Balai Kota Makassar (1)

Jl. Ahmad Yani No. 2 Makassar

Balai Kota Cirebon (2)

Jl. Siliwangi No. 84 Cirebon

Balai Kota Madiun (3)

Jl. Pahlawan No. 37 Madiun

Balai Kota Lama Medan (4)

Jl. Balai Kota No. 1 Medan

Kantor Gubernur Sumatera Utara (5)

Jl. Diponegoro No. 30 Medan

Monday, July 21, 2014

Kampung Batik Jetis

Kampung Batik Jetis adalah salah satu kampung yang memiliki warisan budaya membatik. Di dalam Kampung Jetis tersebar rumah para perajin batik yang merupakan salah satu sentra batik terbesar di Sidoarjo. Di kampung ini akan ditemukan bangunan-bangunan dengan arsitektur kolonial yang cukup menarik dengan jendela besar dan jeruji besi yang antik. Dapat kita bayangkan pada masa jayanya daerah ini cukup ramai dan banyak terdapat rumah para juragan batik beserta perajinnya menempati daerah tersebut.
Kampung Batik Jetis terletak di Dusun atau Lingkungan Jetis, Kelurahan Lemah Putro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi kampung tersebut berada di seberang jalan utama menuju Stasiun Sidoarjo.


Konsep pembentukan Kampung Batik Jetis muncul dari gagasan masyarakat Jetis itu sendiri. Tujuannya tidak lain adalah sebagai sarana pemberdayaan potensi kampung binaan Pemkab setempat.
Menengok jauh ke belakang, batik tulis tradisional Sidoarjo yang berpusat di Jetis telah ada sejak tahun 1675, setahun setelah Masjid Jamik dibangun. Masjid tersebut kini bernama Al Abror, berada di Kauman (belakang Toserba Matahari). Kala itu, seorang yang konon masih keturunan raja dikejar-kejar penjajah dan lari ke Sidoarjo. Sayangnya sampai sekarang belum ada data akurat, siapa sebenarnya dan dari kerajaan mana pria yang menyamar sebagai pedagang, dan dikenal dengan sebutan Mbah Mulyadi tersebut. Makamnya masih ada di masjid yang kini telah mengalami pemugaran di Kawasan Kauman tersebut.
Bersama para pengawalnya, Mbah Mulyadi mengawali berdagang di “Pasar Kaget” yang kini dikenal dengan nama Pasar Jetis. Selain memberi pelajaran mengaji dan mempelajari Al Qur’an serta selalu mengajak shalat berjamaah, Mbah Mulyadi juga melakukan pendekatan kepada masyarakat setempat dengan memberikan pelatihan ketrampilan membatik.
Seiring dengan perkembangan penduduk, serta kian ramainya perdagangan di Pasar Jetis, kawasan ini banyak didatangi para pedagang dari luar daerah. Pedagang asal Madura yang semakin banyak berdagang di Pasar Jetis sangat menyukai batik tulis buatan warga Jetis. Mereka sering memesan batik tulis dengan permintaan motif dan warna khusus khas Madura. Itu sebabnya, batik tulis asal Jetis ini kemudian juga dikenal orang sebagai batik corak Madura.


Batik tradisional Jetis, atau yang biasa disebut dengan Batik Jetisan, memiliki khas ragam corak dan warna yang cerah seperti hijau, kuning, dan merah. Berbeda dengan batik Solo dan Yogyakarta berwarna coklat dan hanya memakai motif dua warna. Motif batik Jetis Sidoarjo sudah terkenal sejak tahun 1920an (tahun masa keemasan Batik Jetisan). Hal ini diakui sejumlah kolektor batik yang berkunjung ke Kampung Batik Jetis. Bahkan, para kolektor memiliki batik Jetis yang berumur 80-100 tahun.
Motif batik Jetis pada umumnya didominasi oleh flora dan fauna khas Sidoarjo yang memiliki warna-warna cerah, di antaranya kembang tebu, beras wutah, pecah kopi, kembang bayem, maupun burung merak. Secara filosofi, motif kembang tebu muncul karena Sidoarjo memiliki banyak pabrik gula. Motif beras wutah dilatarbelakangi adanya dua penggilingan padi di Sidoarjo di masa lalu namun tetap saja kurang dibandingkan kebutuhan masyarakat akan beras. Motif pecah kopi lahir dilandasi oleh banyaknya masyarakat Sidoarjo pada waktu dulu bercocok tanam kopi. Motif kembang bayem muncul karena dulu Sidoarjo merupakan daerah pemasok sayur-sayuran terutama bagi masyarakat Surabaya. Sedangkan, motif burung merak diperkirakan muncul lantaran dulunya di daerah Sidoarjo banyak dihuni oleh burung merak ketika masih berupa hutan.
Namun, nama Sidoarjo itu tidak pernah muncul dikarenakan hampir semua batik karya perajin Sidoarjo dipakai oleh orang Madura, sehingga disebut dengan istilah batik Madura. Padahal, sebutan batik Madura itu berlaku untuk motif saja. Sedangkan pembuatnya adalah perajin Sidoarjo. Baru sekitar tahun 2008 usai peresmian Kampung Batik Jetis oleh Bupati yang menjabat pada saat itu, sebutannya diganti dengan sebutan batik Sidoarjo. Sehingga, seiring berjalannya sang waktu, batik Jetisan Sidoarjo mulai dikenal dan semakin populer. Karya Kampung Batik Jetis tersebut kini kian dikenal di Jakarta dan luar daerah lainnya, bahkan sampai ke manca negara. *** [180414]

Stasiun Kereta Api Sidoarjo

Pada abad 18, Sidoarjo merupakan salah satu sentra produksi gula. Hal ini ditandai dengan berdirinya 10 pabrik gula di Sidoarjo, yakni Ketegan, Taman, Gedangan, Buduran, Candi, Tulangan, Krembung, Wonoayu, Krian, dan Watu Tulis. Sehingga, Sidoarjo pada masa itu merupakan daerah industri gula yang potensial di Nusantara.
Sebagai konsekuensi dari pembukaan pabrik gula tersebut, pemerintah kolonial Belanda juga menyiapkan sarana dan prasarana untuk mengangkut hasil gula dari Sidoarjo menuju ke pelabuhan atau ke kota lain. Kala itu, gula merupakan komoditas primadona yang diminati di daerah Eropa. Sehingga, pemerintah kolonial Belanda merasa penting untuk membuka jaringan jalan kereta api (rel). Pembangunan jalur kereta api dari Surabaya hingga Pasuruan yang membelah Sidoarjo, dikerjakan oleh Staats Spoorwegen lebih dari tiga tahun, dan diresmikan pada 16 Mei 1878.


Dengan hadirnya jalur kereta api tersebut, sekaligus juga pembangunan stasiun kereta api yang dilintasi oleh jalur tersebut. Salah satunya adalah Stasiun Kereta Api Sidoarjo, atau biasa yang dikenal dengan Stasiun Sidoarjo saja.
Stasiun Sidoarjo terletak di Jalan Diponegoro No. 1 Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di tengah Kota Sidoarjo, dan berseberangan dengan Kampung Batik Jetis.
Stasiun Sidoarjo yang berada di bawah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya ini, memiliki kode stasiun SDA, dan berada di ketinggian + 4 m serta memiliki 4 jalur. Stasiun ini tergolong sebagai stasiun besar yang memiliki fungsi sebagai tempat kereta api berhenti, tempat kereta api berangkat, dan tempat kereta api bersilang, menyusul atau disusul.
Sebagai bangunan stasiun, Stasiun Sidoarjo memiliki kelengkapan sesuai standar bangunan stasiun yang berada di Kota atau Kabupaten pada umumnya, yakni memiliki front area (halaman depan), hall atau vestibule yang ada di bangunan stasiun, peron, dan emplasemen. Dari tampak depan, bangunan stasiun ini mempunyai kesan monumental. Kesan monumental bangunan stasiun ini bisa dilihat dari gaya arsitektur peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh dan luas. Di sebelah kiri dan kanan pintu utama, terdapat deretan jendela kayu dengan jeruji yang lumayan besar sebanyak 6 buah. Keunikan dari stasiun ini memang sudah bisa ditemukan sejak pertama kali melihat muka bangunan stasiun ini.


Memasuki stasiun ini, pintu utamanya yang tingginya sekitar 2 m sebanyak 2 pintu. Pada hall, kesan semilir cukup terasa lantaran ruangannya cukup tinggi dengan suplai angin dari roster yang terpasang. Lanjut masuk ke peron, suasana luas nan memanjang dengan corak bangunan tua menambah kesan sambil menunggu keretanya datang, sejenak menikmati suasana peron kuno yang ada di stasiun tersebut, dan sekaligus menikmati emplasemen stasiunnya. Bangunan utama stasiun memiliki detail-detail yang unik juga pada bagian lainnya. Mulai dari pintu kayu, trails, langit-langit, jendela, dan detail bagian lainnya.
Stasiun Sidoarjo ini memiliki luas bangunan 1.050 m² di atas lahan seluas 2.573 m², dan merupakan aset dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Persero dengan nomor register 115/08.61213/SDA/SDA. Bangunan stasiun ini merupakan bangunan cagar budaya (BCB) milik PT. KAI yang dilindungi oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. *** [180414]

Pintu Air Manggarai

Melintas dari depan Stasiun Manggarai menuju ke Terminal Manggarai sambil menoleh ke kanan sebelum melewati viaduct, terlihat pintu air tua yang cukup unik. Pintu air tersebut dikenal dengan sebutan Pintu Air Manggarai atau Manggarai Water Gate.
Pintu Air Manggarai terletak di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi pintu air ini berada di sebelah barat laut dari Stasiun Manggarai.
Pintu Air Manggarai terdiri dari dua bangunan pintu air, yaitu Pintu Air Ciliwung Lama dan Pintu Air Banjir Kanal Barat (BKB) yang dibangun oleh Departement Waterstaat dari tahun 1920 sampai tahun 1922 dan berfungsi sebagai bangunan pengendali aliran Sungai Ciliwung mengingat Jakarta sering terkena banjir pada waktu itu. Dalam sejarahnya, banjir besar pertama yang melanda Jakarta saat direkam pada tahun 1621, dan diulang pada 1654, 1671, 1699, 1711, 1714, 1854, 1872, 1893, 1918, 1930, 1942, 1976, 1996, 2002, 2007 hingga sekarang.


Pintu Air Ciliwung Lama mengalirkan sebagian kecil aliran Sungai Ciliwung ke arah Sungai Ciliwung Lama dan Pintu Air Banjir Kanal Barat mengalirkan aliran lainnya yang lebih banyak ke arah Banjir Kanal Barat. Pada kondisi air banjir, Pintu Air Ciliwung Lama tidak dibuka maksimal karena untuk menjaga supaya aliran yang berlebihan melalui Sungai Ciliwung Lama tidak menimbulkan banjir khususnya daerah sekitar Pintu Air Ciliwung Lama, Istana Negara dan Masjid Istiqlal. Akibat tidak dibukanya Pintu Air Ciliwung Lama secara maksimal menyebabkan aliran menjadi terkonsentrasi melalui Pintu Air Banjir Kanal Barat yang daya alirnya terbatas sehingga menyebabkan terhambatnya aliran yang menyebabkan terjadinya pengempangan (back water) yang menyebabkan naiknya elevasi muka air banjir di sebelah hulu.
Setelah terendam banjir besar pada awal 1918 yang melumpuhkan Batavia, membuat pemerintah Hindia Belanda memikirkan dan mengupayakan rencana untuk mengatasi banjir. Ditugaskanlah Herman van Breen, seorang insinyur hidrologi yang bekerja pada Burgelijke Openbare Werken yang merupakan cikal bakal dari Departemen Pekerjaan Umum, dan dikerjakan bertahap selama dua tahun.
Konsep van Breen dan rekan-rekannya sebenarnya cukup sederhana, hanya saja diperlukan perhitungan yang teliti dan implementasi serta biaya yang tinggi. Intinya adalah untuk mengontrol aliran air dari sungai hulu dan membatasi volume air masuk kota. Oleh karena itu, saluran perlu dibangun di bagian selatan kota untuk menampung limpahan air, dan kemudian mengalir ke laut melalui bagian barat kota. Saluran penampungan yang dibangun sekarang dikenal  sebagai Banjir Kanal yang memotong dari Pintu Air Manggarai ke Muara Angke.
Dilihat dari sisi historisnya, Pintu Air Manggarai merupakan pintu air yang telah berusia tua sehingga bangunan ini sudah tergolong sebagai bangunan cagar budaya (BCB). Kendati demikian, di kesenjaan umur dari bangunan ini, peran penting sebagai pengendali banjir masih menunjukkan kekokohannya. *** [280514]

Tangga Masjid Menandakan Jumlah Rakaat

Setiap daerah memiliki masjid tertua untuk membuktikan sejarah di daerah masing-masing. Belum lama ini, hariam Jambi Ekspres (Jawa Pos Group) sengaja berkunjung ke Dusun Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo. Di sana terdapat masjid tertua di Kabupaten Bungo. Namanya adalah Masjid Al Falah.
Masjid yang dibangun atas perintah Pangeran Anom tersebut punya arsitektur yang indah dengan bangunan bergaya Melayu. Masjid kuno itu didirikan pada 1812 serta dikerjakan bertahap. Hingga akhirnya, bangunannya berbentuk cukup megah seperti sekarang. Masjid tersebut terus direnovasi.
Beberapa tokoh masyarakat setempat menjelaskan, Dusun Empelu pernah dipimpin seorang Rio Agung Niat Tuanku Kitab. Dia disebut-sebut adalah Rio pertama di wilayah tersebut.
Rio Agung mengajak masyarakat Desa Empelu bergotong royong mengambil kayu di hutan. Tujuannya, membangun sebuah rumah ibadah yang pada saat itu kali pertama disebut Surau Falah. Pendirian awal Masjid Al Falah dikerjakan Rio Agung bersama masyarakat atas titah Pangeran Anom. Ketika didirikan, bangunan Masjid Al Falah masih berbentuk rumah panggung yang terdiri atas beberapa tiang.
“Dulu masjid itu beratap daun rumbia, berdinding kayu, dan berlantai bilah (buluh, Red). Bentuknya biasa menyerupai rumah adat Bungo. Kata orang dulu, nama masjid masih disebut sebagai rumah surau. Bentuknya sangat sederhana, jauh dari bentuk saat ini,” kata tokoh masyarakat Dusun Empelu, Rifa’i.
Masjid tersebut digunakan untuk kepentingan kemasyarakatan dan pemerintahan. Pada 1827, Surau Al Falah direhabilitasi menjadi bangunan berbatu dengan tembok dari semen. Pengerjaan dilakukan Abu Kasim dari Pulau Jawa dan telah lama tinggal di Malaysia. Saat itu nama Surau Al Falah diubah menjadi Masjid Al Falah oleh Pangeran Anom di bawah pimpinan Raja Demak.
Pada 1837, bangunan masjid kembali direhabilitasi. Rehabilitasi bangunan masjid dikerjakan seorang pekerja dari Bukittinggi bernama Mangali. Ketika itu bangunan mulai tampak indah dengan seni arsitektur bangunan serta interior yang cukup menarik. Selain itu, terkandung simbol-simbol atau makna-makna yang cukup luas dari bentuk fisik bangunan.
Bila dihitung, tangga di sekitar masjid berjumlah 17 sebagai tanda jumlah rakaat dalam salat lima waktu. Kemudian, ada 5 tangga mimbar yang menandakan salat 5 waktu sehari semalam. “Sekarang tidak lagi lima karena sudah dipotong,” ujar Rifa’i.
Pada 1850, kembali dilakukan pemugaran untuk memperbarui dua menara rendah. Menara itu terletak di sudut depan masjid seperti saat ini. Saat ini masjid juga terus dalam proses renovasi. (fth/JPNN/c14/diq)

Sumber:
JAWA POS Edisi Kamis, 17 Juli 2014

Thursday, July 17, 2014

Bentuk Penghargaan kepada Penyebar Islam dari Demak

Di Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam), Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, berdiri masjid tua. Usianya pun sudah mencapai 364 tahun.
Masjid yang dikenal dengan nama Masjid Kyai Gede itu dibangun 1650-1678 pada masa pemerintahan Sultan Mustainubillah. Sampai saat ini, masjid tersebut masih dijadikan masyarakat untuk melaksanakan ibadah salat fardu dan Jumaat berjamaah.
Selain itu, masjid yang bercorak perpaduan bangunan Jawa dan Banjar tersebut sering dikunjungi warga dari luar daerah ketika berziarah ke Makam Kyai Gede yang tidak jauh dari masjid setempat.
Salah seorang warga setempat, Padli, menerangkan, Masjid Kyai Gede itu dibangun sebagai bentuk penghargaan yang diberikan Sultan Mustainubillah kepada Kyai Gede. Karena pada masa kepemimpinan sultan, Kyai Gede telah banyak berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Kutaringin atau disebut Kotawaringin Lama (Kolam) saat ini.
Kemudian, dia membangun daerah setempat menjadi lebih maju. Banyak juga masyarakat yang memeluk agama Islam. “Penghargaan yang diberikan sultan kepada Kyai Gede pada masa tersebut tidak hanya berupa pembangunan masjid. Tetapi, Kyai Gede juga diberikan jabatan Adipati di Kutaringin. Yakni, dengan pangkat Patih Hamengkubumi bergelar Adipati Gede Ing Kutaringin,” ujar Padli kepada Kalteng Pos (Jawa Pos Group).
Kepala Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kolam Sueb juga mengakui, masjid setempat memiliki nilai sejarah yang besar dalam perjalanan masuknya Islam ke wilayah Kabupaten Kobar. Sebab, asal mula lahirnya Islam itu kemudian berkembang meluas ke daerah lainnya di Kobar yang berawal dari tempat tersebut. Saat itu, Kyai Gede yang merupakan salah seorang ulama besar yang berasal dari Demak telah menyebarkan agama Islam di daerah setempat. (elm/JPNN/c22/diq)

Sumber:
JAWA POS Edisi Selasa, 15 Juli 2014

Rumah Sembahyang Keluarga The

Tidak begitu jauh dari Rumah Sembahyang Keluarga Han, terdapat juga Rumah Sembahyang The. Rumah ini terletak di Jalan Karet No. 50 Kelurahan Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
Sesuai dengan papan nama yang terpasang di atas pintu utama rumah ini tertulis Rumah Sembahyang Keluarga The Goan Tjing, dikenal juga dengan nama The Sie Siauw Yang Tjo Biauw. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang menyebutnya dengan Rumah Abu The.
Rumah ini didirikan pada tahun 1884 oleh The Goan Tjing. Ayahnya bernama The Sing Koo dan ibunya bernama Liem Gie Nio.


Saudara The Goan Tjing, The Goan Siang pernah menjadi Luitenant pada 1829-1831, kemudian menjadi Luitenant Tituler pada 1831-1838, dan menjadi Kapitein Surabaya pada 1838-1861. Sedangkan, The Goan Tjing sendiri adalah seorang Mayor Tionghoa (Majoor der Chineezen) di Surabaya
Istilah Luitenant, Kapitein, dan Mayor dalam hal ini tidak ada kaitannya dengan urusan militer. Ketiga istilah tersebut adalah sebuah gelar yang diberikan kepada kelompok etnis Tionghoa. Seorang Luitenant, Kapitein maupun Mayor diberikan kekuasaan oleh pemerintah kolonial untuk mengatur urusan kelompok etnis tersebut yang berkenaan dengan agama, adat istiadat maupun hukum yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Mereka yang diharapkan untuk menyelesaikan pertikaian di antara kelompok masyarakat Tionghoa sehubungan dengan hukum yang berlaku tersebut. 

  

Keluarga The ini dalam perkembangannya mempunyai keturunan yang menguasai bidang pertanian, perkebunan tebu dan pabrik gula. Keluarga The mempunyai perhatian lebih terhadap masalah sosial dibanding keluarga Han dan Tjoa. Kepeduliannya terhadap klenteng, pendidikan dan nasib para imigran yang baru datang sangat besar.
Rumah Sembahyang Keluarga The adalah rumah yang dikhususkan untuk memperingati dan menghormati leluhur dari keluarga bermarga The. Di dalamnya tersimpan papan nama arwah (sinci) leluhur yang bersangkutan yang sering disembahyangi dengan membakar hio. Sehingga tidak benar bahwa di dalam rumah sembahyang tersebut terdapat kuburan maupun abu jenazah leluhurnya. Rumah sembahyang ini terkadang disebut sebagai Rumah Abu Keluarga The lantaran disebabkan oleh banyaknya hasil bakaran hio yang terkumpul dalam hiolo (tempat menancapkan hio) di depan sinci.
Rumah Sembahyang Keluarga The ini meski kelihatan kusam lantaran cat temboknya yang mulai kusut namun masih dirawat dan masih dipergunakan sebagai tempat sembahyang tahunan oleh keluarga besarnya. Paling tidak setahun minimal 2 kali, yaitu saat tahun baru Imlek dan sembahyang Ceng Bing.
Bangunan ini menghadap ke barat. Tatanan denahnya tidak memiliki sumur langit di tengah, tetapi diletakkan di kiri-kanannya. *** [020314]

Wednesday, July 16, 2014

Cikal Bakal Islam Masuk Pulau Timor

Masjid Al-Baitul Qadim berdiri kukuh di tengah perkampungan Airmata, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tempat tersebut merupakan bukti sejarah masuknya Islam kali pertama ke Pulau Timor.
Menurut imam Masjid Al-Baitul Qadim H. Mustafa Al-Baitul Qadim, bangunan itu dibangun kali pertama oleh Syah Ban bin Sanga pada 1806. Dia, kata Mustafa, adalah orang pertama yang memimpin umat Islam di daerah daratan Timor.
Dia berasal dari Kesultanan Mananga di daerah Solor, Flores Timur. Syah Ban bin Sanga bersama pengikutnya hijrah ke Pulau Timor lantaran terdesak oleh ekspansi penjajah Portugis di Solor. Sikapnya yang tidak mau tunduk dan bekerja sama dengan penjajah membuat Syah Ban bin Sanga dan pengikutnya berarah ke selatan menuju ke Pulau Timor.
Saat di Kupang, Sanga dan pengikutnya mula-mula tinggal serta berdiam di Oeba, Kelurahan Fatubesi. Namun, Belanda yang juga sementara memperluas ekspansi daerah jajahannya ke Pulau Timor lagi-lagi memaksa mereka untuk pindah dari Oeba ke Airmata.
“Di Airmata itulah pada 1806 Masjid Al-Baitul Qadim didirikan. Enam tahun lamanya masjid ini dibangun. Baru pada 1812 untuk kali pertama masjid ini dijadikan sebagai tempat sholat,” ujar Haji Mustafa kepada Timor Express (Jawa Pos Group).
Dalam perkembangannya, lanjut Mustafa, imam masjid turunan ketujuh pada 1984, Birando bin Tahir, mulai memugar masjid bersejarah itu. Tujuannya, melestarikan keberadaannya sebagai pusat penyebaran Islam di Pulau Timor.
Menurut Mustafa, Masjid Agung Al-Baitul Qadim telah menurunkan tujuh imam kepala. Di antaranya, Birando bin Syahban, Ali bin Birando, Djamaludin, Abdul Gani, Tahin bin Ali Birando, dan Birando bin Tahir.
Pemugaran yang dilakukan Birando bin Tahir atas persetujuan jamaah setempat dilatarbelakangi sejumlah alasan. Yakni, semakin bertambahnya jamaah dan kondisi bangunan yang tidak layak lagi. Meski dipugar, dinding-dinding bangunan masjid tersebut hingga kini tetap asli.
Dalam perjalanan waktu, kampung tua Airmata telah menjadi sebuah destinasi wisata religi di Kota Kupang. Pemerintah Kota Kupang di bawah pimpinan Wali Kota Jonas Salean telah mengusulkan perda tradisi di masjid agung itu untuk menjadi objek wisata rohani.
Kekhasan perayaan Maulid Nabi Muhammad dengan perarakan Siripuan menjadi tradisi yang khas. “Peringatan Maulid Nabi di sini juga ditandai dengan aneka hidangan yang dihiasi aneka warna. Ada nasi merah dan kuning. Ada telur ayam rebus serta pisang rebus yang juga diberi aneka warna da dihidangkan dalam nampan bersama nasi tadi,” ujar Mustafa. (lon/JPNN/c15/diq)

Sumber:
JAWA POS Edisi Sabtu, 12 Juli 2014