The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Klenteng di Bogor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klenteng di Bogor. Tampilkan semua postingan

Vihara Dharmakaya

Tidak jauh dari Klenteng Hok Tek Bio (Vihara Dhanagun) dan Klenteng Pan Kho Bio (Vihara Maha Brahma), terdapat Vihara Dharmakaya. Vihara ini terletak di Jalan Siliwangi No.  Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Awalnya bangunan Vihara Dharmakaya ini merupakan tempat retret milik keluarga tuan tanah Tionghoa di Buitenzorg (nama lama Bogor). Dulu, daerah sekitar vihara ini masih seperti Kebun Raya Bogor. Banyak dihuni oleh aneka tanaman yang besar-besar sehingga menjadi tempat yang nyaman dan sejuk untuk melakukan retret atau mensunyikan diri dalam konteks beribadat.
Tidak diketahui dengan pasti umur dari bangunan vihara ini, akan tetapi diperkirakan umur bangunan vihara ini jauh lebih muda dibandingkan dengan Klenteng Hok Tek Bio maupun Klenteng Pan Kho Bio. Kemudian oleh ibu tuan tanah Kwitang yang bernama Teng Oen Giok, tempat retret tersebut disumbangkan kepada Ma Suhu Tan Eng Nio pada awal tahun 1940-an. Suhu Tan Eng Nio merupakan seorang biarawati yang memiliki rambut panjang terurai yang gemar mengenakan pakaian putih dan memakai kain batik panjang.


Kemudian tempat retret ini berkembang menjadi vihara dan dibuka untuk umum. Vihara tersebut diberi nama Vihara Dharmakaya. Dalam formulasi doktrin Tri kaya, Dharmakaya adalah kebenaran yang tertinggi atau ketiga (parinispanna). Dharmakaya itu sendiri merupakan Sanghyang Adi Buddha atau Tuhan Yang Maha Esa.
Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 2.000 m² ini memiliki bentuk seperti villa di mana di samping kirinya terdapat menara, dan arsitekturnya merupakan perpaduan khas Tionghoa, Eropa maupun lokal. Hanya bagian depannya saja yang mempelihatkan bahwa bangunan itu merupakan vihara, yang ditandai atap bangunan utamanya yang khas Tiongkok dengan diberi ornamen naga serta bercat warna merah. Sedangkan, pada bagian dalam bangunan ini lebih menyerupai rumah ketimbang sebuah vihara.
Meski memiliki halaman yang cukup luas, vihara ini terlihat sepi atau tidak seramai dengan pengunjung yang ada di Klenteng Hok Tek Bio, dikarenakan letaknya yang agak jauh dari kawasan Pecinan Surya Kencana sehingga menjadikan vihara ini kurang begitu terkenal dibandingkan dengan vihara lainnya. Bangunan ini lebih terkenal karena bentuk bangunan yang unik. Siapapun yang melintas Jalan Siliwangi yang merupakan terusan jalan dari Jalan Surya Kencana ini, akan menolehkan pandangan sejenak untuk menikmati pesona bangunan yang mirip dengan bentuk bangunan villa. *** [220514]
Share:

Klenteng Pan Kho Bio

Pulo Geulis merupakan suatu daerah yang secara administratif berada di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor, Kota Bogor. Konon, Pulau Geulis ini terbentuk akibat aliran Sungai Cliwung yang terbelah sehingga menyerupai seperti pulau kecil, yang di kanan kirinya masih banyak ditumbuhi hutan. Dalam bahasa Sunda, Pulo Geulis berarti pulau yang cantik.
Pulo Geulis ini sudah sejak dulu dikenal, diawali sebagai tempat peristirahatan raja beserta kerabatnya dari Kerajaan Pakuan Pajajaran hingga menjadi pemukiman orang-orang Tionghoa. Sebelum kawasan hunian orang-orang Tionghoa bergeser ke Jalan Surya Kencana setelah adanya peraturan wijkenstelsel, Pulo Geulis telah lebih dulu menjadi pemukiman orang-orang Tionghoa terlebih dahulu. Karena memang Pulo Geulis terletak di tepi Sungai Ciliwung yang dulunya masih bisa dilalui oleh kapal-kapal yang cukup besar. Setelah pendatang Tionghoa ini mendirikan pemukiman di Pulo Geulis, mereka berupaya mendirikan tempat peribadatan untuk melakukan sembahyang seperti yang diajarkan oleh leluhur mereka di Tiongkok. Bangunan peribadatan itu diberi nama Klenteng Pan Kho Bio.


Klenteng Pan Kho Bio terletak di Jalan Roda IV No. 18 RT. 02 RW.04 Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi klenteng ini berada di sebuah jalan yang kecil, dan berada di tengah kampung, sehingga menyebabkan kurangnya umat yang datang ke klenteng tersebut dan lebih memilih menuju ke Klenteng Hok Tek Bio.


Sesuai dengan inskripsi yang ditemukan, bangunan klenteng ini diperkirakan dibangun pada tahun 1883. Awalnya, masih berupa bangunan yang sangat sederhana namun seiring perjalanan sang waktu, klenteng ini mengalami beberapa renovasi sehingga bentuknya kini tidak seperti bangunan klenteng pada umumnya.
Klenteng Pan Kho Bio memiliki denah persegi empat dengan luas bangunan 400 m² di atas lahan seluas 500 m². Seperti bangunan klenteng pada umumnya, klenteng ini didominasi oleh warna merah dan kuning pada bagian jendela dan warna cat dinding. Klenteng ini semula merupakan tempat peribadatan bagi umat Kong Hu Chu kemudian berkembang menjadi Tri Dharma yang terdiri atas Kong Hu Chu, Tao maupun Buddha. Akan tetapi, ketika masa pemerintahan Orde Baru (Orba) klenteng ini berubah nama menjadi Vihara Maha Brahma. Hal ini dimaksudkan untuk kamuflase agar klenteng ini tetap diakui.
Klenteng ini juga telah mengalami akulturasi budaya dengan budaya lokal yang menjadi keunikan klenteng ini bila dibandingkan dengan klenteng yang lainnya. Di dalam klenteng ini juga terdapat situs purbakala yang berasal dari zaman megalitikum dan zaman klasik berupa batu besar yang masih dipuja lengkap dengan sesajian oleh masyarakat setempat. *** [220514]
Share:

Klenteng Hok Tek Bio

Dalam setiap daerah yang banyak terkonsentrasi orang Tionghoa, dipastikan bahwa daerah tersebut biasanya merupakan daerah kekuatan ekonomi yang ada di dalam daerah tersebut. Kebanyakan orang akan menyebutnya sebagai Pecinan.
Dalam kawasan Pecinan, biasanya akan dijumpai klenteng sebagai tempat peribadatannya. Besar kecilnya sebuah klenteng akan tergantung pada kekuatan umatnya untuk membiayai pembangunan dan pemeliharaannya. Di Kota Bogor, kawasan Pecinannya di seputaran Pasar Bogor atau yang dulu dikenal dengan Handelstraat atau yang kini menjadi Jalan Surya Kencana, menggambarkan hal tersebut. Di daerah tersebut terdapat sebuah tempat peribadatan orang Tionghoa yang dinamakan Klenteng Hok Tek Bio. Nama Hok Tek Bio berasal dari kata Hok yang berarti rezeki, Tek berarti kebajikan, dan Bio adalah rumah ibadah, sehingga Hok Tek Bio memiliki rumah ibadah mendatangkan rezeki dan kebaikan.


Klenteng Hok Tek Bio terletak di Jalan Surya Kencana No. 1 Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi klenteng ini berada di samping Plasa Bogor atau di sebelah selatan Pintu 1 Kebun Raya Bogor.
Bangunan klenteng ini didirikan pada tahun 1872 yang semula hanya berukuran 180 m, namun kemudian diperluas hingga mencapai bentukmya seperti sekarang dengan luas bangunan 635,50 m² di atas lahan seluas 1.397 m². Pada awalnya, Klenteng Hok Tek Bio merupakan sebuah klenteng yang dibangun oleh orang Tionghoa sebagai tempat peribadatan kepercayaan Kong Hu Chu. Akan tetapi, pada masa pemerintahan Orde Baru (Orba), klenteng ini mengalami tekanan sehingga pihak klenteng harus merelakan nama klentengnya diubah menjadi Vihara Dhanagun agar keberadaannya tetap diperbolehkan.
Ketika Orba tumbang dan digantikan oleh kepemimpinan baru, yaitu Presiden Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, angin segar mulai menyejukkan kembali pihak klenteng karena pada masa pemerintahan Gus Dur, diterbitkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 6 Tahun 2006 tentang pencabutan Inpres No. 14 Tahun 1967, nama Klenteng Hok Tek Bio boleh digunakan kembali dan berbagai perayaan masyarakat Tionghoa lainnya juga diperbolehkan, seperti perayaan Imlek, Cap Go Meh dan atraksi barongsai.
Klenteng yang memiliki gaya arsitektur khas perpaduan budaya (China, Indonesia, dan Belanda) ini, terdiri atas beberapa bagian, yaitu halaman, bangunan utama, dan bangunan tambahan. Halamannya yang luas bisa digunakan untuk parkir umatnya yang akan melakukan sembahyang, maupun untuk acara lainnya. Sedangkan bangunan utamanya, dibagi dalam tiga bagian, yaitu teras, ruang tengah, dan ruang suci utama. Pada bagian belakang bangunan utama terdapat bangunan yang berfungsi sebagai ruang makan rohaniwan, ruang dapur, dan toilet.
Pada tembok klenteng yang berada di halaman sebelah selatan yang berbatasan dengan tembok halaman Plaza Bogor, terpasang sebuah peringatan berdasarkan Monumenten Ordonantie dan Undang-Undang (UU) RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Hal ini sengaja dipasang oleh pengurus klenteng untuk memberitahukan agar semua pengguna klenteng sudi menjaga dan tidak merusak kelestarian bentuk klenteng. *** [120514]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami