Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Sabtu, 04 Maret 2017

TPU Sukun Nasrani Malang

Perjalanan dari Kepanjen menuju Kampus FIA UB untuk menghadiri meeting dengan Principal Investigator, saya acapkali memotong jalan melalui Mergan, sebuah jalan bekas rel yang dulunya dilalui lori (kereta pengangkut tebu). Pas tikungan mau masuk Jalan Mergan tersebut, saya sempat berhenti untuk melihat bangunan lawas yang khas bentuk arsitekturnya.
Bangunan lawas tersebut merupakan pintu utama masuk ke dalam Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sukun Nasrani Malang. TPU tersebut terletak di Jalan Sudanco Supriadi No. 38 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Lokasi TPU ini berada di belakang SPBU 54.651.14 Sukun atau bersebelahan dengan Bank Sampah Malang.
Keberadaan TPU Sukun Nasrani ini tidak terlepas dari rencana perkembangan Kota Malang yang telah digagas pada masa kolonial. Rencana perkembangan Kota Malang pada masa itu melalui tahap-tahap yang berkelanjutan, yang dikenal dengan istilah bouwplan I sampai VIII. Bouwplan tersebut tidak lepas dari ide Wali Kota Malang pertama, yaitu H.I. Bussemaker (1919-1929), yang pengerjaannya dijabarkan oleh Ir. Herman Thomas Karsten, seorang arsitek perencana kota yang cukup terkenal pada waktu itu.
Pada waktu memasuki bouwplan III, pihak Dewan Kota (Gemeenteraad) mengadakan rapat sebanyak 2 kali, yaitu pada tanggal 26 Agustus 1919 dan 26 April 1920. Dari hasil rapat tersebut, Dewan Kota memutuskan untuk membuat suatu kompleks pemakaman yang cukup luas guna menampung kebutuhan akan makam bagi orang Eropa yang tinggal di Malang. Sebelumnya, pemakaman golongan orang Eropa berada di Klojen Lor akan tetapi karena dirasa sudah tidak layak lagi apabila sebuah kompleks pemakaman terdapat di tengah-tengah areal perumahan.


Akhirnya, daerah yang dipilih adalah daerah Sukun (Staadgemeente Malang 1914-1939 XLVI) yang terletak di sebelah tenggara Kota Malang. Hal itu dimungkinkan, karena daerah tersebut merupakan pintu masuk satu-satunya ke Kota Malang dari Blitar, dan terdapatnya pabrik gula ada di kawasan tersebut. Sebelumnya pernah dipilih daerah Bareng dan Kauman yang memiliki luas sekitar 25 hektar, akan tetapi kemudian dibatalkan. Setelah itu dicoba di daerah Lowokwaru, namun juga tidak jadi terwujud lantaran adanya protes dari penduduk sekitar bakal calon lokasi pemakaman tersebut.
Pembangunan kompleks makam Sukun tersebut dilakukan secara bertahap. Pada awalnya dibangun terlebih dahulu pintu gerbangnya. Bangunan pintu gerbang makam dibuat kokoh dan kuat dengan arsitektur kolonial, dan sampai sekarang belum pernah dirubah bentuknya. Dulu, di bagian atas lengkungan pintu gerbang terdapat tulisan:

“De nacht van den dood
Is de dageraad van den geest.”

Yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, memiliki arti sebagai berikut:

“Malam kematian
Adalah fajar pikiran.”

Sekarang tulisan itu sudah tidak ada lagi. Kompleks makam seluas 120.000 m² ini semula mempunyai nama Europese Begraafplaats Soekoen te Malang (Kuburan Orang Eropa di Sukun Malang ), atau arek Malang kala itu menyebutnya dengan istilah Bong Londo.
Sesuai namanya, makam ini banyak menyimpan jasad orang Belanda maupun orang Eropa. Jasad-jasad yang terbaring di makam tersebut, di antaranya: Rob van de Ven Renardel de Lavalette, Letnan Georges Lodewijk Geuvels (KNIL), Th. A.M. Gout (Kontroler Surabaya-Bangil), Pantaleon Hajenius (Kapten Infanteri KNIL), Guusje Mulié (putri drg. Mulié Malang), Dolira Advonso Chavid (konon diyakini sebagai Tante Dolly yang begitu melegenda di Surabaya), dan lain-lain.
Pada masa pendudukan Jepang, makam ini diambil alih oleh pasukan Jepang untuk menjadi tempat pemakaman pasukan Jepang yang meninggal di Malang dan sekitarnya. Sebagai buktinya, di dalam kompleks makam tersebut dibuatkan monumen untuk pemakaman 50 jenasah tentara Jepang yang setiap tahunnya selalu diperingati dengan tujuan mendoakan arwahnya.
Setelah Indonesia merdeka, makam ini beralih fungsi menjadi tempat untuk mengubur jasad-jasad orang Tionghoa dan orang-orang yang beragama Katolik maupun Kristen. Berawal dari sinilah, akhirnya makam ini dikenal dengan Makam Sukun Nasrani yang kemudian kata makam berubah menjadi TPU. Sehingga, saat ini makam tersebut dikenal dengan TPU Sukun Nasrani Malang. *** [220516]

Kepustakaan:
http://www.pentalpha.nl/baroe/index.php/dcf-2/soekoen-begr-plaats
http://imexbo.nl/malang-soekoen-1.html
http://www.imexbo.nl/malang-sukun-speciaa.html

Selasa, 21 Februari 2017

Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta

Panti Wredha berasal dari gabungan dua kata, yaitu panti dan wredha. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), panti yang berasal dari bahasa Jawa tersebut, memiliki arti rumah, tempat atau kediaman. Sedangkan, wredha bermakna lanjut usia atau tua. Jadi, yang dimaksud dengan Panti Wredha adalah rumah atau tempat untuk mengurus dan merawat orang jompo yang terlantar.
Panti Wredha Dharma Bhakti merupakan tempat untuk mengurus dan merawat orang yang telah lanjut usia atau jompo. Panti Wredha ini terletak di Jalan Dr. Radjiman No. 620 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi panti ini berada di sebelah barat Pasar Jongke, atau tepatnya berada di samping SPBU Jongke.
Tak banyak warga Solo yang mengetahui riwayat dari bangunan Panti Wredha ini, padahal bangunan Panti Wredha ini sudah ada pada waktu Solo masih berbentuk kerajaan. Dulu, bangunan Panti Wredha ini dikenal dengan sebutan Griya Wangkung. Asal nama Wangkung tersebut berawal dari tafsiran di kalangan masyarakat sekitar, yang berasal dari kata wong terkungkung atau orang yang terkungkung atau terasing.
Tafsiran ini memang muncul karena ketika didirikan, bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat khusus untuk menampung penyandang masalah sosial. Mereka yang menyadang permasalahan kesejahteraan sosial atau pun bermasalah dalam kehidupan sosial, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat telah membuat tempat khusus untuk menampung mereka.


Kanjeng Raden Mas Haryo (K.R.M.H) Woerjaningrat dalam Pengetan Lelampahandalem K.R.A. Sosorodiningrat IV (1956) menyebutkan bahwa “Yasa griya miskin Wangkung, kangge ngopeni tiyang-tiyang ingkang papariman saha lare-lare ingkang mboten kopen; ing ngriku sami dipun sinau, sagedipun migunani kangge masyarakat” (Membuat Griya Miskin Wangkung, untuk memelihara orang-orang yang mengemis dan anak-anak yang tidak terurus; di situ mereka bisa belajar, agar supaya dapat berguna bagi masyarakat).
Griya Wangkung tersebut dibangun oleh Kanjeng Raden Adipati (K.R.A.) Sosrodiningrat IV, atas perintah Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) X, pada Tahun Dal 1839 (tahun Jawa) atau 1910 Masehi. K.R.A. Sosrodiningrat IV pernah menjabat sebagai Patih Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada masa bertahtanya PB IX dan PB X.
Setelah Indonesia merdeka, kewenangan pengelolaan dari Griya Wangkung dialihkan ke Pemerintah Kotamadia Dati II Surakarta, yang dalam hal ini Dinas Sosial. Setelah alih pengelolaan ini, bergantilah namanya menjadi Panti Karya Pamardi Karya (PKPK). PKPK mempunyai fungsi menjadi tempat menampung orang-orang gelandangan. Selanjutnya dengan dasar Surat Perintah Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah tertanggal 3 September 1977, dilakukan perubahan kembali baik nama maupun fungsinya. Panti ini dikhususkan untuk menampung orang-orang lanjut usia atau jompo yang terlantar, yang kemudian diberi nama Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.
Dalam perkembangannya, pada tahun 1993 keluarlah Keputusan Walikota Nomor 061.1/017/I/1993 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Setelah adanya Keputusan Walikota tersebut, pembangunan Panti Wredha ini semakin gencar dilakukan. Mengingat panti ini mulai dikelola oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta, yang dalam hal ini dilakukan oleh Dinas Sosial meskipun dalam pendanaan Pemerintah Provinsi juga masih membantu.
Panti yang berdiri di atas lahan seluas 3.500 m² ini, sekarang tempat tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu untuk lanjut usia Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta, untuk penyandang tuna netra dan tuna rungu wicara Panti Bhakti Chandrasa, dan untuk wanita tuna susila Panti Karya Wanita Utama.
Bangunan Panti Wredha ini sesuai historisnya, ditetapkan oleh Pemkot Surakarta melalui Keputusan Kepala Dinas Tata Ruang Kota Nomor 646/40/I/2014 sebagai bangunan yang dianggap telah memenuhi kriteria sebagai cagar budaya sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tetang Cagar Budaya. *** [170217]

Senin, 26 Desember 2016

Om Telolet Om

Perjalanan mengantar anak ke Pantai Parangtritis, memberikan pemandangan yang tengah menggejala belakangan ini. Sekelompok anak mengangkat tulisan ‘Om Telolet Om’ kepada setiap pengemudi bus pariwisata yang melintas di jalan tersebut. Ada juga yang mengacungkan jempol tangan sambil berteriak “Om Telolet Om”.
Memang, belakangan ini jagat dunia maya memang lagi dihebohkan oleh fenomena ‘Om Telolet Om’. “Om” yang berarti paman dan “telolet” adalah bunyi klakson multimedia pada bus antarkota dan antarprovinsi di Pulau Jawa yang kini digandrungi anak-anak hingga orang dewasa. Om telolet om merupakan ungkapan untuk meminta agar pengemudi bus membunyikan klakson melodi itu.
Sekelompok anak yang hendak melakukan aksi unik tersebut biasanya berdiri di pinggir jalan dengan berbekal kamera ponsel untuk merekam bus-bus yang memiliki suara klakson yang khas. Hasil rekaman ini kemudian diupload ke media sosial, sehingga menimbulkan demam om telolet om. Media sosial dengan mudah memopulerkan perilaku anak-anak di terminal dan jalan-jalan pedesaan pelosok Tanah Air ke meja penguasa dan pesohor dunia.
Mengglobalnya om telolet om tak terlepas dari kreativitas meramu konten bunyi dalam format musik remix. Nada melodis tersebut lebur dalam genre populer. Kemudian, kian tersebar setelah dikicaukan dalam akun Twitter sejumlah disc jockey (DJ) dunia, seperti DJ Snake, Yellow Claw, Marshmello, Zedd, dan The Chainsmokers.


Bila ditelusuri, fenomena unik ini bermuara kepada sebuah benda yang bernama klakson. Klakson merupakan sebuah alat mirip terompet yang dibunyikan dengan listrik pada mobil atau kendaraan bermotor lainnya. Klakson ini biasanya digunakan sebagai tanda peringatan akan keberadaan kendaraan tersebut.
Klakson pertama kali dibuat pada 1908 oleh Miller Reese Hutchison, yang masih mempunyai hubungan saudara dengan Thomas Alfa Edison.  Ia lahir di Montrose, Alabama pada 6 Agustus 1876. Ayahnya adalah William Hutchison dan ibunya bernama Tracie Elizabeth Magruder. Ia pernah menimba ilmu di Marion Military Instiute (1889-1891), Spring Hill College (1891-1892), University of Mobile Military Institute (1892-1895) dan lulus dari Universitas Auburn (yang kemudian disebut Institut Poliktenik Alabama) pada 1897. Ketika masih bersekolah, Hutchison banyak melakukan penemuan-penemuan, seperti lightning arrester untuk jalur telegraf pada 1895, alat bantu pendengaran (hearing aid), versi awal dari lampu lalu lintas (speed alarm) dan klakson.
Penemuan klakson ini diawali oleh rasa prihatin Hutchison ketika terjadi peningkatan lalu lintas di New York. Versi awal speed alarm bagi kendaraan dirasa tidak bisa diharapkan lebih manakala terjadi kepadatan lalu lintas. Oleh sebab itu, muncul gagasan untuk menciptakan sebuah perangkat peringatan ala musik mirip suara lonceng atau terompet. Dia menyadari bahwa suara yang lebih ‘menjengkelkan’ akan berfungsi sebagai peringatan yang lebih baik.
Suara khas dari klakson ketika ditekan berasal dari sebuah elektromagnet yang digunakan untuk menggerakkan baja spiral. Jika elektromagnet tersebut diberi arus, spiral bergerak ke arah magnet. Ketika spiral berpindah di titik maksimum ke arah magnet, sambungan dilepaskan yang menyebabkan arus berhenti untuk beberapa saat dan menyebabkan baja spiral tersebut mengendur. Setelah itu, elektromagnet kembali bergerak kea rah besi. Siklus ini terjadi berulangkali dan menyebabkan baja spiral berosilasi kembali yang menghasilkan suara klakson tersebut.
Hutchinson menjual lisensi paten temuannya tersebut kepada Lovell-McConnel Manufacturing Company, sebuah perusahaan suku cadang asal New Jersey, Amerika Serikat, dan dipasarkan dengan merek Klakson (Klaxon horn). Nama merek tersebut berasal dari bahasa Yunani, klazo yang berarti jeritan  (shriek). Di sebagian besar negara dalam bahasa sehari-hari mereka menyebutnya car horn. Di Rumania dan Belgia, mereka menyebutnya claxon, lalu di Perancis mereka menyebut klakson dengan ejaan klaxon.
Kemudian pada 1911, perusahaan tersebut mengembangkan klason buatannya dengan memakai tenaga baterai yang dapat diisi ulang. Sejak saat itu, klakson buatan perusahaan tersebut dijadikan standar oleh beberapa pabrik lain yang memproduksi klakson sejenis.
Kembali kepada fenomena om telolit om, sebenarnya secara filosofinya berasal dari suara klakson yang semula diciptakan Miller Reese Hutchinson. Namun seiring perkembangan teknologi, suara klakson semakin banyak variasinya dan banyak yang mirip dengan nada dering lagu. Ketika sopir bus memencet tombol klakson, lepaslah suara klakson dengan ragam durasi yang dimiliki oleh bus tersebut. Semakin lama, terdengarlah telolet …telolet … telolet! Jadilah sesuatu peristiwa yang sifatnya sangat lokal di Indonesia itu mendunia. *** [201216]

Jumat, 23 Desember 2016

Pabrik Gula Krebet Baru Malang

Pertama kali mendapat tugas di Kabupaten Malang, saya diajak oleh Principal Investigator berkunjung ke Gondanglegi melalui Bululawang dari Kota Malang. Dengan dikemudikan oleh sopir tua, mobil Kijang Innova melaju dengan kecepatan sedang. Sehingga, perjalanan pun menjadi mengasyikan. Saya pun bisa melihat kiri kanan dengan santainya.
Setelah lepas melewati Bululawang, perjalanan agak melambat karena jalan sedikit mulai menyempit dan arus lalu lintas pun sedang padat. Di tengah melambatnya laju mobil ini, saya pun bisa melihat pemandangan yang dilalui mobil. Sebuah kebetulan, usai melintas Pasar Krebet, saya sepintas berkesempatan memandang bangunan lawas nan luas dan megah di sebelah kiri jalan. Bangunan kuno tersebut bernama Pabrik Gula (PG) Krebet Baru. Pabrik gula ini terletak di Jalan Krebet – Srenggong No. 10 Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pabrik gula ini berada di sebelah selatan Pasar Krebet, atau tepatnya berada di pojokan lampu merah Krebet.
Beberapa bulan kemudian saya berusaha mengunjungi pabrik gula itu lagi, setelah melakukan monitoring ke Tim SMART Health Gondanglegi sambil bergerak menuju ke base camp Tim SMART Health Pakisaji. Kesempatan inilah yang menyebabkan saya bisa menurunkan sebuah tulisan mengenai riwayat PG Krebet Baru untuk diupload di Blog Kekunaan.


Setelah berakhirnya masa tanam paksa (Cultuurstelsel) pada tahun 1870, Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan dua perundang-undangan, yaitu Undang-Undang Gula (Suikerwet) dan Undang-Undang Agraria (Agrarischewet). Kedua perundangan tersebut menghapus ketentuan Cultuurstelsel yang telah berlangsung selama 40 tahun, dan sekaligus dimulailah era baru yang dikenal dengan masa liberalisme. Zaman ini adalah digantikannya fungsi pemerintahan Hindia Belanda di bidang perekonomian oleh-modal-modal swasta. Kalangan swasta mendapat peluang untuk mengembangkan modal usaha pada sektor pertanian dan perkebunan.
Kawasan Malang yang memiliki lahan subur, sangatlah cocok untuk dikembangkan menjadi areal pertanian dan perkebunan, seperti kopi, teh, kina, sayuran dan tebu. Keberadaan perkebunan tebu yang luas di kawasan Malang ini menjadi pertimbangan untuk mendirikan pabrik gula (suikerfabriek). Pemerintah Hindia Belanda akhirnya mendirikan sejumlah pabrik di daerah Malang, diantaranya adalah PG Krebet (Suikerfabriek Krebet te zuiden van Malang). Pada 1906, PG Krebet dibeli oleh Oei Tiong Ham, seorang konglomerat Semarang, melalui NV Handel Maatschappij Kian Gwan (Perusahaan Dagang Kian Gwan, tinggalan ayahnya). Selain itu, Oei Tiong Ham juga membeli pabrik gula di Pakis, Rejogaung, Tanggulangin dan Ponen. Kelima pabrik gula tersebut akhirnya diserahkan pengelolaannya di bawah NV Algemeene Maatschappij tot Exploitatie Der Oei Tiong Ham Suikerfabrieken (Perusahaan Perseroan Gula Oei Tiong Ham), sebagai anak perusahaan dari NV Handel Maatschappij Kian Gwan, dengan berkantor pusat di Semarang.
Pabrik-pabrik yang sudah dibelinya tersebut, kemudian diperbaharui dengan mendatangkan mesin-mesin baru dari luar negeri berikut dengan teknisinya. Oei Tiong Ham selalu tanggap pada gagasan-gagasan baru. Secara periodik, ia mengirimkan orang keluar negeri untuk mempelajari metode produksi yang baru. Ia bukan saja mempekerjakan orang Tionghoa yang berbakat tetapi juga manajer-manajer dan ahli-ahli teknik orang Belanda. Para pemuda Tionghoa yang terpandai di Jawa dikirim ke Rotterdam dan Delf untuk dididik. Kemudian setelah pulang, ditempatkan pada pabrik-pabrik gula dan tapioka untuk membantu dalam elektrifikasi dan reorganisasi pabrik-pabrik tersebut. Cara membina tenaga baru ini mempunyai dua keuntungan, yaitu membina kesetiaan pada perusahaan dan memungkinkan pimpinan perusahaan untuk memilih pendidikan yang sesuai bagi ahli-ahlinya.
Hasilnya, kelima pabriknya memberikan kontribusi produksi gula yang cukup baik. Dengan memiliki total luas areal kurang lebih 17.500 acre atau 1.082 hektar untuk kelima pabrik gulanya tersebut, PG Krebet mampu memproduksi 21.000 ton per tahun Produksi PG Krebet tersebut menduduki nomor dua setelah PG Rejoagung (35.000 ton/tahun), kemudian disusul PG Tanggulangin (20.500 ton/tahun), PG Pakis (13.00 ton/tahun) dan PG Ponen (12.000 ton/tahun).
Dari hasil produski tersebut, kelima pabrik gula Oei Tiong Ham menjadi terdepan dalam hal penanaman maupun dalam peralatan teknisnya, sekaligus mampu memasok gula terbesar bagi seluruh Hindia Belanda. Pada awal abad ke-20 industri gula merupakan salah satu industri terpenting di Hindia Belanda. Pada masa itu, industri gula Jawa mampu menghasilkan ¾ dari ekspor Jawa secara keseluruhan dan telah menyumbang ¼ dari seluruh pendapatan di Hindia Belanda.
Penurunan industri gula (termasuk PG Krebet) terjadi setelah Perang Dunia (PD) I, tepatnya pada decade 1920-an pasar dunia kelebihan pasokan gula sebagai aikibat dari peningkatan produksi gula dari berbagai wilayah dan ditemukannya teknologi bit di Eropa dan Amerika. Keadaan ini kemudian diperparah lagi dengan munculnya depresi ekonomi pada tahun 1930-an. Akibatnya banyak sekali dampak yang diterima oleh PG Krebet ini, yaitu pengurangan produksi, pemutusan hubungan kerja dan pengurangan lahan tanam hingga PG Krebet sempat digadaikan kepada De Javasche Bank Malang untuk membantu dalam permodalan. Lalu, PG Krebet bisa berproduksi lagi.
Pada waktu terjadi Agresi Militer Belanda 1947, PG Krebet mengalami kerusakan yang cukup parah akibat pecah perang fisik antara pasukan Indonesia dan militer Belanda, sehingga pabrik tersebut tidak bisa beroperasi lagi untuk aktivitas produksi. Atas desakan dari Indonesia Maskapai Andal Koperasi Pertanian Tebu Rakyat Malang Selatan (IMA PETERMAS), maka pada tahun 1953 dilakukan pembangunan pabrik gula yang mengalami kerusakan kepada Kelompok Usaha Oei Tiong Ham (Oei Tiong Ham Concern) yang bekerjasama dengan Bank Industri Negara, dan atas izin bersyarat dari Kementerian Agraria kala itu, pada 3 Oktober 1954 pabrik gula tersebut mulai produksi lagi dengan nama NV PG Krebet Baru.
Selang tiga tahun kemudian, PG Krebet Baru sudah dapat memproduksi gula dengan kualitas Superior High Sugar (SHS) di mana semenjak pembangunan kembali tersebut baru mampu memproduksi gula High Sugar (HS). Seiring dengan adanya kebijakan dari Pemerintah Indonesia pada waktu itu, pada tahun 1961 semua perusahaan milik Oei Tiong Ham Concern (OTHC) yang berada di wlayah Indonesia diambil alih oleh Pemerintah Indonesia. Kegiatan perusahaan tetap berjalan di bawah pengawasan Menteri/Jaksa Agung RI. Kemudian pada tahun 1963, perusahaan dan pengelolaan atas harta kekayaan bekas OTHC diserahterimakan dari Menteri/Jaksa Agung RI kepada Menteri Urusan Pendapatan, Pembiayaan dan Pengawasan (P3), kemudian menjadi Departemen Keuangan RI.
Oleh Departemen Keuangan RI, pada tahun 1964 dibentuklah PT Perusahaan Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN) Rajawali Nusantara Indonesia, atau yang disingkat menjadi PT Rajawali Nusantara Indonesia, yang merupakan BUMN.
Pada tahun 1968, produksi PG Krebet Baru sudah mampu mencapai 1.600 Ton Cane Per Day (TCD). Dengan fasilitas pemerintah dalam rangka penanaman modal dalam negeri berupa perbaikan dan penggantian mesin yang sudah tua, maka kapasitas giling PG Krebet Baru ditingkatkan menjadi 2.000 TCD.
Pada tahun 1976, dibangun pabrik gula dengan nama PG Krebet Baru II untuk menggantikan pabrik gula yang lama. Namun, atas permintaan Gubernur Jawa Timur ketika itu, agar pabrik gula yang lama (PG Krebet Baru I) tetap dioperasikan, sehingga kapasitas produksi bisa menjadi 5.000 TCD.
Mulai tahun 1982, kapasitas giling PG Krebet Baru I sebesar 2.800 TCD sedangkan PG Krebet Baru II sebesar 3.600 TCD. Kemudian pada tahun 2009, kapasitas giling PG Krebet Baru I menjadi 6.500 TCD sedangkan PG Krebet Baru II menjadi 5.500 TCD, dan akan ditingkatkan sesuai dengan kondisi.
Selain masih berkesinambungannya proses produksi, PG Krebet Baru menyimpan riwayat pergulaan yang pernah berjaya di Hindia Belanda. Oleh sebab itu, melestarikan PG Krebet Baru sejatinya juga merawat warisan bangunan kuno yang ada di Kabupaten Malang (Malang Heritage). *** [290916]

Kepustakaan:
Apriliawati, Ningrum, 2010. Perkembangan Bisnis Gula Oei Tiong Ham di Jawa 1894-1924, dalam Skripsi di FIB UI
Wardana, Amri Eka, 2013. Dinamika Pabrik Gula Krebet Malang 1906-1957, dalam e-Journal Pendidikan Sejarah AVATARA Volume 1, No. 1, Januari
http://pgrajawali1.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=38&Itemid=80

Sabtu, 17 Desember 2016

Toko Avia Malang

Jalan Jaksa Agung Suprapto di Kota Malang, merupakan jalan dengan kelas arteri sekunder dengan panjang jalan 1366,988 meter dan lebar ruang milik jalan mencapai 21 meter. Pada masa kolonial, jalan ini lebih dikenal dengan nama Celaket, dan nama Celaket ini tiada duanya.
Koridor jalan ini memegang peranan yang penting dalam periode waktu yang telah berjalan. Karena, selain menghubungkan ke Surabaya, jalan ini juga menjadi salah satu saksi sejarah dari perkembangan Kota Malang. Makanya wajar, bila di sepanjang jalan banyak bertebaran bangunan lawas. Salah satunya adalah Toko Avia. Toko ini terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto No. 1B Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi toko ini berada di depan Mc Donald’s Kayutangan atau Hotel Trio Indah 2, dan tak jauh dari PT PLN Persero Area Malang.


Awalnya, Toko Avia ini merupakan salah satu toko yang bertempat di kompleks pusat perbelanjaan yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930. Pusat perbelanjaan tersebut diberi nama ‘Lux’ (winkelcomplex ‘Lux’). Di dalam kompleks pusat perbelanjaan tersebut, dulunya banyak toko yang menempati, seperti Toko Semarang yang kemudian berubah menjadi Toko Avia.
Keberadaan pusat perbelanjaan tersebut, kala itu tidak terlepas dari perkembangan pembangunan yang berada di Celaket. Pada masa kolonial, Celaket merupakan jalur poros Kotapraja (Gemeente) Malang, dan sekaligus tumbuh menjadi wilayah komersial dan perniagaan juga. Karena lokasinya yang strategis pada waktu itu, Toko Avia (dulu masih bernama Toko Semarang) menjadi salah satu jujukan bagi orang-orang Eropa untuk berbelanja. Kebetulan, lokasi yang pas berada di pertigaan di Kayutangan tersebut merupakan tempat pemberhentian dan berkumpulnya tentara Belanda. Mereka pada umumnya mengisi bekal dengan berbelanja di pusat perbelanjaan atau pertokoan ini.
Ketika masa pendudukan Jepang, toko ini masih tetap buka. Hanya saja, pembeli yang datang bukanlah dari kalangan orang Eropa melainkan para serdadu Jepang. Toko ini memang tergolong lengkap pada masa itu, dan yang berbelanja pun dari kalangan tertentu karena memang berada di kompleks pusat perbelanjaan yang mewah.
Bangunan Toko Avia ini tidak mengalami perubahan dalam fasadnya. Masih sama seperti pada waktu masa kolonial. Kalau pun ada renovasi, sebatas pada interiornya saja tanpa mengubah bentuk aslinya. Sebagai bangunan kuno, Toko Avia mempunyai sejarah yang panjang bagi Kota Malang dan menjadi salah satu landmark yang ada di kota tersebut. *** [280516]

Kamis, 15 Desember 2016

Apotek Kabupaten Malang

Menyusuri Jalan Basuki Rahmat, Anda akan menyaksikan beberapa bangunan lawas yang ada di Kota Malang. Jalan Basuki Rahmat ini, dulunya dikenal dengan Jalan Kayutangan (Kajoetanganstraat), yang merupakan salah satu kawasan bersejarah di Kota Malang. Semula merupakan lahan kosong yang luas, kemudian menjadi pemukiman orang Eropa yang yang bercorak kolonial, dan setelah itu berkembang menjadi koridor perdagangan dan pertokoan orang Belanda yang terkemuka di Malang pada waktu itu.
Salah satu tempat usaha bercorak kolonial yang masih bisa dilihat sampai sekarang adalah Apotek Kabupaten. Apotek ini terletak di Jalan Basuki Rahmat No. 11 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi apotek ini berada di sebelah utara Toko Oen, yang berdampingan dengan Telkom Kayutangan.


Bangunan Apotek Kabupaten ini, awalnya merupakan sebuah apotek (drogisterij) yang bernama De Rijzende Zon (Matahari Terbit) yang berdiri sekitar tahun 1930-an. Apotheek De Rijzende Zon dikenal dengan harga yang murah bila dibandingkan dengan apotek lainnya yang ada di Kayutangan karena menjualnya dengan harga grosir. Karyawan-karyawannya yang bertugas di apotek tersebut, terdapat beberapa etnis Tionghoa namun fasih berbahasa Belanda.
Di Kajoetanganstraat kala itu terdapat beberapa apotek. Selain Apotheek De Rijzenden Zon, juga terdapat NV Apotheek Malang (Malangsche Apotheek) maupun NV Apotheek de Salamander. Sehingga, persaingan antar apotek pun saat itu sudah berjalan dengan ketat.
Bangunan apotek yang berarsitektur Nieuw Bouwen tersebut, sampai sekarang masih berdiri. Hanya saja telah berganti nama menjadi Apotek Kabupaten. Semenjak bangunan ini didirikan sampai sekarang, peruntukkannya memang untuk apotek.
Apotek selain memiliki fungsi sosial sebagai tempat pengabdian dan pengembangan jasa pelayanan pendistribusian dan informasi obat perbekalan kesehatan, apotek juga mempunyai fungsi ekonomi yang mengharuskan suatu apotek memperoleh laba untuk meningkatkan mutu pelayanan dan menjaga kelangsungan usahanya.
Oleh karena itu sebagai upaya agar para apoteker pengelola Apotek Kabupaten dapat melaksanakan pelayanan kefarmasian yang profesional, senantiasa merujuk kepada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek. Adapun tujuan dikeluarkannya keputusan tersebut, adalah sebagai pedoman praktek apoteker dalam menjalankan profesi, melindungi masyarakat dari dari pelayanan yang tidak profesional serta melindungi profesi dalam menjalankan praktek. Dan, yang tak kalah pentingnya, pihak pengelola Apotek Kabupaten juga mampu mempertahankan bangunan lawas yang menjadi tempat usahanya. *** [280516]

Kamis, 08 Desember 2016

Pesarean Gunung Kawi

Saya mendengar kisah Gunung Kawi semenjak masih di bangku SD. Kisahnya berkisar masalah pesugihan. Kata-kata yang masih mengiang di telinga saya adalah kalau ingin sugih (kaya) ya ke Gunung Kawi saja. Kata-kata ini lama mengendap di dalam pikiran saya, hingga akhirnya bisa kesampaian mengunjungi Gunung Kawi. Bermula dari diajak oleh Tim SMART Health Kepanjen untuk plesiran ke Gunung Kawi, saya berkesempatan bertandang ke Gunung Kawi.
Pikiran saya yang semula membayangkan keindahan pemandangan pegunungan yang berhawa sejuk, segar dan asri tersebut, ternyata hilang di balik rerimbunan pepohonan yang besar dan berusia tua. Kisah Gunung Kawi yang begitu melegenda tersebut, ternyata berasal dari makam yang ada di dalam pendopo di lereng gunung tersebut. Makam tersebut dikenal sebagai Pesarean Gunung Kawi.
Pesarean ini terletak di Dusun Wonosari No. 46 RT. 09 RW. 05 Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pasarean ini berada di sebelah utara Pasar Desa Wonosari.
Kata pesarean diambil dari bahasa Jawa yang artinya kuburan. Jadi, Pesarean Gunung Kawi maksudnya adalah kuburan atau makam yang berada di lereng Gunung Kawi. Namun demikian, tidak semua makam yang berada di lereng Gunung Kawi termasuk ke dalam pengertian Pesarean Gunung Kawi ini.
Yang dimaksud Pesarean Gunung Kawi sesungguhnya mengacu kepada makam Kyai Zakaria II (Mbah Joego) dan Raden Mas Iman Soedjono. Kyai Zakaria II di kalangan Tionghoa disebut sebagai Taw Low She, yang artinya Guru Besar Pertama. Sedangkan, RM Iman Soedjono di kalangan Tionghoa lazim disebut sebagai Djie Low She, yang artinya Guru Besar Kedua.


Menurut R. Soelardi Soeryowidagdo dalam bukunya, Pesarean Gunung Kawi: Tata Cara Ziarah dan Riwayat Makam Eyang Panembahan Djoego, Eyang Raden Mas Iman Soedjono di Gunung Kawi (1989:8) dijelaskan bahwa, berdasarkan Surat Keterangan yang dikeluarkan oleh Pengageng Kantor Tepas Darah Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Nomor 55/TD/1964 yang ditandatangani oleh Kanjeng Tumenggung Danoehadiningrat pada tanggal 23 Juni 1964, diterangkan silsilah Kyai Zakaria II.
Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I, yang memerintah Kraton Mataram dari tahun 1705 hingga 1719, memiliki putra bernama Bandoro Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro. Pangeran ini mempunyai putra bernama Kanjeng Kyai Zakaria I. Beliau adalah seorang ulama besar di lingkungan Kraton Mataram di Kartasura ketika itu. Kemudian, Kyai Zakaria I berputra Raden Mas Soeryokoesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo.
Semasa mudanya, Raden Mas Soeryokoesoemo menunjukkan minat yang besar untuk mempelajari agama Islam. Setelah dewasa, Raden Mas Soeryokoesoemo terlihat kemampuannya yang mumpuni dan ketekunannya dalam mempelajari hal-hal keagamaan. Atas dasar itu, Sri Susuhunan Paku Buwana V berkenan mengubah nama Raden Mas Soeryokoesoemo sesuai Peparing Dalem Asmo (Pemberian Nama oleh Sri Susuhunan) menjadi Kanjeng Kyai Zakaria II.
Dalam perjalanan hidupnya, Kanjeng Kyai Zakaria II menaruh minat terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro. Minat inilah yang kemudian menghantarkan beliau untuk bergabung dalam perjuangannya. Karena kecakapannya, Kanjeng Kyai Zakaria II masuk dalam bhayangkara atau prajurit kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam perang besarnya melawan Kompeni Belanda, atau yang terkenal dengan Perang Jawa (20 Juli 1825 – 30 Maret 1830).
Pada saat Pangeran Diponegoro terjepit dalam perundingan dengan Kompeni Belanda di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock di Magelang pada tanggal 28 Maret 1830, beliau menyadari akan ditangkap. Sebagai seorang pimpinan perjuangan yang bertanggung jawab maka sebagai upaya final, beliau mengajukan tuntutan akhir, yaitu beliau bersama keluarga terdekat bersedia ditangkap, asalkan bhayangkara dan seluruh lascar bersama keluarganya dibebaskan, dan diberi kesempatan pulang ke daerah asalnya masing-masing. Bila tuntuntan itu tidak dipenuhi, dengan keterbatasan personil dan senjata, Pangeran Diponegoro bertekad akan berperang habis-habisan.


Menyadari bahwa charisma Pangeran Diponegoro di daerah pedalaman Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat sangat besar, dengan berbagai pertimbangan akhirnya Kompeni Belanda memenuhi tuntutan tersebut. Setelah kalah dalam perundingan yang licik dan tidak terhormat itu, selanjutnya oleh Belanda Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang dan kemudian dibawa ke Batavia. Selanjutnya beliau diasingkan ke Manado dan terakhir dipindahkan ke Makasar. Akhirnya beliau wafat di dalam benteng Rotterdam di Makasar pada tanggal 8 Januari 1855. Peristiwa ini diabadikan oleh seorang pelukis Belanda bernama Nicolaas Pieneman dalam lukisannya yang diberi judul De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal baron De Kock (Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal De Kock. Lukisan minyak di atas kanvas berukuran 77 cm x 100 cm tersebut sekarang disimpan di Rijksmuseum, Belanda.
Setelah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang, Kyai Zakaria II menyingkir untuk menghindari dari penangkapan Kompeni Belanda terhadap dirinya. Beliau menyelamatkan diri ke daerah Sleman, terus ke Nganjuk, Bojonegoro, dan kemudian ke Blitar. Pada waktu di Blitar, beliau merasa sudah jauh dari kejaran Kompeni Belanda, namun ternyata masih berdekatan dengan Kadipaten di bawah kekuasaan Belanda. Lalu, beliau menjauhkan diri lagi menuju ke Kesamben, sekitar 35 kilometer dari Kota Blitar. Kyai Zakaria II menetap di pinggiran Sungai Brantas di Dusun Sanan, Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Di desa ini, beliau bertemu dengan Ki Tasiman. Ketika ditanya asal-usulnya, ia merasa waspada jangan-jangan kehadirannya diketahui oleh Kompeni Belanda. Akhirnya, beliau memperkenalkan diri dengan menyembunyikan jati dirinya kepada Ki Tasiman. “Kulo niki sajoego”, katanya. “Kulo niki sajoego” merupakan kata-kata yang berasal dari bahasa Jawa, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “saya sendirian”. Menurut penangkapan telinga Ki Tasiman yang salah pengertian dikira namanya Sajoego, yang kemudian dipanggilnya dengan Pak Joego. Hal ini dibiarkan oleh Kyai Zakaria II, sehingga beliau aman dari kejaran Kompeni Belanda, dan sejak itulah beliau dikenal juga dengan nama Mbah Joego.
Mbah Joego kemudian menghabiskan sisa hidupnya di sana dengan berdakwah agama Islam. Mbah Joego meninggal dunia di padepokannya di Dusun Sanan, Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, pada Minggu Legi malam Senin Pahing pada pukul 01.30 tanggal 1 bulan Selo (Dzulhijjah) tahun 1799 Dal, atau bertepatan dengan tanggal 22 Januari 1871. Sesudah meninggal, beliau dimakamkan di Gunung Kawi sesuai dengan wasiat beliau ketika masih hidup.
Sedangkan Raden Mas Iman Soedjono adalah keturunan dari Kanjeng Raden Tumenggung Notodipo dan Raden Ayu Tumenggung Notodipo, atau cicit dari Sri Sultan Hamengku Buwana I. Raden Mas Iman Soedjono menikah dengan anggota Laskar Langen Koesoemo yang bernama Raden Ayu Saminah, atau biasa dipanggil dengan Nyi Djuwul. Laskar Langen Koesoemo merupakan laskar prajurit wanita dalam kelaskaran Diponegoro.
Sama halnya dengan Mbah Joego, Raden Mas Iman Soedjono juga merupakan bhayangkara atau prajurit terpercaya Pangeran Diponegoro dalam mengobarkan perang besar melawan Kompeni Belanda di Jawa Tengah. Ketika Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Kompeni Belanda, Raden Mas Iman Soedjono dan Kyai Zakaria II mengembara ke berbagai daerah terpencil. Kyai Zakaria II berganti nama menjadi Mbah Joego, sedangkan Raden Mas Iman Soedjono tetap menggunakan namanya namun gelar kebangsawanannya ditinggalkannya.


