The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata di Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata di Jakarta. Tampilkan semua postingan

Museum Satriamandala

Museum Satriamandala terletak di Jalan Gatot Subroto 14 Jakarta Selatan, atau kurang lebih 100 m sebelah timur Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Lokasi museum ini sangat strategis karena berada di tepi jalan besar yang membelah Jakarta dari Cawang hingga Grogol.
Museum Satriamandala merupakan museum militer yang dikelola oleh Pusat Sejarah (Pusjarah) Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun demikian, museum ini terbuka untuk umum. Artinya, siapa saja boleh mengunjungi museum ini dengan karcis masuk museum sebesar Rp 2.500,-. Awalnya, museum ini memang dicitrakan sebagai propaganda dari Pemerintah Orde Baru (ORBA), namun bila mempertimbangkan informasi sejarah yang dimiliki oleh museum ini, selayaknya informasi tersebut bisa digunakan. Sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam rangka merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memerlukan waktu yang cukup panjang. Rakyat Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) berjuang bersama demi menegakkan kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa dan raga maupun harta benda yang tak ternilai harganya. Dengan mempelajari sejarah, kita harapkan mampu bersikap serta bertindak arif dan bijaksana dalam menghadapi masa depan.
Ide berdirinya museum ini berasal dari Brigadir Jenderal Prof. DR. Nugroho Notosusanto. Gedung ini dulunya merupakan kediaman Soekarno dengan Ratna Sari Dewi yang dikenal dengan nama Wisma Yaso. Ketika mantan Presiden Soekarno wafat, jenazahnya sempat disemayamkan di gedung ini, dan selanjutnya dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
Museum ini diresmikan oleh Soeharto, Presiden RI ke-2, pada tanggal 5 Oktober 1972. Satriamadala berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti lingkungan keramat para ksatria.


Museum Satriamandala merupakan salah satu sarana pewarisan nilai-nilai juang 1945 dalam pembinaan serta pelestarian jiwa dan semangat keprajuritan di lingkungan TNI. Di samping itu juga merupakan sarana efektif untuk menanamkan kesadaran sejarah dan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Koleksi yang terdapat di Museum Satriamandala adalah benda-benda bersejarah peninggalan para pejuang TNI dari tahun 1945 hingga kini.
Salah satu koleksi menarik yang menjadi ikon museum ini adalah tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dipakai beiau pada saat memimpin perang gerilnya tahun 1948-1949.
Di dalam kompleks Museum Satriamandala yang memiliki areal seluas 56.670 m² ini, terdapat pula pesawat Curen buatan Jepang tahun 1933 yang pertama kali diterbangkan di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta, oleh penerbang Agustinus Adisucipto yang dikenal sebagai salah satu pelopor dunia kedirgantaraan Indonesia.
Di museum ini terdapat 74 diorama yang menggambarkan peranan TNI bersama rakyat dalam membela kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari berbagai ancaman baik dari dalam maupun luar negeri.
Koleksi senjata yang dipamerkan di Museum Satriamandala mulai dari senjata tradisional seperti bambu runcing dan bom Molotov, hingga senjata modern seperti revolver atau handgun, rocket launcher, berbagai macam senapan mesin ringan, sedang maupun berat.
Masih dalam kompleks Museum Satriamandala terdapat Museum Waspada Purbawisesa yang diresmikan oleh Soeharto pada tanggal 10 November 1987.
Museum Waspada Purbawisesa menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama rakyat dalam menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan pada awal tahun 1950-an.
Selain memiliki ruang pameran yang representatif, kompleks Museum Satriamandala memiliki sejumlah fasilitas lainnya, seperti tempat parkir yang sangat luas, kantin dan toko souvenir, ruang serbaguna yang berkapasitas 600 kursi, perpustakaan maupun tempat penginapan. *** [260913]
Share:

Monumen Nasional

Monumen Nasional (Monas) terletak di Jalan Silang Monas, Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta.
Pembangunan Monas berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 214 Tahun 1959 tanggal 30 Agustus 1959 tentang Pembentukan Panitia Monumen Nasional yang diketuai oleh Kolonel Umar Wirahadikusumah, Komandan KMKB Jakarta Raya.


Pembangunan Monas baru terwujud ketika Republik Indonesia genap berusia dua windu atas dasar gagasan Presiden Republik Indonesia Pertama Ir. Soekarno, dan pemancangan tiang pertama sebagai awal pembangunan Monas dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1961.
Sayembara rancang bangun Monas ini awalnya dimenangkan oleh Friederich Silaban dengan konsep Obelisknya, namun saat pembangunan Soekarno merasa kurang berkenan, dan kemudian menggantikannya dengan seorang arsitek Jawa bernama Raden Mas Soedarsono. Soekarno yang seorang insinyur mendiktekan gagasannya kepada Soedarsono hingga jadilah Monas seperti yang dapat disaksikan sekarang ini.
Pembangunan Monas dibiayai oleh sebagian besar sumbangan masyarakat bangsa Indonesia secara gotong royong dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 18 Maret 1972 berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor Cb.11/1/57/72.

Berbentuk Tugu
Ciri khas Monas adalah berupa sebuah tugu. Bentuk tugu yang menjulang tinggi sekitar 132 m (433 kaki), mengandung falsafah lingga dan yoni. Lingga menyerupai alu, dan yoni menyerupai lumpang.
Alu dan lumpang adalah dua alat penting yang dimiliki setiap keluarga di Indonesia, khususnya rakyat pedesaan. Lingga dan yoni adalah simbol dari zaman dahulu, yang menggambarkan kehidupan abadi, adalah unsur positif (lingga) dan unsur negatif (yoni) seperti adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, merupakan keabadian dunia.
Lapangan Monas mengalami lima kali pergantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam, dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Bentuk tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obelisk yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan.
Di puncak Monas terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan berdiameter 6 m serta dilapisi emas 38 kg. Konon, emas yang untuk melapisinya tersebut merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang warga Aceh yang kala itu menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Lidah api atau obor ini berupa “Api Nan Tak Kunjung Padam” sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.
Pelataran puncak dengan luas 11 x 11 m, dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta.

Museum Sejarah
Selain, bisa menikmati pemandangan Kota Jakarta, di Monas juga terdapat Museum Sejarah. Pengunjung bisa menyaksikan jejak rekam perjalanan bangsa Indonesia.
Ruang museum sejarah yang terletak tiga meter di bawah permukaan halaman tugu, memiliki ukuran 80 x 80 m. Dinding serta lantai di ruangan itu, pengunjung dapat menyaksikan 51 jendela peragaan (diorama), yang mengabadikan sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia hingga masa pembangunan di zaman Orde Baru. *** [071212]

Kepustakaan:
  • Brosur Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Unit Pengelola Monumen Nasional.
  • Data dan Informasi Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan NasionalBappenas

Share:

Museum Tekstil Jakarta

Museum Tekstil terletak di Jalan Aipda Karel Sasuit Tubun No. 2 – 4 Kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi museum ini, tepatnya berada di sebelah barat Kompleks Pertokoan Tanah Abang yang menuju arah Slipi.
Museum ini menempati bangunan tua bergaya kolonial. Gedung ini dibangun pada abad ke-19, yang awalnya adalah sebagai Landhuis (villa) milik orang Perancis yang tinggal di Batavia. Kemudian dibeli oleh Abdul Aziz Mussawi Alkatiri, Konsul Turki di Batavia. Lalu pada tahun 1942, bangunan ini dijual lagi kepada Dr. Karel Christian Crucg. Pada masa revolusi fisik tahun 1945, gedung ini digunakan sebagai Markas Besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Tahun 1947, kepemilikan gedung ini beralih ke Lie Sion Pin, dan olehnya dikontrakkan kepada Departemen Sosial RI untuk menampung orang-orang jompo, dan sejak tahun 1952, gedung ini dibeli oleh Departemen Sosial RI.


Tahun 1972 gedung ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi oleh Undang-Undang Monumen (Monumenten Ordonantie) Stbl. 1931 No. 238, dan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. CB 11/1/12/72 Tanggal 10 Januari 1972. Kemudian pada tanggal 25 Oktober 1975, bangunan dengan arsitektur bergaya art craft ini diserahkan oleh Departemen Sosial RI kepada Pemerintah Daerah DKI Jakarta untuk bangunan museum, yang kemudian pada tanggal 28 Juni 1976 diresmikan sebagai Gedung Museum Tekstil oleh Ibu Tien Soeharto.
Keberadaan Museum Tekstil ini didasari pada keinginan untuk mengoleksi dan memperkenalkan aneka ragam tekstil tradisional Indonesia, yang merupakan salah satu negara terbesar penghasil tekstil tradisional. Museum ini secara khusus menangani pengumpulan, pengawetan dan pameran, serta mengembangkan konsep edukatif-rekreatif dengan ditunjang berbagai fasilitas publik seperti: Gedung Utama Pameran sebagai Ruang Display, Galeri Batik, Taman Pewarna Alam, Pendopo Kreativitas, Ruang Penyimpanan dan Perawatan Koleksi, Perpustakaan, Auditorium, Toko Cinderamata, mushola serta lahan parkir yang luas.

Ruang Pameran (Display Room)
Ruang Display digunakan untuk memamerkan tekstil Inondesia, baik koleksi museum, koleksi para desainer maupun masyarakat pecinta tekstil. 
Display disajikan dalam ruang terbuka, mengundang pengunjung untuk melihat, dan mengeksplorasi koleksi secara lebih dekat, menciptakan hubungan yang erat dengan tekstil Indonesia.
Koleksi Museum Tekstil berjumlah 1980 koleksi yang terdiri dari 786 koleksi kain batik, 709 koleksi kain tenun, 325 koleksi campuran, 60 koleksi peralatan, 100 koleksi busana dan tekstil kontemporer.

Galeri Batik (Batik Gallery)
Galeri yang menampilkan sejumlah batik kuno dan batik perkembangan dari masa ke masa ini merupakan embrio Museum Batik Nasional yang dikelola oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) bekerja sama dengan Museum Tekstil.
Galeri ini diresmikan pada tanggal 2 Oktober 2010 dalam rangka meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap Batik Indonesia sebagai salah satu World Heritage.

Taman Pewarna Alam (Vegetal Dyes Garden)
Taman dengan luas 2000 m² yang terletak dibelakang gedung utama berfungsi untuk melestarikan dan mengenalkan kepada pecinta tekstil tentang pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam.
Koleksi pohon yang ada di dalam Taman Pewarna Alam meliputi: Nangka (Arto Carpu Integra M), Alpukat (Persea Gratisina), Bunga Sepatu (Hibiscus Rosa Sinensis L), Mengkudu (Morinda Cetrifolia L), Puring (Cadiacem Variacatum Bl), Ketapang Kebo (Cassia Alata Linn), Andong (Cordyline Futicosa Backer), Jati (Tectano Grandis L), Kelapa (Cocosnucifera), Mahoni (Swietenia Mahagoni Jaca), Lidah Mertua (Sansiviera), Pinang (Areca Catechul), Teh-tehan Merah (Acaly Pha Wikesiana), Trengguli (Cassia Fistula L), Lobi-lobi (Flacaurtia Inermie Roxb), Kibedali (Spotode Campanulata Beau), Ulin (Eusideroxylon Ziogerit), Kesumba (Bixa Orellana L), Jambu Biji (Psidium Guajava L), Tom/Nila (Indigofera Tinctoria), dan Randa (Ceiba Pentedra Gaerth).

Pendopo Kreativitas (Creativity Hall)
Pendopo Kreativitas berada di timur laut dari bangunan utama Museum Tekstil, dan berada di belakang dari kompleks museum ini.
Pendopo ini biasanya digunakan untuk menggelar berbagai kursus maupun pelatihan. Pelatihan batik adalah salah satu pelatihan yang paling diminati oleh sebagian masyarakat. Mereka yang telah mengikuti pelatihan batik di museum telah mampu mengembangkan karyanya dengan lebih professional selain sebagai hobi. Selain pelatihan batik, tersedia juga kursus pewarna alam, aplikasi payet, silk painting, T-Shirt painting, sulam pita dan kreasi mencipta motif kain di atas gerabah.

Ruang Penyimpanan dan Perawatan Koleksi (Storage and Collection Maintenance Room)
Ruang Penyimpanan dan Perawatan Koleksi berada di belakang bangunan utama museum ini atau tepatnya setelah Taman Pewarna Alami.
Ruangan ini berfungsi untuk menyimpan dan merawat koleksi yang dimiliki oleh Museum Tekstil.

Perpustakaan (Library)
Ruang perpustakaan disediakan untuk pengunjung sebagai proses pembelajaran tekstil Indonesia, dengan koleksi buku-buku tekstil yang cukup lengkap.
Ruang perpustakaan menghadap ke Taman Pewarna Alam.

Toko Cinderamata (Museum Art Shop)
Toko Cinderamata merupakan sarana bagi pengunjung untuk memperoleh cinderamata yang dapat dijadikan busana dan aksesorinya sesuai kebutuhan.

Aktivitas Museum Tekstil ini tergolong “hidup” bila dibandingkan dengan keberadaan museum lainnya yang ada di Indonesia. Denyut nadi aktivitas museum ini ditandai dengan adanya agenda Museum Tekstil yang relatif tetap dan rutin. Calender Event Museum Tekstil biasanya akan dibuat dalam agenda setahun sekalian. *** [061212]
Share:

Museum Purna Bhakti Pertiwi

Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) didirikan atas prakarsa Ibu Tien Soeharto sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghargaan yang tinggi atas dukungan masyarakat Indonesia dan mancanegara kepada Bapak Soeharto, Presiden RI ke-2.
Museum yang terletak di Jalan Taman Mini I Jakarta Timur ini, dibangun oleh Yayasan Purna Bhakti Pertiwi selama 5 tahun (1987 hingga 1992) di atas areal seluas 19,73 hektar dan diresmikan pembukaannya pada tanggal 23 Agustus 1993 oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto.
Secara garis besar MPBP terdiri dari bangunan utama, bangunan penunjang, dan tata ruang luar. Bangunan utama seluas 25.000 m² terdiri dari ruang perjuangan, ruang utama, ruang khusus, ruang asthabrata dan perpustakaan.



Ruang perjuangan menampilkan pernak-pernik sejarah perjuangan Soeharto dalam masa kemerdekaan, kebanyakan berujud foto-foto.
Ruang utama terdiri atas 3 lantai. Umumnya, koleksi yang dipamerkan di ruang utama ini adalah koleksi yang dimiliki oleh Keluarga Presiden Soeharto yang berasal dari pemberian masyarakat Indonesia maupun mancanegara. Ruang utama lantai 1 berisi koleksi keramik, ukiran kayu, kristal, batu mulia, laquer, perunggu, kulit kerang, gading, perak, patung kepengan, gamelan, marmer, furniture, proselin hingga batu giok. Ruang utama lantai 2 menyajikan koleksi lukisan, anekan ragam kain, keramik, rumah toraja, laquer, tempat tidur Cina dan perangkat barong. Sedangkan, ruang utama lantai 3 memamerkan koleksi jam, prajurit dari timah, marmer, kulit kerang, kapal, keramik, lukisan, minyak wangi, porselin, kalung batu mulia, ukiran tulang dan boneka dengan pakaian adat.
Ruang khusus yang terletak di lantai 1 berisi medali-medali milik mantan Presiden Soeharto dari berbagai negara, di mana di tengahnya diletakkan patung Soeharto.
Ruang asthabrata yang terletak di lantai 1 menyajikan delapan asas kepemimpinan yang divisualisasikan dalam adegan wayang kulit sesuai urutan cerita Wahyu Makhuta Rama juga berbagai koleksi bahan pustaka dari pelbagai disiplin ilmu.
Ruang perpustakaan yang terletak di lantai 1 berisi koleksi buku-buku perihal Soeharto dan buku umum lainnya. Pengunjung bisa mengenal lebih dekat dengan Soeharto lewat perpustakaan ini.
Sedangkan bangunan penunjang terdiri dari gerbang penerima, cafeteria, kantor pengelola, mushalla, shelter, gedung serba guna dan area bermain anak.
Tata ruang luar berfungsi sebagai rekreasi dan penghijauan terdiri atas berbagai tanaman dan area tanaman langka khas Indonesia. Di halaman MPBP terdapat sebuah kapal perang KRI Harimau (bukti sejarah perjuangan pembebasan Irian Barat tahun 1962, kemudian Irian Jaya dan sekarang menjadi Papua), kendaraan bersejarah, griya Mahabharata dan griya Makhuta Rama.
Konsep arsitektur MPBP tercermin pada rancangan tata ruang dalam yang merupakan inti penyajian, dan diperkuat secara integral oleh pola rancangan tata ruang luar.
Penerapan makna simbolis pada bentuk maupun unsur-unsur bangunan museum ini antara lain tercermin pada bentuk kerucut, pola pohon hayat, kantor pengelola, lidah api, pola jayakusuma, pola cakramanggilingan, dian, air mancur, warna pada unsur bangunan. *** [140712]






Share:

Museum Telekomunikasi

Saat Gedung Kantor Pusat PERUMTEL di Jl. Japati, Bandung sedang dibangun, timbul ide untuk meletakkan barang-barang dokumentasi telekomunikasi di lantai dasar gedung tersebut untuk dipamerkan. Ide ini kemudian berkembang, karena para pimpinan PERUMTEL pada saat itu menghendaki agar barang-barang tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat umum dalam sebuah museum yang representatif.
Lalu, pada tahun 1987 dibentuk tim untuk mengkaji banding permuseuman ke Amerika, Jepang dan beberapa negara Eropa lainnya. Tim ini kemudian membuat proposal lengkap dangan maket bangunan.
Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Menparpostel) Soesilo Soedarman melalui Surat Keputusan Menteri Nomor KM49/KP403/MPPT-88 menunjuk Ir. Willy Moenandir sebagai Kepala Proyek Pembangunan Museum Telekomunikasi.


Pada tanggal 27 September 1989 dilakukan peletakan batu pertama tanda dimulainya pembangunan fisik gedung oleh Menparpostel Soesilo Soedarman. Luas tanah yang dialokasikan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebanyak 2,36 hektar. Bangunan induk yang berfungsi sebagai ruang pameran seluas 4.872,8 m².
Museum Telekomunikasi (Mustel) yang terletak di Jalan TMII No. 1 Jakarta Timur ini, akhirnya diresmikan oleh Presiden RI, Soeharto, pada 20 April 1991.

Koleksi Museum Telekomunikasi                    
Untuk melihat pameran secara utuh dan berurutan, pengunjung dapat memulainya dari lantai IV (Zona 1) setahap demi setahap menuju ke lantai I (Zona VI). Alur bangungan gedung ini adalah melingkar.
Koleksi yang dimiliki oleh Museum Telekomunikasi ini meliputi alat komunikasi masa lalu, alat komunikasi masa kini dan alat komunikasi masa depan.
Lantai IV memamerkan tampilan materi peraga introduksi dan konvensional. Introduksi, meliputi panel misi visi Mustel-TMII, panel tujuan Mustel-TMII, panel filosofi gedung Mustel-TMII, panel pengertian dasar dan komunikasi dan telekomunikasi. Sedangkan yang konvensional menampilkan pra elektrik ,meliputi panel komunikasi tradisional, peragaan komunikasi bunyi-bunyian (pukul, tiup), dan peragaan alat komunikasi isyarat (semaphone).
Lantai III menyajikan tampilan peraga konvensional tapi yang elektrik, seperti simulasi telegraph morse, simulasi telepon manual, diorama pemancar perjuangan dan YBJ-6.
Lantai II menyajikan tampilan peraga modern, baik yang analog maupun yang digital. Yang analog meliputi simulasi sentral teleprinter TW-39, simulasi sentral telepon otomat, maket jaringan telekomunikasi nasional dan maket SKGM serta hambur tropos. Sedangkan yang digital meliputi panel konfigurasi STKB konvensional dan STKB cellular, konfigurasi rural telekomunikasi, panel ISDN (Integrate System Digital Network), simulasi internet dan pasopati (multimedia), simulasi STDI-K, sampel produk inti panel konfigurasi sistem komunikasi internasional (SKI), maket Geo Stationary Orbit (GSO), simulasi video tex, panel miniatur intelsat dan inmarsat, diorama stasiun pengendali utama SKSD Cibinong, miniatur generasi satelit PALAPA dan satelit TELKOM 1, panel satelit domestik, maket stasiun bumi kecil, dan miniatur roket peluncur.
Lantai I memamerkan tampilan materi peraga futuristik, seperti simulasi pesawat videophone, jenis dan model V-Phone Cellular, panel konfigurasi cyber net serta sistem satelit iridium.

Manfaat Museum Telekomunikasi
Museum Telekomunikasi sebagai Pusat Informasi Teknologi Telekomunikasi dan merupakan monumen yang bersifat dinamis, yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang:
  •           Perkembangan teknologi pertelekomunikasian Indonesia.
  •            Peranan telekomunikasi dalam menunjang perjuangan dan pembangunan bangsa.
  •       Keberhasilan pembangunan di bidang telekomunikasi dalam rangka pembangunan nasional dan peran sertanya mewujudkan Wawasan Nusantara.
Berbagai aspek informasi yang ingin dicapai adalah:

a.       Aspek Sejarah
Menginformasikan tentang sejarah perkembangan pertelekomunikasian di Indonesia dan mewariskan kepada generasi muda atas nilai kejuangan keperansertaan insane pertelekomunikasian di Indonesia pada Masa Pra Kemerdekaan, Masa Perang Kemerdekaan, Masa Awal Kemerdekaan, Masa Orde baru dan Masa Depan Telekomunikasi Dunia.

b.      Aspek Pendidikan/Penelitian
Memberikan layanan pemanduan pada semua pihak yang akan melakukan penelitian dan pendidikan di bidang telekomunikasi.

c.       Aspek Teknologi
Memberikan gambaran kepada masyarakat luas tentang perkembangan teknologi telekomunikasi di Indonesia.

d.      Aspek Pengembangan Pariwisata
Dengan menyatunya lokasi Museum Telekomunikasi di pusat wisata TMII diharapkan Museum Telekomunikasi di Indonesia dapat berperan serta dalam pengembangan pariwisata dalam paket sajian acara customer education-nya.

e.      Aspek Promosi
Memberikan layanan promosi produk barang/jasa telekomunikasi dalam kegiatan edutainment-nya.

Fasilitas Penunjang Museum Telekomunikasi
Museum Telekomunikasi memiliki sejumlah fasilitas penunjang yang bisa digunakan oleh khalayak, seperti lapangan hijau terbuka, ruang theatre, ruang rapat dan pangungg untuk mendemokan segalas sesuatu kepada masyarakat. *** [140712]










Share:

Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal

Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal terletak di Jalan Raya TMII 1 Jakarta Timur. Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal ini didirikan pada 20 April 1997.
Berawal dari penyelenggaraan Festival Istiqlal I tahun 1991 dan dilanjutkan dengan Festival Istiqlal II tahun 1995, ternyata minat dan antusiasme umat Islam dan masyarakat Indonesia untuk menyaksikan khazanah budaya yang bernafaskan Islam sangat besar. Festival tersebut memamerkan beragam khazanah budaya Indonesia yang bernafaskan Islam hasil karya para seniman muslim yang berasal dari berbagai daerah di seluruh penjuru Nusantara.


Penyelenggaraan Festival Istiqlal I dan II boleh disebut sebagai sebuah laboratorium uji coba yang sangat berhasil dalam menampilkan karya seni budaya Indonesia yang Islami karena telah menarik masyarakat luas terutama umat Islam untuk berbondong-bondong datang dan mengunjungi festival.
Sukses penyelenggaraan dua kali festival tersebut dapat menjadi bekal, bahwa sesungguhnya benda-benda seni yang bernafaskan Islam dapat dihimpun dan disajikan kepada masyarakat luas dalam bentuk penyajian yang permanen di sebuah museum agar masyarakat dapat setiap saat melihat dan mempelajarinya. Demikian juga dengan Khazanah Al-Qur’an baik yang paling kuno maupun terbaru tetap tersimpan dan terpelihara dengan baik dan dapat disajikan secara permanen kepada masyarakat luas.
Dalam kerangka inilah Departemen Agama (Dr. Tarmizi Taher) telah mengambil prakarsa untuk membangun Bayt Al-Qur’an sebagai wahana untuk mempersembahkan kepada masyarakat luas berbagai macam koleksi mushaf al-Qur’an. Gagasan ini muncul ketika Menteri Agama saat itu ditanya mengenai tempat penyimpanan mushaf Al-Qur’an terbesar yang sedang dipamerkan di Festival Istiqlal. Spontan ia menjawab “Bayt Al-Qur’an” dan bertepatan dengan selesainya penulisan mushaf Istiqlal. Sedangkan penentuan lokasi pendirian gedung Bayt Al-Qur’an di area Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan gagasan awal almarhumah Ibu Tien Soeharto. Bersamaan itu pula, dibangunlah sebuah museum yang disebut Museum Istiqlal yang menyajikan beragam khazanah Islami, baik tradisional maupun kontemporer. Dua gedung ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan karena merupakan ‘dua dunia’ yang saling melengkapi.
Bangunan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, berdiri di atas tanah wakaf almarhumah Ibu Tien Soeharto, seluas ± 20.013 m² dengan luas bangunan 20.402 m². Sesuai dengan rencana ideal yang telah dibuat, Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal dibangun sebagai pusat kebudayaan bertaraf internasional, yang mempresentasikan bukan saja khazanah budaya Islam Nusantara, tetapi juga menampilkan khazanah kebudayaan Islam berbagai belahan dunia dengan latar belakang sejarah sosial dan budayanya masing-masing.
Di samping itu, Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal juga diharapkan mampu memberikan informasi yang komprehensif tentang berbagai dimensi kultural Islam. Oleh karena itu, Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal tidak hanya dituntut untuk mampu menangkap berbagai informasi budaya pada level nasional, tetapi juga di tingkat internasional.

Arti dan Makna Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal
Mengapa memakai istilah Bayt Al-Qur’an bukan Museum Al-Qur’an? Ada beberapa alasan antara lain: Bayt Al-Qur’an (Rumah Al-Qur’an) disepakati sebagai pengganti istilah Museum Al-Qur’an. Penggunaan nama Bayt Al-Qur’an dimaksudkan untuk menghindarkan kekeliruan persepsi sebagian orang yang memahami arti dan makna museum yang sering dikonotasikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang kuno dan lapuk. Nama Bayt Al-Qur’an juga terdengar lebih puitis dan sekaligus memiliki makna religius.
Nama Museum Istiqlal merupakan kelanjutan dari Festival Istiqlal I tahun 1991 dan Festival Istiqlal II tahun 1995. Istiqlal menurut bahasa Arab berarti proklamasi. Jadi maknanya adalah proklamasi umat Islam Indonesia untuk mempersembahkan karya budayanya kepada seluruh umat manusia.
Bayt Al-Qur’an berisikan khazanah yang merupakan sumber inspirasi atau pedoman hidup bagi umat Islam berupa mushaf Al-Qur’an. Sedangkan Museum Istiqlal merupakan pengejawantahan dari mission atau pesan-pesan Al-Qur’an, yang merupakan karya seni budaya umat Islam dari zaman ke zaman, baik dari kalangan muslim di Indonesia, Asia Tenggara serta negara-negara lain di dunia.
Dua bangunan ini memberikan makna bahwa Bayt Al-Qur’an menggambarkan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia (Rahmatan lil ‘alamin: rahmat bagi semesta alam). Sedangkan Museum Istiqlal menjadi wujud nyata dari hasil pelaksanaan petunjuk Allah dalam kehidupan dan budaya umat Islam Indonesia. Jadi, Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal ini merupakan ‘dua dunia’ yang saling melengkapi antara dunia ide dan dunia nyata serta merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
                                                                                                                        
Maksud didirikan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal
Untuk menghimpun, menyimpan, dan memelihara mushaf-mushaf Al-Qur’an dan benda-benda seni budaya yang bernafaskan Islam yang merupakan karya seni para seniman muslim yang tersebar di berbagai penjuru tanah air dan dunia sehingga dapat disajikan/dipamerkan kepada masyarakat luas dalam bentuk penyajian yang permanen di sebuah mauseum agar masyarakat dapat setiap saat melihat dan mempelajarinya.

Dasar dan Tujuan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal

Dasar
1.      Sesungguhnya Al-Qur’an adalah wahyu, yang merupakan rahmat bagi seluruh alam yang menjadi tuntunan terbaik dan memiliki nilai sangat strategis untuk pembangunan umat manusia.
2.       Sesungguhnya Al-Qur’an telah mengilhami, mendorong dan memperkaya budaya bangsa.
3.  Kekayaan budaya yang bernafaskan Islam dalam berbagai bentuknya perlu dilestarikan dan dikembangkan.
Tujuan                                             
1.       Menampilkan kebudayaan Indonesia yang bernafaskan Islam.
2.     Menampilkan budaya Islami yang berasal dari Indonesia dan Asia Tenggara serta bangsa-bangsa lain di dunia.
3.       Sebagai pusat kebudayaan Islam di Indonesia.
4.       Sebagai tempat konservasi dan penelitian Mushaf Al-Qur’an, seni, budaya dan heritage keagamaan.

Visi Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal
Terwujudnya Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal sebagai pusat kebudayaan Islam secara nasional dan internasional yang dapat mewarnai sistem pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional, serta mampu menjadi wahana utama bagi para ulama, pelajar dan mahasiswa dalam mengadakan penelitian keagamaan dan kebudayaan bernuansa Islam.

Misi Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal
1.       Meningkatkan kecintaan, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Al-Qur’an.
2.  Menampilkan kebudayaan Indonesia bernafaskan Islam yang berkualitas dan kreatif dalam upaya memantapkan kesatuan dan persatuan bangsa.
3.      Menampilkan makna dan citra ajaran Islam dan budaya bangsa Indonesia yang bersifat terbuka, dinamis dan toleran.
4.       Menampilkan budaya Islam yang berasal dari Asia Tenggara dan bangsa-bangsa lainnya dalam upaya ikut melengkapi dan memperkaya khazanah budaya Islam dunia.
5.       Menjadi forum studi dan pelayanan informasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya Islam.

KOLEKSI BAYT AL-QUR’AN
Bayt Al-Qur’an menyimpan materi inti yang merupakan hasil pemahaman, pengkajian dan apresiasi umat Islam Indonesia terhadap kitab sucinya, antara lain meliputi: Mushaf Istiqlal, Mushaf Sundawi, Mushaf Wonosobo, Al-Qur’an Pusaka RI, Mushaf Al-Banjari, Al-Qur’an Kuno Nusantara, dan Al-Qur’an Huruf Braille.

Mushaf Istiqlal
Mushaf ini merupakan tulisan tangan putra-putra terbaik bangsa Indonesia. Mulai ditulis pada tanggal 15 Oktober 1991. Penulisan huruf Ba pada Basmallah pada Surah Al-Fatihah adalah Presiden H.M. Soeharto (Presiden RI saat itu) sebagai tanda dimulainya penulisan Mushaf Istiqlal dan sekaligus membuka Pameran Kebudayaan Islam tingkat Nasional yang lebih dikenal dengan Festival Istiqlal I.
Pada tanggal 23 September 1995 bertepatan dengan Pembukaan Festival Istiqlal II, Bapak Presiden Soeharto menandatangani prasasti tanda selesainya penulisan Mushaf Istiqlal. Mushaf ini merupakan seni asasi yang suci dan agung karena merupakan bentuk ekspresi estetik seni Islam yang paling otentik dan original, sebagai salah satu manifestasi sufistik atas pengejawantahan hukum Allah (al-Syari’ah) melalui jalan spiritual (al-Thariqoh) untuk mencapai hakikat (al-Haqiqoh).


Pembuatan mushaf ini melibatkan tim khusus yang keanggotaannya terdiri dari para ahli kaligrafi, ahli seni rupa, ulama ahli Al-Qur’an, serta budayawan. Mushaf ini juga ditashih oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Departemen Agama RI.
Sumber inspirasi desain pada iluminasi Mushaf Al-Qur’an berasal dari 2 jenis. Pertama, bentuk floramorfis (tumbuh-tumbuhan dan bunga) yang diabstrasikan sebagai visualisasi simbolis atas makna ayat Al-Qur’an sebagaimana tertulis dalam surah Ibrahim ayat 24-25.
Ayat ini bermakna simbolis agar manusia selalu mengingat (dzikir) dan tunduk (taqwa) kepada Allah SWT.
Kedua, iluminasinya dari khazanah ragam hias Nusantara dari Sabang sampai Merauke yang terdapat pada arsitektur rumah adat, tekstil, batik, perabot rumah tangga, perhiasan, tosan aji dan lain-lain. Dengan demikian Mushaf Al-Qur’an Istiqlal dapat menjadi ungkapan baru tradisi seni suci Islam sekaligus sebagai gambaran umat Islam Indonesia yang menyatu dan damai dalam kemajemukan suku bangsa yang demikian banyak.
Kenapa iluminasinya hanya dalam bentuk flora, bukan fauna? Karena flora lebih menggambarkan keindahan disbanding fauna. Tujuan dari iluminasi adalah untuk memperindah karena salah satu ajaran Islam adalah keindahan. Dengan dihias, maka orang akan suka membaca Al-Qur’an karena ada daya tariknya.
Gambar cahaya (sinar memancar) yang terdapat pada hampir setiap halaman diangkat secara simbolis dari Q.S. An-Nur: 35 tentang cahaya Allah SWT, yang memberi sinaran (ajaran, petunjuk, dan perintah) kepada manusia sebagai khalifah di bumi.
Begitu pula tentang pemakaian warna emas, merupakan simbol transendental (ilahiah) terhadap keagungan Allah SWT, karena warna emas adalah satu-satunya warna paling sejati yang tidak dimiliki oleh benda lain kecuali emas itu sendiri.

Mushaf Sundawi
Iluminasinya berasal dari ragam hias daerah Jawa Barat yang secara sosio-kultural termasuk dalam lingkup budaya Pasundan. Jika iluminasi Mushaf Istiqlal berasal dari khazanah ragam hias yang menggambarkan corak kebudayaan seluruh Nusantara, maka iluminasi Mushaf Sundawi diambil dari jenis tanaman khas Jawa Barat menjadi bentuk-bentuk ornament yang khas dan berkarakter Sundawi.
Singkatnya, iluminasi Mushaf Sundawi mencerminkan ragam flora dan budaya Jawa Barat (motif Banten, Bogor, Sukabumi, Cirebon, Ciamis dan lain-lain). Jadi pada prinsipnya ada dua jenis sumber inspirasi atau acuan desain pada Mushaf Sundawi, yaitu:


Pertama yang referensinya berasal dari motif Islami Jawa Barat seperti mamolo masjid, motif batik, ukiran mimbar, mihrab dan peninggalan arkeologis lainnya. Kedua adalah desain yang bersumber pada sejumlah flora tertentu khas Jawa Barat seperti gandaria dan patrakomala.
Pemrakarsa pembuatan mushaf ini adalah H.R. Nuriana (Gubernur Jawa Barat saat itu). Dimulai pada tanggal 14 Agustus 1995 bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW 17 Rabiulawal 1416 H. H.R. Nuriana membubuhkan “Basmallah” pada lembar awal sebagai simbol dimulainya penulisan mushaf. Penulisan selesai pada Januari 1997 (± 1 tahun 6 bulan) dengan menghabiskan 24.000 ml tinta warna, 5000 ml tinta hitam, 1500 gram prada, 1000 gram emas murni serbuk, 750 batang kuas, 350 pensil dan 25 dus (12,5 kg) penghapus.
Tim kerja terdiri dari para ulama, ahli kaligrafi, pakar dalam estetika seni rupa Islam, desainer spesialis iluminasi, peneliti, illuminator, ahli komputer dan fotografer serta selalu dipantau dan dikoreksi oleh pakar dari Lembaga Tashih Al-Qur’an.
Ditinjau dari sudut pandang sejarah Islam di Jawa Barat, Mushaf Sundawi merupakan karya nyata bukti kepedulian terhadap Al-Qur’an, yang telah berakar sejak Islam berpijak di tanah Pasundan. Ditinjau dari segi sosio-kultural, Mushaf Sundawi merupakan karya seni Islami yang merupakan perpaduan antara teks Al-Qur’an dengan kebudayaan Jawa Bara, sebagai perpaduan yang serasi antara dzikir dan fikir masyarakat Jawa Barat.

Mushaf Wonosobo
Mushaf Wonosobo merupakan salah satu mushaf terbesar di Nusantara, ditulis oleh dua orang santri Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah, Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah, bernama Abdul Malik dan Hayatuddin. Pondok Pesantren tersebut memiliki kekhususan dalam pengajaran tahfiz (hafalan) Al-Qur’an. Mushaf ini ditulis selama 14 bulan, dari tanggal 16 Oktober 1991 hingga 7 Desember 1992. Ukuran halaman 145 x 195 cm, dan ukuran teks 80 x 130 cm, ditulis dengan khat naskhi, dihiasi dengan iluminasi yang sederhana, ditulis di atas kertas karton manila putih, sumbangan Bapak H. Harmoko, mantan Menteri Penerangan RI.



Mushaf Pusaka
Mushaf Pusaka ditulis atas prakarsa Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, dan merupakan mushaf resmi yang ditulis pertama kali setelah kemerdekaan RI. Mushaf ini dianggap sebagai hadiah dari umat Islam Indonesia atas kemerdekaan RI. Mushaf Pusaka ditulis oleh Prof. H. Salim Fachry, guru besar IAIN Jakarta, dimulai pada 17 Ramadhan 1367 H (23 Juni 1948), dan selesai pada 15 Maret 1950. Penulisan mushaf ini diresmikan dengan penulisan huruh ba’ sebagai huruf pertama Basmallah oleh Bung Karno, dan diakhiri dengan huruf mim sebagai huruf penghabisan oleh Bung Hatta. Penulisan mushaf ini di bawah kuratorial khatat (kaligrafer) K.H. Abdurrazaq Muhilli

.

Jenis Al-Qur’an ini adalah “Al-Qur’an Sudut”, yaitu setiap halaman berkahir dengan ayat penuh, tidak bersambung ke halaman berikutnya. Al-Qur’an ini berukuran halaman 75 x 100 cm, ukuran teks 50 x 80 cm, ditulis di atas kertas karton manila putih, dengan khat Naskhi. Mushaf ini merupakan hibah dari Istana Negara pada tahun 1997, saat pembukaan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, TMII.

Mushaf Al-Qur’an Standar Braille
Ditulis dengan huruf Arab Braille, yang berbentuk titik yang menonjol, seperti halnya huruf-huruf Latin Braille. Dimaksudkan untuk membantu para tuna netra untuk belajar dan membaca Al-Qur’an. Pada mulanya penulisan Al-Qur’an Braille ini dipelopori oleh Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam (Yaketunis) Yogyakarta tahun 1964. Yayasan tersebut dalam membuat huruf Arab Braille berdasarkan “sistem khat imla’i”. Pada tahun 1974, Badan Pembinaan “Wyata Guna” Bandung menerbitkan pula Al-Qur’an Braille berdasarkan “sistem khat Usmani”, sehingga pada saat itu di Indonesia terdapat dua jenis Al-Qur’an Braille dengan standar yang berbeda. Kemudian Departemen Agama dalam hal ini Puslitbang Lektur Agama Badan Litbang Agama mengadakan musyawarah untuk menyatukan perbedaan ini, sehingga pada tahun 1977 disepakati lahirnya sebuah Mushaf Al-Qur’an Braille untuk seluruh Indonesia, yang kemudian pada tahun 1984 berdasarkan SK Menteri Agama RI No. 25 Tahun 1984 ditetapkan sebagai Al-Qur’an Standar Braille Indonesia.

Manuskrip Al-Qur’an Tua
Kelompok koleksi ini terdiri dari manuskrip-manuskrip Al-Qur’an tua dari berbagai provinsi di Indonesia, di antaranya: manuskrip Al-Qur’an Aceh, manuskrip Al-Qur’an Banten, manuskrip Al-Qur’an Cirebon, manuskrip Al-Qur’an Semarang, manuskrip Al-Qur’an Surakarta, manuskrip Al-Qur’an Yogyakarta, dan manuskrip Al-Qur’an Nusa Tenggara Barat.

Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahnya (Mancanegara)
Kelompok koleksi ini ada yang berasal dari sumbangan instansi maupun individu. Meliputi mushaf Al-Qur’an dan terjemahnya dalam berbagai bahasa dan aksara, di antaranya dari Cina, Korea, Jepang, Myanmar, Srilanka, Urdu, Kenya, Finlandia, Polandia, Italia, Jerman, Belanda.

Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bahasa Daerah)
Kelompok koleksi ini beberapa di antaranya sumbangan dari pemerintah daerah yang menerbitkan Al-Qur’an dan terjemahnya dalam bahasa mereka dan ditashihkan kepada Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, maupun dikelola oleh penerbitan swasta. Di antaranya dari bahasa Aceh, bahasa Sunda, bahasa dan aksara Jawa, bahasa Madura, bahasa Gorontalo, bahasa dan aksara Mandar, dan lain-lain.
Kronologi Al-Qur’an Cetak Nusantara
Kelompok koleksi ini berupa Al-Qur’an cetak Nusantara dari yang terbit pertama kali sampai terkini baik yang 30 juz; Al-Qur’an dan terjemahnya; maupun Al-Qur’an dan tafsirnya.

Kronologi Al-Qur’an Terjemahan Edisi Perkata (lafdziyyah)
Kelompok koleksi ini berupa Al-Qur’an dan Terjemah Perkata dari generasi pertama yang pernah ada di Indonesia hingga yang mutakhir, model dan pola penerjemahannya.

Al-Qur’an Produk Elektronik
Kelompok koleksi ini menggambarkan model-model perangkat elektronik yang dijadikan media bagi penyebaran Al-Qur’an seperti handphone (telepon genggam), CD, VCD, DVD, dan lain sebagainya.

KOLEKSI MUSEUM ISTIQLAL
Museum Istiqlal menyajikan koleksi karya seni budaya bangsa Indonesia yang bernafaskan Islam, antara lain berupa manuskrip keagamaan (selain Al-Qur’an), karya arsitektur, benda-benda arkeologis, benda tradisi, dan seni rupa kontemporer.

Manuskrip Keagamaan
Naskah-naskah kuno yang berisi kajian Islam merupakan bukti perjalanan dan perkembangan intelektual Islam di Indonesia. Naskah-naskah tersebut meliputi berbagai bidang ilmu agama seperti tafsir, hadis, ilmu kalam, fikih, sastra, bahasa, hingga sejarah. Naskah-naskah tersebut berasal dari Aceh, Banten, Jawa, Madura, Nusa Tenggara Barat, dan lain-lain.

Arsitektur
Arsitektur Islami di Indonesia terlihat pada bangunan masjid, dari yang bersahaja hingga yang megah, semuanya mempunyai keunikan tersendiri. Selain itu juga dapat dilihat pada bangunan lembaga pendidikan seperti pesantren dan madrasah, juga rumah adat. Hal ini merupakan bukti dari akulturasi antara budaya lokal dengan nilai-nilai Islam. Perpaduan antara keduanya menghasilkan karya arsitektur yang unik dan khas, dari Aceh, Jawa, Riau, Kalimantan, Sulawesi, Lombok, hingga Maluku. Karya arsitektur itu disajikan dalam media foto, maket, miniatur maupun denah.

Benda Arkeologis
Benda-benda arkeologis Islam di Indonesia merupakan bukti yang penting bagi sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Benda-benda tersebut merupakan hasil temuan dari situs-situs penting awal mula Islam di Indonesia. Di sini disajikan replika batu nisan dari Aceh, Mojokerto, dan Gresik. Batu nisan bernilai seni tinggi itu tidak hanya berfungsi sebagai penanda makam, tetapi juga merupakan prasasti yang menceritakan sejarah, riwayat kerajaan, serta masyarakat sekitar pada masa lalu.

Benda Tradisi
Benda-benda tradisi yang memiliki nilai-nilai keislaman biasanya dipakai untuk keperluan khusus yang berhubungan dengan upacara-upacara adat, seperti perkawinan, kelahiran anak, khitanan, panen raya, dan upacara tradisional lainnya. Terdiri atas berbagai macam media, dari ukiran kayu, keramik, tenun, tekstil, hingga senjata tradisional. Pada umumnya dihiasi kaligrafi Arab bertuliskan kalimat syahadat, ayat kursi, basmallah, dan lain-lain.

Seni Rupa Kontemporer
Seni rupa Islam kontemporer di Indonesia berkembang sejak tahun 1970-an, dan terus berlangsung hingga saat ini. Karya tersebut sering dan lebih mudah dikenali dari temanya yang sebagian besar berupa kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an, meskipun sebenarnya tidak harus menamilkan kaligrafi. Karya seni rupa kontemporer ini merupakan cerminan dari kondisi social dan budaya masyarakat masa kini dari sudut pandang seniman muslim. Di sini disajikan karya perupa Muslim Indonesia dalam bentuk dua dan tiga dimensi, seperti lukisan di atas kanvas, lukisan kaca, tapestry, lukisan batik dan patung kaligrafi, yang merupakan karya Amri Yahya, Arsono, Yusuf Affendi, Sudjana, dan lain-lain. ***

Sumber:
  • Drs. H. Yasin Rahmat Ansori, (dkk), 2010, Buku Panduan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama Republik Indonesia.












Share:

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 3 Jakarta Barat. Lokasi museum ini bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri atau berada di depan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota. Daerah ini termasuk kawasan Kota Tua Jakarta. Kota Tua adalah kawasan yang pertama kali dibangun oleh Belanda pada awal abad ke-16 dan menjadi pelabuhan penting tempat kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia berlabuh. Bergudang-gudang hasil bumi seperti rempah, kopi, dan teh, serta komoditas perdagangan lain seperti cita, disimpan dan diperdagangkan di sini.


Museum ini menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neoklasikal, dipadu dengan pengaruh lokal. Sebelum menjadi De Javasche Bank, bangunan Museum Bank Indonesia ini dulunya merupakan bekas rumah sakit bernama Binnenhospitaal. Setelah sekitar delapan puluh tahun, kapasitas gedung bekas Binnenhospitaal ini dirasa tak lagi memadai sebagai kantor bank besar. Oleh karena itu, De Javasche Bank memutuskan untuk melakukan pembangunan  gedung baru di atas lahan Binnenhospitaal , yang sudah ditempatinya sejak tanggal 08 April 1828. Tahun 1910, De Javasche Bank membangun kembali gedung dengan lima tahap pembangunan yang perancangan bangunan dilakukan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.
Tahun 1910 pembangunan tahap pertama dimulai dan selesai pada tahun 1912, bangunan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang jalan Binneninieuwpoorstraat atau sekarang dikenal dengan Jalan Pintu Besar Utara.
Tahun 1922 pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti rumah penjaga gedung (concierge), ruang simpan barang berharga (kluis), ruang pertemuan besar (ruang hijau), ruang arsip, garasi, dan ruangan lainnya.
Tahun 1924 pembangunan tahap ketiga dilakukan. Pembangunan tahap ketiga merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Dibuat juga bangunan di sepanjang Javabankstraat  atau sekarang dikenal dengan jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan yang baru dibangun ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang indah.
Tahun 1933 pembangunan tahap keempat dilaksanakan memenuhi kebutuhan ruang khasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan tahap keempat, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat (Jalan Pintu Besar Utara). Pembanguan termasuk renovasi yang dilakukan pada bagian depan di sisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.
Tahun 1935 pembangunan tahap kelima dilakukan dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Tujuan pembangunan tahap kelima untuk memodernisasi arsitektur pembangunan tahap- tahap sebelumnya. Perubahan yang dilakukan diantaranya menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya menjadi satu pintu untuk keluar-masuk. Perubahan yang lainnya seperti menghilangkan kubah yang sebelumnya menghiasi atap gedung bangunan. Setelah pembangunan ini, tidak banyak lagi perubahan yang dilakukan terhadap gedung.
Setelah pembangunan gedung yang baru selesai, bangunan lama bekas rumah sakit akhirnya sirna, digantikan sepenuhnya oleh bangunan megah yang kita lihat sekarang.
Peresmian Museum Bank Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu peresmian tahap I dan mulai dibuka untuk masyarakat (soft opening) pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah, dan peresmian tahap II (grand opening) oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009.
Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.
Selain berbagai koleksi yang dimiliki oleh Museum Bank Indonesia, juga terdapat fasilitas seperti ruang penitipan barang, pusat informasi tentang Bank Indonesia, ruang auditorium, kios buku dan cenderamata, banking expo, ruang serbaguna, café museum, fine dining restaurant, perpustakaan, ruang ibadah. *** [110712]
Share:

Gedung Ex-Nederlandsche Handel Maatschappij

Bagi kalangan pengamat arsitektur, bangunan warisan kolonial Belanda yang terletak di kawasan BEOS tepatnya di depan stasiun kereta api Jakarta Kota, adalah sebuah karya masterpiece. Arsitekturnya cenderung sederhana namun memiliki nilai estetika tinggi, baik dari desain gedung yang indah dan proporsional maupun detail dan ragam hiasnya yang menawan.
Menurut data sejarah, bangunan yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475/1993, dirancang oleh tiga orang arsitek Belanda, yakni J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits dan C. van Linde. Tahun 1929 gedung ini mulai dibangun oleh kontraktor Nedam dan diresmikan 14 Januari 1933 sebagai gedung Factorij, Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) di Batavia – sebulan lainnya Netherlands Trading Society (NTS).


Pada masa Perang Dunia II, tentara Jepang mengalahkan Sekutu di Asia dan mengakhiri kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda di bumi Nusantara. Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, gedung kantor Factorij NHM tutup sejak Maret 1942 dan beroperasional  kembali pada 14 Maret 1946. Setelah Factorij NHM dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia, kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) pada 5 Desember 1960, riwayat gedung ini pun berubah menjadi Kantor Pusat BKTN Urusan Ekspor Impor. Pada tanggal 17 Agustus 1965 dimulainya era  “Bank Tunggal”, gedung ini menjadi salah satu Kantor Pusat Bank Negara Indonesia (BNI) Unit II sampai dengan 31 Desember 1968 dan lahirlah Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim). Gedung ini digunakan sebagai Kantor Pusat Bank Exim hingga tahun 1995 atau setelah Bank Exim menempati gedung kantor Pusat yang baru di Jl. Gatot Subroto Kav. 36-38 (sekarang Plaza Mandiri).
Gedung yang dahulunya beralamat di Stationsplein 1-Binnen Nieuwpoortstraat ini dibangun di atas tanah seluas 10.039 m² (sebelumnya terdapat bangunan Schlieper yang terbakar tahun 1913) dalam satu taman yang luas menyatu dengan gedung Stasiun Kereta Api di seberangnya. Dengan foreground hijau terbuka dan luas, gedung Factorij NHM kala itu terlihat sangat megah dan monumental.
Gedung berarsitektur Indisch gaya Nieuw-Zakelijk ini, memang masih memiliki pesona yang kuat. Bangunannya terdiri dari empat lantai seluas 21.509 m² dengan arsitektur yag simetris, memiliki main entrance tepat di tengah bagian depan bangunan.  Ketinggian permukaan lantai dasarnya lebih tinggi dari jalan raya, sehingga kesan pada entrance-nya terasa anggun. Lantai lobby dan ruang direksinya memakai bahan mozaik keramik, sedangkan ruangan yang lain memakai tegel ubin biasa.
Salah satu bagian yang menarik dari gedung bersejarah yang berada di gerbang “Kota Toea Jakarta” ini, adalah ragam kaca patri yang menggambarkan adanya empat musim dan tokoh nakhoda kapal Belanda, Cornelis de Houtman yang mendarat di Banten tahun 1596. Terdapat juga kaca hias yang disumbang oleh C.J. Karel van Aalst atas nama Ratu Kerajaan Belanda.
Keunikan lain gedung ini mempunyai koridor yang total panjangnya hampir 1,5 km, cocok untuk jogging sambil menikmati keindahan interior sekaligus koleksi museum Bank Mandiri. Ruang khazanah (kluis) yang terdapat di lantai dasar luasnya pun tidak tanggung-tanggung, 924 m².
Sekarang bangunan kuno yang masih menyisakan nilai-nilai arsitektur dan sejarah sebuah gedung perbankan ini, digunakan sebagai salah satu kegiatan sosial Bank Mandiri dalam rangka mempublikasikan sejarah perkembangan berdirinya. Upaya menjadikan gedung ini sebagai museum, merupakan langkah konkrit melestarikan peninggalan bersejarah.
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta No. 237 tahun 2005, tanggal 19 Desember 2005 gedung Museum Bank Mandiri mendapatkan penghargaan “Sadar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya tahun 2005” di wilayah DKI Jakarta. ***

Share:

Museum Transportasi

Museum Transportasi terletak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Museum ini semula direncanakan hanya untuk Museum Kereta Api namun atas kesepakatan Menteri Perhubungan dan Yayasan Harapan Kita selaku pengelola TMII menjadi Museum Transportasi yang didirikan pada tahun 1984. Peresmian dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1991 dengan maksud menjadi Lembaga permanen milik Departemen Perhubungan sebagai sarana mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan bukti-bukti sejarah dan perkembangan transportasi serta peranannya dalam pembangunan nasional. Selain itu diharapkan sebagai sarana informasi dan pengetahuan mengenai dunia transportasi, sejarah perkembangan teknologi transportasi, sekaligus sebagai tempat rekreasi yang edukatif.


Bangunan museum ini terdiri atas empat bagian ruangan yang diperuntukkan untuk menyajikan koleksi-koleksi yang dimilikinya disertai kombinasi dengan area di luar bangunan tersebut. Dengan luas areal 6,2 hektar tersebut, museum ini mampu menghadirikan nuansa eksistensi transportasi yang pernah ada di Indonesia, dari dulu hingga kini. Sajian lengkap mengenai dunia transportasi mulai dari sejarah perkeretaapian Indonesia dan peta jaringan kereta api di pulau Jawa, lengkap dengan koleksi kereta api yang menggandeng gerbong-gerbong kayu, bus-bus kuno hingga pesawat udara Garuda DC-9.


Empat bagian ruangan yang ada di gedung museum tersebut digunakan untuk memamerkan koleksi-koleksi moda transportasi beserta sejarahnya selain koleksi yang berada di areal luar tersebut, yang terdiri atas modul Pusat, modul darat, modul laut dan modul udara.
Modul pusat menggambarkan keberadaan transportasi tradisional masa lampau, mencakup transportasi darat dan laut dari berbagai daerah di Indonesia, berupa alat transportasi sederhana dengan menggunakan tenaga manusia, hewan, atau angin, antara lain cikar, andong, bendi, becak, perahu layar, dan sebuah koleksi unik berupa foto kereta jenasah asli yang dipakai masyaarakat Aceh untuk mengangkutjenasah Sultan Iskandar Thani tahun 1641


Modul darat menggambarkan keberadaan dan layanan transportasi darat, mencakup transportasi jalan raya, jalan baja, sungai, danau, dan penyeberangan, berupa alat transportasi yang sudah mulai menggunakan tenaga mesin awal sampai sekarang, antara lain cikar DAMRI yang merupakan armada pertama DAMRI dan berperan pada masa kemerdekaan (tahun 1946) sebagai alat angkut logistik militer di wilayah Surabaya dan Mojokerto.
Modul laut menggambarkan keberadaan dan layanan jasa transportasi laut yang telah menggunakan mesin, mencakup berbagai kapal penumpang, container, dok terapung, serta peralatan penunjangnya, dilengkapi paparan teknologi kelautan dengan berbagai jenis kapal laut, prasarana yang ada dewasa ini, serta peralatan penunjang lain.
Modul udara menggambarkan keberadaan dan layanan jasa transportasi udara serta perkembangannya dan teknologi peralatan transportasi udara, mencakup pesawat terbang, peralatan transportasi udara, dan peralatan bandar udara. *** [050712]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami