“It has been said that, at its best, preservation engages the past in a conversation with the present over a mutual concern for the future.” -- William J. Murtagh
![]() |
| Fasad Istana Niat Lima Laras di Jalan Rakyat, Kampung Bagak, Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara (Foto: Hendrik Nugroho/27/01/2026) |
Di tengah kesibukannya mengurus izin penelitian pendidikan anak usia dini (PAUD), Hendrik menyempatkan waktu untuk memotret istana warisan budaya yang berdiri di Jalan Rakyat, Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara.
Lokasinya tak jauh dari denyut kehidupan masyarakat, yaitu sekitar 110 meter dari Masjid Al Mukarram. Namun, berbeda dengan hiruk-pikuk sekitarnya, Istana Niat Lima Laras justru tampak sunyi. Catnya memudar, sebagian struktur terlihat rapuh, seolah menanggung beban usia dan lupa. Padahal, bangunan ini merupakan ikon penting peninggalan sejarah Suku Melayu Pesisir Batu Bara.
Sejarah mencatat, Istana Lima Laras telah ada sejak sekitar abad ke-18. Namun, wujud megah seperti yang terlihat sekarang merupakan hasil prakarsa Datuk Mad Yuda, Datuk terakhir Kedatuan Lima Laras. Pembangunannya dimulai pada tahun 1907 dan rampung lima tahun kemudian, pada 1912, dengan biaya yang fantastis pada masanya, yaitu sekitar 150.000 Gulden. Untuk mewujudkan kemegahan itu, Datuk Mad Yuda bahkan mendatangkan ahli bangunan dari Tiongkok.
Nama “Niat” bukan sekadar hiasan. Istana ini lahir dari sebuah nazar. Konon, Datuk Mad Yuda berjanji bahwa jika perjalanannya berdagang ke Penang mendatangkan keuntungan besar, ia akan membangun istana megah sebagai bentuk cinta dan penghormatan kepada para istrinya. Sebuah niat personal yang kemudian menjelma menjadi warisan sejarah kolektif.
Selama masa kejayaannya, diperkirakan ada 12 Datuk yang pernah memerintah dari istana ini. Kompleks Istana Niat Lima Laras berdiri di atas lahan seluas satu hektar, berbatasan dengan sungai dan jalan menuju Tanjung Tiram di sisi utara, perkebunan kelapa sawit di selatan, serta permukiman warga di sisi timur dan barat.
Di dalamnya terdapat tiga bangunan utama, yakni bangunan istana, tempat menenun, dan bangunan kamar mandi. Menariknya, tiga sumur tua di sekitar kompleks masih digunakan masyarakat hingga kini, yang menjadi sebuah bukti bahwa warisan masa lalu masih menyatu dengan kehidupan hari ini.
Arsitektur istana ini memadukan gaya Eropa, Cina, dan Melayu. Pilar-pilar tinggi, jendela besar, dan tata ruangnya mencerminkan kemakmuran para penghuninya di masa lalu. Namun, sejarah tak selalu berjalan ramah.
Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, istana ini sempat dikuasai Nippon. Beberapa tahun kemudian, saat Agresi Militer Belanda I (1946–1947), istana justru menjadi markas pertahanan para pejuang lokal. Kedatuan Lima Laras, yang menolak kolonialisme Belanda, rela menjadikan simbol kebanggaannya sebagai basis perjuangan.
Pasca-kemerdekaan, nasib istana perlahan meredup. Kerusakan mulai muncul di berbagai bagian bangunan. Keluarga Kedatuan Lima Laras satu per satu meninggalkan istana demi mencari penghidupan lain.
Pada 1948, bangunan ini sempat ditempati Angkatan Udara di bawah komando Mayor Dahrif Nasution. Namun setelah kondisi kembali kondusif, istana kembali kosong. Memasuki era 1970-an, kondisinya dinilai sudah tak layak huni. Sejak saat itu hingga kini, Istana Niat Lima Laras berdiri tanpa penghuni alias sekadar menjadi saksi bisu sejarah dan tujuan wisata yang terlupakan.
Padahal, seperti yang diungkapkan pakar pelestarian Amerika William J. Murtagh dalam Keeping Time: The History and Theory of Preservation in America (1988):
“Telah dikatakan bahwa, pada kondisi terbaiknya, pelestarian melibatkan masa lalu dalam percakapan dengan masa kini mengenai kepedulian bersama terhadap masa depan.”
Kutipan ini terasa relevan ketika menatap Istana Niat Lima Laras hari ini. Bangunan ini bukan sekadar tumpukan kayu dan batu tua, melainkan ruang dialog antara sejarah, identitas, dan tanggung jawab generasi sekarang.
Tanpa upaya renovasi dan revitalisasi yang serius, Istana Niat Lima Laras berisiko kehilangan maknanya. Bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai penanda perjalanan panjang masyarakat Melayu Batu Bara.
Merawatnya berarti menjaga ingatan kolektif, sekaligus membuka peluang menjadikannya pusat edukasi dan wisata sejarah yang hidup. Sayang sekali jika warisan sebesar ini dibiarkan terus menua dalam diam. *** [280126]
Kepustakaan:
Ela, Novita Sari (2023) PERANCANGAN MEDIA INFORMASI TENTANG SEJARAH BANGUNAN ISTANA NIAT LIMA LARAS SEBAGAI UPAYA REVITALISASI PENINGGALAN SEJARAH MELAYU PESISIR KABUPATEN BATU BARA SUMATERA UTARA. Strata thesis, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. https://repository.isi-padangpanjang.ac.id/2076/
Putri, Indah R., Achiriah, Azhar, A.A. (2020). Pola Arsitektur Bangunan Istana Niat Lima Laras di Kabupaten Batu Bara. Warisan: Journal of History and Cultural Heritage. 1(2), 61-68. https://doi.org/10.34007/warisan.v1i2.522
William J. Murtagh, Keeping Time: The History and Theory of Preservation in America (New York: Sterling Publishing Co., Inc., 1988), p. 168.

















