Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Rabu, 18 Oktober 2017

Gedung DPRD Kab. Gresik

Sewaktu mengunjungi rumah teman di Gresik, saya berkesempatan berkeliling di Kota Gresik. Di sana mudah ditemukan bangunan-bangunan lawas. Hal ini mengingat Gresik merupakan daerah yang berada di pesisir Pulau Jawa yang memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang sebagai pelabuhan yang ramai pada masa itu.
Salah satu bangunan lawas yang sempat dijumpai adalah Gedung DPRD Kabupaten Gresik. Gedung ini terletak di Jalan Wachid Hasyim No. 5 Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di sebelah utara alun-alun atau sebelah barat Telkom Gresik.


yang diceriterakan dalam sejarah, keberadaan gedung DPRD Kabupaten Gresik ini tidak terlepas dari adanya kebijakan-kebijakan yang dterapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, yaitu Herman Willem Daendels, yang menjabat dari 5 Januari 1808 hingga 15 Mei 1811. Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda oleh Raja Perancis Napoleon Bonaparte, karena pada waktu itu Nusantara menjadi daerah koloni Belanda-Perancis setelah bangkrutnya VOC.


Daendels diserahi tugas oleh Napoleon Bonaparte terutama untuk melindungi Pulau Jawa dari serangan armada Inggris, mengingat Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris. “Pertahankan Jawa, berapa pun harganya!” Itu perintah Napoleon Bonaparte kepada Menteri Kelautan dan Wilayah Jajahan Perancis Admiral Decres, Oktober 1810, untuk membantu Dandels. Pada awal abad ke-19 itu, di Samudera Hindia, Perancis hanya punya kekuasaan di Mauritius, Bourbon, dan Jawa. Bahkan, pada masa antara 1808 dan 1811, tinggal Pulau Jawa daerah koloni Perancis yang tersisa di Asia.


Selama tiga tahun berkuasa, Daendels melaksanakan tugasnya dengan segera, dan memerintah dengan tangan besi. Ia mulai membangun rumah sakit militer dan tangsi-tangsi militer baru untuk persiapan melawan Inggris. Yang monumental adalah pembangunan jalan raya pos (De Grote Postweg) yang membentang dari Anyer hingga Panarukan sepanjang 1000 kilometer. Tujuannya agar memudahkan mobilitas pasukannya sewaktu-waktu ada serangan dari Inggris.
Selain itu, Daendels juga memerintahkan membangun sejumlah pabrik senjata. Gresik tak ubahnya Semarang yang berperan sebagai pabrik dan sekaligus gudang meriam. Sementara Daendels memanfaatkan Gresik sebagai pabrik senjata berjenis senapan.
Pada waktu Hindia Belanda jatuh ke tangan tentara Jepang, bangunan pabrik senjata ini direbut dan dijadikan sebagai gudang persenjataan tentara Jepang. Di bangunan inilah, tentara Jepang menghimpun amunisi untuk melawan pasukan sekutu dalam Perang Dunia II.
Kini, bangunan pabrik dan gudang senjata itu masih bisa disaksikan sampai sekarang, namun sudah berubah peruntukkannya, Bangunan kuno bergaya Indische Empire tinggalan Daendels tersebut sekarang menjadi kantor DPRD Kabupaten Gresik. *** [250414]

Kepustakaan:
Indrawan, Angga. (2017). Napak Tilas Jalan Daendels. Jakarta: Buku Republika
Rocher, Jean. (2011). Perang Napoleon Di Jawa 1811: Kekalahan Memalukan Gubernur Jenderal Janssens. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Senin, 09 Oktober 2017

Bekas Kandang Kuda Kepatihan Surakarta

Setelah mengeksplorasi Masjid Al Fatih Kepatihan, peserta rombongan tur wisata sejarah kampung (3/9) kemudian beranjak menuju sebuah bangunan lawas yang dulunya merupakan kandang kuda milik Patih Kraton Surakarta Hadiningrat (Rijkbestuurder van Soerakarta). Bekas kandang kuda (gedhogan) ini terletak di Jalan Kepatihan RT. 06 RW. 01 Kelurahan Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi bekas kandang kuda ini berada di sebelah selatan Masjid Al Fatih, atau tepat berada di belakang Kantor Kelurahan Kepatihan Wetan.


Sesuai tulisan beraksara Jawa yang terdapat di gevel, bangunan bekas kandang kuda itu dibangun pada tahun 1829, yaitu masa bertugasnya patih yang bernama Kanjeng Raden Adipati (KRA) Sasradiningrat II (1812-1846). KRA Sasradiningrat II merupakan Patih Kraton Kasunanan Surakarta yang menjabat dalam masa pemerintahan empat Raja Kraton Kasunanan, yaitu Pakubuwono IV, V, VI, dan VII. Ia adalah putra dari KRA Mangkupraja II, seorang Patih Kraton Kasunanan Surakarta masa bertahtanya Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) IV, yang dimakzulkan dan terus diasingkan ke Ayah hingga akhir hayatnya. Beliau dimakamkan di Desa Pekuncen, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. Sebelum tahun 1933, daerah ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Adireja atau Ayah. Makanya, kemudian beliau (KRA Mangkupraja II) dikenal dengan Syech Seda Ngayah.


Ditilik dari tahun pembangunannya, bangunan bekas kandang kuda ini didirikan semasa KRA Sasradiningrat II mendampingi Sri Susuhunan PB VI (1823-1830), setahun sebelum PB VI diasingkan oleh Belanda ke Ambon, Maluku.
Di lingkungan bekas kandang kuda tersebut, juga masih dijumpai bangunan untuk tempat menyimpan kereta kuda milik sang patih. Bangunan tersebut masih bagus dengan pintu kayu yang lumayan besar berwarna biru. Bangunan ini menyerupai gedong Gitoswandhono yang ada di Kraton Surakarta.


Dilihat dari bentuk arsitekturnya, bangunan bekas kandang kuda ini memiliki corak arsitekur kolonial. Arsitektur kolonial adalah arsitektur Belanda yang dikembangkan di negara jajahannya yang telah disesuaikan dengan lingkungan jajahannya, sehingga terjadi perpaduan antara budaya Barat dan Timur. Di antaranya yang bisa ditengarai dari corak kolonial adalah penggunaan batu bata dan gevel.
Gevel (gable) adalah dinding segitiga yang tersusun dari pasangan konstruksi batu bata dan berfungsi sebagai pendukung penutup atap, atau istilah lainnya gunung-gunung. Sistem gevel ini sebenarnya bukan unsur arsitektur atap Nusantara, melainkan diadaptasi dari arsitektur Belanda. Tetapi saat ini telah menjadi bagian dari arsitektur atap di Indonesia.


Ada dua gevel yang terlihat di lingkungan bekas kandang kuda ini. Yang berada di sebelah barat merupakan pintu gerbang untuk kandang kuda, sedangkan yang berada di bagian timur merupakan bagian dari dinding tempat penyimpanan kereta kuda. Kedua gevel itu memperlihatkan kemegahan bangunan bekas kandang kuda. Namun sayang, bekas bangunan kandang kuda dan garasi kereta kuda milik Patih Kraton Surakarta tersebut terlihat kumuh lantaran ditempati oleh beberapa keluarga. Bekas bangunan tersebut telah dikapling-kapling menjadi hunian beberapa kepala rumah tangga yang mendiami bangunan tersebut.
Bangunan bersejarah yang layak menjadi cagar budaya ini seolah-olah menjadi deretan bangunan hunian. Hal ini dikawatirkan kelestarian dari bangunan tersebut akan terancam. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi perihal arti pentingnya bangunan bekas kandang kuda tersebut dalam perjalanan sejarah di Kota Solo pada umumnya, dan Kelurahan Kepatihan Wetan pada khususnya. Tidak boleh ada pembiaran dalam merawat sebuah bangunan bersejarah ini. *** [030917]

Sabtu, 30 September 2017

SMP Negeri 26 Surakarta

Setelah mengeksplorasi Panti Wibowo di Kepatihan, peserta rombongan Gelar Wisata Kampung Kota bergerak menuju ke bagian terakhir kunjungan dari tur wisata sejarah kampung ini, yaitu SMP Negeri 26 Surakarta. SMP ini terletak di Jalan Joyonegaran No. 2 RT. 01 RW. 03 Kelurahan Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi SMP ini berada di depan Sinar Solo Advertising, atau sebelah barat SMK Negeri 8 Surakarta (dulu dikenal dengan SMKI) ± 300 m.
Keberadaan bangunan SMP Negeri 26 ini tidak terlepas dari munculnya Kepatihan Surakarta di daerah ini. Kepatihan adalah istilah yang menunjuk kepada tempat tinggal atau kantor yang digunakan oleh para patih Kraton Kasunanan Surakarta (Rijksbestuurder van Paleis van Soerakarta). Patih sendiri berarti pejabat yang diangkat oleh Kraton Kasunanan Surakarta untuk menjalankan roda pemerintahan atas titah raja, atau dalam istilah sekarang setara dengan Perdana Menteri.
Sebelumnya, Kepatihan Kraton Kasunanan Surakarta itu berada di Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Lokasinya yang sekarang dikenal dengan Pura Mangkunegaran. Setelah adanya Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757, bangunan Kepatihan yang berada di Keprabon tersebut diminta Raden Mas Said (yang kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro I) untuk dijadikan tempat tinggalnya.


Kemudian Kraton Kasunanan Surakarta memindahkan kantor dan tempat tinggal patihnya ke sebuah tempat yang berada di perbatasan dengan wilayah Kota Mangkunegaran dan pinggiran wilayah Nagari Surakarta. Wilayah itu sekarang dinamakan daerah Kepatihan. Pembangunan kompleks Kepatihan yang baru ini dimulai oleh Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Mangkupraja I yang kemudian diteruskan oleh penggantinya, yaitu Patih Kanjeng Raden Adipati Sasradiningrat I pada tahun 1769 dengan membangun Dalem Kepatihan.
Konon, kompleks Kepatihan yang baru itu tidak kalah megahnya dengan Pura Mangkunegaran. Ada pendopo Kepatihan, pamedan, masjid, kandang kuda beserta kereta milik patih, dan tembok tinggi Kepatihan. Kemudian para patih yang menjabat di Kepatihan tersebut, ada yang berusaha membangun rumah atau dalem yang berada di kompleks Kepatihan tersebut. Setidaknya masih ada dua bangunan rumah milik sang patih yang tersisa setelah adanya bumi hangus yang dilakukan oleh Gerakan Anti Swapraja, yaitu Dalem Patih Kanjeng Raden Adipati Darmonagoro, dan Dalem Kanjeng Pangeran Arya Adipati Jayanegara. Dalem Patih Darmonegoro berada di belakang SMK Negeri 8 Surakarta, dan Dalem Patih Jayanegara berada di sebelah barat SMK Negeri 8 Surakarta.
Dalem Patih Jayanegara inilah yang sekarang menjadi SMP Negeri 26 Surakarta. Patih Jayanegara merupakan seorang patih Kraton Kasunanan Surakarta yang menjabat dari tahun 1916 sampai dengan tahun 1939. Ia menggantikan Patih Sasradiningrat IV yang memasuki pensiun pada tahun 1916.


Ketika pertama kali diangkat menjadi patih oleh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdulrahman Sayiddin Panotogomo Ingkang kaping Sedasa, atau akrab dengan sebutan Pakubuwono (PB) X, Patih Jayanegara bergelar resmi Kanjeng Raden Adipati Jayanegara. Kemudian setelah 15 tahun bertugas, Sri Susuhunan Pakubuwono X memberikan gelar pangeran kepadanya. Setelah mendapatkan gelar pangeran, Patih Jayanegara kemudian menyandang gelar baru menjadi Kanjeng Pangeran Arya Adipati Jayanegara. Untuk memberi gelar pangeran kepada patih tersebut, Sri Susuhunan Pakubuwono X harus mendapatkan persetujuan dari pihak Belanda yang berkuasa saat itu, yaitu Gubernur Surakarta J.J. van Helsdingen.
Pemberian gelar kepada Pepatih Dalem dilakukan di Sasana Sumewa yang berada di Pagelaran Kraton Kasunanan Surakarta, yang disaksikan oleh semua punggawa dan abdi dalem yang hadir. Setelah menerima gelar pangeran, Pepatih Dalem Kanjeng Pangeran Arya Adipati Jayanegara melakukan sungkem kepada Sri Susuhunan Pakubuwono X dan berjabat tangan dengan Gubernur Surakarta J.J. van Helsdingen. Usai prosesi pemberian gelar, dilakukan jamuan minum. Pemberian gelar pangeran kepada Patih Dalem Pakubuwono X ini terjadi pada hari Senin, 30 Maret 1931 atau bertepatan dengan tanggal 10 bulan Dulkangidah Jimawal 1861.


Pada tahun 1950-an, Dalem Patih Jayanegara ini dibeli dan dijadikan kompleks sekolah Tionghoa yang bernama Tjong Tjen Tjong Siauw Siak. Bangunan Dalem Patih Jayanegara digunakan untuk kegiatan proses belajar mengajar sekolah Tionghoa tersebut dari tingkat SD sampai dengan SMA kala itu.
Setelah peristiwa G30S 1965, semua sekolah Tionghoa di Solo ditiadakan termasuk salah satunya sekolah Tjong Tjen Tjong Siauw Siak. Bangunan sekolah seluas  ± 8000 m² itu kemudian diambil alih oleh tentara. Setelah situasi dan kondisi menjadi normal kembali paska meletus G30S, bangunan bekas sekolah Tionghoa tersebut diserahkan kepada caretaker/pejabat Kepala STM Persiapan Negeri 2 Surakarta, atau dikenal dengan STM Negeri Purwonegaran dari Komando Distrik Militer (Kodim) Surakarta, agar dapat digunakan untuk kegiatan proses belajar mengajar bagi STM Negeri Purwonegaran yang belum memiliki gedung sekolah. Pada waktu itu, STM Persiapan Negeri 2 Surakarta masih menumpang di ST Negeri I dan II yang berada di Purwonegaran (sekarang menjadi SMP Negeri 15 Surakarta). Kegiatan proses belajar mengajar di Kampung Joyonegaran ini berlangsung hingga menjelang Ujian Negara. Pelaksanaan Ujian Negara bagi siswa-siswa STM Persiapan Negeri 2 dilaksanakan di gedung ST Negeri 2 yang berada di Jalan Adi Sucipto, sedangkan siswa-siswa ST Negeri 2 dipindahkan ke ST lainnya yang ada di Kota Solo sesuai jurusannya masing-masing. Setelah itu gedung bekas ST Negeri 2 tersebut menjadi gedung STM Negeri 2 Surakarta (sekarang menjadi SMK Negeri 5 Surakarta).


Setelah ditinggalkan oleh STM Negeri Purwonegaran, bangunan bekas gedung sekolah Tjong Tjen Tjong Siauw Siak dikembalikan ke Kodim Surakarta. Lalu, Kodim Surakarta menyerahkan bangunan gedung tersebut kepada Kepala ST Negeri 6 dan 7 untuk kegiatan proses belajar mengajar. Semula ST Negeri 6 dan 7 berlokasi di Beton, Kampung Sewu, sehingga dulu dikenal dengan ST Beton. Karena sekolahannya mengalami kerusakan akibat banjir bandang yang melanda Kota Solo pada 16 Maret 1966, proses belajar mengajar di Beton sudah tidak memungkinkan lagi.  Akhirnya dipindahkan ke Joyonegaran.
Seiring perjalanannya dalam proses belajar mengajar di Joyonegaran, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0259/O/1994 tentang Alih Fungsi Sekolah Teknik Negeri dan Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama Negeri menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri. Dari Keputusan Mendikbud ini, ST Negeri 6 dan 7 kemudian berubah atau beralih fungsi menjadi SMP Negeri 26 Surakarta.


SMP Negeri 26 Surakarta memiliki 24 ruang kelas, masing-masing 8 kelas untuk kelas 7, 8, dan 9. Selain itu, terdapat sejumlah ruangan selain ruang kelas seperti ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, ruang ibadah, koperasi, perpustakaan, laboratorium IPA, UKS, aula, ruang penjaga, ruang komputer, kamar mandi, dan gudang.
Pada waktu peserta rombongan tur wisata sejarah kampung berkunjung ke SMP Negeri 26 Surakarta, kepala sekolah dan salah seorang petugas yang berkarya di sekolah tersebut mendampingi rombongan berkeliling di kompleks sekolah tersebut. Di dalam lingkungan SMP Negeri 26 Surakarta, ternyata masih dijumpai Dalem Patih Jayanegara, seperti pendopo, pringgitan, dan kamar para selirnya yang berjumlah 6 orang. Meski telah berubah menjadi SMP Negeri 26 Surakarta, bentuk bangunan sebelumnya masih tampak asli. Hanya sedikit mengalami renovasi dalam hal bentuk, seperti di sekeliling pendopo dibatasi tembok. Suasana pendopo akan dirasakan bila kita masuk ke dalamnya, sedangkan bila dilihat dari luar kesan pendopo yang bercorak joglo sudah tidak kelihatan. Penambahan ruang kelas pun hanya dibangun di sela-sela lahan yang masih kosong, sehingga Dalem Patih Jayanegara sebenarnya masih bisa disaksikan kemegahannya sebagai rumah seorang Patih Kraton Kasunanan Surakarta. *** [030917]

Rabu, 20 September 2017

Masjid Al Fatih Kepatihan Surakarta

Setelah mengekplorasi Dalem R, Ng. Nitisoewarno, peserta rombongan tur wisata sejarah kampung bergerak menuju ke Masjid Al Fatih Kepatihan. Masjid ini terletak di Jalan Kepatihan No. 5 RT. 06 RW. 01 Kelurahan Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi masjid ini berada di sebelah utara Kantor Kelurahan Kepatihan Wetan, atau selatan Kantor Kejaksaan Negeri Surakarta.
Di masjid lawas nan bersejarah ini, peserta rombongan yang beragama Islam dipersilakan oleh panitia untuk menunaikan sholat Dhuhur, dan setelahnya langsung melakukan eksplorasi terhadap riwayat masjid tersebut.
Sesuai angka yang terdapat pada kaligrafi di atas pintu, masjid Al Fatih didirikan pada 1312 H atau 1891 M. Masjid ini dibangun oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV, Pepatih Dalem (Rijksbestuurder van Soerakarta), atas perintah Sri Susuhunan Pakubuwono X. Konon, pembangunan masjid ini sebagai mahar lamaran Sri Susuhunan Pakubuwono X kepada salah satu istrinya.


Semula bangunan masjid tersebut hanyalah satu ruangan saja, yang sekarang menjadi ruang sholat utama. Di dalam ruang utama sholat ditopang oleh 4 soko guru (kolom terbuat dari kayu jati). Seperti pada Masjid Agung Surakarta, di kanan kiri mihrab masjid Al Fatih terdapat jendela yang besar terbuat dari kayu jati dan diberi tralis (jeruji besi).
Mimbar berukiran seni yang tinggi, diletakkan di dekat jendela sebelah utara yang berdekatan dengan pintu menuju ke pawestren. Di mimbar itu terdapat ukiran berbentuk buah srikaya. Filosofinya agar siapa pun yang memberikan khotbah hendaknya yang penuh isi atau kandungan materi yang disampaikan berisi penuh seperti apa yang telah dituntunkan oleh Nabi Muhammad SAW.


Pembangunan masjid ini tidak serta merta seperti bentuknya yang sekarang ini. Penambahan demi penambahan dilakukan sesuai kebutuhan yang ada. Dari hanya ruangan utama kemudian beberapa tahun kemudian ditambah ruangan di sebelah utara yang digunakan sebagai pawestren. Pawestren berasal dari kata “pawestri” yang artinya adalah wanita. Pawestren adalah salah satu ruangan yang dibuat khusus untuk para wanita.
Sedangkan, di sebelah selatan ruang utama juga terdapat ruangan yang mirip dengan pawestren, baik ukuran maupun bentuknya. Akan tetapi, ruangan yang berada di selatan tersebut tampaknya digunakan sebagai ruangan untuk menyimpan barang yang ringan-ringan saja. Jadi, seandanyai dibutuhkan karena jamaah membludak ketika ada acara keagamaan, ruangan tersebut bisa difungsikan.


Di antara halaman masjid dengan ruangan yang ada di dalam masjid itu, terdapat serambi. Serambi masjid (ruhbah) adalah bangunan yang disandarkan kepada masjid atau yang menempel masjid tapi di luarnya. Bangunan serambi masjid Al Fatih ini ditopang oleh 12 soko (kolom terbuat dari kayu jati)  berukuran lebih kecil dengan soko guru yang ada di dalam ruangan utama. Bangunan serambi ini berbentuk limasan terbuka, sehingga terasa sejuk bila berada di serambi ini.
Di serambi inilah, peserta rombongan Gelar Potensi Wisata Kampung Kota berkumpul di dekat sebuah bedug yang berumur tua, guna mendengarkan ceritera sejarah dari masjid ini. Tak hanya kisah pendirian masjid tersebut, peserta juga diantarkan untuk menyimak kaligrafi yang terdapat di atas pintu-pintu yang ada di antara serambi menuju ke ruangan utama masjid. Pintu tengah yang selurus dengan mihrab, memiliki kaligrafi yang berbunyi Allah dengan tambahan ornamen ukiran daun kecil-kecil. Di sebelah kanan dan kiri pintu utama terdapat pintu juga yang mempunyai kaligrafi bertuliskan Muhammad.


Lalu, pintu yang berada di sebelah utara dan selatan dari pintu itu masih ada pintu lagi. Kedua pintu itu juga di atasnya terdapat kaligrafi yang bertuliskan empat orang khalifah pertama agama Islam, yang dipercaya kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat. Empat orang yang dikenal dengan Khulafaur Rasyidin itu adalah Abu Bakar, Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib.
Atap masjid Al Fatih tidak berbentuk kubah yang merupakan ciri bangunan Timur Tengah. Atapnya berbentuk tajug tumpang, seperti kebanyakan masjid tua yang berhubungan dengan kekuasaan kerajaan. Kemudian ada penambahan mustaka pada atap masjid, yang melambangkan ma’rifat. Ma’rifat itu sendiri adalah tingkat penyerahan diri kepada Allah secara berjenjang, secara tingkat demi setingkat sehingga sampai kepada tingkat keyakinan yang kuat.
Masjid Al Fatih terakhir mengalami renovasi pada tahun 1992. Renovasi itu meliputi pemasangan keramik pada dinding masjid. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pemborosan. Sebelumnya, setiap tahun harus melakukan pengecatan. Lalu, pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2001, tempat wudhu diubah menghadap ke kiblat dari yang sebelumnya menghadap ke selatan. Setiap kran untuk wudhu dibuatkan keramik yang lebih pendek dengan keramik lainnya. Tujuannya agar lantai yang lainnya terjaga kesuciannya lantaran kaki yang keluar dari tempat wudhu tersebut sudah hilang kotorannya di bawah.  *** [030917]

Minggu, 17 September 2017

Panti Wibowo Kepatihan Surakarta

Selesai mengekplorasi bekas kandang kuda Kepatihan, peserta rombongan Gelar Potensi Wisata Kampung Kota beranjak menuju ke sebuah bangunan lawas yang merupakan cikal bakal Museum Radyapustaka, yang dulunya bernama Panti Wibowo. Bangunan Panti Wibowo ini terletak di Jalan Kepatihan Wetan No. 7 Kelurahan Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi bangunan Panti Wibowo ini berada di sebelah timur Kantor Kejaksaan Surakarta.
Cikal bakal Museum Radyapustaka di Kepatihan didirikan pada 28 Oktober 1890, terutama menyimpan benda-benda dan naskah-naskah kuno dari daerah Kasunanan Surakarta. Pendirinya adalah seorang bumiputra sejati, Kanjeng Raden Adipati (KRA) Sosrodiningrat IV yang menjabat patih pada pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IX.


Peristiwa ini menjadi catatan penting karena seorang bumiputra pertama dan seorang pejabat pemerintah (kerajaan) memiliki kesadaran tinggi tentang arti museum. Museum ini menyimpan berbagai koleksi Raden Tumenggung Haryo Joyohadiningrat II, sang pemrakarsa berdirinya Perkumpulan Paheman Radyapustaka.
Panti Wibowo ini berada di salah satu ruang di kediaman KRA Sosrodiningrat IV. Konon, kompleks Kepatihan Surakarta ini cukuplah megah. Sebagai pusat pemeritahan Nagari Surakarta, kompleks Kepatihan tak kalah dengan Pura Mangkunegaran. Di kompleks Kepatihan juga ada pamedan (alun-alun kecil), kandang kuda dan kereta, masjid, pendopo, panti wibowo, dan lain-lain.


Penempatan koleksi-koleksi tersebut di Panti Wibowo, semula menjadikan museum mini ini bersifat pribadi (privat). Kemudian atas prakarsa Sri Susuhunan Pakubuwono X, museum di Kepatihan dipindahkan ke Loji Kadipolo pada 1 Januari 1913. Gedung Loji Kadipolo yang menjadi lokasi Museum Radyapustaka sekarang ini tanahnya dibeli oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X dari seorang Belanda, Johannes Buselaar seharga 65 ribu gulden dengan akta notaris 13/VII tahun 1877 nomor 10 tanah eigendom.


Pemindahan koleksi benda-benda dan naskah-naskah kuno ke Loji Kadipolo ini ternyata memberi berkah tersendiri bagi keselamatan koleksi-koleksi tersebut. Karena pada tahun 1946 terjadi peristiwa bumi hangus terhadap kompleks Kepatihan yang dilakukan oleh Gerakan Anti Swapraja. Mereka membakar kompleks Kepatihan yang dianggap sebagai simbol pusat pemerintahan yang feodal. Sebagian besar kompleks Kepatihan rata dengan tanah.
Hanya beberapa bangunan yang ada di kompleks Kepatihan yang tersisa, seperti Masjid Al Fatih, bekas kandang kuda, dan Dalem Darmonegaran. Sedangkan, pintu gerbang Kepatihan yang menyerupai Kori Brajanala di Kraton Kasunanan Surakarta telah berubah menjadi Kantor Kejaksaan Surakarta, lalu bekas rumah tinggal patih menjadi bangunan baru SMKN 8 Surakarta (dulu dikenal dengan SMKI). Rumah bekas Raden Adipati Yudonagoro sekarang menjadi TK Pamardisiwi 2. Sementara bekas bangunan Panti Wibowo terlihat terbengkelai, dan sampingnya digunakan sebagai Sekretariat TKPKD (Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah) dan Kantor Sekretariat Program Kota Tampa Kumuh (KOTAKU) Koordinator Kota Surakarta. *** [030917]

Jumat, 15 September 2017

Sanggar Seni Kemasan Surakarta

Gelar Potensi Wisata Kampung Kota yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata (Disparta) Surakarta bersama Laku Lampah, Solo Creative City, dan Bening Arts Management pada hari kedua (3/9), mencoba menjelajah wilayah Kepatihan Kulon dan Kepatihan Wetan.
Para peserta yang berasal dari berbagai daerah berkumpul di Kantor Kelurahan Kepatihan Kulon. Kemudian rombongan ini beranjak mengunjungi Sanggar Seni Kemasan. Sanggar seni ini terletak di Jalan Mashela No. 7 Kelurahan Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi sanggar seni ini berada di sebelah barat daya SMP Negeri 13 Widuran ± 100 m, atau di sebelah barat Gang Kemasan.


Setibanya di lokasi sanggar seni, peserta rombongan tur wisata sejarah kampung disambut di halaman dengan alunan musik dari bambu oleh seniman setempat dengan pakaian tradisional berwarna hitam dengan balutan ikat kepala. Sanggar seni ini menempati bangunan lawas berbentuk joglo. Bangunan lawas itu dulunya merupakan sebuah rumah milik seorang kerabat Kraton Kasunanan Surakarta yang dikenal dengan Dalem Purwoatmajan.


Di sebuah pendopo, peserta rombongan dipersilakan duduk dan menikmati suguhan tari Gambyong Pareanom yang dipentaskan oleh 3 perempuan, yaitu Ayunda, Nandya, dan Mutiya, dengan menggunakan kemben berwarna merah. Tari ini memberi kesan keluwesan dengan menampilkan kegemulaian penarinya.
Istilah Gambyong ini berawal dari nama seorang penari tledhek. Penari yang bernama Gambyong ini hidup semasa Sri Susuhunan Pakubuwono IV di Surakarta (1788-1820). Nama penari ini juga disebutkan dalam buku Cariyos Lelampahanipun Suwargi R. Ng. Ronggowarsito (1803-1873), yang mengungkapkan adanya penari tledhek yang bernama Gambyong yang memiliki kemahiran dalam menari dan kemerduan suara, sehingga menjadi pujaan kaum muda pada zaman itu.


Atas usaha KRMT Wreksadiningrat, tarian tersebut diperkenalkan kepada umum dan ditarikan oleh seorang waranggana. Ketika itu tari mempunyai bentuk yang berbeda dengan sebelumnya. Di situlah terjadi perpaduan tari rakyat dan tari kraton. Bentuk tari ini kemudian berkembang dalam masyarakat. Pada tahun 1950, Nyi Bei Mintoraras menyusun tari Gambyong Pareanom. Tari Gambyong ini berbeda dengan bentuk tari Gambyong sebelumnya, baik dalam susunan tari, iringan tari, rias dan busananya. Bentuk tari Gambyong Pareanom disusun berdasarkan tari Srimpi, Golek, dan Gambyong. Selain itu juga digarap dengan kaidah-kaidah tari istana.


Setelah tari Gambyong Pareanom kelar, suguhan berikutnya adalah tari Mahesa Jenar-Roro Wilis. Tari karya S. Maridi ini diperagakan oleh Arto Kilat Kusumaningrat (Arkom) dan Novita Sari. Tari ini mengisahkan Mahesa Jenar yang sedang merangkai indahnya asmara kepada si cantik Dyah Roro Wilis, putri dari Ki panutan yang kelak dikenal sebagai Kyai Sima Rodra dari Gunung Tidar.
Di akhir lawatan di Sanggar Seni Kemasan, rombongan peserta tur wisata kampung diajak melihat foto-foto tempo doeloe yang terpampang di pendopo. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh penulis untuk mengeksplorasi ihwal sanggar seni ini. Sanggar Seni Kemasan didirikan oleh Bambang Sugiarto. Sebelum menjadi Sanggar Seni Kemasan, sanggar tersebut bernama Sanggar Gidag Gidig yang didirikan pada 21 Desember 1976. Waktu itu Gidag Gidig belum memiliki tempat yang tetap untuk latihan, jadi masih berpindah-pindah. Pada tahun 1984 Gidag Gidig memilih tempat untuk dijadikan sanggar yang tetap yang sekarang menjadi Sanggar Seni Kemasan ini. Sanggar Gidag Gidig sempat vakum selama 13 tahun. Hingga pada tahun 2013 sanggar kembali hadir dengan nama yang berbeda, yaitu Sanggar Seni Kemasan.
Nama Kemasan ini diambil dari nama sebuah kampung di mana sanggar seni tersebut berada. Pada waktu Kasunanan Surakarta Hadiningrat masih eksis secara pemerintahan, segala harta benda kerajaan berupa emas dan perhiasan disimpan di sebuah tempat yang berada di Kepatihan. Pusat pemerintahan di Surakarta kala itu bukanlah di Kraton Kasunanan melainkan di Kepatihan. Patih di sini diberi kuasa penuh oleh Raja Kasunan Surakarta. Nama tempat untuk menyimpan harta benda kerajaan tersebut dinamakan Kemasan. *** [030917]

Rabu, 13 September 2017

Dalem Roesradi Widjojosawarno

Setelah puas mengekplorasi rumah Abdul Fattah, rombongan Gelar Potensi Wisata Kampung Kota singgah di Dalem Roesradi Widjojosawarno sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumur Bandung, Sumur Kamulyan, dan Sumur Ngampok. Dalem ini terletak di Jalan Empu Sedah No. 8 RT. 01 RW. 02 Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi dalem ini berada di sebelah barat Batik Keris Nonongan, atau sekitar 200 m sebelah timur Ginza Salon.
Sebelumnya, rumah atau dalem ini dikenal dengan Dalem Mloyosetiko, seorang abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta bagian karawitan. Mloyosetiko dikenal sebagai seorang seniman priyayi yang menemukan notasi yang terbuat dari rantai yang kemudian dikenal dengan notasi rantai. Notasi rantai merupakan salah satu notasi gamelan yang turut berperan penting di bidang kesenian, karena gamelan kini dikenal di dunia internasional. Notasi tersebut mampu berfungsi untuk mendokumentasikan suatu irama lagu atau gending Jawa.


Setelah Mloyosetiko tiada, dalem ini kemudian ditempati oleh keluarga dari Mloyosetiko. Salah satu putri dari Mloyosetiko menikah dengan Roesradi Widjojosawarno, seorang penilik olahraga. Kantornya dulu masih berada di Pamedan, Mangkunegaran. Roesradi Widjojosawarno berasal dari Sondakan, Laweyan. Masa kecilnya berada di rumah di depan Lumbung Batik, yang sekarang menjadi BRI Unit Laweyan.
Lingkungan Sondakan yang terkenal akan seni batiknya, menempa Roesradi Widjojosawarno mahir dalam melukis foto pakai pensil dan membuat pola-pola lukis batik. Kemahirannya ini yang mengantarkan Roesradi Widjojosawarno dipercaya untuk membuat Wayang Wahyu. Wayang Wahyu adalah wayang yang penggambaran tokoh-tokohnya dan alur ceriteranya diambil dari Alkitab, baik dari Perjanjian Lama maupun Baru.


Wayang Wahyu resmi berdiri pada 2 Februari 1960 di Surakarta, atau yang dikenal dengan Kota Solo. Gagasan awal pembuatan wayang ini didasari oleh keinginan kuat untuk memiliki sebuah media pewartaan iman Katolik yang dapat mendekatkan Katolik dengan masyarakat Jawa pada waktu itu. Pelopor realisasi gagasan ini datang dari Bruder Timothius L. Wignyosoebroto, FIC. Dalam mewujudkan gagasan tersebut,  Bruder Timothius L. Wignyosoebroto dibantu tiga rekannya yaitu Ki Atmowijoyo selaku dalang dan penulis naskah, R. Roesradi Widjojosawarno sebagai pembuat wayang, dan J. Soertamo yang bertugas di bagian gending dan karawitan. Sedangkan, bahan kulitnya dipasok oleh Sadinoe Songkopamilih.
R. Roesradi Widjojosawarno merealisasikan Wayang Wahyu dengan membuat gunungan atau kayon, malaikat, setan, Adam, Hawa, hewan-hewan, api neraka, pohon, Yusuf, Maria, Yesus masa kanak-kanak, para gembala, juru penginapan, gua Natal, dan lain-lain.


Bahan dasar figur tokoh yang ada di Wayang Wahyu awalnya tidak terbuat dari kulit tetapi dari karton. Tokoh-tokoh ini disungging dan distilir dalam wujud dua dimensi, berwajah manusia sebenarnya, tangan lebih pendek daripada tangan di Wayang Purwa dengan tangkai dari bambu. Banjir bandang tahun 1966 telah merusakkan wayang yang terbuat dari karton tersebut. Berawal dari peristiwa itu, timbul kesadaran untuk melakukan penyempurnaan bentuk, tatahan, sunggingan, cempurit dan tangan dengan bahan dari kulit kerbau dan tanduk kerbau seperti halnya Wayang Purwa.
Setelah purna tugas dari pegawai negeri sipil (PNS), Roesradi Widjojosawarno sempat ditarik oleh Iwan Tirta sebagai desainer batik untuk memperkuat usaha batik yang telah ditekuni oleh Iwan Tirta. Keahlian dan prestasi yang dimiliki oleh Roesradi Widjojosawarno ini, menyebabkan dirinya juga cukup dikenal oleh masyarakat. Meski bermula dari seorang seniman lukis, namun Roesradi Widjojosawarno tidak canggung untuk menetap di Kampung Kemlayan yang dikenal sebagai Kampung Seniman itu, yang notabene seniman tari dan karawitan.
Sekarang, bangunan joglo yang yang didominasi warna hijau dan coklat ini sering menjadi tempat latihan tari yang diselenggarakan oleh Sanggar Tari Pamungkas yang dulu diprakarsai oleh S. Ngaliman, seorang abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta bidang tari, empu tari ISI Surakarta sekaligus pemrakarsa perkumpulan kesenian masyarakat Kemlayan. Pada waktu kunjungan di bangunan joglo ini, penulis menjumpai dua orang warga asing yang indekost di sini. Yang perempuan dari Jepang, dan yang laki-lakinya berwajah bule. Keduan warga asing ini memang ingin belajar kesenian tari di rumah berumur ratusan tahun lebih, yang kini dikenal dengan Dalem Roesradi Widjojosawarno. *** [020917]