Benteng Barnaveld (1)

Jl. Benteng Barnaveld, Pulau Bacan

Benteng Oranje (2)

Jl. DR. Hasan Boesoiri, Kota Ternate

Benteng Kalamata (3)

Jl. Kayu Merah, Ternate Selatan

Benteng Kastela (4)

Jl. Raya Benteng Kastela Santo Paulo, Ternate Selatan

Benteng Tolukko (5)

Jl. Makam Pahlawan, Ternate Timur

Wednesday, December 10, 2014

Klenteng Boo Hway Bio

Mojoagung merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah administratif Kabupaten Jombang. Daerahnya terletak di perbatasan antara Jombang dan Mojokerto. Sebagai kota kecamatan, Mojoagung tergolong ramai dan memiliki kekuatan ekonomi yang lumayan. Mojoagung terkenal dengan perajin cor kuningan, sepatu kulit, dan lain-lain.
Di daerah Mojoagung ini, di kawasan pusat kotanya terdapat alun-alun kecil. Dulu, alun-alun ini adalah pasar tradisional Mojoagung, akan tetapi seiring perkembangan wilayah tersebut, pasar tadi direlokasi ke arah utara dan bekasnya dijadikan alun-alun.
Tepat berada di sebelah utara dari alun-alun ini, Anda bisa menyaksikan klenteng Boo Hwy Bio. Klenteng ini terletak di Jalan Raya Utara Alun-Alun 16 Mojoagung, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur.


Menurut sejarahnya, Klenteng Boo Hwy Bio didirikan pada tanggal 6 Lak Gwee atau bertepatan dengan 6 Juni 1928 oleh orang-orang Tionghoa yang pergi merantau dan akhirnya berdomisili di Mojoagung.
Klenteng yang berukuran kecil ini menghadap ke selatan atau arah ke alun-alun. Klenteng ini sengaja dibangun berdekatan dengan pertigaan jalan atau persimpangan jalan, karena berdasarkan kepercayaan orang-orang Tionghoa bahwa lokasi tersebut berisi segala pengaruh negatif. Pengaruh buruk tersebut akan hilang atau sirna dengan dibangunnya klenteng ini.
Bangunan paling depan dari klenteng ini adalah men lou wu, pintu gerbang untuk masuk ke dalam bangunan utama, yang di sebelah kiri dan kanannya disambung dengan pagar. Pada men lou wu tersebut di bagian atasnya terdapat ornamen sepasang naga.
Sebelum memasuki bangunan utama, peziarah akan melintasi halaman dengan lantai con block. Di halaman depan klenteng ini tampak dua menara menyerupai botol untuk membakar kertas-kertas doa.
Melangkah lagi ke depan, peziarah akan sampai kepada bangunan utama dari klenteng ini. Tidak seperti klenteng lainnya yang ada di Indonesia, ruang utama klenteng ini juga diberi pagar yang terbuat dari besi (tosan aji) meninggi hingga atap. Pada pagar tersebut terdapat ornamen singa dan naga di sebelah kiri dan kanannya. Lalu, pada bagian depan pintu utama klenteng ini terdapat hiolo yang terbuat dari kuningan dengan ornamen sepasang naga, yang sebelah kiri dan kanannya terdapat cok say, sebuah patung singa yang ditempatkan di atas pondasi berbentuk bujur sangkar.
Di atas pintu utama terdapat kaligrafi horisontal dalam aksara Tionghoa, sedangkan di sebelah kiri dan kanannya terdapat kaligrafi huruf kanji dalam posisi vertikal.
Memasuki ruang utama dari klenteng ini, peziarah akan mendapati Kongco San Ci Kung yang merupakan Dewa Penolong, dan sekaligus dewa yang utama dalam klenteng tersebut. Di kalangan pemeluk Tri Dharma, Klenteng Boo Hwy Bio terkenal sebagai tempat keramat, yang dipercaya bisa mendatangkan berkah tersendiri bagi para penganut Khonghucu, Tao dan Buddha yang melakukan peribadatan di tempat ini. *** [260714]

Garis Wallace Makin Dipertegas

Garis Wallace tidak hanya memisahkan jenis flora dan fauna di Indonesia dengan yang ada di Asia atau Australia, tetapi juga menunjukkan dimulainya percampuran genetika manusia serta rumpun bahasa, antara Austronesia dan Papua. Garis imajiner itu terbentang mulai dari Selat Makassar hingga Selat Lombok.
Guru Besar Emeritus Antropologi Universitas Arizona Amerika Serikat John Stephen Lansing di Jakarta, Rabu (26/11), mengatakan, masyarakat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, memiliki campuran genetika manusia Austronesia dan Papua. Makin ke timur dari Sumba, yaitu Flores, Lembata, dan Alor, bagian genetika Papua makin besar.
Sumba terletak di dekat garis Wallace di sisi timur. Manusia Nusantara di barat garis, seperti Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatera, memiliki genetika Austronesia. Di sisi timur garis Wallace terjadi percampuran genetika Austronesia dan Papua. Genetika Papua murni tersebar di wilayah Melanesia, seperti Papua (pegunungan) dan sejumlah pulau di timur Papua.
Namun, penelitian filogeni menunjukkan bahwa semua bahasa yang dituturkan masyarakat Sumba masuk rumpun bahasa Austonesia, sama seperti yang digunakan di barat garis Wallace. Makin ke timur, seperti di Pulau Timor, sebagian masyarakat menggunakan bahasa yang masuk rumpun bahasa Papua.
“Uji statistic menunjukkan bahasa hanya diturunkan melalui garis ibu, bukan garis bapak,” tutur Stephen yang kini menjadi Direktur Institut Kompleksitas Universitas Teknologi Nanyang, Singapura.
Deputi Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Herawati Sudoyo mengatakan, penelitian itu makin mempertegas garis Wallace yang bukan hanya memisahkan jenis flora-fauna di barat dan timur Indonesia, melainkan juga genetika dan bahasa.
“Penelitian genetika manusia Indonesia penting untuk memahami asal usul mereka, penyebarannya, hingga karakter penyakit yang menyertainya,” katanya.

Migrasi Austro-Asiatik
Arkeolog prasejarah Pusat Arkeologi Nasional Harry Truman Simanjutak mengatakan, berdasar data arkeologi, etnologi, dan paleontology, terdeteksi adanya arus migrasi selain penutur Austronesia dan Papua yang masuk dari sisi barat melewati Malaysia hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Mereka adalah penutur Austro-Asiatik.
Penutur Austro-Asiatik tiba di Indonesia pada 4.300-4.100 tahun lalu yang kemudian baru disusul penutur Austronesia pada kisaran 4.000 tahun lalu. Austro-Asiatik dan Austronesia sebenarnya berasal dari satu rumpun bahasa yang sama, yaitu bahasa Austrik, tetapi kemudian pecah. Bahasa Austro-Asiatik digunakan di sekitar Asia Tenggara Daratan, sedangkan Austronesia digunakan di wilayah kepulauan, seperti Taiwan, Filipina, Pasifik, Madagaskar, hingga Pulau Paskah.
Bahasa Austrik awalnya dimanfaatkan masyarakat Yunan, Tiongkok selatan. Bahasa ini kemudian pecah menjadi dua, yaitu Austro-Asiatik dan Austronesia yang kemudian menjadi penyebutan nama kelompok berdasarkan penggolongan bahasa.
“Kami telah menemukan data arkeologi, etnologi, dan palaentologi arus migrasi dari barat penutur Austro-Asiatik,” papar Truman.
Pada 4.300-4.100 tahun lalu, dari Yunan, penutur Austro-Asiatik bermigrasi ke Vietnam dan Kamboja lewat Malaysia hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Salah satu penandanya ialah temuan tembikar-tembikar berhias tali yang bentuknya sama dengan tembikar di selatan Tiongkok hingga Taiwan.
Kemudian, pada 4.000-an tahun lalu, muncul arus migrasi penutur Austronesia lewat sisi timur Indonesia. Arus migrasi itu muncul mulai dari Sulawesi, Kalimantan, dan sebagian ke selatan, seperti Nusa Tenggara, hingga menuju Jawa dan Sumatera. [ABK/MZW]

Sumber:
KOMPAS Edisi Kamis, 27 November 2014

Tuesday, December 9, 2014

Klenteng Pao Sian Lin Kong

Sumenep merupakan salah satu kabupaten yang berada di paling ujung timur dari Pulau Madura. Meski terletak di ujung timur Pulau Madura, Sumenep ternyata menyimpan memori sejarah yang cukup panjang. Sehingga, wajar bila wilayah besutan Aria Wiraraja ini banyak terdapat peninggalan bangunan kuno yang menyimpan sejarah. Selain, Kraton Sumenep, Masjid Jamik Sumenep, Benteng Kalimo’ok, dan lain-lain. Di kalangan orang Tionghoa pun tak mau kalah dalam mengisi memori sejarah tersebut, dengan mendirikan Klenteng Pao Sian Lin Kong.
Klenteng Pao Sian Lin Kong terletak di Jalan Slamet Riyadi No. 27 Desa Pabian, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada sekitar 500 meter arah timur dari Stadion Ahmad Yani. Jaraknya tidak begitu jauh dari pusat Kota Sumenep atau hanya sekitar 2,8 kilometer kea rah timur dari alun-alun Kota Sumenep, atau hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Terminar Aria Wiraraja Sumenep.


Mengenai kapan berdirinya klenteng ini tidak ada bukti yang jelas, baik berupa inskripsi, naskah maupun cerita-cerita yang menceritakan kapan klenteng tersebut dibangun. Hanya saja, diperkirakan bahwa klenteng sudah ada sejak tahun 1821 berdasarkan keberadaan patung Makco Thiang Siang Sing Bo, dewi pelindung para pelaut, yang dibawa langsung oleh perantau asal Hokkian di Tiongkok selatan ke Sumenep.
Orang Hokkian adalah penduduk dari Provinsi Fujian bagian selatan di Tiongkok. Orang Hokkian dikenal sebagai pekerja keras dan pandai berdagang. Mereka merupakan mayoritas yang merantau di Nusantara. Daerah asal utama pendatang dari Hokkina kala itu merupakan pelabuhan utama yang melayani perdagangan lewat laut.
Semula klenteng ini didirikan di Desa Marengan, Kecamatan Kalianget. Daerah tersebut berada di dekat pantai, dan dikenal sebagai pusat perdagangan di Pulau Madura pada masa Hindia Belanda. Makin lama, klenteng yang menjadi destinasi orang Tionghoa untuk melakukan sembahyang dan melestarikan adat-istiadat Tionghoa ini, tak mampu menampung jemaat lagi.


Melihat situasi seperti itu, seorang kapiten Tionghoa pada masa Hindia Belanda berkenan menghibahkan tanahnya di Desa Pabian untuk merelokasi klenteng tersebut. Lokasinya berada di dekat rumah tinggal sang kapiten tersebut.
Klenteng yang menghadap ke selatan ini berdiri di atas lahan seluas 2.685 meter persegi. Halaman klenteng ini dibilang cukup luas di antara pintu gerbang dan bangunan utamanya. Setelah melewati men lou wu, pintu gerbang untuk masuk ke dalam bangunan utama, peziarah akan ketemu hiolo (tempat dupa besar). Di sebelah kiri dan kanan dari hiolo terdapat cok say (patung singa) yang menghadap ke hiolo. Di atas pintu utama terdapat kaligrafi dalam aksara Tionghoa di sebelah kanan dan kiri yang memiliki makna: “keramatnya mendunia” dan “negara dan lautan tenang”.
Memasuki ruang utama dari klenteng ini, peziarah akan menemukan tiga altar untuk pemujaan kepada Kongco Hok Tek Tjeng Sien (Dewa Bumi), Makco Thian Siang Sing Bo (Dewi pelindung bagi pelaut asal Fujian), dan Kong Tik Cung Ong. Kemudian di belakang ruang utama, terdapat bangunan oktagonal bercat merah yang menjadi rumah khusus bagi Dewi Kwam Im Posat (Dewi Welas Asih). Konon, patung Dewi Welas Asih yang juga dikenal sebagai Avalokitesvara Boddhisatva itu bisa berubah wajah sesuai dengan kondisi jemaat yang datang berdoa, terutama di bagian mata dan pipi. Hal ini pertanda tulus atau tidaknya niat seseorang yang berdoa tadi.
Berbeda dengan klenteng lainnya, Klenteng Pao Sian Lin Kong tergolong cukup bersih dan terawat. Hal ini tak lepas dari sumbangsih dana dari para peziarah yang nadzarnya terkabulkan di klenteng ini. ***

Monday, December 8, 2014

Masjid Kuno Bayan Beleq

Seperti halnya Dusun Tradisional Sade yang berada di Lombok Tengah, Desa Bayan juga memiliki kemiripan yang hampir sama. Nama Bayan identik dengan sosok desa tradisional, adat istiadat dan norma-norma budaya lama yang masih mewarnai pola kehidupan masyarakatnya. Sebagai desa adat yang masih tradisional, Desa Bayan menyimpan banyak ceritera. Kekunaan yang dimiliki oleh desa ini, mengundang banyak orang untuk mengunjunginya. Tidak hanya wisatawan domestik saja, akan tetapi juga wisatawan dari mancanegara. Mereka pada umumnya tertarik akan keaslian desa sebagai kekhasan karakteristik daerah tersebut. Selain itu, ada juga bangunan peribadatan kuno yang sering menjadi ikon dari daerah tersebut. Bangunan kuno tersebut sepintas mirip dengan rumah, namun sesungguhnya adalah masjid. Masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Kuno Bayan Beleq.
Masjid Kuno Bayan Beleq terletak di Dusun Karang Baja, Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi bangunan masjid kuno ini berada di pinggir jalan raya menuju utara Pulau Lombok, dan letak posisinya di atas sebuah bukit kecil dengan ketinggian 3,6 meter yang dikelilingi makam para penyebar agama Islam di Bayan dengan ketinggian 278 meter di atas permukaan laut.


Menurut catatan yang terdapat di Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah, dikisahkan bahwa Sunan Giri bertolak dari Jawa ke Pulau Lombok pada abad 16 untuk menyebarkan agama Islam dan berlabuh di pantai sebelah utara Bayan. Babad Lombok menyebutkan bahwa syiar Islam dimulai dari daerah Bayan, yang terletak 20 kilometer dari pantai.
Kapan masjid ini didirikan tidak diketahui dengan pasti karena minimnya sumber tertulis yang ada. Namun, masyarakat setempat meyakini bahwa masjid tersebut telah berumur ratusan tahun, dan karena umurnya sangat tua maka disebut sebagai Masjid Kuno Bayan Beleq. Dalam bahasa Sasak, beleq berarti besar.
Pada pertengahan abad 19 secara sosio-politik Lombok dikuasai Kerajaan Karangasem, Bali. Pengaruh Hindu, Islam, Jawa dan Bali tersebut tampak pada masjid ini.
Masjid ini memiliki denah berbentuk bujur sangkar, mengecil ke atas, berukuran 8,7 x 8,7 meter. Seperti halnya bangunan Joglo Jawa, konstruksi yang menopang bangunan berupa empat soko guru terbuat dari kayu nangka berbentuk silinder setinggi 5,5 meter. Tiang-tiang tersebut menopang atap puncak yang berbentuk tajug. Besar dan kemiringan atap yang tajam ini lebih bercorak Bali.
Masjid Kuno Bayan Beleq merupakan bangunan tunggal dengan corak arsitektur Lombok ditandai dengan rendahnya dinding dan pintu masuk, kurang lebih 1,5 meter. Pintu dan mihrab ukurannya sama sehingga memberikan kesan simetri. Mihrab dinding sisi barat yang sangat rendah terbuat dari papan kayu suren yang berjumlah 18 bilah. Perbedaan tinggi dinding ini bermakna simbolis, bahwa tempat kedudukan iman tidaklah sama dengan makmum.


Masjid ini berpintu satu, seperti rumah Sasak pada umumnya. Seperti halnya masjid Jawa, masjid ini dilengkapi bedug yang digantungkan ke rangka utama bangunan. Mimbar masjidnya dibuat dari kayu dengan ornamen burung lambang kemakmuran. Seluruh dinding masjid ini terbuat dari anyaman bambu. Sementara itu, fondasi lantainya terbuat dari batu kali, sedangkan lantai masjid terbuat dari tanah liat yang telah ditutupi tikar buluh.
Masjid Kuno Bayan Beleq ini acapkali disebut juga dengan masjid makam, karena di sekeliling area masjid ini ditemukan makam. Terdapat enam makam di area tersebut, yaitu makam Plawangan, makam Karangsalah, makam Anyar, makam Reak, makam Titis Mas Penghulu, dan makam Sesait. Makam Plawangan terletak di sebelah selatan masjid. Makam Karangsalah terletak di sebelah timur laut masjid. Makam Anyar terletak di sebelah barat laut masjid. Makam Titis Mas Penghulu terletak di sebelah utara masjid, sedangkan makam Sesait berada di sebelah utara masjid. Makam tersebut disinyalir merupakan makam tokoh-tokoh yang menyebarkan agama Islam di Pulau Lombok. Makam tersebut didominasi bahan dasar bedek (dinding yang terbuat dari bambu).
Meskipun masjid ini sangat sederhana dan berbahan utama dari bambu, akan tetapi bernilai sejarah dan arsitektural yang tinggi. Kini masjid ini tidak digunakan lagi untuk ibadah setiap hari. Masjid ini hanya digunakan pada hari-hari besar atau hari-hari keagamaan tertentu saja, dan tidak semua orang Islam di sana melakukan salat. Yang melakukan salat di sana hanyalah para Kyai, mulai dari Kyai Ketip (Khatib), Kyai Lebe, Kyai Penghulu, Kyai Modin, Kyai Raden, dan Kyai Santri.
Sesuai dengan papan yang berada di lingkungan masjid ini, dapat diketahui bahwa Masjid Kuno Bayan Beleq merupakan situs cagar budaya yang dilindungi dengan UU tentang Cagar Budaya. ***

Thursday, December 4, 2014

Kraton Ismahayana Landak

Landak merupakan salah satu kabupaten yang berada di Kalimantan Barat yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Pontianak. Daerah ini tergolong maju lantaran memiliki kekayaan hasil alam di sepanjang sungainya yang membentang, seperti emas dan intan, dan potensi wisata alam yang mengagumkan, seperti air terjun Riam Melanggar maupun Gunung Sehaq. Selain itu, Landak juga mempunyai obyek wisata sejarah yang tak kalah menariknya, yaitu Kraton Ismahayana.
Kraton Ismahayana terletak di Jalan Pangeran Sancanata, Desa Raja, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi kraton atau istana ini berada sekitar 50 meter di sebelah barat Sungai Landak yang membelah Kota Ngabang, atau sekitar 177 kilometer dari Kota Pontianak.
Riwayat Kraton Ismahayana ini dibilang cukup panjang. Dimulai dengan adanya ekspedisi ke daerah Melayu yang dijalankan oleh Kertanegara, seorang Raja Singasari, pada tahun 1275. Ekspedisi tersebut akhirnya dikenal dengan nama ekspedisi Pamalayu.


Tujuan awal ekspedisi Pamalayu adalah untuk menjadikan Swarnadwipa (sekarang Sumatera) sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi bangsa Mongol selain juga ingin mengamankan jalur ekonomi dan politik yang penting dari incaran bangsa Mongol. Di samping itu, Kertanegara juga memerintahkan Kebo Anabrang untuk menguasai Pahang di Semenanjung Malaka dan Balakapura maupun Tanjungpura di Warunadwipa (Kalimantan). Kemudian dilanjutkan ekspansi ke daerah lain di Nusantara. Namun sebelum tercapai semua tujuannya, Kertanegara akhirnya  terbunuh oleh  pasukan Jayakatwang pada tahun 1292.
Mendengar Raja Kertanegara wafat, ternyata tidak semua pasukan dalam ekspedisi Pamalayu bersedia kembali ke Jawa. Di bawah pimpinan Indrawarman, sebagian prajurit ekspedisi Pamalayu menetap di Swarnadwipa. Begitu pula halnya, dengan Ratu Sang Nata Pulang Pali I, pemimpin salah satu rombongan, membelokkan armada pasukannya menuju Warunadwipa atau Nusa Tanjungpura.
Di pulau yang sekarang dikenal dengan Pulau Kalimantan ini, Ratu Sang Nata Pulang Pali I bersama pengikutnya awalnya singgah di daerah Padang Tikar, kemudian menyusuri Sungai Tenganap, dan akhirnya berlabuh di daerah Sekilap atau yang disebut juga Sepatah. Di tempat inilah, Ratu Sang Nata Pulang Pali I mendirikan Kerajaan Landak, dan nama Sekilap kemudian diganti menjadi Ningrat Batur atau Angrat (Anggerat) Batur.


Periode pemerintahan Kerajaan Landak di Ningrat Batur berlangsung 180 tahun (1292-1472) lamanya. Selama di Ningrat Batur, kerajaan ini dipimpin oleh tujuh raja, yaitu Ratu Sang Nata Pulang Pali I hingga Abhiseka Ratu Brawijaya Angkawijaya (Ratu Sang Nata Pulang Pali VII). Pada masa pemerintahan Ratu Sang Nata Pulang Pali VII, Kerajaan Landak memiliki kompleks istana terpadu. Di istana ini, beliau menikahi Putri Dara Hitam yang kemudian menjadi permaisuri kerajaan. Dari perkawinan tersebut, Ratu Sang Nata Pulang Pali VII memiliki keturunan bernama Abhiseka Sultan Dipati Karang Tanjung yang sekaligus merupakan putra mahkota. Setelah Raja Landak terakhir di Ningrat Batur tersebut mangkat, sang putra mahkota kemudian naik tahta dan bergelar Pangeran Ismahayana (memerintah tahun 1472-1542).
Pada era pemerintahan Pangeran Ismahayana, pusat kerajaan dipindahkan ke area hulu Sungai Landak, yang kemudian dikenal dengan nama Mungguk Ayu. Setelah menganut agama Islam, Pangeran Ismahayana berganti nama menjadi Raden Abdul Kahar dengan bergelar Raden Dipati Karang Tanjung. Dari perkawinannya dengan Nyi Limbaisari yang bergelar Raden Ayu diperoleh dua orang putra, yaitu Raden Tjili Tedung dan Raden Tjili Pahang yang keduanya kemudian menjadi raja Kerajaan Landak.
Pada masa Pangeran Kesuma Agung Muda (1703-1709), pusat pemerintahan Kerajaan Landak dipindahkan ke Bandung (suatu daerah dekat Munggu), yang selanjutnya pada masa pemerintahan Pangeran Sanca Nata Kesuma Muda (1768-1798) sebagai Sultan Landak XII, dipindahkan ke Ngabang, dengan mendirikan kraton yang terletak di Desa Raja Ngabang seperti yang ada sekarang ini.
Raja terakhir yang memerintah Kerajaan Landak adalah Pangeran Ratu Gusti Abdul Hamid bergelar Panembahan Gusti Abdul Hamid.
Pada tahun 1943, beliau wafat karena korban keganasan tentara pendudukan Jepang dalam peristiwa Mandor.
Selanjutnya Kerajaan Landak diperintah oleh Pangeran Mangku Gusti Afandi (Waka Raja XXVIII) hingga dihapuskannya sistem kerajaan oleh pemerintah Indonesia, menjelang dibentuknya pemerintahan swapraja Landak. ***

Kepustakaan:
Tim Gunung Djati, 2008. Warisan Masa Lampau Indonesia: Kerajaan Singasari, Cirebon: CV. Gunung Djati
http://ujp.ucoz.com/Modul/Kepariwisataan/22-KALBAR.pdf

Wednesday, December 3, 2014

Masjid Jamik Sultan Muhammad Tsafiuddin II

Seperti kebiasaan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, sebuah bangunan kraton atau istana selalu berdekatan bangunannya dengan sebuah masjid. Hal ini mengandung makna filosofis bahwa seorang raja atau sultan selain ia seorang pemimpin rakyat dan kerajaan tetapi juga seorang pemimpin agama atau seorang yang taat dan patuh menjalankan syariat agama yang khususnya syari’at Islam yang merupakan anutan dan keyakinan raja dan menjadi dasar pemerintahan kerajaan. Termasuk juga dengan Masjid Jamik Sultan Muhammad Tsafiuddin II ini.
Masjid ini terletak di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi masjid berada di sebelah barat daya istana, dan masih satu lingkungan pagar kompleks istana yang berjarak sekitar 50 meter dengan Istana Alwatzikhoebillah.


Awalnya, masjid Kesultanan Sambas ini kecil seperti mushola, namun semasa pemerintahan Sultan Muhammad Tsafiuddin (6 Agustus  1866 – 4 Desember  1922), mushola tersebut dirobohkan dan dibangunlah masjid yang lebih besar pada 1 Muharam 1303 H atau 11 Oktober 1885 M oleh sultan bersama-sama ibundanya, Ratu Sabar.
Pada masa pemerintahannya, Sultan Muhammad Tsafiuddin II lebih menitikberatkan perhatiannya pada pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Sultan banyak mendirikan masjid dan surau-surau, termasuk di antaranya masjid ini. Banyak pemuda-pemuda yang berbakat di bidang agama oleh Sultan Muhammad Tsafiuddin II diberi beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Al Azhar, Kairo, Mesir. Di antaranya yang terkenal adalah H. Muhammad Basiuni Imran yang kemudian diangkat sebagai Maharaja Imam Kerajaan Sambas.
Bangunan masjid ini memiliki arsitektur yang khas. Arsitekturnya mengambil bentuk segi empat dengan atap berbentuk tajug tumpang yang menjadi ciri gaya aristektur khas masjid-masjid awal di Nusantara.


Jumlah tiang tengah masjid ini berjumlah delapan tiang (soko guru) terbuat dari kayu belian. Ini merupakan simbol yang mempunyai makna bahwa pendirinya adalah sultan ke-8 dari kesultanan Islam Sambas atau sultan ke-14 garis Kerajaan Sambas yang dimulai sejak Raden Janur sekitar tahun 1364 yang masih Hindu.
Di bagian depan ruang utama masjid ini, terdapat sebuah mimbar kecil yang digunakan untuk khotbah bagi khatib. Mimbar ini terkesan antik dengan ukirannya, dan terbuat dari kayu berwarna merah. Konon khabarnya, berasal dari Palembang yang dipersembahkan para pelaut dan pedagang kepada sultan.
Masjid yang memiliki menara sebangunan dengan bangunan utamanya ini, dulu menggunakan bedug besar sebagai alat pemberitahuan sholat, akan tetapi setelah adanya pengeras suara digunakan untuk azan maka bedug tersebut tidak digunakan lagi.
Hingga kini, bangunan Masjid Jamik Sultan Muhammad Tsafiuddin II yang didominasi warna kuning emas, atau yang dikenal dengan sebutan Masjid Sultan ini masih berdiri kokoh meski telah berumur ratusan tahun lebih. ***

Tuesday, December 2, 2014

Istana Alwatzikhoebillah

Istana Alwatzikhoebillah merupakan salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Sambas yang banyak dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar daerah bahkan wisatawan mancanegara karena Istana Alwatzikhoebillah merupakan peninggalan bersejarah dan lambang kebesaran dan kejayaan kerajaan Islam di Sambas.
Istana Alwatzikhoebillah terletak di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi istana ini berada pada pertemuan Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah, dan Sungai Teberau, yang berjarak sekitar 1 km dari pusat Kota Sambas atau 200 km dari Pontianak.
Sejarah mencatat, Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas tumbuh dan berkembang berdasarkan latar belakang sejarah dari dua periode, yakni pada masa Hindu (Majapahit) dan Islam (Brunei).
Asimilasi dua periode akhirnya terjadi ketika anak perempuan dari Ratu Sepudak (kerajaan pada masa Hindu) yang bernama Raden Mas Ayu Bungsu, dengan Raden Sulaiman, anak sulung Pangeran Tengah yang beristrikan Ratu Suria Kesuma dari Sukadana. Pangeran Tengah adalah adik kandung dari Sultan Abdul Jalilul Akbar yang memerintah negeri Brunai tahun 1598-1659, dan merupakan sultan di negeri Sarawak dengan gelar Sultan Ibrahim Ali Omar Shah pada tahun 1599. Dari perkawinan ini, akhirnya Raden Sulaiman diangkat menjadi Wazir Kedua dalam pemerintahan Ratu Anum Kesuma Yudha, yang tidak lain adalah menantu Ratu Sepudak dari perkawinannya dengan Raden Mas Ayu Anom, kakak perempuan dari istri Raden Sulaiman.


Selang beberapa tahun setelah penobatan Pangeran Prabu Kencana dengan gelar Ratu Anum Kesuma Yudha untuk menggantikan Ratu Sepudak, timbullah perselisihan yang mulanya kecil saja di mana Wazir Pertama, yakni Pangeran Mangkurat, adik kandung Ratu Anum Kesuma Yudha, kurang menyenangi Raden Sulaiman, adik ipar Ratu Anum Kesuma Yudha, yang selalu berbuat kebaikan dengan rakyatnya.
Akhirnya, demi mengalah agar tak terjadi perang saudara, Raden Sulaiman mengambil keputusan untuk meninggalkan Ibu Kota Negeri Kota Lama. Setelah bermusyawarah, akhirnya Petinggi Nagur, Petinggi Bantilan, dan Petinggi Segerunding membawa Raden Sulaiman beserta rombongan menuju ke Simpang Sungai Subah. Sesampainya di sana, mereka mendirikan perkampungan yang diberi nama Kota Bandir.
Setelah kepergian Raden Sulaiman dari Kota Lama, ternyata banyak rakyat yang menyusul Raden Sulaiman pindah ke Kota Bandir dan mendirikan pemukiman di Kota Bandir. Akhirnya Kota Lama semakin hari semakin sepi. Kepergian rakyat ke Kota Bandir disebabkan mereka sudah tidak tahan lagi dengan perangai Pangeran Mangkurat yang berbuat semena-mena terhadap mereka. Sementara Ratu Anum sudah tidak dipedulikan lagi oleh Pangeran Mangkurat. Seolah-olah yang menjadi raja adalah Pangeran Mangkurat, bukan Ratu Anum Kesuma Yudha. Sampai akhirnya Ratu Anum sendiri, sudah tidak tahan lagi dengan perangai adiknya sehingga mengambil keputusan untuk menginggalkan Kota Lama mencari tempat pemukiman yang baru. Brangkatlah Ratu Anum Kesuma Yudha meninggalkan ibu kota negeri Kota Lama dengan menggunakan tujuh puluh buah perahu yang lengkap dengan alat senjatanya.


Sebelum berangkat, Ratu Anum Kesuma Yudha menyuruh ketiga petinggi yang pernah mengantarkan Raden Sulaiman saat hijrah, untuk memanggil Raden Sulaiman, karena Ratu Anum ingin menyerahkan pemerintahan Negeri Sambas kepada Raden Sulaiman dan istrinya.
Tiga tahun lamanya Raden Sulaiman bermukim di Kota Bandir, maka timbul keinginannya untuk memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Sungai Teberau, tepatnya di Lubuk Madung.
Melalui musyawarah keluarga, di Lubuk Madung inilah maka pada hari Senin, 10 Zulhijjah 1040 H/9 Juli 1631 M, Raden Sulaiman dinobatkan menjadi Sultan Sambas Islam yang pertama dengan gelar Sultan Muhammad Tsafiuddin I.
Setelah Raden Bima, anak sulung Sultan Muhammad Tsafiuddin I, dinobatkan menjadi Sultan Sambas Islam yang kedua pada 10 Muharam 1080 H/10 Juni 1669 M dengan gelar Sultan Muhammad Tajuddin, tak lama selang bertahta di Lubuk Mandung, maka Sultan Muhammad Tajuddin berkeinginan untuk memindahkan ibu kota kerajaan dari Lubuk Mandung ke Muara Ulakan, yaitu di persimpangan Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah, dan Sungai Teberau. Ibu kota kerajaan dibangun lengkap dengan pagar dan parit, serta istana untuk pertama kalinya didirikan tepat menghadap Sungai Sambas Kecil.
Sedangkan, bangunan istana yang berdiri saat ini merupakan pembangunan kembali pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin  (1931-1943). Istana ini dibangun pada 15 Juli 1933 dan mulai ditempati pada 6 Juli 1935.
Kompleks Istana Alwatzikhoebillah yang didirikan di atas areal seluas sekitar 2 hektar berdiri sejumlah bangunan yang memiliki fungsi dan peruntukkannya sendiri. Sebelum memasuki bangunan utama istana yang menghadap ke barat, pengunjung akan memasuki gerbang segi delapan (pendopo) yang memiliki delapan jendela yang menandakan arah angin, dengan hamparan alun-alun seluas lapangan sepak bola. Di tengah alun-alun tersebut, terdapat tiang bendera berbentuk tiang perahu layar, dan di bawahnya terdapat tiga meriam canon yang konon didapatkan dari pasukan Inggris.
Di sisi sebelah barat daya alun-alun, terdapat  Masjid Agung Jamik Sultan Muhammad Tsafiuddin II yang dibangun pada hari Jumat, 1 Muharram 1303 H bertepatan dengan 11 Oktober 1885. Bangunan masjid terlihat kokoh, dan bahan-bahannya terbuat dari kayu belian.
Setelah melihat masjid, pengunjung bisa melanjutkan melangkah menuju ke bangunan utama istana. Namun sebelum memasuki gerbang utama yang berlantai dua, pengunjung bisa menemukan dua balai paseban yang berada di depan gerbang utama sebelah kiri dan kanan. Dulu, balai paseban ini digunakan sebagai tempat pertunjukkan, pameran, dan wayang kulit. Selain itu, juga digunakan oleh orang untuk istirahat sebelum menghadap sultan.
Setelah melintas masuk gerbang utama, pengunjung masuk ke bangunan utama istana yang terdiri atas bangunan utama yang diapit oleh dua bangunan berbentuk limasan yang digunakan untuk rumah pengawal. Dari bangunan utama mau menuju ke bangunan pengapit tersebut dihubungkan oleh bangunan penghubung beratap seperti yang ada di rumah sakit pada umumnya.
Bangunan limasan yang berada di sebelah utara bangunan utama istana, pada zaman dulu selain dipergunakan untuk rumah pengawal, di ruangan paling depan sering digunakan oleh sultan sebagai tempat bersemedi atau bertapa, juga digunakan sebagai tempat penyimpanan pusaka, dan di bagian belakangnya digunakan untuk garasi. Sedangkan, pada bangunan limasan yang berada di sebelah selatan bangunan utama istana, selain digunakan untuk rumah pengawal juga difungsikan sebagai dapur istana.
Di bangunan utama istana ini juga berbentuk limasan, dan diketahui sebagai rumah sultan. Memasuki rumah sultan, pengunjung akan langsung membaca Alwatzikhoebillah di atas teras sebagai penanda bahwa bangunan ini merupakan Istana Alwatzikhoebillah. Di atas tulisan tersebut terdapat lambang kuda laut di atas atap istana, yang menandakan bahwa bidang yang menyokong perekonomian kesultanan saat itu adalah bahari.
Di bangunan rumah sultan, terdapat empat cermin besar di setiap sudut ruang tamu, dan foto koleksi Kesultanan Sambas. Di kamar sultan terdapat tempat peristirahatan yang dihiasi dengan kain warna kuning. Terdapat pula busana atau pakaian kebesaran sultan yang disimpan dalam sebuah kotak kaca tertutup, payung ubur-ubur, tombak canggah, meriam beranak, pedang sultan, tempayan keramik dari Tiongkok, dan kaca kristal dari Inggris dan Belanda.
Tepat di belakang rumah sultan, terdapat menara air yang berfungsi sebagai tandon air sebelum dialirkan melalui pipa ke seluruh kompleks istana yang telah dipasang instalasi pipa air. Searah menara air di sebelah utara, atau tepatnya berada di sebelah timur laut dari kompleks istana, terdapat kolam pemandian yang dulunya digunakan sebagai tempat pemandian para putri sultan.
Setelah puas berkeliling Istana Alwatzikhoebillah, pengunjung akan menyadari betapa istana ini mempunyai peran yang menonjol di masa lampau sebagai salah satu pusat budaya di Sambas. Berwisata ke Istana Kesultanan Sambas ini memang bisa cukup menyingkap kejayaan Sambas di masa lampau, dan sekaligus memahami sejarah anak negeri ini. ***

Kepustakaan:
Urai Riza Fahmi, 2013. Selayang Pandang Sejarah Kerajaan Islam Keraton Sambas, Bandung: CV Yrama Widya
KOMPAS Edisi Jumat, 31 Oktober 2014