"Architecture is the will of an epoch translated into space." -- Mies van der Rohe
Langkah kaki saya berhenti di sebuah bangunan tua di sudut Jalan Kauman, tak jauh dari hiruk pikuk pusat Kota Malang. Sore itu, Selasa (05/05), usai menuntaskan beberapa halaman novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati di Gramedia Basuki Rahmat, saya memilih berjalan kaki menyusuri ruas jalan lama yang masih menyimpan jejak kolonial. Di antara deretan pertokoan dan lalu lintas kota yang tak pernah benar-benar diam, sebuah gevel tua dengan tulisan “Happy Home” seolah memanggil untuk dikenang.
Bangunan itu berdiri di Jalan Kauman No. 23, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Sekilas, ia tampak tenang seperti rumah besar peninggalan masa lalu. Namun di balik dinding dan atap tuanya, tersimpan riwayat panjang pelayanan kesehatan yang telah hidup hampir satu abad lamanya.
Nama “Happy Home” bukan sekadar penanda bangunan. Ia merupakan jejak historis dari pelayanan kesehatan Kristen Malangsche Wijkverpleging Mardi Waloejo yang dirintis pada Agustus 1927 oleh J. Pik dan Suster E. Hulzebos di kawasan Temenggoengan Wetan.
Seiring berkembangnya kebutuhan pelayanan medis bagi masyarakat Malang, lembaga itu kemudian berpindah ke Kaoemanstraat - kini Jalan Kauman - dan menempati bangunan yang kemudian dikenal sebagai “Happy Home”.
Di masa kolonial, istilah itu merujuk pada Huis van Geluk atau “Rumah Kebahagiaan”, sebuah tempat perawatan dan dukungan sosial bagi masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan kesehatan. Nama tersebut terasa begitu kontras dengan wajah kolonial yang kerap identik dengan kekuasaan. Namun justru dari bangunan inilah, layanan kesehatan untuk warga kecil pernah bertumbuh.
![]() |
| RSIA Mardi Waloeja Kauman Malang |
Bangunan yang kini dikenal sebagai RSIA Mardi Waloeja Kauman itu didirikan pada 1933. Pada zamannya, keberadaannya menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan masyarakat Malang, khususnya bagi kalangan kurang mampu.
Dalam catatan Arthur van Schaik (1996), Malangsche Wijkverpleging Mardi Waloejo pernah memiliki 36 tempat tidur serta sejumlah pusat konsultasi kesehatan, mulai dari layanan bayi hingga pengendalian tuberkulosis.
Meski kini berfungsi sebagai Rumah Sakit Ibu dan Anak, jejak arsitektur kolonialnya masih terasa kuat. Fasad bangunannya memperlihatkan gaya kolonial campuran atau eklektik, sebuah pendekatan arsitektur Hindia Belanda yang mulai mencoba beradaptasi dengan iklim dan kebudayaan lokal Nusantara.
Bangunan utama berbentuk persegi panjang dengan komposisi fasad yang simetris. Pada bagian depan tampak atap pelana dengan hiasan geveltoppen yang menyerupai bentuk grambel gable atau atap lumbung. Bentuk atap ini mudah dikenali dari dua kemiringan berbeda di setiap sisinya, dan bagian atas lebih landai, sedangkan bagian bawah lebih curam. Siluetnya memberi kesan megah sekaligus hangat, berbeda dari model bangunan kolonial murni Eropa.
Di belakang gevel utama, tampak sebuah dormer atau cerobong asap semu yang muncul dari atap perisai. Elemen ini lazim digunakan sebagai jalur sirkulasi udara dan pencahayaan alami untuk penyesuaian penting bagi bangunan tropis di Hindia Belanda kala itu. Detail-detail kecil semacam inilah yang membuat bangunan tua tidak sekadar indah dipandang, tetapi juga menyimpan kecerdasan arsitektural zamannya.
Arsitek modern Ludwig Mies van der Rohe (1886-1969) asal Jerman, pernah berkata:
"Arsitektur adalah kehendak suatu zaman yang diterjemahkan ke dalam ruang."
Kutipan itu terasa hidup ketika memandangi RSIA Mardi Waloeja Kauman (Mardika) hari ini. Bangunan yang lahir dari masa kolonial itu tidak berhenti menjadi monumen masa lalu, melainkan terus menjalankan fungsi sosialnya hingga kini.
Pada 2004, lembaga ini resmi berstatus sebagai RSIA Mardika, lalu sejak 2013 pengelolaannya terpisah dari kompleks Mardi Waloeja Rampal. Di bawah Yayasan Kesehatan Gereja Kristen Jawi Wetan, rumah sakit ini terus berkembang dan memperoleh akreditasi pada 2019.
Salah satu layanan khasnya adalah perawatan bayi berat lahir rendah dengan metode kanguru, sebuah pendekatan medis yang menekankan kedekatan dan kehangatan antara ibu dan bayi.
Di tengah kota yang terus berubah, bangunan “Happy Home” masih berdiri dengan tenang. Ia bukan hanya saksi perkembangan layanan kesehatan di Malang, melainkan juga penanda bagaimana warisan arsitektur kolonial dapat tetap hidup tanpa kehilangan makna sosialnya.
Dari gevel tua bertuliskan “Happy Home”, kita seperti diingatkan bahwa sebuah bangunan bukan sekadar susunan bata dan atap, melainkan ruang tempat ingatan, pelayanan, dan kemanusiaan terus bertahan melampaui zaman. *** [070526]
Kepustakaan:
Esther, N. (2022, October 31). Arsitektur Kolonialisme di Indonesia. Himpunan Mahasiswa Arsitektur BINUS University. https://student-activity.binus.ac.id/himars/2022/10/31/arsitektur-kolonialisme-di-indonesia/
Schaik, A. van. (1996). Malang: Beeld van een stad (p. 160). Purmerend: Asia Maior. https://drive.google.com/file/d/11SL1dwdjvw9WnciTP5vSJtKlHtG-Xoqm/view
tppmardikamalang. (2025, July 03). Profil RSIA Mardi Waloeja Kauman Malang. Scribd. https://id.scribd.com/document/883747300/Company-Profile













