Rumoh Aceh (1)

Jl. Sultan Alauddin Mahmudsyah No.12 Banda Aceh

Lonceng Cakra Donya (2)

Jl. Sultan Alauddin Mahmudsyah No.12 Banda Aceh

Pinto Khop (3)

Kel. Sukaramai, Kec. Baiturrahman, Banda Aceh

Taman Sari Gunongan (4)

Jl. Teuku Umar, Banda Aceh

Sentral Telepon Militer Belanda (5)

Jl. Teuku Umar No. 1 Banda Aceh

Jumat, 31 Juli 2015

Gedung KNKT Kementerian Perhubungan

Pada waktu menghadiri pemberian anugerah bagi fotografer terbaik bidang heritage yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional di Galeri Nasional, pulangnya menggunakan bus Trans Jakarta dari Halte Gambir. Ketika sedang menanti bus yang menuju ke arah Kalideres, penulis duduk di halte tersebut. Ternyata di di depan halte tersebut berdiri sebuah bangunan lawas yang terlihat kokoh dan megah.
Sesuai dengan papan nama yang terpasang di gedung tersebut, tertulis KNKT dengan huruf yang lumayan besar. KNKT singkatan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi, sebuah komite keselamatan di bawah naungan Kementerian Perhubungan. Jadi, bangunan berlantai 3 dengan dominasi warna putih tersebut adalah Gedung KNKT Kementerian Perhubungan.
Gedung KNKT ini terletak di Jalan Medan Merdeka Timur No. 5 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada sebelah timur laut Stasiun Gambir, atau selatan Gedung Pertamina Pusat.
Peter J.M. Nas dan Martien de Vletter (editor) dalam bukunya, Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia (PT. Gramedia, Jakarta, 2009) menulis, pada tahun 1916, Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, seorang arsitek dari firma AIA (Algemeen Ingenieurs en Architectenbureau) merancang gedung kantor KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) di Batavia dan mengembangkan arsitektur modern yang diprakarsai P.A.J. Moojen.


Berlokasi di pusat kota Batavia, ciri khas gedung KP menjadi pusat perhatian pada masa itu. Pengaturan volume, bagian depan yang simetris dan rincian yang halus, hiasan Art Deco dan motif-motif yang digabungkan memberi ciri khas dan gambaran kualitas yang luar biasa. Kemungkinan rancangan arsitekturnya berasal dari Amerika Selatan, meski arsitektur kolonial Inggris di Malaysia juga menghasilkan gaya arsitektur yang sama.
Meski Art Deco dibawa ke Malaysia sekitar satu dasawarsa lebih lambat dari Indonesia, kemiripan antara gedung KPM dan gedung Anglo-Oriental di Kuala Lumpur sangat mencolok. Bagaimanapun, gedung Anglo-Oriental baru dibangun pada tahun 1936.
N.V. Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) atau yang dalam bahasa Inggrisnya, Royal Packet Navigation Company, merupakan sebuah perusahaan pelayaran yang mempunyai kedudukan hukum di Amsterdam, namun kantor pusat operasinya berada di Batavia semenjak zaman Hindia Belanda. Perusahaan ini terutama berfokus pada rute pelayaran regular terjadwal bagi penumpang dan muatan kargo antar pulau di Hindia Belanda yang kemudian lebih populer dengan istilah sebagai pelayaran pos antar pulau.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, perusahaan ini masih tetap beroperasi hingga dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1960 tentang Nasionalisasi Perusahaan N.V. K.P.M. di Indonesia. Dengan pengundangan Peraturan Pemerintah ini, Panitia Penguasa N.V. Koninklijke Paketvaart Maatschappij yang dibentuk dengan Surat Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia No. 12/PM/KB/19588 tertanggal 4 Maret 1958 dinyatakan bubar dan segala sesuatunya yang bertalian dengan pekerjaan Panitia tersebut dan pelaksanaan peraturan ini ke arah likwidasi perusahaan termaksud diserahkan kepada Menteri Perhubungan Laut.
Kemudian sesuai dengan dinamika dalam Kementerian Perhubungan, gedung tersebut pernah mengalami beberapa pemakaian di bawah kendali Kementerian Perhubungan terutama yang di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Namun, sekarang ini gedung berlantai 3 tersebut digunakan oleh organisasi di bawah Kementerian Perhubungan, yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan, dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Akan tetapi, karena papan nama yang terpampang lebih dominan KNKT maka bangunan tersebut akhirnya dikenal sebagai Gedung KNKT Kementerian Perhubungan. *** [071212]

Kepustakaan:
Peter J.M. Nas dan Martien de Vletter (editor), 2009. Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia, Jakarta: Gramedia
https://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijke_Paketvaart_Maatschappij
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1960

Gedung Perpustakaan Nasional Merdeka Selatan

Berkeliling Monas tidak hanya menikmati ruang hijau Kota Jakarta saja, akan tetapi juga bisa menyaksikan sejumlah bangunan lawas yang masih berdiri di sekeliling Monas, di antaranya adalah Gedung Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas).
Gedung ini terletak di Jalan Merdeka Selatan No. 11 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di selatan Lapangan Monas, atau di sebelah barat Gedung Balai Kota DKI Jakarta (Indische Woonhuis).


Gedung Perpusnas ini dibangun pada tahun 1942 dari hasil rancangan J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits dan Charles van de Linde, dengan gaya arsitektur Indische Empire yang merupakan turunan dari aliran arsitektur Neoklasik. Langgam Indische Empire bisa dilihat dari denahnya yang simetris. Temboknya agak tebal, langit-langitnya tinggi, lantainya dari marmer, di tengah ruangan terdapat “central room” yang besar yang berhubungan langsung dengan beranda depan maupun beranda belakang. Beranda depan dan belakang tersebut terbuka tanpa tembok, yang biasanya sangat luas. Di ujung dari beranda terebut terdapat barisan kolom Yunani (Doric, Ionic, Tuscan, dan sebagainya), berfungsi sebagai pendukung atap yang menjulang ke atas.
Di samping kiri dan kanan “central room” terdapat kamar-kamar tidur. Kadang-kadang central room tersebut berhubungan dengan gallery samping, dapur, kamar mandi, dan fasilitas pendukung lainnya, seperti gudang dan sebagainya merupakan bagian tersendiri di belakang, yang dihubungkan dengan gallery. Di sebelah bangunan utama biasanya juga terdapat paviliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu. Keseluruhan bangunan biasanya terletak pada sebidang tanah yang cukup luas dengan kebun di depan, samping dan belakang rumah. Di bagian depan biasanya terdapat jalan yang melingkar untuk kendaraan yang di sampingnya di tanami dengan pohon-pohon palm.


Dulu, bangunan gedung yang berdiri di atas lahan seluas 16.000 m² ini dikenal sebagai perpustakaan sejarah politik dan sosial yang didirikan pada tanggal 7 Juni 1952 oleh Stichting voor Culturele Samenwerking, suatu badan kerjasama kebudayaan antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Belanda, atas prakarsa Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia.
Lalu, terbit instruksi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang pada waktu itu dijabat oleh Daoed Joesoef, pada 17 Mei 1980 bahwa perpustakaan sejarah politik dan sosial digabung (merger) dengan perpustakaan museum nasional, perpustakaan wilayah DKI Jakarta, dan bidang bibliografi dan deposit Pusat Pembinaan Perpustakaan di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian perpustakaan ini berada di bawah naungan Sekretaris Nasional RI sejak 6 Maret 1989 yang kelak menjadi cikal bagi bagi berdirinya Perpustakaan Nasional di Indonesia.
Sejak difungsikan menjadi Perpusnas, bangunan central room mengalami perubahan dengan menghilangkan sekat tembok kamar menjadi ruangan yang luas agar bisa digunakan sebagai ruang untuk meletakkan rak-rak buku dan sekaligus ruang bacanya, sehingga terkesan longgar. *** [101212]

Kepustakaan:
databudaya.net/index.php/databudaya/databudayaatribut/cabud/id/1397
https://www.academia.edu/6545554/Sejarah_Perpustakaan_di_Indonesia

Kamis, 30 Juli 2015

Daftar Bangunan Kuno di Jakarta

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Jakarta:

Museum ini terletak Jalan Raya TMII I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Benteng ini terletak di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 1-2 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Bank, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Pintu Besar Selatan, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung ini terletak di Jalan Lada, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Galeri ini terletak di Jalan Medan Merdeka Timur No. 14 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung filateli ini terletak di Jalan Pos No. 2 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Baru, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung kesenian ini terletak di Jalan Gedung Kesenian No. 1 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Baru, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung KNKT Kementerian Perhubungan
Gedung ini terletak di Jalan Medan Merdeka Timur No. 5 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Gedung Perpustakaan Nasional Merdeka Selatan
Gedung perpustakaan ini terletak di Jalan Merdeka Selatan No. 11 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Tengah, Provinsi DKI Jakarta

Masjid Istiqlal
Masjid ini terletak di Jalan Pintu Air, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Menara ini terletak Jalan Pasar Ikan, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta

Monas terletak di  Jalan Silang Monas, Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Pasar Ikan No. 1 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 3 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Lapangan Stasiun No. 1 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Mini I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Mini I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Mini I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Mini I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Taman Mini I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Gatot Subroto No. 14 Kelurahan Kuningan Barat, Kecamatan Mampang Prapatan, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Taman Fatahillah No. 1 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terrletak di Jalan Pos Kota No. 2 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Tanah Abang I No. 1 Kelurahan Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Aipda Karel Sasuit Tubun No. 2-4 Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan TMII No. 1 Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan TMII No. 1 Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

Museum ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Pintu air ini terletak di Jalan Pintu Air, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Pintu air ini terletak di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Manggarai Utara No. 1 Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta

Toko ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 7 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Waduk Lalung Karanganyar

Liburan lebaran 1436 H, penulis berkesempatan mengajak keliling bersama dua anak wedok ke daerah Karanganyar yang dikenal dengan sebutan bumi Industri, Pertanian dan Perikanan (Intanpari). Selain refreshing, penulis ingin mengenalkan kepada kedua anak perempuan tersebut tentang waduk. Salah satunya adalah Waduk Lalung.
Waduk Lalung ini terletak di Jalan Lalung-Bekonang, Kelurahan Lalung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi ini berada sudut pertigaan tempat bertemunya Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Lalung-Bekonang, atau tepatnya berada di sebelah barat laut dari pertigaan tersebut.


Menurut sejarahnya, Waduk Lalung dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1940 dan selesai pada tahun 1942 berbarengan dengan pendudukan Jepang di daerah ini. Yang mengerjakan pembangunan waduk tersebut adalah masyarakat setempat yang bermukim di sekitar waduk, atau orang Belanda menyebutnya sebagai inlander (orang pribumi). Tujuan dibangunnya waduk tersebut adalah untuk mengairi sawah agar logistik beras untuk orang-orang yang bermukim di bawah Hindia Belanda tidak mengalami kekurangan. Sebelumnya, lokasi waduk tersebut adalah perkampungan desa yang dikelilingi areal persawahan yang begitu luas.
Waduk dengan luas 7.394 hektar dan volume 5 juta meter kubik ini, sumber airnya berasal dari sungai Jetis. Waduk ini beberapa kali pernah mengalami renovasi karena pada saat dibangun, masihlah sangat sederhana. Belum tuntas betul tapi daerah tersebut keburu dikuasai oleh pasukan Jepang sehingga menyebabkan Pemerintah Hindia Belanda tidak bisa melanjutkan. Setelah Indonesia merdeka, rehabilitasi terhadap waduk tersebut dilakukan kembali dengan memperkuat tanggul-tanggul yang mengelilingi waduk tersebut agar tidak mudah jebol. Sekarangm tanggul tersebut bisa dilewati oleh sepeda motor di atasnya.
Selain berfungsi untuk menampung air yang kelak disalurkan untuk irigasi sawah, Waduk Lalung memiliki beberapa potensi yang dapat dikembangkan di kemudian hari. Potensi yang ada di Waduk Lalung saat ini adalah sebagai tempat bersantai dan relaksasi, sebagai tempat memancing, pada pagi dan sore hari kebanyakan warga sekitar datang ke waduk Lalung untuk jogging. Dengan melihat potensi yang ada di waduk Lalung Karanganyar ini merupakan objek yang potensial untuk dikembangkan menjadi objek wisata, bisnis, kuliner, dan pendidikan. *** [210715]

Rabu, 29 Juli 2015

Waduk Tirtomarto Delingan

Sebelum mengunjungi Waduk Lalung, penulis bersama kedua anak perempuannya terlebih dulu mengunjungi sebuah waduk yang berada di daerah Delingan, Karanganyar. Waduk tersebut bernama Waduk Tirtomarto, atau dikenal luas sebagai Waduk Delingan.
Waduk ini terletak di Jalan Raya Karanganyar-Mojogedang, Desa Delingan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi waduk ini dekat dengan Wana Wisata Gunung Bromo Karanganyar.
Waduk Tirtomarto dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda mulai tahun 1920 dan selesai pada tahun 1923. Waduk ini memiliki elevasi puncak 179 meter, dan mempunyai daerah muka air seluas 47 hektar (normal) dan 50 hektar (banjir) dengan volume efektif 2,07 juta meter kubik serta mampu mengairi areal persawahan seluas 10.000 hektar.


Waduk ini pernah direhabilitasi pada 8 Maret 1999 pada Proyek Pembangunan dan Konservasi Sumber Air (PKSA) Bengawan Solo Departemen Pekerjaan Umum (DPU). Pekerjaan tersebut meliputi perbaikan tubuh bangunan dan pintu pelimpahan air waduk. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kondisi Waduk Tirtomarto dengan daerah tangkapan air (DTA) seluas 1.200 hektar tersebut saat ini cukup memprihatinkan dilihat dari kontinuitas ketersediaan air. Hal ini dikarenakan terjadinya sendimentasi pada waduk yang kurang mendapat penanganan yang serius. Waduk yang semula dapat menyediakan air sepanjang tahun tersebut, sekarang berada dalam kondisi kering pada saat musim kemarau, sehingga tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan air ke daerah irigasi persawahan.
Sebenarnya, waduk yang sekarang dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), salah satu Satuan Kerja (Satker) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini, memiliki kondisi geografis yang lumayan bagus. Waduk ini dikelilingi hamparan perbukitan serta hijaunya pepohonan dan lahan pertanian yang memberikan kesejukan serta keindahan pemandangan sekitar waduk. Jadi, waduk ini yang semula dibangun untuk mencukupi kebutuhan air irigasi pertanian di daerah Delingan dan sekitarnya, sesungguhnya bisa dikembangkan untuk kepariwisataan, baik wisata alam maupun wisata olahraga air. Khusus untuk olahraga air, syarat utamanya perlu terjaganya debit air yang cukup banyak. *** [210715]

Selasa, 28 Juli 2015

Dalem Kawedanan Bekonang

Menikmati segelas teh panas di Pasar Bekonang membawa kenangan tersendiri. Pasalnya dari obrolan di warung yang ada di dalam pasar tersebut, akhirnya penulis mendapat informasi mengenai adanya bangunan kuno di daerah Bekonang, yaitu Dalem Kawedanan Bekonang.
Dalem ini terletak di Jalan Pemuda No. 41 RT. 03 RW. 05 Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Dalem ini berada tepat di sebelah barat Pasar Bekonang, atau berada di sebelah barat laut pertigaan lampu merah Bekonang.
Dalem, dalam bahasa Jawa menunjuk kepada pengertian rumah yang biasanya memiliki pendopo. Begitu pula halnya dengan Dalem Kawedanan Bekonang ini, juga menunjuk pada pengertian tersebut. Hanya saja, untuk pengertian pada Dalem Kawedanan Bekonang ini lebih kepada rumah yang disediakan oleh pemerintah untuk tinggal Wedana Bekonang pada waktu itu. Sehingga, Dalem Kawedanan Bekonang ini sesungguhnya merupakan rumah dinas bagi Wedana Bekonang.


Sesuai angka tahun yang tertera pada gevel pendopo Kawedanan Bekonang, bangunan rumah dinas Wedana Bekonang dibangun pada tahun 1921. Rumah dinas ini menyerupai bangunan kadipaten dalam ukuran yang kecil (mini). Dulu, keluarga wedana yang bertugas di Kawedanan Bekonang tinggal di dalam Dalem tersebut, ditambah dengan sejumlah abdi yang menjaga keamanan maupun kerumahtanggaan. Termasuk di antaranya adalah Raden Ayu Srimulat, seorang pendiri gorup lawak Srimulat, yang pernah tinggal di Dalem ini, karena ayahnya pernah menjadi Wedana Bekonang.
Pada waktu itu, Kawedanan Bekonang meliputi wilayah Mojolaban, Polokarto, dan sekitarnya yang kala itu merupakan wilayah tersendiri. Namun, dengan bergabungnya Kawedanan Bekonang, Kawedanan Larangan atau Sukoharjo, dan Kawedanan Kartasura menjadi Kabupaten Sukoharjo pada hari Senin Pon tanggal 15 Juli 1946, praktis Kawedanan Bekonang sudah tidak difungsikan dan digantikan dengan Kecamatan Mojolaban. Akan tetapi, kendati sudah menjadi wilayah Kecamatan Mojolaban, namun daerah tersebut masih melegenda dengan sebutan Bekonang. Karena bila dirunut dalam sejarah, Bekonang sendiri sebenarnya sudah dikenal ketika masa peralihan Kraton Kartasura Hadiningrat menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat. Daerah tersebut dulu merupakan daerah yang dinominasikan untuk dijadikan sebagai tempat berdirinya Kraton Surakarta Hadiningrat. Sehingga, wajar bila sebutan Bekonang masih membekas sampai sekarang meski sebenarnya Bekonang malah menjadi lebih kecil atau setingkat desa saja.
Setelah Dalem Kawedanan Bekonang menjadi wilayah Kecamatan Mojolaban, Dalem ini pernah berganti nama menjadi rumah dinas Pembantu Bupati Kepala Daerah Wilayah Mojolaban. Setelah struktur kawedanan tidak ada lagi, maka rumah dinas tersebut dipergunakan sebagai aset Kecamatan Mojolaban, dan masuk dalam Data Inventarisasi BCB Tidak Bergerak Kabupaten Sukoharjo. *** [040415]

Stasiun Kereta Api Kertosono

Stasiun Kereta Api Kertosono (KTS) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Kertosono, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 43 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta api yang letaknya paling timur di Kabupaten Nganjuk.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Banaran, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di depan SPBU Banaran, atau dekat dengan Kantor Pos Kertosono. Meski stasiun ini terletak di pusat kecamatan, namun Stasiun Kertosono tergolong besar bangunannya. Bahkan, jauh lebih besar ketimbang Stasiun Nganjuk yang berada di ibukota kabupaten. Hal ini karena Stasiun Kertosono merupakan stasiun percabangan yang menghubungkan Kertosono-Nganjuk-Madiun ke arah barat, Kertosono-Mojokerto-Surabaya ke arah timur, dan Kertosono-Kediri-Tulungagung-Blitar ke arah selatan.


Bangunan Stasiun Kertosono ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Kertosono-Nganjuk-Madiun yang dikerjakan oleh Perusahaan Kereta Api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, dari tahun 1881 dan selesai pada tahun 1882.
Stasiun ini sekarang tinggal memiliki 7 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus ke arah timur, dan jalur 2 sebagai sepur lurus ke arah barat. Sedangkan, letak jalur percabangannya berada di seberang Sungai Brantas.
Di depan Stasiun Kertosono ini masih tersisa jalur rel kereta api menuju ke Pabrik Gula (PG) Lestari yang berada di Desa Patianrowo. Dulu, jalur tersebut digunakan untuk jalur transportasi komoditas gula dari pabrik menuju ke daerah lain lewat Stasiun Kertosono. Namun, kini jalur ke Patianrowo tersebut sudah tidak berfungsi lagi.
Pada umumnya, bentuk bangunan stasiun yang berada di kecamatan akan memiliki bentuk yang hampir sama dengan stasiun yang berada di ibukota kecamatan lainnya. Akan tetapi, untuk bangunan Stasiun Kertosono ini tergolong unik. Artinya, bangunan stasiun ini cukup besar bila terletak di pusat kecamatan, dengan luas bangunan stasiun 578,92 m² di atas lahan 1.627, 25 m² dan telah ditetapkan sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 001/7.64311/KTS/BD.
Stasiun Kertosono sempat mengalami kevakuman dalam melayani penumpang tapi semenjak 1 April 2015, stasiun ini kembali melayani penumpang seiring semakin banyaknya kereta api yang bermunculan. Sehingga, aktivitas stasiun ini terasa denyutnya dan semakin ramai. Tidak hanya penumpang dari Kecamatan Kertosono saja, melainkan juga dari luar Kecamatan Kertosono. *** [260715]