The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Jejak Revolusi Industri di Jantung Yogyakarta: Kisah Lokomotif Uap Marshall Britannia di Stasiun Tugu

Di antara keramaian Malioboro, terdapat sebuah benda tua yang sering dilewatkan oleh wisatawan. Ia berada di sisi utara pintu timur Stasiun Yogyakarta, bertahan di tepi Jalan Margo Utomo. Bentuknya mirip lokomotif kuno dengan cerobong asap, roda besi besar, dan bodi hitam pekat yang mencerminkan kesan industri masa lalu. Banyak orang mengira itu kereta tua, padahal ia bukanlah lokomotif rel yang biasanya melintas membawa penumpang.

Benda bersejarah itu adalah Monumen Lokomotif Uap Stasiun Yogyakarta, sebuah lokomotif uap Marshall Britannia yang menjadi saksi bisu perkembangan industri di Jawa pada masa kolonial. Kehadirannya seolah menjadi pengingat bahwa Yogyakarta bukan hanya kota budaya dan wisata, tetapi juga pernah bersentuhan erat dengan denyut revolusi dunia industri.

Monumen Lokomotif Uap Stasiun Yogyakarta di Jalan Margo Utomo No. 1 Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedong Tengen, Kota Yogyakarta

Lokomotif uap ini dipajang tepat di seberang ujung Jalan Malioboro, kawasan yang kini dikenal sebagai pusat wisata dan perdagangan paling hidup di Yogyakarta. Di tengah lalu-lalang wisatawan, suara kendaraan, dan keramaian kota, mesin uap tua itu berdiri tenang membawa cerita dari lebih seabad silam.

Sekilas tampilannya memang menyerupai kereta api kecil. Namun sebenarnya mesin ini adalah mesin uap portabel satu silinder buatan Marshall, Sons & Co. Ltd., perusahaan asal Gainsborough, Inggris, yang terkenal sebagai produsen mesin industri dan pertanian berbasis tenaga uap. Mesin semacam ini dikenal dengan istilah “lokomobil” karena dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan roda tanpa memerlukan rel.

Cerobong asap lokomobil buatan Marshall, Sons & Co. Ltd., Inggris

Pada akhir abad ke-19, mesin uap sedang berada di puncak kejayaan. Revolusi industri yang dipicu penemuan mesin uap oleh James Watt mengubah wajah dunia. Pabrik tekstil, pertanian, pertambangan, hingga industri pengolahan mulai meninggalkan tenaga manusia dan hewan untuk beralih ke tenaga mekanik. Gelombang modernisasi itu turut menjalar ke Hindia Belanda, termasuk Pulau Jawa yang kala itu menjadi pusat industri gula terbesar.

Belanda kemudian mendatangkan berbagai mesin uap portabel dari Eropa untuk mendukung produksi gula. Salah satunya adalah lokomobil Marshall Britannia yang kini dipamerkan di Stasiun Tugu. Di Yogyakarta, mesin ini lazim digunakan untuk menggerakkan alat penggilingan dan pengolahan tebu di pabrik gula.

Plakat nama produsen mesin uap portabel Marshall, Sons & Co.

Marshall, Sons & Company sendiri memiliki sejarah panjang dalam dunia industri Inggris. Perusahaan yang didirikan William Marshall pada tahun 1848 itu awalnya memproduksi peralatan pabrik sebelum berkembang menjadi pembuat mesin pertanian, ketel uap portabel, hingga traktor. Nama Marshall kemudian dikenal luas sebagai produsen mesin uap berbentuk lokomotif yang tangguh dan efisien untuk kebutuhan industri maupun pertanian.

Lokomobil di Stasiun Yogyakarta ini bekerja menggunakan bahan bakar batubara atau kayu bakar. Uap panas dari ketel menghasilkan tekanan tinggi yang menggerakkan piston dan roda gaya besi besar di bagian samping mesin. Putaran itu lalu diteruskan menggunakan sabuk ke mesin penggilingan atau alat produksi lainnya. Seluruh tubuhnya terbuat dari besi dengan balutan cat hitam khas mesin industri era kolonial, menghadirkan kesan kokoh sekaligus artistik. 

Bodi hitam pekat mesin uap portabelMarshall, Sons & Co.yang mencerminkan kesan industri masa lalu

Dahulu, mesin seperti ini biasanya dipindahkan menggunakan tenaga manusia atau hewan menuju lokasi kerja. Meski sederhana dibanding teknologi modern, pada zamannya lokomobil merupakan simbol kemajuan teknologi yang sangat revolusioner.

Kini, lokomobil Marshall Britannia itu memang tak lagi mengepulkan asap atau menggerakkan mesin penggilingan tebu. Namun keberadaannya di halaman Stasiun Tugu menyimpan jejak penting tentang bagaimana teknologi industri pernah ikut membentuk sejarah Yogyakarta. Di antara kereta modern yang datang dan pergi setiap hari, mesin tua itu seolah terus bercerita tentang masa ketika tenaga uap menjadi penggerak utama peradaban. *** [170526



Share:

Mengenal Lokomotif D 301 61 27, Monumen Sejarah di Halaman Selatan Stasiun Tugu Yogyakarta

Di halaman depan Stasiun Yogyakarta sisi selatan, tepatnya di kawasan Jalan Pasar Kembang, Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, saya melihat sebuah lokomotif tua yang dipajang anggun sebagai monumen sejarah. 

Di tengah hiruk-pikuk wisatawan dan lalu lalang kendaraan, lokomotif berseri D 301 61 27 itu berdiri diam, seolah menjadi penanda bahwa Stasiun Yogyakarta bukan sekadar tempat datang dan pergi kereta, melainkan juga ruang penyimpan jejak panjang perjalanan perkeretaapian Indonesia.

Lokomotif jadul tersebut kini dikenal sebagai Monumen Lokomotif yang menjadi ikon bernuansa sejarah dari Stasiun Yogyakarta, atau yang akrab disebut Stasiun Tugu. Kehadirannya menghadirkan suasana nostalgia, mengingatkan orang pada masa ketika lokomotif diesel hidrolik menjadi tulang punggung layanan kereta api di berbagai jalur cabang di Jawa.

Lokomotif D 301 61 27 yang dipamerkan di halaman depan Stasiun Tugu sisi selatan ini merupakan bagian dari lokomotif diesel hidrolik seri D 301 yang didatangkan ke Indonesia sebanyak 80 unit. 

Lokomotif D 301 61 27 yang menjadi monumen sejarah di halaman Stasiun Tugu Yogyakarta sisi selatan

Penomorannya pun memiliki arti tersendiri. Huruf D menunjukkan susunan roda atau konfigurasi gandar D, yang berarti lokomotif ini memiliki empat gandar penggerak. Angka 3 setelah aksara D memperlihatkan bahwa lokomotif ini menggunakan penggerak diesel hidrolik. Sementara angka 01 menunjukkan seri lokomotif. 

Dua digit berikutnya, yakni 61, merujuk pada tahun lokomotif tersebut mulai dinas atau dioperasikan, yaitu tahun 1961. Sedangkan dua digit terakhir, 27, menunjukkan nomor urut lokomotif dari keseluruhan armada yang didatangkan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).

Lokomotif D301 ini merupakan lokomotif langsir atau shunting locomotive dan layanan jarak pendek yang diproduksi oleh Fried Krupp Lokomotivfabriek Essen, Jerman. Krupp sendiri dikenal sebagai pabrik industri berat yang memproduksi berbagai kebutuhan militer, lokomotif uap, gerbong, kereta, hingga aneka produk berbahan dasar baja. Perusahaan keluarga yang berdiri sejak tahun 1811 itu didirikan oleh Friedrich Krupp melalui Krupp Gusstahlfabrik, sebuah pabrik pengecoran baja di dekat Sungai Ruhr, Jerman.

Wajah lokomotif D 301 61 27 dari sisi timur

Di kalangan pencinta kereta api, D 301 kerap disebut sebagai “adik” dari lokomotif D300 karena bentuknya yang hampir serupa, namun memiliki performa yang lebih baik. Meski tugas utamanya melayani aktivitas langsir, lokomotif D 301 juga digunakan untuk menarik kereta penumpang dan barang di sejumlah jalur cabang. Lokomotif ini mulai beroperasi di wilayah Jawa Tengah maupun Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1961.

Pada masanya, lokomotif ini diperkirakan pernah melayani lintas Yogyakarta–Magelang–Secang maupun Yogyakarta–Srandakan–Ngabean–Palbapang serta Ngabean–Pasargedeh–Pundung. Karena sering melintasi jalur yang berdampingan langsung dengan jalan raya, kecepatan maksimum lokomotif ini dibatasi hanya sekitar 25 kilometer per jam. 

Lambat memang, tetapi justru dari kelambatan itulah masyarakat zaman dulu dapat menyaksikan kereta api sebagai bagian akrab dari kehidupan sehari-hari, yang melintas dekat pasar, menyapa anak-anak kecil, dan membelah kampung dengan bunyi peluit yang kini tinggal kenangan.

Wajah lokomotif D 301 61 27 dari sisi barat

Setelah masa baktinya usai, lokomotif D301 itu kemudian diabadikan menjadi monumen sejarah. Namun ada satu hal yang sempat mengusik pikiran saya ketika melihatnya usai mendampingi anak wedok mengikuti Kejuaraan Karate di GOR Amongrogo pada Ahad, 31 Agustus 2025. Pada badan lokomotif tertulis D 301 61 27, tetapi di prasasti peresmian yang ditandatangani Direktur Utama PT KAI (Persero) Edi Sukmoro tertanggal 12 Desember 2018 justru tercantum “Monumen Lokomotif D 301 22”.

Barangkali itu sekadar kekeliruan penulisan yang luput dari perhatian. Sebab manusia, sehebat apa pun merawat sejarah, tetap memiliki kemungkinan alpa dalam mencatat detail-detail kecil. Namun justru di situlah sejarah menjadi menarik. Ia tidak selalu hadir sebagai kisah yang sepenuhnya rapi dan sempurna. Kadang ada angka yang tertukar, huruf yang terlewat, atau prasasti yang tak sepenuhnya sejalan dengan kenyataan di depannya. 

Akan tetapi, lokomotif tua itu tetap berdiri tegak, seolah ingin mengajarkan bahwa nilai sebuah perjalanan tidak ditentukan oleh sempurnanya catatan, melainkan oleh jejak pengabdian yang pernah dilaluinya. Dan mungkin, sebagaimana kereta yang terus berjalan meski rel kadang berderit, sejarah pun tetap melaju meski sesekali manusia keliru menuliskan angka di batu peringatan. *** [150526]

Share:

Masjid Jamae (Chulia): Jejak Muslim Tamil dan Keindahan Arsitektur Warisan di Jantung Chinatown Singapura

Architecture is the very mirror of life. You only have to cast your eyes on buildings to feel the presence of the past, the spirit of a place; they are the reflection of society.” -- I. M. Pei

Masjid Jamae (Chulia) Singapura (Foto: Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

Di tengah hiruk-pikuk Chinatown Singapura, di persimpangan South Bridge Road dan Mosque Street, berdiri sebuah bangunan yang seolah menyimpan lapisan-lapisan sejarah kota pelabuhan itu. 

Dalam rangkaian Free Singapore Tour dari Bandara Changi, pemandu wisata memperkenalkan bangunan tersebut sebagai Jamae (Chulia) Mosque atau Masjid Jamae (Chulia), salah satu masjid tertua di Singapura yang hingga kini tetap menjadi penanda penting warisan multikultural negeri itu.

Masjid Jamae (Chulia) terletak di 218 South Bridge Road, tepat di jantung Chinatown yang bersejarah. Keberadaannya berdampingan dengan Kuil Sri Mariamman menghadirkan gambaran nyata tentang Singapura awal abad ke-19, yakni sebuah kota pelabuhan kosmopolitan tempat komunitas-komunitas pendatang hidup berdampingan, membawa bahasa, keyakinan, dan tradisi masing-masing.

Masjid ini dibangun antara tahun 1830 hingga 1835 oleh para migran Muslim Tamil dari India Selatan yang dikenal sebagai komunitas Chulia. Namun sejarahnya dipercaya lebih tua dari bangunan yang terlihat hari ini. 

Konon, sejak 1827 komunitas Muslim Tamil yang dipimpin Anser Saib telah mendirikan tempat ibadah di lokasi tersebut, berdampingan dengan makam keramat Muhammad Salih Valinvah yang sudah ada sebelumnya.

Nama “Chulia” sendiri merujuk pada komunitas Muslim Tamil dari Pantai Coromandel di India Selatan. Dalam sejarah migrasi Asia Selatan, istilah ini diyakini berasal dari kata “Chola”, nama kerajaan maritim Tamil besar yang pernah mengendalikan jalur perdagangan Samudra Hindia. 

Pada puncaknya di bawah Rajaraja I dan Rajendra Chola I pada abad ke-11, Kerajaan Chola bahkan menaklukkan Sriwijaya pada tahun 1025 M. Melalui perdagangan dan navigasi inilah diaspora Muslim Tamil tiba di Singapura pada tahun 1820-an.

Di era kolonial, Stamford Raffles melalui Rencana Kota 1822 membagi kawasan permukiman berdasarkan identitas etnis dan agama. Sebuah kawasan bernama “Chuliah Campg” ditandai sebagai permukiman bagi sekitar seribu Muslim Tamil di dekat Sungai Singapura. 

Kini wilayah itu diyakini berada di sekitar Cross Street, tak jauh dari Chinatown modern. Penempatan mereka di kawasan pelabuhan bukan tanpa alasan: komunitas Chulia dikenal aktif dalam jasa pengangkutan barang dan perdagangan maritim.

Dari komunitas kecil itulah lahir Masjid Jamae (Chulia), yang juga dikenal sebagai “Periya Palli” atau “Masjid Besar” dalam bahasa Tamil. Sejak awal, masjid ini dibangun melalui sistem wakaf, yaitu tanah dan properti disumbangkan demi kepentingan umat. 

Pendanaan berasal dari hasil sewa properti wakaf yang dikelola wali amanat keluarga dan komunitas. Pada akhir abad ke-19, pengelolaan masjid berada di tangan sejumlah wali amanat seperti Mohamed Syed bersama pengelola Dargah Nagore dan Masjid Al-Abrar. 

Setelah muncul berbagai persoalan administrasi, pemerintah kolonial membentuk Dewan Wakaf Muslim dan Hindu pada 1906. Pengelolaan itu kemudian berada di bawah MUIS (Majelis Ugama Islam Singapura) sejak 1968.

Meski beberapa rencana pembangunan ulang dan perluasan pernah diajukan - termasuk pada 1897, 1911, dan 1986 - wujud asli masjid tetap dipertahankan. Perbaikan besar dilakukan pada 1996, sementara status lahannya diperkuat melalui perpanjangan sewa selama 999 tahun pada 1981. Kini masjid berdiri di atas lahan seluas sekitar 4.809 meter persegi, tetap menjadi bagian penting dari lanskap heritage Singapura.

Keistimewaan utama Masjid Jamae terletak pada arsitekturnya yang eklektik. Gerbang depannya memperlihatkan pengaruh India Selatan yang kuat, yaitu sepasang menara bertingkat dengan kubah berbentuk bawang mengapit pintu masuk utama. Di antara kedua menara itu terdapat fasad dekoratif menyerupai istana miniatur empat tingkat, menghadirkan siluet yang khas di antara deretan bangunan Chinatown.

Namun begitu melangkah ke dalam, suasana berubah. Ruang salat tambahan memperlihatkan deretan kolom Tuscan bergaya Neo-Klasik, sementara ruang salat utama ditopang kolom-kolom Doric yang mengingatkan pada rancangan arsitektur kolonial karya George Drumgoole Coleman. 

Jendela-jendela besar dengan ubin glasir hijau Cina di bagian bawah memungkinkan sirkulasi udara alami, menciptakan kesejukan tropis di tengah kepadatan kota. Perpaduan unsur India Selatan, Eropa Neo-Klasik, dan sentuhan Tionghoa itu menjadikan Masjid Jamae (Chulia) sebagai cermin pertemuan budaya yang membentuk identitas Singapura.

Arsitektur masjid ini bukan sekadar estetika, melainkan rekaman sosial dari sebuah kota pelabuhan yang dibangun oleh para pendatang. Kutipan arsitek ternama Ieoh Ming Pei, FAIA, RIBA (lahir 26 April 1917), yang biasa dikenal sebagai I. M. Pei, adalah seorang arsitek Tionghoa-Amerika, terasa relevan ketika memandang bangunan ini: 

“Arsitektur adalah cermin kehidupan itu sendiri. Anda hanya perlu melihat bangunan untuk merasakan kehadiran masa lalu, semangat suatu tempat; bangunan adalah cerminan masyarakat.” 

Pada Masjid Jamae (Chulia), masa lalu itu hadir melalui perpaduan gaya bangunan, jejak perdagangan maritim, dan kisah diaspora Muslim Tamil yang menjadi bagian dari denyut awal Singapura.

Tak mengherankan bila sejak abad ke-19 bangunan ini kerap muncul dalam kartu pos dan foto-foto lama Singapura. Siluet gerbangnya yang ikonik telah lama menjadi landmark visual kota. Pada 19 November 1974, Masjid Jamae (Chulia) resmi ditetapkan sebagai monumen nasional Singapura. 

Ia diyakini sebagai masjid tertua di antara lima masjid nasional yang dilindungi negara: Masjid Jamae (Chulia), Masjid Al-Abrar, Masjid Sultan, Masjid Abdul Gafoor, dan Masjid Hajjah Fathimah.

Kini, fungsi Masjid Jamae (Chulia) tidak hanya sebagai tempat ibadah. Selain menyelenggarakan salat dan khutbah, masjid ini berkembang sebagai pusat pendidikan dan dialog lintas masyarakat. 

Seminar, diskusi sosial-keagamaan, hingga kegiatan untuk Muslim dan non-Muslim rutin digelar di sana untuk melanjutkan tradisi keterbukaan yang telah menjadi bagian dari sejarahnya sejak dua abad silam.

Di tengah modernitas Singapura yang terus bergerak cepat, Masjid Jamae (Chulia) tetap berdiri tenang. Menara berkubah bawangnya tidak hanya memanggil umat menuju ruang salat, tetapi juga mengingatkan bahwa sejarah sebuah kota sering kali tersimpan paling indah di dalam bangunan-bangunan tuanya. *** [100526]


Kepustakaan:

Cornelius-Takahama, V., & Tan, J. (n.d.). Jamae Mosque. National Library Singaporo. Retrieved May 04, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=53aebdc2-d0fb-423d-b12f-05b09ce40239

Masjid Jamae (Chulia) Singapore. (n.d.). History of this Mosque. Masjid Jamae (Chulia). Retrieved May 10, 2026, from http://www.masjidjamaechulia.sg/welcome/history

Mukhaer, A. A. (2023, October 08). Sejarah India: Kerajaan Chola yang Sempat Menguasai Sriwijaya - Semua halaman | National Geographic. National Geographic Indonesia. https://nationalgeographic.grid.id/read/133892737/sejarah-india-kerajaan-chola-yang-sempat-menguasai-sriwijaya?page=all

National Library Singapore. (n.d.). Chulias: Encyclopedia of Singapore Tamils. National Library Singapore. Retrieved May 10, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=8adca0bb-2918-4c19-8e91-d28199575b76



Share:

Bussorah Street, Jantung Lama Kampong Glam: Menyusuri Jejak Jawa, Islam, dan Warisan Melayu di Singapura

A street that you have never visited is a book that you have never read! You never know what you are missing!” -- Mehmet Murat Ildan

Transit 10 jam di Bandara Changi usai menghadiri Third Annual Symposium di Hyderabad (India) pada Ahad (14/12/2025) membawa personil Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) mengikuti Free Singapore Tour menuju Kampong Glam. 

Berbeda dengan Chinatown yang lekat dengan sejarah komunitas Tionghoa, Kampong Glam menghadirkan jejak panjang masyarakat Melayu-Muslim, Arab, India, Jawa, dan berbagai komunitas Asia lainnya yang membentuk wajah multikultural Singapura.

Di kawasan inilah berdiri Bussorah Street, jalan yang dahulu dianggap sebagai jantung Kampong Glam. Awalnya bernama Jalan Sultan, nama itu diubah pada 1910 menjadi Bussorah Street, merujuk pada sebuah kota Basra di Irak masa kini. Pergantian nama tersebut mencerminkan eratnya hubungan kawasan ini dengan dunia Islam dan jalur perdagangan Timur Tengah.

Dalam Kampong Glam: A Heritage Trail [1], Bussorah Street dahulu dikenal sebagai kawasan dengan komunitas Jawa yang kuat. Warga dari Sumatra, Banjar, Riau, Arab, India, Melayu, hingga Tionghoa hidup berdampingan di jalan ini. Kehidupan sosial masyarakatnya terkenal santun dan religius. Bahkan pada pertengahan abad ke-20, tamu dari luar kawasan diyakini tidak akan memasuki jalan ini tanpa penutup kepala sebagai bentuk penghormatan kepada adat setempat.

Semangat gotong royong menjadi bagian penting kehidupan warga. Saat ada pernikahan, kenduri, maupun pemakaman, seluruh tetangga saling membantu. Pengaruh budaya Jawa juga tampak dalam cara bertutur masyarakat yang dikenal lebih halus dan formal.

Kampong Glam Cafe di 17 Bussorah Street, Singapura (Foto: Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

Di tengah kehidupan itu berdiri Masjid Sultan yang menjadi pusat spiritual masyarakat Kampong Glam. Warga bersama-sama menjaga masjid tersebut, sementara Kepala Kadi Singapura pernah tinggal di kawasan ini dan mengumumkan awal Ramadan serta Hari Raya dari Bussorah Street.

Suasana paling hidup hadir ketika Ramadan tiba. Bussorah Street berubah menjadi pasar malam yang dipenuhi aroma kuliner khas Jawa-Melayu-Muslim. Berbagai makanan seperti nasi rawon, nasi jenganan, mee mydin, kuih lopis, hingga pulut urap dijajakan dari siang hingga malam. Hidangan-hidangan itu lahir dari kreativitas masyarakat mengolah bahan sederhana menjadi sajian penuh cita rasa.

Bussorah Street juga menjadi ruang tumbuh seni Melayu. Pada era 1940-an, seniman legendaris seperti P. Ramlee dan S. Roomai Noor datang ke kawasan ini untuk berlatih bersama kelompok orkes keroncong (gaya musik Indonesia yang menampilkan alat musik gesek keroncong) Kampong Glam. Jalan ini bahkan pernah menjadi lokasi pengambilan gambar film internasional dan film Melayu awal Singapura.

Kini Bussorah Street dipenuhi restoran, butik, dan kafe modern. Namun jejak masa lalu masih bertahan melalui warung teh India tua, pembuat songkok tradisional, hingga galeri seni Melayu yang tetap menjaga warisan budaya kawasan tersebut. Selain itu, juga terdapat Kampong Glam Café berada di ujung jalan Bussorah. Dulunya, bangunan kafe tersebut yang berupa rumah toko (shophouses) itu dulunya adalah Stasiun Radio Kampong Glam. Pada masa itu, umat Muslim yang ingin membeli peralatan listrik akan pergi ke sini.

Bagi Tim NIHR UB, Bussorah Street bukan sekadar jalan wisata menuju Masjid Sultan. Jalan ini adalah ruang hidup yang menyimpan kisah tentang budaya, agama, seni, dan solidaritas masyarakat Melayu-Muslim di Singapura.

Kunjungan singkat itu seolah menegaskan kutipan Mehmet Murat Ildan, penulis drama Turki:

“Jalan yang belum pernah Anda kunjungi adalah buku yang belum pernah Anda baca! Anda tidak pernah tahu apa yang Anda lewatkan!” 

Sebab di balik ramainya Kampong Glam hari ini, Bussorah Street tetap menyimpan lembaran penting sejarah dan warisan budaya Asia Tenggara. *** [090526]


Kepustakaan:

[1] Low, C.-A., Tan, D., Mohamed Tahir, I. bin, Chong Ming, L., Mohamad, S. H. B., & Chui Hua, T. (n.d.). Kampong Glam A Heritage Trail. National Heritage Board. Retrieved May 08, 2026, from https://www.nhb.gov.sg/~/media/nhb/files/places/trails/kampong glam/kgglamtrail.pdf



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami