The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Klenteng di Surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klenteng di Surabaya. Tampilkan semua postingan

Klenteng Hok An Kiong

Di tengah kepungan bangunan komersial di kawasan perdagangan yang cukup ramai di kala siang hari ini, di pojok atau sudut jalan yang merupakan pertemuan antara Jalan Slompretan dan Jalan Coklat terdapat bangunan tempat ibadah bagi pemeluk Tri Dharma yang bernama Klenteng Hok An Kiong.
Klenteng ini terletak di Jalan Coklat No. 2 RT.03 RW.02 Kelurahan Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
Dulu, jauh sebelum klenteng ini ada, lahan di daerah tersebut merupakan tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan. Tanah lapang tersebut kerap digunakan sebagai tempat menetap sementara atau persinggahan anak buah dari perahu-perahu tongkang yang datang dari Tiongkok. Waktu itu memang banyak saudagar Tionghoa yang datang ke Kadipaten Soerabaia.



Umumnya, mereka datang dengan membawa serta patung Makco atau Ma Co Po, dewi pelindung para pelaut dan nelayan, untuk disembahyangi di lokasi persinggahan yang seadanya. Kemudian sebuah perkumpulan Hok Kiau, yaitu Hok Kian Kiong Tik Soe merasa iba dengan para awak kapal tongkang atau jung yang sedang berisitirah di bedeng yang seadanya. Lalu, perkumpulan ini berinisiatif membangun sebuah tempat yang layak bagi awak kapal itu.
Pada tahun 1830 mulai dibangun klenteng serta ruangan yang luas agar mereka bisa beristirahat atau menginap dengan baik.


Pembangunan klenteng ini didanai oleh Ong Pan Liong, Mayor The Boen Hie, Mayor The Thwan Ing, Tjhoa Sin Hie, Letnan Tan Tjien Oen, Tjia Tjian Tiong, dan masih banyak lagi.
Dalam pembangunan klenteng ini, para juragan tadi mendatangkan langsung tukang insinyur dari Tiongkok, termasuk juga bahan-bahan bangunan. Bangunan klenteng itu sama sekali tidak menggunakan paku dari logam, tapi memakai potongan bambu yang diruncingkan.
Dalam ruangan tengah klenteng terdapat altar Dewi Thiang Siang Sing Boo atau Ma Co. Konon, menutu sejarahnya ia seorang putri yang tulus ikhlas menempuh jalan suci sehingga ia berhasil dinobatkan hingga ke tingkat Arahat.
Altar-altar lain yang ada di klenteng ini adalah altar seorang jenderal. Jenderal tersebut yang karena kesetiaan dan kejujurannya disucikan dan dinobatkan menjadi Dewa. Di Klenteng Hok An Kiong ini, ia disebut Kwan In Tiang atau gelarnya Kwan Kong atau Kwan Tee Ya.
Klenteng Hok An Kiong ini merupakan salah satu klenteng tertua yang berada di Kota Surabaya, yang masih terawatt cukup baik. Hiruk pikuk pedagangan di siang hari , tak menyurutkan bagi pemeluknya yang ingin melakukan ritual sembahyang di klenteng yang berada di Jalan Coklat itu. Karena letaknya yang berada di Jalan Coklat, klenteng ini juga dikenal dengan nama Klenteng Jalan Coklat atau Jalan Slompretan. Kawasan ini dulu bernama Tepekong Straat. ***

Kepustakaan:
Moertiko, 1980, Riwayat Klenteng, Vihara, Lithong Tempat Ibadat Tridharma, Semarang: Sekretariat Empeh Wong Kan Fu
Share:

Klenteng Hong Tek Hian

Jika sedang melintas Jalan Dukuh Surabaya, telinga kita akan disapa oleh alunan musik yang mendanyu-dayu yang terkadang diselingi oleh seruak tambur dan kecer. Sabtu pagi (18/01), suara alunan musik tersebut menghantarkan saya untuk mampir di klenteng itu. Ternyata suara musik tersebut adalah suara musik pengiring bagi pertunjukkan wayang potehi. Beberapa menit saya sempat menikmati wayang potehi dari kursi yang berada di gang sambil melihat orang-orang yang mengerjakan Kim Chu atau tempat bakar kertas sembahyang bagi warga Tionghoa. Lalu, keinginan tahu, mengantarkan saya meninggalkan kursi untuk berkeliling klenteng yang diberi nama Hong Tek Hian atau dikenal juga dengan Klenteng Dukuh, sambil bertanya-tanya bila tidak mengerti maknanya.
Wayang Potehi merupakan salah satu sarana dalam ritual keagamaan umat Tridharma (Khong Hu Cu, Tao dan Buddha). Dalam bahasa Hokkian, potehi berasal dari kata poo yang berarti kain, tay yang bermakna kantung, dan hie yang berarti pertunjukkan. Selain itu, wayang potehi juga memiliki beberapa fungsi, yaitu berfungsi rekreatif, edukatif, ekonomi, dan berfungsi sosial keagamaan, di mana fungsi sosial keagamaan ini merupakan fungsi yang paling penting dalam wayang potehi.
Kisah dalam wayang potehi biasanya disajikan berdasar ajaran Khong Hu Cu maupun repertoar klasik China, seperti Sin Ji Kwi, suatu riwayat penaklukan Kerajaan See Liang Kok. Ada lakon Poei Sie Giok, yang berkisah tentang pembelaan suku lewat adu kemampuan di atas panggung. Jhi Gu Nau Tong Tiauw tentang dua siluman kerbau yang membuat gaduh Kerajaan Tay Tong Tiauw. Dan ada pula lakon Khong Han Bun yang mengulas percintaan siluman ular putih di danau Si Hu.


Klenteng Hong Tek Hian ini terletak di Jalan Dukuh No. 23 RT.01 RW.V Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Klenteng ini dibelah oleh Gang II yang tergolong sempit. Di sebelah utara gang, klenteng yang paling awal dibangun menghadap langsung ke Jalan Dukuh, sedangkan bagian klenteng yang lainnya menghadap ke utara atau ke klenteng yang pertama kali didirikian.
Menurut cerita yang beredar saat ini, mengatakan bahwa klenteng ini dibangun oleh tentara Mongol pada zaman Khu Bilai Khan ketika akan melakukan penyerangan ke Kediri sekitar tahun 1293. Namun, dari sejumlah literatur yang ada, tidak diketemukan keterkaitan dengan kedatangan tentara Mongol atau dikenal juga dengan pasukan Tar-Tar, karena kala itu situasinya dalam fokus melancarkan serangan ke Kerajaan Kediri (sebenarnya Singasari, akan tetapi Kertanegara sudah dibunuh oleh Jayakatwang), dan diyakini tempat merapat kapal-kapalnya berada di tepi Kalimas di kawasan Jagir. Sehingga, diperkirakan keberadaan Klenteng Hong Tek Hian ini lebih mendekati tatkala orang-orang Tionghoa mulai mendarat di Surabaya pada akhir abad 17. Ketika itu, orang-orang Tionghoa meninggalkan daratan Tiongkok dengan perahu-perahu jung untuk mencari masa depan yang lebih baik di Chura Bhaya (nama lawas dari Surabaya).


Klenteng ini praksis tidak memiliki halaman yang cukup bagi jemaat yang menggunakan mobil karena Jalan Dukuh tergolong sempit dan padat lalu lintasnya mengingat daerah ini masuk kawasan China Town Kembang Jepun. Sepintas memang bangunan klenteng ini tidak terlihat dengan jelas seperti bangunan klenteng pada umumnya, namun masih beruntung karena di depan klenteng yang sudah mepet dengan jalan, terdapat penanda berupa Kim Lo atau menara berwarna merah sebagai tempat pembakaran kerta di sebelah kiri yang berlantai tujuh, dan sebuah gapura kecil bertuliskan huruf China di bagian depan.  
Yang mengelola tempat ibadah ini adalah Yayasan Sembahyang Hok Tik Hian yang berinduk pada Himpunan Tempat Ibadah Tridharma Se-Indonesia. Bangunan klenteng ini terdiri dari dua bangunan berbeda yang dijembatani oleh jembatan yang dijaga 2 ekor naga.. Di dalam klenteng yang lama terdapat altar sembahyang Sien Beng dan Kong Co yang dipujanya terdiri dari: Kong Tek Tjun Ong, Boen Tjiang Tee Koen, dan Hok Tik Tjing Sien.
Sedangkan di ruang altar sembahyangan bangunan baru terdapat pujaan dari Mak Co Thian Siang Sien Boo, Oen Wan Sue dan Ma Wang Sue, Thio Wan Sue dan Khong Wan Sue. Sementara itu, di lantai dua terdapat altarnya dari Hiap Thian Siang Tee, Buddha Avalokitesvara didampingi oleh Buddha Gautama, Namo K. Bodhisatva, O Mi To Hoed, Namo Aryayi Bodhisatvaya dan Buddha Maitreya.  *** [180114]
Share:

Klenteng Boen Bio Surabaya

Klenteng Boen Bio merupakan salah klenteng tua yang berada di Kota Surabaya. Klenteng ini terletak di Jalan Kapasan 131 Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasinya tidak begitu jauh dengan Pasar Kapas Krampung.
Klenteng yang awalnya bernama Klenteng Boen Thjian Soe ini didirikan pada tahun 1883 oleh dua orang Tionghoa, yaitu Go Tik Lie dan Lo Toen Siong, di areal lahan seluas 500 m² atas pemberian Mayor The Toan Ing di daerah Kapasan Dalam, daerah Kapasan yang berada di tengah perkampungan. Pembangunannya dikerjakan oleh insinyur dari Tiongkok.
Karena lokasi semula berada di dalam kampung, kemudian pada 1903 ketika Kang Yu Wei, seorang reformis Tiongkok, berkunjung ke klenteng ini dan mengusulkan agar klenteng tersebut dipindah ke pinggir jalan besar. Hal ini dimaksudkan agar supaya klenteng ini mudah dijangkau umatnya.
Pada 1906 dilakukan pemugaran, dan segera dibangun klenteng yang lebih representatif. Pembangunan klenteng tersebut bisa berjalan dengan baik karena adanya bantuan para donator yang kini namanya diabadikan di prasasti yang menempel di bangunan tersebut. Pada 1907, klenteng tersebut mulai diresmikan, dan namanya menjadi Boe Bio. Boen dalam bahasa Fujian berarti sastra atau budaya,  Bio dalam bahasa Fujian berarti kuil. Jadi, Boen Bio berarti Kuil Kesusasteraan. Klenteng Boen Bio memang pada awalnya dibuat untuk memuja Boen Tjhiang, Dewa Kesusasteraan, dan Khonghucu. Namun, patung Boen Tjhiang telah dipindahkan ke Klenteng yang ada di Kampung Dukuh.


Klenteng Boen Bio konon kabarnya merupakan satu-satunya klenteng yang khusus diperuntukkan bagi agama Khonghucu di Asia Tenggara. Sebagai klenteng Konghucu, di sini tidak ada patung-patung dewa-dewa maupun Sang Buddha, yang ada justru patung Khonghucu atau lebih dikenal dengan sebutan Nabi Khong Co. Khonghucu adalah seorang pemikir dari China yang menekankan pentingnya kejujuran, keadilan, dan ketulusan. Namun, Khonghucu sendiri sebenarnya lebih merupakan suatu filsafat ketimbang agama.
Klenteng ini merupakan saksi bisu pertahanan terakhir dari kejayaan aliran Khonghucu di Surabaya di tengah perubahan zaman, budaya, dan politik di sebagian penganutnya yang lebih memilih beralih ke kepercayaan yang lainnya.
Seperti bangunan klenteng pada umumnya, klenteng Boen Bio juga menggunakan arsitektur khas China. Di bagian depannya terdapat empat pilar berukiran naga dengan detail ornamen dan warna kuning emas biru laut yang sangat indah, lima pintu, dan enam jendela pintu. Sementara itu, di bagian ruang utama terdapat dua pilar yang juga berhiaskan ukiran naga. Uniknya, di bagian tengah ruang utama terdapat sederetan bangku di kiri kanannya dengan fokus menghadap ke altar untuk memuja Khonghucu.
Klenteng Boen Bio ini sebenarnya tergolong bangunan klenteng yang lumayan besar dengan luas bangunannya 629 m² yang berdiri di atas tanah seluas 1.173 m². Namun, sayangnya klenteng ini tidak memiliki cukup untuk areal parkir bahkan klenteng ini boleh dikata terlalu mepet dengan Jalan Kapasan. *** [021113]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami