Monday, July 9, 2018

Stasiun Kereta Api Klakah

Stasiun Kereta Api Klakah (KK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Klakah, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 193 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas II.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Klakah No. 11 Kidul Gn. RT. 02 RW. 01, Desa Mlawang, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Pasar Klakah, atau sebelah barat Monumen Kapten Suwandak ± 300 meter.


Bangunan Stasiun Klakah ini merupakan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini terkait dengan adanya pembangunan jalur rel kereta api dari Pasuruan-Probolinggo-Klakah yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, dari tahun 1884 hingga tahun 1895.
Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (oosterlijnen) sepanjang 74 kilometer. Pengerjaannya dimulai dari Pasuruan menuju Probolinggo dan selesai pada tahun 1884, selang sepuluh tahun barulah dilanjutkan pengerjaannya dari Probolinggo menuju Klakah. Stasiun Klakah ini diresmikan pada 1 Juli 1895 bersamaan dengan selesainya pembangunan jalur rel dari Probolinggo menuju Klakah sepanjang 34 kilometer.


Dilihat dari fasadnya, stasiun ini memiliki gaya arsitektur Indische Empire Style. Gaya ini mulanya berakar pada gaya arsitektur Empire Style yang ada di Eropa kemudian disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat. Gaya ini berkembang menjadi suatu gaya arstektur kolonial di Hindia Belanda pada abad ke-18 dan ke-19.
Dibandingkan dengan stasiun-stasiun yang berada di tingkat kecamatan, Stasiun Klakah ini tergolong megah dan besar. Bentuk stasiunnya menyamai dengan tipe stasiun yang dibangun di tingkat  kabupaten/kota pada umumnya. Selain itu, sebagai stasiun yang menjadi pusat percabangan ke beberapa daerah kabupaten, maka stasiun ini semula memiliki banyak jalur. Namun sekarang, tinggal terlihat 4 jalur saja. Jalur 2 digunakan sebagai sepur lurus, ke arah barat menuju Stasiun Ranuyoso dan yang ke timur menuju ke Stasiun Randugaung. Jalur 1,3 dan 4 digunakan untuk persilangan atau persusulan antarkereta api.


Di stasiun ini juga masih terlihat jalur badug/buntu yang lokasinya sejajar dengan bangunan utama stasiun, tepatnya berada di sebelah baratnya. Dulu dari jalur 3 terdapat percabangan menuju ke Lumajang hingga Pasirian sepanjang 36 kilometer. Jalur rel ini dibangun sebagai kelanjutan dari jalur rel Probolinggo-Klakah dan selesai pada 16 Mei 1896. Akan tetapi, jalur ini kemudian dinonaktifkan lantaran dikarenakan menurunnya tingkat okupansi penumpang yang cenderung menurun saat itu.
Setahun kemudian, dari Stasiun Klakah ini dilanjutkan pembangunan lintas oosterlijnen Klakah-Rambipuji-Jember sepanjang 62 kilometer. Jalur rel ini diresmikan pada 1 Juni 1897, dan masih beroperasi sampai sekarang. Dari stasiun ini dihubungkan dengan jalur 2 sebagai jalur sepur lurus yang menuju ke arah timur.
Sebelumnya Stasiun Klakah ini juga sempat mengalami kevakuman dari aktivitas sebagai layakanya sebuah stasiun tapi kemudian beroperasi lagi pada 6 Mei 2015. Dilihat dari letak stasiun ini sebenarnya stasiun ini terbilang cukup strategis dan bangunannya tergolong besar. Sehingga kedepannya ditengah menguatnya manajemen yang lebih baik dari PT KAI, kemungkinan semakin berkembangnya stasiun ini sangatlah propestik seiring ‘naik daunnya’ transportasi kereta api di tanah air. *** [070718]

0 comments:

Post a Comment