The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Kantor Pos Banyuwangi: Dari Pusat Surat ke Destinasi Heritage

Postman’s bag is always heavy because it carries the life itself: It carries all the sorrows and all the joys, all the worries and all the hopes!” -- Mehmet Murat ildan

Siang itu, sepulang dari Kantor Dinas Kesehatan Banyuwangi menuju basecamp Tim Enumerator COM-B Cluring, saya dan Field Supervisor COM-B melihat bangunan tua yang masih berdiri tegap di sisi barat bagian selatan Taman Blambangan, pada Rabu (08/04). 

Suasana kota Banyuwangi begitu dinamis, terasa bergerak seperti biasa. Namun, bangunan itu seolah menolak larut dalam arus modernitas. Ia diam, kokoh, dan penuh cerita. Itulah Kantor Pos Banyuwangi, yang beralamat di Jalan Diponegoro No. 1, Kelurahan Kepatihan.

Sekilas, ia mungkin hanya tampak seperti kantor layanan publik pada umumnya. Namun, di balik dindingnya tersimpan jejak panjang sejarah komunikasi di ujung timur Pulau Jawa. Sejak didirikan pada tahun 1864, kantor pos ini menjadi penanda penting hadirnya sistem komunikasi modern di Banyuwangi. 

Catatan dalam De ontwikkeling van het postwezen in Nederlands Oost-Indië (1935) menunjukkan bahwa pendiriannya merupakan bagian dari jaringan besar pos di Hindia Belanda, sebuah sistem yang menghubungkan kota-kota di Jawa, wilayah luar Jawa, hingga kantor-kantor cabang yang tersebar luas.

Pada masa awalnya, bangunan kantor pos ini masih sederhana, sebagaimana kantor telegraf yang berdiri tak jauh darinya. Namun, posisi Banyuwangi yang strategis di tepi Selat Bali menjadikannya simpul penting dalam jalur komunikasi internasional.

Fasad Kantor Pos Banyuwangi

Perkembangan pun berjalan cepat. Tahun 1870, Pemerintah Hindia Belanda memberikan izin kepada British Australian Telegraph Ltd., tanpa hak eksklusif atau hak yang diperpanjang selama sejumlah tahun tertentu, untuk membangun koneksi telegraf antara Jawa dan Singapura serta Australia. 

Konsesi ini dialihkan pada tahun 1873 kepada Eastern Extension Australasia and China Telegraph Company, yang kemudian perusahaan tersebut diberikan izin pada tahun 1879 untuk membangun koneksi telegraf kedua antara Banyuwangi dan Singapura serta antara Banyuwangidan Australia.

Infrastruktur komunikasi pun semakin berkembang, terlebih ketika pada 1883 layanan telegraf kereta api dibuka untuk umum, menjadi lompatan besar yang memperluas akses masyarakat terhadap teknologi komunikasi saat itu.

Memasuki awal abad ke-20, kebutuhan akan fasilitas yang lebih representatif mendorong pembangunan gedung baru yang menyatukan layanan pos dan telegraf. Melalui inisiatif Burgerlijke Openbare Werken (BOW), berdirilah bangunan kantor pos dan telegraf (Post-en telegraafkantoor te Banjoewangi) yang lebih megah pada sekitar tahun 1921.

Gedung ini mengusung gaya arsitektur Art Deco khas Hindia Belanda yang terdiri dari dua lantai dengan sentuhan estetika yang disesuaikan dengan iklim tropis. Ornamen-ornamen dekoratif khas lokal pun turut memperkaya desainnya, menciptakan harmoni antara fungsi dan keindahan.

Seiring berkembangnya teknologi, fungsi gedung ini pun meluas menjadi pusat layanan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT). Namun, alam memiliki ceritanya sendiri. Kuatnya arus Selat Bali kerap mengganggu kabel telegraf bawah laut, membuat sistem ini tidak lagi efisien. Pada 1930-an, layanan telegraf pun dihentikan, dan bangunan ini beralih fungsi menjadi kantor pos dan telepon.

Bangunan Kantor Pos yang telah berdiri sejak 1921, kini di sampingnya terlihat tower Telkom

Pasca kemerdekaan Indonesia, gedung ini tetap hidup sebagai bagian dari layanan negara, kini di bawah pengelolaan PT Pos Indonesia. Fungsinya mungkin telah menyusut menjadi kantor pos biasa, namun denyut aktivitasnya tetap terasa. 

Lantai pertama menjadi pusat layanan dan penyimpanan arsip, sementara lantai dua difungsikan untuk ruang aula, kantor kepala pos, hingga gudang. Di bagian depan, masih tampak bekas tempat pemasangan jam dinding, penanda kecil yang dahulu menjadi penanda waktu bagi masyarakat.

Tahun 2019 menjadi babak baru dalam perjalanan bangunan ini. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama PT Pos Indonesia mencanangkan revitalisasi besar-besaran. Gedung yang telah berusia lebih dari satu abad ini direncanakan menjadi destinasi wisata heritage, membuka kembali ruang bagi publik untuk tidak hanya mengirim pesan, tetapi juga membaca sejarah.

Di masa lalu, kantor pos bukan sekadar tempat berkirim surat. Ia adalah penghubung emosi manusia dengan membawa kabar rindu, harapan, kecemasan, hingga kebahagiaan. Seperti yang diungkapkan Mehmet Murat ildan, penulis drama Turki:

“Tas tukang pos selalu berat karena di dalamnya terdapat kehidupan itu sendiri: tas itu membawa semua kesedihan dan semua kegembiraan, semua kekhawatiran dan semua harapan!”

Kini, ketika pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, bangunan tua ini justru mengajak kita untuk melambat guna menengok kembali masa ketika setiap surat adalah peristiwa, dan setiap perjalanan pesan adalah kisah yang penuh makna. *** [290426]


Kepustakaan:

Beer van Dingstee, J.H. (1935). "De ontwikkeling van het postwezen in Nederl. Oost-Indië." A.C. Nix & Co. Geraadpleegd op Delpher op 28-04-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB05:000037951:00009

Norbruis, O. (2022). ARSITEKTUR DI NUSANTARA: Para Arsitek dan Karya Mereka di Hindia-Belanda dan Indonesia pada Paruh Pertama Abad ke-20 (G. Vermeer, Ed.; H. T. Dipowijoyo, Trans.; pp. 1–330). Stichting Hulswit Fermont Cuypers. 



Share:

Menjaga Ingatan di Ujung Timur Jawa: Menyusuri Jejak Blambangan di Museum Blambangan

Non-living things are not living, yet they live longer than the living.” -- John Joclebs Bassey, Night of a Thousand Thoughts

Usai menatap kemegahan arsitektur Klenteng Hoo Tong Bio, perjalanan pulang terasa belum lengkap tanpa satu persinggahan sunyi namun sarat makna, yaitu Museum Blambangan. Terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, di dalam kompleks Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, museum ini seakan menjadi ruang jeda yang menjadi tempat refreshing bagi peminat heritage maupun sejarah.

Didirikan pada 25 Desember 1977 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Soenandar Priyoseodarmo (1976-1983), Museum Blambangan lahir dari kesadaran akan pentingnya merawat ingatan kolektif. 

Fasad Museum Blambangan di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi

Namanya museum merujuk pada Kerajaan Blambangan, sebuah entitas historis yang pernah menjadi penanda kejayaan di ujung timur Pulau Jawa. Jejak kerajaan itu kini tidak lagi berupa istana megah atau benteng kokoh, melainkan serpihan artefak yang disimpan dan dirawat di dalam museum ini.

Pada awalnya, museum menempati bangunan kolonial peninggalan Belanda yang pernah berfungsi sebagai kantor kawedanan. Bangunan tersebut mulai difungsikan sebagai museum pada 2003, sebelum akhirnya direlokasi ke kompleks saat ini pada 2 Januari 2004, seiring dengan perubahan tata kelola pasca otonomi daerah. Kini, pengelolaannya berada di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Blambangan.

Memasuki ruang pamerannya, pengunjung seolah diajak menelusuri lorong waktu. Ada ratusan koleksi yang terpajang dalam ruang pameran utama museum tersebut, mulai dari etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, hingga seni rupa. Dominasi peninggalan Hindu-Buddha menjadi penanda kuat betapa wilayah ini pernah menjadi simpul penting peradaban masa lampau.

Daftar penguasa Blambangan yang terpampang di dinding dekat pintu masuk ruang pamer Museum Blambangan

Salah satu koleksi yang paling memikat adalah tablet dan materai tanah liat bertuliskan YT Mantra, sebuah mantra Buddha yang digunakan dalam praktik pemujaan. Pada materai, terukir lima baris aksara Jawa Kuno di bagian tengah, sementara tablet menampilkan relief Dhyani Bodhisattwa yang halus dan penuh simbolisme. 

Temuan dari Situs Gumuk Klinting, Kecamatan Muncar ini membuka kemungkinan bahwa eksistensi Blambangan telah hadir sejak abad ke-9 hingga ke-11 atau lebih tua dari era Majapahit. Sebuah fakta yang memperluas horizon sejarah Jawa Timur.

Museum ini tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga menghadirkan cara baru untuk memahami masa lalu. Setiap koleksi dilengkapi barcode yang memungkinkan pengunjung mengakses informasi detail secara mandiri. 

Kereta Kyai Rajapeni yang pernah menjadi tunggangan PB X dan permaisuri dalam membagikan uang logam kepada masyarakat Solo setiap hari Kamis

Selain ruang pamer utama, terdapat pula ruang Banyuwangi Tempo Doeloe, ruang Geopark Ijen, ruang Biskop, dan ruang Rumah Adat Osing. Masing-masing menghadirkan fragmen identitas lokal yang membentuk Banyuwangi hari ini.

Di halaman depan museum, berdiri kokoh sebuah meriam hitam legam, berdampingan dengan kereta kencana Kyai Rajapeni. Kereta ini bukan sekadar artefak, melainkan saksi hubungan historis lintas wilayah. 

Dibuat di Inggris dan pernah digunakan oleh Pakubuwono X, kereta ini dahulu berkeliling setiap hari Kamis, membawa koin untuk dibagikan kepada rakyat. Tradisi itu menciptakan lanskap sosial yang khas di mana warga duduk menunggu di tepi jalan, sementara kusirnya, menariknya, justru berasal dari Banyuwangi. 

Etalase ruang pamer utama Museum Blambangan

Sebuah simpul kecil yang menghubungkan dua dunia. Pada era Bupati H. Turyono Purnomo Sidik (1991-1998), kereta ini dihadiahkan kepada masyarakat Banyuwangi oleh pihak Kraton Surakarta Hadiningrat, dan kini menjadi bagian dari narasi museum.

Museum Blambangan bukan sekadar ruang penyimpanan benda mati. Ia adalah ruang hidup bagi ingatan, tempat generasi kini belajar memahami akar sejarahnya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh John Joclebs Bassey, seorang penulis asal Nigeria dalam karya kolaboratifnya berjudul Night of a Thousand Thoughts (2023):

“Benda-benda mati bukanlah makhluk hidup, namun mereka hidup lebih lama daripada makhluk hidup.” 

Koleksi arkeologi berupa serpihan artefak dari Candi Macan Putih

Kutipan ini terasa menemukan maknanya di sini, di antara artefak yang diam, namun menyimpan cerita panjang yang melampaui usia manusia.

Dengan jam operasional yang terbuka dari pagi hingga menjelang sore – kecuali hari Jumat dan hari Sabtu maupun Ahad libur, museum ini menawarkan lebih dari sekadar kunjungan. Ia adalah pengalaman tentang bagaimana masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, melainkan menunggu untuk ditemukan kembali, dalam sunyi yang penuh arti. *** [240426]



Share:

Klenteng Hoo Tong Bio: Jejak Perlindungan dan Kebangkitan di Ujung Timur Jawa

Selepas mengurus disposisi perpanjangan izin penelitian NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environemtal Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi pada Selasa (07/04), perjalanan saya belum benar-benar usai. 

Di atas boncengan motor milik Field Supervisor COM-B, Andhika Krisnaloka, S.Sos., saya menyelipkan satu persinggahan singkat menuju sebuah bangunan bersejarah di Jalan Gurami No. 54, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi. Di sanalah, Klenteng Hoo Tong Bio - klenteng tertua di Jawa Timur dan Bali - berdiri, menunggu untuk disapa, meski hanya sejenak.

Klenteng Hoo Tong Bio di Jalan Gurami No. 54, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi

Nama “Hoo Tong Bio” berasal dari dialek Hokkien, bermakna “Kuil Perlindungan Orang Tionghoa.” Sebuah nama yang bukan sekadar simbol, melainkan cerminan dari fungsi historisnya. Tempat ini pernah menjadi pelindung yang secara harfiah dan spiritual, bagi komunitas Tionghoa yang terdampar di ujung timur Jawa, setelah melarikan diri dari tragedi berdarah di Batavia pada tahun 1740, atau yang dikenal dengan Tragedi Angke/GegerPecinan.

Kisah itu berawal dari pelarian sekelompok orang Tionghoa yang dipimpin Tan Hu Cin Jin, seorang kapiten yang menyelamatkan kaumnya dari kekerasan akibat kebijakan kolonial. Kapal yang mereka tumpangi tak sampai ke tujuan semula; nasib membawanya terdampar di Blambangan. Dari keterasingan itulah, sebuah komunitas tumbuh. Tan Hu Cin Jin kemudian dihormati, bahkan ditahbiskan sebagai dewa dan leluhur oleh masyarakat Tionghoa setempat, sebuah bentuk ingatan kolektif yang menjelma keyakinan.

Klenteng ini awalnya berdiri sederhana di wilayah Lateng, sebelum akhirnya dipindahkan ke Karangrejo pada kisaran tahun 1765 hingga 1774. Perpindahan itu bukan tanpa sebab. Tekanan kolonial, perampasan tanah, serta perubahan pusat pemerintahan Blambangan ke Banyuwangi kota. Prasasti tertua yang masih tercatat bertahun 1784 menjadi jejak paling awal yang menandai eksistensinya. Seiring waktu, bangunan ini mengalami pembaruan pada 1848.

Men lou wu atau pintu gerbang utama menuju ke dalam halaman persil Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Namun perjalanan klenteng ini tidak selalu mulus. Pada masa Orde Baru, identitasnya ditekan. Namanya diubah menjadi Nara Raksita, praktik ibadah dibatasi, bahasa Mandarin dilarang, dan ajaran Kong Hu Cu tidak diakui. Klenteng ini sempat “padam”.

Baru pada awal 2000-an, angin perubahan berembus. Larangan dicabut, nama aslinya dikembalikan, dan pembangunan besar-besaran dilakukan antara 2003 hingga 2008. Hoo Tong Bio bangkit, menjelma menjadi salah satu klenteng terbesar dan tertua di Jawa Timur.

Namun ujian belum selesai. Pada 13 Juni 2014, kebakaran hebat melalap hampir seluruh bagian penting bangunan. Api yang berasal dari altar Dewa Bumi, diperparah oleh minyak kelapa, menghancurkan patung-patung dewa, prasasti kuno, hingga dokumen bersejarah. Yang tersisa hanyalah abu, dan ingatan.

Bangunan utama Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Rekonstruksi dimulai beberapa bulan kemudian. Bangunan baru dirancang lebih tinggi, dari 4 meter menjadi 9 meter, sebuah adaptasi terhadap risiko kebakaran di masa depan. Dana miliaran rupiah dihimpun dari gotong royong umat dan dukungan pemerintah. Pada akhirnya, klenteng ini kembali berdiri. Bukan sebagai replika masa lalu, melainkan sebagai kelanjutan sejarah itu sendiri.

Memasuki gerbang men lou wu yang megah, dengan ornamen kepiting bertengger di atasnya, suasana berubah seketika. Aroma dupa menyambut perlahan, berpadu dengan warna merah dan kuning yang mendominasi ruang. Atap melengkung, ukiran kayu yang rumit, serta simbol naga, singa, dan phoenix menghadirkan nuansa yang sakral sekaligus artistik.

Sepasang singa batu (shi zi) berjaga di depan, seolah menjadi penjaga tak kasat mata. Di belakangnya, tiang-tiang berhias naga melilit (chan long zhu) menjulang kokoh. Di sisi kiri, bangunan menyerupai pagoda menambah dimensi visual yang khas. Sementara di puncak atap, ornamen mutiara bola api (huo zhu) diapit naga berjalan (xing long) menjadi sebuah simbol harmoni antara kekuatan dan kebijaksanaan.

Gedung Serbaguna Tridharma Grha Abikasamasta milik Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Di samping bangunan utama, berdiri Grha Abikasamasta, gedung serbaguna yang namanya menyiratkan makna filosofis: sebuah ruang menuju keseluruhan, menuju semesta. Ia melengkapi fungsi klenteng, sebagai ruang perjumpaan sosial dan budaya.

Meski yang tampak hari ini adalah hasil rekonstruksi pasca kebakaran, ruh dari klenteng ini tetap terjaga. Ia menyimpan lapisan-lapisan sejarah, tentang pelarian, ketahanan, penindasan, hingga kebangkitan. Di sinilah ajaran Tridharma (Buddha, Khonghucu, Tao) berakar dan berkembang di Bumi Blambangan.

Hoo Tong Bio bukan sekadar destinasi. Ia adalah narasi panjang yang ditulis ulang oleh waktu, oleh manusia, dan oleh keyakinan. Di tempat seperti ini, perjalanan tidak hanya soal berpindah ruang, tetapi juga tentang memahami makna tentang bagaimana manusia bertahan, percaya, dan terus membangun kembali, bahkan setelah semuanya pernah menjadi abu. *** [230426



Share:

Singgah Tak Sengaja di Klenteng Tik Liong Tian: Menyusuri Jejak Istana Naga Bajik di Rogojampi

Sambil menunggu jemputan dari Field Supervisor COM-B saat bertugas di Banyuwangi dalam NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC-NCDs & EC) pada Kamis (02/04), saya duduk di selasar Stasiun Rogojampi, dengan mengisi waktu berselancar di Google. 

Niat awal hanya mencari referensi kuliner di sekitar stasiun, tapi tanpa sengaja saya menemukan informasi tentang sebuah klenteng yang letaknya ternyata tak jauh dari sini, hanya sekitar 550 meter saja. 

Rasa penasaran langsung muncul. Nama tempat itu adalah Klenteng Tik Liong Tian, yang beralamat di Jalan Raya Rogojampi No. 69 Pancoran Kulon, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, tepat di depan Pasar Rogojampi.

Kebetulan, perjalanan menuju basecamp Purwodadi memang melewati jalur tersebut. Saya pun meminta kepada Field Supervisor COM-B, Andhika Krisnaloka, S.Sos. untuk mampir sejenak. Kesempatan seperti ini rasanya sayang untuk dilewatkan saat menemukan jejak sejarah di sela perjalanan kerja.

Fasad Klenteng Tik Liong Tian Rogojampi, Banyuwangi

Klenteng Tik Liong Tian merupakan satu dari sembilan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) yang memuja Yang Mulia Kong Co Tan Hu Jin atau Chen Fu Zhen Ren. Pemujaan terhadap Kong Co ini tidak hanya ada di Banyuwangi, tetapi juga tersebar di berbagai wilayah seperti Jawa, Bali, hingga Lombok. Di Banyuwangi sendiri, selain Tik Liong Tian, terdapat pula Hoo Tong Bio yang memiliki junjungan serupa.

Klenteng yang juga dikenal sebagai Klenteng Rogojampi ini didirikan pada tahun 1915. Awalnya, tempat ini hanyalah kuil pribadi milik seorang pendatang bernama Liem Kim Hong. Kisah pendiriannya cukup menarik. 

Konon, Liem pernah bermimpi bahwa Chen Fu Zhen Ren berada di Watu Dodol. Ia pun mendatangi lokasi tersebut dan menemukan dua arca batu yang diyakini sebagai representasi sang dewa. Arca itu kemudian ditempatkan di altar rumahnya, hingga akhirnya ia membangun kuil kecil di belakang rumah sebagai tempat pemujaan.

Seiring waktu dan bertambahnya kemampuan ekonomi, kuil tersebut berkembang. Pada tahun 1958, rumah sekaligus kuil itu diserahkan kepada Perhimpunan Warga Tionghoa dan resmi dibuka untuk umum dengan nama Klenteng Tik Liong Tian. Sejak saat itu, pengelolaan klenteng dilakukan secara terorganisir. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1970, menandai perkembangan fisik sekaligus sosialnya.

Halaman depan Klenteng Tik Liong Tian Rogojampi

Nama “Tik Liong Tian” sendiri berasal dari dialek Hokkien, sementara dalam pelafalan Mandarin modern dikenal sebagai De Long Dian (德龙殿), yang berarti “Istana Naga Bajik”, sebuah nama yang sarat makna kebajikan, kekuatan, dan kemuliaan.

Secara visual, klenteng ini menampilkan arsitektur tradisional Tionghoa yang kental. Dominasi warna merah dan kuning emas langsung mencuri perhatian, lengkap dengan ornamen naga yang sarat simbolisme. Struktur bangunannya memperlihatkan prinsip simetri dan keseimbangan ala feng shui, dengan elemen-elemen khas seperti halaman tengah, selasar penghubung, serta detail penyangga atap tradisional.

Bangunan utama berbentuk persegi panjang dengan satu pintu utama dan tiga pintu samping berukuran lebih kecil. Di bagian wuwungan terlihat ornamen mutiara Buddha (huo zhu) yang diapit xing long (naga berjalan), sebuah simbol klasik dalam budaya Tionghoa. Area depan klenteng berupa halaman terbuka yang dilengkapi tungku pembakaran berbentuk pagoda, serta sepasang patung singa batu (shi zi) yang menjaga gerbang.

Memasuki area dalam, suasana terasa semakin sakral. Teras digunakan untuk sembahyang, sementara ruang utama menjadi pusat altar bagi Chen Fu Zhen Ren beserta pengawalnya. Di bagian tengah terdapat kolam dengan jembatan kecil, dikelilingi altar dewa-dewi lain, termasuk representasi tiga ajaran besar, yaitu Buddha, Khonghucu, dan Tao.

Fasilitas bangunan kantor Tri Dharma yang berada di samping kanan Klenteng Tik Liong Tian

Salah satu ciri khas paling mencolok dari klenteng ini adalah keberadaan kolam ikan serta altar Hu Shen atau Dewa Harimau, yang dikenal sebagai tunggangan dari dewa rezeki. Menariknya, di dekat altar tersebut terdapat awetan harimau dan macan tutul asli dari Jawa Barat, yang disimpan dalam kotak kaca. Detail pengerjaannya begitu hidup hingga memberi kesan seolah mata hewan tersebut terus mengikuti setiap gerakan pengunjung.

Di bagian belakang, terdapat tungku pembakaran lain berbentuk paviliun segi delapan, dihiasi simbol-simbol Ba Xian. Meski lebih pendek dari tungku depan, kapasitasnya justru lebih besar.

Kini, Klenteng Tik Liong Tian tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial komunitas Tionghoa di Rogojampi dan sekitarnya. Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari area parkir, kantor sekretariat, perpustakaan, aula, dapur, hingga bangunan pendidikan dan penginapan.

Singgah sebentar di klenteng ini memberi pengalaman yang berbeda. Di tengah aktivitas harian dan perjalanan kerja, ada ruang untuk melihat bagaimana sejarah, kepercayaan, dan budaya berkelindan dalam satu tempat yang sederhana namun sarat makna. *** [120426]

Kepustakaan:

Ciberindo. (n.d.). Klenteng Tik Liong Tian| Wihara. Wihara. Retrieved April 10, 2026, from https://www.wihara.org/listings/klenteng-tik-liong-tian/366

Edi (posted). (n.d.). SERBA SERBI TRIDHARMA: Tik Liong Tian - Rogojampi. Blogspot. https://tradisitridharma.blogspot.com/2014/11/tik-liong-tian-rogojampi.html

ibcindon. (2011, December 04). Istilah-istilah arsitektur tradisional Tionghoa, Chinese vernacular architecture terms. | Klenteng Indonesia, temple as symbols of Chinese culture. Klenteng Indonesia, Temple as Symbols of Chinese Culture. https://templesymbolchineseculture.wordpress.com/2011/12/04/istilah-arsitektur-tradisional-tionghoa-chinese-vernacular-architecture-terms/



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami