The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Kyai Sadrach. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai Sadrach. Tampilkan semua postingan

GKJ Karangjoso Butuh

Pada waktu ditugaskan sebagai tracker dalam the Work and Iron Status Evaluation (WISE), saya berkesempatan mengenal wilayah di Kabupaten Purworejo. Menjadi tracker memang selangkah lebih maju dari sekadar menjadi enumerator, karena selain melakukan tugas yang dijalani oleh seorang enumerator, tracker juga harus punya sense untuk pelacakan responden. Pelacakan responden yang pindah itu merupakan kegiatan yang sangat penting untuk keberhasilan sebuah survey panel.
Oleh karena itu, seorang tracker umumnya memiliki nilai lebih ketimbang enumerator. Selain itu, ia juga memiliki pengalaman dalam mengenal wilayah jangkauan pelacakan pada umumnya. Hal ini tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi tracker yang memiliki jiwa backpacker seperti saya ini. Termasuk di antaranya saya bisa mengenal wilayah Kecamatan Butuh.



Di sela-sela melakukan tracking responden di sana, saya pun kebetulan bisa melihat sebuah bangunan gereja lawas yang ada di daerah situ. Gereja lawas itu dikenal dengan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Karangjoso. Gereja ini terletak di Dukuh Karangjoso RT. 01 RW. 02 Desa Langenrejo, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gereja ini berjarak sekitar 1,5 kilometer sebelah utara dari Balai Desa Langenrejo.
Konon, gereja ini merupakan cikal bakal Gereja Kristen Jawa di Pulau Jawa yang dibangun oleh Kyai Sadrach, penyebar agama Kristen di Pulau Jawa, pada tahun 1871. Oleh karena itu, gereja ini acapkali disebut dengan Gereja Kyai Sadrach. Gelar Kyai yang disandang Sadrach yang mungkin menimbulkan kebingunan. Berasal dari pemahaman masyarakat zaman dahulu, bagi masyarakat Jawa, seorang Kyai adalah orang yang memiliki kedudukan, karena apa yang dia katakana akan didengar oleh banyak orang dan tentunya punya banyak pengikut.



Jemaat pertama yang dibangun Sadrach adalah Jemaat Karangjoso yang merupakan jemaat tertua kedua di Purworejo dengan nama awal Gereja Kristen Jawa Mardika. Agama Kristen yang pada awalnya dibawa oleh zending Belanda mempunyai ciri khas Belanda di dalamnya, namun Sadrach mencari bentuk dari kekristenan Jawa. Beliau menganggap bahwa orang Kristen Jawa tidak perlu menyesuaikan adat dan kebiasaan orang Kristen Belanda. Hal ini bukan disebabkan karena nasionalisme atau kebencian terhadap Belanda, namun lebih kepada kepeduliannya terhadap kebudayaan Jawa yang dimasukkannya dalam Kristen Jawa.
Melihat sepintas gaya arsitekturnya, mungkin orang banyak tak mengira kalau bangunan tersebut adalah sebuah gereja. Ornamen dan bentuk bangunan layaknya rumah joglo, bangunan khas masyarakat Jawa. Di atas mustaka bangunan atapnya pun tidak berbentuk lambang salib seperti bangunan gereja pada umumnya, akan tetapi di GKJ Karangjoso simbol salib diganti oleh persilangan senjata pusaka milik tokoh pewayangan Kresna dan Arjuna, yaitu senjata Cakra dan panah Pasopati.



Masuk ke dalam bangunan gereja, kesan budaya makin terasa dengan balutan tiang-tiang soko guru yang menopang bangunan utama gereja itu. Di situ juga akan ditemui berbagai kitab dan senandung lagu gereja yang telah diubah Kyai Sadrach dengan menggunakan bahasa Jawa untuk memperkenalkan agama Kristen kepada masyarakat Jawa kala itu.
Kyai Sadrach meninggal dunia pada 14 November 1924. Dengan istrinya yang bernama Nyai Roro Tompo, ia tak memiliki anak. Namun, ia sempat mengambil anak angkat yang bernama Yotam Martorejo. Selama hayatnya, Kyai Sadrach diyakini telah membaptis sekitar 20.000 orang. Sepeninggal Sadrach, para jemaat dipimpin oleh Yotam dan masalah kegerejaan akhirnya diserahkan kepada zending pada 1 Mei 1933.
Kini, bangunan gereja peninggalan Kyai Sadrach masih digunakan oleh jemaat GKJ Karangjoso. Sedangkan, bangunan lainnya yang terdapat di kompleks GKJ Karangjoso juga masih terpelihara dengan baik. Bekas rumah kediaman Kyai Sadrach digunakan oleh anak turun Yotam untuk mengurusi gereja tersebut, dan peninggalan milik Kyai Sadrach lainnya seperti keris, jubah, tempat tidur dan lain sebagainya tetap disimpan dalam sebagian bangunan yang ada di kompleks tersebut dan menjadi museum. *** [220618]

Fotografer: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Share:

Kyai Sadrach (1835 - 1924)

Pemberitaan Injil kepada orang Jawa di Bagelen dan Jawa Tengah mengalami kemajuan pesat karena pekerjaan Sadrach. Oleh sebab itu, kita perlu mengetahui riwayat Sadrach dan bagaimana ia memberitakan Injil.
Ia lahir di Jepara (ada yang menyebut Demak) tahun 1835, dari keluarga petani miskin . Nama kecilnya adalah Radin. Waktu muda, ia suka mengembara mencari “ilmu”. Mula-mula ia berguru kepada guru “ilmu” Kejawen bernama Kurmen, alias Sis Kanoman. Lalu, ia belajar ke pesantren di Jombang, Jawa Timur. Di pesantren ini, ia belajar membaca dan menulis Jawa dan Arab. Ajaran Islam yang disukai yang bersifat tassawuf (mistik). Ia juga gemar mempelajari ramalan-ramalan Jayabaya, terutama tentang akan datangnya Ratu Adil yang membuka jalan baru.  Ketika di Jombang inilah, ia mulai mengenal agama Kristen sebagai “ilmu” baru, dari desa-desa Kristen yang ia kunjungi yaitu Ngoro, Mojowarno, dan daerah sekitarnya. Ia berkenalan dengan Ds. Jellesma, penginjil yang tinggal di Desa Mojowarno, tahun 1851 – 1858. Kontak pertama dengan agama Kristen ini belum merubah Radin untuk memeluk agama Kristen. Ia masih meneruskan mencari “ilmu” di salah satu pesantren di Ponorogo beberapa tahun.
Sepulang dari Ponorogo, ia memilih tinggal di Semarang untuk bergaul dengan orang-orang Arab dan para haji. Di sini, ia menambah namanya menjadi Radin Abas. Di Semarang, ia bertemu dengan gurunya, Sis Kanoman, yang telah menjadi Kristen pengikut Tunggul Wulung. Ia terkesan cara Tunggul Wulung menaklukkan gurunya, yaitu dengan beradu “ilmu”. Siapa yang kalah harus mengikuti yang menang beserta semua murid-muridnya. Cara Tunggul Wulung inilah yang nantinya dipergunakan Sadrach dalam memberitakan Injil. Radin Abas kemudian menjadi murid Kyai Tunggul Wulung. Namun di Semarang ini, ia mengadakan kontak dengan penginjil Ds. Hoezoo dan Ds. P. Jansz. Namun akhirnya ia lebih cocok mengikuti kekristenan Jawa gaya Tunggul Wulung (“Kristen Jawa”) daripada kekristenan gaya Barat (“Kristen Londo”).
Tahun 1865 Radin Abas diajak Kyai Tunggul Wulung ke Batavia menemui Mr. Anthing. Mr. Anthing pernah tinggal di Semarang, dan pada tahun 1863 pindah ke Batavia menjabat Wakil Ketua Mahkamah Agung. Ia anggota perkumpulan pemberita Injil non-gerejawi yang disebut Genootschaap Voor In-en Uitwendige Zending, yang giat memberitakan Injil dan mendidik calon penginjil orang bumiputera. Dua anak Kyai Tunggul Wulung belajar pada Mr. Anthing. Di Batavia, Radin Abas belajar bahasa Melayu, dan menjadi murid bahkan “anak emas” Mr. Anthing. Ia berkenalan dengan penginjil-penginjil anggota kelompok Mr. Anthing yang umumnya pejabat pemerintah yang sadar akan amanat Kristus. Di Batavia inilah pada tanggal 14 April 1867 Radin Abas menerima baptis di gereja Portugis (sekarang GPIB Sion) oleh Ds. Ader, dan memilih nama baptis Sadrach.
Pertengahan 1867 ia kembali ke Semarang dengan jalan kaki sambil memberitakan Injil. Selanjutnya bersama gurunya, Sis Kanoman dan Tunggul Wulung, membangun desa Kristen di Bondo, Jepara. Karena ada kurang serasi dengan gurunya, pada tahun 1869 meninggalkan Bondo pergi kepada penginjil Poensen di Kediri. Di situ pun rupanya kurang cocok, akhirnya atas saran Poensen, ia pergi ke Purworejo membantu Ny. Phillips. Sejak 1871 ia menetap di Karangjoso, sampai wafat di usia lanjut pada 15 November 1924. Selama memberitakan Injil lebih dari 7.000 orang dibaptiskan, meski harus diakui bahwa kebanyakan pengetahuan mereka sangat minim dalam hal iman Kristen sebab keterikatan mereka dengan guru lebih diutamakan.

Sumber:

  • Buku Cetakan milik GPIB Purworejo hal. 3 – 5.
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami