The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

“Happy Home” di Kauman: Jejak Pelayanan dan Warisan Kolonial RSIA Mardi Waloeja Malang

"Architecture is the will of an epoch translated into space." -- Mies van der Rohe

Langkah kaki saya berhenti di sebuah bangunan tua di sudut Jalan Kauman, tak jauh dari hiruk pikuk pusat Kota Malang. Sore itu, Selasa (05/05), usai menuntaskan beberapa halaman novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati di Gramedia Basuki Rahmat, saya memilih berjalan kaki menyusuri ruas jalan lama yang masih menyimpan jejak kolonial. Di antara deretan pertokoan dan lalu lintas kota yang tak pernah benar-benar diam, sebuah gevel tua dengan tulisan “Happy Home” seolah memanggil untuk dikenang.

Bangunan itu berdiri di Jalan Kauman No. 23, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Sekilas, ia tampak tenang seperti rumah besar peninggalan masa lalu. Namun di balik dinding dan atap tuanya, tersimpan riwayat panjang pelayanan kesehatan yang telah hidup hampir satu abad lamanya.

Nama “Happy Home” bukan sekadar penanda bangunan. Ia merupakan jejak historis dari pelayanan kesehatan Kristen Malangsche Wijkverpleging Mardi Waloejo yang dirintis pada Agustus 1927 oleh J. Pik dan Suster E. Hulzebos di kawasan Temenggoengan Wetan. 

Seiring berkembangnya kebutuhan pelayanan medis bagi masyarakat Malang, lembaga itu kemudian berpindah ke Kaoemanstraat - kini Jalan Kauman - dan menempati bangunan yang kemudian dikenal sebagai “Happy Home”.

Di masa kolonial, istilah itu merujuk pada Huis van Geluk atau “Rumah Kebahagiaan”, sebuah tempat perawatan dan dukungan sosial bagi masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan kesehatan. Nama tersebut terasa begitu kontras dengan wajah kolonial yang kerap identik dengan kekuasaan. Namun justru dari bangunan inilah, layanan kesehatan untuk warga kecil pernah bertumbuh.

RSIA Mardi Waloeja Kauman Malang

Nama “Mardi Waloejo” sendiri berasal dari bahasa Jawa. Mardi berarti memperbaiki, mendidik, atau mengupayakan, sedangkan Waloejo bermakna sehat, sejahtera, dan bahagia. Sebuah nama yang sejak awal tampaknya dirancang bukan hanya untuk menyembuhkan tubuh, tetapi juga menghadirkan harapan hidup yang lebih baik.

Bangunan yang kini dikenal sebagai RSIA Mardi Waloeja Kauman itu didirikan pada 1933. Pada zamannya, keberadaannya menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan masyarakat Malang, khususnya bagi kalangan kurang mampu. 

Dalam catatan Arthur van Schaik (1996), Malangsche Wijkverpleging Mardi Waloejo pernah memiliki 36 tempat tidur serta sejumlah pusat konsultasi kesehatan, mulai dari layanan bayi hingga pengendalian tuberkulosis.

Meski kini berfungsi sebagai Rumah Sakit Ibu dan Anak, jejak arsitektur kolonialnya masih terasa kuat. Fasad bangunannya memperlihatkan gaya kolonial campuran atau eklektik, sebuah pendekatan arsitektur Hindia Belanda yang mulai mencoba beradaptasi dengan iklim dan kebudayaan lokal Nusantara.

Bangunan utama berbentuk persegi panjang dengan komposisi fasad yang simetris. Pada bagian depan tampak atap pelana dengan hiasan geveltoppen yang menyerupai bentuk grambel gable atau atap lumbung. Bentuk atap ini mudah dikenali dari dua kemiringan berbeda di setiap sisinya, dan bagian atas lebih landai, sedangkan bagian bawah lebih curam. Siluetnya memberi kesan megah sekaligus hangat, berbeda dari model bangunan kolonial murni Eropa.

Di belakang gevel utama, tampak sebuah dormer atau cerobong asap semu yang muncul dari atap perisai. Elemen ini lazim digunakan sebagai jalur sirkulasi udara dan pencahayaan alami untuk penyesuaian penting bagi bangunan tropis di Hindia Belanda kala itu. Detail-detail kecil semacam inilah yang membuat bangunan tua tidak sekadar indah dipandang, tetapi juga menyimpan kecerdasan arsitektural zamannya.

Arsitek modern Ludwig Mies van der Rohe (1886-1969) asal Jerman, pernah berkata:

"Arsitektur adalah kehendak suatu zaman yang diterjemahkan ke dalam ruang." 

Kutipan itu terasa hidup ketika memandangi RSIA Mardi Waloeja Kauman (Mardika) hari ini. Bangunan yang lahir dari masa kolonial itu tidak berhenti menjadi monumen masa lalu, melainkan terus menjalankan fungsi sosialnya hingga kini.

Pada 2004, lembaga ini resmi berstatus sebagai RSIA Mardika, lalu sejak 2013 pengelolaannya terpisah dari kompleks Mardi Waloeja Rampal. Di bawah Yayasan Kesehatan Gereja Kristen Jawi Wetan, rumah sakit ini terus berkembang dan memperoleh akreditasi pada 2019. 

Salah satu layanan khasnya adalah perawatan bayi berat lahir rendah dengan metode kanguru, sebuah pendekatan medis yang menekankan kedekatan dan kehangatan antara ibu dan bayi.

Di tengah kota yang terus berubah, bangunan “Happy Home” masih berdiri dengan tenang. Ia bukan hanya saksi perkembangan layanan kesehatan di Malang, melainkan juga penanda bagaimana warisan arsitektur kolonial dapat tetap hidup tanpa kehilangan makna sosialnya. 

Dari gevel tua bertuliskan “Happy Home”, kita seperti diingatkan bahwa sebuah bangunan bukan sekadar susunan bata dan atap, melainkan ruang tempat ingatan, pelayanan, dan kemanusiaan terus bertahan melampaui zaman. *** [070526]


Kepustakaan:

Esther, N. (2022, October 31). Arsitektur Kolonialisme di Indonesia. Himpunan Mahasiswa Arsitektur BINUS University. https://student-activity.binus.ac.id/himars/2022/10/31/arsitektur-kolonialisme-di-indonesia/

Schaik, A. van. (1996). Malang: Beeld van een stad (p. 160). Purmerend: Asia Maior. https://drive.google.com/file/d/11SL1dwdjvw9WnciTP5vSJtKlHtG-Xoqm/view

tppmardikamalang. (2025, July 03). Profil RSIA Mardi Waloeja Kauman Malang. Scribd. https://id.scribd.com/document/883747300/Company-Profile



Share:

People’s Park Complex: Mutiara Urban di Antara Lorong Chinatown

Architecture is a visual art and the buildings speak for themselves” – Julia Morgan

Keluar dari Chinatown Heritage Centre, langkah kaki seolah belum ingin beranjak jauh dari riuh sejarah Chinatown atau Pecinan di Singapura. Pemandu Free Singapore Tour mengajak menyusuri lorong-lorong yang masih menyimpan denyut lama kota. Di persimpangan Trengganu Street dan Temple Street, pandangan tiba-tiba tertarik ke arah barat laut, sebuah gedung menjulang, tegas, dan tak terbantahkan kehadirannya.

Dari arah Rest Chinatown Hotel, bangunan itu tampak mendominasi cakrawala dengan warna merah yang mencolok. Pada fasadnya, tiga aksara Tionghoa (hanzi) berukuran besar - 珍珠房 - menjadi penanda yang tak mungkin terlewat. 

Dibaca Zhēnzhū fáng, istilah ini memuat makna puitis, yaitu zhēnzhū berarti mutiara, sementara fáng dapat dimaknai sebagai rumah atau ruang. Sebuah “rumah mutiara” - metafora yang terasa tepat bagi bangunan yang memantulkan begitu banyak fungsi dan kehidupan di dalamnya.

Namun, bagi kebanyakan orang, gedung ini lebih dikenal sebagai People’s Park Complex, atau Kompleks Taman Rakyat. Nama yang sederhana, tetapi menyimpan lapisan sejarah urban yang kompleks.

Menurut catatan National Library Singapore [1], kompleks ini rampung pada 1973, berdiri setinggi 102,7 meter di atas lahan sekitar satu hektar. Pada masanya, ia bukan sekadar bangunan tinggi melainkan sebuah eksperimen kota. Inilah pusat perbelanjaan terbesar di Singapura kala itu, sekaligus pelopor konsep atrium terbuka pertama yang disebut sebagai “ruang kota” di dalam bangunan.

Gedung People's Park Complex yang ikonik di Chinatown dilihat dari pertemuan antara Trengganu Street dan Tempel Street, atau dari depan Rest Chinatown Hotel (Sumber: Potret dari Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

Konsepnya terinspirasi oleh gagasan Metabolist Movement dari Jepang, sebuah visi arsitektur yang memandang kota sebagai organisme hidup yang dapat tumbuh dan beradaptasi. 

Di tangan para arsitek seperti William Lim, Koh Seow Chuan, dan Tay Kheng Soon dari Design Partnership, visi itu diterjemahkan menjadi struktur bergaya Brutalism, dengan garis tegas, beton ekspos, dan komposisi geometris yang jujur.

Di sinilah gagasan “kota vertikal” mulai berdenyut. Podium ritel, ruang kantor, hingga apartemen 25 lantai disatukan dalam satu tubuh bangunan yang menantang konsep zonasi tunggal yang lazim saat itu. 

Sebuah “jalan di udara” (street in the air) tercipta, menggemakan pengaruh pemikiran Le Corbusier. Bahkan arsitek Jepang Fumihiko Maki pernah memuji kompleks ini sebagai realisasi nyata dari teori urban yang selama ini hanya hidup dalam gagasan.

Namun sebelum menjadi ikon modern, lahan ini pernah berfungsi sebagai taman publik, lalu berubah menjadi Pasar Taman Rakyat, hingga akhirnya dilalap kebakaran besar pada 1966. 

Dari abu itulah pembangunan dimulai kembali pada 1967, melalui program penjualan lahan pemerintah. Podium dibuka pada 1970, disusul menara hunian tiga tahun kemudian. Dibangun oleh Low Keng Huat dengan biaya sekitar S$12 juta, perjalanan awalnya pun tidak mulus di man pernah terjadi pemadaman listrik dan getaran sempat menjadi persoalan.

Meski demikian, tidak seperti proyek saudaranya, Katong People’s Complex, yang kehilangan relevansi dan akhirnya dijual, People’s Park Complex tetap bertahan sebagai jangkar identitas Chinatown. Berdiri di antara Eu Tong Sen Street dan New Bridge Road, ia menjadi penanda visual sekaligus sosial.

Kini, akses menuju kompleks ini begitu mudah. Ia hanya sepelemparan batu dari Chinatown MRT Station, serta dekat dengan Outram Park MRT Station dan Clarke Quay MRT Station. Terhubung pula dengan jaringan jalan utama seperti AYE, CTE, dan MCE, menjadikannya simpul mobilitas yang efisien di jantung kota.

Namun lebih dari sekadar lokasi strategis atau inovasi arsitektur, People’s Park Complex adalah narasi tentang transformasi tentang bagaimana ruang publik, perdagangan, dan kehidupan urban berkelindan dalam satu struktur. Ia adalah mutiara yang terbentuk dari tekanan sejarah dan ambisi modernitas.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Julia Hunt Morgan (1872–1957), arsitek wanita pelopor California di Amerika Serikat: 

“Arsitektur adalah seni visual dan bangunan-bangunan itu berbicara sendiri.”

Dan di sudut Chinatown ini, People’s Park Complex masih terus berbicara, tentang masa lalu yang terbakar, masa depan yang dibayangkan, dan masa kini yang tetap hidup di antara keduanya. *** [050526]


Kepustakaan:

[1] Lee Hong Hwee, M. (n.d.). People’s Park Complex. National Library Singapore. Retrieved May 04, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=3cc85ca4-650c-47be-b933-ed3241f93e38



Share:

Tin Sing Goldsmiths: Jejak Emas dan Waktu di Jantung Chinatown Singapura

Toko Perhiasan Tin Sing atau Tin Sing Goldsmiths di kawasan Chinatown Singapura (Foto: Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

A building is not just a place to be but a way to be” -- Frank Lloyd Wright

Di sela perjalanan pulang dari Third Annual Symsposium di Hyderabad (India), langkah saya sempat terhenti di satu sudut bersejarah kawasan Chinatown Singapura. Program Free Singapore Tour dari Bandara Changi menghadiahkan pengalaman singkat namun berkesan ketika transit 10 jam di sana pada Ahad (14/12/2025), dengan menyusuri jejak waktu yang masih berdenyut di antara deretan rumah toko tua. Di antara bangunan-bangunan itu, satu yang mencuri perhatian adalah Tin Sing Goldsmiths.

Berdiri anggun di 205 South Bridge Road sejak 1937, bangunan dua lantai ini bukan sekadar toko perhiasan. Ia adalah kapsul waktu. Fasadnya memancarkan aura nostalgia melalui papan nama bergaya lama, pilar-pilar kuning yang hangat, serta jendela panel panjang berwarna hijau yang khas. 

Di bagian atas, ventilasi atap menyerupai dormer kecil menambah detail arsitektural yang memikat, seolah mengintipkan kisah-kisah lama dari masa lalu. Atapnya, dengan genteng tanah liat kemerahan berbentuk pelana, mencerminkan gaya Eclectic Shophouse yang lekat dengan identitas arsitektur kolonial-peranakan di kawasan ini.

Lebih dari sekadar wujud fisik, Tin Sing Goldsmiths menyimpan kisah ketekunan lintas generasi. Berawal dari usaha rumahan keluarga, keahlian mengolah emas diwariskan dengan disiplin tinggi sehingga mengukuhkan reputasi mereka sebagai pengrajin terpercaya. 

Integritas dan presisi menjadi alasan pelanggan terus kembali, bahkan hingga puluhan tahun kemudian. Transformasi penting terjadi pada 6 September 1950, ketika usaha keluarga ini berkembang menjadi entitas resmi bernama Ting Sing Goldsmiths (Pte.) Limited (天成金铺), menandai langkah profesionalisasi tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Nama mereka pun sempat terukir dalam sejarah melalui karya-karya pesanan istimewa. Salah satunya adalah medali emas bergambar dua burung layang-layang yang kembali ke sarang, dipersembahkan kepada bintang opera Kanton Hong Kong Sek Yin-Tsi pada tahun 1952. 

Karya lain yang tak kalah bergengsi adalah medali emas dari Kamar Dagang dan Industri Tionghoa Singapura yang diberikan kepada Perdana Menteri Lee Kuan Yew pada peresmian gedung organisasi tersebut tahun 1964. Setiap karya bukan hanya perhiasan, tetapi juga simbol penghormatan dan cerita yang terukir dalam logam mulia.

Kini, meski denyut aktivitasnya tak lagi seramai dahulu, interior toko tetap nyaris tak berubah, sebuah keputusan yang justru memperkuat nilai historisnya. Rak-rak kayu, etalase klasik, dan suasana yang intim menghadirkan pengalaman berbeda, seakan mengajak pengunjung melangkah mundur ke era ketika Chinatown lebih riuh dan penuh warna kehidupan.

Tin Sing Goldsmiths masih membuka pintunya setiap hari, kecuali Minggu, dari pukul 10 pagi hingga 6 sore. Ia tidak sekadar menawarkan perhiasan, tetapi juga kesempatan untuk menyentuh warisan budaya yang hidup.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Frank Lloyd Wright (1867–1959), seorang arsitek Amerika yang berpengaruh dan dikenal karena arsitektur organiknya, yang menekankan harmoni antara tempat tinggal manusia dan alam:

“Sebuah bangunan bukan hanya tempat untuk berada, tetapi juga cara untuk hidup.” 

Kutipan ini terasa begitu tepat menggambarkan Tin Sing Goldsmiths, bahwa sebuah bangunan tua yang tidak hanya berdiri sebagai artefak, tetapi juga sebagai saksi kehidupan, nilai, dan identitas yang terus berlanjut di tengah modernitas Singapura. *** [040526]



Share:

Stasiun Temuguruh: Menyusuri Sejarah di Balik Perhentian Kecil

Stasiun Temuguruh (Dipotret dari Gerbong KA Ijen Ekspres Malang-Banyuwangi pada Kamis, 2 April 2026)

Tepat pukul 14.12 WIB, laju KA Ijen Ekspres yang saya tumpangi dari Malang menuju Banyuwangi melambat, lalu berhenti perlahan di sebuah stasiun kecil yang tampak tenang, yaitu Stasiun Temuguruh. Pada Kamis (02/04) siang itu, suasana terasa lengang, seakan waktu berjalan sedikit lebih pelan di tempat ini.

Secara administratif, nama resminya memang Stasiun Temuguruh. Namun menariknya, stasiun ini justru berdiri di wilayah Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, yang berbatasan langsung dengan Desa Temuguruh. Di antara batas-batas desa itu, stasiun ini seperti menjadi simpul sunyi yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.

Berdiri pada ketinggian sekitar 196 meter di atas permukaan laut, Stasiun Temuguruh merupakan stasiun kelas II yang berada dalam wilayah kerja Daerah Operasi IX Jember. Namun lebih dari sekadar titik persinggahan kereta, tempat ini menyimpan jejak panjang sejarah perkeretaapian di ujung timur Pulau Jawa.

Awal abad ke-20 menjadi babak penting bagi kawasan ini. Pada tahun 1903, pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun jalur rel sepanjang 58 kilometer yang menghubungkan Mrawan, Rogojampi, hingga Banyuwangi [1]. Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan lintas timur atau Oosterlijnen, yang dikerjakan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik negara kolonial saat itu.

Dalam catatan Haltestempels Nederlands Indië [2], Stasiun Temuguruh diresmikan pada 2 Februari 1903. Sejak saat itu, jalur ini membuka akses transportasi melintasi wilayah yang dikenal subur dan kaya hasil bumi [3]. Kereta api menjadi urat nadi baru, mengangkut hasil perkebunan sekaligus manusia yang bergerak dari satu kota ke kota lain.

Kini, Stasiun Temuguruh memiliki tiga jalur rel. Jalur kedua menjadi jalur utama yang lurus, sementara jalur pertama sudah tidak lagi difungsikan. Adapun jalur ketiga kerap digunakan untuk persilangan dan penyusulan antarkereta. 

Meski tidak sebesar stasiun utama, ritme aktivitasnya tetap terjaga di mana kereta datang dan pergi sejak dini hari, mulai sekitar pukul 04.57 hingga menjelang malam pukul 22.54 WIB.

Beberapa kereta masih setia singgah di sini, seperti KA Blambangan Express, KA Probowangi, hingga KA Pandanwangi. Mereka membawa cerita-cerita baru setiap harinya, melanjutkan jejak panjang perjalanan yang telah dimulai lebih dari seabad lalu.

Di tengah kesederhanaannya, Stasiun Temuguruh bukan sekadar tempat naik dan turun penumpang. Ia adalah saksi bisu dari ambisi kolonial, geliat ekonomi masa lampau, hingga denyut kehidupan masyarakat Banyuwangi hari ini. Sebuah titik kecil di peta, namun dengan kisah yang panjang dan tak pernah benar-benar berhenti. *** [030526]

Kepustakaan:

[1] Oegema, J, J, G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer: Kluwer Technische Boeken B.V.

[2] Hans Kruse hk@puntstempels.nl. (n.d.). ZWP - Haltestempels Ned.Indië. https://www.studiegroep-zwp.nl/halten/

[3] Team 11. (n.d.). Staatsspoor-en Tramwegen di Hindia-Belanda 1875-1925. https://cdnc.heyzine.com/files/uploaded/23411f120cc2f4b6e0730e58c5f14eefd456cdaf-1.pdf


Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami