Situs Liang Bua (1)

Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai

Kampung Adat Bena (2)

Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada

Rumah Retret Kemah Tabor (3)

Mataloko, Kab. Ngada

Danau Kelimutu (4)

Desa Pemo, Kec. Kelimutu, Kab. Ende

Museum Tenun Ikat (5)

Jl. Ir. Soekarno, Kota Ratu, Ende Selatan, Ende

Sunday, May 20, 2018

Kebun Raya Purwodadi

Kabupaten Pasuruan memang belum seterkenal Malang dalam hal wisata, tetapi kabupaten ini sesungguhnya tidak kalah menariknya dengan Malang. Kabupaten ini menyimpan tempat-tempat wisata yang cukup menarik juga dengan keberagamaannya, seperti wisata pantai, pegunungan maupun yang lainnya. Bahkan di Kabupaten Pasuruan ini terdapat tempat wisata yang jarang dimiliki oleh daerah-daerah wisata lainnya, yaitu Kebun Raya Purwodadi.
Kebun raya ini terletak di Jalan Raya Surabaya-Malang Km. 65 Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi kebun raya ini berada di sebelah timur laut Kantor Polsek Purwodadi ± 700 meter, atau sekitar 450 meter sebelah utara Kantor Pos Purwodadi.



Kebun raya adalah kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik atau kombinasi dari pola-pola tersebut untuk tujuan kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan. Sehingga, keberadaan Kebun Raya Purwodadi sebagai bagian Kebun Raya Indonesia akan selalu menjadi acuan untuk kegiatan konservasi flora ex-situ.
Kebun Raya Purwodadi ini merupakan cabang kebun raya ketiga yang didirikan di Jawa Timur, tepatnya di daerah Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Ide pendirian kebun raya ini datang dari Dr. Lourens Gerhard Marinus (L.G.M) Baas Becking, seorang mantan direktur Kebun Raya Nasional di Bogor (1939-1940). Ia juga adalah seorang ahli botani dan mikrobiologi berkebangsaan Belanda. Dilahirkan di Deventer, Belanda, pada 4 Januari 1895 dari pasangan Marinus Ludovicus Baas Becking dan Anna Maria Helena Berkhout.



L.G.M. Baas Becking menikah dengan Rabina Haverman pada 16 Juni 1919. Dari pernikahan ini, ia mendapatkan 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Setelah kematinan Rabina Haverman, istri pertamanya, Baas Becking kemudian menikahi Johanna Louisa Maria Bombeeck pada 16 Juni 1961. Dari pernikahannya yang kedua ini, ia tidak dikaruniai seorang anak.
Ide pendirian cabang kebun raya ketiga tersebut baru terealisasi pendiriaannya pada 30 Januari 1941, semasa kepemimpinan Dr.  Dirk Fok van Slooten (1941-1943). Berbeda dengan kebun botani lainnya, Kebun Raya Purwodadi ini mengkhususkan pada koleksi tumbuhan yang hidup di lingkungan beriklim kering tropis, karena kekayaan flora di lahan beriklim kering yang banyak terdapat di kawasan timur Indonesia cukup potensial untuk digali dan dimanfaatkan.



Pada 1982 Balai Kebun Raya Purwodadi berbentuk Badan Hukum No. 5301/BH/1982 tertanggal 7 Agustus 1982. Kemudian pada 17 Januari 1987 keluar Surat Keputusan Ketua LIPI No. 25/Kep/D.5/1987 yang mengesahkan Cabang Balai Kebun Raya Purwodadi di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Kebun Raya Bogor, dan Kebun Raya Purwodadi sekarang bernama UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi yang bernaung di bawah UPT Balai Pengembangan Kebun Raya- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Selanjutnya pada 12 Juni 2002 terbit Surat Keputusan Kepala LIPI No. 1018/M/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, dengan pengesahan sebagai Unit Pelaksa Teknis di bawah kantor Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.



Kebun Raya Purwodadi memiliki areal seluas 845.148 m² pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut dengan topografi datar sampai bergelombang. Lokasinya yangberada di kaki Gunung Baung, menyebabkan curah hujan rata-rata pert ahun 2366 mm dengan bulan basah antara bulan November dan Maret dengan suhu berkisar antara 22° - 32°C.
Mengunjungi Kebun Raya Purwodadi berarti Anda akan menikmati berbagai koleksi tanaman yang ada di dalam areal kebun raya dan sekaligus merasakan kesejukan dan keasriannya. Tumbuhan yang sudah ditanam dan menjadi koleksi di Kebun Raya Purwodadi saat ini sejumlah 11.748 spesimen, 1.925 jenis, 928 marga dan 175 suku.



Koleksi tumbuhan di dalam kebun raya ini dikelompokkan ke dalam 10 lanskap koleksi tanaman, yaitu Palem (Palm Collection), Paku (Fern Collection), Taman Meksiko (Mexican Collection), Bambu (Bamboo Collection), Taman Obat (Medicinal Plant Garden), Polong-polongan (Fabaceae Collection), Area yang dihutankan (Forested Area), Mangga (Mango Collection), Pisang (Banana Collection), dan Taman Bougenville (Bougenvilea Collection).
Pengunjung yang datang kemari bisa langsung mengetahui jenis tanaman itu saat berkeliling. Hampir di setiap tanaman diberi label nama tanamannya. Namun untuk pengelompokan tanaman, pengunjung disarankan untuk melihat papan denah kebun raya yang berada di dekat pintu masuk kebun raya ini.
Di antara koleksi tanaman yang ada, umumnya terdapat halaman rumput (lawn). Ada sekitar 7 lawn di kebun raya ini, yaitu Lawn Kawisto, Lawn Sengon, Lawn Majapahit, Lawn Trembesi, Lawn Bungur, Lawn Sono Keling, dan Camping Ground Wangkal. Selain itu, Kebun Raya Purwodadi juga dilengkapi dengan sejumlah sarana dan prasarana bagi pengunjung, seperti kafetaria, Gedung Informasi Perkebunrayaan, Gedung Cemara, Wisma Tamu Cempaka, kios botani, Kantor/Gedung Ringin, Mushola, Rumah Kaca dan Kios Cinderamata, WC Umum, tempat parkir, jalan setapak (footpath), gazebo maupun area pembibitan (nursesery). *** [090518]

Friday, May 18, 2018

Stasiun Kereta Api Gumuk Mas

Stasiun Kereta Api Gumuk Mas (GM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Gumuk Mas, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 10 m di atas permukaan laut.
Stasiun ini terletak di Dusun Kebonan RT. 01 RW. 01 Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara BRI Unit Gumukmas ± 400 meter.

   

Bangunan Stasiun Gumuk Mas ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini dilaksanakan bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Lumajang-Kencong-Balung sepanjang 42 kilometer. Pelaksanaan proyek tersebut dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), pada tahun 1928, yang dikenal dengan O/L-2 (Oosterlijnen-2).
Oosterlijnen-2 ini menunjukkan pembangunan jalur kereta api di Jawa untuk jalur lintas bagian timur yang kedua. Biasanya berfungsi untuk menyambungkan sebuah daerah tersebut ke daerah lainnya yang telah dilalui O/L-1.



Proyek jalur rel Lumajang-Kencong-Balung ini merupakan pembangunan jalur rel kereta api terakhir yang dilakukan oleh SS. Jalur Oosterlijnen milik SS ini mendominasi area jalur kereta api di Jawa Timur (terutama wilayah selatan dan timur) dan sedikit di wilayah timur Jawa Tengah. Selain itu, jalur rel Lumajang-Kencong-Balung ini diciptakan oleh Pemerintah Hindia Belanda karena daerah di sekitar jalur tersebut merupakan areal perkebunan tebu yang sangat luas. Dulu dari Stasiun Gumuk Mas, tebu tersebut diangkut oleh kereta api menuju pabrik gula di Kencong. Komoditas tambahan yang diangkut dari daerah selatan ini adalah beras dan tembakau.



Pada masa Hindia Belanda stasiun ini cukup ramai aktivitas pengangkutan penumpang manusia maupun komoditas perkebunan seperti tebu, beras dan tembakau. Setelah Hindia Belanda merdeka menjadi Indonesia, jalur ini masih sempat bertahan untuk digunakan sebagai aktivitas lalu lintas kereta api kemudian sedikit demi sedikit mulai meredup. Pamornya mulai kalah dengan moda transportasi darat lainnya, seperti colt maupun bus. Akhirnya, Stasiun Gumuk Mas resmi berhenti pada tahun 1975.
Meski bangunan bekas Stasiun Gumuk Mas ini masih tampak berdiri kokoh, sejatinya bangunannya mulai terlantar. Banyak coretan-coretan di temboknya, dan ada atapnya yang mulai bocor karena gentengnya ada yang mlorot. Kini bangunan itu tertutup oleh tanaman Sengon dan Jati Mas oleh masyarakat setempat, dan di dekatnya juga ada kandang sapi milik warga.
Dulu, stasiun ini memiliki 2 jalur rel di mana jalur 1 digunakan sebagai sepur lurus, ke arah barat menuju Stasiun Kencong dan yang ke timur menuju ke Stasiun Balung. Sedangkan, jalur 2 digunakan sebagai transit kereta api manakala terjadi persilangan atau persusulan antarkereta api.
Bila dibiarkan terus-menerus, bangunan bekas Stasiun Gumuk Mas ini akan roboh dengan sendirinya, dan tentunya akan hilang dari sejarah. Ironi memang, bangunan stasiun kereta api yang termasuk dibangun oleh SS diakhir proyeknya di Pulau Jawa malah lebih duluan non aktifnya atau tidak beroperasi lagi. *** [160518]

Fotografer: Harista Weni Jayanti

Stasiun Kereta Api Bayeman

Stasiun Kereta Api Bayeman (BYM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Bayeman, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 6 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Tongas atau Jalan Pantura, Desa Dungun, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara atau depan Pasar Bayeman. Di belakang stasiun ini ada pantai yang lumayan indah, yaitu Pantai Bahak Indah.



Bangunan Stasiun Bayeman ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini diperkirakan bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Pasuruan-Probolinggo-Klakah yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, dari tahun 1884 hingga tahun 1895.



Jalur tersebut merupakan bagian dari proyek jalur kereta api di Jawa untuk line menuju bagian timur (oosterlijnen) sepanjang 74 kilometer. Pengerjaannya dimulai dari Pasuruan menuju Probolinggo dan selesai pada tahun 1884, selang sepuluh tahun barulah dilanjutkan pengerjaannya dari Probolinggo menuju Klakah.



Stasiun ini hanya memiliki 2 jalur rel di mana jalur 1 digunakan sebagai sepur lurus, ke arah barat menuju Stasiun Grati dan yang ke timur menuju ke Stasiun Probolinggo. Mengingat fungsinya sebagai stasiun kelas III atau kecil, aktivitas yang ada di stasiun ini juga tidak banyak. Hanya digunakan sebagai stasiun untuk tempat persilangan atau persusulan antarkereta api. Jadi, tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini.
Sebenarnya bila dilihat letaknya, stasiun ini bisa prospektif untuk angkutan orang maupun barang, mengingat lokasinya yang berseberangan dengan Pasar Bayeman, dan Pantai Bahak Indah. Hal ini pula yang menyebabkan stasiun ini dikenal dengan Stasiun Bayeman meski sesungguhnya letak stasiun ini berada di Desa Dungun, bukan Desa Bayeman. Kemungkinan dulunya stasiun ini berkontribusi kepada kebutuhan yang ada di pasar, atau mengangkut komoditas dari pasar tersebut untuk dibawa ke daerah lain. *** [170518]

Fotografer: Renam Putra Arifianto

Daftar Bangunan Kuno di Semarang

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Semarang:

Kota Semarang:

Gereja Blenduk Semarang
Gereja ini terletak di Jalan Letjen Suprapto No. 32 Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Kantor Pos Besar Semarang
Kantor pos ini terletak di Jalan Pemuda No. 4 Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kereta Api Semarang Poncol
Stasiun Poncol terletak di Jalan Imam Bonjol No. 115, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kereta Api Semarang Tawang
Stasiun Tawang terletak di Jalan Taman Tawang No. 1 Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Kab. Semarang:

(Masih menunggu sponsor untuk eksplorasi di Kab. Semarang)

Gereja Blenduk Semarang

Salah satu daya tarik Kawasan Kota Lama Semarang adalah banyaknya bangunan lawas atau kuno yang berdiri megah di dalam kawasan itu. Di antara bangunan lawas yang megah dan anggun yang terdapat di kawasan tersebut adalah Gereja Blenduk. Gereja ini terletak di Jalan Letjen Suprapto No. 32 Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Gereja ini berada di Kawasan Kota Lama Semarang, atau tepatnya berada di depan Kantor Asuransi Jiwa Sraya atau di sebelah barat Taman Srigunting.
Menurut sejarahnya, Kawasan Kota Lama (oudstad) ini awalnya merupakan lingkungan yang berada di dalam benteng de Vijfhoek van Semarang yang didirikan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Semula benteng tersebut berukuran kecil, sebatas untuk hunian pasukan VOC beserta keluarganya yang bertugas di Semarang. Kemudian diperluas seiring perkembangan penghuni di dalam benteng itu, yang diperkirakan mencapai 31 hektar.



Di dalam lingkungan benteng tersebut, VOC membangun gereja untuk tempat peribadatan umat Kristen Protestan dengan sebutan Nederlandsche Indische Kerk. Hal ini berkaitan dengan mayoritas bangsa Belanda pada waktu adalah pemeluk agama Kristen Protestan. Pada awal pembangunan tahun 1753, gereja tersebut berbentuk rumah panggung Jawa dengan atap berupa tajug.
Pada tahun 1787 bangunan gereja mengalami perombakan total. Bangunan rumah panggung dirobohkan dan diganti yang lebih permanen. Selang tujuh tahun, tepatnya pada tahun 1794 kembali diadakan perubahan kembali untuk bentuk dan ukurannya seperti sekarang, hanya saja belum memiliki menara, kolom Tuscan, gevel dan hiasan puncak.
Setelah terjadi masa peralihan dari VOC ke pemerintahaan Kerajaan Belanda yang kemudian dikenal dengan Hindia Belanda, pada tahun 1824 gerbang, menara pengawas dan tembok yang mengelilingi benteng mulai dirobohkan. Sehingga membentuk sebuah kawasan yang padat yang kelak dikenal dengan Kawasan Kota Lama.



Sejak saat itu, mulai bermunculan bangunan-bangunan baru, dan menjadikan kawasan tersebut menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan. Orang Belanda dan orang Eropa lainnya mulai menempati permukiman di sekitar Jalan Bojong (sekarang Jalan Pemuda). Pada era ini, Kota Lama Semarang telah tumbuh menjadi kota kecil yang lengkap. Banyak bangunan diperbaiki, tak terkecuali bangunan gereja.  Tahun 1894-1895 dilakukan renovasi kembali bangunan gereja oleh H.P.A. De Wilde dan W. Wetmaas dengan menambahkan menara, kolom Tuscan, gevel dan hiasan puncak juga mengganti elemen-elemen pintu dan jendela.
Pada renovasi ini, terjadi perubahan nama terhadap bangunan gereja tersebut. Dari semula bernama Nederlandsche Indische Kerk berubah menjadi Koepelkerk. Nama koepelkerk berasal dari dua kata dari bahasa Belanda, yaitu koepel dan kerk. Koepel artinya kubah atau dome, sedangkan kerk artinya adalah gereja. Jadi, koepelkerk itu maknanya gereja yang berkubah. Meskipun nama koepelkerk awalnya diambil dari dua bentuk menara yang beratap kubah, akan tetapi di mata orang Jawa, kubah gereja itu (terlebih kubah besarnya) bentuknya mblenduk atau menggelembung besar. Berawal dari penglihatan itu, kemudian gereja ini menjadi akrab dengan sebutan Gereja Blenduk. Sebenarnya nama resminya saat ini adalah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel.  Selain itu, karena sering mengalami pembaruan bangunan, gereja ini juga mendapat sebutan Hervorm de Kerk (gereja bentuk ulang), atau gereja yang sudah direnovasi.



Gereja Blenduk dengan luas bangunan sekitar 400 m² ini, memiliki kekhasan arsitektur di antara bangunan-bangunan lawas yang ada di Kawasan Kota Lama Semarang. Denah bangunan gereja ini berbentuk octagonal (segi delapan beraturan) yang tampilannya berupa bilik-bilik empat persegi panjang dan sisi sebelahnya berbentuk salib Yunani.
Bangunan Gereja Blenduk terdiri dari bangunan induk dan empat sayap bangunan. Atapnya berbentuk kubah (dome) yang diilhami dari bangunan kubah yang terkenal di Eropa, seperti kubah St. Peter’s Vatikan Roma (dalam bahasa Italia dikenal sebagai Basilica Sant Pietro in Vaticano) yang dibangun oleh seniman Michelangelo dari tahun 1506 sampai tahun 1626,  dan kubah St. Paul’s karya Sir Christoper Wren (1675-1710).
Dalam Brosur Sekilas Blenduk (2004), dijelaskan bahwa desain bangunan Gereja Blenduk ini bergaya arsitektur Pseudo Baroque (gaya arsitektur Eropa dari abad 17 – 19). Baroque sendiri sebenarnya merupakan istilah untuk mengkategorikan perkembangan peradaban manusia (termasuk seni) dalam sebuah era yang terjadi di Eropa sekitar tahun 1600-1750. Periode ini merupakan bagian akhir dari zaman renaissance dan merupakan awal gerakan Protestantism yang terjadi di Jerman bagian utara dan Belanda.
Kata Baroque diperkirakan berasal dari bahasa Portugis kuno “barroco” yang berarti mutiara yang memiliki bentuk yang tidak bundar teratur namun lekukannya sangat kompleks dan detail. Seni Baroque memiliki sifat lebih dinamis seperti denah bagian sudut diakhir lengkung atau melingkat. Sehingga, corak seni Baroque mengandung tekanan yang kuat, kekuatan emosi dan sesuatu yang elegan.
Dalam kenyataan, arsitektur Baroque yang diterapkan di beberapa negara mempunyai kemampuan adaptasi dengan pola lingkungan setempat, baik iklim maupun topografi setempat. Seperti halnya dengan Gereja Blenduk yang berakar dari seni Baroque dipadukan dengan keadaan setempat di Semarang kala itu (budaya Indis). Perpaduan ini kemudian dinamakan dengan Pseudo Baroque.
Sejak dibangun, Gereja Blenduk ini merupakan tempat peribadatan umat Kristen Protestan, hal ini berkaitan dengan mayoritas bangsa Belanda yang pada waktu itu memeluk agama Kristen protestan. Dan, sekarang pun, Gereja Blenduk ini masih berfungsi sebagai tempat ibadah jemaat Kristen Protestan.
Melihat riwayat perjalanan dan kekhasan arsitektur yang dimilikinya, Gereja Blenduk kemudian menjadi landmark Kota Semarang pada umumnya dan Kota Lama Semarang pada khusunya. Potensi yang dimilikinya ini juga menjadikan Gereja Blenduk dijadikan sebagai obyek wisata religi dan wisata budaya di Kawasan Kota Lama Semarang. *** [190418]

Fotografer: Nareisywari Yudha Kartika


Saturday, May 5, 2018

Kantor Pos Besar Semarang

Jalan Pemuda merupakan salah satu jalan utama di Kota Semarang, yang membentang dari Jembatan Berok hingga Tugu Muda. Pada masa Hindia Belanda, jalan ini dikenal dengan Bodjongweg (Jalan Bodjong). Jalan ini termasuk dalam Jalan Raya Pos (de Grote Postweg) yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Dandels pada tahun 1808 sepanjang 1000 kilometer dari Anyer sampai Panarukan.
Sejarah panjang yang dimiliki oleh Jalan Pemuda, menyisakan banyak bangunan lawas di sepanjang jalan itu karena jalan itu pernah berkembang menjadi pusat perdagangan dan permukiman untuk orang-orang Eropa kalangan atas. Salah satu bangunan lawas yang masih bisa kita saksikan hingga sekarang, di antaranya adalah Kantor Pos Besar Semarang. Kantor pos ini terletak di Jalan Pemuda No. 4 Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi kantor pos ini berada di sebelah barat Gedung Keuangan Negara, atau di sebelah timur laut STIE BPD Jateng ± 110 meter.
Kehadiran kantor pos di Semarang ini tidak terlepas dari peran Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-27, Gustaaf Willem Baron van Imhoff. Setelah Baron van Imhoff memerintahkan mendirikan kantor pos pertama di Batavia, selang empat tahun juga memerintahkan untuk mendirikan kantor pos di Semarang.


Kantor pos pertama di Hindia Belanda didirikan pada 26 Agustus 1746 di Batavia, dan alamatnya pada waktu itu berada di depan Museum Bahari, daerah Pasar Ikan Jakarta Utara (waktu masih berbentuk benteng). Menyusul kemudian kantor pos kedua di Hindia Belanda, didirikan di Semarang pada 1750.
Awalnya, layanan pengiriman pos dilakukan oleh kurir-kurir yang dipekerjakan oleh Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, yang dalam bahasa Belandanya dikenal dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Layanan pos yang dilakukan pada waktu itu masih sebatas layanan pos untuk kepentingan VOC dan warga yang ada di dalam benteng. Jadi, pengiriman pos dari Batavia ke Semarang, masih dilakukan lewat kapal dari benteng di Batavia menuju ke benteng di Semarang atau sebaliknya.
Jarak antar pos atau surat dari Batavia ke Semarang saat itu cukup panjang, bisa memakan waktu lebih dari sebulan karena tidak setiap hari ada kapal untuk pengiriman pos. Namun, setelah dibuat Jalan Raya Pos pada tahun 1808 atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, jarak tempuh layanan pos antar kedua wilayah itu menjadi pendek, yaitu sekitar enam hari, yang ditempuh melalui jalan darat dengan berkuda.
Porti dihitung berdasarkan berat dan jarak tempuh, biasanya antara 7,5 dan 15 sen. Pada 1813, tarif khusus ditetapkan untuk barang cetakan dan pengurangan tarif untuk surat kabar. Setelah situasi politik dan ekonomi Belanda di Hindia Belanda dirasakan aman dan mantap, pada tahun 1824, benteng dihancurkan dan menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan. Dalam wilayah bekas benteng tadi seperti pada kota-kota besar lainnya berkembang pusat kota dengan bentuk dan gaya kota-kota pada abad pertengahan. Bangunan-bangunan berdiri mengelompok membentuk kawasan, dengan bangunan-bangunan tanpa halaman depan dan terletak langsung di jalan raya. Daerah ini sekarang dikenal dengan sebutan Kota Lama Semarang.


Kemudian pada 1848 muncul kesepakatan tarif yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan Belanda untuk pengangkutan kiriman pos dari Belanda ke Hindia Belanda, atau sebaliknya. Pada waktu J.P. Theben Tervile menjabat sebagai inspektur layanan pos di Hindia Belanda (Inspekteur der posterijen in Nederlandsch-Indie) pada tahun 1862, muncul gagasan menentukan tarif pengiriman pos melalui monopoli pemerintah. Ini mulai awal layanan pos dilembagakan dengan adminstrasi yang lebih baik, baik untuk pengiriman dokumen, surat, maupun uang di mana kurir pos berasal dari rekrutan pemerintah Hindia Belanda. Kemudian menyusul diperkenalkan perangko untuk pertama kalinya pada tahun 1864.
Seiring itu pula terbersit gagasan untuk memindahkan kantor pos peninggalan VOC ke daerah lain yang masih memiliki lahan yang cukup untuk didirikan bangunan kantor pos yang lebih besar dan representatif.
Pada 1902 rancangan proyek bangunan kantor pos dan telegraf yang baru diusulkan kepada Direktur Kantor Pekerjaan Umum Sipil (directeur van der Burgelijke Openbare Werken). Usulan yang disajikan itu kemudian ditanggapi oleh pihak Burgelijke Openbare Werken (BOW) dengan disertai beberapa perubahan kecil. Hal ini kemudian direspon oleh Kepala Inspektur Layanan Pos dan Telegraf dengan meminta bantuan kepada Kepala Insinyur Legerstee untuk mengedit apa saja sesuai yang diinginkan oleh pihak BOW yang mewakili pemerintah Hindia Belanda.
Pada April 1903, otorisasi telah diberikan untuk pembangunan kantor pos dan telegraf baru di Kota Semarang, yang diperkirakan menelan biaya f 65243 atau 65.243 gulden. Kemudian pada 1904 rancangan yang telah disesuaikan oleh Kepala Insinyur (hoofdingenieur) Legerstee, mulai dibangun. Pembangunannya memerlukan lebih dari setahun, dan setelah selesai, bangunan tersebut dinamakan Kantor Pos Besar dan Telegraf (Hoofdpost-en Telegraafkantoor).
Dilihat dari fasadnya, bangunan kantor pos ini memiliki gaya arsitektur Indische Empire, sebuah perpaduan desain The Empire Style yang dipopulerkan oleh Herman Willem Daendels dengan lingkungan setempat (indische). Arsitektur Indische Empire yang ditemui pada bangunan kantor pos ini bercirikan denah simetris dan gevel yang berada tepat di atas pintu utama dari bangunan tersebut.
Di kedua sisi dari tiga pintu utama, terdapat tiga jendela. Dari enam jendela tersebut, memberi pandangan akan suasana Jalan Pemuda. Sedangkan, gevel yang dimahkotai oleh cetakan yang indah dan besar dengan tulisan Kantor Pos dengan latar warna hitam dan oranye itu dulunya bertuliskan post- en telegraafkantoor. Selain itu, di atas tulisan berbentuk lingkaran itu dulunya tempat menempatkan jam sebagai penanda waktu bagi yang melintas di depan kantor pos maupun yang mengunjunginya.
Pada tahun 1979, bangunan gedung ini mengalami renovasi dan pemugaran, sekaligus penambahan ruangan di bagian belakang gedung. Namun, secara keseluruhan, renovasi itu tidak mengubah bentuk fisik luar gedung dan dipertahankan sesuai bentuk aslinya.
Kini, bangunan gedung ini hanya digunakan sebagai kantor pos saja. Kantor Telegraf yang dulu bergabung dengan kantor pos melebur ke Kantor Telkom. Kantor pos sendiri sekarang merupakan Pos Indonesia.
Pos Indonesia ini telah beberapa kali mengalami perubahan status, mulai dari Jawatan PTT (Pos, Telegraf dan Telepon). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan ini operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan pelayanan publik. Perkembangan terus terjadi hingga statusnya menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel).
Mengamati perkembangan zaman di mana sektor pos dan telekomunikasi berkembang pesat, maka pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pos dan Giro yang sejak itu ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan giro pos, baik untuk hubungan dalam maupun luar negeri. Selama 17 tahun berstatus Perum, maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero). *** [190418]

Fotografer: Nareisywari Yudha Kartika
.
Kepustakaan:
Sumalyo, Yulianto. (1995). Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia: Mengetengahkan arsitek dan biro arsitek Maclaine Pont, Thomas Karsten, C.P. Wolf Schoemaker, W. Lemei, C.Citroen, Ed. Cuypers & Hulswit, Batavia Algemen Ingenieurs Architekten. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
______. (1867). Regerings-Almanak Voor Nederlandsch-Indie 1867. Batavia: Landsdrukkerij
https://www.indischeliterairewandelingen.nl/index.php/wandelingen/200-semarang-2-bodjong#Hoofdpost-en-Telegraafkantoor
http://repository.uin-suska.ac.id/2674/3/BAB%20II.pdf 

Thursday, May 3, 2018

Stasiun Kereta Api Semarang Poncol

Stasiun Kereta Api Semarang Poncol (SMC) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Poncol, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang yang berada pada ketinggian + 3 m di atas permukaan lain. Stasiun Poncol terletak di Jalan Imam Bonjol No. 115, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara Puskesmas Poncol ± 90 meter.
Bangunan Stasiun Poncol ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur trem uap Semarang-Kaliwungu-Kendal sepanjang 30 kilometer. Pembangunan jalur tersebut dilakukan pada tahun 1897 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), dan kala itu stasiunnya masih berada di Pendrian (berupa halte) yang berjarak ± 1,5 kilometer dari Stasiun Poncol.



SCS merupakan salah satu perusahaan trem di Hindia Belanda yang mendapat konsensi dari tahun 1897 hingga 1914 untuk membangun jalur kereta api sejauh 388 kilometer yang menghubungkan Semarang dengan Cirebon sampai Kadhipaten di ujung barat. SCS tertarik untuk membangun jalur tersebut karena tergiur oleh prospek ekonomi yang telah dinikmati oleh perusahaan kereta api lainnya yang telah berkiprah lebih dahulu di Hindia Belanda, yaitu Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij/NIS (perusahaan kereta api swasta) dan Staatsspoorwegen/SS (perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda). Kedua perusahaan tersebut mampu meraih keuntungan dalam setiap proyeknya. Selain itu, jalur yang dibangun SCS ini merupakan suikerlijn (jalur gula) yang akan melayani banyak pabrik gula yang ada di Jawa Tengah bagian barat, dan sekaligus menghubungkan jalur milik NIS yang berada di sebelah timur serta jalur SS yang berada di bagian barat.



Pembangunan jalur trem yang dikerjakan oleh SCS itu dilakukan secara bertahap. Awalnya jalur Semarang-Kaliwungu-Kendal, kemudian dilanjutkan Kendal-Kalibodri-Weleri-Pekalongan sejauh 68 kilometer dan terus disambung ke arah barat hingga Cirebon maupun Kadhipaten.
Setelah jalur trem Semarang-Cirebon terhubung, transportasi trem dalam jalur tersebut meningkat pesat. Peningkatan ini menyebabkan arus barang dan penumpang turut kian berkembang. Akibat dari perkembangan ini, Halte Pendrian semakin tidak bisa menampung semua itu. Sehingga, SCS perlu mempertimbangkan mendirikan sebuah stasiun lagi yang lebih representatif seiring dengan perkembangan volume barang dan penumpang.
Akhirnya SCS memutuskan untuk membangun stasiun yang besar dan megah menyerupai stasiun-stasiun yang dibangun oleh NIS maupun SS. Dipilihlah lokasi yang berjarak 1,5 kilometer arah utara dari halte ini. Desain bangunan stasiun diserahkan kepada Ir. Henri Maclaine Pont. Ia adalah seorang arsitek Belanda kelahiran Misteer Cornelis (Jatinegara) pada 21 Juni 1884 sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya bernama Pieter Maclaine Pont, blasteran Skotlandia dan Spanyol, dan ibunya bernama Lucie Henriette Geertrude de Vogel yang berdarah Buru (Maluku).



Peletakan batu pertama dimulai pada tahun 1912 dan diresmikan pemakaiannya pada 6 Agustus 1914. Semula stasiun ini dikenal dengan Stasiun Semarang West (Station Semarang West van de Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij Pontjol te Semarang atau Railwaystation Semarang West (Pontjol) of the Semarang-Cheribon Steamtram Company in Semarang) karena dulu lokasi stasiun ini memang berada di daerah pinggiran Semarang bagian barat. Tapi semenjak kemerdekaan,  nama stasiun itu menjadi Stasiun Semarang Poncol.
Seiring berdirinya Stasiun Poncol, jalur ini ditingkatkan menjadi jalur yang mampu dilewati kereta api yang lebih besar. Dari konstruksi yang ringan menjadi konstruksi yang mampu menahan beban kereta api yang lebih besar dan berkecepatan tinggi. Kemudian pada 1936, jalur rel ini ditingkat lagi menjadi jalur kelas 1e (spoorweg 1e klasse), dan sejak itu jalur ini menjadi bagian yang penting  hubungan rel antara Batavia, Cirebon, dan Semarang.
Dilihat dari fasadnya, Stasiun Poncol menggunakan langgam Modern namun tetap mempertimbangkan kondisi tropis di Semarang. Stasiun Poncol merupakan warisan budaya arsitektur kolonial modern, dengan desain yang adaptif. Dengan struktur baja khas arsitektur modern memungkinan membentuk atap pelana, khas desain atap tropis pada bangunan bentang panjang.
Tuntutan kenyamanan pada bangunan berbentang besar di daerah tropis adalah keberhasilan menghadirkan penerangan alami semaksimal mungkin dan menghadirkan kualitas udara, membuat bangunan terhindar dari ketidaknyamanan karena kelembaban. Kualitas dan kuantitas penerangan alami tercipta di bangunan stasiun ini, karena desain pelubangan pada atap pelananya.
Stasiun Poncol ini tergolong sebagai stasiun kelas besar, yang memiliki 9 jalur dengan jalur 1 hingga 3 merupakan jalur persilangan atau persusulan kereta api bilal lalu lintas kereta api begitu padat. Jalur 4 dan 5 digunakan sebagai sepur lurus arah barat menuju ke Stasiun Jerakah, dan yang ke timur menuju ke Stasiun Tawang. Sedangkan jalur 6 sampai 9 digunakan sebagai parkir gerbong atau lokomotif. Aktivitas di stasiun ini didominasi oleh rangkaian kereta kelas ekonomi dan komuter serta kereta barang. *** [190418]

Fotografer: Nareisywari Yudha Kartika