Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Selasa, 09 Februari 2016

Gedung Bank Mandiri KC Surabaya Niaga

Jalan Veteran, pada zaman Hindia Belanda dikenal sebagai Sociëteitstraat. Dulu, di jalan tersebut berdiri sebuah bangunan De Sociëteit Concorda (sekarang Gedung Pertamina UPDN V). Sociëteit Concorda merupakan club house yang didesain oleh para kolonial dengan gaya Eropa untuk memenuhi kebutuhan refreshing atau tempat hiburan elite di Surabaya, bahkan ada yang menyebutnya sebagai tempat dugem pertama di Surabaya. Karena sociëteit itu cukup terkenal, menyebabkan jalan yang melintasi gedung tersebut akhirnya dikenal dengan nama Sociëteitstraat.
Kawasan Jalan Veteran ini merupakan bagian dari kawasan kota lama Surabaya. Sebagai bagian dari kawasan kota lama, kawasan ini menjadi landasan pembentuk kota pada masa awal terbentuknya kota tersebut. Bagian kawasan kota lama biasanya merupakan kawasan bersejarah atau “heritage district” di mana area di sepanjang jalan tersebut banyak bangunan yang signifikan sebagai bangunan lawas, kuno atau bersejarah.


Salah satu bangunan lawas sebagai saksi bisu akan keberadaan kawasan sepanjang Jalan Veteran ini adalah gedung Bank Mandiri KC Surabaya Niaga. Gedung ini terletak di Jalan Veteran No. 42-44 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di depan Gedung Asuransi Jiwa Sraya, atau di sebelah utara PT. ODI (Oesaha Dagang Indonesia).
Dulu, gedung Bank Mandiri ini merupakan salah satu gedung kantor dari N.V. Borneo Sumatra Handel Maatschappij atau Gebouw van de N.V. Borneo Sumatra Handel Maatschappij (Borsumij) te Soerabaja, yang didirikan pada tahun 1935. Arsitek yang merancang bangunan gedung ini dipercayakan kepada G.C. Citroen. Karya Citroen yang terakhir ini senafas dengan arsitek Bauhaus dan kaum fungsionalis yang sedang populer di Eropa pada waktu itu. Ciri dari bangunan gedung ini adalah bentuknya yang mirip dengan arsitektur berlanggam kubistis di Eropa dengan berbagai paduan dengan kebudayaan lokal.
Bangunan gedung Borsumij ini memiliki bentuk denah persegi panjang yang memanjang dari utara ke selatan di mana arah hadap gedung tersebut ke arah Jalan Veteran atau menghadap ke barat, dan terdiri dari tiga lantai. Pada bangunannya terdapat menara yang berada di sudut bangunan sebelah utara dan tidak memiliki halaman di depan bangunan tersebut.
Perlu diketahui, Borsumij adalah sebuah perusahaan dagang Belanda yang didirikan oleh J.W. Schlimmer dan berkantor pusat di Den Haag. Di Surabaya ini, Borsumij juga memiliki gedung lain yang terletak di Jalan Rajawali No. 10 (pojok Jalan Kasuari). Sekarang gedung tersebut digunakan sebagai Bank Negara Indonesia (BNI).
Dalam perjalanannya, Borsumij yang berada di Jalan Veteran pernah beberapa kali beralih fungsi. Terakhir digunakan oleh Bank Exim, yang kemudian merger bersama tiga bank lainnya, yaitu  Bank Bumi Daya (BBD), Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO), dan Bank Dagan Negara (BDN), menjadi Bank Mandiri. Tak heran, bila pada waktu terjadi inventarisasi bangunan cagar budaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kala itu tercatat sebagai gedung Bank EXIM (Export Import).
Sekarang ini, Bank Mandiri menjadi salah satu bank terkemuka di Kota Surabaya. Namun, khusus untuk Bank Mandiri KC Surabaya Niaga memiliki arti tersendiri bagi Kota Surabaya. Bukan saja sebagai bank besar, akan tetapi juga sebagai bank yang mempunyai gedung peninggalan kolonial bergaya Nieuwe Bouwen. Gedung ini juga menambah khazanah deretan bangunan lawas yang berada di dekat Jembatan Merah maupun Tugu Pahlawan. *** [080216]

Daftar Bangunan Kuno di Sulawesi Selatan

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Sulawesi Selatan:

KOTA MAKASSAR:

Fort Rotterdam terletak di Jalan Ujung Pandang No. 1 Kelurahan Bulogading, Kecamatan  Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan

Gedung Kesenian Sulawesi Selatan terletak di Jalan Riburane No. 15 Kelurahan Pattunuang Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan

GPIB Jemaat Immanuel Makassar terletak di Jalan Balaikota No. 1 Kelurahan Baru, Kecamatan Ujungpandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan

Museum Kota Makassar terletak di Jalan Balaikota No. 11 Kelurahan Baru, Kecamatan Ujungpandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan

Museum La Galigo terletak di Jl. Ujung Pandang No. 1 Kelurahan Bulogading, Kecamatan  Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan


KABUPATEN GOWA:

Museum Balla Lompua terletak di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48 Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan


KABUPATEN MAROS:

Museum Kupu-Kupu terletak di Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan

Rumah Informasi Taman Prasejarah Leang-Leang
Rumah Informasi Taman Prasejarah Leang-Leang terletak di Dusun Panaikung, Desa Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan

Taman Prasejarah Leang-Leang
Taman Prasejarah Leang-Leang terletak di Dusun Panaikung, Desa Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan

Rumah Sakit William Booth Surabaya

Jalan Diponegoro, pada masa Hindia Belanda dulu dikenal dengan Reinersz Boulevard. Di jalan tersebut, Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan sebagai permukiman elite sebagai bagian integral dari kawasan Darmo. Kawasan tersebut pada waktu itu disebut sebagai Bovenstad atau Kota Atas.
Sebagai kawasan yang diperuntukkan bagi perumahan-perumahan elite tempo doeloe, daerah di seputar kawasan Darmo tumbuh dengan segala fasilitas publik yang melengkapi permukiman tersebut. Salah satunya adalah Rumah Sakit (RS) William Booth (Gebouw van de William Booth Stichting te Soerabaja).
RS William Booth terletak di Jalan Diponegoro No. 34 Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah sakit ini berada di depan Rumah Sakit Vincentius. Sebelah utara berbatasan dengan rumah warga, sebelah timur berbatasan dengan Jalan Cimanuk, sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Ciliwung, dan sebelah barat berbatasan dengan Jalan Diponegoro.
Menurut sejarahnya, pembangunan RS William Booth ini tidak terlepas dari peran Gereja Bala Keselamatan, sebuah lembaga gereja yang berawal dari sebuah organisasi misi Kristen di kawasan London Timur, Inggris, yang dipelopori oleh William Booth seorang pendeta Metodis pada tahun 1865.
Mulai tahun 1878 organisasi tersebut diberi nama Salvation Army (Bala Keselamatan). Organisasi ini disusun mirip dengan organisasi kemiliteran, petugas-petugas diberi pakaian seragam (putih) serta pangkat, mulai dari jenderal sampai dengan prajurit, Kepercayaan didasarkan atas Injil dan markas besarnya berada di London, Inggris.
Konsep tentang “tentara” datang secara gradual, nama itu lahir dari sebuah inspirasi yang tiba-tiba, beberapa bulan setelah semi-militer konstitusi telah ditentukan sebelumnya. Hal ini bisa dipahami bahwa misi Kristen adalah sebuah tentara volunteer (Volunteer Army) dan William Booth menegaskan bahwa “misi Kristen adalah sebuah tentara keselamatan (Salvation Army). Jadi, William Booth mensintesakan semangat tentara seperti tindakan agresif dan kepemimpinan terpusat di dalam gerejanya dengan semangat evangelisasi (pekabaran Injil).


Mereka menyebut diri sebagai bala tentara Allah yang setiap hari maju berperang, rohani melawan iblis dan dosa yang menyebabkan penderitaan manusia serta mengalahkan segala bentuk kejahatan dalam kehidupan masyarakat, sekaligus memenangkan hati Kristus bagi jiwa-jiwa manusia yang paling jahat sekalipun. Karena itu, pakaia seragam dan perangkat musik mereka merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengabdian mereka memberitakan serta memberlakukan Injil dan kasih Kristus melalui pelayanan kemanusiaan yang cakupannya sangat luas, terutama bagi lapisan masyarakat terbawah di kota-kota besar maupun di perdesaan.
Pada waktu itu, masyarakat Inggris sedang mengalami krisis sosial sebagai dampak dari Revolusi Industri. Oleh karena itu, pada awal kemunculannya organisasi ini tidak hanya berperan dalam menyiarkan Injil di kalangan masyarakat London Timur yang miskin melainkan juga membantu mencarikan jalan keluar untuk menolong mereka dalam mengatasi masalah hidup. Pengaruh dari situasi dan kondisi tersebut menyebabkan organisasi ini memiliki karakteristik unik dan bersifat khas Gereja Bala Keselamatan, yaitu pelayanan sosial terhadap masyarakat tanpa membedakan latar belakang mereka.
Di Hindia Belanda gerakan organisasi Bala Keselamatan ini dimulai sejak 24 November 1894 di daerah Purworejo, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai Het Leger Des Heils. Di Surabaya, bidang pelayanan sosial yang dilakukan oleh Gereja Bala Keselamatan adalah di bidang kesehatan.
Di Surabaya, Bala Keselamatan mengawali dengan membuka Klinik Ibu dan Anak maupun pasien lainnya di sebuah ruang yang sempit di Benedenstad (Kota Bawah). Kota Bawah merupakan pusat regional yang berada di Surabaya Utara yang menjadi awal mula sejarah perkembangan Kota Surabaya. Pusat pemerintahan ketika itu masih berada di utara Jembatan Merah, sehingga segala pusat kegiatan masyarakat termasuk di dalamnya perdagangan dan jasa serta permukiman berada di sekitar Jembatan Merah, Ampel dan Kembang Jepun. Kota Bawah ini sering disebut sebagai kota tuanya Surabaya (Oude stad).
Setelah beberapa tahun klinik berjalan, pada tahun 1915 Bala Keselamatan mendirikan Rumah Bersalin dengan menggunakan sebuah rumah bertingkat di Jalan Tambak Bayan. Seiring berjalannya sang waktu, pekerjaan makin berkembang sehingga Rumah Bersalin Tambak Bayan sudah tidak sanggup memenuhi kebutuhan. Bala Keselamatan kembali mencari lahan untuk mengembangkan Rumah Bersalin tersebut. Akhirnya, diperolehlah sebidang tanah yang berada di Reinersz Boulevard 34, sekarang bernama Jalan Diponegoro. Di persil ini segera dibangun Rumah Sakit Bersalin yang peletakkan batu pertamanya dilakukan oleh Ny. G. Hillen atas nama Residen saat itu pada tanggal 3 Januari 1924. Pembangunannya berjalan selama satu tahun dan pembukaan dilakukan pada tahun 1925. Menjelang perpindahan ini, peralatan dan obat-obatan yang masih berada di Rumah Bersalin Tambak Bayan secara berangsur telah diangkut ke tempat yang baru. Setelah itu, Rumah Bersalin di Tambak Bayan tidak menerima pasien baru lagi dengan harapan pada hari terakhir di Tambak Bayan tidak perlu memindahkan pasien ke tempat yang baru.
Walaupun rumah sakit yang baru telah ada, namun pelayanan di luar rumah sakit masih dijalankan terus. Para opsir Bala Keselamatan langsung membagi tugas mereka yang memiliki latar belakang pendidikan medis bertugas di rumah sakit, dan yang lainnya di bagian administrasi atau tenaga rumah tangga. Kurangnya tenaga membuat para opsir itu bertugas ganda, dengan jam kerja tidak terbatas. Biasanya setelah bertugas di rumah sakit, sebagian lalu mengayuh sepedanya ke klinik di kota. Yang tidak ke klinik bertugas jaga dan juga mengerjakan tugas kerohanian.
Pekerjaan berkembang terus sehingga tempat perlu diperluas dan di samping itu jenis pertolongan tidak terbatas pada kasus ibu dan anak. Pada tahun 1939 bangunan tambahan didirikan di sebelah kanan bangunan pertama. Bagian-bagian lain, seperti ruang bedah, asrama, ruang anak-anak juga dibangun kemudian. Sehingga, semakin berkembang tidak menjadi Rumah Sakit Bersalin lagi tetapi menjadi rumah sakit umum yang diberi nama Rumah Sakit William Booth. Penamaan rumah sakit didasarkan pada nama pendiri Bala Keselamatan.
Pada masa pendudukan Jepang, Rumah Sakit William Booth diambil alih oleh pasukan Jepang. Rumah sakit swasta ini dijadikan rumah sakit khusus sebagai bagian dari Rumah sakit Umum Pusat. Setelah Indonesia merdeka, rumah sakit ini dipegang oleh pemerintah hingga tahun 1947. Ketika rumah sakit dikembalikan lagi ke Bala Keselamatan, maka semua dokter dan tenaga pemerintah ditarik kembali ke rumah sakit milik pemerintah.
Itulah lika-liku perjalanan Rumah Sakit William Booth. Paska ditinggalkan semua dokter dan tenaga pemerintah, rumah sakit ini dikelola tanpa satu pun dokter kecuali beberapa perawat dan opsir Bala Keselamatan. Untung keadaan ini tidak berlangsung lama karena seorang dokter misionaris wanita tiba dan mulai bertugas sepenuhnya dalam 24 jam. Selain dinas biasa, dokter tersebut juga merupakan satu-satunya dokter jaga.
Selama masa perang dan revolusi fisik, banyak peralatan rumah sakit terutama perabotan rumah tangga hilang. Pemerintah kemudian mengeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa pihak rumah sakit boleh mencari perabotan rumah sakit tersebut di rumah penduduk sekitar dan bila dapat membuktikan perabotan tersebut sebagai milik rumah sakit, rumah sakit tersebut boleh mengambilnya. Seorang opsir wanita setiap selesai dinas di rumah sakit selalu bersepeda keliling untuk mencari kursi, meja atau lemari yang hilang.
Pada tahun 1971 rumah sakit ini membangun gedung untuk pasien paru-paru. Biaya untuk membangun bagian ini diterima dari Compbell Trust di London. Tahun 1974 bersamaan dengan perayaan ulang tahun Rumah Sakit William Booth ke 50, kamar operasi yang baru, laboratoriu, poliklinik dan bagian pendidikan yang berlantai 2 diresmikan. Bangunan ini merupakan sumbangan dari ICCO Nederland. Bulan September 1982 bangunan rontgen bersama peralatannya diresmikan penggunaannya. Bagian atas bangunan ini dipakai sebagai kantor dan ruang pertemuan. Biaya untuk membangun gedung beserta alat-alat radilogi yang modern merupakan hasil sumbangan dari NORAD Norwegia.
Pada tahun 1984 dibangun gedung baru berlantai 3 yang akan digunakan sebagai asrama siswa SPK Rumah Sakit William Booth. Gedung ini merupakan sumbangan dari SIDA Swedia.
Rumah Sakit William Booth teus berkembang menjadi lembaga pemberi pelayanan kesehatan masyarakat yang menyeluruh, meliputi aspek peningkatan kesehatan, pencegahan penyakir, pengobatan maupun pemulihan kesehatan. Rumah sakit ini akan selalu memberikan pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan yang paripurna, terstruktur, berkualitas dan mudah terjangkau oleh masyarakat.
Selaras dengan perkembangan pelayanan kesehatan masyarakat dan teknologi kesehatan, Rumah Sakit William Booth Surabaya berupaya menjadi sebuah rumah sakit yang mampu berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan masyarakat, informasi kesehatan dan pelayanan sosial di bawah naungan Yayasan Bala Keselamatan Surabaya.
Rumah Sakit William Booth memiliki luas bangunan 5.504 m² yang berdiri di atas lahan seluas 14.540 m². Dari luas bangunan tersebut, terdapat bangunan induk bergaya Amsterdam School dengan dominasi atap dan bukaan yang tinggi serta kubah sebagai penanda ruang penerima (hall) dan ruang lonceng. Kesan lawas masih terlihat.
Berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/29/436.1.2/2011 tentang Penetapan Bangunan Gedung Rumah Sakit William Booth Jalan Diponegoro Nomor 34 Surabaya sebagai Bangunan Cagar Budaya, bangunan induk tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang ada di Kota Surabaya. *** [160115]

Kepustakaan:
Purnowo, 2008. Pelayanan Sosial Gereja Bala Keselamatan dalam Masyarakat (Studi Peran Gereja Bala Keselamatan dalam Pengelolaan Panti Asuhan Putra Tunas Harapan), dalam Skripsi di Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Yance Pany, 1999. Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Atas Jasa Rawat Inap di Rumah Sakit William Booth Surabaya, dalam Internship di Program Pascasarjana, UNDIP Semarang

Kantor Telkom Surabaya Unit Pelayanan dan Perbaikan

Menyusuri kota lama Surabaya memberi kenangan tersendiri. Banyak bangunan lawas penuh sejarah berdiri. Ada yang menyatu dalam satu deret, ada pula yang terpisah membentuk halaman sendiri. Pada waktu itu, pusat pemerintahan ketika itu masih berada di utara Jembatan Merah, sehingga segala pusat kegiatan masyarakat termasuk di dalamnya perdagangan dan jasa serta permukiman berada di sekitar Jembatan Merah, Ampel dan Kembang Jepun. Kota Bawah ini sering disebut sebagai kota tuanya Surabaya (Oude stad).
Salah satu bangunan lawas yang masih bisa disaksikan sampai sekarang adalah gedung Kantor Telkom Unit Pelayanan dan Perbaikan. Kantor Telkom ini terletak di Jalan Garuda No. 4 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung kantor ini berada di depan Gedung Eks De Javasche Bank. Sebelah timur dan utara berbatasan dengan Jembatan Merah Plaza (JMP), sebelah barat dengan Jalan Kasuari, dan sebelah selatan dengan Jalan Garuda.


Huib Akihary dalam bukunya, Architectuur & Stedebouw in Indonesie 1870/1970 (De Walburg Pers, Zutphen, 1990) menyebutkan, gedung ini pada masa Hindia Belanda dikenal dengan Telefoonkantoor te Soerabaja. Gedung ini didesain oleh Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, arsitek dari BOW (Burgelijke Openbare Werken) kelahiran Tulunggagung, yang pembangunannya dikerjakan dari tahun 1913 dan selesai pada tahun 1915.
Bangunan tiga lantai dengan menggunakan beton sebagai konstruksi utamanya, menjadi salah satu pelopor arsitektur modern di Surabaya, dan saksi dari Surabaya mengubah dirinya menjadi kota metropolis dengan memiliki instalasi pertama dari jaringan telepon. Dengan adanya jaringan telepon tersebut, bisa berkomunikasi dengan menghubungkan Tanjung Priok dan Weltevreden yang berada di Batavia. Pada waktu itu, tercatat ada sekitar 568 pelanggan.
H.W. Ponder dalam bukunya, Javanese Panorama: More Impressions of the 1930s menulis bahwa hubungan telepon internasional antara Belanda dengan Jawa lebih baik ketimbang Malaysia yang pada waktu itu kalau mau menelpon ke Singapura dan Penang saja belum ada jaringan teleponnya. Biaya menelpon sekitar 6 menit Jawa-Nederland pada waktu masuk tahun baru 1938 hanya sekitar 5 gulden (biasanya 15,25 gulden per 3 menit).
Ketika perang berkecamuk pada masa revolusi fisik dulu, gedung Kantor Telkom ini pernah digunakan sebagai tempat pertahanan para pemuda atau arek-arek Suroboyo saat terjadi bentrokan dengan pasukan Sekutu (Inggris) yang bermarkas di gedung Internatio (Internationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam).
Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/251/402.104/1996, gedung Kantor Telkom ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya Kota Surabaya dengan nomor urut 20. Hal ini karena gedung tersebut telah memenuhi kriteria, tolok ukur dan penggolongan bangunan cagar budaya. *** [020815]

Daftar Bangunan Kuno di Papua

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Papua:

Museum Cendrawasih terletak di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Mandala, Distrik Biak Kota, Kota Biak, Provinsi Papua

Museum ini terletak di Jalan Raya Sentani Km. 17 Kelurahan Waena, Kecamatan Abepura, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua

Museum ini terletak di Jalan Samratulangi Dok V, Kelurahan Argapura, Distrik Jayapura, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua

Gedung Eks De Javasche Bank Surabaya

Pada awalnya, pusat pemerintahan Kota Surabaya berada di sekitaran Jembatan Merah. Sehingga, segala pusat kegiatan masyarakat termasuk di dalamnya perdagangan dan jasa serta permukiman berada di sekitar Jembatan Merah, Ampel dan Kembang Jepun.
Maka, tepat bila ingin menelusuri jejak kota lama (Oude stad) Surabaya diawali dari sini. Peminat masalah heritage akan dimanjakan oleh deretan bangunan kuno yang ada di daerah tersebut. Salah satunya adalah Gedung Eks De Javasche Bank. Gedung ini terletak di Jalan Garuda No. 1 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di sebelah barat gedung Internatio (Internaionale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam), atau sebelah utara Kantor Telkom Unit Pelayanan dan Perbaikan.
De Javasche Bank (DJB) adalah salah satu bank terkemuka pada zaman Hindia Belanda yang didirikan di Batavia pada tanggal 24 Januari 1828. Selain kantor pusat yang berada di Batavia, DJB membuka cabang di berbagai kota seperti di Semarang, Surabaya, Bandung, Banda Aceh, Medan, Banjarmasin, Padang, Makassar, Cirebon, Solo, Yogyakarta, Palembang, Pontianak, Malang dan Kediri.


Kantor cabang DJB Surabaya (De Javasche Bank Agentschap Soerabaia) dibuka pada tanggal 14 September 1829 sebagai cabang kedua di Jawa dengan kepala cabang pertama adalah F.H. Preyer. Dewan Komisaris terdiri dari A.H. Buchler, J.E. Bancks, dan J.D.A. Loth.
Kantor cabang DJB Surabaya merupakan kantor yang pertama kali menerapkan sistem perhitungan kliring antar enam bank utama, yaitu Nederlandsche Handel Mij Factorij, De Hongkong Bank & Shanghai Banking Corp., De Chartered Bank of India Australia & China, De Nederlandsche Indische Handelsbank, dan DJB. Kantor ini juga tercatat sebagai kantor pertama yang menyelenggarakan proses kliring di gedung kantornya sendiri dan bertindak sebagai penyelenggara.
Pada tahun 1907 direksi DJB memutuskan untuk memperbarui gedung yang lama dengan gedung baru yang lebih modern di seluruh Hindia Belanda, termasuk kantor cabang di Surabaya. Sebagai lembaga keuangan yang dibebani kepercayaan dan ke hati-hatian dalam mengelola keuangan, DJB memilih gaya arsitektur yang konservatif dalam menanamkan brand-image pada masyarakat yaitu Neo Renaissance atau gaya Ekletisisme.
Maka pada tahun 1910 dibangun gedung baru seperti yang ada sekarang dengan melibatkan biro arsitek N.V. Architechten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam. Bangunan tersebut termasuk gedung yang paling bergengsi di Surabaya pada zamannya.
Pada masa pendudukan Jepang, gedung DJB pernah diambil alih dan kemudian diganti menjadi Nanpo Kaihatsu. Pada Oktober 1945, NICA datang kembali ke Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu. Beberapa wilayah di Indonesia berhasil dikuasai NICA, termasuk di antaranya Surabaya. Pada 22 Mei 1946 DJB Agentschap Soerabia kembali dibuka oleh NICA.


Pada 19 Juni 1951 pemerintah membentuk Panitia Nasionalisasi DJB untuk mengatur pembelian saham DJB yang diperdagangkan di Bursa Efek Amsterdam. Lalu, pada 3 Agustus 1951 pemerintah mengajukan penawaran kepada para pemilik saham DJB. Dalam waktu dua bulan, hampir seluruh saham DJB terbeli.
Akhirnya pada 1 Juli 1953, lahirlah Bank Indonesia melalui UU No. 11/1953 menggantikan DJB dan merupakan bank sentral milik Indonesia dengan peraturan yang berlaku di Indonesia. Dengan demikian, DJB Agentschap Soerabaia berubah menjadi BI Cabang Surabaya dan gedung ini tetap digunakan sampai pada tahun 1973. Setelah itu BI Surabaya pindah ke Jalan Pahlawan No. 105 Surabaya, karena gedung yang lama sudah tidak dapat menampung kegiatan yang ada. Bangunan kokoh dan indah ini merupakan aset yang berharga bagi sejarah perbankan di Indonesia.
Dalam rangka pelestarian dan pemanfaatan gedung bersejarah milik BI yang ada di Surabaya, sejak tahun 2010 telah dilaksanakan serangkaian kegiatan konservasi bangunan bersejarah eks De Javasche Bank yang berada di Jalan Garuda No. 1 Surabaya.
Kegiatan konservasi yang secara garis besar terdiri atas kegiatan restorasi, rekonstruksi dan rehabilitasi dilakukan pada tahun 2011 dengan tahapan kegiatan. Mulai dari studi sejarah, dokumentasi, pedoman konservasi, dan desain konservasi.
Dalam melaksanakan kegiatan konservasi gedung eks De Javasche Bank, BI menggandeng Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Direktorat Logistik dan Pengamanan BI, Unit Khusus Museum BI, arkeolog, Universitas Petra (Konsultas Pengawas), PT. Catur Aksa Perkasa (Konsultan Pengawas), dan PT. Citra Mandiri Cipta (Pelaksana Pekerjaan).
Pada 27 Januari 2012 diresmikan penggunaan gedung cagar budaya BI oleh Gubernur BI Darmin Nasution bersama Gubernur Jawa Timur Soekarwo.
Kedepannya, Gedung Eks DJB akan dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif kegiatan memorabilia dan pameran UMKM non permanen dengan tanpa mengganggu fungsinya sebagai salah satu cagar budaya di Kota Surabaya. *** [020815]

Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Setiap melintas Jalan Mayor Jenderal Prof. Dr. Moestopo, Anda akan terkagum-kagum pada bangunan lawas bercat putih yang menghadap ke selatan. Bagian depan berpagar besi memanjang dengan dua pintu di kiri dan kanan untuk masuk-keluar. Gedung dilengkapi taman yang ditumbuhi rumput hijau sehingga memberi kesan asri.
Bangunan lawas tersebut adalah sebuah kampus dari universitas kenamaan yang berada di Kota Surabaya. Bangunan lawas tersebut adalah Gedung Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair). Gedung FK Unair ini terletak di Jalan Mayor Jenderal Prof. Dr. Moestopo No. 47 Kelurahan Airlangga, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung FK ini berada di depan Rumah Sakit Dr. Soetomo, atau sebelah timur Rumah Sakit Husada Utama.
Dulu, gedung ini dikenal sebagai gedung Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) atau Sekolah Dokter Hindia Belanda. Huib Akihary dalam bukunya, Architectuur & Stedebouw in Indonesie 1870/1970 (De Walburg Pers, Zutphen, 1990) menerangkan, bahwa gedung NIAS ini dirancang oleh Ir. F.L. Wiemans dari Landsgebouwendienst yang pembangunannya dikerjakan dari tahun 1920 dan selesai pada tahun 1921.


Perlu diketahui, NIAS pertama didirikan di Viaductstraat No. 47 dengan nomor telepon Z 623 (sekarang menjadi Jalan Kedungdoro No. 38 Surabaya) pada tanggal 1 Juli 1913. Tujuan didirikan NIAS ini untuk mendidik dokter-dokter yang langsung bekerja untuk melayani kesehatan masyarakat sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 365 Tahun 1913. Kemudian pada tanggal 2 Juli 1923 NIAS pindah ke gedung baru yang berada di Jalan Mayor Jenderal Prof. Dr. Moestopo No. 47 ini. Sebagai rumah sakit pendidikan, mula-mula digunakan Gavengenis Hospital Simpang kemudian Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ). CBZ yang dikenal juga sebagai Rumah Sakit Simpang yang kini menjadi Surabaya Plaza
Pada waktu Jepang menduduki Hindia Belanda, NIAS yang berada Di Surabaya dan STOVIA yang berada di Batavia ditutup oleh pemerintah Jepang. Lalu, pada tahun 1943 pemerintah Jepang membuka sekolah dokter dengan nama Ika Daigaku Shika.
Setelah kekuasaan Jepang berakhir, sekolah ini kembali mengalami beberapa pergantian nama. Namun sejak Unair berdiri pada tahun 1954 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 1954 dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 10 November 1954, gedung NIAS menjadi Gedung FK Unair sampai sekarang.
Gedung FK yang memiliki luas bangunan 43.309 m² yang berdiri di atas lahan seluas 70.353 m² ini berbentuk simetris segi empat. Pintu masuk utamanya ada 3 buah, besar dan tinggi berbentuk dua pintu bukaan. Di atas pintu utama terdapat 4 jendela yang juga terbuat dari campuran kaca dan kayu, tinggi, besar, memanjang, dan berjajar. Atap bangunannya dibuat susun, dan di sisi kanan-kiri gedung utama terdapat pintu gerbang berbentuk lengkung dari beton untuk masuk-keluar mobil maupun pejalan kaki.
Menurut catatan yang ada di Daftar Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya yang dilindungi UU RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.23/PW.007/MKP/2007 tertanggal 26 Maret 2007. *** [300615]