Jumat, 27 Juni 2014

Istana Bogor

Berkunjung ke Kota Bogor terasa belum lengkap tanpa menyaksikan Istana Bogor. Istana Bogor adalah bangunan bersejarah nan megah. Kegiatan dan peristiwa bersejarah yang berlangsung di Istana Bogor telah meninggalkan berbagai bentuk benda bersejarah seperti halnya lukisan, patung, foto, literatur, buku dan hadiah kenegaraan. Pada masa pemerintahan Presiden ke-2, Soeharto, di tahun 1968, Istana Bogor dibuka untuk kunjungan masyarakat umum. Sehingga status steril dari sembarangan orang pada Istana Bogor atau The Palais Buitenzorg menjadi pudar dengan sendirinya.
Istana Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 1 Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi istana ini menyatu dengan Kebun Raya Bogor.
Istana Bogor merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan ini timbul dikarenakan aspek historis, kultur dan fauna yang ada serta lebatnya pepohonan yang terdiri atas 346 jenis pohon.
Berawal dari keinginan orang-orang Belanda yang bekerja di Batavia (kini Jakarta) untuk mencari tempat peristirahatan. Karena mereka beranggapan bahwa kota Batavia terlalu panas dan ramai, sehingga mereka perlu mencari tempat yang berhawa sejuk di luar Kota Batavia.
Gubernur Jenderal Belanda Gustaaf Willem Baron van Imhoff melakukan pencarian dan menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah kampung, yang bernama Kampung Baroe, pada tanggal 10 Agustus 1744.


Setahun kemudian, pada tahun 1745, Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff (1745-1750) memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebuah pesanggrahan yang diberi nama Butenzorg atau Sans Souci yang berarti “tanpa kekhawatiran.” Dia sendiri yang membuat sketsa bangunannya dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat Kota Oxford di Inggris.
Proses pembangunan graha pesanggrahan Gubernur Jenderal di Buitenzorg tersebut akhirnya dilanjutkan oleh Gubernur Jenderal yang memerintah selanjutnya, yaitu Gubernur Jenderal Jacob Mossel yang masa dinasnya dari tahun 1750 hingga tahun 1761.
Pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), pesanggrahan tersebut diperluas dengan memberikan penambahan, baik ke sebelah kiri gedung maupun sebelah kanannya. Gedung induknya dijadikan dua tingkat. Halamannya yang luas juga dipercantik dengan mendatangkan tiga pasang (6 ekor) rusa tutul dari perbatasan Nepal-India. Dari tiga pasang rusa tutul tersebut, kini sudah berkembang biak menjadi 800 ekor.
Kemudian pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826), dilakukan perubahan besar-besaran. Sebuah menara di tengah-tengah bangunan induk didirikan sehingga istana semakin megah. Sedangkan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya (S’Lands Plantentuin) yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 18 Mei 1817.


Gedung ini kembali mengalami kerusakan berat, ketika terjadi gempa bumi yang hebat pada tanggal 10 Oktober 1834. Akibat kerusakan ini, baru pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Jenderal Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856), bangunan lama sisa gempa dirobohkan sama sekali. Kemudian dengan mengambil arsitektur gaya Palladio yang populer di Eropa pada masanya, bangunan baru satu tingkat didirikan. Hanya denah puri saja yang masih dipertahankan, yaitu konsep bangunan induk di tengah, dan masing-masing sebuah bangunan di sayap kiri dan kanan. Untuk menghubungkan gedung induk dengan gedung sayap, dibangunlah jembatan lengkung dari kayu.
Bangunan istana baru terwujud secara utuh pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861). Dan pada pemerintahan selanjutnya, tepatnya tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), gedung istana ini juga sempat dikuasi oleh tentara Jepang. Usai Jepang menyerah kepada tentara Sekutu, Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Namun baru pada tahun 1949, ketika Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia (RI), Istana Buitenzorg (nama lawas dari Istana Bogor) diserahkan secara resmi oleh Kerajaan Belanda kepada RI, dan pada tahu 1952 Presiden Soekarno baru mulai melakukan pemugaran secara bertahap. Yang pertama dipugar adalah bagian depan bangunan induk. Ditambahkan sebuah beranda (portico) yang ditopang oleh enam tiang berlaras ionia. Dalam memugar Istana Bogor, Presiden Soekarno tetap mempertahankan gaya arsitektur Palladian.
Jadi, sejak tahun 1870 hingga 1942, Istana Bogor merupakan kediaman resmi dari 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu orang Gubernur Jenderal Inggris, dan sejak diserahkan ke Indonesia,  istana ini secara resmi menjadi salah satu Istana Presiden Republik Indonesia yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia dalam acara resmi kepresidenan.
Istana Bogor yang memiliki luas bangunan sekitar 1,5 hektar ini, di jalan menuju istana terdapat beberapa patung (mayoritas perempuan) tanpa busana. Lalu, pada gedung di sisi kiri tepatnya di teras gedung, terdapat patung perunggu Ritual Meminta Hujan. Patung itu karya Marta Jiraskova (seniman Ceko), dibuat pada 1938, dan diberikan kepada Presiden Soekarno oleh Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Sedangkan, di gedung sisi kanan, terdapat patung dari bahan serupa dan karya seniman yang sama dinamai Ritual Terima Kasih.
Lampu gantung yang menghiasi Istana Bogor berasal dari Austria. Lantai dari Italia. Banyak karya seni sumbangan pemimpin negara sahabat semasa  Soekarno atau Soeharto berkuasa dan masih terawat.
Kalau gedung sisi kiri merupakan gedung untuk tamu negara setingkat menteri, maka ruang garuda diperuntukkan untuk tempat pertemuan tamu negara. Dulu, ruang ini tempat berdansa pejabat Hindia Belanda. Lantai dua yang tertutup tempat musisi mengiringi mereka berdansa. Sedangkan, gedung sisi kanan merupakan tempat tamu setingkat presiden menginap. *** [260514]

Kepustakaan:
Yuni Dizi Nurhayati, 2013, Tatanan Elemen Visual Gedung Balai Kirti Yang Kontekstual Di Kompleks Cagar Budaya Istana Bogor, dalam Jurnal Ilmiah yang diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik di Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
http://s3images.coroflot.com/user_files/individual_files/
Kompas Edisi Selasa, 10 Juni 2014

0 komentar:

Posting Komentar