The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tin Sing Goldsmiths: Jejak Emas dan Waktu di Jantung Chinatown Singapura

Toko Perhiasan Tin Sing atau Tin Sing Goldsmiths di kawasan Chinatown Singapura (Foto: Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

A building is not just a place to be but a way to be” -- Frank Lloyd Wright

Di sela perjalanan pulang dari Third Annual Symsposium di Hyderabad (India), langkah saya sempat terhenti di satu sudut bersejarah kawasan Chinatown Singapura. Program Free Singapore Tour dari Bandara Changi menghadiahkan pengalaman singkat namun berkesan ketika transit 10 jam di sana pada Ahad (14/12/2025), dengan menyusuri jejak waktu yang masih berdenyut di antara deretan rumah toko tua. Di antara bangunan-bangunan itu, satu yang mencuri perhatian adalah Tin Sing Goldsmiths.

Berdiri anggun di 205 South Bridge Road sejak 1937, bangunan dua lantai ini bukan sekadar toko perhiasan. Ia adalah kapsul waktu. Fasadnya memancarkan aura nostalgia melalui papan nama bergaya lama, pilar-pilar kuning yang hangat, serta jendela panel panjang berwarna hijau yang khas. 

Di bagian atas, ventilasi atap menyerupai dormer kecil menambah detail arsitektural yang memikat, seolah mengintipkan kisah-kisah lama dari masa lalu. Atapnya, dengan genteng tanah liat kemerahan berbentuk pelana, mencerminkan gaya Eclectic Shophouse yang lekat dengan identitas arsitektur kolonial-peranakan di kawasan ini.

Lebih dari sekadar wujud fisik, Tin Sing Goldsmiths menyimpan kisah ketekunan lintas generasi. Berawal dari usaha rumahan keluarga, keahlian mengolah emas diwariskan dengan disiplin tinggi sehingga mengukuhkan reputasi mereka sebagai pengrajin terpercaya. 

Integritas dan presisi menjadi alasan pelanggan terus kembali, bahkan hingga puluhan tahun kemudian. Transformasi penting terjadi pada 6 September 1950, ketika usaha keluarga ini berkembang menjadi entitas resmi bernama Ting Sing Goldsmiths (Pte.) Limited (天成金铺), menandai langkah profesionalisasi tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Nama mereka pun sempat terukir dalam sejarah melalui karya-karya pesanan istimewa. Salah satunya adalah medali emas bergambar dua burung layang-layang yang kembali ke sarang, dipersembahkan kepada bintang opera Kanton Hong Kong Sek Yin-Tsi pada tahun 1952. 

Karya lain yang tak kalah bergengsi adalah medali emas dari Kamar Dagang dan Industri Tionghoa Singapura yang diberikan kepada Perdana Menteri Lee Kuan Yew pada peresmian gedung organisasi tersebut tahun 1964. Setiap karya bukan hanya perhiasan, tetapi juga simbol penghormatan dan cerita yang terukir dalam logam mulia.

Kini, meski denyut aktivitasnya tak lagi seramai dahulu, interior toko tetap nyaris tak berubah, sebuah keputusan yang justru memperkuat nilai historisnya. Rak-rak kayu, etalase klasik, dan suasana yang intim menghadirkan pengalaman berbeda, seakan mengajak pengunjung melangkah mundur ke era ketika Chinatown lebih riuh dan penuh warna kehidupan.

Tin Sing Goldsmiths masih membuka pintunya setiap hari, kecuali Minggu, dari pukul 10 pagi hingga 6 sore. Ia tidak sekadar menawarkan perhiasan, tetapi juga kesempatan untuk menyentuh warisan budaya yang hidup.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Frank Lloyd Wright (1867–1959), seorang arsitek Amerika yang berpengaruh dan dikenal karena arsitektur organiknya, yang menekankan harmoni antara tempat tinggal manusia dan alam:

“Sebuah bangunan bukan hanya tempat untuk berada, tetapi juga cara untuk hidup.” 

Kutipan ini terasa begitu tepat menggambarkan Tin Sing Goldsmiths, bahwa sebuah bangunan tua yang tidak hanya berdiri sebagai artefak, tetapi juga sebagai saksi kehidupan, nilai, dan identitas yang terus berlanjut di tengah modernitas Singapura. *** [040526]



Share:

Stasiun Temuguruh: Menyusuri Sejarah di Balik Perhentian Kecil

Stasiun Temuguruh (Dipotret dari Gerbong KA Ijen Ekspres Malang-Banyuwangi pada Kamis, 2 April 2026)

Tepat pukul 14.12 WIB, laju KA Ijen Ekspres yang saya tumpangi dari Malang menuju Banyuwangi melambat, lalu berhenti perlahan di sebuah stasiun kecil yang tampak tenang, yaitu Stasiun Temuguruh. Pada Kamis (02/04) siang itu, suasana terasa lengang, seakan waktu berjalan sedikit lebih pelan di tempat ini.

Secara administratif, nama resminya memang Stasiun Temuguruh. Namun menariknya, stasiun ini justru berdiri di wilayah Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, yang berbatasan langsung dengan Desa Temuguruh. Di antara batas-batas desa itu, stasiun ini seperti menjadi simpul sunyi yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.

Berdiri pada ketinggian sekitar 196 meter di atas permukaan laut, Stasiun Temuguruh merupakan stasiun kelas II yang berada dalam wilayah kerja Daerah Operasi IX Jember. Namun lebih dari sekadar titik persinggahan kereta, tempat ini menyimpan jejak panjang sejarah perkeretaapian di ujung timur Pulau Jawa.

Awal abad ke-20 menjadi babak penting bagi kawasan ini. Pada tahun 1903, pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun jalur rel sepanjang 58 kilometer yang menghubungkan Mrawan, Rogojampi, hingga Banyuwangi [1]. Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan lintas timur atau Oosterlijnen, yang dikerjakan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik negara kolonial saat itu.

Dalam catatan Haltestempels Nederlands Indië [2], Stasiun Temuguruh diresmikan pada 2 Februari 1903. Sejak saat itu, jalur ini membuka akses transportasi melintasi wilayah yang dikenal subur dan kaya hasil bumi [3]. Kereta api menjadi urat nadi baru, mengangkut hasil perkebunan sekaligus manusia yang bergerak dari satu kota ke kota lain.

Kini, Stasiun Temuguruh memiliki tiga jalur rel. Jalur kedua menjadi jalur utama yang lurus, sementara jalur pertama sudah tidak lagi difungsikan. Adapun jalur ketiga kerap digunakan untuk persilangan dan penyusulan antarkereta. 

Meski tidak sebesar stasiun utama, ritme aktivitasnya tetap terjaga di mana kereta datang dan pergi sejak dini hari, mulai sekitar pukul 04.57 hingga menjelang malam pukul 22.54 WIB.

Beberapa kereta masih setia singgah di sini, seperti KA Blambangan Express, KA Probowangi, hingga KA Pandanwangi. Mereka membawa cerita-cerita baru setiap harinya, melanjutkan jejak panjang perjalanan yang telah dimulai lebih dari seabad lalu.

Di tengah kesederhanaannya, Stasiun Temuguruh bukan sekadar tempat naik dan turun penumpang. Ia adalah saksi bisu dari ambisi kolonial, geliat ekonomi masa lampau, hingga denyut kehidupan masyarakat Banyuwangi hari ini. Sebuah titik kecil di peta, namun dengan kisah yang panjang dan tak pernah benar-benar berhenti. *** [030526]

Kepustakaan:

[1] Oegema, J, J, G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer: Kluwer Technische Boeken B.V.

[2] Hans Kruse hk@puntstempels.nl. (n.d.). ZWP - Haltestempels Ned.Indië. https://www.studiegroep-zwp.nl/halten/

[3] Team 11. (n.d.). Staatsspoor-en Tramwegen di Hindia-Belanda 1875-1925. https://cdnc.heyzine.com/files/uploaded/23411f120cc2f4b6e0730e58c5f14eefd456cdaf-1.pdf


Share:

Stasiun Mrawan: Simfoni Sunyi di Pelukan Pegunungan Gumitir

Di antara lekuk pegunungan yang sunyi dan hamparan kebun yang seolah tak bertepi, perjalanan kereta api di jalur timur Jawa menyimpan satu fragmen lanskap yang nyaris puitis di Stasiun Mrawan.

Selasa (02/04) siang itu, saat KA Ijen Ekspres melaju meninggalkan Kalisat menuju Banyuwangi, rel mulai berkelok mengikuti kontur alam. Lembah terbuka di kiri-kanan, sementara barisan kopi merambat naik ke lereng. 

Tepat ketika jarum jam mendekati pukul 13.29 WIB, stasiun kecil itu hadir dengan tenang, sejuk, dan nyaris tersembunyi dalam pelukan alam pegunungan. Dari balik jendela kereta, Stasiun Mrawan tampak seperti titik hening di tengah bentang hijau yang luas.

Stasiun Mrawan sisi barat dipotret dari KA Ijen Ekspres menuju Banyuwangi pada Selasa (02/04)

Berada di kawasan perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara XII, stasiun ini dikelilingi lanskap agraris yang telah hidup lebih dari seabad. Di belakangnya, bukit menjulang tegas, seakan menjadi penjaga setia. Kabut tipis kerap turun, membalut suasana dengan nuansa yang hampir melankolis.

Secara administratif, Stasiun Mrawan (MRW) hanyalah stasiun kecil kelas III di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Namun posisinya bukan sembarang titik, ia adalah stasiun paling timur di kabupaten tersebut, sekaligus simpul sunyi di jalur vital lintas timur Jawa (Oosterlijnen). 

Untuk mencapainya, orang harus menyusuri jalan dari kawasan Gunung Gumitir dengan melewati akses menuju perumahan dinas perkebunan, atau melalui jalur wisata kebun yang kini mulai dikenal.

Sejarah Stasiun Mrawan berakar pada masa kolonial, ketika jaringan rel di Jawa Timur diperluas oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahan kereta api negara di Hindia Belanda. Pembangunan lintas Jember–Kalisat–Mrawan sepanjang 60 kilometer dimulai pada 1897 dan baru rampung lima tahun kemudian. 

Tulisan Mrawan berketinggian + 524 di atas permukaan laut

Medan yang sulit berupa lembah curam, sungai yang harus dilintasi, serta tikungan tajam di pegunungan, membuat proyek ini menjadi salah satu pencapaian teknik yang menantang pada zamannya.

Ketika diresmikan pada 10 September 1902, Mrawan berfungsi sebagai halte sederhana. Namun perannya penting, yaitu melayani mobilitas manusia sekaligus mengangkut hasil bumi. Dari sinilah kopi, gula, hingga beras bergerak menuju pelabuhan, menghubungkan kebun-kebun di pedalaman dengan pasar global.

Lebih dari seratus tahun berlalu, bangunan stasiun itu masih bertahan. Ia tidak lagi menjadi tempat naik-turun penumpang seperti dulu. Sejak 2014, tak ada pemberhentian reguler di sini. Namun denyutnya belum benar-benar hilang. Stasiun Mrawan tetap hidup sebagai titik persilangan, tempat kereta saling menunggu dan melintas, sejenak berbagi ruang di jalur yang sama.

Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Mrawan sedang menyaksikan laju KA Ijen Ekspres menuju Banyuwangi

Diapit oleh dua terowongan, yakni Terowongan Mrawan di sisi timur dan Terowongan Garahan di barat, stasiun ini seakan berada dalam koridor waktu. Hanya dua jalur rel membelahnya, dengan satu jalur utama yang lurus membentang. Sederhana, namun sarat makna.

Nama “Mrawan” sendiri diambil dari sungai yang mengalir tak jauh dari lokasi, menegaskan hubungan erat antara infrastruktur dan lanskap alami. Di sini, rel bukan sekadar jalur transportasi, melainkan bagian dari ekosistem yang telah lama terbentuk.

Kini, setiap kereta yang melintas membawa dua hal sekaligus, yaitu gerak modernitas dan gema masa lalu. Sementara itu, lembah dan pepohonan tetap setia menyimpan ingatan. Di Stasiun Mrawan, sejarah tidak berdiri sebagai monumen yang beku, melainkan mengalir bersama kabut, menyatu dengan suara roda kereta yang sesekali memecah kesunyian. *** [010526]



Share:

Daftar Bangunan Kuno di Banyuwangi

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Banyuwangi:

Kantor Pos Banyuwangi

Kantor Pos ini terletak di Jalan Diponegoro No. 1 Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Klenteng Hoo Tong Bio

Klenteng ini terletak di Jalan Gurami No. 54 Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Klenteng Tik Liong Tian

Klenteng ini terletak di Jalan Raya Rogojampi No. 69 Dusun Pancoran Kulon, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Museum Blambangan

Museum ini terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Pura Luhur Giri Salaka

Pura ini terletak di Dusun Kaliagung, Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lokasi ini berada di dalam Taman Nasional Alas Purwo, Resor Rowobendo

Situs Kawitan

Pura ini terletak di Dusun Kaliagung, Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lokasi ini berada di dalam Taman Nasional Alas Purwo, Resor Rowobendo

Stasiun Kalisetail

Stasiun ini terletak di Jalan Raya Kalisetail No. 11 Desa Tlogosari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Stasiun Rogojampi

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Rogojampi, Dusun Pancoran Kulon, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Stasiun Temuguruh

Stasiun ini terletak di Dusun Klontang, Desa Gendol, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami