Pada Kamis malam, 19 Februari, pukul 22.58 WIB, sebuah foto sederhana beranda media sosial mendadak menjelma jendela waktu. Seorang enumerator SurveyMETER, Hendrik Nugroho, S.E., yang tengah bertugas melakukan survei PAUD mengunggah gambar Stasiun Kereta Api Tanjungbalai yang dipotret pada siang harinya.
Di bawah bayang-bayang pohon besar menjulang, bangunan tua itu tampak teduh, seolah menyimpan riwayat panjang tentang rel, pelabuhan, dan geliat perkebunan di pesisir timur Sumatera.
Stasiun yang berkode TNB ini berdiri di Tanjungbalai Kota IV, Tanjungbalai Utara, pada ketinggian +2,87 meter di atas permukaan laut. Ia tergolong stasiun kelas II dan berada dalam wilayah kerja Divisi Regional I Sumatera Utara dan Aceh. Kini, ia dikenal sebagai stasiun aktif yang terletak di ujung lintasan, sebuah terminus yang tenang, tempat perjalanan seakan berhenti sejenak sebelum kembali pulang.
Namun ketenangan itu lahir dari denyut sejarah yang panjang. Bangunan stasiun ini merupakan warisan era Hindia Belanda, dibangun seiring pembukaan jalur rel sepanjang 141 kilometer yang menghubungkan Bamban–Rantau Laban–Kisaran–Tanjungbalai–Teluk Nibung.
![]() |
| Fasad Stasiun Tanjungbalai (Foto: Hendrik Nugroho/19-02-2026) |
Lintasan Bamban–Rantau Laban dilaksanakan lebih dahulu pengerjaannya, dari tahun 1901–1903. Menyusul kemudian Rantau Laban–Tanjungbalai yang dikerjakan pada 1912–1915, dan rel Tanjungbalai–Teluk Nibung yang diselesaikan hingga 1918. Tepat pada 6 Agustus 1915, Stasiun Tanjungbalai diresmikan, menjadi simpul penting yang menghubungkan kebun dengan pelabuhan.
Di balik rel-rel itu, tersimpan kepentingan ekonomi kolonial. Jalur kereta di pesisir timur Sumatra lahir dari desakan para pengusaha perkebunan di tanah Deli. Sejak 1881, manajer Deli Maatschappij menggagas pembangunan rel yang menghubungkan kebun-kebun tembakau, karet, dan kelapa sawit dengan pelabuhan ekspor. Gagasan tersebut mendapat dukungan para anggota Deli Planters Vereeniging, asosiasi pemilik perkebunan Deli.
Pada 1883, sejumlah perusahaan perkebunan membentuk DSM untuk mewujudkan cita-cita jalur besi di Sumatera Timur. Sejak akhir 1883, rel demi rel mulai dibentangkan, hingga pada 1937 jaringan itu telah menyambung Medan sampai Rantau Prapat sebagai urat nadi distribusi komoditas menuju Eropa melalui Pelabuhan Teluk Nibung.
![]() |
| Halaman parkir yang luas di Stasiun Tanjungbalai (Foto: Hendrik Nugroho/19-02-2026) |
Karena tak memiliki depo lokomotif, setiap kereta yang tiba dan menurunkan penumpang di sini akan kembali bergerak ke Kisaran untuk bermalam. Esok hari, ia datang lagi untuk mengulang ritme yang sama, seperti napas panjang yang teratur.
Di tengah arus modernisasi transportasi, Stasiun Tanjungbalai tetap berdiri dengan wajah kolonialnya yang bersahaja. Dinding-dindingnya bukan sekadar bata dan semen, melainkan saksi bisu perjalanan komoditas, ambisi ekonomi, dan mobilitas manusia selama lebih dari satu abad.
Foto yang diunggah pada malam itu mungkin hanya sekejap lintasan di linimasa, tetapi bangunan ini menyimpan rentang waktu yang jauh lebih panjang tentang bagaimana rel-rel besi pernah mengubah wajah pesisir timur Sumatera. *** [210226]
Kepustakaan:
Indera. (2006). “Diversifikasi Usaha Deli Spoorweg Maatschappij: Studi Sejarah Perusahaan di Sumatera Timur, 1883-1940”. Makalah disampaikan dalam Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta, 14-17 November 2006.
Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V.
Rivai, M., Damanik, E. L., Lubis, H. S. D., & Harahap, A. (2022). Railway Transport Development in East Sumatra, 1880s-1930s. ICIESC. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.4108/eai.11-10-2022.2325400















