Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Kamis, 08 Desember 2016

Pesarean Gunung Kawi

Saya mendengar kisah Gunung Kawi semenjak masih di bangku SD. Kisahnya berkisar masalah pesugihan. Kata-kata yang masih mengiang di telinga saya adalah kalau ingin sugih (kaya) ya ke Gunung Kawi saja. Kata-kata ini lama mengendap di dalam pikiran saya, hingga akhirnya bisa kesampaian mengunjungi Gunung Kawi. Bermula dari diajak oleh Tim SMART Health Kepanjen untuk plesiran ke Gunung Kawi, saya berkesempatan bertandang ke Gunung Kawi.
Pikiran saya yang semula membayangkan keindahan pemandangan pegunungan yang berhawa sejuk, segar dan asri tersebut, ternyata hilang di balik rerimbunan pepohonan yang besar dan berusia tua. Kisah Gunung Kawi yang begitu melegenda tersebut, ternyata berasal dari makam yang ada di dalam pendopo di lereng gunung tersebut. Makam tersebut dikenal sebagai Pesarean Gunung Kawi.
Pesarean ini terletak di Dusun Wonosari No. 46 RT. 09 RW. 05 Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pasarean ini berada di sebelah utara Pasar Desa Wonosari.
Kata pesarean diambil dari bahasa Jawa yang artinya kuburan. Jadi, Pesarean Gunung Kawi maksudnya adalah kuburan atau makam yang berada di lereng Gunung Kawi. Namun demikian, tidak semua makam yang berada di lereng Gunung Kawi termasuk ke dalam pengertian Pesarean Gunung Kawi ini.
Yang dimaksud Pesarean Gunung Kawi sesungguhnya mengacu kepada makam Kyai Zakaria II (Mbah Joego) dan Raden Mas Iman Soedjono. Kyai Zakaria II di kalangan Tionghoa disebut sebagai Taw Low She, yang artinya Guru Besar Pertama. Sedangkan, RM Iman Soedjono di kalangan Tionghoa lazim disebut sebagai Djie Low She, yang artinya Guru Besar Kedua.


Menurut R. Soelardi Soeryowidagdo dalam bukunya, Pesarean Gunung Kawi: Tata Cara Ziarah dan Riwayat Makam Eyang Panembahan Djoego, Eyang Raden Mas Iman Soedjono di Gunung Kawi (1989:8) dijelaskan bahwa, berdasarkan Surat Keterangan yang dikeluarkan oleh Pengageng Kantor Tepas Darah Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Nomor 55/TD/1964 yang ditandatangani oleh Kanjeng Tumenggung Danoehadiningrat pada tanggal 23 Juni 1964, diterangkan silsilah Kyai Zakaria II.
Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I, yang memerintah Kraton Mataram dari tahun 1705 hingga 1719, memiliki putra bernama Bandoro Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro. Pangeran ini mempunyai putra bernama Kanjeng Kyai Zakaria I. Beliau adalah seorang ulama besar di lingkungan Kraton Mataram di Kartasura ketika itu. Kemudian, Kyai Zakaria I berputra Raden Mas Soeryokoesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo.
Semasa mudanya, Raden Mas Soeryokoesoemo menunjukkan minat yang besar untuk mempelajari agama Islam. Setelah dewasa, Raden Mas Soeryokoesoemo terlihat kemampuannya yang mumpuni dan ketekunannya dalam mempelajari hal-hal keagamaan. Atas dasar itu, Sri Susuhunan Paku Buwana V berkenan mengubah nama Raden Mas Soeryokoesoemo sesuai Peparing Dalem Asmo (Pemberian Nama oleh Sri Susuhunan) menjadi Kanjeng Kyai Zakaria II.
Dalam perjalanan hidupnya, Kanjeng Kyai Zakaria II menaruh minat terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro. Minat inilah yang kemudian menghantarkan beliau untuk bergabung dalam perjuangannya. Karena kecakapannya, Kanjeng Kyai Zakaria II masuk dalam bhayangkara atau prajurit kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam perang besarnya melawan Kompeni Belanda, atau yang terkenal dengan Perang Jawa (20 Juli 1825 – 30 Maret 1830).
Pada saat Pangeran Diponegoro terjepit dalam perundingan dengan Kompeni Belanda di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock di Magelang pada tanggal 28 Maret 1830, beliau menyadari akan ditangkap. Sebagai seorang pimpinan perjuangan yang bertanggung jawab maka sebagai upaya final, beliau mengajukan tuntutan akhir, yaitu beliau bersama keluarga terdekat bersedia ditangkap, asalkan bhayangkara dan seluruh lascar bersama keluarganya dibebaskan, dan diberi kesempatan pulang ke daerah asalnya masing-masing. Bila tuntuntan itu tidak dipenuhi, dengan keterbatasan personil dan senjata, Pangeran Diponegoro bertekad akan berperang habis-habisan.


Menyadari bahwa charisma Pangeran Diponegoro di daerah pedalaman Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat sangat besar, dengan berbagai pertimbangan akhirnya Kompeni Belanda memenuhi tuntutan tersebut. Setelah kalah dalam perundingan yang licik dan tidak terhormat itu, selanjutnya oleh Belanda Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang dan kemudian dibawa ke Batavia. Selanjutnya beliau diasingkan ke Manado dan terakhir dipindahkan ke Makasar. Akhirnya beliau wafat di dalam benteng Rotterdam di Makasar pada tanggal 8 Januari 1855. Peristiwa ini diabadikan oleh seorang pelukis Belanda bernama Nicolaas Pieneman dalam lukisannya yang diberi judul De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal baron De Kock (Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal De Kock. Lukisan minyak di atas kanvas berukuran 77 cm x 100 cm tersebut sekarang disimpan di Rijksmuseum, Belanda.
Setelah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang, Kyai Zakaria II menyingkir untuk menghindari dari penangkapan Kompeni Belanda terhadap dirinya. Beliau menyelamatkan diri ke daerah Sleman, terus ke Nganjuk, Bojonegoro, dan kemudian ke Blitar. Pada waktu di Blitar, beliau merasa sudah jauh dari kejaran Kompeni Belanda, namun ternyata masih berdekatan dengan Kadipaten di bawah kekuasaan Belanda. Lalu, beliau menjauhkan diri lagi menuju ke Kesamben, sekitar 35 kilometer dari Kota Blitar. Kyai Zakaria II menetap di pinggiran Sungai Brantas di Dusun Sanan, Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Di desa ini, beliau bertemu dengan Ki Tasiman. Ketika ditanya asal-usulnya, ia merasa waspada jangan-jangan kehadirannya diketahui oleh Kompeni Belanda. Akhirnya, beliau memperkenalkan diri dengan menyembunyikan jati dirinya kepada Ki Tasiman. “Kulo niki sajoego”, katanya. “Kulo niki sajoego” merupakan kata-kata yang berasal dari bahasa Jawa, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “saya sendirian”. Menurut penangkapan telinga Ki Tasiman yang salah pengertian dikira namanya Sajoego, yang kemudian dipanggilnya dengan Pak Joego. Hal ini dibiarkan oleh Kyai Zakaria II, sehingga beliau aman dari kejaran Kompeni Belanda, dan sejak itulah beliau dikenal juga dengan nama Mbah Joego.
Mbah Joego kemudian menghabiskan sisa hidupnya di sana dengan berdakwah agama Islam. Mbah Joego meninggal dunia di padepokannya di Dusun Sanan, Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, pada Minggu Legi malam Senin Pahing pada pukul 01.30 tanggal 1 bulan Selo (Dzulhijjah) tahun 1799 Dal, atau bertepatan dengan tanggal 22 Januari 1871. Sesudah meninggal, beliau dimakamkan di Gunung Kawi sesuai dengan wasiat beliau ketika masih hidup.
Sedangkan Raden Mas Iman Soedjono adalah keturunan dari Kanjeng Raden Tumenggung Notodipo dan Raden Ayu Tumenggung Notodipo, atau cicit dari Sri Sultan Hamengku Buwana I. Raden Mas Iman Soedjono menikah dengan anggota Laskar Langen Koesoemo yang bernama Raden Ayu Saminah, atau biasa dipanggil dengan Nyi Djuwul. Laskar Langen Koesoemo merupakan laskar prajurit wanita dalam kelaskaran Diponegoro.
Sama halnya dengan Mbah Joego, Raden Mas Iman Soedjono juga merupakan bhayangkara atau prajurit terpercaya Pangeran Diponegoro dalam mengobarkan perang besar melawan Kompeni Belanda di Jawa Tengah. Ketika Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Kompeni Belanda, Raden Mas Iman Soedjono dan Kyai Zakaria II mengembara ke berbagai daerah terpencil. Kyai Zakaria II berganti nama menjadi Mbah Joego, sedangkan Raden Mas Iman Soedjono tetap menggunakan namanya namun gelar kebangsawanannya ditinggalkannya.


Semenjak Mbah Joego yang menjadi sesepuhnya meninggal, Raden Mas Iman Soedjono memutuskan untuk menetap di Dusun Wonosari. Dalam kehidupan sehari-hari, ia mengolah lahan untuk bercocok tanam padi gogo serta tanaman lainnya, seperti jagung, singkong, pisang, ubi jalar, kacang, kopi dan teh. Selain itu, beliau juga menyempatkan diri merawat dengan tekun pusara Mbah Joego.
Di samping itu, Raden Mas Iman Soedjono juga senantiasa berdakwah kepada para pengikutnya maupun para tamu yang datang ke rumahnya sekaligus berziarah ke makam Mbah Joego. Petunjuk dan pengarahan yang sering diberikan kepada tamunya adalah dakwah yang bernafaskan Islam. Penyampaiannya diwujudkan dengan pemberian benda berupa bungkusan kecil yang dinamakan “Saren Sinandi”. Materi Saren Sinandi tersebut berisi sejimpit beras, karag atau nasi kering, dan sekeping uang logam.
Sinandi berarti kiasan. Jadi, kalau pengunjung ingin mendapat petunjuk yang baik dari Raden Mas Iman Soedjono sebagai sesepuh penerus almarhum Mbah Joego, pengunjung harus bisa menguraikan arti kiasan barang yang diberikan oleh beliau berupa “Saren Sinandi” tadi. Barang inilah yang setiap tanggal 12 Suro atau 12 Muharram (1805), yaitu pada puncak acara peringatan hari wafatnya Raden Mas Iman Soedjono (bertepatan dengan 8 Februari 1876) selalu didambakan oleh segenap pengunjung Pasarean Gunung Kawi. Saren itu oleh kalangan orang Tionghoa disebut dengan ang pauw.
Pada waktu saya berkunjung ke Pasarean Gunung Kawi menjelang khaul Raden Mas Iman Soedjono, terlihat banyak orang Tionghoa yang juga berkunjung ke Pasarean tersebut. Konon, keikutsertaan warga Tionghoa ke dalam lingkungan perziarahan di Pasarean Gunung Kawi bermula dari seseorang yang bernama Tan Kie Lam. Pada waktu itu, Tan Kie Lam sempat diobati dan disembuhkan oleh Mbah Soedjo (sebutan untuk Raden Mas Soedjono) berkat air dari guci peninggalan Mbah Joego yang ada di kompleks makam. Setelah sembuh, Tan Kie Lam pun akhirnya tinggal dan berguru di Padepokan Gunung Kawi. Sebagai seorang Tionghoa, ia mungkin merasa kurang nyaman dengan mengikuti ritual cara ritual masyarakat Jawa. Akhirnya, Tan Kie Lam mendirikan sebuah kelenteng kecil sendiri untuk bersembahyang dan sekaligus untuk menghormati kedua almarhum gurunya.
Pada tahun 1931 datang lagi seorang Tionghoa yang bernama Ta Kie Yam (Pek Yam) untuk berziarah di Gunung Kawi. Pek Yam merasa tenang hidup di Gunung Kawi dan akhirnya dia menetap di Dusun Wonosari untuk ikut mengabdi kepada Mbah Joego dan Mbah Soejo dengan cara membangun jalan dari pesarean sampai ke bawah dekat stanplat. Pek Yam pada waktu itu dibantu oleh beberapa orang temannya dari Surabaya dan juga ada seorang dari Singapura. Setelah jalan itu jadi, kemudian dilengkapi dengan gapura (bentuknya berbeda dengan gapura sekarang, telah dipugar), mulai dari stanplat sampai dengan pesarean (Prastio Wardoyo, 2009).
Tetapi kepopuleran Pesarean Gunung Kawi di kalangan orang Tionghoa konon dimulai dari kesuksesan Ong Hok Liong, yang mendirikan pabrik Rokok Bentoel setelah dia datang dan berguru di Padepokan Gunung Kawi.
Menurut Mariani Samsi (Rusdi, dkk., 2009), putri sulung Ong Hok Liong, kedua orangtuanya dulu menganut kepercayaan Gunung Kawi. Hal ini bermula dari sewaktu merintis pabrik rokoknya, hidup Ong Hok Liong tidaklah mudah. Produk awal merek “Burung”, “Kendang”, “Klabang” dan “Jeruk Manis” kurang laku. Apa lagi, sekitar tahun 1935, ekonomi dunia dilanda krisis zaman Malaise. Orang mulai sering ke Gunung Kawi, termasuk salah satunya adalah Ong Hok Liong, untuk bersemedi, mencari jalan keluar lewat petunjuk supranatural.
Ketertarikannya dengan Gunung Kawi terus berlanjut. Bagi pasangan suami istri Ong, Gunung Kawi menjadi tempat mengadu jika menghadapi kesulitan. Maka ketika tahun 1935, rokok “Jeruk Manis” milik Ong Hok Liong tidak bisa berkembang, ia naik ke Gunung Kawi untuk berziarah ke makam keramat Mbah Joego. Sepulang dari Gunung Kawi itulah, Ong Hok Liong mulai menggunakan merek “Bentoel”, yang sampai lebih 60 tahun kemudian bahkan sampai sekarang masih mampu bertahan sebagai salah satu dari lima besar industri rokok di Indonesia.
Kata Mariani Samsi, nama “Bentoel” diperoleh Ong Hok Liong lewat acara semedi yang panjang. Seingatnya, ketika Ong Hok Liong bersemedi, ia melihat banyak penjual bentoel (Jawa: ubi talas) berbondong-bondong lewat. Menurut penjaga makam keramat tersebut, itu berarti bentoel adalah ilham yang diperoleh lewat semedi, dan Ong Hok Liong dianjurkan menggunakan merek “Bentoel”. “Papa percaya dan langsung membuat rokok merek cap “Bentoel”, kenang Mariani Samsi.
Keberhasilan nama Bentoel membuat PT Bentoel memelihara tradisi berkunjung ke Gunung Kawi. Setiap tahun, pada tanggal 1 Suro. Perusahaan menyelenggarakan selamatan di Gunung Kawi, menggelar wayang kulit selama dua hari dua malam, lengkap dengan suguhan daging sapid an kambing. Untuk menokong acara selamatan Gunung Kawi, disediakan dana khusus. Semua karyawan Bentoel diajak merayakan selamatan itu.
Kabar kesuksesan Ong Hok Liong setelah berziarah ke Pesarean Gunung Kawi dengan cepat menyebar luas ke kalangan masyarakat. Selanjutnya, banyak warga yang ramai berkunjung dan berziarah di Pesarean Gunung Kawi pula. Selain itu, setiap warga yang telah merasa semakin sukses semenjak kunjungannya ke Pesarean Gunung Kawi sudah barang tentu mereka akan mengajak saudara, teman, atau relasinya.
Dari sinilah mengapa kemudian tradisi ziarah ke Pesarean Gunung Kawi semakin semarak. Dulu merupakan pesarean yang sepi, sejak tahun 1980-an Pesarean Gunung Kawi berkembang menjadi daerah tujuan wisata ziarah yang diminati oleh kalangan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari ceritera kesuksesan dari beberapa peziarah yang kemudian dimitoskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Sehingga mitos pesugihan, konon mendapatkan legitimasinya di Pesarean Gunung Kawi. *** [111016]

Kepustakaan:
Rusdi, Drs., M.Hum., dkk., 2009. Sejarah Perusahaan Rokok di Kota Malang, Malang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan P2M IKIP Budi Utomo
Soeryowidagdo, R.S., 1989. Pesarean Gunung Kawi: Tata Cara Ziarah dan Riwayat Makam Eyang Panembahan Djoego, Eyang Raden Mas Iman Soedjono di Gunung Kawi, Malang: Yayasan Ngesti Gondo
Wardoyo, Prasto, Anang, & K. Anam, 2009, Gunung Kawi Fakta & Mitos: Pesugihan atau wisata religi multicultural?, Surabaya: Lingua Kata
https://id.wikipedia.org/wiki/Penyerahan_Pangeran_Diponegoro_kepada_Jenderal_De_Kock

Stasiun Kereta Api Garum

Stasiun Kereta Api Garum (GRM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Garum, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 244 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3 atau stasiun kecil yang ada di Kabupaten Blitar. Stasiun ini terletak di Desa Tawangsari, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di belakang Pasar Garum.
Bangunan Stasiun Garum ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang sepanjang 74 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, yang dimulai pada tahun 1896, dan selesai pada tahun 1897.


Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan dua arah. Setelah jalur rel Kediri-Tulungagung-Blitar selesai pada 1884, maka dilanjutkan pembangunan jalur rel Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896.
Pembukaan jalur kereta api Blitar-Wlingi ini juga merupakan hasil dari desakan yang telah disampaikan oleh para pengusaha yang tergabung dalam Blitarsche Landbouwvereeniging pada 10 Oktober 1889. Dengan demikian sejak itu pengangkutan produk perkebunan dengan kereta api dari Blitar ke Surabaya dapat juga melalui Kepanjen dan Malang. Pada 1900 hampir semua kota-kota di Jawa Timur sudah dihubungkan dengan baik oleh jalur kereta api dan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas Belanda di Blitar. Dengan tersedianya jaringan kereta api tersebut, wilayah Blitar dapat memiliki akses menuju pelabuhan atau pusat layanan ekspor.
Perlu diketahui bahwa wilayah Blitar pada waktu itu dikembangkan menjadi pusat industri perkebunan, yang berada di lereng Gunung Kelud, dan lembah Sungai Brantas. Pada awalnya terdapat ratusan perkebunan yang berhasil dikembangkan oleh orang-orang Eropa tetapi pada 1939 tercatat 45 perusahaan perkebunan dengan tanaman budidaya kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong, dan kelapa.
Stasiun Garum memiliki 3 jalur. Jalur 2 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat (Stasiun Blitar) maupun ke arah timur (Stasiun Talun). Jalur 1 dan 3 digunakan untuk jalur langsiran kereta api di kala intensitas kereta api lumayan padat, atau pas ada simpangan kereta api di jalur tersebut.
Dari tiga jalur tersebut, terdapat 3 peron. Satu peron sisi yang rendah dan 2 peron pulau yang cukup tinggi. Pada semua peron ini tidak dinaungi atap seng seperti kebanyakan pada stasiun yang berada di kecamatan.
Namun demikian, stasiun ini masih tergolong beruntung karena masih disinggahi KA Penataran, sehingga setiap harinya masih tampak adanya aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. *** [100916]

Rabu, 07 Desember 2016

SGPC Bu Wiryo 1959 Yogyakarta

Pagi itu diiringi udara segar, kami berangkat dari Wonosalam Kreco menuju Kampus UGM dengan menggunakan mobil sedan Hyundai. Karena masih jauh dari jam undangan lokakarya How to Communicate Science? Using Blood-Based Biomarkers in Health Research di Gedung Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran UGM, laju mobil yang saya sopiri berjalan dengan santai sambil menikmati suasana jalan.
Sebetulnya saya kurang menguasai jalan tersebut, tapi karena yang saya sopiri adalah seorang post doctoral luar negeri yang kebetulan S1 nya dari UGM maka perjalanan tersebut menjadi mudah. Maklum tujuan dari lokasi yang ada di undangan merupakan wilayah semasa kuliahnya. Sebelum memasuki Kampus UGM, saya diajak sarapan di sebuah warung makan Jogja Tempo Doeloe yang bernama SGPC Bu Wiryo. Warung tersebut terletak di Jalan Agro CT VIII A-10 Klebengan, Kelurahan Depok, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi warung ini tepat berada di seberang Fakultas Kedokteran Hewan UGM.


Sambil pesan makanan, saya pun berusaha menanyakan mengenai perjalanan warung ini. Warung ini dirintis oleh Bu Wiryo dengan berjualan nasi di halaman Fakultas Teknologi Pertanian UGM pada tahun 1959. Menu yang digandrungi para mahasiswa kala itu adalah nasi pecel, atau yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan sego pecel. Dari kata sego pecel inilah kemudian disingkat menjadi SGPC. Menu lainnya yang tersaji di warung ini selain nasi pecel adalah sop dengan lauk tahu, tempe, dan telur ceplok. Ada kesan beda dengan pecel-pecel lainnya. Umumnya bumbu pecel hanya disajikan dengan rasa pedas. Namun kita akan merasakan perpaduan antara pedas dan manis pada bumbu kacang di SGPC Bu Wiryo ini. Sayur sop SGPC lebih khas dengan tambahan berupa soun.
Kemudian pada tahun 1994, warung Bu Wiryo pun pindah di tempat yang sekarang. Lokasinya yang relative permanen ini, akhirnya berkembang terus. Tak hanya para mahasiswa tapi khalayak pun juga mulai menyantap menu makanan yang ada di warung tersebut. Mulai buka dari jam 06.00 sampai pukul 21.30, pengunjung akan dihibur oleh Pecel 59 SGPC Accoustic Band Plus.
Menu disediakan sesuai selera. Beberapa diantaranya, seperti SDSB (sop daging sayur bayem), sop tanpa kawat (sop tanpa soun), sop bubrah (sop yang diberi bumbu kacang pecel), sop tanpa truk (sop tanpa kol atau kubis), sop pegatan (sop dan nasi dipisah), pecel kramas (pecel diberi kuah sop), pecel pancasila (pecel dengan telur puyuh 5 butir), pecel diuwel-uwel (pecel dibungkus), dan yang agak baru SBY (sop bayem). Selain itu, pengunjung juga bisa mencicipi soto maupun garangasem.
Untuk minuman, julukan semacam itu juga berlaku. Sebut saja teh mrengut (teh kental), tirto seto (air putih), teh kemul (teh hangat), dan sengkuni (teh dicampur jeruk). *** [231116]

Daftar Bangunan Kuno di Batu

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Batu:

Candi ini terletak di Jalan Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur

Gedung ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 59, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur

Taman rekreasi ini terletak di Jalan Raya Selecta No. 1 Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur

Selasa, 06 Desember 2016

Sejarah Singkat Desa Sidorahayu

Desa Sidorahayu merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran sedang, yaitu antara 450 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan data BPS Kabupaten Malang tahun 2010, curah hujan rata-rata mencapai 217 mm.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Sidorahayu tahun 2015, jumlah penduduknya adalah 8.802 orang dengan jumlah 2.605 KK dengan luas wilayah 441,678 hektar. Desa Sidorahayu terdiri atas lima dusun, yaitu Dusun Tulusayu, Dusun Niwen, Dusun Bunder, Dusun Losari, dan Dusun Bunton. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian dalam sektor pertanian yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, di samping ada juga yang menjadi buruh pabrik rokok mengingat di daerah Kecamatan Wagir dan sekitarnya banyak berdiri perusahaan rokok.
Secara administratif, Desa Sidorahayu dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Kelurahan Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Jarak tempuh Desa Sidorahayu ke ibu kota Kecamatan Wagir yaitu sekitar 1 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Malang adalah sekitar 7 kilometer.
Dalam Profil Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang Tahun 2015, diceriterakan bahwa desa ini awalnya dikenal dengan Desa Banjar Rejo dengan lurahnya yang bernama Ki Demang Harum. Ki Demang Harum dikenal sebagai Kepala Desa yang baik budi lagi dermawan.
Kebaikan Ki Demang Harum tersebut cukup memiliki kharisma dan berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya, sehingga sampai sekarang setiap bulan Syawal makamnya selalu ramai dikunjungi orang dalam acara bersih dusun mengingat jasa beliau sebagai seorang yang bedah krawang desa atau babat alas. Makam beliau berada di Dusun Niwen (krajan).
Menurut Suwardono, dosen Sejarah IKIP Budi Utomo Malang, Niwen dulunya merupakan desa kuno yang bernama Peniwen yang tercatat dalam prasasti Pamotoh yang dikeluarkan semasa Kerajaan Kediri. Prasasti ini diresmikan pada tanggal 6 bulan Posha (Desember-Januari) tahun 1120 Çaka atau bertepatan dengan tahun 1198 Masehi.
Sebagai desa induk Peniwen justru namanya diganti nama baru seperti Bakalan Krajan dan Sidorahayu, sedangkan Peniwen atau toponimi dari Niwen malah sekarang menjadi nama dusun bagian dari Desa Sidorahayu. Penggantian nama menjadi Desa Sidorahayu sendiri terjadi pada tahun 1928. Nama Sidorahayu disematkan menjadi nama desa dengan harapan semua masyarakat menjadikan desa ini menjadi desa yang rahayu atau selamat serta bagus. Adapun yang menjadi kepala desa yang pertama adalah Djojoarjo (1928-1947).  *** [211116]

Kepustakaan:
Peraturan Desa Sidorahayu Nomor 8 tentang RPJM-Des Tahun 2013-2018
http://malang-post.com/index.php?option=com_content&view=article&id=65593/peneliti-temukan-artefak-desa-kuno&catid=46:tribunngalam&Itemid=71

Rabu, 30 November 2016

Taman Rekreasi Selecta Batu

Berkah dari liburan Tim SMART Health Kepanjen, saya pun berkesempatan mengunjungi Selecta. Pasalnya, saya diajak rombongan mereka untuk berlibur di Selecta guna menghilangkan kepenatan yang ada usai mewawancarai responden. Bahasa Jawanya ngadem, atau mendinginkan tubuh dan pikiran di Selecta yang terkenal berhawa sejuk. Sehingga kesampaian sudah, saya berkunjung ke Taman Rekreasi Selecta sejak mendengarnya tatkala masih di bangku SD.
Taman rekreasi ini terletak di Jalan Raya Selecta No. 1 Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini berada di sebelah barat laut Kantor Kepala Desa Tulungrejo, atau sekitar 1,2 kilometer dari Informasi Wisata Desa.
Selecta sebagai cikal bakal pariwisata Kota Batu, yang menggabungkan unsur keindahan alam dan kesejukan hawa pegunungan merupakan tempat pilihan terbaik untuk rekreasi. Taman rekreasi ini dikelilingi oleh Gunung Arjuno, Welirang dan Anjasmoro, yang memiliki ketinggian 1.150 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara berkisar antara 15 C - 25C.



Menurut sejarahnya, Selecta ini didirikan oleh Franciscus de Ruijter de Wildt pada tahun 1928. Ruijter de Wildt adalah seorang Belanda kelahiran Banyumas pada 24 Februari 1891. Ia adalah putra Jacobus Franciscus de Ruijter de Wildt, seorang administrator Pabrik Gula Klampok di Banyumas (administrateur van de suikerfabriek Klampok te Banjoemas).
Awalnya, infrastruktur yang dibangun di dalam taman rekreasi tersebut adalah kolam renang. Peletakan batu fondasi dilakukan oleh Nyonya De Ruijter de Wildt. Saat peletakan batu inilah, Nyonya De Ruijter de Wildt sempat berujar agar supaya kolam renang tersebut kelak menjadi lokasi pilihan (selecte) yang indah. Dari ujaran ini kemudian menjadi Selecta.
Kemudian pada tahun 1934 ditambah dengan tujuh bangunan berupa bungalow, dan pada tahun 1937 diperluas menjadi hotel dengan sebuah paviliun. Pengerjaannya dipercayakan kepada Biro Arsitektur M.J. Lang & Co, yang berkantor di Tjelaket 66 Malang.



Setelah mengalami kerusakan pada era Revolusi, pada 19 Januari 1950 taman rekreasi ini mulai dibangun kembali oleh 47 tokoh masyarakat yang kemudian dikenal sebagai pendiri pembangunan PT Selecta. Nama-nama tersebut bisa dibaca oleh pengunjung ketika memasuki pintu utama taman rekreasi ini, yang disematkan dalam bentuk prasasti yang terbuat dari batu marmer.
Pada 1 Maret 1955, Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah berkunjung ke Selecta ini dengan meninggalkan kenangan berupa secarik tulisan yang berharap Selecta tetap maju. Begitu pula halnya dengan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, pernah mengunjungi Selecta pada 14 November 1956. Beliau juga meninggalkan secarik tulisan yang menginginkan Selecta berkembang terus.
Pengunjung yang bertandang ke Taman Rekreasi Selecta ini akan dimanjakan oleh sejumlah fasilitas dan arena bermain yang dikembangkan oleh PT Selecta, seperti kolam renang, hotel, restoran, area jogging, taman bunga, pasar buah, area outbound, water park, kolam ikan, akuarium, live music dan goa singa. Sedangkan, arena bermain yang tersedia meliputi sky bike, sepeda air, kiddie ride, bahtera ayun, kereta kuda, flying fox dan bioskop 6 dimensi.
Selecta memang sudah dikenal sejak dulu karena keindahan alamnya dengan udara pegunungan yang sejuk dan segar yang dapat membuahkan inspirasi dan mengukir kenangan bagi setiap pengunjungnya. Selecta is Truly Picnic. *** [220916]

Kepustakaan:
Brosur Taman Rekreasi Hotel & Restoran SELECTA
De Indische Courant 29-08-1933, dalam http://www.delpher.nl/nl/kranten/view?coll=ddd&identifier=ddd:010284706:mpeg21:a0218
Soerabaijasch handelsblad 06-11-1933, dalam http://www.delpher.nl/nl/kranten/view?coll=ddd&identifier=ddd:011109830:mpeg21:a0164
http://www.panoramio.com/photo/24977251

Rabu, 27 Juli 2016

Gedung Simon Stock Batu

Sepulang dari mengunjungi Candi Songgoriti, tanpa sengaja saya melintas di depan bangunan bercorak lawas di pinggir jalan utama yang ada di Kota Batu. Bangunan dengan pintu utama yang berbentuk lengkungan, mengundang saya untuk menghampirinya.
Gedung tersebut merupakan gedung yang digunakan untuk tempat latihan karate Kyokushinkai dan Aikido. Diketahui dari atas lengkungan gevel, tempat latihan olahraga bela diri tersebut dinamakan Dojo A. Yos bagi karate Kyokushinkai, dan Aikido Jimen Dojo. Gedung ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 59, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di samping SDK Sang Timur.
Dari tempat lokasi, diketahui bahwa gedung yang dimanfaatkan untuk Dojo atau tempat latihan olahraga karate tersebut itu sebenarnya adalah Gedung Simon Stock. Kedua institusi karate tersebut memang menyewa gedung tersebut untuk digunakan sebagai Dojo.


Dulu, Gedung Simon Stock ini adalah sebuah gereja Katolik yang bernama Gereja Santo Simon Stock, yang didirikan pada tahun 1939 dengan kapasitas hanya untuk sekitar 250 jemaat saja. Dengan adanya perkembangan dan pertambahan jemaat tersebut, menjadikan daya tampung gereja sudah tidak memadai lagi. Terlebih pada hari-hari besar yang dilakukan oleh umat Katolik, seperti Natal dan Paskah, jemaat nyaris tidak tertampung lagi. Selain itu, lokasinya yang berada di jalan besar, menyebabkan gereja itu terasa bising dan ramai ketika jemaat sedang mengikuti misa sehingga kekhusyukan jemaat menjadi terganggu.
Atas pertimbangan tersebut, maka pada tahun 1983 mulai dipikirkan oleh Romo P.J. Vollering O’Carm, selaku Pastor Paroki Batu pada waktu itu, yang dibantu oleh sejumlah jemaat mulai mewacanakan untuk membangun sebuah gereja baru yang lebih besar, luas serta memadai sebagai tempat beribadah. Akhirnya, dibangunlah gereja baru tersebut di tanah Keuskupan seluas 5.000 m² yang berada di Jalan Ridwan (depan Susteran Karmelites), Desa Ngaglik, Kecamatan Batu.
Bangunan gereja baru yang memiliki luas 1.000 m² ini dikerjakan selama dua tahun, dan diresmikan pada tahun 1987 dengan nama Gereja Katolik Gembala Baik Batu.
Setelah gereja Katolik baru diresmikan dan diadakan pemberkatan, maka secara resmi jemaat yang semula mengadakan kebaktian di Gereja Katolik Santo Simon Stock beralih ke Gereja Katolik Gembala Baik. Sehingga, bekas bangunan gereja tertua di Kota Batu tersebut akhirnya difungsikan menjadi gedung serba guna, dan disewakan kepada masyarakat umum, seperti beberapa acara resepsi pernikahan, rapat, dan sebagainya.
Pada saat mengunjungi, gedung ini digunakan sebagai Aikido Jimen Dojo. Dojo adalah tempat untuk latihan olahraga karate. Jimen dalam bahasa Indonesia berarti bumi atau tanah tempat kita berpijak, dan Aikido adalah seni beladiri yang mempunyai akar pertumbuhan dan budaya dari Jepang. *** [290516]