Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Selasa, 03 Mei 2016

Daftar Bangunan Kuno di Tangerang Selatan

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Tangerang Selatan:

Situ ini terletak di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten

Stasiun Sudimara terletak di Jalan Raya Jombang, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten

Stasiun Kereta Api Cisauk Tangerang

Stasiun Kereta Api Cisauk (CSK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Cisauk, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian + 33 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun paling tenggara di Kabupaten Tangerang. Stasiun Cisauk terletak di Jalan Cisauk Raya, Desa Sampora, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Lokasi stasiun ini berada di antara Stasiun Cicayur dan Stasiun Serpong.
Bangunan Stasiun Cisauk yang lama merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Duri-Rangkasbitung sepanjang 76 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1899 berbarengan dengan pengerjaan jalur kereta api Duri-Tangerang.


Proyek jalur kereta api Duri-Rangkasbitung ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Barat jilid 2 (Westerlijnen-2) hingga Merak. Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah. Setelah jalur rel Duri-Rangkasbitung selesai, maka dilanjutkan jalur rel Rangkasbitung-Serang-Cilegon (1900), dan Cilegon-Merak (1914).
Awalnya, stasiun ini merupakan stasiun lintasan kereta api (Stopplaats). Namun seiring kehadiran perumahan kelas menengah ke atas Bumi Serpong Damai (BSD), dan terus diikuti pengembang perumahan lainnya di kawasan sekitar Cisauk, menjadikan keberadaan stasiun ini menjadi strategis untuk aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang dari daerah Cisauk dan BSD yang akan bepergian ke Jakarta atau sebaliknya. Akhirnya, stasiun ini dikembangkan menjadi stasiun penumpang.
Perlu diketahui, bahwa stasiun yang berada pada jalur rel Duri-Rangkasbitung pada awalnya merupakan stasiun lintasan. Hal ini karena lokasinya ketika itu masih berupa hutan maupun persawahan, jadi belum ada pemukiman seperti sekarang ini. Sehingga, bangunan awal stasiun-stasiun tersebut pada umumnya tidaklah begitu besar.


Kini, stasiun ini berkembang menjadi modern seiring tuntutan akan adanya moda transportasi massal di kawasan tersebut. Pintu utama masuk stasiun dipindahkan di sebelah selatan rel kereta api dengan tampilan yang lebih modern dengan e-ticketing. Sedangkan, bangunan utama stasiun yang lama masih tetap berdiri dan berada di sebelah utara rel kereta api. Kedua bangunan tersebut masing-masing memiliki area parkir yang luas, namun parkir yang di sebelah utara rel masih cenderung terbuka hingga Jalan Cisauk Raya. Area parkir di bagian selatan cenderung sudah tertata, dan e-ticketing juga. Jadwal kereta api Commuter Green Line pun setiap saat ada, sehingga memudahkan para penumpang yang akan bepergian ke Jakarta. Selain itu, setiap harinya stasiun ini juga dilalui kereta api ekonomi yang akan menuju Rangkasbitung hingga Merak maupun sebaliknya menuju ke Tanah Abang.
Stasiun ini memiliki 2 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Cicayur hingga Merak. Jalur 2 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Serpong hingga Tanah Abang.
Stasiun Cisauk yang lama ini memiliki luas bangunan utama stasiun (lama) sekitar 195 m², dan tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 256/C6.15341/CSK/BD. Stasiun lama ini masih digunakan sebagai kantor dalam mengelola stasiun ini.  Sedangkan, jalur yang melintasi stasiun ini sudah dielektrifikasi yang terkonek dari Tanah Abang hingga Stasiun Maja. *** [010516]

Senin, 02 Mei 2016

Stasiun Kereta Api Sudimara Ciputat

Stasiun Kereta Api Sudimara (SDM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sudimara, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian + 28 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kereta api kelas III. Stasiun Sudimara terletak di Jalan Raya Jombang, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Pasar Jombang.
Bangunan Stasiun Sudimara yang lama merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda meski fasade bangunan ini sedikit mengalami perubahan dengan penambahan ruangan di sebelah kanan bagian depan. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Duri-Rangkasbitung sepanjang 76 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1899 berbarengan dengan pengerjaan jalur kereta api Duri-Tangerang. Peresmian stasiun ini dilakukan pada 1 Oktober 1899.


Proyek jalur kereta api Duri-Rangkasbitung ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Barat jilid 2 (Westerlijnen-2) hingga Merak. Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah. Setelah jalur rel Duri-Rangkasbitung selesai, maka dilanjutkan jalur rel Rangkasbitung-Serang-Cilegon (1900), dan Cilegon-Merak (1914).
Pada awal mulanya, Stasiun Sudimara ini berfungsi sebagai stasiun lintasan kereta api saja (Stopplaats), namun kemudian berubah menjadi stasiun kecil (halte) untuk melayani warga sekitar yang menjual hasil perkebunannya ke Batavia Zuid (sekarang Jakarta Kota) maupun Tanah Abang. Pada 16 Maret 1954, Direksi Djawatan Kereta Api menaikkan Stasiun Sudimara menjadi stasiun kelas IV.
Sekarang, stasiun ini menjadi stasiun kelas III. Akan tetapi sejak dioperasikan KRL (Kereta Listrik), atau dalam bahasa menterengnya disebut Commuter Line hingga Stasiun Maja di Tangerang, Stasiun Sudimara ini menjadi stasiun yang tergolong ramai, sibuk dan padat jadwal lintasannya. Hal ini juga tak terlepas dari perkembangan hunian yang ada di sekitar stasiun tersebut, karena Ciputat merupakan daerah penyangga Kota Jakarta.


Proyek jalur ganda (double track) yang melintasi Stasiun Sudimara yang diresmikan pada 4 Juli 2007 semakin menggairahkan aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang di stasiun ini. Sebagai akibatnya, fisik stasiun ini pun turut dikembangkan mengikuti lonjakan penumpang dari stasiun ini. Konon, stasiun ini merupakan stasiun dengan pengguna terpadat ke 2 setelah Stasiun Tanah Abang pada jalur hijau Commuter Line. Dengan volume ± 15.000 penumpang per harinya. Belasan ribu penumpang pengguna Commuter Line harus berdesakan pada stasiun ini. Situasi inilah yang menyebabkan PT KAI (Persero) mengembangkan stasiun ini agar daya tampungnya bisa maksimal. Peron ditinggikan semua, dan disediakan penyeberangan antar peron, serta pintu masuk dibuat menjadi dua lokasi. Satu berada di selatan jalur rel, dan yang satunya berada di utara jalur rel, berdampingan dengan bangunan lama stasiun. Bangunan stasiun yang baru lebih modern tampilannya, cenderung terbuka dan tinggi langit-langitnya.
Stasiun ini memiliki 3 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Rawa Buntu hingga Merak. Jalur 2 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Jurangmangu hingga Tanah Abang. Sedangkan, jalur 3 ini merupakan jalur persediaan untuk langsiran kereta api saja.
Bangunan lama Stasiun Sudimara ini masih beruntung, tidak dirobohkan. Sehingga, jejak historinya masih bisa dilihat. Hanya saja, bangunan lama tersebut kurang terawat bila dilihat dari tampak mukanya (fasade). Seandainya, bangunan lama ini tetap dipelihara atau difungsikan sebagai museum mini Stasiun Sudimara, tentunya akan menambah nilai tambah bagi keberadaan stasiun ini. Tidak perlu dihadirkan koleksi yang sulit dikumpulkan, tapi tampilkan saja yang ada di stasiun tersebut, seperti pajangan foto dengan story line perjalanan stasiun ini dari waktu ke waktu. Hal ini selaras dengan ujaran Isidore Marie Auguste Franรงois Xavier Comte (1798-1857), seorang filsuf Perancis, yang berbunyi: “Savoir Pour Previour”. Artinya, mempelajari masa lalu, melihat masa kini, untuk menentukan masa depan. *** [010516]

Rabu, 27 April 2016

GPIB Jemaat Sion Jakarta

Minggu itu udara cerah, setelah sekian hari Jakarta dirundung mendung dan terkadang turun hujan. Kondisi ini saya manfaatkan untuk berkeliling Jakarta dengan memakai motor Honda Supra X dengan plat nomor AD 6387 CS. Sempat lewat Kota Tua Jakarta, tapi karena ramai saya memilih meneruskan keliling Jakarta.
Kemudian saya menyusuri Jalan Mangga Dua. Setelah melintasi Halte Busway Pangeran Jayakarta, sepintas saya melihat bangunan tua yang berada di sisi kanan. Sehingga, saya harus belok ke kanan guna melihat dari dekat bangunan lawas tersebut. Ternyata bangunan kuno tersebut adalah GPIB Jemaat Sion, atau biasa disebut dengan Gereja Sion saja. Gereja ini terletak di Jalan Pangeran Jayakarta No. 1 RT. 09 RW. 04 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Kota Jakarta Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gereja ini berada di dekat Halte Busway Pangeran Jayakarta, atau di sudut pertemuan antara Jalan Pangeran Jayakarta dan Jalan Mangga Dua.
Menurut riwayatnya, Gereja Sion ini merupakan salah satu gereja yang paling tua di Jakarta. Gereja ini dibangun pada tahun 1693 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-16, Willem van Outhoorn (1691-1704). Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693, dan pengerjaan fisik bangunan gereja ini memakan waktu sekitar dua tahun. Setelah selesai, gereja ini pun diresmikan pada Minggu, 23 Oktober 1695 dengan pemberkatan oleh Pendeta Theodorus Zas.


Pembangunan gereja ini bertujuan sebagai tempat peribadatan orang-orang Portugis yang datang dari wilayah taklukan VOC kala itu. Mereka ini dikenal dengan de Mardijkers, yaitu sebutan untuk para bekas anggota tentara Portugis dan keturunannya di Batavia yang dibebaskan dari tawanan Belanda. Mereka itu dibawa oleh VOC bersamaan dengan jatuhnya wilayah kekuasaan Portugis di India, Malaka, Sri Langka, dan Maluku. Setelah beralih dari Katolik menjadi Protestan, mereka dibangunkan gereja. Salah satunya gereja Sion ini, yang pada peresmiannya diberi nama resmi, De Portugeesche Buitenkerk. Nama ini berasal dari bahasa Belanda, yang artinya gereja Portugis di luar.
Dulu, pada saat gereja ini dibangun, suasana Batavia masih merupakan kota di dalam kastil atau benteng. Sedangkan, lokasi dibangunnya gereja ini berada di luar benteng tersebut, makanya dinamakan gereja Portugis di luar.
Pada waktu terjadi invansi Jepang atas Hindia Belanda, bala tentara Jepang yang dikenal dengan Dai Nippon, menjadikan gereja ini sebagai tempat menyimpan abu tentara yang gugur. Setelah Indonesia merdeka, De Portugeesche Buitenkerk diganti namanya menjadi Gereja Portugis. Artinya, gereja yang diperuntukkan untuk jemaat yang berasal dari orang-orang Portugis maupun keturunannya yang bermula dari keberadaan de Mardijkers.
Pada masa peralihan ini, gereja ini resmi bergabung dengan denominasi GPIB (Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat) sejak 1957. Pada sidang Sinode GPIB tahun 1957, Gereja Portugis diputuskan untuk berganti nama menjadi GPIB Jemaat Sion. Sion berasal dari nama sebuah bukit yang berada di daerah Yerusalem, dan diyakini oleh bangsa Israel kuno sebagai lambang keselamatan.
Bangunan gereja Sion ini berbentuk persegi empat dengan luas 768 m² di mana panjangnya adalah 32  m dan lebarnya adalah 24 m, yang berdiri di atas lahan seluas 6.725 m². Luas bangunan tersebut mampu menampung jemaatnya hingga 1.000 orang. Konstruksi ini bangunan gereja ini menggunakan hasil rancangan dari E. Ewout Verhagen dari Rotterdam, dengan pondasi yang terdiri dari 10.000 batang kayu dolken atau balok bundar. Seluruh dindingnya terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan campuran pasar dan gula yang tahan terhadap panas.
Dilihat dari fasadnya, bangunan gereja ini tergolong sederhana. Seperti kubus dengan atap menyerupai limasan. Sedangkan, di dalamnya menyerupai bangsal (hall church). Sebagian besar bangunan dan interior tidak berubah sejak gereja ini didirikan. Namun demikian, gereja ini pernah mengalami pemugaran pada tahun 1920 dan 1978. Termasuk penyempitan halaman gereja, karena adanya pelebaran Jalan Pangeran Jayakarta.
Gereja ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0128/M/1988 tanggal 27 Februari 1988 dan Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Nomor Cb 11/I/12/1972 tanggal 10 Januari 1972, bersamaan dengan penetapan Gereja Immanuel sebagai BCB. *** [240416]

Kepustakaan:
Brosur Gratis Warisan Budaya di Jakarta yang dipublikasikan oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi DKI Jakarta, 2015
http://news.liputan6.com/read/473268/mengenal-lebih-dekat-gereja-portugis-di-jakarta
https://web.facebook.com/permalink.php?id=660910340628152&story_fbid=694132657305920&_rdr

Selasa, 26 April 2016

Pantjoran Tea House Jakarta

Pada zaman dulu, sekitar tahun 1920-1930-an, Jalan Pancoran dikenal sebagai kawasan toko obat Tiongkok. Banyak orang Tionghoa yang mengais rezeki melalui berdagang obat khas Tiongkok tersebut, sehingga sepanjang Jalan Pancoran terlihat deretan toko penjual obat Tiongkok.
Maka tak mengherankan bila pada waktu itu, Pancoran dikenal sebagai sentra toko obat Tiongkok yang paling lengkap di Indonesia. Ada beberapa toko obat Tiongkok yang cukup eksis kala itu, yaitu Tay Seng Ho, Si Nei, Hau Hau, Bang Seng, dan Apotek Chung Hwa. Meskipun, berdirinya paling akhir dari keempat toko obat yang lainnya, yaitu pada tahun 1928, namun karena letak Apotek Chung Hwa dan bentuk bangunannya yang khas, menjadikan Apotek Chung Hwa ini cukup dikenal bagi masyarakat Jakarta tempo doeloe.
Kekhasan bangunannya yang terletak di sudut jalan ini, menjadikan bangunan lawas bekas Apotek Chung Hwa menjadi salah landmark yang terdapat kawasan Glodok dan Kota Tua Jakarta. Hal ini yang menginspirasi PT JOTRC (Jakarta Old Town Revitalization Corporation) yang berkerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk memasukkan Apotek Chung Hwa sebagai salah satu bangunan yang direvitalisasi.
Pemugaran bangunan bekas Apotek Chung Hwa memakan waktu sekitar 8,5 bulan, dan selesai pada 15 Desember 2015. Gedung yang awalnya memiliki luas bangunan 400 m² itu, kini hanya tersisa sekitar 218 m². Luas bangunan ini berkurang, karena terpotong proyek pelebaran jalan di kawasan Glodok.


Sekarang gedung tersebut telah utuh kembali, berdinding warna krem dan didesain dengan hiasan jendela kaca memanjang mengelilingi bagian luarnya. Bohlam-bohlam lampu bercahaya kuning temaram menggantung menghiasi ruangan. Kendati sudah purna pugar dan siap dihuni lagi, namun bangunan tua ini tidak akan dimanfaatkan kembali sebagai toko obat atau apotek lagi, melainkan difungsikan sebagai Pantjoran Tea House. Kedai teh ini terletak di Jalan Pancoran No. 6 Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi kedai teh ini berada di sebelah utara Pasar Glodok/Eks Harco, atau berada di persimpangan Jalan Pancoran dan Jalan Pintu Besar Selatan.
Pantjoran Tea House adalah sebuah kedai teh bernuansa Tiongkok. Interiornya pun dibuat dengan unsur Tiongkok yang kuat. Terlihat dari pemilihan ornamen kisi-kisi dan pintu bergaya Tiongkok dan lantai keramik dengan gaya serupa. Desain ini memang dipilih dalam merevitalisasi bangunan tua ini, untuk mempertahankan budaya Tiongkok yang identik dengan China Town sebagai bagian dari Kota Tua Jakarta.
Selain itu, pengalihfungsian menjadi kedai teh ini tidak serta merta tanpa alasan yang mendasar. Dalam sejarahnya, Apotek Chung Hwa berdiri di daerah Patekoan Glodok. Kata Patekoan, berasal dari bahasa Tiongkok, yang terdiri dari Pa dan Tekoan. Pa artinya delapan, dan tekoan berarti teko. Jadi, Patekoan bermakna Delapan Teko.
Kisahnya bermula dari seorang Kapitein der Chineezen bernama Gan Jie yang gemar menyediakan delapan teko berisi teh di depan rumahnya. Tujuannya memberikan teh gratis untuk orang-orang yang singgah di depan rumahnya, sembari berteduh selepas berdagang keliling atau hanya kelelahan berjalan. Di depan rumahnya, Gan Jie memasang meja-meja kecil. Setiap pagi dan sore ia menyediakan cangkir-cangkir berisi air teh di atas mejanya.
Gan Jie menyediakan delapan teko ini untuk isi ulang bila teko yang satu sudah habis, orang lain yang mau minum masih bisa kebagian. Sehingga, air teh yang disediakan oleh Gan Jie dalam delapan teko ini mampu mencukupi keperluan warga yang melintas di depan rumahnya. Perbuatan mulia Gan Jie ini pun akhirnya dikenal oleh warga, dan persediaan air teh pun akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan warga mencari lokasi rumah Kapiten Tionghoa itu. Warga pada umumnya mengatakan, di mana ada teh-teh itu di situlah tempat tinggal Gan Jie.
Kisah inilah yang mengilhami kedai teh tersebut. Kota Tua Jakarta yang diwarnai suasana Pecinan, di mana banyak etnis Tionghoa tinggal, tentu akrab dengan tradisi minum khas negeri Tirai Bambu. Teh menjadi minuman yang populer di tengah-tengah keluarga Tionghoa, karena bukan sekadar rasanya tetapi juga kualitas teh tersebut bagi kesehatan.
Sesuai namanya, Pantjoran Tea House ini diusung menjadi brand kedai teh yang ada di kawasan Glodok, yang dulunya merupakan pintu gerbang menuju Kota Tua Jakarta. Teh, memang menjadi menu unggulan yang terdapat di kedai teh ini, di samping menu makanan yang lainnya, seperti nasi goreng, mie goreng, bakso tahu kuah, bubur ayam, dan aneka masakan lainnya.
Kedai teh ini juga tak mau kalah dengan museum pada umumnya. Di kedai tersebut, pengunjung kedai teh tersebut bisa menikmati secangkir teh khas Tiongkok sambil membaca documentary story board ala museum. Ada dua story board di situ, yaitu Timeline Sejarah Teh: Kelahiran di Cina dan Kebudayaan Teh Jepang. Teguk mantapnya, dan dapatkan sejarahnya! *** [240416]

Minggu, 24 April 2016

Stasiun Kereta Api Jatinegara

Stasiun Kereta Api Pasar Jatinegara (JNG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Jatinegara, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian +16 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun yang cukup besar.
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Bekasi Barat No. 1 RT. 13 RW. 16 Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi stasiun ini terletak di depan Pasar Batu Mulia Jakarta, atau yang dikenal dengan Jakarta Gems Center.
Keberadaan Stasiun Jatinegara tidak terlepas dari adanya pembangunan jalur kereta api dari Jakarta Kota-Bekasi lewat Pasar Senen sepanjang 27 kilometer oleh Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) pada tahun 1887, dan kemudian dilanjutkan ke Kedunggedeh yang selesai pada 1891 serta diteruskan lagi hingga ke Karawang.
Pada saat membangun jalur Kedunggedeh-Karawang, Maskapai BOS mengalami kesulitan keuangan sehingga tidak mampu meneruskan jalur tersebut, dan tidak bisa merawat jalur yang sudah ada. Akhirnya, jalur bekas milik Maskapai BOS ini dibeli oleh Pemerintah Hindia Belanda pada Agustus 1898, dan pengelolaannya diserahkan kepada Staatsspoorwegen (perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda). Kemudian Staatsspoorwegen (SS) melanjutkan pembangunan jalur Kedunggedeh-Karawang sepanjang 6 kilometer pada 1898. Dari Kerawang, SS meneruskan pembangunan jalur rel ke Cikampek hingga Purwakarta sepanjang 41 kilometer pada 1902. Tak hanya itu, SS juga membangun jalur rel Cikampek-Cirebon sepanjang 137 kilometer pada 1912, yang pada akhirnya terkoneksi dengan jalur kereta api dari Jawa Tengah.


Awalnya, bangunan Stasiun Jatinegara ini masihlah sederhana pada saat dibangun oleh Maskapai BOS. Wilayah Jatinegara dulunya masih bernama Meester Cornelis. Nama Meester Cornelis mengacu kepada seorang bernama Cornelis Senen, seorang pria kaya asal Pulau Lontor, Banda, Maluku yang bermukim di Batavia sejak tahun 1621. Di Batavia, Cornelis Senen menjadi guru agama Kristen, membuka sekolah dan memimpin ibadat agama Kristen serta menyampaikan khotbah dalam bahasa Melayu dan Portugis. Jabatannya sebagai guru itulah yang membuat ia mendapat sebutan “Meester” atau “Tuan Guru.”
Pada waktu itu, Cornelis Senen berkeinginan sekali menjadi pendeta, niat itu ditolak oleh Belanda karena tidak memenuhi syarat. Meski demikian, Belanda tetap mengizinkan Cornelis Senen menjadi guru agama Kristen, dan sekaligus diberi wilayah berupa hutan di tepi Ciliwung untuk ditempati dan sekalgus digarapnya. Tanah luas penuh pepohonan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Meester Cornelis.
Seiring perjalanan waktu, daerah Meester Cornelis semakin berkembang dan kian menjadi ramai sekitar tahun 1905. Banyak orang Tionghoa yang juga berdatangan ke daerah itu untuk mengadu nasib, dan orang Belanda yang bermukim di situ. Seiring itu pula, banyak bangunan fasilitas publik dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada periode tersebut. Termasuk SS akhirnya juga berencana melakukan rancang bangun stasiun lama yang sudah dibuat oleh Maskapai BOS menjadi stasiun yang lebih besar untuk mengantisipasi perkembangan pesat di wilayah Meester Cornelis. Pembangunan stasiun tersebut kemudian dikerjakan pada tahun 1910, dan desain arsitekturnya dirancang oleh Ir. S. Snuyf dari Departement van Burgelijke Openbare Werken (BOW). Stasiun ini dirancang sebagai stasiun penghubung yang penting sebagai rangkaian yang baru ke stasiun Weltevreden dan jalur yang ada ke Tanjung Priok melalui Stasiun Pasar Senen.
Dalam perjalanannya stasiun ini pernah beberapa kali berganti nama. Pada waktu jalur ini masih dikelola oleh Maskapai BOS, stasiun ini dikenal dengan Stasiun BOS. Kemudian setelah diambil alih oleh SS, nama stasiun ini berubah menjadi Stasiun Staatsspoorwegen. Lalu, setelah dibangun kembali dan diperluas, stasiun ini menjadi Stasiun Meester Cornelis. Dan, setelah Jepang menduduki Jakarta, stasiun ini diganti oleh Jepang menjadi Stasiun Jatinegara sampai saat ini. Hal ini mengikuti perubahan nama dari Meester Cornelis menjadi Jatinegara yang dilakukan oleh Jepang, karena Jepang tidak suka dengan nama-nama yang masih berbau Belanda.
Dilihat dari fasade bangunan stasiun ini, tampak seperti gaya peralihan antara Indische Empire dengan gaya kolonial modern. Tampak depan tidak simetris, namun terlihat adanya penekanan bagian tengah sebagai focal point melalui ukuran ruang dan ketinggian bangunan yang lebih menonjol. Di bagian atas puncak atapnya terdapat kubah kecil (louvre), sedangkan di bagian muka atap terdapat semacam domer tapi membentuk gevel kecil.
Memasuki bangunan stasiun dari pintu utama, akan menjumpai hall yang tinggi langit-langitnya. Sehingga memungkinan adanya jendela atap (clerestory), yang berfungsi untuk memasukkan cahaya matahari. Di hall tersebut ada beberapa loket untuk penjualan karcis. Dulu, sewaktu stasiun ini masih digunakan untuk pemberangkatan kereta api ke Jawa Tengah maupun Jawa Timur, pemandangan di loket selalu berjubel. Tapi semenjak digunakan untuk stasiun commuter line, sudah tidak berjubel lagi namun masih menunjukkan keramaian juga.
Stasiun ini juga memiliki beberapa jalur aktif sebanyak 5 jalur. Hal ini dikarenakan Stasiun Jatinegara merupakan jalur penghubung antara Stasiun Manggarai, Stasiun Pasar Senen, dan Stasiun Bekasi. Bagian peronnya telah ditinggikan dengan atap tambahan berbentuk sayap.
Stasiun Jatinegara ini telah ditetapkan sebagai daftar tinggalan sejarah yang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 011/M/1999 tanggal 12 Januari 1999. *** [240416]

Sabtu, 23 April 2016

Museum Sumpah Pemuda Jakarta

Seiring dengan tumbuhnya sekolah-sekolah pada awal abad ke-20, di Jakarta tumbuh pula pondokan pelajar untuk menampung mereka yang tidak tertampung di asrama sekolah atau bagi mereka yang ingin hidup lebih bebas di luar asrama yang ketat. Salah satu di antara pondokan pelajar (Commensalen Huis) di Jakarta adalah rumah milik Sie Kong Liong, yang terletak di Jalan Kramat Raya No. 106. Karena rumahnya besar dan berhalaman luas, maka rumah pondokan ini sering dikenal dengan sebutan Gedung Kramat 106.
Pada tahun 1920-an, Gedung Kramat 106 termasuk wilayah Weltevreden (bagian dari Batavia). Jalan di muka gedung saat itu sudah ramai dengan lalu lintas kendaraan mobil dan trem listrik yang menghubungkan daerah Senen dan Meester Cornelis (sekarang Jatinegara).


Selain sebagai tempat tinggal, gedung tersebut digunakan sebagai tempat latihan kesenian “Langen Siswo” dan diskusi politik. Setelah Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI) didirikan pada bulan September 1926, Gedung Kramat 106 dijadikan kantor PPPI dan kantor redaksi majalah PPPI, Indonesia Raja. Berbagai organisasi pemuda sering menggunakan tempat ini sebagai tempat berkumpul. Karena sering dijadikan tempat pertemuan para tokoh pemuda Indonesia, sejak tahun 1928 gedung ini diberi nama Indonesische Clubgebouw (Gedung Pertemuan Indonesia). Tokoh-tokoh yang pernah tinggal di gedung tersebut antara lain adalah Mohamad Yamin, Abu Hanifah, Amir Sjarifudin, A.K. Gani Setiawan, Soerjadi, Mangaraja Pintor, dan Assaat.
Pada tahun 1928 pula Gedung Kramat 106 dijadikan salah satu tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Gedung ini dijadikan pusat pergerakan mahasiswa sampai tahun 1934.


Sejak tahun 1934-1970 Gedung Kramat 106 mengalami beberapa kali alih fungsi, antara lain sebagai rumah tinggal, toko bunga, hotel, dan perkantoran. Gedung yang sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia ini kemudian dijadikan museum oleh Pemerintah DKI Jakarta dengan nama Gedung Sumpah Pemuda pada tahun 1973, kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1974. Pada 16 Agustus 1979, pengelolaan Gedung Sumpah Pemuda diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan keluarnya Surat Keputusan (SK) Mendikbud No. 029/O/1983 tanggal 7 Februari 1983, Gedung Sumpah Pemuda dijadikan UPT di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan nama Museum Sumpah Pemuda (Youth Declaration Museum).
Pada tahun 2013, bangunan utama Gedung Museum Sumpah Pemuda ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) Peringkat Nasional, melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 254/M/2013 tanggal 27 Desember 2013.
Museum Sumpah Pemuda ini memiliki sejumlah koleksi yang berkaitan dengan gerakan pemuda-pemudi dalam menyongsong tercetusnya Sumpah Pemuda. Seperti pada museum yang lainnya, Museum Sumpah Pemuda ini juga mempunyai ruang pamer yang berada di bangunan utama gedung tersebut. Ruang pamer tersebut menempati kamar-kamar yang terdapat di gedung tersebut. Namun pada kunjungan saya ini, hanya bisa menyaksikan empat ruangan saja karena sebagian ruangan yang lainnya sedang direnovasi untuk tata letaknya.

Ruang Tamu
Ruang ini berada di bagian depan ketika pengunjung mulai masuk pintu utama. Ruang ini dulunya merupakan ruang tamu, atau ruang untuk berdiskusi para pemuda yang mondok di rumah tersebut.
Koleksi yang dipamerkan berupa diorama suasana diskusi pemuda pada saat itu, dan sejumlah story board yang menerangkan sejarah pemondokan ini.

Ruang Perenungan
Sesuai namanya, ruangan ini diperuntukkan untuk melahirkan pemikiran yang cemerlang ke arah persatuan para pemuda Indonesia, atau semangat Indonesia.
Pada ruang ini ditampilkan diorama yang mengetengahkan seorang pemuda dengan serius yang sedang memantau berita dari radio untuk mengetahui perkembangan yang ada. Selain itu juga dipasang sejumlah story board sebagai pendukungnya.

Ruang Indonesia Raya
Ruang pamer ini berisi biola dan piringan hitam yang berisi lagu Indonesia Raya yang berhasil membangkit semangat juang para pemuda Indonesia.
Story board yang dipampang di dinding ini menjelaskan biografi Wage Rudolf Supratman, deskripsi biola, hingga sejarah lagu Indonesia Raya (History of the Song Indonesia Raya).

Ruang Indonesia Muda dan Perhimpunan Pelajar Indonesia
Pada ruangan ini terdapat diorama seorang pumuda yang bersama temannya sedang membaca koran Benih Merdeka, dan dilengkapi dengan story board mengenai Indonesia Muda dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia.
Di ruangan ini, pengunjung akan tahu bagaimana kiprah-kiprah mereka yang berdatangan dari pelbagai daerah di Indonesia dan bertemu di Jakarta.

Ruang Kepanduan
Ruang ini berada di belakang bangunan utama, menempati sebuah bangunan serambi belakang yang menghadap ke arah selatan.
Di dalam ruangan ini terdapat diorama seragam kepanduan dengan sepeda onthel, dan dilengkapi dengan story board perihal kepanduan yang cukup lengkap.

Setelah selesai di Ruang Kepanduan, pengunjung bisa menyaksikan Monumen Persatuan Pemuda 1928 di halaman belakang, berupa tangan mengepal berwarna hitam, dan di bawahnya terdapat bait-bait kata yang ada pada Sumpah Pemuda.
Mengunjungi Museum Sumpah Pemuda ini memberi kenangan tersendiri bagi para pengunjung. Selain, bisa menikmati koleksi-koleksi yang berhubungan dengan Sumpah Pemuda, pengunjung juga bisa menyaksikan bangunan kuno bergaya Indische Empire yang masih megah dan kokoh. Sehingga, bila dirangkai keduanya, pengunjung terasa diajak berjalan ke masa lampau yang penuh sejarah ini. Dan sekarang, Museum Sumpah Pemuda ini terletak di Jalan Kramat Raya No. 106 Kelurahan Kwitang, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi museum ini berada di depan Hotel Amaris Kramat Raya. *** [210416]