The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Masjid Jamae (Chulia): Jejak Muslim Tamil dan Keindahan Arsitektur Warisan di Jantung Chinatown Singapura

Architecture is the very mirror of life. You only have to cast your eyes on buildings to feel the presence of the past, the spirit of a place; they are the reflection of society.” -- I. M. Pei

Masjid Jamae (Chulia) Singapura (Foto: Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

Di tengah hiruk-pikuk Chinatown Singapura, di persimpangan South Bridge Road dan Mosque Street, berdiri sebuah bangunan yang seolah menyimpan lapisan-lapisan sejarah kota pelabuhan itu. 

Dalam rangkaian Free Singapore Tour dari Bandara Changi, pemandu wisata memperkenalkan bangunan tersebut sebagai Jamae (Chulia) Mosque atau Masjid Jamae (Chulia), salah satu masjid tertua di Singapura yang hingga kini tetap menjadi penanda penting warisan multikultural negeri itu.

Masjid Jamae (Chulia) terletak di 218 South Bridge Road, tepat di jantung Chinatown yang bersejarah. Keberadaannya berdampingan dengan Kuil Sri Mariamman menghadirkan gambaran nyata tentang Singapura awal abad ke-19, yakni sebuah kota pelabuhan kosmopolitan tempat komunitas-komunitas pendatang hidup berdampingan, membawa bahasa, keyakinan, dan tradisi masing-masing.

Masjid ini dibangun antara tahun 1830 hingga 1835 oleh para migran Muslim Tamil dari India Selatan yang dikenal sebagai komunitas Chulia. Namun sejarahnya dipercaya lebih tua dari bangunan yang terlihat hari ini. 

Konon, sejak 1827 komunitas Muslim Tamil yang dipimpin Anser Saib telah mendirikan tempat ibadah di lokasi tersebut, berdampingan dengan makam keramat Muhammad Salih Valinvah yang sudah ada sebelumnya.

Nama “Chulia” sendiri merujuk pada komunitas Muslim Tamil dari Pantai Coromandel di India Selatan. Dalam sejarah migrasi Asia Selatan, istilah ini diyakini berasal dari kata “Chola”, nama kerajaan maritim Tamil besar yang pernah mengendalikan jalur perdagangan Samudra Hindia. 

Pada puncaknya di bawah Rajaraja I dan Rajendra Chola I pada abad ke-11, Kerajaan Chola bahkan menaklukkan Sriwijaya pada tahun 1025 M. Melalui perdagangan dan navigasi inilah diaspora Muslim Tamil tiba di Singapura pada tahun 1820-an.

Di era kolonial, Stamford Raffles melalui Rencana Kota 1822 membagi kawasan permukiman berdasarkan identitas etnis dan agama. Sebuah kawasan bernama “Chuliah Campg” ditandai sebagai permukiman bagi sekitar seribu Muslim Tamil di dekat Sungai Singapura. 

Kini wilayah itu diyakini berada di sekitar Cross Street, tak jauh dari Chinatown modern. Penempatan mereka di kawasan pelabuhan bukan tanpa alasan: komunitas Chulia dikenal aktif dalam jasa pengangkutan barang dan perdagangan maritim.

Dari komunitas kecil itulah lahir Masjid Jamae (Chulia), yang juga dikenal sebagai “Periya Palli” atau “Masjid Besar” dalam bahasa Tamil. Sejak awal, masjid ini dibangun melalui sistem wakaf, yaitu tanah dan properti disumbangkan demi kepentingan umat. 

Pendanaan berasal dari hasil sewa properti wakaf yang dikelola wali amanat keluarga dan komunitas. Pada akhir abad ke-19, pengelolaan masjid berada di tangan sejumlah wali amanat seperti Mohamed Syed bersama pengelola Dargah Nagore dan Masjid Al-Abrar. 

Setelah muncul berbagai persoalan administrasi, pemerintah kolonial membentuk Dewan Wakaf Muslim dan Hindu pada 1906. Pengelolaan itu kemudian berada di bawah MUIS (Majelis Ugama Islam Singapura) sejak 1968.

Meski beberapa rencana pembangunan ulang dan perluasan pernah diajukan - termasuk pada 1897, 1911, dan 1986 - wujud asli masjid tetap dipertahankan. Perbaikan besar dilakukan pada 1996, sementara status lahannya diperkuat melalui perpanjangan sewa selama 999 tahun pada 1981. Kini masjid berdiri di atas lahan seluas sekitar 4.809 meter persegi, tetap menjadi bagian penting dari lanskap heritage Singapura.

Keistimewaan utama Masjid Jamae terletak pada arsitekturnya yang eklektik. Gerbang depannya memperlihatkan pengaruh India Selatan yang kuat, yaitu sepasang menara bertingkat dengan kubah berbentuk bawang mengapit pintu masuk utama. Di antara kedua menara itu terdapat fasad dekoratif menyerupai istana miniatur empat tingkat, menghadirkan siluet yang khas di antara deretan bangunan Chinatown.

Namun begitu melangkah ke dalam, suasana berubah. Ruang salat tambahan memperlihatkan deretan kolom Tuscan bergaya Neo-Klasik, sementara ruang salat utama ditopang kolom-kolom Doric yang mengingatkan pada rancangan arsitektur kolonial karya George Drumgoole Coleman. 

Jendela-jendela besar dengan ubin glasir hijau Cina di bagian bawah memungkinkan sirkulasi udara alami, menciptakan kesejukan tropis di tengah kepadatan kota. Perpaduan unsur India Selatan, Eropa Neo-Klasik, dan sentuhan Tionghoa itu menjadikan Masjid Jamae (Chulia) sebagai cermin pertemuan budaya yang membentuk identitas Singapura.

Arsitektur masjid ini bukan sekadar estetika, melainkan rekaman sosial dari sebuah kota pelabuhan yang dibangun oleh para pendatang. Kutipan arsitek ternama Ieoh Ming Pei, FAIA, RIBA (lahir 26 April 1917), yang biasa dikenal sebagai I. M. Pei, adalah seorang arsitek Tionghoa-Amerika, terasa relevan ketika memandang bangunan ini: 

“Arsitektur adalah cermin kehidupan itu sendiri. Anda hanya perlu melihat bangunan untuk merasakan kehadiran masa lalu, semangat suatu tempat; bangunan adalah cerminan masyarakat.” 

Pada Masjid Jamae (Chulia), masa lalu itu hadir melalui perpaduan gaya bangunan, jejak perdagangan maritim, dan kisah diaspora Muslim Tamil yang menjadi bagian dari denyut awal Singapura.

Tak mengherankan bila sejak abad ke-19 bangunan ini kerap muncul dalam kartu pos dan foto-foto lama Singapura. Siluet gerbangnya yang ikonik telah lama menjadi landmark visual kota. Pada 19 November 1974, Masjid Jamae (Chulia) resmi ditetapkan sebagai monumen nasional Singapura. 

Ia diyakini sebagai masjid tertua di antara lima masjid nasional yang dilindungi negara: Masjid Jamae (Chulia), Masjid Al-Abrar, Masjid Sultan, Masjid Abdul Gafoor, dan Masjid Hajjah Fathimah.

Kini, fungsi Masjid Jamae (Chulia) tidak hanya sebagai tempat ibadah. Selain menyelenggarakan salat dan khutbah, masjid ini berkembang sebagai pusat pendidikan dan dialog lintas masyarakat. 

Seminar, diskusi sosial-keagamaan, hingga kegiatan untuk Muslim dan non-Muslim rutin digelar di sana untuk melanjutkan tradisi keterbukaan yang telah menjadi bagian dari sejarahnya sejak dua abad silam.

Di tengah modernitas Singapura yang terus bergerak cepat, Masjid Jamae (Chulia) tetap berdiri tenang. Menara berkubah bawangnya tidak hanya memanggil umat menuju ruang salat, tetapi juga mengingatkan bahwa sejarah sebuah kota sering kali tersimpan paling indah di dalam bangunan-bangunan tuanya. *** [100526]


Kepustakaan:

Cornelius-Takahama, V., & Tan, J. (n.d.). Jamae Mosque. National Library Singaporo. Retrieved May 04, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=53aebdc2-d0fb-423d-b12f-05b09ce40239

Masjid Jamae (Chulia) Singapore. (n.d.). History of this Mosque. Masjid Jamae (Chulia). Retrieved May 10, 2026, from http://www.masjidjamaechulia.sg/welcome/history

Mukhaer, A. A. (2023, October 08). Sejarah India: Kerajaan Chola yang Sempat Menguasai Sriwijaya - Semua halaman | National Geographic. National Geographic Indonesia. https://nationalgeographic.grid.id/read/133892737/sejarah-india-kerajaan-chola-yang-sempat-menguasai-sriwijaya?page=all

National Library Singapore. (n.d.). Chulias: Encyclopedia of Singapore Tamils. National Library Singapore. Retrieved May 10, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=8adca0bb-2918-4c19-8e91-d28199575b76



Share:

Bussorah Street, Jantung Lama Kampong Glam: Menyusuri Jejak Jawa, Islam, dan Warisan Melayu di Singapura

A street that you have never visited is a book that you have never read! You never know what you are missing!” -- Mehmet Murat Ildan

Transit 10 jam di Bandara Changi usai menghadiri Third Annual Symposium di Hyderabad (India) pada Ahad (14/12/2025) membawa personil Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) mengikuti Free Singapore Tour menuju Kampong Glam. 

Berbeda dengan Chinatown yang lekat dengan sejarah komunitas Tionghoa, Kampong Glam menghadirkan jejak panjang masyarakat Melayu-Muslim, Arab, India, Jawa, dan berbagai komunitas Asia lainnya yang membentuk wajah multikultural Singapura.

Di kawasan inilah berdiri Bussorah Street, jalan yang dahulu dianggap sebagai jantung Kampong Glam. Awalnya bernama Jalan Sultan, nama itu diubah pada 1910 menjadi Bussorah Street, merujuk pada sebuah kota Basra di Irak masa kini. Pergantian nama tersebut mencerminkan eratnya hubungan kawasan ini dengan dunia Islam dan jalur perdagangan Timur Tengah.

Dalam Kampong Glam: A Heritage Trail [1], Bussorah Street dahulu dikenal sebagai kawasan dengan komunitas Jawa yang kuat. Warga dari Sumatra, Banjar, Riau, Arab, India, Melayu, hingga Tionghoa hidup berdampingan di jalan ini. Kehidupan sosial masyarakatnya terkenal santun dan religius. Bahkan pada pertengahan abad ke-20, tamu dari luar kawasan diyakini tidak akan memasuki jalan ini tanpa penutup kepala sebagai bentuk penghormatan kepada adat setempat.

Semangat gotong royong menjadi bagian penting kehidupan warga. Saat ada pernikahan, kenduri, maupun pemakaman, seluruh tetangga saling membantu. Pengaruh budaya Jawa juga tampak dalam cara bertutur masyarakat yang dikenal lebih halus dan formal.

Kampong Glam Cafe di 17 Bussorah Street, Singapura (Foto: Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

Di tengah kehidupan itu berdiri Masjid Sultan yang menjadi pusat spiritual masyarakat Kampong Glam. Warga bersama-sama menjaga masjid tersebut, sementara Kepala Kadi Singapura pernah tinggal di kawasan ini dan mengumumkan awal Ramadan serta Hari Raya dari Bussorah Street.

Suasana paling hidup hadir ketika Ramadan tiba. Bussorah Street berubah menjadi pasar malam yang dipenuhi aroma kuliner khas Jawa-Melayu-Muslim. Berbagai makanan seperti nasi rawon, nasi jenganan, mee mydin, kuih lopis, hingga pulut urap dijajakan dari siang hingga malam. Hidangan-hidangan itu lahir dari kreativitas masyarakat mengolah bahan sederhana menjadi sajian penuh cita rasa.

Bussorah Street juga menjadi ruang tumbuh seni Melayu. Pada era 1940-an, seniman legendaris seperti P. Ramlee dan S. Roomai Noor datang ke kawasan ini untuk berlatih bersama kelompok orkes keroncong (gaya musik Indonesia yang menampilkan alat musik gesek keroncong) Kampong Glam. Jalan ini bahkan pernah menjadi lokasi pengambilan gambar film internasional dan film Melayu awal Singapura.

Kini Bussorah Street dipenuhi restoran, butik, dan kafe modern. Namun jejak masa lalu masih bertahan melalui warung teh India tua, pembuat songkok tradisional, hingga galeri seni Melayu yang tetap menjaga warisan budaya kawasan tersebut. Selain itu, juga terdapat Kampong Glam Café berada di ujung jalan Bussorah. Dulunya, bangunan kafe tersebut yang berupa rumah toko (shophouses) itu dulunya adalah Stasiun Radio Kampong Glam. Pada masa itu, umat Muslim yang ingin membeli peralatan listrik akan pergi ke sini.

Bagi Tim NIHR UB, Bussorah Street bukan sekadar jalan wisata menuju Masjid Sultan. Jalan ini adalah ruang hidup yang menyimpan kisah tentang budaya, agama, seni, dan solidaritas masyarakat Melayu-Muslim di Singapura.

Kunjungan singkat itu seolah menegaskan kutipan Mehmet Murat Ildan, penulis drama Turki:

“Jalan yang belum pernah Anda kunjungi adalah buku yang belum pernah Anda baca! Anda tidak pernah tahu apa yang Anda lewatkan!” 

Sebab di balik ramainya Kampong Glam hari ini, Bussorah Street tetap menyimpan lembaran penting sejarah dan warisan budaya Asia Tenggara. *** [090526]


Kepustakaan:

[1] Low, C.-A., Tan, D., Mohamed Tahir, I. bin, Chong Ming, L., Mohamad, S. H. B., & Chui Hua, T. (n.d.). Kampong Glam A Heritage Trail. National Heritage Board. Retrieved May 08, 2026, from https://www.nhb.gov.sg/~/media/nhb/files/places/trails/kampong glam/kgglamtrail.pdf



Share:

“Happy Home” di Kauman: Jejak Pelayanan dan Warisan Kolonial RSIA Mardi Waloeja Malang

"Architecture is the will of an epoch translated into space." -- Mies van der Rohe

Langkah kaki saya berhenti di sebuah bangunan tua di sudut Jalan Kauman, tak jauh dari hiruk pikuk pusat Kota Malang. Sore itu, Selasa (05/05), usai menuntaskan beberapa halaman novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati di Gramedia Basuki Rahmat, saya memilih berjalan kaki menyusuri ruas jalan lama yang masih menyimpan jejak kolonial. Di antara deretan pertokoan dan lalu lintas kota yang tak pernah benar-benar diam, sebuah gevel tua dengan tulisan “Happy Home” seolah memanggil untuk dikenang.

Bangunan itu berdiri di Jalan Kauman No. 23, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Sekilas, ia tampak tenang seperti rumah besar peninggalan masa lalu. Namun di balik dinding dan atap tuanya, tersimpan riwayat panjang pelayanan kesehatan yang telah hidup hampir satu abad lamanya.

Nama “Happy Home” bukan sekadar penanda bangunan. Ia merupakan jejak historis dari pelayanan kesehatan Kristen Malangsche Wijkverpleging Mardi Waloejo yang dirintis pada Agustus 1927 oleh J. Pik dan Suster E. Hulzebos di kawasan Temenggoengan Wetan. 

Seiring berkembangnya kebutuhan pelayanan medis bagi masyarakat Malang, lembaga itu kemudian berpindah ke Kaoemanstraat - kini Jalan Kauman - dan menempati bangunan yang kemudian dikenal sebagai “Happy Home”.

Di masa kolonial, istilah itu merujuk pada Huis van Geluk atau “Rumah Kebahagiaan”, sebuah tempat perawatan dan dukungan sosial bagi masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan kesehatan. Nama tersebut terasa begitu kontras dengan wajah kolonial yang kerap identik dengan kekuasaan. Namun justru dari bangunan inilah, layanan kesehatan untuk warga kecil pernah bertumbuh.

RSIA Mardi Waloeja Kauman Malang

Nama “Mardi Waloejo” sendiri berasal dari bahasa Jawa. Mardi berarti memperbaiki, mendidik, atau mengupayakan, sedangkan Waloejo bermakna sehat, sejahtera, dan bahagia. Sebuah nama yang sejak awal tampaknya dirancang bukan hanya untuk menyembuhkan tubuh, tetapi juga menghadirkan harapan hidup yang lebih baik.

Bangunan yang kini dikenal sebagai RSIA Mardi Waloeja Kauman itu didirikan pada 1933. Pada zamannya, keberadaannya menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan masyarakat Malang, khususnya bagi kalangan kurang mampu. 

Dalam catatan Arthur van Schaik (1996), Malangsche Wijkverpleging Mardi Waloejo pernah memiliki 36 tempat tidur serta sejumlah pusat konsultasi kesehatan, mulai dari layanan bayi hingga pengendalian tuberkulosis.

Meski kini berfungsi sebagai Rumah Sakit Ibu dan Anak, jejak arsitektur kolonialnya masih terasa kuat. Fasad bangunannya memperlihatkan gaya kolonial campuran atau eklektik, sebuah pendekatan arsitektur Hindia Belanda yang mulai mencoba beradaptasi dengan iklim dan kebudayaan lokal Nusantara.

Bangunan utama berbentuk persegi panjang dengan komposisi fasad yang simetris. Pada bagian depan tampak atap pelana dengan hiasan geveltoppen yang menyerupai bentuk grambel gable atau atap lumbung. Bentuk atap ini mudah dikenali dari dua kemiringan berbeda di setiap sisinya, dan bagian atas lebih landai, sedangkan bagian bawah lebih curam. Siluetnya memberi kesan megah sekaligus hangat, berbeda dari model bangunan kolonial murni Eropa.

Di belakang gevel utama, tampak sebuah dormer atau cerobong asap semu yang muncul dari atap perisai. Elemen ini lazim digunakan sebagai jalur sirkulasi udara dan pencahayaan alami untuk penyesuaian penting bagi bangunan tropis di Hindia Belanda kala itu. Detail-detail kecil semacam inilah yang membuat bangunan tua tidak sekadar indah dipandang, tetapi juga menyimpan kecerdasan arsitektural zamannya.

Arsitek modern Ludwig Mies van der Rohe (1886-1969) asal Jerman, pernah berkata:

"Arsitektur adalah kehendak suatu zaman yang diterjemahkan ke dalam ruang." 

Kutipan itu terasa hidup ketika memandangi RSIA Mardi Waloeja Kauman (Mardika) hari ini. Bangunan yang lahir dari masa kolonial itu tidak berhenti menjadi monumen masa lalu, melainkan terus menjalankan fungsi sosialnya hingga kini.

Pada 2004, lembaga ini resmi berstatus sebagai RSIA Mardika, lalu sejak 2013 pengelolaannya terpisah dari kompleks Mardi Waloeja Rampal. Di bawah Yayasan Kesehatan Gereja Kristen Jawi Wetan, rumah sakit ini terus berkembang dan memperoleh akreditasi pada 2019. 

Salah satu layanan khasnya adalah perawatan bayi berat lahir rendah dengan metode kanguru, sebuah pendekatan medis yang menekankan kedekatan dan kehangatan antara ibu dan bayi.

Di tengah kota yang terus berubah, bangunan “Happy Home” masih berdiri dengan tenang. Ia bukan hanya saksi perkembangan layanan kesehatan di Malang, melainkan juga penanda bagaimana warisan arsitektur kolonial dapat tetap hidup tanpa kehilangan makna sosialnya. 

Dari gevel tua bertuliskan “Happy Home”, kita seperti diingatkan bahwa sebuah bangunan bukan sekadar susunan bata dan atap, melainkan ruang tempat ingatan, pelayanan, dan kemanusiaan terus bertahan melampaui zaman. *** [070526]


Kepustakaan:

Esther, N. (2022, October 31). Arsitektur Kolonialisme di Indonesia. Himpunan Mahasiswa Arsitektur BINUS University. https://student-activity.binus.ac.id/himars/2022/10/31/arsitektur-kolonialisme-di-indonesia/

Schaik, A. van. (1996). Malang: Beeld van een stad (p. 160). Purmerend: Asia Maior. https://drive.google.com/file/d/11SL1dwdjvw9WnciTP5vSJtKlHtG-Xoqm/view

tppmardikamalang. (2025, July 03). Profil RSIA Mardi Waloeja Kauman Malang. Scribd. https://id.scribd.com/document/883747300/Company-Profile



Share:

People’s Park Complex: Mutiara Urban di Antara Lorong Chinatown

Architecture is a visual art and the buildings speak for themselves” – Julia Morgan

Keluar dari Chinatown Heritage Centre, langkah kaki seolah belum ingin beranjak jauh dari riuh sejarah Chinatown atau Pecinan di Singapura. Pemandu Free Singapore Tour mengajak menyusuri lorong-lorong yang masih menyimpan denyut lama kota. Di persimpangan Trengganu Street dan Temple Street, pandangan tiba-tiba tertarik ke arah barat laut, sebuah gedung menjulang, tegas, dan tak terbantahkan kehadirannya.

Dari arah Rest Chinatown Hotel, bangunan itu tampak mendominasi cakrawala dengan warna merah yang mencolok. Pada fasadnya, tiga aksara Tionghoa (hanzi) berukuran besar - 珍珠房 - menjadi penanda yang tak mungkin terlewat. 

Dibaca Zhēnzhū fáng, istilah ini memuat makna puitis, yaitu zhēnzhū berarti mutiara, sementara fáng dapat dimaknai sebagai rumah atau ruang. Sebuah “rumah mutiara” - metafora yang terasa tepat bagi bangunan yang memantulkan begitu banyak fungsi dan kehidupan di dalamnya.

Namun, bagi kebanyakan orang, gedung ini lebih dikenal sebagai People’s Park Complex, atau Kompleks Taman Rakyat. Nama yang sederhana, tetapi menyimpan lapisan sejarah urban yang kompleks.

Menurut catatan National Library Singapore [1], kompleks ini rampung pada 1973, berdiri setinggi 102,7 meter di atas lahan sekitar satu hektar. Pada masanya, ia bukan sekadar bangunan tinggi melainkan sebuah eksperimen kota. Inilah pusat perbelanjaan terbesar di Singapura kala itu, sekaligus pelopor konsep atrium terbuka pertama yang disebut sebagai “ruang kota” di dalam bangunan.

Gedung People's Park Complex yang ikonik di Chinatown dilihat dari pertemuan antara Trengganu Street dan Tempel Street, atau dari depan Rest Chinatown Hotel (Sumber: Potret dari Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

Konsepnya terinspirasi oleh gagasan Metabolist Movement dari Jepang, sebuah visi arsitektur yang memandang kota sebagai organisme hidup yang dapat tumbuh dan beradaptasi. 

Di tangan para arsitek seperti William Lim, Koh Seow Chuan, dan Tay Kheng Soon dari Design Partnership, visi itu diterjemahkan menjadi struktur bergaya Brutalism, dengan garis tegas, beton ekspos, dan komposisi geometris yang jujur.

Di sinilah gagasan “kota vertikal” mulai berdenyut. Podium ritel, ruang kantor, hingga apartemen 25 lantai disatukan dalam satu tubuh bangunan yang menantang konsep zonasi tunggal yang lazim saat itu. 

Sebuah “jalan di udara” (street in the air) tercipta, menggemakan pengaruh pemikiran Le Corbusier. Bahkan arsitek Jepang Fumihiko Maki pernah memuji kompleks ini sebagai realisasi nyata dari teori urban yang selama ini hanya hidup dalam gagasan.

Namun sebelum menjadi ikon modern, lahan ini pernah berfungsi sebagai taman publik, lalu berubah menjadi Pasar Taman Rakyat, hingga akhirnya dilalap kebakaran besar pada 1966. 

Dari abu itulah pembangunan dimulai kembali pada 1967, melalui program penjualan lahan pemerintah. Podium dibuka pada 1970, disusul menara hunian tiga tahun kemudian. Dibangun oleh Low Keng Huat dengan biaya sekitar S$12 juta, perjalanan awalnya pun tidak mulus di man pernah terjadi pemadaman listrik dan getaran sempat menjadi persoalan.

Meski demikian, tidak seperti proyek saudaranya, Katong People’s Complex, yang kehilangan relevansi dan akhirnya dijual, People’s Park Complex tetap bertahan sebagai jangkar identitas Chinatown. Berdiri di antara Eu Tong Sen Street dan New Bridge Road, ia menjadi penanda visual sekaligus sosial.

Kini, akses menuju kompleks ini begitu mudah. Ia hanya sepelemparan batu dari Chinatown MRT Station, serta dekat dengan Outram Park MRT Station dan Clarke Quay MRT Station. Terhubung pula dengan jaringan jalan utama seperti AYE, CTE, dan MCE, menjadikannya simpul mobilitas yang efisien di jantung kota.

Namun lebih dari sekadar lokasi strategis atau inovasi arsitektur, People’s Park Complex adalah narasi tentang transformasi tentang bagaimana ruang publik, perdagangan, dan kehidupan urban berkelindan dalam satu struktur. Ia adalah mutiara yang terbentuk dari tekanan sejarah dan ambisi modernitas.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Julia Hunt Morgan (1872–1957), arsitek wanita pelopor California di Amerika Serikat: 

“Arsitektur adalah seni visual dan bangunan-bangunan itu berbicara sendiri.”

Dan di sudut Chinatown ini, People’s Park Complex masih terus berbicara, tentang masa lalu yang terbakar, masa depan yang dibayangkan, dan masa kini yang tetap hidup di antara keduanya. *** [050526]


Kepustakaan:

[1] Lee Hong Hwee, M. (n.d.). People’s Park Complex. National Library Singapore. Retrieved May 04, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=3cc85ca4-650c-47be-b933-ed3241f93e38



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami