The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Bogor Tempo Doeloe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bogor Tempo Doeloe. Tampilkan semua postingan

Wisma Tamu Nusa Indah

Di dalam Kebun Raya Bogor terdapat fasilitas untuk penginapan maupun sebagai tempat penyelenggaran kegiatan keluarga (family event), yaitu Wisma Tamu Pinus (Pinus Guest House) yang terletak di samping Pintu 3 (Gate 3) yang berada di sebelah timur dari Kebun Raya ini, dan Wisma Tamu Nusa Indah (Nusa Indah Guest House) yang terletak di samping Laboratorium Treub atau Museum Zoologi.
Secara administratif, lokasi Wisma Tamu Nusa Indah ini terletak di Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.


Dulu, bangunan bergaya kolonial ini merupakan rumah peristirahatan atau rumah dinasnya para petinggi Kebun Raya. Namun karena yang menempati rumah tersebut cukup lama adalah Prof. Dr. Melchior Treub, seorang ahli botani berkebangsaan Belanda yang juga menjadi Direktur Kebun Raya Bogor kala itu hampir 30 tahun maka rumah peristirahatan tersebut dikenal juga sebagai rumah peristirahatan Treub.
Rumah ini berada di lingkungan yang asri karena dikelilingi oleh taman yang menjadi bagian dari Kebun Raya, dan tidak berpagar. Rumah ini memiliki jendela yang lumayan besar di mana di atasnya diberi ornamen berupa lengkungan.
Rumah yang berwarna putih nan megah ini memiliki tujuh kamar berukuran besar di mana yang empat kamar dihubungkan dengan pintu penghubung (connecting door).
Kini, bangunan rumah tersebut difungsikan sebagai salah satu wisma Kebun Raya Bogor dengan nama Wisma Tamu Nusa Indah (Nusa Indah Guest House). Wisma tamu ini dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selaku pengelola Kebun Raya Bogor juga.
Menilik dari sisi historis bangunan ini, semestinya bangunan ini bisa diklasifikasikan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) yang harus dilindungi dan dilestarikan. *** [260514]
Share:

Laboratorium Treub

Keberadaan Kebun Raya Bogor bukan hanya sekadar berisi deretan pepohonan besar, lebat nan berumur tua, namun lebih dari itu Kebun Raya bisa membawa Indonesia (kala itu masih bernama Hindia Belanda) masuk dalam kancah percaturan internasional, terutama berkat adanya laboratorium bontani yang bernama Laboratorium Treub di dalamnya.
Laboratorium Treub terletak di dalam kompleks Kebun Raya yang posisi bangunannya berada di bagian barat daya dari Kebun Raya. Lokasinya berdekatan dengan Museum Zoologi maupun Wisma Tamu Nusa Indah (Nusa Indah Guest House). Secara administratif, lokasi Laboratorium Treub ini berada di Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.


Berdasarkan catatan yang ada di situs kepunyaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yaitu http://biologi.lipi.go.id, disebutkan bahwa Laboratorium Treub dibangun pada tahun 1894 atas prakarsa Prof. Dr. Melchior Treub. Laboratorium ini merupakan cikal bakal berdirinya Laboratorium Fitokimia, Bidang Botani, Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI yang pada awal tahun 2007, Laboratorium Fitokimia dipindahkan ke gedung baru yang berada di kawasan Cibinong Science Center.
Melchior Treub adalah seorang ahli botani berkebangsaan Belanda. Ia lahir di Voorchoten, Belanda pada tanggal 26 Desember 1851, dan meninggal di Saint-Raphaël, Perancis pada tanggal 3 Oktober 1910 pada umur 58 tahun akibat penyakit malaria yang dideritanya selang setahun kepulangannya dari Hindia Belanda.
Treub lulus dari program doktoralnya di Universitas Leiden pada tahun 1873. Dua dosen yang berperan penting bagi keilmuannya Treub kala di Universitas Leiden adalah W.F.R. Suringar, seorang ahli botani, dan E. Selenka, seorang ahli zoologi.


Setelah itu, ia tertarik untuk menerima tawaran untuk melakukan penelitian botani di Hindia Belanda yang terkenal sebagai daerah tropis. Ia melakukan penelitian sekaligus inventarisasi jenis flora yang ada di daerah tropis. Pada tahun 1880, Treub ditunjuk sebagai Direktur S’ Lands Plantentuin (Botanical Garden) di Bogor, atau yang sekarang dikenal dengan Kebun Raya Bogor. Kemampuannya mengelola lembaga ini luar biasa, sehingga di bawah asuhan dan pengarahannya, Kebun Raya Bogor menjadi suatu pusat penelitian yang terkenal di seluruh dunia dan Bogor kala itu menjadi kiblat bagi para biologiwan dunia. Ia mendirikan laboratorium penelitian yang terbuka bagi peneliti asing, sehingga berhasil memikat ratusan peneliti untuk datang dan meneliti peri kehidupan alam hayati tropika di Bogor. Laboratorium ini kemudian dikenal dengan nama Laboratorium Treub. Ia juga menjadikan Herbarium Bogoriense sebagai lembaga tersendiri.
Selain itu, ia juga termasuk salah seorang yang membantu membidani bagi Museum Zoologi Bogor, mendirikan sebuah lembaga penelitian laut di Jakarta, serta laboratorium untuk meneliti sifat-sifat kimiawi tetumbuhan tropis. Karena menyadari betapa besar peranan sumber daya alam hayati dalam perekonomian Hindia Belanda (kini Indonesia), ia mengusulkan agar penanganan pengembangannya dilakukan secara penuh oleh suatu departemen khusus yang berdiri sendiri. Karena itu, pada tahun 1905 Treub diberi kepercayaan untuk memimpin departemen baru, yang kemudian akan menjadi cikal bakal Departemen Pertanian.
Sebagai ilmuwan, Treub terkenal karena hasil penelitiannya dalam bidang morfologi tanaman tropika yang tidak ada di tempat lain, kecuali di Indonesia. Hasil kerja keras Treub ini menjadikan nama Treub diabadikan sebagai nama marga lumut Treubia dan marga jamur Melchoria. Tidak hanya itu saja, namanya pun juga dijadikan sebagai nama kapal penumpang buatan tahun 1912, S.S. Melchior Treub, yang pernah mengangkut Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir ketika keduanya akan dibuang ke Digul pada awal 1934. *** [260514]

Kepustakaan:
http://lms.aau.ac.id/library/ebook/R_2373_05_PB/files/res/downloads/download_0436.pdf
http://www.dwc.knaw.nl/wp-content/berkelbio/55.treub.pdf
Share:

Kebun Raya Bogor

Tak lengkap rasanya plesiran ke Kota Bogor tanpa mengunjungi Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Bogor adalah salah satu kebun botani (botanical gardens) yang berada di bawah pengelolaan LIPI. Di antara kebun raya yang ada di Indonesia, Kebun Raya Bogor merupakan kebun raya satu-satunya yang terletak di tengah kota.
Kebun Raya Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 13 Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kebun Raya ini di belakang Istana Bogor.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, keberadaan Kebun Raya ini sebenarnya telah ada semenjak zaman Kerajaan Pajajaran. Sesuai yang tertulis di Prasasti Batu Tulis, Kebun Raya ini diindikasikan sebagai bagian dari hutan samida yang didirikan oleh Sri Baduga Maharaja atau yang dikenal dengan Prabu Siliwangi (1474-1513). Hutan samida berarti hutan buatan atan taman buatan. Tujuan membuat hutan samida ini untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan serta tempat untuk memelihara benih-benih kayu yang langka. Di samping samida yang terletak di Kota Bogor ini, dibuat pula samida yang serupa di perbatasan antara Cianjur dengan Bogor yang disebut Hutan Ciung Wanara.


Hutan samida ini kemudian dibiarkan begitu saja setelah Kerajaan Pajajaran ditaklukkan oleh Kesultanan Banten, hingga Gubernur Jenderal Belanda Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya pada tahun 1745. Rumah peristirahatan tersebut di kemudian hari dikenal dengan Istana Bogor.
Ketika terjadi perang Napoleon di Eropa pada tahun 1811, terjadi kekalahan Belanda oleh Inggris sehingga daerah kekuasaan Belanda di Hindia Belanda atau Nederalandsch Indie, jatuh ke tangan Inggris.  Pada masa Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles mendiami Istana Bogor, ia yang memiliki minat besar terhadap botani, tertarik mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, W. Kent, yang ikut membangun Kew Garden di London, Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik.
Lalu, setelah Napoleon jatuh (1815/1816), para pemimpin negara di Eropa membuat perjanjian, antara lain tentang pembagian wilayah kekuasaan. Pada tahun 1816, Inggris mengembalikan kekuasaan Hindia Belanda ke tangan Belanda. Setelah kembali ke tangan Belanda, Pemerintah Belanda mengirim utusan ke Hindia Belanda untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya pengetahuan botani. Untuk itu dikirimlah C. Th. Elout, A.A. Boykens, G.A.G.P. Baron van Der Capellen, dan Dr. Casper George Carl Reinwardt selaku penasehat di Hindia Belanda.


Atas gagasan Reinwardt maka pada tanggl 18 Mei 1817 dilakukan pemancangan patok pertama yang menandai berdirinya Kebun Raya yang diberi nama S’Lands Plantentuin te Buitenzorg. Sepanjang sejarahnya, Kebun Raya Bogor memiliki berbagai nama di antaranya S’Lands Plantentuin, Syokubutzuen, Botanical Garden of Buitenzorg, Botanical Garden of Indonesia, Kebun Gede dan Kebun Jodoh.
Pada tahun 1822, Reinwardt digantikan oleh Dr. Carl Ludwig Blume. Sejak menjabat S’Lands Plantentuin, Blume melakukan inventarisasi koleksi tanaman. Kebun Raya Bogor mengalami perkembangan yang pesat di bawah kepemimpinan Dr. Carl Ludwig Blume (1822), J.E. Teijsmann dan Dr. Hasskarl (era Gubernur Jenderal van Den Bosch), Simon Binnendijk, Dr. RH. C.C. Scheffer (1867), Prof. Dr. Melchior Treub (1881), Dr. Koningsberger (1904), van Den Hornett (1904), dan Prof. Ir. Kustono Setijowirjo (1949) yang menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat pimpinan lembaga penelitian bertaraf internasional.
Di dalam areal Kebun Raya Bogor yang memiliki luas sekitar 28,7 hektar dan berisi sekitar 20.000 varietas tanaman dan 6.000 spesies tanaman ini, terdapat sejumlah bangunan yang mendukung keberadaan Kebun Raya. Diawali dari Pintu 1 sebagai Gerbang Utama yang berada di sebelah selatan menghadap lurus ke Jalan Surya Kencana, terdapat pusat informasi (information center) yang berada di Gedung Graha Sambhrama, dan selurus dengan Pintu 1 terdapat Tugu Lady Raffles (Lady Raffles Memorial Monument). Bangunan unik bernilai sejarah ini didirikan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, seorang Letnan Gubernur Inggris di Pulau Jawa (1811-1816), sebagai kenangan kepada isterinya, Olivia Mariamne Raffles yang meninggal pada tahun 1814, pada usia 43, karena sakit malaria. Sebagai isteri Gubernur, Olivia Mariamne memperkenalkan reformasi sosial di kalangan masyarakat Jawa. Sebait kata-kata puitis dalam bahasa Inggris klasik yang ditemukan di tugu ini adalah tulisan Olivia Mariamne sendiri.


Belok ke kiri, pengunjung bisa menjumpai toko tanaman maupun cinderamata (garden shop), Gedung Konservasi maupun perpustakaan (Conservation building/library), Laboratorium Treub (Treub Laboratory), Museum Zoologi (Zoological Museum), dan Wisma Tamu Nusa Indah (Nusa Indah Guest House). Sedangkan bila pengunjung belok ke kanan dari Tugu Lady Raffles, akan menjumpai Taman Tanaman Air (Aquatic Plant Collection) dan Taman Meksiko (Mexican Garden). Tidak jauh dari kedua taman tersebut terdapat jembatan gantung berwarna merah (hanging bridge) yang menghubungkan ke arah Pintu 4, dan menggantung di atas derasnya air Sungai Ciliwung.
Dari Pintu 2 yang berada di sebelah barat dari Kebun Raya Barat, pengunjung bisa menemukan Kantor Utama (Main Office) Kebun Raya. Kemudian belok kanan akan dijumpai Tugu Rienwardt (Reinwardt Monument) yang berlatar Istana Bogor dari halaman belakangnya, Taman Teijsmann (Teijmann Park), dan kalau beruntung akan menemukan bunga bangkai (amorphaphallus titanium).
Dari Pintu 3 yang terletak di sebelah timur laut dan berada di tepi Jalan Pajajaran menuju ke Jalan Jalak Harupat, pengunjung akan menjumpai lapangan Astrid (Astrid Lawn) dan lapangan Randu (Randu Lawn). Tidak jauh dari Pintu 3 maupun kedua lapangan tersebut, terdapat Wisma Tamu Pinus (Pinus Guest House). Sedangkan dari Pintu 3 belok ke kiri, ditemukan Griya Anggrek (Orchid House), Gedung Herbarium, Orchidarium, dan Taman Sudjana Kassan (Sudjana Kassan Garden).
Akan tetapi kalau dari Pintu 3, pengunjung saat melintas Astrid maupun Randu Lawns terus saja lurus maka akan bertemu dengan masjid yang berada di tepi sungai kecil yang gemercik airnya. Dari masjid tersebut terus ke kanan, pengunjung akan menemukan jembatan gantung berwarna merah (hanging bridge). Tidak jauh dari jembatan tersebut di sisi sebalah baratnya, terdapat makam yang ramai diziarahi para pengunjung.
Dari Pintu 4 yang berada di sebelah tenggara dari Kebun Raya ini, pengunjung akan menjumpai Café de’Daunan yang bila diteruskan ke utara akan tembus dengan Astrid dan Randu Lawns. Pada Pintu 4 ini bentuknya agak berbeda dengan pintu-pintu yang lainnya. Pintu 4 ini bentuknya mirip dengan Tugu Lady Rafflesia yang berada tepat di seberang jalan dari Kampus IPB. *** [260514]

Kepustakaan:
Aryo Hendrawan W.K., 2012, Penataan Kembali Kawasan Paledang-Bogor Dengan Pendekatan Experience Farming, dalam Tesis di Program Pascasarjana Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
Rucitra Deasy Fadila, 2012, Perkembangan Tata Kota Bogor Dari Abad Ke-18 Hingga Abad Ke-20, dalam Skripsi di Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universtas Indonesia
Share:

Istana Bogor

Berkunjung ke Kota Bogor terasa belum lengkap tanpa menyaksikan Istana Bogor. Istana Bogor adalah bangunan bersejarah nan megah. Kegiatan dan peristiwa bersejarah yang berlangsung di Istana Bogor telah meninggalkan berbagai bentuk benda bersejarah seperti halnya lukisan, patung, foto, literatur, buku dan hadiah kenegaraan. Pada masa pemerintahan Presiden ke-2, Soeharto, di tahun 1968, Istana Bogor dibuka untuk kunjungan masyarakat umum. Sehingga status steril dari sembarangan orang pada Istana Bogor atau The Palais Buitenzorg menjadi pudar dengan sendirinya.
Istana Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 1 Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi istana ini menyatu dengan Kebun Raya Bogor.
Istana Bogor merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan ini timbul dikarenakan aspek historis, kultur dan fauna yang ada serta lebatnya pepohonan yang terdiri atas 346 jenis pohon.
Berawal dari keinginan orang-orang Belanda yang bekerja di Batavia (kini Jakarta) untuk mencari tempat peristirahatan. Karena mereka beranggapan bahwa kota Batavia terlalu panas dan ramai, sehingga mereka perlu mencari tempat yang berhawa sejuk di luar Kota Batavia.
Gubernur Jenderal Belanda Gustaaf Willem Baron van Imhoff melakukan pencarian dan menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah kampung, yang bernama Kampung Baroe, pada tanggal 10 Agustus 1744.


Setahun kemudian, pada tahun 1745, Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff (1745-1750) memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebuah pesanggrahan yang diberi nama Butenzorg atau Sans Souci yang berarti “tanpa kekhawatiran.” Dia sendiri yang membuat sketsa bangunannya dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat Kota Oxford di Inggris.
Proses pembangunan graha pesanggrahan Gubernur Jenderal di Buitenzorg tersebut akhirnya dilanjutkan oleh Gubernur Jenderal yang memerintah selanjutnya, yaitu Gubernur Jenderal Jacob Mossel yang masa dinasnya dari tahun 1750 hingga tahun 1761.
Pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), pesanggrahan tersebut diperluas dengan memberikan penambahan, baik ke sebelah kiri gedung maupun sebelah kanannya. Gedung induknya dijadikan dua tingkat. Halamannya yang luas juga dipercantik dengan mendatangkan tiga pasang (6 ekor) rusa tutul dari perbatasan Nepal-India. Dari tiga pasang rusa tutul tersebut, kini sudah berkembang biak menjadi 800 ekor.
Kemudian pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826), dilakukan perubahan besar-besaran. Sebuah menara di tengah-tengah bangunan induk didirikan sehingga istana semakin megah. Sedangkan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya (S’Lands Plantentuin) yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 18 Mei 1817.


Gedung ini kembali mengalami kerusakan berat, ketika terjadi gempa bumi yang hebat pada tanggal 10 Oktober 1834. Akibat kerusakan ini, baru pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Jenderal Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856), bangunan lama sisa gempa dirobohkan sama sekali. Kemudian dengan mengambil arsitektur gaya Palladio yang populer di Eropa pada masanya, bangunan baru satu tingkat didirikan. Hanya denah puri saja yang masih dipertahankan, yaitu konsep bangunan induk di tengah, dan masing-masing sebuah bangunan di sayap kiri dan kanan. Untuk menghubungkan gedung induk dengan gedung sayap, dibangunlah jembatan lengkung dari kayu.
Bangunan istana baru terwujud secara utuh pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861). Dan pada pemerintahan selanjutnya, tepatnya tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), gedung istana ini juga sempat dikuasi oleh tentara Jepang. Usai Jepang menyerah kepada tentara Sekutu, Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Namun baru pada tahun 1949, ketika Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia (RI), Istana Buitenzorg (nama lawas dari Istana Bogor) diserahkan secara resmi oleh Kerajaan Belanda kepada RI, dan pada tahu 1952 Presiden Soekarno baru mulai melakukan pemugaran secara bertahap. Yang pertama dipugar adalah bagian depan bangunan induk. Ditambahkan sebuah beranda (portico) yang ditopang oleh enam tiang berlaras ionia. Dalam memugar Istana Bogor, Presiden Soekarno tetap mempertahankan gaya arsitektur Palladian.
Jadi, sejak tahun 1870 hingga 1942, Istana Bogor merupakan kediaman resmi dari 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu orang Gubernur Jenderal Inggris, dan sejak diserahkan ke Indonesia,  istana ini secara resmi menjadi salah satu Istana Presiden Republik Indonesia yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia dalam acara resmi kepresidenan.
Istana Bogor yang memiliki luas bangunan sekitar 1,5 hektar ini, di jalan menuju istana terdapat beberapa patung (mayoritas perempuan) tanpa busana. Lalu, pada gedung di sisi kiri tepatnya di teras gedung, terdapat patung perunggu Ritual Meminta Hujan. Patung itu karya Marta Jiraskova (seniman Ceko), dibuat pada 1938, dan diberikan kepada Presiden Soekarno oleh Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Sedangkan, di gedung sisi kanan, terdapat patung dari bahan serupa dan karya seniman yang sama dinamai Ritual Terima Kasih.
Lampu gantung yang menghiasi Istana Bogor berasal dari Austria. Lantai dari Italia. Banyak karya seni sumbangan pemimpin negara sahabat semasa  Soekarno atau Soeharto berkuasa dan masih terawat.
Kalau gedung sisi kiri merupakan gedung untuk tamu negara setingkat menteri, maka ruang garuda diperuntukkan untuk tempat pertemuan tamu negara. Dulu, ruang ini tempat berdansa pejabat Hindia Belanda. Lantai dua yang tertutup tempat musisi mengiringi mereka berdansa. Sedangkan, gedung sisi kanan merupakan tempat tamu setingkat presiden menginap. *** [260514]

Kepustakaan:
Yuni Dizi Nurhayati, 2013, Tatanan Elemen Visual Gedung Balai Kirti Yang Kontekstual Di Kompleks Cagar Budaya Istana Bogor, dalam Jurnal Ilmiah yang diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik di Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
http://s3images.coroflot.com/user_files/individual_files/
Kompas Edisi Selasa, 10 Juni 2014
Share:

Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi

Melintas dari Jalan Perintis Kemerdekaan menuju ke arah Cilendek atau arah Semplak, terdapat beberapa bangunan peninggalan Hindia Belanda masih mempesona. Salah satunya adalah Rumah Sakit (RS) Dr. H. Marzoeki Mahdi atau biasa disebut dengan nama Rumah Sakit Marzoeki Mahdi.
RS Marzoeki Mahdi terletak di Jalan Dr. Semeru No. 114 Kelurahan Menteng, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi rumah sakit ini berada di sebelah selatan RS Karya Husada Bogor.
Awalnya, rumah sakit ini merupakan rumah sakit jiwa (RSJ) yang pertama didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 Juli 1882, dan merupakan RSJ terbesar kedua setelah RS Jiwa Lawang Jawa Timur. Ketika rumah sakit ini diresmikan oleh Direktur P & K (Ex Onderwijs Van Eeredienst En Nijverheid) bernama Krankzinnigengestich te Buitenzorg, dengan jumlah pekerja 35 orang Eropa dan 95 orang pegawai pribumi dan keturunan Tionghoa di antaranya seorang dokter jiwa yang bernama Dr. Semeru, dengan kapasitas 400 tempat tidur.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), RSJ Pusat Bogor ini pernah digunakan sebagai penampungan tentara Jepang dan sebagian lain untuk tempat mengisolir orang yang terkena penyakit menular.


Pada masa revolusi fisik (1945-1950), rumah sakit ini sempat “terlantar” karena tidak banyak perhatian yang diberikan terhadap nasib RSJ Pusat Bogor lantaran sibuk mempertahankan kemerdekaan. Baru antara tahun 1950-1969 terdapat sedikit perbaikan dan perubahan gedung atau ruang perawatan yang cukup berarti, dan sesudah tahun 1950, RSJ Pusat Bogor ini mengalami perbaikan dan sekaligus peningkatan pelayanan melalui Repelita hingga akhir tahun 2001.
Lalu, bersamaan dengan momen peringatan 120 tahun RSJP Bogor pada tanggal 1 Juli 2002, RSJP Bogor ini diresmikan menjadi Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi.
Bangunan rumah sakit ini terdiri dari beberapa bangunan, di antaranya bangunan administrasi, rawat inap, rawat jalan, instalasi, dan ruang lainnya. Sebagian bangunan sudah direnovasi, namun tetap dipertahankan gaya arsitektur masa kolonialnya. Pada bangunan lama yang tidak direnovasi secara keseluruhan, bangunannya masih memiliki jendela-jendela tinggi berbentuk persegi yang terbuat dari kayu atap bangunan berbentuk limas. Luas bangunan ini adalah 30.035,56 m² yang berdiri di atas lahan seluas 572.026 m².
RS Marzoeki Mahdi ini menyandang tipe rumah sakit A (khusus) yang status kepemilikannya berada di bawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kekhususan ini diberikan karena sejak awal berdiri pada tahun 1882, pelayanan kesehatan yang diberikan adalah kesehatan jiwa. Sampai sekarang, rumah sakit ini mengembangkan fasilitas pelayanan jiwa, meski sudah berubah nama. *** [260514]

Kepustakaan:
Istiana Ifada, 2008, Analisis Kepuasan Pelayanan Urusan Kepegawaian Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Tahun 2008, dalam Skripsi di Program Sarjana Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia
Rucitra Deasy Fadila, 2012, Perkembangan Tata kota Bogor Dari Abad Ke-18 Hingga Abad Ke-20, dalam Skripsi di Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
Share:

Monumen dan Museum PETA

Kesepakatan para founding father, yaitu Soekarno, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantoro, Ki Ageng Suryomataram, Gatot Mangkuprojo, K.H. Mas Mansyur, K.H. Agus Salim, agar bangsa Indonesia mendapat latihan kemiliteran merupakan ide pembentukan  tentara pembela tanah air (PETA). Secara de facto dan de jure pembentukan PETA berdasarkan maklumat Osamu Seirei No. 44 tanggal 3 Oktober 1943 yang diumumkan Panglima Tentara ke-16 Jepang Letnan Jenderal (Letjen) Kumakichi Harada untuk membantu tentara Jepang sebagai kekuatan cadangan.
Pelatihan tentara PETA dipusatkan di Boei Gyugun Resentai Bogor dengan materi taktik dan teknik tempur dari tingkat Daidancho (Danyon), Chudanco (Danki) dan Shodancho (Danton) dengan instruktur Jepang. Bila ditelisik sudah banyak peran yang dilakukan tentara PETA, dalam proses mempersiapkan, merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan RI. Hal ini dapat dilihat di mana pada 16 Agustus 1945, PETA mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok karena di Jakarta diisukan akan terjadi revolusi. Pada saat proklamasi kemerdekaan RI, PETA berperan mengamankan wilayah, sarana telepon, dan Chudancho Latief Hendraningrat dipercaya sebagai pengibar bendera Merah Putih. PETA juga berperan dalam mempertahankan kemerdekaan RI dan berbagai pertempuran seperti Palagan Ambarawa yang dipimpin Kolonel Sudirman, dibantu komandan lapangan (Letkol Gatot Subroto, Mayor A. Yani, Mayor Soeharto dan Mayor Sarwo Edhie Wibowo), Palagan Surabaya (Dr. Mustopo, Letkol Sungkono), Palagan Palembang (Bambang Utoyo, Makmun Murod, Ratu Alamsyah Prawiranegara), Palagan Bali (I Gusti Ngurah Rai). Adapun tentara PETA yang berhasil menjadi tokoh TNI AD dan pemimpin bangsa, antara lain Jenderal Sudirman, Jenderal A. Yani, Jenderal Soeharto, Jenderal Umar Wirahadikusumah dan Letjen Sarwo Edhie Wibowo.
Untuk menghormati dan mengabdikan nilai-nilai kepahlawanan, patriotism, nasionalisme, militansi perjuangan PETA, atas prakarsa Yayasan (YAPETA) PETA Bogor dan mantan PETA, situs yang ada pada masa kolonial Belanda digunakan sebagai Markas Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL), pada masa pendudukan Jepang digunakan sebagai Boei Gyugun Kanbu Kyo Iku Tai (Markas Komando Pusat Pendidikan Perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa) dan pada tanggal 15 April 1950 diserahkan oleh KNIL kepada Indonesia dan difungsikan sebagai Sekolah Genie yang kemudian dirancang dan direnovasi sebagai Monumen dan Museum PETA.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh mantan PETA Jenderal TNI (Purn) Umar Wirahadikusuma yang pernah menjabat Wakil Presiden RI tanggal 14 November 1993. Selanjutnya Monumen dan Museum PETA diresmikan oleh Presiden RI ke-2 Jenderal Soeharto tanggal 18 Desember 1995 dan dibuka untuk umum.
Pada tanggal 9 Agustus 2010 dilaksanakan serah terima Monumen dan Museum PETA dari YAPETA Bogor kepada Pemerintah, dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Monumen dan Museum PETA oleh Ketua YAPETA Bogor, H. Tinton Soeprapto, diserahkan kepada Menteri Pertahanan (Menhan) RI cq Dirjen Kuanthan Kemhan Mayjen TNI (Purn) Suryadi, M.Sc dan dari Dirjen Kuanthan Kemhan dierahkan kepada Kasad cq Kadisjarahad Brigjen TNI Marsono. Dilanjutkan dengan peresmian patung Shodancho Supriyadi dan penandatangan prasasti oleh Menhan Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro.


Monumen dan Museum PETA terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 35 Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Monumen dan Museum PETA ini berada di sebelah utara Markas Kodim 0606 Bogor.
Monumen dan Museum PETA ini menempati bangunan peninggalan Belanda. Bangunan ini dibangun bersamaan dengan pembangunan Istana Bogor pada tahun 1745. Dulu bangunan ini merupakan gedung yang dipergunakan pengawal Gubernur Jenderal dan pegawai yang lainnya.
Kemudian penggunaan bangunan ini silih berganti beralih penggunaannya seiring perkembangan zaman. Bermula dari tangsi militer bagi pengawalan Gubernur Jenderal menjadi zeni Belanda atau militair kampement, lalu berganti menjadi tangsi atau pusat pelatihan tentara PETA dan kini menjadi zeni Indonesia.
Dari keseluruhan lahan yang digunakan oleh Zeni AD ini seluas 13,7 hektar, hanya 2,150 m² lahan yang dipakai untuk Monumen dan Museum PETA di mana luas bangunan untuk museumnya sendiri seluas 1.733,59 m².
Di halaman depan museum terdapat patung Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Shodancho Supriyadi, batu prasasti serta 2 unit tank AMX-13. Lalu, memasuki pintu gerbang yang cukup besar terdapat lorong sebelum memasuki Museum PETA. Pada lorong yang dikenal dengan sebutan lorong among tamu, dinding kanan terdapat relief pembentukan PETA, tokoh-tokoh PETA dan Daidan PETA Blitar; Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945; mantan PETA yang menjadi tokoh nasional, sedangkan pada dinding kiri lorong terdapat relief perjuangan dan pemberontakan PETA di Blitar, Palagan Ambarawa, dan PETA sebagai salah satu cikal bakal TNI.
Ada 2 bangunan cagar budaya (BCB) yang difungsikan sebagai Museum PETA, Di bagian sayap kanan gedung utama museum merupakan Ruang Supriyadi, dan bagian sayap kiri gedung utama museum merupakan Ruang Sudirman.
Pada Ruang Supriyadi, koleksi yang dipamerkan sebagai bukti sejarah perjuangan para tokoh bangsa Indonesia dan pendiri tentara PETA berupa diorama, vitrin, foto-foto maupun maket Markas KNIL, sedangkan pada Ruang Sudirman, koleksi yang dipamerkan berupa diorama sejarah perjalanan cikal bakal TNI, vitrin, foto-foto mantan PETA dan sebagainya.
Usai melihat pajangan koleksi yang dipamerkan di dalam museum, pengunjung bisa menuju ke halaman belakang. Di sana terdapat Monumen PETA yang berbentuk dinding oval di atas selasar bundar. Pada dinding dalam memuat organisasi dan nama Perwira PETA yang dididik di Boei Gyugun Renseitai Bogor dan dinding luar berupa relief sejarah perjuangan PETA. *** [140514]

Kepustakaan:
Brosur Monumen dan Museum PETA yang dikeluarkan oleh Dinas Sejarah Aangkatan Darat
Share:

Museum Perjuangan Bogor

Saat menyusuri kawasan komersil di salah satu daerah di Bogor, terlihat sebuah bangunan peninggalan masa kolonial Belanda dengan relief yang berada di atas pintu masuk utamanya. Bangunan persegi panjang tersebut ternyata adalah museum. Museum tersebut diberi nama Museum Perjuangan Bogor.
Museum ini terletak di Jalan Merdeka No. 56 Kelurahan Ciwaringin, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi museum ini tepat berada di depan Pusat Grosir Bogor (PGB) atau yang dikenal juga dengan Mall Merdeka.
Museum Perjuangan Bogor ini dibuka secara resmi pada tanggal 10 November 1957, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, oleh Ibu Kartinah Tubagus Muslihat dan dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Pelaksana Kuasa Militer Daerah Res. Inf. 8/III No. Kpts/3/7/PKM/57 yang diprakarsai oleh Mayor Ishak Djuarsa, Pe.Ku.Mil Daerah Res. Inf. 8/III Suryakencana Divisi Siliwangi. Yang kemudian diresmikan kembali oleh Kolonel R.A. Kosasih, Panglima T.T. III/ Siliwangi, pada tanggal 15 Agustus 1958 Jam 08.00.


Museum Perjuangan Bogor ini memiliki luas bangunan 515 m² di atas lahan seluas 650 m². Di dalam gedung ini ditopang oleh tiga pilar besar yang menjadi salah satu ciri bangunan kolonial. Lantai pertama berisikan kantor dan benda-benda koleksi seperti senjata-senjata modern, dokumen-dokumen, mata uang, lukisan, dan lain-lain. Sedangkan, lantai dua terdiri dari benda-benda koleksi seperti senjata-senjata tradisional, topi helmet, prasasti/monumen, diorama peristiwa pertempuran, kain/pakaian, dan sebagainya. Di halaman depan museum ini terdapat sebuah taman seluas 10 x 30 meter. Halaman ini berlantaikan ubin dan di tengah-tengah tamannya terdapat sebuah pancuran air.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, gedung ini dibangun pada awal tahun 1879 untuk tempat tinggal keluarga Belanda. Kemudian pada tanggal 7 Juli 1879, bangunan gedung ini dibeli oleh seorang bernama Wilhelm Gustaff Wissner untuk dijadikan gudang bagi komoditas hasil perkebunan yang ada di Bogor dan sekitarnya untuk selanjutnya dikirim ke Batavia.
Selanjutnya, gedung ini mengalami berbagai peristiwa. Pada awal Juni 1938, gedung ini dijadikan sebagai gedung Persaudaraan “Parindra” Cabang Bogor. Lalu, berubah fungsinya menjadi Kantor Bank Simpan Pinjam, dan lain-lain.
Ketika masa pendudukan Jepang, gedung ini dijadikan gudang oleh tentara Dai Nippon sejak tanggal 9 Maret 1942, dan pada tahun 1945 gedung ini berhasil direbut oleh pejuang Indonesia yang kemudian sejak tanggal 17 Agustus 1945 dijadikan sebagai Kantor Komite Nasional Indonesia, Kantor BP3, Markas Pejuang, Kantor  Perjuangan Dewan Perdjoangan Karesidenan Bogor serta digunakan pula untuk badan perjuangan lainnya, seperti Laskar Rakyat Bambu Runcing oleh para pemuda pejuang ketika itu.
Pada tanggal 13 Februari 1946, gedung ini ditinggalkan oleh para perintis perjuangan, karena pihak tentara Belanda dan Inggris menekan seluruh kegiatan perjuangan dengan berbagai ancaman, karena mereka tahu di gedung tersebut tempat bersarang para pejuang Indonesia.
Di tengah kekosongan gedung ini, yaitu antara tahun 1948 sampai tahun 1949, gedung ini digunakan untuk kegiatan Gabungan Buruh Serikat Indonesia (GABSI) pimpinan Priyatna.


Setelah terjadi peristiwa cease tire antara tentara Belanda dan pejuang yang tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat pada tanggal 3 Agustus 1949, gedung ini dijadikan Kantor Pemerintah Darurat Kabupaten Bogor dan KDMJ Bogor selama tiga tahun, yaitu dari tanggal 23 Desember 1949 sampai 4 Maret 1950.
Lalu, pada tahun 1952, gedung ini dijadikan Sekolah Rakyat (SR) No. 34 yang dikhususkan bagi anak-anak tentara saja, tapi kemudian atas usaha Mayor Usman Abdullah sekolahan ini selanjutnya dibuka untuk umum. SR ini siangnya digunakan sebagai sekolah SMP Smauril Adjrem (sekolah dengan ijazah penyesuaian para siswa yang terdiri dari pemuda pejuang yang akan bergabung dengan ABRI/POLRI sampai dengan tahun 1952.
Pada tanggal 16 Desember 1953, gedung ini dimiliki oleh Umar bin Usman Albawahab dengan surat Eigendom Verponding No. 4016. Umar bin Usman Albawahab adalah seorang pedagang keturunan Arab yang rumahnya berada di sebelah kiri gedung tersebut. Kemudian,  gedung ini sempat dijadikan sebagai balai pertemuan pemuda rakyat. Sebelum diserahkan sepenuhnya oleh Pembantu Utama Pelaksana Kuasa Perang Daerah KMS Bogor kepada Yayasan Museum Perdjoangan Bogor pada tanggal 17 Maret 1958 untuk digunakan setelah SR yang memakainya dialihkan ke tempat lain.
Lalu, atas kebaikan dan keikhlasan Umar bin Usma Albawahab, sang pemilik gedung tersebut, gedung ini dengan persil seluruhnya dihibahkan sepenuhnya kepada Yayasan Museum Perdjoangan Bogor pada tanggal 20 Mei 1958 dengan akte Notaris J.L.L. Wonas di Bogor.
Gedung museum yang dulunya pernah dikenal dengan Gedung Tjiekeumeuh No. 28 ini masih berdiri kokoh hingga sekarang. Kendati usia bangunannya sudah tua, tetapi masih memancarkan bangunan kolonial yang klasik. Konon, udara yang melintas di gedung ini semilir nan sejuk karena tepat di depannya dulu masih berupa kerkhof (pemakaman Belanda) yang di dalam arealnya berdiri deretan pepohonan cemara. Namun, semenjak kerkhof tersebut dijadikan Pusat Grosir Bogor (PGB), udara semilir nan sejuk tersebut sudah tidak menggapai gedung itu lagi. *** [210514]
Share:

Gedung Badan Pertanahan Nasional Bogor

Bogor sebagai kota kolonial berawal ketika Gubernur Jenderal Gustaaf van Imhoff pada tahun 1743-1750 mendirikan tempat peristirahatan di Buitenzorg. Pemilihan lokasi dibangunnya Istana Bogor dikarenakan basis ekologisnya yang sangat kondusif, pemandangan alam yang indah, tanah yang subur, iklam yang sejuk, serta letak geografis yang strategis. Selain itu, setelah Istana Bogor dibangun, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dibuatlah Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang melintasi Istana Bogor dan menghubungkan Batavia dengan Buitenzorg.
Kota Buitenzorg (nama lama Kota Bogor) memiliki makna sebagai kota istirahat sehingga hal ini banyak mempengaruhi berdirinya bangunan kolonial yang digunakan untuk pemukiman orang-orang Belanda yang salah satunya adalah Gedung Badan Pertanahan Nasional Bogor.


Gedung Badan Pertanahan Nasional (BPN) ini terletak di Jalan Salak No. 2 Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi bangunan gedung ini berada di depan Istana Bogor agak ke timur.
Awalnya, gedung BPN ini merupakan bangunan untuk tempat tinggal yang dihuni oleh keluarga Belanda. Diperkirakan keluarga tersebut juga merupakan keluarga yang mempunyai kedudukan di kalangan masyarakat Belanda yang tinggal di Batavia. Bangunan ini didirikan pada tahun 1938, dan dikenal dengan sebutan Gedung Blenong.
Gedung ini memiliki luas bangunan 807,50 m² di atas lahan seluas 1.744,20 m². Bagian atapnya memiliki kubah yang terbuat dari beton, sedangkan bagian depan terdapat tiang penyangga atap yang membentuk serambi.
Gedung Blenong, yang semula merupakan bangunan pemukiman orang Belanda, sekarang ini status kepemilikannya dipegang oleh Negara, dalam hal ini adalah BPN. Sehingga, di halaman depan terpampang Badan Pertanahan Nasional RI sebagai penanda bahwa bangunan gedung ini kini dipergunakan sebagai Kantor BPN Bogor. *** [260514]
Share:

Masjid Noer Al Athas

Pada mulanya kawasan Empang merupakan bagian dari sebuah alun-alun luar Kota Pakuan yang membentang dari tepi Sungai Cisadane sampai ke Cipakancilan. Sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan Empang mulai membentuk pola-pola ruang yang menjadi dasar perkembangan kawasan selanjutnya. Tahun 1754, Pemerintah Kolonial Belanda menjadikannya sebagai pusat Pemerintahan Karesidenan Kampung Baru. Kebijakan wijkenstelsel mengkhususkan kawasan ini sebagai pemukiman bagi masyarakat etnis Arab.
Sebagai pemukiman Arab (Arabische Kamp), membawa konsekuensi bahwa kawasan Empang akhirnya menjadi pusat penyebaran agama Islam di Bogor. Salah satu tokoh penting yang memiliki pengaruh dalam penyebaran agama Islam adalah Habib Abdullah bin Mukhsin al-Athas, sosok mulia dari Hadramaut, Yaman Selatan.


Beliau membangun masjid di atas tanah rawa yang berjarak 100 meter ke arah timur Masjid Empang At-Thohiryah atau dulu dikenal sebagai Masjid Kabupaten, atau Masjid Agung Empang (Masjid At-Thohiryyah). Masjid yang dibangun oleh Habib Abdullah bin Mukhsin al-Athas pada tahun 1828 ini, awalnya dikenal dengan nama Masjid An-Nur. Kemudian pada tahun 1901, masjid ini berganti nama menjadi Masjid Noer Al Athas. Tapi karena pendiri masjid ini dikenal akan kewaliannya dengan sejumlah karomah yang dimilikinya maka masyarakat sekitar mengenalnya sebagai Masjid Keramat Empang.
Masjid Noer Al Athas ini terletak di Jalan Lolongok, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi masjid ini tidaklah terlalu jauh dengan Masjid Empang At-Thohiriyyah.
Bangunan masjid ini memiliki gaya arsitektur yang khas karena mengadopsi bentuk masjid yang terdapat di Yaman, terutama bentuk menara masjidnya yang memiliki kemiripan dengan menara Masjid Nur di Tarim, Yaman. Hanya saja Masjid Noer Al Athas tidak digunakan untuk shalat Jumat karena jaraknya yang begitu dekat dengan Masjid Empang At-Thohiriyyah.
Setelah Habib Abdullah bin Mukhsin al-Athas wafat pada tanggal 29 Dzulhijjah 1351 H, dibuatlah cungkup di sebelah barat masjid. Di dalam cungkup tersebut terdapat tujuh makam yang merupakan makam dari Habib Abdullah bin Mukhsin Al Athas, lima orang putranya, dan seorang murid kesayangan beliau. Keberadaan makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Athas menarik banyak peziarah dari luar Bogor berdatangan ke kawasan Empang, dan sekaligus menikmati keindahan bangunan masjid ini. *** [210514]

Share:

SMA YZA 2 Bogor

Melintasi kawasan Kebon Kelapa menuju ke arah Semplak, terdapat beberapa bangunan kuno yang ada di sepanjang jalan. Salah satunya adalah bangunan sekolah milik Yayasan Zelani Al-Mansyur (YZA). Di dalam kompleks sekolah ini sebenarnya terdapat banyak sekolahan yang dikelola oleh YZA, seperti SMP YZA 2 Bogor, SMA YZA 2 Bogor, SMK YZA 3 Bogor, dan SMK YZA 4 Bogor. Namun, masyarakat sekitar lazim mengenalnya sebagai Gedung SMA YZA 2 Bogor.
Gedung SMA YZA 2 terletak di Jalan DR. Semeru No. 59 Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi bangunan sekolahan ini tidak begitu jauh dengan Pusat Grosir Bogor (PGM).


Awalnya, bangunan gedung sekolah ini merupakan rumah tinggal yang dikelilingi kompleks asrama atau tangsi tentara dahulu digunakan sebagai tempat pemantauan daerah kompleks tersebut melalui menaranya yang menyatu dengan rumah tersebut. Sesuai dengan penanda yang ada di atas genteng, bangunan gedung SMA YZA 2 ini diperkirakan dibangun pada tahun 1906.
Bangunan bercorak kolonial ini memilik luas bangunan 607 m² di atas lahan seluas 3.310 m², dengan status kepemilikan ada pada YZA.
Gedung SMA YZA 2 Bogor ini merupakan bangunan yang telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya (BCB) yang ada di Kota Bogor. Oleh karena itu, dilindungi dengan UU sehingga bangunan sekolah ini harus tetap dijaga keaslian dan tetap dilestarikan. *** [190514]
Share:

Masjid Empang At-Thohiriyyah

Masjid At-Thohiriyyah merupakan salah satu masjid tua yang ada di Kota Bogor. Masjid ini terletak di Jalan Raden Aria Wiranata, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi masjid ini tidak begitu jauh dengan lokasi masjid Noer Al Athas, yaitu berada di sebelah barat alun-alun Empang.
Dahulu, kawasan di mana masjid ini berdiri dikenal sebagai Sukahati. Namun, setelah dijadikan pusat pemerintahan oleh para Bupati Bogor (1754), daerah menjadi Kampung Baru. Kemudian karena di daerah tersebut dibangun sebuah kolam yang cukup besar oleh Pemerintah Hindia Belanda, daerah tersebuh menjadi terkenal dengan nama Empang. Kata empang, menurut orang Sunda memiliki arti kolam. Lidah orang Sunda senang menyebutnya daerah tersebut dengan Empang, sehingga Masjid At-Thohiriyyah pun lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Masjid Agung Empang Bogor.


Masjid At-Thohiriyyah ini dibangun dari tahun 1815 hingga tahun 1817 oleh Raden Muhammad Tohir. Kemudian pembangunannya dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Raden Arya Wiranata (Bupati Pertama Bogor), putra dari Raden Aria Suryawinata. Dari awal didirikan hingga saat ini, Masjid At-Thohiriyyah tetap berfungsi sebagai bangunan peribadatan. Di depan masjid ini terdapat alun-alun yang pada tahun 1535-1543 membentang dari parit empang sampai ke tepi Sungai Cisadane.
Bangunan masjid ini berdenah persegi empat, dan memiliki dua menara di bagian kanan dan kiri bangunan. Menara bagian kiri terlihat lebih rendah dari menara yang ada di bagian kanan, dan di tengah menara terdapat kubah masjid berwarna hijau.
Masjid yang memiliki luas bangunan 1.285 m² di atas lahan seluas 5.509 m² ini, telah mengalami beberapa perubahan atau renovasi. Sehingga, apabila dilihat dari sisi kekunaannya, bangunan masjid ini memang sudah tidak menyiratkan secara fisik. Akan tetapi, tradisi sholawatan yang sudah dipelopori oleh Raden Aria Suryawinata, putra sang pendiri masjid ini, terus berlanjut hingga sekarang, terlebih usai shalat Jumat sholawat pun akan dikumandangkan oleh para jamaah. *** [220514]
Share:

Hotel Pasar Baroe

Hotel Pasar Baroe merupakan salah satu hotel tua yang ada di Kota Bogor. Umurnya setara dengan Hotel Salak The Heritage yang cukup terkenal. Hotel Pasar Baroe terletak di Jalan Klenteng No. 88 RT.02 RW.07 Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi bangunan hotel ini berada di sebelah selatan rumah luitenant Lie Beng Hok, atau tepat berada di sebelah timur tempat sampah Pasar Bogor.
Sekarang bangunan hotel ini kosong. Yang menempati hanyalah orang-orang yang mengais rezeki di pasar tersebut, seperti pedagang kecil di pasar maupun buruh. Melihat sepintas bangunan ini terlihat tidak terawat dan terkesan dibiarkan saja oleh pemiliknya. Bahkan, sekarang telah terpampang sebuah spanduk warna kuning dan merah yang bertuliskan “DIJUAL”. Spanduk tersebut berasal dari Top Agent Properti.


Siapa sangka bahwa bangunan yang mau dijual ini, dulunya adalah bangunan Hotel Pasar Baroe yang lumayan terkenal di Kota Bogor pada waktu itu. Hotel Pasar Baroe ini dibangun bersamaan dengan Hotel Belavue dan Hotel Salak pada tahun 1873 oleh seorang Tionghoa bernama Tan Kwan Hong.
Hotel Pasar Baroe memiliki arsitektur perpaduan antara gaya Eropa dan Tiongkok yang bercorak arsitektur Indis, berdiri di atas lahan seluas 1,2 hektar serta berlantai dua. Dulu, hotel ini menjadi primadona bagi para pelancong yang mayoritas terdiri dari warga Tionghoa, Arab dan bumiputera, karena Hotel Salak dan Hotel Belavue ketika itu tergolong sangat mewah sehingga hanya dapat dinikmati oleh warga Belanda dan Eropa lainnya.
Hotel Pasar Baroe pada waktu itu terletak di kawasan pertemuan antara Klentengweg (Jl. Klenteng) dan Pasarweg (Jl. Pasar). Sesudah masa kemerdekaan, hotel ini kemudian dihuni oleh sejumlah keluarga dari Angkatan Udara RI (AURI) hingga berakhirnya peristiwa pemberontakan PKI pada tahun 1966.


Konon, Hotel Pasar Baroe ini sudah dua kali berpindah tangan dari pemilik pertamanya. Awalnya hotel ini milik Tan Kwan Hong. Kemudian berpindah tangan dari keluarga Tan Kwan Hong yang sekarang tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan (Jl. Merdeka), hotel ini dijual kepada keluarga Lim dan Lie. Mereka adalah Lim Siang Yang, Lim Siang Yin, Lie Bun Kian dan Lie Bun Kwat. Ketiga orang yang disebut terakhir sudah meninggal dunia sehingga saat ini, Hotel Pasar Baroe diurus oleh Lim Siang Yang dan anaknya.
Letak hotel ini memang tersembunyi di belakang Plaza Bogor, namun keberadaannya tidak bisa diabaikan begitu saja. Salah seorang pendiri Syarikat Islam (SI), Tirto Adhi Soerjo, pernah menjalani kegiatan politiknya di Bogor dan menginap di Hotel Pasar Baroe. Tidak hanya itu saja, ketika penulis berkunjung ke bekas Hotel Pasar Baroe ini, diberi tahu oleh salah seorang pedagang yang menitipkan barang-barangnya di bangunan hotel itu, bahwa di depan hotel ini terdapat sebuah prasasti. Lalu, penulis dibantu oleh orang tersebut membersihkan prasasti tersebut dengan disiram air lalu penulis gosok dengan sabut kelapa agar tulisan tersebut bisa dibaca:

Hier Rust
Jacoba Jonker
Innig Celiefde Echtgenoote
Van
G.G. Kolff. C.Lz
Geboren te Pondok Gedeh den 25 Mei 1841
Overleden te Buitenzorg den 2 Mei 1888
Rust in Vreden Mijn Schat
En
Antje Kolff
Geboren Jon Jonker
Geboren 24 Juli 1843
Overleden 25 Juni 1911

Prasasti ini sepertinya mirip batu nisan pada umumnya yang ditemui di kerkhof (pemakaman orang Belanda) tapi kenapa bisa berada di depan Hotel Pasar Baroe. Kata orang yang menemani membersihkan nisan tersebut, dulunya nisan ini berada di belakang hotel terus dipindahkan di depan sini.
Pertanyaan kemudian menggelayuti penulis, apa hubungan batu bertuliskan bahasa Belanda tersebut berada di lahan hotel ini? Dan siapakah G.G. Kolff itu?
Seandainya bangunan bekas hotel ini jadi terbeli, dikhawatirkan informasi keterkaitan prasasti nisan dengan keberadaan hotel ini akan menguap begitu saja. Tidak hanya itu saja, Bogor akan merasa kehilangan salah satu sumber sejarahnya yang pernah berdiri megah. *** [240514]
Share:

Pasar Bogor

Semasa Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra berkuasa di Hindia Belanda dari 15 Mei 1761 hingga 28 Desember 1775, ia membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin menyewa tanah milk VOC untuk urusan ekonomi. Pada saat itu, sebenarnya Bogor dirancang sebagai tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan para pegawai tinggi kolonial, sehingga masyarakat selain Eropa tidak diizinkan untuk tinggal maupun melakukan kegiatan di kawasan elit Eropa. Akan tetapi, melihat bisnis sewa tanah yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal sebelumnya laku keras dan mendatangkan pemasukan yang lumayan besar, Van der Parra kian bersemangat dan mengabulkan pendirian sebuah pasar di Buitenzorg (nama lawas Bogor).
Pasar Bogor tersebut terletak di Jalan Surya Kencana No. 3 Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi pasar ini berada di seberang Kebun Raya Bogor, atau tepatnya berada di sebelah selatan Vihara Dhanagun (Klenteng Hok Tek Bio) atau di sebelah barat rumah luitenant Lie Beng Hok maupun Hotel Pasar Baroe.


Diperkirakan Pasar Bogor sudah mulai beroperasi sekitar tahun 1770. Pada waktu itu lokasi pasar tersebut berdekatan dengan Kampung Bogor yang sudah membentuk sebuah pemukiman, dan tidak jauh dengan Kantor Kabupaten Kampung Baru. Sehingga, pasar tersebut dinamakan Pasar Bogor karena selain pemukiman Kampung Bogor dan Istana Buitenzorg, di daerah sekitarnya masih berupa hutan.
Awalnya, pasar ini merupakan pasar pekan yang hanya dibuka seminggu sekali. Namun, seiring menggeliatnya perekonomian kala itu, waktu operasi pasar ini pun mulai ditambah menjadi dua kali seminggu, yaitu setiap hari Senin dan Jumat. Dari hasil bisnis sewa tanah ini, Gubernur Jenderal Van der Parra meraup keuntungan yang lumayan besar. Pada waktu itu, walaupun hanya dibuka dua kali seminggu, Gubernur Jenderal berhasil mendapatkan keuntungan sebesar 8.000 ringgit dari hasil sewa pasar ini. Karena semakin ramai, Pasar Bogor ini menarik banyak orang untuk berdagang, termasuk dari orang-orang Tionghoa.
Kemudian sejak rampungnya jalur kereta api yang menghubungkan Batavia-Buitenzorg sepanjang 60 kilometer pada tahun 1873, menjadikan status pasar ini meningkat dari pasar pekan menjadi pasar lokal dan kemudian menjadi pasar regional. Waktu operasi pasar pun sudah berubah menjadi setiap hari. Hal ini menyebabkan semakin tingginya kegiatan perekonomian yang ada di Pasar Bogor. Komoditas yang ada di Pasar Bogor yang diangkut ke Batavia adalah hasil bumi, seperti kopi, gula, kentang, kacang, beras, tepung, minyak sayur, minyak, dan kina. Sayur-sayuran segar yang berasal dari perkebunan di Puncak merupakan komoditi yang terkenal juga di pasar ini.


Magnet dari pasar ini yang kemudian membuat para pedagang untuk memutuskan menetap di daerah sekitar Pasar Bogor. Awalnya, masyarakat dari berbagai daerah tinggal di daerah sekitar pasar, akan tetapi karena keuletan pedagang dari kalangan orang Tionghoa semakin mendominasi maka daerah sekitar Pasar Bogor ini lambat laun membentuk sebuah perkampungan Tionghoa, atau yang dikenal sebagai Pecinan. Ciri khas kawasan Pecinan ini adalah bangunan rukonya yang berdempet rapat dengan chimcay di dalamnya dan tidak adanya halaman pada bangunan. Menurut Setiadi Sopandi (2008), Chimcay sendiri pada awalnya merupakan area umum yang berfungsi sebagai pusat dari berbagai aktivitas sehari-hari seperti memasak, mandi, mencuci, bersosialisasi, maupun praktek ritual dan tradisi (dengan keberadaan altar leluhur). Karena berubahnya pandangan mengenai kebersihan dan kesehatan maka fungsi-fungsi yang ‘kotor’ dan ‘basah’ (seperti dapur, jamban, dan kamar mandi) akhirnya dipindahkan ke bagian belakang. Selain sebagai pusat kegiatan, chimcay merupakan elemen yang esensial karena berfungsi sebagai tempat pertukaran udara dan masuknya sinar matahari ke bangunan ruko yang gelap. Chimcay juga kadang berfungsi sebagai tempat sumur dan penampungan air hujan. Fisik ruko pun bervariasi seiring dengan perkembangan waktu dan letak geografis. Karena tingginya curah hujan di Bogor, misalnya, mengakibatkan chimcay yang sering dijumpai di ruko-ruko di kota lain jarang ditemukan. Sebagai gantinya, ‘ruang tengah’ ditutupi oleh atap yang diangkat untuk tetap membiarkan aliran udara dan sinar matahari tetap masuk.
Bila dilihat dari kaca mata tempo doeloe, bangunan pasar ini sudah tidak ada lagi. Karena, telah didirikan Plaza Bogor yang telah berlantai lima yang menggantikan Pasar Bogor lama sebagai pusat aneka perniagaan. Akan tetapi, bila kita menyusuri keberadaan Plaza Bogor ke arah belakang, kita masih menemukan suasana tempo doeloe. Suasana ini bisa dirasakan ketika kita menyaksikan deretan ruko-ruko yang dulunya merupakan kios-kios milik orang Tionghoa yang melingkungi pasar tersebut, dan tentunya bau busuk yang menyengat manakala menyusuri kawasan pasar tersebut. *** [240514]
Share:

Gedung Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Bogor

Ketika membangun het gebouw van Planologie van het Ministerie van Bousbouw in Butenzorg atau yang sekarang menjadi Gedung Badan Planologi Kehutanan Bogor, bersamaan dengan itu Pemerintah Kolonial Belanda juga membangun Hoofdkantoor van Het Boswezen te Buitenzorg.
Gedung Hoofdkantoor van Het Boswezen te Buitenzorg (kini bernama Gedung Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam/PHKA) terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 15 Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi bangunan gedung ini tepat berada di samping Pintu 1 Kebun Raya Bogor, atau berseberangan dengan Gedung Badan Planologi Kehutanan Bogor.
Gedung PHKA ini didirikan pada tahun 1912 oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan tujuan untuk menangani permasalahan kehutanan yang ada di Kota Bogor dan sekitarnya. Sewaktu didirikan, gedung ini bernama Hoofdkantoor van Het Boswezen te Buitenzorg. Tulisan nama gedung ini pun menempel di atas lengkungan pintu masuk utama ke bangunan gedung tersebut beserta tahun pendiriannya. Kemudian gedung ini sempat berganti-ganti nama ke dalam bahasa Indonesia, hingga pada akhirnya menjadi Gedung PHKA seperti sekarang ini berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.40/Menhut-II/2010 tanggal 25 Agustus 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan.


Gedung yang berada di bawah wewenang Direktorat Jenderal (Ditjen) Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan ini, mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perlindungan hutan dan konservasi alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan konservasi alam, dengan fungsi perumusan kebijakan di bidang perlindungan hutan dan konservasi alam sesuai peraturan perundang-undangan; pelaksanaan kebijakan di bidang perlindungan hutan dan konservasi alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan; penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang perlindungan hutan dan konservasi alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan; pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perlindungan hutan dan konservasi alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan pelaksanaan administrasi Dirjen PHKA.
Struktur bangunan gedung ini mirip dengan Gedung Badan Planologi Kehutan Bogor, berdenah persegi panjang di tengah-tengahnya terdapat areal kosong yang digunakan untuk taman maupun parkir kendaraan bermotor. Sedangkan di belakang bangunan gedung ini sudah menyatu dengan areal Kebun Raya Bogor.
Berdasarkan riwayat historis yang dimiliki, gedung PHKA ini tergolong sebagai bangunan cagar budaya (BCB) yang harus dijaga, dirawat serta dilindungi. Sejak didirikan hingga sekarang ini, fungsi gedung ini masih tetap sama, yaitu menangani dan mengelola masalah kehutanan yang ada di Kota Bogor dan sekitarnya. *** [120514]
Share:

Gedung Badan Planologi Kehutanan

Setelah membangun S’Land Plantentuin atau yang kini dikenal dengan nama Kebun Raya Bogor, Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu mendirikan sejumlah lembaga riset atau kantor yang berkenaan dengan kelangsungan akan bintang, tanaman maupun hutan yang ada di S’Land Plantentuin tersebut. Awalnya seperti itu, namun lambat laun, lembaga-lembaga tersebut tidak hanya fokus pada plantentuin saja melainkan melebar ke semua hutan yang ada di Bogor dan sekitarnya.
Salah satu lembaga yang didirikan berkenaan dengan masalah tersebut adalah mengenai planologi kehutanan yang gedungnya terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 100 Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi gedung ini berada di depan Hoofdkantoorvan het Boswesen te Buitenzorg.


Gedung ini bernama Gedung Direktorat Jenderal (Dirjen) Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan, atau yang biasa dikenal sebagai Gedung Badan Planologi Kehutanan. Gedung ini didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1912. Awalnya, gedung ini bernama het gebouw van Planologie van het Ministerie van Bousbouw in Butenzorg. Akan tetapi setelah Indonesia merdeka, gedung ini dinasionalisasi dengan fungsi dan peruntukkan yang sama semenjak dibangunnya gedung ini, yaitu planologi kehutanan. Dalam lingkup Departemen Kehutanan, penanggungjawab terwujudnya kemantapan prakondisi pengelolaan hutan adalah Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan, atau bisa dikatakan bahwa Dirjen tersebut merupakan executing agency bagi pelaksanaan kegiatan pembangunan kehutanan yang akan dilakukan oleh instansi-instansi di bawah Departemen Kehutanan lainnya.
Bangunan gedung ini berdenah persegi panjang dengan areal kosong di tengahnya. Areal kosong ini menjadi plaza bagi bangunan ini yang dimanfaatkan sebagai ruang terbuka di tengah bangunan gedung ini, seperti taman maupun areal perpakiran. Selain itu, pada sejumlah dinding dari gedung ini terdapat sejumlah relief yang menggambarkan aktivitas berkenaan dengan hutan, seperti tanaman maupun binatang yang ada di hutan maupun kegiatan pengolahan hasil hutan.
Dilihat dari sisi historisnya, bangunan gedung bergaya kolonial ini tergolong bangunan cagar budaya (BCB) yang tetap harus dijaga, dirawat dan dilindungi. *** [120514]
Share:

Gedung Pulasara

Melintas Jalan Roda di Bogor, memberikan nuansa tersendiri. Bangunan-bangunan yang ada di Jalan Roda memiliki arsitektur bangunan bergaya Tiongkok. Keberadaannya mengukuhkan akan adanya pemukiman yang khusus dibuat untuk masyarakat Tionghoa di zaman itu. Dulu Jalan Roda ini merupakan jalan sekunder dari Handelstraat (kini menjadi Jalan Surya Kencana). Salah satu bangunan khas yang masih ada di Jalan Roda adalah gedung milik Yayasan Kematian Pulasara.
Gedung ini terletak di Jalan Roda No. 65 dan No. 84 RT.05 RW. 02 Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Yayasan kematian ini memiliki dua bangunan yang letaknya saling berseberangan.
Gedung Pulasara ini, awalnya bernama gedung Fond Miskin yaitu gedung yang dipergunakan untuk mengurus dan merawat serta melayani orang yang meninggal. Bangunan ini didirikan pada tahun 1930, dan merupakan peninggalan perkumpulan orang-orang Tionghoa pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda.


Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), bangunan gedung ini dijadikan sebagai poliklinik. Namun, akhirnya poliklinik tersebut dipindahkan ke tempat lain sesuai dengan keinginan Pemerintah Daerah Bogor pada waktu itu.
Pada tahun 1968, Fond Miskin berubah nama menjadi Pulasara hingga saat ini. Sehingga, nama gedung ini pun dikenal sebagai Gedung Pulasara.
Bentuk bangunan ini tidak mengalami banyak perubahan, baik penataan ruangnya maupun fisik bangunan lainnya. Hanya saja, pada tahun 1970 dilakukan pembangunan tempat penitipan jenazah yang berada tepat di depan bangunan Pulasara sehingga bangunan tersebut sedikit mengalami renovasi.
Dari sejak dibangun hingga sekarang, bangunan ini masih digunakan sebagai tempat mengurus orang yang meninggal. Kondisi gedung Pulasara masih terjaga dan terawatt dengan baik oleh Yayasan Kematian Pulasara.
Ditinjau dari aspek historis yang dimiliki, gedung Pulasara ini tergolong sebagai bangunan cagar budaya (BCB) di mana bentuk bangunan dan keaslian bangunan ini harus tetap dipertahankan, dijaga dan dilestarikan. *** [240514]
Share:

Rumah Luitenant Lie Beng Hok

Banyak emigran Tionghoa dari Tiongkok yang berdatangan ke Bogor jauh sebelum orang Eropa menginjakkan kaki di Buitenzorg (kini menjadi Bogor). Biasanya mereka melakukannya dengan menyusuri sebuah sungai, dan akan menetap di situ di sebuah keramaian yang bernama pasar.
Daerah Pasar Bogor yang sudah ada semenjak Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Bogor sebagai kota untuk istirahat para pejabatnya, merupakan salah satu tujuan bagi pendatang Tionghoa yang rela meninggalkan kampung halamannya di Tiongkok guna untuk mencari penghidupan yang lebih baik di tanah baru tersebut. Kepiawaiannya dalam hal berdagang menyebabkan orang-orang Tionghoa berhasil membentuk sebuah komunitas di daerah perdagangan tersebut. Sehingga, kawasan Pasar Bogor pada akhirnya banyak bermunculan bangunan milik pendatang yang menjadi pedagang dari Tiongkok tersebut.


Bangunan-bangunan milik orang Tionghoa tersebut akhirnya memberikan nuansa kuat sebagai kawasan Pecinan (Chineseche Kamp). Bangunan ala Tiongkok maupun yang sudah dipadukan dengan gaya arsitektur Eropa maupun lokal Sunda, banyak menghiasi di seputaran pasar tersebut. Salah satunya adalah Rumah Luitenant China.
Rumah ini terletak di ujung Jalan Klenteng (Klentengweg) Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi rumah berada di sebelah timur Plaza Bogor, yang dulunya merupakan Pasar Bogor.
Menurut sejarahnya, rumah Luitenant China ini adalah milik Luitenant (Letnan) Lie Beng Hok yang menjabat dari tahun 1912-1913 semasa Kapiten Tan Tjoen Tjiang. Letnan yang dimaksud di sini bukan menunjuk jabatan letnan dalam kepangkatan militer atau kepolisian meski memang menjiplaknya dari situ, akan tetapi menunjuk kepada jabatan yang diberikan kepada orang Tionghoa yang memiliki kedudukan di tengah etnis Tionghoa untuk memimpin sekumpulan etnis tersebut. Jabatan ini yang memberikan adalah Pemerintah Hindia Belanda. Karena pada zaman itu, semua etnis yang tinggal di Hindia Belanda dilakukan cluster agar supaya Pemerintah Hindia Belanda mudah mengontrolnya.
Rumah besar warna putih itu masih berdiri sesuai dengan bentuk aslinya, megah dan kokoh. Namun, tampaknya rumah itu tidak dihuni oleh keturunan keluarga Lie lagi. Sebagai rumah kuno yang memiliki memori historis, bangunan ini hendaknya dirawat dan dilindungi sehingga kelestarian dari bangunan ini akan bisa disaksikan oleh generasi berikutnya sepanjang masa. *** [240514]
Share:

Rumah Abu Keluarga Thung

Kawasan Pecinan (Chineseche Kamp) di sepanjang Jalan Surya Kencana memang menyimpang memori bagi representasi keberadaan orang Tionghoa di Bogor. Beberapa bangunan ala Tiongkok menghiasi Jalan Surya Kencana, yang dulu dikenal dengan Handelstraat atau Jalan Perniagaan. Salah satunya yang masih bisa disaksikan hingga sekarang adalah Rumah Abu Keluarga Thung.
Rumah Abu ini terletak di Jalan Surya Kencana No. 184 Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Rumah Abu ini berada sebelah utara Klinik dan Apotik Rosalina, dan tidak begitu jauh dengan Rumah Keluarga Thung.


Rumah Abu yang dimiliki oleh Keluarga Thung ini didirikan oleh Kapiten Thung Tjoeng Ho (1869-1922). Sebelum menjadi Rumah Abu, tempat ini dikenal sebagai Kioe Seng Tong dan digunakan sebagai kantor oleh Kiong Seng Liong (9 Thung Bersaudara).
Setelah beberapa lama, beberapa tidak digunakan lagi sebagai kantor dan dibiarkan kosong atau mangkrak, akhirnya atas inisiatif keluarga Thung, rumah tersebut dipakai untuk menyimpan abu jenazah leluhur. Hal inilah akhirnya menyebabkan rumah ini dikenal sebagai Rumah Abu Keluarga Thung.
Setiap hari, rumah ini akan tampak sepi dan seolah-olah senantiasa terkunci sehingga tidak setiap orang bisa menyaksikan interior dari rumah ini. Rumah ini akan terbuka manakala keluarga besar Thung melakukan pertemuan keluarga besarnya pada bulan-bulan tertentu.
Sebagai tempat perkumpulan keluarga besar Thung, bangunan ini masih terawat dengan baik dan arsitektur asli bangunan ini masih dipertahankan. Rumah ini tetap memiliki pintu sebanyak tiga buah dan tinggi, di mana pintu utamanya yang berada di tengah. Tidak ada jendela sama sekali di bagian depan rumah, hanya ada kaca kecil di atas pintu samping. *** [240514]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami