“Postman’s bag is always heavy because it carries the life itself: It carries all the sorrows and all the joys, all the worries and all the hopes!” -- Mehmet Murat ildan
Siang itu, sepulang dari Kantor Dinas Kesehatan Banyuwangi menuju basecamp Tim Enumerator COM-B Cluring, saya dan Field Supervisor COM-B melihat bangunan tua yang masih berdiri tegap di sisi barat bagian selatan Taman Blambangan, pada Rabu (08/04).
Suasana kota Banyuwangi begitu dinamis, terasa bergerak seperti biasa. Namun, bangunan itu seolah menolak larut dalam arus modernitas. Ia diam, kokoh, dan penuh cerita. Itulah Kantor Pos Banyuwangi, yang beralamat di Jalan Diponegoro No. 1, Kelurahan Kepatihan.
Sekilas, ia mungkin hanya tampak seperti kantor layanan publik pada umumnya. Namun, di balik dindingnya tersimpan jejak panjang sejarah komunikasi di ujung timur Pulau Jawa. Sejak didirikan pada tahun 1864, kantor pos ini menjadi penanda penting hadirnya sistem komunikasi modern di Banyuwangi.
Catatan dalam De ontwikkeling van het postwezen in Nederlands Oost-Indië (1935) menunjukkan bahwa pendiriannya merupakan bagian dari jaringan besar pos di Hindia Belanda, sebuah sistem yang menghubungkan kota-kota di Jawa, wilayah luar Jawa, hingga kantor-kantor cabang yang tersebar luas.
Pada masa awalnya, bangunan kantor pos ini masih sederhana, sebagaimana kantor telegraf yang berdiri tak jauh darinya. Namun, posisi Banyuwangi yang strategis di tepi Selat Bali menjadikannya simpul penting dalam jalur komunikasi internasional.
![]() |
| Fasad Kantor Pos Banyuwangi |
Konsesi ini dialihkan pada tahun 1873 kepada Eastern Extension Australasia and China Telegraph Company, yang kemudian perusahaan tersebut diberikan izin pada tahun 1879 untuk membangun koneksi telegraf kedua antara Banyuwangi dan Singapura serta antara Banyuwangidan Australia.
Infrastruktur komunikasi pun semakin berkembang, terlebih ketika pada 1883 layanan telegraf kereta api dibuka untuk umum, menjadi lompatan besar yang memperluas akses masyarakat terhadap teknologi komunikasi saat itu.
Memasuki awal abad ke-20, kebutuhan akan fasilitas yang lebih representatif mendorong pembangunan gedung baru yang menyatukan layanan pos dan telegraf. Melalui inisiatif Burgerlijke Openbare Werken (BOW), berdirilah bangunan kantor pos dan telegraf (Post-en telegraafkantoor te Banjoewangi) yang lebih megah pada sekitar tahun 1921.
Gedung ini mengusung gaya arsitektur Art Deco khas Hindia Belanda yang terdiri dari dua lantai dengan sentuhan estetika yang disesuaikan dengan iklim tropis. Ornamen-ornamen dekoratif khas lokal pun turut memperkaya desainnya, menciptakan harmoni antara fungsi dan keindahan.
Seiring berkembangnya teknologi, fungsi gedung ini pun meluas menjadi pusat layanan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT). Namun, alam memiliki ceritanya sendiri. Kuatnya arus Selat Bali kerap mengganggu kabel telegraf bawah laut, membuat sistem ini tidak lagi efisien. Pada 1930-an, layanan telegraf pun dihentikan, dan bangunan ini beralih fungsi menjadi kantor pos dan telepon.
![]() |
| Bangunan Kantor Pos yang telah berdiri sejak 1921, kini di sampingnya terlihat tower Telkom |
Lantai pertama menjadi pusat layanan dan penyimpanan arsip, sementara lantai dua difungsikan untuk ruang aula, kantor kepala pos, hingga gudang. Di bagian depan, masih tampak bekas tempat pemasangan jam dinding, penanda kecil yang dahulu menjadi penanda waktu bagi masyarakat.
Tahun 2019 menjadi babak baru dalam perjalanan bangunan ini. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama PT Pos Indonesia mencanangkan revitalisasi besar-besaran. Gedung yang telah berusia lebih dari satu abad ini direncanakan menjadi destinasi wisata heritage, membuka kembali ruang bagi publik untuk tidak hanya mengirim pesan, tetapi juga membaca sejarah.
Di masa lalu, kantor pos bukan sekadar tempat berkirim surat. Ia adalah penghubung emosi manusia dengan membawa kabar rindu, harapan, kecemasan, hingga kebahagiaan. Seperti yang diungkapkan Mehmet Murat ildan, penulis drama Turki:
“Tas tukang pos selalu berat karena di dalamnya terdapat kehidupan itu sendiri: tas itu membawa semua kesedihan dan semua kegembiraan, semua kekhawatiran dan semua harapan!”
Kini, ketika pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, bangunan tua ini justru mengajak kita untuk melambat guna menengok kembali masa ketika setiap surat adalah peristiwa, dan setiap perjalanan pesan adalah kisah yang penuh makna. *** [290426]
Kepustakaan:
Beer van Dingstee, J.H. (1935). "De ontwikkeling van het postwezen in Nederl. Oost-Indië." A.C. Nix & Co. Geraadpleegd op Delpher op 28-04-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB05:000037951:00009
Norbruis, O. (2022). ARSITEKTUR DI NUSANTARA: Para Arsitek dan Karya Mereka di Hindia-Belanda dan Indonesia pada Paruh Pertama Abad ke-20 (G. Vermeer, Ed.; H. T. Dipowijoyo, Trans.; pp. 1–330). Stichting Hulswit Fermont Cuypers.

























