The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Kediri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata di Kediri. Tampilkan semua postingan

Daftar Bangunan Kuno di Kediri

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Kediri:

KAB. KEDIRI:

Arca ini terletak di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Candi ini terletak di Desa Surowono, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Candi ini terletak di Dusun Candirejo, Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Gereja ini terletak di Jalan Raya Puhsarang RT.01 RW.02 Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur.

Petilasan ini terletak di Dusun Menang RT.02 RW.03 Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Rumah sakit ini terletak di Jalan Achmad Yani No. 25 Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Sendang Tirta Kamandanu
Sendang ini terletak di Dusun Menang RT. 03 RW. 03 Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Kras
Stasiun ini terletadi Jalan Stasiun Kras, Desa Purwodadi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Pk rovinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Minggiran
Stasiun ini terletak di Jalan Minggiran RT. 01 RW. 03 Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Ngadiluwih
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Ngadiluwih, Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Papar
Stasiun ini terletak di Jalan Kertosono-Kediri, Kelurahan Papar, Kecamatan Papar,Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Purwoasri
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Purwoasri, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Susuhan
Stasiun ini terletak di Jalan Kertosono-Kediri, Desa Gampengrejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur


KOTA KEDIRI:

Gedung ini terletak di Jalan Brawijaya No. 2 Kelurahan Pocanan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Gedung ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 143 Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kediri Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Gereja ini terletak di Jalan KDP Slamet No. 43 Kampung Bandar Lor, Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Hotel ini terletak di Jalan Basuki Rahmat No. 4 Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Klenteng ini terletak di Jalan Yos Sudarso No. 148 RT.15 RW.03 Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Museum Airlangga
Museum ini terletak di Jalan Mastrip No. 1 Desa Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Kediri
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Semampir, Kecamatan Kediri, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur
Share:

Arca Totok Kerot

Arca Totok Kerot merupakan rangkaian dari perjalanan keliling Kediri sebelum mencapai Rumah Sakit (RS) HVA Toeloengredjo yang menjadi kunjungan terakhir. Arca Totok Kerot adalah arca atau patung yang cukup besar terbuat dari batu andesit, dan masih menyimpan misteri.
Arca ini terletak di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi arca ini berada satu kilometer dari simpang lima gumul yang mulai menjadi ikon di Kabupaten Kediri, atau sekitar 11 kilometer arah selatan Petilasan Sri Aji Jayabaya.
Menurut ceritera rakyat setempat, arca ini merupakan penjelmaan putri cantik, anak demang di Lodaya, Blitar, yang memiliki kesaktian. Sang putri berkeinginan pergi ke Pamenang untuk diperistri oleh Prabu Jayabaya yang tersohor akan kedigdayaannya kendati dilarang oleh orangtuanya. Lalu, berangkatlah sang putri tersebut ke negeri Pamenang, di mana Prabu Jayabaya bertahta.


Sayang impian sang putri itu tidak terwujud karena Prabu Jayabaya menolak untuk memperistrinya. Akhirnya, terjadi perang tanding di antara keduanya. Karena kalah sakti, sang putri mulai terdesak. Saat itulah, Prabu Jayabaya mengeluarkan sabda dengan menyebut sang putri memiliki kelakuan seperti buto (raksasa), dan berubahlah sang putri menjadi arca berbentuk buto. Arca ini kemudian dikenal dengan Totok Kerot. Totok, dalam bahasa Kawi berarti kutukan, dan kerot adalah suara gigi yang beradu saat mengumbar marah.
Dulunya, arca ini terbenam di dalam tanah di persawahan milik warga selama ratusan tahun, dan baru ditemukan oleh penduduk pada tahun 1981. Kemudian baru tahun 1983, arca tersebut tergali secara utuh. Konon, arca yang menghadap ke barat ini pernah dipindahkan ke alun-alun Kediri akan tetapi kemudian balik lagi ke tempat asalnya.
Bila dilihat dari bentuknya, arca Totok Kerot merupakan arca Dwarapala. Dwarapala adalah patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Buddha, berbentuk manusia atau monster (buto). Biasanya Dwarapala diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain untuk melindungi tempat suci atau tempat keramat di dalamnya. Penulis pernah melihat arca Dwarapala sebesar ini di Singosari dan Candi Plaosan. Di Singosari, diyakini sebagai arca Dwarapala terbesar di Jawa, dan kembar. Menurut penduduk setempat di sana, arca Dwarapala tersebut diperkirakan sebagai pintu gerbang ke Kraton Singosari. Sedangkan, yang berada di Candi Plaosan yang sudah ada sejak abad ke-9 untuk melindungi Candi Plaosan sebagai tempat ibadah umat Buddha.
Tak seperti di Singosari maupun Plaosan, arca Totok Kerot masih menyimpan tanda tanya secara arkeologis. Lokasinya yang menyendiri di tengah persawahan yang saat penulis berkunjung sedang ditanami jagung, menunjukkan tidak lazim. Lalu, arca Dwarapala pada umumnya buto berkelamin laki-laki tapi arca Totok Kerot berkelamin perempuan. Dua pertanyaan inilah yang masih menggelayuti sejumlah arkeolog akan tabir dari arca tersebut. *** [240515]
Share:

Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang

Gereja merupakan bangunan ibadat umat kristiani yang mewadahi kegiatan spiritual bagi jemaatnya. Berbagai bentuk desain gereja telah tercipta sejak lama dan beberapa di antaranya sekarang sudah menjadi aset sejarah. Salah satu dari sekian karya arsitektur yang dapat memperlihatkan ekspresi dari pengungkapan manusia dan lingkungannya serta dapat berkomunikasi karena di dalam karya tersebut banyak memperlihatkan simbol-simbol yang akrab dengan manusia dan lingkungannya adalah Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang.
Gereja ini terletak di Jalan Raya Puhsarang RT.01 RW.02 Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di depan Wisma Mbah Kung, dan berada di sebuah bukit kecil yang di bawahnya mengalir sungai berbatu-batu dengan sekelilingnya penuh pepohonan bambu.


Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang atau Gereja Puhsarang didirikan atas prakarsa dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek Ir. Henri Maclaine Pont. Henri Maclaine Pont, seorang arsitek kelahiran Meester Cornelis (Jatinegara) pada 21 Juni 1885 dari seorang Ibu yang keturunan Bugis, dan Ayah yang orang Belanda.
Romo Wolters meminta kepada Maclaine agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam merancang gereja di stasi Puhsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu. Corak lokal Gereja Puhsarang tercetus, ketika konsep Romo Wolters yang diajukan tersebut bertemu dengan konsep sang arsitek Henri Maclaine Pont. Sehingga muncul keunikan dalam hal ke-Jawa-an, kekatolikan, lokalitas, sekaligus universalitas yang setiap bagiannya berguna untuk sebuah pengajaran serta tempat untuk melakukan perenungan akan arti sebuah misteri iman.
Peletakan batu pertama dalam pembangunan gereja ini dilakukan oleh Monseignor Theophile de Backere CM pada tanggal 11 Juni 1936, bertepatan dengan Sakramen Maha Kudus. Bangunan gereja ini selesai pada tahun 1937.


Secara fisik, bangunan utamanya menyerupai sebuah tenda atau sebuah kubah besar yang ditopang pada keempat sudutnya oleh soko guru. Bentuk tenda dan soko guru merupakan esensi dari arsitektur Jawa. Kompleks Gereja Puhsarang ini terdiri atas bangunan induk, pendapa, gapura mirip candi, gapura Santo Yusuf, menara Santo Henrikus, ruang gamelan, ruang terbuka dan patung Kristus Raja. Dalam membangun gereja ini, Maclaine selalu menggunakan bahan-bahan lokal dan tenaga lokal serta bangunannya disesuaikan dengan situasi setempat.
Gereja Puhsarang, kini menjadi landmark atau tetenger dari kawasan tersebut, dan sekaligus mempunyai arti yang cukup penting bagi masyarakat sekitar. Hal ini dapat terjadi karena fasilitas yang terdapat di sekitar gereja cukup dapat mewadahi kegiatan-kegiatan pokok dari masyarakat setempat. Fasilitas tersebut seperti ruang terbuka, sekolah serta makam, sehingga fasilitas tersebut menjadikan lingkungan gereja menjadi pusat kegiatan umum masyarakat sekitar gereja maupun masyarakat Desa Puhsarang pada umumnya. *** [240515]

Kepustakaan:
Maria I. Hidayatun dan Christine Wonoseputro, 2005. Telaah Elemen-Elemen Arsitektur Gereja Puhsarang Kediri Sebuah Pengayaan Kosa Kata Arsitektur Melayu (Nusantara), dalam International Seminar on Malay Architecture as Lingua Franca Jakarta, June 22-23 2005
Share:

Loka Muksa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya

Tak begitu jauh dari situs peninggalan Sendang Tirta Kamandanu yang berjarak sekitar 500 meter arah barat daya, terdapat petilasan tempat muksa atau pamuksan Prabu Jayabaya yang dikenal dengan sebutan Loka Muksa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya.
Loka Muksa ini terletak di Dusun Menang RT.02 RW.03 Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi petilasan ini berada di pinggiran pemukiman yang bernuansa perladangan atau persawahan sehingga bila tidak banyak bertanya, pengunjung akan kesulitan menemukan lokasi tersebut. Hal ini karena minimnya penanda ke lokasi tersebut.
Untuk menuju Loka Muksa ini, pengunjung bisa menyusuri jalan dari Kota Kediri menuju Pare. Sesampainya di pertigaan Gurah, lalu belok kiri sekitar 3 Km hingga menemui Kantor Camat Wates. Dari depan Kantor Camat Wates, lurus sampai ada tulisan Kawasan Petilasan Sri Aji Jayabaya.
Menurut ceritera yang beredar di masyarakat setempat, seorang bernama Warsodikromo yang pada suatu malam di tahun 1860 bermimpi bahwa dalam sebuah areal gundukan tanah yang telah menjadi rawa yang dikelilingi semak belukar dulunya adalah tempat bertahta dan sekaligus muksa Raja Kediri yang kesohor, yaitu Prabu Jayabaya. Mimpinya tersebut kemudian diceriterakan kepada penduduk di sekitarnya. Atas petunjuk dari mimpi tersebut, seluruh penduduk secara gotong royong mengadakan pencarian lokasi yang ada dalam mimpi tersebut.
Akhirnya dengan dibantu oleh paranormal, petilasan tersebut berhasil diketemukan. Jadi, awalnya petilasan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya ini semula hanyalah berupa seonggok tanah bernisan yang tertutup semak belukar dan batu-batu berserakan yang berada di bawah naungan sebuah pohon kemuning (Murraya paniculata) besar yang rindang.


Sejak saat itu, tempat yang tidak begitu luas yang berada di tengah rawa mulai ramai dikunjungi orang. Mereka merasa bahagia sekaligus terharu. Bahagia karena berkesempatan dapat mengunjungi petilasan seorang Raja Panjalu (Kediri) yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai raja besar atau ratu gung binathara di Tanah Jawa (1130 – 1157) yang menjadi titisan Bathara Wisnu. Sedangkan, terharu karena melihat keadaan petilasan yang tidak sepadan dengan kebesaran Prabu Jayabaya.
Keluarga Besar Hondodento dari Yogyakarta berhasil memugar petilasan tersebut secara gotong royong. Proses pemugarannya memakan waktu lebih kurang satu tahun, yaitu sejak dari peletakan batu pertama pada tanggal 22 Februari sampai dengan tanggal 17 April 1976. Luas tanah yang dipugar meliputi lahan seluas 1.650 m², yang penggunaannya atas persetujuan pihak pimpinan desa atas dasar keputusan kumpulan desa melalui musyawarah desa yang disahkan dengan Keputusan Kepala Desa Menang tertanggal 20 Februari 1975 Model E Nomor 24.
Ketika selesai dan diresmikan, petilasan ini diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Kediri dan menjadi aset tersendiri bagi kepariwisataan di daerah ini, khususnya bagi peminat wisata spiritual. Ada tiga bangunan pokok yang berada di Kompleks Petilasan ini, yaitu Loka Muksa (lokasi Prabu Jayabaya menjalani muksa, yaitu jiwa dan raganya kembali ke alam keabadian secara bersama-sama), Loka Busana (tempat busana Prabu Jayabaya diletakkan sebelum muksa), serta Loka Makuta (tempat mahkota diletakkan sebelum muksa).
Dari ketiga bangunan tersebut, yang menjadi inti dari petilasan ini adalah Loka Muksa. Bangunan Loka Muksa terdiri dari bangunan lingga dan yoni yang menyatu dengan sebuah batu manik berlobang tembus di atasnya, serta seluruhnya dikelilingi pagar beton bertulang yang tembus pandang yang dilengkapi tiga buah pintu.
Mengunjungi kompleks petilasan Prabu Jayabaya memang memiliki motivasi yang beragam bagi pengunjungnya. Ada yang ingin melakukan tirakat atau perjalanan spiritual terhadap leluhur maupun ada yang penasaran dengan kompleks tersebut. Lepas dari motivasi pengunjung, ada yang menarik untuk disimak, yaitu mengenai sosok Prabu Jayabaya itu sendiri.
Prabu Jayabaya merupakan raja dari Kerajaan Kediri yang menggantikan Raja Jayawarsa, putra Airlangga bertahta menjadi raja pertama di Kerajaan Panjalu. Jadi, Jayabaya merupakan cucu dari Airlangga. Ketika Kerajaan Jenggala dikalahkan oleh Kerajaan Panjalu, maka wilayah Kerajaan Jenggala dipersatukan dengan Kerajaan Panjalu, sehingga terbentuklah sebuah kerajaan baru di wilayah Jawa Timur, yaitu Kerajaan Kediri pada abad ke-11 Masehi.
Raja Jayabaya bertahta di Kerajaan Kediri dari tahun 1135 – 1157 M. Seperti tradisi kekuasaan yang ada di Kerajaan Kediri, umumnya raja-raja yang memerintah Kerajaan Kediri memiliki lencana atau lambang sendiri. Demikian juga dengan Raja Jayabaya, raja ini menggunakan lencana Narasingha, yaitu bentuk setengah manusia dan setengah singa. Sedangkan, gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaannya yang juga menghasilkan banyak karya sastra, seperti kitab Bharatayudha, kitab Gatotkacasraya, dan kitab Hariwangsa. Tetapi yang paling terkenal di masa pemerintahan Raja Jayabaya ini adalah Jangka Jayabaya, yaitu ramalan tentang masa depan Pulau Jawa yang ditulis oleh Ronggowarsito. *** [240515]

Share:

Sendang Tirta Kamandanu

Usai mengunjungi Candi Tegowangi, perjalanan dilanjutkan ke Sendang Tirta Kamandanu. Sendang Tirta Kamandanu merupakan situs peninggalan Kerajaan Kediri di masa pemerintahan Prabu Jayabaya yang bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa, pada abad ke-12 silam.
Sendang Tirta Kamandanu terletak di Dusun Menang RT.03 RW.03 Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi sendang ini berada di lingkungan pemukiman yang masih dikelilingi oleh ladang atau tanah persawahan.
Nama Sendang Tirta Kamandanu ini lazim terdengar dalam dunia pewayangan. Sendang adalah kolam alami, sedangkan Tirta Kamandanu memiliki makna sumber mata air yang memberikan kehidupan atau Ainul Hayat. Jadi sesuai namanya, Sendang Tirta Kamandanu ini merupakan kolam alami yang berisikan sumber mata air yang memberikan kegunaan yang beraneka ragam bagi kehidupan makhluk hidup.
Konon, tempat ini merupakan petirtaan (mata air yang dianggap suci) yang digunakan ketika Prabu Jayabaya bertahta. Selain sebagai tempat pemandian, air dari Sendang Tirta Kamandanu ini dipercaya oleh masyarakat sekitar pernah digunakan untuk melukad (mandi dan bersuci) oleh Prabu Jayabaya sebelum melakukan parama mokhsa (kembali menghadap Tuhan beserta dengan raganya).


Semula sendang ini masih sangatlah sederhana. Hanya sebuah sumber mata air yang dikelilingi oleh beberapa pohon besar nan tua, seperti pohon beringin (Ficus benjamina) dan pohon pule (Alstonia scholaris). Namun, setelah dipugar sejak tanggal 26 April 1980 atas prakarsa Yayasan Hondodento Yogyakarta, dan didukung oleh segenap lapisan masyarakat, situs peninggalan ini memiliki wajah baru. Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 2.016 m² ini menjadi taman yang berbentuk empat persegi panjang dengan pagar keliling berukuran 42 m x 48 m, dan dilengkapi dengan empat buah patung dewa di keempat sudutnya.
Memasuki kompleks situs ini, pengunjung akan melewati halaman yang lumayan luas namun sejuk karena rindangnya pepohonan yang ada. Halaman ini merupakan pelengkap dari situs tersebut sebelum menuju bangunan utamanya. Antara bangunan pelengkap dan bangunan utama ditandai dengan berdirinya gapura utama sebagai Kori Agung yang berbentuk Candi Bentar. Setelah melewati Kori Agung tersebut, pengunjung akan masuk ke dalam lingkungan bangunan utama dari situs tersebut, yaitu sendang yang berupa kolam pemandian yang airnya selalu mengalir melalui 3 tingkatan (sumber mata air, tempat penampungan, dan kolam pemandian). Kolam ini dilengkapi dengan pendopo, patung Ganesha setinggi 4,5 myang berpunggungan dengan patung Syiwa setinggi 5 m, tempat ganti pakaian, gapura, tempat mengambil air dan dikelilingi pagar juga.
Bila dilihat dari prospek fisiknya, situs peninggalan Sendang Tirta Kamandanu ini mampu melestarikan sumber mata air, meningkatkan daya guna air dan sekaligus menambah perbendaharaan monumen sejarah di Kabupaten Kediri. Selain itu, melihat banyak pepohonan yang terdapat di dalam kompleks tersebut, situs tersebut juga memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi Taman Hutan Rakyat di kemudian hari. *** [240515]
Share:

Candi Tegowangi

Kabupaten Kediri merupakan salah satu tujuan wisata budaya yang memiliki potensi peninggalan sejarah yang menarik. Sebagai kawasan bekas kerajaan kuno, Kediri menyisakan beberapa buah cand. Salah satunya adalah Candi Tegowangi.
Candi ini terletak di Dusun Candirejo, Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi candi ini berada di timur laut Kota Kediri ± 24 Km atau 4 Km dari Kota Pare.
Untuk menuju candi ini tidak tergolong sulit karena Jalan Pare – Papar cukup halus aspalnya. Penanda untuk masuk lokasi candi ini dari jalan tersebut adalah pertigaan SDN Tegowangi ke utara melewati Kantor Desa Tegowangi.
Lingkungan candi ini merupakan kawasan pemukiman yang masih tergolong asri. Di sekeliling Candi Tegowangi terdapat beberapa pohon sonokeling (Dalbergia latifolia) dan pohon sengon (Albizia chinensis), dan tepat di sebelah utara candi ada lapangan milik Desa Tegowangi.


Menurut Kitab Pararaton, candi ini bernama Candi Tigawangi, sebagai tempat pendharmaan (memuliakan) Bhre Matahun Kapisan, suami Bhre Lasem Kapisan, yang diberi nama Kusumapura. Ia merupakan kawasan dharmmahaji (tempat yang disucikan karena menjadi tempat pendharmaan abu jenazah kerajaan). Dulu semasa Bhre Matahun Kapisan masih hidup, dia pernah mendapat petaka karena sebuah penyakit yang hampir tidak bisa disembuhkan. Kalau tidak mendapat pertolongan dari Dang Hyang Smaranatha dan Dang Hyang Panawasikan, usianya tidak bakal panjang. Dan begitu dia mangkat, diguratkanlah cerita Kidung Sudamala, sebuah kidung pengruwatan pada dinding-dinding pendharmaannya.
Dalam Kitab Negarakertagama, Bhre Matahun Kapisan, sepupu Prabu Hayam Wuruk, mangkat pada tahun 1388. Dua belas tahun kemudian sesuai kebiasaan yang berlaku dalam agama Siwa Buddha, pendharmaannya baru didirikan, yaitu tepat pada tahun 1400 dengan upacara srada, saat Prabu Hayam Wuruk yang bergelar Sri Rajasanagara berkuasa. Bukan tanpa alasan pendharmaannya didirikan di Keling. Di daerah ini, dulu Dang Hyang Smaranatha dan Dang Hyang Panawasikan menghilang tak tentu rimbanya. Menghilang semenjak Perang Bubat (1357) terjadi. Dan sudah menjadi wasiat Bhre Matahun begitu meninggal.


Secara umum Candi Tegowangi berdenah bujursangkar menghadap ke barat, berukuran 11,20 m x 11,20 m dengan tinggi 4,35 m. Pondasinya terbuat dari bata, sedangkan batur kaki dan sebagian tubuh yang tersisa terbuat dari batu andesit. Bagian kaki candi berlipit dan berhias. Tiap sisi kaki candi ditemukan tiga panil tegak yang dihiasi raksasa (gana) duduk jongkok, kedua tangan diangkat ke atas seperti endukung bangunan candi. Di atasnya terdapat tonjolan-tonjolan berukir melingkari kaki candi, di atas tonjolan terdapat sisi genta yang berhias.
Pada bagian tubuh candi, di tengah-tengah pada setiap sisinya terdapat pilar polos yang menghubungkan badan dan kaki candi. Pilar-pilar itu tampak belum selesai dikerjakan. Di sekeliling tubuh candi dihiasi relief cerita Sudamala yang berjumlah 14 panil yaitu 3 panil di sisi utara, 8 panil di sisi barat dan 3 panil sisi selatan. Cerita ini berisi tentang ruwatan (pensucian) Dewi Durga dalam bentuk jelek dan jahat menjadi Dewi Uma dalam bentuk baik yang dilakukan oleh Sadewa, salah satu dari Pandawa. Sedangkan, pada tubuh candi terdapat yoni dengan ceret (pancuran) berbentuk naga.
Di halaman candi terdapat beberapa arca, yaitu Parwati Ardhanari, Garuda berbadan manusia dan sisi candi di sudut tenggara. Berdasarkan arca-arca yang ditemukan dan adanya yoni di bilik candi maka candi ini berlatar belakang agama Hindu. *** [240515]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami