The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Stasiun Sei Bejangkar dan Riwayat Rel di Pesisir Timur Sumatra

Stasiun Sei Bejangkar (Foto: Hendrik Nugroho/25-02-2026)

Rabu siang (25/02), pukul 12.46 WIB, sebuah foto muncul ke layar ponsel saya. Dikirim lewat WhatsApp oleh Hendrik Nugroho, S.E., enumerator SurveyMETER yang tengah bertugas survei PAUD di Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara. 

Di balik foto itu berdiri tenang sebuah stasiun kecil bernama Stasiun Kereta Api Sei Bejangkar, sebuah bangunan lawas yang seakan memanggil ingatan pada masa ketika rel-rel besi menjadi nadi utama perkebunan di pesisir timur Sumatra.

Terletak di Desa Sei Bejangkar, Kecamatan Sei Balai, Kabupaten Batu Bara atau tepatnya berada di depan Kantor Pos Cabang Sei Bejangkar, stasiun berketinggian +9,30 meter ini tergolong stasiun kelas III/kecil dan berada dalam wilayah kerja Divisi Regional I Sumatra Utara dan Aceh. Secara geografis, ia menjadi stasiun paling selatan di Kabupaten Batu Bara, yang menjadi sebuah penanda sunyi di jalur yang pernah begitu sibuk.

Bangunannya merupakan peninggalan masa Hindia Belanda. Ia lahir bersamaan dengan pembangunan jalur rel Bamban–Rantau Laban–Kisaran–Tanjungbalai–Teluk Nibung sepanjang 141 kilometer, proyek ambisius yang digarap oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). 

DSM sendiri adalah perusahaan kereta api swasta yang beroperasi di sekitar pesisir timur Sumatra, terutama wilayah Deli (Medan), dan menjadi motor penggerak infrastruktur rel sejak awal abad ke-20.

Pengerjaan lintasan tersebut dilakukan bertahap dalam proyek besar jalur Timur Sumatra kategori spoorweg 2e klasse. Segmen Bamban–Rantau Laban dibangun antara 20 September 1901 hingga 2 Maret 1903. Lalu Rantau Laban–Tanjungbalai dikerjakan dari 14 September 1912 sampai 6 Agustus 1915. Adapun jalur Tanjungbalai–Teluk Nibung dirampungkan pada 1 Februari 1918. 

Tepat pada 6 Agustus 1915, bersamaan dengan peresmian jalur Rantau Laban–Tanjungbalai, Stasiun Sei Bejangkar resmi dibuka dan menjadi simpul kecil dalam jaringan rel kolonial yang terus merambat ke selatan.

Namun rel-rel ini tak sekadar proyek transportasi. Ia adalah jawaban atas desakan para pengusaha perkebunan di tanah Deli. Sejak akhir abad ke-19, geliat ekonomi perkebunan, seperti kelapa sawit, karet, dan tembakau, yang menuntut akses cepat menuju pelabuhan ekspor, terutama Teluk Nibung. 

Pada 1881, manajer Deli Maatschappij menggagas pembangunan jalur kereta api penghubung kebun dan pelabuhan. Gagasan itu disokong para pemilik kebun yang tergabung dalam Deli Planters Vereeniging, hingga akhirnya pada pertengahan 1883 lahirlah DSM untuk merealisasikan pembangunan rel di Sumatera Timur.

Sejak dimulai pada akhir 1883, jaringan rel DSM berkembang pesat. Pada 1937, lintasannya telah membentang dari Medan hingga Rantau Prapat, mengikat kawasan-kawasan perkebunan dengan pelabuhan ekspor. 

Di tengah arus liberalisasi perdagangan pasca 1870, ketika kebijakan tanam paksa dihapus dan diganti sistem swasta, perkebunan di Sei Bejangkar pun berkembang. Wilayah ini menjelma sentra produksi karet dan tembakau yang digerakkan tenaga kuli kontrak, menjadi bagian dari mata rantai ekonomi global yang terhubung oleh rel baja.

Stasiun Sei Bejangkar sendiri dahulu memiliki empat jalur. Jalur 2 merupakan sepur lurus, sementara jalur 4 adalah sepur badug, yakni jalur buntu tempat rangkaian berhenti. Kini, jalur 3 dan 4 telah dibongkar, menyisakan dua jalur aktif. Dari arah barat, rel menghubungkannya ke Stasiun Lima Puluh; ke arah timur dan selatan, rel membawa perjalanan menuju Stasiun Tebing Tinggi.

Meski usia bangunannya telah melampaui satu abad, denyut kehidupan belum benar-benar padam. Penumpang masih naik dan turun di peronnya yang sederhana. Kereta ekonomi KA Putri Deli tetap singgah, menghubungkan Medan dan Tanjungbalai, seolah menjaga kesinambungan antara masa lalu dan masa kini.

Foto yang saya terima siang itu bukan sekadar gambar bangunan tua. Ia adalah potret tentang bagaimana sejarah ekonomi kolonial, geliat perkebunan, dan perkembangan transportasi modern bertemu dalam satu lanskap kecil di Kabupaten Batu Bara. 

Stasiun Sei Bejangkar mungkin hanya stasiun kelas III, tetapi dari peronnya yang sunyi, kita bisa mendengar gema panjang perjalanan Sumatera: tentang rel, tentang kebun, dan tentang manusia-manusia yang pernah menggantungkan harapan pada bunyi peluit kereta. *** [250226]


Kepustakaan:

Indera. (2006). “Diversifikasi Usaha Deli Spoorweg Maatschappij: Studi Sejarah Perusahaan di Sumatera Timur, 1883-1940”. Makalah disampaikan dalam Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta, 14-17 November 2006.

Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V.

Rivai, M., Damanik, E. L., Lubis, H. S. D., & Harahap, A. (2022). Railway Transport Development in East Sumatra, 1880s-1930s. ICIESC. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.4108/eai.11-10-2022.2325400



Share:

Di Ujung Rel Pesisir Timur Sumatera: Jejak Sejarah di Stasiun Kereta Api Tanjungbalai

Pada Kamis malam, 19 Februari, pukul 22.58 WIB, sebuah foto sederhana beranda media sosial mendadak menjelma jendela waktu. Seorang enumerator SurveyMETER, Hendrik Nugroho, S.E., yang tengah bertugas melakukan survei PAUD mengunggah gambar Stasiun Kereta Api Tanjungbalai yang dipotret pada siang harinya. 

Di bawah bayang-bayang pohon besar menjulang, bangunan tua itu tampak teduh, seolah menyimpan riwayat panjang tentang rel, pelabuhan, dan geliat perkebunan di pesisir timur Sumatera.

Stasiun yang berkode TNB ini berdiri di Tanjungbalai Kota IV, Tanjungbalai Utara, pada ketinggian +2,87 meter di atas permukaan laut. Ia tergolong stasiun kelas II dan berada dalam wilayah kerja Divisi Regional I Sumatera Utara dan Aceh. Kini, ia dikenal sebagai stasiun aktif yang terletak di ujung lintasan, sebuah terminus yang tenang, tempat perjalanan seakan berhenti sejenak sebelum kembali pulang.

Namun ketenangan itu lahir dari denyut sejarah yang panjang. Bangunan stasiun ini merupakan warisan era Hindia Belanda, dibangun seiring pembukaan jalur rel sepanjang 141 kilometer yang menghubungkan Bamban–Rantau Laban–Kisaran–Tanjungbalai–Teluk Nibung. 

Fasad Stasiun Tanjungbalai (Foto: Hendrik Nugroho/19-02-2026)

Proyek ambisius tersebut digarap oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), perusahaan kereta api swasta yang beroperasi di pesisir timur Sumatra, terutama kawasan Deli (Medan). Pembangunan dimulai pada 1903 dan rampung pada 1918, sebagai bagian dari proyek besar jalur Timur Sumatera kategori spoorweg 2e klasse yang dikerjakan bertahap.

Lintasan Bamban–Rantau Laban dilaksanakan lebih dahulu pengerjaannya, dari tahun 1901–1903. Menyusul kemudian Rantau Laban–Tanjungbalai yang dikerjakan pada 1912–1915, dan rel Tanjungbalai–Teluk Nibung yang diselesaikan hingga 1918. Tepat pada 6 Agustus 1915, Stasiun Tanjungbalai diresmikan, menjadi simpul penting yang menghubungkan kebun dengan pelabuhan.

Di balik rel-rel itu, tersimpan kepentingan ekonomi kolonial. Jalur kereta di pesisir timur Sumatra lahir dari desakan para pengusaha perkebunan di tanah Deli. Sejak 1881, manajer Deli Maatschappij menggagas pembangunan rel yang menghubungkan kebun-kebun tembakau, karet, dan kelapa sawit dengan pelabuhan ekspor. Gagasan tersebut mendapat dukungan para anggota Deli Planters Vereeniging, asosiasi pemilik perkebunan Deli. 

Pada 1883, sejumlah perusahaan perkebunan membentuk DSM untuk mewujudkan cita-cita jalur besi di Sumatera Timur. Sejak akhir 1883, rel demi rel mulai dibentangkan, hingga pada 1937 jaringan itu telah menyambung Medan sampai Rantau Prapat sebagai urat nadi distribusi komoditas menuju Eropa melalui Pelabuhan Teluk Nibung.

Halaman parkir yang luas di Stasiun Tanjungbalai (Foto: Hendrik Nugroho/19-02-2026)

Kini, Stasiun Tanjungbalai memiliki tiga jalur. Jalur 1 menjadi sepur lurus menuju barat, ke arah Kisaran. Jalur 2 dan 3 difungsikan sebagai jalur persilangan atau langsiran. Dahulu, dari jalur 1 terdapat percabangan menuju Teluk Nibung, tetapi jejak itu telah lama hilang. Percabangan yang lenyap membuat stasiun ini seolah benar-benar berada di ujung cerita.

Karena tak memiliki depo lokomotif, setiap kereta yang tiba dan menurunkan penumpang di sini akan kembali bergerak ke Kisaran untuk bermalam. Esok hari, ia datang lagi untuk mengulang ritme yang sama, seperti napas panjang yang teratur.

Di tengah arus modernisasi transportasi, Stasiun Tanjungbalai tetap berdiri dengan wajah kolonialnya yang bersahaja. Dinding-dindingnya bukan sekadar bata dan semen, melainkan saksi bisu perjalanan komoditas, ambisi ekonomi, dan mobilitas manusia selama lebih dari satu abad. 

Foto yang diunggah pada malam itu mungkin hanya sekejap lintasan di linimasa, tetapi bangunan ini menyimpan rentang waktu yang jauh lebih panjang tentang bagaimana rel-rel besi pernah mengubah wajah pesisir timur Sumatera. *** [210226]


Kepustakaan:

Indera. (2006). “Diversifikasi Usaha Deli Spoorweg Maatschappij: Studi Sejarah Perusahaan di Sumatera Timur, 1883-1940”. Makalah disampaikan dalam Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta, 14-17 November 2006.

Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V.

Rivai, M., Damanik, E. L., Lubis, H. S. D., & Harahap, A. (2022). Railway Transport Development in East Sumatra, 1880s-1930s. ICIESC. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.4108/eai.11-10-2022.2325400



Share:

Istana Niat Lima Laras: Jejak Kejayaan Melayu yang Kini Menunggu Uluran Zaman

It has been said that, at its best, preservation engages the past in a conversation with the present over a mutual concern for the future.” -- William J. Murtagh

Fasad Istana Niat Lima Laras di Jalan Rakyat, Kampung Bagak, Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara (Foto: Hendrik Nugroho/27/01/2026)

Siang itu, Selasa (27/01), sekitar pukul 16.30 WIB, sebuah unggahan sederhana di Facebook menarik perhatian. Hendrik Nugroho, S.E., enumerator SurveyMETER yang sedang bekerja di Sumatera Utara, membagikan foto sebuah bangunan tua yang megah: Istana Niat Lima Laras

Di tengah kesibukannya mengurus izin penelitian pendidikan anak usia dini (PAUD), Hendrik menyempatkan waktu untuk memotret istana warisan budaya yang berdiri di Jalan Rakyat, Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara.

Lokasinya tak jauh dari denyut kehidupan masyarakat, yaitu sekitar 110 meter dari Masjid Al Mukarram. Namun, berbeda dengan hiruk-pikuk sekitarnya, Istana Niat Lima Laras justru tampak sunyi. Catnya memudar, sebagian struktur terlihat rapuh, seolah menanggung beban usia dan lupa. Padahal, bangunan ini merupakan ikon penting peninggalan sejarah Suku Melayu Pesisir Batu Bara.

Sejarah mencatat, Istana Lima Laras telah ada sejak sekitar abad ke-18. Namun, wujud megah seperti yang terlihat sekarang merupakan hasil prakarsa Datuk Mad Yuda, Datuk terakhir Kedatuan Lima Laras. Pembangunannya dimulai pada tahun 1907 dan rampung lima tahun kemudian, pada 1912, dengan biaya yang fantastis pada masanya, yaitu sekitar 150.000 Gulden. Untuk mewujudkan kemegahan itu, Datuk Mad Yuda bahkan mendatangkan ahli bangunan dari Tiongkok.

Nama “Niat” bukan sekadar hiasan. Istana ini lahir dari sebuah nazar. Konon, Datuk Mad Yuda berjanji bahwa jika perjalanannya berdagang ke Penang mendatangkan keuntungan besar, ia akan membangun istana megah sebagai bentuk cinta dan penghormatan kepada para istrinya. Sebuah niat personal yang kemudian menjelma menjadi warisan sejarah kolektif.

Selama masa kejayaannya, diperkirakan ada 12 Datuk yang pernah memerintah dari istana ini. Kompleks Istana Niat Lima Laras berdiri di atas lahan seluas satu hektar, berbatasan dengan sungai dan jalan menuju Tanjung Tiram di sisi utara, perkebunan kelapa sawit di selatan, serta permukiman warga di sisi timur dan barat. 

Di dalamnya terdapat tiga bangunan utama, yakni bangunan istana, tempat menenun, dan bangunan kamar mandi. Menariknya, tiga sumur tua di sekitar kompleks masih digunakan masyarakat hingga kini, yang menjadi sebuah bukti bahwa warisan masa lalu masih menyatu dengan kehidupan hari ini.

Arsitektur istana ini memadukan gaya Eropa, Cina, dan Melayu. Pilar-pilar tinggi, jendela besar, dan tata ruangnya mencerminkan kemakmuran para penghuninya di masa lalu. Namun, sejarah tak selalu berjalan ramah. 

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, istana ini sempat dikuasai Nippon. Beberapa tahun kemudian, saat Agresi Militer Belanda I (1946–1947), istana justru menjadi markas pertahanan para pejuang lokal. Kedatuan Lima Laras, yang menolak kolonialisme Belanda, rela menjadikan simbol kebanggaannya sebagai basis perjuangan.

Pasca-kemerdekaan, nasib istana perlahan meredup. Kerusakan mulai muncul di berbagai bagian bangunan. Keluarga Kedatuan Lima Laras satu per satu meninggalkan istana demi mencari penghidupan lain. 

Pada 1948, bangunan ini sempat ditempati Angkatan Udara di bawah komando Mayor Dahrif Nasution. Namun setelah kondisi kembali kondusif, istana kembali kosong. Memasuki era 1970-an, kondisinya dinilai sudah tak layak huni. Sejak saat itu hingga kini, Istana Niat Lima Laras berdiri tanpa penghuni alias sekadar menjadi saksi bisu sejarah dan tujuan wisata yang terlupakan.

Padahal, seperti yang diungkapkan pakar pelestarian Amerika William J. Murtagh dalam Keeping Time: The History and Theory of Preservation in America (1988): 

“Telah dikatakan bahwa, pada kondisi terbaiknya, pelestarian melibatkan masa lalu dalam percakapan dengan masa kini mengenai kepedulian bersama terhadap masa depan.” 

Kutipan ini terasa relevan ketika menatap Istana Niat Lima Laras hari ini. Bangunan ini bukan sekadar tumpukan kayu dan batu tua, melainkan ruang dialog antara sejarah, identitas, dan tanggung jawab generasi sekarang.

Tanpa upaya renovasi dan revitalisasi yang serius, Istana Niat Lima Laras berisiko kehilangan maknanya. Bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai penanda perjalanan panjang masyarakat Melayu Batu Bara. 

Merawatnya berarti menjaga ingatan kolektif, sekaligus membuka peluang menjadikannya pusat edukasi dan wisata sejarah yang hidup. Sayang sekali jika warisan sebesar ini dibiarkan terus menua dalam diam. *** [280126]


Kepustakaan:

Ela, Novita Sari (2023) PERANCANGAN MEDIA INFORMASI TENTANG SEJARAH BANGUNAN ISTANA NIAT LIMA LARAS SEBAGAI UPAYA REVITALISASI PENINGGALAN SEJARAH MELAYU PESISIR KABUPATEN BATU BARA SUMATERA UTARA. Strata thesis, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. https://repository.isi-padangpanjang.ac.id/2076/

Putri, Indah R., Achiriah, Azhar, A.A. (2020). Pola Arsitektur Bangunan Istana Niat Lima Laras di Kabupaten Batu Bara. Warisan: Journal of History and Cultural Heritage. 1(2), 61-68. https://doi.org/10.34007/warisan.v1i2.522

William J. Murtagh, Keeping Time: The History and Theory of Preservation in America (New York: Sterling Publishing Co., Inc., 1988), p. 168.



Share:

Royal at Chinatown: Jejak Opera, Kenangan, dan Denyut Budaya di Jantung Singapura

Royal at Chinatown, Singapore, on Free Singapore Tour on Sunday (14/12/2025)

There are a few years when you make almost all of your important memories. And then you spend the next few decades reliving them.” -- Charles Yu, Interior Chinatown

Langkah saya sempat melambat ketika mengikuti Free Singapore Tour bersama Tim NIHR UB pada Ahad (14/12/2025) saat transit di Singapura sepulang dari menghadiri Third Annual Symposium NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Saya tertarik melihat sebuah bangunan tua berfasad unik di sudut pertemuan Jalan Trengganu dan Jalan Smith yang berada Chinatown, Singapura. Di tengah hiruk-pikuk kawasan wisata, bangunan itu seolah berdiri tenang yang menyimpan cerita panjang yang tak langsung terlihat. Namanya kini dikenal sebagai Royal at Chinatown.

Saat ini, Royal at Chinatown adalah bangunan konservasi tiga lantai yang telah bertransformasi mengikuti zaman. Lantai dasarnya diisi deretan toko ritel, lantai dua menjadi rumah bagi Yum Cha Restaurant yang populer, sementara lantai tiga menjelma hotel butik dengan 40 kamar yang dikelola oleh HOTEL 1888 COLLECTION. Renovasi besar terakhir dilakukan pada 2019, memberi napas baru tanpa menghapus identitas lamanya.

Namun jauh sebelum menjadi hotel dan restoran, tempat ini pernah menjadi pusat denyut kebudayaan Tionghoa di Singapura.

Di sinilah, pada tahun 1887, berdiri Gedung Opera Lai Chun Yuen yang menghadirkan sebuah teater megah berkapasitas 834 kursi yang pada masanya dianggap sebagai “Broadway” atau “West End”-nya opera Kanton. 

Pada dekade 1910-an hingga 1920-an, gedung ini menjadi magnet hiburan utama bagi komunitas imigran Tionghoa. Bintang-bintang opera ternama dari Tiongkok dan Hong Kong silih berganti naik panggung, menarik penonton dari berbagai latar dialek dan kelas sosial.

Opera, bagi masyarakat Tionghoa kala itu, bukan sekadar hiburan. Pertunjukan dipercaya sebagai bentuk penghormatan kepada dewa dan roh. Karena itulah, orang-orang datang berbondong-bondong. Bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk menjalankan keyakinan. 

Gedung ini dulunya dimiliki oleh Lin Dingxing, kemudian Loh Ghim, dan dirancang oleh arsitek Alfred Bidwell dari firma Swan and Maclaren, yang dikenal piawai menyesuaikan desain dengan fungsi sosial bangunan.

Bentuknya menyerupai rumah teh tradisional Tiongkok bertingkat tiga, lengkap dengan balkon kayu. Penonton duduk di meja-meja kecil di lantai pertama, menyeruput teh dan camilan. Panggung berada di lantai dua, sementara pengunjung berada di bawah langit-langit tinggi yang dihiasi ornamen lukis dan lentera temaram. Penonton kaya bahkan memiliki bilik pribadi dengan layanan lebih eksklusif.

Pertunjukan digelar dua kali sehari sebagai tanda betapa populernya gedung ini. Smith Street pun hidup, bukan hanya sebagai pusat hiburan, tetapi juga kawasan ekonomi. Rumah-rumah toko tiga lantai di sekitarnya yang umumnya bergaya Barok dan Tionghoa itu menjadi tempat tinggal sekaligus ruang usaha. Teater membawa rezeki! Penonton berbelanja, makan, dan menginap di sekitar kawasan.

Namun kejayaan itu perlahan memudar. Akhir 1930-an, film bersuara mulai menggusur opera. Pada 1941, Lai Chun Yuen diubah menjadi bioskop, sebelum akhirnya tak bertahan melewati masa Pendudukan Jepang. Gedung ini rusak parah selama Perang Dunia II, lalu pascaperang beralih fungsi menjadi toko, bahkan gudang pedagang kaki lima.

Di balik kemegahannya, tempat ini juga menyimpan sisi gelap. Smith Street kala itu dikenal sebagai distrik lampu merah. Bilik-bilik pribadi di teater kerap digunakan untuk aktivitas rahasia, dan merokok opium adalah pemandangan lazim. Ironisnya, gedung opera ini juga pernah menjadi tempat penggalangan dana kemanusiaan, seperti untuk Dana Bantuan Banjir Canton, yang sukses berkat popularitas para pemain ternama.

Kini, saat rombongan Free Singapore Tour melintasi bangunan ini, yang terlihat adalah wajah baru Royal at Chinatown. Nama-nama usaha modern terpampang, termasuk Rest Chinatown Hotel. Di lantai bawah menghadap Jalan Trengganu, berdiri Toko Antik Fu Xing (福兴古玩), yang bahkan menawarkan konsultasi ramalan nasib, sebuah pengingat bahwa tradisi lama belum sepenuhnya pergi.

Opera Lai Chun Yuen memang telah lama sirna. Namun kisahnya masih berdenyut di balik dinding bangunan ini. Gedung opera Chinatown, terutama pada masa kejayaannya di tahun 1920-an, bukan sekadar ruang pertunjukan. Ia adalah sekolah budaya, ruang temu komunitas, dan rumah bagi kenangan kolektif para imigran Tionghoa yang membangun hidup dari nol di tanah baru.

Seperti yang ditulis Charles Yu, seorang penulis dan pengacara Amerika, dalam Interior Chinatown (2020):

“Ada beberapa tahun di mana Anda hampir menciptakan semua kenangan penting Anda. Dan kemudian Anda menghabiskan beberapa dekade berikutnya untuk menghidupkan kembali kenangan-kenangan itu.”

Royal at Chinatown adalah salah satu tempat di mana kenangan-kenangan itu pernah lahir, dan hingga kini, masih berusaha dihidupkan kembali, kendati hanya menyisakan bangunannya saja, di jantung Chinatown Singapura. *** [240126]


Kepustakaan:

Chinatown Singapore. (n.d.). Hotel Calmo (Former Lai Chun Yuen 旧梨春园). Chinatown Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://chinatown.sg/visit/former-lai-chun-yuen/

National Archives of Singapore. (n.d.). The building located at junction of Trengganu Street and …. National Archives of Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://www.nas.gov.sg/archivesonline/photographs/record-details/f5881c6c-1161-11e3-83d5-0050568939ad

National Archives of Singapore. (n.d.). The building in the centre was the famous “Lai Chun Yuen” …. National Archives of Singapore. Retrieved January 24, 2026, from https://www.nas.gov.sg/archivesonline/photographs/record-details/e6c678f3-1161-11e3-83d5-0050568939ad

Richard, L. (2019, October 24). Postingan Lee Richard dalam Grup 十里之外 Shí Lǐ zhī wài. Facebook. https://web.facebook.com/groups/265763383605892/posts/1264406923741528/?_rdc=1

Royal Group. (n.d.). Royal at Chinatown. Royal Group; Royal Group Investments Pte Ltd. Retrieved January 24, 2026, from https://royalgroup.sg/wp2019/royal-chinatown-retail-sg/



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami