Balai Kota Makassar (1)

Jl. Ahmad Yani No. 2 Makassar

Balai Kota Cirebon (2)

Jl. Siliwangi No. 84 Cirebon

Balai Kota Madiun (3)

Jl. Pahlawan No. 37 Madiun

Balai Kota Lama Medan (4)

Jl. Balai Kota No. 1 Medan

Kantor Gubernur Sumatera Utara (5)

Jl. Diponegoro No. 30 Medan

Thursday, July 31, 2014

Masjid Sememen

Keberadaan Kampung Kauman terkait erat dengan pembangunan Masjid Agung yang didirikan oleh Paku Buwana II usai Geger Pecinan di Kartasura. Wilayah Kauman bermula dari adanya Kawedanan Yogiswara/Kapengulon yang tugasnya mengurusi keagamaan dan kemakmuran Masjid Agung, di mana pengelolanya para ulama yang bertempat tinggal mendekati Masjid Agung. Gugusan tempat tinggal para kaum/ulama biasa disebut dengan Kampung Kauman.
Sebagai perkampungan tua, Kauman memiliki banyak bangunan kuno dengan peninggalan sejarah yang tinggi nilainya, di antaranya adalah Masjid Sememen.


Masjid Sememen terletak di Jalan Trisula 6 No. 1 Kampung Sememen, Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi masjid ini berada di sebelah barat sekolah NDM (Nahdlatul Muslimat).
Awalnya, masjid ini merupakan langgar atau mushalla yang terdapat di daerah Kauman yang dibangun pada tahun 1890 oleh Ketib atau Khotib Sememi, dan kemudian diwakafkan kepada umat Islam. Langgar ini baru diresmikan sebagai masjid pada hari Jumat, 29 Agustus 2003 yang bertepatan dengan 1 Rajab 1424 H setelah dilakukan renovasi. Ketib Sememi adalah seorang penghulu agama yang bergelar Kanjeng Kiai Penghulu (KKP) Tafsir Anom yang makamnya berada di Pajang, satu kompleks dengan makam para penghulu lain dari Kauman.
Kampung Sememen yang merupakan nama kampung di wilayah Kauman adalah toponim pemberian dari Susuhunan (sebutan untuk Raja Surakarta) berdasarkan aktivitas masyarakatnya di mana di kampung tersebut sebagai tempat tinggal ulama Sememi dan sekaligus sebagai tempat berdirinya Masjid Sememen.


Bangunan masjid ini berarsitektur Indies Jawa Klasik di mana gaya arsitekturanya merupakan perpaduan antara gaya Eropa abad pertengahan dengan gaya Jawa yang berornamen kayu ukiran. Di sebelah utara dari bangunan utama masjid terdapat menara adzan yang menyerupai Panggung Sanggabuana yang ada di Kraton Surakarta. Berbentuk heksagonal yang memiliki arti arah mata angin dan empat unsur alam, yakni air, angin, api, dan tanah.
Dilihat dari segi ukurannya, bangunan masjid ini tergolong kecil, dan tidak memiliki halaman sama sekali. Maka, dari Jalan Trisula 6 langsung menuju ke serambi masjid yang berada di bagian paling depan diberi pagar teralis besi. Dari serambi depan, langsung dihubungkan ke ruang utama masjid melalui pintu sebanyak tiga buah. Sedangkan, di sebelah kanan dan kiri ruang utama masjid terdapat pintu besar dan beberapa jendela besar yang dipasangi teralis besi.
Masjid yang tergolong tua nan eksotis ini merupakan heritage yang menyisakan jejak masa lalu yang perlu dilestarikan. *** [270714]

Wednesday, July 30, 2014

Masjid Sholihin Solo

Menuju Stasiun Solo Balapan dari arah Monumen Pers, terlihat sebuah bangunan masjid yang khas. Atap bangunan masjid beratap warna hijau bersusun tiga dengan puncak mustaka berbentuk bulatan-bulatan meruncing ke atas. Masjid tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Sholihin.
Masjid Sholihin terletak di Jalan Gajah Mada No. 97 Kelurahan Punggawan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi masjid ini tepat berada di pojok barat daya lampu merah pertemuan antara Jalan Gajah Mada dengan Jalan Raden Mas Said.
Menurut prasasti beraksara dan berbahasa Jawa yang terpasang di pintu kedua menuju ruang utama masjid, disebutkan bahwa Masjid Sholihin dibangun oleh R. Ngt T. Prawirodirdjo yang diresmikan beliau sendiri pada hari Kamis Kliwon tanggal 16 Jumadilawal Jimmawal 1885 atau bertepatan dengan tanggal 21 Januari 1954. Kemudian masjid ini langsung diwakafkan untuk keperluan Islam dan kaum muslimin untuk selama-lamanya.


Sebelum pembangunan Masjid Sholihin dilaksanakan, terlebih dahulu telah dipasang pondasi dari masjid, serambi, dan pelampahan. Setelah itu mengalir bantuan dari para muslimin dan muslimat berupa pasir, batu gamping, kayu, dan lain-lain. Sedangkan, selaku orang yang bertanggung jawab dalam proses pembangunan masjid secara utuh dilakukan oleh R. Ng. Tjondrodiprodjo dan yang mengerjakan adalah R. Sutedjo. Pada waktu, masjid ini dibangun, yang menjadi Ketua Pengurus Masjid Sholihin adalah R. H. Muhammad Adnan.
Dilihat dari ukurannya, Masjid Sholihin tidaklah begitu besar atau luas, akan tetapi memiliki tampilan gaya bangunan yang menawan. Mengadopsi dari arsitektur bangunan masjid kuno Jawa pada umumnya, masjid ini memiliki atap bergaya arsitektur tajug tumpang tiga. Atap tumpuk berbentuk piramida yang menutupi ruangan dalam masjid ini sebenarnya tidaklah lazim digunakan pada bangunan-bangunan yang bercirikan seni Islam sebagaimana yang biasa dijumpai di negara-negara yang juga mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Arab Saudi, Turki, Iran, Mesir, Maroko, dan Syiria, di mana kubah menjadi pilihan utama sebagai penutup ruang utama bangunan masjid. Di sinilah letak keunikan dari Masjid Sholihin ini yang pada akhirnya menjadi corak arsitektur masjid Jawa pada umumnya.


Model tajug tumpang tiga pada atap bangunan masjid ini, konon melambangkan tingkatan-tingkatan dalam ajaran tasawwuf, yaitu syari’at, thariqat, dan ma’rifat. Kemudian puncak mustaka berbentuk bulatan-bulatan yang meruncing ke atas menujukkan tingkatan keempat atau tingkatan yang tertinggi, yaitu haqqiqat.
Menilik dari usia, bangunan Masjid Sholihin tergolong sebagai masjid kuno yang ada di Kota Solo yang masih berdiri dengan kokoh di lokasi yang strategis, dan sudah layak sebagai peninggalan budaya (heritage) *** [270714]

Monday, July 28, 2014

Roti Ganep Solo

Plesiran ke Kota Solo membawa banyak sejuta kenangan. Banyak destinasi wisata yang layak dikunjungi. Tidak hanya wisata kultural historis saja akan tetapi yang tak kalah pesonanya adalah wisata kuliner. Salah satunya adalah Roti Ganep yang tersohor sebagai salah satu penganan khas Kota Solo.
Roti Ganep terletak di Jalan Sutan Syahrir No. 176 Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi ini berada dekat dengan Sate Buntel Tambak Segaran yang tak kalah populernya, atau berada di sebelah tenggara Pasar Legi Solo.
Perusahaan roti ini bermula dari usaha pasangan Tjang Tiang San dan Auw Liek Nio dalam membuat penganan berbahan dasar tepung ketan yang kemudian dikenal dengan nama roti kecik. Usaha roti yang didirikan sekitar tahun 1881, merupakan salah satu produksi utama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang menginginkan roti dengan harga murah pada masa itu.



Pemberian nama Ganep dilakukan oleh Sinuhun Paku Buwana X semasa beliau masih menjadi putra mahkota. Mendengar anak Ny. Auw Liek Nio berjumlah genap, maka sejak itu Ny. Auw Liek Nio kerap dipanggil Nyah Ganep.
Prasasti Ganep dianugerahkan oleh GPH Dipokusumo. Kata Ganep sebagai nama yang dianugerahkan Sinuhun Paku Buwono X (183-1939) tersebut memiliki arti genap, yang bermakna filosofis: lengkap, utuh, sehat dan waras.
Sekarang Perusahaan Roti Ganep masih berdiri dan memproduksi roti kecik dan roti yang lain di bawah pengelolaan Cecilia Maria Purnadi (Oh Lioe Nio), generasi kelima dari Ny. Auw Liek Nio, dan membuka dua cabang di Lobby RS Dr. Oen Kandang Sapi yang berada di Jalan Brigjen Katamso No. 55 Solo (Cabang 1), dan yang satunya berada di Jalan Pakel Ruko Mulyo Mandiri No. 11 Banyuanyar, Solo.
Perusahaan Roti Ganep ini selain memproduksi roti kecik, perusahaan ini juga memproduksi roti basah, aneka penganan tradisional maupun makanan khas Solo yang menjadi ciri khas dari perusahaan tersebut dengan mengusung tema Traditional Snacks Ganep’s. Namun demikian, roti kecik yang menjadi produk primadona perusahaan ini merupakan penganan yang banyak diminati masyarakat dari Solo maupun wisatawan dari luar Solo, bahkan tidak jarang wisatawan mancanegara yang membeli roti kecik sebagai oleh-oleh khas Solo. *** [270714]

Monday, July 21, 2014

Kampung Batik Jetis

Kampung Batik Jetis adalah salah satu kampung yang memiliki warisan budaya membatik. Di dalam Kampung Jetis tersebar rumah para perajin batik yang merupakan salah satu sentra batik terbesar di Sidoarjo. Di kampung ini akan ditemukan bangunan-bangunan dengan arsitektur kolonial yang cukup menarik dengan jendela besar dan jeruji besi yang antik. Dapat kita bayangkan pada masa jayanya daerah ini cukup ramai dan banyak terdapat rumah para juragan batik beserta perajinnya menempati daerah tersebut.
Kampung Batik Jetis terletak di Dusun atau Lingkungan Jetis, Kelurahan Lemah Putro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi kampung tersebut berada di seberang jalan utama menuju Stasiun Sidoarjo.


Konsep pembentukan Kampung Batik Jetis muncul dari gagasan masyarakat Jetis itu sendiri. Tujuannya tidak lain adalah sebagai sarana pemberdayaan potensi kampung binaan Pemkab setempat.
Menengok jauh ke belakang, batik tulis tradisional Sidoarjo yang berpusat di Jetis telah ada sejak tahun 1675, setahun setelah Masjid Jamik dibangun. Masjid tersebut kini bernama Al Abror, berada di Kauman (belakang Toserba Matahari). Kala itu, seorang yang konon masih keturunan raja dikejar-kejar penjajah dan lari ke Sidoarjo. Sayangnya sampai sekarang belum ada data akurat, siapa sebenarnya dan dari kerajaan mana pria yang menyamar sebagai pedagang, dan dikenal dengan sebutan Mbah Mulyadi tersebut. Makamnya masih ada di masjid yang kini telah mengalami pemugaran di Kawasan Kauman tersebut.
Bersama para pengawalnya, Mbah Mulyadi mengawali berdagang di “Pasar Kaget” yang kini dikenal dengan nama Pasar Jetis. Selain memberi pelajaran mengaji dan mempelajari Al Qur’an serta selalu mengajak shalat berjamaah, Mbah Mulyadi juga melakukan pendekatan kepada masyarakat setempat dengan memberikan pelatihan ketrampilan membatik.
Seiring dengan perkembangan penduduk, serta kian ramainya perdagangan di Pasar Jetis, kawasan ini banyak didatangi para pedagang dari luar daerah. Pedagang asal Madura yang semakin banyak berdagang di Pasar Jetis sangat menyukai batik tulis buatan warga Jetis. Mereka sering memesan batik tulis dengan permintaan motif dan warna khusus khas Madura. Itu sebabnya, batik tulis asal Jetis ini kemudian juga dikenal orang sebagai batik corak Madura.


Batik tradisional Jetis, atau yang biasa disebut dengan Batik Jetisan, memiliki khas ragam corak dan warna yang cerah seperti hijau, kuning, dan merah. Berbeda dengan batik Solo dan Yogyakarta berwarna coklat dan hanya memakai motif dua warna. Motif batik Jetis Sidoarjo sudah terkenal sejak tahun 1920an (tahun masa keemasan Batik Jetisan). Hal ini diakui sejumlah kolektor batik yang berkunjung ke Kampung Batik Jetis. Bahkan, para kolektor memiliki batik Jetis yang berumur 80-100 tahun.
Motif batik Jetis pada umumnya didominasi oleh flora dan fauna khas Sidoarjo yang memiliki warna-warna cerah, di antaranya kembang tebu, beras wutah, pecah kopi, kembang bayem, maupun burung merak. Secara filosofi, motif kembang tebu muncul karena Sidoarjo memiliki banyak pabrik gula. Motif beras wutah dilatarbelakangi adanya dua penggilingan padi di Sidoarjo di masa lalu namun tetap saja kurang dibandingkan kebutuhan masyarakat akan beras. Motif pecah kopi lahir dilandasi oleh banyaknya masyarakat Sidoarjo pada waktu dulu bercocok tanam kopi. Motif kembang bayem muncul karena dulu Sidoarjo merupakan daerah pemasok sayur-sayuran terutama bagi masyarakat Surabaya. Sedangkan, motif burung merak diperkirakan muncul lantaran dulunya di daerah Sidoarjo banyak dihuni oleh burung merak ketika masih berupa hutan.
Namun, nama Sidoarjo itu tidak pernah muncul dikarenakan hampir semua batik karya perajin Sidoarjo dipakai oleh orang Madura, sehingga disebut dengan istilah batik Madura. Padahal, sebutan batik Madura itu berlaku untuk motif saja. Sedangkan pembuatnya adalah perajin Sidoarjo. Baru sekitar tahun 2008 usai peresmian Kampung Batik Jetis oleh Bupati yang menjabat pada saat itu, sebutannya diganti dengan sebutan batik Sidoarjo. Sehingga, seiring berjalannya sang waktu, batik Jetisan Sidoarjo mulai dikenal dan semakin populer. Karya Kampung Batik Jetis tersebut kini kian dikenal di Jakarta dan luar daerah lainnya, bahkan sampai ke manca negara. *** [180414]

Stasiun Kereta Api Sidoarjo

Pada abad 18, Sidoarjo merupakan salah satu sentra produksi gula. Hal ini ditandai dengan berdirinya 10 pabrik gula di Sidoarjo, yakni Ketegan, Taman, Gedangan, Buduran, Candi, Tulangan, Krembung, Wonoayu, Krian, dan Watu Tulis. Sehingga, Sidoarjo pada masa itu merupakan daerah industri gula yang potensial di Nusantara.
Sebagai konsekuensi dari pembukaan pabrik gula tersebut, pemerintah kolonial Belanda juga menyiapkan sarana dan prasarana untuk mengangkut hasil gula dari Sidoarjo menuju ke pelabuhan atau ke kota lain. Kala itu, gula merupakan komoditas primadona yang diminati di daerah Eropa. Sehingga, pemerintah kolonial Belanda merasa penting untuk membuka jaringan jalan kereta api (rel). Pembangunan jalur kereta api dari Surabaya hingga Pasuruan yang membelah Sidoarjo, dikerjakan oleh Staats Spoorwegen lebih dari tiga tahun, dan diresmikan pada 16 Mei 1878.


Dengan hadirnya jalur kereta api tersebut, sekaligus juga pembangunan stasiun kereta api yang dilintasi oleh jalur tersebut. Salah satunya adalah Stasiun Kereta Api Sidoarjo, atau biasa yang dikenal dengan Stasiun Sidoarjo saja.
Stasiun Sidoarjo terletak di Jalan Diponegoro No. 1 Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di tengah Kota Sidoarjo, dan berseberangan dengan Kampung Batik Jetis.
Stasiun Sidoarjo yang berada di bawah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya ini, memiliki kode stasiun SDA, dan berada di ketinggian + 4 m serta memiliki 4 jalur. Stasiun ini tergolong sebagai stasiun besar yang memiliki fungsi sebagai tempat kereta api berhenti, tempat kereta api berangkat, dan tempat kereta api bersilang, menyusul atau disusul.
Sebagai bangunan stasiun, Stasiun Sidoarjo memiliki kelengkapan sesuai standar bangunan stasiun yang berada di Kota atau Kabupaten pada umumnya, yakni memiliki front area (halaman depan), hall atau vestibule yang ada di bangunan stasiun, peron, dan emplasemen. Dari tampak depan, bangunan stasiun ini mempunyai kesan monumental. Kesan monumental bangunan stasiun ini bisa dilihat dari gaya arsitektur peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh dan luas. Di sebelah kiri dan kanan pintu utama, terdapat deretan jendela kayu dengan jeruji yang lumayan besar sebanyak 6 buah. Keunikan dari stasiun ini memang sudah bisa ditemukan sejak pertama kali melihat muka bangunan stasiun ini.


Memasuki stasiun ini, pintu utamanya yang tingginya sekitar 2 m sebanyak 2 pintu. Pada hall, kesan semilir cukup terasa lantaran ruangannya cukup tinggi dengan suplai angin dari roster yang terpasang. Lanjut masuk ke peron, suasana luas nan memanjang dengan corak bangunan tua menambah kesan sambil menunggu keretanya datang, sejenak menikmati suasana peron kuno yang ada di stasiun tersebut, dan sekaligus menikmati emplasemen stasiunnya. Bangunan utama stasiun memiliki detail-detail yang unik juga pada bagian lainnya. Mulai dari pintu kayu, trails, langit-langit, jendela, dan detail bagian lainnya.
Stasiun Sidoarjo ini memiliki luas bangunan 1.050 m² di atas lahan seluas 2.573 m², dan merupakan aset dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Persero dengan nomor register 115/08.61213/SDA/SDA. Bangunan stasiun ini merupakan bangunan cagar budaya (BCB) milik PT. KAI yang dilindungi oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. *** [180414]

Pintu Air Manggarai

Melintas dari depan Stasiun Manggarai menuju ke Terminal Manggarai sambil menoleh ke kanan sebelum melewati viaduct, terlihat pintu air tua yang cukup unik. Pintu air tersebut dikenal dengan sebutan Pintu Air Manggarai atau Manggarai Water Gate.
Pintu Air Manggarai terletak di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi pintu air ini berada di sebelah barat laut dari Stasiun Manggarai.
Pintu Air Manggarai terdiri dari dua bangunan pintu air, yaitu Pintu Air Ciliwung Lama dan Pintu Air Banjir Kanal Barat (BKB) yang dibangun oleh Departement Waterstaat dari tahun 1920 sampai tahun 1922 dan berfungsi sebagai bangunan pengendali aliran Sungai Ciliwung mengingat Jakarta sering terkena banjir pada waktu itu. Dalam sejarahnya, banjir besar pertama yang melanda Jakarta saat direkam pada tahun 1621, dan diulang pada 1654, 1671, 1699, 1711, 1714, 1854, 1872, 1893, 1918, 1930, 1942, 1976, 1996, 2002, 2007 hingga sekarang.


Pintu Air Ciliwung Lama mengalirkan sebagian kecil aliran Sungai Ciliwung ke arah Sungai Ciliwung Lama dan Pintu Air Banjir Kanal Barat mengalirkan aliran lainnya yang lebih banyak ke arah Banjir Kanal Barat. Pada kondisi air banjir, Pintu Air Ciliwung Lama tidak dibuka maksimal karena untuk menjaga supaya aliran yang berlebihan melalui Sungai Ciliwung Lama tidak menimbulkan banjir khususnya daerah sekitar Pintu Air Ciliwung Lama, Istana Negara dan Masjid Istiqlal. Akibat tidak dibukanya Pintu Air Ciliwung Lama secara maksimal menyebabkan aliran menjadi terkonsentrasi melalui Pintu Air Banjir Kanal Barat yang daya alirnya terbatas sehingga menyebabkan terhambatnya aliran yang menyebabkan terjadinya pengempangan (back water) yang menyebabkan naiknya elevasi muka air banjir di sebelah hulu.
Setelah terendam banjir besar pada awal 1918 yang melumpuhkan Batavia, membuat pemerintah Hindia Belanda memikirkan dan mengupayakan rencana untuk mengatasi banjir. Ditugaskanlah Herman van Breen, seorang insinyur hidrologi yang bekerja pada Burgelijke Openbare Werken yang merupakan cikal bakal dari Departemen Pekerjaan Umum, dan dikerjakan bertahap selama dua tahun.
Konsep van Breen dan rekan-rekannya sebenarnya cukup sederhana, hanya saja diperlukan perhitungan yang teliti dan implementasi serta biaya yang tinggi. Intinya adalah untuk mengontrol aliran air dari sungai hulu dan membatasi volume air masuk kota. Oleh karena itu, saluran perlu dibangun di bagian selatan kota untuk menampung limpahan air, dan kemudian mengalir ke laut melalui bagian barat kota. Saluran penampungan yang dibangun sekarang dikenal  sebagai Banjir Kanal yang memotong dari Pintu Air Manggarai ke Muara Angke.
Dilihat dari sisi historisnya, Pintu Air Manggarai merupakan pintu air yang telah berusia tua sehingga bangunan ini sudah tergolong sebagai bangunan cagar budaya (BCB). Kendati demikian, di kesenjaan umur dari bangunan ini, peran penting sebagai pengendali banjir masih menunjukkan kekokohannya. *** [280514]

Tangga Masjid Menandakan Jumlah Rakaat

Setiap daerah memiliki masjid tertua untuk membuktikan sejarah di daerah masing-masing. Belum lama ini, hariam Jambi Ekspres (Jawa Pos Group) sengaja berkunjung ke Dusun Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo. Di sana terdapat masjid tertua di Kabupaten Bungo. Namanya adalah Masjid Al Falah.
Masjid yang dibangun atas perintah Pangeran Anom tersebut punya arsitektur yang indah dengan bangunan bergaya Melayu. Masjid kuno itu didirikan pada 1812 serta dikerjakan bertahap. Hingga akhirnya, bangunannya berbentuk cukup megah seperti sekarang. Masjid tersebut terus direnovasi.
Beberapa tokoh masyarakat setempat menjelaskan, Dusun Empelu pernah dipimpin seorang Rio Agung Niat Tuanku Kitab. Dia disebut-sebut adalah Rio pertama di wilayah tersebut.
Rio Agung mengajak masyarakat Desa Empelu bergotong royong mengambil kayu di hutan. Tujuannya, membangun sebuah rumah ibadah yang pada saat itu kali pertama disebut Surau Falah. Pendirian awal Masjid Al Falah dikerjakan Rio Agung bersama masyarakat atas titah Pangeran Anom. Ketika didirikan, bangunan Masjid Al Falah masih berbentuk rumah panggung yang terdiri atas beberapa tiang.
“Dulu masjid itu beratap daun rumbia, berdinding kayu, dan berlantai bilah (buluh, Red). Bentuknya biasa menyerupai rumah adat Bungo. Kata orang dulu, nama masjid masih disebut sebagai rumah surau. Bentuknya sangat sederhana, jauh dari bentuk saat ini,” kata tokoh masyarakat Dusun Empelu, Rifa’i.
Masjid tersebut digunakan untuk kepentingan kemasyarakatan dan pemerintahan. Pada 1827, Surau Al Falah direhabilitasi menjadi bangunan berbatu dengan tembok dari semen. Pengerjaan dilakukan Abu Kasim dari Pulau Jawa dan telah lama tinggal di Malaysia. Saat itu nama Surau Al Falah diubah menjadi Masjid Al Falah oleh Pangeran Anom di bawah pimpinan Raja Demak.
Pada 1837, bangunan masjid kembali direhabilitasi. Rehabilitasi bangunan masjid dikerjakan seorang pekerja dari Bukittinggi bernama Mangali. Ketika itu bangunan mulai tampak indah dengan seni arsitektur bangunan serta interior yang cukup menarik. Selain itu, terkandung simbol-simbol atau makna-makna yang cukup luas dari bentuk fisik bangunan.
Bila dihitung, tangga di sekitar masjid berjumlah 17 sebagai tanda jumlah rakaat dalam salat lima waktu. Kemudian, ada 5 tangga mimbar yang menandakan salat 5 waktu sehari semalam. “Sekarang tidak lagi lima karena sudah dipotong,” ujar Rifa’i.
Pada 1850, kembali dilakukan pemugaran untuk memperbarui dua menara rendah. Menara itu terletak di sudut depan masjid seperti saat ini. Saat ini masjid juga terus dalam proses renovasi. (fth/JPNN/c14/diq)

Sumber:
JAWA POS Edisi Kamis, 17 Juli 2014