Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Minggu, 17 September 2017

Panti Wibowo Kepatihan Surakarta

Selesai mengekplorasi bekas kandang kuda Kepatihan, peserta rombongan Gelar Potensi Wisata Kampung Kota beranjak menuju ke sebuah bangunan lawas yang merupakan cikal bakal Museum Radyapustaka, yang dulunya bernama Panti Wibowo. Bangunan Panti Wibowo ini terletak di Jalan Kepatihan Wetan No. 7 Kelurahan Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi bangunan Panti Wibowo ini berada di sebelah timur Kantor Kejaksaan Surakarta.
Cikal bakal Museum Radyapustaka di Kepatihan didirikan pada 28 Oktober 1890, terutama menyimpan benda-benda dan naskah-naskah kuno dari daerah Kasunanan Surakarta. Pendirinya adalah seorang bumiputra sejati, Kanjeng Raden Adipati (KRA) Sosrodiningrat IV yang menjabat patih pada pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IX.


Peristiwa ini menjadi catatan penting karena seorang bumiputra pertama dan seorang pejabat pemerintah (kerajaan) memiliki kesadaran tinggi tentang arti museum. Museum ini menyimpan berbagai koleksi Raden Tumenggung Haryo Joyohadiningrat II, sang pemrakarsa berdirinya Perkumpulan Paheman Radyapustaka.
Panti Wibowo ini berada di salah satu ruang di kediaman KRA Sosrodiningrat IV. Konon, kompleks Kepatihan Surakarta ini cukuplah megah. Sebagai pusat pemeritahan Nagari Surakarta, kompleks Kepatihan tak kalah dengan Pura Mangkunegaran. Di kompleks Kepatihan juga ada pamedan (alun-alun kecil), kandang kuda dan kereta, masjid, pendopo, panti wibowo, dan lain-lain.


Penempatan koleksi-koleksi tersebut di Panti Wibowo, semula menjadikan museum mini ini bersifat pribadi (privat). Kemudian atas prakarsa Sri Susuhunan Pakubuwono X, museum di Kepatihan dipindahkan ke Loji Kadipolo pada 1 Januari 1913. Gedung Loji Kadipolo yang menjadi lokasi Museum Radyapustaka sekarang ini tanahnya dibeli oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X dari seorang Belanda, Johannes Buselaar seharga 65 ribu gulden dengan akta notaris 13/VII tahun 1877 nomor 10 tanah eigendom.


Pemindahan koleksi benda-benda dan naskah-naskah kuno ke Loji Kadipolo ini ternyata memberi berkah tersendiri bagi keselamatan koleksi-koleksi tersebut. Karena pada tahun 1946 terjadi peristiwa bumi hangus terhadap kompleks Kepatihan yang dilakukan oleh Gerakan Anti Swapraja. Mereka membakar kompleks Kepatihan yang dianggap sebagai simbol pusat pemerintahan yang feodal. Sebagian besar kompleks Kepatihan rata dengan tanah.
Hanya beberapa bangunan yang ada di kompleks Kepatihan yang tersisa, seperti Masjid Al Fatih, bekas kandang kuda, dan Dalem Darmonegaran. Sedangkan, pintu gerbang Kepatihan yang menyerupai Kori Brajanala di Kraton Kasunanan Surakarta telah berubah menjadi Kantor Kejaksaan Surakarta, lalu bekas rumah tinggal patih menjadi bangunan baru SMKN 8 Surakarta (dulu dikenal dengan SMKI). Rumah bekas Raden Adipati Yudonagoro sekarang menjadi TK Pamardisiwi 2. Sementara bekas bangunan Panti Wibowo terlihat terbengkelai, dan sampingnya digunakan sebagai Sekretariat TKPKD (Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah) dan Kantor Sekretariat Program Kota Tampa Kumuh (KOTAKU) Koordinator Kota Surakarta. *** [030917]

Jumat, 15 September 2017

Sanggar Seni Kemasan Surakarta

Gelar Potensi Wisata Kampung Kota yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata (Disparta) Surakarta bersama Laku Lampah, Solo Creative City, dan Bening Arts Management pada hari kedua (3/9), mencoba menjelajah wilayah Kepatihan Kulon dan Kepatihan Wetan.
Para peserta yang berasal dari berbagai daerah berkumpul di Kantor Kelurahan Kepatihan Kulon. Kemudian rombongan ini beranjak mengunjungi Sanggar Seni Kemasan. Sanggar seni ini terletak di Jalan Mashela No. 7 Kelurahan Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi sanggar seni ini berada di sebelah barat daya SMP Negeri 13 Widuran ± 100 m, atau di sebelah barat Gang Kemasan.


Setibanya di lokasi sanggar seni, peserta rombongan tur wisata sejarah kampung disambut di halaman dengan alunan musik dari bambu oleh seniman setempat dengan pakaian tradisional berwarna hitam dengan balutan ikat kepala. Sanggar seni ini menempati bangunan lawas berbentuk joglo. Bangunan lawas itu dulunya merupakan sebuah rumah milik seorang kerabat Kraton Kasunanan Surakarta yang dikenal dengan Dalem Purwoatmajan.


Di sebuah pendopo, peserta rombongan dipersilakan duduk dan menikmati suguhan tari Gambyong Pareanom yang dipentaskan oleh 3 perempuan, yaitu Ayunda, Nandya, dan Mutiya, dengan menggunakan kemben berwarna merah. Tari ini memberi kesan keluwesan dengan menampilkan kegemulaian penarinya.
Istilah Gambyong ini berawal dari nama seorang penari tledhek. Penari yang bernama Gambyong ini hidup semasa Sri Susuhunan Pakubuwono IV di Surakarta (1788-1820). Nama penari ini juga disebutkan dalam buku Cariyos Lelampahanipun Suwargi R. Ng. Ronggowarsito (1803-1873), yang mengungkapkan adanya penari tledhek yang bernama Gambyong yang memiliki kemahiran dalam menari dan kemerduan suara, sehingga menjadi pujaan kaum muda pada zaman itu.


Atas usaha KRMT Wreksadiningrat, tarian tersebut diperkenalkan kepada umum dan ditarikan oleh seorang waranggana. Ketika itu tari mempunyai bentuk yang berbeda dengan sebelumnya. Di situlah terjadi perpaduan tari rakyat dan tari kraton. Bentuk tari ini kemudian berkembang dalam masyarakat. Pada tahun 1950, Nyi Bei Mintoraras menyusun tari Gambyong Pareanom. Tari Gambyong ini berbeda dengan bentuk tari Gambyong sebelumnya, baik dalam susunan tari, iringan tari, rias dan busananya. Bentuk tari Gambyong Pareanom disusun berdasarkan tari Srimpi, Golek, dan Gambyong. Selain itu juga digarap dengan kaidah-kaidah tari istana.


Setelah tari Gambyong Pareanom kelar, suguhan berikutnya adalah tari Mahesa Jenar-Roro Wilis. Tari karya S. Maridi ini diperagakan oleh Arto Kilat Kusumaningrat (Arkom) dan Novita Sari. Tari ini mengisahkan Mahesa Jenar yang sedang merangkai indahnya asmara kepada si cantik Dyah Roro Wilis, putri dari Ki panutan yang kelak dikenal sebagai Kyai Sima Rodra dari Gunung Tidar.
Di akhir lawatan di Sanggar Seni Kemasan, rombongan peserta tur wisata kampung diajak melihat foto-foto tempo doeloe yang terpampang di pendopo. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh penulis untuk mengeksplorasi ihwal sanggar seni ini. Sanggar Seni Kemasan didirikan oleh Bambang Sugiarto. Sebelum menjadi Sanggar Seni Kemasan, sanggar tersebut bernama Sanggar Gidag Gidig yang didirikan pada 21 Desember 1976. Waktu itu Gidag Gidig belum memiliki tempat yang tetap untuk latihan, jadi masih berpindah-pindah. Pada tahun 1984 Gidag Gidig memilih tempat untuk dijadikan sanggar yang tetap yang sekarang menjadi Sanggar Seni Kemasan ini. Sanggar Gidag Gidig sempat vakum selama 13 tahun. Hingga pada tahun 2013 sanggar kembali hadir dengan nama yang berbeda, yaitu Sanggar Seni Kemasan.
Nama Kemasan ini diambil dari nama sebuah kampung di mana sanggar seni tersebut berada. Pada waktu Kasunanan Surakarta Hadiningrat masih eksis secara pemerintahan, segala harta benda kerajaan berupa emas dan perhiasan disimpan di sebuah tempat yang berada di Kepatihan. Pusat pemerintahan di Surakarta kala itu bukanlah di Kraton Kasunanan melainkan di Kepatihan. Patih di sini diberi kuasa penuh oleh Raja Kasunan Surakarta. Nama tempat untuk menyimpan harta benda kerajaan tersebut dinamakan Kemasan. *** [030917]

Rabu, 13 September 2017

Dalem Roesradi Widjojosawarno

Setelah puas mengekplorasi rumah Abdul Fattah, rombongan Gelar Potensi Wisata Kampung Kota singgah di Dalem Roesradi Widjojosawarno sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumur Bandung, Sumur Kamulyan, dan Sumur Ngampok. Dalem ini terletak di Jalan Empu Sedah No. 8 RT. 01 RW. 02 Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi dalem ini berada di sebelah barat Batik Keris Nonongan, atau sekitar 200 m sebelah timur Ginza Salon.
Sebelumnya, rumah atau dalem ini dikenal dengan Dalem Mloyosetiko, seorang abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta bagian karawitan. Mloyosetiko dikenal sebagai seorang seniman priyayi yang menemukan notasi yang terbuat dari rantai yang kemudian dikenal dengan notasi rantai. Notasi rantai merupakan salah satu notasi gamelan yang turut berperan penting di bidang kesenian, karena gamelan kini dikenal di dunia internasional. Notasi tersebut mampu berfungsi untuk mendokumentasikan suatu irama lagu atau gending Jawa.


Setelah Mloyosetiko tiada, dalem ini kemudian ditempati oleh keluarga dari Mloyosetiko. Salah satu putri dari Mloyosetiko menikah dengan Roesradi Widjojosawarno, seorang penilik olahraga. Kantornya dulu masih berada di Pamedan, Mangkunegaran. Roesradi Widjojosawarno berasal dari Sondakan, Laweyan. Masa kecilnya berada di rumah di depan Lumbung Batik, yang sekarang menjadi BRI Unit Laweyan.
Lingkungan Sondakan yang terkenal akan seni batiknya, menempa Roesradi Widjojosawarno mahir dalam melukis foto pakai pensil dan membuat pola-pola lukis batik. Kemahirannya ini yang mengantarkan Roesradi Widjojosawarno dipercaya untuk membuat Wayang Wahyu. Wayang Wahyu adalah wayang yang penggambaran tokoh-tokohnya dan alur ceriteranya diambil dari Alkitab, baik dari Perjanjian Lama maupun Baru.


Wayang Wahyu resmi berdiri pada 2 Februari 1960 di Surakarta, atau yang dikenal dengan Kota Solo. Gagasan awal pembuatan wayang ini didasari oleh keinginan kuat untuk memiliki sebuah media pewartaan iman Katolik yang dapat mendekatkan Katolik dengan masyarakat Jawa pada waktu itu. Pelopor realisasi gagasan ini datang dari Bruder Timothius L. Wignyosoebroto, FIC. Dalam mewujudkan gagasan tersebut,  Bruder Timothius L. Wignyosoebroto dibantu tiga rekannya yaitu Ki Atmowijoyo selaku dalang dan penulis naskah, R. Roesradi Widjojosawarno sebagai pembuat wayang, dan J. Soertamo yang bertugas di bagian gending dan karawitan. Sedangkan, bahan kulitnya dipasok oleh Sadinoe Songkopamilih.
R. Roesradi Widjojosawarno merealisasikan Wayang Wahyu dengan membuat gunungan atau kayon, malaikat, setan, Adam, Hawa, hewan-hewan, api neraka, pohon, Yusuf, Maria, Yesus masa kanak-kanak, para gembala, juru penginapan, gua Natal, dan lain-lain.


Bahan dasar figur tokoh yang ada di Wayang Wahyu awalnya tidak terbuat dari kulit tetapi dari karton. Tokoh-tokoh ini disungging dan distilir dalam wujud dua dimensi, berwajah manusia sebenarnya, tangan lebih pendek daripada tangan di Wayang Purwa dengan tangkai dari bambu. Banjir bandang tahun 1966 telah merusakkan wayang yang terbuat dari karton tersebut. Berawal dari peristiwa itu, timbul kesadaran untuk melakukan penyempurnaan bentuk, tatahan, sunggingan, cempurit dan tangan dengan bahan dari kulit kerbau dan tanduk kerbau seperti halnya Wayang Purwa.
Setelah purna tugas dari pegawai negeri sipil (PNS), Roesradi Widjojosawarno sempat ditarik oleh Iwan Tirta sebagai desainer batik untuk memperkuat usaha batik yang telah ditekuni oleh Iwan Tirta. Keahlian dan prestasi yang dimiliki oleh Roesradi Widjojosawarno ini, menyebabkan dirinya juga cukup dikenal oleh masyarakat. Meski bermula dari seorang seniman lukis, namun Roesradi Widjojosawarno tidak canggung untuk menetap di Kampung Kemlayan yang dikenal sebagai Kampung Seniman itu, yang notabene seniman tari dan karawitan.
Sekarang, bangunan joglo yang yang didominasi warna hijau dan coklat ini sering menjadi tempat latihan tari yang diselenggarakan oleh Sanggar Tari Pamungkas yang dulu diprakarsai oleh S. Ngaliman, seorang abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta bidang tari, empu tari ISI Surakarta sekaligus pemrakarsa perkumpulan kesenian masyarakat Kemlayan. Pada waktu kunjungan di bangunan joglo ini, penulis menjumpai dua orang warga asing yang indekost di sini. Yang perempuan dari Jepang, dan yang laki-lakinya berwajah bule. Keduan warga asing ini memang ingin belajar kesenian tari di rumah berumur ratusan tahun lebih, yang kini dikenal dengan Dalem Roesradi Widjojosawarno. *** [020917]

Senin, 11 September 2017

Rumah Abdul Fattah

Setelah eksplorasi Rumah Gan Kam, rombongan Gelar Potensi Wisata Kampung Kota beranjak ke bangunan lawas lainnya yang berada di Kampung Kemlayan. Kunjungan berikutnya ke rumah Abdul Fattah. Rumah ini terletak di Jalan Empu Barada RT. 03 RW. 01 Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi rumah ini berada di selatan Restauran dan Ice Cream Kusuma Sari ± 130 m, atau depan Audina Indonesia.
Menurut informasi yang diperoleh saat melakukan kunjungan tersebut, rumah Abdul Fattah ini dibangun pada tahun 1830. Abdul Fattah dikenal sebagai seorang saudagar batik yang ada di Kota Solo. Yang menarik dari rumahnya adalah tak bergaya joglo melainkan bergaya arsitektur Indische Empire. Arsitektur Indische Empire adalah gaya aristektur yang berkembang pada abad ke 19 di Hindia Belanda. Gaya arsitektur itu dipopulerkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811).


Daendels mengubah rumah landhuizen yang ada di Hindia Belanda ini dengan suatu gaya Empire Style yang berbau Perancis. Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Indische Empire Style, yaitu suatu gaya arsitektur Empire Style yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat.


Pada akhir abad ke 19, di mana kota-kota besar makin padat, maka gaya Indische Empire yang memerlukan lahan yang luas tersebut terpaksa harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Di daerah gang-gang yang sempit di perkotaan pada akhir abad ke 19, banyak rumah dibanguna dengan gaya Indische Empire, yang sudah disesuaikan dengan kondisi setempat. Termasuk di antaranya pada arsitektur rumah Abdul Fattah ini. Kolom-kolom beranda depan sudah tidak memakai bahan bata lagi, tapi diganti dengan besi ulir yang mulai populer pada akhir abad ke-19. Besi ulir terbuat dari pipa-pipa baja yang lebih ringan yang pada waktu itu didatangkan dari Negeri Belanda.


Kekhasan lain dari rumah ini ada pada motif pola lantai rumah berupa ubin yang menyerupai corak batik, ornamen berupa ukiran pada lisplank teras, ornamen pada lubang angin berupa ukiran tralis yang terbuat dari besi, dan dilengkapi dengan konsol dari besi dengan bentuk lengkung atau floral di atas undakan teras depan.


Dilihat dari langgam dan bahan bangunannya, terlihat bahwa rumah Abdul Fattah ini dulunya megah sekali. Rumah bagi saudagar batik menjadi wujud fisik budaya yang merepresentasikan siapa dan apa peran mereka pada waktu itu dalam sistem masyarakat Jawa. Rumah bagi saudagar batik di masa tersebut bukan saja sebagai rumah tinggal, namun juga sebagai rumah produksi, bahkan sekaligus sebagai identitas sosial.
Struktur sosial yang dikonstruksi Pemerintah Hindia Belanda dan kraton, menempatkan saudagar di antara kelompok rakyat jelata yang mayoritas petani dan kelas menengah priyayi atau bangsawan kraton. Kebutuhan terhadap pengakuan identitas sosial yang menempatkan saudagar lebih tinggi dari posisi tersebut menjadi penting bagi para saudagar batik, karena keberhasilannya dalam mengelola industri batik.
Sehingga, kemegahan rumah Abdul Fattah tampak berbeda dengan bangunan rumah kuno yang masih ada di Kampung Kemlayan., karena Kampung Kemlayan yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan seni tari dan karawitan, umumnya dipenuhi oleh rumah atau dalem bercorak joglo. Hal ini wajar, mengingat yang mendiami wilayah tersebut umumnya adalah seniman priyayi yang masih berhubungan dengan Kraton Kasunanan, baik secara profesi maupun kerabat kraton. *** [020917]

Minggu, 10 September 2017

Rumah Gan Kam

Pada waktu mengambil libur pada bulan September 2017 terasa memiliki nuansa tersendiri. Pasalnya, ketika berada di Solo bertepatan dengan adanya Gelar Potensi Wisata Kampung Kota yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata (Disparta) Surakarta bersama Laku Lampah, Solo Creative City, dan Bening Art Management, Sabtu-Minggu (2-3/9).
Saya pun berkesempatan mengikuti gelaran tersebut. Tur wisata sejarah kampung yang pertama, yaitu memperkenalkan Kampung Kemlayan, yang digelar pada 2 September 2017. Kampung Kemlayan di Kecamatan Serengan ternyata memiliki sejarah panjang mengenai perkembangan seni tari dan musik tradisional (karawitan) Kota Solo. Salah satu dari sekian kunjungan di Kampung Kemlayan adalah Rumah Gan Kam. Rumah ini terletak di Jalan Empu Barada RT. 02 RW. 01 Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi rumah ini berada di sebelah timur Gudeg Bu Mari.


Sesuai namanya rumah ini dulunya dibangun oleh Gan Kam. Gan Kam adalah salah satu putra dari Gan King San. Gan King San adalah orang yang pernah berjasa kepada Sri Paduka Mangkunegoro III. Keluarga Gan, berawal dari Gan Ban Soe, yang diperkirakan sudah berada di Jawa sebelum tahun 1800. Ia menikah dengan perempuan Jawa, dan menurunkan dua anak laki-laki, yakni Gan King San dan Gan Dhiam Seng. Kedua orang ini dianggap berjasa oleh Pura Mangkunegaran ketika pecah Perang Jawa (1825-1830). Atas jasa mereka, maka pada tahun 1845 Mangkunegoro III memberi penghargaan kepada kedua pemuda Tionghoa tersebut. Yang satu diangkat menjadi Tumenggung, dan yang lain diberi sebidang tanah di Desa Pajang. Tanah di Pajang itulah yang kemudian dijadikan tempat pemakaman keluarga Gan yang muslim.


Rumah Gan Kam menjadi penting untuk dikunjungi dalam Gelar Potensi Wisata Kampung Kota di Kemlayan, lantaran sang pemilik rumah itu dikenal memiliki andil yang cukup besar dalam melestarikan kesenian wayang orang. Wayang orang (wayang wong) merupakan salah satu jenis wayang yang mempergelarkan ceritera yang diperankan orang dengan syarat para pemainnya dapat menari, karena semua gerakannya harus mengikuti pokok-pokok aturan seni tari.
Wayang orang panggung yang pertama diciptakan oleh Gan Kam pada tahun 1895, yang merupakan kesinambungan dari wayang wong Pura Mangkunegaran yang mati suri kala itu lantaran terjadinya krisis keuangan pada masa pemerintahaan Mangkunegoro V. Kondisi keuangan sedang krisis dan istana menanggung utang yang banyak kepada Pemerintah Hindia Belanda.


Sepeninggal Mangkunegoro V, penyelamatan tradisi seni wayang orang dilakukan oleh Gan Kam, seorang pengusaha Tionghoa yang atas izin Mangkunagoro VI untuk membawa keluar kesenian wayang orang keluar tembok istana. Karena perkembangan wayang orang sampai pada tahun 1895 tidak pernah sekalipun ditampilkan di luar istana, namun pada tahun itu pula untuk pertama kalinya oleh Gan Kam didirikan rombongan wayang orang komersial. Sejak itu, apa yang telah dirintis oleh Gan Kam dikenal dengan wayang orang panggung (WOP), dan dari tindakan Gan Kam inilah Wayang Orang Sriwedari terbentuk dengan adanya beberapa anggota wayang orang panggung, yang telah memiliki jam terbang yang cukup dalam pementasan keliling di kota-kota besar di Indonesia.
Meskipun rumah Gan Kam terletak di jalan yang tidak terlalu lebar, namun keberadaannya yang berada di Kampung Kemlayan menyebabkan ia dapat berinteraksi secara intim dengan para seniman penabuh gamelan maupun penari. Lingkungan yang seperti itulah, akhirnya yang membantu proses transformasi sosial-budaya pada diri Gan Kam. Hingga akhirnya ia sebagai seorang keturunan Tionghoa, mampu memberikan kontribusi dalam hidupnya melalui kebudayaan Jawa yang berasal dari lingkungan Kampung Kemlayan. *** [020917]

Jumat, 18 Agustus 2017

Stasiun Kereta Api Ngujang

Stasiun Kereta Api Ngujang (NJG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ngujang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 87 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil. Stasiun Ngadiluwih terletak di Jalan Raya Ngantru, Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat (belakang) Pasar Ngantru ± 180 m.
Bangunan Stasiun Ngujang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar. Pembangunan jalur sepanjang 64 kilometer ini dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda. Jalur rel tersebut merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Kras dan arah selatan menuju Stasiun Tulungagung. Jalur 1 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini. Dulu, di sebelah utara dari bangunan stasiun ini terdapat jalur badug atau jalur buntu.
Stasiun ini tergolong kurang beruntung bila dibandingkan dengan Stasiun Kras yang sama-sama merupakan stasiun kelas III, karena di Stasiun Ngujang tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. Layanan yang ada di stasiun ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api saja. *** [170617]

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Pugeran

Pugeran merupakan sebuah kampung yang berada di bagian selatan Kota Yogyakarta. Dipilihnya Pugeran sebagai lokasi untuk mendirikan gereja, karena pada waktu itu di Yogyakarta bagian selatan baru ada satu gereja Katolik, yaitu gereja yang berada di Ganjuran.
Selain untuk menampung jemaat Katolik di Yogyakarta bagian selatan dan Bantul bagian utara, juga untuk mengatasi semakin bertambahnya jumlah umat Katolik di Gereja Frasiscus Xaverius Kidul Loji dan Gereja Santo Antonius Bintaran. Hal ini yang menyebabkan muncul ide untuk mendirikan sebuah gereja yang bernama Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Pugeran, atau biasa disebut dengan Gereja Pugeran. Gereja ini terletak di Jalan Suryaden No. 63 Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogayakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gereja ini berada di sebelah timur laut Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta ± 50 m.


Dengan diprakasai oleh Pastor Adrianus Djajasepoetra SJ, yang didukung oleh para bangsawan Jawa seperti Pangeran Suryodiningrat, Pangeran Tedjokusumo, Pangeran Brotodiningrat, dan Pangeran Puger, gereja itu mulai dibangun pada 5 November 1933 dengan menggunakan hasil rancangan dari seorang arsitek Belanda, Johannes Theodorus van Oijen. Sebelumnya, Van Oijen sudah mendesain Gereja Katolik SantoAntonius Bintaran.
Lahan tempat pendirian gereja ini merupakan tanah milik beberapa penduduk yang dibeli oleh Yayasan Papa Miskin, sebuah yayasan Misi di Yogyakarta, yang diatasnamakan Pastor Adrianus Djajasepoetra SJ. Lahan tersebut berada di lokasi yang sekarang menjadi tempat berdirinya gereja ini, yaitu sebuah jalan yang berada antara pojok Beteng Kulon dan Bantul, yang dikenal dengan nama Pugeran.


Gereja ini kemudian diresmikan pada 8 Juli 1934 oleh Pastor A. Van Klanken SJ, dengan diakon Pastor Rektor Xaverius Muntilan dan subdiakon Pastor A. Sukiman Prawirapratama SJ, bersamaan dengan peringatan 75 tahun Misi Yesuit di Hindia Belanda, dan kemudian esok harinya dilakukan pembaptisan pertama Fransiscus Xaverius Suyatna dari Padokan. Pastor pertama yang ditunjuk untuk berkarya di Gereja Pugeran adalah Pastor Adrianus Djajasepoetra SJ.
Berdasarkan catatan tahun 1936, jumlah umat Katolik yang ada di Gereja Pugeran ini adalah 1.010 orang. Sebagian besar umat tersebut terdiri dari umat pribumi Jawa, yang umumnya berasal dari daerah sekitar Pabrik Gula Padokan, dan sekitar gereja tersebut.


Dilihat dari arsitekturnya, gereja ini memiliki fasad yang khas dibandingkan dengan gereja-gereja lain pada umumnya. Pada gereja ini terjadi ‘perkawinan’ antara arsitektur tradisonal Jawa dengan arsitektur Barat. Ciri tradisionalnya bisa dilihat dari atapnya yang berbentuk tajug yang lazim digunakan pada bangunan ibadah tradisional Jawa yang dipengaruhi oleh agama Islam. Namun pada ujung atap terdapat sebuah salib untuk menandakan bahwa bangunan itu adalah bangunan gereja. Sedangkan, ciri dari Barat ditandai dengan dinding-dinding gerejanya. Badan bangunan bagian depan menggunakan langgam Neo-Gothic yang menggunakan moulding pada permukaan dindingnya, dan di atas pintu utama gereja tertulis Ad Maiorem Dei Gloriam, yang artinya “Demi kemulian Tuhan yang lebih besar”.


Gereja Pugeran ini merupakan salah satu gereja yang mampu bertahan menghadapi gejolak sosial dan politik, karena Paroki Pugeran mampu menjadi bagian dari lokalitas masyarakat di sekitarnya dengan berperan langsung sebagai bagian dari media perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada masa Agresi Militer Belanda II, pasukan Belanda melakukan serangan terhadap Kota Yogyakarta. Pada saat serangan tersebut, banyak orang mengungsi menuju ke arah selatan dari Kota Yogyakarta. Halaman Gereja Pugeran penuh dengan pengungsi. Pastor dan para pembantunya berusaha untuk melindungi dan mengayomi para pengungsi yang mengungsi di halaman Gereja Pugeran. Mereka mengusahakan obat-obatan dan makanan bagi para pengungsi serta merawat yang terluka dan sakit. Sementara, mayat yang bergelimpangan akibat dari perang tersebut, juga dikuburkan dengan layak oleh pastor dan para pembantunya.
Peristiwa heroik itu diabadikan dalam sebuah prasasti yang dibangun di depan gereja, dan tepatnya berada di belakang patung Hati Kudus Yesus. Prasasti tersebut berbunyi: “Di bawah naungan Hati Kudus Juru Selamat Kristus para pastor beserta umat paroki Pugeran dengan penuh bakti serta syukur memperingati hari ulang tahun ke-50 Gereja Hati Kudus tercinta ini, khususnya dengan kenang-kenangan bahagia bahwa pada hari-hari yang paling gelap penuh derita 19 Desember 1948 - 19 Juni 1949 selama Perang Kemerdekaan Republik Indonesia tempat ini telah menjadi pengungsian dan perlindungan bagi penduduk tak bersalah di sekitar gereja Pugeran dan merupakan tempat penghubung rahasia pula antara para pejuang gerilyawan Perang Kemerdekaan Republik Indonesia yang bergerak di dalam dan di luar kota Yogyakarta”. *** [210717]

Kepustakaan:
http://library.fis.uny.ac.id/elibfis/index.php?p=show_detail&id=998&keywords=
https://www.academia.edu/2348128/Tinjauan_Inkulturasi_Agama_Katolik_dengan_Budaya_Jawa_pada_Bangunan_Gereja_Katolik_di_Masa_Kolonial_Belanda_Studi_Kasus_Gereja_Hati_Kudus_Yesus_Pugeran_