The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Flores. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Flores. Tampilkan semua postingan

Taman Renungan Bung Karno

Dengan naik ojek, kami diantar keliling Kota Ende. Salah satu lokasi yang ditunjukkan oleh tukang ojek adalah sebuah taman yang hijau dan rindang. Sekilas tampak seperti taman kota yang pada umumnya ada di sebuah daerah. Namun bila sudah memasuki areal taman ini akan terlihat keistimewaan dari taman ini. Taman ini dikenal dengan Taman Renungan Bung Karno. Taman Renungan ini terletak di Jalan Soekarno, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi taman ini berada di depan Kantor Camat Ende Utara.
Dalam catatan sejarah, Soekarno pernah dibuang ke Ende, Pulau Flores dari tahun 1934 hingga 1938. Ketika di Ende, Soekarno sering memanfaatkan sebagian waktu pembuangannya untuk melakukan permenungan mendalam tentang butir-butir Pancasila yang kini menjadi dasar negara Indonesia. Tokoh Proklamator ini sering bermain bola bersama masyarakat setempat. Saat lelah ia bernaung di bawah pohon sukun berbatang lima. Soekarno duduk pada sebuah bangku kecil, sambil membaca sebuah buku, setelah dibaca kemudian Soekarno menutup bukunya, tangannya disandarkan ke belakang untuk menopang kepalanya. Kepala Soekarno mendongak ke atas melihat cabang-cabang sukun yang berjumlah lima itu sambil menikmati hembusan angin dan mulai berpikir jauh tentang Indonesia. Di bawah pohon sukun inilah, Soekarno menemukan konsep dasar Indonesia, Pancasila.


Ende sangat mempengaruhi Soekarno, karena di Ende-lah Soekarno “menemukan dan merancang” Pancasila. Secara pribadi, Ende menjadi tempat perkembangan penting dalam diri Soekarno, yaitu perubahan dari manusia “singa podium” menjadi “manusia perenung”. Soekarno di Jawa adalah Soekarno “pembakar massa”. Soekarno di Ende adalah Soekarno reflektif, pemikir, lebih banyak waktu dipakai untuk tenggelam dalam perpustakaan, bertukar pikiran dengan sekelompok paderi dari Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah, yang tidak ada hubungannya dengan gerakan kebangsaan sebagaimana para misionaris lain di Jawa. Kehidupan rakyat Ende, yang berasal dari berbagai suku bangsa dan agama tetapi hidup rukun dan damai, benar-benar memperkaya imajinasi Soekarno terhadap Indonesia merdeka kelak. Bahkan, itu menjadi bahan renungannya setiap hari di bawah sebuah pohon sukun.


Sekitar tahun 1970-an, pohon sukun tersebut mati dan pemerintah setempat mengganti dengan menanan anakan pohon yang sama dilokasi yang sama. Kemudian sejak tahun 1980-an, pohon sukun itu berganti nama menjadi Pohon Pancasila.
Dulu, lokasi Soekarno merenung di bawah pohon sukun tersebut dikenal sebagai Taman Remaja Ende, sedangkan di sebelah timurnya adalah Lapangan Perse. Perse merupakan singkatan dari Persatuan Sepak Bola Ende yang terkenal pada tahun 1970-an. Jadi, Lapangan Perse itu awalnya merupakan satu-satunya stadion sepak bola pada era itu. Setiap ada perhelatan sepak bola, puncak pertandingan antar klub atau antar kabupaten pasti digelar di lapangan ini.
Namun, sejak Wakil Presiden Boediono meresmikan patung Bung Karno yang berada di dekat pohon sukun tersebut pada 1 Juni 2013, yang dulunya dikenal dengan Taman Remaja berubah menjadi Taman Renungan Bung Karno atau biasa disebut juga dengan Taman Pancasila. Sedangkan, Lapangan Perse berubah menjadi Lapangan Pancasila. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa tempat-tempat tersebut memiliki sejarah yang ada kaitannya dengan munculnya falsafah lima sila atau Pancasila. *** [260915]

Kepustakaan:
Dhaniel Dhakidae, 2013. Soekarno: Membongkar Sisi-sisi Hidup Putra Sang Fajar, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara
Share:

Percetakan Arnoldus Ende

Dalam perjalanan pulang dari halaman depan Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Katedral Ende menuju penginapan di Hotel Safari, akan melewati sebuah bangunan yang tergolong lawas juga. Gaya arsitektur bangunan yang silindris ini masih berdiri kokoh dan menarik pandangan setiap yang melihatnya.
Sesuai yang tertera dalam salah satu dindingnya, bangunan lawas tersebut adalah Gedung Percetakan Arnoldus. Gedung percetakan ini terletak di Jalan Katedral No. 5 Kelurahan Potulando, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi percetakan ini berada di belakang Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Katedral Ende, atau di sebelah selatan Gedung Imaculata.
Percetakan Arnoldus ini merupakan percetakan pertama di Pulau Flores, yang pendiriannya digagas oleh Pater Petrus Noyen, SVD pada tahun 1926. Pemberian nama “Arnoldus” untuk usaha percetakan ini, diambil dari nama Santo Arnoldus Janssen, pendiri Kongregasi SVD, Kongregasi Suster SSpS, dan Kongregasi Suster SSpSAP. Kongregasi ini diberi nama, Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah, yang secara khusus menghormati Hati Kudus Yesus. Semangat itu ditandai oleh penyerahan diri seutuhnya kepada Allah, semangat iman, kesetiaan, kerendahan hati, dan penyangkalan diri.


Dalam mengawali usaha percetakan ini, Percetakan Arnoldus menggunakan mesin percetakan yang didatangkan dari Jerman. Kebetulan juga Jerman merupakan tempat kelahiran Santo Arnoldus Janssen. Cetakan pertama dari percetakan ini terbit pada 21 Juni 1926 berupa doa yang disusun dalam bahasa Melayu yang diberi judul Sende Aus, artinya Utuslah. Sebagaimana awalnya percetakan ini mengemban misi membantu pewartaan gereja lokal di Flores dam kemudian melakukan juga publikasi umum. Hal ini selaras dengan apa yang pernah dilakukan oleh Santo Arnoldus Janssen pada waktu itu. Menyadari pentingnya publikasi untuk mempromosikan panggilan imamat, Santo Arnoldus Janssen segera memulai karya percetakan dan penerbitan. Itulah sebabnya, pemilihan nama Arnoldus ini diyakini dapat menjadi pelindung terhadap percetakan di Ende ini.
Percetakan ini dikelola oleh Biro Naskah yang telah menerbitkan berbagai buku keagamaan dan ketrampilan. Berawal dari Biro Naskah ini, maka lahirlah Penerbit Nusa Indah. Semula “Nusa Indah” adalah nama perpustakaan kecil, yang kemudian dijadikan sebagai nama sebuah toko buku yang dikelola oleh Bruder Vitalis, SVD. Toko Buku (TB) Nusa Indah menjual buku-buku yang dicetak oleh Percetakan Arnoldus yang berlokasi satu bangunan dengan TB Nusa Indah. Pada tahun 1960-an sebelum menjadi penerbit, nama Nusa Indah sebenarnya sudah dicantumkan dalam buku-buku Percetakan Arnoldus bersanding dengan label Percetakan Arnoldus, seperti misalnya Arnoldus-Perpustakaan Nusa Indah atau Percetakan Arnoldus-Penerbit Nusa Indah.
Baru pada 1 April 1970, Pater Alex Beding, SVD mendirikan Penerbit Nusa Indah yang kemudian berkembang menjadi penerbit terkemuka di kawasan timur Indonesia. Awalnya hanya menerjemahkan buku-buku asing dalam bidang kerohanian untuk memenuhi kebutuhan rohaniawan dan seminari, namun kemudian melebarkan terbitannya dengan merambah ke penerbitan buku tentang pertanian, sastra, bahasa, novel dan kamus. Sementara itu, percetakan Arnoldus tetap masih memroses percetakannya.
Sekarang, percetakan Arnoldus merupakan unit perusahaan PT. Arnoldus Nusa Indah (PT. ANI) yang masih terus beroperasi dan bersaing dalam bidang percetakan untuk wilayah Flores dan sekitarnya. Sedangkan, manajemen PT. ANI dijalankan oleh Serikat Sabda Allah, sebuah Serikat Religius dan Misionaris Katolik. *** [250915]
Share:

Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Katedral Ende

Nasib baik menghampiri saya. Tepat di depan penginapan, banyak hilir mudik angkot. Hal ini membantu saya dalam mewujudkan hasrat heritage tourism di Kota Ende. Kali ini saya mengunjungi sebuah gereja lawas dengan gaya arsitektur yang menawan. Gereja tersebut adalah Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Katedral Ende, atau bisa disebut dengan Gereja Katedral Ende saja. Gereja ini terletak di Jalan Katedral No. 5 Kelurahan Potulando, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi gereja ini sebelah timur Kantor Pos Ende, atau di sebelah utara KUD Baranuri.
Ide pendirian gereja ini datang dari Uskup Mgr. Verstraelen, sebagai tempat ibadah umat Katolik, dan sekaligus sebagai gereja Katedral Keuskupan Sunda Kecil. Peletakan batu pertama pembangunan gereja ini dilakukan dengan upacara yang dipimpin oleh Uskup Mgr. Arnold Verstraelen, SVD pada 18 Mei 1930. Persiapan pembangunan gereja dipercayakan kepada Pastor Paroki, Pater Huijlink. Proses pembangunan gereja ini memakan waktu sekitar dua tahun, dengan ditandai dengan pentasbihan oleh Uskup Mgr. Arnold Verstraelen pada 7 Februari 1932.


Pemilihan lokasi gereja Katedral ini didasari atas pertimbangan bahwa lokasi gereja tersebut yang berdekatan dengan Biara Santo Yosef, dan menjadi satu kawasan dengan kompleks Misi Ende (sekarang menjadi Keuskupan Agung Ende). Pada waktu pendirian gereja ini, Ende belumlah menjadi sebuah kabupaten dan belum menjadi Keuskupan Agung Ende (Archidioecesis Endehenus) seperti saat ini. Karena Kabupaten Ende sendiri baru terbentuk pada tahu 1958, dan Keuskupan Agung Ende pada tahun 1961. Gereja Katolik ini memang lahir karena kegigihan para misionaris Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah.
Gereja ini memiliki pelataran yang cukup luas, sehingga ketika memasuki halaman gereja ini sudah tampak bangunan gereja yang menjulang, Dilihat dari fasade bangunan gereja, terlihat bahwa bangunan gereja ini menggunakan gaya arsitektur Neo-Gothic yang telah disesuaikan dengan arsitektur tradisional suku Ende, terutama bentuk atapnya.
Gereja ini mempunyai satu menara di sebelah kanannya yang di atasnya dipasang sebuah salib, dan pada dinding menara terdapat jam sebagai penanda waktu. Sedangkan, di bagian kiri depan gereja ada patung Kristus yang lumayan besar yang seolah-olah menyambut setiap jemaat yang akan bersembahyang di dalam gereja tersebut. Patung Kristus tersebut berdiri di atas bola dunia, dan di bawah bola dunia terdapat tulisan Christus Rex Mundi (Kristus Raja Dunia).
Tepat di atas pintu utama gereja terdapat tulisan Christo Regi (Kristus Raja), dan di atas tulisan adalah kaca yang dibingkai lima pilar yang berbentuk lengkungan. Fungsinya adalah pencahayaan, yaitu untuk menyerap sinar mentari agar bisa masuk ke dalam ruang utama gereja.
Berdasarkan laman kebudayaan.kemendibud.go.id, Gereja Katedral ini tercatat sebagai salah satu inventaris warisan budaya di Kabupaten Ende. BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Gianyar telah melakukan upaya pelestarian terhadap warisan atau cagar budaya di Kabupaten Ende, antara lain yaitu penempatan juru pelihara, pemetaan serta dokumentasi terhadap Gereja Katedral. *** [250915]



Share:

Taman Nasional Kelimutu

Berkunjung ke Ende, buat sebagian orang terasa belum lengkap tanpa mengunjungi Taman Nasional Kelimutu (Kelimutu National Park). Sebuah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi alam.
Taman Nasional Kelimutu mencakup luas wilayah sekitar 5.356,50 hektar yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 679/Kpts-II/1997 Tanggal 10 Oktober 1997. Taman nasional ini merupakan yang terkecil dari enam taman nasional di kawasan Bali dan Nusa Tenggara. Secara administratif lokasinya berada di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Detsuko, Kecamatan Wolowaru, dan Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Untuk menuju Taman Nasional Kelimutu tidaklah sulit karena jalan utama menuju kawasan tersebut berada di tepi jalan arteri Ende-Maumere. Bisa menggunakan bis jurusan Maumere tapi harus berjalan lumayan jauh menuju ke pintu masuk Taman Nasional Kelimutu. Jika rombongannya terdiri dari 6-8 orang bisa carter mobil ke sana dengan biaya sekitar 750 ribu dari Kota Ende, tapi kami memilih menggunakan jasa ojek dengan biaya hanya 100 ribu sekitar 6 jam pulang pergi. Selain irit, juga bisa menikmati perjalanan dengan seksama karena pada waktu kami ke sana, cuaca cukup bersahabat. Perjalanan dengan ojek dari Hotel Safari tempat kami menginap sampai ke areal parkir kawasan Taman Nasional Kelimutu, memerlukan waktu sekitar dua jam.
Sekitar satu kilometer lebih sebelum sampai ke areal parkir, kami harus membayar karcis masuk pengunjung Taman Nasional Kelimutu sebesar 5 ribu dan pengojeknya pun harus membayar karcis masuk juga. Setelah itu, kami akan melalui jalan hotmix seukuran 4 meter menanjak dan berkelok-kelok sampai areal parkir. Dalam perjalanan ini, kami melintasi kawasan agrowisata. Di kiri-kanan jalan tersebut, kami bisa menyaksikan aneka tanaman yang ada di kawasan argowisata yang membentuk hutan tersebut, seperti pohon ampupu (Eucalyptus urophylla), cemara (Casuarina junghuniana), aro (Wendlandia paniculata), poni atau pakis gunung (Cyatea sp), dan lain-lain. Ada sekitar 250 tanaman dan 3 tanaman endemik. Semua itu terdiri dari 79 jenis pohon dan 15 jenis tanaman bawah.


Tanpa terasa perjalanan yang berkelok-kelok tersebut, sampailah kami di areal parkir. Kami harus berpisah sementara dengan tukang ojek, karena kedua tukang ojek ingin beristirahan dan menunggu di areal parkir sampai minum kopi. Sementara, rasa penasaran akan keingintahuan berikutnya kami terpaksa melanjutkan perjalanan terus hingga ke atas dengan jalan kaki, karena memang kendaraan tidak diizinkan naik ke atas kecuali para petugas rescue atau Tim SAR dari Taman Nasional Kelimutu.
Dalam perjalanan ini, kami akan melintasi arboretum seluas 4,5 hektar. Dalam bahasa Latin, arboretum berasal dari kata arbor yang berarti pohon, dan retum yang berarti tempat. Sedangkan arboretum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diartikan sebagai tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangkbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan.
Arboretum memiliki fungsi sebagai tempat koleksi keanekaragaman jenis flora Taman Nasional Kelimutu. Dari yang dilalui tersebut, kami melihat tanaman mboa (Melastoma malabatricum), poni atau pakis gunung (Cyatea sp),  aro (Wendlandia paniculata), bongo (Ficus Fistulosa), singgi (Litsea resinosa), gari (Schefflera lucida), dan mera meke (Pittosporum molucanum).
Setelah melintasi arboretum, kami menjumpai banyak pohon cemara (Casuarina Junghuniana). Orang setempat menyebutnya dengan tanaman bu, dan beberapa tanaman endemik Kelimutu, yaitu uta onga (Begonia kelimutuensis), turuwara (Rhondodenron renschianum), dan arengoni (Vaccinium varingiaefolium). Selain keanekaragaman flora, di Taman Nasional Kelimutu juga banyak terdapat jenis fauna yang mendiaminya, seperti kelelawar (Cynopterus nusatenggara), tikus lawo atau teu lawo (Rattus hainaldi), tikus besar Flores atau deke (Papagomys armandvillei), cacurut munggis rumah (Suncus murinus), musang luwak atau beku (Paradoxurus hermaphroditus), babi hutan (Sus scrofa), ular (Trimeresurus albolabris), elang coklat (Accipiter fasciatus wallacii), perkutut loreng (Geopeli striata maugeus), burung bondol atau hijau dada merah ( Erythrura hyperythra obscura), burung Kancilan Flores (Pachycephala nudigula nudigula Hartert), ayam hutan hijau (Gallus varius), burung perkici pelangi (Trichoglossus haematodus weberi), dan anis hutan (Zoothera andromedae). Selain itu, di Taman Nasional Kelimutu juga terdapat burung Garugiwa (Monarcha sacerdotum). Burung ini memiliki suara merdu mengiringi matahari terbit di sekitar danau. Burung yang tergolong endemik Flores ini sekarang sudah sangat langka, masyarakat setempat menyakini burung tersebut sebagai burung arwah. Burung tersebut mempunyai ciri-ciri: kepalanya berwarna hitam, paruh warna hitam dengan garis putih, gelambir kulit warna merah, dan menggelembung saat berkicau, bulu hitam di bawah gelambir, bulu bagian sayap punggung dada dan ekor berwarna hijau kekuningan pada bagian atas, kaki berwarna hitam serta bulu sayap dan ekor bagian bawah berwarna hitam.


Perjalanan kaki sepanjang 3 sampai 4 kilometer tersebut, akhirnya sampai juga kami puncak gunung yang ditandai dengan adanya tugu Soekarno sebagai monumen. Di sekitar tugu tersebut dipasang pagar tralis, agar supaya keselematan pengunjung terjaga karena di atas kecepatan angin cukup kencang. Sehingga bila tidak hati-hati, pengunjung bisa tergelicir masuk ke dalam danau-danau yang terdapat di kawasan puncak tersebut. Inilah Gunung Kelimutu! Kelimutu merupakan gabungan dari kata “keli” yang berarti gunung, dan kata “mutu” yang berarti mendidih.
Gunung Kelimutu yang berada di ketinggian 1.640 meter di atas permukaan laut (dpl), tumbuh di dalam Kaldera Sokoria atau Tubusa bersama dengan Gunung Kelido (1.641 m dpl) dan Gunung Kelibara (1.630 m dpl). Ketiganya membangun kompleks yang bersambungan kecuali Gunung Kelibara yang terpisah oleh lembah dan kaldera Sokoria. Letak puncak-puncak gunung api ini terjadi karena perpindahan titik erupsi melalui sebuah celah yang menjurus lebih kurang utara-selatan.
Dari ketiga gunung tersebut, Gunung Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih memperlihatkan aktivitas sampai sekarang yang merupakan kelanjutan kegiatan gunung api tua Sokoria.
Tubuh Gunung Kelimutu dibangun oleh batuan piroklastika (bom, lapili, scoria, pasta, abu, awan panas dan lahar) serta lelehan lava. Permukaan lerengnya berkembang ke arah timur, tenggara dan barat daya dengan topografi kasar sedang dibangun oleh aliran piroklastika dan lahar serta lelehan lava andesit, penyebaran lereng barat selatan berelief sedang, dibangun oleh kegiatan Kelimutu muda tapi terhalang oleh Gunung Kelibara, sedangkan lereng barat dan utara memperlihatkan morfologi berelief kasar.
Pada puncak Kelimutu terdapat 3 buah sisa kawah yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau kawah dengan warna air yang berlainan dan mempunyai ukuran diameter yang bervariasi, bernama Tiwu Ata Polo (danau merah), Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai (danau hijau) dan Tiwu Ata Mbupu (danau biru). Tiwu Ata Polo atau Ata Polo Lake dianggap sebagai tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai atau Nuwa Muri Ko’o Fai Lake merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Sedangkan, Tiwu Ata Mbupu atau Ata Mbupu Lake adalah tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.
Itulah kenapa Danau Kelimutu kerap dikenal sebagai Danau Tiga Warna, artinya ketiga danau yang memiliki warna yang berbeda-beda tersebut berada di kawasan yang dikenal dengan Gunung Kelimutu meski sebenarnya ketiga danau tersebut memiliki nama sendiri-sendiri.


Sejarah Gunung Kelimutu memang kurang dikenal, namun menurut keterangan penduduk setempat gunung dengan ketiga danau berwarna ini telah ada sepanjang sejarah di mana dinding di antara 2 danau di bagian timur dahulunya bisa dilalui orang, tetapi sekarang dinding semakin menipis dan hampir lenyap akibat peristiwa vulkanik berupa letusan dan gempa.
Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Kelimutu meletus dahsyat pada tahun 1830 dengan mengeluarkan lava hitam Watukali, kemudian meletus kembali pada tahun 1869-1870 disertai aliran lahar dan membuat suasana gelap gulita di sekitarnya di mana hujan abu dan lontaran batu hingga mencapai Desa Pemo.
Gunung Kelimutu pertama kali ditemukan oleh B.C.Ch.M.M. van Suchtelen, seorang controleur onderafdeling Ende dan sekaligus peneliti, pada tahun 1915. Namun, Gunung Kelimutu baru dikenal oleh masyarakat luas ketika salah seorang pastor bernama Y. Bouman, SVD menuliskan kekagumannya pada Gunung Kelimutu yang menyimpan pesona Danau Tiga Warna dalam sebuah tulisannya pada tahun 1929. Sejak itulah Gunung Kelimutu dikenal dunia dengan indahnya Danau Tiga Warna yang memikat hati pengunjung. Mereka berkunjung untuk menikmati keindahan Danau Tiga Warna yang oleh masyarakat setempat dianggap angker.
Ketika dalam masa pengasingan di Ende, Flores, dari tahun 1934 sampai dengan tahun 1938, Soekarno atau Bung Karno pernah mengunjungi Gunung Kelimutu. Keterpesonaan akan Gunung Kelimutu dan situasi masyarakat setempat yang menganggapnya masih angker mengilhami Bung Karno dalam menulis naskah drama yang diberi judul Rahasia Kelimutu. Naskah yang terdiri dari 7 babak ini akhirnya dipentaskan di Gedung Imaculata, milik Katedral Ende. Pementasan ini dilakukan oleh Toneel Club Kelimutu yang didirikan oleh Bung Karno bersama sahabat-sahabatnya di Ende, dan distrudarai langsung oleh Bung Karno. Naskah drama Rahasia Kelimutu ini mengisahkan kepecayaan masyarakat akan hal-hal tahyul, yang dinilai menghambat kemajuan dan merintangi langkah menuju modernitas. Tentunya dalam 7 babak tersebut diselipkan drama yang mengisahkan keindahan dan keelokan Gunung Kelimutu dengan Danau Tiga Warna tersebut.
Ketiga danau kawah selalu mengalami perubahan warna air. Perubahan warna air kawah erat kaitannya dengan aktivitas vulkanik dan perubahannya tidak mempunyai pola yang jelas tergantung kegiatan magmatiknya.
Kalangan ilmuwan dan peneliti memberikan informasi bahwa kandungan kimia berupa garam besi dan sulfat, mineral lainnya serta tekanan gas aktivitas vulkanik dan sinar matahari adalah faktor penyebab perubahan warna air. Tercatat beberapa peneliti ketiga danau tersebut, seperti B.C.Ch.M.M. van Suchtelen (1915), Ch.C.F.M. Le Roux (1916), H. Horneman (1922), G.L.L Kemmerling (1929), O. Jaag (1938), Ch. E. Stehn (1940), M.N. van Padang (1951), G.A. de Neve (1952), N.I. Adnawidjaja (1958), J. Matahelumual (1960), E. Abdul Patah Amidjad (1961), dan K. Kusumadinata.
Peneliti-peneliti tersebut yang mencatat adanya perubahan warna air yang terjadi pada ketiga danau kawah yang terdapat di Gunung Kelimutu. Di Kelimutu Documentary Board terpampang beberapa kronologis perubahan warna yang pernah terjadi pada ketiga danau tersebut. Jadi, jangan heran bila antara kunjungan Anda dengan temen Anda di lain waktu akan menghasilkan gambar foto yang menunjukkan perbedaan warna airnya. *** [250915]

Kepustakaan:
Kelimutu Documentary Board
www.tnkelimutu.com
Share:

Rumah Retret Kemah Tabor Mataloko

Usai melihat bangunan Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu, kami menyeberang jalan arteri melangkahkan kaki melihat bangunan peninggalan kolonial Belanda yang tak kalah menariknya. Salah satu hal yang membuat kagum adalah berjajarnya beberapa topiary pohon cemara hampir setinggi lantai satu bangunan yang ada. Bangunan tersebut adalah Rumah Retret Kemah Tabor Mataloko, atau biasa disebut dengan Rumah Retret Mataloko saja.
Rumah Retret ini terletak di Jalan Trans Flores Bajawa-Ende, Desa Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi rumah retret ini berada di depan Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu.
Semula bangunan ini merupakan rumah tinggal para misionaris SVD di Mataloko yang didirikan pada tahun 1932, atau selang tiga tahun berdirinya bangunan SeminariSanto Yohanes Berkhmans Todabelu yang berada di depannya. Memang, kedua bangunan tersebut ada keterkaitannya dalam pembangunannya. Seminari berfungsi untuk bangunan sekolah atau aktivitas belajar mengajar, sedangkan Rumah Retret digunakan untuk rumah tinggal para frater yang mengajar di seminari, dan sekaligus sebagai tempat untuk melakukan pertemuan atau diskusi di kalangan para frater tersebut.
Rumah Retret ini adalah milik Kongregasi Serikat Sabda Allah. Dalam bahasa Latin, Serikat Sabda Allah ini dikenal dengan Societas Verbi Divini (SVD), yaitu salah satu ordo Gereja Katolik Roma yang didirikan pada tahun 1875 di Steyl, Belanda oleh Santo Arnoldus Janssen. SVD ini melakukan pekabaran injil di wilayah Flores, salah satunya adalah di daerah Kabupaten Ngada ini.


Dipilihnya Mataloko untuk mendirikan rumah retret ini, karena Mataloko adalah sebuah tempat di lereng pegunungan yang berhawa sejuk, dan acapkali berkabut serta memiliki pemandangan yang bagus. Sehingga, lokasi ini dirasa sangat cocok bagi frater-frater yang awalnya didominasi oleh orang Belanda tersebut. Hal inilah yang mungkin juga ada kaitannya dengan penamaan Kemah Tabor untuk rumah retret ini. Gunung Tabor adalah salah satu tempat yang menurut tradisi diyakini sebagai tempat perubahan rupa Sang Juru Selamat. Dataran rendah yang mengelilingi Gunung Tabor adalah Lembah Yizreel, yang juga dikenal sebagai Dataran Esdraelon, dan Nazaret berada di bukit-bukit di balik Gunung Tabor. Jadi, penamaan Kemah Tabor mengandung harapan dari transfigurasi Kristus di mana cahaya kemuliaan yang memancar dari wajah Yesus itu untuk memberikan pengajaran kepada para muridnya.
Bangunan rumah retret ini dulu pernah menjadi tempat sementara pendidikan calon imam sebelum dipindahkan ke Ledalero pada tahun 1937. Pada tahun 1943, Jepang menduduki Seminari Tinggi Ledalero. Karena semua pater-profesor berkebangsaan Belanda diinternir, maka para frater mahasiswa filsafat dan teologi dipindahkan ke Mataloko. Di ‘Rumah Tinggi’ kuliah dilanjutkan dengan bantuan para imam yang ada. Yang dimaksud dengan Rumah Tinggi ini adalah bangunan Rumah Retret Mataloko. Bangunan megah ini kerap dikenal dengan nama ‘Rumah Tinggi’, karena pada zaman dulu merupakan satu-satunya bangunan berlantai dua di daerah itu.
Setelah Indonesia merdeka, dan situasi politik sudah stabil, Seminari Tinggi yang sementara beraktivitas di Mataloko akhirnya dikembalikan lagi ke daerah Ledalero di Kabupaten Sikka. Kemudian, bangunan yang berada di Mataloko tersebut difungsikan sebagai Rumah Retret hingga sekarang. Kata Retret diambil dari bahasa Perancis la retraite yang berarti pengunduran diri, menyendiri, menjauhkan diri dari kesibukan sehari-hari, meninggalkan dunia ramai. Retret sering juga disebut khalwat, artinya sama saja dengan mengasingkan diri ke tempat sunyi.
Ditinjau dari tujuan aslinya, retret merupakan latihan rohani, exercitia spiritualia, atau spiritual exercise. Dari kata “latihan” muncullah suatu bayangan mengenai suatu rangkaian usaha atau kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan teratur guna mencapai suatu hasil tertentu. Retret, sebagai latihan rohani merupakan berbagai rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan teratur dalam bidang rohani, seperti berdoa, membuat pemeriksaan batin, mengadakan refleksi, membuat renungan, atau meditasi, merasuki kontemplasi, bersemedi dan lain-lain, guna mencapai hasil tertentu dalam hidup rohani.
Kalau Anda sedang berkunjung ke Kabupaten Ngada, jangan lupa sempatkan mengunjungi bangunan lantai dua dan berbentuk U ini. Selain menyaksikan keindahan arsitektur peninggalan kolonial Belanda, Anda juga menghirup udara sejuk dan pemandangan indah serta asri. *** [240915]

Share:

Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu

Dalam perjalanan dari Bajawa menuju Boawae, sopir rental menunjukkan sebuah bangunan seminari yang berdiri megah di tepi jalan yang dilalui. Kami cukup tertarik untuk melihat bangunan seminari yang kuno dan memiliki halaman yang cukup luas. Seminari tersebut bernama Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu, atau sering juga disebut dengan Seminari Mataloko. Seminari ini terletak di Kelurahan Todabelu, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi seminari ini berada di tepi jalan Trans Flores yang menghubungkan Bajawa-Boawae-Ende, atau tepatnya berada di depan Rumah Retret Kemah Tabor Mataloko.
Seminari adalah tempat pendidikan bagi calon rohaniwan Kristiani, entah itu Kristen yang mendidik pendeta atau Katolik yang mendidik pastor. Seminari berasal dari kata Seminarium dari bahasa Latin yang terbentuk dari kata dasar semen, artinya benih. Jadi, Seminari berarti tempat penyemaian benih panggilan rohani yang ada pada seseorang.


Seminari Santo Yohanes Berkhmans merupakan seminari yang khusus mendidik siswanya untuk menjadi calon imam Katolik. Nama Yohanes Berkhmans diambil dari nama seorang pemuda yang lahir di Kota Diest, Belgia pada 13 Maret 1599. Berkhmans adalah sosok teladan sebagai pelindung kaum muda, terutama bagi para calon imam.
Menurut sejarahnya, Seminari Santo Yohanes Berkhmans ini awalnya didirikan di Kampung Sikka pada 2 Februaru 1926. Pendirinya adalah Pastor Frans Cornelissen SVD setelah memperoleh penugasan dan dukungan dari Monsinyur (Mgr) Arnold Vestraelen SVD, Uskup Kepulauan Sunda Kecil. Bersama dua pastor lainnya, Pastor Frans mulai mengelola Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Sikka dengan tujuh siswa pada awalnya. Pada tahun berikutnya (1927) siswanya bertambah 10 orang, lalu sembilan siswa lagi pada tahun 1928, hingga seluruhnya berjumlah 26 orang.
Setelah berjalan sekitar empat tahun, Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Sikka akhirnya dipindahkan ke Todabelu. Pemindahan itu bertolak dari suatu penilaian bahwa Kampung Sikka tidaklah cukup ideal untuk pengembangan seminari ke depan. Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu diberkati pendiriannya oleh Mgr Arnold Vestraelen SVD pada 15 September 1929. Sehingga, pada setiap tanggal tersebut diperingati sebagai hari berdirinya Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu.
Kompleks Seminari ini menempati lahan seluas sekitar 70 hektar, dan berhawa sejuk. Kawasan tersebut menempati wilayah administratif Kelurahan Todabelu dan Desa Mataloko. Sehingga, seminari tersebut ada juga yang menyebut dengan sebutan Seminari Todabelu atau Seminari Mataloko. Wilayah ini cocok digunakan sebagai lokasi baru lembaga pendidikan khusus menjadi imam Katolik itu. Selain itu, wilayah ini sendiri sebenarnya sejak tahun 1920 sudah berkembang menjadi pusat misi Katolik untuk wilayah Ngada. Ketika angkatan pertama seminari menengah ini tamat tahun 1932, mereka langsung melanjutkan sekolahnya ke seminari tinggi atau setingkat perguruan tinggi di kompleks seminari ini juga. Namun, sejak tahun 1937 seminari tingginya dipindahkan ke Ledalero di Kabupaten Sikka hingga sekarang. *** [240915]

Share:

Danau Ranamese Manggarai Timur

Atas kebaikan sopir mobil rental yang kami tumpangi dari Ruteng, singgahlah sebentar di sebuah danau yang memiliki panorama indah, udaranya sejuk, dikelilingi hutan lebat dan subur. Danau tersebut dikenal dengan Danau Ranamese, yang menjadi objek wisata alam yang cukup menarik. Sopir melepaskan lelah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Bajawa, dan kami pun mencoba menggali informasi perihal danau tersebut dan mengambil gambar dari pinggir jalan lintas Flores untuk mengabadikan keindahan danau tersebut, dan sekaligus berpotret ria.
Danau ini terletak di Jalan Ruteng – Borong, Desa Golo Loni, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi danau ini berada di jalur lintas Flores yang menghubungkan Ruteng-Bajawa-Ende.


Menurut sejarahnya, Danau Ranamese terbentuk karena letusan gunung berapi yang diperkirakan terjadi 400 ratusan tahun silam. Erupsi yang hebat ini mengakibatkan kawah yang ada di gunung api tersebut tertutup air membentuk sebuah danau sehingga bagian tepi danau terlihat curam. Dari segi geologi, danau ini merupakan danau vulkanik yang terbentuk akibat letusan yang fenomenal dari gunung berapi Nampar Nos, atau masyarakat setempat menyebutnya dengan Gunung Ranaka.
Danau yang memiliki luas sekitar 5 hektar, kedalaman 43 meter, dan berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini adalah bagian dari Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, yang meliputi kawasan seluas 32 ribu hektar.
Kondisi geografis yang dimiliki Danau Ranamese ini, menyebabkan memiliki keanekaragaman hayati. Beragam spesies flora dan fauna, termasuk sekitar 250 spesies burung, jenis ikan, beberapa hewan mamalia, dan hutan tropis, ada di kawasan Danau Ranamese.
Suasana danau yang tenang, udara yang sejuk, dengan panorama hutan yang lebat, menjadikan danau ini sangat cocok untuk tempat berlibur atau berwisata mencari ketenangan jiwa. Sayangnya, objek wisata ini masih minim fasilitas pendukung di kawasan Danau Ranamese ini. Tidak ada warung makan, kios souvenir, perahu untuk berkeliling mengitari danau, atau peralatan memancing.
Padahal, jika kawasan Danau Ranamese ini digarap serius untuk kepariwisataan, banyak hal yang bisa dipromosikan. Selain panorama danaunya, ada pula ritual budaya khas Golo Loni yang disebut penti, yaitu upacara syukur atas hasil panen, biasanya digelar pada Agustus atau September.
Tak hanya itu, keanekaragaman hayati yang dimilikinya pun bisa mengundang para botanis untuk melakukan penelitian guna mengeksplorasi flora dan fauna yang ada di kawasan Danau Ranamese ini. *** [230915]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami