The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Legend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legend. Tampilkan semua postingan

Asal Mula Gunung Kidul

Asal mula Gunung Kidul terjadi pada masa berdirinya Kesultanan Yogyakarta. Kala itu yang menjadi raja adalah Sultan Hamengku Buwono I. Pada waktu pemerintahannya, daerah sepanjang pesisir Laut Selatan masuk ke dalam wilayah Kesultanan Yogyakarta. Namun, pada waktu itu namanya bukan Gunung Kidul, tetapi Sumengkar. Karena wilayahnya sangat luas, daerah Sumengkar dipimpin oleh seorang adipati. Oleh karena itu, disebut daerah Sumengkar. Lalu mengapa Kadipaten Sumengkar kemudian berganti nama menjadi Kadipaten Gunung Kidul? Ceritanya sebagai berikut:
Pada suatu hari, di Kadipaten Sumengkar sedang diadakan sebuah pertemuan yang sangat penting. Pertemuan itu dipimpin oleh Adipati Sumengkar sendiri, yaitu Adipati Wironegoro. Saat itu, Sang Adipati dihadapkan oleh orang-orang kepercayaannya, seperti Patih Panitipraja, Rangga Puspowilogo, Panji Semanu Harjodipuro, dan para punggawa Kadipaten Sumengkar lainnya. Namun, sampai sekian lama para punggawa itu menunggu, Adipati Wironegoro belum juga memulai pertemuan.
“Gusti Adipati, kami semua menunggu perintah. Masih adakah hal yang mengganggu sehingga pertemuan ini tidak segera dimulai?” tanya Patih Panitipraja memberanikan diri.
“Benar, Patih. Aku masih menunggu Demang Piyaman Wonopawiro. Tidak biasanya dia datang terlambat,” jawab Adipati Wironegoro.
“Ah, apakah perlunya kita menunggu dia. Tanpa dia pun Kadipaten Sumengkar tetap akan berjalan, Gusti,” sambung Rangga Puspowilogo tidak senang.
“Aku mengerti maksudmu, Puspowilogo. Tetapi pertemuan ini penting sekali. Aku ingin semua punggawa Kadipaten mendengar sendiri titah Kanjeng Sultan Yogykarta Hadininingrat,” ujar Adipati bijaksana.
Rangga Puspowilogo yang mendengar jawaban junjungannya itu tampak tidak senang. Namun, tidak berani membantah lagi.
“Baiklah, kita tunggu sebentar lagi saja Demang Piyaman. Kalau tidak datang, kita tinggalkan saja dia,” lanjut Adipati mengambil jalan tengah.
Akhirnya, setelah ditunggu beberapa saat Demang Piyaman tidak kunjung datang, pertemuan di Kadipaten Sumengkar itu pun dimulai.
Adipati Wironegoro segera menyampaikan titah Sultan Hamengku Buwono kepada segenap punggawa yang hadir. Isi pokok dari titah Sultan Yogyakarta itu adalah agar ibu kota Kadipaten Sumengkar dipindahkan ke hutan doyong. Alasan perpindahan ibu kota itu atas dasar petunjuk yang diterima Kanjeng Sultan ketika sedang meditasi di masjid. Jika sampai ibu kota Kadipaten Sumengkar tidak dipindahkan, maka akan menyebabkan bencana. Bukan hanya Kadipaten Sumengkar sendiri yang mengalami bencana, melainkan Kesultanan Yogyakarta keseluruhan.
Mengingat ancaman malapetaka yang bakal menimpa itulah, Kanjeng Sultan Yogyakarta memerintahkan Adipati Wironegoro untuk secepat mungkin melaksanakan peritahnya.
“Nah, perintah Kanjeng Sultan cukup jelas. Sekarang siapa di antara kalian yang akan berangkat melaksanakan tugas negara ini, membabat alas doyong?” tanya Adipati Wironegoro.
Segenap yang hadir hanya bisa terdiam mendengar perintah itu. Mereka semua perlu bertanya lagi, apa artinya membabat hutan nangka doyong. Jangankan membabat, baru mengusik saja resikonya adalah mati.
“Bagaimana dengan dirimu, Rangga Puspowilogo. Kamu adalah benteng dan panglima perang Kadipaten Sumengkar?” tanya Adipati Wironegoro sambil menatap tajam Rangga Puspowilogo.
Wajah Rangga Puspowilogo pucat, lalu katanya,” Ampun beribu ampun, Gusti Adipati. Bukan niat hamba untuk menolak titah Gusti Adipati, tapi hamba benar-benar tidak mau mati sia-sia di tangan para jin penunggu hutan nangka doyong.”
Mendengar jawaban punggawanya itu, Adipati Wironegoro tampak tidak senang dan menahan marah.
“Meski begitu, hamba ada usul, Gusti. Biarlah Demang Piyaman Wonopawiro yang menjalankan tugas itu. Semua ini adalah bentuk hukuman pada dia, Gusti …!”
“Tutup mulutmu Puspowilogo. Engkau sendiri tidak sanggup mengemban tugas. Jangan melemparkan tanggung jawabmu pada orang lain,” sahut Adipati bertambah murka.
Segenap yang hadir jadi terdiam. Mereka menyalahkan Rangga Puspowilogo yang berkata sembarangan. Sementara Adipati Wironegoro bertambah murka, di samping karena sikap Puspowilogo juga karena mengingat betapa besar dosa Kanjeng Sultan jika sampai gagal menjalankan tugas. Tidak mengherankan jika suasana pertemuan itu tampak menjadi hening. Semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
“Baik. Kalau tidak ada punggawa Kadipaten Sumengkar yang pemberani, aku sendiri yang akan menunaikan tugas!” kata Adipati Wironegoro geram.
“Jangan ….. Jangan, Gusti. Biarlah hamba yang akan menjalankan tugas negara ini! Kata seseorang yang baru masuk dan menyembah dengan hormat. Dia adalah Demang Piyaman Wonopawiro.
“Demang …! Benarkah engkau sanggup membabat hutan nangka doyong itu …,” seru sang Adipati dan seakan tidak percaya.
“Benar, Gusti Adipati. Biarlah hamba yang akan menjalankan tugas negara itu …”
“Kamu tidak takut mati?”
“Untuk negara, hamba rela mengorbankan jiwa dan raga, Gusti,” jawab Demang Wonopawiro.
Adipati Wironegoro sangat berkenan dengan jawaban Demang yang masih muda namun pemberani itu. Sang Adipati pun berjanji, jika Demang Piyaman itu berhasil menjalankan tugas negara, maka anugerah yang besar akan diberikan kepadanya.
“Ampun, Gusti Adipati. Bukan hadiah yang hamba harapkan, namun hamba memang ingin menjalankan tugas negara”, lanjut Demang yang rendah hati itu.
“Baik. Apapun alasanmu, aku sangat menghargainya. Nah, sekarang persiapkan segala sesuatunya dan berangkatlah. Doaku menyertaimu,” kata Adipati lagi.
Akhirnya, Demang Wonopawiro berangkat menjalankan tugas. Sebelum memasuki kawasan hutan nangka doyong yang angker, Demang Wonopawiro mengkhususkan diri untuk singgah di kediaman Ki Nitisari, saudaranya, yang tahu banyak tentang hutan nangka doyong.
“Dimas, bukan sebuah pekerjaan yang mudah untuk membabat hutan nangka doyong. Salah sedikit nyawa sebagai taruhannya,” kata Ki Nitisari mengingatkan saudaranya.
“Lalu apa yang harus saya lakukan, Kang Mas?”
“Nanti tepat tengah malam, aku akan menyertai dimas untuk bertemu dengan penguasa hutan nangka doyong,” jawab Ki Nitisari.
Tepat tengah malam, dua bersaudara itu nekat menerobos tengah malam dan angkernya hutan nangka doyong. Keduanya terus melangkah tak memedulikan banyaknya godaan dan serangan para jin di sepanjang jalan. Akhirnya, setelah sampai di tengah belantara keduanya segera bertapa di bawah pohon nangka tua yang sudah hampir roboh (doyong).
Empat puluh hari empat puluh malam keduanya bertapa, memohon petunjuk dan pertolongan kepada Yang Mahakuasa. Selama itu pula, keduanya tabah menghadapi serangkaian teror dari para jin penghuni rimba. Namun, akhirnya para jin penghuni rimba itu harus lari terbirit-birit tak kuasa menghadapi kesaktian kedua punggawa Kadipaten Sumengkar. Kemudian muncullah Nyai Gadung Melati sebagai utusan resmi Ratu Laut Kidul menemui keduanya.
Melalui utusannya itu, penguasa Laut Kidul dan yang berkuasa pula atas hutan nangka doyong merelakan hutan di bawah kekuasaannya itu dijadikan daerah kadipaten menggantikan Kadipaten Sumengkar. Namun, penguasa semua bangsa jin di Laut Kidul itu mengingatkan agar dalam membabat hutan tidak berlaku sembarangan dan kelak nama daerah yang baru itu hendaknya memakai nama “Kidul”.
Sejak itulah hutan nangka doyong yang telah menjadi daerah baru kemudian dinamakan Gunung Kidul oleh Sri Sultan Hamengku Buwono. Nama itu bertahan sampai sekarang. ***

Sumber:
Mei Sulistyaningsih, 2007, Kumpulan Cerita Rakyat Jawa Tengah, Surakarta: Suara Media Sejahtera  
Share:

Asal Mula Kota Balikpapan

Menurut cerita rakyat yang berkembang di Kalimantan Timur, konon di Tanah Pasir sudah berlangsung sistem pemerintahan kerajaan yang teratur. Rakyat hidup berkecukupan. Kekuasaan raja sangat luas. Daerah kekuasaannya sampai ke bagian selatan. Daerah itu berupa sebuah teluk yang sangat indah. Selain indah, daerah teluk itu juga makmur karena mengandung hasil bumi dan hasil laut yang berlimpah-limpah.
Kemakmuran daerah sepanjang teluk itu sangat dirasakan oleh masyarakat yang bermukim di tempat itu. Sebagian dari penduduk itu bermata pencaharian sebagai petani. Sebagian lagi bermata pencaharian sebagai nelayan. Masyarakat yang bermukin di daerah itu hidup dalam suasana damai, tenang, dan makmur. Semua anggota masyarakat hidup rukun. Mereka saling menolong satu sama lain. Pendek kata, masyarakat di sepanjang teluk itu hidup dengan nyaman.
Kenyamanan hidup masyarakat di daerah teluk ini juga didukung oleh sikap bijaksana sultan yang memerintah pada saat itu. Sultan Aji Muhammad, demikianlah nama sultan yang berkuasa saat itu. Nama sang sultan memang melambangkan kebesaran serta kesucian pemiliknya.
Sultan Aji Muhammad mempunyai seorang putri. Namanya Aji Tatin. Sultan Aji Muhammad sangat menyayangi Aji Tatin. Beliau sangat bangga akan putrinya itu. Aji Tatin seorang putri yang berwajah cantik jelita.
Tahun berganti tahun, masa pun segera berlalu. Aji Tatin putri Sultan Aji Muhammad pun tumbuh dewasa. Tiba saatnya Aji Tatin menikah. Maka, ayahandanya, Sultan Aji Muhammad, menikahkan putranya itu dengan seorang bangsawan. Putri Aji Tatin menikah dengan Raja Kutai.
Pesta pernikahan Aji Tatin dan Raja Kutai berlangsung dengan sangat meriah. Semua rakyat Sultan Aji Muhammad ikut menikmatinya. Mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan keluarga kerajaan.
Setelah pesta pernikahan usai, Putri Aji Tatin menghadap Sultan Aji Muhammad, ayahandanya.
“Ayahanda, izinkan putrimu mengutarakan satu permintaan kepada Ayah,” demikian kalimat pertama yang diucapkan Aji Tatin saat menghadap ayahnya.
“Permohonan apakah yang Ananda inginkan dari ayahanda?” tanya Sultan Aji Muhammad kepada putrinya itu.
“Ayah, berkenanlah memberikan warisan kepada ananda demi masa depan ananda kelak,” demikian permohonan Aji Tatin kepada ayahnya.
Mula-mula ayahnya terkejut dengan permintaan putrinya itu. Namun, dengan senang hati Sultan Aji Muhammad pun mengabulkan permohonan putrinya itu.
“Anakku, ayah akan memberikan daerah teluk itu untukmu. Kuasailah daerah itu! Buatlah rakyat semakin makmur dan sejahtera. Niscaya, mereka akan selalu mengabdi kepadamu,” demikian pesan Sultan Aji Muhammad kepada anaknya itu.
“Terima kasih, Ayah. Putrimu pasti akan selalu menuruti nasihat Ayah. Saya akan membuat rakyat semakin makmur dan sejahtera.”
Sultan Aji Muhammad lega mendengar kata-kata putrinya itu. Maka, sejak saat itu daerah teluk yang subur, makmur, dan sejahtera itu menjadi wilayah kekuasaan Aji Tatin.
Namun, agaknya pesan Sultan Aji Muhammad tidak diindahkan oleh putrinya itu. Putri Aji tatin pun meminta rakyatnya membayar upeti kepadanya. Mau tidak mau rakyat di sepanjang teluk yang dikuasai Putri Aji Tatin pun memenuhi permintaan pemimpinnya itu.
Pada suatu ketika Putri Aji Tatin meminta rakyatnya memberi upeti kepadanya berupa papan. Rakyat pun menyediakan upeti papan untuk Putri Aji Tatin.
Tibalah saat meminta upeti itu kepada rakyat. Orang-orang kepercayaan Putri Aji Tatin pun mendatangi rakyat di teluk daerah kekuasaan junjungannya itu. Dengan dipimpin oleh Panglima Sendong, mereka menuju teluk itu dengan perahu. Mereka menggunakan tanggar atau galah yang disebut tokong untuk mendayung perahu.
Satu per satu mereka mengumpulkan papan upeti rakyat. Papan-papan itu kemudian dibawa ke pantai dan dinaikkan ke dalam perahu. Setelah semua papan terangkut, perlahan-lahan mereka mendayung perahu meninggalkan teluk itu. Namun, malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Di tengah perjalanan perahu yang memuat papan upeti rakyat itu diterjang angin topan. Tiba-tiba saja angin topan yang dahsyat datang menerjang perahu Aji Tatin. Tak pelak lagi perahu itu pun terbalik dan penumpangnya jatuh ke air. Dengan perlahan-lahan, para penumpang, yaitu Panglima Sendong dan anak buahnya, berusaha membawa perahu yang sarat muatan itu ke pantai.
“Ayo, kita bawa perahu ini ke pantai!” teriak Panglima Sendong mengajak anak buahnya mendorong perahu ke pantai.
“Ya, ayo! Kita dorong bersama-sama!” teriak salah seorang anak buahnya.
Dengan segala tenaga, mereka pun berusaha mendorong perahu itu merapat ke pantai. Akan tetapi, mereka tidak berdaya. Perahu sangat berat. Muatan papan dalam perahu itu semakin menambah berat perahu. Angin topan yang begitu dahsyat dan gelombang ganas pun menggagalkan usaha mereka untuk merapatkan perahu itu.
Dengan tiba-tiab perahu itu pun terhempas ke sebuah pulau karang. Perahu yang sarat muatan berupa papan itu pun karam. Tokong atau galah pendayung juga karam. Panglima Sendong, pemimpin anak buah Putri Aji Tatin, beserta anak buahnya pun meninggal.
Peristiwa karamnya perahu yang membawa papan itu kemudian digunakan untuk menamai kota Balikpapan. Balikpapan maksudnya papan yang terbalik karena diterpa badai atau topan yang maha dahsyat.
Sementara itu pulau karang yang menyebabkan peristiwa terbalinya perahu itu makin besar. Pulau karang itu lama-kelamaan menjadi sebuah pulau yang ditumbuhi pohon-pohonan. Sampai sekarang pulau itu dinamai Pulau Tukung. *** 

Sumber:
M.G. Hesti Puji Rastuti, 2007, Kumpulan Cerita Rakyat, Yogyakarta: Citra Aji Parama

Share:

Asal Mula Nama Brebes

Ada beberapa pendapat asal muasal nama Brebes. Yang pertama mencoba menghubungkannya dengan keadaan alamiah daerah Brebes yang pada awal mulanya konon mempunyai banyak air dan sering tergenang air, bahkan ada kemungkinan masih berupa rawa-rawa. Mengingat banyak air yang merembes, muncullah kemudia nama Brebes, yang selanjutnya mengalami “verbastering” (perubahan) menjadi Brebes. Pendapat kedua mencoba menghubungkannya dengan peristiwa masuknya agama Islam pada awal mulanya ke Brebes, yang sekalipun dihalang-halangi namun ternyata masih juga merembes, yang dalam bahasa daerah disebut “berbes”. Oleh karenanya muncullah kemudian nama Berbes, yang selanjutnya berubah menjadi Brebes.
Pendapat yang ketiga mencoba menerangkan asa muasal nama Brebes dari kata-kata “bara” dan “basah”. “Bara” berarti hamparan tanah datar yang luas, sedang “basah” berarti banyak mengandung air. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang kecuali merupakan dataran luas, juga mengandung banyak air, karena perkataan “bara” diucapkan “bere”, sedang “basah” diucapkan “beseh”, pada akhirnya lahirlah perkataan “Bere Beseh”, yang untuk memudahkannya kemudian telah berubah menjadi Brebes.
Ada pula terdapat cerita yang berkaitan dengan kata yang akhirnya menjadi Kota Brebes, yaitu:
Di antara Salem-Bantarkawung terdapt gunung bernama “Baribis”, dari Gunung Baribis tersebut mengalir sungai “Baribis” yang mengalir melalui dataran bagian utara bermuara di Laut Jawa dan setelah bergabung dengan aliran sungai-sungai yang lain merupakan sungai besar di pantai utara Jawa. Sungai Baribis ini, pada zaman dulu dianggap sebagai sungai yang bertuah atau angker (Jawa) dan konon sungai tersebut juga banyak buayanya. Orang-orang tua pada saat iut banyak yang melarang anak cucunya untuk datang, menyeberangi, mandi, dan sebagainya di sungai tersebut. Terlebih saat berperang, orangtua selalu memberikan peringatan-peringatan yang melarang melangkahi/menyeberangi sungai tersebut. Untuk meyakinkan hal ini, maka terungkaplah sebuah legenda tengan perang Arya Bangah dengan Ciung Wanara. Akibat menyeberangi sungai Baribis terebut, Arya Bangah mengalami kekalahan.
Dari kepercayaan akan hal tersebut maka sungai Baribis itu dijadikan peringatan = pepenget = pepeling = pepali = larangan agar jangan sampai pada saat berperang melangkahi//menyeberangi sungai tersebut.
Karena sungai Baribis menjadi larangan dari kaum tua, maka sungai Baribis dikenal sebagai larangan, atau sungai pepali atau pemali, yang berarti pepalan atau larangan.
Jadi, dahulu menurut penuturan beberapa orangtua di daerah Brebes selatan sungai Pemali itu semula bernama sungai Baribis yang bermata air dari Gunung Baribis. Kemungkinan itu sebabnya, daerah ini disebut daerah Baribis, yaitu daerah aliran sungai Baribis dan dari kata Baribis ini menjadi Brebes.
Kalau kita perhatikan dengan saksama, nama-nama tempat di Pulau Jawa ternyata merupakan cermin dari keadaan alam di sekitar masyarakat yang mendiami tempat-tempat itu dan cara berpikir mereka. Nama-nama itu bisa kita bedakan dalam dua golongan besar. Pertama, yang secara spontan telah lahir dari masyarakat di kota-kota itu sendiri, sedang kedua, dengan sengaja telah diberikan atau diperintahkan oleh suatu penguasa untuk dipakai, misalnya nama Surakarta Hadiningrat, yang mula-mula telah dipergunakan oleh Sultan Paku Buwana II pada tahun 1745 untuk menyebut nama-nama tempat yang:
1.       Berasal dari nama-nama tanaman
2.       Berasal dari nama-nama binatang
3.       Berasal dari nama-nama benda tambang
4.       Berasal dari nama-nama orang
5.       Mengingatkan kita pada suatu keistimewaan topografis
Nama kota Brebes termasuk dalam kategori yang kelima. Dalam bahasa Jawa perkataan Brebes atau Mrebes berarti “tansah metu banyune” artinya “selalu keluar airnya” dan nama ini telah lahir, mengingat pada awal mula sejarahnya, keadaan lahan di kawasan Kota Brebes sekarang ini memang selalu keluar airnya. Adapun kota-kota lain yang juga memiliki nama-nama semacam itu, artinya yang telah lahir berdasarkan keadaan tanahnya pada awal mula sejarahnya, bisa kita sebutkan antara lain nama-nama Kota Blora di daerah Jawa Tengah dan Jember di Jawa Timur. Nama Blora telah muncul oleh keadaan tanah di kawasan kota itu pada mula sejarahnya memang masih berupa rawa-rawa, sesuai dengan arti perkataan Blora atau Balora, yang merupakan sebuah perkataan bahasa Jawa Kuna yang berarti rawa, sedang nama Kota Jember telah lahir, mengingat pada awal mula sejarahnya keadaan tanah di kawasan kota memang benar-benar jember atau njember, sebuah perkataan dalah bahasa Jawa berarti reged ajenes, artinya kotor dan mengandung air.
Dari sumber yang dapat diketemukan pada tahun 1640/1641, nama Brebes itu sudah mulai tercantum di dalam penulisan/laporan/daftar harian yang dibuat oleh VOC. Makin ke sini makin banyak uraiannya, meskipun hanya dalam hal sebagai tujuan atau persinggahan pengiriman barang-barang penting dan bahan pokok, misalnya alat-alat untuk Kompeni (VOC), bahan pakaian, bahan makanan, dan sebagainya.
Nama Brebes itu sendiri pernah ditulis: Barbas, Barbos, atau Brebes. Dari nama dan bagaimana pun juga asal muasalnya atau apapun juga makna nama Brebes itu, kiranya bukanlah masalah bagi penduduk Brebes masa kini. Yang penting adalah mengambil hikmah dari dalamnya. Suatu kenyataan wilayah Kabupaten Brebes dianalisis dari segi lahan/tanah, curah hujan serta iklimnya mempunyai prospek/masa depan yang cerah. ***

Sumber:
Mei Sulistyaningsih, 2007, Kumpulan Cerita Rakyat Jawa Tengah, Surakarta: CV. Suara Media Sejahtera

Share:

Asal Usul Kota Cianjur

Di sebuah desa di Jawa Barat, hiduplah seorang saudagar yang memiliki hampir seluruh sawah di daerah itu. Namun, ia terkenal sangat pelit. Orang-orang menyebutnya Pak Kikir.
Pak Kikir mempunyai seorang anak laki-laki yang dermawan dan baik hati. Secara sembunyi-sembunyi, ia suka menolong warga yang kesusahan.
Pada suatu ketika, Pak Kikir merasa harus mengadakan selamatan. Menurut kepercayaan masyarakat, kalau acara selamatan dilakukan dengan baik, hasil panen akan baik pula. Pak Kikir tak ingin panennya gagal. Oleh karena itu, ia mengadakan selamatan dan mengundang seluruh warga.
Namun, Pak Kikir tidak menyediakan makan yang cukup bagi tamu yang sebagian besar warga tak mampu. Banyak tamu yang tidak kebagian makanan.
Lalu, datanglah seorang nenek pengemis. Ia meminta sedikit nasi untuk mengisi perutnya yang lapar. Namun, si nenek malah dibentak oleh Pak Kikir.
Nenek itu sangat sedih. Ia pun meninggalkan rumah Pak Kikir.
Anak Pak Kikir yang melihat kejadian itu langsung mengambil jatah makannya dan mengejar nenek itu. “Ambilah makanan ini supaya nenek tidak lapar lagi,” kata pemuda baik hati itu.
“Terima kasih, Nak, atas kebaikanmu. Kelak, kau akan mendapatkan kebaikan dan keselamatan karena sifatmu,” kata si nenek.
Nenek itu masih sakit hati pada Pak Kikir. Lalu, pergilah ia ke puncak bukit. Dari puncak bukit itu, tampaklah rumah Pak Kikir paling besar dan paling megah di antara rumah warga sekitarnya.
Nenek itu berucap lantang. “Ingatlah, Pak Kikir. Ketamakanmu akan menenggelamkan dirimu dan Tuhan akan membalas perbuatanmu!”
Si Nenek menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu mencabutnya lagi. Dari bekas tancapan tongkat itu, mengalirlah air yang semakin lama semakin deras menuju ke desa.
“Banjir! Banjir!” Para penduduk berteriak panic melihat air yang mengalir semakin deras menuju desa mereka. Mereka berlarian menyelematkan keluarga mereka.
Anak Pak Kikir pun segera memperingati semua penduduk agar mencari tempat aman. Ia juga mengajak ayahnya untuk meninggalkan rumah.
“Apa? Meninggalkan rumah ini? Tidak! Aku harus menyelamatkan harta yang kusimpan di bawah tanah!” seru Pak Kikir. Ia pun berlari ke ruang bawah tanah di rumahnya.
Air semakin deras. Karena tak ada waktu lagi untuk menunggu ayahnya, anak Pak Kikir pun berlari menyelamatkan diri ke atas bukit. Air bah itu pun segera menenggelamkan seluruh desa.
Anak Pak Kikir dan sebagian penduduk selamat. Pak Kikir tenggelam bersama rumah dan harta bendanya. Para penduduk sangat sedih melihat desa yang tenggelam. Mereka memutuskan mencari daerah baru untuk tempat tinggal. Anak Pak Kikir diangkat sebagai pimpinan.
Di daerah yang baru, anak Pak Kikir menganjurkan penduduk mengolah tanah, bagaimana mengairi sawah, dan menanam padi yang baik.
Desa baru itu lalu diberi nama Anjuran karena penduduk selalu mematuhi anjuran pemimpin mereka. Lama-kelamaan, desa itu berkembang menjadi sebuah kota kecil bernama Cianjur. Ci artinya air. Menurut cerita, Cianjur berarti anjuran untuk mengairi dan mebuat irigasi yang baik. Hingga sekarang, Cianjur terkenal dengan hasil berasnya yang enak. ***

Sumber:
Marina Asril Reza, 2011, 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara (Cerita Kepahlawanan, Mitos, Legenda, Dongeng, & Fabel dari 33 Provinsi), Jakarta: Visimedia
Share:

Asal Mula Pancoran

Dahulu kala, hiduplah seorang raja yang bijaksana. Ia memerintah kerajaan yang letaknya antara Jakarta dan Bogor. Ia punya tiga orang anak, yaitu Pangeran Jaya, Pangeran Suta, dan Pangeran Gerindra.
Suatu hari, Raja ingin memilih satu di antara ketiga puteranya untuk menggantikannya. “Seperti tradisi keluarga kita, untuk menjadi seorang raja, kalian harus menjalani ujian. Berangkatlah kalian besok meninggalkan istana,” ujar Raja kepada ketiga puteranya.
Ketiga pangeran itu pun memulai perjalanan. Mereka sampai di sebuah sungai. Ketiganya mandi di sungai yang sejuk itu. Setelah mandi, mereka berganti pakaian. Namun, Pangeran Jaya tidak mengganti pakaiannya. Kedua adiknya meminta Pangeran Jaya mengganti pakaiannya karena sudah terlihat kumal. Menurut mereka, tidak pantas orang dari kerajaan berpakaian lusuh.
“Aku hanya membawa baju beberapa potong saja. Aku harus menghematnya. Maaf kalau aku berjalan bersama kalian dengan pakaian kotor,” ucap Pangeran Jaya.
Suatu ketika, dalam perjalanan, mereka menemukan sebuah pancuran. Pangeran Suta dan Pangeran Gerindra langsung terjun ke telaga di bawah pancuran dan meminum air pancuran itu. Setelah meminum air itu, tiba-tiba keduanya terkapar dan meninggal dunia. Pangeran Jaya sangat sedih dan berniat untuk ikut mati bersama adik-adiknya.
Namun, ketika ia baru akan meminum air pancuran itu, tiba-tiba sebuah suara menghentikannya, “Jangan kau minum air itu! Apakah kau ingin mati seperti adik-adikmu yang dengan beraninya minum air pancuran tanpa izin kepada yang punya?”
Tiba-tiba, seorang laki-laki tua muncul, “Akulah pemilik pancuran ini dan hanya bidadari saja yang boleh mandi di sini.”
“Biarlah aku menyusul adik-adikku!” ujar Jaya sedih.
“Baiklah, kau boleh menyusul adikmu asal kamu menjawab pertanyaanku. Jika adikmu bisa kuhidupkan kembali, apakah kau mau menggantikan adik-adikmu?”
Jaya memikirkan jawabannya. Jika ia mati, ayahnya masih mempunyai dua anak. Ini lebih baik daripada kedua adiknya mati, yang berarti ayahnya hanya punya satu orang anak. “Aku bersedia menggantikan adik-adikku jika mereka hidup kembali,” jawab Jaya mantap.
Sang Kakek mengizinkan Jaya meminum air pancuran itu. Saat Jaya mulai minum, tiba-tiba tubuh Suta dan Gerindra bergerak-gerak dan hidup kembali. Jaya mendapati dirinya masih tetap hidup walaupun sudah mengeuk air pancuran itu.
“Jaya, kini, aku telah melihat pengorbanan, kesabaran, dan ketabahanmu!” kata si Kakek. Lalu, ia menyerahkan sebilah tongkat kea rah ketiga pangeran itu. “Bawalah tongkat ini. Tongkat saktiku ini akan mengantar kalian pulang. Siapa yang bisa mengangkat tongkat ini, dialah yang berhak menduduki tahta kerajaan.” Kakek itu pun menghilang.
Suta dan Gerindra mencoba mengangkat tongkat itu, tetapi mereka tidak sanggup. Tongkat sakti itu sangat berat. Namun, Jaya bisa mengangkat tongkat itu dengan mudah. Ketiganya sadar bahwa dalam perjalanan menempuh ujian dari sang Ayah, kakak merekalah yang lebih unggul.
Lokasi pancuran itu dikenal dengan nama Pancoran. Lokasinya bersebelahan dengan Kalibata, Jakarta Selatan. ***

Sumber:
  • Marina Asril Reza, 2011, 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara (Cerita Kepahlawanan, Mitos, Legenda, Dongeng, & Fabel dari 33 Provinsi), Jakarta: Visimedia

Share:

Asal Mula Kota Salatiga

Zaman dahulu, Kota Semarang dipimpin oleh Adipati Pandanarang II dan mempunyai isteri bernama Nyai Pandanarang. Ia terkenal sebagai pemimpin yang jujur, tetapi juga orang yang menyukai harta benda berlimpah.
Sifat kurang baik Adipati ini terdengar oleh Sunan Kalijaga, seorang wali yang sangat arif bijaksana. Sunan berniat mengingatkan Pandanarang II dengan menyamar sebagai tukang rumput. Ketika lewat di halaman Kabupaten, Adipati Pandanarang II menawar rumputnya dengan harga sangat rendah.
Penjual rumput itu setuju dan meletakkan rumputnya di kandang. Sebelum pergi, ia menyelipkan yang lima sen di antara rerumputan. Uang tersebut ditemukan oleh abdi dalem Pandanarang II yang segera melaporkannya kepada tuannya.
Kejadian ini berulang kali terjadi selama satu minggu. Pandanarang II heran mengapa tukang rumput tersebut tidak pernah menanyakan uangnya. Ketika tukang rumput itu kembali datang, Pandanarang pun menanyakan asal usul tukang rumput itu. Ia juga menanyakan mengapa ia seperti tidak membutuhkan uang. Tukang rumput itu menjawab bahwa ia tidak butuh benda-benda duniawi yang melimpah karena semuanya tidak ada yang abadi. Ia juga bilang bahwa ada emas permata tertanam di dalam halaman istana.
Adipati Pandanarang marah mendengar jawaban itu. Ia merasa sedang dihina oleh tukang rumput itu. Namun, ternyata, kata-kata orang itu benar. Ada emas permata di dalam tanah istana. Akhirnya, Sang Adipati mengetahui bahwa orang itu adalah Sunan Kalijaga. Adipati itu memohon maaf dan memohon untuk jadi murid Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menyetujuinya, asalkan Pandanarang melepaskan kegemarannya pada harta duniawi.
Isteri Sang Adipati pun ingin ikut suaminya. Namun, ia tak rela meninggalkan harta bendanya dan menyerahkannya kepada fakir miskin. Ia menyuruh suaminya berangkat lebih dulu. Lalu, perempuan ini menyimpan emas dan permata di dalam tongkatnya yang terbuat dari bambu.
Pandanarang bisa menyusul Sunan Kalijaga. Mereka pun menempuh perjalanan bersama. Di perjalanan, mereka dihadang oleh tiga para penyamun.
“Kalau kau ingin barang berharga, tunggulah. Sebentar lagi, akan lewat seorang wanita tua. Cegatlah. Kau akan mendapatkan emas permata di dalam tongkat bambunya,” kata Sunan Kalijaga.
Lalu, muncullah Nyai Pandanarang berjalan tertatih-tatih dengan tongkat bambu. Ketiga penyamun menghadang perempuan itu dan merampas tongkat bambu yang ia pegang.
Nyai Pandanarang tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan hartanya dirampas. Ketika berhasil bertemu dengan suaminya dan Sunan Kalijaga, ia menceritakan kejadian perampokan yang dialaminya sambil menangis.
“Kau tidak mendengarkan kata suamimu. Untuk berguru denganku, kalian harus meninggalkan harta duniawi. Jadi, kejadian ini salahmu sendiri,” ujar Sunan Kalijaga.
Untuk mengingat kejadian tersebut, Sunan Kalijaga menamakan daerah itu dengan “Salah Tiga”.
“Ada tiga yang melakukan kesalahan di sini, yaitu kau sendiri, suamimu, dan para penyamun itu. Kelak, tempat ini akan menjadi kota yang ramai,” kata Sunan Kalijaga.
Pada perkembangan selanjutnya, nama Salah Tiga bergeser ucapannya menjadi Salatiga. Kini, Salatiga menjadi kota yang ramai seperti yang pernah diperkirakan oleh Sunan Kalijaga. ***

Sumber:
Marina Asril Reza, 2011, 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara (Cerita Kepahlawanan, Mitos, Legenda, Dongeng, & Fabel dari 33 Provinsi), Jakarta: Visimedia

Share:

Asal Usul Kota Bagansiapiapi

Kota ini dibentuk oleh pendatang asal daratan China pada akhir tahun 1800-an. Menurut cerita masyarakat Bagansiapiapi secara turun temurun, nama Bagansiapiapi erat kaitannya dengan cerita awal kedatangan orang Tionghoa ke kota itu. Disebutkan bahwa orang Tionghoa yang pertama sekali datang ke Bagansiapiapi berasal dari daerah Songkhla di Thailand. Mereka sebenarnya adalah perantau-perantau Tionghoa yang berasal dari Distrik Tong’an (Tang Ua) di Xiamen, wilayah Provinsi Fujian,Tiongkok Selatan. Konflik yang terjadi antara orang-orang Tionghoa dengan penduduk Songkhla, Thailand kelak menjadi penyebab terdamparnya mereka di pulau kosong.
Kawasan ini, terpilih ketika para pendatang yang tengah berlayar yang di pimpin oleh Ang Mie Kui, melihat cahaya yang mirip jilatan-jilatan api di daratan – rupanya disebabkan oleh banyaknya kunang-kunang yang menari di antara padang rumput dan hutan di tepi pantai. Cahaya itu menarik  mereka untuk mendarat.
Pendatang China mendarat di daerah yang dihinggapi kunang-kunang atau biasa disebut siapi-api dalam bahasa lokal itu, yang ternyata tidak bertuan. Daerah itu terbagi dalam beberapa bagian (bagan – bahasa lolal) yaitu rawa, padang rumput, atau hutan. Maka, didirikanlah koloni di lokasi yang lalu disebut sebagai Bagansiapiapi. Komposisi penduduk sejak awal 70 persen etnis China, sisanya sebagian besar etnis Melayu.
Wilayah itu lalu berkembang pesat dengan komoditas perikanan. Dan Belanda pun melirik potensi itu, memindahkan pemerintah controuler-nya, dari Tanah Putih ke Bagansiapiapi pada 1901. Kota itu lalu berkembang sebagai pelabuhan perikanan dan penumpang yang maju kala itu, menyaingi fasilitas serupa di sepanjang Selat Malaka. ***
Share:

Asal Mula Danau Batur

Kebo Iwa adalah seorang raksasa yang bertubuh besar. Tubuhnya gendut dan doyan makan. Makin hari tubuhnya bertambah besar. Makanannya banyak sekali. Ia suka membantu penduduk desa membuat rumah, mengangkat batu besar dan membuat sumur. Ia tidak minta imbalan apa-apa, hanya saja penduduk desa harus menyediakan makanan yang cukup untuknya.
Jika sampai dua hari Kebo Iwa tidak makan maka ia akan marah. Jika marah ia akan mengamuk dan merusak apa saja yang ada di depannya. Tak peduli rumah atau pura akan dirusaknya. Kebun dan sawah juga dirusaknya.
Karena tubuhnya sangat besar, makannya pun sangat banyak. Porsi makan Kebo Iwa sama seperti menyiapkan makanan seratus orang. Walau penduduk desa sudah tidak membutuhkan tenaganya, mereka harus tetap menyediakan makanan untuk Kebo Iwa. Karena jika Kebo Iwa lapar ia akan marah dan menghancurkan apa saja.
Hingga tibalah musim kemarau. Semua lumbung padi milik penduduk mulai kosong. Beras dan bahan makanan lain mulai sulit diperoleh. Setelah sekian lama, hujan tidak kunjung dating. Penduduk mulai khawatir keadaan Kebo Iwa. Sebab, jika ia lapar pasti akan mengamuk.
Benar saja kekhawatiran penduduk. Suatu hari Kebo Iwa merasa lapar, tapi makanan belum siap karena persediaan penduduk desa sudah habis. Jangankan untuk Kebo Iwa, untuk mereka makan sendiri saja sudah tidak ada.
Kebo Iwa pun marah dan mengamuk. Ia menghancurkan rumah-rumah milik penduduk. Pura sebagai tempat ibadah juga tidak luput dari amukan Kebo Iwa.
Penduduk melarikan diri ke desa tetangga. Tapi Kebo Iwa terus mengejar sambil berteriak-teriak, “Mana makanan untukku! Atau kalian lebih suka kuhancurkan!”
Kebo Iwa semakin ganas. Ia tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memakan hewan-hewan ternak milik penduduk. Para penduduk pun juga menjadi korban keganasan Kebo Iwa.
Melihat kerusakan yang ditimbulkan Kebo Iwa maka penduduk menjadi kesal dan marah. Mereka mengatur siasat untuk membunuh Kebo Iwa. Mereka mengajak berdamai Kebo Iwa. Dengan segala macam cara akhirnya mereka bisa mengumpulkan makanan yang banyak lalu mendekati Kebo Iwa.
Pada saat itu Kebo Iwa baru saja menyantap seekor kerbau. Ia kekenyangan dan berbaring di atas rumput.
“Hai Kebo Iwa …!” tegur Kepala Desa.
“Ada apa? Mau apa kalian mendekatiku?” tanya Kebo Iwa dengan curiga.
“Sebenarnya kami masih membutuhkan tenagamu. Rumah-rumah dan pura banyak yang kau hancurkan. Bagaimana kalau kau membantu kami membangunnya kembali. Kami akan menyediakan makanan yang banyak untukmu sehingga kau tak kelaparan lagi,” kata Kepala Desa.
“Makanan …? Kalian akan menyediakan makanan yang enak untukku?” mata Kebo Iwa berbinar mendengar kata makanan.
“Aku setuju … aku akan buatkan untuk kalian!”
Kebo Iwa senang, tidak curiga sedikit pun. Keesokan harinya, Kebo Iwa mulai bekerja. Dengan waktu yang terhitung singkat, beberapa rumah selesai dikerjakan oleh Kebo Iwa. Sementar itu, para warga sibuk mengumpulkan batu kapur dalam jumlah bear. Kebo Iwa merasa bingung mengapa para warga sangat banyak mengumpulkan batu kapur. Padahal kebutuhan batu kapur untuk rumah dan pura sudah cukup.
“Mengapa kalian mengumpulkan batu kapur begitu banyak?” tanya Kebo Iwa.
“Ketahuilah Kebo Iwa. Setelah kamu selesai membuat rumah dan pura milik kami, kami akan membuatkanmu rumah yang besar dan sangat indah,” kata Kepala Desa.
Kebo Iwa sangat senang mendengarnya. Tidak ada kecurigaan sedikit pun darinya. Ia semakin semangat membantu warga. Hanya dalam beberapa hari, rumah-rumah dan pura milik penduduk selesai dikerjakan. Pekerjaannya hanya tinggal menggali sumur besar. Pekerjaan ini memakan waktu cukup lama dan memerlukan lebih banyak tenaga. Kebo Iwa menggunakan kedua tangannya yang besar dan kuat untuk menggali tanah sampai dalam. Semakin hari lubang yang dibuatnya semakin dalam. Tubuh Kebo Iwa pun semakin turun ke bawah. Tumpukan tanah bekas galian yang berada di mulut lubang pun semakin menggunung. Karena kelelahan, Kebo Iwa berhenti untuk istirahat dan makan. Ia makan sangat banyak. Karena kelelahan setelah makan ia mengantuk, ia pun tertidur dengan mengeluarkan suara dengkuran yang sangat keras.
Suara dengkuran Kebo Iwa terdengar oleh para penduduk yang sedang berada di atas sumur. Akhirnya, para penduduk segera berkumpul di tempat lubang sumur tersebut. Mereka melihat Kebo Iwa sedang tertidur pulas di dalamnya. Pada saat itulah Kepala Desa memimpin warganya untuk melemparkan batu kapur yang sudah mereka siapkan sebelumnya ke dalam sumur. Karena tertidur lelap, Kebo Iwa belum tidak menyadari dirinya dalam bahaya.
Ketika air di dalam sumur yang bercampur kapus sudah mulai meluap dan menyumbat hidung Kebo Iwa, barulah raksasa itu tersadar. Namun, lemparan batu kapur dari para warga semakin banyak. Kebo Iwa tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun memiliki badan sangat besar dan tenaga yang sangat kuat, ia tidak mampu melarikan diri dari tumpukan kapur dan air sumur yang kemudian menguburnya hidup-hidup. Kebo Iwa menggelepar-gelepar selama beberapa saat, gerakannya menimbulkan gempa sesaat tapi kemudian reda dan diam. Kiranya Kebo Iwa telah tewas terkubur di dalam sumur.
Sementara itu air sumur semakin lama semakin meluap. Air sumur itu membanjiri desa dan membentuk danau. Danau itu kini dikenal dengan nama Danau Batur. Sedangkan timbunan tanah yang cukup tinggi membentuk bukit menjadi sebuah gunung dan disebut Gunung Batur. ***

Sumber:
MB. Rahimsyah, Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara 33 Provinsi, Surabaya: Serba Jaya. Hal. 102 – 106.
Share:

Asal Mula Nama Bengkulu

Bengkulu adalah nama sebuah provinsi yang terletak di Sumatera bagian selatan. Dari segi geografis, Bengkulu terletak di antara 5° 16’ - 3° 31’ Lintang Selatan dan 101° 01’ - 103 41’ Bujur Timur. Provinsi Bengkulu terletak di sebelah barat pegunungan Bukit Barisan.  Luas wilayah Provinsi Bengkulu mencapai kurang lebih 1.978,7 Km2. Wilayah Provinsi Bengkulu memanjang dari perbatasan Provinsi Sumatera Barat sampai ke perbatasan Provinsi Lampung. Batas wilayah Provinsi Bengkulu di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat, di sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia dan Provinsi Lampung, di sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia dan di sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan.
Provinsi Bengkulu berdiri pada 2 September 1967 dengan berdasarkan pada hukum UU No. 9 Tahun 1967, namun demikian dari cerita yang tersebar di tengah-tengah masyarakat, nama Bengkulu sudah mereka kenal semenjak dahulu.
Kata Bengkulu semula berasal dari perkataan “empang kahulu”, artinya di hempang, dihambat perjalanannya (musuh) melalui sungai ke hulu. Ini pun sudah tentu ada kaitannya dengan suatu cerita yang dipaparkan di halaman belakang. Dari kata “empang kahulu” lahirlah kata “bangkahulu”, yang kemudian menjadi nama sebuah negeri yang letaknya di sekitar muara sungai Serut, pesisir kota Bengkulu sekarang.
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata Bengkulu atau Bangkahulu berasal dari kalimat “Bangka hanyut ke hulu.” Sedangkan kata Bengkulu berasal dari kata “abang kulon”, artinya sinar merah di sebelah barat. Pendapat yang kedua ini tidak begitu populer mungkin karena kurang kuat alasan sejarahnya. ***

Sumber:
  • ___________ , 2011, Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL), Solo: CV. Buana Raya
  • Djalaluddin, dkk., ____ , Tambo Kejai Beserta Lima Buah Cerita Rakyat Lainnya Dari Bengkulu, Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Share:

Asal Mula Danau Toba

Pada zaman dahulu adalah seorang petani bernama Toba yang menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan sawah dan lading untuk keperluan hidupnya.
Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ikan ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.
Pada suatu sore, setelah pulang dari lading lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama dia memancing tak seekor ikan pun didapatnya. Kejadian yang begitu belum pernah dia alami. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada juga ikan yang memakan umpan pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing. Tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung menarik pancing itu jauh ke tengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar. Setelah beberapa lama dia biarkan pancingnya ditarik ikan itu ke sana kemari, barulah pancing itu ditariknya perlahan-lahan. Ketika pancing itu disentakkannya tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang. Ketika dia meninggalkan sungai untuk pulang ke rumahnya hari sudah mulai senja. Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika hendak menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar di dapur rumahnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.
Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu tadi diletakkan tampak terhampar beberapa keping uang emas. Karena terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan masuk ke kamar.
Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena di dalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat kemudian, perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tengah kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang bediri di hadapannya luar biasa cantiknya. Dia belum pernah melihat perempuan secantik itu meskipun dahulu dia sudah jauh mengembara ke berbagai negeri.
Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu mengawaninya ke dapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu perempuan cantik itu tinggal serumah bersamanya, pada suatu hari lelaki itu melamar perempuan tersebut untuk jadi isterinya. Perempuan itu menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal usul isterinya yang menjelma dari ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian, kawinlah mereka.
Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereke beri nama Samosir. Anak itu sangat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.
Setelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di lading. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksalah ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.
Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, dengan kesal pergilah dia mengantarkan nasi itu. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk-pauknya di makan. Setibanya di ladang, sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerimanya, si ayah sudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat sekali diantarkan. Oleh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnya makin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar nasi itu.
Kesabaran si ayah jadi hilang dan dia pukuli anaknya sambil mengatakan, “Anak yang tak bisa diajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”
Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia adukan bahwa dia dipukuli ayahnya.
Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya dia ceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu.
Si ibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.
Ketika oleh si ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit, dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah mereka itu. Ketika dia tiba di tepi sungai itu kilat menyambar disertai bunyi guruh yang menggelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat gelap. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tak bisa menyelematkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang di kemudian hari dinamakan orang Danau Toba. Sedang pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir. ***

Sumber:
MB. Rahimsyah, Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara 33 Provinsi, Surabaya: Serba Jaya. Hal. 10 – 15.


Share:

Asal Usul Kabupaten Manggarai

Sejak dahulu kala Pulau Flores, khususnya Kabupaten Manggarai sekarang, telah menarik minat banyak suku bangsa pelaut di Nusantara ini. Mulai dari orang Bima hingga orang Goa di Sulawesi Selatan. Para pelaut dan pedagang sangat tertarik dengan hasil laut dan hasil bumi Flores Barat.
Keadaan alam Flores Barat yang selalu hijau karena ditutupi hutan lebat sudah diduga pasti kaya akan hasil bumi. Dugaan para pedagang waktu itu memang tidak keliru.
Kopi robusta atau arabica hasil utama Kabupaten Manggarai sekarang adalah bukti dari kebenaran dugaan pedagang Goa tempo dulu. Waktu para pedagang Goa ingin menginjakkan kaki di pantai utara Flores Barat, nama tempat itu belum dikenal. Hingga pada suatu saat, sebuah perahu Goa atau lebih dikenal dengan perahu Bugis berusaha berlabuh di salah satu pantai Flores Barat.
Tetapi tiba-tiba turunlah hujan deras disertai angin rebut. Laut seolah-olah marah dan mengamuk. Perahu para pelaut Goa itu mulai diombang-ambingkan ke sana ke mari. Akhirnya juragan perahu itu memutuskan untuk membuang sauh agar dapat bertahan. Namun usaha ini ternyata sia-sia. Gelombang makin mengganas dan akhirnya tali sauh itu putus.
Maka untuk menyelamatkan diri, niat berlabuh ke pantai utara Flores Barat itu diurungkan. Juragan perahu dan semua anak buahnya memutuskan untuk kembali. Mereka mengembangkan layar dan kembali ke daerah asal mereka yaitu Goa di Sulawesi Selatan. Mereka kembali dengan tangan hampa.
Setibanya di Goa, mereka disambut gembira oleh keluarga yang ditinggalkan. Semua warga desa pelabuhan Goa yang adalah sesame pelaut juga menyambut mereka dengan gembira. Para pelaut dan pedagang di Goa berharap bahwa ada berita baru tentang pulau baru yang kaya hasil bumi yang dituju oleh perahu yang baru kembali.
Akan tetapi, mereka segera heran bercampur haru menyaksikan keadaan perahu dan anak buahnya yang tampak lesu. Banyak cat di badan perahu itu terkelupas. Sauh perahu sudah tidak ada. Ada beberapa bagian layar tersobek-sobek. Banyak pula barang dan alat di perahu itu morat-marit letaknya. Semua ini merupakan pertanda bahwa perahu ini baru saja dilanda bencana. Tidak salah dugaan mereka. Setelah turun ke darat, para awak perahu yang naas itu menceritakan semua pengalaman buruk yang baru saja dialami.
Para keluarga dan tetangga lalu bertanya di mana bencana itu terjadi. Akan tetapi para awak perahu naas itu tidak dapat menjawab dengan pasti. Karena mereka memang belum tahu nama pulau itu. Mereka hanya dapat mengatakan bahwa tempat bencana itu dekat pantai sebuah pulau yang subur. Tempat di mana sauh kapal mereka putus. Konon dalam bahasa orang Goa, sauh disebut Manggar dan putus disebut Rai. Jadi dalam bahasa Goa, sauh putus disebut Manggar-rai. Lama-kelamaan di kalangan orang Goa, nama Flores Barat bahkan seluruh Pulau Flores disebut dengan Pulau Manggarai atau pulau “sauh putus”.
Nama Manggarai kemudian menyebar melalui para pelaut dan pedagang Goa ke Bima di Sumbawa, ke Solor di Flores Timur dan kemana-mana. Nama Manggarai kemudian diucapkan menjadi satu kata saja yaitu Manggarai. Nama inilah yang diwarisi hingga sekarang, termasuk sebagai nama untuk Kabupaten Daerah Tingkat II Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. ***

Sumber:
Drs, A,M. FanggidaE (editor), 2002, Himpunan Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur, Kupang: CV. Pengharapan Karya Abadi. Hal. 13-16.
Share:

Asal Usul Kota Surabaya

Tulisan tertua yang menyebut nama Surabaya adalah Prasasti Trowulan I, berangka tahun Saka 1280 atau 1358 Masehi, yang mencantumkan sederet nama-nama tempat penambangan penting sepanjang Sungai Brantas, antara lain tertulis: “ … i trung, i kambangan  çri, i tda, i gsang, i bukul, i çūrabhaya, muwah prakāraning naditira pradeça sthananing anāmbangi i madantĕn …”, yang artinya: “ … (di) Terung, Kambangan Sri (= Kebangsari sekarang?), Teda, Gesang, Surabaya, demikian pula halnya desa-desa tepian sungai tempat penyebarangan (seperti) Madanten …”.
“Nāgarakrtāgama”, yang ditulis oleh Empu Prapanca di abad XV, juga menyebut-nyebut nama Surabaya dalam rangkaian kalimat berikut: “ … yan ring janggala lot sabhā nrpati ring surabhaya manulus mare buwun”. Artinya: “ … kalau di Jenggala Baginda selalu singgah di Surabaya, (lalu) meneruskan ke Buwun.”
Ternyata asal-usul nama “Surabaya” memancing banyak ragam tafsiran. Ada yang menganggapnya sebagai suatu tonggak peringatan terjadinya sesuatu peristiwa sejarah yang penting. Tetapi ada juga yang menghubungkannya dengan sebuah fabel (dongeng binatang), yang mengisahkan pertarungan antara seekor ikan “sura” dan seekor “buaya”. Dari kata-kata “suar” dan “buaya” (dalam bahasa Jawa, “baya”) terbentuklah nama “Surabaya”.
Tentang fabel itu sendiri terdapat pula perbedaan pendapat. Ada yang menganggapnya tidak lebih daripada sebuah dongengan belaka, yang lahir dari khayalan seorang pendongeng. Tetapi ada pula yang menganggapnya sebagai cerita kiasan, yang melambangkan sesuatu peristiwa sejarah, yang lain lagi menganggapnya sebagai sebuah mitos alam.
Dengan contoh-contoh itu saja sudah Nampak betapa simpang siurnya masalah asal-usul nama Surabaya. Belum lagi adanya beberapa versi cerita yang berbeda-beda. Namun justru karena perbedaan-perbedaan itu malahan menarik sekali bagi seorang peneliti yang ingin mengkaji latar belakang sejarah terjadinya Kota Surabaya.
Heyting, misalnya, dalam “Oudheidkundig Verslag 1923”, telah memaparkan pendapatnya, bahwa Surabaya berasal dari suatu peristiwa pemberontakan seorang kelana bernama Bhaya terhadap Kerajaan Singasari di bawah pemerintahan Krtnagara. Peristiwa itu tercatat dalam “Nāgarakrtāgama”, “Pararaton”, dan “Kidung Panji Wiajayakrama”. Meskipun ketiga bacaan tersebut berbeda-beda menyebutkan nama pemberontaknya, yaitu: “Nāgarakrtāgama” menyebut cayaraja, “Pararaton”, kalana aran bhaya, dan “Panji Wiajayakrama” bhayangkara, tetapi tentang waktu terjadinya pemberontakan itu boleh dikatakan tidak terdapat selisih yang jauh, dan pasti sebelum pengiriman ekspedisi Pamalayu oleh Krtnagara di tahun 1275.
Tentang nama cayaraja yang disebut oleh “Nāgarakrtāgama”, oleh Heyting dibaca: bhayaraja, dengan alasan, bahwa dalam tulisan Jawa Kuno, aksara ca dan bha hampir serupa. Dengan demikian Heyting menemukan nama-nama yang serupa: bhaya (raja), (kalana) bhaya, dan bhaya (ngkara), dan menyimpulkan bahwa ketiga-tiganya identik.
Arti kalana adalah raksasa, atau yang juga disebut asura. Adalah menjadi kelaziman raja-raja Jawa-Hindu menyebut lawan mereka dengan sebutan kalana, raksasa, atau asura. Alhasil, kalana aran bhaya adalah pula kalana bhaya atau asura bhaya. Dalam pada itu kalana sering pula digunakan sebagai nama raja. Sebagai contoh dikemukakan oleh Heyting, seorang raja Kamboja yang dalam “Serat Kandha” dinamakan Kalana Mahesa Sasi. Dalam akhir kesimpulannya Heyting menulis sebagai berikut:
… Bagaimanapun juga, baik Bhaya yang dibinasakan oleh Krtanagara maupun Kalana Bhaya (Asura Bhaya), menggambarkan nama Surabaya dalam hubungannya dengan “kalana” atau “raja” Bhaya. Sebelum zaman Bhaya, nama Surabhaya belum dikenal, yaitu sebelum kira-kira tahun Saka 1192 (atau 1270 Masehi).
Dalam bukunya “Er werd een stad geboren” (1953), Von Faber mengambil alih pendapat Heyting tersebut, tetapi dihubungkannya dengan dongeng ikan sura dan buaya yang tersebut di muka, dan memperoleh kesimpulan, bahwa buaya merupakan sebuah simbolisasi dari Bhaya, sedang prajurit Krtanagara yang gagah berani yang melawan Bhaya tersebut dinamakan sura dalam arti berani. Itulah sebabnya, maka Surabaya sering disebut pula sura-ing-baya (berani dalam bahaya, Belanda dapper in gevaar). Jadi menurut Von Faber, kata sura bukan berasal dari asura (sinonim kata kalana) seperti pendapat Heyting, melainkan sura dalam arti berani, dalam hal ini yang dimaksud sifat keberanian prajurit Krtanagara yang melawan Bhaya.
Tetapi semboyan sura-ing-baya mendapat tafsiran lain dari seorang Belanda bernama C.V., termuat dalam “Bataviaasch Handelsblad” sekitar tahun 1880, jadi jauh lebih tua daripada pendapat Heyting dan Von Faber, demikian:
Selama perang melawan Surapati, bekas seorang budak berasal dari Bali, bernama si Untung, yang telah berhasil menjadi raja yang berdaulat di Jawa Timur, bertahun-tahun dapat mempertahankan kedaulatannya terhadap Kumpeni (VOC) dan Kerajaan Mataram, pihak Kumpeni telah mendirikan sebuah benteng pertahanan di daerah tempat Kali Mas dan Kali Pegirian bertemu, untuk menangkis serangan-serangan gerombolan Surapati (Untung) tersebut, yang dapat digagalkan.
Hasil gemilang terhadap musuh yang menakutkan itu, menimbulkan gagasan untuk menamakan benteng tersebut, sura ing baya, yang berarti berani menghadapi bahaya, berasal dari kata syura (pahlawan) dan bhaya (menakutkan atau bahaya).
Betapa tidak logisnya tafsiran C.V. tersebut dapat dikemukan di sini, bahwa jauh sebelum Untung Surapati atau Kumpeni lahir, Surabaya sudah ada lebih dulu atas dasar Prasasti Trowulan I dan “Nāgarakrtāgama” (abad XIV). Surapati hidup akhir abad XVII awal XVIII (gugur tahun 1705).
Juga karena anakronisme, tidak logis tafsiran J. Hageman yang menyatakan, bahwa tempat yang sekarang bernama Surabaya itu, pada zaman Hindu bernama Ngampel Dhenta, dan oleh raja Jawa-Hindu terakhir dihadiahkan kepada seorang pemuka Islam bernama Raden Rahmat (Susuhunan Ngampel). Penyerahan ini disaksikan oleh pejabat-pejabat Jawa yang beragama Islam, dan dari sinilah kemudian dicetuskan rencana untuk memerangi dan merebut Majapahit. Setelah kerajaan Jawa-Hindu yang besar itu runtuh (tahun 1483), maka berkumpullah orang-orang Islam yang menang itu di Ngampel Dhenta. Karena nama ini membawa noda yang berbau Hinduisme, demikian Hageman, maka nama itu lalu diubah menjadi “Surabaya”, atau “Negara Surabaya” (tempat bagi yang jaya). Adapun dongeng tentang ikan dan buaya itu sendiri, Hageman menganggapnya omong kosong belaka.
Senada dengan pernyataan Hageman terakhir tersebut adalah pendapat Ki Sugerman Atmodihardjo, yang menganggap dongeng tentang pertarungan ikan sura dan buaya sebagai suatu hal yang mengandung pengertian statis, tidak berpengaruh terhadap pendidikan kepratiotikan bangsa yang revolusioner, bahkan sebaliknya mematikan semangat kepahlawanan arek-arek Surabaya terutama. Lain halnya kalau Surabaya diartikan “berani mengatasi kesulitan” (Jawa, “wani ing kewuh”).
Profesor Dr. P.J. Veth pun beranggapan demikian. “Dalam bahasa Jawa”, demikian tulisnya, “kota ini mempunyai beberapa nama sinonim: Surabaya, Surapringga, Surabanggi, Surawesthi. Kata sura yang berulang kali tampil dalam nama-nama sinonim tersebut, rupanya mengungkapkan pengertian kepahlawanan atau keberanian, sedang kata-kata baya, pringga, banggi, dan westhi mempunyai arti bahaya atau kesulitan”.
Veth menulis pendapatnya itu dalam sanggahannya terhadap anggapan geolog Belanda yang menyatakan, bahwa nama Surabaya itu berasal dari nama Portugis: sura bahia, yang berarti pelabuhan yang aman. “Kalau demikian seharusnya disebut segura bayia”, tukas Prof. Veth.
Dari kumpulan pendapat di atas, dapat kita lihat, bahwa semua menghubungkan istilah “Surabaya” dengan pengertian “keberanian” dan “bahaya”, lepas dari tafsiran masing-masing akan motivasinya, kecuali Heyting. Heyting dalam mengargumentasikan sura berasal dari asura (kalana, raksasa), memang tidak dapat kita terima. Sebab, pertama sura dan asura merupakan dua pengertian yang berlawanan, jadi tidak identik. Kedua, ejaan asli (Jawa Kuna) untuk Surabaya adalah Çūrabhaya, sehingga konsekuensinya, untuk asura (kalana, raksasa) Heyting harus mengejanya açūra, tetapi ini ejaan yang salah.
Jadi jelaslah, bahwa secara etimologis nama “Surabaya” atau tepatnya “Çūrabhaya” mengandung atau mengungkapkan pengertian “keberanian” atau “kepahlawanan”, dan “bahaya”. Masalahnya sekarang ialah kapan waktunya, dan apa motivasinya, maka nama yang mengandung pengertian “keberanian atau kepahlawanan” dan “bahaya” tersebut digunakan.
Menarik dalam hal ini keputusan Pemerintah Kotamadya Surabaya, yang telah menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Penetapan tanggal tersebut mengambil dasar teori Heru Sukadri selaku anggota Tim Peneliti Hari Jadi Kota Surabaya, yaitu mengambil hari bersejarah ketika Raden Wijaya berhasil mengusir balatentara Tartar, utusan Kaisar Mongolia Kubilai Khan, dari bumi Jawa melalui kota pelabuhan samudera Hujunggaluh. Sebagai “jayacihna” (tanda kemenangan), maka Hujunggaluh itu pun dengan resmi diubah menjadi Surabaya (atau nama aslinya dieja Çūrabhaya) oleh Raden Wijaya yang sementara itu menjadi raja pertama Majapahit dan pendiri dinasti baru: Bra Wijaya.
Namun, tanpa sedikit pun mengurangi aspirasi kepahlawanan bangsa dan moyang kita di masa silam, penetapan hari jadi 31 Mei 1293 bagi Kota Surabaya bukan tidak mengandung kelemahan-kelemahan, karena kurangnya data-data yang mendukungnya. Penetapan itu atas dasar hipotesa yang masih harus diuji lagi keotentikannya.
Perihal kepahlawanan Wijaya bersama pengikut-pengikutnya itu sendiri, untuk mengusir musuh-musuh balatentara asing dari Jawa, dengan menunjuk lokasi tempat-tempat atau daerah-daerah yang menjadi kancah perjuangannya di Surabaya sekarang dan sekitarnya, yang ditimbanya dari sumber-sumber otentik seperti prasasti Butak, prasasti Pananggungan, kronik Cina, Nāgarakrtāgama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, Kidung Panji Wijayakrama, dan lain-lain, kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Tetapi bahwa setelah kemenangan Wijaya pada tahun 1293, tepatnya pada tanggal 31 Mei, dengan terusirnya balatentara Tartar dari bumi Jawa melalui Hujunggaluh, lalu kota pelabuhan tua yang termasyhur itu mulai saat itu dengan resmi diubah menjadi Çūrabhaya oleh Wijaya sebagai “jayacihna”, inilah yang masih perlu diuji keotentikannya.
Kelemahan hipotesa 31 Mei 1293 sebagai hari jadi kota Surabaya terutama ialah, bahwa andaikata nama Çūrabhaya sudah diresmikan pada tanggal, bulan, dan tahun tersebut, (tentunya menurut perhitungan penanggalan Saka yang berlaku waktu itu), maka sebutan Çūrabhaya sejak saat itu akan sudah dikenal merata oleh masyarakat umum, dan pastilah menjadi sebutan sehari-hari. Adalah janggal sekali, bahwa literature-literatur sejaman atau sesudahnya, yang mengisahkan kehidupan raja Wijaya atau peristiwa-peristiwa yang langsung menyangkut nama Baginda seperti Kidung Harsawijaya, Panji Wijayakrama, Kidung Ranggalawe, Kidung Sorandaka, dan Pararaton tidak pernah menuturkannya. Padahal, sebagaimana kita ketahui, literature-literatur semacam itu ditulis demi kepentingan raja (raja-sentris), sedang tempat yang sekarang kita sebut Çūrabhaya itu sangat erat kaitannya dengan kejayaan perjuangan Wijaya, dan yang niscaya akan menambah keharuman dan kebesaran nama baginda. Tetapi dengan tidak disebutkan Çūrabhaya, Surabhaya, atau pun Surabaya dalam literatur-literatur tersebut di atas, juga tidak dalam kronik Cina atau pun inskripsi-inskripsi sekitar tahun 1293 atau sekitar masa kehidupan Raden Wijaya sebagai raja, maka saya cendrung beranggapan, bahwa Surabaya (atau Çūrabhaya) pada sekitar masa-masa tersebut memang belum ada. Baru di abad XIV untuk pertama kali ia disebut-sebut dalam prasasti Trowulan (1358 Masehi) dengan ejaan Çūrabhaya, “Nāgarakrtāgama” (pupuh 17:5) dengan ejaan Surabhaya, dan di abad XV dalam kronik Cina “Ying-yai Sheng-lan” (1416 Masehi).
Secara sepintas dapat kita rumuskan kembali berbagai pendapat dan teori tersebut, sebagai berikut:
-          Teori Heyting (Bhayaraja – Singasari, 1270);
-          Teori Von Faber (idem dikaitkan dengan dongeng ikan sura dan buaya);
-          Teori C.V. (Surapati – Kumpeni, 1705);
-          Teori Hageman (Ampel Dhenta, 1483);
-          Teori Heru Sukadri (Wijaya – Tartar, 31 Mei 1293, yang diterima dan diresmikan oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Surabaya sebagai hari jadi Surabaya).
Karangan ini yang bermaksud untuk menguak “Mitos Çūrabhaya”, ingin mengemukakan teori yang lain pula dengan menitikberatkan kepada segi pandangan mitologis. Untuk menelaah mitos Çūrabhaya ini lebih jauh dan mendalam, semula ada dua pendapat yang menarik hati:
Pertama, pendapat Ki Sugerman Atmodihardjo yang dimuat dalam majalah “Penelitian Sedjarah” tahun 1961 nomor ….. tentang asal-usul kota Surabaya, bahwa penelitian asa-usul nama kota (di Indonesia tentunya) hendaknya berpangkal pada falsafah sastra dan bahasa, seirama dengan kebudayaan Indonesia.
Kedua, pendapat L.C.R. Breemen, yang menafsirkan dongeng tentang pertarungan ikan sura dan buaya sebagai lambang “pertarungan abadi” antara laut dan daratan:
….. Zij kan namelijk slaan op den voortdurenden strijd tusschen het water en het land, wordende de dieren als de gebieders op den voorgrond gesteld, in welken strijd te Soerabaja het land inderdaad het water terugdrijft (aanslibbingen aan de mondingen onzer rivieren). De vloed is dan het overschrijden van zijn gebeid door den haai, terwijl de eb weergeeft de terugkomst van den krokodil van zijn strooptocht bovenstrooms; de eb drijft dan het water terug.
Merkwaardig is, dat het word “soero” in zoovele samenstellingen voorkomt. “Soero” moet met haai niets te maken heben in die samenstellingen, al noemt men een haai ook “soero”. De beteekenis is: dapper, strijdvaardig, of moedig.
Met “bojo” heft men een dergelijk geval. Het beteekent: strijd, strijder, held, dapper. Volgens de beteekenissen hierboven weergegeven, beduidt: “Soerowesti”, Dappere Ratu; “Soero – Pringgo”, Dappere Held; “Soero – ing – bojo”, Dappere Strijder.
Daar de “soero”, een dapper dier, op onze reede veel voorkwam en de bevolking hem dus kent, terwijl hetzelfde gezegd kan worden van den “bojo…, lijkt het niet onwaarshijnlijk, dat men voor de legende een, wellicht inderdaad tusschen die beide dieren gevoerd gevecht heft gekozen voor den symbolischen, eeuwigdurenden strijd tusschen land en water, omdat de voorstelling belangwekkender, dus niet zoo spoedig vergeten zou worden. De “soero” en de “bojo” bleken en wat hun hoedanigheden en wat hun namen betreft, geknipt voor de legende.
( ….. Dongeng itu (pertarungan ikan sura dan buaya) dapat mengungkapkan suatu lambing tentang “pertarungan abadi” antara laut dan daratan dengan menampilkan binatang sebagai penguasa kedua wilayah masing-masing, yang di Surabaya memang ditandai dengan mundurnya (garis pantai) laut oleh endapan pasir dan lumpur di muara sungai-sungai kita. Laut pasang naik diibaratkan pelanggaran terhadap wilayah daratan oleh ikan hiu, sedang laut pasang surut mengiaskan direbutnya kembali wilayah tersebut oleh sang buaya.
Menarik sekali ialah, bahwa “sura” sering kita temukan dalam kata-kata gabungan. Dalam kata-kata gabungan itu tentu “sura” tidak ada hubungannya dengan ikan hiu, meskipun ikan hiu dinamakan juga “ikan sura”. Di sini “sura” berarti: gagah berani, pandai berkelahi, ganas.
Dengan “baya” demikian pula halnya. Berarti: pertarungan, pejuang, pahlawan, pemberani. Menurut pengertian-pengertian tersebut di atas, maka “sura-westhi” berarti Ratu Pemberani; “sura-pringga” Pahlawan Pemberani; “sura-ing-baya” Pejuang Pemberani.
Karena (ikan) “sura”, seekor binatang yang pemberani, banyak terdapat di lautan kita, jadi sangat dikenal oleh penduduk, sedang demikian pula dapat dikatakan tentang “baya” (buaya), maka pada hemat saya bukan mustahil orang telah memilih dongeng pertarungan kedua binatang tersebut sebagai lambang pertarungan abadi antara daratan dan lautan, karena gambaran tersebut lebih menarik dan dengan demikian tidak mudah dilupakan. Baik sifat maupun nama mereka, ternyata “sura” dan “baya” cocok sekali untuk dongeng (legenda) tersebut).
Menanggapi dua pendapat tersebut, saya mendukung sepenuhnya pendapat Sugerman itu, tetapi justru karena demikian saya sekaligus juga meolak anggapannya, bahwa dongeng adalah suatu omong kosong yang tidak ada artinya, yang mengandung penertian statis, yang melemahkan, bahkan mematikan semangat kepahlawanan karena tidak memberikan pendidikan kepatriotikan bangsa yang revolusioner, dan sebagainya. Saya cenderung menguatkan pendapat, bahwa dongeng adalah manifestasi kebudayaan Indonesia, falsafah sastra dan bahasa Indonesia, khususnya Jawa. Dongeng Jawa terutama mempunyai kedudukan dan sifat yang khas, yang berbeda sama sekali dengan “sprookjes” atau “fairy tales” di negara-negara barat. Kalau  “sprookjes” atau “fairy tales” diciptakan khusus bagi anak kecil, dengan diserasikan terhadap jiwa dan dunia anak-anak, sebaliknya dongeng Jawa berupa “prasemon”, berisikan falsafah, mengandung hikmah dan tamsil ibarat yang tinggi dan dalam, mempunyai maksud-maksud tertentu yang disembunyikan (sinandi).
Jadi dengan demikian, dongeng Jawa sebenarnya bukan lagi suatu konsumsi khusus bagi anak-anak melulu, sekalipun digubah dalam bentuk yang kadang-kadang naïf sekali. Inilah kearifan moyang kita dulu, yang menciptakan dongeng-dongeng itu tanpa batasan umur bagi yang membaca atau mendengarnya. Dan moyang kita itu juga bukan orang asing. Mereka adalah bagian dari masyarakat bangsa kita yang umumnya mistis-filosofis, suka kepada lambang-lambang dan prasemon-prasemon. Oleh karena itu dalam tuangan karya ciptaan mereka, mereka tidak dapat berbuat lain daripada memanifestasikan watak dan alam pikiran masyarakat bangsanya.
Dalam hal ini agaknya Breemen, juga Von Faber, cukup menyadari, dan karenanya lebih cermat menyelami watak dan alam pikiran bangsa kita, dan menganggap bahwa dongeng sama sekali bukan sesuatu yang naïf, yang statis, yang tidak mengandung pendidikan moral, mental, semangat, ya, pendek kata bukan hanya omong kosong belaka.
Pertarungan ikan sura dan buaya memang adalah sebuah dongeng, sebuah legenda, fabel, atau mitos, atau apa pun namanya, tetapi oleh Breemen ditelaah dan dikaji landasan riil dan sejarah yang melatarbelakanginya, digali dan dicari yang tersirat dan hubungannya dengan kota Surabaya.
Tetapi perbedaan pokok antara dongeng Sura-Baya hasil kajian Breemen dan mitos Çūrabhaya dalam karangan ini ialah, bahwa Breemen menganggap dongeng Sura-Baya sebagai simbolisasi kota Surabaya, atau tepatnya proses pasang surut air laut di muara sungai-sungai di Surabaya, sedang karangan ini sebaliknya mencari asal mula terjadinya kota Surabaya, yang motivasinya bersumber dari mitos ikan hiu dan buaya. Dengan menemukan motivasi itu diharapkan pula akan menemukan ancar-ancar data kapan terjadinya kota Surabaya. ***

Sumber:
  • Soenarto Timoer, Menjelajahi Jaman Bahari Indonesia Mitos  Çūrabhaya Cerita Rakyat Sebagai Sumber Penelitian Sejarah Surabaya, Jakarta:PN. Balai Pustaka. Hal.13 -21.

Share:

Asal Usul Sungai Musi

Di daerah Palembang, Sumatera Selatan, terdapat sebuah sungai yang sangat terkenal. Sungai itu terkenal bukan hanya karena terletak di tengah kota. Akan tetapi sungai tersebut menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat Palembang.
Tahukah kamu nama sungai yang dimaksud? Sungai itu bernama sungai Musi.
Ternyata nama sungai itu ada ceritanya, lho! Alkisah menuturkan, pada zaman dahulu ada sekelompok bajak laut dari Cina yang suka mengembara ke daerah yang sangat jauh. Mereka berlayar ke mana pun arah angin membawa mereka. Ketika angin bertiup ke selatan, mereka pun berlayar kea rah selatan, dan seterusnya.
Setelah mereka berlayar menempuh perjalanan yang panjang, sampailah mereka di sebuah sungai yang di dalam peta tidak bernama.
“Sungai tak bernama, Kapitan!” kata salah satu bajak laut.
“Ya, aku tahu. Tapi lihat saja di depan sana pasti kita akan menemukan sesuatu.” Kata Sang Kapitan dengan yakin. Mereka terus bergerak. Lama-lama makin ke hulu. Namun karena kapal yang mereka gunakan terlalu besar, akhirnya mereka menggantikannya dengan perahu yang lebih kecil. Setelah sampai di hulu, mereka pun turun dari kapal menuju darat.
Sang Kapitan dan anak buahnya sangat kagum melihat keramaian sungai yang tak bernama itu. Mereka kagum akan hasil bumi yang melimpah dan kesuburan tanahnya.
“Daerah ini benar-benar mengagumkan. Tanahnya subur. Hasil buminya melimpah.” Kata Sang Kapitan.
“Benar, Kapitan. Kita beruntung sekali dapat sampai di tempat yang subur ini.” Kata salah satu bajak laut dengan wajah yang gembira.
“Tentu kita akan pulang dengan membawa hasil yang sangat banyak, Kapitan.” Kata bajak laut yang lain.
Sang Kapitan menjawab dengan penuh senyum, “Tentu saja, anak buahku.”
Para bajak laut pun mulai mengumpulkan hasil bumi yang mereka temui. Mereka menukarnya dengan hasil yang mereka temui. Mereka menukarnya dengan hasil rampokan yang diperoleh selama ini. Mereka tampak bersemangat mengumpulkan hasil bumi. Ada kelapa sawit, lada, kopi, cokelat, dan lain-lain.
Para bajak laut itu melihat, mengawali, dan membeli hasil bumi kemudian menyimpannya untuk dibawa ke negeri asal.
Setelah dirasa puas, mereka pun pulang ke negeri asal dengan membawa banyak hasil bumi. Para bajak laut itu bermaksud menjual kembali hasil bumi yang mereka peroleh di negerinya. Dengan menjualnya mereka mengharapkan keuntungan yang berlipat ganda.
Para bajak laut itu bermaksud untuk kembali lagi dan menukar hasil bumi dengan hasil rampokannya serta menjualnya kembali.
Dalam perjalanan pulang, Sang Kapitan memberi nama tempat itu dengan Muci. Dalam bahasa Cina, Muci merupakan nama bagi dewi ayam betina yang memberi keberuntungan pada manusia.
“Mengapa dinamakan dengan Muci?” Tanya salah satu bajak laut.
“Bukankah Muci adalah makhluk yang memberi keberuntungan?” Sang Kapitan balik bertanya.
“Lihat daerah ini! Begitu subur tanahnya! Betapa melimpah hasil buminya. Baik dari pertanian maupun perkebunan, juga terdapat tambang di sana. Benar-benar daerah yang kaya. Maka tidak salah jika aku memberi nama daerah ini Muci, bukan?” Tanya Sang Kapitan lagi.
Seluruh anak buahnya mengangguk-angguk sambil tertawa senang. Mereka sependapat dengan nama yang diberikan Sang Kapitan. “Inilah Sungai Muci, sungai yang membawa keberuntungan bagi manusia.” Mereka pulang ke negeri asal dengan hati yang senang karena membawa hasil bumi yang sangat banyak dan bermutu tinggi.
Beberapa tahun kemudian, ketika bajak laut dari negeri Cina kembali, mereka pun menyebut daerah itu dengan Muci. Beratus-ratus tahun kemudian hingga yang kita kenal saat ini, kata Muci pun telah berubah menjadi Musi.
Maka, sungai Muci yang pada awalnya diberi nama oleh seorang Kapitan bajak laut dari negeri Cina, kini telah berubah nama menjadi Sungai Musi. ***

Sumber:
Ulin Nikmah, ____, Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia Cerita Rakyat Sumatra 2, Jakarta: CV. Sinar Cemerlang Abadi. Hal. 29 – 34.

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami