Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Senin, 30 Mei 2016

Candi Tepas

Berbagai kerajaan besar pernah menancapkan pengaruhnya di Kabupaten Blitar, mulai dari Mataram Kuno di Jawa Tengah, Kerajaan Kediri, Singosari sampai dengan Majapahit. Oleh karena itu, di daerah Kabupaten Blitar ditemukan warisan cagar budaya, baik berupa prasasti, arca-arca, gapura maupun candi.  Salah satu tinggalan candi yang terdapat di Kabupaten Blitar adalah Candi Tepas. Candi ini terletak di Dusun Dawung RT. 02 RW. 03 Desa Tepas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi candi ini berada ± 200 meter sebelah barat laut Pasar Tepas, atau tepatnya berada di samping Pura Surya Darma. Dari Jalan Raya Blitar-Malang berjarak sekitar 3 kilometer ke arah utara dengan jalan menanjak, sedangkan dari Kota Blitar berjarak 22 kilometer ke arah timur.
Alvin Abdul Jabbaar Hamzah dalam skripsinya yang berjudul Identifikasi Bentuk Arsitektur Candi Tepas (FIB UI, 2011) menerangkan, bahwa penelitian terhadap Candi Tepas ini baru sebatas inventarisasi. Hal ini didapatkan dari catatan inventarisasi yang dilakukan oleh R.D.M. Verbeek dalam Oudheden van Java pada tahun 1891 dengan nomor inventarisasi 553. Dalam inventarisasi Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur dicatat dengan nomor 176/BLT/95. Selain itu, candi ini juga pernah ditulis oleh N.J. Krom dalam Inleiding tot de Hindoe-Javanische Kunst pada tahun 1923.
Dalam pencatatan tersebut, sebagian besar hanya menjelaskan secara singkat tentang keadaan candi pada waktu ditemukan. Ketika pertama kali ditemukan, candi ini memang sudah dalam keadaan runtuh. Dalam reruntuhan tersebut, tidak ditemukan tulisan angka tahun, arca, relief, dan batunya pun sudah mulai aus.


Candi Tepas ini terbuat dari susunan batu trasit dan batu bata (misra). Material batu trasit ini untuk batuan yang menyusuni candi, sedangkan bahan isian dari candi ini serta pondasinya terbuat dari batu bata. Batu trasit adalah batuan vulkanik yang terbentuk di luar perut bumi atau setelah terjadi erupsi. Batuan ini berwarna putih, abu-abu terang dan coklat terang, dan termasuk jenis batuan yang berpori sehingga sangat mudah aus dan lapuk.
Hal ini yang menyebabkan kapan candi tersebut didirikan sulit dipastikan. Kronologinya hanya didasarkan pada temuan fisik candi maupun dari sumber lainnya. Dilihat dari ukuran bata pada candi, dapat diperkirakan bahwa Candi Tepas berasal dari masa Majapahit. Informasi lain yang memperkuat dugaan tersebut berasal Kitab Negarakertagama, yang dirunut dari latar keagamaan Candi Tepas. Pada pupuh 76: 1-4 dari Kitab Negarakertagama berisi tentang wilayah-wilayah yang termasuk dari Dharmadhyaksa ring Kasogatan. Dharmadhyaksa ring Kasogatan merupakan salah satu pejabat dalam pemerintahan masa Majapahit yang mengawasi hal yang berkenaan dengan agama Buddha. Selain Dharmadhyaksa ring Kasogatan terdapat dua pejabat lagi yaitu Dharmadhyaksa ring Kasaiwan yang mengawasi hal yang berkenaan dengan agama Hindu dan Mantri Her Haji yang mengawasi hal yang berkenaan dengan para Resi dan Pertapa.


Pada baris ketiga (stanza 3) pada pupuh 76 tertulis “iwirniŋ darmma kasogatan kawinayanu ļpas i wipularā len kuți [haji, mwaŋ yānatraya rājaḍanya kuwunātha surayaça jarak/ laguṇḍi [wadari, wewe mwaŋ packan/ pasarwwan i lmaḥ surat i pamanikan/ [srańan/ pańiktan, pańhapwan/ damalaŋ tpas/ jita waṇnaçrama jnar i samudrawela [pamuluŋ.” Artinya, lokasi dari dharmas kasogatan kawinaya lěpas (wilayah pendeta Buddhis) adalah: Wipulārama, Kuți Haji, dan Yānatraya, Rājadhānya, Kuwu Nātha, Surayasha, Jarak, Wadari, Wéwé dan Pacěkan, Pasarwwan, Lěmah Surat, Pamaṇikan, Pangitkětan, Panghapwan, Damalung, Těpas Jita, Wanāshrama, Jěnar, Samudrawela, Pamulung.
Candi Tepas disebutkan dengan Těpas Jita. Dalam naskah tersebut, Candi Tepas berada dalam wilayah tanggung jawab dari Dharmadhyaksa ring Kasogatan, yang berarti Candi Tepas memiliki latar belakang agama Buddha. Secara struktural, Candi Tepas tidak menunjukkan ciri agama Buddha bahkan Candi Tepas memiliki batu tegak yang menyerupai lingga semu.
Dari keterangan yang termaktub dalam naskah Kitab Negarakertagama tersebut, Candi Tepas diperkirakan berdiri sekitar antara tahun 1355 M sampai dengan 1365 M. Karena Kitab Negarakertagama dibuat pada masa Hayam Wuruk dengan kronologi 1365 M, dan pada waktu Negarakertagama dituliskan, candi tersebut masih berfungsi untuk kegiatan keagamaan.
Menurut Darno, seorang juru pelihara Candi Tepas, candi ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8,00 x 8, 00 meter yang berdiri di atas lahan yang sekarang berukuran 29 x 21 meter. Namun, sebenarnya areal yang dimiliki oleh candi tersebut lebih luas. Hal ini didasarkan pada 4 patok yang diketemukan di sekitar candi, yang mirip dengan lingga semu dan juga sisa pagar candi.
Sekarang, Candi Tepas ini tinggal memiliki sisa bangunan berupa kaki yang sudah tidak utuh dan tubuh yang hanya mempunyai dua lapis batu trasit. Pintu masuk candi terdapat di sebelah barat, sedangkan untuk hiasan dan relung sudah tidak dapat ditemukan, karena sudah mengalami keruntuhan dan tidak ditemukan adanya sisa batu yang membentuk hiasan di tumpukan batuan candi yang ditemukan. *** [200516]

Kepustakaan:
Alvin Abdul Jabbaar Hamzah, 2011. Identifikasi Bentuk Arsitektur Candi Tepas, dalam Skripsi di FIB UI
Ari Sapto & Mashuri, Pengembangan Wisata Terpadu Berbasis Cagar Budaya, dalam Jurnal SEJARAH dan BUDAYA, Tahun Kedelapan, Nomor 2, Desember 2014: 126

Stasiun Kereta Api Kesamben

Stasiun Kereta Api Kesamben (KSB) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Kesamben merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 193 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3/kecil yang ada di Kabupaten Blitar. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Kesamben, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Mulyo, atau barat daya Masjid Jamik Kesamben.


Bangunan Stasiun Kesamben ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen sepanjang 55 kilometer, yang dimulai pada tahun 1896 dan selesai pada tahun 1897. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, dengan searah. Artinya, pada jalur rel kereta api tersebut dilakukan dari arah barat , yaitu Blitar, terus ke timur sampai Kepanjen.
Dari arah barat, pembangunan jalur Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896 dan Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1897. Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Jadi, Stasiun Kesamben ini sudah mulai ada sejak tahun 1897.
Stasiun Kesamben memiliki 2 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat (Stasiun Wlingi) dan ke arah timur menuju Stasiun Pohgajih. Sedangkan, jalur 2 digunakan untuk berhentinya sepur yang lain saat terjadi persilangan atau persusulan kereta api pada jalur tersebut. Seperti stasiun kecil pada umumnya, Stasiun Pohgajih tidak memiliki emplasemen yang menaungi peron yang ada.
Kendati stasiun ini tergolong kecil, namun masih beruntung dibandingkan Stasiun Ngebruk yang tak kalah strategisnya dalam letak lokasi. Karena di Stasiun Kesamben ini masih ada aktivitas dalam menaikkan maupun menurunkan penumpang dari kereta api yang melintasinya, meski hanya layanan kereta api kelas ekonomi, seperti Matarmaja maupun Penataran. *** [200516]

Stasiun Kereta Api Pohgajih

Stasiun Kereta Api Pohgajih (PGJ) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Pohgajih merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 205 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3/kecil yang berada di paling timur Kabupaten Blitar. Stasiun ini terletak di Jalan Pohgajih, Desa Pohgajih, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah Waduk Karangkates dan bendungan Sutami, atau sebelah barat PLTA Sutami. Antara bendungan Sutami dan stasiun ini terdapat dua terowongan kereta api, yaitu terowongan Eka Bakti Karya dan Dwi Bakti Karya, masing-masing memiliki panjang 850 dan 400 meter. Kedua terowongan tersebut dibangun tatkala ada pembangunan bendungan Sutami pada tahun 1969.


Bangunan Stasiun Pohgajih ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen sepanjang 55 kilometer, yang dimulai pada tahun 1896 dan selesai pada tahun 1897. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, dengan searah. Artinya, pada jalur rel kereta api tersebut dilakukan dari arah barat , yaitu Blitar, terus ke timur sampai Kepanjen.


Dari arah barat, pembangunan jalur Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896 dan Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1897. Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Jadi, Stasiun Pohgajih ini sudah mulai ada sejak tahun 1897.
Stasiun Pohgajih memiliki 2 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah timur (Stasiun Sumberpucung) dan ke arah timur menuju Stasiun Kesamben. Sedangkan, jalur 2 digunakan untuk berhentinya sepur yang lain saat terjadi persilangan kereta api pada jalur tersebut. Seperti stasiun kecil pada umumnya, Stasiun Pohgajih tidak memiliki emplasemen yang menaungi peron yang ada.
Letak stasiun ini sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya Wlingi-Karangkates ke arah selatan. Daerahnya tergolong terpencil dan jalanan menurun. Stasiunnya pun terlihat sepi dari aktivitas dalam menaikkan maupun menurunkan penumpang maupun barang. Dahulu, stasiun ini memang didirikan untuk mengantisipasi persilangan kereta api yang melintas di jalur tersebut. *** [200516]

Minggu, 29 Mei 2016

Stasiun Kereta Api Blimbing

Stasiun Kereta Api Blimbing (BMG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Blimbing, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 460 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3 (kecil) yang berada di Kota Malang. Stasiun ini terletak di Jalan Laksda Adi Sucipto-Stasiun Blimbing, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Primer Koperasi An-Nisa’ II, atau tepat berada di depan Toko Jhon Ban (toko ban).
Keberadaan Stasiun Blimbing ini berada pada jalur rel kereta api Bangil-Sengon-Lawang-Malang. Jalur tersebut dikerjakan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1878 dan selesai pada tahun 1879 sepanjang 49 kilometer. Proyek jalur kereta api tersebut merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 1 (Oosterlijnen-1). Pengerjaan proyek jalur kereta api tersebut dilaksanakan searah, dan bertahap. Pertama, diselesaikan dulu jalur rel dari Bangil hingga Lawang pada tahun 1878, kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan jalur rel dari Lawang sampai Malang yang selesai pada tahun 1879.


Pada waktu pembangunan jalur rel tersebut, Stasiun Blimbing belum ada. Munculnya Stasiun Blimbing ini setelah ada upaya dari Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) untuk membuka jalur trem di daerah Malang. MSM ini merupakan perusahaan trem yang mendapat konsensi pada tahun 1894 untuk membangun jaringan rel trem.
Setelah berhasil menggarap jalur trem Malang-Bululawang-Gondanglegi sepanjang 23 kilometer (1897-1898), Gondanglegi-Talok-Dampit sepanjang 15 kilometer (1898-1899), Kepanjen-Gondanglegi sepanjang 17 kilometer (1900), MSM mengusahakan jalur trem Tumpang-Pakis-Blimbing sepanjang 23 kilometer pada tahun 1901. Pada saat inilah, MSM juga membangun Stasiun Blimbing bersamaan dengan pengerjaan jalur trem tersebut sebagai stasiun pertemuan antara jalur yang dibuat oleh SS dan MSM.


Dulu, dari Stasiun Blimbing ini juga terdapat jalur trem yang menghubungkan ke Stasiun Malang Kota Lama sepanjang 6 kilometer yang dikerjakan pada tahun 1903. Pada jalur ini, trem melewati Alun-alun Merdeka (sekarang sudah tak ada lagi jalur ini).
Stasiun ini memiliki 3 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus, arah utara menuju ke Stasiun Singosari, dan arah selatan menuju Stasiun Malang Kota Baru. Jalur 1 yang mengarah ke selatan, sekarang putus. Dulu, jalur ini yang menghubungkan ke Stasiun Pakis dan Stasiun Tumpang. Sedangkan, jalur 3 merupakan jalur untuk berhenti kereta api manakala ada kereta api lainnya yang mau lewat atau berhenti di Stasiun Blimbing. Stasiun ini memiliki 1 peron sisi dan 1 peron dua sisi, namun tidak mempunyai emplasemen yang menaungi kedua peron tersebut.
Jadi, pada waktu itu Stasiun Blimbing ini biarpun bentuknya ‘mungil’ tapi merupakan stasiun yang ramai dan sibuk. Karena dari stasiun tersebut terhubung ke beberapa stasiun. Selain jalur trem juga ada jalur kereta api milik SS yang pada umumnya untuk lalu lintas kereta api jarak jauh. Sayang, sekarang jalur trem tersebut sudah tak ada lagi, dan kembali lagi ke julukannya sebagai stasiun ‘mungil’, kecil dan sepi. *** [280516]

Sabtu, 28 Mei 2016

Candi Badut

Kabupaten Malang merupakan wilayah yang tergolong tua. Di masa silam, Kabupaten Malang pernah berdiri 3 kerajaan, yaitu Kerajaan Kanjuruhan, Tumapel (Singosari), dan Sengguru. Juga pernah menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Kuno maupun Kerajaan Majapahit. Hal ini menjadikan Kabupaten Malang memiliki peninggalan purbakala yang banyak dan beragam. Mulai dari batu bertulis (prasasti), arca, maupun candi.
Candi yang ada di Kabupaten Malang, salah satunya adalah Candi Badut. Candi ini terletak di Jalan Raya Candi 5D Dukuh Badut, Desa Karang Widoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi candi ini berada di sebelah barat Sanggar Budaya Putra Mandala Karangbesuki, atau barat laut dari pangkalan angkot AT (Arjosari-Tidar). Karena lokasinya yang berdekatan dengan Kota Malang, seringkali penulisan letak candi ini berada di Kelurahan Karang Besuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, padahal yang benar adalah di Desa Karang Widoro. Pembatas Karang Widoro dan Karang Besuki memang hanya pada jalan aspal berukuran sekitar 6 meter di mana di sebelah timur jalan masuk ke dalam wilayah administrasi Kelurahan Karang Besuki, dan di sebelah barat jalam masuk dalam Desa Karang Widoro.
Candi ini dihubungkan dengan Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 682 Çaka atau 760 Masehi. Secara ringkas, prasasti ini menyebutkan bahwa dahulu ada seorang raja yang bijaksana bernama Dewasimha. Di bawah naungannya api Putikecwara memancar menerangi sekelilingnya. Dewasimha memiliki anak bernama Gajayana. Prasasti ini dibuat Raja Gajayana untuk Sang Resi Agung (maharsibhawana) dengan sebutan Walahajiridyah, dan diresmikannya arca Agastya yang baru terbuat dari batu hitam yang indah, sebagai pengganti dari arca yang lama yang terbuat dari kayu Cendana yang sudah lapuk. Pada kesempatan ini sang raja menghibahkan tanah, lembu, budak, perlengkapan saji, mengadakan berbagai upacara untuk menghormati sang resi. Pada baris keempat Prasasti Dinoyo disebut pula bahwa Raja Gajayana membuat bangunan suci yang sangat indah untuk Agastya dengan maksud untuk membinasakan penyakit.


Penamaan candi Badut ini memunculkan beberapa pendapat. Dari tradisi lisan yang berkembang di sekitar lokasi candi, disebutkan bahwa istilah Badut diambil dari nama sejenis pohon yang dahulu banyak tumbuh di daerah ini, dan salah satunya tumbuh di area reruntuhan candi. Karena di sekitarnya banyak tumbuh pohon Badut, maka daerah tersebut dinamakan Dusun Badut. Dengan demikian, candi ini bernama Badut karena sesuai dengan nama pohon Badut yang dahulu tumbuh di sini.
Pendapat lain muncul dari Dr. Brandes dan Dr. F.D.K. Bosch. Oleh Dr. Brandes dan Dr. F.D.K. Bosch, nama Badut dikaitkan dengan nama Liswa yang tertulis pada baris kedua Prasasti Dinoyo. Liswa sendiri merupakan nama lain dari Raja Gajayana. Dalam kamus bahasa Sansekerta, kata Liswa berarti anak komedi (tukang tari), yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut badut. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Prof. Dr. R. Poerbatjaraka, bahwa nama Badut diambil dari nama raja Kerajaan Kanjuruhan yang diduga membangun candi tersebut. Berasal dari nama Garbopati nama kecil Raja Gajayana, sebelum menjadi raja di Kerajaan Kanjuruhan. Nama Garbopati sang raja adalah Licwa, yang menurut Poerbatjaraka istilah Liswa adalah bahasa Jawa Kuno yang artinya sekarang sama dengan pelawak atau bisa juga disebut badut.
Sedangkan, Van der Meulen berpendapat bahwa nama Badut diambil dari nama Resi Agastya, seorang resi yang diagung-agungkan oleh Raja Gajayana. Istilah Badut, menurut Van der Muelen diambil dari kata Ba dan Dyut. Ba = Bintang Agastya (Chopus) dan Dyut = Sinar atau Cahaya, jadi Badyut berarti cahaya bintang resi Agastya. Van der Meulen membuat perbandingan dengan penamaan Candi Mendut, yang menurutnya berasal dari kata Men =Sorot, dan Dyut = Cahaya.


Secara arsitektur candi ini mencerminkan gaya Jawa Tengah. Hal ini dapat dicermati beberapa profil yang ditemukan di candi-candi Jawa Tengah, profil tersebut antara lain ruangan bangunan yang agak besar yang dihubungkan dengan bangunan penampil dan tangga masuk, bangunan induk disusun berhadapan dengan bangunan perwara, dan kaki candi relatif tinggi.
Candi memiliki bagian yang relatif lengkap terdiri dari lapik, kaki, badan, dan atap. Bagian lapik merupakan alas tempat kaki candi berdiri, bentuknya persegi panjang berukuran 14,10 x 18,90 meter. Lapik tersebut terdiri dari tiga jenjang masing-masing setinggi 30 cm, 40 cm dan 20 cm, kesemuanya tanpa hiasan ornamen.
Kaki candi berukuran 10,76 x 1,30 meter, berdiri di atas lapik yang lebar, antara kaki candi dan lapik terdapat selasar. Kaki candi tanpa hiasan pelipit maupun ornamen. Pada sisi barat terdapat tangga dengan delapan pijak dan pipi tangga yang telah rusak. Pipi tangga berbentuk lengkung dan berujung ungkel pangkalnya berhias kala naga. Pipi tangga sisi utara dihiasi ornamen burung berdiri di atas bunga teratai. Demikian pula pipi tangga sisi selatan. Struktur kaki candi tidak lengkap, demikian pula trap dan pipi tangga.
Tubuh candi berbentuk persegi dengan ukuran 7,50 x 7,40 meter, tinggi 3,62 meter. Bingkai bawahnya terdiri dari pelipit polos, padma, dan setengah bundaran. Struktur candi masih tampak baik meski di sisi timur dan selatan tidak lengkap. Pada tiap sisinya terdapat relung, di sisi barat terdapat pintu masuk dengan penampil. Kanan kiri terdapat relung yang ukurannya lebih kecil. Penampil dan relung tersebut dihiasi kala tanpa rahang bawah. Bingkai penampil dihiasi sulur-suluran, di bagian bawahnya terdapat sepasang makara yang dikombinasikan dengan sulur-suluran. Ambang pintu dan penampil telah diperkuat dengan penyangga besi. Ruang garbhagraha berukuran 3,45 x 3,45 meter berisi lingga dan yoni.


Atap candi telah rusak, bentuk lengkapnya tidak dapat dikenal dari sisi struktur yang terdapat saat ini. Adapun struktur yang tersisa sebanyak lima lapis pada sebagian sisi barat dan utara. Keadaan struktur yang tidak lengkap tersebut menjadi bagian atas bilik terbuka.
Informasi paling awal tentang candi Badut dilaporkan oleh E.W. Maurenbrecher, seorang controlir bangsa Belanda, pada tahun 1923, pada saat mengadakan inventarisasi di sekitar Malang. Pada tahun yang sama seorang pegawai dinas purbakala Belanda yang bernama B. De Haan melaporkan hal serupa. Tidak banyak yang dapat diungkapkan kecuali reruntuhan batu dan sebuah pohon besar tumbuh di atas reruntuhan itu.
Tahun 1925, B. De Haan mendapat tugas memperbaiki candi Badut. Pada awalnya ia tidak mempunyai harapan dapat menyelesaikannya, sehingga ia memutuskan untuk mengadakan ulang bina partial. Usaha ini diawali dengan mengadakan penggalian yang dilakukan sampai dasar bangunan. Dari hasil penggalian terebut diketahui bahwa bangunan candi Badut telah runtuh sama sekali, kecuali beberapa bagian yang masih dapat dilihat susunannya, bagian itu adalah kaki candi meski banyak yang rusak. Batu-batu yang ada kemudian dipilah-bilah dan dikumpulkan berdasarkan ukuran. Atas dasar inilah kemudian dicoba untuk menyusun bangunannya.
Pada tahun 1926, seluruh bangunan kaki dan tubuh dapat dibangun kembali, hanya bagian atapnya yang tidak ditemukan kembali. Namun demikian Dinas Purbakala waktu itu dapat membuat rekonstruksinya di atas kertas.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1990-1993 dilaksanakan pemugaran lebih lanjut oleh Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bersama Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala jawa Timur, melalui proyek Pelestarian atau Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur, yang dilakukan secara bertahap.
Kini, Candi Badut yang berada pada lahan seluas 2.808 m² ini menjadi tujuan wisata yang ada di Malang. Selain, mengenal sejarah Candi Badut, wisatawan juga dapat relaksasi di lokasi ini, karena tempatnya yang masih sejuk dan asri. Banyak pepohonan yang ada di kompleks halaman candi tersebut, seperti pohon beringin, pule, dan sengon. *** [180516]

Selasa, 24 Mei 2016

Museum Mpu Purwa Malang

Malang merupakan suatu wilayah yang telah ada sejak dulu kala. Sejarah mencatat, bahwa pada abad ke-8 Malang pernah menjadi pusat Kerajaan Kanjuruhan, yang merupakan kerajaan pertama di Jawa Timur. Abad selanjutnya Malang menjadi daerah bawahan dari Kerajaan Mataram Kuno yang telah pindah ke Jawa Timur.
Abad ke-13 Malang kembali tampil dalam kancah sejarah Jawa, yakni menjadi ibu kota Kerajaan Tumapel. Ibu kota Kerajaan Tumapel berada di Kutaraja, antara pemerintahan Ken Arok sampai awal pemerintahan Wisnuwardana. Letak Kutaraja ini berada di sebelah timur Gunung Kawi. Setelah Kertanegara dinobatkan menjadi raja, ibu kota kerajaan diganti namanya menjadi Singasari, dan sekaligus menjadi nama kerajaan. Kerajaan yang terakhir di wilayah Malang adalah Kerajaan Sengguruh. Kerajaan Sengguruh adalah Kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Kerajaan Sengguruh berada di kawasan selatan Kota Malang (sekarang di daerah Kepanjen).
Adanya kerajaan-kerajaan tersebut, menjadikan daerah Malang banyak diketemukan peninggalan purbakala berupa arca, prasasti maupun candi. Sejak tahun 1980-an, Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang berusaha mengupayakan tempat untuk menampung temuan benda-benda purbakala tersebut, dikurangi candi.


Karena beberapa hal, usulan untuk membuat tempat tersebut tidak terpenuhi. Akhirnya, untuk penyelamatan dan keamanannya, benda-benda temuan tersebut dititipkan di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang berada di Jalan Halmahera. Terus kemudian dititipkan lagi di Taman Rekreasi Senaputera, dan pada tahun 1997 dititipkan di Rumah Makan Cahyaningrat.
Kondisi ini menyebabkan Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang berencana untuk membangun sebuah balai penyelamatan benda purbakala dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Namun lagi-lagi, rencana itu pun tidak bisa terealisasi. Lalu, pada tahun 2000 Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Pendidikan berinisiatif untuk mengumpulkan semua benda purbakala yang ada di Kota Malang dalam suatu tempat khusus, baik kelompok maupun yang masih tercecer di masing-masing tempat. Pada waktu itu, pilihan tempatnya diarahkan ke Perpustakaan Umum untuk dipakai sebagian ruangannya. Tapi karena sesuatu hal dan berbagai pertimbangan, maka pada tahun 2001 ditetapkanlah gedung bekas SDN Mojolangu 2 Malang sebagai tempat menampung benda-benda purbakala yang penuh sejarah tersebut.
Setelah ditetapkan, bangunan sekolah tersebut lalu dipugar untuk menyesuaikan dari ruang kelas menjadi tempat yang layak sebagai tempat penampungan benda-benda purbakala tersebut. Peresmiannya dilakukan oleh Wali Kota Malang, Peni Suparto, pada 2 Mei 2004 dengan memberikan nama gedung Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa. Namun karena untuk papan penunjuk arah ke gedung ini pada umumnya dengan sebutan Museum Mpu Purwa, maka masyarakat akhirnya lebih akrab menyebut bangunan gedung tersebut sebagai Museum Mpu Purwa ketimbang Balai Penyelamatan Benda Purbakala.


Atas dasar inilah, tulisan yang saya buat pun menggunakan judul Museum Mpu Purwa. Museum ini terletak di Jalan Soekarno Hatta No. 210 Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di lingkungan Perumahan Griya Shanta Blok B, yang ancer-ancernya berada di depan SD Insan Amanah, sebelah barat RS Brawijaya, atau sebelah timur Institut Pertanian Malang.
Pada waktu saya berkunjung ke museum ini, gedungnya memang sedang direnovasi secara menyeluruh untuk menjadi museum. Renovasi tersebut sudah mulai dilakukan pada tahun 2014 dan Mei 2016 ini sudah selesai dengan menelan biaya sebesar RP 2,5 miliar. Akan tetapi, pengunjung belum bisa menikmati koleksi-koleksi yang dimiliki oleh museum ini, karena baru penataan ulang terhadap benda-benda bersejarah tersebut. Sehingga, saya disarankan untuk melihat koleksi-koleksinya yang terdapat di gudang saja, yang letaknya ditaruh di halaman depan sebelah timur.
Menurut petugas museum, koleksi benda purbakala yang disimpan di Museum Mpu Purwa berasal dari masa pra sejarah hingga masa sejarah, yaitu masa Hindu-Buddha. Benda purbakala ini ditemukan dari berbagai daerah di Malang, ada juga beberapa peninggalan yang berasal dari Kediri. Peninggalan yang berasal dari masa pra sejarah berupa batu pelor, batu gores dan batu lumpang. Batu gores ditemukan di bibir Sungai Metro yang berada di wilayah Tlogomas. Di wilayah ini memang banyak ditemukan benda purbakala yang kesemuanya disimpan di cungkup punden Watu Gong. Dilihat dari banyaknya peninggalan yang ditemukan, diperkirakan wilayah ini dahulunya merupakan pusat peradaban purba.


Peninggalan lainnya yang ada di Museum Mpu Purwa adalah peninggalan yang berasal dari zaman Hindu-Budda. Peninggalan yang dari zaman Hindu-Buddha berasal dari Kerajaan Kanjuruhan, Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari, dan Kerajaan Majapahit.
Peninggalan dari masa Hindu-Buddha berupa prasasti, arca, makara, antefix, kemuncak candi, lingga dan yoni. Koleksi prasasti meliputi prasasti Muncang, prasasti Dinoyo dan Prasasti Kanuruhan. Prasasti Dinoyo ini berasal dari Kerajaan Kanjuruhan yang merupakan kerajaan tertua di Jawa Timur yang berdiri sekitar abad ke-8. Sedangkan, prasasti Kanuruhan adalah prasasti yang terpahat pada sandaran arca Ganesha, yang berangka tahun 856 Saka dan dikeluarkan oleh Rakarayan Kanuruhan Dyah Mungpang.
Peninggalan lainnya adalah arca Ganesha Tikus yang berasal dari Kerajaan Kediri. Arca Ganesha Tikus menjadi peninggalan teristimewa di museum ini dari benda-benda lainnya karena konon arca Ganesha ini hanya terdapat di Museum Mpu Purwa. Ada arca Siwa, Brahma, Durga, dan Bodhisatwa. Selain itu, ada juga kembaran patung Joko Dolog yang ditaruh di halaman depan museum. Saya pikir patung tersebut memang patung Joko Dolog tapi ternyata patung Buddha Aksobya, yang ditemukan di salah satu percandian Singasari. Tak jauh dari patung Buddha Aksobya juga ada sebuah makara dengan motif ikan dan gajah. Makara ini ditemukan di Dukuh Njoyo, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru.
Museum Mpu Purwa ini belumlah banyak diketahui keberadaannya oleh khalayak di Kota Malang. Hal ini lantaran lokasi museum ini agak masuk ke dalam, dan berada di kompleks Perumahan Griya Shanta bagian pojok serta kurangnya papan penunjuk yang berada di jalan-jalan raya di Kota Malang. Sayang, bila koleksi-koleksi museum yang bernilai sejarah tinggi ini tidak dikenal oleh warganya. Jadinya, tak sepadan dengan nama yang disandang oleh museum tersebut, yaitu Mpu Purwa. Mpu Purwa, lengkapnya adalah Mpu Purwanatha, adalah seorang pendeta Budda utama (Sthapaka) yang hidup sekitar abad ke-12 di Desa Panawijen, sebelah timur lereng Gunung Kawi (sekarang Kelurahan Polowijen, Kota Malang). Mpu Purwanatha memiliki dua anak, yaitu Mpu Purwa dan Ken Dedes. Kelak Mpu Purwa merupakan cikal bakal keturunan Pasek Tatar di Bali, sedangkan adiknya, Ken Dedes, melahirkan raja-raja besar di Jawa. *** [180516]

Senin, 23 Mei 2016

Hotel Niagara Lawang

Pada era kolonial, Lawang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai wilayah yang diperuntukkan sebagai daerah peristirahatan dan perkebunan yang kaya di lereng Gunung Arjuno. Sejak itulah banyak bermunculan bangunan kolonial yang berfungsi sebagai rumah peristirahatan atau villa. Salah satunya adalah Hotel Niagara, yang juga menjadi ikon dari Lawang karena merupakan bangunan lawas tertinggi kawasan tersebut. Hotel ini terletak di Jalan Dr. Soetomo No. 63 Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi hotel ini berada di sebelah utara Pasar Lawang, atau barat daya Kompleks Polisi Militer Divisi Infanteri 2 Kostrad.
Awalnya, bangunan Hotel Niagara ini merupakan sebuah villa pribadi milik Liem Sian Joe, seorang konglomerat Tionghoa (pengusaha pabrik gula dan kayu jati). Villa ini dibangun selama kurang lebih 15 tahun lamanya, dimulai dari tahun 1903 dan selesai pada tahun 1918. Soal desain bangunan, Liem Sian Joe menyerahkannya kepada Fritz Joseph Pinedo, seorang arsitek swasta Belanda profesional keturunan Portugis-Brazil.
Villa ini hanya difungsikan sebagai tempat peristirahatan keluarga selama dua tahun, karena pada tahun 1920 Liem Sian Joe dan keluarga pindah ke Negeri Belanda. Villa tersebut dipercayakan kepada ahli warisnya. Namun, karena jarang dipakai, villa tersebut lambat laun menjadi kurang terurus dan kemudian terlantar selama bertahun-tahun.


Kondisi yang demikian bertahan sampai tahun 1960, yang pada akhirnya salah seorang ahli waris keluarga Liem Sian Joe menjual villa tersebut kepada seorang pengusaha yang berasal dari Surabaya bernama Ong Kie Tjay. Oleh Ong Kie Tjay, bangunan berlantai lima itu kemudian dibenahi selama 4 tahun, dan selanjutnya difungsikan sebagai hotel dengan nama Hotel Niagara.
Menurut prasasti yang ada, Hotel Niagara merupakan bangunan tertinggi, paling megah dan mewah, tidak ada tandingannya (pada waktu itu). Unsur-unsur arsitektur Eropa seperti ornamen, tiang besi, konsep bangunan Eropa yaitu hoogbouw atau membangun tinggi ke atas (vertikal) merupakan efek gaya gedung pencakar langit (wolken krabber) serta konstruksi bata digunakan pada rumah-rumah orang kaya atau bangsawan pada abad ke-20 di Hindia Belanda.
Pendirian bangunan tersebut kala itu memang memiliki tujuan tertentu, menunjukkan sebuah kemegahan, kemewahan, peranan dan kedudukan atau identitas Liem Sian Joe. Penunjukkan identitas dirinya sebagai seorang yang kaya, terhormat itu terlihat dengan adanya pengacuan gaya masyarakat golongan lapisan atas (Eropa) pada ornamen plafond, kaca timah, keramik dan kayu jati pelapis dinding, makna komposisi simetris yang dipakainya, pemilihan bahan pada yang tidak lagi sederhana, dipilih yang berkualitas tinggi bahkan impor seperti pelapis dinding yang hanya digunakan pada ruang-ruang yang termasuk bagian dari area publik. Hal ini memiliki makna unjuk kemampuan Liem Sian Joe pada tamu-tamu yang diundangnya dari segi finansial.
Kini, hotel tersebut dikelola oleh Ongko Budihartanto, anak dari Ong Kie Tjay. Dalam perjalanan mengelola Hotel Niagara ini, memang pernah mengalami mendapat stigma sebagai hotel yang menyeramkan, ada tapak tangan berjalan, dan berhantu serta tempat bunuh diri. Hal ini tak terlepas dari lamanya bangunan ini pernah mangkrak sebelum difungsikan sebagai hotel.
Terlepas dari hal itu semua, Hotel Niagara ini memiliki arsitektur tempo doeloe dengan nuansa seni yang tinggi sebagai kombinasi gaya Brazil, Belanda, Tiongkok, dan Victoria yang menawan. Warisan kekunaan yang dipunyainya, sesungguhnya bisa mengantarkan nilai jual hotel tersebut kepada turis mancanegara bila dikelola dengan sebaik-baiknya. Punya story, nuasa tempo doeloe, antik dan unik. *** [180516]