Semenjak Mbah Joego yang menjadi sesepuhnya meninggal, Raden Mas Iman Soedjono memutuskan untuk menetap di Dusun Wonosari. Dalam kehidupan sehari-hari, ia mengolah lahan untuk bercocok tanam padi gogo serta tanaman lainnya, seperti jagung, singkong, pisang, ubi jalar, kacang, kopi dan teh. Selain itu, beliau juga menyempatkan diri merawat dengan tekun pusara Mbah Joego.
Di samping itu, Raden Mas Iman Soedjono juga senantiasa berdakwah kepada para pengikutnya maupun para tamu yang datang ke rumahnya sekaligus berziarah ke makam Mbah Joego. Petunjuk dan pengarahan yang sering diberikan kepada tamunya adalah dakwah yang bernafaskan Islam. Penyampaiannya diwujudkan dengan pemberian benda berupa bungkusan kecil yang dinamakan “Saren Sinandi”. Materi Saren Sinandi tersebut berisi sejimpit beras, karag atau nasi kering, dan sekeping uang logam.
Sinandi berarti kiasan. Jadi, kalau pengunjung ingin mendapat petunjuk yang baik dari Raden Mas Iman Soedjono sebagai sesepuh penerus almarhum Mbah Joego, pengunjung harus bisa menguraikan arti kiasan barang yang diberikan oleh beliau berupa “Saren Sinandi” tadi. Barang inilah yang setiap tanggal 12 Suro atau 12 Muharram (1805), yaitu pada puncak acara peringatan hari wafatnya Raden Mas Iman Soedjono (bertepatan dengan 8 Februari 1876) selalu didambakan oleh segenap pengunjung Pasarean Gunung Kawi. Saren itu oleh kalangan orang Tionghoa disebut dengan ang pauw.
Pada waktu saya berkunjung ke Pasarean Gunung Kawi menjelang khaul Raden Mas Iman Soedjono, terlihat banyak orang Tionghoa yang juga berkunjung ke Pasarean tersebut. Konon, keikutsertaan warga Tionghoa ke dalam lingkungan perziarahan di Pasarean Gunung Kawi bermula dari seseorang yang bernama Tan Kie Lam. Pada waktu itu, Tan Kie Lam sempat diobati dan disembuhkan oleh Mbah Soedjo (sebutan untuk Raden Mas Soedjono) berkat air dari guci peninggalan Mbah Joego yang ada di kompleks makam. Setelah sembuh, Tan Kie Lam pun akhirnya tinggal dan berguru di Padepokan Gunung Kawi. Sebagai seorang Tionghoa, ia mungkin merasa kurang nyaman dengan mengikuti ritual cara ritual masyarakat Jawa. Akhirnya, Tan Kie Lam mendirikan sebuah kelenteng kecil sendiri untuk bersembahyang dan sekaligus untuk menghormati kedua almarhum gurunya.
Pada tahun 1931 datang lagi seorang Tionghoa yang bernama Ta Kie Yam (Pek Yam) untuk berziarah di Gunung Kawi. Pek Yam merasa tenang hidup di Gunung Kawi dan akhirnya dia menetap di Dusun Wonosari untuk ikut mengabdi kepada Mbah Joego dan Mbah Soejo dengan cara membangun jalan dari pesarean sampai ke bawah dekat stanplat. Pek Yam pada waktu itu dibantu oleh beberapa orang temannya dari Surabaya dan juga ada seorang dari Singapura. Setelah jalan itu jadi, kemudian dilengkapi dengan gapura (bentuknya berbeda dengan gapura sekarang, telah dipugar), mulai dari stanplat sampai dengan pesarean (Prastio Wardoyo, 2009).
Tetapi kepopuleran Pesarean Gunung Kawi di kalangan orang Tionghoa konon dimulai dari kesuksesan Ong Hok Liong, yang mendirikan pabrik Rokok Bentoel setelah dia datang dan berguru di Padepokan Gunung Kawi.
Menurut Mariani Samsi (Rusdi, dkk., 2009), putri sulung Ong Hok Liong, kedua orangtuanya dulu menganut kepercayaan Gunung Kawi. Hal ini bermula dari sewaktu merintis pabrik rokoknya, hidup Ong Hok Liong tidaklah mudah. Produk awal merek “Burung”, “Kendang”, “Klabang” dan “Jeruk Manis” kurang laku. Apa lagi, sekitar tahun 1935, ekonomi dunia dilanda krisis zaman Malaise. Orang mulai sering ke Gunung Kawi, termasuk salah satunya adalah Ong Hok Liong, untuk bersemedi, mencari jalan keluar lewat petunjuk supranatural.
Ketertarikannya dengan Gunung Kawi terus berlanjut. Bagi pasangan suami istri Ong, Gunung Kawi menjadi tempat mengadu jika menghadapi kesulitan. Maka ketika tahun 1935, rokok “Jeruk Manis” milik Ong Hok Liong tidak bisa berkembang, ia naik ke Gunung Kawi untuk berziarah ke makam keramat Mbah Joego. Sepulang dari Gunung Kawi itulah, Ong Hok Liong mulai menggunakan merek “Bentoel”, yang sampai lebih 60 tahun kemudian bahkan sampai sekarang masih mampu bertahan sebagai salah satu dari lima besar industri rokok di Indonesia.
Kata Mariani Samsi, nama “Bentoel” diperoleh Ong Hok Liong lewat acara semedi yang panjang. Seingatnya, ketika Ong Hok Liong bersemedi, ia melihat banyak penjual bentoel (Jawa: ubi talas) berbondong-bondong lewat. Menurut penjaga makam keramat tersebut, itu berarti bentoel adalah ilham yang diperoleh lewat semedi, dan Ong Hok Liong dianjurkan menggunakan merek “Bentoel”. “Papa percaya dan langsung membuat rokok merek cap “Bentoel”, kenang Mariani Samsi.
Keberhasilan nama Bentoel membuat PT Bentoel memelihara tradisi berkunjung ke Gunung Kawi. Setiap tahun, pada tanggal 1 Suro. Perusahaan menyelenggarakan selamatan di Gunung Kawi, menggelar wayang kulit selama dua hari dua malam, lengkap dengan suguhan daging sapid an kambing. Untuk menokong acara selamatan Gunung Kawi, disediakan dana khusus. Semua karyawan Bentoel diajak merayakan selamatan itu.
Kabar kesuksesan Ong Hok Liong setelah berziarah ke Pesarean Gunung Kawi dengan cepat menyebar luas ke kalangan masyarakat. Selanjutnya, banyak warga yang ramai berkunjung dan berziarah di Pesarean Gunung Kawi pula. Selain itu, setiap warga yang telah merasa semakin sukses semenjak kunjungannya ke Pesarean Gunung Kawi sudah barang tentu mereka akan mengajak saudara, teman, atau relasinya.
Dari sinilah mengapa kemudian tradisi ziarah ke Pesarean Gunung Kawi semakin semarak. Dulu merupakan pesarean yang sepi, sejak tahun 1980-an Pesarean Gunung Kawi berkembang menjadi daerah tujuan wisata ziarah yang diminati oleh kalangan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari ceritera kesuksesan dari beberapa peziarah yang kemudian dimitoskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Sehingga mitos pesugihan, konon mendapatkan legitimasinya di Pesarean Gunung Kawi. *** [111016]

Kepustakaan:
Rusdi, Drs., M.Hum., dkk., 2009. Sejarah Perusahaan Rokok di Kota Malang, Malang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan P2M IKIP Budi Utomo
Soeryowidagdo, R.S., 1989. Pesarean Gunung Kawi: Tata Cara Ziarah dan Riwayat Makam Eyang Panembahan Djoego, Eyang Raden Mas Iman Soedjono di Gunung Kawi, Malang: Yayasan Ngesti Gondo
Wardoyo, Prasto, Anang, & K. Anam, 2009, Gunung Kawi Fakta & Mitos: Pesugihan atau wisata religi multicultural?, Surabaya: Lingua Kata
https://id.wikipedia.org/wiki/Penyerahan_Pangeran_Diponegoro_kepada_Jenderal_De_Kock