The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tetenger Perang Puputan Bayu 18 Desember 1771 di Banyuwangi

“Memory is the treasure house of the mind wherein the monuments thereof are kept and preserved.” -- Thomas Fuller

Sebuah tugu berdiri di tengah jalan, seperti sengaja menghadang siapa pun yang hendak melintas tanpa menoleh. Di tempat yang sepintas tampak biasa itu, lebih dari dua setengah abad silam, tanah Bayu pernah menjadi panggung perlawanan berdarah rakyat Blambangan terhadap VOC.

Usai menyambangi TPS Balak, saya terus diajak oleh enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Enviromental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung, Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., main ke Rowo Bayu. Namun dalam perjalanan, di sebuah sudut jalan, sebuah tugu yang dibelah dua ruas jalan menarik perhatian. Namanya Tetenger Perang Puputan Bayu. Letaknya di Dusun Bayurejo RT 01 RW 01, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi.

Saya berhenti. Barangkali begitulah cara sebuah situs warisan bekerja. Ia tidak selalu memanggil dengan suara keras. Kadang cukup dengan sebuah tugu di persimpangan, lalu ingatan bergerak sendiri.

Di lokasi ini, saya jadi ingat tema Banyuwangi Ethno Carnival 2026 tentang “Perang Bayu – The Great War of Blambangan”. Banyuwangi memang sedang kembali membawa sejarah itu ke ruang publik. Sejarah yang dahulu berlangsung di lereng Gunung Raung itu dipindahkan ke atas catwalk dengan penampilan kostum, gerak, warna, dan tubuh para talent menjadi medium untuk menceritakan kembali heroisme rakyat Blambangan.

Tetapi sebelum menjadi parade, Perang Bayu adalah tragedi manusia. Pada mulanya, VOC memasuki Blambangan dengan kepentingan memperluas pengaruh dan jalur perdagangan. Perlawanan rakyat pun muncul. 

Salah satu tokoh awalnya adalah Wong Agung Wilis. Setelah menghimpun kekuatan, ia melancarkan serangan pada 1767-1768, namun ia kemudian tertangkap VOC dan dibuang ke Banda. Estafet perlawanan kemudian diteruskan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati, buyut Prabu Tawang Alun, yang menjadikan Bayu sebagai basis pertahanan. 

Tetenger Perang Puputan Bayu 18 Desember 1771 di Dusun Bayurejo RT 01 RW 01 Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi (Foto: Kamis, 03-09-2026)

Perang Bayu berlangsung pada 1771–1772, dengan puncak pertempuran pada 18 Desember 1771. Dalam salah satu catatan sejarah, rentang perang disebut berlangsung sejak 5 Agustus 1771 hingga 11 Oktober 1772, ketika benteng Bayu akhirnya direbut VOC.

Pada 18 Desember 1771, perlawanan rakyat Blambangan mencapai titik paling sengit. Pasukan VOC terdesak oleh serangan mendadak. Mereka bahkan terjebak dalam sungga, jebakan berupa parit yang dipenuhi bambu atau benda runcing. Sersan Mayor Van Schaar, salah satu komandan VOC, tewas dalam pertempuran. Pangeran Jagapati sendiri mengalami luka parah dan gugur sehari kemudian.

Namun kemenangan dalam satu pertempuran tidak serta-merta mengakhiri perang. VOC kembali menghimpun kekuatan. Bayu dikepung dan pada 11 Oktober 1772 benteng pertahanan rakyat akhirnya direbut. 

Dengan jatuhnya Bayu, perlawanan Blambangan mengalami pukulan besar. Perang yang panjang itu meninggalkan korban jiwa dan kehancuran yang demikian besar sehingga dalam berbagai catatan lokal dan historiografi Banyuwangi, Perang Bayu dikenang sebagai salah satu perlawanan paling keras terhadap VOC.

Dari perang itulah tanggal 18 Desember 1771 kemudian memperoleh tempat khusus dalam ingatan Banyuwangi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebutnya sebagai peristiwa sejarah tertua yang layak dijadikan tonggak Hari Jadi Banyuwangi. DPRD Banyuwangi kemudian menetapkan 18 Desember sebagai Hari Jadi pada 9 Mei 1995.

Karena itu, tetenger yang saya temui bukan sekadar penanda lokasi. Ia adalah pengingat bahwa sebuah daerah memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada jalan yang kini melintas di depannya.

Di kawasan Bayu dan sekitar Rowo Bayu, ingatan itu masih dirawat melalui doa, peringatan, dan napak tilas. Masyarakat bahkan secara turun-temurun menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang selamat maupun gugur dalam perang.

Thomas Fuller (1608-1661), sejarawan asal Inggris, pernah menulis:

“Ingatan adalah gudang harta pikiran, tempat berbagai monumennya disimpan dan dilestarikan.”

Kalimat itu terasa menemukan tempatnya di Bayu. Sebab monumen tidak hanya menyimpan nama dan tanggal. Ia menyimpan pertanyaan: apa yang terjadi di sini, siapa yang pernah berdiri di atas tanah ini, dan mengapa generasi setelahnya masih perlu mengingat?

Dari sebuah tugu di tepi jalan, saya akhirnya memahami bahwa “roh” Puputan Bayu bukan semata-mata tentang perang. Ia tentang ingatan yang diwariskan. Tentang keberanian yang dibaca ulang. Tentang kehilangan yang tidak dibiarkan hilang begitu saja.

Dan mungkin, itulah alasan sejarah Bayu terus menemukan bentuk baru - dari tetenger, napak tilas, doa bersama, hingga panggung Banyuwangi Ethno Carnival.

Dulu, Bayu menjadi medan pertempuran. Kini, ia menjadi ruang untuk mengingat. Sebab selama sebuah bangsa masih menjaga ingatannya, sebuah tugu tidak pernah benar-benar hanya menjadi tugu. *** [081026]



Share:

National Cash Register Model 442X: Saksi Bisu Kejujuran dan Perdagangan dari Awal Abad ke-20

Sabtu (13/06) siang, suasana Pasar Nostalgia Balekambang terasa hidup. Deretan stan yang dipenuhi benda-benda lawas seolah mengajak setiap pengunjung menelusuri lorong waktu. 

Bersama anak wedok ragil, saya menyusuri satu per satu stan di sisi timur pasar. Di antara koleksi radio tua, lampu antik, dan peralatan rumah tangga klasik, pandangan saya berhenti pada sebuah benda yang memancarkan pesona berbeda, yaitu sebuah mesin kasir mekanik berwarna keemasan dengan ukiran yang anggun.

Benda itu bukan sekadar mesin kasir tua. Di bagian depannya tertera identitas yang membuat para kolektor barang antik berbinar, National Cash Register Model 442X Numbered 819887.

Sekilas, mesin itu tampak seperti karya seni dari logam. Ornamen khas berpadu dengan bodi kuningan berlapis nikel menghadirkan kesan mewah sekaligus kokoh. Namun, di balik tampilannya yang memesona, tersimpan kisah panjang tentang lahirnya sistem perdagangan modern dan upaya manusia menjaga kejujuran dalam berbisnis.

Mesin kasir lawas National Cash Register Model 442X Numbered 819887 

Pada zamannya, mesin kasir mekanik bukan hanya alat penghitung uang. Perangkat ini digunakan untuk menjumlahkan nilai pembelian, mencatat transaksi penjualan, sekaligus menyimpan uang tunai dalam laci kasir. 

Di era ketika komputer, kamera pengawas, bahkan listrik belum menjadi bagian dari aktivitas perdagangan sehari-hari, mesin seperti inilah yang menjadi penjaga kepercayaan antara pemilik usaha dan pegawainya.

Model yang saya jumpai ternyata bukan tipe biasa. Penandaan 442X menunjukkan bahwa mesin tersebut merupakan varian khusus yang diproduksi sekitar tahun 1910–1915 oleh National Cash Register Company (NCR). Huruf "X" bukan sekadar pelengkap nomor model, melainkan penanda bahwa mesin ini dirancang untuk menggunakan mata uang tertentu di luar Amerika Serikat.

Menariknya, varian yang dipajang di Pasar Nostalgia Balekambang dibuat khusus untuk menangani mata uang Jerman, yaitu Mark, yang terbagi dalam100 Pfennig. Karena diproduksi berdasarkan pesanan khusus sesuai kebutuhan negara tujuan, varian bertanda "X" tergolong langka dan kini menjadi incaran para kolektor di berbagai belahan dunia.

Seri mesn kasir untuk mata uang Jerman

Melihatnya dari dekat seakan membawa imajinasi pada sebuah toko di Eropa lebih dari seabad silam. Setiap kali tuas ditarik, roda-roda mekanik berputar, angka-angka muncul pada jendela kecil, lalu bunyi khas "cling" terdengar ketika laci kas terbuka. Tidak ada layar digital, tidak ada pemindai kode batang, hanya presisi mekanik yang dirancang dengan kecermatan luar biasa.

Sejarah NCR sendiri berawal dari penemuan mesin kasir mekanik pertama oleh James Ritty pada tahun 1879. Penemuan tersebut kemudian berkembang menjadi fondasi berdirinya National Cash Register Company. Babak baru dimulai ketika John Henry Patterson bersama adiknya, Frank Jefferson Patterson, membeli perusahaan itu pada tahun 1884.

Di tangan dua bersaudara tersebut, NCR berkembang pesat. Berbagai inovasi pemasaran, strategi penjualan, serta ekspansi ke pasar internasional menjadikan perusahaan yang bermula dari Dayton, Ohio, tumbuh menjadi salah satu perusahaan dengan laju pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat.

Namun, kisah sukses itu ternyata lahir dari persoalan yang sangat sederhana, yakni kejujuran. Keluarga Patterson memiliki sebuah toko kecil. Mereka menyadari bahwa sebagian uang hasil penjualan menghilang setiap hari karena dicuri pegawai.

Mesin kasir jadul dilihat dari sisi samping

Pada masa itu belum ada kamera pengawas, belum ada perangkat lunak pencatatan transaksi, dan mustahil mengawasi seluruh aktivitas toko setiap saat. Mereka membutuhkan sebuah alat yang mampu mencatat setiap transaksi secara objektif sehingga setiap dollar, atau setiap sen pada masa itu, dapat dipertanggungjawabkan.

Dari kebutuhan sederhana itulah mesin kasir berkembang menjadi simbol akuntabilitas dalam dunia perdagangan. Teknologi yang lahir bukan semata untuk menghitung uang, tetapi juga membangun kepercayaan.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, National Cash Register Model 442X Numbered 819887 berdiri tenang di sebuah stan Pasar Nostalgia Balekambang. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya benda antik yang indah dipandang. Namun bagi mereka yang memahami sejarahnya, mesin ini adalah saksi perjalanan panjang peradaban niaga, dari masa ketika setiap transaksi dicatat oleh roda-roda mekanik hingga era digital yang serba otomatis.

Di tengah hiruk-pikuk pasar nostalgia, saya menyadari bahwa benda-benda tua tidak pernah benar-benar kehilangan fungsinya. Jika dahulu mesin kasir ini menjaga kejujuran dalam perdagangan, hari ini ia menjaga ingatan kita bahwa setiap kemajuan teknologi selalu berawal dari kebutuhan manusia untuk menyelesaikan persoalan hidupnya.

Mungkin itulah sebabnya, mesin kasir tua tersebut tetap memikat perhatian. Ia bukan hanya menyimpan uang pada zamannya, tetapi juga menyimpan cerita yang nilainya jauh lebih berharga daripada isi laci kasnya. *** [290626]



Share:

Jejak Revolusi Industri di Jantung Yogyakarta: Kisah Lokomotif Uap Marshall Britannia di Stasiun Tugu

Di antara keramaian Malioboro, terdapat sebuah benda tua yang sering dilewatkan oleh wisatawan. Ia berada di sisi utara pintu timur Stasiun Yogyakarta, bertahan di tepi Jalan Margo Utomo. Bentuknya mirip lokomotif kuno dengan cerobong asap, roda besi besar, dan bodi hitam pekat yang mencerminkan kesan industri masa lalu. Banyak orang mengira itu kereta tua, padahal ia bukanlah lokomotif rel yang biasanya melintas membawa penumpang.

Benda bersejarah itu adalah Monumen Lokomotif Uap Stasiun Yogyakarta, sebuah lokomotif uap Marshall Britannia yang menjadi saksi bisu perkembangan industri di Jawa pada masa kolonial. Kehadirannya seolah menjadi pengingat bahwa Yogyakarta bukan hanya kota budaya dan wisata, tetapi juga pernah bersentuhan erat dengan denyut revolusi dunia industri.

Monumen Lokomotif Uap Stasiun Yogyakarta di Jalan Margo Utomo No. 1 Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedong Tengen, Kota Yogyakarta

Lokomotif uap ini dipajang tepat di seberang ujung Jalan Malioboro, kawasan yang kini dikenal sebagai pusat wisata dan perdagangan paling hidup di Yogyakarta. Di tengah lalu-lalang wisatawan, suara kendaraan, dan keramaian kota, mesin uap tua itu berdiri tenang membawa cerita dari lebih seabad silam.

Sekilas tampilannya memang menyerupai kereta api kecil. Namun sebenarnya mesin ini adalah mesin uap portabel satu silinder buatan Marshall, Sons & Co. Ltd., perusahaan asal Gainsborough, Inggris, yang terkenal sebagai produsen mesin industri dan pertanian berbasis tenaga uap. Mesin semacam ini dikenal dengan istilah “lokomobil” karena dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan roda tanpa memerlukan rel.

Cerobong asap lokomobil buatan Marshall, Sons & Co. Ltd., Inggris

Pada akhir abad ke-19, mesin uap sedang berada di puncak kejayaan. Revolusi industri yang dipicu penemuan mesin uap oleh James Watt mengubah wajah dunia. Pabrik tekstil, pertanian, pertambangan, hingga industri pengolahan mulai meninggalkan tenaga manusia dan hewan untuk beralih ke tenaga mekanik. Gelombang modernisasi itu turut menjalar ke Hindia Belanda, termasuk Pulau Jawa yang kala itu menjadi pusat industri gula terbesar.

Belanda kemudian mendatangkan berbagai mesin uap portabel dari Eropa untuk mendukung produksi gula. Salah satunya adalah lokomobil Marshall Britannia yang kini dipamerkan di Stasiun Tugu. Di Yogyakarta, mesin ini lazim digunakan untuk menggerakkan alat penggilingan dan pengolahan tebu di pabrik gula.

Plakat nama produsen mesin uap portabel Marshall, Sons & Co.

Marshall, Sons & Company sendiri memiliki sejarah panjang dalam dunia industri Inggris. Perusahaan yang didirikan William Marshall pada tahun 1848 itu awalnya memproduksi peralatan pabrik sebelum berkembang menjadi pembuat mesin pertanian, ketel uap portabel, hingga traktor. Nama Marshall kemudian dikenal luas sebagai produsen mesin uap berbentuk lokomotif yang tangguh dan efisien untuk kebutuhan industri maupun pertanian.

Lokomobil di Stasiun Yogyakarta ini bekerja menggunakan bahan bakar batubara atau kayu bakar. Uap panas dari ketel menghasilkan tekanan tinggi yang menggerakkan piston dan roda gaya besi besar di bagian samping mesin. Putaran itu lalu diteruskan menggunakan sabuk ke mesin penggilingan atau alat produksi lainnya. Seluruh tubuhnya terbuat dari besi dengan balutan cat hitam khas mesin industri era kolonial, menghadirkan kesan kokoh sekaligus artistik. 

Bodi hitam pekat mesin uap portabelMarshall, Sons & Co.yang mencerminkan kesan industri masa lalu

Dahulu, mesin seperti ini biasanya dipindahkan menggunakan tenaga manusia atau hewan menuju lokasi kerja. Meski sederhana dibanding teknologi modern, pada zamannya lokomobil merupakan simbol kemajuan teknologi yang sangat revolusioner.

Kini, lokomobil Marshall Britannia itu memang tak lagi mengepulkan asap atau menggerakkan mesin penggilingan tebu. Namun keberadaannya di halaman Stasiun Tugu menyimpan jejak penting tentang bagaimana teknologi industri pernah ikut membentuk sejarah Yogyakarta. Di antara kereta modern yang datang dan pergi setiap hari, mesin tua itu seolah terus bercerita tentang masa ketika tenaga uap menjadi penggerak utama peradaban. *** [170526] 



Share:

Mengenal Lokomotif D 301 61 27, Monumen Sejarah di Halaman Selatan Stasiun Tugu Yogyakarta

Di halaman depan Stasiun Yogyakarta sisi selatan, tepatnya di kawasan Jalan Pasar Kembang, Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, saya melihat sebuah lokomotif tua yang dipajang anggun sebagai monumen sejarah. 

Di tengah hiruk-pikuk wisatawan dan lalu lalang kendaraan, lokomotif berseri D 301 61 27 itu berdiri diam, seolah menjadi penanda bahwa Stasiun Yogyakarta bukan sekadar tempat datang dan pergi kereta, melainkan juga ruang penyimpan jejak panjang perjalanan perkeretaapian Indonesia.

Lokomotif jadul tersebut kini dikenal sebagai Monumen Lokomotif yang menjadi ikon bernuansa sejarah dari Stasiun Yogyakarta, atau yang akrab disebut Stasiun Tugu. Kehadirannya menghadirkan suasana nostalgia, mengingatkan orang pada masa ketika lokomotif diesel hidrolik menjadi tulang punggung layanan kereta api di berbagai jalur cabang di Jawa.

Lokomotif D 301 61 27 yang dipamerkan di halaman depan Stasiun Tugu sisi selatan ini merupakan bagian dari lokomotif diesel hidrolik seri D 301 yang didatangkan ke Indonesia sebanyak 80 unit. 

Lokomotif D 301 61 27 yang menjadi monumen sejarah di halaman Stasiun Tugu Yogyakarta sisi selatan

Penomorannya pun memiliki arti tersendiri. Huruf D menunjukkan susunan roda atau konfigurasi gandar D, yang berarti lokomotif ini memiliki empat gandar penggerak. Angka 3 setelah aksara D memperlihatkan bahwa lokomotif ini menggunakan penggerak diesel hidrolik. Sementara angka 01 menunjukkan seri lokomotif. 

Dua digit berikutnya, yakni 61, merujuk pada tahun lokomotif tersebut mulai dinas atau dioperasikan, yaitu tahun 1961. Sedangkan dua digit terakhir, 27, menunjukkan nomor urut lokomotif dari keseluruhan armada yang didatangkan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).

Lokomotif D301 ini merupakan lokomotif langsir atau shunting locomotive dan layanan jarak pendek yang diproduksi oleh Fried Krupp Lokomotivfabriek Essen, Jerman. Krupp sendiri dikenal sebagai pabrik industri berat yang memproduksi berbagai kebutuhan militer, lokomotif uap, gerbong, kereta, hingga aneka produk berbahan dasar baja. Perusahaan keluarga yang berdiri sejak tahun 1811 itu didirikan oleh Friedrich Krupp melalui Krupp Gusstahlfabrik, sebuah pabrik pengecoran baja di dekat Sungai Ruhr, Jerman.

Wajah lokomotif D 301 61 27 dari sisi timur

Di kalangan pencinta kereta api, D 301 kerap disebut sebagai “adik” dari lokomotif D300 karena bentuknya yang hampir serupa, namun memiliki performa yang lebih baik. Meski tugas utamanya melayani aktivitas langsir, lokomotif D 301 juga digunakan untuk menarik kereta penumpang dan barang di sejumlah jalur cabang. Lokomotif ini mulai beroperasi di wilayah Jawa Tengah maupun Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1961.

Pada masanya, lokomotif ini diperkirakan pernah melayani lintas Yogyakarta–Magelang–Secang maupun Yogyakarta–Srandakan–Ngabean–Palbapang serta Ngabean–Pasargedeh–Pundung. Karena sering melintasi jalur yang berdampingan langsung dengan jalan raya, kecepatan maksimum lokomotif ini dibatasi hanya sekitar 25 kilometer per jam. 

Lambat memang, tetapi justru dari kelambatan itulah masyarakat zaman dulu dapat menyaksikan kereta api sebagai bagian akrab dari kehidupan sehari-hari, yang melintas dekat pasar, menyapa anak-anak kecil, dan membelah kampung dengan bunyi peluit yang kini tinggal kenangan.

Wajah lokomotif D 301 61 27 dari sisi barat

Setelah masa baktinya usai, lokomotif D301 itu kemudian diabadikan menjadi monumen sejarah. Namun ada satu hal yang sempat mengusik pikiran saya ketika melihatnya usai mendampingi anak wedok mengikuti Kejuaraan Karate di GOR Amongrogo pada Ahad, 31 Agustus 2025. Pada badan lokomotif tertulis D 301 61 27, tetapi di prasasti peresmian yang ditandatangani Direktur Utama PT KAI (Persero) Edi Sukmoro tertanggal 12 Desember 2018 justru tercantum “Monumen Lokomotif D 301 22”.

Barangkali itu sekadar kekeliruan penulisan yang luput dari perhatian. Sebab manusia, sehebat apa pun merawat sejarah, tetap memiliki kemungkinan alpa dalam mencatat detail-detail kecil. Namun justru di situlah sejarah menjadi menarik. Ia tidak selalu hadir sebagai kisah yang sepenuhnya rapi dan sempurna. Kadang ada angka yang tertukar, huruf yang terlewat, atau prasasti yang tak sepenuhnya sejalan dengan kenyataan di depannya. 

Akan tetapi, lokomotif tua itu tetap berdiri tegak, seolah ingin mengajarkan bahwa nilai sebuah perjalanan tidak ditentukan oleh sempurnanya catatan, melainkan oleh jejak pengabdian yang pernah dilaluinya. Dan mungkin, sebagaimana kereta yang terus berjalan meski rel kadang berderit, sejarah pun tetap melaju meski sesekali manusia keliru menuliskan angka di batu peringatan. *** [150526]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami