Jumat, 11 Desember 2015

Rumah Retret Kemah Tabor Mataloko

Usai melihat bangunan Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu, kami menyeberang jalan arteri melangkahkan kaki melihat bangunan peninggalan kolonial Belanda yang tak kalah menariknya. Salah satu hal yang membuat kagum adalah berjajarnya beberapa topiary pohon cemara hampir setinggi lantai satu bangunan yang ada. Bangunan tersebut adalah Rumah Retret Kemah Tabor Mataloko, atau biasa disebut dengan Rumah Retret Mataloko saja.
Rumah Retret ini terletak di Jalan Trans Flores Bajawa-Ende, Desa Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi rumah retret ini berada di depan Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu.
Semula bangunan ini merupakan rumah tinggal para misionaris SVD di Mataloko yang didirikan pada tahun 1932, atau selang tiga tahun berdirinya bangunan SeminariSanto Yohanes Berkhmans Todabelu yang berada di depannya. Memang, kedua bangunan tersebut ada keterkaitannya dalam pembangunannya. Seminari berfungsi untuk bangunan sekolah atau aktivitas belajar mengajar, sedangkan Rumah Retret digunakan untuk rumah tinggal para frater yang mengajar di seminari, dan sekaligus sebagai tempat untuk melakukan pertemuan atau diskusi di kalangan para frater tersebut.
Rumah Retret ini adalah milik Kongregasi Serikat Sabda Allah. Dalam bahasa Latin, Serikat Sabda Allah ini dikenal dengan Societas Verbi Divini (SVD), yaitu salah satu ordo Gereja Katolik Roma yang didirikan pada tahun 1875 di Steyl, Belanda oleh Santo Arnoldus Janssen. SVD ini melakukan pekabaran injil di wilayah Flores, salah satunya adalah di daerah Kabupaten Ngada ini.


Dipilihnya Mataloko untuk mendirikan rumah retret ini, karena Mataloko adalah sebuah tempat di lereng pegunungan yang berhawa sejuk, dan acapkali berkabut serta memiliki pemandangan yang bagus. Sehingga, lokasi ini dirasa sangat cocok bagi frater-frater yang awalnya didominasi oleh orang Belanda tersebut. Hal inilah yang mungkin juga ada kaitannya dengan penamaan Kemah Tabor untuk rumah retret ini. Gunung Tabor adalah salah satu tempat yang menurut tradisi diyakini sebagai tempat perubahan rupa Sang Juru Selamat. Dataran rendah yang mengelilingi Gunung Tabor adalah Lembah Yizreel, yang juga dikenal sebagai Dataran Esdraelon, dan Nazaret berada di bukit-bukit di balik Gunung Tabor. Jadi, penamaan Kemah Tabor mengandung harapan dari transfigurasi Kristus di mana cahaya kemuliaan yang memancar dari wajah Yesus itu untuk memberikan pengajaran kepada para muridnya.
Bangunan rumah retret ini dulu pernah menjadi tempat sementara pendidikan calon imam sebelum dipindahkan ke Ledalero pada tahun 1937. Pada tahun 1943, Jepang menduduki Seminari Tinggi Ledalero. Karena semua pater-profesor berkebangsaan Belanda diinternir, maka para frater mahasiswa filsafat dan teologi dipindahkan ke Mataloko. Di ‘Rumah Tinggi’ kuliah dilanjutkan dengan bantuan para imam yang ada. Yang dimaksud dengan Rumah Tinggi ini adalah bangunan Rumah Retret Mataloko. Bangunan megah ini kerap dikenal dengan nama ‘Rumah Tinggi’, karena pada zaman dulu merupakan satu-satunya bangunan berlantai dua di daerah itu.
Setelah Indonesia merdeka, dan situasi politik sudah stabil, Seminari Tinggi yang sementara beraktivitas di Mataloko akhirnya dikembalikan lagi ke daerah Ledalero di Kabupaten Sikka. Kemudian, bangunan yang berada di Mataloko tersebut difungsikan sebagai Rumah Retret hingga sekarang. Kata Retret diambil dari bahasa Perancis la retraite yang berarti pengunduran diri, menyendiri, menjauhkan diri dari kesibukan sehari-hari, meninggalkan dunia ramai. Retret sering juga disebut khalwat, artinya sama saja dengan mengasingkan diri ke tempat sunyi.
Ditinjau dari tujuan aslinya, retret merupakan latihan rohani, exercitia spiritualia, atau spiritual exercise. Dari kata “latihan” muncullah suatu bayangan mengenai suatu rangkaian usaha atau kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan teratur guna mencapai suatu hasil tertentu. Retret, sebagai latihan rohani merupakan berbagai rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan teratur dalam bidang rohani, seperti berdoa, membuat pemeriksaan batin, mengadakan refleksi, membuat renungan, atau meditasi, merasuki kontemplasi, bersemedi dan lain-lain, guna mencapai hasil tertentu dalam hidup rohani.
Kalau Anda sedang berkunjung ke Kabupaten Ngada, jangan lupa sempatkan mengunjungi bangunan lantai dua dan berbentuk U ini. Selain menyaksikan keindahan arsitektur peninggalan kolonial Belanda, Anda juga menghirup udara sejuk dan pemandangan indah serta asri. *** [240915]

0 komentar:

Posting Komentar