Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Sunday, April 21, 2019

Monumen Perjuangan 45 Banjarsari

Sejumlah bangunan monumen dapat dijumpai di Surakarta (Kota Solo). Monumen tersebut dibuat dengan tujuan untuk mengingat kembali sejumlah peristiwa penting yang terjadi di Kota Solo, di antaranya adalah Monumen Perjuangan 45. Monumen ini terletak di Jalan Monumen No. 45 Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi monumen ini berada di tengah Villapark, atau yang dikenal juga dengan Taman Banjarsari.
Monumen Perjuangan 45, atau biasa dikenal dengan Monumen Banjarsari (Monjari) ini dibangun untuk mengenang perjuangan masyarakat Solo dalam pertempuran melawan Belanda dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, yang puncaknya dikenal dengan Serangan Umum Empat Hari di Solo (7 hingga 10 Agustus 1949). Pembangunannya dimulai pada 31 Oktober 1973, dan diresmikan pada 10 November 1976 oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam, yang bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.


Menurut catatan sejarah, rencana untuk melancarkan Serangan Umum secara gerilya itu dilaksanakan di sini di kawasan tempat berdirinya Monumen Perjuangan 45. Kemudian dilanjutkan berkumpul di Desa Wonosido, Kabupaten Sragen, untuk menyusun serangan yang akan dilakukan oleh para pejuang, dan akhirnya berkobarlah serangan umum tersebut yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Slamet Riyadi dan Mayor Achmadi.


Monumen ini berbentuk patung yang terbuat dari batu bata dengan balutan semen dengan ornamen beberapa patung pejuang. Ada ulama, pejuang dengan membawa senapan laras panjang, pejuang dengan memegang pistol, pejuang wanita dengan membawa bakul tempat nasi serta obat, maupun pejuang yang membawa senjata tradisional keris dan bambu runcing. Bagian tugunya berupa atap rumah Joglo dengan tinggi sekitar 17 meter yang melambangkan hari kemerdekan Republik Indonesia. Selain itu, pengunjung juga bisa menyaksikan relief kejadian penting perjuangan Wong Solo sejak kemerdekaan sampai Orde Baru.
Tak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati keindahan taman yang ada di Kawasan Monumen Perjuangan 45 ini. Semenjak klithikan dipindahkan ke Semanggi, kawasan ini dikembalikan menjadi ruang terbuka hijau dengan penambahan sejumlah fasilitas publik lainnya, seperti playground untuk anak-anak. Hal ini selaras dengan ihwal kawasan ini sebelumnya. Dulu kawasan monumen ini memang merupakan sebuah taman yang indah di lingkungan Villapark, sebuah perumahan modern berarsitektur Indisch yang dibangun oleh Mangkunegoro VI guna disewakan kepada pejabat-pejabat (perkebunan) Belanda. Arsiteknya adalah seorang Belanda bernama Herman Thomas Karsten, arsitek dan perencana wilayah permukiman di Hindia Belanda. *** [180419]

Friday, April 19, 2019

Monumen Prasasti Perebutan Kekuasaan Jepang dan Pertempuran Kempeitai

Seperti daerah lain yang ada di Indonesia, Solo juga pernah mengalami pendudukan oleh Jepang. Salah satu saksi bisu perjalanan pasukan Jepang terakhir di Solo ditandai dengan berdirinya sebuah monumen yang bernama Monumen Perebutan Kekuasaan Jepang dan Pertempuran Kempeitai.
Monumen ini terletak di Jalan Brigjend Slamet Riyadi No. 197 Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi monumen ini berada di sebelah barat gedung pertemuan Wisma Batari, atau tepat berada di depan eks Hotel Cakra.


Menurut catatan sejarah, pada waktu pelaksanaan penyerahan kekuasaan pemerintahan pendudukan Jepang kepada pemerintah Indonesia di Surakarta atau Solo tidaklah berjalan dengan mulus. Terjadi perbedaan dalam penyerahan kekuasaan sipil dan militer di kalangan Jepang. Tanggal 1 Oktober 1945, Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) daerah Surakarta, Mr. BPH Sumodiningrat memimpin delegasi Indonesia untuk bertemu dengan Shuchokan (Kepala Pemerintahan Sipil) Jepang, Watanabe. Dalam perundingan yang berjalan lancar, Watanabe dengan sukarela menyerahkan pemerintahan sipil di Surakarta terhadap Indonesia.


Untuk serah-terima bidang militer, pemuda Suyatno Yosodipuro ditugaskan memimpin delegasi pemuda untuk bertemu dengan Letnan Kolonel T. Masse, komandan garnisun kota. Perundingan berlangsung dua hari, yaitu tanggal 4 dan 5 Oktober 1945. Suyatno Yosodipuro berhasil meyakinkan komandan Tentara Jepang agar secara suka rela menyerahkan tanggung jawab militer terhadap Indonesia, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Watanabe sehingga dengan demikian dapat dihindari pertumpahan darah di kedua belah pihak. Akhirnya, tanggal 5 Oktober, T. Masse menyerahkan wewenang militer beserta seluruh senjata yang dikuasainya kepada pihak Indonesia (Hutagalung, 2010: 122-123).


Akan tetapi, pihak Kempeitai (polisi militer) yang tidak berada di bawah wewenang Letnan Kolonel Masse, tidak mau tunduk dengan keputusan tersebut, dan menolak menyerahkan senjata mereka kepada pihak Indonesia. Kapten Sato, pimpinan Kempeitai Surakarta enggan menyerahkan kekuasaannya karena beranggapan belum adanya perintah langsung dari Tenno Heika (Yang Mulia Kaisar) Jepang.
Sikap Kapten Sato ini memicu pengepungan dan penyerangan terhadap markas Kempeitai yang berada daerah Kemlayan. Tanggal 12 Oktober  1945 pukul 21.00, dimulai serangan atas markas Kempeitai yang dipimpin oleh bekas anggota Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) bernama Slamet Riyadi. Pertempuran berlangsung sepanjang malam sampai pukul 06.00, dan berakhir dengan menyerahnya Kempeitai Surakarta. Di pihak Indonesia, korban tewas adalah Arifin. Sebagai penghormatan kepada Arifin, nama jalan di depan kantor CPM dan jembatan di belakang Radio PTPN Rasitania diberi nama Arifin. Sedangkan di pihak Kempeitai, korban tewas dua orang.
Untuk mengenang tragedi itu dibangunlah sebuah Monumen Perebutan Kekuasaan Jepang dan Pertempuran Kempeitai untuk menandai keberhasilan pemuda Surakarta dalam menundukkan dan melucuti tentara pendudukan Jepang, yang diresmikan pada 13 Oktober 1985 oleh Gubernur Jawa Tengah, H.M. Ismail. *** [180419]

Thursday, April 18, 2019

Monumen Pasar Nongko

Monumen Pasar Nongko merupakan salah satu monumen yang dibangun di Surakarta (Kota Solo) yang berhubungan dengan Agresi Militer Belanda II dalam Serangan Umum Empat Hari Di Solo. Monumen ini terletak di Jalan Prof. DR. Supomo No. 105 Kelurahan Punggawan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi monumen ini berada di pertemuan antara Jalan Prof. DR. Supomo dengan Jalan R.M. Said, atau berada di depan Kantor Kelurahan Mangkubumen, yang tak jauh juga dari Pasar Nongko (± 140 meter timur pasar).


Monumen yang terbuat dari batu marmer itu diresmikan bertepatan dengan Hari Pahlawan pada 10 November 1980 oleh Sesepuh/Ketua Dewan Harian Nasional Angkatan 45. Sesuai tulisan yang ada di prasasti tersebut, monumen ini didirikan untuk menandai peristiwa dibantainya rakyat oleh tentara Kolonial Belanda di daerah Pasar Nongko pada akhir Serangan Umum Empat Hari di Kota Solo – tanggal 7 hingga 10 Agustus 1949 – oleh pasukan pejuang kemerdekaan Indonesia yang dipelopori pemuda dan pelajar usia belasan tahun

.

Kendati sudah ada ada perintah cease fire (gencatan senjata) dari kedua belah pihak, akan tetapi sekitar pukul 05.00 pagi tanggal 11 Agustus 1949, pasukan green caps (baret hijau) yang semalam datang terlambat dari Semarang menyelinap keluar dari Benteng Vastenburg. Mereka langsung menuju rumah Dr. Padmonegoro di Kampung Gading. Tempat tinggal itu juga menjadi pos darurat PMI. Pasukan komando tersebut segera mengobrak-abrik serta menyembelih sejumlah pengungsi yang sedang menjalani perawatan. Tujuh petugas PMI dan 14 orang pasien disembelih, mati secara mengenaskan (Julius Pour, 2008: 184).


Begitu berita tentang serangan liar itu tersebar, satu peleton TNI segera melakukan pengejaran dan berhasil menyergap mereka di perempatan Ngapeman.  Melalui pertempuran yang sengit, tujuh pasukan baret hijau Belanda akhirnya bisa ditewaskan.
Kabar ini pun kemudian tersebar ke pasukan baret hijau lainnya yang tergabung  dalam Corps Special Troepen, pasukan istimewa Belanda. Mereka kemudian melakukan pembalasan atas tewasnya teman-teman itu dengan menyiksa dan membantai penduduk yang ada di jalan serta membakar rumah mereka dengan menggunakan alat penyemprot api di dekat lokasi Monumen Pasar Nongko berdiri. Tercata ada 36 nyawa melayang karena peristiwa itu, di antaranya 5 wanita dan seorang bayi.
Oleh karena itu, di monumen tersebut juga tertulis di dalam prasasti sebagai berikut:

“Kita kenang pengorbanan rakyat serta kepahlawanan pejuang
Kemerdekaan Indonesia dengan renungan
Kami yang dibantai mati di daerah ini adalah
Sekelumit bukti yang berbicara tentang kebiadaban
Nafsu penjajah tentara Belanda di bumi ini.
Biarlah kami menjadi tumbal perjuangan kemerdekaan bangsa. Semoga tidak sia-sia
Bagi anak cucu bangsa Indonesia.
Teruskan semangat perjuangan pahlawan ini
Untuk mengisi kemerdekaan bangsa atas dasar Pancasila.”

***

Wednesday, April 17, 2019

Monumen Sondakan

Tak banyak yang tahu mengenai bangunan Monumen Sondakan ini. Hal ini dikarenakan wujud bangunan yang mirip tugu kecil dan letaknya yang mepet dengan pintu rumah warga. Monumen ini terletak di Jalan Parang Kesit No. 34 RT. 02 RW. 04 Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi monumen ini berada di sebelah timur Warung Sate Kambing H. Man Gullit ± 86 meter, atau sebelah barat SD Djama’atul Ichwan Program Utama ± 65 meter.



Monumen Sondakan ini dibangun untuk mengenang peristiwa 7 sampai 10 Agustus 1949 masa Agresi Militer II Belanda, yang kini dikenal dengan nama Serangan Umum Empat Hari di Surakarta (Solo).
“Serangan Umum yang terjadi di Kota Solo ini merupakan pertempuran pascakemerdekaan terakhir yang ada di Indonesia. Setelah itu diadakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag,” kata Kepala Staf Kodim 0735/Surakarta, Mayor Inf. Didin Nasrudin, pada upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 di Stadion Sriwedari Solo.



Peristiwa Serangan Umum ini dilakukan oleh Tentara Pelajar (TP) bersama pasukan TNI yang dipimpin oleh Dwi Tunggal, Letnan Kolonel Slamet Riyadi (Komandan Brigade V/Pasukan Panembahan Senopati Divisi II) dan Mayor Achmadi (Komandan Sub Wehrkreise 106/PPS/Arjuno).
Pada hari Minggu, 7 Agustus 1949 TP dan TNI mulai melakukan serangan yang dimulai dari Tugu Lilin Penumping terus menuju ke arah barat hingga Sondakan dengan sasaran pertahanan Belanda di sepanjang Jalan Purwosari atau sekarang dikenal dengan Jalan Slamet Riyadi.



Tembak-tembakan mulai terjadi, makin lama makin gencar yang kemudian disusul dengan rentetan letusan brengun, stenggung, mitlariur serta dentuman mortir dan lain-lainnya. Serangan yang mendadak sontak membuat Belanda mengundurkan diri dan bertahan di markasnya masing-masing. Menghadapi serangan yang dilancarkan oleh pasukan Indonesia, pihak Belanda mengerahkan seluruh kekuatan udaranya. Sekitar pukul 15.00 WIB Belanda meluncurkan serangan balasan dengan menurunkan enam pesawat tempur yang mengadakan pengeboman secara membabi buta, sehingga banyak rakyat yang menjadi korban. Kota Solo sebelah barat, di daerah Sondakan menjadi sasaran lima pesawat Belanda.
Dengan adanya peristiwa tersebut, lokasi bombardier yang dilakukan oleh pihak Belanda terhadap para pejuang Indonesia dibangun sebuah monumen untuk menandai  dan mengenang peristiwa pertempuran itu di Sondakan. *** [170419]

Kepustakaan:
Rahmawati, S.B., Muntholib, Abdul., & Romadi. (2016). Pertempuran Empat Hari di Kota Surakarta Tahun 1949. Journal of Indonesian History 5 (1), hal. 67. https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jih/article/view/19726
https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3603743/menghadirkan-kembali-memori-serangan-umum-4-hari-di-solo

Monday, October 29, 2018

Kompleks Makam Raja Abdurrahman

Tak jauh dari Gedung Mesiu dijumpai situs lainnya yang tak kalah menarik kisahnya. Situs itu dikenal dengan Kompleks Makam Raja Abdurrahman. Kompleks makam ini terletak di Jalam YDM. Raja Abdurrahman, Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi makam ini berada di sebelah barat Gedung Mesiu, atau sebelah timur Benteng Bukit Kursi.
Raja Abdurrahman adalah seorang yang berasal dari keturunan Bugis yang wujud di Kerajaan Melayu Riau Lingga. Raja Abdurrahman lahir di Pulau Penyengat pada tahun 1779 dengan nama kecilnya Abdurrahman. Nama Lengkapnya adalah Raja Abdurrahman bin Raja Ja’far bin Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak. Ayahnya adalah  Raja Ja’far bin Raja Haji Fisabililah dan ibunya adalah Raja “Lebar” Saleha binti Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau V.


Raja Abdurrahman dinobatkan menjadi Yang Dipertuan Muda Riau VII oleh Yang Dipertuan Besar Sultan Abdurrahman Syah (Marhum Bukit Cengkeh) setelah mendapat persetujuan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes van den Bosch, dan memerintah dari tahun 1832 hingga tahun 1844).
Pada masa pemerintahannya terjadi banyak kekacauan karena ulah bajak laut yang beraktivitas di Kepulauan Riau, dan adanya campur tangan pihak Inggris di Kerajaan Melayu Riau yang mempersulit kedudukan Raja Abdurrahman. Namun demikian, dibalik beberapa kesulitan yang dialami dalam pemerintahannya, beliau masih bisa melanjutkan tradisi yang telah dijalankan oleh ayahnya yaitu menyayangi ulama-ulama dan guru-guru agama. Dalam Tuhfah al-Nafis, Raja Ali Haji menulis bahwa sejak Yang Dipertuan Muda Riau dipangku Raja Abdurrahman, para ulama berdatangan ke Pulau Penyengat. Mereka adalah Habib Syaikh al-Syaghaf, Sayyid Hasan al-Haddad, Kyai Beranjang, Haji Syuhabuddin, Haji Abu Bakar Bugis, dan Syaikh Ahmad Jibrati. Para ulama itu mengajarkan berbagai ilmu keislaman di Penyengat.


Sementara itu beliau juga memprakarsai pembangunan masjid yang kelak dikenal dengan Masjid Raya Sultan Riau. Masjid tersebut tidak saja difungsikan semata-mata untuk ibadah mahdah, akan tetapi juga dipergunakan untuk mengembangkan syiar agama, misalnya sebagai tempat untuk menuntut ilmu dan mendiskusikan masalah-masalah keagamaan dan urusan keduniawian. Di samping itu, dalam masjid ini juga disediakan tempat untuk menginap bagi para ulama dan guru serta musafir pada umumnya. Masjid yang sangat megah di Pulau Penyengat telah menjadi lambang dan pusat denyut nadi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban, yang hingga sekarang ini tetap berdiri dengan indahnya.
Raja Abdurrahman wafat pada tahun 1844 dan dimakamkan di Kampung Bulang, Penyengat. Makanya setelah meninggal, Raja Abdurrahman juga dikenal dengan Marhum Kampung Bulang. Makamnya terletak di lereng Bukit Kursi yang memaparkan pemandangan pada masjid yang dibangunnya.


Untuk masuk ke lokasi makam ini, pengunjung harus menaiki tangga. Kompleks makam ini dikelilingi oleh tembok yang dihiasi dengan ukiran timbul, terutama di bagian depan tembok. Pada tiap-tiap sudut bagian atasnya terdapat pahatan seperti kendi. Pintu masuk ke dalam kompleks terdapat di tengah. Bagian atasnya membentuk setengah lingkaran, dan di atas lengkungan terdapat hiasan seperti kelopak/daun serta di atasnya ada kendinya. Di kiri kanan pintu terdapat sejenis tiang dengan pelipit di bagian atas dan di atas pelipit tersebut diletakkan kendi juga.
Makam Raja Abdurrahman terdapat di sebelah kanan pintu masuk. Jirat pada makam terdiri atas tiga tingkat, makin ke atas makin kecil. Jirat ini polos dan di atasnya terdapat dua buah nisan berbentuk silinder atau gada. Terdapat 50 makam di sekeliling pusara Raja Abdurrahman, baik di dalam maupun di luar tembok.
Pada tahun anggaran 1981-1982 dan 1985/1986 Makam Raja Abdurrahman dipagar oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Riau. Makam ini menjadi satu-satunya pusara yang tidak beratap dan lantainya juga tidak dikeramik. Namun demikian tidak mengurangi keagungan Raja Abdurrahman yang memiliki jasa besar bagi Kesultanan Melayu Riau, dan makam ini telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya dengan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM 14/PW.007/KKP/2004 serta telah tercatat dalam arsip Pemerintah Kota Tanjungpinang dengan Nomor Inventaris Cagar Budaya 32/BCB-TB/C/01/2007. *** [210918]

Kepustakaan:
Indonesia. Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. (1996). Hasil pemugaran dan temuan benda cagar budaya PJP I. Jakarta: Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Palawa, Alimuddin Hassan. (2004). Meneroka Sejarah Persuratan Intelektual Melayu-Riau. Al-Fikra Jurnal Ilmiah Keislaman, Vol. 3, No. 2, Juli-Desember, 213-235. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:nYBEPobpujUJ:ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/al-fikra/article/download/3747/2291+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id
Rosa, Ellya. (2012). Tinjauan Sejarah Terhadap Naskah Dan Teks Kitab Pengetahuan Bahasa, Kamus Logat Melayu Johor Pahang Riau Lingga Karya Ali Haji. Jurnal Sosial Budaya Vo. 9 No. 2 Juli-Desember, 172-194. http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/SosialBudaya/article/view/382
Syahid, Achmad. (2005). Sufistifikasi Kekuasaan Pada Kesultanan Riau-Lingga Abad XVIII-XIX M. Ulumuna, Volume IX Edisi 16 Nomor 2 Juli-Desember, 295-312. https://ulumuna.or.id/index.php/ujis/article/view/69/57
____________ . (2018). Deskripsi Cagar Budaya Tidak Bergerak Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau
https://www.geni.com/people/Raja-Abdul-Rahman-Marhum-Mesjid-Kp-Bulang-YDM-Riau-7-Pulau-Penyengat-1832-1844-Ydp-Muda-Raja-Jaafar/6000000015285888187

Sunday, October 28, 2018

Gedung Mesiu

Dari Istana Ali Marhum Kantor, sopir becak mengajak kami melanjutkan lagi perjalanan di Pulau Penyengat. Kunjungan berikutnya adalah melihat bangunan lawas yang bernama Gedung Mesiu. Gedung ini terletak di Jalam YDM. Raja Abdurrahman, Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi gedung ini berada di sebelah timur Kompleks Makam Raja Abdurrahman Yang Dipertuan Muda Riau VII, atau barat laut Masjid Raya Sultan Riau ± 1 kilometer.
Menurut catatan sejarah yang ada, gedung ini dulunya merupakan tempat penyimpanan (gudang) mesiu. Mesiu adalah bahan kimia yang mudah meledak, biasanya berupa bubuk, dipakai untuk mengisi peluru. Oleh karena itu, gedung ini oleh masyarakat sekitar disebut juga dengan Gedung Obat Bedil.
Saat ini hanya tersisa satu dari empat gedung yang seharusnya tersebar di Pulau Penyengat. Yang lainnya sudah rata dengan tanah. Konon, gedung-gedung mesiu itu dibangun untuk menyuplai bahan peluru meriam maupun senapan di benteng-benteng yang ada di Pulau Penyengat, yaitu Benteng Bukit Kursi, Benteng Tanjung Nibung, dan Benteng Bukit Penggawa. Kala itu benteng-benteng tersebut dijadikan basis pertahanan oleh Kerajaan Riau Lingga.


Keberadaan benteng-benteng tersebut terkait dengan dinamika kesejarahan Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaya. Hal ini membuktikan bahwa permukiman di Pulau Penyengat memiliki peranan penting dalam perkembangan Kesultanan Melayu Johor-Riau-Lingga yang mengalami perpindahan pusat pemerintahan yaitu Johor, Hulu Sungai Riau, Daik dan Penyengat.
Perpindahan dari Johor ke Hulu Sungai Riau disebabkan konflik politik dalam Kesultanan Melayu Johor-Riau, antara Raja Kecik dengan para penguasa Kerajaan Melayu Johor-Riau. Raja Kecik adalah pendiri Kesultanan Siak, yang keberadaannya terkait dengan Kota Siak Sri Indrapura di Provinsi Riau.
Pada awal abad ke-17 Raja Kecik dan pasukannya membangun lokasi pertahanan di Pulau Penyengat untuk menyerang Kerajaan Melayu Johor-Riau-Lingga yang berpusat di Hulu Sungai (Kepulauan Riau). Menjelang abad ke-18, permukiman di Pulau Penyengat menjadi basis pertahanan Raja Haji Fisabilillah untuk melawan pasukan VOC yang berada di Semenanjung Malaya.


Ketika Raja Ali bin Raja Ja’far bin Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak dinobatkan menjadi Yang Dipertuan Muda Riau VIII (1845-1857), masa pemerintahannya tercatat sebagai masa pembangunan fisik yang pesat. Beliau juga melalukan pembenahan terhadap benteng-benteng dan gedung (gudang) mesiu di Pulau Penyengat untuk melanjutkan peperangan.
Gedung Mesiu berdenah empat persegi, berukuran 13 x 12 m dan bergaya Eropa. Bangunan tersebut dikelilingi oleh tembok setinggi 1,65 cm dan tebalnya 20 cm. Pintu gerbang terletak lurus di depan pintu bangunan. Pintu hanya satu buah berukuran lebar 60 cm berbentuk lengkung pada bagian atasnya. Tinggi bangunan 3 m dan tebalnya 25 cm. Di samping bangunan terdapat sebuah jendela berjeruji besi dengan bentuk persegi panjang. Langit-langit dan atapnya terbuat dari semen (beton).
Atap gedung bagian depan berbentuk setengah lingkaran, sedangkan bagian belakang bertingkat tiga. Di antara atap bawah dan atas dibatasi oleh dinding dengan lubang angin di keempat sisinya. Atap tingkat 2 dan 3 seperti kubah dan di puncaknya makin ke atas makin mengecil.   
Pada tahu 1982/1983 telah dilaksanakan pemugaran Gedung Mesiu oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Riau. Kemudian Pemerintah menetapkan Gudang Mesiu ini sebagai benda cagar budaya dengan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 9 tahun 2003, dan telah tercatat dalam arsip Pemerintah Kota Tanjungpinang dengan Nomor Inventaris Cagar Budaya 39/BCB-TB/C/01/2007. *** [210918]

Kepustakaan:
Indonesia. Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. (1996). Hasil pemugaran dan temuan benda cagar budaya PJP I. Jakarta: Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Rijal, M., Setioko, B., & Sardjono, A.B. (2018). Pertumbuhan Permukiman Pesisir Di Pulau Penyengat. http://digilib.mercubuana.ac.id/manager/t!@file_artikel_abstrak/Isi_Artikel_903244788109.pdf

Saturday, October 27, 2018

Istana Ali Marhum Kantor

Setelah puas melihat Gedung Hakim Mahkamah Syariah Raja Haji Abdullah, sopir becak motor kemudian mengajak ke spot situs lainnya yang ada di Pulau Penyengat. Kali ini kami diajak ke tengah-tengah Pulau Penyengat untuk mengunjungi bangunan lawas yang terdapat di situ. Bangunan lawas tersebut adalah Istana Ali Marhum Kantor.
Istana ini terletak di Kampung Ladi, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi istana ini berada di sebelah timur Majelis Taklim Sultan Riau ± 67 m, atau sebelah barat daya Masjid Raya Sultan Riau ± 220 m.


Istana Ali Marhum Kantor ini sebenarnya merupakan Istana Kantor Kerajaan Riau Lingga, yang didirikan oleh Raja Ali bin Raja Ja’far bin Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak sekitar tahun 1855, dua tahun sebelum meninggalnya Raja Ali. Ia dinobatkan menjadi Yang Dipertuan Muda Riau VII oleh Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Muzaffar Syah pada 20 Juli 1845.
Istana ini disebut Istana Ali Marhum Kantor karena kental dengan sebutan yang melekat pada Raja Ali sebagai Marhum Kantor. Ia adalah juga saudara sepupu dengan Raja Ali Haji bin Raja Ahmad bin Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak (penulis Gurindam Dua Belas).


Raja Ali menjadikan bangunan megah ini sebagai istana kediamannya dan tempat pengelolaan administrasi pemerintahannya. Di samping sebagai pengendali negeri, Raja Ali bin Raja Ja’far ini juga dikenal sebagai seorang pengarang dan salah satu hasil karyanya adalah berupa Syair Nasihat.
Pada masa Raja Ali bertahta sebagai Yang Dipertuan Muda Riau VII, Pulau Penyengat yang merupakan pulau kediamannya menjadi pusat pendidikan agama Islam yang terkenal pada abad ke-19. Beliau juga banyak mendatangkan ulama dari berbagai negeri untuk mengajar di sejumlah pusat pendidikan agama Islam yang telah ia dirikan. Pada masa pemerintahannya itu tercatat pula sebagai masa pembangunan fisik yang pesat. Selain itu beliau juga membuat dermaga serta mendirikan istana yang megah ini.


Istana Ali Marhum Kantor berukuran sekitar 110 m² dan menempati areal sekitar satu hektar yang seluruhnya dikelilingi tembok. Seluruh areal bangunan dibatasi dengan tembok keliling dengan tiga buah pintu masuk, yaitu di sebelah timur laut, barat daya, dan tenggara. Bangunan asli istana ini sebagian sudah hancur, sedangkan yang tersisa hanyalah bangunan pertama setelah pintu gerbang masuk sebelah depan dan bangunan pintu gerbang sebelah tenggara.
Bangunan yang masih berdiri sekarang merupakan bangunan berlantai dua. Pada lantai pertama, di sebelah kiri terdapat sumur dan sebelah kanan terdapat kakus. Adapun lantai dua berupa bangunan beratap limasan yang merupakan bangunan hasil pemugaran. Pintu timut laut pada tembok keliling istana berupa gapura berlantai dua yang sekaligus berfungsi sebagai pos penjagaan dan pengintaian. Pintu gerbang tenggara merupakan pintu gerbang untuk menuju tempat kolam pemandian, sedangkan pintu gerbang barat daya berupa pintu gerbang biasa.


Pada areal istana bagian dalam, tepatnya di sisi barat laut terdapat sisa-sisa struktur bangunan dan di sisi selatannya terdapat anak tangga dengan jenjang berjumlah empat buah. Bangunan dan puing yang masih ada di kompleks istana ini memperlihatkan kemegahannya di masa lalu.
Pada tahun 1987 bangunan ini pernah dipugar oleh Bidang Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan (PSK) Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tingkat I Riau. Meski sekarang bangunan sedikit terlihat kusam karena mungkin tidak mengalami pengecatan lagi, namun secara umum kompleks bangunan istana masih cukup terawat dan terpelihara. Hal ini karena halaman di dalam areal tersebut tidak tumbuh rumput liar di sekitarnya.
Pihak Pemerintah juga telah menetapkan bangunan istana ini sebagai benda cagar budaya dengan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM 14/PW.007/KKP/2004, dan telah tercatat dalam arsip Pemerintah Kota Tanjungpinang dengan Nomor Inventaris Cagar Budaya 42/BCB-TB/C/01/2007. *** [211018]

Kepustakaan:
Anom, I Gusti Ngurah & Sugiyanti, Sri. & Indonesia. Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. (1996). Hasil Pemugaran Dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I, Jakarta: Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
____________ . (2018). Deskripsi Cagar Budaya Tidak Bergerak Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau