Rumoh Aceh (1)

Jl. Sultan Alauddin Mahmudsyah No.12 Banda Aceh

Lonceng Cakra Donya (2)

Jl. Sultan Alauddin Mahmudsyah No.12 Banda Aceh

Pinto Khop (3)

Kel. Sukaramai, Kec. Baiturrahman, Banda Aceh

Taman Sari Gunongan (4)

Jl. Teuku Umar, Banda Aceh

Sentral Telepon Militer Belanda (5)

Jl. Teuku Umar No. 1 Banda Aceh

Monday, April 27, 2015

Bustanussalatin

Bustanussalatin merupakan salah satu kitab gubahan Syeikh Nuruddin Ar-Raniry. Nuruddin Ar-Raniry merupakan seorang muslim yang berasal dari Hadhrami, India, yang nama lengkapnya adalah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi Asy-Syafii. Naskah tersebut ditulis atas permintaan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M). Beliau datang dari Ranir (sekarang Rander) di Gujarat dan tiba di Aceh pada 6 Muharram 1047 H (31 Mei 1637). Penulisannya dimulai pada tanggal 4 Maret 1638 dengan nama lengkap Bustanussalatin fi zikril awwalin wal akhirin.
Rusell Jones dalam Nuruddin ar-Raniri Bustanu’s-Salatin Bab IV Fasal 1 (Hasanuddin Yusuf Adan, 2013:91) memperkirakan bahwa Nuruddin Ar-Raniry belajar bahasa Melayu di Mekkah dalam tahun 1621 ketika mengunjungi tanah suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Perkiraan lain menyatakan bahwa beliau pernah tinggal di sebuah negeri Melayu sebelum pergi ke Aceh atau dia telah belajar bahasa Melayu di Gujarat dan diperkirakan ibunya adalah seorang bangsa Melayu.
Bustanussalatin yang artinya taman raja-raja dibangun sebagai taman Kesultanan Aceh. Sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1514 M. Terletak di sepanjang Krueng Daroy yang melintasi Gunongan, Pinto Khop, Kandang, hingga ke Pulau Gajah dan Masjid Raya.
Di dalamnya banyak ditumbuhi pohon-pohon buah, bunga dan sayuran yang khasiatnya bermacam-macam. Dulu luasnya hampir sepertiga Kota Banda Aceh.
Beberapa bangunan yang terdapat dalam taman Bustanussalatin, dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda di antaranya, Gegunongan Menara Permata (Gunongan) yang dibangun untuk istri Sultan Iskandar Muda yang dari Pahang ataun yang lebih dikenal Putroe Phang. Taman Ghairah (Taman Sari) dibangun oleh Sultan Iskandar Muda dengan maksud menjadikan Bandar Aceh Darussalam sebagai Taman Firdaus.
Di dalam taman ini dahulu ditanam sekitar 50 jenis tanaman bunga dan 50 jenis tanaman buah-buahan khas Aceh. Di taman ini juga dibina beragam sarana hiburan para sultan yang hingga kini masih dapat dilihat di antaranya Krueng Daroll ski atau Krueng Daroy yang membelah taman, Gunongan, Kandang Sultan Alauddin Mughayatsyah Iskandar Tsani, Patarana Sangga dan Pinto Khop yang merupakan pintu masuk ke Taman Ghairah.
Naskah dalam kitab ini terdiri dari 7 (tujuh) bab dan 40 pasal, yaitu:
Bab pertama, terdiri dari 10 fasal yang menerangkan tujuh petala langit dan tujuh petala bumi beserta isi semuanya, mulai dari persoalan Nur Muhammad, Lauh al-Mahfudz, kalam pencatat amal manusia, ‘Arsy (singgasana di surga dengan semua bagiannya), kerusi (singgasana Tuhan), liwa ul-Hamd (bendera keselamatan di surga ke tujuh), para malaikat, sidratul-muntaha (pohon di surga ke tujuh yang setiap daunnya sama dengan kehidupan satu orang yang gugur apabila orang itu mati), dan tujuh lapis langit.
Bab kedua, terdiri dari 13 fasal yang menceriterakan tentang sejarah para nabi dan raja yang terdiri dari nabi-nabi mulai dari Nabi Adam a.s. sampai kepada Nabi Muhammad SAW; raja-raja Parsi sampai kepada zaman Umar, raja-raja Rum sampai kepada zaman Nabi Muhammad SAW, raja-raja Mesir sampai kepada zaman Iskandar Zulkarnain; raja-raja Arab sebelum Islam; raja-raja Najd sampai kepada zaman Nabi Muhammad SAW; sejarah Nabi Muhammad SAW, dan khalifah ar-Rasyidin; sejarah bangsa Arab di bawah kaum Umayyah; sejarah bangsa Arab di bawah kaum Abbasiyah; sejarah raja-raja Islam Delhi; sejarah raja-raja Melaka dan Pahang; dan sejarah raja-raja Aceh.
Bab ketiga, terdiri dari 10 fasal yang menceriterakan tentang raja-raja yang adil dan menteri-menteri serta pembesar-pembesar yang arif dan bijaksana.
Bab keempat yang terdiri dari 2 fasal menceriterakan tentang segala raja-raja yang bertapa (menyunyikan kediamannya atau ibadahnya), dan segala aulia yang salihin.
Bab kelima, terdiri dari 2 fasal yang menyatakan tentang perkara-perkara para raja dan menteri yang dzalim, yang menganiaya rakyat mereka.
Bab keenam, terdiri dari 2 fasal yang menyatakan segala orang yang murah lagi mulia dan segala orang berani yang besar.
Bab ketujuh, sebagai bab terakhir yang menceriterakan tentang akal, ilmu, firasat, qiafat, ilmu ketabiban, sifat-sifat perempuan serta hikayat-hikayat yang ajaib dan jarang terjadi. Bab yang terdiri dari 5 fasal ini kadang-kadang nampak menjadi sebuah bab tersendiri dengan nama Bustanul Arifin (taman orang-orang yang arif).
Naskah Bustanussalatin mempunyai pengaruh besar dalam sejarah dan kesusasteraan Melayu dan Aceh. Salah satu bab dari Bustanussalatin mengisahkan sejarah Aceh secara detail, termasuk silsilah para raja dan penegakan hukum pada masa kesultanan Aceh. Nuruddin Ar-Raniry juga menggambarkan kemegahan dan keindahan Dar Al-Dunya dan taman Bustanussalatin. Dari naskah ini pula diketahui segala gambaran tentang keindahan bangunan, tanaman, dan Darul Isyki (Krueng Daroy) yang terdapat dalam Bustanussalatin. Dan segala peristiwa dan perayaan yang diadakan di dalam maupun di luar taman kerajaan. Seperti perayaan Idhul Adha pada masa Sultan Iskandar Tsani yang gambarannya ada dalam lukisan AD Firous. *** [020415]

Kepustakaan:
Hasanuddin Yusuf Adan, 2014. Islam dan Sistem Pemerintahan di Aceh Masa Kerajaan Aceh Darussalam, Banda Aceh: Yayasan PeNA

Museum Negeri Aceh

Jika Anda termasuk peminat masalah sejarah anak negeri ini, Museum Negeri Aceh adalah tempat yang tidak boleh dilewatkan saat singgah di Banda Aceh.
Museum ini terletak di Jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah No. 12 Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi museum ini berada di samping Gedung Juang maupun Pendopo Gubernuran (Meuligo), dan tidak begitu jauh dengan Situs Cagar Budaya: Pinto Khop, Taman Sari Gunongan, dan Sentral Telepon Belanda.
Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Letnan Jenderal Henri Nicolas Alfred Swart (lahir di Cibitung, 12 Oktober 1863) pada tanggal 31 Juli 1915. Bangunannya merupakan sebuah rumah Aceh (Rumoh Aceh) yang berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoosteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus – 15 Novmber 1914.
Pada waktu penyelenggaraan pameran di Semarang tersebut, Paviliun Aceh memamerkan koleksi-koleksi yang sebagian besar adalah milik pribadi Friedrich Wilhelm Stammeshaus (lahir di Sigli, 3 Juni 1881), yang pada tahun 1915 menjadi Kurator Museum Aceh yang pertama. Selain koleksi milik Stammeshaus, juga dipamerkan koleksi-koleksi berupa benda-benda pusaka para pembesar Aceh, sehingga dengan demikian Paviliun Aceh merupakan paviliun yang paling lengkap koleksinya.


Sistematika penataan pameraan di Paviliun Aceh pada Pameran Kolonial tersebut memperlihatkan gambaran mengenai etnografika dan hasil-hasil kesenian, alat-alat pertenunan Aceh dan hasil-hasilnya yang telah terkenal pada masa itu, senjata-senjata tajam diperlengkapi dengan foto-foto cara menggunakannya. Penanggung jawab koleksi dan penataannya ditangani oleh Friedrich Wilhelm Stammeshaus dan Overste Th. J. Veltiman yang dikirim khusus oleh Gubernur Aceh Letnan Jenderal Henri Nicolas Alfred Swart. Di samping pameran tersebut, di muka paviliun setiap saat dipertunjukkan tari-tarian Aceh.
Sebagai tanda keberhasilan dalam pameran itu, Paviliun Aceh memperoleh 4 medali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai paviliun terbaik. Keempat medali emas tersebut diberikan untuk pertunjukan, boneka-boneka Aceh, etnografika, dan mata uang. Perak untuk pertunjukan, foto, dan peralatan rumah tangga.
Karena keberhasilan tersebut, Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Aceh agar paviliun tersebut dibawa kembali ke Aceh dan dijadikan sebuah museum. Ide ini diterima oleh Gubernur Swart. Atas prakarsa Stammeshaus, Paviliun Aceh itu dikembalikan ke Aceh, dan pada tanggal 31 Juli 1915 diresmikan sebagai Aceh Museum, yang berlokasi di sebelah timur Blang padang di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Museum ini berada di bawah tanggung jawab penguasa sipil dan militer Aceh dengan kuratornya yang pertama Friedrich Wilhelm Stammeshaus.
Setelah Indonesia merdeka, Museum Aceh menjadi milik Pemerintah Daerah Aceh yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah daerah Tingkat II Banda Aceh. Pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh dipindahkan dari tempatnya yang lama (Blang Padang) ke tempatnya yang sekarang ini. Setelah pemindahan ini, pengelolaannya diserahkan kepada Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat.


Sejalan dengan program pemerintah tentang pengembangan kebudayaan, khususnya pengembangan permuseuman, sejak tahun 1974 Museum Aceh telah mendapat biaya Pelita melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh. Melalui Proyek Pelita telah berhasil direhabilitasi bangunan lama dan sekaligus dengan pengadaan bangunan-bangunan baru. Bangunan baru yang telah didirikan itu, gedung pameran tetap, gedung pertemuan. Gedung pameran temporer dan perpustakaaan, laboratorium dan rumah dinas. Selain untuk pembangunan sarana/gedung museum, dengan biaya Pelita telah pula diusahakan pengadaan koleksi, untuk menambah koleksi yang ada. Koleksi yang telah dapat dikumpulkan, secara berangsur-angsur diadakan penelitian dan hasilnya diterbitkan guna dipublikasikan secara luas.
Sejalan dengan Program Pelita dimaksud, gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh dan BAPERIS Pusat telah mengeluarkan Surat Keputusan bersama pada tanggal 2 September 1975 Nomor 538/1976 dan SKEP/IX/1976 yang isinya tentang persetujuan penyerahan museum kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan sebagai Museum Negeri Provinsi, yang sekaligus berada di bawah tanggung jawab Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kehendak Pemerintah Daerah untuk menjadikan Museum Aceh sebagai Museum Negeri Provinsi baru dapat direalisir tiga tahun kemudian, yaitu dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tanggal 28 Mei 1979 Nomor 093/0/1979 terhitung mulai tanggal 28 mei 1979 statusnya telah menjadi Museum Negeri Aceh. Peresmiannya baru dapat dilaksanakan setahun kemudian atau tepatnya pada tanggal 1 September 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan DR. Daoed Yoesoef.
Selain Museum Aceh, di Aceh pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda terdapat pula sebuah Museum Militer yang diberi nama Atjehsch Leger Museum yang didirikan pada tanggal 7 Januari 1937. Museuum ini merupakan Museum Militer yang pertama di Hindia Belanda. Atjehsch Leger Museum tidak berusia lama, karena dengan masuknya tentara Jepang tahun 1942 museum ini tidak dapat diselamatkan lagi.
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa Museum Negeri Aceh, sesuai dengan perjalanan sejarahnya, pengelolaannya telah saling berganti. Kini, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom (pasal 3 ayat 5 butir 10f), operasionalisasi museum tersebut menjadi kewenangan Pemerintah Aceh. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 10 Tahun 2002 tanggal 2 Februari 2002, status Museum Negeri Aceh menjadi UPTD Museum Negeri Provinsi Aceh di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Museum yang memiliki luas gedung seluruhnya 2.134 m² yang dibangun di atas lahan milik negara seluas 9.400 m² ini, sampai tahun 2003 Museum Negeri Aceh mengelola 5.328 koleksi benda budaya dari berbagai jenis (arkeologika, biologika, etnografika, filologika, geologika, historika, keramanologika, numismatika, seni rupa, dan teknologika), dan 12.445 buku dari berbagai judul yang berisi aneka macam ilmu pengetahuan. *** [020415]

Kepustakaan:
Seri Penerbitan Museum Negeri Aceh: Petunjuk Singkat Museum Negeri Aceh, Proyek rehabilitasi dan Perluasan Museum daerah Istimewa Aceh, 1982

Friday, April 24, 2015

Sentral Telepon Militer Belanda

Bangunan bercat putih menjulang yang berada di daerah Blower menuju ke arah Seutui ini menarik perhatian bagi pengendara yang melintasnya. Bangunan dua lantai berbentuk menara yang dikelilingi rimbunan pohon trembesi (Samanea Saman) ini merupakan bangunan kuno peninggalan Belanda yang masih berdiri tegak di Kota Banda Aceh. Bangunan tersebut dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Gedung Menara Sentral Telepon Militer Belanda.
Gedung Menara ini terletak di Jalan Teuku Umar No. 1 Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi gedung ini berada di dekat Simpang Jam, yang tidak begitu jauh dengan Situs Cagar Budaya Pinto Khop, Kerkhof Peutjoet, dan Taman Sari Gunongan serta Museum Tsunami Aceh.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, Gedung Menara ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1903 atau pada era kepemimpinan Sultan Muhammad Daudsyah (1874 – 1903). Hal ini didasarkan pada angka 1903 yang tertera di bagian atas bangunan dekat ventilasi jendela.
Gedung berbentuk oktagonal ini sengaja dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk keperluan militernya. Semula menggunakan telegraf dalam komunikasi jarak jauh, kemudian pihak militer Belanda mengalihkankan ke telepon. Belanda pun menyebut gedung ini sebagai Kantor Telepon Koetaradja yang sesungguhnya berdiri di atas lahan milik Dalam (sebutan untuk Kraton atau Istana/ Kerajaan Aceh Darussalam).


Sebagai pusat telepon yang pertama kali dibangun oleh Pemerintah Kolonial di Hindia Belanda ini, jaringannya menembus berbagai kota yang terbentang dari Banda Aceh hingga Asahan (Sumatera Utara). Sentral telepon ini berguna sekali bagi Gubernur Militer Belanda dalam berkomunikasi dan menghadapi serangan pejuang Aceh.
Gedung dengan luas bangunan 18,7 m² yang berdiri di atas lahan seluas 932 m² ini, memiliki gaya arsitektur Kolonial akan tetapi sudah dipadukan dengan kondisi tropis di Hindia Belanda. Hal ini ditandai dengan pintu dan jendela yang lumayan besar dan berjalusi untuk pintunya. Lantai satu bangunan ini terbuat dari beton, sedangkan lantai duanya semi permanen yang sekaligus bisa berfungsi sebagai gardu pandang juga.
Pada waktu pendudukan Jepang (1942 – 1945), gedung ini tetap digunakan oleh Jepang untuk hal yang sama. Begitu pula, ketika Indonesia merdeka, bangunan ini sempat dijadikan Kantor Telepon Militer Kodam I Iskandar Muda yang disebut Wiserbot (WB) Taruna sampai menjelang tahun 1960. Kemudian berturut-turut digunakan sebagai Kantor KONI, Kantor Surat Kabar Atjeh Post, dan terakhir sebagai Kantor PSSI hingga tahun 2000.
Kini, Gedung Menara ini dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata sejarah yang terdapat di Kota Banda Aceh karena sejak tahun 1991 sentral telepon ini telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya nasional mengingat bangunan tersebut sudah memenuhi kriteria, yaitu berumur lebih dari 50 tahun, dan mempunyai arsitektur yang khas yang ditunjang oleh data arkeologis. *** [300315]

Thursday, April 23, 2015

Taman Sari Gunongan

Melintas Jalan Teuku Umar dari Pusat Kota Banda Aceh menuju Setui, Anda akan bisa menyaksikan bangunan dengan warna putih nan megah di sebelah kiri jalan. Bangunan putih tersebut, sesuai papan yang dipasang di halaman bangunan, tertulis Taman Sari Gunongan.
Taman Sari Gunongan terletak di Jalan Teuku Umar, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi bangunan ini berada sekitar 100 meter bersebarangan dengan kompleks pemakaman prajurit Belanda, Kerkhof Peutjoet, dan Museum Tsunami Aceh. Untuk mencapai situs itu mudah karena hampir semua kendaraan umum melewatinya.
Menurut catatan yang ada di Taman Sari Gunongan, Gunongan didirikan oleh Sultan Iskandar Muda untuk menyenangkan permaisuri yang sering merindukan kampung halaman. Sultan Iskandar Muda menikahi Putri Pahang (Putroe Phang) setelah Kesultanan Aceh Darussalam menaklukkan Kerajaan  Pahang di Malaysia pada tahun 1615. Sultan Iskandar Muda menjadikan Putri Pahang sebagai istri kedua setelah Putri Tsani asal Reubee, Pidie. Alkisah, permaisuri Sultan Iskandar Muda yang bernama Putroe Phang, sering merasa kesepian di tengah kesibukan sang suami sebagai kepala pemerintahan. Ia selalu teringat dengan kampung halamannya di Pahang, Malaysia. Sultan Iskandar Muda memahami kegundahan permaisurinya. Untuk membahagiakan sang permaisuri, sultan membangun sebuah gunung kecil (Gunongan) sebagai miniatur perbukitan yang mengelilingi Istana Putroe Phang di Pahang.


Sultan Iskandar Muda memerintahkan sejumlah pekerja untuk membangun bangunan yang bisa mengobati perasaan gundah Putri Pahang ini. Bahkan, rakyat pun turut memberikan kontribusi lewat satu colek kapur per orang untuk mengecat putih bangunan yang tengah dibangun.
Lalu, jadilah Gunongan seperti yang ada sekarang. Bangunan itu dianggap sebagai gambaran kecil pemandangan alam dari daerah Pahang yang bergunung-gunung. Di sekitarnya pun dibangun taman yang ditanami sejumlah bunga dan pepohonan, yakni Taman Sari Gunongan atau Taman Ghairah.
Taman Ghairah cukup luas. Cakupannya termasuk kompleks pemandian Putroe Phang. Konon, setelah Gunongan dan Taman Ghairah selesai dibangun, betapa bahagianya sang permaisuri. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain bersama dayang-dayang di sekitar Gunongan, sambil memanjatinya sehingga Putri Pahang tersebut tak lagi sedih dan gundah merindukan kampung halamannya.
Menurut Kitab Bustanussalatin yang ditulis oleh Nuruddin Ar-Raniry, Gunongan dan kompleks Taman Ghairah dirancang oleh para ahli yang paham dengan seni bangunan. Ahli bangunan berasal dari dua negeri yang memiliki hubungan erat dengan Aceh kala itu, yakni Turki dan Tiongkok. Bahkan, ada kemungkinan pula Gunongan dan Taman Ghairah mendapatkan sentuhan ahli bangunan dari India.


Gunongan adalah monumen atau bangunan putih bersegi delapan (oktagonal) dengan tinggi sekitar 10 meter. Bangunan itu bertingkat tiga, berbukit-bukit seumpama jejeran gunung, sehingga disebut gunongan atau gunungan. Sekilas Gunongan pun terlihat seperti bunga bertingkat tiga yang sedang mekar. Di bagian puncak terdapat menara yang berbentuk seperti mahkota bunga.
Di Gunongan terdapat satu pintu masuk dengan tinggi hanya 1,5 meter. Pintu itu sengaja dibuat rendah agar pengunjung yang masuk dalam posisi membungkuk. Ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa hormat ketika bertamu atau memasuki suatu tempat.
Selangkah kaki di kiri Gunongan terdapat Peterana Batu. Batu itu memiliki diameter 1 meter dan tinggi 50 sentimeter. Batu itu berbentuk silindier berornamen kerawang motif jaring atau jala. Di pingiran batu terdapat terap, semacam tangga bertingkat dua, dan di tengah batu terdapat lubang. Konon, batu itu adalah takhta tempat penobatan sultan.
Persis di belakang Gunongan terdapat kandang atau makam menantu Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yakni Sultan Iskandar Thani (1636-1641). Sekitar 10 meter di samping kiri terdapat aliran sungai buatan bernama Krueng (sungai) Daroy. Sungai ini mengalirkan air ke kompleks pemandian Putri Pahang (Putroe Phang) yang berjarak sekitar 50 meter dari Gunongan.
Taman Sari Gunongan menjadi situs cagar budaya yang masih ada di Kota Banda Aceh. Berlatar motif cinta dari Sang Raja kepada permaisurinya, bangunan tersebut kini menjadi salah satu objek wisata yang layak dikunjungi ketika berada di Banda Aceh. *** [300315]

Kepustakaan:
Nyoman Surya, 2010. Wisata Murah Sumatera, Yogyakarta: Kata Buku
KOMPAS Edisi Jumat, 28 November 2014

Wednesday, April 22, 2015

Museum Giok Aceh Abu Usman Top Idocrase

Demam batu giok yang melanda Aceh ternyata tidak sia-sia. Bagi pecinta batu alam, bisa berkunjung ke Aceh karena Provinsi Aceh sekarang memiliki museum yang menyimpang dan mengumpulkan jenis batu alam mulia dari berbagai pelosok Aceh. Museum ini dikenal dengan nama Museum Giok Aceh Abu Usman Top Idocrase.
Museum ini terletak di Jalan Khairil Anwar No. 15-17 Kelurahan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi museum ini tepat berada di depan Hotel Aceh Barat Peunayong.


Sesuai namanya, Museum Giok Aceh dimiliki oleh Ir. Muhammad Usman alias Abu Usman. Abu Usman yang lahir pada 1964 adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafi Assunah di Lampeuneuruet, Aceh Besar dengan jumlah santri sekitar 100 orang. Ia merupakan alumnus Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, menggeluti dunia batu mulia di Aceh sejak 30 tahun silam. Batu giok miliknya berhasil memenangi kontes batu mulia dalam Indonesia Gemstone Competition pada Maret 2014 di Jakarta dengan merebut lima sertifikat sekaligus, yaitu dari juara satu, dua, tiga, harapan satu hingga juara harapan dua. Sejak kemenangan itu, batu giok dari Aceh merajai batu mulia Indonesia, dan hal ini memunculkan inisiatif Abu Usman untuk mendirikan museum giok ini.
Gagasan membuat museum ini muncul setelah proses riset panjang yang dilakukan oleh beberapa pengusaha batu yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Batu Aceh (APBA). Riset itu menunjukkan bahwa aset Aceh yang memliki nilai tinggi belum dikemas  dengan baik. Padahal memiliki nilai ekonomi utnuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sehingga museum ini dibangun, sesungguhnya untuk melestarikan batu giok Aceh berbagai macam jenis.


Museum yang diresmikan pada 3 Februaru 2015 oleh Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf ini terletak di gedung lima lantai dengan luas 10 x 15 meter dan bisa menampung 500 hingga 1.000 orang. Lantai satu terdapat gallery, dua hingga empat tersedia ruang pamer berbagai jenis batu. Sedang lantai atasnya aula serta kantor museum.
Namun pada saat penulis berkunjung ke museum ini, hanya dipandu untuk melihat koleksi batu alam yang berada di lantai saja. Terdapat beragam batu alam, mulai dari bongkahan batu cincin sampai ke asesorisnya. Hanya saja ini baru tahap penyusunan dan dekorasi ruang. Kendati guide menerangkan baru ada ragam koleksi batu alam dari dua kabupaten di Aceh, yaitu Kabupaten Aceh Jaya dan Nagan Raya, namun pesona macamnya telah mampu membuat decak kagum. Sedikitnya ada 20 jenis batu dipamerkan, salah satunya adalah jenis Idocrase Aceh yang memiliki kualitas dunia.
Museum Giok Aceh ini merupakan museum umum yang menyediakan informasi seputar batu alam yang ada di Aceh, dan sekaligus menyediakan informasi wisata Aceh. Museum ini diprioritaskan sebagai tempat pembelajaran mengenai batu-batu mulia yang berada di Bumi Aceh, dan ke depannya diharapkan menjadi pusat riset perbatuan di Aceh.
Pihak museum juga akan bekerjasama dengan travel seluruh Aceh untuk menjadikan museum ini sebagai destinasi wisata baru di Aceh. Terlebih Museum Giok Aceh ini merupakan Museum Giok Idocrase pertama di Indonesia. *** [300315]

Tuesday, April 21, 2015

Bank Indonesia Banda Aceh

Menyusuri tepian Krueng Aceh dari Jalan Supratman menuju Jalan Diponegoro, Anda menyaksikan sebuah bangunan kuno yang megah dengan warna dominan putih. Bangunan kuno tersebut tak lain adalah Gedung Bank Indonesia Banda Aceh. Gedung Bank Indonesia merupakan salah satu gedung peninggalan Belanda yang masih ada di Banda Aceh.
Gedung Bank Indonesia tersebut berada di Jalan Cut Meutia No. 15 Kelurahan Merduati, Kecamatan Kuta Raja, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi gedung Bank Indonesia ini berada di sebelah barat Hotel Lading Banda Aceh.
Menurut catatan sejarah yang ada, dulunya gedung BI ini merupakan gedung De Javasche Bank  yang dibangun pada 2 Desember 1918 oleh Pemerintah Hindia Belanda atas hasil rancangan biro arsitek terkemuka di Hindia Belanda, N.V. Architecten-Ingenieurs Bureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam yang didirikan pada tahun 1910 oleh Eduard Cuypers (1859-1927) dan Marius J. Hulswit bersama A.A. Fermont.


De Javasche Bank sendiri, awalnya didirikan di Amsterdam, Belanda, pada 29 Desember 1826 atas prakarsa Raja Belanda kala itu, yaitu Raja Willem I. Namun, baru beroperasi sebagai bank dalam pengertian sesungguhnya pada 24 Januari 1828 melalui Surat Keputusan Komisaris Jenderal Hindia Belanda No. 25. Kemudian, kantor pertama De Javasche Bank di Hindia Belanda didirikan di Semarang pada 1 Maret 1829. Baru disusul daerah lainnya, seperti: Batavia, Surabaya, Bandung,  Cirebon, Yogyakarta, Solo, Kediri, Malang, Surabaya, Manado, Padang, dan Banda Aceh.
Bangunan De Javasche Bank pada umumnya memiliki kemiripan dari desain gedungnya. Hal ini bisa dimaklumi karena hasil rancangan yang digunakan, hampir semuanya ditangani oleh biro arsitek yang sama. Ciri khas gedung De Javasche Bank yang dirancang oleh biro arsitek ini dapat dilihat dari penggunaan balustrade, barisan horisontal dari tiang-tiang yang disatukan dengan penghubung berupa kayu atau bahan lain di atap bangunan. Di bagian tengah atap terdapat cupola yang cukup besar yang diberi jendela kaca di keempat sisi.
Gedung yang menggunakan langgam Neo-Klasik yang telah diselaraskan dengan iklim tropis ini, jendela hadir bukan sebagai pelengkap saja. Akan tetapi, malah ikut mempengaruhi penampilan bangunan. Dari luar gedung, orang melihat sebuah jendela tampil sebagai elemen estestis sebuah bangunan. Sedangkan dari dalam bangunan, jendela yang pada waktu dibuka akan memberikan visual kepada orang yang berada di dalam bangunan dalam menatap keluar jendela.


Pada masa pendudukan Jepang, bangunan De Javasche Bank ini sempat ditutup oleh Jepang pada 20 Oktober 1942. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, De Javasche Bank sempat vakum. Akhirnya, De Javasche Bank dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 1951 menjadi Bnak Indonesia Setelah menjadi Bank Sentral, keberadaannya diatur dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 1953 tentang Undang-Undang Pokok Bank Indonesia. Pada 2 Maret 1964, Kantor Bank Indonesia Banda Aceh dibuka kembali dengan menempati gedung De Javasche Bank tersebut. Namun, pada 26 Desember 2004, bangunan gedung Bank Indonesia Banda Aceh ini mengalami kerusakan yang cukup parah akibat gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh. Akibatnya, operasional Kantor Bank Indonesia Banda Aceh terpaksa dipindahkan sementara ke salah satu rumah dinas Bank Indonesia yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman No. 82 Banda Aceh. Pemindahan ini untuk menunjang kelancaran pelayanan Kantor Bank Indonesia kepada masyarakat sambil menunggu selesainya renovasi yang dilakukan terhadap gedung Kantor Bank Indonesia yang berada di Jalan Cut Meutia No. 15 Banda Aceh tersebut. Pada tahun 2007, setelah renovasi gedung Kantor Bank Indonesia tersebut selesai, kegiatan operasional Kantor bank Indonesia kembali dipindahkan ke tempat semula.
Dalam pelaksanaan renovasi ini, telah dilakukan upaya untuk mengembalikan bangunan ke bentul awal rumah dengan mempertahankan dan mengganti bagian-bagian bangunan yang rusak serta upaya lainnya agar sesuai dengan kondisi sebelumnya sehingga bangunan gedung Kantor Bank Indonesia Banda Aceh menjadi utuh dan indah. *** [300315]



Monday, April 20, 2015

Gedung Percetakan Aceh

Ketika berkunjung ke Banda Aceh antara 2006 hingga 2010, bangunan tersebut merupakan Metro Market. Lalu, ketika penulis berkunjung lagi baru-baru ini, bangunan tersebut telah menjadi Aceh Collection, sebuah swalayan yang menjual aneka barang dan souvenir.
Bangunan yang terletak di Jalan Diponegoro No. 74 Kelurahan, Kecamatan, Kota Banda Aceh. Provinsi Aceh. Lokasi bangunan ini berada di samping Perum Percetakan Negara RI Cabang banda Aceh, atau di sebelah utara Masjid Raya Baiturrahman.
Sepintas memang, bangunan tersebut terkesan bangunan komersial penyedia barang kebutuhan sehari-hari. Namun, bila ditelusur lebih lanjut sesungguhnya bangunan tersebut menyimpan memori sejarah di Banda Aceh. Ternyata, bangunan tersebut dulunya adalah Gedung Atjeh Drukkerij (Percetakan Aceh). Orang Aceh pada waktu itu menyebutnya Atjeh Dokree seusai dengan lidahnya.


Gedung ini pertama kali dibangun sekitar tahun 1900, dan awalnya berbentuk rumah biasa sebagai cabang percetakan swasta Belanda milik Deli Courant yang berpusat di Medan. Akan tetapi, seiring kebutuhan Aceh akan percetakan yang lebih baik, dari rumah biasa tersebut dibangunlah gedung yang representatif seperti sekarang ini, dan diberi nama Atjeh Drukkerij. Bagian bawah gedung ini terbuat dari beton, sedangkan struktur bangunannya terbuat dari kayu pilihan dan memiliki dua lantai.
Foto lawas yang diunggah oleh Tropen Museum, memperlihatkan keindahan Gedung Atjeh Drukkerij tersebut karena gedung tersebut pada 7 Januari 1937 dihias lampu-lampu pada malam hari untuk merayakan pernikahan Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard. Di samping itu, dulu di depan Gedung Atjeh Drukkerij dilintasi oleh rel kereta api menuju Stasiun Atjeh Spoor.
Sebagai perusahaan percetakan pertama di Aceh, Atjeh Drukkerij telah banyak mengeluarkan hasil percetakannya, seperti buku, foto, dan kartu pos. Beberapa cetakan buku Atjeh Drukkerij adalah buku yang disusun oleh A. Struijvenbeg, yaitu: Korps Marechaussee op Atjeh – 1930, Korps Marechaussee op Atjeh Overzicht van de Geschiedenis vanaf oprichting tot en met 1913, dan Het Korps Marechaussee 1890-1930. Selain itu, Atjeh Drukkerij juga mencetak koran Belanda, “Het Nieuwsblad voor Atjeh”. Koran ini terbit sekali dalam dua minggu, dan sirkulasinya untuk kalangan Belanda maupun para pedagang Tionghoa.


Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), percetakan ini berubah nama menjadi Gunseikanbu Inatsu Kojo, dan menerbitkan surat kabar Jepang bernama Atjeh Sinbun. Kemudian, dari gedung ini pulalah tercatat dalam sejarah ketika Pemerintah Darurat RI (1945-1949) mempercayakan Atjeh Drukkerij mencetak Oeang Repoeblik Indonesia Daerah (ORIDA) wilayah Aceh.
Pada tahun 1950, percetakan ini diambilalih oleh Pemerintah Republik Indonesia dan namanya berubah menjadi Percetakan Republik Indonesia. Pada tahun 1960, gedung baru Percetakan Negara RI di Banda Aceh mulai dibangun. Gedung tersebut persis berada di samping Gedung Atjeh Drukkerij ini.
Meski Gedung Atjeh Drukkerij tidak terlihat dari 64 Daftar Situs/Bangunan Cagar Budaya di Banda Aceh yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2012, namun berdasarkan nilai historis yang memuat memori kekunaannya seharusnya Gedung Atjeh Drukkerij tersebut layak menjadi bangunan cagar badaya (BCB) yang harus dirawat, dan dilestarikan. *** [300315]