The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Surabaya Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surabaya Heritage. Tampilkan semua postingan

Pecel Semanggi Surabaya

Minggu (20/03) saya membeli makan siang di dekat Pasar Semolowaru, pulangnya saya memotong jalan melewati perumahan. Sampai pos jaga perumahan, yang berada di pertemuan antara Jalan Semolowaru Tengah IX dan Semolowaru Tengah XIV, saya menjumpai seorang ibu menggendong bakul (tenggok, Jawa) di punggungnya. Ibu itu kemudian menaruh bakul di dekat pos jaga tersebut. Lalu, saya bertanya ke ibu separoh baya itu: “Jual apa, Bu?”
“Semanggi, Mas?” jawab sang ibu sambil menata bakulnya.
“Waduh, apa pula itu?” seloroh saya untuk mengundang eksplanasi dari ibu tadi.
Pecel, Mas. Sayurane saking godhong semanggi.” terang ibu tersebut.
Akhirnya, dari obrolan saya dengan ibu yang ternyata penjual pecel semanggi tersebut berbuah sebuah pengetahuan kuliner khas Surabaya.
Semanggi (Marsilea Crenata Presl) adalah sekelompok paku air (Salviniales) dari marga Marsilea yang di Indonesia mudah ditemukan di pematang sawah atau tepi saluran irigasi. Tanaman ini memang doyan air berbentuk semak menjalar sepanjang sekitar 25 cm. Berwarna hijau kecoklatan, dan majemuk di mana tiap tangkai terdiri dari tiga atau empat helai daun, lonjong, tepi rata, pangkal runcing, panjang kurang lebih 2 cm, dan lebar sekitar 1 cm. Sepintas terlihat seperti bunga tapak dara, hanya saja kalau Semanggi warnanya hijau.
Daun tanaman semanggi bisa dijadikan bahan makanan. Orang asli Australia (Aborigin) tercatat sebagai kelompok masyarakat yang juga memanfaatkan daun tersebut sebagai bahan makanan. Di Surabaya, semanggi adalah warisan kuliner tradisional yang hingga kini masih bisa ditemui. Makanan warga Surabaya ini terdiri dari rebusan daun semanggi, kecambah, bunga turi juga daun ketela. Tak lupa diberi siraman, yang membuatnya berbeda adalah racikan bumbu tela kukus, lalu ditumbuk hingga halus dan ditambah kemiri goreng. Satu hal yang tidak boleh ketinggalan ketika menyantap semanggi adalah kerupuk puli.


Yang membuat semanggi begitu melegenda karena sajiannya yang istimewa. Berada di atas ‘pincuk’ atau semacam daun pisang yang dibentuk menyerupai kerucut sebagai pengganti piring. Terkadang, disediakan suru (daun pisang yang dibentuk menyerupai sendok) untuk memakannya. Soal rasa tidak perlu khawatir, selain enak makanan tradisional yang satu ini juga menyehatkan bagi tubuh.
Daun semanggi diyakini dapat menyembuhkan beberapa penyakit di antaranya kolesterol, kencing manis, osteoporesis ataupun asma. Memasak makanan ini pun tak boleh sembarangan. Agar rasanya enak, beragam sayuran harus direbus di dalam panci yang terbuat dari tanah liat dan dimasak di atas tungku berbahan bakar kayu bakar.
Walaupun kini penjual semanggi sedikit, namun keistimewaan semanggi memang tak lekang dimakan usia. Penjual semanggi masih tetap menggunakan kain jarit dan selendang untuk memanggul semanggi. Hal ini membuktikan bahwa budaya bangsa ini masih tetap terjaga. Sebagian besar penjual makanan ini berasal dari Desa Kendung, Benowo, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Desa ini dikenal dengan nama Kampung Semanggi. Di sana warga membudidayakan tanaman Semanggi karena sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai penjual semanggi.
Dahulu semanggi ditemukan secara tidak sengaja. Tanaman ini tumbuh secara liar di daerah Benowo. Kemudian masyarakat di daerah Benowo khususnya di Desa Kendung mulai menanam semanggi di depan rumah dan dijadikan sebagai sumber mata pencaharian mereka sehari-hari. Semanggi sudah diproduksi oleh masyarakat sekitar Benowo dan Manukan. Hampir semua pedagang semanggi yang ada di Surabaya ini berasal dari tempat yang sama dan juga masih saling terikat hubungan saudara. Tidak semua penjual semanggi memasak atau memproduksi sendiri barang dagangannya, sebagian dari penjual tersebut mencapat stock dari tengkulak dan hanya bertugas sebagai penjual saja. Setiap pagi mereka berbondong-bondong meminjam atau istilahnya carter bemo untuk berangkat bersama-sama ke tempat di mana mereka akan berjualan. Sistem tempat berjualan mereka berpencar, tidak berpatokan hanya pada satu tempat saja. Jika pada hari biasa mereka biasanya berjualan keliling dari kampung ke kampung hingga ke gang-gang perumahan untuk menjajakan jualannya. Namun jika hari Sabtu atau Minggu dan hari libur, penjual semanggi biasa ditemui di beberapa sudut taman kota seperti taman bungkul, dan taman prestasi. Tetapi biasanya, sebelum matahari terbenam para penjual semanggi ini sudah kembali pulang.
Makanan yang sudah menjadi ikon Kota Surabaya ini ternyata mulai ada sejak tahun 1945, dan saking kondangnya kekayaan kuliner khas Surabaya ini pernah menjadi sebuah lagu keroncong yang diciptakan oleh S. Padimin pada era 1950-an dengan judul Semanggi Suroboyo.
Begini lirik lagunya:

Semanggi Suroboyo
Lontong balap Wonokromo
Dimakan enak sekali,
Sayur semanggi krupuk puli
Bung ... mari ...

Harganya sangat murah,
Sayur semanggi Suroboyo
Didukung serta dijual
Masuk kampung keluar kampung
Bung ... beli ...

Sedap benar bumbunya dan enak rasanya
Kankung turi cukulan dicampurnya
Dan tak lupa tempenya
Mari bung mari beli sepincuk hanya setali
Tentu memuaskan hati
Mari beli sayur semanggi
Bung ... beli ...

Share:

Gedung BNI KLN Jembatan Merah Surabaya

Koridor Jalan Rajawali merupakan salah sau bagian dari pola jalan kota lama. Dulunya jalan ini bernama Heerenstraat. Heerenstraat berasal dari bahasa Belanda, yang merupakan gabungan dari kata Heeren dan Straat. Heeren berarti Tuan Besar, dan Straat artinya jalan.
Koridor Jalan Rajawali yang terletak di ujung sebelah barat Jembatan Merah, dulu merupakan pusat bongkar muat barang dari kapal-kapal yang berlayar menyusuri Kali Mas. Selain menjadi pusat bongkar muat, Jalan Rajawali ini juga berkembang menjadi pusat kegiatan perdagangan utama pada tahun 1900. Sebelumnya daerah ini juga menjadi pusat permukiman orang-orang Eropa. Banyak penguasa dan pengusaha yang tinggal di sini. Itulah kenapa jalan ini pada awalnya dikenal sebagai Heerenstraat, karena banyak ‘tuan-tuan’ yang tinggal di situ.


Karakteristik Jalan Rajawali sebagai pusat perdagangan utama pada saat itu terlihat dari adanya deretan bangunan perkantoran dan perdagangan dengan gaya arsitektur yang khas dan beragam yang masih terlihat kondisi eksistingnya sampai saat ini, di antaranya adalah Gedung Bank Negara Indonesia (BNI) Kantor Layanan (KLN) Jembatan Merah. Gedung BNI ini terletak di Jalan Rajawali No. 10 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada pada pertemuan Jalan Kasuari dengan Jalan Rajawali, atau tepat berada di di sebelah selatan gedung Eks De Javasche Bank.
Sesuai dengan plakat kuningan yang terpasang dinding bagian depan, diketahui bahwa gedung ini dibangun pada tahun 1920. Awalnya, gedung ini merupakan salah satu bangunan milik NV Borneo Sumatra Handel Maatschappij (Borsumij) atau Kantoorgebouw van de Borneo Sumatra Handel Maatschappij te Soerabaja. Borsumij merupakan salah satu perusahaan Belanda yang masuk dalam the Big Five. Perusahaan ini sejak tahun 1894 telah beroperasi di Hindia Belanda. Kegiatannya terutama berada pada bidang perindustrian yang dapat kita lihat dari anak perusahaannya, seperti NV Pers & Stampwerfabr Ngagel (pabrik kaleng), NV Jacatra (pabrik kulit), NV Asbest (pabrik asbes), NV Ligvoet (pabrik ubin), NV Fiscal C.W. (perakitan sepeda), NV Soerabaja (pabrik aki), NV Oranje Brouwerij (pabrik bir), NV Nebritex (pabrik tekstil), dan beberapa apotek.
Karena Borsumij merupakan salah satu perusahaan konglomerasi yang cukup terkenal di Hindia Belanda, maka banyak bangunan yang didirikan olehnya. Entah itu digunakan untuk kantor maupun gudang-gudang termasuk juga di Surabaya ini. Salah satunya yang sekarang digunakan untuk BNI KLN Jembatan Merah ini.
Di lihat dari muka bangunannya (fasade), gedung BNI ini masih dipengaruhi oleh gaya arsitektur Neo-Klasik di Eropa. Ciri yang bisa dilihat adalah penggunaan atap dan menara yang menyatu dengan bangunan yang dilengkapi dengan dormer (jendela di atap).
Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/251/402.1.04/1996, gdung BNI ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dengan nomor urut 30 dengan sebutan arsitektur bangunan kolonial sebagai penunjang kawasan kota lama. *** [020815]

Share:

Gardu ANIEM Panglima Sudirman

Sewaktu istirahat sebentar di Taman Ade Irma Suryani sambil menikmati Monumen Bambu Runcing, terlihat bangunan unik berbentuk limas dengan atap menyerupai kerucut. Yang terlintas dalam benak saya, bangunan apa pula itu?
Ternyata bangunan lawas nan unik tersebut adalah Gardu ANIEM. Gardu ini terletak di Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gardu ini berada di sebelah timur Monumen Bambu Runcing atau di Taman Ade Irma Suryani.
ANIEM adalah singkatan dari Algeemene Nederlandsche-Indische Electriciteit Maatschappij, yaitu sebuah perusahaan listrik swasta yang didirikan oleh perusahaan gas Nederlandsche Indische Gas Maatschappij (NIGM) pada 26 April 1909 di Surabaya. Perusahaan ini berada di bawah NV Handelsvennootschap yang sebelumnya bernama Maintz &Co., yang bermarkas di Amsterdam.


Dalam rangka mendistribusikan kebutuhan listirk di Surabaya, ANIEM berusaha mendirikan beberapa gardu listrik di beberapa titik, seperti di Jalan Dukuh, Jalan KH Mas Mansyur, Jalan Kebalen Timur, Jalan Kedungdoro, dan Jalan Panglima Sudirman.
Gardu ANIEM Panglima Sudirman ini dulu merupakan gardu listrik untuk menempatkan trafo 6 kV, atau dalam bahasa Belanda dikenal dengan transformatorhuis (rumah trafo). Lengkapnya adalah Transformatorhuis van de Algemeene Nederlandsche-Indische Electriciteit Maatschappij te Soerabaja.
Transformator atau sering disingkat menjadi trafo, adalah suatu alat listrik yang dapat mengubah taraf suatu tegangan AC ke taraf yang lain. Maksud dari pengubahan taraf tersebut di antaranya seperti menurunkan tegangan ataupun menaikkan tegangan. Sehingga, arus listrik bisa stabil dan terkendali tegangannya.
Dalam waktu yang tidak berapa lama, ANIEM berkembang menjadi perusahaan listrik swasta yang besar. Selain menangani Surabaya, ANIEM juga mendapat kepercayaan untuk menangani masalah kelistrikan di Banjarmasin, Pontianak, Singkawang, dan Banyumas. *** [070216]

Share:

Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Surabaya Pusat

Jalan Pasar Turi tidak terlalu lebar namun dalam kesehariannya dibilang ramai pada waktu siang harinya. Maklum, karena di situ termasuk lingkungan pasar dan pertokoan. Namun siapa sangka, jika jalan tersebut menyimpan catatan sejarah dalam hal pemadam kebakaran.
Bangunan lawas berwarna biru yang berada di pojokan merupakan saksi bisunya. Bangunan lawas tersebut adalah Kantor Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Surabaya Pusat. Kantor ini terletak di Jalan Pasar Turi No. 21 Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi kantor ini berada di sebelah utara Pasar Turi, atau sebelah barat Tugu Pahlawan.
Dinas Pemadam Kebakaran pada masa Hindia Belanda disebut de Brandweer. Di kota Surabaya de Brandweer didirikan pada 4 September 1810 melalui peraturan (reglement) yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Daendels ditunjuk oleh pemerintah Perancis sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda dari tahun 1808 sampai 1811.


Pada awal berdirinya Damkar Kota Surabaya, sarana dan prasarana masih sangat sederhana. Struktur organisasi pengurus belumlah lengkap, dan kondisi deponya pun masih sangat sederhana. Pada waktu itu, depo atau rumah Damkar yang dijadikan sebagai pusat Damkar Kota Surabaya masih berada di Pasar Besar (sekarang Jalan Pahlawan). Bangunannya masih terlihat sederhana, yaitu bangunan semi permanen yang berdindingkan anyaman bambu (gedeg).
Sejak berdiri pada tahun 1810 hingga 1905, Damkar masih terkendala dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang dimilikinya. Baru pada tahun 1906 Damkar Kota Surabaya mengalami modernisasi sarana dan prasarana akibat dari penetapan kota Surabaya berstatus kotamadya atau gemeente.
Modernisasi dilakukan mulai dari peralatan pemadam kebakaran, kepengurusan anggota de Brandweer hingga pemindahan depo Damkar ke Pasar Turi baru pada tahun 1927. Keadaan modernisasi Damkar Kota Surabaya tidak banyak berubah hingga tahun 1942. Modernisasi Damkar Kota Surabaya mendapatkan respon cukup baik dari masyarakat Surabaya, karena telah membantu masyarakat dalam mengatasi kebakaran lebih cepat dan efektif.
Jadi alasan dipindahkannya depo Damkar yang semula dari Pasar Besar ke Pasar Turi dikarenakan untuk mengimbangi modernisasi sarana dan prasarana yang telah berlangsung seperti pembaharuan struktur organisasi petugas Damkar Kota Surabaya dan peremajaan maupun pengadaan peralatan pemadam kebakaran yang baru. Pengadaan peralatan pemadam kebakaran mengalami peningkatan jumlah, maka sewajarnya untuk dibangun depo Damkar yang baru dan lebih luas. *** [070216]

Kepustakaan:
AVATARA Volume 1, No. 3, Oktober 2013
Share:

Gedung BPM Jawa Timur

Jalan Pahlawan, atau yang dulu dikenal dengan Aloon-Aloonstraat ini, menyimpan banyak memori historis. Beberapa deretan bangunan lawas menjadi saksi bisu akan adanya sejarah itu, di antaranya adalah Gedung Penanaman Modal (BPM) Provinsi Jawa Timur, atau yang selanjutnya disebut Gedung BPM Jawa Timur.
Gedung ini terletak di Jalan Pahlawan No. 116 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di sebelah selatan Crown Restaurant dan Ballroom, atau di sebelah utara gedung PT PELNI.
Awalnya, gedung ini bernama De Pröttel, yang didirikan oleh kongsi usaha dagang milik Andreas Heinrich Pröttel. Gedung ini dibangun pada tahun 1912, dan setelah selesai digunakan sebagai kantor Andreas Heinrich Pröttel & Co., dengan membeli saham kepemilikan Soerabaiasch Handelsblad.


Soerabaiasch Handelsblad. merupakan surat kabar berbahasa Belanda pertama di Surabaya yang didirikan pada tahun 1865. Pada 1930, saham Soerabaiasch Handelsblad dimiliki penuh oleh Andreas Heinrich Pröttel & Co., sehingga sejak tahun itu gedung De Pröttel digunakan sebagai kantor redaksi koran Soerabaiasch Handelsblad. Kemudian kantor redaksi surat kabar De Zweeb juga pernah satu gedung dengan Soerabaiasch Handelsblad.
Pada masa pendudukan Jepang, hal-hal yang berbau Belanda berusaha ditiadakan. Termasuk juga Soerabaiasch Handelsblad dilarang terbit lagi. Sebagai penggantinya, Jepang menerbitkan surat kabar bernama Soera Asia. Setelah Indonesia merdeka, Soerabaiasch Handelsblad dihidupkan kembali hingga tahun 1950. Setelah itu, surat kabar tersebut dilarang terbit lagi oleh pemerintah RI.
Kemudian gedung ini juga pernah digunakan sebagai kantor Pengairan Kali Brantas Bagian Hilir untuk perencanaan infrastruktur sungai di Surabaya, seperti Kali Mas dan Jagir serta penyediaan air baku sebagai bahan baku air minum. Karena itulah, gedung ini juga dikenal sebagai Gedung Brantas.
Memang banyak sebutan untuk gedung lawas peninggalan kolonial Belanda ini mengingat gedung pernah berganti kepemilikan atau penggunanya hingga beberapa kali. Seperti pernah menjadi kantor Harian Memorandum, kantor Catatan Sipil Kota Surabaya, dan kantor Dinas Perumahan Surabaya.
Setelah sempat terlantar, pada tahun 2010 gedung ini difungsikan sebagai Kantor Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Perizinan Terpadu (P2T). Struktur Unit Pelaksana Teknis P2T secara resmi ditetapkan pada 27 September 2010. Melalui Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 71 Tahun 2010 dan Peraturan Gubernur Nomor 77 Tahun 2010, UPT P2T berada di bawah Badan Penanaman Modal Provinsi Jawa Timur. Oleh karena itu, bangunan lawas ini kemudian dikenal sebagai gedung BPM Jawa Timur. *** [070216]

Share:

Gedung PT Kasa Husada Wira Jatim

Menyusuri Kali Mas di belakang Jembatan Merah Plaza (JMP) membawa kenangan ke masa lampau. Deretan bangunan lawas banyak menghiasi tepian Kali Mas, utamanya bangunan pabrik dan pergudangan peninggalan masa kolonial Belanda. Salah satu bangunan lawas yang masih berdiri dan beroperasi adalah Gedung PT Kasa Husada Wira Jatim.
PT Kasa Husada Wira Jatim merupakan pabrik alat kesehatan yang memproduksi kapas dan kasa untuk keperluan kesehatan dan kosmetika, serta pembalut wanit bersalin dan haid. Pabrik ini terletak di Jalan Kalimas Barat No. 17-19 Kelurahan Krembangan Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pabrik ini berada di tepi sebelah barat Kali Mas, atau tepatnya 300 meter arah utara dari Penjara Kalisosok.
Semula, gedung pabrik PT Kasa Husada Wira Jatim ini adalah pabrik kain kasa yang didirikan oleh pengusaha Belanda dengan nama NV Verbandstoffen Fabriek Soerabaia pada 11 Juni 1926.


Pada saat dilakukan nasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1957, dilakukan pengambil alihan perusahaan-perusahaan milik orang Belanda yang bergerak di bidang farmasi, seperti NV Chemicalier Handle Rathcamp & Co. (Jakarta), NV Pharmaceutische Hendel Svereneging J. Van Gorkom & Co. (Jakarta), NV Pharmaceutische Hendel Svereneging De Gedeh (Jakarta), NV Bandoengsche Kinine Fabriek (Bandung), NV Insone Combinatie Voor Chemicals Industries (Bandung), NV Jodium Ondeneming Watoekadon (Mojokerto), NV Verbandstoffen Fabriek (Surabaya), dan Drogistery Ballem (Surabaya).
Pada 1958 perusahaan-perusahaan tersebut mengalami proses nasionalisasi dan dibentuk menjadi Bapphar (Badan Pusat Penguasaan Perusahaan Pharmasi Belanda). Bapphar kemudian digabung dengan beberapa perusahaan dari Bappit (Badan Pusat Penguasaan Industri dan Tambang).
Berdasarkan UU No. 19/Prp/Tahun 1960 tentang Perusahaan Negara (PN) dan PP No. 69 Tahun 1961, Departemen Kesehatan mengubah Bapphar menjadi Badan Perusahaan Umum (BPU) Farmasi Negara dan membentuk beberapa Perusahaan Negara Farmasi (PNF) yaitu Radja Farma (Jakarta), Nurani Farma (Bandung), Nakula Farma (Jakarta), Bhineka Kina Farma (Bandung), Bio Farma (Bandung), Sari Husada (Yogyakarta) dan Kasa Husada (Jawa Timur). Pada perkembangan selanjutnya melalui PP No. 3 Tahun 1969 tanggal 23 Januari 1969, PNF Radja Farma, PNF Nakula Farma, PNF Sari Husada dan PNF Bhineka Kina Farma digabungkan dan dilebur menjadi perusahaan Farmasi dan Alat Kesehatan Bhineka Kimia Farma.
Pada 19 Maret 1971 pemerintah melalui PP No. 16 Tahun 1971, mengalihkan bentuk PN Farmasi Kimia Farma menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Pada 1997 PT Kimia Farma menjadi sebuah perusahaan terbuka (Tbk) sehingga masyarakat ikut serta dalam kepemilikan saham di PT Kimia Farma.
Sedangkan, Kasa Husada tetap mempertahankan bidang usahanya pada produksi kain kasa, begitu pula halnya dengan Sari Husada dengan pabrik susunya. Dalam perjalanan usahanya, Kasa Husada akhirnya diambil alih oleh PT Panca Wira Usaha Jawa Timur (holding company), sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Jawa Timur, sebagai anak perusahaannya dengan nama PT Kasa Husada Wira Jatim.
Gedung yang digunakan untuk produksi kain kasa ini masih terawat dengan baik, dan sesuai dengan Surat Keputusan Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/77/436.1.2/2015 tanggal 17 Maret 2015 bangunan PT Kasa Husada Wira Jatim ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB). *** [170116]

Share:

Gedung PT PELNI Surabaya

Kawasan Jalan Pahlawan tempo doeloe dikenal dengan Aloon-Aloonstraat. Dulu di kawasan ini terdapat sebuah taman yang luas dan indah serta di tengah-tengahnya ada gazebonya. Masyarakat Surabaya menyebutnya dengan alun-alun. Tapi, alun-alun tersebut sudah tak ada, tergusur oleh gedung Bank Indonesia Cabang Surabaya.
Seperti daerah di Jawa lainnya, kawasan alun-alun pada umumnya menyimpan banyak sejarah dari ceritera masa lalu yang saat ini masih dapat dilihat dari beberapa bangunan di sekitarnya yang berkarakter kolonial maupun bangunan yang tampilannya masih bertahan dari dulu hingga sekarang. Tak terkecuali, bangunan lawas yang bernama Gedung PT PELNI.
Gedung ini terletak di Jalan Pahlawan No.114 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di sebelah selatan gedung Badan Penanaman Modal Unit Pelaksana Teknis Provinsi Jawa Timur, atau di sebelah utara gedung Kantor Gubernur Provinsi Jawa Timur.


Gedung PT PELNI ini awalnya merupakan gedung Stoomvaart Maatschappij Nederland (Kantoorgebouw Stoomvaart Maatschappij Nederland aan de Aloon-Aloostraat te Soerabaja), yang dirancang oleh biro arsitek N.V. Algemeen Ingenieurs- en Architecten Bureau (A.I.A. Bureau). Pembangunan gedung berlantai dua ini memakan waktu dua tahun, dimulai tahun 1931 dan selesai pada tahun 1932.
Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN) adalah perusahaan pelayaran samudera yang didirikan pada tahun 1870. Tujuannya untuk menyelenggarakan pelayaran langsung dari Belanda ke Hindia Belanda, dan sebaliknya.
Surabaya terpilih untuk membuka kantor cabang, karena Surabaya berada di jalur pelayaran samudera yang strategis di Hindia Belanda. Kegiatan pelayaran di Surabaya tergolong ramai kala itu. Kapal-kapal layar besar yang singgah di pelabuhan Surabaya datang dari berbagai negara, seperti Denmark, Inggris, Belanda, Belgia, Jerman, Perancis dan Tiongkok. Tak hanya itu, pelayaran antar pulau di Hindia Belanda juga dibuka, seperti Surabaya-Semarang-Batavia pp, Surabaya-Makassar pp, Surabaya-Batavia-Padang pp, maupun Surabaya-Makassar-Manado-Ternate-Ambon pp.
Selama pendudukan Jepang, gedung ini pernah dijadikan Kantor Berita Domei. Pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 pukul 11.15 WIB, berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diterima oleh Markonis Yacob. Meskipun disensor oleh Jepang berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh Jawa Timur.
Setelah Indonesia merdeka, gedung SMN ini sempat mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan atau penggunanya. Pada 1959 pernah dipakai oleh perusahaan Central Trading Company, kemudian pada 1964 perusahaan pelayaran PT Jakarta Lloyd. Lalu, pada 1991 bangunan ini dibeli oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI).
Sejak bangunan baru PT PELNI yang lebih besar dan tinggi selesai dibangun di sampingnya, bangunan lawas nan bersejarah tersebut menjadi kosong. Bahkan, ketika saya mengunjunginya tampak terpasang spanduk yang terpasang di dinding muka. Bunyi spanduk itu adalah Commercial For Rent. *** [070216]

Share:

Gedung Percetakan Van Dorp Surabaya

Koridor Jalan Veteran menyimpan memori masa lalu yang sangat kental. Deretan bangunan dengan keanekaragaman arsitektur peninggalan kolonial Belanda memperlihatkan perkembangan arsitektur di Hindia Belanda mulai tahun 1870-an sampai tahun 1940-an. Keanekaragaman gaya arsitektur bangunan tersebut dapat menjadi bukti fisik sejarah perkembangan arsitektur kolonial Belanda di Surabaya.
Salah satu bangunan lawas yang turut menyumbang pada keanekaragaman arsitektur di koridor tersebut adalah Gedung Percetakan Van Dorp. Gedung ini terletak di Jalan Veteran, Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di sebelah selatan gedung Asuransi ACA, atau utara gedung Telegraf.
Bangunan lawas berlantai tiga dan bercat putih ini sekarang terlihat kosong, seolah tak berpenghuni. Dinding tembok bagian bawah terlihat kusam dan kotor. Alih-alih grafiti tapi coretan dari cat belaka. Pemandangan kurang sedap ini seakan-akan turut andil dalam menyembunyikan kisah dari gedung itu sendiri.


Padahal, gedung ini dulunya cukup terkenal di kawasan tersebut. Gedung ini adalah Toko Buku dan Percetakan Van Dorp (Boekhandel en Drukkerij v/h G.C.T. van Dorp te Soerabaja). Banyak orang Belanda maupun orang Eropa lainnya kalau mencari buku, peralatan alat tulis kantor, alat musik maupun keperluan untuk surat menyurat ada di toko ini. Bila diukur zaman sekarang barangkali sejajar dengan Toko Buku Gramedia.
Bangunan gedung ini dibangun pada tahun 1923 dengan arsitektur belanggam Art Deco, hasil rancangan arsitek Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker. Gedung ini memiliki banyak kolom yang berfungsi untuk sirkulasi udara dan sekaligus pencahayaan yang datangnya dari sinar mentari. Di atas pintu utama yang disela dengan kolom, terdapat ornamen kala yang pada umumnya banyak dijumpai di bangunan candi.
Bangunan bekas gedung percetakan milik Van Dorp ini tidak banyak mengalami perubahan sejak didirikan. Bagian fasad masih tampak utuh dan megah, hanya sedikit terlihat kusam lantaran sudah lama tidak dilakukan pengecatan ulang.
Di kala masih aktif, Toko Buku Van Dorp banyak menerbitkan buku di antaranya Indische Tuinbloemen dan Winkler Prins. Indische Tuinbloemen adalah buku yang disusun oleh M.L.A. Bruggeman, seorang botanikus pengelola Kebun Raya Bogor dengan ilustrator Ojong Soerjadi. Buku ini memuat 107 kolom kosong dengan keterangan nama bunga di bawahnya. Sedangkan, Winkler Prins adalah sebuah ensiklopedia yang terdiri dari 16 jilid.
Toko buku ini juga secara rutin menerbitkan Van Dorp’s Geillustreerde Catalogus van Boekwerken, sebuah katalog buku-buku terbitan Van Dorp yang diberikan kepada pelanggan. Selain itu, juga menerbitkan almanak dan kartu pos. Terbitan yang terakhir ini yang sering dijumpai oleh masyarakat Surabaya pada waktu itu sehingga lama kelamaan gedung tersebut dikenal sebagai gedung percetakan Van Dorp.
Toko Buku Van Dorp sangat terkenal di Surabaya pada masa Hindia Belanda. Toko yang berpusat di Batavia ini memiliki jaringan di Bandung, Semarang, dan Surabaya, dengan distribusi ke seluruh wilayah Hindia Belanda. Oleh karena itu, sangatlah disayangkan bila bangunan gedung tersebut terlantar. *** [080216]


Share:

Kantor Direksi PTPN X Surabaya

Jalan Jembatan Merah tidak terlalu panjang. Mungkin tak sampai 1 kilometer. Akan tetapi, jalan yang dulunya bernama Willemskadestraat cukup melegenda di Surabaya. Hal ini disebabkan oleh perjalanan sejarah yang ada di sekitar jalan tersebut. Sebelum ada Pelabuhan Perak, dulu aktivitas bongkar muat perdagangan berada di sekitar Jembatan Merah ini. Sehingga, bisa dibayangkan betapa ramainya kawasan tersebut kala itu.
Selain itu, deretan bangunan lawas yang seolah memagari kawasan Jembatan Merah itu juga turut menunjang sebagai kawasan kota lama Surabaya. Keanekaragaman arsitektur yang berada di Jalan Jembatan Merah tak jauh berbeda dengan yang berada di sebelahnya, yaitu Jalan Veteran. Karena secara historis, Jalan Jembatan Merah dulu merupakan bagian dari Societeitstraat (sekarang Jalan Veteran).
Salah satu bangunan lawas yang turut membentuk kawasan Jembatan Merah, dan masih bisa disaksikan sampai sekarang adalah gedung yang digunakan sebagai Kantor Direksi PT. Perkebunan Nusantara X (Persero), atau yang biasa disingkat menjadi Kantor Direksi PTPN X. Kantor ini terletak di Jalan Jembatan Merah No. 3 – 9 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi kantor ini berada di selatan Prima Master Bank, atau di sebelah utara Maybank.


PTPN X merupakan perusahaan agribisnis berbasis perkebunan, di antaranya tebu dan tembakau serta jasa cutting bobbin dan rumah sakit. Didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 15 tanggal 14 Februari 1996 tentang pengalihan bentuk Badan Usaha Milik Negara dari PT Perkebunan (eks PTP 19, eks PTP 21-22 dan eks PTP 27) yang dilebur menjadi PT Perkebunan Nusantara X (Persero) dan tertuang dalam Akta Notaris Harun Kamil, S.H. No. 43 tanggal 11 Maret 1996 yang mengalami perubahan kembali sesuai Akta Notaris Sri Eliana Tjahjoharto, S.H. No. 1 tanggal 2 Desember 2011.
Pada 2 Oktober 2014, Menteri BUMN Dahlan Iskan meresmikan Holding BUMN Perkebunan yang beranggotakan PTPN I, II, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, XII, XIII, XIV dengan PTPN III sebagai induk Holding BUMN Perkebunan. Dasar hukum perubahan PTPN X (Persero) menjadi PTPN X adalah Keputusan Para Pemegang Saham Perusahaan Perseroan PT Perkebunan Nusantara X Nomor: PTPN X/RUPS/01/X/2014 dan Nomor: SK-57/D1.MBU/10/2014 tentang Perubahan Anggaran Dasar.
Gedung Kantor Direksi PTPN X ini awalnya merupakan gedung Koloniale Bank, yang dibangun pada tahun 1927 dengan menggunakan hasil rancangan dari arsitek Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker. Gedung ini dirancang Schoemaker, selang empat tahun setelah menyelesaikan gedung percetakan Van Dorp yang berada setengah kilometer arah selatan dari gedung Koloniale Bank.
Koloniale Bank didirikan pada tanggal 22 Maret 1881 di Belanda. Salah satu pendirinya adalah F.S. Nierop, direktur Bank Amsterdam. Kantor pusatnya berada di Jalan Herengracht 543 Amsterdam, dan di Hindia Belanda, Koloniale Bank mempunyai kantor cabang di Batavia dan Surabaya.
Sebagai bank, Koloniale Bank memfokuskan pada pemberian modal kerja untuk usaha di bidang perkebunan dan industri terutama di Hindia Belanda. Hal ini agar perusahaan yang bergelut dalam perkebunan dan industri ini dapat beroperasi sebagaimana mestinya. Sehingga, hasil produksi usaha tersebut meningkat dan arus barang juga bisa lancar.
Hal ini selaras dengan sejarah bank tersebut, yang sebenarnya modal awalnya berasal dari holding sejumlah perusahaan besar yang bergerak dalam perkebunan (terutama gula dan kopi) di Hindia Belanda. Jadi, logis bila gedung bekas Koloniale Bank ini sekarang menjadi gedung Kantor Direksi PTPN X.
Gedung berlantai dua dan bercat putih ini memiliki gaya arsitektur Art Deco. Bangunannya besar dan tinggi serta simetris. Kolom-kolomnya turut membentuk karakter bangunannya. Pada lantai dua terdapat selasar, dan di atas pintu utama terdapat balkon yang menghadap ke Kali Mas. *** [080216]

Share:

Museum Kanker Indonesia

Saya pernah memboceng motor teman melintas di Jalan Kayun tapi belum pernah melihat museum ini, karena pada saat dari Keputran mengarah ke Surabaya Plaza kebetulan saya menikmati keindahan bunga-bunga yang dipajang oleh Toko Bunga yang berada di timur jalan itu.
Kemudian pada waktu naik motor sendiri melewati jalan ini lagi, baru tahu bahwa di Jalan Kayun ini ternyata ada sebuah museum. Namanya Museum Kanker Indonesia. Museum ini terletak di Jalan Kayun No. 16-18 Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di sebelah utara Gereja Kristen Abdiel Trinitas, atau di belakang Apartemen Trilium.
Selama ini, kanker dipandang sebagai penyakit yang berbahaya. Namun, kengeriannya tidak tampak nyata di benak masyarakat. Padahal, menurut data World Health Organization (WHO), tercatat bahwa satu dari empat penduduk dunia akan terkena kanker.
Di Indonesia, pembunuh nomor satu wanita ialah kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks). Pada umumnya orang-orang cenderung bicara kanker pada tataran umum saja. Tapi, mereka tidak tahu kanker itu riilnya seperti apa.
Berawal dari kondisi yang demikian, dr. Ananto Sidohutomo menggagas berdirinya sebuah museum kanker untuk memberikan pemahaman akan bahaya kanker. Museum ini diresmikan pada tanggal 31 Oktober 2013 dengan nama Museum Kanker Indonesia. Museum ini menempati sebuah bangunan gedung Yayasan Kanker Wisnuwardhana (YKW) yang telah diresmikan oleh Gubernur Provinsi Jawa Timur R.P. Moh. Noer pada tanggal 30 Mei 1974. Jadi, Museum Kanker Indonesia ini didirikan sebagai museum edukasi yang tak hanya menampilkan sisi sejarah perjuangan manusia dalam memberantas kanker tetapi juga memajang sejumlah koleksi jaringan bagian tubuh manusia yang terkena kanker.


Di dalam museum ini, pengunjung akan diperlihatkan berbagai macam jenis kanker dalam bentuk jaringan kanker yang diawetkan di dalam toples berisi cairan formalin. Selain itu juga diperlihatkan berbagai foto dan gambar yang menunjukkan kanker yang menyerang organ tubuh.
Sebenarnya jenis kanker ada ratusan. Namun, museum ini baru memiliki sekitar 30-an jenis kanker yang bisa dilihat secara langsung. Meski koleksi di museum masih 30-an, tapi pengumpulannya tidak mudah. Koleksi ini merupakan jerih payah dr Etty Ananto, yang pengumpulannya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukannya. Seperti kanker payudara, kanker indung telur, kanker leher rahim, kanker paru-paru, dan lain-lain.
Di belakang gedung utama, terdapat banner yang berisi tentang sejarah kanker yang ada sejak 80 juta tahun lalu, yang ditemukan pada fosil dinosaurus. Pengunjung akan melihat kisah cara-cara pengobatan tradisional terhadap penyakit kanker sampai dengan cara yang modern. Selain itu, di halaman belakang gedung ini terdapat pula sebuah kebun kecil berisi puluhan tumbuhan yang dipercaya sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan penyakit kanker.
Di dinding tembok yang berada tepat di belakang ruangan utama museum ini terdapat banner yang berisi upaya-upaya untuk menangani penyakit kanker, yaitu upaya promotif, preventif, deteksi dini, diagnosis, kuratif (pengobatan), rehabilitatif, dan paliatif.
Upaya promotif adalah upaya yang dapat dilakukan paling awal. Pada upaya ini, seluruh elemen masyarakat diberi pengetahuan dan pengertian yang tepat mengenai penyakit kanker pada usia sedini mungkin. Tanpa upaya ini, masyarakat tidak akan siap menghadapi kanker, bahkan tidak tahu mengenai adanya kanker. Utamanya, ada 3 hal yang dapat dilakukan untuk mempromosikan kanker pada masyarakat, seperti informasi, konsultasi, dan edukasi.


WHO menyatakan bahwa 43% kanker dapat dicegah. Kanker sebenarnya dapat dikatakan sebagai penyakit gaya hidup karena dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat dan menjauhkan diri dari faktor resiko terserang kanker. Terjadinya penyakit kanker terkait dengan beberapa faktor resiko, seperti kebiasaan merokok, menjadi perokok pasif, kebiasaan minum alkohol, kegemukan, pola makan yang tidak sehat, perempuan yang tidak menyusui, dan perempuan melahirkan di atas usia 35 tahun.
Upaya deteksi dini adalah berbagai jenis upaya dan pemeriksaan yang dapat dilakukan di saat belum terdapat gejala penyakit. Tahapan upaya deteksi dini memerlukan kesadaran masyarakat yang tinggi untuk memeriksakan dirinya, seperti pemeriksaan pap smear, deteksi dini oleh masyarakat dan deteksi dini oleh tenaga medis.
Untuk mengidentifikasi adanya tumor, baik yang jinak maupun ganas (kanker), terdapat berbagai macam cara untuk mendiagnosis. Sampai saat ini, setiap jenis kanker adalah unik sehingga membutuhkan jenis diagnosis yang berbeda pula. Upaya diagnosis ini bisa melalui histopatologi, FNA-C, radiologi maupun tes kimia.
Upaya kuratif adalah upaya penyembuhan atau pengobatan kanker yang berkembang dengan cepat. Pada umunya, penyembuhan kanker secara menyeluruh dilakukan dengan menggabungkan metode-metode yang ada untuk hasil yang lebih efektif. Metode kuratif kanker yang dipakai, juga lama waktu dan detail pengerjaan berbeda-beda pada setiap orang dan setiap jenis kanker. Upaya kuratif itu bisa meliputi kemoterapi, operasi, radioterapi, imunoterapi, stem cell, komplementer dan alternatif terapi.
Program rehabilitasi pada penderita kanker membantu penderita untuk mengatasi efek kondisi fisik, psikologis dan sosial yang diakibatkan karena diagnosis dan terapi dari kanker. Serta dampak kanker lain seperti penggunaan pengganti anggota tubuh (protesis) sebagai pengganti fungsi maupun yang menyebabkan perubahan penampilan.
Sesuai dengan kondisi fisik penderita, setiap program didesain secara khusus berdasarkan kebutuhan penderita dan tingkatan terapi yang sedang dijalani penderita. Suasana yang nyaman dan penuh harapan, dukungan dan pembelajaran, telah disediakan untuk mengajari tiap penderita untuk mengenal dan mengatur faktor-faktor resiko kanker yang dapat dikontrol oleh diri mereka sendiri.
Paliatif adalah perawatan kesehatan terpadu yang bersifat aktif dan menyeluruh, dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi. Tujuannya untuk mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas hidupnya, juga memberikan support kepada keluarganya.
Upaya paliatif meliputi rawat jalan, rawat inap (konsultatif), rawat rumah, day care, dan respite care. Sedangkan rawat rumah (home care) dilakukan dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah penderita, terutama yang karena alasan-alasan tertentu tidak dapat datang ke rumah sakit. Kunjungan dilakukan oleh tim yang terdiri atas dokter paliatif, psikiater, perawat, dan relawan, untuk memantau dan memberikan solusi medis/biologis, tetapi juga masalah psikis, sosial, dan spritual.
Keluar dari museum ini, pengunjung bisa melewati kantin atau cafe yang disediakan oleh YKW yang kemudian melewati jalan yang diapit oleh bangunan utama museum dengan bangunan kesekretariatan bersama gedung Prof. dr. Asmino yang berada dalam satu halaman. Kesekretariatan tersebut sebagai halte relawan atau rumah komunitas dalam pelayanan pengobatan alternatif terpadu.
Mengunjungi museum ini memang memberikan wawasan akan pengetahuan penyakit kanker, pelayanan dan penanganannya, karena di gedung ini juga terdapat pusat konsultasi bagi para pasien kanker yang diselenggarakan oleh YKW. Selain melihat koleksi museum yang ada, pengunjung juga bisa menikmati keindahan arsitektur gedung yang digunakan untuk museum. Karena gedungnya tergolong kuno. Mengingat daerah Kayun merupakan daerah yang juga turut dikembangkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930-an. *** [060216]
Share:

PLN Area Surabaya Utara

Usai jalan-jalan di daerah Jembatan Merah, pulangnya saya melalui Peneleh yang mengarah ke Gemblongan. Saat melewati jembatan Peneleh, terus ambil arah ke kiri tampak berdiri kokoh sebuah bangunan kuno berlantai tiga, dan didominasi oleh lengkungan-lengkungan pada fasadnya. Bangunan lawas tersebut adalah Gedung PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Surabaya Utara, atau biasa diringkas menjadi PLN Area Surabaya Utara saja. PLN ini terletak di Jalan Gemblongan No. 64 Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi PLN ini berada di sebelah utara Al-Sadiq Carpets, atau di depan Santoso/Redjeki Mebel.
Gedung ini dulunya merupakan gedung N.V. Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteis Maatschappij (ANIEM). ANIEM merupakan perusahaan yang berada di bawah N.V. Handelsvennootschap yang sebelumnya bernama Maintz & Co. Perusahaan ini berkedudukan di Amsterdam dan masuk pertama kali ke kota Surabaya pada akhir abad ke-19 dengan mendirikan perusahaan gas yang bernama Nederlandsche Indische Gas Maatschappij (NIGM).
Ketika ANIEM berdiri pada tahun 1909, perusahaan ini diberi hak untuk membangun beberapa pembangkit tenaga listrik berikut sistem distribusinya di kota-kota besar di Jawa. Dalam waktu yang tidak terlalu lama ANIEM berkembang menjadi perusahaan listrik swasta terbesar di Hindia Belanda dan menguasai distribusi sekitar 40 persen dari kebutuhan kelistrikan di negeri ini. Seiring dengan permintaan tenaga listrik yang tinggi, ANIEM juga melakukan percepatan ekspansi. Tanggal 26 Agustus 1921 perusahaan ini mendapatkan konsesi di Banjarmasin yang kontraknya berlaku sampai tanggal 31 Desember 1960.

 

 Bersamaan dengan melonjaknya akan kebutuhan tenaga listrik, dilakukan perluasan gedung ANIEM yang bersebelahan dengan gedung ANIEM yang lama. Desain gedung diserahkan kepada biro arsitek N.V. Architecten- en Ingenieursbureau Job en Sprey yang berkantor di Surabaya. Sedangkan, pelaksanaan fisiknya dikerjakan oleh N.V. Nederlandsche Aanneming Maatschappij v/h Fa. H.F. Boersma (NEDAM) pada tahun 1930.
Gedung baru ANIEM memiliki gaya arsitektur Art Deco yang dikombinasikan dengan gaya modern, yang ditandai dengan permainan garis-garis geometris, bidang-bidang datar serta permainan vertikal dan horisontal mendominasi tampak depannya.
Pada tahun 1937 pengelolaan listrik di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan diserahkan juga kepada ANIEM. Namun, tak berlangsung lama, kinerja bagus ANIEM harus terputus karena pendudukan pasukan Jepang atas Hindia Belanda pada tahun 1942. Sejak itu, perusahaan listrik diambil alih oleh pemerintah Jepang. Urusan kelistrikan di seluruh Jawa kemudian ditangani oleh sebuah lembaga yag bernama Djawa Denki Djigjo Kosja. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Djawa Denki Djigjo Sja dan menjadi cabang dari Hosjoden Kabusiki Kaisja yang berpusat di Tokyo. Djawa Denki Djigjo Sja dibagi menjadi tiga wilayah pengelolaan yaitu Jawa Barat diberi nama Seibu Djawa Denki Djigjo Sja berpusat di Jakarta, Jawa Tengah diberi nama Tjiobu Djawa Denki Djigjo Sja berpusat di Semarang, dan Jawa Timur diberi nama Tobu Djawa Denki Djigjo Sja berpusat di Surabaya.
Pada tahun 1947 Belanda berusaha kembali ke Indonesia dengan melancarkan Agresi Militer. Pada saat itu ANIEM juga dihidupkan kembali. Upaya yang dilakukan adalah melakukan rehabilitasi besar-besaran terhadap pembangkit-pembangkit yang rusak akibat salah urus pada masa pendudukan Jepang.
Ketika ANIEM berhasil menguasai kembali perusahaannya di Indonesia mereka harus bekerja keras untuk mengembalikan kondisi kelistrikan menuju pada taraf ketika perusahaan ditinggalkan sebelum diambil alih oleh Jepang. Namun usaha tersebut nampaknya tidak pernah berrhasil sampai perusahaan tersebut diambil alih oleh bangsa Indonesia. Pada tahun 1953 pemerintah Indonesia membentuk Panitia Nasionalisasi Listrik yang diketuai oleh Putuhena dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga. Panitia ini bertugas untuk meletakkan prinsip-prinsip untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan litrik swasta. Tanggal 3 Oktober 1953 Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga mengeluarkan Surat Keputusan Nomor U.16/7/5 tentang kekuasaan melaksanakan pengoperan perusahaan-perusahaan listrik partikelir. Pada tahun itu juga keluar Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 163 tahun 1953 tentang nasionalisasi semua perusahaan listrik di seluruh Indonesia. Dua surat keputusan tersebut menjadi landasan awal proses nasionaliasi ANIEM yang termasuk dalam lingkup surat keputusan tersebut.
Perusahaan listrik warisan pemerintahan Hindia Belanda tersebut akhirnya dikuasai dan dikelola oleh pemerintah Indonesia melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan gedung yang dulunya menjadi gedung ANIEM juga menjadi gedung operasional PLN. Termasuk gedung yang megah di Jalan Gemblongan ini menjadi salah satu kantor yang digunakan oleh PLN, tepatnya Gedung PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Surabaya Utara. *** [070216]

Share:

Viaduct Jalan Pahlawan Surabaya

Tidak semua daerah memiliki warisan kolonial yang khas seperti di Kota Surabaya. Ada beberapa bangunan lawas yang menghiasi kota tersebut yang ada kaitannya dengan perjalanan kereta api. Namanya viaduct! Seingat saya sewaktu berkeliling Kota Surabaya, terdapat lima viaduct yang masih digunakan sampai sekarang.
Salah satu viaduct yang bisa kita saksikan adalah viaduct yang berada di atas Jalan Pahlawan Surabaya. Viaduct ini terletak di Jalan Pahlawan, Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi viaduct ini berada di sebelah timur laut Tugu Pahlawan, atau sebelah barat laut Kantor Gubernur Jatim.
Viaduct adalah suatu konstruksi jalan rel di atas jalan raya yang digunakan untuk menghindari perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan raya. Sistem viaduct yang dibangun ini barangkali tak pernah terbayangkan akan membentuk sebuah elemen citra kota yang estetik di perkotaan.
Pembangunan viaduct ini berkaitan dengan pembangunan jaringan rel kereta api yang ada di Surabaya. Pembangunan jaringan rel kereta api di Surabaya disesuaikan dengan kebutuhan pada waktu itu, tidak langsung menyambung seperti sekarang ini. Pembangunannya dilakukan secara bertahap.


Jalur pertama yang dikerjakan terlebih dahulu adalah jalur yang menghubungkan Surabaya dengan Pasuruan dengan memakan waktu sekitar dua tahun, yang dimulai pada tahun 1876 dan diresmikan secara meriah oleh J.W. Van Lansberge, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 16 Mei 1878 di Stasiun Kereta Api Surabaya Kota atau Stasiun Semut. Pelaksana proyek dipercayakan kepada Staatsspoorwegen (SS), perusahan kereta api yang dikelola negara.
Kemudian Stasiun Pasar Turi baru dibangun ketika ada Pemerintah Hindia Belanda mempercayakan pembangunan jalur kereta api dari Babat melewati Lamongan dan berakhir di Stasiun Pasar Turi. Jalur sepanjang 69 kilometer dikerjakan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda, dan selesai dikerjakan pada tahun 1900. Lalu, dari Stasiun Semut sampai Stasiun Pasar Turi baru terhubung pada pada tahun 1916.
Seiring adanya perluasan Gemeente Surabaya dari seputaran Jembatan Merah hingga kawasan Darmo yang berdekatan dengan Wonokromo, Pemerintah Hindia Belanda membangun jaringan trem sepanjang 19 kilometer untuk mengantisipasi kebutuhan transportasi pada waktu itu. Jaringan trem tersebut mulai dibangun pada tahun 1923 dan selesai pada tahun 1924. Salah satu jaringan rel trem tersebut ada yang melintas di sepanjang Jalan Pahlawan (dulu bernama Aloon-Aloon Straat). Setiap ada kereta api dari Stasiun Pasar Turi menuju ke Stasiun Semut atau sebaliknya, suasana di Aloon-Aloon Straat akan mengalami macet dan yang jelas akan membahayakan trem yang jalurnya memotong jalur kereta api besar.
Alasan inilah yang menyebabkan Aloon-Aloon Straat mendesak untuk dibangun viaduct agar kemacetan dan hal-hal yang membahayakan perjalanan kereta api dapat teratasi. Akhirnya, Staatsspoorwegen meminta bantuan Cosman Citroen untuk merancang viaduct tersebut. Diperkirakan pembangunan viaduct ini selesai antara tahun 1926 sampai 1930, dan setelah diresmikan viaduct tersebut dikenal sebagai Het viaduct op de Pasar Besar in Soerabaja.
Viaduct ini tak hanya dikenang sebagai jalur penyeberangan kereta api saja, tapi juga pernah menjadi garis pertahanan yang kokoh bagi para pejuang dalam bertahan terhadap gempuran pasukan Inggris dari berbagai arah. Gara-gara menolak ultimatum dari pasukan Sekutu yang dipimpin oleh pasukan Inggris dengan dibantu oleh NICA, dan memilih melawan dengan jiwa dan raganya, para pejuang siap melakukan pertempuran.
Selama berlangsungnya pertempuran mempertahankan viaduct, bala bantuan berdatangan, antara lain dari Surakarta, Bali dan Madura. Dari Surakarta datang bantuan 60 orang pemuda bersenjata yang kemudian langsung diikutsertakan pada front viaduct.
Untuk membersihkan viaduct yang masih dipertahankan oleh para pejuang, Inggris melakukan gerakn melingkar. Dalam gerakan pada tanggal 13 November 1945, Inggris mengerahkan kekuatannya yang terdiri dari sebagian satuan-satuan Brigade 123 dan Brigade 9 sebanyak dua kompi langsung di bawah perintah Panglima Divisi. Satuan-satuan Brigade 123 dibagi atas dua bagian. Sebagian bergerak ke arah selatan dari barat melalui jalan kereta api menuju Pasar Turi, sebagian lagi bergerak dari sebelah timur Kalimas juga menyusuri jalan kereta api.
Selama berlangsungnya pertempuran di viaduct itu, pihak pejuang kehilangan 25 orang rekannya yang gugur. Serangan balasan dari pihak pejuang dilaksanakan pada tanggal 15 November 1945. Pada hari itu mereka melancarkan serangkaian tembakan. Karena mungkin tidak sempat berlatih atau kurangnya latihan praktek menembak, mereka akhirnya terdesak mundur.
Peristiwa ini akan senantiasa melekat pada bangunan yang terbuat dari beton bertulang ini. Kisah patriotisme arek-arek Suroboyo akan terpatri dalam viaduct itu. Maka sudah selayaknya, bila Pemkot Surabaya menetapkan viaduct ini sebagai bangunan cagar budaya yang ada di Kota Surabaya berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surakarta Nomoe 188.45/251/402.1.04/1996 dengan nomor urut 25. *** [070216]

Share:

Gedung PT. ODI Cabang Surabaya

Bila Anda sedang menyusuri Jalan Veteran, sempatkanlah mengunjungi bangunan lawas yang di depannya bertuliskan PT. ODI (Oesaha Dagang Indonesia) Cabang Surabaya. Gedung ini terletak di Jalan Veteran No. 30 (Atas) Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di sebelah utara gedung BCA, atau depan Dealer Yamaha.
Meski tidak ikonik untuk ukuran Surabaya, namun gedung yang ditempati oleh perusahaan yang berkecimpung dalam aktivitas binis ritel makanan maupun produk makanan ini sedikit banyak juga mempunyai ceritera dalam kaitannya sebagai penunjang kawasan kota lama.
Gedung ini dulunya merupakan Kantor Akuntan dan Konsultan Pajak H.J. Vooren (accountantskantoor H.J. Vooren te Soerabaja). Vooren, seorang akuntan publik ternama pada masa Hindia Belanda, kerap menangani perusahaan besar seperti pabrik gula maupun perkebunan yang kala itu sedang menjadi primadona.


Paska dihapuskannya tanam paksa, banyak pengusaha Belanda yang berdatangan ke Hindia Belanda untuk menanamkan modalnya. Hal ini menyebabkan kegiatan ekonomi di Hindia Belanda bergeliat. Peningkatan kegiatan ekonomi mendorong munculnya permintaan akan tenaga akuntan dan juru buku yang terlatih. Akibatnya, fungsi auditing mulai dikenalkan di Hindia Belanda pada tahun 1907.
Peluang terhadap kebutuhan audit ini akhirnya diambil oleh akuntan Belanda dan Inggris yang masuk ke Hindia Belanda untuk membantu kegiatan administrasi di perusahaan tekstil dan manufaktur. Internal auditor yang pertama kali datang ke Hindia Belanda adalah J.W. Labrijn pada tahun 1896, dan orang pertama yang melaksanakan pekerjaan audit (menyusun dan mengontrol pembukuan perusahaan) adalah Van Schagen yang dikirim ke Hindia Belanda pada tahun 1907.
Pengiriman Van Schagen merupakan titik tolak berdirinya Jawatan Akuntan Negara (Goverment Accountant Dienst) yang terbentuk pada tahun 1915. W. de Vries Gzn dalam tulisannya yang berjudul Het Accountantswezen in Nederlandsch Indië (1929), menerangkan bahwa akuntan publik yang pertama adalah Frese dan Hogeweg yang mendirikan kantor di Batavia pada tahun 1918. Kemudian disusul oleh H.J. Vooren.
Selang dua tahun kemudian, H.J. Vooren membuka kantor di Surabaya di Societeitstraat (sekarang Jalan Veteran). Jadi, Vooren mulai menempati gedung tersebut pada tahun 1920. Sekarang, gedung berlantai dua dan menghadap ke barat ini digunakan untuk Kantor Cabang Surabaya dari PT. ODI. *** [080216]

Share:

Jembatan Petekan Surabaya

Jalan-jalan menyusuri Kali Mas di Surabaya memberikan kesan tersendiri. Dari Jembatan Merah ke arah utara, deretan bangunan lawas terbentang seolah memagari Kali Mas. Mulai pergudangan, pabrik mesin, pabrik verban, maupun kantor dagang zaman Hindia Belanda.
Setelah itu, lanjut ke arah utara akan bertemu dengan sebuah jembatan lawas nan kuno. Jembatan tersebut bernama Jembatan Petekan. Jembatan ini terletak di atas Kali Mas, yang secara administatif berada di Kelurahan Perak Timur, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi jembatan berada di perbatasan batas wilayah Kelurahan Perak Timur dengan Kelurahan Perak Utara, yang diapit oleh dua jalan, yaitu Jalan Jakarta.
Nama Petekan diambil dari bahasa Jawa. Petekan artinya dipencet atau ditekan. Dulu, jembatan ini bisa dibuka dan ditutup ketika ada kapal berukuran besar yang lewat dari Laut Jawa menuju Jembatan Merah hingga Mojokerto. Terbuka dan menutup kembali itulah dengan cara dipencet, yang kemudian menimbulkan tek ... tek ... tek.


Jembatan ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1936 dengan biaya 133.100 gulden. Pengerjaan fisiknya diserahkan kepada N.V. Machinefabriek Bratt, perusahaan konstruksi yang berada di Surabaya. Pada awalnya, perusahaan yang didirikan pada tahu 1901 ini menangani jasa pemugaran ke pabrik-pabrik gula, manufaktur jembatan dan konstruksi baja lainnya, kemudian berubah fungsi menjadi penghasil senjata sejak pendudukan Jepang untuk memasok kebutuhan perang.
Pengerjaan jembatan ini memakan waktu tiga tahun. Setelah berdiri dengan sempurna, jembatan ini mulai dioperasikan untuk pertama kalinya pada 16 Desember 1939. Pada saat itu diumumkan pula nama resmi dari jembatan ini, yaitu Ferwerdabrug.
Ferwerdabrug berasal dari gabungan dua kata, yaitu Ferwerda dan Brug. Ferwerda merupakan nama dari seorang panglima perang AL Hindia Belanda yang berjasa dalam membuka akses dari Ujung (saat PT. PAL) menuju pangkalan udara Morokembangan (sekarang dikenal dengan Kodikal). Nama lengkap panglima perang tersebut adalah Laksamana Hendrikus Ferwerda (1885-1942). Sedangkan, brug berasal dari bahasa Belanda yang artinya jembatan. Jadi, Ferwerdabrug sejatinya adalah sebuah bangunan jembatan di mana pada jembatan tersebut diabadikan nama seorang Laksamana Hendrikus Ferwerda, karena sebelum ada jembatan ini pasukan marinir yang akan ke Morokembangan dari Ujung atau sebaliknya harus memutar lebih jauh melalui Jembatan Merah.
Seiring dengan adanya pendangkalan di Kali Mas, Jembatan Petekan yang merupakan ophaalbrug (jembatan angkat) sehingga lama-kelamaan tidak bisa berfungsi lagi sebagai mana awalnya. Hal seperti ini juga dialami oleh Jembatan Kota Intan (Het Middelpunt Brug) yang berada di Kota Jakarta.
Kendati sudah tidak berfungsi lagi sebagai jembatan angkat, dan usianya yang memasuki uzur, seyogyanya jembatan ini tetap dipertahankan kelestariannya (in situ). Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998 dengan nomor 47 yang telah menetapkan Jembatan Petekan sebagai bangunan cagar budaya. Konstruksi jembatan peninggalan kolonial ini sebagai penunjang kawasan Kota Lama. *** [170116]

Share:

Penjara Kalisosok Surabaya

Bila Anda sedang berjalan-jalan atau berbelanja di Jembatan Merah Plaza (JMP), jangan lupa sempatkan mengunjungi bangunan lawas yang ada di dekat lokasi tersebut, yaitu Penjara Kalisosok. Penjara ini terletak di Jalan Kasuari No. 7 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi penjara ini berada di sebelah barat Kantor Telkom Surabaya Unit Pelayanan dan Perbaikan (Telkom Garuda), atau Gedung Eks De Javasche Bank Surabaya.
Penjara ini merupakan warisan dari pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Daendels, memerintah Hindia Belanda dalam waktu yang cukup singkat, yaitu dari tahun 1808 sampai tahun 1811, atau sekitar 3,5 tahun. Tapi warisan yang ditinggalkannya baik dalam bidang pemerintahan maupun pembangunan fisik yang dirintisnya mempunyai pengaruh yang sangat besar sampai akhir abad ke-19.
Di Surabaya, Daendels memerintahkan pembangunan benteng Lodewijk (kemudian dibongkar pada tahun 1870), memperbaiki tempat kediaman ‘penguasa Jawa bagian timur’ (Gezaghebber van het Oost Hoek) di kompleks Taman Simpang dengan arsitektur Indische Empire (sekarang dikenal dengan nama Gedung Grahadi), serta memindahkan rumah sakit militer di Kota Bawah (daerah Jembatan Merah) ke daerah Simpang. Selain itu, Daendels juga menganjurkan untuk membangun penjara yang besar dan kokoh.


Pembangunan penjara tersebut dimulai pada tanggal 1 September 1808 dengan biaya 8.000 gulden. Pembangunannya memakan waktu 9 bulan, dan pengerjaan fisiknya dipercayakan kepada kontraktor Belanda, N.V. De Hollandsche Beton Maatschappij. Pembangunan penjara ini bisa cepat karena memodifikasi bangunan loji VOC yang cukup luas. Jadi, penjara tersebut awalnya gedung besar milik VOC yang ‘disulap’ Daendels menjadi penjara.
Penjara ini menempati lahan seluas 3,5 hektar, yang oleh Pemerintah Hindia Belanda digunakan sebagai penjara bagi orang-orang pribumi yang melakukan tindak kriminal maupun yang melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Namanya dikenal sebagai Penjara Kalisosok (De Kalisosok Gevangenis), karena nama Kalisosok berasal dari Kampung Sosok yang lokasinya memang tidak jauh dari Kali Mas, tepatnya berada di sebelah utara penjara hingga Kebalen. Dulu, alamat penjara ini berada di Jalan Penjara No. 7 kemudian sekitar tahun 1987 terjadi perubahan nama jalan menjadi Jalan Kasuari No. 7 Surabaya.
Mengenai kehidupan di dalam Penjara Kalisosok ini, Dukut Imam Widodo dalam bukunya Soerabaia Tempo Doeloe: Buku 2, menjelaskan dengan gamblang bagaimana situasi dan kondisi di dalam penjara tersebut kala itu. Kalisosok, Penjara Paling Brutal!
Pada masa pendudukan Jepang, penjara ini diambil alih dan digunakan menjadi kamp interniran. Orang-orang Belanda bersama keluarganya banyak yang dijebloskan ke penjara ini, termasuk juga orang asing yang tinggal di Surabaya pada waktu itu.


Pada 26 Oktober 1945 di penjara Kalisosok terjadi peristiwa yang dikenal dengan insiden Kapten Huiyer. Hal ini bermula kedatangan seorang perwira Koninklijke Marine (AL Belanda), Kapten P.J.G. Huiyer, ke Surabaya untuk melihat keadaan Surabaya paska menyerahnya pasukan Jepang. Huiyer datang dari Belanda dengan pesawat pengangkut Sekutu, atas utusan Komandan AL Belanda, Laksamana Helfrich, lewat perintah resmi komandan Sekutu, Laksamana Patterson.
Misi resminya tak lain adalah misi Rehabilitation Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI), sekaligus mengemban ‘misi tambahan’ untuk memlihat situasi Surabaya jelang kedatangan Sekutu. Dalam penyamaran ini akhirnya misi Huiyer di Surabaya kian kentara bahwa perintah resmi RAPWI yang dibawahnya hanya kedok NICA (Nederlandsch Indie Civil Administratie) untuk menguasai Surabaya lagi.
Pada 7 Oktober 1945, situasi sudah tak memungkinnya bertahan di Surabaya. Dia hendak kabur ke Jakarta yang sialnya tak ada pesawat untuk membawanya ke Jakarta. Pilihan kereta api baru didapatnya dua hari kemudian.
Tapi ketika baru sampai di Kertosono, kereta ditahan para pemuda. Huiyer sempat berusaha menyamar sebagai orang Inggris, tahu ketahuan gara-gara tak sengaja mengeluarkan kata umpatan ‘God Verdomme’.
Huiyer sempat diinterogerasi di Jombang dan kemudian, dibawa kembali ke Surabaya untuk dilucuti senjatanya di Kantor Polisi. Kepala Polisi setempat memilih mengamankannya ke gedung bekas Konsulat Inggris demi mencegah amukan rakyat.
Tapi kemudian Huiyer tetap diseret ke Penjara Kalisosok pada 16 Oktober 1945. Pada 26 Oktober 1945 pasukan khusus Inggris di bawah pimpinan Kapten Shaw menyerbu penjara Kalisosok untuk membebaskan Huiyer, dengan menjebol dinding tembok bagian belakang gedung penjara.
Antara tahun 1946 hingga 1949, penjara Kalisosok menjadi tempat para pejuang kemerdekaan di tahan. HOS Cokroaminoto, K.H. Mas Mansyur, W.R. Supratman, Soekarno serta pejuang-pjuang lainnya, merasakan pengapnya penjara Kalisosok. Bahkan ada di antara mereka yang meninggal di penjara tersebut.
Pada masa Orde Baru berkuasa, penjara Kalisosok masih memainkan peran sebagai bui terhadap tahanan politik (tapol) Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Banyak di antara mereka, sebelum diasingkan ke Pulau Buru atau Nusakambangan harus mendekam dan mendapatkan penyiksaan di penjara Kalisosok.
Seiring perjalanan sang waktu, penjara Kalisosok pun sempat mengalami perubahan nama menjadi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya, atau yang lebih dikenal dengan Lapas Kalisosok. Sampai akhirnya pada tahun 2000, Lapas ini mulai dikosongkan. Pengosongan ini, konon berkaitan dengan ruislag yang dilakukan oleh pejabat yang berwenang pada waktu itu. Hasil tukar guling antara Kanwil Departemen Kehakiman Jawa Timur dengan PT. Fairco Jaya Dwipa Jakarta, Lapas Kalisosok menempati bangunan Lapas yang di Desa Kebonagung, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo yang telah dibangunkan oleh PT. Fairco Jaya Dwipa di atas lahan seluas 170.000 m², sedangkan tanah dan bekas bangunan Lapas yang berada di Jalan Kasuari menjadi milik PT. Fairco Jaya Dwipa.
Sebuah kejadian yang amat sangat disayangkan! Sebuah bangunan lawas, kuno nan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/251/402.1.04/1996 dengan nomor urut 42 harus tersingkir dari peradaban kota. Akankah? Jawabannya sekarang tergantung kepada political will dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. *** [200714]

Kepustakaan:
http://dimensi.petra.ac.id/index.php/ars/article/view/16973/16956
http://lpkalisosok.com/sejarah-singkat/
http://news.okezone.com/read/2015/09/22/337/1219169/misi-seorang-huiyer-jelang-surabaya-inferno
http://www.pemasyarakatan.com/wisata-sejarah-penjara-kalisosok-surabaya/
Share:

Gedung Bank Mandiri KC Surabaya Niaga

Jalan Veteran, pada zaman Hindia Belanda dikenal sebagai Sociëteitstraat. Dulu, di jalan tersebut berdiri sebuah bangunan De Sociëteit Concorda (sekarang Gedung Pertamina UPDN V). Sociëteit Concorda merupakan club house yang didesain oleh para kolonial dengan gaya Eropa untuk memenuhi kebutuhan refreshing atau tempat hiburan elite di Surabaya, bahkan ada yang menyebutnya sebagai tempat dugem pertama di Surabaya. Karena sociëteit itu cukup terkenal, menyebabkan jalan yang melintasi gedung tersebut akhirnya dikenal dengan nama Sociëteitstraat.
Kawasan Jalan Veteran ini merupakan bagian dari kawasan kota lama Surabaya. Sebagai bagian dari kawasan kota lama, kawasan ini menjadi landasan pembentuk kota pada masa awal terbentuknya kota tersebut. Bagian kawasan kota lama biasanya merupakan kawasan bersejarah atau “heritage district” di mana area di sepanjang jalan tersebut banyak bangunan yang signifikan sebagai bangunan lawas, kuno atau bersejarah.


Salah satu bangunan lawas sebagai saksi bisu akan keberadaan kawasan sepanjang Jalan Veteran ini adalah gedung Bank Mandiri KC Surabaya Niaga. Gedung ini terletak di Jalan Veteran No. 42-44 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di depan Gedung Asuransi Jiwa Sraya, atau di sebelah utara PT. ODI (Oesaha Dagang Indonesia).
Dulu, gedung Bank Mandiri ini merupakan salah satu gedung kantor dari N.V. Borneo Sumatra Handel Maatschappij atau Gebouw van de N.V. Borneo Sumatra Handel Maatschappij (Borsumij) te Soerabaja, yang didirikan pada tahun 1935. Arsitek yang merancang bangunan gedung ini dipercayakan kepada G.C. Citroen. Karya Citroen yang terakhir ini senafas dengan arsitek Bauhaus dan kaum fungsionalis yang sedang populer di Eropa pada waktu itu. Ciri dari bangunan gedung ini adalah bentuknya yang mirip dengan arsitektur berlanggam kubistis di Eropa dengan berbagai paduan dengan kebudayaan lokal.
Bangunan gedung Borsumij ini memiliki bentuk denah persegi panjang yang memanjang dari utara ke selatan di mana arah hadap gedung tersebut ke arah Jalan Veteran atau menghadap ke barat, dan terdiri dari tiga lantai. Pada bangunannya terdapat menara yang berada di sudut bangunan sebelah utara dan tidak memiliki halaman di depan bangunan tersebut.
Perlu diketahui, Borsumij adalah sebuah perusahaan dagang Belanda yang didirikan oleh J.W. Schlimmer dan berkantor pusat di Den Haag. Di Surabaya ini, Borsumij juga memiliki gedung lain yang terletak di Jalan Rajawali No. 10 (pojok Jalan Kasuari). Sekarang gedung tersebut digunakan sebagai Bank Negara Indonesia (BNI).
Dalam perjalanannya, Borsumij yang berada di Jalan Veteran pernah beberapa kali beralih fungsi. Terakhir digunakan oleh Bank Exim, yang kemudian merger bersama tiga bank lainnya, yaitu  Bank Bumi Daya (BBD), Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO), dan Bank Dagan Negara (BDN), menjadi Bank Mandiri. Tak heran, bila pada waktu terjadi inventarisasi bangunan cagar budaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kala itu tercatat sebagai gedung Bank EXIM (Export Import).
Sekarang ini, Bank Mandiri menjadi salah satu bank terkemuka di Kota Surabaya. Namun, khusus untuk Bank Mandiri KC Surabaya Niaga memiliki arti tersendiri bagi Kota Surabaya. Bukan saja sebagai bank besar, akan tetapi juga sebagai bank yang mempunyai gedung peninggalan kolonial bergaya Nieuwe Bouwen. Gedung ini juga menambah khazanah deretan bangunan lawas yang berada di dekat Jembatan Merah maupun Tugu Pahlawan. *** [080216]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami