The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Di Ujung Rel Pesisir Timur Sumatera: Jejak Sejarah di Stasiun Kereta Api Tanjungbalai

Pada Kamis malam, 19 Februari, pukul 22.58 WIB, sebuah foto sederhana beranda media sosial mendadak menjelma jendela waktu. Seorang enumerator SurveyMETER, Hendrik Nugroho, S.E., yang tengah bertugas melakukan survei PAUD mengunggah gambar Stasiun Kereta Api Tanjungbalai yang dipotret pada siang harinya. 

Di bawah bayang-bayang pohon besar menjulang, bangunan tua itu tampak teduh, seolah menyimpan riwayat panjang tentang rel, pelabuhan, dan geliat perkebunan di pesisir timur Sumatera.

Stasiun yang berkode TNB ini berdiri di Tanjungbalai Kota IV, Tanjungbalai Utara, pada ketinggian +2,87 meter di atas permukaan laut. Ia tergolong stasiun kelas II dan berada dalam wilayah kerja Divisi Regional I Sumatera Utara dan Aceh. Kini, ia dikenal sebagai stasiun aktif yang terletak di ujung lintasan, sebuah terminus yang tenang, tempat perjalanan seakan berhenti sejenak sebelum kembali pulang.

Namun ketenangan itu lahir dari denyut sejarah yang panjang. Bangunan stasiun ini merupakan warisan era Hindia Belanda, dibangun seiring pembukaan jalur rel sepanjang 141 kilometer yang menghubungkan Bamban–Rantau Laban–Kisaran–Tanjungbalai–Teluk Nibung. 

Fasad Stasiun Tanjungbalai (Foto: Hendrik Nugroho/19-02-2026)

Proyek ambisius tersebut digarap oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), perusahaan kereta api swasta yang beroperasi di pesisir timur Sumatra, terutama kawasan Deli (Medan). Pembangunan dimulai pada 1903 dan rampung pada 1918, sebagai bagian dari proyek besar jalur Timur Sumatera kategori spoorweg 2e klasse yang dikerjakan bertahap.

Lintasan Bamban–Rantau Laban dilaksanakan lebih dahulu pengerjaannya, dari tahun 1901–1903. Menyusul kemudian Rantau Laban–Tanjungbalai yang dikerjakan pada 1912–1915, dan rel Tanjungbalai–Teluk Nibung yang diselesaikan hingga 1918. Tepat pada 6 Agustus 1915, Stasiun Tanjungbalai diresmikan, menjadi simpul penting yang menghubungkan kebun dengan pelabuhan.

Di balik rel-rel itu, tersimpan kepentingan ekonomi kolonial. Jalur kereta di pesisir timur Sumatra lahir dari desakan para pengusaha perkebunan di tanah Deli. Sejak 1881, manajer Deli Maatschappij menggagas pembangunan rel yang menghubungkan kebun-kebun tembakau, karet, dan kelapa sawit dengan pelabuhan ekspor. Gagasan tersebut mendapat dukungan para anggota Deli Planters Vereeniging, asosiasi pemilik perkebunan Deli. 

Pada 1883, sejumlah perusahaan perkebunan membentuk DSM untuk mewujudkan cita-cita jalur besi di Sumatera Timur. Sejak akhir 1883, rel demi rel mulai dibentangkan, hingga pada 1937 jaringan itu telah menyambung Medan sampai Rantau Prapat sebagai urat nadi distribusi komoditas menuju Eropa melalui Pelabuhan Teluk Nibung.

Halaman parkir yang luas di Stasiun Tanjungbalai (Foto: Hendrik Nugroho/19-02-2026)

Kini, Stasiun Tanjungbalai memiliki tiga jalur. Jalur 1 menjadi sepur lurus menuju barat, ke arah Kisaran. Jalur 2 dan 3 difungsikan sebagai jalur persilangan atau langsiran. Dahulu, dari jalur 1 terdapat percabangan menuju Teluk Nibung, tetapi jejak itu telah lama hilang. Percabangan yang lenyap membuat stasiun ini seolah benar-benar berada di ujung cerita.

