The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Stasiun di Lumajang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stasiun di Lumajang. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Grobogan

Stasiun Kereta Api Grobogan (GBG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Grobogan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 98 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Dusun Krajan RT. 02 RW. 01 Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Puskesmas Kedungjajang ± 100 meter, atau tepatnya berada di depan Koramil 0821/21.


Bangunan Stasiun Grobogan ini merupakan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan adanya pembangunan jalur rel kereta api dari Klakah-Lumajang-Pasirian yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1896. Stasiun ini diresmikan pada 16 Mei 1896 bersamaan dengan stasiun-stasiun lainnya yang ada di jalur rel Klakah-Lumajang-Pasirian.
Jalur tersebut dikenal dengan jalur SS-DE (Staatsspoorwegen-Dienst der Eenvoudige Lijnen), yaitu jalur yang merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk layanan jalur sederhana atau bukan jalur poros utama sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh Staatsspoorwegen. Pengerjaannya dimulai setahun setelah peresmian jalur Pasuruan-Probolinggo-Klakah.


Jalur DE ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda di suatu tempat berdasarkan potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Pada masa itu, di daerah sepanjang jalur tersebut dikenal memiliki perkebunan-perkebunan yang menjadi komoditas utama dalam perdagangan, seperti kopi dan tebu. Selain itu, juga ada pasir berkualitas yang diminati oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan bangunan-bangunan maupun infrastruktur lainnya.


Hingga tahun 1950-an, jalur ini masih merupakan jalur yang tergolong sibuk. Namun, setelah itu jalur ini mulai meredup, dan pada 1 Februari 1988 jalur ini dinyatakan ditutup lantaran kurang menguntungkan dari segi operasionalnya. Dulu, stasiun ini memiliki 2 jalur rel dengan jalur 2 sebagai sepur lurus di mana yang ke arah utara menuju Stasiun Klakah, dan yang ke arah selatan menuju ke Stasiun Sukodono. Sedangkan, jalur 1 digunakan sebagai persilangan bila terjadi persusulan antarkereta api di jalur tersebut.
Dampak dari tidak aktifnya jalur Klakah-Lumajang-Pasirian ini, stasiun-stasiun yang berada di sepanjang jalur tersebut pun juga tutup. Lambat laun menyebabkan kondisi bangunan stasiun-stasiun tersebut mengalami kerusakan, karena terlalu lama dalam keadaan terlantar, termasuk di antaranya adalah bangunan Stasiun Grobogan ini. 
Kini bangunan stasiun tersebut menjadi kumuh karena digunakan sebagai tempat menyimpan kayu bakar oleh orang sekitar. Banyak relnya yang telah hilang kendati emplasemennya masih terlihat struktur pondasinya, namun suasananya sudah seperti pekarangan rumah (kebon). *** [310718]
Share:

Stasiun Kereta Api Ranuyoso

Stasiun Kereta Api Ranuyoso (RN) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ranuyoso, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 248 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Dusun Kebonan RT. 08 RW. 03 Desa Meninjo, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara SDN Meninjo No. 236 ± 1 kilometer, atau barat laut Balai Desa Meninjo ± 1,7 kilometer.


Karena jaraknya yang agak jauh dengan ibu kota kecamatan, masyarakat setempat mengenalnya dengan Stasiun Meninjo. Hal ini mengingat lokasi stasiun ini berada di wilayah desa Meninjo.
Bangunan Stasiun Ranuyoso ini merupakan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan adanya pembangunan jalur rel kereta api dari Pasuruan-Probolinggo-Klakah yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, dari tahun 1884 hingga tahun 1895. Stasiun Ini diresmikan pada 1 Juli 1895 bersamaan dengan stasiun-stasiun lainnya yang ada di jalur rel Probolinggo-Klakah.


Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (Oosterlijnen) sepanjang 74 kilometer. Pengerjaannya dimulai dari Pasuruan menuju Probolinggo dan selesai pada tahun 1884, selang sepuluh tahun barulah dilanjutkan pengerjaannya dari Probolinggo menuju Klakah.
Dilihat dari bentuk bangunannya, Stasiun Ranuyoso mempunyai kemiripan dengan Stasiun Malasan. Hanya saja, bangunan Stasiun Ranuyoso memiliki pondasi bangunan yang lebih tinggi daripada struktur pondasi yang ada pada bangunan Stasiun Malasan.
 

Stasiun ini memiliki 2 jalur rel dengan jalur 2 sebagai sepur lurus di mana jalur ke arah utara menuju ke Stasiun Malasan, dan jalur yang ke arah selatan menuju ke Stasiun Klakah. Sedangkan, jalur 1 digunakan untuk persilangan.
Stasiun Ranuyoso juga memiliki nasib yang sama dengan Stasiun Malasan. Sebagai stasiun kelas III, stasiun ini tidak memperlihatkan aktivitas dalam menaikkan maupun menurunkan penumpang. Stasiun ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api saja, sehingga stasiun ini terlihat sepi. *** [310718]
Share:

Stasiun Kereta Api Klakah

Stasiun Kereta Api Klakah (KK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Klakah, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 193 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas II.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Klakah No. 11 Kidul Gn. RT. 02 RW. 01, Desa Mlawang, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Pasar Klakah, atau sebelah barat Monumen Kapten Suwandak ± 300 meter.


Bangunan Stasiun Klakah ini merupakan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini terkait dengan adanya pembangunan jalur rel kereta api dari Pasuruan-Probolinggo-Klakah yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, dari tahun 1884 hingga tahun 1895.
Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (oosterlijnen) sepanjang 74 kilometer. Pengerjaannya dimulai dari Pasuruan menuju Probolinggo dan selesai pada tahun 1884, selang sepuluh tahun barulah dilanjutkan pengerjaannya dari Probolinggo menuju Klakah. Stasiun Klakah ini diresmikan pada 1 Juli 1895 bersamaan dengan selesainya pembangunan jalur rel dari Probolinggo menuju Klakah sepanjang 34 kilometer.


Dilihat dari fasadnya, stasiun ini memiliki gaya arsitektur Indische Empire Style. Gaya ini mulanya berakar pada gaya arsitektur Empire Style yang ada di Eropa kemudian disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat. Gaya ini berkembang menjadi suatu gaya arstektur kolonial di Hindia Belanda pada abad ke-18 dan ke-19.
Dibandingkan dengan stasiun-stasiun yang berada di tingkat kecamatan, Stasiun Klakah ini tergolong megah dan besar. Bentuk stasiunnya menyamai dengan tipe stasiun yang dibangun di tingkat  kabupaten/kota pada umumnya. Selain itu, sebagai stasiun yang menjadi pusat percabangan ke beberapa daerah kabupaten, maka stasiun ini semula memiliki banyak jalur. Namun sekarang, tinggal terlihat 4 jalur saja. Jalur 2 digunakan sebagai sepur lurus, ke arah barat menuju Stasiun Ranuyoso dan yang ke timur menuju ke Stasiun Randugaung. Jalur 1,3 dan 4 digunakan untuk persilangan atau persusulan antarkereta api.


Di stasiun ini juga masih terlihat jalur badug/buntu yang lokasinya sejajar dengan bangunan utama stasiun, tepatnya berada di sebelah baratnya. Dulu dari jalur 3 terdapat percabangan menuju ke Lumajang hingga Pasirian sepanjang 36 kilometer. Jalur rel ini dibangun sebagai kelanjutan dari jalur rel Probolinggo-Klakah dan selesai pada 16 Mei 1896. Akan tetapi, jalur ini kemudian dinonaktifkan lantaran dikarenakan menurunnya tingkat okupansi penumpang yang cenderung menurun saat itu.
Setahun kemudian, dari Stasiun Klakah ini dilanjutkan pembangunan lintas oosterlijnen Klakah-Rambipuji-Jember sepanjang 62 kilometer. Jalur rel ini diresmikan pada 1 Juni 1897, dan masih beroperasi sampai sekarang. Dari stasiun ini dihubungkan dengan jalur 2 sebagai jalur sepur lurus yang menuju ke arah timur.
Sebelumnya Stasiun Klakah ini juga sempat mengalami kevakuman dari aktivitas sebagai layakanya sebuah stasiun tapi kemudian beroperasi lagi pada 6 Mei 2015. Dilihat dari letak stasiun ini sebenarnya stasiun ini terbilang cukup strategis dan bangunannya tergolong besar. Sehingga kedepannya ditengah menguatnya manajemen yang lebih baik dari PT KAI, kemungkinan semakin berkembangnya stasiun ini sangatlah propestik seiring ‘naik daunnya’ transportasi kereta api di tanah air. *** [070718]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami