Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Monday, July 16, 2018

LAPAS Klas IIB Blitar

Sewaktu menunggu dijemput ibu-ibu kader Kepanjen yang terlebih dahulu berada di Kota Blitar, saya pun menunggu di Alun-Alun Kota Blitar. Hal ini dilakukan agar mudah menemukannya, karena keberadaan alun-alun di suatu daerah pasti mudah dikenali.
Sambil menunggu jemputan, saya pun berusaha berkeliling di sekitaran alun-alun itu. Pada saat mengelilingi alun-alun di sebelah timur, saya melihat bangunan lawas dan luas. Ukurannya tampak muka dari bangunan kuno itu seimbang dengan ukuran lebar yang dimiliki oleh alun-alun itu.
Bangunan lawas itu merupakan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Blitar. Lapas ini terletak di Jalan Merapi No. 2 RT. 04 RW. 02 Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi Lapas ini berada di sebelah timur Alun-Alun Kota Blitar.
Menurut catatan sejarah yang ada, bangunan lapas ini didirikan pada tahun 1881 oleh pemerintah Hindia Belanda setelah alun-alun selesai dibangun. Dulu, masih bernama Rumah Penjara Blitar atau dalam bahasa Belandanya, De Gevangenis in Blitar lag aan de zuidkant van de alon-aloon (Penjara di Blitar berada di sisi selatan alun-alun).


Dalam tata letak alun-alun, diterapkan sebuah pakem Catur Tunggal yang juga digunakan oleh daerah-daerah lain di wilayah Jawa Timur seperti Lumajang, Probolinggo dan Jember, yakni dikelilingi oleh kediaman penguasa pada bagian utara, penjara pada bagian timur, kantor pemerintahan pada bagian selatan, dan masjid pada bagian barat. Jadi, penjara atau lapas umumnya berada di sebelah timur alun-alun. Bagi pemerintah Hindia Belanda, lokasi penjara yang demikian itu juga memungkinkan untuk mempermudah garis koordinasi antara penguasa dengan tempat tahanan.
Dalam laporannya Holterman yang termuat di Rapport internering Blitar (Laporan internal Blitar) dijelaskan, bahwa pada masa kepemimpinan A. Badal kondisi penjara kurang baik. Asupan nutrisi untuk para tahanan sangat sedikit. Selnya berjubel melebihi kapasitas. Hal ini juga diceriterakan oleh Walraven ketika berkesempatan mengunjungi penjara yang ada di sebelah timur alun-alun itu, bahwa penjara itu ‘jelek’.


Dalam perjalanannya, bangunan penjara yang memiliki luas 6.070 m² ini pernah mengalami beberapa kali perubahan nama. Di awali dari nama Rumah Penjara Blitar (1881-1964), kemudian berganti menjadi Lembaga Pemasyakatan Blitar (1964-1995), dan pada 1995-2003 bangunan itu berganti nama menjadi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Blitar. Selajuntnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.05.PR.07.03 Tahun 2003 Tanggal 16 April 2003, bangunan peninggalan Hindia Belanda berubah nama lagi menjadi Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Blitar. Oleh karena itu, bangunan tersebut sekarang dikenal dengan Lapas Klas IIB Blitar.
Lembaga pemasyarakatan (Lapas) merupakan tempat melaksanakan pembinaan narapidana, dan anak didik pemasyarakatan, termasuk juga dengan apa yang dilakukan oleh Lapas Klas IIB Blitar ini. Lapas ini juga melaksanakan tugasnya dengan melakukan pembinaan narapidana/anak didik, memberikan bimbingan, mempersiapkan sarana dan mengelola hasil kerja, dan melakukan bimbingan sosial/kerohanian narapidana/anak didik. Hal ini bertujuan agar supaya para narapidana atau anak didik pemasyarakatan setelah bebas bisa menjalani hidupnya secara ‘normal’ kembali. *** [100718]

Jembatan Lahor Karangkates

Usai meeting membahas Scaling Up SMARThealth di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, saya bergegas memacu sepeda motor Honda REVO tahun 2015 untuk menyusul ibu-ibu kader Kepanjen yang sedang melakukan touring ke Kota Blitar. Perjalanan dari Kepanjen menuju ke Blitar pun saya lakoni dengan kecepatan sedang. Setelah jalan besar sesudah melewati jembatan yang melintasi Sungai Lahor menanjak dan berbelok-belok, saya berhenti di tepi jalan di mana saya bisa melihat jembatan kereta api yang tinggi melintasi Sungai Lahor. Jembatan kereta api itu dikenal dengan Jembatan Lahor Karangkates (Spoorbrug op de Lahor-rivier bij Karangkates). Jembatan ini terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. Di sebelah timur jembatan masuk dalam wilayah administrasi Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, dan ujung jembatan yang berada di sebelah barat masuk Dusun Ngelahor, Desa Selorejo, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar.


Pembangunan jembatan ini berkaitan dengan adanya proyek pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen sepanjang 55 kilometer yang dikerjakan oleh Staatsspoorwagen (SS), dari tahun 1895 sampai dengan tahun 1897. SS adalah perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1875. SS menjadi perusahaan besar pesaing Nederlandsch-Indische Spooweg Maatschappij (NIS).
SS sendiri terbagi dalam beberapa wilayah operasional. SS Oosterlijnen mendominasi area jalur kereta api di Jawa Timur (terutama wilayah selatan dan timur) dan sedikit di wilayah Jawa Tengah. Termasuk jalur SS yang menyatu dengan jalur NIS di lintas Surakarta-Yogyakarta, yang berlanjut dari Surakarta ke Madiun. Sementara itu, SS Westerlijnen menguasai jalur selatan Jawa Tengah hingga Priangan. Mulai dari Yogyakarta menuju Kroya, di mana terdapat percabangan lintas selatan menuju Priangan selatan hingga Bandung-Bogor via Sukabumi dan utara menuju Cirebon hingga Batavia. Dari Batavia, jalur SS masih berlanjut hingga ujung barat Pulau Jawa.


Proyek jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api lintas timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Jalur kereta api sepanjang 55 kilometer itu, pembangunannya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896. Kemudian dilanjutkan pembangunan tahap kedua, yaitu Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1987.
Melihat keberadaan Jembatan Lahor berada di antara Stasiun Pohgajih dan Stasiun Sumberpucung, maka berarti Jembatan Lahor itu masuk dalam pembangunan tahap kedua. Jadi, Jembatan Lahor selesai dibangun pada tahun 1897.
Jembatan tua peninggalan Hindia Belanda ini sekarang menjadi salah satu spot menarik untuk foto-foto. Pemandangannya indah dengan lembah yang dalam dan menghijau serta latar belakang Bendungan Sutami dengan 3 batang cerobong PLTA Sutami, menjadi panorama eksotis yang memanjakan mata terlebih bila bisa menyaksikan kereta api yang melintas di atas Jembatan Lahor tersebut. *** [100718]

Sunday, July 15, 2018

GPIB Jemaat Eben Haezer Blitar

Bangunan yang ada di suatu daerah merupakan simbol dari zaman yang pernah berlangsung pada saat itu. Di Kota Blitar, terdapat banyak bangunan lawas peninggalan masa Hindia Belanda yang didirikan. Salah satunya adalah Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Eben Haezer.
Gereja ini terletak di Jalan P.B. Sudirman No. 02 Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di selatan SMK Katolik Santo Yusup, atau sebelah utara PLN UPJ Blitar.
Dalam tulisannya Voorlopig overzicht van Nederlands kerkelij ergoed in Indonesiƫ uit de periode 1815-1942 (Versi Oktober 2012), Chr. G.F. de Jong menjelaskan bahwa, bangunan GPIB ini adalah bekas bangunan Indische Kerk (voormalig gebouw Indische Kerk). Bangunan gereja ini didirikan pada tahun 1932 berdasarkan tulisan dalam sebuah prasasti berbentuk plakat yang tertempel di dinding, depan pintu masuk. Prasasti berbahasa Belanda itu menerangkan bahwa peletakan batu pertama pembangunan gereja ini dilakukan oleh W. van Hattem pada 9 Maret 1932.


Indische Kerk itu kependekan (nama singkat) dari Het Protestan Kerk in Nederlandsch-Indiƫ, yakni kesatuan gereja-gereja Protestan di Indonesia yang dibentuk oleh pemerintah Kerajaan Belanda di Hindia Belanda pada tahun 1815 (baru rampung pada tahun 1835). Di dalam gereja ini segala sesuatu diurus oleh negara mulai dari tanah dan gedung gereja (biasanya yang dekat alun-alun). Oleh karena itu, Indische Kerk acapkali dikenal dengan gereja pemerintah (Staatskerk).
Pada masa pendudukan Jepang, Indische Kerk ini ditinggalkan oleh pendeta dan jemaat yang umumnya terdiri dari orang-orang Belanda. Sehingga, gereja ini sempat mengalami kevakuman dalam aktivitas gerejani. Kemudian setelah Jepang hengkang, dan Blitar kembali ke Hindia Belanda lagi maka gereja ini mulai aktif kembali secara penuh.


Pada 30 Mei – 10 Juni 1948 di Bogor diadakan Sidang Sinode Am Gereja Protestan Indonesia (GPI). Dalam sidang itu dibahas juga sisa wilayah GPI di luar GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa), GPM (Gereja Protestan Maluku) dan GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) yang juga memerlukan pelayanan gerejawi. Keputusan Sidang Sinode Am itu akhirnya memutuskan mengenai pembentukan gereja yang keempat di wilayah GPI yang tidak terjangkau ketiga gereja tersebut (GMIM, GPM, dan GMIT), diproses dalam waktu singkat, yaitu 3 bulan lamanya, dan pada 31 Oktober 1948 terwujudlah GPIB (De Protestantse Kerk in Westelijk IndonesiĆ«).
Dari hasil Sidang Sinode Am itu berarti gereja-gereja Protestan di Indonesia selain GMIM, GPM, dan GMIT berkembang dari gereja-gereja warisan pemerintah Hindia Belanda yang disebut Indische Kerk. Jadi dengan demikian, GPIB Jemaat Eben Haezer yang ada di Blitar ini juga merupakan bagian dari GPI.
Dilihat dari fasadnya, bangunan gereja ini mencirikan gaya arsitektur Neo-Gothic yang ditandai dengan menara menjulang yang berada di atas pintu masuk utama gereja ini. Di samping itu, bangunan gereja ini juga memiliki impresi ramping dan tinggi. Kesan bangunannya sebagai warisan kolonial pun masih terlihat dengan jelas. Sehingga, sudah selayaknya bangunan GPIB Jemaat Eben Haezer ini menjadi bagian dari konservasi bangunan lawas yang ada di Kota Blitar. *** [100718]

Friday, July 13, 2018

Gedung Kampus 3 Universitas Malang

Universitas Malang, atau biasa disingkat UM, merupakan sebuah universitas berstatus negeri yang ada di Kota Malang. Selain memiliki kampus utama di Jalan Semarang No. 5 Malang, juga memiliki kampus cabang yang kedua yang berada di luar Malang. Kampus itu dikenal dengan Kampus 3 UM di Kota Blitar. Gedung Kampus 3 UM terletak di Jalan Ir. Soekarno No. 1 Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di selatan Kantor Kementerian Agama Kota Blitar ± 240 m, atau timur Pasar Pon ± 230 m.
Awalnya gedung yang digunakan sebagai Kampus 3 UM ini adalah gedung Meisjes Normaalschool yang telah berdiri sejak 1909. Meisjes Normaalschool  merupakan sekolah guru khusus putri pada masa Hindia Belanda, dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima pelajar-pelajar lulusan vervolg atau Sekolah Kelas II serta bahasa pengantarnya adalah bahasa daerah.


Meisjes Normaalschool ini merupakan bagian dari lembaga keguruan yang ada di Hindia Belanda sejak permulaan abad ke-19. Selain Normaalschool, di Hindia Belanda ketika itu juga berdiri beberapa sekolah pendidikan guru lainnya seperti Kweekschool, sekolah guru empat tahun yang menerima lulusan berbahasa Belanda, Hollands Indlandsche Kweekschool (HIK), sekolah guru 6 tahun berbahasa pengantar Belanda dan bertujuan menghasilkan guru Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau Hollands Chineesche School (HCS), dan yang terakhir dari sekolah pendidikan guru yang ada di Hindia Belanda adalah Hogere Onderwijs. Sebelum itu pemerintah Hindia Belanda telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normaal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru-guru sekolah desa.
Kompleks bangunan Kampus 3 ini cukup luas, yaitu sekitar 24.570 m². Hal ini dikarenakan pada waktu itu, model sekolah keguruan umumnya berasrama. Sehingga, baik bangunan kampus maupun lahannya haruslah besar dan luas. Jadi, kemegahan bangunan Kampus 3  yang masih berdiri kokoh di sisi barat pintu masuk Kawasan Wisata Sejarah Makam Bung Karno (MBK) masih terlihat dengan jelas.


Meisjes Normaalschool yang ada di Kota Blitar ini tergolong maju kala itu. Banyak siswa Meisjes Normaalschool di sini sering menjuarai perlombaan antar-Normaalschool se-Hindia Belanda pada kurun waktu antara tahun 1930 sampai dengan tahun 1940. Selain itu yang tak kalah menariknya, Meisjes Normaalschool ini juga pernah menjadi rujukan dalam mendidik siswi Meisjes Normaalschool Makassar ketika sekolah mereka direnovasi pada 1940-an.
Pada masa pendudukan Jepang, sekolah guru ini juga dikuasai. Guru-guru yang berasal dari Belanda atau Eropa ditangkap dan dimasukkan dalam kamp interniran. Nama-nama yang berbau Belanda mulai dihapuskan. Setelah itu, sekolah guru bekas Meisjes Normaalschool ini mulai dibuka kembali, sedangkan beberapa sekolah guru swasta masih tetap ditutup. Jepang menganggap sekolah guru penting sekali, karena sekolah itu yang akan menyiapkan tenaga dalam jumlah yang besar untuk memompakan dan mempropagandakan semangat Jepang kepada anak didik.
Siswa-siswa sekolah guru swasta yang pada waktu Jepang mulai menguasai Hindia Belanda belum menamatkan pendidikannya, dipersilakan masuk di salah satu dari lima sekolah guru pemerintah yang dibuka, yaitu di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, dan Blitar. Pada masa penguasaan Jepang ini, masih ada pemisahan antara sekolah guru untuk siswa laki-laki dan sekolah guru untuk siswa perempuan. Dengan demikian di kelima kota tadi terdapat dua sekolah guru, yaitu Sekolah Guru Laki-Laki (SGL) dan Sekolah Guru Perempuan (SGP). Lama studi di Sekolah Guru ini juga masih empat tahun. Jadi, gedung bekas Meisjes Normaalschool yang ada di Blitar ini pun turut berubah nama menjadi SGP pada masa pendudukan Jepang.
Di SGP ini juga masih dilengkapi dengan asrama sebagai kelanjutan dari sistem internaat yang terdapat pada sekolah guru era Hindia Belanda. Sesuai dengan suasana politik yang ada pada waktu itu pengasramaan siswi SGP ini memudahkan pelaksanaan program-program pendidikan yang diselenggarakan di luar kelas dan menuntut partisipasi penuh dari siswi-siswinya.
Setelah Indonesia merdeka, gedung sekolah guru ini tetap dipertahankan sebagai sekolahan. SGP ini kemudian berubah menjadi Sekolah Guru Bawah (SGB). SGB merupakan sistem pendidikan untuk guru yang digelar mulai tahun 1953 yang dilanjutkan dengan Sekolah Guru Atas (SGA). Lama pendidikannya masih sama, yaitu empat tahun untuk lulusan sekolah dasar.
Pada 21 Juli 1964 kedua sekolah tersebut mulai ditingkatkan statusnya menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang setara dengan Sekolah Menengah Atas sekarang ini. Seiring dengan perkembangan dan peningkatan akan kualitas guru yang ada di Indonesia, kebijakan pendidikan menengah untuk para calon guru ini mengalami perombakan besar lagi ketika semua calon guru harus mengikuti pendidikan tinggi dengan dibentuknya Institut Keguruan dan Pendidikan (IKIP) di berbagai daerah di Indonesia.
Kebijakan yang mengharuskan calon guru harus menempuh pendidikan tinggi tersebut kemudian berimbas pula pada SPG Negeri Blitar. Pada tahun 1991 melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang saat itu dijabat oleh Fuad Hasan, pemerintah memutuskan untuk mengintegrasikan Sekolah Pendidikan Guru dan Sekolah Guru Olahraga ke dalam Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di bawah IKIP dan FKIP Universitas Negeri.
Pada keputusan tersebut, terdapat 86 SPG dan 37 SGO yang dialihkan termasuk didalamnya adalah SPG Blitar. Keputusan itu juga diikuti dengan pelimpahan aset, baik sarana dan prasarana maupun Sumber Daya Manusia (SDM) kepada IKIP Malang. Kemudian nama IKIP Malang berubah menjadi Universitas Negeri Malang berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 1999, dan pada 28 April 2011 Senat Universitas Negeri Malang memutuskan mengubah nama Universitas Negeri Malang menjadi Universitas Malang (UM). *** [100718]
   
Kepustakaan:
https://www.academia.edu/9514881/Pendidikan_Di_Indonesia_Pada_Masa_Penjajahan_Belanda_Filed_under_Makalah_by_Azkia_Alawi_Tinggalkan_komentar_15_April_2010
http://komunikasi.um.ac.id/2017/10/tiga-kampus-dua-kota-satu-jiwa-menautkan-raga-yang-terpisah/

Wednesday, July 11, 2018

Istana Gebang

Mendampingi ibu-ibu kader Kepanjen berkeliling Blitar dengan naik sepeda motor memang mengasyikan. Banyak spot-spot bersejarah yang mereka kunjungi, di antaranya adalah Istana Gebang. Istana ini terletak di Jalan Sultan Agung No. 57-59 dan 61, Kampung Gebang RT. 03 RW. 07 Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi istana ini berada di depan Kantor Dinas Pendidikan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten dan Kota Blitar, atau tenggara Taman Kebon Rojo ± 400 meter.


Istana Gebang ini semula merupakan kediaman atau rumah keluarga Soekarmini, kakak kandung Bung Karno. Rumah ini dulu dibeli oleh Raden Poegoeh Reksoatmodjo, suami dari Soekarmini, pada tahun 1917 dari seorang Belanda bernama C.H. Portier, seorang pejabat jawatan perkeretaapian Hindia Belanda di Blitar. Sedangkan, Raden Poegoeh Reksoatmodjo sendiri pada waktu itu adalah seorang pegawai Dinas Pekerjaan Umum di Malang. Tapi bangunan rumah ini sendiri sesungguhnya telah berusia tua karena konon, pembangunannya beriringan dengan pembangunan Stasiun Kereta Api Blitar.
Dalam documentary board yang dipasang di muka bangunan induk, dijelaskan bahwa Istana Gebang ini dulunya menjadi rumah bagi masa kecil hingga remajanya Bung Karno. Karena semenjak ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodiharjo, dipindah ke Blitar dari Mojokerto pada tahun 1917, mereka tinggal bersama dengan Soekarmini di rumahnya.


Ketika kuliah di Technische Hogere School di Bandung (sekarang ITB), Bung Karno pun masih harus sering berkunjung ke Istana Gebang baik di saat sedang liburan maupun meminta uang kuliah dan pemondokan kepada orangtuanya dan kakaknya Soekarmini. Demikian pula selepas kuliahnya di masa memimpin pergerakan kemerdekaan, Bung Karno masih sering ke Blitar untuk silaturahmi dengan orangtua dan keluarganya. Baru setelah masa pembuangan di Ende an Bengkulu, Bung Karno terpisah dengan rumah ini, orangtua, saudara dan handai taulannya.


Pada masa pendudukan Jepang, Bung Karno masih mengunjungi rumah ini meskipun tidak terlalu sering karena kegiatannya mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia dari rumahnya di Pergangsaan Timur No. 56 Jakarta. Ayah dan ibu Bung Karno sempat diboyong dari Blitar untuk tinggal di Jakarta menjelang Guntur Sukarnoputra lahir di tahun 1944, namun pada  8 Mei 1945 ayah Bung Karno berpulang kepada Sang Pencipta dan dimakamkan di pemakaman Karet (kemudian dipindah ke Blitar pada tahun 1978 bersamaan dengan pemugaran Kompleks Makam Bung Karno).
Ibu Bung Karno, Ida Aju Njoman Rai Sarimben, sepeninggal suaminya diboyong pulang ke Blitar oleh Soekarmini yang telah bersuamikan Wardojo sebagai suami keduanya yang menikah sejak tahun 1943, dan untuk selanjutnya ibu Bung Karno menjadi pepunden di rumah ini.


Rumah ini senantiasa dikunjungi oleh Bung karno setelah menjadi Presiden hingga ibunya meninggal pada 13 September 1958. Kunjungan Bung Karno ke rumah ini terus berlanjut untuk berziarah ke makam ibunya sampai awal tahun 1965 yang merupakan kunjungan terakhirnya ke rumah ini karena pergolakan perebutan kekuasaan dari tangan Bung Karno ke Soeharto yang memaksa Bung Karno untuk menjalani tahanan rumah di Wisma Yaso sampai meninggalnya pada 21 Juni 1970.
Pada tahun 2012, Istana Gebang yang dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan Dalem Gebang ini resmi diambil alih kepemilikan dan pengelolannya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar dengan membelinya seharga Rp 35 miliar dari para ahli warisnya. Dana sebanyak Rp 35 miliar diambil dari APBD Pemprov Jatim dan Rp 10 miliar dari APBD Pemkot Blitar.


Setelah menjadi milik Pemkot Blitar inilah yang semula dikenal dengan Dalem Gebang berubah menjadi Istana Gebang. Penamaan istana ini merujuk pada nama-nama tempat yang berkaitan dengan kegiatan Presiden Pertama Republik Indonesia seperti Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Batu Tulis, Istana Cipanas, dan istana-istana lainnya.
Istana Gebang memiliki luas lahan 17.000 m² ini terdiri dari 9 bangunan, yaitu rumah induk, bangunan belakang, rumah cikal bakal, paviliun, balai kesenian, dapur belakang, rumah pembantu, bekas kandang kudan, dan lumbung. Pada waktu dibeli oleh Pemkot Blitar masih 14.000 m² luasnya, kemudian lahan di samping kanan Istana Gebang juga dibeli dan disatukan dengan halaman istana tersebut.
Kini, Istana Gebang terbuka untuk umum, dan setiap harinya dijadikan tujuan wisata dan pendidikan. Banyak sekali peninggalan keluarga Bung Karno yang bisa ditemui di Istana Gebang, termasuk foto-foto keluarga, lukisan, perabotan kuno, dan mobil kepresidenan. Juga, terdapat pula replika Gong Perdamaian Dunia di area ini.
Pada peringatan hari-hari besar nasional, Istana Gebang selalu ramai kegiatan, baik oleh masyarakat setempat maupun tamu-tamu dari luar daerah. Di sini, pengunjung bisa merasakan atmosfer kehidupan Bung Karno kecil dan kentalnya ingatan sejarah tentang Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut. *** [100718]

Monday, July 9, 2018

Stasiun Kereta Api Klakah

Stasiun Kereta Api Klakah (KK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Klakah, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 193 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas II.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Klakah No. 11 Kidul Gn. RT. 02 RW. 01, Desa Mlawang, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Pasar Klakah, atau sebelah barat Monumen Kapten Suwandak ± 300 meter.


Bangunan Stasiun Klakah ini merupakan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini terkait dengan adanya pembangunan jalur rel kereta api dari Pasuruan-Probolinggo-Klakah yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, dari tahun 1884 hingga tahun 1895.
Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (oosterlijnen) sepanjang 74 kilometer. Pengerjaannya dimulai dari Pasuruan menuju Probolinggo dan selesai pada tahun 1884, selang sepuluh tahun barulah dilanjutkan pengerjaannya dari Probolinggo menuju Klakah. Stasiun Klakah ini diresmikan pada 1 Juli 1895 bersamaan dengan selesainya pembangunan jalur rel dari Probolinggo menuju Klakah sepanjang 34 kilometer.


Dilihat dari fasadnya, stasiun ini memiliki gaya arsitektur Indische Empire Style. Gaya ini mulanya berakar pada gaya arsitektur Empire Style yang ada di Eropa kemudian disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat. Gaya ini berkembang menjadi suatu gaya arstektur kolonial di Hindia Belanda pada abad ke-18 dan ke-19.
Dibandingkan dengan stasiun-stasiun yang berada di tingkat kecamatan, Stasiun Klakah ini tergolong megah dan besar. Bentuk stasiunnya menyamai dengan tipe stasiun yang dibangun di tingkat  kabupaten/kota pada umumnya. Selain itu, sebagai stasiun yang menjadi pusat percabangan ke beberapa daerah kabupaten, maka stasiun ini semula memiliki banyak jalur. Namun sekarang, tinggal terlihat 4 jalur saja. Jalur 2 digunakan sebagai sepur lurus, ke arah barat menuju Stasiun Ranuyoso dan yang ke timur menuju ke Stasiun Randugaung. Jalur 1,3 dan 4 digunakan untuk persilangan atau persusulan antarkereta api.


Di stasiun ini juga masih terlihat jalur badug/buntu yang lokasinya sejajar dengan bangunan utama stasiun, tepatnya berada di sebelah baratnya. Dulu dari jalur 3 terdapat percabangan menuju ke Lumajang hingga Pasirian sepanjang 36 kilometer. Jalur rel ini dibangun sebagai kelanjutan dari jalur rel Probolinggo-Klakah dan selesai pada 16 Mei 1896. Akan tetapi, jalur ini kemudian dinonaktifkan lantaran dikarenakan menurunnya tingkat okupansi penumpang yang cenderung menurun saat itu.
Setahun kemudian, dari Stasiun Klakah ini dilanjutkan pembangunan lintas oosterlijnen Klakah-Rambipuji-Jember sepanjang 62 kilometer. Jalur rel ini diresmikan pada 1 Juni 1897, dan masih beroperasi sampai sekarang. Dari stasiun ini dihubungkan dengan jalur 2 sebagai jalur sepur lurus yang menuju ke arah timur.
Sebelumnya Stasiun Klakah ini juga sempat mengalami kevakuman dari aktivitas sebagai layakanya sebuah stasiun tapi kemudian beroperasi lagi pada 6 Mei 2015. Dilihat dari letak stasiun ini sebenarnya stasiun ini terbilang cukup strategis dan bangunannya tergolong besar. Sehingga kedepannya ditengah menguatnya manajemen yang lebih baik dari PT KAI, kemungkinan semakin berkembangnya stasiun ini sangatlah propestik seiring ‘naik daunnya’ transportasi kereta api di tanah air. *** [070718]

Stasiun Kereta Api Leces

Stasiun Kereta Api Leces (LEC) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Leces, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 48 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Leces, Dukuh Krajan I, Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah depan Bank Jatim Cabang Pembantu Leces, atau sebelah selatan Apotek Abdullah.


Bangunan Stasiun Leces ini merupakan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Pasuruan-Probolinggo-Klakah yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, dari tahun 1884 hingga tahun 1895. Stasiun ini diresmikan pada 1 Juli 1895 bersamaan dengan stasiun-stasiun lain yang ada di Jalur rel Probolinggo-Klakah.
Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (oosterlijnen) sepanjang 74 kilometer. Pengerjaannya dimulai dari Pasuruan menuju Probolinggo dan selesai pada tahun 1884, selang sepuluh tahun barulah dilanjutkan pengerjaannya dari Probolinggo menuju Klakah.


Stasiun ini memiliki 4 jalur rel di mana jalur 2 digunakan sebagai sepur lurus, ke arah utara menuju Stasiun Probolinggo dan yang ke selatan menuju ke Stasiun Malasan. Jalur 1 dan 3 digunakan untuk persilangan atau persusulan antarkereta api, sedangkan jalur 4 merupakan jalur badug/buntu.
Dulu dari jalur 1 terdapat percabangan menuju ke pabrik PT Leces (Persero) kemudian dinonaktifkan, akan tetapi setelah pabrik itu mengembangkan sumber energi dari batu bara dengan dibangunnya cerobong untuk pembakarannya, kemungkinan besar jalur itu akan dihidupkan kembali.
Selain itu, kendati stasiun ini sebagai stasiun kecil namun nasibnya masih dikatakan beruntung bila dibandingkan dengan stasiun-stasiun sekelasnya yang ada di Pulau Jawa ini, yaitu masih adanya aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang meski untuk saat ini hanya KA Probowangi. *** [070718]