Karena tak memiliki depo lokomotif, setiap kereta yang tiba dan menurunkan penumpang di sini akan kembali bergerak ke Kisaran untuk bermalam. Esok hari, ia datang lagi untuk mengulang ritme yang sama, seperti napas panjang yang teratur.

Di tengah arus modernisasi transportasi, Stasiun Tanjungbalai tetap berdiri dengan wajah kolonialnya yang bersahaja. Dinding-dindingnya bukan sekadar bata dan semen, melainkan saksi bisu perjalanan komoditas, ambisi ekonomi, dan mobilitas manusia selama lebih dari satu abad. 

Foto yang diunggah pada malam itu mungkin hanya sekejap lintasan di linimasa, tetapi bangunan ini menyimpan rentang waktu yang jauh lebih panjang tentang bagaimana rel-rel besi pernah mengubah wajah pesisir timur Sumatera. *** [210226]


Kepustakaan:

Indera. (2006). “Diversifikasi Usaha Deli Spoorweg Maatschappij: Studi Sejarah Perusahaan di Sumatera Timur, 1883-1940”. Makalah disampaikan dalam Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta, 14-17 November 2006.

Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V.

Rivai, M., Damanik, E. L., Lubis, H. S. D., & Harahap, A. (2022). Railway Transport Development in East Sumatra, 1880s-1930s. ICIESC. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.4108/eai.11-10-2022.2325400



Share:

Istana Niat Lima Laras: Jejak Kejayaan Melayu yang Kini Menunggu Uluran Zaman

It has been said that, at its best, preservation engages the past in a conversation with the present over a mutual concern for the future.” -- William J. Murtagh

Fasad Istana Niat Lima Laras di Jalan Rakyat, Kampung Bagak, Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara (Foto: Hendrik Nugroho/27/01/2026)

Siang itu, Selasa (27/01), sekitar pukul 16.30 WIB, sebuah unggahan sederhana di Facebook menarik perhatian. Hendrik Nugroho, S.E., enumerator SurveyMETER yang sedang bekerja di Sumatera Utara, membagikan foto sebuah bangunan tua yang megah: Istana Niat Lima Laras

Di tengah kesibukannya mengurus izin penelitian pendidikan anak usia dini (PAUD), Hendrik menyempatkan waktu untuk memotret istana warisan budaya yang berdiri di Jalan Rakyat, Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara.

Lokasinya tak jauh dari denyut kehidupan masyarakat, yaitu sekitar 110 meter dari Masjid Al Mukarram. Namun, berbeda dengan hiruk-pikuk sekitarnya, Istana Niat Lima Laras justru tampak sunyi. Catnya memudar, sebagian struktur terlihat rapuh, seolah menanggung beban usia dan lupa. Padahal, bangunan ini merupakan ikon penting peninggalan sejarah Suku Melayu Pesisir Batu Bara.

Sejarah mencatat, Istana Lima Laras telah ada sejak sekitar abad ke-18. Namun, wujud megah seperti yang terlihat sekarang merupakan hasil prakarsa Datuk Mad Yuda, Datuk terakhir Kedatuan Lima Laras. Pembangunannya dimulai pada tahun 1907 dan rampung lima tahun kemudian, pada 1912, dengan biaya yang fantastis pada masanya, yaitu sekitar 150.000 Gulden. Untuk mewujudkan kemegahan itu, Datuk Mad Yuda bahkan mendatangkan ahli bangunan dari Tiongkok.

Nama “Niat” bukan sekadar hiasan. Istana ini lahir dari sebuah nazar. Konon, Datuk Mad Yuda berjanji bahwa jika perjalanannya berdagang ke Penang mendatangkan keuntungan besar, ia akan membangun istana megah sebagai bentuk cinta dan penghormatan kepada para istrinya. Sebuah niat personal yang kemudian menjelma menjadi warisan sejarah kolektif.

Selama masa kejayaannya, diperkirakan ada 12 Datuk yang pernah memerintah dari istana ini. Kompleks Istana Niat Lima Laras berdiri di atas lahan seluas satu hektar, berbatasan dengan sungai dan jalan menuju Tanjung Tiram di sisi utara, perkebunan kelapa sawit di selatan, serta permukiman warga di sisi timur dan barat. 

Di dalamnya terdapat tiga bangunan utama, yakni bangunan istana, tempat menenun, dan bangunan kamar mandi. Menariknya, tiga sumur tua di sekitar kompleks masih digunakan masyarakat hingga kini, yang menjadi sebuah bukti bahwa warisan masa lalu masih menyatu dengan kehidupan hari ini.

Arsitektur istana ini memadukan gaya Eropa, Cina, dan Melayu. Pilar-pilar tinggi, jendela besar, dan tata ruangnya mencerminkan kemakmuran para penghuninya di masa lalu. Namun, sejarah tak selalu berjalan ramah. 

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, istana ini sempat dikuasai Nippon. Beberapa tahun kemudian, saat Agresi Militer Belanda I (1946–1947), istana justru menjadi markas pertahanan para pejuang lokal. Kedatuan Lima Laras, yang menolak kolonialisme Belanda, rela menjadikan simbol kebanggaannya sebagai basis perjuangan.

Pasca-kemerdekaan, nasib istana perlahan meredup. Kerusakan mulai muncul di berbagai bagian bangunan. Keluarga Kedatuan Lima Laras satu per satu meninggalkan istana demi mencari penghidupan lain. 

Pada 1948, bangunan ini sempat ditempati Angkatan Udara di bawah komando Mayor Dahrif Nasution. Namun setelah kondisi kembali kondusif, istana kembali kosong. Memasuki era 1970-an, kondisinya dinilai sudah tak layak huni. Sejak saat itu hingga kini, Istana Niat Lima Laras berdiri tanpa penghuni alias sekadar menjadi saksi bisu sejarah dan tujuan wisata yang terlupakan.

Padahal, seperti yang diungkapkan pakar pelestarian Amerika William J. Murtagh dalam Keeping Time: The History and Theory of Preservation in America (1988): 

“Telah dikatakan bahwa, pada kondisi terbaiknya, pelestarian melibatkan masa lalu dalam percakapan dengan masa kini mengenai kepedulian bersama terhadap masa depan.” 

Kutipan ini terasa relevan ketika menatap Istana Niat Lima Laras hari ini. Bangunan ini bukan sekadar tumpukan kayu dan batu tua, melainkan ruang dialog antara sejarah, identitas, dan tanggung jawab generasi sekarang.

Tanpa upaya renovasi dan revitalisasi yang serius, Istana Niat Lima Laras berisiko kehilangan maknanya. Bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai penanda perjalanan panjang masyarakat Melayu Batu Bara. 

Merawatnya berarti menjaga ingatan kolektif, sekaligus membuka peluang menjadikannya pusat edukasi dan wisata sejarah yang hidup. Sayang sekali jika warisan sebesar ini dibiarkan terus menua dalam diam. *** [280126]


Kepustakaan:

Ela, Novita Sari (2023) PERANCANGAN MEDIA INFORMASI TENTANG SEJARAH BANGUNAN ISTANA NIAT LIMA LARAS SEBAGAI UPAYA REVITALISASI PENINGGALAN SEJARAH MELAYU PESISIR KABUPATEN BATU BARA SUMATERA UTARA. Strata thesis, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. https://repository.isi-padangpanjang.ac.id/2076/

Putri, Indah R., Achiriah, Azhar, A.A. (2020). Pola Arsitektur Bangunan Istana Niat Lima Laras di Kabupaten Batu Bara. Warisan: Journal of History and Cultural Heritage. 1(2), 61-68. https://doi.org/10.34007/warisan.v1i2.522

William J. Murtagh, Keeping Time: The History and Theory of Preservation in America (New York: Sterling Publishing Co., Inc., 1988), p. 168.



Share:

Royal at Chinatown: Jejak Opera, Kenangan, dan Denyut Budaya di Jantung Singapura

Royal at Chinatown, Singapore, on Free Singapore Tour on Sunday (14/12/2025)

There are a few years when you make almost all of your important memories. And then you spend the next few decades reliving them.” -- Charles Yu, Interior Chinatown

Langkah saya sempat melambat ketika mengikuti Free Singapore Tour bersama Tim NIHR UB pada Ahad (14/12/2025) saat transit di Singapura sepulang dari menghadiri Third Annual Symposium NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Saya tertarik melihat sebuah bangunan tua berfasad unik di sudut pertemuan Jalan Trengganu dan Jalan Smith yang berada Chinatown, Singapura. Di tengah hiruk-pikuk kawasan wisata, bangunan itu seolah berdiri tenang yang menyimpan cerita panjang yang tak langsung terlihat. Namanya kini dikenal sebagai Royal at Chinatown.

Saat ini, Royal at Chinatown adalah bangunan konservasi tiga lantai yang telah bertransformasi mengikuti zaman. Lantai dasarnya diisi deretan toko ritel, lantai dua menjadi rumah bagi Yum Cha Restaurant yang populer, sementara lantai tiga menjelma hotel butik dengan 40 kamar yang dikelola oleh HOTEL 1888 COLLECTION. Renovasi besar terakhir dilakukan pada 2019, memberi napas baru tanpa menghapus identitas lamanya.

Namun jauh sebelum menjadi hotel dan restoran, tempat ini pernah menjadi pusat denyut kebudayaan Tionghoa di Singapura.

Di sinilah, pada tahun 1887, berdiri Gedung Opera Lai Chun Yuen yang menghadirkan sebuah teater megah berkapasitas 834 kursi yang pada masanya dianggap sebagai “Broadway” atau “West End”-nya opera Kanton. 

Pada dekade 1910-an hingga 1920-an, gedung ini menjadi magnet hiburan utama bagi komunitas imigran Tionghoa. Bintang-bintang opera ternama dari Tiongkok dan Hong Kong silih berganti naik panggung, menarik penonton dari berbagai latar dialek dan kelas sosial.

Opera, bagi masyarakat Tionghoa kala itu, bukan sekadar hiburan. Pertunjukan dipercaya sebagai bentuk penghormatan kepada dewa dan roh. Karena itulah, orang-orang datang berbondong-bondong. Bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk menjalankan keyakinan. 

Gedung ini dulunya dimiliki oleh Lin Dingxing, kemudian Loh Ghim, dan dirancang oleh arsitek Alfred Bidwell dari firma Swan and Maclaren, yang dikenal piawai menyesuaikan desain dengan fungsi sosial bangunan.

Bentuknya menyerupai rumah teh tradisional Tiongkok bertingkat tiga, lengkap dengan balkon kayu. Penonton duduk di meja-meja kecil di lantai pertama, menyeruput teh dan camilan. Panggung berada di lantai dua, sementara pengunjung berada di bawah langit-langit tinggi yang dihiasi ornamen lukis dan lentera temaram. Penonton kaya bahkan memiliki bilik pribadi dengan layanan lebih eksklusif.

Pertunjukan digelar dua kali sehari sebagai tanda betapa populernya gedung ini. Smith Street pun hidup, bukan hanya sebagai pusat hiburan, tetapi juga kawasan ekonomi. Rumah-rumah toko tiga lantai di sekitarnya yang umumnya bergaya Barok dan Tionghoa itu menjadi tempat tinggal sekaligus ruang usaha. Teater membawa rezeki! Penonton berbelanja, makan, dan menginap di sekitar kawasan.

Namun kejayaan itu perlahan memudar. Akhir 1930-an, film bersuara mulai menggusur opera. Pada 1941, Lai Chun Yuen diubah menjadi bioskop, sebelum akhirnya tak bertahan melewati masa Pendudukan Jepang. Gedung ini rusak parah selama Perang Dunia II, lalu pascaperang beralih fungsi menjadi toko, bahkan gudang pedagang kaki lima.

Di balik kemegahannya, tempat ini juga menyimpan sisi gelap. Smith Street kala itu dikenal sebagai distrik lampu merah. Bilik-bilik pribadi di teater kerap digunakan untuk aktivitas rahasia, dan merokok opium adalah pemandangan lazim. Ironisnya, gedung opera ini juga pernah menjadi tempat penggalangan dana kemanusiaan, seperti untuk Dana Bantuan Banjir Canton, yang sukses berkat popularitas para pemain ternama.

Kini, saat rombongan Free Singapore Tour melintasi bangunan ini, yang terlihat adalah wajah baru Royal at Chinatown. Nama-nama usaha modern terpampang, termasuk Rest Chinatown Hotel. Di lantai bawah menghadap Jalan Trengganu, berdiri Toko Antik Fu Xing (福兴古玩), yang bahkan menawarkan konsultasi ramalan nasib, sebuah pengingat bahwa tradisi lama belum sepenuhnya pergi.

Opera Lai Chun Yuen memang telah lama sirna. Namun kisahnya masih berdenyut di balik dinding bangunan ini. Gedung opera Chinatown, terutama pada masa kejayaannya di tahun 1920-an, bukan sekadar ruang pertunjukan. Ia adalah sekolah budaya, ruang temu komunitas, dan rumah bagi kenangan kolektif para imigran Tionghoa yang membangun hidup dari nol di tanah baru.

Seperti yang ditulis Charles Yu, seorang penulis dan pengacara Amerika, dalam Interior Chinatown (2020):

“Ada beberapa tahun di mana Anda hampir menciptakan semua kenangan penting Anda. Dan kemudian Anda menghabiskan beberapa dekade berikutnya untuk menghidupkan kembali kenangan-kenangan itu.”

Royal at Chinatown adalah salah satu tempat di mana kenangan-kenangan itu pernah lahir, dan hingga kini, masih berusaha dihidupkan kembali, kendati hanya menyisakan bangunannya saja, di jantung Chinatown Singapura. *** [240126]


Kepustakaan:

Chinatown Singapore. (n.d.). Hotel Calmo (Former Lai Chun Yuen 旧梨春园). Chinatown Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://chinatown.sg/visit/former-lai-chun-yuen/

National Archives of Singapore. (n.d.). The building located at junction of Trengganu Street and …. National Archives of Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://www.nas.gov.sg/archivesonline/photographs/record-details/f5881c6c-1161-11e3-83d5-0050568939ad

National Archives of Singapore. (n.d.). The building in the centre was the famous “Lai Chun Yuen” …. National Archives of Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://www.nas.gov.sg/archivesonline/photographs/record-details/e6c678f3-1161-11e3-83d5-0050568939ad

Richard, L. (2019, October 24). Postingan Lee Richard dalam Grup 十里之外 Shí Lǐ zhī wài. Facebook. https://web.facebook.com/groups/265763383605892/posts/1264406923741528/?_rdc=1

Royal Group. (n.d.). Royal at Chinatown. Royal Group; Royal Group Investments Pte Ltd. Retrieved January 24, 2026, from https://royalgroup.sg/wp2019/royal-chinatown-retail-sg/



Share:

Sri Mariamman Temple: Jejak Dewi Hujan di Jantung Chinatown Singapura

Kuil Sri Mariamman (Sri Mariamman Temple) di 244 South Bridge Road, Chinatown, Singapura (Foto: Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A./14 Desember 2025)

Begitu bus wisata bandara melambat dan berhenti di jantung kawasan Chinatown, Singapura, suasana Ahad pagi (14/12/2025) terasa berbeda. Peserta Free Singapore Tour turun satu per satu, lalu berjalan kaki mengikuti pemandu menuju Chinatown Heritage Centre. Di tengah hiruk-pikuk persimpangan dan derap langkah wisatawan, sebuah bangunan penuh warna tiba-tiba menarik perhatian peserta.

Saat di persimpangan lampu lalu lintas, Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A. - atau akrab disapa Pak Nino, sosiolog Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) - mengangkat kamera. Bidikannya tertuju pada sebuah kuil yang berdiri anggun tak jauh dari Jamae (Chulia) Mosque. Di antara masjid dan ruko-ruko tua Chinatown, bangunan itu seolah menjadi penanda bisu tentang lapisan sejarah Singapura yang majemuk.

“Ini Sri Mariamman Temple,” ujar sang pemandu, perempuan paruh baya dengan suara mantap. “Kuil Hindu tertua di Singapura.”


Kuil Tertua dan Jejak Awal Singapura

Sri Mariamman Temple, atau dahulu dikenal sebagai Mariamman Kovil atau Kling Street Temple, didirikan pada tahun 1827. Usianya nyaris setua Singapura modern. Kuil ini dibangun sebagai tempat ibadah bagi para imigran India Selatan, khususnya dari distrik Nagapattinam dan Cuddalore, yang datang mencari penghidupan di pelabuhan baru ciptaan Stamford Raffles.

Awalnya, bangunan kuil hanyalah struktur sederhana dari kayu beratap jerami di South Bridge Road. Namun di sanalah sebuah patung kecil Dewi Mariamman - dikenal sebagai Sinna Amman - dipasang oleh pendirinya, Naraina Pillai. Menariknya, patung kecil tersebut masih tersimpan hingga kini di ruang suci utama kuil, menjadi penghubung nyata antara masa lalu dan masa kini.

Naraina Pillai sendiri adalah figur penting dalam sejarah awal Singapura. Ia tiba pada Mei 1819 bersama Sir Thomas Stamford Raffles, meninggalkan Penang karena terpikat visi besar tentang Singapura. Kariernya berliku, mulai dari kepala juru tulis pemeriksa koin di perbendaharaan kolonial, hingga akhirnya diberhentikan. Namun nasib membawanya menjadi kontraktor bangunan pertama di Singapura - dan namanya pun tercatat sebagai pendiri Kuil Sri Mariamman.


Dari Bangunan Sederhana ke Mahakarya Dravida

Seiring waktu, kuil ini berkembang. Pada 1843, bangunan dari plester dan batu bata didirikan. Lebih dari satu abad kemudian, tepatnya pada 1962, struktur kuil diperbarui secara menyeluruh dengan ukiran rumit yang mencerminkan arsitektur kuil India Selatan. Gopuram, yakni menara gerbang utama, yang semula polos dan dibangun pada akhir abad ke-19, direkonstruksi pada 1930-an dan diperkaya detail pahatan pada 1960-an.

Kini, gopuram lima lantai menjadi ciri paling mencolok. Setiap tingkatnya mengecil ke atas, menciptakan ilusi ketinggian yang megah. Relief dewa-dewi Hindu, binatang mitologis, dan tokoh budaya menghiasi permukaannya. Konon, seluruh pahatan itu dikerjakan oleh pengrajin terampil yang didatangkan langsung dari Nagapattinam dan Cuddalore - daerah asal komunitas Tamil yang membangun kuil ini.

Ungkapan arsitek modern berkebangsaan Jerman, Ludwig Mies van der Rohe (1886-1969), terasa relevan di sini: “God is in the details.” Dewa memang hadir dalam rincian - dalam setiap pahatan, warna, dan proporsi yang menjadikan Sri Mariamman Temple bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan karya seni spiritual.


Pusat Ibadah, Perlindungan, dan Komunitas

Lebih dari fungsi religius, Kuil Sri Mariamman pernah menjadi tempat berlindung bagi para imigran baru di masa kolonial. Di sinilah mereka mencari dukungan sosial, spiritual, bahkan legal. Pada masa ketika hanya kuil yang berwenang mengesahkan pernikahan Hindu, Sri Mariamman Temple berperan sebagai Kantor Pencatatan Pernikahan umat Hindu di Singapura.

Denah kuil mengikuti pakem arsitektur Dravida, yang umumnya terdiri dari ruang suci para dewa, aula utama bagi pemuja, dan menara gerbang sebagai transisi sakral dari dunia luar. Bagian-bagian inti, seperti dinding luar, kubah, dan tempat suci, berasal dari 1840-an, sementara serambi penghubung ditambahkan pada 1916. Semua elemen ini menjadikan kuil tersebut sebagai arsip hidup perjalanan komunitas Hindu di Singapura.


Dewi Hujan dan Harapan Manusia

Nama Sri Mariamman berakar jauh di India Selatan. Dalam tradisi Tamil Nadu dan Karnataka, pemujaan terhadap Dewi Mariamman diyakini lebih tua dari agama Hindu Weda itu sendiri, hal ini mungkin telah berusia lebih dari 4.000 tahun. “Mari” berarti hujan, dan “Amman” berarti ibu. Ia adalah Dewi Ibu Hujan, pemberi kesuburan tanah dan manusia.

Dalam masyarakat desa kuno, Mariamman juga menjadi pelindung dari wabah penyakit seperti cacar dan campak, penyakit yang dahulu sangat ditakuti. Hingga kini, perempuan hamil masih mempersembahkan gelang kaca sebagai doa untuk persalinan yang selamat. Tradisi-tradisi itu menyeberang laut bersama para perantau Tamil dan berlabuh di Singapura, di dalam dinding Kuil Sri Mariamman.


Warisan di Tengah Kota Modern

Di tengah gedung-gedung modern dan lalu lintas Chinatown, Kuil Sri Mariamman berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah, migrasi, dan keyakinan. Ia bukan hanya tujuan wisata religi, tetapi juga penanda bahwa Singapura dibangun dari perjumpaan banyak budaya.

Bagi Pak Nino, satu jepretan kamera di persimpangan lampu merah itu menangkap lebih dari sekadar bangunan. Ia merekam kisah tentang iman, detail arsitektur, dan sejarah panjang yang menyatu, merupaka sebuah fitur perjalanan yang mengingatkan bahwa di kota modern sekalipun, jejak masa lalu tetap hidup, berwarna, dan bermakna. *** [210126]


Kepustakaan:

BIMsmith. (2021, January 07). Top Architecture Quotes (2021) - Quotes about Architecture from Famous Architects. Bimsmith. https://blog.bimsmith.com/Top-Architecture-Quotes-2021-Quotes-about-Architecture-from-Famous-Architects

Hindu Endowments Board. (n.d.). Sri Mariamman Temple. Sri Mariamman Temple. Retrieved January 20, 2026, from https://heb.org.sg/smt/

Sri Mariamman Temple. (n.d.). Temple History. Sri Mariamman Temple; Hindu Endowments Board. Retrieved January 19, 2026, from https://smt.org.sg/HEB/Template3/history

Storytrails. (n.d.). Mariamman: The Village Goddess Who Travelled - Storytrails. Storytrails. Retrieved January 19, 2026, from https://storytrails.in/culture/mariamman-the-village-goddess-who-travelled/

Tan, B. (n.d.). Naraina Pillai. National Library and Archives Board. Retrieved January 19, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=e751791b-cc41-4eb2-abb8-ff5b43b46ff9

Taskos, N. (2020, May 13). Sri Mariamman Temple. Atlas Obscura. https://www.atlasobscura.com/places/sri-mariamman-temple



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami