Balai Kota Makassar (1)

Jl. Ahmad Yani No. 2 Makassar

Balai Kota Cirebon (2)

Jl. Siliwangi No. 84 Cirebon

Balai Kota Madiun (3)

Jl. Pahlawan No. 37 Madiun

Balai Kota Lama Medan (4)

Jl. Balai Kota No. 1 Medan

Kantor Gubernur Sumatera Utara (5)

Jl. Diponegoro No. 30 Medan

Friday, April 18, 2014

Prasasti Dawangsari

Prasasti Dawangsari merupakan utpala praśasti yang terbuat dari batu andesit dengan tinggi 68,5 cm, lebar 34 cm, dan tebal 13 cm. Prasasti ini tidak berangka tahun dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno sebanyak 23 baris. Bentuk Sloka terdiri atas 9 bait. Setiap bait terdiri atas 4 baris dan jumlah suku kata dalam satu baris ada 8 buah, jadi bermetrum anustubh. Secara keseluruhan, aksara masih jelas kecuali pada baris 16, 17, 18, dan 19 ada beberapa aksara yang kabur. Hurufnya bulat dan miring ke kanan besarnya tidak sama yang digolongkan ke dalam aksara Kawi Awal.
Prasasti ini ditemukan pada 16 November 1979 oleh Pak Wongsorejo ketika hendak mengolah tanahnya di Dukuh Dawangsari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Prasasti Dawangsari kini disimpan di Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta dengan nomor inventaris BG 355.
Sebelumnya, prasasti ini pernah ditelaah secara singkat oleh Rita Margaretha S dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Telaah Singkat Prasasti Dawangsari” dalam Proceedings Pertemuan Ilmiah Arkeologi V Jilid IIa Tahun 1989. Pembacaan prasasti juga pernah dilakukan oleh Riboet Ds dan Cahyono P.
Prasasti Dawangsari berisi petuah dan pemujaan orang-orang sādhu (pendeta) kepada Wināyaka, nama lain dari Gaņeśa. Selain itu, disebutkan juga bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini semua dilihat oleh dewa. Sesuai dengan peranannya dengan nama Wināyaka yang biasa disebut dalam bagian sapatha pada prasasti, yaitu dewa yang dapat melihat segala perbuatan manusia.

Alih aksara:
i wulatta kita sādhu ttihali
guņa dosa waih wulati citta tan
wyartha tiņon sad adikamnika //1// Haywā
gya umudi nuaŋ len ńuni wai yat
chalan naya acintya buddhi nin satwa wisti
rna gaganopama //2// Nahan tinonta
salawas wuńkal kewala tekana tuwi ā
sta ikaŋ satwa masotya malaku hurip //3//
nihan saphala rupanyan katon pra
tyaka dewatā wismaya ńuaŋ manon
saksāt wināyaka di parwata //4// wŗddhi bu
ddha niraŋ sādhu tustha deni gawai hayu hilaŋ
haŋkāra ni nīca manon atyanta dāruņa //5//
matańya rasike lingku sira sarwaña ri ja
gat mawai bara ri saŋ sādhu mŗtyu tulya
nireŋ khela //6// anuŋ nastika buddhinya darpa
ańkara kewala manon dewata sanindya
hilaŋ darpanya tan hana //7// Apa tan ta wnaŋ
nica de ning wākya .. krodha daņḍa
makoli ya bheda siksan niken khala //8//
menarkan dosa ni ńuaŋ len upaka
.. ya manon guņa wiҫsah artha tan
tonan ya teka yan ta durjana //9//

Alih bahasa:
//Saat melihatmu pendeta, akan kelihatan
semua kebaikan dan keburukan, yang akan member gambaran pada pikiran
tidak sia-sia dilihat oleh orang kebanyakan // Janganlah
tergesa-gesa mencela orang lain lebih-lebih jika
tidak senang akan tingkah lakunya, tidak bisa dibayangkan kesulitan orang
yang luas seperti langit // Jadi, lihatlah
selama keinginan dasarnya untuk mencapai tujuan
orang akan sungguh-sungguh menjalani kehidupannya//
itu akan berhasil baik seperti perwujudan yang nyata
dari dewa yang menimbulkan kekaguman orang yang melihatnya
seolah-olah dewa Wināyaka ada di gunung //Pikiran
baik dari seorang pendeta, memberikan kepuasan bagi yang berbuat baik, hilang
kesombongan yang hina yang selalu melihat kekerasan//
karena itu kataku, Ia serba mengetahui, di
dunia menindas pendeta saat itu juga akan menemui
kematian // Adapun orang yang tidak beriman sifatnya sombong
dan congkak, hanya dengan melihat dewata yang sempurna
hilang tidak ada lagi kesombongannya //Karena ia tidak
terhina oleh ucapan yang baik, tersiksa oleh kemarahan
ia akan memperoleh weda siksa di saat itu//
melebihi dosa orang lain menertawakan
segala yang dilihat hasil dari keinginan jahat tidak
kelihatan jika itulah kejahatan

Kepustakaan:
Ariesta Sicilia, 2010, Prasasti Dawangsari: Tinjauan Ulang, dalam Skripsi Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
Tim Penyusun, 2007, Pusaka Aksara Yogyakarta: Alih Aksara dan Alih Bahasa Prasasti Koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, Yogyakarta: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta

Sejarah Singkat Desa Ngaglik

Desa Ngaglik merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran tinggi antara 400 sampai dengan 500 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan 10 sampai dengan 45 derajat.. Berdasarkan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 2.200 mm dengan suhu rata-rata antara 22 hingga 30° Celcius.
Berdasarkan data rupa bumi wilayah administrasi Desa Ngaglik tahun 2010, jumlah penduduknya tercatat 3.962 orang dengan jumlah 832 KK dengan luas wilayah 284,4465 hektar. Desa Ngaglik terdiri atas empat dusun, yaitu Dusun Bendo, Dusun Soko, Dusun Dagangan dan Dusun Dukuh.
Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, sedangkan bagi yang tidak memiliki lahan pertanian atau tidak terserap dalam aktivitas pertanian lainnya, mereka melakukan mobilitas keluar desa seperti meranatau atau “boro”. Pada umumnya mereka dikenal sebagai pengrajin mainan anak.
Jarak tempuh Desa Ngaglik ke ibu kota Kecamatan Bulukerto yaitu sekitar 8 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Wonogiri adalah sekitar 22 kilometer.
Secara administratif, Desa Ngaglik dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Krandegan. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Nadi. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Sendang, Kecamatan Purwantoro, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Kelurahan Bulukerto, Desa Bulurejo, dan Desa Ploso.
Menurut ceritera Bapak Supriyatno, Sekretaris Desa Ngaglik, konon pada zaman dahulu kala ketika peradaban masih belum maju seperti sekarang ini, terdapat sebuah ceritera yang berkembang di masyarakat perihal Legenda Singo Lodoyo.
Legenda tersebut mengisahkan bahwa pada setiap awal bulan Mulud (menjelang Maulid Nabi), banyak orang Lodoyo pergi ke Nagri (sebutan untuk sebutan Surakarta sebagai tempat berdirinya Kraton Surakarta Hadiningrat). Mereka pergi ke sana untuk melihat dan menikmati keramaian Muludan atau yang biasa dikenal dengan nama Sekaten. Di sana, mereka sembari berguru dan menimba ilmu kanuragan kepada pujangga dan “guru-guru” kerajaan.
Dengan memperoleh ilmu kanuragan yang cukup tinggi, orang-orang Lodoyo tersebut menjadi sakti mandraguna sehingga dapat merubah wujud menjadi harimau. Ketika berubah wujud menjadi harimau, perjalanan pulang dari Nagri sampai ke Lodoyo dapat ditempuh hanya dalam waktu semalam. Akan tetapi dalam kenyataannya, ada juga yang naas, yaitu tersesat dikarenakan melanggar pantangan yakni tidak boleh melewati Sendang Biru. Karena bila harimau jadi-jadian tersebut melewati Sendang Biru maka akan tersesat dan tidak akan bisa berubah wujud kembali menjadi manusia.
Harimau yang tersesat tersebut bersembunyi di suatu tempat, yang mana tempat tersebut saat itu dinamai “Singane Gembong nDhelik”, dan selanjutnya orang lebih mudah menyebut dengan nama “Ngaglik” dan hingga sekarang menjadi sebutan nama Desa Ngaglik.
Kejadian tersebut berulang-ulang dan terakhir terjadi pada tahun 1962, seekor hariman gembong (loreng) berukuran besar bersembunyi di rumah Bapak Kariyo Maridin di Punthukmiri Dusun Dagangan, Desa Ngaglik.
Menurut penuturan sesepuh desa dan para moncokaki, sebutan Desa Ngaglik itu sudah ada sejak masa kolonial Belanda jauh sebelum dilakukan pemetaan. Wilayah Desa Ngaglik yang melintang dari utara Dukuh Jomblang di Dusun Bendo hingga selatan Dukuh Temulawak, Dusun Dagangan.
Demangan Bendo, rumah kediaman Demang Pontjo Panambang, yang pada saat itu selaku Kepala Pemerintahan di Desa Ngaglik, ketika daerah tersebut masih dikuasai oleh penjajah Belanda. Desa Ngaglik yang termasuk wilayah Geduwang, merupakan bagian dari wilayah Pura Mangkunegaran, tepatnya Desa Ngaglik, onder distric Bulukerto, Distrik Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Sebuah organisasi pemerintahan desa pertama yang dikenal masyarakat Desa Ngaglik. ***

Eksotisme Terowongan di Banjar

Jalur kereta api Banjar-Pangandaran-Cijulang sekitar 82 kilometer sangat eksotik. Selain pemandangannya yang sangat elok berupa hamparan pegunungan, pada jalur ini juga terdapat banyak terowongan kokoh, serta jembatan yang panjang. Sayang jalur ini ditutup sementara sejak 1982.
Terselip pertanyaan pecinta kereta api, Deden Suprayitno (36). Mengapa pemerintah kolonial Belanda mau bersusah payah membangun jalur rel kereta api dari Banjar menuju Pangandaran terus Cijulang di Jawa Barat selatan pada 1911-1914?
Pembangunan jalur kereta api di jalur tersebut pasti sangat mahal dibandingkan dengan pembangunan rel kereta api di sisi utara Jawa.  Selain harus menggembur bukit untuk terowongan, kolonial juga harus membangun jembatan yang sangat panjang untuk menghubungkan bukit yang satu dengan yang lain.
Di sepotong jalur itu terdapat empat terowongan, termasuk terowongan kereta api terpanjang di Indonesia, dan sedikitnya tujuh jembatan panjang yang menghubungkan bukit satu dengan bukit lainnya yang berkonstruksi baja dan beton.
“Apakah bisa hanya dari dari eksploitasi kopra atau hasil bumi kelapa di sekitar Pangandaran untuk pengembalian investasi pembuatan jalur kereta api yang mahal ini? Juga tentu tidak mudah untuk mengandalkan pendapatan dari angkutan penumpang yang berwisata ke pantai Pangandaran, pasti ada nilai lain yang diandalkan menjadi nilai ekonomi penting di sini,” kata Deden, Koordinator Wilayah Jawa Barat untuk komunitas pecinta kereta api Indonesian Railways Preservation Society (IRPS).
Deden didampingi rekannya, Asep, yang dikenal paling gemar menyusuri jalur rel kereta api nonaktif atau mati. Mereka menunjukkan jalur mati lintas kereta api Banjar-Cijulang sepanjang 82 kilometer.
Berdasarkan buku Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867-1992 (1992) oleh Iman Subarkah, pembangunan jalur kereta api Banjar ke Cijulang dibagi dalam dua periode. Periode pertama antara Banjar dan Kalipucang sepanjang 43 kilometer selesai pada 15 Desember 1916.
Periode kedua, dilanjutkan dari Kalipucang melintasi Pangandaran sampai di Cijulang sepanjang 39 kilometer itu selesai dan mulai dioperasikan pada 1 Januari 1921.
Menurut Deden, pengelola kereta api menutup operasional jalur kereta api dari Cijulang ke Pangandaran pada 1980. Kemudian disusul dari Pangandaran menuju Banjar ditutup pada 1982.
Stasiun Banjar berada pada lintasan utama jalur kereta api dari Bandung menuju Yogyakarta. Jalur yang terus dipertahankan sampai sekarang.

Terowongan
Empat terowongan yang ada di jalur Banjar-Pangandaran memiliki keunikan masing-masing dan semuanya menggunakan nama keluarga Kerajaan Belanda.
Terowongan Hendrik yang memiliki panjang 105 meter, misalnya, hingga saat ini masih digunakan warga bahkan bisa dilintasi mobil.
Adapun terowongan Juliana (127,4 meter) dikenal pula sebagai Terowongan Bengkok karena terowongan ini berbelok di bagian tengahnya.
Adapun terowongan Wilhelmina yang berjarak sekitar 400 meter dari terowongan Juliana, merupakan terowongan terpanjang di Tanah Air dengan panjang 1.116 meter. Terowongan ini juga sering disebut terowongan Sumber karena terletak di Desa Sumber.
Jika ketiga terowongan itu relatif berdekatan, terowongan Philip/Batulawang terpencil sendiri karena berjarak sekitar 35 kilometer ke arah Banjar atau hanya sekitar 3,4 kilometer dari Stasiun Banjar. Terowongan sepanjang 283 meter ini juga unik karena berbelok pada salah satu ujungnya.
“Ini satu-satunya dari empat terowongan yang mencatumkan angka tahun 1914. Persis 100 tahun yang lalu, terowongan Batulawang ini dibuat,” kata Deden.

Jembatan eksotis
Kokohnya terowongan di lintas Banjar-Pangandaran itu masih dilengkapi dengan sedikitnya tujuh jembatan panjang yang eksotis. Berapa jembatan menghubungkan satu bukit ke bukit lainnya, menyajikan pemandangan indah tampak dari atas jembatan yang hanya bisa dibayangkan karena saat ini hampir semua konstruksi baja beserta rel di atas jembatan itu sudah raib.
Jembatan Cikacepit berjarak sekitar 50 meter dari terowongan Hendrik menuju terowongan Juliana ke arah Pangandaran. Jembatan ini berkonstruksi baja dan beton sepanjang 316 meter. Dikhawatirkan sebentar lagi akan ambruk karena jejaring bajanya banyak yang dijarah.
Konstruksi baja pada jembatan lainnya yang sudah raib, antara lain jembatan Cipambokongan, Cikacampa, Cikabuyutan, dan Cipanerekean atau Ciputrapinggan.
Jembatan Cipambokongan dengan konstruksi baja sepanjang 284, 8 meter saat ini semua konstruksi bajanya sudah raib. Yang tersisa hanya fondasi dan tiang beton.
Jembatan Cikabuyutan bernasib sama. Konstruksi bajanya sepanjang 164 meter telah hilang tak berbekas.
Jembatan Cikacampa dengan konstruksi baja sepanjang 160 meter juga raib. Fondasi dan tiang beton yang tersisa.
Ada jembatan beton Ciputrappingan sepanjang 95 meter, berdasarkan survei IRPS, masih terlihat utuh. Jembatan ini dapat digunakan warga dengan berjalan kaki menuju obyek wisata Karang Nini, Pangandaran.
Di dekat jembatan Ciputrapinggan beton terdapat jembatan Ciputrapinggan baja dengan konstruksi sepanjang 150 meter. Lokasinya berada di pantai sehingga dapat dibayangkan ketika melintasinya dengan kereta api pada waktu itu sekaligus dapat menikmati keindahan Samudera Hindia.

Investasi
Banyaknya terowongan dan jembatan panjang yang dibangun menunjukkan banyaknya investasi yang dipakai.
“Jalur kereta api itu dibangun perusahaan Staatsspoorwegen milik Pemerintah Hindia Belanda. Mereka memiliki pengetahuan yang sudah jauh lebih bagus,” kata pengamat masalah perkeretaapian, Djoko Setijowarno dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.
Pemerintah kolonial Belanda menggunakan sudut pandang secara makro atau luas untuk menyediakan infrastruktur di daerah-daerah terisolasi yang berpotensi. Daerah Jawa Barat bagian selatan dari dulu sampai sekarang pun menjadi kantong kemiskinan.
“Pemerintah kolonial pada waktu itu sudah berkewajiban untuk menyediakan infrastruktur transportasi, selain meningkatkan ekonomi,” kata Djoko.
Berkaca dari hal baik ini, menyelamatkan aset perkeretaapian warisan kolonial Belanda pada jalur-jalur mati akan memberikan manfaat ketika ingin menghidupkannya kembali di suatu saat nanti. Mungkin saja, kita sekarang tidak mampu lagi mengulang pembangunan infrastruktur seperti terowongan dan jembatan eksotis yang sepadan. [NAWA TUNGGAL DAN TRY HARJONO]

Sumber: KOMPAS Edisi Senin, 14 April 2014 hal. 14

Thursday, April 17, 2014

Prasasti Mātaji

Prasasti Mātaji merupakan satu dari empat prasasti yang ditemukan di Desa Bangle, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Prasasti in situ ini sekarang masih berada di tempat penemuannya di areal hutan jati yang terletak di salah satu bukit yang oleh penduduk setempat disebut Gunung Sili.
Prasasti Mātaji berangka tahun 973 Çaka atau 1051 M dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno masa Airlangga dengan gaya penulisan berbeda berupa bentuk dasar persegi tegak, tidak condong ke arah kanan, serta pada beberapa aksara masih dijumpai kuncir yang dikenal pada masa Airlangga dan masih dipertahankan hingga masa Kediri.
Prasasti Mātaji termasuk ke dalam prasasti berbentuk stele dengan puncak lancip, seperti bentuk umum prasasti yang tersebar di Jawa Timur. Prasasti ini terbuat dari batu gamping dengan tinggi 130 cm, lebar atas 105 cm dan lebar bawah 92 cm, serta memiliki ketebalan 44 cm. Lebar puncaknya 67 cm dan ketinggian dari bahu hingga dasar 84 cm dengan lebar bahu 38 cm.
Sebagaimana umumnya prasasti batu, prasasti Mātaji hanya terdiri dari atas satu batu, berbeda dengan prasasti yang dibuat dari emas, perak, atau tembaga yang terdiri atas beberapa lempeng sehingga harus jelas jumlah dan urutan lempengnya.
Prasasti Mātaji dikeluarkan oleh seorang raja yang bergelar Śrī Mahārajyetêndrakara Wuryyawīryya Parakramā Bhakta dan Śrī Mahārajyetêndra Paladewa. Raja Jitêndra memberikan anugerah sīma gaňjaran kepada penduduk desa Mātaji dengan perantaraan (sopana) Sang Hadyan dan disaksikan oleh para Tandha Rakryan riŋ Pakirakiran. Anugerah ini diberikan kepada penduduk Desa Mātaji karena mereka selalu menolong raja mengusir dan menumpas musuh-musuhnya hingga habis. Sayang sekali informasi mengenai unsur-unsur lain yang umumnya dijumpai dalam prasasti sīma tidak diketahui pada prasasti ini karena tulisan yang sudah aus.
Berdasarkan toponimi, desa Mātaji diduga merupakan desa yang terletak di daerah perbatasan Kerajaan Jenggala dan Panjalu, sehingga di desa ini sering terjadi peperangan antara kedua belah pihak. Prasasti Mātaji menyebutkan adanya peperangan yang sering terjadi di desa Mātaji yang secara topografis terletak di daerah pegunungan dan dataran perbukitan.
Panjalu merupakan pecahan kerajaan Airlangga setelah dibagi dua dengan Kerajaan Jenggala. Prasasti Mātaji merupakan prasasti pertama yang memuat informasi mengenai keberadaan Kerajaan Panjalu setelah peristiwa pembagian kerajaan oleh Airlangga. Prasasti ini juga menyebutkan berbagai informasi seperti unsur birokrasi kerajaan, nama raja beserta gelar lengkapnya, serta peristiwa yang kerap terjadi di Kerajaan Panjalu pada masa itu. ***

Kepustakaan:
Shalihah Sri Prabarani, 2009, Prasasti Mātaji: Sebuah Kajian Data Sejarah, dalam Skripsi Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

Batik Kraton

Wastra, sebetulnya adalah kata serapan dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti sehelai kain yang dibuat secara tradisional dan terutama juga digunakan dalam matra tradisional. Salah satu jenis wastra adalah batik.
Batik kraton adalah wastra batik dengan pola tradisional, terutama yang semula tumbuh dan berkembang di kraton-kraton Jawa. Tata susunan ragam hias dan pewarnaannya merupakan paduan mengagumkan antara matra seni, adat, pandangan hidup, dan kepribadian lingkungan yang melahirkannya, yaitu lingkungan kraton.
Pada awalnya, pembuatan batik kraton secara keseluruhan yaitu mulai dari penciptaan ragam hias hingga pencelupan akhir, kesemuanya dikerjakan di dalam kraton dan dibuat khusus hanya untuk keluarga raja. Seiirng dengan kebutuhan wastra batik di lingkungan kraton yang semakin meningkat, maka pembuatannya tidak lagi memungkinkan jika hanya bergantung kepada putri-putri dan para abdi dalem di kraton, sehingga di atasi dengan pembuatan batik di luar kraton oleh kerabat dan abdi dalem yang bertempat tinggal di luar kraton.
Selain indah, terasa ada misteri di balik kain batik itu. Setiap motif di dalamnya seperti ajaran sikap hidup manusia. Setiap kraton akan mempunya corak dan motif khas dalam pembuatan batiknya. Perbedaan utamanya biasanya terletak pada bentuk, ukuran, patra dan nuansa warnanya.
Kain batik Kraton Cirebon, misalnya, didominasi warna putih dengan tema kehidupan kelautan dan kerajaan. Tak jarang terlihat motif kereta pusaka, anjing berkepala singa penjaga kerajaan, dan mega mendung. Motif itu menggambarkan kondisi kehidupan kelautan dan kerajaan yang erat di Cirebon.
Motif itu dipengaruhi oleh Tiongkok karena menurut sejarahnya Sunan Gunung Jati, penguasa Cirebon kala itu, memiliki istri seorang Tionghoa. Batik Kraton Cirebon diperkirakan berasal dari abad ke-15.
Kain batik dari Kraton Solo (Kasunanan dan Mangkunegaran) dan Yogyakarta (Kasultanan dan Pakualaman) lebih didominasi warna coklat dan kuning (sogan). Motif umum batik dari kedua kraton itu adalah parang dan kawung, yang dipakai oleh keluarga kerajaan. Motif batik dari Solo dan Yogyakarta juga lebih dekat pada tema agraris meski kemudian berkembang dengan motif aneka rupa.
Batik dari Kraton Madura didominasi tema laut dengan warna tegas dan berani, seperti merah dan hijau. Warna ini dinilai seiring dengan budaya dan sikap hidup warga Madura yang cenderung tegas dan berani.

Lembut dan bagus
Batik dari kraton itu istimewa karena secara kualitas bahan dan motifnya sangat lembut dan bagus. Batik kraton lazimnya tak dibuat untuk mengejar nilai ekonomis. Batik ini dibuat untuk kebutuhan kerajaan, dengan motif tak jauh dari kerajaan, digunakan oleh keluarga kerajaan, atau dibuat oleh rakyat, tetapi khusus disimpan untuk dipersembahkan bagi raja. Batik ini bukan untuk kepentingan komersial, melainkan lebih untuk kepuasan jiwa pembuatnya.
Kualitaslah yang membedakan batik kraton itu dengan batik pada umumnya. Namun, meski setiap batik kraton itu berbeda motif dan tema, secara umum mengajarkan satu hal sama, yaitu tentang kehidupan. ***

Kepustakaan:
KOMPAS Edisi Selasa, 15 April 2014

Masjid Muttaqien Ponorogo

Secara adiministratif, Masjid Muttaqien terletak di Jalan Letjend Suprapto Sukowati No. 122 Dusun Kauman, Desa Ngunut, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini berada di jalan yang menghubungkan Ponorogo – Magetan.
Masjid ini tidak terlalu besar, akan tetapi memiliki kisah yang menarik. Konon, masjid ini didirikan pada 1359 H atau 1940 M oleh H. Abdul Manani bersamaan dengan berdirinya pondok pesantren (ponpes) yang ada di sebelah masjid tersebut. Masyarakat setempat menyebutnya dengan ponpes Kauman, disesuaikan dengan keberadaan ponpes tersebut.
Awalnya, ponpes tersebut hanya sekadar tempat mengaji bagi masyarakat sekitar, namun lambat laun berkembang menjadi sebuah ponpes yang sederhana, Begitu pula, dengan masjidnya. Mulanya tidak seluas seperti sekarang ini. Kala itu, hanya berukuran 8 meter x 8 meter saja, yang sekarang masih dipertahankan bentuk bangunannya pada ruang utama masjid tersebut. Kemudian diperluas sesuai dengan jumlah jamaahnya yang makin berkembang dengan menambah bangunan teras di muka ruang utama.


Ruang utama masjid ini ditopang oleh empat buah tiang kayu atau soko guru di bagian bawahnya terdapat umpak semen yang membalut keempat soko guru yang tinggi umpaknya sekitar seperempat dari ketinggian soko guru tersebut. Bentuk ruang utama ini mirip dengan ruang utama pada masjid-masjid bersejarah di Pulau Jawa, sepert Masjid Agung Surakarta namun ukurannya kecil.
Menurut H. Burhanuddin, salah seorang putra dari pendiri masjid tersebut, ponpes dan masjid ini pernah mengalami pasang surut. Pernah ditinggalkan jamaahnya karena “dicurigai” oleh birokrasi Orde Baru (Orba). Segala aktivitasnya senantiasa dimonitor dan terkadang mengalami penetrasi, dan klimaksnya ponpesnya mengalami kolaps jamaah atau ditinggalkan. Begitu pula, masjidnya juga mengalami hal yang sama tatkala di dinding pembatas antara teras menuju ruang utama dipasangi lambang Muhammadiyah di bagian roster atas yang berfungsi sebagai sirkulasi udara.
Kemudian seiring berjalannya sang waktu, masjid tersebut akhirnya pada berdatangan lagi. Lalu ponpesnya juga dihidupkan kembali dengan menerima para pemondok perempuan yang sudah tak berayah ibu atau dalam bahasa religusnya, yatim piatu. Seiring itu pula, masjid ini pernah mengalami renovasi pada 1419 H atau 1998. Memasuki ruang utama masjid ini terasa kita memasuki bangunan tradisional Jawa yang sejuk dan teduh. *** [110414]

Wednesday, April 16, 2014

“Radakng” Saham, Rumah Panjang yang Dibangun pada 1875

Rumah panjang di Kalimantan Barat atau yang disebut radakng ternyata ada yang dapat dilestarikan dan masih dihuni ratusan keluarga masyarakat Dayak. Salah satunya terletak di Dusun Saham, Desa Saham, Kecamatan Sengah Semila, Kabupaten Landak, sekitar 200 kilometer dari ibu kota Kalbar, Pontianak. Rumah adat yang dihuni suku Dayak secara turun-temurun ini dibangun pada 1875.
Sekitar tahun 1960-an, terjadi penghancuran rumah adat suku Dayak oleh pemerintah kala itu. Pemerintah menganggap, gaya hidup komunal masyarakat Dayak menyerupai gaya hidup komunis. Pemerintah khawatir dengan semangat solidaritas penghuninya yang dapat mengancam keamanan negara dan tuduhan hidup bersama di rumah panjang tidak sehat karena bertentangan dengan moral.
Sejak itulah, mulai sulit menemukan rumah panjang, khususnya di Kalimantar Barat, yang dihuni ratusan keluarga seperti dulu kala. Kalaupun ada, rumah panjang tidak dihuni, tetapi hanya sebagai tempat upacara adat. Bentuk dan panjangnya pun sudah tidak seasli rumah panjang tempo dulu.
Namun Rumah Radakng yang berusia hampir 140 tahun itu hingga kini masih dihuni. Rumah panjang itu tidak kehilangan nilai eksotisnya. Panjangnya 186 meter dengan lebar sekitar 10 meter dan tinggi lantai sekitar 7 meter dari tanah. Rumah ini memiliki 34 bilik yang dihuni sekitar 200 jiwa.
Rumah panjang pada zaman dulu memang didesain tinggi untuk menghindari binatang buas. Apalagi, kala itu binatang buas masih banyak. Dengan rumah yang tinggi, binatang akan sulit naik ke rumah. Desain yang tinggi juga sebagai bentuk pengamanan dari serangan antar-subsuku Dayak pada zaman Ngayau (mencari kepala manusia sesama suku Dayak).
Rumah panjang di Dusun Saham itu terdiri dari teras atau yang disebut pante, ruang tamu atau samik, dan ruang keluarga (kamar) yang rata-rata berukuran 6 meter x 6 meter. Di ruang tamu terdapat pene, semacam meja berukuran 3 meter x 3 meter dengan tinggian sekitar 0,5 meter sebagai tempat duduk saat menerima tamu pada zaman dulu. “Pene dijadikan tempat untuk berbincang dengan tamu. Kalau tamu menginap di rumah juga menjadi tempat tidur,” ujar salah satu tokoh masyarakat Dusun Saham, Amen (52).
Di bagian depan terdapat 34 tangga. Jumlah tangga itu disesuaikan dengan jumlah bilik (kamar) yang ada. Sebab, di rumah panjang itu berlaku kepercayaan, jika penghuni salah satu bilik meninggal, saat pemakaman tidak boleh menggunakan tangga penghuni bilik lain karena dianggap ada sial.
Di bagian belakang rumah panjang terdapat dapur yang disebut masyarakat sekitar uankng mik. Setiap keluarga penghuni rumah panjang memiliki satu dapur untuk memasak.
Beberapa bagian rumah panjang, seperti tiang dan lantai, terbuat dari kayu ulin. Pada saat pembuatan dulu, kayu ulin itu dipotong menggunakan alat yang disebut beliung (senjata tajam menyerupai kapak) dan dikerjakan gotong royong oleh penghuni rumah panjang.
Bentuk rumah yang memanjang terjadi secara bertahap. Jika anggota keluarga penghuni rumah panjang menikah atau berkeluarga, akan dibangun bilik yang baru sehingga semakin panjang hingga seperti sekarang.
Meskipun demikian, dalam perkembangannya tidak semua keluarga membangun bilik baru karena tanah datarnya terbatas. Mereka membangun rumah terpisah di sekitar rumah panjang Saham.

Dikunjungi wisatawan
Rumah panjang Saham sudah pernah dikunjungi dari luar Kalbar dan dari luar negeri. Menurut Suriah (53), salah satu penghuni rumah panjang Saham, beberapa tahun lalu ada warga Kanada yang berkunjung ke rumah panjang. Bahkan, warga Kanada itu tinggal di rumah panjang hingga tiga bulan.
Warga Kanada itu berkunjung dalam rangka pertukaran pelajar. “Mereka ingin mengetahui bagaimana kehidupan kami di rumah panjang. Bagi mereka, ini sangat menarik karena tidak dijumpai di negara mereka masyarakat tinggal di dalam satu rumah dalam jumlah yang banyak,” kata Suriah.
Meskipun demikian, potensi pariwisata rumah panjang Saham belum dikelola secara optimal oleh Pemerintah Kabupaten Landak, baik melalui promosi maupun pembenahan akses transportasi menuju Saham.
Padahal, rumah panjang Saham bisa menjadi alternatif wisata saat wisatawan berkunjung ke Kalbar. Untuk menuju ke rumah panjang Saham dapat ditempuh dengan moda transportasi mobil dan sepeda motor. Jarak Dusun Saham dari Pontianak sekitar 200 kilometer.
Moda transportasi seperti mobil dan sepeda motor bisa masuk hingga ke halaman rumah panjang. Pengunjung pun tidak dipungut biaya masuk dan parkir oleh masyarakat sekitar.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Landak Lukas Kanoh, Pemerintah Kabupaten Landak memang menjadikan rumah panjang Saham menjadi tempat wisata budaya. Tahun ini ada dana Rp 75 juta dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri untuk pengembangan Saham.
Penggunaan dana itu masih harus dibicarakan dengan masyarakat didaerah itu. “Apakah dana itu akan digunakan untuk memperbaiki rumah panjang atau pengembangan kerajinan masyarakat. “Kerajinan bisa dintegrasikan dengan wisata budaya di rumah panjang,” ujar Lukas.
Pemkab Landak juga sudah berupaya mempromosikan rumah panjang Saham ke berbagai daerah, bahkan hingga ke luar negeri. Promosi dilakukan dengan menggunakan website (internet) maupun brosur. [EMANUEL EDI SAPUTRA]

Sumber: KOMPAS Edisi Selasa, 1 April 2014 hal. 24