Balai Kota Makassar (1)

Jl. Ahmad Yani No. 2 Makassar

Balai Kota Cirebon (2)

Jl. Siliwangi No. 84 Cirebon

Balai Kota Madiun (3)

Jl. Pahlawan No. 37 Madiun

Balai Kota Lama Medan (4)

Jl. Balai Kota No. 1 Medan

Kantor Gubernur Sumatera Utara (5)

Jl. Diponegoro No. 30 Medan

Wednesday, April 23, 2014

Prasasti Mundu’an

Prasasti Mundu’an berangka tahun 728 Çaka atau 806 M dengan menggunakan aksara dan berbahasa Jawa Kuno. Prasasti ini terdiri atas dua buah lempeng berbentuk persegi panjang dibuat dari tembaga (tamra praśasti). Lempeng pertama memiliki ukuran 9,5 x 32,2 cm dengan tebal rata-rata 1 mm, sedangkan lempeng kedua berukuran 9,5 x 31,8 cm dengan bagian tepinya lebih tipis dibandingkan bagian lainnya. Setiap lempeng prasasti memuat tujuh baris tulisan.
Prasasti ini ditemukan oleh Mbok Reti (saat itu berusia 55 tahun) pada tanggal 27 November 1969 di Dukuh Toro, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Oleh Mbok Reti, prasasti yang ditemukan dalam keadaan setangkep dengan bagian yang bertuliskan menghadap ke dalam, dianggap sebagai benda keramat sehingga dijaganya dengan baik. Prasasti ini acapkali disebut juga sebagai prasasti Jumo sesuai dengan nama tempat ditemukannya.
Saat ini prasasti Mundu’an disimpan oleh Ny. Aditya (putrid almarhum Mohmmad Mohammad Umar) di rumahnya di Jalan Sriwijaya No. 92 Semarang.
Prasasti Mundu’an menyebutkan bahwa Rakai Patapān Pu Manuku menganugerahkan tanah sīma kepada hambanya yang bernama sang Patoran, sedangkan pengabdian wajib (buatthaji) yang harus diberikan kepada Rakai Patapān Pu Manuku adalah tugas menggembalakan kambing milik Rakai Patapān Pu Manuku. Pada lempeng I prasasti ini, ada keterangan mengenai sebab-sebabnya Desa Mundu’an dan Haji Huma menjadi sīma. Lebih lanjut mengenai ketentuan siapa saja yang tidak boleh memasuki wilayah ini. Bagi yang melanggar akan menemui lima bahaya besar. Ketetapan ini berlaku hingga akhir zaman.
Prasasti ini belum begitu jelas siapa yang mengeluarkannya. Menurut Mohammad Umar (1970) – pengajar jurusan sejarah IKIP Semarang pada saat itu – yang menerbitkan prasasti ini dalam bentuk makalah pada Seminar Sejarah Nasional II yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 26 hingga 29 Agustus 1970, mengutip De Casparis dalam Inscripties uit de Śailendra Tijd, Prasasti Indonesia I menyatakan teori bahwa  Rakai Patapān Pu Manuku ini kemungkinan besar adalah Rakai Patapān Pu Palar yang identik juga dengan Rakai Garung. Namun apabila ada prasasti lain yang menyebutkan nama Rakai Patapān Pu Manuku tetapi di luar kurun waktu 819-840 M, maka hal ini akan mematahkan teori de Casparis. ***

Kepustakaan:
Kuntayamah, 2009, Prasasti Mundu’an 728 S/807 M: Suatu Tinjauan Ulang,  dalam Skripsi di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia

Macan Raksasa Pernah Hidup di Sangiran

JAKARA, KOMPAS – Macan raksasa diyakini pernah hidup pada masa 1,8-0,9 juta tahun yang lalu. Temuan tulang paha jenis karnivora ini di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, menggeser keyakinan selama ini mengenai macan yang mulai hidup pada masa 0,7-0,3 juta tahun yang lalu.
“Penemuannya sudah lebih dari dua tahun lalu pada 2011, tetapi kami belum pernah mempublikasikannya. Saat ini tulang yang kekar itu juga masih berada di konservasi dan belum dipajang untuk dilihat masyarakat,” ujar Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto di Jakarta, Selasa (15/4).
Penemuan ini dahsyat karena selama ini orang mengira tidak pernah ada macan pada masa Homo erectus archaic (usia tertua). Tim dari situs Sangiran menemukannya di lempung hitam formasi Pucangan (Sangiran rawa). “Ini adalah penemuan pertama. Otentik sekali. Ini adalah macan yang usianya sangat tua. Kami sudah cek dan konfirmasi kepada palaeontolog-palaeontolog dunia, dan mereka membenarkan,” kata Harry.
Pada masa archaic itu, semula diyakini terdapat beberapa jenis hewan, sangat sedikit, ketika manusia mulai mengenal peralatan dari batu. Hewan yang hidup pada masa itu antara lain Mastodon sp (gajah purba tertua, 1,5 juta tahun) dan Stegodon sp (gajah, 0,8 juta tahun). Pada masa itu, rawa-rawa lebih dominan daripada tanah.
Setelah  manusia berevolusi hingga masa keemasan pada 0,7-0,3 juta tahun yang lalu, muncullah banyak sekali hewan, antara lain Elephas namadicus (gajah, 0,4 juta tahun), Hippopotamus sp (kuda nil, 0,7 juta tahun), Cervidae (kijang, rusa), Bovidae (sapi, kerbau, banteng), Rhinoceros sp (badak), dan Suidae (babi). Pada masa ini Sangiran sudah menjadi hutan terbuka akibat endapan materi-materi kerikil, pasir, dan gamping yang menutupi seluruh rawa hingga mengeras.
“Menemukan paha saja rasanya luar biasa senangnya karena susah sekali bisa menemukan lagi. Tulang belulang sudah tercerai-berai, terkena erosi, dan lain-lain. Namun, kami terus berharap ada data baru sehingga ada kemajuan teori. Seperti ditemukannya paha macan ini, kan, mengubah teori yang terbangun selama ini,” papar Harry.
Arkeolog Universitas Indonesia, hasan Jafar, menegaskan soal temuan-temuan baru yang mungkin terjadi. Ia mencontohkan goa-goa kapur yang belum lama ditemukan di Jawa Barat. “Masih mungkin ditemukan fosil lain yang bisa sangat mencengangkan. Soal pertanggalannya, kan, ada metodenya, seperti juga dipakai dalam geologi,” terang Hasan.
Hasan menambahkan, kondisi dan kehidupan masa prasejarah bisa direkonstruksi dengan detail itu salah satunya dari temuan-temuan fosil. (IVV)

Sumber: KOMPAS Edisi Rabu, 16 April 2014

Prasasti Lintakan

Prasasti Lintakan bertarikh 841 Çaka atau bertepatan dengan 12 Juli 919 M dengan memakai aksara dan berbahasa Jawa Kuno. Prasasti Lintakan dipahatkan pada tiga buah lempeng tembaga masing-masing berukuran 55,5 x 24 cm dengan ketebalan 0,3 cm. Bagian atas terdapat lubang kecil, dan bertuliskan di satu sisi masing-masing berisi 17, 20 dan 22 baris.
Prasast ini berasal dari daerah Yogyakarta. Dulunya, prasasti ini dimiliki oleh Pangeran Ngabehi di Yogyakarta lalu diberikan kepada Batavia Society pada tahun 1856, dan sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris  E13a dan c.
Prasasti ini pernah diterbitkan oleh Cohen Stuart dalam KO I, 1875: 1-6. Damais menerbitkannya dalam EEI IV, 1995: 51. Sarkar menerbitkan dalamnya Corpus vol. II, 1972: 162-182. Boechari bersama A.S. Wibowo menerbitkannya dalam PKMN, 1985/6: 46-52.
Prasasti Lintakan berisi tentang peresmian daerah perdikan di Kasugihan, Lintakan, Tunah dan Wru oleh Srī Mahārāja Rakai Layang Dyah Tlodhong Srī Sajjanasanntanuragatanggadewa untuk upacara caru bagi ayahnya yang dimakamkan di Turumangambil.
Prasasti ini menyebut Tlodhong atau Tulodhong sebagai raja, sedangka dalam pemerintahannya, yang memnduduki jabatan Rakryan Mapatih Hino bernama Mpu Ketuwijaya yang juga bergelar Sri Ketudhara Manimantaprabha Prabhusakti. Sedangkan, yang menjabat Rakryan Halu adalah MpuSindok. ***

Tuesday, April 22, 2014

Stasiun Tertinggi di Indonesia

Stasiun yang selesai dibangun sekitar 1930 ini merupakan salah satu kebanggaan pemerintah kolonial Belanda saat itu. Dalam berbagai literature, terdokumentasikan dengan baik foto-foto saat kereta api berangkat dari Stasiun Cikajang, lengkap dengan orang-orang “bule” yang berpakaian rapi di sekitar stasiun. Di latas belakangnya menjulang tinggi Gunung Cikuray yang menjadi kebanggaan masyarakat Garut.
Jika diambil foto stasiun saat ini, kondisi gunung di sekitarnya tidak banyak berubah. Gunung Cikuray tetap berdiri angkuh meski hutannya mulai gundul. Namun, kondisi stasiun sudah sangat jauh berbeda. Stasiun yang dulunya megah, kini telantar dan rusak di banyak bagian. Atapnya hancur, sedangkan dindingnya roboh di beberapa bagian. Tiang penyangga atap mulai rapuh, sedangkan kayu jendela raib entah ke mana. Lebih menyedihkan lagi, masyarakat mendirikan bangunan seenaknya di lahan stasiun bersejarah itu.
Jalur rel kereta api, misalnya, hanya sebagian kecil yang tersisa. Sebagian besar lainnya terkubur dan diokupasi perumahan penduduk. Papan bertuliskan “Tanah Milik PT KAI” bukan hanya diabaikan, melainkan dilecehkan warga. Dengan leluasa warga membangun warung, rumah, kandang hewan, hingga gudang di tanah milik PT KAI.
“Penyerobotan lahan sangat cepat terjadi. Mei 2013, kami ke sini, penyerobotan lahan tidak separah sekarang,” kata Deden Suprayitno, Koordinator Wilayah Bandung Indonesian Railways Preservation Society (IRPS), yang menyaksikan kondisi Stasiun Cikajang sekarang.

Sentra perkebunan
Ketika membangun rel kereta api Garut-Cikajang sepanjang 28 kilometer sekitar 1928,pemerintah kolonial Belanda tentu memiliki perhitungan matang. Investasi yang dikeluarkan untuk membangun rel kereta api pastilah tidak sedikit karena jalur Cikajang-Garut berada di dataran tinggi penuh perbukitan.
Meskipun demikian, hanya dalam waktu sekitar dua tahun, jalur itu selesai dibangun dan 30 Agustus 1930, Stasiun Cikajang Garut mulai beroperasi. Jalur ini terhubung ke Garut-Cibatu sepanjang 19 kilometer, lalu Cibatu ke Bandung dan terus ke Batavia.
Pemerintah kolonial Belanda berambisi membangun jalur rel kereta api ke Garut karena Garut yang berhawa dingin, saat itu menjadi sentra perkebunan teh yang terkenal berkualitas tinggi.
“Selain teh, kereta api juga mengangkut kina, karet dan berbagai hasil perkebunan lainnya ke Batavia,” kata Undang (82), yang sejak 1936 menetap di sekitar Stasiun Cikajang dan menjadi petugas stasiun hingga 1972.

Jadi “garasi” mobil
Sisa-sisa kehebatan Garut sebagai sentra perkebunan masih terlihat hingga kini. Di Stasiun Cisurupan, yang terletak sekitar tiga kilometer setelah Stasiun Cikajang, jarak antara peron stasiun dan rel kereta api relatif jauh dibandingkan stasiun-stasiun lainnya di Jawa.
“Ini menunjukkan lahan stasiun dipakai untuk menumpuk hasil bumi sehingga mudah saat dinaikkan ke atas kereta api,” kata Deden.
Namun, seperti Stasiun Cikajang, Stasiun Cisurupan yang merupakan stasiun tertinggi kedua di Tanah Air dengan ketinggian 1.215 meter di atas permukaan laut, kondisinya telantar. Stasiun ini sekarang dijadikan “garasi” mobil-mobil tua yang rusak.
Antara Stasiun Cikajang dan Stasiun Cisurupan, terdapat jembatan berangka 1928 setinggi 30 meter yang masih kokoh hingga kini. “Kemungkinan angka ini menunjukkan, jembatan selesai dibangun 1928,” kata Deden.
Sayangnya, jembatan ini telah berubah fungsi. Jembatan yang menghubungkan dua bukit ini tidak lagi dilintasi kereta api. Jalur rel ditutup beton, kemudian digunakan penduduk untuk lintasan orang dan sepeda motor.
Perubahan fungsi jembatan, seiring dengan “penutupan sementara” jalur kereta api Garut-Cikajang sepanjang 28 kilometer pada November 1982. Disusul penutupan lintasan kereta api Garut-Cibatu sepanjang 19 kilometer sejak 9 Februari 1983.
Meski dinyatakan “tutup sementara”, hingga kini atau 30 tahun kemudian, jalur kereta api tersebut tetap tidak berfungsi. Rel-rel lama dibiarkan telantar tanpa perawatan sehingga diokupasi menjadi permukiman.
Stasiun-stasiun yang berdiri sepanjang Cikajang-Garut juga dibiarkan rusak dan tidak dipedulikan. Stasiun Bayongbong yang sangat tersohor, misalnya, kini sulit dicari karena bangunan utama sudah tertutup permukiman liar. Stasiun Garut bahkan berubah fungsi menjadi kantor secretariat organisasi kepemudaan. Warna alami stasiun berubah menjadi oranye terang, khas warna organisasi kepemudaan.
Nasib stasiun-stasiun bersejarah itu sama dengan Stasiun Cikajang yang dalam buku Sejarah Perkeretaapian di Indonesia I ketinggiannya sama dengan Terowongan St Gotthard di Swiss. Bedanya, terowongan Gotthard di Swiss masih terpelihara dengan baik.
Stasiun Cikajang tinggal kenangan karena termakan zaman. Sayang, Stasiun Cikajang yang meyimpan sejarah sebagai stasiun tertinggi di Tanah Airtidak berumur panjang. [NAWA TUNGGAL DAN TRY HARIJONO]

Sumber: KOMPAS Edisi Rabu, 16 April 2014

Prasasti Tempuran

Prasasti Tempuran berangka tahun 1388 Çaka atau 1466 M dengan ditulis dalam aksrara dan berbahasa Jawa Kuno. Aksara tersebut dipahatkan di semua sisi dengan jumlah 7 baris pada sisi depan, 7 baris di sisi kiri, 10 baris di sisi belakang, dan 11 baris di sisi kana, dengan kondisi huruf yang cukup baik pada sisi depan, sisi kiri, dan sisi kanan, akan tetapi kuran jelas pada sisi belakang. Pada bagian puncak prasasti terdapat angka tahu 1388 yang ditulis dengan menggunakan aksara kuadrat tipe Majapahit.
Prasasti ini terbuat dari batuan andesit (upala praśasti) dengan bentuk blok berpuncak  kurawal, yang memiliki ukuran tinggi 101 cm, lebar 33 cm, dan tebal 19 cm. Sedangkan pada bagian kaki prasasti terpendam sekitar 15 cm.
Prasasti ini dtemukan di halaman Padepokan Telasih Mpu Supoh di Dusun Sumber Tempur (Tempuran), Desa Sumber Girang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Padepokan Telasih Mpu Supoh ini merupakan milik pribadi pimpinan Raden Suroso Wiro Kadek Wongso Jumeno, dikenal Bapak Bambang. Konon, prasasti ini ditemukannya melalui wangsit atau mimpi. Beliau mendengar seruan untuk menggali di suatu tempat. Sekarang merupakan tempat prasasti Tempuran. Oleh penduduk setempat, prasasti ini masih dipakai untuk ritual keagamaan dan dikeramatkan.
Prasasti Tempuran merupakan prasasti yang dikeluarkan oleh “seorang murid” dari lingkungan kraton, mungkin sekali murid pujangga besar, atau abdi dalam raja, yang tergolong sebagai kawi-taruna.
Isi prasasti Tempuran berbentuk prosa dengan cara pembacaan dimulai dari sisi depan ke sisi kiri, sisi kanan, terakhir sisi belakang. Struktur isi prasasti Tempuran dimulai dengan seruan kepada dewa (manggala) yaitu kata Õṁ yang berarti seruan doa kepada dewa Trimurti (Brahmā, Siva, Vişņu), selanjutnya diikuti dengan kata swasti srī saka warsatīta yang berarti selamat tahun Śaka yang telah berlalu. Kemudian disusul dengan penyebutan unsur-unsur penanggalan yang merupakan waktu dikeluarkannya prasasti itu. Unsur-unsur penanggalan yang ditemukan dalam prasasti Tempuran berjumlah dua unsur, yaitu wāra dan parrweśa. Wāranya berurutan terdiri dari sadwāra, pañcawāra, saptawāra dan parrweśanya saśi.
Setelah unsur-unsur pertanggalan disebutkan, kemudian dilanjutkan dengan uraian isi prasasti yaitu seorang pemuda yang memiliki seratus keinginan untuk berbuat kebaikan kepada gadis yang baik hati. Pemuda itu bernama Śi Lima yang jatuh hati pada seorang gadis saat bertemu di sebuah perayaan besar. Śi Lima merasa sangat menyesal karena telah meliriknya. Ia mengutuk jurang pembatas yang menghalanginya untuk dekat dengan gadis itu. ***

Kepustakaan:
Maharani Dewi Susanto, 2009, Prasasti Tempuran Tahun Śaka 1388, dalam Skripsi di Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

Monday, April 21, 2014

Mbah Sholeh, Makamnya ada Sembilan

Mbah Sholeh adalah tukang sapu masjid Ampel yang hidup sezaman dengan Sunan Ampel. Bila menyapu sangatlah bersih, sehingga orang yang sujud di masjid tidak merasa ada debu di dahinya.
Ketika mbah Sholeh wafat, dikuburlah di muka masjid. Ketika masjid menjadi kotor, lalu terucaplah oleh Sunan Ampel: “Bila mbah Sholeh hidup tentu bersihlah masjid.” Mendadak mbah Sholeh ada di pengimaman masjid sedang menyapu. Beberapa bulan kemudian wafatlah mbah Sholeh dan dikubur  di samping timur kuburannya yang dahulu.
Kemudian terucaplah Sunan Ampel seperti semula sehingga mbah Sholeh hidup lagi. Setelah kuburannya ada delapan, wafatlah Sunan Ampel. Beberapa bulan kemudian mbah Sholeh wafat, sehingga kuburannya sebanyak sembilan. Kuburannya yang terakhir berada paling timur.

Shonhaji

Shonhaji adalah murid Sunan Ampel. Pada waktu pembangunan masjid Agung Sunan Ampel, Shonhajilah yang mengatur letak pengimamannya. Setelah masjid jadi, teman-temannya meragukan letak kiblatnya, lalu bertanya: “Apa betul letak kiblat masjid ini?”
Kemudian Shonhaji melubangi dinding pengimaman sebelah barat, lalu berkata: “Lihat lubang ini, Ka’bah dapat terlihat!” Lalu orang-orang sama melihat lubang itu dan melihat Ka’bah di lubang itu. Setelah peristiwa itu, Shonhaji dijuluki mBah Bolong.
Hampir semua didikan Sunan Ampel memiliki karomah. Sunan Ampel memang sangat menakjubkan hasil didikannya, hampir semua mempunyai karomah, hal ini perlu dipelajari oleh para Kiai atau ustadz yang mempunyai pesantren demi berhasilnya didikan.

Murid-muridnya antara lain:
  1. Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
  2. Sunan Kalijaga (Raden Syahid)
  3. Sultan Demak (Raden Fatah)
  4. Syeikh Siti Jenar (Ali Saksar)
  5. Batara Katong bin Brawijaya