“Architecture is the very mirror of life. You only have to cast your eyes on buildings to feel the presence of the past, the spirit of a place; they are the reflection of society.” -- I. M. Pei
| Masjid Jamae (Chulia) Singapura (Foto: Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.) |
Dalam rangkaian Free Singapore Tour dari Bandara Changi, pemandu wisata memperkenalkan bangunan tersebut sebagai Jamae (Chulia) Mosque atau Masjid Jamae (Chulia), salah satu masjid tertua di Singapura yang hingga kini tetap menjadi penanda penting warisan multikultural negeri itu.
Masjid Jamae (Chulia) terletak di 218 South Bridge Road, tepat di jantung Chinatown yang bersejarah. Keberadaannya berdampingan dengan Kuil Sri Mariamman menghadirkan gambaran nyata tentang Singapura awal abad ke-19, yakni sebuah kota pelabuhan kosmopolitan tempat komunitas-komunitas pendatang hidup berdampingan, membawa bahasa, keyakinan, dan tradisi masing-masing.
Masjid ini dibangun antara tahun 1830 hingga 1835 oleh para migran Muslim Tamil dari India Selatan yang dikenal sebagai komunitas Chulia. Namun sejarahnya dipercaya lebih tua dari bangunan yang terlihat hari ini.
Konon, sejak 1827 komunitas Muslim Tamil yang dipimpin Anser Saib telah mendirikan tempat ibadah di lokasi tersebut, berdampingan dengan makam keramat Muhammad Salih Valinvah yang sudah ada sebelumnya.
Nama “Chulia” sendiri merujuk pada komunitas Muslim Tamil dari Pantai Coromandel di India Selatan. Dalam sejarah migrasi Asia Selatan, istilah ini diyakini berasal dari kata “Chola”, nama kerajaan maritim Tamil besar yang pernah mengendalikan jalur perdagangan Samudra Hindia.
Pada puncaknya di bawah Rajaraja I dan Rajendra Chola I pada abad ke-11, Kerajaan Chola bahkan menaklukkan Sriwijaya pada tahun 1025 M. Melalui perdagangan dan navigasi inilah diaspora Muslim Tamil tiba di Singapura pada tahun 1820-an.
Di era kolonial, Stamford Raffles melalui Rencana Kota 1822 membagi kawasan permukiman berdasarkan identitas etnis dan agama. Sebuah kawasan bernama “Chuliah Campg” ditandai sebagai permukiman bagi sekitar seribu Muslim Tamil di dekat Sungai Singapura.
Kini wilayah itu diyakini berada di sekitar Cross Street, tak jauh dari Chinatown modern. Penempatan mereka di kawasan pelabuhan bukan tanpa alasan: komunitas Chulia dikenal aktif dalam jasa pengangkutan barang dan perdagangan maritim.
Dari komunitas kecil itulah lahir Masjid Jamae (Chulia), yang juga dikenal sebagai “Periya Palli” atau “Masjid Besar” dalam bahasa Tamil. Sejak awal, masjid ini dibangun melalui sistem wakaf, yaitu tanah dan properti disumbangkan demi kepentingan umat.
Pendanaan berasal dari hasil sewa properti wakaf yang dikelola wali amanat keluarga dan komunitas. Pada akhir abad ke-19, pengelolaan masjid berada di tangan sejumlah wali amanat seperti Mohamed Syed bersama pengelola Dargah Nagore dan Masjid Al-Abrar.
Setelah muncul berbagai persoalan administrasi, pemerintah kolonial membentuk Dewan Wakaf Muslim dan Hindu pada 1906. Pengelolaan itu kemudian berada di bawah MUIS (Majelis Ugama Islam Singapura) sejak 1968.
Meski beberapa rencana pembangunan ulang dan perluasan pernah diajukan - termasuk pada 1897, 1911, dan 1986 - wujud asli masjid tetap dipertahankan. Perbaikan besar dilakukan pada 1996, sementara status lahannya diperkuat melalui perpanjangan sewa selama 999 tahun pada 1981. Kini masjid berdiri di atas lahan seluas sekitar 4.809 meter persegi, tetap menjadi bagian penting dari lanskap heritage Singapura.
Keistimewaan utama Masjid Jamae terletak pada arsitekturnya yang eklektik. Gerbang depannya memperlihatkan pengaruh India Selatan yang kuat, yaitu sepasang menara bertingkat dengan kubah berbentuk bawang mengapit pintu masuk utama. Di antara kedua menara itu terdapat fasad dekoratif menyerupai istana miniatur empat tingkat, menghadirkan siluet yang khas di antara deretan bangunan Chinatown.
Namun begitu melangkah ke dalam, suasana berubah. Ruang salat tambahan memperlihatkan deretan kolom Tuscan bergaya Neo-Klasik, sementara ruang salat utama ditopang kolom-kolom Doric yang mengingatkan pada rancangan arsitektur kolonial karya George Drumgoole Coleman.
Jendela-jendela besar dengan ubin glasir hijau Cina di bagian bawah memungkinkan sirkulasi udara alami, menciptakan kesejukan tropis di tengah kepadatan kota. Perpaduan unsur India Selatan, Eropa Neo-Klasik, dan sentuhan Tionghoa itu menjadikan Masjid Jamae (Chulia) sebagai cermin pertemuan budaya yang membentuk identitas Singapura.
Arsitektur masjid ini bukan sekadar estetika, melainkan rekaman sosial dari sebuah kota pelabuhan yang dibangun oleh para pendatang. Kutipan arsitek ternama Ieoh Ming Pei, FAIA, RIBA (lahir 26 April 1917), yang biasa dikenal sebagai I. M. Pei, adalah seorang arsitek Tionghoa-Amerika, terasa relevan ketika memandang bangunan ini:
“Arsitektur adalah cermin kehidupan itu sendiri. Anda hanya perlu melihat bangunan untuk merasakan kehadiran masa lalu, semangat suatu tempat; bangunan adalah cerminan masyarakat.”
Pada Masjid Jamae (Chulia), masa lalu itu hadir melalui perpaduan gaya bangunan, jejak perdagangan maritim, dan kisah diaspora Muslim Tamil yang menjadi bagian dari denyut awal Singapura.
Tak mengherankan bila sejak abad ke-19 bangunan ini kerap muncul dalam kartu pos dan foto-foto lama Singapura. Siluet gerbangnya yang ikonik telah lama menjadi landmark visual kota. Pada 19 November 1974, Masjid Jamae (Chulia) resmi ditetapkan sebagai monumen nasional Singapura.
Ia diyakini sebagai masjid tertua di antara lima masjid nasional yang dilindungi negara: Masjid Jamae (Chulia), Masjid Al-Abrar, Masjid Sultan, Masjid Abdul Gafoor, dan Masjid Hajjah Fathimah.
Kini, fungsi Masjid Jamae (Chulia) tidak hanya sebagai tempat ibadah. Selain menyelenggarakan salat dan khutbah, masjid ini berkembang sebagai pusat pendidikan dan dialog lintas masyarakat.
Seminar, diskusi sosial-keagamaan, hingga kegiatan untuk Muslim dan non-Muslim rutin digelar di sana untuk melanjutkan tradisi keterbukaan yang telah menjadi bagian dari sejarahnya sejak dua abad silam.
Di tengah modernitas Singapura yang terus bergerak cepat, Masjid Jamae (Chulia) tetap berdiri tenang. Menara berkubah bawangnya tidak hanya memanggil umat menuju ruang salat, tetapi juga mengingatkan bahwa sejarah sebuah kota sering kali tersimpan paling indah di dalam bangunan-bangunan tuanya. *** [100526]
Kepustakaan:
Cornelius-Takahama, V., & Tan, J. (n.d.). Jamae Mosque. National Library Singaporo. Retrieved May 04, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=53aebdc2-d0fb-423d-b12f-05b09ce40239
Masjid Jamae (Chulia) Singapore. (n.d.). History of this Mosque. Masjid Jamae (Chulia). Retrieved May 10, 2026, from http://www.masjidjamaechulia.sg/welcome/history
Mukhaer, A. A. (2023, October 08). Sejarah India: Kerajaan Chola yang Sempat Menguasai Sriwijaya - Semua halaman | National Geographic. National Geographic Indonesia. https://nationalgeographic.grid.id/read/133892737/sejarah-india-kerajaan-chola-yang-sempat-menguasai-sriwijaya?page=all
National Library Singapore. (n.d.). Chulias: Encyclopedia of Singapore Tamils. National Library Singapore. Retrieved May 10, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=8adca0bb-2918-4c19-8e91-d28199575b76












