Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Sabtu, 11 November 2017

Gedung Menara BTN Jakarta

Kawasan Harmoni di Jakarta merupakan kawasan yang cukup padat, baik dilihat dari bangunannya yang ada maupun aneka kendaraan bermotor yang lalu lalang. Deretan gedung dan laju kendaraan bermesin di kawasan tersebut seakan berpadu dalam kesibukan sebuah kota metropolitan. Salah satu dari deretan gedung yang ada, terdapat sebuah bangunan gedung menjulang yang tak meninggalkan bangunan awalnya. Gedung tersebut dikenal dengan Gedung Menara BTN (Bank Tabungan Negara).
Gedung ini terletak di Jalan Gajah Mada No. 1 Kelurahan Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah selatan Duta Merlin ± 200 m atau sebelah barat Restoran Istana Harmoni (berada di seberang jalan).
Sesuai dengan tema dari blog ini, maka bangunan gedung yang akan dibahas adalah bangunan gedung lawas yang ada di komplek Menara BTN itu, yaitu tepatnya gedung yang berada di bagian muka dari halaman kompleks ini, yang berbatasan langsung dengan Jalan Gajah Mada di sebelah timurnya.
Dulu, kompleks Menara BTN ini merupakan lahan tempat berdirinya benteng kecil yang dibangun oleh VOC pada tahun 1656. Benteng tersebut kemudian dibongkar pada tahun 1729. Pada tahun 1815, lahan bekas bongkaran benteng tersebut dibeli oleh Jan Tiedeman untuk didirikan rumah yang besar. Kemudian berpindah tangan menjadi milik Pieter Willem Helvetius van Riemsdijk pada tahun 1819. Pada tahun 1825, di atas lahan ini didirikan sebuah hotel yang diberi nama Hotel Marine. Setelah menjadi Hotel Marine, ternyata kepemilikannya masih kerap beralih tangan juga. Dari Pieter Christiaan Stelling (1833), Hendrik Loust (1853), Cornelis Kramers (1861), Eugene Achille Bonnet (1867) sampai dengan Europe Honore Girardeau (1870).


Setelah tahun 1890, Hotel Marine dirubah menjadi bangunan burgersocieteit (klub masyarakat umum) bernama De Club. Kemudian pada tahun 1920, bangunan tersebut dibongkar lagi dan didirikan sebuah toko serba ada yang bernama Eigen Hulp (winkelgebouw ‘Eigen Hulp’). Toko tersebut merupakan toko terkemuka di Batavia, yang menjual berbagai peralatan rumah tangga, aneka busana, mainan anak-anak, kerajinan seni ukir patung, cerutu, payung, peralatan musik, makanan hingga peralatan untuk kuda. Bangunan toko tersebut dirancang oleh Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker pada tahun 1920. Schoemaker merupakan seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang gemar bermain anggar, dan guru besar bidang arsitektur di Technische Hoogeschool te Bandoeng dari tahun 1920 sampai dengan tahun 1924.
Pada tahun 1930, bangunan Toko Eigen Hulp dibongkar, dan di atas lahannya didirikan bangunan dua lantai yang digunakan untuk gedung Postspaarbank (Postspaarbank aan het Hamonieplein). Bangunan gedung bergaya Nieuwe Kunst tersebut dirancang oleh Ir. Johan (Jan) Godart van Gendt, seorang arsitek dari Jawatan Gedung Negara (bouwkundig bureau van de Landsgebouwendienst).
Ketika masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, Postspaarbank dibekukan oleh pasukan Jepang. Sebagai gantinya, Perwakilan Pemerintah Jepang di Hindia Belanda mendirikan Tyokin Kyoku pada 1 April 1942.
Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Tyokin Kyoku diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia, dan dalam perkembangannya telah beberapa kali berganti nama. Dari Tyokin Kyoku berganti nama menjadi Kantor Tabungan Pos. Setelah itu menjadi Bank Tabungan Pos Republik Indonesia pada tahun 1950.
Pada tahun 1952, ditetapkan Undang-Undang Nomor 36 tahun 1953 yang isinya mencabut Postspaarbank Ordonantie tahun 1865. Selanjutnya nama Bank Tabungan Pos diganti menjadi Bank Tabungan Negara, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 4 tahun 1963.
Lalu, dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1965 ditetapkan pengintegrasian Bank-Bank Umum Negara dan Bank Tabungan Negara ke dalam  Bank Sentral. Sesuai dengan Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1965 tentang pendirian bank milik negara, Bank Tabungan Negara dan Bank Negara 1946 bergabung menjadi Bank Negara Indonesia.
Setelah lahir Undang-Undang Pokok Perbankan Nomor 14 tahun 1967, maka kemudian ditetapkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 1968 perihal pendirian Bank Tabungan Negara. Di dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa tugas pokok Bank Tabungan Negara diarahkan kepada perbaikan ekonomi rakyat dan pembangunan ekonomi nasional dengan jalan menghimpun dana dari masyarakat  melalui deposito dan tabungan.
Pada tahun 1974, pemerintah menetapkan kebijakan pembangunan perumahan untuk masyarakat menengah ke bawah. Untuk menunjang keberhasilan kebijakan tersebut, Bank Tabungan Negara ditunjuk sebagai wadah pembiayaan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor B-49/MK/IV/1974 tanggal 29 Januari 1974. Atas dasar Surat Keputusan Menteri Keuangan itu, Bank Tabungan Negara mengemban tugas baru, yaitu di samping tugasnya di bidang pengumpulan dana dari masyarakat, juga memberikan kredit perumahan dengan agunan rumah beserta tanah yang dibeli dari kredit tersebut. Sehingga, Bank Tabungan Negara harus mampu mengerahkan dana masyarakat. Untuk itu, Bank Tabungan Negara mengerahkan aktivitas deposito yang dapat menghimpun dana dari masyarakat dengan cukup besar.
Oleh karena itu, gedung bekas Postspaarbank yang berada di kawasan Harmoni tersebut kini menjadi gedung Bank Tabungan Negara (BTN). Karena, secara historis cikal bakal dari BTN dimulai dengan kehadiran Postspaarbank tersebut. Sedangkan, gedung menjulang yang baru yang berada di belakang bangunan lamanya dikenal dengan gedung Menara BTN. *** [290416]

Kepustakaan:
Akihary, Huib. (1990). Architectuur & Stedebouw In Indonesië 1870/1970. Zutphen: De Walburg Pers
https://id.wikipedia.org/wiki/Eigen_Hulp
https://en.wikipedia.org/wiki/Marine_Hotel,_Batavia
https://id.wikipedia.org/wiki/Richard_Leonard_Arnold_Schoemaker

Kamis, 02 November 2017

Stasiun Kereta Api Tasikmalaya

Stasiun Kereta Api Tasikmalaya (TSM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Tasikmalaya, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung yang berada pada ketinggian + 349 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun No. 8 Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat laut alun-alun atau ± 500 m, atau sebelah timur laut Hotel Merdeka ± 140 m.
Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Cibatu-Tasikmalaya-Banjar-Maos yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), dari tahun 1893 hingga 1894, sebagai bagian dari proyek jalur kereta api untuk jalur bagian barat (Westerlijnen). Jalur sepanjang 174 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Cibatu menuju Tasikmalaya kemudian diteruskan hingga Maos. Jalur ini merupakan jalur pegunungan (berglijn) dengan kemiringan mencapai 25/₀₀.


Agus Mulyana dalam bukunya, Sejarah Kereta Api di Priangan (Penerbit Ombak, 2017: 106-107), menjelaskan bahwa pembangunan jalur ini dimulai dari Stasiun Cibatu yang merupakan titik pertemuan antara jalur Cicalengka-Garut dan Warung Bandrek-Maos (Cilacap). Dari Stasiun Cibatu menuju ke Stasiun Warung Bandrek, kemudian ke arah timur menuju ke Malangbong. Jalan kemudian menanjak dari arah Malangbong menuju arah tenggara sampai batas yang menghubungkan antara Gunung Cakrabuana dengan Sedakling yang memiliki ketinggian 780 m. Di daerah Sedakling dibangun Stasiun Cipontren. Dari arah Stasiun Cipontren jalan mulai menurun menuju lembah Ciawi yang memiliki ketinggian 500 m. Dari Cibatu hingga Ciawi jalur rel yang dibangun pada daerah pegunungan dengan kondisi jalan yang berbelok-belok.


Jalan mulai lurus dari Ciawi walaupun masih landai. Dari Ciawi jalan menuju desa-desa yang padat penduduknya, yaitu Rajapolah. Jalur rel kemudian mengikuti arah jalan raya dan aliran Sungai Citanduy hingga Banjar. Daerah-daerah yang dilalui antara Rajapolah dan Banjar yaitu Indihiang, Tasikmalaya, dan Manonjaya. Pada akhir tahun 1893 jalur rel Cibatu-Tasikmalaya sudah selesai dibangun dan dapat digunakan untuk umum pada 16 September 1893.
Awalnya, bangunan Stasiun Tasikmalaya ini tidaklah semegah ini. Bentuknya masihlah sederhana dan memanjang. Namun, seiring perkembangan di daerah tersebut, stasiun ini juga direnovasi sesuai dengan kebutuhan yang terus meningkat hingga berbentuk seperti sekarang ini. Yang khas dari gaya arsitektur stasiun ini adalah di tengah-tengah atap stasiun dibuat bertajug seperti bangunan gedung sate di Bandung.


Stasiun Tasikmalaya tergolong sebagai stasiun besar yang memiliki 7 jalur dengan jalur 2 sebagai jalur sepur lurus. Arah barat menuju ke Stasiun Indihiang dan arah timur menuju Stasiun Awipari. Di sebelah tenggara bangunan stasiun terdapat dua jalur rel buntu (sepur badug) demikian juga jalur 7 ke arah tenggara juga terhubung dengan jalur rel buntu.
Pada tahun 1910, dari Stasiun Tasikmalaya dibangun jalur rel menuju Singaparna sepanjang 17 kilometer oleh Staatsspoorwegen dalam Dienst der Eenvoudige Lijnen (layanan jalur sederhana atau bukan jalur poros utama) yang memakan waktu selama satu tahun. Pembangunan jalur ini semula digunakan untuk mengangkut hasil tambang, seperti batu bara dan mangan, yang banyak ditemui di daerah Tasikmalaya bagian selatan, dan sekaligus mengangkut para pekerja tambangnya atau penumpang lainnya. Kemudian mulai tahun 1960an, kereta api yang mlintas jalur ini hanya digunakan untuk mengangkut hasil tambang saja. Jalur Tasikmalaya-Singaparna ini sekarang sudah tidak ada lagi.
Ketika masih berstatus kabupaten atau kota administratif, Stasiun Tasikmalaya hanya disinggahi oleh kereta api kelas ekonomi maupun bisnis saja. Kemudian setelah resmi menjadi Kota Tasikmalaya pada 17 Oktober 2001, Kota Tasikmalaya menjadi kota termaju dan berkembang paling pesat di daerah Priangan Timur. Sejak saat itulah, kereta kelas eksekutif pun mulai berhenti untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini. *** [301017]

Foto: Mugi Gumanti


Jumat, 27 Oktober 2017

Klenteng Tjoe Tik Bio Juwana

Juwana merupakan salah satu nama kecamatan yang terdapat di Kabupaten Pati. Letaknya berada di pesisir utara Pulau Jawa. Sebagai daerah pesisir, Juwana memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang. Oleh karena itu, Juwana pun menjadi salah satu kawasan tua yang ada di daerah pantai utara (pantura).
Sebagai kota tua, Juwana banyak memiliki peninggalan-peninggalan berupa bangunan lawas, di antaranya adalah Klenteng Tjoe Tik Bio. Klenteng ini terletak di Jalan Camong No. 1 Desa Kauman, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi klenteng ini berada di sebelah utara perusahaan rokok bernama PT Tapal Kuda Kencana.
Keberadaan klenteng ini tidak terlepas dari keberadaan orang-orang Tionghoa yang bermukim di Juwana. Ketika terjadi Geger Pecinan (juga dikenal sebagai Tragedi Angke, dalam bahasa Belanda Chinezenmoord yang berarti “Pembunuhan orang Tionghoa) di Batavia pada tahun 1740, lebih sepuluh ribu orang Tionghoa perantauan asal Tiongkok, dibantai oleh Verenigde Oostindische Compagnie (VOC), atau yang sering disebut dengan Kompeni Belanda. Mereka dianggap mengancam kongsi dagang Belanda. Pada waktu itu, di Batavia jumlah orang Tionghoa diperkirakan sudah melebihi jumlah serdadu VOC.


Akibat adanya tragedi tersebut, orang-orang Tionghoa yang berhasil lolos dari pembantaian di Batavia melarikan diri ke timur dengan menggunakan perahu, menyusuri sepanjang daerah pesisir menuju Jawa Tengah, Jawa Timur bahan sampai Bali. Sebagian di antaranya ada yang masuk ke alur Kali Silugonggo di Juwana, Pati. Agar lebih amam, para pengungsi masuk ke pedalaman hingga 10 kilometer dari muara hingga sampai di Desa Tluwah.
Di desa itu, orang-orang Tionghoa tersebut kemudian bermukim dan mulai berdagang untuk menyambung hidup paska tragedi di Batavia. Setelah merasa aman dan usaha dagang mereka semakin maju, orang-orang Tionghoa pelarian dari Batavia tersebut mendirikan klenteng Tjong Hok Bio.
Setelah hulu Kali Silugonggo menjadi pelabuhan, maka klenteng perlu dipindahkan di daerah hulu. Lalu dibangunlah klenteng Hok Khing Bio di Demaan 5 kilometer utara klenteng Tjong Hok Bio tapi ternyata lokasinya kurang bagus karena berada di antara kandang babi. Terakhir dibangun klenteng Tjoe Tik Bio di Camong, Juwana. Ketiga-tiganya dibangun antara tahun 1740 sampai dengan tahun 1780.
Dilihat dari lingkungan sekitar, bangunan klenteng Tjoe Tik Bio memiliki kekhasan sebagai bangunan peninggalan seni arstektur tradisional Tiongkok dengan dominasi warna merah. Sebelum memasuki halaman klenteng, pengunjung bisa melalui men lou wu, sebuah pintu gerbang berbentuk paduraksa untuk masuk ke dalam persil. Yang menarik dari pintu gerbang ini, diapit oleh pagar bertembok putih yang di atasnya ditaruh beberapa shi zi, yaitu singa batu atau ukiran singa batu yang biasa ditempatkan di muka klenteng.


Selama penulis mengunjungi sejumlah bangunan klenteng di seluruh Indonesia, baru menemui banyak shi zi hanya di klenteng Tjoe Tik Bio. Hal inilah yang menjadi salah satu kekhasan klenteng di Juwana ini.
Setelah berada di halaman klenteng, pengunjung bisa melihat tempat pembakaran kertas-kertas doa berwarna merah di kiri kanan halaman. Di atas pembakaran ini pun, pengunjung juga akan menemui shi zi di atasnya.
Selain itu, pengunjung juga bisa menyaksikan kompleks bangunan klenteng yang cukup lumayan terawat. Di sebelah kiri dan kanan bangunan utama dijumpai bangunan dengan tembok berbentuk gunungan, dan bagian atas temboknya berbentuk sudut puncak pada atap pelana. Bagian inilah yang dalam istilah arsitektur tradisional Tiongkok dikenal dengan shan qiang.
Sebelum sampai kepada bangunan utama, pengunjung terlebih dahulu melewati bangunan serambi depan. Di serambi itu, juga dijaga oleh shi zi di sebelah kiri dan kanannya, dan di tengahnya terdapat hiolo, bejana terbuat dari kuningan tempat menancapkan hio (dupa khas orang Tionghoa).
Pada serambi klenteng ini terdapat 8 kolom kayu berpenampang bujur sangkar, yang dalam istilah arsitektur tradisional Tiongkok disebut fang zhu, atau yang dalam bahasa Jawa dinamakan soko. Tak kalah menariknya adalah adanya ornamen di atas atap serambi tersebut, seperti huo zhu (mutiara api Sang Buddha) yang dijaga oleh kedua naga sedang berjalan (xing long).
Dari serambi, kemudian pengunjung bisa masuk ke dalam bangunan utama klenteng. Di dalam bangunan utama tersebut terdapat sejumlah altar untuk menempatkan patung dewa yang dipujanya. Di antaranya adalah altar Hok Tek Tjien Sien (Dewa Bumi) dan Kong Tek Tjoen Ong (Dewa Pelindung Orang-orang Perantau). Sedangkan sebagai dewa utamanya di klenteng ini adalah Makco Lam Hay Sien Nie Kwam Im Hoed Tjo, atau yang dikenal juga sebagai dewi yang penuh welas asih. Oleh karena itu, di klenteng Tjoe Tik Bio ini acapkali digelar perayaan ulang tahun Bwato (moksa) Dewi Kwam Iem yang diperingati tiap tanggal 19 bulan kesembilan penanggalan Imlek. *** [070914]

Foto: M. Agus Prijadi

Kepustakaan:
Chris, Heru. (2012, Edisi Oktober). Kelenteng Tertua Tapi Sengsara. Majalah Intan Dalam Debu, pp. 45.
https://kelenteng300.blogspot.co.id/2011/06/tjoe-tik-bio-juana-pati-jateng.html?view=flipcard

Sabtu, 21 Oktober 2017

Kantor Pos Gresik Pelabuhan

Goresan masa lalu Kota Gresik masih bisa dijumpai dari sejumlah bangunan lawas yang ada, di antaranya adalah Kantor Pos Gresik Pelabuhan. Kantor pos ini terletak di Jalan Basuki Rahmat No. 23 Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Lokasi kantor pos ini berada di depan Kantor Kepolisian Resor (Polres) Gresik.
Sebelum menjadi kantor pos, bangunan ini dulunya merupakan gudang yang dibangun oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Kongsi Dagang Hindia Timur. VOC adalah sebuah persekutuan dagang yang dibentuk oleh pengusaha Belanda yang tergabung dalam Heeren XVII pada 1602. Tujuannya menjalankan kegiatan monopoli perdagangan rempah-rempah di Hindia Timur (Nusantara) seperti pala, lada, cengkeh, kayu manis dan lainnya yang memiliki harga tinggi di pasar Eropa kala itu.


VOC mulai mendirikan loji dan gudang di Gresik pada tahun 1603 untuk mendukung dan memperlancar aktivitas perdagangannya yang berada di Pulau Jawa. Loji dan gudang itu bertebaran di dekat pelabuhan hingga ke Jalan Basuki Rahmat.
Pada waktu Kerajaan Belanda jatuh ke tangan Perancis, Napoleon Bonaparte mengangkat Louis sebagai penguasa di negeri Belanda pada 1806. Kemudian Louis Napoleon mengirimkan Herman Willem Daendels ke Hindia Belanda guna mengamankan daerah itu dari serangan Inggris. Daendels dipercaya menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811) karena memiliki gagasan pembaruan yang diperlukan untuk memperbaiki pemerintahan di Hindia Belanda yang telah terpuruk bersamaan dengan bangkrutnya VOC.


Setibanya di pelabuhan kecil dekat Banten pada 1 Januari 1808, Dandels kemudian memutuskan menuju Batavia dan kemudian Buitenzorg (Bogor). Selama masa jabatannya, Dandels melakukan banyak pembangunan di Hindia Belanda, seperti memerintahkan pembangunan jalan Anyer-Panarukan atau biasa disebut dengan Jalan Raya Pos (Grote Postweg). Pembangunan jalan ini bertujuan untuk mendukung mobilitas militer guna menjaga pos-pos pertahanan penting di sepanjang pantai utara Pulau Jawa.
Keberadaan Jalan Raya Pos ini dalam perkembangannya, ternyata tidak hanya memberikan keuntungan di bidang pertahanan militer saja, melainkan juga perkembangan ekonomi yang berada di kawasan tersebut. Hal ini karena terjadi mobilitas ekonomi dari produk hasil bumi yang berada di pedalaman menuju pelabuhan yang terdapat pantai utara Pulau Jawa, di antaranya adalah apa yang dialami oleh Gresik.


Grissee, begitu Pemerintah Hindia Belanda dulu menyebut daerah ini, turut tumbuh menjadi tempat yang begitu penting di era Dandels. Tak hanya aktivitas pelabuhannya yang ramai, namun Dandels juga memanfaatkan Gresik sebagai basis industri senapan. Selain itu, gudang-gudang bekas milik  VOC yang berada di daerah Bedilan (sekarang Jalan Basuki Rahmat) pun juga tak luput dari kebijakan Dandels. Ia mengubah salah satu gudang yang ada, untuk digunakan menjadi kantor pos (postkantoor) yang sekarang dikenal dengan Kantor Pos Gresik Pelabuhan.
Kini, Kantor Pos Gresik Pelabuhan yang pada masa Hindia Belanda bernama Post- en telegraafkantoor te Grissee, masih menyisakan arsitektur kolonial bergaya Indische Empire. Gaya Indische Empire ini memang merupakan rintisan dari Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Selama menjadi Gubernur Jenderal, Daendels memperkenalkan gaya bangunan Indische Empire, suatu gaya arsitektur Empire Style yang telah disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat. *** [240414]

Rabu, 18 Oktober 2017

Gedung DPRD Kab. Gresik

Sewaktu mengunjungi rumah teman di Gresik, saya berkesempatan berkeliling di Kota Gresik. Di sana mudah ditemukan bangunan-bangunan lawas. Hal ini mengingat Gresik merupakan daerah yang berada di pesisir Pulau Jawa yang memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang sebagai pelabuhan yang ramai pada masa itu.
Salah satu bangunan lawas yang sempat dijumpai adalah Gedung DPRD Kabupaten Gresik. Gedung ini terletak di Jalan Wachid Hasyim No. 5 Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di sebelah utara alun-alun atau sebelah barat Telkom Gresik.


yang diceriterakan dalam sejarah, keberadaan gedung DPRD Kabupaten Gresik ini tidak terlepas dari adanya kebijakan-kebijakan yang dterapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, yaitu Herman Willem Daendels, yang menjabat dari 5 Januari 1808 hingga 15 Mei 1811. Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda oleh Raja Perancis Napoleon Bonaparte, karena pada waktu itu Nusantara menjadi daerah koloni Belanda-Perancis setelah bangkrutnya VOC.


Daendels diserahi tugas oleh Napoleon Bonaparte terutama untuk melindungi Pulau Jawa dari serangan armada Inggris, mengingat Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris. “Pertahankan Jawa, berapa pun harganya!” Itu perintah Napoleon Bonaparte kepada Menteri Kelautan dan Wilayah Jajahan Perancis Admiral Decres, Oktober 1810, untuk membantu Dandels. Pada awal abad ke-19 itu, di Samudera Hindia, Perancis hanya punya kekuasaan di Mauritius, Bourbon, dan Jawa. Bahkan, pada masa antara 1808 dan 1811, tinggal Pulau Jawa daerah koloni Perancis yang tersisa di Asia.


Selama tiga tahun berkuasa, Daendels melaksanakan tugasnya dengan segera, dan memerintah dengan tangan besi. Ia mulai membangun rumah sakit militer dan tangsi-tangsi militer baru untuk persiapan melawan Inggris. Yang monumental adalah pembangunan jalan raya pos (De Grote Postweg) yang membentang dari Anyer hingga Panarukan sepanjang 1000 kilometer. Tujuannya agar memudahkan mobilitas pasukannya sewaktu-waktu ada serangan dari Inggris.
Selain itu, Daendels juga memerintahkan membangun sejumlah pabrik senjata. Gresik tak ubahnya Semarang yang berperan sebagai pabrik dan sekaligus gudang meriam. Sementara Daendels memanfaatkan Gresik sebagai pabrik senjata berjenis senapan.
Pada waktu Hindia Belanda jatuh ke tangan tentara Jepang, bangunan pabrik senjata ini direbut dan dijadikan sebagai gudang persenjataan tentara Jepang. Di bangunan inilah, tentara Jepang menghimpun amunisi untuk melawan pasukan sekutu dalam Perang Dunia II.
Kini, bangunan pabrik dan gudang senjata itu masih bisa disaksikan sampai sekarang, namun sudah berubah peruntukkannya, Bangunan kuno bergaya Indische Empire tinggalan Daendels tersebut sekarang menjadi kantor DPRD Kabupaten Gresik. *** [250414]

Kepustakaan:
Indrawan, Angga. (2017). Napak Tilas Jalan Daendels. Jakarta: Buku Republika
Rocher, Jean. (2011). Perang Napoleon Di Jawa 1811: Kekalahan Memalukan Gubernur Jenderal Janssens. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Senin, 09 Oktober 2017

Bekas Kandang Kuda Kepatihan Surakarta

Setelah mengeksplorasi Masjid Al Fatih Kepatihan, peserta rombongan tur wisata sejarah kampung (3/9) kemudian beranjak menuju sebuah bangunan lawas yang dulunya merupakan kandang kuda milik Patih Kraton Surakarta Hadiningrat (Rijkbestuurder van Soerakarta). Bekas kandang kuda (gedhogan) ini terletak di Jalan Kepatihan RT. 06 RW. 01 Kelurahan Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi bekas kandang kuda ini berada di sebelah selatan Masjid Al Fatih, atau tepat berada di belakang Kantor Kelurahan Kepatihan Wetan.


Sesuai tulisan beraksara Jawa yang terdapat di gevel, bangunan bekas kandang kuda itu dibangun pada tahun 1829, yaitu masa bertugasnya patih yang bernama Kanjeng Raden Adipati (KRA) Sasradiningrat II (1812-1846). KRA Sasradiningrat II merupakan Patih Kraton Kasunanan Surakarta yang menjabat dalam masa pemerintahan empat Raja Kraton Kasunanan, yaitu Pakubuwono IV, V, VI, dan VII. Ia adalah putra dari KRA Mangkupraja II, seorang Patih Kraton Kasunanan Surakarta masa bertahtanya Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) IV, yang dimakzulkan dan terus diasingkan ke Ayah hingga akhir hayatnya. Beliau dimakamkan di Desa Pekuncen, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. Sebelum tahun 1933, daerah ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Adireja atau Ayah. Makanya, kemudian beliau (KRA Mangkupraja II) dikenal dengan Syech Seda Ngayah.


Ditilik dari tahun pembangunannya, bangunan bekas kandang kuda ini didirikan semasa KRA Sasradiningrat II mendampingi Sri Susuhunan PB VI (1823-1830), setahun sebelum PB VI diasingkan oleh Belanda ke Ambon, Maluku.
Di lingkungan bekas kandang kuda tersebut, juga masih dijumpai bangunan untuk tempat menyimpan kereta kuda milik sang patih. Bangunan tersebut masih bagus dengan pintu kayu yang lumayan besar berwarna biru. Bangunan ini menyerupai gedong Gitoswandhono yang ada di Kraton Surakarta.


Dilihat dari bentuk arsitekturnya, bangunan bekas kandang kuda ini memiliki corak arsitekur kolonial. Arsitektur kolonial adalah arsitektur Belanda yang dikembangkan di negara jajahannya yang telah disesuaikan dengan lingkungan jajahannya, sehingga terjadi perpaduan antara budaya Barat dan Timur. Di antaranya yang bisa ditengarai dari corak kolonial adalah penggunaan batu bata dan gevel.
Gevel (gable) adalah dinding segitiga yang tersusun dari pasangan konstruksi batu bata dan berfungsi sebagai pendukung penutup atap, atau istilah lainnya gunung-gunung. Sistem gevel ini sebenarnya bukan unsur arsitektur atap Nusantara, melainkan diadaptasi dari arsitektur Belanda. Tetapi saat ini telah menjadi bagian dari arsitektur atap di Indonesia.


Ada dua gevel yang terlihat di lingkungan bekas kandang kuda ini. Yang berada di sebelah barat merupakan pintu gerbang untuk kandang kuda, sedangkan yang berada di bagian timur merupakan bagian dari dinding tempat penyimpanan kereta kuda. Kedua gevel itu memperlihatkan kemegahan bangunan bekas kandang kuda. Namun sayang, bekas bangunan kandang kuda dan garasi kereta kuda milik Patih Kraton Surakarta tersebut terlihat kumuh lantaran ditempati oleh beberapa keluarga. Bekas bangunan tersebut telah dikapling-kapling menjadi hunian beberapa kepala rumah tangga yang mendiami bangunan tersebut.
Bangunan bersejarah yang layak menjadi cagar budaya ini seolah-olah menjadi deretan bangunan hunian. Hal ini dikawatirkan kelestarian dari bangunan tersebut akan terancam. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi perihal arti pentingnya bangunan bekas kandang kuda tersebut dalam perjalanan sejarah di Kota Solo pada umumnya, dan Kelurahan Kepatihan Wetan pada khususnya. Tidak boleh ada pembiaran dalam merawat sebuah bangunan bersejarah ini. *** [030917]

Sabtu, 30 September 2017

SMP Negeri 26 Surakarta

Setelah mengeksplorasi Panti Wibowo di Kepatihan, peserta rombongan Gelar Wisata Kampung Kota bergerak menuju ke bagian terakhir kunjungan dari tur wisata sejarah kampung ini, yaitu SMP Negeri 26 Surakarta. SMP ini terletak di Jalan Joyonegaran No. 2 RT. 01 RW. 03 Kelurahan Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi SMP ini berada di depan Sinar Solo Advertising, atau sebelah barat SMK Negeri 8 Surakarta (dulu dikenal dengan SMKI) ± 300 m.
Keberadaan bangunan SMP Negeri 26 ini tidak terlepas dari munculnya Kepatihan Surakarta di daerah ini. Kepatihan adalah istilah yang menunjuk kepada tempat tinggal atau kantor yang digunakan oleh para patih Kraton Kasunanan Surakarta (Rijksbestuurder van Paleis van Soerakarta). Patih sendiri berarti pejabat yang diangkat oleh Kraton Kasunanan Surakarta untuk menjalankan roda pemerintahan atas titah raja, atau dalam istilah sekarang setara dengan Perdana Menteri.
Sebelumnya, Kepatihan Kraton Kasunanan Surakarta itu berada di Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Lokasinya yang sekarang dikenal dengan Pura Mangkunegaran. Setelah adanya Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757, bangunan Kepatihan yang berada di Keprabon tersebut diminta Raden Mas Said (yang kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro I) untuk dijadikan tempat tinggalnya.


Kemudian Kraton Kasunanan Surakarta memindahkan kantor dan tempat tinggal patihnya ke sebuah tempat yang berada di perbatasan dengan wilayah Kota Mangkunegaran dan pinggiran wilayah Nagari Surakarta. Wilayah itu sekarang dinamakan daerah Kepatihan. Pembangunan kompleks Kepatihan yang baru ini dimulai oleh Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Mangkupraja I yang kemudian diteruskan oleh penggantinya, yaitu Patih Kanjeng Raden Adipati Sasradiningrat I pada tahun 1769 dengan membangun Dalem Kepatihan.
Konon, kompleks Kepatihan yang baru itu tidak kalah megahnya dengan Pura Mangkunegaran. Ada pendopo Kepatihan, pamedan, masjid, kandang kuda beserta kereta milik patih, dan tembok tinggi Kepatihan. Kemudian para patih yang menjabat di Kepatihan tersebut, ada yang berusaha membangun rumah atau dalem yang berada di kompleks Kepatihan tersebut. Setidaknya masih ada dua bangunan rumah milik sang patih yang tersisa setelah adanya bumi hangus yang dilakukan oleh Gerakan Anti Swapraja, yaitu Dalem Patih Kanjeng Raden Adipati Darmonagoro, dan Dalem Kanjeng Pangeran Arya Adipati Jayanegara. Dalem Patih Darmonegoro berada di belakang SMK Negeri 8 Surakarta, dan Dalem Patih Jayanegara berada di sebelah barat SMK Negeri 8 Surakarta.
Dalem Patih Jayanegara inilah yang sekarang menjadi SMP Negeri 26 Surakarta. Patih Jayanegara merupakan seorang patih Kraton Kasunanan Surakarta yang menjabat dari tahun 1916 sampai dengan tahun 1939. Ia menggantikan Patih Sasradiningrat IV yang memasuki pensiun pada tahun 1916.


Ketika pertama kali diangkat menjadi patih oleh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdulrahman Sayiddin Panotogomo Ingkang kaping Sedasa, atau akrab dengan sebutan Pakubuwono (PB) X, Patih Jayanegara bergelar resmi Kanjeng Raden Adipati Jayanegara. Kemudian setelah 15 tahun bertugas, Sri Susuhunan Pakubuwono X memberikan gelar pangeran kepadanya. Setelah mendapatkan gelar pangeran, Patih Jayanegara kemudian menyandang gelar baru menjadi Kanjeng Pangeran Arya Adipati Jayanegara. Untuk memberi gelar pangeran kepada patih tersebut, Sri Susuhunan Pakubuwono X harus mendapatkan persetujuan dari pihak Belanda yang berkuasa saat itu, yaitu Gubernur Surakarta J.J. van Helsdingen.
Pemberian gelar kepada Pepatih Dalem dilakukan di Sasana Sumewa yang berada di Pagelaran Kraton Kasunanan Surakarta, yang disaksikan oleh semua punggawa dan abdi dalem yang hadir. Setelah menerima gelar pangeran, Pepatih Dalem Kanjeng Pangeran Arya Adipati Jayanegara melakukan sungkem kepada Sri Susuhunan Pakubuwono X dan berjabat tangan dengan Gubernur Surakarta J.J. van Helsdingen. Usai prosesi pemberian gelar, dilakukan jamuan minum. Pemberian gelar pangeran kepada Patih Dalem Pakubuwono X ini terjadi pada hari Senin, 30 Maret 1931 atau bertepatan dengan tanggal 10 bulan Dulkangidah Jimawal 1861.


Pada tahun 1950-an, Dalem Patih Jayanegara ini dibeli dan dijadikan kompleks sekolah Tionghoa yang bernama Tjong Tjen Tjong Siauw Siak. Bangunan Dalem Patih Jayanegara digunakan untuk kegiatan proses belajar mengajar sekolah Tionghoa tersebut dari tingkat SD sampai dengan SMA kala itu.
Setelah peristiwa G30S 1965, semua sekolah Tionghoa di Solo ditiadakan termasuk salah satunya sekolah Tjong Tjen Tjong Siauw Siak. Bangunan sekolah seluas  ± 8000 m² itu kemudian diambil alih oleh tentara. Setelah situasi dan kondisi menjadi normal kembali paska meletus G30S, bangunan bekas sekolah Tionghoa tersebut diserahkan kepada caretaker/pejabat Kepala STM Persiapan Negeri 2 Surakarta, atau dikenal dengan STM Negeri Purwonegaran dari Komando Distrik Militer (Kodim) Surakarta, agar dapat digunakan untuk kegiatan proses belajar mengajar bagi STM Negeri Purwonegaran yang belum memiliki gedung sekolah. Pada waktu itu, STM Persiapan Negeri 2 Surakarta masih menumpang di ST Negeri I dan II yang berada di Purwonegaran (sekarang menjadi SMP Negeri 15 Surakarta). Kegiatan proses belajar mengajar di Kampung Joyonegaran ini berlangsung hingga menjelang Ujian Negara. Pelaksanaan Ujian Negara bagi siswa-siswa STM Persiapan Negeri 2 dilaksanakan di gedung ST Negeri 2 yang berada di Jalan Adi Sucipto, sedangkan siswa-siswa ST Negeri 2 dipindahkan ke ST lainnya yang ada di Kota Solo sesuai jurusannya masing-masing. Setelah itu gedung bekas ST Negeri 2 tersebut menjadi gedung STM Negeri 2 Surakarta (sekarang menjadi SMK Negeri 5 Surakarta).


Setelah ditinggalkan oleh STM Negeri Purwonegaran, bangunan bekas gedung sekolah Tjong Tjen Tjong Siauw Siak dikembalikan ke Kodim Surakarta. Lalu, Kodim Surakarta menyerahkan bangunan gedung tersebut kepada Kepala ST Negeri 6 dan 7 untuk kegiatan proses belajar mengajar. Semula ST Negeri 6 dan 7 berlokasi di Beton, Kampung Sewu, sehingga dulu dikenal dengan ST Beton. Karena sekolahannya mengalami kerusakan akibat banjir bandang yang melanda Kota Solo pada 16 Maret 1966, proses belajar mengajar di Beton sudah tidak memungkinkan lagi.  Akhirnya dipindahkan ke Joyonegaran.
Seiring perjalanannya dalam proses belajar mengajar di Joyonegaran, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0259/O/1994 tentang Alih Fungsi Sekolah Teknik Negeri dan Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama Negeri menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri. Dari Keputusan Mendikbud ini, ST Negeri 6 dan 7 kemudian berubah atau beralih fungsi menjadi SMP Negeri 26 Surakarta.


SMP Negeri 26 Surakarta memiliki 24 ruang kelas, masing-masing 8 kelas untuk kelas 7, 8, dan 9. Selain itu, terdapat sejumlah ruangan selain ruang kelas seperti ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, ruang ibadah, koperasi, perpustakaan, laboratorium IPA, UKS, aula, ruang penjaga, ruang komputer, kamar mandi, dan gudang.
Pada waktu peserta rombongan tur wisata sejarah kampung berkunjung ke SMP Negeri 26 Surakarta, kepala sekolah dan salah seorang petugas yang berkarya di sekolah tersebut mendampingi rombongan berkeliling di kompleks sekolah tersebut. Di dalam lingkungan SMP Negeri 26 Surakarta, ternyata masih dijumpai Dalem Patih Jayanegara, seperti pendopo, pringgitan, dan kamar para selirnya yang berjumlah 6 orang. Meski telah berubah menjadi SMP Negeri 26 Surakarta, bentuk bangunan sebelumnya masih tampak asli. Hanya sedikit mengalami renovasi dalam hal bentuk, seperti di sekeliling pendopo dibatasi tembok. Suasana pendopo akan dirasakan bila kita masuk ke dalamnya, sedangkan bila dilihat dari luar kesan pendopo yang bercorak joglo sudah tidak kelihatan. Penambahan ruang kelas pun hanya dibangun di sela-sela lahan yang masih kosong, sehingga Dalem Patih Jayanegara sebenarnya masih bisa disaksikan kemegahannya sebagai rumah seorang Patih Kraton Kasunanan Surakarta. *** [030917]