The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Stasiun Mrawan: Simfoni Sunyi di Pelukan Pegunungan Gumitir

Di antara lekuk pegunungan yang sunyi dan hamparan kebun yang seolah tak bertepi, perjalanan kereta api di jalur timur Jawa menyimpan satu fragmen lanskap yang nyaris puitis di Stasiun Mrawan.

Selasa (02/04) siang itu, saat KA Ijen Ekspres melaju meninggalkan Kalisat menuju Banyuwangi, rel mulai berkelok mengikuti kontur alam. Lembah terbuka di kiri-kanan, sementara barisan kopi merambat naik ke lereng. 

Tepat ketika jarum jam mendekati pukul 13.29 WIB, stasiun kecil itu hadir dengan tenang, sejuk, dan nyaris tersembunyi dalam pelukan alam pegunungan. Dari balik jendela kereta, Stasiun Mrawan tampak seperti titik hening di tengah bentang hijau yang luas.

Stasiun Mrawan sisi barat dipotret dari KA Ijen Ekspres menuju Banyuwangi pada Selasa (02/04)

Berada di kawasan perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara XII, stasiun ini dikelilingi lanskap agraris yang telah hidup lebih dari seabad. Di belakangnya, bukit menjulang tegas, seakan menjadi penjaga setia. Kabut tipis kerap turun, membalut suasana dengan nuansa yang hampir melankolis.

Secara administratif, Stasiun Mrawan (MRW) hanyalah stasiun kecil kelas III di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Namun posisinya bukan sembarang titik, ia adalah stasiun paling timur di kabupaten tersebut, sekaligus simpul sunyi di jalur vital lintas timur Jawa (Oosterlijnen). 

Untuk mencapainya, orang harus menyusuri jalan dari kawasan Gunung Gumitir dengan melewati akses menuju perumahan dinas perkebunan, atau melalui jalur wisata kebun yang kini mulai dikenal.

Sejarah Stasiun Mrawan berakar pada masa kolonial, ketika jaringan rel di Jawa Timur diperluas oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahan kereta api negara di Hindia Belanda. Pembangunan lintas Jember–Kalisat–Mrawan sepanjang 60 kilometer dimulai pada 1897 dan baru rampung lima tahun kemudian. 

Tulisan Mrawan berketinggian + 524 di atas permukaan laut

Medan yang sulit berupa lembah curam, sungai yang harus dilintasi, serta tikungan tajam di pegunungan, membuat proyek ini menjadi salah satu pencapaian teknik yang menantang pada zamannya.

Ketika diresmikan pada 10 September 1902, Mrawan berfungsi sebagai halte sederhana. Namun perannya penting, yaitu melayani mobilitas manusia sekaligus mengangkut hasil bumi. Dari sinilah kopi, gula, hingga beras bergerak menuju pelabuhan, menghubungkan kebun-kebun di pedalaman dengan pasar global.

Lebih dari seratus tahun berlalu, bangunan stasiun itu masih bertahan. Ia tidak lagi menjadi tempat naik-turun penumpang seperti dulu. Sejak 2014, tak ada pemberhentian reguler di sini. Namun denyutnya belum benar-benar hilang. Stasiun Mrawan tetap hidup sebagai titik persilangan, tempat kereta saling menunggu dan melintas, sejenak berbagi ruang di jalur yang sama.

Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Mrawan sedang menyaksikan laju KA Ijen Ekspres menuju Banyuwangi

Diapit oleh dua terowongan, yakni Terowongan Mrawan di sisi timur dan Terowongan Garahan di barat, stasiun ini seakan berada dalam koridor waktu. Hanya dua jalur rel membelahnya, dengan satu jalur utama yang lurus membentang. Sederhana, namun sarat makna.

Nama “Mrawan” sendiri diambil dari sungai yang mengalir tak jauh dari lokasi, menegaskan hubungan erat antara infrastruktur dan lanskap alami. Di sini, rel bukan sekadar jalur transportasi, melainkan bagian dari ekosistem yang telah lama terbentuk.

Kini, setiap kereta yang melintas membawa dua hal sekaligus, yaitu gerak modernitas dan gema masa lalu. Sementara itu, lembah dan pepohonan tetap setia menyimpan ingatan. Di Stasiun Mrawan, sejarah tidak berdiri sebagai monumen yang beku, melainkan mengalir bersama kabut, menyatu dengan suara roda kereta yang sesekali memecah kesunyian. *** [010526]



Share:

Daftar Bangunan Kuno di Banyuwangi

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Banyuwangi:

Kantor Pos Banyuwangi

Kantor Pos ini terletak di Jalan Diponegoro No. 1 Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Klenteng Hoo Tong Bio

Klenteng ini terletak di Jalan Gurami No. 54 Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Klenteng Tik Liong Tian

Klenteng ini terletak di Jalan Raya Rogojampi No. 69 Dusun Pancoran Kulon, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Museum Blambangan

Museum ini terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Pura Luhur Giri Salaka

Pura ini terletak di Dusun Kaliagung, Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lokasi ini berada di dalam Taman Nasional Alas Purwo, Resor Rowobendo

Situs Kawitan

Pura ini terletak di Dusun Kaliagung, Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lokasi ini berada di dalam Taman Nasional Alas Purwo, Resor Rowobendo

Stasiun Kalisetail

Stasiun ini terletak di Jalan Raya Kalisetail No. 11 Desa Tlogosari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

Stasiun Rogojampi

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Rogojampi, Dusun Pancoran Kulon, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur



Share:

Stasiun Jatiroto: Dari Denyut Pabrik Gula ke Lintasan Modern

Kereta melambat, lalu berhenti sejenak di sebuah stasiun kecil yang nyaris luput dari perhatian. Siang itu, Kamis (02/04), Stasiun Jatiroto (JTR) menjadi titik jeda perjalanan KA Ijen Ekspres yang saya tumpangi dari Malang menuju Banyuwangi. 

Pukul 11.33 WIB, kereta menunggu persilangan dengan KA Mutiara Timur yang menjadi sebuah rutinitas yang bagi sebagian orang, mungkin sekadar teknis operasional. Namun di balik singgah singkat itu, tersimpan riwayat panjang yang berkelindan dengan denyut ekonomi kolonial di ujung timur Pulau Jawa.

Stasiun kecil berketinggian +29 meter di atas permukaan laut ini kini tampak sederhana. Ia tercatat sebagai stasiun kelas III di bawah Daerah Operasi IX Jember, sekaligus menjadi stasiun paling timur di Kabupaten Lumajang, tepatnya berada di Dusun Krajan 2 RT 20 RW 04 Desa Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang.

Singgah di Stasiun Jatiroto ketika KA Ijen Ekspres menuju Banyuwangi bersilangan dengan KA Mutiara Timur pada Senin (02/04)

Tiga jalur tersisa dari empat sepur yang pernah ada menjadi saksi perubahan zaman. Satu jalur lurus untuk lalu lintas utama, dua lainnya untuk persilangan dan penyusulan.

Namun, jika menengok ke akhir abad ke-19, wilayah ini adalah bagian dari geliat besar pembangunan jaringan rel oleh Staatsspoorwegen (SS). Pada 1897, jalur Klakah–Rambipuji–Jember sepanjang 62 kilometer dibangun sebagai bagian dari Oosterlijnen [1] - jalur timur yang dirancang untuk mempercepat distribusi hasil bumi dari pedalaman ke pelabuhan dan pasar. Rel bukan sekadar sarana transportasi, melainkan urat nadi ekonomi kolonial.

Menariknya, dalam peta lawas koleksi digital Universiteit Leiden sekitar tahun1908, nama Jatiroto belum tercantum sebagai stasiun. Yang ada hanya halte-halte kecil seperti Buinek, Randuagung, dan Sumberbaru [2]. Ini mengisyaratkan bahwa Jatiroto belum menjadi simpul penting kala itu.

Persilangan dengan KA Mutiara Timur dari arah Jember menuju Surabaya

Jejaknya baru muncul satu dekade kemudian. Sebuah foto artistik dari Atelier Kurkdjian tahun 1917, yang kini tersimpan di Rijksmuseum, memperlihatkan Stasiun Jatiroto dengan empat jalur aktif. Beberapa gerbong terparkir, sementara penumpang menunggu di peron. 

Foto itu bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan bagian dari album yang dihadiahkan kepada manajer utama (Hoofdaministrateur) pabrik gula setempat yang menjadi sebuah petunjuk penting tentang peran stasiun ini [3].

Memang, kelahiran Stasiun Jatiroto tak bisa dilepaskan dari geliat industri gula. Perusahaan perkebunan swasta Belanda, Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), lebih dahulu membangun pabrik gula sebelum menghadirkan stasiun. Pabrik gula awal berdiri di Ranupakis sekitar 1905 dan mulai beroperasi pada 1910. Namun melonjaknya permintaan gula di Eropa mendorong ekspansi besar-besaran.

Peta Spoor-en tramwegenkaart van Java en Madoera met lengte-profielen van de spoorwegen (Sumber: Digital Collections Uinversiteit Leiden)

Pada 1915, HVA membangun pabrik baru yang lebih besar di Jatiroto, yang kelak dikenal sebagai PG Jatiroto. Lokasinya lebih strategis, tanahnya lebih subur untuk tebu, dan kapasitas produksinya jauh melampaui pendahulunya. 

Tahun 1920, pabrik Ranupakis pun ditutup dan seluruh operasional dipusatkan di Jatiroto. Di sinilah stasiun memainkan peran vital guna sebagai tempat untuk mengangkut tebu, gula, dan manusia dalam satu arus logistik yang tak terputus.

Seiring waktu, dinamika berubah. Beberapa perhentian di sekitar stasiun, seperti Sumberbaru, Pondokdalem, hingga Kaliboto, perlahan dinonaktifkan. Jarak yang terlalu dekat dan pertimbangan efisiensi membuatnya kehilangan fungsi. Jalur keempat di Stasiun Jatiroto pun dibongkar, menyisakan tiga jalur yang masih aktif hingga kini.

Treinstation van Djatiroto, jahr 1927 (Sumber: Koleksi Rijksmuseum dengan Objectnummer NG-1987-10-A-16)

Hari ini, Stasiun Jatiroto tetap hidup, meski dalam skala yang sederhana. Kereta ekonomi dan campuran seperti Logawa, Tawang Alun, dan Sri Tanjung masih setia berhenti, menghubungkan Jember, Banyuwangi, hingga Malang dan Surabaya. Aktivitasnya memuncak di sore hingga malam, ketika perjalanan jarak menengah menjadi pilihan utama warga.

Di balik kesederhanaannya, Stasiun Jatiroto adalah potongan kecil dari sejarah besar tentang rel, gula, dan kolonialisme. Tentang bagaimana sebuah titik di peta, yang dulu nyaris tak tercatat, perlahan menjelma menjadi simpul penting dalam jaringan ekonomi dan mobilitas manusia. 

Dan siang itu, di antara deru mesin dan suara peluit, saya menyadari, bahwa setiap stasiun, sekecil apa pun, selalu punya cerita panjang yang menunggu untuk disimak. *** [300426]


Kepustakaan:

[1] Oegema, J, J, G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra . Deventer: Kluwer Technische Boeken B.V.

[2] Leiden University Libraries . (n.d.). Spoor- en tramwegenkaart van Java en Madoera met lengte-profielen van de spoorwegen | Digital Collections. Universiteit Leiden. Retrieved April 30, 2026, from https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/2011844

[3] Rijksmuseum. (n.d.). Station S. S. Rijksmuseum.Nl. Retrieved April 30, 2026, from https://www.rijksmuseum.nl/nl/collectie/object/NG-1987-10-A-16--60b5f67b83df4751895c1104e6532ca0



Share:

Kantor Pos Banyuwangi: Dari Pusat Surat ke Destinasi Heritage

Postman’s bag is always heavy because it carries the life itself: It carries all the sorrows and all the joys, all the worries and all the hopes!” -- Mehmet Murat ildan

Siang itu, sepulang dari Kantor Dinas Kesehatan Banyuwangi menuju basecamp Tim Enumerator COM-B Cluring, saya dan Field Supervisor COM-B melihat bangunan tua yang masih berdiri tegap di sisi barat bagian selatan Taman Blambangan, pada Rabu (08/04). 

Suasana kota Banyuwangi begitu dinamis, terasa bergerak seperti biasa. Namun, bangunan itu seolah menolak larut dalam arus modernitas. Ia diam, kokoh, dan penuh cerita. Itulah Kantor Pos Banyuwangi, yang beralamat di Jalan Diponegoro No. 1, Kelurahan Kepatihan.

Sekilas, ia mungkin hanya tampak seperti kantor layanan publik pada umumnya. Namun, di balik dindingnya tersimpan jejak panjang sejarah komunikasi di ujung timur Pulau Jawa. Sejak didirikan pada tahun 1864, kantor pos ini menjadi penanda penting hadirnya sistem komunikasi modern di Banyuwangi. 

Catatan dalam De ontwikkeling van het postwezen in Nederlands Oost-Indië (1935) menunjukkan bahwa pendiriannya merupakan bagian dari jaringan besar pos di Hindia Belanda, sebuah sistem yang menghubungkan kota-kota di Jawa, wilayah luar Jawa, hingga kantor-kantor cabang yang tersebar luas.

Pada masa awalnya, bangunan kantor pos ini masih sederhana, sebagaimana kantor telegraf yang berdiri tak jauh darinya. Namun, posisi Banyuwangi yang strategis di tepi Selat Bali menjadikannya simpul penting dalam jalur komunikasi internasional.

Fasad Kantor Pos Banyuwangi

Perkembangan pun berjalan cepat. Tahun 1870, Pemerintah Hindia Belanda memberikan izin kepada British Australian Telegraph Ltd., tanpa hak eksklusif atau hak yang diperpanjang selama sejumlah tahun tertentu, untuk membangun koneksi telegraf antara Jawa dan Singapura serta Australia. 

Konsesi ini dialihkan pada tahun 1873 kepada Eastern Extension Australasia and China Telegraph Company, yang kemudian perusahaan tersebut diberikan izin pada tahun 1879 untuk membangun koneksi telegraf kedua antara Banyuwangi dan Singapura serta antara Banyuwangidan Australia.

Infrastruktur komunikasi pun semakin berkembang, terlebih ketika pada 1883 layanan telegraf kereta api dibuka untuk umum, menjadi lompatan besar yang memperluas akses masyarakat terhadap teknologi komunikasi saat itu.

Memasuki awal abad ke-20, kebutuhan akan fasilitas yang lebih representatif mendorong pembangunan gedung baru yang menyatukan layanan pos dan telegraf. Melalui inisiatif Burgerlijke Openbare Werken (BOW), berdirilah bangunan kantor pos dan telegraf (Post-en telegraafkantoor te Banjoewangi) yang lebih megah pada sekitar tahun 1921.

Gedung ini mengusung gaya arsitektur Art Deco khas Hindia Belanda yang terdiri dari dua lantai dengan sentuhan estetika yang disesuaikan dengan iklim tropis. Ornamen-ornamen dekoratif khas lokal pun turut memperkaya desainnya, menciptakan harmoni antara fungsi dan keindahan.

Seiring berkembangnya teknologi, fungsi gedung ini pun meluas menjadi pusat layanan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT). Namun, alam memiliki ceritanya sendiri. Kuatnya arus Selat Bali kerap mengganggu kabel telegraf bawah laut, membuat sistem ini tidak lagi efisien. Pada 1930-an, layanan telegraf pun dihentikan, dan bangunan ini beralih fungsi menjadi kantor pos dan telepon.

Bangunan Kantor Pos yang telah berdiri sejak 1921, kini di sampingnya terlihat tower Telkom

Pasca kemerdekaan Indonesia, gedung ini tetap hidup sebagai bagian dari layanan negara, kini di bawah pengelolaan PT Pos Indonesia. Fungsinya mungkin telah menyusut menjadi kantor pos biasa, namun denyut aktivitasnya tetap terasa. 

Lantai pertama menjadi pusat layanan dan penyimpanan arsip, sementara lantai dua difungsikan untuk ruang aula, kantor kepala pos, hingga gudang. Di bagian depan, masih tampak bekas tempat pemasangan jam dinding, penanda kecil yang dahulu menjadi penanda waktu bagi masyarakat.

Tahun 2019 menjadi babak baru dalam perjalanan bangunan ini. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama PT Pos Indonesia mencanangkan revitalisasi besar-besaran. Gedung yang telah berusia lebih dari satu abad ini direncanakan menjadi destinasi wisata heritage, membuka kembali ruang bagi publik untuk tidak hanya mengirim pesan, tetapi juga membaca sejarah.

Di masa lalu, kantor pos bukan sekadar tempat berkirim surat. Ia adalah penghubung emosi manusia dengan membawa kabar rindu, harapan, kecemasan, hingga kebahagiaan. Seperti yang diungkapkan Mehmet Murat ildan, penulis drama Turki:

“Tas tukang pos selalu berat karena di dalamnya terdapat kehidupan itu sendiri: tas itu membawa semua kesedihan dan semua kegembiraan, semua kekhawatiran dan semua harapan!”

Kini, ketika pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, bangunan tua ini justru mengajak kita untuk melambat guna menengok kembali masa ketika setiap surat adalah peristiwa, dan setiap perjalanan pesan adalah kisah yang penuh makna. *** [290426]


Kepustakaan:

Beer van Dingstee, J.H. (1935). "De ontwikkeling van het postwezen in Nederl. Oost-Indië." A.C. Nix & Co. Geraadpleegd op Delpher op 28-04-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB05:000037951:00009

Norbruis, O. (2022). ARSITEKTUR DI NUSANTARA: Para Arsitek dan Karya Mereka di Hindia-Belanda dan Indonesia pada Paruh Pertama Abad ke-20 (G. Vermeer, Ed.; H. T. Dipowijoyo, Trans.; pp. 1–330). Stichting Hulswit Fermont Cuypers. 



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami