedung permanen dua lantai di lokasi yang saat ini ditempati. Pada awal berdirinya, Kantor DJB Cabang Yogykarta menggunakan bangunan yang terletak di Kampung Gondomanan seluas 300 m². Sebagai lembaga keuangan yang dibebani kepercayaan dan kehati-hatian dalam mengelola keuangan, DJB memilih gaya arsitektur yang konservatif dalam menanamkan brand-image pada masyarakat, yaitu Neo Renaissance atau gaya Ekletisisme. Perancangan gedung baru ini dilakukan oleh biro arsitek terkemuka di Hindia Belanda bernama N.V. Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam yang didirikan pada tahun 1910 oleh Eduard Cuypers dan Marius J. Hulswit bersama A.A. Fermont.


Gedung permanen tersebut akhirnya selesai pembangunannya pada tanggal 15 Februari 1915, dan sebagai pemimpin cabang pertamanya adalah A.F. van Suchtelen.
Pada masa pendudukan Jepang, kegiatan DJB terhenti akibat kebijakan penglikuidasian seluruh bank Belanda, Inggris, dan beberapa bank China oleh Jepang. Baru pada tanggal 10 Oktober 1945 ketentuan tersebut dicabut, disusul dengan pembukaan kembali beberapa kantor cabang kecuali kantor cabang yang berada di daerah pedalaman. Salah satu kantor cabang yang dibuka kembali adalah Kantor Cabang Yogyakarta, yaitu pada tanggal 30 Desember 1948. Namun, tanggal 30 Juni 1949 kantor ini ditutup untuk kedua kalinya, dan dibuka kembali tanggal 22 Maret 1950 hingga sekarang.
Setelah mengalami nasionalisasi pada tahun 1951, kegiatan di Kantor DJB diambil alih oleh Pemerintah RI dan dijadikan Bank Indonesia mulai 1 Juli 1953, termasuk yang berada di Yogyakarta ini. Seiring dengan perkembangan kegiatan operasional yang meningkat, mulai tanggai 4 Februari 1993 gedung baru BI yang bersebelahan dengan gedung lama diresmikan. Selanjutnya sebutan Kantor BI Cabang Yogyakarta sejak tanggal 1 Agustus 1996 berubah menjadi Kantor BI Yogyakarta.
Setelah kegiatan operasional BI dpindahkan di gedung yang baru, gedung yang lama mulai direnovasi sebagai bagian dari program konservasi bangunan heritage yang dilakukan oleh BI, dan sejak tahun 2012 gedung lama ini difungsikan sebagai museum dan cyber library kantor Bank Indonesia. *** [160815]

Fotografer: Gigih Suprayoga, S.IP



0 komentar:

Posting Komentar