The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Klenteng Hoo Tong Bio: Jejak Perlindungan dan Kebangkitan di Ujung Timur Jawa

Selepas mengurus disposisi perpanjangan izin penelitian NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environemtal Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi pada Selasa (07/04), perjalanan saya belum benar-benar usai. 

Di atas boncengan motor milik Field Supervisor COM-B, Andhika Krisnaloka, S.Sos., saya menyelipkan satu persinggahan singkat menuju sebuah bangunan bersejarah di Jalan Gurami No. 54, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi. Di sanalah, Klenteng Hoo Tong Bio - klenteng tertua di Jawa Timur dan Bali - berdiri, menunggu untuk disapa, meski hanya sejenak.

Klenteng Hoo Tong Bio di Jalan Gurami No. 54, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi

Nama “Hoo Tong Bio” berasal dari dialek Hokkien, bermakna “Kuil Perlindungan Orang Tionghoa.” Sebuah nama yang bukan sekadar simbol, melainkan cerminan dari fungsi historisnya. Tempat ini pernah menjadi pelindung yang secara harfiah dan spiritual, bagi komunitas Tionghoa yang terdampar di ujung timur Jawa, setelah melarikan diri dari tragedi berdarah di Batavia pada tahun 1740, atau yang dikenal dengan Tragedi Angke/GegerPecinan.

Kisah itu berawal dari pelarian sekelompok orang Tionghoa yang dipimpin Tan Hu Cin Jin, seorang kapiten yang menyelamatkan kaumnya dari kekerasan akibat kebijakan kolonial. Kapal yang mereka tumpangi tak sampai ke tujuan semula; nasib membawanya terdampar di Blambangan. Dari keterasingan itulah, sebuah komunitas tumbuh. Tan Hu Cin Jin kemudian dihormati, bahkan ditahbiskan sebagai dewa dan leluhur oleh masyarakat Tionghoa setempat, sebuah bentuk ingatan kolektif yang menjelma keyakinan.

Klenteng ini awalnya berdiri sederhana di wilayah Lateng, sebelum akhirnya dipindahkan ke Karangrejo pada kisaran tahun 1765 hingga 1774. Perpindahan itu bukan tanpa sebab. Tekanan kolonial, perampasan tanah, serta perubahan pusat pemerintahan Blambangan ke Banyuwangi kota. Prasasti tertua yang masih tercatat bertahun 1784 menjadi jejak paling awal yang menandai eksistensinya. Seiring waktu, bangunan ini mengalami pembaruan pada 1848.

Men lou wu atau pintu gerbang utama menuju ke dalam halaman persil Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Namun perjalanan klenteng ini tidak selalu mulus. Pada masa Orde Baru, identitasnya ditekan. Namanya diubah menjadi Nara Raksita, praktik ibadah dibatasi, bahasa Mandarin dilarang, dan ajaran Kong Hu Cu tidak diakui. Klenteng ini sempat “padam”.

Baru pada awal 2000-an, angin perubahan berembus. Larangan dicabut, nama aslinya dikembalikan, dan pembangunan besar-besaran dilakukan antara 2003 hingga 2008. Hoo Tong Bio bangkit, menjelma menjadi salah satu klenteng terbesar dan tertua di Jawa Timur.

Namun ujian belum selesai. Pada 13 Juni 2014, kebakaran hebat melalap hampir seluruh bagian penting bangunan. Api yang berasal dari altar Dewa Bumi, diperparah oleh minyak kelapa, menghancurkan patung-patung dewa, prasasti kuno, hingga dokumen bersejarah. Yang tersisa hanyalah abu, dan ingatan.

Bangunan utama Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Rekonstruksi dimulai beberapa bulan kemudian. Bangunan baru dirancang lebih tinggi, dari 4 meter menjadi 9 meter, sebuah adaptasi terhadap risiko kebakaran di masa depan. Dana miliaran rupiah dihimpun dari gotong royong umat dan dukungan pemerintah. Pada akhirnya, klenteng ini kembali berdiri. Bukan sebagai replika masa lalu, melainkan sebagai kelanjutan sejarah itu sendiri.

Memasuki gerbang men lou wu yang megah, dengan ornamen kepiting bertengger di atasnya, suasana berubah seketika. Aroma dupa menyambut perlahan, berpadu dengan warna merah dan kuning yang mendominasi ruang. Atap melengkung, ukiran kayu yang rumit, serta simbol naga, singa, dan phoenix menghadirkan nuansa yang sakral sekaligus artistik.

Sepasang singa batu (shi zi) berjaga di depan, seolah menjadi penjaga tak kasat mata. Di belakangnya, tiang-tiang berhias naga melilit (chan long zhu) menjulang kokoh. Di sisi kiri, bangunan menyerupai pagoda menambah dimensi visual yang khas. Sementara di puncak atap, ornamen mutiara bola api (huo zhu) diapit naga berjalan (xing long) menjadi sebuah simbol harmoni antara kekuatan dan kebijaksanaan.

Gedung Serbaguna Tridharma Grha Abikasamasta milik Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Di samping bangunan utama, berdiri Grha Abikasamasta, gedung serbaguna yang namanya menyiratkan makna filosofis: sebuah ruang menuju keseluruhan, menuju semesta. Ia melengkapi fungsi klenteng, sebagai ruang perjumpaan sosial dan budaya.

Meski yang tampak hari ini adalah hasil rekonstruksi pasca kebakaran, ruh dari klenteng ini tetap terjaga. Ia menyimpan lapisan-lapisan sejarah, tentang pelarian, ketahanan, penindasan, hingga kebangkitan. Di sinilah ajaran Tridharma (Buddha, Khonghucu, Tao) berakar dan berkembang di Bumi Blambangan.

Hoo Tong Bio bukan sekadar destinasi. Ia adalah narasi panjang yang ditulis ulang oleh waktu, oleh manusia, dan oleh keyakinan. Di tempat seperti ini, perjalanan tidak hanya soal berpindah ruang, tetapi juga tentang memahami makna tentang bagaimana manusia bertahan, percaya, dan terus membangun kembali, bahkan setelah semuanya pernah menjadi abu. *** [230426



Share:

Singgah Tak Sengaja di Klenteng Tik Liong Tian: Menyusuri Jejak Istana Naga Bajik di Rogojampi

Sambil menunggu jemputan dari Field Supervisor COM-B saat bertugas di Banyuwangi dalam NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC-NCDs & EC) pada Kamis (02/04), saya duduk di selasar Stasiun Rogojampi, dengan mengisi waktu berselancar di Google. 

Niat awal hanya mencari referensi kuliner di sekitar stasiun, tapi tanpa sengaja saya menemukan informasi tentang sebuah klenteng yang letaknya ternyata tak jauh dari sini, hanya sekitar 550 meter saja. 

Rasa penasaran langsung muncul. Nama tempat itu adalah Klenteng Tik Liong Tian, yang beralamat di Jalan Raya Rogojampi No. 69 Pancoran Kulon, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, tepat di depan Pasar Rogojampi.

Kebetulan, perjalanan menuju basecamp Purwodadi memang melewati jalur tersebut. Saya pun meminta kepada Field Supervisor COM-B, Andhika Krisnaloka, S.Sos. untuk mampir sejenak. Kesempatan seperti ini rasanya sayang untuk dilewatkan saat menemukan jejak sejarah di sela perjalanan kerja.

Fasad Klenteng Tik Liong Tian Rogojampi, Banyuwangi

Klenteng Tik Liong Tian merupakan satu dari sembilan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) yang memuja Yang Mulia Kong Co Tan Hu Jin atau Chen Fu Zhen Ren. Pemujaan terhadap Kong Co ini tidak hanya ada di Banyuwangi, tetapi juga tersebar di berbagai wilayah seperti Jawa, Bali, hingga Lombok. Di Banyuwangi sendiri, selain Tik Liong Tian, terdapat pula Hoo Tong Bio yang memiliki junjungan serupa.

Klenteng yang juga dikenal sebagai Klenteng Rogojampi ini didirikan pada tahun 1915. Awalnya, tempat ini hanyalah kuil pribadi milik seorang pendatang bernama Liem Kim Hong. Kisah pendiriannya cukup menarik. 

Konon, Liem pernah bermimpi bahwa Chen Fu Zhen Ren berada di Watu Dodol. Ia pun mendatangi lokasi tersebut dan menemukan dua arca batu yang diyakini sebagai representasi sang dewa. Arca itu kemudian ditempatkan di altar rumahnya, hingga akhirnya ia membangun kuil kecil di belakang rumah sebagai tempat pemujaan.

Seiring waktu dan bertambahnya kemampuan ekonomi, kuil tersebut berkembang. Pada tahun 1958, rumah sekaligus kuil itu diserahkan kepada Perhimpunan Warga Tionghoa dan resmi dibuka untuk umum dengan nama Klenteng Tik Liong Tian. Sejak saat itu, pengelolaan klenteng dilakukan secara terorganisir. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1970, menandai perkembangan fisik sekaligus sosialnya.

Halaman depan Klenteng Tik Liong Tian Rogojampi

Nama “Tik Liong Tian” sendiri berasal dari dialek Hokkien, sementara dalam pelafalan Mandarin modern dikenal sebagai De Long Dian (德龙殿), yang berarti “Istana Naga Bajik”, sebuah nama yang sarat makna kebajikan, kekuatan, dan kemuliaan.

Secara visual, klenteng ini menampilkan arsitektur tradisional Tionghoa yang kental. Dominasi warna merah dan kuning emas langsung mencuri perhatian, lengkap dengan ornamen naga yang sarat simbolisme. Struktur bangunannya memperlihatkan prinsip simetri dan keseimbangan ala feng shui, dengan elemen-elemen khas seperti halaman tengah, selasar penghubung, serta detail penyangga atap tradisional.

Bangunan utama berbentuk persegi panjang dengan satu pintu utama dan tiga pintu samping berukuran lebih kecil. Di bagian wuwungan terlihat ornamen mutiara Buddha (huo zhu) yang diapit xing long (naga berjalan), sebuah simbol klasik dalam budaya Tionghoa. Area depan klenteng berupa halaman terbuka yang dilengkapi tungku pembakaran berbentuk pagoda, serta sepasang patung singa batu (shi zi) yang menjaga gerbang.

Memasuki area dalam, suasana terasa semakin sakral. Teras digunakan untuk sembahyang, sementara ruang utama menjadi pusat altar bagi Chen Fu Zhen Ren beserta pengawalnya. Di bagian tengah terdapat kolam dengan jembatan kecil, dikelilingi altar dewa-dewi lain, termasuk representasi tiga ajaran besar, yaitu Buddha, Khonghucu, dan Tao.

Fasilitas bangunan kantor Tri Dharma yang berada di samping kanan Klenteng Tik Liong Tian

Salah satu ciri khas paling mencolok dari klenteng ini adalah keberadaan kolam ikan serta altar Hu Shen atau Dewa Harimau, yang dikenal sebagai tunggangan dari dewa rezeki. Menariknya, di dekat altar tersebut terdapat awetan harimau dan macan tutul asli dari Jawa Barat, yang disimpan dalam kotak kaca. Detail pengerjaannya begitu hidup hingga memberi kesan seolah mata hewan tersebut terus mengikuti setiap gerakan pengunjung.

Di bagian belakang, terdapat tungku pembakaran lain berbentuk paviliun segi delapan, dihiasi simbol-simbol Ba Xian. Meski lebih pendek dari tungku depan, kapasitasnya justru lebih besar.

Kini, Klenteng Tik Liong Tian tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial komunitas Tionghoa di Rogojampi dan sekitarnya. Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari area parkir, kantor sekretariat, perpustakaan, aula, dapur, hingga bangunan pendidikan dan penginapan.

Singgah sebentar di klenteng ini memberi pengalaman yang berbeda. Di tengah aktivitas harian dan perjalanan kerja, ada ruang untuk melihat bagaimana sejarah, kepercayaan, dan budaya berkelindan dalam satu tempat yang sederhana namun sarat makna. *** [120426]

Kepustakaan:

Ciberindo. (n.d.). Klenteng Tik Liong Tian| Wihara. Wihara. Retrieved April 10, 2026, from https://www.wihara.org/listings/klenteng-tik-liong-tian/366

Edi (posted). (n.d.). SERBA SERBI TRIDHARMA: Tik Liong Tian - Rogojampi. Blogspot. https://tradisitridharma.blogspot.com/2014/11/tik-liong-tian-rogojampi.html

ibcindon. (2011, December 04). Istilah-istilah arsitektur tradisional Tionghoa, Chinese vernacular architecture terms. | Klenteng Indonesia, temple as symbols of Chinese culture. Klenteng Indonesia, Temple as Symbols of Chinese Culture. https://templesymbolchineseculture.wordpress.com/2011/12/04/istilah-arsitektur-tradisional-tionghoa-chinese-vernacular-architecture-terms/



Share:

Stasiun Sei Bejangkar dan Riwayat Rel di Pesisir Timur Sumatra

Stasiun Sei Bejangkar (Foto: Hendrik Nugroho/25-02-2026)

Rabu siang (25/02), pukul 12.46 WIB, sebuah foto muncul ke layar ponsel saya. Dikirim lewat WhatsApp oleh Hendrik Nugroho, S.E., enumerator SurveyMETER yang tengah bertugas survei PAUD di Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara. 

Di balik foto itu berdiri tenang sebuah stasiun kecil bernama Stasiun Kereta Api Sei Bejangkar, sebuah bangunan lawas yang seakan memanggil ingatan pada masa ketika rel-rel besi menjadi nadi utama perkebunan di pesisir timur Sumatra.

Terletak di Desa Sei Bejangkar, Kecamatan Sei Balai, Kabupaten Batu Bara atau tepatnya berada di depan Kantor Pos Cabang Sei Bejangkar, stasiun berketinggian +9,30 meter ini tergolong stasiun kelas III/kecil dan berada dalam wilayah kerja Divisi Regional I Sumatra Utara dan Aceh. Secara geografis, ia menjadi stasiun paling selatan di Kabupaten Batu Bara, yang menjadi sebuah penanda sunyi di jalur yang pernah begitu sibuk.

Bangunannya merupakan peninggalan masa Hindia Belanda. Ia lahir bersamaan dengan pembangunan jalur rel Bamban–Rantau Laban–Kisaran–Tanjungbalai–Teluk Nibung sepanjang 141 kilometer, proyek ambisius yang digarap oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). 

DSM sendiri adalah perusahaan kereta api swasta yang beroperasi di sekitar pesisir timur Sumatra, terutama wilayah Deli (Medan), dan menjadi motor penggerak infrastruktur rel sejak awal abad ke-20.

Pengerjaan lintasan tersebut dilakukan bertahap dalam proyek besar jalur Timur Sumatra kategori spoorweg 2e klasse. Segmen Bamban–Rantau Laban dibangun antara 20 September 1901 hingga 2 Maret 1903. Lalu Rantau Laban–Tanjungbalai dikerjakan dari 14 September 1912 sampai 6 Agustus 1915. Adapun jalur Tanjungbalai–Teluk Nibung dirampungkan pada 1 Februari 1918. 

Tepat pada 6 Agustus 1915, bersamaan dengan peresmian jalur Rantau Laban–Tanjungbalai, Stasiun Sei Bejangkar resmi dibuka dan menjadi simpul kecil dalam jaringan rel kolonial yang terus merambat ke selatan.

Namun rel-rel ini tak sekadar proyek transportasi. Ia adalah jawaban atas desakan para pengusaha perkebunan di tanah Deli. Sejak akhir abad ke-19, geliat ekonomi perkebunan, seperti kelapa sawit, karet, dan tembakau, yang menuntut akses cepat menuju pelabuhan ekspor, terutama Teluk Nibung. 

Pada 1881, manajer Deli Maatschappij menggagas pembangunan jalur kereta api penghubung kebun dan pelabuhan. Gagasan itu disokong para pemilik kebun yang tergabung dalam Deli Planters Vereeniging, hingga akhirnya pada pertengahan 1883 lahirlah DSM untuk merealisasikan pembangunan rel di Sumatera Timur.

Sejak dimulai pada akhir 1883, jaringan rel DSM berkembang pesat. Pada 1937, lintasannya telah membentang dari Medan hingga Rantau Prapat, mengikat kawasan-kawasan perkebunan dengan pelabuhan ekspor. 

Di tengah arus liberalisasi perdagangan pasca 1870, ketika kebijakan tanam paksa dihapus dan diganti sistem swasta, perkebunan di Sei Bejangkar pun berkembang. Wilayah ini menjelma sentra produksi karet dan tembakau yang digerakkan tenaga kuli kontrak, menjadi bagian dari mata rantai ekonomi global yang terhubung oleh rel baja.

Stasiun Sei Bejangkar sendiri dahulu memiliki empat jalur. Jalur 2 merupakan sepur lurus, sementara jalur 4 adalah sepur badug, yakni jalur buntu tempat rangkaian berhenti. Kini, jalur 3 dan 4 telah dibongkar, menyisakan dua jalur aktif. Dari arah barat, rel menghubungkannya ke Stasiun Lima Puluh; ke arah timur dan selatan, rel membawa perjalanan menuju Stasiun Tebing Tinggi.

Meski usia bangunannya telah melampaui satu abad, denyut kehidupan belum benar-benar padam. Penumpang masih naik dan turun di peronnya yang sederhana. Kereta ekonomi KA Putri Deli tetap singgah, menghubungkan Medan dan Tanjungbalai, seolah menjaga kesinambungan antara masa lalu dan masa kini.

Foto yang saya terima siang itu bukan sekadar gambar bangunan tua. Ia adalah potret tentang bagaimana sejarah ekonomi kolonial, geliat perkebunan, dan perkembangan transportasi modern bertemu dalam satu lanskap kecil di Kabupaten Batu Bara. 

Stasiun Sei Bejangkar mungkin hanya stasiun kelas III, tetapi dari peronnya yang sunyi, kita bisa mendengar gema panjang perjalanan Sumatera: tentang rel, tentang kebun, dan tentang manusia-manusia yang pernah menggantungkan harapan pada bunyi peluit kereta. *** [250226]


Kepustakaan:

Indera. (2006). “Diversifikasi Usaha Deli Spoorweg Maatschappij: Studi Sejarah Perusahaan di Sumatera Timur, 1883-1940”. Makalah disampaikan dalam Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta, 14-17 November 2006.

Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V.

Rivai, M., Damanik, E. L., Lubis, H. S. D., & Harahap, A. (2022). Railway Transport Development in East Sumatra, 1880s-1930s. ICIESC. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.4108/eai.11-10-2022.2325400



Share:

Di Ujung Rel Pesisir Timur Sumatera: Jejak Sejarah di Stasiun Kereta Api Tanjungbalai

Pada Kamis malam, 19 Februari, pukul 22.58 WIB, sebuah foto sederhana beranda media sosial mendadak menjelma jendela waktu. Seorang enumerator SurveyMETER, Hendrik Nugroho, S.E., yang tengah bertugas melakukan survei PAUD mengunggah gambar Stasiun Kereta Api Tanjungbalai yang dipotret pada siang harinya. 

Di bawah bayang-bayang pohon besar menjulang, bangunan tua itu tampak teduh, seolah menyimpan riwayat panjang tentang rel, pelabuhan, dan geliat perkebunan di pesisir timur Sumatera.

Stasiun yang berkode TNB ini berdiri di Tanjungbalai Kota IV, Tanjungbalai Utara, pada ketinggian +2,87 meter di atas permukaan laut. Ia tergolong stasiun kelas II dan berada dalam wilayah kerja Divisi Regional I Sumatera Utara dan Aceh. Kini, ia dikenal sebagai stasiun aktif yang terletak di ujung lintasan, sebuah terminus yang tenang, tempat perjalanan seakan berhenti sejenak sebelum kembali pulang.

Namun ketenangan itu lahir dari denyut sejarah yang panjang. Bangunan stasiun ini merupakan warisan era Hindia Belanda, dibangun seiring pembukaan jalur rel sepanjang 141 kilometer yang menghubungkan Bamban–Rantau Laban–Kisaran–Tanjungbalai–Teluk Nibung. 

Fasad Stasiun Tanjungbalai (Foto: Hendrik Nugroho/19-02-2026)

Proyek ambisius tersebut digarap oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), perusahaan kereta api swasta yang beroperasi di pesisir timur Sumatra, terutama kawasan Deli (Medan). Pembangunan dimulai pada 1903 dan rampung pada 1918, sebagai bagian dari proyek besar jalur Timur Sumatera kategori spoorweg 2e klasse yang dikerjakan bertahap.

Lintasan Bamban–Rantau Laban dilaksanakan lebih dahulu pengerjaannya, dari tahun 1901–1903. Menyusul kemudian Rantau Laban–Tanjungbalai yang dikerjakan pada 1912–1915, dan rel Tanjungbalai–Teluk Nibung yang diselesaikan hingga 1918. Tepat pada 6 Agustus 1915, Stasiun Tanjungbalai diresmikan, menjadi simpul penting yang menghubungkan kebun dengan pelabuhan.

Di balik rel-rel itu, tersimpan kepentingan ekonomi kolonial. Jalur kereta di pesisir timur Sumatra lahir dari desakan para pengusaha perkebunan di tanah Deli. Sejak 1881, manajer Deli Maatschappij menggagas pembangunan rel yang menghubungkan kebun-kebun tembakau, karet, dan kelapa sawit dengan pelabuhan ekspor. Gagasan tersebut mendapat dukungan para anggota Deli Planters Vereeniging, asosiasi pemilik perkebunan Deli. 

Pada 1883, sejumlah perusahaan perkebunan membentuk DSM untuk mewujudkan cita-cita jalur besi di Sumatera Timur. Sejak akhir 1883, rel demi rel mulai dibentangkan, hingga pada 1937 jaringan itu telah menyambung Medan sampai Rantau Prapat sebagai urat nadi distribusi komoditas menuju Eropa melalui Pelabuhan Teluk Nibung.

Halaman parkir yang luas di Stasiun Tanjungbalai (Foto: Hendrik Nugroho/19-02-2026)

Kini, Stasiun Tanjungbalai memiliki tiga jalur. Jalur 1 menjadi sepur lurus menuju barat, ke arah Kisaran. Jalur 2 dan 3 difungsikan sebagai jalur persilangan atau langsiran. Dahulu, dari jalur 1 terdapat percabangan menuju Teluk Nibung, tetapi jejak itu telah lama hilang. Percabangan yang lenyap membuat stasiun ini seolah benar-benar berada di ujung cerita.

Karena tak memiliki depo lokomotif, setiap kereta yang tiba dan menurunkan penumpang di sini akan kembali bergerak ke Kisaran untuk bermalam. Esok hari, ia datang lagi untuk mengulang ritme yang sama, seperti napas panjang yang teratur.

Di tengah arus modernisasi transportasi, Stasiun Tanjungbalai tetap berdiri dengan wajah kolonialnya yang bersahaja. Dinding-dindingnya bukan sekadar bata dan semen, melainkan saksi bisu perjalanan komoditas, ambisi ekonomi, dan mobilitas manusia selama lebih dari satu abad. 

Foto yang diunggah pada malam itu mungkin hanya sekejap lintasan di linimasa, tetapi bangunan ini menyimpan rentang waktu yang jauh lebih panjang tentang bagaimana rel-rel besi pernah mengubah wajah pesisir timur Sumatera. *** [210226]


Kepustakaan:

Indera. (2006). “Diversifikasi Usaha Deli Spoorweg Maatschappij: Studi Sejarah Perusahaan di Sumatera Timur, 1883-1940”. Makalah disampaikan dalam Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta, 14-17 November 2006.

Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V.

Rivai, M., Damanik, E. L., Lubis, H. S. D., & Harahap, A. (2022). Railway Transport Development in East Sumatra, 1880s-1930s. ICIESC. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.4108/eai.11-10-2022.2325400



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami