Benteng Barnaveld (1)

Jl. Benteng Barnaveld, Pulau Bacan

Benteng Oranje (2)

Jl. DR. Hasan Boesoiri, Kota Ternate

Benteng Kalamata (3)

Jl. Kayu Merah, Ternate Selatan

Benteng Kastela (4)

Jl. Raya Benteng Kastela Santo Paulo, Ternate Selatan

Benteng Tolukko (5)

Jl. Makam Pahlawan, Ternate Timur

Thursday, January 29, 2015

Masjid Agung Magelang

Segelas wedang ronde di seputaran alun-alun Kota Magelang, telah cukup menghangatkan badan, setelah menempuh perjalanan dari Kota Solo menuju Kota Magelang di malam hari. Sambil menikmati hangatnya wedang ronde, selurus pandangan mata ke arah barat tampak sebuah masjid dengan menara yang menjulang. Namun sayang, penulis tidak bisa mengambil gambar pada saat itu karena waktu menjelang larut malam.
Baru selang dua hari, penulis bisa berkunjung ke masjid tersebut usai mendampingi FGD di Kantor Dinas Pendidikan Kota Magelang. Masjid tersebut adalah Masjid Agung Magelang.
Masjid ini terletak di Jalan Alun-alun Barat No. 2 Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi masjid ini berada di sebelah barat alun-alun Kota Magelang, dan tidak begitu jauh dari Menara Air Magelang.
Awalnya, masjid ini hanyalan berupa mushala kecil yang dibangun oleh Kyai Mundzakir, seorang ulama dari Jawa Timur, pada tahun 1650. Atap mushala masih berbentuk tumpang dua dan bangunan ruang utamanya masih terbuka dengan tembok setengah tinggi manusia.


Pada tahun 1797, bangunan mushala tersebut dipugar guna menampung jamaah yang semakin hari semakin bertambah. Selain memperluas bangunan mushala, dalam pemugaran tersebut juga diiringi dengan menambah mimbar untuk khotbah dan soko guru (tiang utama) dari kayu jati yang sengaja didatangkan dari Bojonegoro. Pemugaran ini diabadikan dalam prasasti bertuliskan dengan bahasa Arab dan Belanda. Prasasti dwi bahasa tersebut sampai sekarang masih terawat dengan baik, dan berada di dalam masjid.
Ketika Alwi bin Said Abdurrahim Basyaiban dikukuhkan menjadi bupati pertama oleh Sir Thomas Stamford Raffles dengan gelar Mas Ngabei Danukromo pada tahun 1812, mushala tersebut diperbesar menjadi sebuah masjid dengan sebutan Masjid Jami’ Magelang (Grote Moskee te Magelang). Kebijakan ini dilakukan sembari membangun alun-alun, dan rumah bupati (regentwoning) di utara alun-alun.
Lalu, sejarah juga mencatat bahwa setiap ada pergantian pemerintahan dari bupati yang lama ke bupati berikutnya, bangunan masjid tersebut mengalami pemugaran dengan penambahan-penambahan bangunan pendukung lainnya. Seperti pada tahun 1871, semasa pemerintahan Bupati ke III, yaitu Adipati Danuningrat III (cucu dari Mas Ngabei Danukromo), masjid tersebut ditambah serambi muka dan menara kecil.
Baru pada masa pemerintahan Muhammad bin Said Basyaiban, Bupati ke V dengan gelar Raden Tumenggung Danusugondo, masjid ini mengalami renovasi besar-besaran yang dilakukan pada tahun 1934. Dalam pemugaran tersebut, bertindak sebagai ketua pembangunan langsung dipegang oleh Bupati Danusugondo. Tak tanggung-tanggung, beliau menggunakan bantuan biro arsitek berkebangsaan Belanda, yaitu Heer H Pluyter. Hasil rancangan Pluyter tersebut menghasilkan bangunan masjid seperti yang disaksikan sekarang, kecuali bangunan menaranya yang baru didirikan pada tahun 1991 semasa walikota Bagus Panuntun. Sekaligus menandai berubahnya dari Masjid Jami’ Magelang menjadi Masjid Agung Magelang.


Dilihat dari fisik bangunan, tata ruang dari masjid ini merupakan tipologi masjid yang ada di Jawa pada umumnya. Ruang dibagi menjadi tiga, yaitu ruang utama, serambi kanan dan serambi kiri. Ditambah lagi, selasar yang berada di depan yang berfungsi pula sebagai serambi depan. Selasar yang lapang ini juga kerap dimanfaatan oleh para jamaah untuk beristirahat sambil merebahkan diri.
Ciri arsitektur Jawa lainnya juga ditemukan pula pada bentuk atap masjid yang bercorak tajuk atau bersusun. Menurut filosofi Jawa, atap bercungkup tiga ini menyimbolkan kehidupan manusia yang terdiri atas alam purwo (ketika berada di rahim ibu), alam madyo (saat manusia berada di dunia), dan ketiga adalah alam wusono yang merepresentasikan kehidupan manusia di alam baka atau akhirat. Filosofi ini kemudian diadopsi oleh Walisongo dengan menerjemahkan filosofi tersebut ke dalam bahasa agama. Atap satu (terbawah) disebut atap panitih yang melambangkan syariah. Atap dua disebut atap pananggap yang melambangkan thariqat, dan atap ketiga disebut atap brunjung yang melambangkan hakikat. Sedangkan puncak yang menjadi bagian tertinggi dari Masjid Agung Magelang, dinamakan mustoko yang melambangkan ma’rifat. Mustoko berwarna kuning, dan menyambung dengan tulisan Allah.
Di dalam ruang utama masjid ini terdapat mimbar khotbah model timur tengah yang dipengaruhi gaya India yang berada di sebelah kanan, sedangkan di sebelah kiri mihrab terdapat bangunan semacam mimbar tanpa tempat duduk yang dulunya merupakan tempat shalat Bupati Magelang. Tahun pembuatannya diukir di salah satu sudut, 1797.
Masjid yang didominasi warna hijau ini merupakan masjid kebanggaan masyarakat Kota Magelang. Kemegahan bangunan masjid ini selaras dengan perjalanan sejarahnya yang cukup panjang. ***[191214]

Kepustakaan:
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/01/15/mgnqdt-masjid-agung-magelang-dominasi-arsitektur-jawa-1

Wednesday, January 28, 2015

Wisma Diponegoro 2 Magelang

Magelang merupakan salah satu kota yang ditetapkan sebagai kota garnizun pada masa Hindia Belanda selain Malang dan Cimahi. Sebagai kota garnizun, Magelang memiliki banyak bangunan yang berhubungan dengan keberadaan militer pada waktu itu. Tidak hanya berupa barak saja namun juga fasilitas pendukung lainnya. Salah satunya adalah Wisma Diponegoro 2.
Wisma Diponegoro 2 terletak di Jalan Ahmad Yani No. 6 Kampung Poncol, Kelurahan Gelangan, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi wisma ini berada tidak jauh dari kompleks RINDAM IV Diponegoro.


Dulu, Wisma Diponegoro 2 ini merupakan rumah dinas yang diperuntukkan bagi pejabat militer Hindia Belanda di Magelang, yang dibangun pada tahun 1920. Dalam sejumlah literatur lawas, menyebutkan bahwa Dr. Johan Woutar Bijleveld bersama keluarga pernah tinggal di rumah pejabat ini (het huis van de familie J.W. Bijleveld). J.W. Bijleveld adalah seorang kolonel yang bertugas di bagian pelayanan medis militer, dan pernah bertugas di Militair Hospitaal Magelang (kini bernama Rumah Sakit Tentara dr. Soedjono). Istrinya bernama Reina Hendrika Wilhelmina Helena Visser, dan berprofesi sebagai dokter gigi.


Rumah dinas ini memiliki luas bangunan 450 m² di atas lahan seluas 1.200 m². Dengan gaya arsitektur Indische Empire ini, bangunan ini terlihat kokoh dan mempesona. Arsitektur Indische Empire adalah gaya arsitektur yang berkembang pada abad ke 19 di Hindia Belanda. Gaya arsitektur tersebut dipopulerkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) yang diadopsi dari gaya Empire di Perancis yang kemudian disesuaikan dengan iklim dan gaya hidup di Hindia Belanda. Kekhasan gaya arsitektur ini bisa dilihat dari denahnya yang berbentuk simetri penuh. Di tengah terdapat apa yang disebut sebagai “Central Room” yang terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur lainnya. Central Room tersebut berhubungan langsung dengan teras depan dan teras belakang (Voor Galerij dan Achter Galerij). Teras tersebut biasanya sangat luas dan diujungnya terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani atau Romawi. Kamar mandi, gudang dan daerah layanan lainnya merupakan bagian yang terpisah dari bangunan utama dan letaknya ada di bagian belakang. Kadang-kadang di samping bangunan utama terdapat paviliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu. Kalau rumah tersebut berskala besar biasanya terletak pada sebidang tanah yang luas dengan kebun di depan, samping dan belakang. Gaya arsitektur Indische Empire, atau yang dikenal juga dengan The Dutch Colonial ini mulai menghilang pada awal abad ke 20 di Hindia Belanda.
Seiring perjalanan sang waktu, rumah dinas masa Hindia Belanda ini pernah menjadi guest house. Kemudian dilakukan pemugaran, dan  difungsikan menjadi Wisma Diponegoro 2 yang diresmikan pada hari Sabtu, 4 April 1998 oleh Panglima Komando Daerah Militer IV/Diponegoro, Mayor Jenderal Mardiyanto. Sehingga, sekarang ini tidak hanya untuk menginap bagi tamu-tamu militer tapi juga bisa digunakan untuk wedding party bagi masyarakat umum dengan menawarkan nuansa kolonial yang memorable. *** [201215]

Kepustakaan:
Handinoto, 2008. Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia Belanda Abad 19, dalam Journal DIMENSI Vol. 36 No. 1 Juli 2008
http://media-kitlv.nl/image/7efbbc1a-793b-4ba7-b230-e47da3177af9

Tuesday, January 27, 2015

GKJ Magelang

Kawasan Bayeman merupakan kawasan permukiman tua yang berada di Kota Magelang. Sisa-sisa bangunan kuno bercorak Indis banyak menghiasi kawasan Bayeman yang dibelah oleh Jalan Tentara Pelajar (dulu namanya Bajemanweg). Salah satu bangunan kuno nan menawan yang masih bisa disaksikan hingga kini adalah Gereja Kristen Jawa (GKJ) Magelang.
Gereja ini terletak di Jalan Tentara Pelajar No. 106 Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang. Lokasi gereja ini berada di sebelah selatan Gedung Serba Guna Graha Adiguna atau berada di sebelah utara SDN Kemirirejo 1.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, keberadaan GKJ ini tidak terlepas dengan zending yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda kala itu. Misionaris Protestan juga disebut sebagai zendeling (dari bahasa Belanda yang artinya pengutusan). Zending ditujukan untuk penyebaran agama Kristen melalui kabar keselamatan yang diberikan Allah kepada seluruh dunia.
Adalah Ds. A Markelijn yang semula menjadi Pendeta di Jemaat Schoodijke Amsterdam (Belanda) yang pada 25 Mei 1911 ditetapkan menjadi Pendeta Utusan (missionair predikant), dan kemudian dikirim ke tanah Jawa untuk melakukan pekabaran Injil. Pada bulan Februari 1912, Markelijn tiba di Yogyakarta. Ia tinggal selama beberapa saat sambil mempersiapkan diri untuk bertugas di Magelang dan sekitarnya dalam wilayah Kedu.


Markelijn tiba di Magelang pada 3 September 1912 dan bermukim di Kampung Jambon untuk segera melaksanakan tugas. Dari tempat itulah dimulai pelaksanaan kebaktian meski pada saat itu belum memiliki gedung gereja untuk kebaktian. Di rumah Markelijn di Kampung Jambon dilaksanakan kebaktian yang diikuti sekitar 7 sampai 10 orang jemaat. Pada tahun 1913 dengan semakin banyaknya jemaat yang kerap melakukan kebaktian maka di sebelah rumah Markelijn dibangun ruangan memanjang yang terbuat dari bambu, dan difungsikan sebagai tempat ibadah setiap hari Minggu, kursus bahasa Belanda maupun pertemuan-pertemuan lainnya. Di dalam misinya, Markelijn senantiasa berupaya untuk mengenal lingkungan dan mengadakan pendekatan dengan semua pihak, termasuk Jemaat Kerasulan. Makin banyaknya orang-orang yang senang menerima berita keselamatan yang dibawakan oleh Markelijn dan adanya kursus bahasa Belanda maka hal ini semakin menumbuhkan keinginan untuk mendirikan sekolah Kristen sebagai salah satu sarana pekabaran Injil.
Pada 2 September 1913 dibuka Hollandsch Chineesche School (sekarang SMK Wiyasa), kemudian Hollandsch Javansche School met de Bijbel (sekarang SDN Cacaban 4), dan Christelijke Schakelschool (sekarang SD Kristen 1 Kemirikerep). Dengan dibukanya ketiga sekolah tersebut, perkembangan jemaat Kristen Jawa semakin maju sehingga ruangan memanjang yang pernah dibangun tersebut, sudah tidak menampung jemaat lagi.


Semula diupayakan meminjam gedung sekolah Hollandsch Javansche School met de Bijbel atau terkadang juga meminjam Hollandsch Chineesche School sebagai tempat untuk melakukan ibadah atau kebaktian. Seiring dengan didewasakan jemaat Tionghoa yang menjadi GKI Pajajaran, jemaat Jawa pun juga segera mendewasakan diri. Baru pada 7 Maret 1921, jemaat tersebut memiliki gereja setelah melewati masa-masa yang panjang dengan dua lantai. Lantai satu difungsikan sebagai kantor zending, dan lantai dua digunakan untuk tempat ibadah kebaktian. Secara resmi, gereja diperuntukkan untuk jemaat Belanda dan Jawa ini bernama Gereformeerde Kerk te Magelang.
Sepintas dilihat dari depan, gereja tampak tidak bertingkat. Hal ini disebabkan oleh kontur tanah yang lebih rendah dari jalan raya di bagian depannya, sehingga yang kelihatan adalah lantai duanya yang sejajar dengan jalan raya. Dulu, di samping kiri dan kanannya pada lantai satu terdapat tangga naik untuk menuju pintu masuk gereja yang ada di lantai dua. Namun, sekarang tinggal satu karena yang berada di sebelah utara gereja telah diongkar untuk pembangunan gedung serba guna Graha Addiguna.
Gereja yang memiliki luas bangunan sekitar 198 m² dengan tinggi 10 m ini, pernah mengalami kerusakan akibat gempa yang pernah melanda magelang pada tahun 1943. Menara yang ada di fasad gereja runtuh. Dalam perbaikan berikutnya, menara tersebut tidak dibangun lagi sehingga gereja ini tanpa menara. Bentuknya bisa dilihat seperti sekarang ini.
Karena dulu gereja ini dibangun untuk jemaat Jawa yang mendewasakan diri maka setelah orang-orang Belanda yang juga dulu campur dengan jemaat Jawa tersebut kembali ke negaranya lantaran Indonesia telah merdeka, gereja ini berubah nama menjadi GKJ Magelang. *** [201215]

Monday, January 26, 2015

Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof. dr. Soeroyo merupakan Rumah Sakit Jiwa terbesar dan tertua di Jawa Tengah. RSJ ini menjadi Pusat Rujukan Nasional di bidang kesehatan jiwa dengan pelayanan unggulan Tumbuh Kembang Anak.
RSJ Prof. dr. Soeroyo terletak di Jalan Ahmad Yani No. 169 Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi RSJ ini berjarak 4 Km dari pusat Kota Magelang ke arah utara, dan berada di tepi jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta dengan Semarang.
Menurut sejarahnya, Rumah Sakit Jiwa ini dibangun pada tahun 1916. Ir. Scholtens membangun Rumah Sakit Jiwa ini membutuhkah waktu 7 tahun lamanya sambil meyakinkan Pemerintah Hindia Belanda akan keberadaan rumah sakit ini karena memang pada waktu pendirian rumah sakit ini tidak seperti biasanya, yaitu menunggu sampai seluruh bangunan selesai. Setiap bangsal yang selesai segera dihuni. Hal ini disebabkan karena datanngnya pasien yang terus-menerus dari berbagai daerah. Bahkan ada yang dikirim dari Rumah Sakit Jiwa Lawang dan Bogor (Krankzinnigengestich te Buitenzorg) yang keduanya sudah didirikan jauh sebelumnya, sehingga terasa sekali kurangnya ruangan bagi mereka. Menurut rencana, seluruh bangunan rumah sakit harus sudah selesai pertengahan tahun 1923. Untuk mencapai target tersebut, para pasien dikerahkan, seperti untuk menggali tanah dan mengangkat batu secara estafet dari Kali Progo. Dapat dikatakan, cara membangun rumah sakit ini seperti para transmigran yang harus membuka lahan dan sebagainya terlebih dahulu. Kala itu, yang diutamakan adalah pembangunan jalan dan bangsal.


Sumbangsih para pasien dalam pembangunan rumah sakit ini memang relatif cukup besar, namun dari segi medis mereka agak termarginalkan karena dengan cara pengerahan pasien seperti itu, terapi yang diterapkan hanya terapi kerja massal. Beberapa tahun kemudian, setelah pembangunan sudah dianggap selesai dan memadai, barulah diterapkan kerja individual. Tetapi jenis ini, waktu itu merupakan pertama kalinya diterapkan di Hindia Belanda oleh dr. J.C. Van Andel. Peresmian bangunan walaupun belum sepenuhnya selesai akhirnya dilaksanakan juga oleh direktur pertama rumah sakit tersebut, yaitu dr. Engelhard pada pertengahan tahun 1923, dan diberi nama Krankzinningengistcht te Magelang (Rumah Sakit Jiwa Magelang). Pasiennya waktu itu sudah lebih dari 1.400 orang dengan tenaga kerja yang terdiri orang-orang Belanda. Rumah sakit ini juga sempat dikunjungi oleh psikiater ternama Kraeplin.
Pada waktu itu, RSJ Magelang dikenal juga dengan sebutan Krankzinningengistcht Kramat. Dinamakan Kramat karena di daerah ini terdapat makam Kyai Ponggol yang dianggap keramat (angker).
Dipilihnya Magelang kala itu untuk lokasi rumah sakit ini didasarkan akan keindahan dan kesuburan daerah tersebut serta sejuk, yang dikelilingi gunung Merapi, Merbabu, Andong, dan Telomoyo di sebelah timur, Ungaran di sebelah utara, Sumbing, Sindoro serta Menoreh di sebelah barat dan bukit Tidar di sebelah selatan.
Sepanjang berdirinya, rumah sakit ini cukup banyak mengalami pasang surut dalam perjalanannya.
Ketika Jepang menduduki Magelang, semua tenaga kerja rumah sakit ini yang orang Belanda termasuk direkturnya dr. P.J. Stigter, ditahan oleh tentara Jepang sehingga terjadi kekosongan yang melumpuhkan pengelolaan rumah sakit tersebut. Sebelum diangkat dr. Soeroyo oleh Jepang menjadi pimpinan rumah sakit tersebut.


Rumah sakit ini juga pernah menjadi Pos PMI Cabang Magelang Utara pada saat terjadi pendudukan kembali oleh Belanda (NICA), dan rumah direktur digunakan sebagai markas TKR pada waktu pertempuran di Secang maupun Ambarawa. Kemudian, sempat juga menjadi asrama ALRI maupun tempat penampungan keluarga Kereta Api. Selain itu, rumah sakit ini juga pernah dijadikan Kantor  Hygiene.
Lalu, sejak ada Repelita, keadaan rumah sakit ini mulai berangsur-angsur membaik praktis di segala bidang setelah sekian lama dalam ketelantaran pengelolaan. Pada tahun 1978, rumah sakit ini ditetapkan oleh Pemerintah sebagai RSJ Pusat Magelang kelas A dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan RI No. 135/Menkes/SK/IV/1978. Sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Departemen Kesehatan (sekarang Kementerian Kesehatan), RSJ Magelang ini mempunyai tugas menyelenggarakan dan melaksanakan pelayanan kesehatan, pencegahan gangguan jiwa, pemulihan dan rehabilitasi di bidang kejiwaan.
Pada tanggal 6 April 2001, secara resmi nama Rumah Sakit Jiwa Magelang berubah menjadi Rumah Sakit  Jiwa Prof. dr. Soeroyo berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan No. 1684/Menkes-Kessos/SK/XI/2000. Nama baru ini diambil untuk menghormati dr. Soeroyo selaku direktur bangsa Indonesia pertama RSJ Magelang.
RSJ Prof. dr. Soeroyo yang memiliki lahan seluas 409.450 m² dengan luas bangunan 27.724 m² ini merupakan bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh dan masih terawat dengan baik. Bangunan RSJ ini terdiri dari beberapa bangunan, di antaranya bangunan administrasi, rawat inap, rawat jalan, instalasi, dan ruang lainnya serta lapangan sepak bola. Bangunan lawas yang terdapat di kompleks RSJ Prof. dr. Soeroyo ini, umumnya memiliki jendela-jendela tinggi berbentuk persegi panjang.
RSJ ini tercatat dalam Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 7 Tahun 2013 tentang Cagar Budaya di Kota Magelang sebagai bangunan cagar budaya (BCB). Pada halaman 38 tertulis kawasan Rumah Sakit Jiwa sebagai kawasan rumah sakit dengan dominasi bangunan bercorak Indis dan konteks pengembangannya berbasis lingkungan alam. *** [201214]

Kepustakaan:
Ani Rahmayanti, 2008, Bimbingan Rohani Terhadap Kondisi Mental Pasien (Studi Kasus di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soeroyo Magelang), dalam Skripsi di Jurusan Tasawuf Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin, IAIN Walisongo, Semarang
http://rsjsoerojo.co.id/index.php?action=generic_content.main&id_gc=187

Wednesday, January 21, 2015

Museum BPK

Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia merupakan museum umum milik Pemerintah Pusat. Sebagai museum umum, museum ini dikelola oleh BPK Perwakilan Provinsi Jawa Tengah pada unit kerja Sub Bagian Umum. Sementara itu, bangunan yang digunakan sebagai museum berstatus pinjam pakai. Artinya, BPK hanya meminjam dan memakai salah satu gedung dan sebagian ruangannya untuk museum. Aset tanah dan gedungnya tetap milik hak pakai pemerintah daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah melalui Kantor Badan Koordinasi Wilayah II (Bakorwil) II Kedu dan Surakarta.
Museum ini terletak di Jalan Diponegoro No. 1 Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi museum ini berada di dalam kompleks Kantor Bakorwil II Kedu dan Surakarta atau eks Karesidenan Kedu.
Ide awal untuk membangun museum BPK ini sebetulnya sudah ada sejak kepemimpinan BPK dipegang oleh M. Yusuf, namun baru terealisasi pada masa kepemimpinan J.B. Sumarlin. Dipilihnya Kota Magelang untuk lokasi museum ini karena kota ini mempunyai nilai sejarah bagi lahirnya BPK. Seperti diketahui bahwa setelah pemerintah menerbitkan Penetapan Pemerintah 1946 No. 11/OEM tertanggal 28 Desember 1946, maka BPK secara resmi didirikan pada Januari 1947.
Pada hari yang sama, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan R. Soerasno sebagai Ketua BPK, Dr. Aboetari sebagai Anggota, dan Djunaedi sebagai Sekretaris BPK. Ketiganya mulai bekerja per 1 Januari 1947 bersamaan dengan pendirian BPK tersebut.


Awalnya, Kantor BPK menempati bekas Gedung ANIEM (Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits Maatschappij). Gedung ANIEM adalah bekas kantor perusahaan listrik umum Hindia Belanda, yang sekarang telah berubah menjadi sekolah yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Kristen Pantekosta di Jalan Tentara Pelajar No. 64 Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah.
Tak berselang lama di gedung tersebut, Kantor BPK dipindahkan ke Gedung Bea Cukai Magelang yang berada di Jalan Diponegoro No. 36, yang masih satu kompleks dengan eks Karesidenan Kedu. Kemudian setelah Agresi Militer I Belanda, Kantor BPK kembali berpindah tempat. Kantor yang kemudian menjadi Kantor BPK berada di bangunan sayap sebelah kiri di Gedung Karesidenan Kedu. Pada saat itu, BPK hanya menempati dua ruangan.
Tak lama dari sana, Kantor BPK kembali dipindahkan ke Gedung Klooster yang terletak di Jalan Ahmad Yani No. 20 Kelurahan Panjang, Kecamatan Magelang Tengah. Klooster dalam bahasa Indonesia berarti biara, atau tempat para suster misionaris belajar dan bertempat tinggal. Gedung tersebut sekarang pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Pendidikan Tarakanita Magelang.
BPK berkantor di Magelang tak lama. Pada September 1947, BPK membuka kantor cabangnya di Yogyakarta. Tak berselang lama, Pemerintah pada 6 November 1947 menerbitkan Penetapan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1948 tentang Kedudukan BPK. Berdasarkan Penentapan Pemerintah tersebut, kedudukan BPK Pusat dipindahkan ke Yogyakarta. Mengingat, pada saat itu, seluruh kementerian dan kantor-kantor pemerintahan penting lainnya telah berada di Yogyakarta. Sekarang, BPK Pusat menetap di Jakarta.


Dalam Nota Kesepakatan Bersama antara Pemda Tingkat I Provinsi Jawa Tengah dengan BPK pada Jumat, 4 April 1997, sekitar delapan bulan sebelum peresmian museum BPK ini di Magelang, pihak Pemda Tingkat I Provinsi Jawa Tengah selaku pihak yang punya hak atas gedung eks Karesidenan Kedu, bersedia meminjamkan kepada BPK sebagian gedung dan ruangannya, yang dulu pernah menjadi Kantor BPK sebagai Museum BPK. Padahal, gedung dan ruangan tersebut saat itu sudah digunakan sebagai Gedung Dharma Wanita Sub Unit Kantor Pembantu Gubernur Wilayah Kedu di Magelang.
Akhirnya, Museum BPK berhasil diwujudkan, dan diresmikan pada 4 Desember 1997 oleh Prof. J.B. Sumarlin selaku Ketua BPK pada saat itu. Semula hanya dua ruangan yang digunakan, namun pada waktu itu BPK mengajukan permohonan lagi utnuk penambahan dan perluasan ruangan museum. Dua ruangan tambahan sebelumnya ditempati Kantor Kelistrikan Desa Cabang Kedu. Sehingga akhirnya, dua ruangan tersebut dikosongkan dan dialihkan penggunaannya untuk penambahan dan perluasan Museum BPK.
Dengan demikian, sekarang ini Museum BPK menempati ruangan yang memiliki panjang 29,95 meter dan lebar 19,5 meter. Ruangan-ruangan tersebut berada di bangunan sayap kiri kompleks Karesidenan Kedu. Jika dilihat dari lokasi alun-alun Kota Magelang, posisinya berada di sebelah kanan kompleks eks Karesidenan Kedu. Tepat setelah memasuki gapura Bakorwil II Kedu dan Surakarta.
Museum BPK, seperti museum-museum kebanyakan, memiliki beberapa ruang pameran untuk memajang koleksi-koleksi yang dimiliki.

Ruang Pamer 1
Ruang Pamer 1 berada di bagian depan, memiliki ukuran panjang 16, 3 meter dan lebar 6 meter. Di ruang ini ditampilkan koleksi foto dan lukisan batik. Koleksi foto yang dipasang pada ruang ini, mengenai sejarah perjalanan BPK sendiri, pada waktu BPK berkantor di magelang, Yogyakarta, Bogor sampai berkantor di Jakarta.
Lukisan batik yang dipasang lumayang besar. Lukisan batik ini dibuat oleh Koeswadji (almarhum) pada tahun 1980 atas ide Ketua BPK periode 1973-1983, Umar Wirahadikusumah. Lukisan tersebut mempunyai makn filosofi yang terjabarkan dalam segmen-segmen yang tersirat dalam lukisan tersebut. Lukisan tersebut menggambarkan filosofi Pelaksanaan Tugas Pokok BPK dan mengilhami motto BPK: Tri Dharma Arthasantosha.

Ruang Pamer 2
Ruang pamer 2 adalah ruang pamer berikutnya setelah ruang pamer 1. Ruang ini berukuruan 8 x 6,05 meter. Ruang ini menampilkan meja dan kursi Ketua BPK pada waktu berkantor di Karesidenan Kedu tahun 1947, mesin ketik yang terletak di atas meja, pesawat telepon dan kamera. Jumlah semuanya ada 14 item.
Baik meja, kursi, almari, mesin ketik dan pesawat telepon diletakkan seperti ketika BPK berkantor di ruangan ini.

Ruang Pamer 3
Ruang pamer 3 adalah ruang pamer berikutnya setelah ruang pamer 2. Ruang ini berukuran 6,05 x 4,35meter. Di ruang ini ditampilkan patung Ketua BPK pertama R. Soerasno, tanda pangkat, dan bendera-bendera daerah (pattaka).
Pattaka yang ada di museum ini merupakan simbol yang menunjukkan luas wilayah pemeriksaan BPK.

Ruang Audio Visual
Dalam ruang audio visual , para pengunjung akan disuguhi tontonan sejarah BPK dan selayang pandang perjalanan BPK secara audio visual.
Audio visual merupakan penjelasan koleksi-koleksi di museum ini. Audio visual digunakan agar masyarakat mengetahui BPK secara utuh. Tidak hanya barang-barang koleksi yang ada di sini saja tetapi juga BPK itu apa, tugasnya seperti apa, dan lain-lain.

Kepustakaan:
Buku Museum BPK Bercerita yang diperbanyak oleh BPK Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Jawa Tengah, 2011

Tuesday, January 20, 2015

GPIB Magelang Alun-Alun

Kota Magelang dikenal memiliki bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial Belanda yang beberapa di antaranya masih terawat dengan baik. Salah satunya adalah GPIB Magelang Alun-Alun (Istilah ini hanya untuk membedakan dengan GPIB Magelang yang berada di Kebon Polo).
GPIB ini terletak di Jalan Alun-alun Utara No. 4 Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gereja ini berada di sebelah utara Alun-alun Kota Magelang, atau berdekatan dengan Menara Air Magelang.
Dulu, ketika alun-alun ini dibangun oleh Adipati Danuningrat I atas restu Sir Thomas Stamford Raflles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda masa kekuasaan Inggris, merupakan jantung Kota Magelang dan menjelma menjadi medan simbol yang diperebutkan para penguasa. Setelah kembali ke pangkuan Kerajaan Belanda lagi dari hasil Traktat London, kawasan alun-alun berkembang. Pemerintah Hindia Belanda pun memilih  kawasan tersebut untuk mendirikan tempat ibadah bagi penganut agama Kristen. Tempat ibadah tersebut sengaja dibangun guna memenuhi kebutuhan rohani komunitas Eropa yang mukim di sekitar kawasan tersebut. Tempat ibadah tersebut dikenal dengan nama De Protestantse Kerk te Magelang.
Menurut info dari salah seorang staf Kantor GPIB, gereja ini dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda pada 1817. Angka tahun tersebut, didapat dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah yang telah menelitinya, dan telah dipasang di halaman depan gereja dengan tulisan “Magelang Heritage 1817.”


Gereja yang memiliki bangunan seluas 291 m² di atas lahan seluas 2.312 m² dengan tinggi bangunan sekitar 15 m² ini, memiliki langgam arsitektur yang khas , yaitu gaya asitektur Gothic. Beberapa ciri khas yang amat terlihat dari bangunan dengan genre Gothic adalah proporsi tinggi dan lebar bangunan. Bangunan Gothic memiliki tinggi bangunan yang tidak proposional dibanding dengan luas tapak bangunannya, ditandai dengan adanya lebar bangunan yang langsing dengan menara yang tinggi. Selain itu, bagian dalam bangunan gereja juga terdapat ruangan umat di tengah (nave) dengan jumlah jendela yang begitu banyak yang didominasi kaca patri berlukis, sehingga cahaya sinar matahari bisa menerangi ruangan tersebut di kala siang.
Ciri lain yang bisa dilihat dalam arsitektur Gothic ini adalah pada pintu masuk utama dan jendelanya berbentuk melengkung. Meski bentuk lengkung ini telah ada pada arsitektur sebelumnya namun pada arsitektur Gothic ini bentuknya cenderung lebih meruncing.
Sejak bangunan bergaya arsitektur Gothic ini dibangun hingga kini masih berfungsi sebagai Gereja Protestan, hanya terdapat pergeseran nama saja. Sekarang gereja Protestan ini dikenal sebagai Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB). GPIB merupakan salah satu gereja yang merangkum warga jemaatnya dalam kemajemukan etnis dan budaya dari seluruh penjuru Nusantara yang sedang berdomisili di wilayah Indonesia Bagian Barat. GPIB adalah bagian dari GPI (Gereja Protestan Indonesia) yang pada zaman Hindia Belanda bernam De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesië, atau ada juga yang menyebut dengan De Indische Kerk. GPIB didirikan pada 31 Oktober 1948 berdasarkan Tata Gereja dan Peraturan Gereja yang dipersembahkan oleh proto Sinode kepada Badan Pekerja Am (Algemene Moderamen) Gereja Protestan Indonesia.
GPIB Magelang memang sangat cantik. Sebuah seni arsitektur yang telah dilabeli sebagai Magelang Heritage ini telah menjadi salah satu ikon tersendiri bagi Kota Magelang. *** [171214]

Monday, January 19, 2015

Gedung Mapolresta Magelang

Sambil menikmati secangkir teh panas di angkringan yang berada di pedestrian alun-alun sebelah selatan, kita bisa menyaksikan gedung Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Tengah Resor Magelang Kota (Polresta Magelang) yang masih memperlihatkan kekunaannya.
Gedung Kantor Mapolresta ini terletak di Jalan Alun-Alun No. 7 Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gedung ini berada di sebelah selatan Alun-Alun Kota Magelang, atau tepatnya berada di sebelat barat Kantor Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Kota Magelang.
Gedung yang memiliki luas 500 m² di atas lahan seluas 750 m² ini, dulunya merupakan sekolah MOSVIA (Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1878.
MOSVIA merupakan sekolah yang dikhususkan untuk pendidikan bagi pegawai-pegawai bumiputera pada zaman Hindia Belanda yang dilengkapi dengan asrama di belakangnya, dan gedung untuk Direktur berada di sebelah barat gedung utama. Setelah lulus mereka dipekerjakan dalam pemerintahan kolonial sebagai sekolah pamong praja. Sekolah ini dimasukkan ke dalam sekolah ketrampilan tingkat menengah dan mempelajari soal-soal administrasi pemerintahan.


Sebelum menjadi MOSVIA pada tahun 1927, awalnya adalah Hoofden School kemudian berubah menjadi OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren). Masa belajarnya lima tahun, tapi tahun 1908 masa belajar ditambah menjadi tujuh tahun. Pada umumnya murid yang diterima di sekolah ini berusia 12-16 tahun.
Para lulusan sekolah-sekolah umum, seperti HIS (Hollandsch Inlandsche School) dapat melanjutkan ke tingkat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan lulusan MULO dapat melanjutkan ke sekolah MOSVIA. Tentunya ilmu pemerintahan tidak diajarkan secara nyata dan tegas untuk mengurangi dan mengantisipasi rakyat Indonesia (Hindia Belanda) menuntut kemerdekaan. Jadi, tujuan didirikan sekolah pamong praja di Magelang tak lepas dari kepentingan penjajah Belanda untuk memenuhi kebutuhan kader-kader pemerintahan di Hindia Belanda saat itu.
Beberapa alumni MOSVIA Magelang yang dikenal dalam khasanah tokoh dalam perjalanan sejarah di Republik Indonesia ini, antara lain: Prof. Dr. Selo Soemardjan, Supriyadi, dan Abdul Halim Perdanakusuma. Selo Sumardjan menempuh pendidikannya di MOSVIA Magelang pada tahun 1931-1934. Kelak ia dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia. Supriyadi adalah pria kelahiran Trenggalek yang pernah menempuh di MULO dan MOSVIA Magelang. Kelak ia menjadi seorang Syudanco yang memimpin gerakan PETA di daerah Blitar, Jawa Timur. Sedangkan, Abdul Halim Perdanakusuma adalah pria kelahiran Sampang, Madura, yang melanjutkan studinya di Magelang ke sekolah Pamong Praja (MOSVIA) yang ditempuh pada tingkat II saja. Lalu, beliau menjalani transisi training navigasi bersama Royal Canadian Air Force di Inggris saat pendudukan Jepang. Kelak ia menjadi penerbang dan namanya diabadikan menjadi salah satu nama bandara udara di Jakarta.


Pada masa pendudukan Jepang, MOSVIA dibubarkan dan gedungnya difungsikan menjadi Kantor Asrama PETA (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang. Kemudian setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan hengkang dari Hindia Belanda, pada tahun 1945-1948 gedung ini digunakan untuk Sekolah Guru yang berasrama.
Ketika terjadi Clash II pada tahun 1948, bangunan utama dari gedung ini digunakan untuk Kantor Pengadilan, dan gedung yang berada di sebelah barat difungsikan sebagai Kantor Asisten Residen. Setelah, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada Desember 1948, gedung di sebelah barat diserahkan kepada Kepolisian Republik Indonesia, dan digunakan sebagai Kantor Mapolresta sampai sekarang.
Gedung Kantor Mapolresta Magelang yang bercorak kolonial ini, seperti yang tercantum dalam Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 7 Tahun 2013 tentang Cagar Budaya di Kota Magelang (halaman 38) merupakan bangunan yang memiliki karakter sebagai bangunan cagar budaya (BCB) seperti yang termaktub pada poin 7: “kompleks Mapolresta (eks MOSVIA) sebagai kompleks sekolah yang memakai gaya arsitekur Indis.” *** [191214]

Kepustakaan:
Redaksi Visimedia, 2007. IPDN Uncensored, Inu Kencana: Perlawanan Seorang Dosen, Jakarta Visimedia
http://ntb.ipdn.ac.id/?p=496