Balai Kota Makassar (1)

Jl. Ahmad Yani No. 2 Makassar

Balai Kota Cirebon (2)

Jl. Siliwangi No. 84 Cirebon

Balai Kota Madiun (3)

Jl. Pahlawan No. 37 Madiun

Balai Kota Lama Medan (4)

Jl. Balai Kota No. 1 Medan

Kantor Gubernur Sumatera Utara (5)

Jl. Diponegoro No. 30 Medan

Tuesday, August 26, 2014

Terowongan Mrawan

Menapaki jalur rel kereta api dari Jember menuju Banyuwangi, akan terasa sensasi tersendiri. Jalur yang berpanorama perkebunan tinggalan Belanda, jembatan kereta api nan eksotik, dan terowongan kereta api yang menawan. Alam sekitar Gunung Gumitir tidak hanya menawarkan hijaunya perkebunan kopi namun juga peninggalan sejarah yang tak kalah menariknya. Salah satunya adalah terowongan Mrawan.
Terowongan Mrawan  merupakan terowongan kereta api peninggalan Hindia Belanda yang terletak di Desa Garahan, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Lokasi terowongan ini berada di lingkungan Café & Rest Area Gumitir dengan wisata kebunnya.
Sesuai dengan angka tahun yang tertulis di mulut terowongan apabila dilihat dari area wisata Gumitir, terowongan Mrawan ini dibangun pada tahun 1901 oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, dengan panjang 690 meter. Kemudian pada tahun 1902 dilanjutkan dengan pembangunan tembok sebelah kanan.


Lalu, setelah tembok sisi kiri dan kanan dari rel kereta api selesai, barulah dilakukan pembangunan penutup terowongannya yang memakan waktu hingga delapan tahun, atau selesai pada tahun 1910 dan menjadikan terowongan ini menjadi terowongan terpanjang di Provinsi Jawa Timur yang sekaligus menghubungkan Kabupaten Jember dengan Kabupaten Banyuwangi.
Tidak jauh dari terowongan tersebut, terdapat Stasiun Kereta Api Mrawan. Stasiun ini merupakan stasiun persilangan saja. Artinya, tidak ada kereta api yang berhenti di stasiun ini kecuali jika terjadi persilangan antarkereta api. Stasiun ini diapit oleh terowongan Mrawan dan terowongan Garahan. Nama Mrawan sendiri diambil dari nama sungai yang mengalir di dekat stasiun maupun terowongan ini.


Ada beberapa rangkaian kereta api yang melintas dari Jember menuju Banyuwangi, seperti KA Mutiara Timur, KA Tawang Alun maupun KA Probowangi. Agar dapat merasakan indahnya alam pegunungan dan perkebunan antara Jember dan Banyuwangi, disarankan untuk tidak naik KA Mutiara Timur (kelas bisnis maupun eksekutif) tetapi pilihlah KA Tawang Alun atau KA Probowangi (kelas ekonomi). Atau kalau ingin lebih eksklusif, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) wilayah Daerah Operasi (Daop) 9 Jember menawarkan berkereta api menikmati wisata alam, budaya, dan sejarah Nusantara menggunakan Lori Wisata Kaliraga (Kalibaru-Mrawan-Garahan). Dengan biaya sewa Rp 500.000, lori ini bisa mengangkut 8 orang. Melewati jalur kereta api yang dibuka oleh  Staatspoorwegen (SS) pada tanggal 10 September 1902, para penumpang bisa menikmati tempat paling eksotik yang terdapat di lintasan kereta api, yaitu agrowisata perkebunan kopi, coklat, hutan pinus dan panorama Gunung Gumitir.
Sebenarnya tidak hanya melalui jalur rel saja, sensasi terowongan Mrawan dengan nuansa perkebunan kopi bisa ditempuh dengan jalur darat. Sebagai tanda yang paling mudah untuk menemukan lokasi terowongan tersebut adalah dengan meluangkan waktu sejenak untuk memarkir atau berhenti sejenak di Café & Rest Area Gumitir. Hanya dengan Rp 20.000,-, pengunjung wisata Kebun Gunung Gumitir akan dipandu dengan Kereta Kelinci menuju terowongan tersebut hingga nostalgia di Pabrik Penggilingan Kopi Kebun Gunung Gumitir.
Banyak keuntungan berwisata di Gunung Gumitir, udaranya yang sejuk, pemandangan alam yang indah, kuliner minuman kopi khas setempat, dan yang tak kalah pentingnya adalah wisata heritagenya. *** [100814]

Monday, August 25, 2014

Stasiun Kereta Api Solo Kota

Stasiun Kereta Api Solo Kota merupakan salah stasiun kereta api yang berada di Kota Solo. Stasiun ini berada pada ketinggian + 89 meter di atas permukaan laut dan masuk dalam wewenang Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta.
Stasiun yang memiliki kode STA ini biasa dikenal dengan Stasiun Solo Kota saja. Bahkan sebagian masyarakat Solo ada yang menyebutnya dengan Stasiun Sangkrah, karena stasiun ini terletak di Jalan Sungai Sambas RT.03 RW.01 Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sangkrah.
Stasiun Solo Kota dibangun oleh perusahaan kereta api milik swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg Matschappij (NISM) pada tahun 1922 setelah jalur kereta api Solo-Wonogori diselesaikan. Stasiun ini merupakan pintu masuk kereta api ke Kota Solo dari arah selatan menuju Stasiun Purwosari.


Dulu, stasiun ini memegang peran yang penting dalam sejarah transportasi di Kota Solo. Susuhunan Paku Buwono X, raja yang kaya dan mahsyur dari Kraton Kasunanan Surakarta, sering menggunakan stasiun ini di saat mau bepergian ke Pengging, Pesanggrahan Pracimoharjo maupun ke daerah lain yang terjangkau dengan jalur rel kereta api, seperti Surabaya maupun Jakarta. Memang pada waktu itu, yang bisa naik kereta api  masih terbatas kalangan ningrat yang memegang jabatan, orang-orang Belanda, maupun pengusaha dari kalangan Tionghoa maupun Arab.
Pada saat Stasiun Solo Kota didirikan, wilayah eks-Karesidenan Surakarta merupakan pusat pertumbuhan industri sekaligus sebagai pusat perdagangan kaum bumiputera. Banyak komoditas hasil bumi yang dibawa dari Baturetno maupun Wonogiri menuju Solo singgah di stasiun ini sebelum dilanjutkan ke Stasiun Purwosari.
Seiring perkembangan zaman, transportasi tidak berkutat pada pengangkutan komoditas hasil bumi saja namun juga digunakan transportasi manusia (penumpang). Stasiun Solo Kota menghubungkan tiga daerah, yaitu Solo, Sukoharjo, dan Wonogiri hingga Baturetno pada waktu itu dengan jarak tempuh sekitar 80-an kilometer. Akan tetapi, setelah dibangun Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, jalur rel kereta api dari Wonogiri-Baturetno terpaksa ditiadakan karena terendam oleh waduk tersebut. Sehingga pada akhirnya, jalur rel yang masih tersisa hanyalah dari Wonogiri menuju Solo saja dengan jarak tempuh sekitar 39 kilometer.


Pada jarak tempuh itu, hanya terdapat satu kereta api yang berhenti di stasiun ini, yaitu kereta api feeder Wonogiri. Setelah lepas dari Stasiun Purwosari, kereta api tersebut hanya singgah di Stasiun Solo Kota, Sukoharjo, Pasar Nguter, dan Wonogiri. Berangkat dari Stasiun Purwosari biasanya pagi, kemudian dari Stasiun Wonogiri menuju Stasiun Purwosari sore hari. Jadi, trayek kereta feeder tersebut dalam sehari adalah sekali menuju Wonogiri dan sekali pulang dari Wonogiri. Kereta api feeder ini sekarang sudah tidak aktif lagi. Terbersit khabar bahwa kereta api feeder tersebut akan digantikan oleh rail bus Bathara Kresna. Rail bus ini pernah diuji coba melalui jalur tersebut namun lantaran biaya ticket yang lumayan tinggi untuk ukuran jarak tempuh, rail bus ini untuk sementara berhenti dan dilakukan kaji ulang.
Di tengah ketidakpastian beroperasinya rail bus Bathara Kresna, stasiun ini melayani kereta uap Jaladara atau yang biasa disebut dengan Sepur Kluthuk Jaladara yang ditarik lokomotif C1218 yang dikirim dari Ambarawa. Sepur Kluthuk Jaladara merupakan kereta wisata yang ada di Kota Solo. Kereta ini adalah kereta tua buatan Jerman pada tahun 1896 dan dikirim ke Indonesia pada tahun itu juga oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai alat transportasi jarak pendek. Kereta ini diresmikan pada tanggal 27 September  2009, dengan sejumlah pemberhentian, seperti Diamond Convention Center, Solo Grand Mall, Loji Gandrung, House of Danar Hadi (nDalem Wuryaningratan), Museum Radyapustaka (Taman Sriwedari), Kampung Seniman Kemlayan, Perempatan Pasar Pon (Pasar Triwindu), Kampung Wisata Batik Kauman, Benteng Vastenburg, dan Stasiun Solo Kota atau tergantung paket wisata yang diinginkan oleh para wisatawan yang akan menggunakan kereta wisata tersebut.
Sebagai salah satu bangunan bersejarah, Stasiun Solo Kota masuk dalam rencana revitalisasi PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Stasiun yang memiliki luas bangunan 468 m² telah diinvetarisir oleh PT. KAI dengan nomor register 195/06/STA/BD. Stasiun ini akan dioptimalkan sebagai obyek wisata pendukung perjalanan Sepur Kluthuk Jaladara. *** [310714]

Saturday, August 16, 2014

Waduk Cengklik Boyolali

Lebaran kedua tahun ini, saya bersama kedua anak wedok berkesempatan mengunjungi Waduk Cengklik di Boyolali. Waduk yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Solo  atau sekitar 2 kilometer dari Bandara Internasional Adi Sumarmo ini acap menjadi tujuan wisata bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.
Waduk Cengklik ini sudah dikenal sebagai destinasi para komunitas bersepeda yang favorit di Solo. Selain mudah dicapai dengan trek yang tidak begitu sulit, juga menawarkan pemandangan alam waduk yang di kiri-kananya masih diwarnai oleh hijaunya persawahan.


Waduk Cengklik ini terletak di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi waduk ini berada di sebelah barat Bandara Internasional Adi Sumarmo menuju ke arah Sambi.
Menurut sejarahnya, waduk Cengklik dibangun pada tahun 1926-1928 oleh Pura Mangkunegaran dan Pemerintah Kolonial Belanda. Waduk buatan ini merupakan fasilitas publik dengan membendung sungai yang datangnya dari arah Sambi dan sekitarnya, untuk memberikan pasokan air guna mengairi sawah dan perkebunan milik Pura Mangkunegaran. Nama Cengklik sendiri itu diambil dari dukuh pertama yang dimulai menjadi waduk, yaitu Dukuh Cengklik.


Waduk dengan luas sekitar 250 hektar ini, pada tahun 1970 masih mampu menampung air sebanyak 17,5 juta meter kubik. Pada tahun 1998, kapasitas air menurun menjadi 12,5 juta meter kubik, dan saat ini waduk diperkirakan hanya mampu menampung sekitar 9 juta meter kubik. Sehingga, akhirnya kapasitas air waduk Cengklik tersebut sudah tidak mencukupi untuk irigasi ribuan hektar sawah petani di tiga kecamatan, yaitu Sambi, Ngemplak, dan Nogosari. Salah satu konsekuensi nyata, adalah dengan berhenti produksinya Pabrik Gula (PG) Colomadu milik Pura Mangkenagaran lantaran minimnya pasokan air untuk lahan tebu milik penduduk yang menyuplai tebu ke PG Colomadu tersebut.
Kendati fungsi waduk tersebut sekarang sudah tidak maksimal lagi sebagai penyedia air bagi irigasi, akan tetapi keberadaan waduk itu secara historis masih bisa direvitalisasi. Selain dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk memerlihara ikan dalam bentuk keramba dan bercocok tanam, waduk Cengkilk bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata air yang cukup prospektif. Pulau-pulau kecil yang ada di tengah waduk bisa menjadi pemandangan tersendiri bagi pengunjung yang menikmati waduk dari tepian maupun yang berkeliling menggunakan perahu tempel yang ada di waduk tersebut.
Penataan ruang publik di tepian waduk dengan dipadu kuliner berbahan dasar ikan khas waduk sangat diperlukan. Penataan ruang publik yang baik tentunya akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi citra waduk dan dalam skala luas adalah kepariwisataan di Boyolali. *** [290714]

Friday, August 15, 2014

Pabrik Gula Colomadu

Dalam perjalanan menuju Bandara Internasional Adi Sumarmo, yang ditempuh dari Kota Solo melalui Jalan Adi Sucipto, pada saat melintas lampu merah Colomadu terlihat bangunan bercerobong tinggi. Bangunan tersebut adalah Pabrik Gula (PG) Colomadu.
PG Colomadu terletak di Jalan Adi Sucipto No. 1 Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi pabrik ini tepat berada di sudut tenggara perempatan (lampu merah) Colomadu.
Berdasarkan catatan historis yang ada, pada tahun 1861, Mangkunegoro IV mengajukan rencana mengenai berdirinya sebuah pabrik gula pada Residen Nieuwenhuysen. Sejak beberapa waktu sebelumnya telah dipilih tempat yang tepat di Desa Malangjiwan, karena daerah ini memiliki tanah yang baik, air yang mengalir, dan hutan. Tempat tersebut dianggap paling cocok untuk perkebunan tebu.
Setelah disetujui oleh residen, peletak batu pertama untuk PG Colomadu dilakukan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria (KGPAA) Mangkunegoro IV, penguasa Pura Mangkunegaran (1853-1881), pada 8 Desember 1861. Pengelolaan PG Colomadu sehari-hari berada di tangan seorang, seorang ahli dari Eropa. Petama kali pabrik bekerja dengan menggunakan mesin uap. Mesin-mesin tersebut dipesan dari Eropa. Mangkunegara IV kala itu mendapatkan pinjaman dari Pemerintah Hindia Belanda dan dibantu oleh Be Biau Coan, seorang mayor dari kaum Tionghoa di Semarang, untuk mendirikan PG Colomadu.
Pada tahun 1863, PG Colomadu sudah mulai berproduksi dari hasil panen tahun yang pertama. Pada tahun 1863, tahun panen yang pertama dari lahan perkebunan tebu seluas 95 hektar bisa menghasilkan 3.700 kuintal gula. Kemudian, pada tahun panen berikutnya hasil produksi gulanya pun meningkat. Keuntungan yang diperoleh dari PG Colomadu tentunya sangat membantu penghasilan Pura Mangkunegaran selain sumber pendapatan tradisional dari pajak tanah.


Akan tetapi, beberapa beberapa tahun setelah Mangkunegoro IV wafat, usahanya untuk membentuk dasar-dasar ekonomi kerajaan mengalami guncangan yang hebat. Kesalahan manajemen keuangan dari Mangkunegoro V menjadi salah satu penyebabnya, selain adanya krisis ekonomi dunia dan hama penyakit tebu. Keadaan ini menyebabkan Pemerintah Kolonial Belanda mengambil alih segala urusan keuangan Mangkunegaran, termasuk pengelolaan perusahaan.
Setelah kepemimpinan Pura Mangkunegaran dipegang oleh Mangkunegoro VI, kinerja PG Colomadu berangsur-angsur membaik. Hal ini tidak lepas dari usaha yang dilakukan oleh Mangkunegoro VI dalam melakukan penghematan pengeluaran keuangan Pura Mangkunegaran.
Pada masa pendudukan Jepang, PG Colomadu mengalami kesulitan dalam mendapatkan tenaga kerja, maupun areal untuk ditanami tebu. Kesulitan tersebut disebabkan pada masa pendudukan Jepang banyak pabrik gula beralih fungsi. Pengalihan fungsi dilakukan Pemerintah Jepang untuk memfokuskan tanaman pangan, karena pada masa Jepang komoditas pangan yang penting adalah beras.
Pada tahun 1946, pemerintahan Swapraja Mangkunegaran dihapus. Berakhirnya pemerintahan Pura Mangkunegaran, membuat PG Colomadu diambil alih pengelolaannya oleh Pemerintah Republik Indonesia (RI) atau dinasionalisasi. Hal ini diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 Tahun 1947 yang memuat tentang Peraturan Perkebunan Republik Indonesia. Adanya peraturan ini membuat pengelolaan PG Colomadu di ambil alih oleh Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI), yang kelak menjadi PT. Perkebunan Nusantara (PTPN).
Mulai tahun 1990, produksi PG Colomadu mengalami penurunan karena luas lahan tebu di daerah Colomadu mulai menyempit seiring berkembangnya Kota Solo sehingga terjadi alih fungsi lahan untuk pemukiman. Untuk mengatasi hal tersebut, PG Colomadu membuka lahan tebu di daerah Simo dan Sambi Tetapi usaha itu kurang berhasil karena lokasi penanaman yang jauh membuat PG Colomadu harus mengeluarkan biaya dan waktu yang lebih banyak. Hal itulah yang menjadi pertimbangan direksi untuk menutup PG Colomadu, padahal kondisi dan aset pabrik masik layak digunakan untuk memproduksi gula.
Kini, bangunan PG Colamadu menjadi mangkrak. Kesan kemegahan bangunan masih nampak tapi “roh” sebuah industri gula yang sempat mengalami kejayaan menghilang. Seakan menjadi teka-teki, bakal diapakan bangunan bersejarah tersebut. Apakah akan dijual kepada investor, dijadikan museum gula, atau akan dibiarkan begitu saja sambil menunggu runtuhnya bangunan tersebut, hanya mungkin “sejarah” yang akan menceriterakan kepada masyarakat. *** [290714]

Kepustakaan:
Dian Fitriana, 2011, Perkembangan Indsutri Gula Colamdu dan Perubahan Sosial Ekonomi Masayarakat Tahun 1990-1998, dalam Skripsi di Jurusan Pendidikan IPS, FKIP, Universitas Sebelas Maret Surakarta

Friday, August 8, 2014

Ponten Mangkunegaran

Menyusuri Kali Pepe, sungai yang membelah Kota Solo sebelum bermuara di Bengawan Solo, di daerah Kestalan akan dijumpai bangunan bercat putih yang menawan dan bersejarah. Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama ponten. Gaya bangunannya mengingatkan akan gunongan peninggalan Sultan Iskandar Muda yang terletak di daerah Setui, Banda Aceh yang cukup megah.
Ponten tersebut terletak di Kampung Ngebrusan RT.02 RW.03 Kelurahan Kesatalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi ponten ini berada di depan Pos Keamanan RT.01 RW.02 atau tepat berada di pertemuan Jalan Kalimantan dengan Jalan Tarakan.


Sesuai dengan prasasti yang tertempel di bangunan tersebut, bangunan itu dibangun pada tahun 1936 atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Mangkunegara VII. Rancangan bangunannya dipercayakan kepada Hermans Thomas Karsten, seorang arsitek asal Belanda. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat MCK (Mandi, Cuci dan Kakus) bagi warga sekitar. Penguasa Mangkunegaran itu memang menghendaki rakyatnya hidup sehat dengan menyediakan fasilitas sanitasi umum tersebut. Terlebih, kawasan di mana bangunan ponten itu berdiri, berdekatan dengan Stabelan, yang dulunya merupakan kandang kuda milik pasukan Legiun Mangkunegaran.
Sebutan ponten yang diberikan pada bangunan dengan ukuran 8 x 12 meter ini berasal dari pelafalan kata fountain yang dalam bahasa Belanda berarti air mancur. Thomas Karsten memang melengkapi dengan air mancur bangunan yang memiliki pintu masuk di sisi kanan atau timur dan kiri atau barat.
Di sisi kanan kiri terdapat bilik mandi yang memiliki beberapa pancuran dan satu shower besar di bagian tengah. Khusus pada bilik kanan, juga dilengkapi dengan dua kakus yang dipisahkan dinding. Di bilik ini terdapat penghubung ke sumur di bagian luar. Di bagian muka, pada ruangan yang berukuran 4,5 x 2,5 meter terdapat pipa-pipa pancuran air yang mengalirkan air dari bak penampungan di atas untuk keperluan mencuci bersama-sama. Pada masa lalu, air yang mengalir di bangunan ini berasal dari mata air Cokrotulung yang dialirkan perusahaan air NV Hoodgruk Water Leiding Hoodplaast Surakarta en Omstreken.


Ponten menjadi penanda kemajuan budaya masyarakat perkotaan di bawah pemerintahan Mangkunegara VII. Budaya hidup bersih dan sehat sudah diupayakan sedari dulu. Ketika masyarakat umum belum mampu memiliki tempat MCK sendiri, pemerintah saat itu mendirikan ponten yang dapat digunakan bersama-sama. Kebersihan MCK umum itu juga terjaga. Mangkunegara VII tak jarang meninjau sendiri kebersihan ponten yang diwajibkan dibersihkan dua kali sehari tersebut.
Ponten ini pernah mangkrak beberapa tahun, dan dipugar oleh Dra. Hj. Karyatun, istri dari KRT H. Kistuboko serta diresmikan pada 9 September 2007. Kemudian Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta berkehendak untuk merestorasi situs yang sudah menjadi bangunan cagar budaya (BCB) melalui Surat Keputusan (SK) Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta Nomor 646/116/I/1997 ini. Secara bertahap, revitalisasi dilakukan dengan membangun pagar pembatas. Selain itu, ponten tersebut juga akan difungsikan lagi dengan menyediakan suplai air bersih dari PDAM dan sumur pompa.
Revitalisasi bangunan ini akhirnya terwujud dengan adanya dana promosi melalui program corporate social responsibility (CSR) dari Bank Jateng tahun 2013 sebesar Rp 200 juta. Pengerjaan proyek berlangsung mulai Januari sampai Mei, dan diresmikan pada 21 Juni 2014. Sasaran revitalisasi di antaranya adalah pembenahan fisik bangunan serta penataan lingkungan di sekitarnya.
Kini, ponten yang dahulunya dikenal dengan nama Badplaats Ngebrusan telah menjadi salah satu ikon sejarah yang penting bagi peradaban terutama berkenaan dengan hidup bersih dan sehat, dan sekarang bangunan ini dikenal sebagai Ponten Mangkunegaran. *** [280714]

Sunday, August 3, 2014

Stasiun Kereta Api Solo Jebres

Stasiun Kereta Api Solo Jebres, atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Jebres, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian +97 m di atas permukaan laut.
Stasiun Jebres terletak di Jalan Ledoksari No. 1 Kelurahan Purwadiningratan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Pasar Ledoksari.
Hadirnya jalur kereta api yang melintas Kota Solo tidak terlepas dari eksistensinya pada waktu itu. Sebagai kota kerajaan (Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran), pemerintah Hindia Belanda merasa perlu melancarkan diplomasi dengan kerajaan yang ada di Kota Solo tersebut. Beberapa tahun kemudian, kepentingan diplomasi ini berubah menjadi kepentingan untuk angkutan manusia yang kemudian juga dimanfaatkan untuk mengangkut komoditas perkebunan seperti tembakau, gula, kopi dan lain-lain. Pada tahun 1847, di Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta) terdapat 47 perkebunan. Lima di antaranya adalah pabrik gula milik Gubernemen (pemerintah), satu perkebunan tembakau, serta lima perkebunan kopi. Praja Mangkunegaran memiliki industri gula, yaitu Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu, sedangkan Kasunanan Surakarta memiliki industri gula di Pabrik Gula Gondang Winangoen serta komoditas tembakau vorstenlanden untuk bahan baku cerutu dari Klaten.


Komoditas-komoditas tersebut merupakan komoditas yang sangat laku dan dibutuhkan di dunia pada masanya terutama untuk kebutuhan pasar Eropa sehingga tidak salah kemudian dibutuhkan alat transportasi yang mampu mengangkut dalam jumlah, yaitu kereta api.
Berdasarkan catatan sejarah, Stasiun Jebres dibangun pada tahun 1884 di atas lahan milik Kraton Kasunanan Surakarta, sedangkan pengerjaannya dilakukan oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staats Spoorwegen (SS). Sehingga, dulu stasiun ini dikenal sebagai Stasiun Staats Spoorwegen.


Selain digunakan untuk transportasi penumpang dan mengangkut komoditas perkebunan, tercatat bahwa Stasiun Jebres ini dahulu pernah digunakan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat hendak bertemu dengan Sri Susuhunan Paku Buwono X (PB X).
Di antara stasiun yang terdapat di Kota Solo, yaitu Stasiun Purwosari, Stasiun Solo Balapan, dan Stasiun Solo Kota, Stasiun Jebres ini terbilang megah dengan gaya arsitektur Indische Empire. Bangunannya berbentuk persegi panjang simetris dengan dua jendela melengkung di atas dua pintu utama menuju ke hall stasiun dengan fasad yang memiliki detail dan banyak dipengaruhi aliran Neo-Klasik. Interiornya begitu indah dengan hadirnya pilar-pilar bergaya Corynthian Yunani maupun jeruji besi pada jendelanya yang bergaya Art Nouveau.
Kini, stasiun yang memiliki luas gedung 1.631 m² dan bernomor register 164/06/SK/BD ini masih berfungsi sebagai stasiun untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang kereta api kelas ekonomi dari Solo menuju Jakarta atau Bandung dan dari Solo menuju ke Surabaya atau sebaliknya.
Sebagai bangunan tua yang penuh sejarah ini, Stasiun Jebres telah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya (BCB) melalui Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta Nomor: 646/116/I/1997 dengan cagar budaya No. 13-25/C/Jb/2012. *** [270714]

Rumah Potong Hewan Jagalan

Menapaktilasi jalur semasa SMA dulu sambil memboncengkan dua anak wedok memang mengasyikkan. Kebetulan lokasi SMA penulis, yaitu SMA N 3 Surakarta, berada di daerah toponim yang sarat dengan historis. Sebut saja Kampung Jagalan. Kampung Jagalan berasal dari kata jagal, yaitu tempat pemotongan hewan atau tukang penyembelih hewan.
Permintaan terhadap daging yang terus meningkat untuk konsumsi di kalangan Kraton Surakarta maupun masyarakat Solo kala itu, menggerakan keinginan Sri Susuhunan Paku Buwono X atau biasa dikenal dengan sebutan PB X, mendirikan rumah pemotongan hewan (RPH) di daerah pinggiran Solo pada waktu itu yang berdekatan dengan kerkhof (kuburan orang Belanda). Dulu, daerah tersebut masih sangatlah sepi dan jauh dari pemukiman penduduk. Namun, setelah dibangun abattoir (tempat pemotongan hewan) oleh PB X pada tahun 1903, daerah tersebut kian berkembang. Sejumlah jagal atau tukang potong hewan dimukimkan di sekitar abattoir oleh pihak Kraton Surakarta. Dari sinilah nama Kampung Jagalan berasal, karena memang nama Jagalan menjadi identitas kampung tempat tinggal abdi dalem kraton, khususnya abadi dalem jagal.
Sesuai yang tertera di tembok depan bangunan RPH Jagalan, dulunya tempat pemotongan hewan ini diberi nama Pembelehan Radjakaja. Dalam bahasa Jawa, pembelehan berarti penyembelihan sedangkan pengertian radjakaja (dalam ejaan lama) menunjuk pada pengertian hewan ternak, seperti sapi, kerbau, maupun kambing. Jadi, pembelehan radjakaja maksudnya adalah tempat penyembelihan hewan ternak, atau dalam istilah sekarang disebut RPH.
RPH Jagalan terletak di Jalan Jagalan No. 26 Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi RPH ini berada di pertemuan Jalan Suryo dan Jalan Jagalan.


RPH adalah rumah pemotongan hewan yang terdiri dari kompleks bangunan yang digunakan untuk menyembelih ternak. Rumah potong berfungsi sebagai untuk menyembelih ternak sesuai dengan peraturan yang ada. Untuk ternak yang halal (misalnya sapi, kambing dan kerbau) dilakukan pemotongan secara Islami berdasarkan fatwa MUI, sedangkan pemotongan ternak yang haram (misalnya babi) dilakukan dengan pemotongan yang dianggap paling mudah cara pemotongannya. Dalam hal ini, penyembelihan hewan ternak harus mempertahankan banyak sekali prinsip, yaitu dari cara pemotongan hingga sampai cara mengurangi kerusakan karkas (mikrobia, bakteri, dan virus).
Konon, sewaktu masih menjadi milik Kraton Surakarta, RPH Jagalan memiliki sekitar tiga puluhan orang jagal. Akan tetapi, setelah di bawah naungan Dinas Pertanian Kota Surakarta, hanya terdapat lima orang jagal saja.
Bangunan berarsitektur kolonial peninggalan PB X ini tergolong cukup luas lahan dan bangunannya. Bangunan yang berada di depan menghadap ke barat diperuntukkan bagi hewan ternak, seperti sapi, kerbau maupun kambing. Sedangkan, khusus untuk babi, bangunannya terpisah. Bangunannya terletak di belakang bangunan utama dan dipisahkan oleh sungai kecil serta menghadap ke utara.
Dilihat dari usia bangunannya, RPH Jagalan layak menyandang sebagai heritage yang ada di Kota Solo. Sehingga memerlukan penanganan dan perawatan yang ekstra untuk bangunan kuno tersebut dengan alasan pelestarian.
Sayangnya, ketika penulis berkunjung ke sana dalam suasana lebaran, tepat di tembok pagar utama RPH tertempel sebuah pengumuman dengan kop Dinas Pertanian Pemerintah Kota Surakarta bernomor 524.51/442.2 yang menyatakan penjualan aset bangunan RPH Dinas Pertanian Kota Surakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surakarta Nomor: 032/9/1/2014 Tanggal 22 Januari 2014 tentang Penghapusan Barang Milik Daerah berupa Sebagian Bangunan RPH, Dinas Pertanian Kota Surakarta akan melaksanakan lelang bangunan Gedung Rumah Potong Hewan.
Pengumuman ini tentunya kurang mengenakan bagi yang menggemari masalah cagar budaya atau heritage yang ada di Kota Solo. Karena di dalam benak mereka, pastilah akan terjadi perubahan bentuk dari bangunan RPH Jagalan.
Alangkah baiknya, bila tidak diadakan penjualan sebagian aset bangunan RPH tapi dimunculkan ide kreatif sesuai “roh” Kota Solo saat ini, “Solo the Past is Solo the Future.” Misalnya, bangunan yang dianggap tidak berfungsi lagi bisa dimanfaatkan sebagai museum atau galeri yang berhubungan dengan masalah riwayat RPH, atau bisa juga dijadikan sebagai tempat festival kuliner berbahan dasar dari hewan ternak yang disembelih di RPH Jagalan. Mengingat RPH Jagalan ini sebenarnya bisa dijadikan menjadi paket lokasi wisata yang menyatu dengan pengembangan Stasiun Jebres sebagai kawasan heritage. *** [270714]