The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Daftar Bangunan Kuno di Banyuwangi

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Banyuwangi:

Kantor Pos Banyuwangi

Kantor Pos ini terletak di Jalan Diponegoro No. 1 Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Klenteng Hoo Tong Bio

Klenteng ini terletak di Jalan Gurami No. 54 Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Klenteng Tik Liong Tian

Klenteng ini terletak di Jalan Raya Rogojampi No. 69 Dusun Pancoran Kulon, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Museum Blambangan

Museum ini terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Pura Luhur Giri Salaka

Pura ini terletak di Dusun Kaliagung, Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lokasi ini berada di dalam Taman Nasional Alas Purwo, Resor Rowobendo

Situs Kawitan

Pura ini terletak di Dusun Kaliagung, Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lokasi ini berada di dalam Taman Nasional Alas Purwo, Resor Rowobendo

Stasiun Kalisetail

Stasiun ini terletak di Jalan Raya Kalisetail No. 11 Desa Tlogosari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Stasiun Rogojampi

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Rogojampi, Dusun Pancoran Kulon, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur



Share:

Stasiun Jatiroto: Dari Denyut Pabrik Gula ke Lintasan Modern

Kereta melambat, lalu berhenti sejenak di sebuah stasiun kecil yang nyaris luput dari perhatian. Siang itu, Kamis (02/04), Stasiun Jatiroto (JTR) menjadi titik jeda perjalanan KA Ijen Ekspres yang saya tumpangi dari Malang menuju Banyuwangi. 

Pukul 11.33 WIB, kereta menunggu persilangan dengan KA Mutiara Timur yang menjadi sebuah rutinitas yang bagi sebagian orang, mungkin sekadar teknis operasional. Namun di balik singgah singkat itu, tersimpan riwayat panjang yang berkelindan dengan denyut ekonomi kolonial di ujung timur Pulau Jawa.

Stasiun kecil berketinggian +29 meter di atas permukaan laut ini kini tampak sederhana. Ia tercatat sebagai stasiun kelas III di bawah Daerah Operasi IX Jember, sekaligus menjadi stasiun paling timur di Kabupaten Lumajang, tepatnya berada di Dusun Krajan 2 RT 20 RW 04 Desa Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang.

Singgah di Stasiun Jatiroto ketika KA Ijen Ekspres menuju Banyuwangi bersilangan dengan KA Mutiara Timur pada Senin (02/04)

Tiga jalur tersisa dari empat sepur yang pernah ada menjadi saksi perubahan zaman. Satu jalur lurus untuk lalu lintas utama, dua lainnya untuk persilangan dan penyusulan.

Namun, jika menengok ke akhir abad ke-19, wilayah ini adalah bagian dari geliat besar pembangunan jaringan rel oleh Staatsspoorwegen (SS). Pada 1897, jalur Klakah–Rambipuji–Jember sepanjang 62 kilometer dibangun sebagai bagian dari Oosterlijnen [1] - jalur timur yang dirancang untuk mempercepat distribusi hasil bumi dari pedalaman ke pelabuhan dan pasar. Rel bukan sekadar sarana transportasi, melainkan urat nadi ekonomi kolonial.

Menariknya, dalam peta lawas koleksi digital Universiteit Leiden sekitar tahun1908, nama Jatiroto belum tercantum sebagai stasiun. Yang ada hanya halte-halte kecil seperti Buinek, Randuagung, dan Sumberbaru [2]. Ini mengisyaratkan bahwa Jatiroto belum menjadi simpul penting kala itu.

Persilangan dengan KA Mutiara Timur dari arah Jember menuju Surabaya

Jejaknya baru muncul satu dekade kemudian. Sebuah foto artistik dari Atelier Kurkdjian tahun 1917, yang kini tersimpan di Rijksmuseum, memperlihatkan Stasiun Jatiroto dengan empat jalur aktif. Beberapa gerbong terparkir, sementara penumpang menunggu di peron. 

Foto itu bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan bagian dari album yang dihadiahkan kepada manajer utama (Hoofdaministrateur) pabrik gula setempat yang menjadi sebuah petunjuk penting tentang peran stasiun ini [3].

Memang, kelahiran Stasiun Jatiroto tak bisa dilepaskan dari geliat industri gula. Perusahaan perkebunan swasta Belanda, Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), lebih dahulu membangun pabrik gula sebelum menghadirkan stasiun. Pabrik gula awal berdiri di Ranupakis sekitar 1905 dan mulai beroperasi pada 1910. Namun melonjaknya permintaan gula di Eropa mendorong ekspansi besar-besaran.

Peta Spoor-en tramwegenkaart van Java en Madoera met lengte-profielen van de spoorwegen (Sumber: Digital Collections Uinversiteit Leiden)

Pada 1915, HVA membangun pabrik baru yang lebih besar di Jatiroto, yang kelak dikenal sebagai PG Jatiroto. Lokasinya lebih strategis, tanahnya lebih subur untuk tebu, dan kapasitas produksinya jauh melampaui pendahulunya. 

Tahun 1920, pabrik Ranupakis pun ditutup dan seluruh operasional dipusatkan di Jatiroto. Di sinilah stasiun memainkan peran vital guna sebagai tempat untuk mengangkut tebu, gula, dan manusia dalam satu arus logistik yang tak terputus.

Seiring waktu, dinamika berubah. Beberapa perhentian di sekitar stasiun, seperti Sumberbaru, Pondokdalem, hingga Kaliboto, perlahan dinonaktifkan. Jarak yang terlalu dekat dan pertimbangan efisiensi membuatnya kehilangan fungsi. Jalur keempat di Stasiun Jatiroto pun dibongkar, menyisakan tiga jalur yang masih aktif hingga kini.

Treinstation van Djatiroto, jahr 1927 (Sumber: Koleksi Rijksmuseum dengan Objectnummer NG-1987-10-A-16)

Hari ini, Stasiun Jatiroto tetap hidup, meski dalam skala yang sederhana. Kereta ekonomi dan campuran seperti Logawa, Tawang Alun, dan Sri Tanjung masih setia berhenti, menghubungkan Jember, Banyuwangi, hingga Malang dan Surabaya. Aktivitasnya memuncak di sore hingga malam, ketika perjalanan jarak menengah menjadi pilihan utama warga.

Di balik kesederhanaannya, Stasiun Jatiroto adalah potongan kecil dari sejarah besar tentang rel, gula, dan kolonialisme. Tentang bagaimana sebuah titik di peta, yang dulu nyaris tak tercatat, perlahan menjelma menjadi simpul penting dalam jaringan ekonomi dan mobilitas manusia. 

Dan siang itu, di antara deru mesin dan suara peluit, saya menyadari, bahwa setiap stasiun, sekecil apa pun, selalu punya cerita panjang yang menunggu untuk disimak. *** [300426]


Kepustakaan:

[1] Oegema, J, J, G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra . Deventer: Kluwer Technische Boeken B.V.

[2] Leiden University Libraries . (n.d.). Spoor- en tramwegenkaart van Java en Madoera met lengte-profielen van de spoorwegen | Digital Collections. Universiteit Leiden. Retrieved April 30, 2026, from https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/2011844

[3] Rijksmuseum. (n.d.). Station S. S. Rijksmuseum.Nl. Retrieved April 30, 2026, from https://www.rijksmuseum.nl/nl/collectie/object/NG-1987-10-A-16--60b5f67b83df4751895c1104e6532ca0



Share:

Kantor Pos Banyuwangi: Dari Pusat Surat ke Destinasi Heritage

Postman’s bag is always heavy because it carries the life itself: It carries all the sorrows and all the joys, all the worries and all the hopes!” -- Mehmet Murat ildan

Siang itu, sepulang dari Kantor Dinas Kesehatan Banyuwangi menuju basecamp Tim Enumerator COM-B Cluring, saya dan Field Supervisor COM-B melihat bangunan tua yang masih berdiri tegap di sisi barat bagian selatan Taman Blambangan, pada Rabu (08/04). 

Suasana kota Banyuwangi begitu dinamis, terasa bergerak seperti biasa. Namun, bangunan itu seolah menolak larut dalam arus modernitas. Ia diam, kokoh, dan penuh cerita. Itulah Kantor Pos Banyuwangi, yang beralamat di Jalan Diponegoro No. 1, Kelurahan Kepatihan.

Sekilas, ia mungkin hanya tampak seperti kantor layanan publik pada umumnya. Namun, di balik dindingnya tersimpan jejak panjang sejarah komunikasi di ujung timur Pulau Jawa. Sejak didirikan pada tahun 1864, kantor pos ini menjadi penanda penting hadirnya sistem komunikasi modern di Banyuwangi. 

Catatan dalam De ontwikkeling van het postwezen in Nederlands Oost-Indië (1935) menunjukkan bahwa pendiriannya merupakan bagian dari jaringan besar pos di Hindia Belanda, sebuah sistem yang menghubungkan kota-kota di Jawa, wilayah luar Jawa, hingga kantor-kantor cabang yang tersebar luas.

Pada masa awalnya, bangunan kantor pos ini masih sederhana, sebagaimana kantor telegraf yang berdiri tak jauh darinya. Namun, posisi Banyuwangi yang strategis di tepi Selat Bali menjadikannya simpul penting dalam jalur komunikasi internasional.

Fasad Kantor Pos Banyuwangi

Perkembangan pun berjalan cepat. Tahun 1870, Pemerintah Hindia Belanda memberikan izin kepada British Australian Telegraph Ltd., tanpa hak eksklusif atau hak yang diperpanjang selama sejumlah tahun tertentu, untuk membangun koneksi telegraf antara Jawa dan Singapura serta Australia. 

Konsesi ini dialihkan pada tahun 1873 kepada Eastern Extension Australasia and China Telegraph Company, yang kemudian perusahaan tersebut diberikan izin pada tahun 1879 untuk membangun koneksi telegraf kedua antara Banyuwangi dan Singapura serta antara Banyuwangidan Australia.

Infrastruktur komunikasi pun semakin berkembang, terlebih ketika pada 1883 layanan telegraf kereta api dibuka untuk umum, menjadi lompatan besar yang memperluas akses masyarakat terhadap teknologi komunikasi saat itu.

Memasuki awal abad ke-20, kebutuhan akan fasilitas yang lebih representatif mendorong pembangunan gedung baru yang menyatukan layanan pos dan telegraf. Melalui inisiatif Burgerlijke Openbare Werken (BOW), berdirilah bangunan kantor pos dan telegraf (Post-en telegraafkantoor te Banjoewangi) yang lebih megah pada sekitar tahun 1921.

Gedung ini mengusung gaya arsitektur Art Deco khas Hindia Belanda yang terdiri dari dua lantai dengan sentuhan estetika yang disesuaikan dengan iklim tropis. Ornamen-ornamen dekoratif khas lokal pun turut memperkaya desainnya, menciptakan harmoni antara fungsi dan keindahan.

Seiring berkembangnya teknologi, fungsi gedung ini pun meluas menjadi pusat layanan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT). Namun, alam memiliki ceritanya sendiri. Kuatnya arus Selat Bali kerap mengganggu kabel telegraf bawah laut, membuat sistem ini tidak lagi efisien. Pada 1930-an, layanan telegraf pun dihentikan, dan bangunan ini beralih fungsi menjadi kantor pos dan telepon.

Bangunan Kantor Pos yang telah berdiri sejak 1921, kini di sampingnya terlihat tower Telkom

Pasca kemerdekaan Indonesia, gedung ini tetap hidup sebagai bagian dari layanan negara, kini di bawah pengelolaan PT Pos Indonesia. Fungsinya mungkin telah menyusut menjadi kantor pos biasa, namun denyut aktivitasnya tetap terasa. 

Lantai pertama menjadi pusat layanan dan penyimpanan arsip, sementara lantai dua difungsikan untuk ruang aula, kantor kepala pos, hingga gudang. Di bagian depan, masih tampak bekas tempat pemasangan jam dinding, penanda kecil yang dahulu menjadi penanda waktu bagi masyarakat.

Tahun 2019 menjadi babak baru dalam perjalanan bangunan ini. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama PT Pos Indonesia mencanangkan revitalisasi besar-besaran. Gedung yang telah berusia lebih dari satu abad ini direncanakan menjadi destinasi wisata heritage, membuka kembali ruang bagi publik untuk tidak hanya mengirim pesan, tetapi juga membaca sejarah.

Di masa lalu, kantor pos bukan sekadar tempat berkirim surat. Ia adalah penghubung emosi manusia dengan membawa kabar rindu, harapan, kecemasan, hingga kebahagiaan. Seperti yang diungkapkan Mehmet Murat ildan, penulis drama Turki:

“Tas tukang pos selalu berat karena di dalamnya terdapat kehidupan itu sendiri: tas itu membawa semua kesedihan dan semua kegembiraan, semua kekhawatiran dan semua harapan!”

Kini, ketika pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, bangunan tua ini justru mengajak kita untuk melambat guna menengok kembali masa ketika setiap surat adalah peristiwa, dan setiap perjalanan pesan adalah kisah yang penuh makna. *** [290426]


Kepustakaan:

Beer van Dingstee, J.H. (1935). "De ontwikkeling van het postwezen in Nederl. Oost-Indië." A.C. Nix & Co. Geraadpleegd op Delpher op 28-04-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB05:000037951:00009

Norbruis, O. (2022). ARSITEKTUR DI NUSANTARA: Para Arsitek dan Karya Mereka di Hindia-Belanda dan Indonesia pada Paruh Pertama Abad ke-20 (G. Vermeer, Ed.; H. T. Dipowijoyo, Trans.; pp. 1–330). Stichting Hulswit Fermont Cuypers. 



Share:

Menjaga Ingatan di Ujung Timur Jawa: Menyusuri Jejak Blambangan di Museum Blambangan

Non-living things are not living, yet they live longer than the living.” -- John Joclebs Bassey, Night of a Thousand Thoughts

Usai menatap kemegahan arsitektur Klenteng Hoo Tong Bio, perjalanan pulang terasa belum lengkap tanpa satu persinggahan sunyi namun sarat makna, yaitu Museum Blambangan. Terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, di dalam kompleks Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, museum ini seakan menjadi ruang jeda yang menjadi tempat refreshing bagi peminat heritage maupun sejarah.

Didirikan pada 25 Desember 1977 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Soenandar Priyoseodarmo (1976-1983), Museum Blambangan lahir dari kesadaran akan pentingnya merawat ingatan kolektif. 

Fasad Museum Blambangan di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi

Namanya museum merujuk pada Kerajaan Blambangan, sebuah entitas historis yang pernah menjadi penanda kejayaan di ujung timur Pulau Jawa. Jejak kerajaan itu kini tidak lagi berupa istana megah atau benteng kokoh, melainkan serpihan artefak yang disimpan dan dirawat di dalam museum ini.

Pada awalnya, museum menempati bangunan kolonial peninggalan Belanda yang pernah berfungsi sebagai kantor kawedanan. Bangunan tersebut mulai difungsikan sebagai museum pada 2003, sebelum akhirnya direlokasi ke kompleks saat ini pada 2 Januari 2004, seiring dengan perubahan tata kelola pasca otonomi daerah. Kini, pengelolaannya berada di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Blambangan.

Memasuki ruang pamerannya, pengunjung seolah diajak menelusuri lorong waktu. Ada ratusan koleksi yang terpajang dalam ruang pameran utama museum tersebut, mulai dari etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, hingga seni rupa. Dominasi peninggalan Hindu-Buddha menjadi penanda kuat betapa wilayah ini pernah menjadi simpul penting peradaban masa lampau.

Daftar penguasa Blambangan yang terpampang di dinding dekat pintu masuk ruang pamer Museum Blambangan

Salah satu koleksi yang paling memikat adalah tablet dan materai tanah liat bertuliskan YT Mantra, sebuah mantra Buddha yang digunakan dalam praktik pemujaan. Pada materai, terukir lima baris aksara Jawa Kuno di bagian tengah, sementara tablet menampilkan relief Dhyani Bodhisattwa yang halus dan penuh simbolisme. 

Temuan dari Situs Gumuk Klinting, Kecamatan Muncar ini membuka kemungkinan bahwa eksistensi Blambangan telah hadir sejak abad ke-9 hingga ke-11 atau lebih tua dari era Majapahit. Sebuah fakta yang memperluas horizon sejarah Jawa Timur.

Museum ini tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga menghadirkan cara baru untuk memahami masa lalu. Setiap koleksi dilengkapi barcode yang memungkinkan pengunjung mengakses informasi detail secara mandiri. 

Kereta Kyai Rajapeni yang pernah menjadi tunggangan PB X dan permaisuri dalam membagikan uang logam kepada masyarakat Solo setiap hari Kamis

Selain ruang pamer utama, terdapat pula ruang Banyuwangi Tempo Doeloe, ruang Geopark Ijen, ruang Biskop, dan ruang Rumah Adat Osing. Masing-masing menghadirkan fragmen identitas lokal yang membentuk Banyuwangi hari ini.

Di halaman depan museum, berdiri kokoh sebuah meriam hitam legam, berdampingan dengan kereta kencana Kyai Rajapeni. Kereta ini bukan sekadar artefak, melainkan saksi hubungan historis lintas wilayah. 

Dibuat di Inggris dan pernah digunakan oleh Pakubuwono X, kereta ini dahulu berkeliling setiap hari Kamis, membawa koin untuk dibagikan kepada rakyat. Tradisi itu menciptakan lanskap sosial yang khas di mana warga duduk menunggu di tepi jalan, sementara kusirnya, menariknya, justru berasal dari Banyuwangi. 

Etalase ruang pamer utama Museum Blambangan

Sebuah simpul kecil yang menghubungkan dua dunia. Pada era Bupati H. Turyono Purnomo Sidik (1991-1998), kereta ini dihadiahkan kepada masyarakat Banyuwangi oleh pihak Kraton Surakarta Hadiningrat, dan kini menjadi bagian dari narasi museum.

Museum Blambangan bukan sekadar ruang penyimpanan benda mati. Ia adalah ruang hidup bagi ingatan, tempat generasi kini belajar memahami akar sejarahnya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh John Joclebs Bassey, seorang penulis asal Nigeria dalam karya kolaboratifnya berjudul Night of a Thousand Thoughts (2023):

“Benda-benda mati bukanlah makhluk hidup, namun mereka hidup lebih lama daripada makhluk hidup.” 

Koleksi arkeologi berupa serpihan artefak dari Candi Macan Putih

Kutipan ini terasa menemukan maknanya di sini, di antara artefak yang diam, namun menyimpan cerita panjang yang melampaui usia manusia.

Dengan jam operasional yang terbuka dari pagi hingga menjelang sore – kecuali hari Jumat dan hari Sabtu maupun Ahad libur, museum ini menawarkan lebih dari sekadar kunjungan. Ia adalah pengalaman tentang bagaimana masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, melainkan menunggu untuk ditemukan kembali, dalam sunyi yang penuh arti. *** [240426]



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami