The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Rembang Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rembang Heritage. Tampilkan semua postingan

Gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang

Setelah mengunjungi Museum R.A. Kartini, saya beranjak untuk melanjutkan hunting bangunan lawas di Rembang. Kali ini yang saya kunjungi adalah Gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang. Gedung ini terletak di Jalan Diponegoro No. 25 Kelurahan Tasikagung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gedung perpustakaan ini berada di kompleks Taman Rekreasi Pantai Kartini, atau yang dikenal juga dengan Dampo Awang Beach.
Dalam arsip Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang, perpustakaan ini beberapa kali mengalami pemindahan lokasi. Terakhir sebelum tahun 2009, Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang berada di Jalan Gatot Subroto No. 8 Rembang, yaitu di kompleks Rumah Dinas Bupati Rembang. Ruangan yang sempit dan letaknya yang tidak strategis membuat perpustakaan ini sepi.


Kemudian berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Rembang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Rembang, Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang menempati bangunan yang lebih representatif di kompleks Taman Rekreasi Pantai Kartini ini. Pemindahan lokasi gedung ini diharapkan bisa menjadi salah satu faktor untuk meningkatkan tingkat kunjungan pemustaka karena lokasinya yang berada di tepi jalan raya.
Gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang yang sekarang digunakan ini merupakan bangunan lawas peninggalan Hindia Belanda. Awalnya, gedung tersebut merupakan bangunan gereja Protestan (Protestanse kerk te Rembang). Djoko Soekirman dalam bukunya, Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi (Depok: Komunitas Bambu, 201: 209) menjelaskan, bahwa bangunan gereja Protestan tersebut dibangun pada tahun 1829 beratap Mansard dan memiliki kubah. Bentuk atap model ini seolah-olah terdiri dari dua atap yang terlihat bersusun atau bertingkat. Atap Mansard jarang digunakan untuk bangunan di Nusantara, karena sebetulnya atap ini dibangun oleh Belanda ketika menjajah negara kita.
Istilah Mansard ini berasal dari seorang arsitek Perancis bernama François Mansart (1589-1666) dari the Beaux Arts School di Paris. Mansart menghidupkan kembali minat dalam gaya atap ini, yang telah menjadi ciri khas arsitektur Renaissance Perancis.


Konon, bangunan gereja ini didirikan bersamaan dengan dibangunnya Rumah Residen yang berada di sebelah timurnya. Dalam laman kebudayaan.kemdikbud.go.id diterangkan, bahwa dari data arsip Vikariat Apostolik di Jakarta, bangunan gereja tersebut dibangun pada 1 Januari 1829 oleh Residen Rembang bernama Jean Baptista Baron de Salis di bawah pengawasan A.B.A. Vrijheer Rismuller dari Riesmburg dan Kapten Komandan Pasukan di Rembang. Namun belum sampai selesai, Jean Baptista Baron de Salis dipindah ke Semarang. Lalu, dilanjutkan oleh Residen Rembang berikutnya.
Dalam perjalanannya, gedung lawas itu mengalami berbagai fungsi. Dimanfaatkan menjadi perpustakaan rakyat dari tahun 1950 hingga tahun 1952.  Bangunan gedung tersebut berubah fungsi kembali menjadi bangunan gereja, yaitu Gereja Kristen Jawa Rembang. Disusul kemudian, pada 3 Juli 1960, jemaat GKI Rembang diperkenankan menggunakan gedung gereja Taman Kartini ini.
Setelah itu, gedung lawas peninggalan kolonial Belanda ini beralih pemanfaatannya, seperti digunakan untuk tempat menyelenggarakan bazaar, gedung pernikahan, dan markas pasukan pemadam kebakaran (damkar). Usai itu, bangunan gedung lawas ini kemudian sempat mangkrak hingga 2006. Kemudian gedung tersebut mengalami perbaikan oleh Pemerintah Kabupaten Rembang.
Mulai tahun 2009, gedung lawas ini difungsikan menjadi Gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang. Perpustakaan, yang menjadi wewenang Kantor Perpustakaan dan Arsip, mempunyai tugas pokok melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perpustakaan dan kearsipan. Kantor Perpustakaan dan Arsip merupakan unsur pendukung tugas Bupati di bidang perpustakaan dan kerasipan yang dipimpin oleh kepala kantor yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
Pada tahun 2009, Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang memiliki koleksi buku sebanyak 19.600 buah dan koleksi digital library (perpustakaan digital) sebanyak 5.000 judul serta ditambah journal sekitar 1.000 judul. Selain itu, gedung lawas tersebut juga sudah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Rembang. Hal ini menegaskan bahwa bangunan cagar budaya Gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang sebenarnya merupakan monumen bersejarah yang mencatat perjalanan sebuah kota Rembang. *** [131215]




Share:

Klenteng Tjoe Hwie Kiong Rembang

Semula Lasem merupakan pelabuhan yang ramai, dan pernah menjadi Kabupaten Lasem. Namun, keberadaannya mula digantikan oleh Rembang, setelah VOC memindahkan pelabuhan dan ibu kotanya ke Rembang. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi perlawanan yang dilakukan oleh orang Tionghoa pada waktu.
Seiring itu, banyak juga orang Tionghoa yang juga berpindah ke Rembang untuk mengadu nasib di Rembang yang bergeliat ekonominya. Seperti halnya dengan Lasem, di Rembang juga masih banyak ditemui rumah dengan arsitektur tradisional Tionghoa, dan kota ini juga mempunyai dua klenteng kuno. Salah satunya adalah Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Klenteng ini terletak di Jalan Pelabuhan No. 1 Desa Tasikagung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi klenteng ini menghadap ke laut atau muara Sungai Karanggeneng.


Berdasarkan catatan sejarah, klenteng ini dibangun pada tahun 1841 oleh Kapitein Lie. Awalnya klenteng ini didirikan di Desa Jangkungan, Kecamatan Kaliori kemudian dipindah ke lokasi yang sekarang ini. Hal ini tidak terlepas dari sejarah masa lalunya. Sesudah pecahnya pemberontakan Tionghoa dan diperoleh kenyataan adanya persatuan antara orang-orang pribumi dan Tionghoa, maka hal ini dianggap membahayakan kejayaan Kompeni. Selanjutnya Kompeni melakukan pemecahbelahan antar dua kelompok ini. Bahkan Kompeni mengeluarkan perintah memindahkan permukiman orang-orang Tionghoa di Dresi dan Jangkungan menuju ke sebelah timur atau masuk ke dalam Kota Rembang yang sekarang ini.
Menuju ke klenteng ini tergolong cukup mudah. Sesampainya di jembatan Sungai Karanggeneng terdapat papan penunjuk arah ke Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berjarak 50 meter dari jembatan tersebut. Dalam menyusuri jalan ini, pengunjung bisa menyaksikan bongkar muat barang dari kapal yang berderet di Sungai Karanggeneng. Setelah itu, belok kanan ketemu klenteng tersebut.
Klenteng ini memiliki tempat parkir yang luas dan terpisah dengan bangunan klenteng. Tempat parkirnya berada di seberang jalan dari klenteng. Di tempat parkir ini terdapat dua menara kembar seperti tiang bendera berwarna merah, yang disebut kie kwa yang berfungsi sebagai penunjuk arah bagi para nelayan.


Dari tempat parkir ingin menuju ke bangunan utama klenteng, pengunjung akan menyaksikan keindahan pintu gerbang klenteng tersebut. Pintu gerbang besar khas arsitektur Tionghoa biasa disebut dengan shan men atau pai lou. Di atas pintu gerbang ini terdapat mutiara bola api milik Sang Buddha (huo zhu) yang diapit oleh sepasang naga yang saling berhadapan (xing long). Hanya saja ukuran naga yang ada di pai lou tersebut cukup besar, badan dan ekornya sampai menghiasi pagar klenteng tersebut. Sedangkan, pada bagian atas pintu gerbang berbentuk paduraksa tersebut tertulis nama klenteng dalam aksara Tionghoa.
Memasuki pintu gerbang, pengunjung akan berada di pelataran bangunan klenteng. Di situ pengunjung bisa menyaksikan ada dua tempat pembakaran kertas (kim lo) yang berbentuk pagoda berwarna merah dan pelisir kuning yang dililit naga (qing long) di sisi kiri dan kanan tangga serambi. Sedangkan, pada atap bangunan klenteng juga terdapat ragam hias seperti pada pintu gerbang. Namun naganya berukuran kecil. Pada atap bangunan altar samping terdapat hiasan burung hong (phoenix).
Melangkah menuju ke dalam, pengunjung akan menjumpai sepasang arca singa (hanzi) berwarna hijau dengan paduan warna kuning dan putih. Lalu, tepat di pintu utama terdapat hiolo (tempat menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan. Lanjut langkah kaki ke dalam, pengunjung akan menjumpai 3 buah altar. Sesuai dengan papan penunjuk arah tadi, pujaan utama dari klenteng ini adalah Mak Co Thian Siang Seng Bo, maka altar utama yang berada di tengah dari ketiga buah altar tersebut adalah altar Thian Siang Sing Bo. Di sisi kiri terdapat altar Kong Tek Tjoen Ong, dan di sisi kanan adalah altar Tiong Thwan Gwan Swee.
Selain altar yang berada pada bangunan utama klenteng tadi, ada altar tambahan yaitu pada sisi kiri dan sisi kanan. Pada sisi kiri terdapat altar Kwam Im Po Sat (Dewi Welas Asih) dan pada sisi kanan ada altar Tan Oei Djie Sian Seng.
Klenteng Tjoe Hwie Kiong ini dikelola oleh Yayasan Dwi Kumala dengan Akta Notaris Nomor 120 Tanggal 22 Juli 1995. Oleh masyarakat sekitar, klenteng ini sering disebut sebagai Klenteng Lor. *** [131215]

Share:

Museum R.A. Kartini Rembang

Selesai berkeliling Kota Lasem dengan julukan ‘Tiongkok kecil’, perjalananpun dilanjutkan ke arah barat menuju Kota Rembang. Jalan yang saya lalui sudah bagus meski sebelum masuk Kota Rembang sedikit ada kemacetan karena adanya perbaikan jalan (betonisasi). Dulu, jalan ini merupakan Jalan Raya Pos (Grotepostweg) yang dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Lokasi pertama yang saya kunjungi di Rembang adalah Museum R.A. Kartini. Museum ini terletak di Jalan Gatot Subroto No. 8 Desa Kutoharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi museum ini berada di selatan Hotel Rantina, atau selatan SMA Kartini.


Museum ini didirikan atas prakarsa dari Bupati Rembang Drs. Adnan Widodo (1967) untuk mengenang jasa-jasa tokoh emansipasi wanita R.A. Kartini, yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Rembang dalam hal ini Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora). Museum R.A. Kartini menempati pendopo yang pernah digunakan sebagai kantor pemerintahan Kabupaten Rembang yang dulu pernah ditinggali oleh R.A. Kartini bersama suaminya KRM Adipati Ario Djojoadhiningrat, Bupati Rembang (1889-1912). Sekilas, bangunan museum ini terlihat berarsitektur khas Jawa dengan pendopo besar di bagian depannya, namun sebenarnya ada unsur kolonial dari bangunan itu, yaitu pada bagian kolomnya. Kolom-kolom bergaya Eropa terbuat dari bahan campuran kapur dan pasir. Ada 20 pilar putih polos, 10 pilar putih besar bergerigi, dan 4 pilar utama berbentuk soko guru dari kayu jati.
Tak hanya itu, pada bagian pintu gerbang juga mengalami perpaduan arsitekturalnya. Pintu gerbang yang laiknya sebuah kori yang ada di kraton. Pintunya besar dan tinggi berbentuk paduraksa yang juga ditopang oleh kolom-kolom tinggi bergaya Eropa.



Sebelum memasuki ruang koleksi Museum R.A. Kartini, pengunjung akan melewati sebuah bangunan penghubung dari bangunan pendopo berbentuk joglo. Bangunan penghubung tersebut juga dihiasi oleh 8 pilar putih tapi berukuran agak pendek ketimbang yang menopang bangunan joglo pendopo. Bangunan penghubung inilah yang menghubungkan joglo pendopo dengan bangunan utama. Bangunan utama terdiri atas beberapa ruang. Ruang utama berada di tengah. Di bagian kiri kanan adalah kamar tidur. Di belakang ruang utama ada ruang besar yang berdenah persegi panjang. Ruang-ruang yang ada di bangunan utama ini yang dijadikan sebagai tempat memajang atau memamerkan koleksi dari Museum R.A. Kartini yang berkisar 133 jumlahnya.
Setelah melewati pintu masuk yang bercorak klasik bercat hijau dengan ornamen yang dicat kuning, pengunjung akan berada di ruang tengah. Ruang tengah ini berisi relief R.A. Kartini dan KRM Adipati Ario Djojoadhiningrat, bendera Sang Saka Merah Putih dan bendera Kabupaten Rembang, silsilah R.A. Kartini dan KRM Adipati Ario Djojoadhiningrat. Lalu, kiri kanan terdapat ruang penyajian koleksi yang terbagi beberapa ruangan: 




Ruang Pengabdian R.A. Kartini
Di dalam ruangan ini terdapat kamar tidur R.A. Kartini yang terbuat dari kayu jati berukir, bernuansa klasik, serta meja kecil yang sering digunakan oleh R.A. Kartini di dalam kamar tidur tersebut.
Di dalam ruangan ini, R.A. Kartini untuk melakukan aktivitas, menulis buah pikiran dan ide-ide beliau, dan melahirkan putra satu-satunya sampai beliau wafat.

Ruang Kamar Tidur Djojoadhiningrat
Pada ruangan ini dipamerkan sejumlah foto kenangan Bupati Rembang KRM Adipati Ario Djojoadhiningrat, baik semasa mudanya maupun setelah menjadi Bupati Rembang. Dulu, ruangan ini merupakan kamar peraduan Sang Bupati.

Ruang Penyimpanan Koleksi
Ruang Penyimpanan Koleksi ini menyimpan sejumlah foto R.A. Kartini bersama saudara-saudaranya sewaktu masih tinggal di Jepara, maupun peristiwa-peristiwa yang terkait dengan R.A. Kartini.

Ruang Dapur
Pada ruangan ini terdapat sejumlah alat-alat memasak atau yang berhubungan dengan dapur, dan satu set meja kursi untuk makan keluarga yang terlihat antik. Di ruangan ini juga terlihat ada lampu gantung antik dan kolom bergaya Eropa.




Ruang Batik
Ruangan ini berisi pajangan lukisan hasil karya R.A. Kartini dan beberapa motif batik yang pernah dimiliki oleh R.A. Kartini maupun keluarganya.

Ruang Keluarga
Pada ruangan ini terdapat satu set meja kursi antik yang dulu pernah digunakan oleh R.A. Kartini dan keluarga serta foto-foto. Selain itu, juga ada lemari kaca untuk memajang pusaka milik keluarga. Di sini juga terdapat ruang belajar Kartini. Yang tak kalah menariknya, di ruangan ini terdapat lampu gantung klasik.

Ruang Habis Gelap Terbitlah Terang
Ruang koleksi ini berisi pajangan tulisan-tulisan yang pernah dibuat oleh R.A. Kartini. Tata ruang di sini sesuai dengan nama ruangannya. Tulisannya berwarna putih, dan latarnya berwarna hitam. Beberapa tulisannya adalah:

“Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia, ialah menundukkan diri sendiri.
Paham lama yang sudah turun temurun, tiada dapat dengan sebentar saja disisikan akan menggantinya dengan paham baru.
Berkuasa paham yang lama itu, oleh karena masih dihormati orang seluruh negeri, tetapi tumbuhan muda yang segar itu tentulah akan menang jua.” (Kartini)
“Ada cahaya yang menembus ke dalam kami, cahaya yang mulia dan kudus. Rasanya seperti kami menerima suatu wejangan! Kami tidak mempunyai takut lagi, kami telah merasa tenteram, kami percaya! Yang meliputi kami bukanlah kebahagiaan yang meledak dan bersorak-sorai, melainkan kegembiraan yang damai, penuh terima kasih. Kami tidak dapat menggambarkan keadaan jiwa kami, keadaan itu, memang tidak dapat digambarkan, hanya dapat dirasakan.
Hanya kami dapat mengatakan bahwa merasa terima kasih dan bahagia, bahwa hidup kami menjadi lebih indah karenanya dan perjuangan kami memperoleh arti yang lebih tinggi. Kami banyak berpikir akhir-akhir ini, kami mencari terlalu jauh. Kami kira cahaya itu jauh. Padahal itu begitu dekat, selalu ada di dekat kami. Cahaya itu ada di kami! (Kartini)



“Di sini juga ada seorang wanita tua kepada siapa aku meminta-minta kembang yang mekar di dalam hati. Banyak yang telah diberikan kepadaku, dan ia masih mempunyai banyak lagi, sangat banyak. Akupun ingin tambah, tambah lagi. Ia mau juga memberi lagi kepadaku, tetapi aku harus membeli bunga itu, dengan apa .....? dengan apa aku harus membayarnya .....? lalu dengan sungguh-sungguh keluarlah kata-kata: “Berpuasalah satu hari satu malam.
Selama itu jangan tidur dan tinggallah seorang diri.
Lewat Malam sampailah Siang,
Lewat Badai sampailah Reda,
Lewat Perang sampailah Menang,
Lewat Duka sampailah Suka”. (Kartini)

“Dan siapakah yang banyak dapat berusaha memajukan kecerdasan budi itu. Siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia, ialah wanita, ibu, karena haribaab ibu itulah manusia mendapat didikannya yang mula-mula sekali”. (Kartini)

“Suatu kali peristiwa datanglah seorang anak pada seorang wanita tua. Anak sangat miskin, ia tidak punya apa-apa.
Tetapi tatkala ditanya oleh wanita tua itu “Apakah yang kau inginkan: makanan, perhiasan, atau pakaian? Maka jawabannya: ‘O, ibu, saya tidak menginginkan makanan, perhiasan, atau pakaian. Berilah padaku bunga yang mekar dalam pusat hati!,
Bagaimana pendapatmu?, Didengarkanlah dalam bahasa aslinya begitu manis terdengarnya permohonan anak itu dalam bahasa sekar: ‘Nyuwun sekar melati, hingkang mekar harum melati!” (Kartini)

“Kami sama sekali tidak bermaksud membuat murid-murid kami menjadi orang setengah Eropah atau orang Jawa-Eropah. Dengan pendidikan bebas itu, kami justru mau membuat orang Jawa menjadi orang Jawa sejati. Orang Jawa yang menyala-nyala dengan semangat dan cinta terhadap tanah air dan bangsanya, yang terbuka mata dan hatinya terhadap keindahan-keindahan negerinya, tetapi juga kekurangan. Kami mau memberikan kepada mereka segala apa yang baik dari peradaban Barat, bukan untuk mendesak atau mengganti keindahan pribadi mereka sendiri, melainkan untuk meningkatkannya.” (Kartini)

“Saya tahu, jalan yang saya tempuh itu sulit, penuh onak dan ranjau, Jalan itu melalui batu karang yang tajam dan lici, jalan itu .......... masih belum dibuat!. Dan andaikan saya tidak beruntung dapat mencapai tujuan terakhir, andaikan saya jatuh di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia, karena bagaimanapun jalannya telah dirintis dan saya telah ikut membangun jalan itu yang menuju kebebasan dan kemerdekaan wanita bumi putera.” (Kartini)

“Jika kita mencintai, maka yang paling kita inginkan ialah agar supaya yang kita cintai menjadi bahagia, Bukan begitukah? Maka bahagialah ia yang banyak mencintai dan banyak dicintai. Saya tidak bicara tentang cinta antara pria dan wanita. Itu soal yang rumit dan saya tidak mempunyai pendapat mengenai itu. Saya bicara tentang cinta yang orang rasakan terhadap orang banyak, meskipun yang satu caranya lain dari pada terhadap yang lain.” (Kartini)

Ruang Koleksi Buku
Pada ruang ini terdapat sejumlah koleksi surat-surat dan buku yang berhubungan dengan R.A. Kartini. Surat-surat ditempel pada dinding dengan dilapisi kaca yang diberi lampu. Buku-bukunya ditaruh pada ruang kaca yang diletakkan di tengah-tengah ruangan ini. Salah satu buku koleksinya yang cukup terkenal adalah Habis Gelap Terbitlah Terang.

Setelah ruang koleksi buku, pengunjung akan mengakhiri perjalanannya melihat-lihat koleksi yang ada di Museum R.A. Kartini ini. Keluarnya melalui pintu yang sama ketika masuk ke dalam museum ini, lalu membayar 2.000 rupiah untuk satu orang pengunjung kepada petugas museum yang berada di depan pintu masuk museum.
Museum R.A. Kartini yang berada di Rembang ini umumnya dikenal dengan Museum Kamar Pengabdian R.A. Kartini. Karena lebih banyak berceritera tentang kehidupannya setelah menjadi istri seorang Bupati Rembang, dan perjuangannya dengan pena, tinta dan kertas. R.A. Kartini menikah dengan Bupati Rembang KRM Adipati Ario Djojoadhiningrat tanggal 8 November 1903. Setelah melahirkan putra pertama bernama R.M. Soesalit, pada tanggal 17 September 1904, beliau wafat.
Namun dalam masa yang sangat singkat itu, R.A. Kartini telah dapat menanamkan semangat “gender”, yang sampai sekarang sangat cocok untuk diteruskan. *** [131215]
Share:

Klenteng Gie Yong Bio Lasem

Pulang dari Surabaya ke Solo mencoba jalur Pantura memang cukup jauh, namun juga mengasyikkan. Lelah, ya jelas! Tapi lelah itu terobati manakala menemukan bangunan lawas yang bisa ditulis untuk mengisi blog. Kali ini pengin ke Lasem.
Pada waktu memasuki Lasem, suasana Tiongkok memang sudah terasa. Bangunan khas Tiongkok banyak ditemui di Lasem hingga gang-gang kecil. Pantas bila Lasem ditetapkan sebagai Kota Pusaka di Kabupaten Rembang karena memiliki kekhasan bangunan Tiongkok tersebut, dan ada juga yang menyebutnya dengan Le Petit Chinois atau Tiongkok kecil.
Seperti biasa, bila memasuki kawasan dengan nuansa Tiongkok, saya akan menanyakan keberadaan klenteng. Di Lasem, klenteng yang pertama kali mudah ketemu adalah Klenteng Gie Yong Bio karena dari tepi jalan raya arah Rembang (dulu dikenal sebagai Grotepostweg – Jalan Raya Pos) terdapat papan penunjuknya. Klenteng ini terletak di Jalan Babagan No. 7 Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi klenteng ini berada di selatan Showroom Kampung BNI Batik Tulis Lasem.


Menurut informasi yang diperoleh, Klenteng Gie Yong Bio ini dibangun pada tahun 1780. Awalnya berada di jalan raya, namun kemudian dipindah ke Jalan Babagan ini. Aslinya klenteng ini menghadap ke arah timur. Tapi setelah Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels bertambah ramai maka orientasinya dihadapkan ke jalan raya, yaitu ke arah utara. Perpindahan orientasi ini dilakukan bertepatan dengan perbaikan klenteng tersebut yang dilakukan pada tahun 1915.
Klenteng ini didirikan untuk menghormati 3 serangkai pahlawan Lasem, yaitu Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat dan Raden Panji Margono, yang menghadapi VOC pada tahun 1741-1750. Perang tersebut terkenal dengan nama Perang Godou Balik. Tan Kee Wie gugur ketika armada kapalnya ditenggelamkan dengan tembakan meriam VOC di selat antara Ujung Watu dan Pulau Mandalika. Oey Ing Kiat, seorang Majoor de Chineezen, gugur di Layur, sedangkan Raden Panji Margono gugur di Karangpace, Narukan.
Untuk menghargai jasa-jasa kepahlawanan mereka, masyarakat Tionghoa di Lasem membangun Klenteng Gie Yong Bio sebagai monumen peringatan. Ketiganya dihormati sebagai Kong Co dan dibuat rupangnya untuk diletakkan di atas altar. Rupang Tan Kee Wie dan Oey Ing Kiat diletakkan berdampingan, sementara rupang Raden Panji Margono diletakkan pada altar khusus terpisah. Sehingga, Klenteng Gie Yong Bio mempunyai patung Kong Co yang tidak dimiliki oleh klenteng yang lain, baik di wilayah Lasem maupun di tempat yang lain, seperti Juwana, Pati, Kudus dan Semarang. Berawal dari situlah, Klenteng Gie Yong Bio dikenal sebagai “Klenteng Pembauran” di mana sosok Raden Panji Margono dijuluki sebagai “Kong Co Jawa”, Kong Co pribumi satu-satunya di Indonesia.
Klenteng ini tidak terlalu besar, akan tetapi mempunyai halaman yang cukup luas dan berpagar. Dari halaman tersebut ada gerbang menuju ke bangunan klenteng berbentuk paduraksa khas Tiongkok berwarna pink, yang di depannya terdapat dua patung singa (hanzi) yang menoleh ke kiri dan ke kanan. Selepas melewati gerbang paduraksa, pengunjung sudah berada di halaman bangunan utama klenteng. Tepat di depan pintu utama masuk klenteng terdapat hiolo (tempat menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan. Kemudian masuk bangunan utama klenteng, pengunjung akan menjumpai sejumlah altar untuk persembahyangan.
Klenteng Gie Yong Bio merupakan tempat ibadah penganut Tri Dharma, sehingga klenteng ini berfungsi integratif sebagai tempat ibadah penganut Buddha, Tao dan Konfusius. Selain ketiga Kong Co yang sudah disebutkan di atas, masih ada altar sejumlah dewa yang dimuliakan di klenteng tersebut, seperti Dewa Bumi Hok Tek Ceng Sin, Konfusius, Lao Tzu maupun Dewi Kemurahan (Kuan Yin). *** [131215]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami