The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Sidoarjo Tempo Doeloe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sidoarjo Tempo Doeloe. Tampilkan semua postingan

Kampung Batik Jetis

Kampung Batik Jetis adalah salah satu kampung yang memiliki warisan budaya membatik. Di dalam Kampung Jetis tersebar rumah para perajin batik yang merupakan salah satu sentra batik terbesar di Sidoarjo. Di kampung ini akan ditemukan bangunan-bangunan dengan arsitektur kolonial yang cukup menarik dengan jendela besar dan jeruji besi yang antik. Dapat kita bayangkan pada masa jayanya daerah ini cukup ramai dan banyak terdapat rumah para juragan batik beserta perajinnya menempati daerah tersebut.
Kampung Batik Jetis terletak di Dusun atau Lingkungan Jetis, Kelurahan Lemah Putro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi kampung tersebut berada di seberang jalan utama menuju Stasiun Sidoarjo.


Konsep pembentukan Kampung Batik Jetis muncul dari gagasan masyarakat Jetis itu sendiri. Tujuannya tidak lain adalah sebagai sarana pemberdayaan potensi kampung binaan Pemkab setempat.
Menengok jauh ke belakang, batik tulis tradisional Sidoarjo yang berpusat di Jetis telah ada sejak tahun 1675, setahun setelah Masjid Jamik dibangun. Masjid tersebut kini bernama Al Abror, berada di Kauman (belakang Toserba Matahari). Kala itu, seorang yang konon masih keturunan raja dikejar-kejar penjajah dan lari ke Sidoarjo. Sayangnya sampai sekarang belum ada data akurat, siapa sebenarnya dan dari kerajaan mana pria yang menyamar sebagai pedagang, dan dikenal dengan sebutan Mbah Mulyadi tersebut. Makamnya masih ada di masjid yang kini telah mengalami pemugaran di Kawasan Kauman tersebut.
Bersama para pengawalnya, Mbah Mulyadi mengawali berdagang di “Pasar Kaget” yang kini dikenal dengan nama Pasar Jetis. Selain memberi pelajaran mengaji dan mempelajari Al Qur’an serta selalu mengajak shalat berjamaah, Mbah Mulyadi juga melakukan pendekatan kepada masyarakat setempat dengan memberikan pelatihan ketrampilan membatik.
Seiring dengan perkembangan penduduk, serta kian ramainya perdagangan di Pasar Jetis, kawasan ini banyak didatangi para pedagang dari luar daerah. Pedagang asal Madura yang semakin banyak berdagang di Pasar Jetis sangat menyukai batik tulis buatan warga Jetis. Mereka sering memesan batik tulis dengan permintaan motif dan warna khusus khas Madura. Itu sebabnya, batik tulis asal Jetis ini kemudian juga dikenal orang sebagai batik corak Madura.


Batik tradisional Jetis, atau yang biasa disebut dengan Batik Jetisan, memiliki khas ragam corak dan warna yang cerah seperti hijau, kuning, dan merah. Berbeda dengan batik Solo dan Yogyakarta berwarna coklat dan hanya memakai motif dua warna. Motif batik Jetis Sidoarjo sudah terkenal sejak tahun 1920an (tahun masa keemasan Batik Jetisan). Hal ini diakui sejumlah kolektor batik yang berkunjung ke Kampung Batik Jetis. Bahkan, para kolektor memiliki batik Jetis yang berumur 80-100 tahun.
Motif batik Jetis pada umumnya didominasi oleh flora dan fauna khas Sidoarjo yang memiliki warna-warna cerah, di antaranya kembang tebu, beras wutah, pecah kopi, kembang bayem, maupun burung merak. Secara filosofi, motif kembang tebu muncul karena Sidoarjo memiliki banyak pabrik gula. Motif beras wutah dilatarbelakangi adanya dua penggilingan padi di Sidoarjo di masa lalu namun tetap saja kurang dibandingkan kebutuhan masyarakat akan beras. Motif pecah kopi lahir dilandasi oleh banyaknya masyarakat Sidoarjo pada waktu dulu bercocok tanam kopi. Motif kembang bayem muncul karena dulu Sidoarjo merupakan daerah pemasok sayur-sayuran terutama bagi masyarakat Surabaya. Sedangkan, motif burung merak diperkirakan muncul lantaran dulunya di daerah Sidoarjo banyak dihuni oleh burung merak ketika masih berupa hutan.
Namun, nama Sidoarjo itu tidak pernah muncul dikarenakan hampir semua batik karya perajin Sidoarjo dipakai oleh orang Madura, sehingga disebut dengan istilah batik Madura. Padahal, sebutan batik Madura itu berlaku untuk motif saja. Sedangkan pembuatnya adalah perajin Sidoarjo. Baru sekitar tahun 2008 usai peresmian Kampung Batik Jetis oleh Bupati yang menjabat pada saat itu, sebutannya diganti dengan sebutan batik Sidoarjo. Sehingga, seiring berjalannya sang waktu, batik Jetisan Sidoarjo mulai dikenal dan semakin populer. Karya Kampung Batik Jetis tersebut kini kian dikenal di Jakarta dan luar daerah lainnya, bahkan sampai ke manca negara. *** [180414]

Share:

Stasiun Kereta Api Sidoarjo

Pada abad 18, Sidoarjo merupakan salah satu sentra produksi gula. Hal ini ditandai dengan berdirinya 10 pabrik gula di Sidoarjo, yakni Ketegan, Taman, Gedangan, Buduran, Candi, Tulangan, Krembung, Wonoayu, Krian, dan Watu Tulis. Sehingga, Sidoarjo pada masa itu merupakan daerah industri gula yang potensial di Nusantara.
Sebagai konsekuensi dari pembukaan pabrik gula tersebut, pemerintah kolonial Belanda juga menyiapkan sarana dan prasarana untuk mengangkut hasil gula dari Sidoarjo menuju ke pelabuhan atau ke kota lain. Kala itu, gula merupakan komoditas primadona yang diminati di daerah Eropa. Sehingga, pemerintah kolonial Belanda merasa penting untuk membuka jaringan jalan kereta api (rel). Pembangunan jalur kereta api dari Surabaya hingga Pasuruan yang membelah Sidoarjo, dikerjakan oleh Staats Spoorwegen lebih dari tiga tahun, dan diresmikan pada 16 Mei 1878.


Dengan hadirnya jalur kereta api tersebut, sekaligus juga pembangunan stasiun kereta api yang dilintasi oleh jalur tersebut. Salah satunya adalah Stasiun Kereta Api Sidoarjo, atau biasa yang dikenal dengan Stasiun Sidoarjo saja.
Stasiun Sidoarjo terletak di Jalan Diponegoro No. 1 Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di tengah Kota Sidoarjo, dan berseberangan dengan Kampung Batik Jetis.
Stasiun Sidoarjo yang berada di bawah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya ini, memiliki kode stasiun SDA, dan berada di ketinggian + 4 m serta memiliki 4 jalur. Stasiun ini tergolong sebagai stasiun besar yang memiliki fungsi sebagai tempat kereta api berhenti, tempat kereta api berangkat, dan tempat kereta api bersilang, menyusul atau disusul.
Sebagai bangunan stasiun, Stasiun Sidoarjo memiliki kelengkapan sesuai standar bangunan stasiun yang berada di Kota atau Kabupaten pada umumnya, yakni memiliki front area (halaman depan), hall atau vestibule yang ada di bangunan stasiun, peron, dan emplasemen. Dari tampak depan, bangunan stasiun ini mempunyai kesan monumental. Kesan monumental bangunan stasiun ini bisa dilihat dari gaya arsitektur peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh dan luas. Di sebelah kiri dan kanan pintu utama, terdapat deretan jendela kayu dengan jeruji yang lumayan besar sebanyak 6 buah. Keunikan dari stasiun ini memang sudah bisa ditemukan sejak pertama kali melihat muka bangunan stasiun ini.


Memasuki stasiun ini, pintu utamanya yang tingginya sekitar 2 m sebanyak 2 pintu. Pada hall, kesan semilir cukup terasa lantaran ruangannya cukup tinggi dengan suplai angin dari roster yang terpasang. Lanjut masuk ke peron, suasana luas nan memanjang dengan corak bangunan tua menambah kesan sambil menunggu keretanya datang, sejenak menikmati suasana peron kuno yang ada di stasiun tersebut, dan sekaligus menikmati emplasemen stasiunnya. Bangunan utama stasiun memiliki detail-detail yang unik juga pada bagian lainnya. Mulai dari pintu kayu, trails, langit-langit, jendela, dan detail bagian lainnya.
Stasiun Sidoarjo ini memiliki luas bangunan 1.050 m² di atas lahan seluas 2.573 m², dan merupakan aset dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Persero dengan nomor register 115/08.61213/SDA/SDA. Bangunan stasiun ini merupakan bangunan cagar budaya (BCB) milik PT. KAI yang dilindungi oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. *** [180414]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami