Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Selasa, 17 April 2018

Stasiun Kereta Api Bululawang

Stasiun Kereta Api Bululawang (BLL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Bululawang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian ± 425 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun RT. 18 RW. 05 Desa Bululawang, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Puskesmas Bululawang, atau timur laut Pasar Bululawang.
Bangunan Stasiun Bululawang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel trem Malang-Bululawang-Gondanglegi sepanjang 23 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) dimulai pada tahun 1897 dan selesai pada tahun 1898.
MSM adalah perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda yang dahulu mengoperasikan jalur trem di sekitar Kabupaten Malang. Perusahaan kereta api (Spoorwegmaatschappij) ini mendapat konsesi pada tahun 1894 dari Pemerintah Hindia Belanda untuk mengerjakan jaringan rel trem (tramwegnet). Konstruksi dilakukan dari tahun 1897 sampai dengan tahun 1908 dengan menghasilkan jalur rel trem sepanjang 85 kilometer.


Trem dan kereta api memiliki kesamaan yaitu sama-sama ditarik oleh lokomotif uap, mempunyai gerbong yang sama dan jalan yang sama yaitu rel dengan lebar 1067 mm, sedangkan untuk perbedaannya adalah ukuran dan rute perjalanan yang dilayani. Trem melayani rute-rute pendek yakni antar distrik dalam satu kota dan hanya terdapat paling banyak 4 rangkaian gerbong, sedangkan kereta api beroperasi beroperasi melayani rute antar kota dan provinsi serta mempunyai rangkaian gerbong yang lebih panjang.
Jalur sepanjang 23 kilometer tersebut, pembangunan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah Malang-Bululawang sepanjang 11 kilometer yang diresmikan pada 14 November 1897 bersamaan dengan berdirinya Stasiun Bululawang. Kemudian dilanjutkan pembangunan tahap kedua, yaitu Bululawang-Gondanglegi sejauh 12 kilometer yang diresmikan pada 4 Februari 1898, dan juga bersamaan dengan dibukanya Stasiun Gondanglegi.
Pada saat peresmian Stasiun Bululawang, stasiun ini dikenal sebagai Stasiun Trem MSM Bululawang. Trem yang beroperasi di jalur ini umumnya menggunakan lokomotif dengan tenaga kayu bakar. Makanya dulu, di Stasiun Bululawang ini senantiasa terdapat tumpukan kayu bakar yang dijadikan sebagai bahan bakar lokomotif untuk menarik rangkaian kereta.


Semula bangunan stasiun ini berukuran sekitar 20 m², akan tetapi sekarang bangunan tersebut tinggal tersisa sekitar 6 m². Stasiun ini ditutup (dienst gestaakt) secara resmi pada 1 Juli 1979. Alasan dihentikan layanannya karena semakin sepinya pengguna trem tersebut lantaran kalah bersaing dengan moda transportasi darat lainnya, seperti kendaraan umum maupun kendaraan pribadi pada waktu itu.
Jaringan rel trem yang pertama kali dibangun oleh MSM ini, semula ditujukan untuk mengangkut tebu dari perkebunan tebu yang banyak di temui di daerah Bululawang dan sekitarnya menuju ke pabrik gula (baca: PG Krebet) dan kemudian gulanya juga diangkut dengan trem untuk dikirim ke berbagai pelabuhan melalui stasiun yang lebih besar. Selain mengurusi pengiriman barang-barang hasil perkebunan yang ada di Malang, MSM juga melayani jasa pengngkutan penumpang.
Dilihat dari artefak yang masih ada di stasiun, terlihat bahwa Stasiun Bululawang memiliki 2 jalur rel. Jalur 1 digunakan sebagai sepur lurus, dan jalur 2 digunakan untuk persusulan atau persilangan trem. Jalur yang mengarah ke arah selatan menuju ke Stasiun Gondanglegi, sedangkan jalur yang ke utara menuju ke Stasiun Malang Kotalama atau Stasiun Pusat Trem Djagalan.
Kini, Stasiun Bululawang tinggal menyisakan bangunan kecil saja yang sekarang difungsikan sebagai toko sembako yang bernama Toko Alilah.. Bangunan stasiun yang awalnya berukuran 20 m² ini sudah terkapling menjadi deretan tempat tempat usaha. Hal ini mengingat lokasinya yang berada tepat di belakang Pasar Bululawang. Padahal aset milik PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sudah tercatat dengan nomor register 066/08.65171/DLW/ML. *** [160418]

Jumat, 13 April 2018

GKI Bromo Malang

Jalan Bromo merupakan bagian dari kawasan Ijen dengan lingkungan kolonialnya. Jalan yang menghubungkan Jalan Kawi (Kawistraat) dengan Jalan Semeru (Smeroestraat) ini masih menyimpan sejumlah bangunan peninggalan kolonial Belanda. Bangunan-bangunan tersebut pada umumnya berfungsi sebagai permukiman orang-orang Eropa di Malang. Salah satu bangunan lawas yang sampai saat ini masih terlihat megah adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bromo.
Gereja ini terletak di Jalan Bromo No. 2 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Gereja ini berada  di sebelah timur Apotek Kimia Farma, atau sebelah barat BRI Kantor Cabang Malang Kawi. Tepatnya berada di pojok pertemuan antara Jalan Kawi dengan Jalan Bromo.


Awalnya bangunan yang digunakan GKI Bromo ini merupakan rumah milik orang Eropa. Rumah tersebut dibangun pada saat ada rencana perluasan pembangunan (bouwplan) V yang dimulai pada tahun 1924/1925. Bouwplan V ini memang diperuntukkan bagi perumahan golongan orang-orang Eropa dengan tipe rumah vila.
Kemudian rumah tersebut dibeli oleh Han Tiauw An. Han Tiauw An adalah seorang pengusaha keturunan Tionghoa kelahiran Pasuruan. Salah satu usahanya yang dikenal oleh masyarakat setempat adalah perusahaan otobus Adam. Bus Adam kala itu sempat mewarnai dunia transportasi di Malang.
Perusahaan yang pada masa Hindia Belanda merupakan perusahaan swasta mulai tanggal 1 Oktober 1942 dijadikan milik Negara dan masuk dalam Tobu Rikoejoe Kjoekoe. Pegawai perusahaan warga Indonesia dan Tionghoa yang berjumlah kurang lebih 40 orang tetap bekerja pada perusahaan itu (Soeara Asia, 1 Oktober 1942).


Han Tiauw An adalah anak laki-laki dari pasangan Han Hoo Tjoan dan Kwee Tjiam Nio. Han Hoo Tjoan adalah seorang pengusaha sukses dari Pasuruan yang kemudian diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda menjadi Kapitein der Chinezen di Pasuruan (1881-1886). Kapitein der Chinezen atau Kapitan China adalah gelar yang diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk pemimpin komunitas Tionghoa agar Belanda lebih mudah mengatur keberadaan mereka. Jadi, Kapitein der Chinezen bukanlah gelar kepangkatan seperti dalam dunia militer. Institusi Kapitan China di Hindia Belanda memiliki tiga pangkat, yaitu Majoor, Kapitein dan Luitenant der Chinezen, yang secara keseluruhan dipanggil Chinese Officieren atau Opsir Tionghoa.
Pada pendudukan Jepang, perkabaran Injil kepada orang-orang Tionghoa di Malang mengalami perkembangan. Terbentuk Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) di Malang.  Pada 1953 bangunan rumah milik Han Tiauw An digunakan sebagai Badan Pendidikan THKTKH. Sekolah itu bukan seperti badan pendidikan pada umumnya tapi merupakan sekolah yang berkutat kepada ajaran Kristen. Karena Kie Tok Kauw Hwee itu berarti Gereja Kristen, sedangkan Tiong Hoa menunjuk kepada masyarakat China.
Pada 1958 rumah tersebut mulai dipakai untuk kegiatan pelayanan berupa katekisasi. Dalam perkembangannya ada 2 perangkat gereja yaitu yang berbahasa Tionghoa dan yang berbahasa Indonesia, yang kemudian saling memisahkan diri. THKTKH yang berbahasa Indonesia mengganti namanya menjadi Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa Timur. Pada 5 Januari 1961 rumah yang dulu dikenal sebagai Badan Pendidikan THKTKH kemudian diganti menjadi GKI Jatim Malang, dan dengan demikian sekaligus rumah tersebut akan menjadi tempat perkabaran Injil yang diadakan setiap hari Minggu pukul 17.00 dan 18.00 WIB. Pada 19 Februari 1961 kebaktian untuk pertama kalinya diselenggarakan, dengan dipimpin oleh DS Hwan Ting Kiong (Pendeta MI Gamaliel).
Jika dilihat dari sejarah dan konteksnya, GKI adalah sebuah gereja yang lahir dari kelompok etnis Tionghoa. Namun sekarang, GKI telah berkembang menjadi sebuah gereja yang lebih kompleks dengan ciri khas keindonesiannya. GKI telah memutuskan dirinya sebagai gereja yang ekunemis dan multicultural, sebagai salah satu gereja yang menerima berbagai macam kebudayaan antropologis dalam arti budaya yang terkait dengan latar belakang suku atau etnisitas. Dalam perkembangan itu kemudian GKI Jatim Malang pun berubah menjadi GKI Bromo. Nama yang disesuaikan dengan lokasi keberadaan bangunan gereja itu berada di Jalan Bromo.  *** [060717]

Kepustakaan:
Hudiyanto, Reza. (2014). “Menimbun Barang Menuai Prasangka”: Ekonomi Kota Malang Pada Era Pemerintahan Jepang (1942-1945). Sejarah dan Budaya, Tahun Kedelapan, Nomor 1, 72-82. http://journal.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya/article/view/4756
Purwanto, Widi. (2006). Model Bergereja GKI Dalam Konteks Masyarakat Indonesia (Undergaduate thesis, Duta Wacana Christian University, 2006). Retrieved from http://sinta.ukdw.ac.id/sinta/resources/sintasrv/nim/01991638
http://gkiswjatim.org/
http://permalink.gmane.org/gmane.culture.region.china.budaya-tionghua/
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:Yx9KEYf5H-AJ:sinta.ukdw.ac.id/sinta/resources/sintasrv/
https://www.geni.com/

Kamis, 12 April 2018

Rumah Dinas Administrator PG Kebon Agung Malang

Setiap melintas jalan utama yang menghubungkan Kota Malang dengan Kepanjen, Anda akan menemukan bangunan rumah yang memiliki bentuk dan gaya aristektur kolonial yang khas. Bangunan tersebut persis berada di depan Pabrik Gula (PG) Kebon Agung, dan dikenal dengan Rumah Dinas Administrator PG Kebon Agung.
Rumah Dinas Administrator ini terletak di Jalan Raya Kebonagung, Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi Rumah Dinas ini tepat berada di depan PG Kebon Agung.


Rumah Dinas Administrator PG Kebon Agung (Suikerfabriek Kebon Agung Administrateurswoning) merupakan tempat tinggal yang diberikan kepada administrator selama ia masih bekerja di pabrik gula tersebut. Yang dimaksud dengan administrator adalah pimpinan tertinggi dalam struktur organisasi pabrik gula yang bertanggung jawab memimpin dan mengolah semua kegiatan usaha yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan seluruh operasional produksi, finansial, dan administrasi dengan efektif dan efisien. Jadi, Rumah Dinas Administrator itu adalah tempat tinggal pimpinan pabrik gula (direktur atau manajer).


Pembangunan rumah dinas ini dilakukan setelah PG Kebon Agung berdiri (1905) terlebih dahulu. Halamannya cukup luas. Kesan kolonial tampak terlihat dari fasadnya yang terpengaruh bentuk arsitektur vernacular Belanda. Masyarakat setempat dulu menyebut dengan istilah Rumah Besaran, yakni rumah yang besar dan sekaligus untuk pembesar pabrik gula tersebut.
Usia bangunan rumah yang sudah tua menyebabkan Rumah Dinas Administrator tersebut menjadi sebuah bangunan kuno yang memiliki nilai arsitektur atau gaya bangunan pada masanya, yakni bangunan kolonial berasal dari abad ke-19 dan awal abad ke-20. Oleh sebab itu nilai penting dari Rumah Dinas Administrator itu adalah terletak pada nilai arsitektural dan historisnya. *** [110418]

Minggu, 08 April 2018

Gunung Nyonya Majangtengah

Jumat pagi yang cerah, membawa diriku untuk turun lapang ke Desa Majangtengah. Majangtengah adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Desa ini menjadi salah satu enumeration area atau wilayah pencacahan (wilcah) dari Program SMARThealth.
Jumat yang menjadi hari deadline untuk pengumpulan data pada Program SMARThealth tersebut memberikan kesan tersendiri. Pasalnya, saat mendampingi Tim Majangtengah yang dibantu oleh Tim Sidorahayu, Tim Kepanjen, dan Tim Karangduren ini, saya berkesempatan berkeliling di daerah RW 07 yang masuk Dusun Lambang Kuning.
Dusun Lambang Kuning kala itu sedang menghijau. Letaknya berada di ledokan atau basin. Basin (cekungan) adalah bentuk muka bumi yang mencekung seperti mangkok, umumnya dikelilingi oleh gunung atau pegunungan. Ledokan Lambang Kuning berada di antara Gunung Prangas yang berada di selatan, dan Gunung Nyonya yang berada di sebelah utara.



Gunung yang disebutkan terakhir ini mengundang keingintahuan saya ketika bertandang di basecamp Tim Karangduren berada di rumah Ketua RT. 51 RW. 07. Gunung Nyonya sebenarnya merupakan sebuah bukit yang puncaknya memiliki ketinggian 480 meter di atas permukaan laut, atau 67 meter di atas medan tanah di sekitarnya. Lebar di pangkalan bukit atau gunung adalah 1,1 kilometer.
Medan tanah di bagian selatan gunung adalah berbukit-bukit, sedangkan di bagian utaranya berbentuk datar. Di sekitar lereng gunung tersebut saat ini didominasi oleh hamparan kebun tebu yang menjadi bahan dasar bagi pabrik tebu yang berada di Kabupaten Malang, yaitu PG Kebonagung dan PG Krebet.



Gunung Nyonya tidak hanya hasil fenomena alam yang unik, akan tetapi gunung tersebut juga memiliki kisah yang menarik sampai dinamakan dengan Gunung Nyonya.
Menurut Bapak Soleh, Ketua RT. 51 RW. 07, dulu di daerah Majangngtengah ini merupakan daerah perkebunan karet yang dikuasai oleh orang-orang Belanda. Pada abad ke-19 merupakan masa kemunculan dan berkembangnya perkebunan swasta Eropa di Hindia Belanda, tak terkecuali di daerah Kabupaten Malang.
Perkebunan dalam hal ini merupakan sistem perekonomian baru yakni sistem pertanian komersial (commercial agriculture) yang semula belum dikenal. Perkebunan merupakan sebuah bentuk usaha yang sangat penting bagi perekonomian pemerintah Hindia Belanda. Berbagai jenis tanaman dibudidayakan menjadi komoditi perdagangan untuk ekspor, misalnya tebu, teh, dan karet.



Sebagai lahan perkebunan karet, Majangtengah kerap dikunjungi oleh pemiliknya yang berkebangsaan Belanda. Terkadang si pemiliknya tak segan-segan mengajak istrinya untuk menjenguk perkebunan karetnya sambil menghirup udara yang segar. Suatu ketika, si pemiliknya yang seorang meneer mengajak istrinya, seorang mevrouw, mengunjungi perkebunannya yang berada di sekitar Dusun Lambang Kuning, Desa Majangtengah.
Meneer dan mevrouw adalah panggilan kehormatan orang Belanda, yang artinya tuan dan nyonya. Tatkala seorang mevrouw tadi mendampingi suaminya, sempat menghampiri sebuah sumber mata air yang berada di sebelah barat gunung tersebut. Sumber mata air tersebut oleh masyarakat sekitar dikenal dengan Sumber Jeding. Dinamakan Sumber Jeding, karena konon mata airnya tersebut seolah-olah membentuk jeding atau kakus/kamar kecil.
Usai dari Sumber Jeding, si mevrouw yang tidak diketahui namanya oleh masyarakat setempat itu, bergegas hendak kembali ke rumahnya. Di tengah perjalanan dari lahan perkebunan karet tersebut, si mevrouw tadi melewati atas bukit atau gunung yang berada di situ. Namun naas, si mevrouw tersebut akhirnya hilang di atas bukit atau gunung itu. Dari peristiwa hilangnya si mevrouw atau nyonya Belanda tersebut, kemudian bukit itu dikenal dengan Gunung Nyonya sampai sekarang ini. *** [060418]

Sabtu, 07 April 2018

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan

Kawasan Alun-alun Kota Malang - yang dikenal dengan Alun-alun Merdeka – merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Malang pada zaman dulu, dan sekaligus merupakan awal pertumbuhan wilayah Malang. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya bila di kawasan tersebut banyak meninggalkan sejumlah bangunan lawas yang sampai sekarang masih bisa disaksikan. Salah satunya adalah Gedung Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Malang Selatan.
Kantor Pelayanan Pajak ini terletak di Jalan Merdeka Utara No. 3 Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Provinsi Jawa Timur. Lokasi kantor ini berada di sebelah barat gedung Bank Indonesia Malang, atau sebelah utara Alun-Alun Merdeka Malang.
Gedung KPP Pratama Malang Selatan ini awalnya merupakan gedung perbankan milik orang Belanda yang bernama Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij. Hal ini selaras dengan Freek Colombijn dan Joost Coté dalam bukunya, Cars, Conduits, and Kampongs: The Modernization of the Indonesia city, 1920-1960 (2015: 281) yang menyebutkan bahwa “In 1929, the Escompto Bank was established to the west of the Javasche Bank” (Pada 1929, Bank Escompto dibangun di sebelah barat Bank Javasche (sekarang Bank Indonesia Malang).


Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij didirikan di Batavia pada 1857 oleh Paulus Tiedeman Jr. dan Carl Frederik Wilhelm Wiggers van Kerchem dengan Akta Notaris J.J. Mijnssen Nomor 132 tanggal 22 Agustus 1857 dan disahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Surat Keputusan Nomor 22 tanggal 5 November 1857. Kemudian guna mengikuti perkembangan dunia usaha pada masa itu, pada 1949 namanya diubah menjadi Escomptobank NV dan ketika terjadi perubahan status menjadi Perseroan Terbatas (PT) pada 1958 maka namanya menjadi PT Escomptobank.
Bank Escompto bergerak di bidang pembiayaan perkebunan dengan tujuan untuk membiayai usaha perkebunan di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Tetapi pada perkembangannya Bank Escompto juga bergerak dalam bidang perdagangan.
Sekarang ini gedung bank tersebut digunakan sebagai KPP Pratama Malang Selatan. KPP Pratama Malang Selatan merupakan satu dari 15 kantor pelayanan pajak yang berada di bawah koordinasi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Timur III. Pada awalnya kantor ini dikenal dengan Kantor Pelayanan Pajak Malang yang memiliki struktur organisasi beradasarkan jenis pajak (PPh orang pribadi, PPh Badan, Pot/Put dan PPN). Guna mewujudkan visi dan misi Direktorat Jenderal Pajak secara berkesinambungan diupayakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada wajib pajak. Sebagian dari upaya tersebut adalah dideklarasikannya pembentukan KPP Pratama di seluruh wilayah Kanwil Jatim III pada 4 Desember 2007.
KPP Pratama Malang Selatan secara resmi dideklarasikan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 55/PMK.01/2007 tanggal 31 Mei 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 132/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak.
Dilihat dari fasadnya, bangunan yang telah berumur 89 tahun ini mempunyai citra kolonial yang begitu kuat. Bahkan, bangunan bank Belanda kedua yang didirikan di Malang setelah Bank Javasche ini juga dikenal memiliki keunggulan sebagai institusi ekonomi ala barat pada masanya.
Sebagai bangunan lawas, gedung bekas Bank Escompto ini sekarang menjadi bagian dari massa bangunan yang terdapat pada Kawasan Alun-alun Merdeka Kota Malang yang sarat akan nilai historis, sosial dan budaya. *** [210817]

Minggu, 01 April 2018

GKJW Peniwen Malang

Desa Peniwen merupakan sebuah desa yang berada di lereng selatan Gunung Kawi dan jauh dari perkotaan. Desa tersebut memiliki kekhasan sebagai sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Hampir 99% penduduknya menganut agama Kristen.
Sebagai desa Kristen, Desa Peniwen masih menyimpan sejumlah bangunan lawas yang menjadi saksi perjalanannya dalam menganut kekristenannya. Bangunan lawas tersebut merupakan sebuah bangunan ibadah yang bernama Gereja Kristen Jawa Wetan (GKJW) Peniwen. Gereja ini terletak di Jalan Raya Peniwen No. 15 Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di sebelah timur Kantor Desa Peniwen ± 130 meter.
Gereja ini merupakan hasil kegiatan pekabaran Injil kaum awam dan Perhimpunan Pekabar Injil Belanda (Nederlandsch Zendelingsgenootschap – NZG). Menurut F.D. Wellem dalam Kamus Sejarah Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 2006: 126-128), terdapat dua perhimpunan pekabaran Injil yang berjasa bagi munculnya GKJW, yaitu NZG dan Komite Jawa. Komite Jawa memberitakan Injil di kalangan orang Madura di pesisir Jawa Timur (1876). Hasil pekerjaannya diserahkan kepada NZG.



Pada tahun 1851, NZG mulai memberitakan Injil kepada orang Jawa dengan mengutus misionarisnya yang pertama, yaitu Pendeta J.E. Jellesma. Ia berkedudukan di Mojowarno. Di sana sudah terdapat jemaat yang terdiri dari orang Kristen Jawa yang diusir dari Ngoro karena menerima corak kekristenan Johannes Emde (Barat). Setelah Coenrad Laurens Coolen meninggal (1873), pengikut Coolen diasuh oleh NZG. Dengan demikian NZG membangun di atas pekerjaan Emde dan Coolen.
Johannes Emde adalah seorang Jerman yang menikah dengan seorang wanita Jawa dan giat memberitakan Injil kepada orang Jawa pada tahu 1814. Ia adalah anggota jemaat GPI Surabaya. Corak kekristenan yang dibentuk oleh Emde adalah kekristenan Eropa (Barat). Sedangkan Coenrad Laurens Coolen adalah seorang Indo-Belanda. Ayahnya adalah seorang Belanda tetapi ibunya seorang Jawa. Pada tahun 1827, ia membuka hutan di Ngoro dan memberitakan Injil kepada orang Jawa yang berdiam di atas tanahnya sehingga terbentuk jemaat Kristen di Ngoro. Di Ngoro, Coolen membentuk kekristenan yang bercorak Jawa, yaitu campuran antara kekristenan dan kejawen. Dua corak ini hidup sebelum NZG bekerja di jawa Timur.



NZG membuka sekolah, rumah sakit, dan desa-desa Kristen. Desa-desa itu, antara lain adalah Swaru, Peniwen, Sitiarjo, Tulungagung, Sumberagung, Dupak dan Tanjungrejo. Dengan usaha-usaha itu banyak orang Jawa yang menjadi Kristen. Perkembangan GKJW dimulai dari desa.
Setelah Desa Swaru terbentuk pada tahun 1857, beberapa keluarga Kristen dari desa tersebut mencoba babat alas (membuka hutan) di lereng selatan Gunung Kawi pada 17 Agustus 1880, yang kelak menjadi Desa Peniwen. Ada sekitar 20 orang yang membuka hutan di sana yang dipimpin oleh Kiai Zakheus Laksanawi. Pembukaan hutan tersebut selain untuk mencari lahan baru bagi usaha pertanian masyarakat, juga untuk membentuk desa Kristen baru setelah Desa Swaru.
Pada saat babat alas itulah, mereka juga mendirikan sebuah gereja untuk digunakan sebagai tempat peribadatannya. Awalnya bangunannya masihlah cukup sederhana, dan lokasinya pun belum berada di tempat sekarang melainkan berada di dekat Monumen Peniwen Affair. Setelah itu, terbentuklah sebuah perkampungan yang dinamakan Kampung Krajan. Perkampungan tersebut menjadi bagian dari pedukuhan yang ada di Desa Kromengan.



Pada tahun 1883, Pendeta Johannes Kreemer dari Persekutuan Kristen Jawa di Kendalpayak, A.V. Leven, dan A. Setirum mengunjungi kampung ini guna memberkati kampung Kristen yang baru berdiri tersebut. Kemudian pada tahun 1895, kampung tersebut berubah menjadi sebuah desa dan secara administratif disahkan menjadi Desa Peniwen.
Dalam perjalanannya, desa tersebut menjadi berkembang baik dari jumlah penduduknya maupun hasil pertaniannya. Lalu, muncullah ide untuk membangun sebuah gereja yang lebih representatif bagi jemaatnya. Akhirnya pada tahun 1931 dibangunlah gereja yang baru yang lokasinya berada di sebelah timur dari bangunan gereja yang lama ± 400 meter. Bangunan gereja tersebut masih bisa disaksikan sampai sekarang dengan sebutan GKJW Peniwen.
Dilihat dari fasadnya, bangunan gereja ini memiliki langgam Neo-Gothic. Dengan konstuksi pintu dan jendela yang tinggi nampak sebagai ciri arsitektur kolonial Belanda yang telah disesuaikan dengan iklim tropis lembab di daerah Malang. Atapnya berbentuk limasan dengan kemiringan. Pintu utamanya terletak di bagian depan dan berada di tengah, yang diapit oleh dua jendela besar. Pintu utama gereja ini juga dilengkapi dengan porch.
Sedangkan, di bagian dalam gereja berbentuk gaya Joglo Jawa dengan ornamen-ornamen yang terbuat dari kayu. Arsitektur dari gereja ini memang mewujudkan perpaduan antara arsitektur kolonial  dan Jawa.
Kini, GKJW Peniwen merupakan sebuah gereja yang memiliki cakupan wilayah pelayanan yang sangat luas. Berada di antara tiga kecamatan yang berada pada dua kabupaten yang berbeda, yaitu Kecamatan Selorejo dan Kecamatan Doko di Kabupaten Blitar, dan Kecamatan Kromengan di Kabupaten Malang. Untuk wilayah Kecamatan Selorejo, merupakan daerah pelayanan yang biasa disebut Pepanthan Wilayah Barat. Pepanthan Wilayah Barat ini mempunyai 6 pepanthan, salah satunya adalah Pepanthan Boro. Pepanthan Boro merupakan gereja yang menjadi pusat bagi Pepanthan Wilayah Barat. Hal ini terjadi karena akses jalan yang mudah ditempuh dari Induk/Peniwen ke pepanthan dan bagi semua pepanthan yang ada di wilayah barat. *** [100817]

Kepustakaan:
Wellem, F.D., (2006). Kamus Sejarah Gereja. Jakarta: Gunung Mulia
https://revivalentine.blogspot.co.id/p/sejarah-desaku-peniwen.html?view=classic
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:qmiEEyn8e_4J:sinta.ukdw.ac.id/sinta/resources/sintasrv/getintro/01120016/d8d7b63a7913f5157fa4afce518d7d80/intro.pdf+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id

Jumat, 30 Maret 2018

Gedung PT Pindad Turen

Pulang dari monitoring aktivitas SMARThealth di Dusun Sonokembang, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, saya menyempatkan berkeliling Turen. Sambil berkeliling tersebut, saya mencoba menyaksikan sebuah kompleks bangunan yang begitu luas. Bangunan tersebut dikenal dengan Gedung PT Pindad (Persero) Turen.
Persero ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 1 Kelurahan Turen, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi persero ini berada di pojok pertigaan Sedayu, atau sebelah selatan Kantor Kecamatan Turen.
PT Pindad, atau yang lengkapnya bernama Perseroan Terbatas Perindustrian TNI Angkatan Darat, merupakan perusahaan industri manufaktur Indonesia di bawah Kementerian BUMN yang bergerak dalam bidang produk militer dan produk komersial. Kegiatan PT Pindad (Persero) Turen mencakup desain dan pengembangan, rekayasa, assembling, dan fabrikasi serta perawatan.
Dari informasi sejumlah warga yang berada di sekitar PT Pindad tersebut, sebelumnya daerah Turen ini keadaannya sepi sekali. Namun seiring kehadiran PT Pindad yang berada di Turen pada tahun 1968, daerah Turen kemudian menjadi ramai.


Menurut sejarahnya, Gedung PT Pindad Turen ini semula adalah gedung dari pabrik tapioka Turen yang dimiliki oleh perusahaan Belanda bernama Handelsvereeniging Amsterdam (de tapiocafabriek ‘Toeren’ van de Handelsvereeniging Amsterdam). Handelsvereeniging Amsterdam (HVA) merupakan salah satu perusahaan dagang dan perkebunan yang ada di Hindia Belanda. Perusahaan ini didirikan di Belanda oleh asosiasi atau perkumpulan para pedagang di Amsterdam pada tahun 1879, dengan tujuan untuk mengatasi krisis ekonomi yang dihadapi Belanda paska Perang Jawa (1825-1830).
Pabrik tapioka di Turen ini didirikan pada tahun 1916 dengan maksud untuk memperluas usaha dagang HVA selain tebu. Bangunan pabrik tapioka ini dulu dikelilingi oleh tanaman singkong yang menjadi bahan bakunya. Tapioka adalah pati dari singkong yang dikeringkan dan dihaluskan. Selain digunakan sebagai bahan memasak, tapioka sering diolah menjadi bahan baku untuk industri, seperti industri peragian, industri pangan, industri tekstil, dan lain sebagainya.
Di Turen, HVA memiliki izin perkebunan sebanyak 7.200 lahan per tahun. Dalam pembangunan pabrik tersebut, HVA sempat mengalami kesulitan dalam pengiriman instalasi untuk pabrik. Selain itu, pada awal produksinya, pabrik tapioka tergolong kurang menggembirakan. Hal ini lantaran munculnya sejumlah penyakit dan hama pada tanaman singkong yang diusahakan oleh HVA.
Pabrik tapioka di Turen yang berdiri di atas lahan seluas 160 hektar ini, masih mampu bertahan hingga menjelang kemerdekaan. Setelah kemerdekaan, pabrik ini termasuk sejumlah pabrik yang dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia, yang kemudian pada tahun 1968 dijadikan sebagai pabrik persenjataan PT Pindad.
Saat ini, PT Pindad memiliki dua lokasi pabrik, yaitu di Turen, Malang, dan Bandung. Yang berada di Turen berada di bawah Direktorat Produk Militer, dan yang berada di Bandung berada di bawah Direktorat Produk Komersial. Direktorat Produk Militer membawahi Divisi Amunisi, Divisi Senjat dan Unit Bisnis Workshop dan Prototipe, sedangkan Direktorat Produk Komersial membawahi Divisi Mekanik, Listrik, Forging dan Pengecoran, Unit Bisnis Tool Shop, Stamping dan Laboratorium.
Divisi Amunisi yang berlokasi di Turen memiliki fasilitas untuk memenuhi kebutuhan permintaan pemerintah dan juga pengembangan produk. Fasilitas produk dilengkapi dengan pendirian Filling Plat untuk mendukung produksi mortar shells, bom, TNT blocks, shaped charges. dan lain-lain. *** [220118]