The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta Heritage. Tampilkan semua postingan

Jejak Revolusi Industri di Jantung Yogyakarta: Kisah Lokomotif Uap Marshall Britannia di Stasiun Tugu

Di antara keramaian Malioboro, terdapat sebuah benda tua yang sering dilewatkan oleh wisatawan. Ia berada di sisi utara pintu timur Stasiun Yogyakarta, bertahan di tepi Jalan Margo Utomo. Bentuknya mirip lokomotif kuno dengan cerobong asap, roda besi besar, dan bodi hitam pekat yang mencerminkan kesan industri masa lalu. Banyak orang mengira itu kereta tua, padahal ia bukanlah lokomotif rel yang biasanya melintas membawa penumpang.

Benda bersejarah itu adalah Monumen Lokomotif Uap Stasiun Yogyakarta, sebuah lokomotif uap Marshall Britannia yang menjadi saksi bisu perkembangan industri di Jawa pada masa kolonial. Kehadirannya seolah menjadi pengingat bahwa Yogyakarta bukan hanya kota budaya dan wisata, tetapi juga pernah bersentuhan erat dengan denyut revolusi dunia industri.

Monumen Lokomotif Uap Stasiun Yogyakarta di Jalan Margo Utomo No. 1 Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedong Tengen, Kota Yogyakarta

Lokomotif uap ini dipajang tepat di seberang ujung Jalan Malioboro, kawasan yang kini dikenal sebagai pusat wisata dan perdagangan paling hidup di Yogyakarta. Di tengah lalu-lalang wisatawan, suara kendaraan, dan keramaian kota, mesin uap tua itu berdiri tenang membawa cerita dari lebih seabad silam.

Sekilas tampilannya memang menyerupai kereta api kecil. Namun sebenarnya mesin ini adalah mesin uap portabel satu silinder buatan Marshall, Sons & Co. Ltd., perusahaan asal Gainsborough, Inggris, yang terkenal sebagai produsen mesin industri dan pertanian berbasis tenaga uap. Mesin semacam ini dikenal dengan istilah “lokomobil” karena dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan roda tanpa memerlukan rel.

Cerobong asap lokomobil buatan Marshall, Sons & Co. Ltd., Inggris

Pada akhir abad ke-19, mesin uap sedang berada di puncak kejayaan. Revolusi industri yang dipicu penemuan mesin uap oleh James Watt mengubah wajah dunia. Pabrik tekstil, pertanian, pertambangan, hingga industri pengolahan mulai meninggalkan tenaga manusia dan hewan untuk beralih ke tenaga mekanik. Gelombang modernisasi itu turut menjalar ke Hindia Belanda, termasuk Pulau Jawa yang kala itu menjadi pusat industri gula terbesar.

Belanda kemudian mendatangkan berbagai mesin uap portabel dari Eropa untuk mendukung produksi gula. Salah satunya adalah lokomobil Marshall Britannia yang kini dipamerkan di Stasiun Tugu. Di Yogyakarta, mesin ini lazim digunakan untuk menggerakkan alat penggilingan dan pengolahan tebu di pabrik gula.

Plakat nama produsen mesin uap portabel Marshall, Sons & Co.

Marshall, Sons & Company sendiri memiliki sejarah panjang dalam dunia industri Inggris. Perusahaan yang didirikan William Marshall pada tahun 1848 itu awalnya memproduksi peralatan pabrik sebelum berkembang menjadi pembuat mesin pertanian, ketel uap portabel, hingga traktor. Nama Marshall kemudian dikenal luas sebagai produsen mesin uap berbentuk lokomotif yang tangguh dan efisien untuk kebutuhan industri maupun pertanian.

Lokomobil di Stasiun Yogyakarta ini bekerja menggunakan bahan bakar batubara atau kayu bakar. Uap panas dari ketel menghasilkan tekanan tinggi yang menggerakkan piston dan roda gaya besi besar di bagian samping mesin. Putaran itu lalu diteruskan menggunakan sabuk ke mesin penggilingan atau alat produksi lainnya. Seluruh tubuhnya terbuat dari besi dengan balutan cat hitam khas mesin industri era kolonial, menghadirkan kesan kokoh sekaligus artistik. 

Bodi hitam pekat mesin uap portabelMarshall, Sons & Co.yang mencerminkan kesan industri masa lalu

Dahulu, mesin seperti ini biasanya dipindahkan menggunakan tenaga manusia atau hewan menuju lokasi kerja. Meski sederhana dibanding teknologi modern, pada zamannya lokomobil merupakan simbol kemajuan teknologi yang sangat revolusioner.

Kini, lokomobil Marshall Britannia itu memang tak lagi mengepulkan asap atau menggerakkan mesin penggilingan tebu. Namun keberadaannya di halaman Stasiun Tugu menyimpan jejak penting tentang bagaimana teknologi industri pernah ikut membentuk sejarah Yogyakarta. Di antara kereta modern yang datang dan pergi setiap hari, mesin tua itu seolah terus bercerita tentang masa ketika tenaga uap menjadi penggerak utama peradaban. *** [170526



Share:

Mengenal Lokomotif D 301 61 27, Monumen Sejarah di Halaman Selatan Stasiun Tugu Yogyakarta

Di halaman depan Stasiun Yogyakarta sisi selatan, tepatnya di kawasan Jalan Pasar Kembang, Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, saya melihat sebuah lokomotif tua yang dipajang anggun sebagai monumen sejarah. 

Di tengah hiruk-pikuk wisatawan dan lalu lalang kendaraan, lokomotif berseri D 301 61 27 itu berdiri diam, seolah menjadi penanda bahwa Stasiun Yogyakarta bukan sekadar tempat datang dan pergi kereta, melainkan juga ruang penyimpan jejak panjang perjalanan perkeretaapian Indonesia.

Lokomotif jadul tersebut kini dikenal sebagai Monumen Lokomotif yang menjadi ikon bernuansa sejarah dari Stasiun Yogyakarta, atau yang akrab disebut Stasiun Tugu. Kehadirannya menghadirkan suasana nostalgia, mengingatkan orang pada masa ketika lokomotif diesel hidrolik menjadi tulang punggung layanan kereta api di berbagai jalur cabang di Jawa.

Lokomotif D 301 61 27 yang dipamerkan di halaman depan Stasiun Tugu sisi selatan ini merupakan bagian dari lokomotif diesel hidrolik seri D 301 yang didatangkan ke Indonesia sebanyak 80 unit. 

Lokomotif D 301 61 27 yang menjadi monumen sejarah di halaman Stasiun Tugu Yogyakarta sisi selatan

Penomorannya pun memiliki arti tersendiri. Huruf D menunjukkan susunan roda atau konfigurasi gandar D, yang berarti lokomotif ini memiliki empat gandar penggerak. Angka 3 setelah aksara D memperlihatkan bahwa lokomotif ini menggunakan penggerak diesel hidrolik. Sementara angka 01 menunjukkan seri lokomotif. 

Dua digit berikutnya, yakni 61, merujuk pada tahun lokomotif tersebut mulai dinas atau dioperasikan, yaitu tahun 1961. Sedangkan dua digit terakhir, 27, menunjukkan nomor urut lokomotif dari keseluruhan armada yang didatangkan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).

Lokomotif D301 ini merupakan lokomotif langsir atau shunting locomotive dan layanan jarak pendek yang diproduksi oleh Fried Krupp Lokomotivfabriek Essen, Jerman. Krupp sendiri dikenal sebagai pabrik industri berat yang memproduksi berbagai kebutuhan militer, lokomotif uap, gerbong, kereta, hingga aneka produk berbahan dasar baja. Perusahaan keluarga yang berdiri sejak tahun 1811 itu didirikan oleh Friedrich Krupp melalui Krupp Gusstahlfabrik, sebuah pabrik pengecoran baja di dekat Sungai Ruhr, Jerman.

Wajah lokomotif D 301 61 27 dari sisi timur

Di kalangan pencinta kereta api, D 301 kerap disebut sebagai “adik” dari lokomotif D300 karena bentuknya yang hampir serupa, namun memiliki performa yang lebih baik. Meski tugas utamanya melayani aktivitas langsir, lokomotif D 301 juga digunakan untuk menarik kereta penumpang dan barang di sejumlah jalur cabang. Lokomotif ini mulai beroperasi di wilayah Jawa Tengah maupun Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1961.

Pada masanya, lokomotif ini diperkirakan pernah melayani lintas Yogyakarta–Magelang–Secang maupun Yogyakarta–Srandakan–Ngabean–Palbapang serta Ngabean–Pasargedeh–Pundung. Karena sering melintasi jalur yang berdampingan langsung dengan jalan raya, kecepatan maksimum lokomotif ini dibatasi hanya sekitar 25 kilometer per jam. 

Lambat memang, tetapi justru dari kelambatan itulah masyarakat zaman dulu dapat menyaksikan kereta api sebagai bagian akrab dari kehidupan sehari-hari, yang melintas dekat pasar, menyapa anak-anak kecil, dan membelah kampung dengan bunyi peluit yang kini tinggal kenangan.

Wajah lokomotif D 301 61 27 dari sisi barat

Setelah masa baktinya usai, lokomotif D301 itu kemudian diabadikan menjadi monumen sejarah. Namun ada satu hal yang sempat mengusik pikiran saya ketika melihatnya usai mendampingi anak wedok mengikuti Kejuaraan Karate di GOR Amongrogo pada Ahad, 31 Agustus 2025. Pada badan lokomotif tertulis D 301 61 27, tetapi di prasasti peresmian yang ditandatangani Direktur Utama PT KAI (Persero) Edi Sukmoro tertanggal 12 Desember 2018 justru tercantum “Monumen Lokomotif D 301 22”.

Barangkali itu sekadar kekeliruan penulisan yang luput dari perhatian. Sebab manusia, sehebat apa pun merawat sejarah, tetap memiliki kemungkinan alpa dalam mencatat detail-detail kecil. Namun justru di situlah sejarah menjadi menarik. Ia tidak selalu hadir sebagai kisah yang sepenuhnya rapi dan sempurna. Kadang ada angka yang tertukar, huruf yang terlewat, atau prasasti yang tak sepenuhnya sejalan dengan kenyataan di depannya. 

Akan tetapi, lokomotif tua itu tetap berdiri tegak, seolah ingin mengajarkan bahwa nilai sebuah perjalanan tidak ditentukan oleh sempurnanya catatan, melainkan oleh jejak pengabdian yang pernah dilaluinya. Dan mungkin, sebagaimana kereta yang terus berjalan meski rel kadang berderit, sejarah pun tetap melaju meski sesekali manusia keliru menuliskan angka di batu peringatan. *** [150526]

Share:

Prasasti Lintakan

Prasasti Lintakan bertarikh 841 Çaka atau bertepatan dengan 12 Juli 919 M dengan memakai aksara dan berbahasa Jawa Kuno. Prasasti Lintakan dipahatkan pada tiga buah lempeng tembaga masing-masing berukuran 55,5 x 24 cm dengan ketebalan 0,3 cm. Bagian atas terdapat lubang kecil, dan bertuliskan di satu sisi masing-masing berisi 17, 20 dan 22 baris.
Prasast ini berasal dari daerah Yogyakarta. Dulunya, prasasti ini dimiliki oleh Pangeran Ngabehi di Yogyakarta lalu diberikan kepada Batavia Society pada tahun 1856, dan sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris  E13a dan c.
Prasasti ini pernah diterbitkan oleh Cohen Stuart dalam KO I, 1875: 1-6. Damais menerbitkannya dalam EEI IV, 1995: 51. Sarkar menerbitkan dalamnya Corpus vol. II, 1972: 162-182. Boechari bersama A.S. Wibowo menerbitkannya dalam PKMN, 1985/6: 46-52.
Prasasti Lintakan berisi tentang peresmian daerah perdikan di Kasugihan, Lintakan, Tunah dan Wru oleh Srī Mahārāja Rakai Layang Dyah Tlodhong Srī Sajjanasanntanuragatanggadewa untuk upacara caru bagi ayahnya yang dimakamkan di Turumangambil.
Prasasti ini menyebut Tlodhong atau Tulodhong sebagai raja, sedangka dalam pemerintahannya, yang memnduduki jabatan Rakryan Mapatih Hino bernama Mpu Ketuwijaya yang juga bergelar Sri Ketudhara Manimantaprabha Prabhusakti. Sedangkan, yang menjabat Rakryan Halu adalah MpuSindok. ***
Share:

Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama

Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama berlokasi di Jl. Jenderal Sudirman No. 75 Yogyakarta. Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama diresmikan oleh Kasad Jenderal TNI Poniman pada tanggal 30 Agustus 1982. Museum ini awalnya merupakan Markas Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro yang diabadikan menjadi gedung Museum Pusat TNI AD, mempunyai riwayat yang cukup panjang sesuai dengan fungsi/pemakaiannya.


Koleksi yang digelar merupakan benda-benda bersejarah yang dipergunakan oleh para pejuang dan lascar-laskar rakyat dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan RI. Jumlah koleksinya 4.289 buah.
Gedung yang dibangun pemerintahan kolonial Belanda tahun 1904 dengan luas sekitar 1.564 m², pada mulanya dipergunakan sebagai rumah dinas pejabat administrasi perkebunan Belanda di Jawa Tengah dan DIY. Pada zaman Jepang tahun 1942, gedung ini disita dan dipergunakan sebagai Markas Tentara Jepang di Yogyakarta (Syudokan).


Setelah Indonesia Merdeka, gedung ini digunakan sebagai Markas Besar TKR (MBT). Di markas ini diselenggarakan Konferensi TKR pada 12 November 1945, yang berhasil memilih Pimpinan Tertinggi Angkatan Perang yaitu Panglima Besar Jenderal Sudirman.


Di markas ini Panglima TKR mengendalikan komando ke seluruh wilayah tanah air Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan RI dan sebagai tempat Kepala Staf Letjen Urip Sumoharjo menyusun organisasi TKR yang selanjutnya berkembang menjadi TNI.
Gedung ini pernah digunakan sebagai Markas Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro dan saksi sejarah kebiadaban G 30 S/PKI pada tahun 1965, yang melakukan penculikan terhadap Kepala Staf Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro, Letkol Sugiyono dan akhirnya dibunuh secara kejam bersama dengan Danrem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro, Kolonel Inf. Katamso Dharmokusumo, yang diculik dari rumah dinas oleh oknum Yon L Kentungan Yogyakarta.

TATA RUANG DAN KOLEKSI MUSEUM

·         RUANG 1 : RUANG PENGANTAR
Terletak di bagian tengah depan gedung utama sebagai ruang pengantar para pengunjung untuk memahami nilai dan arti perjuangan serta pengabdian para pahlawan dan pejuang dalam merebut, mengisi dan mempertahankan kemerdekaan RI melalui aspek kesejarahan koleksi Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama.
Koleksi yang dipamerkan sebagai bukti sejarah perjuangan sesuai dengan tema kronologis historis perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah, prasasti peresmian Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama dan foto para mantan Kasad.


·         RUANG 2 : RUANG JENDERAL SUDIRMAN
Sebagai ruang kerja Jenderal Sudirman sewaktu menjabat Panglima Besar, yang terpilih dari hasil Konferensi TKR 12 November 1945 dan dilantik sebagai Panglima Besar 18 Desember 1945. Di ruangan ini, Jenderal Sudirman memimpin, memberikan komando dan membina TNI.


·         RUANG 3 : RUANG LETJEN URIP SUMOHARJO
Sebagai ruang kerja Letjen Urip Sumohardjo yang menjabat sebagai Kepala Staf. Di ruangan ini, Letjen Urip Sumohardjo merumuskan organisasi tentara yang memiliki jati diri sebagai tentara rakyat, tentara perjuangan dan tentara nasional.
Koleksi yang dipamerkan yaitu meja kerja, telepon, kursi tamu rotan, foto setengah badan. Suatu keteladanan pejuang sejati, yang menjabat Kepala Staf, ahli organisasi tentara yang berjuang tanpa pamrih dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.


·         RUANG 4 : RUANG PALAGAN
Di ruang ini dipamerkan koleksi senjata, alat perlengkapan, pakaian pejuang, seragam tentara PETA dan TKR serta lukisan 8 palagan besar yang menentukan dalam merebut, mengisi dan mempertahankan Kemerdekaan RI dari tentara Belanda, Sekutu dan Jepang. 8 palagan tersebut, yaitu Palagan Medan (Perjuangan Medan Area), Palagan Palembang (Pertempuran 5 hari 5 malam), Palagan Bandung (Bandung Lautan Api), Palagan Semarang (Pertempuran 5 hari), Palagan Ambarawa, Palagan Surabaya, Palagan Bali (Puputan Margarana) dan Palagan Makassar.


·         RUANG 5 : SENJATA MODAL PERJUANGAN
Koleksi berupa senjata tradisional (keris, trisula, tombak, klewang, panah, bambu runcing, meriam kecepek), senapan dan pistol yang dirampas dari tentara Jepang dan Belanda serta granat gombyok yang digunakan para pejuang untuk merebut, mengisi dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari penjajah.


·         RUANG 6 : RUANG DAPUR UMUM
Menggambarkan dapur tradisional rumah rakyat yang terbuat dari bambu dan atap rumbia, yang berperan dalam perjuangan dengan mendukung keperluan logistik dapur umum di setiap sector pertempuran. Koleksi: kukusan, dandang, kekep, bakul, tenggok, tungku api, kayu bakar dan kendil air.

·         RUANG 7 : RUANG ALHUB DAN ALKES
Koleksi yang digelar berupa alhub (telepon Belanda, baterai radio, radio pemancar TRT, pesawat induk TRT, pesawat penerima R. 107, pemancar BC-191-N, pesawat SCR 284/BC 694, pemancar dan penerima HF 156, pemancar dan penerima WS-19) dan Alkes berupa alat operasi yang digunakan untuk merawat prajurit yang sakit dan tertembak saat terjadi pertempuran.

·         RUANG 8, 9, 10 : RUANG PERANG KEMERDEKAAN
Di ruangan ini digambarkan dharma bakti Angkatan Darat dalam mempertahankan kemerdekaan RI dari Agresi Militer Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947 dan Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948.

·         RUANG 11 : RUANG PANJI-PANJI
Ruang Panji-panji memiliki koleksi, seperti Panji-panji Kesatuan TNI AD, Pataka Kotama/Balakpus, Dhuaja Resimen, Brig, Korem, Grup, Sempana Kodiklatad dan Rindam, Tunggul Batalyon serta Pathola Depo Pendidikan.


·         RUANG 12 : RUANG GAMAD
Di ruang ini dipamerkan berbagai bentuk dan tipe seragam Angkatan Darat meliputi PDH, PDU dan PDL beserta atributnya sejak tahun 1950 sampai dengan 1980.

·         RUANG 13 : RUANG TANDA JASA
Di ruang ini dipamerkan Tanda Jasa /Penghargaan berupa Bintang Jasa dan Satya Lencana sebagai pengakuan dan penghargaan atas jasa para prajurit yang telah berjuang, mengabdi kepada bangsa dan negara sehingga dapat memberikan dukungan moril dan kebanggaan kepada yang bersangkutan, keluarga dan generasi penerus.

·         RUANG 14, 15, 16 : RUANG PERISTIWA
Di ruang ini digambarkan peristiwa pemberontakan PKI, DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, DI/TII Sulawesi Selatan, kebiadaban gerakan separatis dan Operasi Militer yang digelar TNI dalam rangka memulihkan keamanan, mempertahankan keutuhan wilayah dan menjaga kedaulatan NKRI.

·         RUANG 17 : RUANG ALAT PERALATAN
Di ruang ini dipamerkan benda-benda bersejarah yang dipergunakan pada gelar operasi satuan Angkatan Darat dalam menanggulangi gangguan keamanan dari pihak-pihak yang merongrong NKRI sejak tahun 1950 hingga sekarang, yaitu: senjata, alat optic, alat perhubungan dan mesin elektronik.

·         RUANG 18 : RUANG PIAGAM KEUTUHAN AD DAN KONTINGEN GARUDA
Di ruang ini digambarkan situasi tahun 1950-an, peristiwa rakyat demonstrasi sebagai usaha menyatukan konflik internal Angkatan Darat yang dirintis oleh Kolonel Bambang Sugeng dan berhasil dilaksanakan upacara di Istana Yogyakarta yang dipimpin Presiden Soekarno dengan ditandatanganinya Piagam Keutuhan.
Koleksi yang dipamerkan: Piagam Keutuhan, penyangga pbor penerangan pada peristiwa penandatanganan Piagam Keutuhan TNI AD, benda-benda koleksi dan foto Kontingen Garuda di Kongo, Afrika dan Kamboja.

·         RUANG 19 : RUANG PAHLAWAN REVOLUSI
Di ruang ini digambarkan kebiadaban peristiwa pemberontakan G 30 S/PKI yang menculik dan menyiksa para pimpinan Angkatan Darat. Sembilan Perwira Angkatan Darat yang diangkat sebagai Pahlawan Revolusi yaitu: Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta R. Suprapto, Letjen TNI Anumerta M.T. Haryono, Letjen TNI Anumerta Suwondo Parman, Mayjen TNI Anumerta Donald Ignatius Panjaitan, Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, Brigjen TNI Katamso Dharmokusumo, Kolonel Inf Anumerta Sugiyono, Kapten Czi Anumerta Piere Tendean.
Koleksi yang dipamerkan berupa perlengkapan militer dan pribadi Pahlawan Revolusi, foto Pahlawan Revolusi dan riwayat hidup singkat.

·         RUANG 20 : RUANG PENUMPASAN G 30 S/PKI
Koleksi yang dipamerkan, antara lain: benda-benda bukti sejarah alat propaganda G 30 S/PKI yaitu senjata api, senjata tradisional, bendera PKI, buku-buku doktrin PKI dan alat transportasi sepeda; Operasi Militer penumpasan PGRS/Paraku di Kalimantan; mobil sedan Holden Special yang pernah digunakan Panglima Mandala Mayjen TNI Soeharto dalam Operasi Militer Pembebasan Irian Barat tahun 1963 serta seragam darah mengalir komandan RPKAD Kolonel Inf Sarwo Edhi Wibowo.

OUTDOOR DISPLAY
                Di Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama, benda koleksi yang dipamerkan bukan hanya di dalam gedung namun ada pula yang berada di luar gedung, tertata pada lokasi masing-masing:
·         Di halaman depan Gedung Museum dipamerkan seperti Tank Stuart MK I dan Tank Stuart MK III yang dipakai dalam operasi penumpasan pemberontakan AUI, MMC dan G 30 S/PKI di Jawa Tengah, Meriam Bofors, Meriam Gunung caliber 75 mm yang dipergunakan TNI pada Palagan Ambarawa tahun 1945 dan Meriam Gunung caliber 37 mm penyerahan dari Mayor Jenderal Meijer, Panglima Tentara Belanda di Jawa Tengah kepada Panglima Divisi III/Diponegoro, Kolonel Gatot Subroto.
·         Di taman sebelah kanan gedung induk museum terdapat Meriam AT, SMS Browning dan 2 buah bom.
·         Di taman sebelah kanan gedung belakang (R.11 – 18) terdapat Ruang Bawah Tanah yang dibangun bersamaan waktu dengan berdirinya gedung museum ini. Ruang ini oleh pendiri diperuntukkan sebagai tempat persembunyian bagi yang menempati. Di samping itu, terdapat pula Tank Stuart MK I. *** [130312]

Sumber:
  • _______________ , 2008, Buku Panduan Museum Pusat TNI AD “Dharma Wiratama”, Jakarta: Dinas Sejarah Angkatan Darat
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami