The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Jakarta Old Town. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta Old Town. Tampilkan semua postingan

Gedung Bank Sinarmas Kali Besar

Setelah menyaksikan gedung Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Tambora, langkah pun dilanjutkan ke arah selatan menyusuri Kali Besar Barat. Berjumpalah dengan bangunan lawas yang sekarang digunakan sebagai Bank Sinarmas. Gedung bank ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 8 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung bank ini berada di selatan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Tambora, atau utara Toko Merah.
Tak banyak literatur yang mengidentifikasi bangunan lawas ini. Namun, dalam Daftar Bangunan dan Struktur Kolonial di Jakarta yang diunggah oleh Wikipedia, memperlihatkan sebuah foto lawas yang menerangkan akan keberadaan gedung lawas ini. Nama bangunan lawas ini bisa dilihat pada tulisan pada tembok bangunan yang berhimpitan dengan Toko Merah, yaitu NV Reiss & Co. (sekarang tulisan itu sudah tak ada lagi).
NV Reiss & Co., atau NV Handelsvereniging v/h Reiss & Co. merupakan perusahaan milik orang Belanda yang bergerak dalam bidang perdagangan maupun perbankan di Hindia Belanda. Kantor pusatnya berada di Amsterdam, Belanda.


NV Reiss & Co. membuka cabang di Batavia ini lantaran pada masa itu geliat aktivitas ekonomi Batavia sangatlah tinggi. Kanal Kali Besar atau de Groot Rivier merupakan tempat transaksi dan sekaligus bongkar muat barang komoditas, baik yang akan dibawa maupun yang didatangkan dari Eropa. Sehingga, banyak perusahaan-perusahaan milik orang Belanda yang berusaha mendirikan gedung di sekitar Kali Besar ini.
Windoro Adi dalam bukunya, Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010) menerangkan, bahwa pada tahun 1957 terjadi nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing yang pernah beroperasi di Indonesia (dulu masih bernama Hindia Belanda). NV Reiss & Co. juga termasuk dinasionalisasi, dan berganti nama menjadi PT Kartika Pantja. Lalu, pada tahun 1961 perusahaan ini bersama PT Yudha Bakti Corp. (dulu NV Jacobson van den Berg & Co.), Permata (dulu toko buku dan percetakan Van Dorp & Co.), Tantular (dulu toko buku dan percetakan Visser & Co.), dan NV Tsounas (dulu pabrik coklat Surabaya) dilebur menjadi Perusahaan Dagang Negara Fadjar Bhakti yang kemudian menjadi PN Satya Niaga lalu digabung dengan sejumlah perusahaan kecil Belanda lainnya dengan bendera baru PT Dharma Niaga.
Sekarang ini, gedung tua tersebut diambil alih oleh PT Bank Sinarmas Tbk, dan difungsikan untuk kantor Bank Sinarmas KCP Kali Besar. Pada tahun 2005 PT Sinarmas Multiartha Tbk yang merupakan Kelompok Usaha Sinarmas yang berada di bawah kelompok usaha Financial Services mengambil alih PT Bank Shinta Indonesia yang didirikan pada tahun 1989 yang memulai operasionalnya sejak Maret 1990. PT Bank Shinta Indonesia mengalami perubahan nama menjadi Bank Sinarmas pada Desember 2006. *** [250216]


Share:

Gedung Jasindo Taman Fatahillah

Jalan Taman Fatahillah, atau dulu dikenal dengan Stadhuisplein, merupakan bagian dari kawasan Kota Tua Jakarta (Oude Batavia atau Jakarta Old Town) yang masih menyisakan pesona keindahan masa lalunya. Salah satunya adalah Gedung Jasindo. Gedung ini terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Gedung ini berada di sebelah barat Kantor Pos Jakarta Kota, atau sebelah timur Cafe Batavia.
Gedung Jasindo adalah bangunan bekas gedung NV West-Java Handel-Maatschappij (WEVA) atau Kantoorgeouwen West-Java Handel-Maatschappij, yang dibangun pada tahun 1912. Desain bangunan ini dilakukan oleh NV Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cupers te Amsterdam.
Gedung tersebut sekarang dimiliki oleh PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), namun sudah tidak dipergunakan lagi lantaran kondisi gedung sudah mengkhawatirkan. Pada bagian atapnya mengalami pelapukan. Setelah gedung dikosongkan oleh PT Jasindo, gedung tersebut dimanfaatkan untuk hiburan biliar. Sebagian lagi digunakan untuk berjualan pakaian, rokok, dan minuman ringan. Kondisi ini menyebabkan bangunan tersebut semakin tidak terurus dan sangat memprihatinkan karena dibiarkan terbengkelai oleh PT Jasindo tanpa ada pemeliharaan dan perbaikan.


Atap di lantai 3 sisi selatan gedung Jasindo telah runtuh. Dinding sisi barat juga telah rubuh hingga separuh. Terdapat juga sedikit retak di kolom pada sisi barat dinding yang telah roboh. Pada dinding-dinding baik di sisi barat dan timur serta beberapa joint antara dinding dan tembok terlihat lapisan dinding (plaster) yang telah terkelupas. Kondisi jendela yang terdapat pada bangunan terlihat mulai lapuk pada kusen dengan beberapa kaca jendela telah lepas atau pecah. Di bawah jendela terdapat lubang angin dengan dua pola bentuk yaitu persegi dan bujur sangkar yang berornamen. Terdapat bangunan atap darurat di atas tangga. Terlihat pula vegetasi yang tumbuh di atap bangunan yang masih tertinggal.
Ruangan yang terdapat pada lantai 3 menggunakan ubin dengan paduan antara warna merah, oranye dan ubin polos. Pola yang digunakan dalam menyusun ubin berupa persegi panjang membentuk huruf L. Terdapat dua pintu besar pada area masuk bangunan. Pada sisi utara ruangan terdapat ruang yang merupakan bekas lift. Plat lantai dan balok bangunan terbuat dari beton dan pada kondisi terkini terlihat bahwa lapisan terluar beton telah terkelupas sehingga terlihat tulangan besi yang digunakan. Sedangkan kolom terbuat dari batu bata yang disusun dengan pola memanjang dan melintang dan bergantian pada tiap baris.
Kawasan Kota Tua saat ini sedang direvitalisasi agar dapat dikembangkan sebagai Zona Ekonomi Khusus oleh JOTRC (Jakarta Old Town Revitalization Corporation) dan juga sebagai destinasi wisata nasional oleh UPK (Unit Pengembangan Kawasan) Kota Tua. JOTRC merupakan konsorsium swasta yang didirikan sekitar tiga tahun lalu oleh beberapa orang yang merasa prihatin terhadap upaya pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta yang dikesankan berjalan di tempat.
Gedung bekas WEVA ini termasuk salah satu bangunan lawas yang mendapat prioritas rveitalisasi oleh JOTRC. Gedung ini sekarang kembali utuh dengan fasade yang dikembalikan seperti aslinya. Hanya saja tulisan WEVA yang dulu ada di dinding lantai tiga sekarang diganti tulisan Gedoeng Jasindo. Tulisan gedungnya menggunakan ejaan lama di mana huruf u ditulis dengan huruf oe. *** [250216]

Kepustakaan:
https://issuu.com/gierlangbhaktiputra0/docs/yang_dulu_yang_sekarang_resize_2
http://www.indischeliterairewandelingen.nl/index.php/wandelingen/158-jakarta-2-stadhuisplein-stationsplein
Share:

Stasiun Kereta Api Jakarta Kota

Stasiun Kereta Api Jakarta Kota (JAKK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Jakarta Kota, merupakan stasiun ujung (kop station) yang memiliki jumlah jalur terbanyak di Indonesia, yaitu sebanyak 12 jalur. Sehingga, Stasiun Jakarta Kota mempunyai tipe terminus. Artinya, stasiun ini menjadi tempat perjalanan awal maupun akhir dari perjalanan sebuah kereta api karena sudah tidak memiliki jalur lanjutan lagi.
Stasiun Jakarta Kota adalah stasiun kereta api terbesar di Indonesia, yang berada pada ketinggian ± 4 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Kota No. 1 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi stasiun ini berada di depan Museum Bank Mandiri, atau di sebelah selatan BNI Jakarta Kota.
Keberadaan stasiun ini tidak terlepas dari adanya pembangunan jalur kereta api dari Batavia (Jakarta) ke Buitenzorg (Bogor), tempat kedudukan Pemerintah Hindia Belanda dan daerah penghasil teh dan kopi. Jalur ini dikerjakan oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM), perusahaan kereta api swasta yang ada di Hindia Belanda, sepanjang 56 km. Pembangunan fisik jalur kereta api ini memakan waktu selama dua tahun, yaitu dimulai dari tahun 1871 dan selesai pada tahun 1873. Kemudian dibangunlah stasiun dengan bangunan yang  masih sederhana sebagai stasiun terminus, dan diberi nama Stasiun Batavia. Stasiun inilah yang kemudian dikenal sebagai Batavia Noord (Batavia Utara) dan letaknya dulu berada di sebelah timur Museum Seni dan Keramik.


Selain jalur Batavia-Buitenzorg, perusahaan Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOSM) juga membuka jalur baru yang mengantarkan penduduk dari Batavia ke Bekassie, Caravam (Karawang), bahkan hingga ke Bandung. Stasiun milik BOSM itu kemudian diperkirakan menjadi alasan mengapa nama Beos muncul. Meski ada alasan lain yang mungkin lebih tepat yaitu bahwa jalur ini disebut sebagai jalur yang melayani Batavia en Omstreken – Beos (Batavia dan sekitarnya). Stasiun ini dikenal juga dengan nama Batavia Zuid (Batavia Selatan).
Pada tahun 1898 jalur milik BOSM dijual kepada Pemerintah Hindia Belanda, dan kemudian pengelolaannya diserahkan kepada Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian disusul jalur Batavia-Buitenzorg juga dijual kepada perusahaan kereta api negara tersebut pada tahun 1913.
Setelah semuanya diambil alih Staatsspoorwegen, terbersit gagasan untuk mengganti Batavia Noord dan Batavia Zuid menjadi stasiun yang besar dan megah. Kemudian dilakukan persiapan untuk mematangkan proyek tersebut, dan dipilihlah Batavia Zuid untuk dilakukan perluasan stasiun menjadi stasiun baru yang lebih luas. Station Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian pada tahun 1923, aktivitas stasiun ini dihentikan operasinya untuk persiapan dilakukan pembangunannya.



Desain bangunan stasiun ditangani oleh Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, yang lahir pada tahun 1882 di Tulungagung. Bersama-sama dengan temannya, yaitu Ir. Hein von Essen dan Ir. F. Stolts, alumnus pendidikan arsitektur di Delft itu mendirikan biro arsitektur AIA (Algemeen Ingenieur en Architectenbureau).
Pada tahun 1926 dimulailah pembangunan stasiun tersebut, dan selesai pada 19 Agustus 1929. Kemudian stasiun ini diresmikan pada 8 Oktober 1929 sebagai stasiun utama dengan nama Stasiun Batavia Benedenstad. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jenderal Jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931. Seiring itu pula, Station Batavia Noord berhenti beroperasi dan kemudian bangunannya dibongkar. Setelah Indonesia merdeka, stasiun ini menjadi Stasiun Jakarta Kota.
Stasiun Jakarta Kota ini memiliki bangunan seluas 8.744 m², dan tercatat sebagai aset PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 022/01.11110/JAK/BD. Stasiun karya Ghijsels ini, dulu pernah dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentukbentuk tradisional setempat. Dengan balutan Art Deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi.
Stasiun Jakarta Kota ini akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993. Tak hanya itu, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.13/PW.007/MKP/05, stasiun ini juga ditetapkan sebagai cagar budaya pada 25 April 2005. *** [250216]


Share:

Gedung Banteng Kali Besar

Meski tak setenar Toko Merah, sesungguhnya bangunan lawas ini juga memiliki ceritera yang tak kalah menariknya sebagai bangunan penunjang kawasan Kali Besar Barat atau Kota Tua Jakarta. Bangunan lawas tersebut adalah Gedung Banteng atau Banteng Building. Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 6 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di selatan Toko Merah, atau sebelah utara gedung Singa Kuning.


Dulu, gedung ini merupakan gedung milik NV Gebr. Sutorius & Co., yang diperkirakan dibangun pada abad 19. Pada masa itu, gedung ini dikenal sebagai Toko Gebr. Sutorius & Co. Hal ini bisa ditelusur pada koran berbahasa Melayu, Pemberita Betawi, yang terbit antara tahun 1884 hingga 1916. Dalam surat kabar tersebut, toko-toko serba ada di Batavia mengiklankan produk-produk yang ada di tokonya kepada masyarakat luas agar terkenal dan banyak pembeli. Toko serba ada yang ada di Batavia di antaranya Toko Gebr. Sitorus & Co. di daerah Kali Besar Barat. Toko ini menjual sejumlah besar lini produk, biasanya meliputi pakaian, perlengkapan rumah tangga, dan barang-barang keperluan rumah tangga.
Orang Eropa, yang pada umumnya didominasi oleh orang-orang Belanda yang bermukim di Batavia, banyak yang berbelanja di Toko Gebr. Sitorus & Co. ini. Mereka berbelanja untuk mencari barang kebutuhan yang diperlukan, seperti makanan dan minuman dalam kaleng, barang-barang curah, kaus kaki maupun barang kebutuhan lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya toko serba ada ini kala itu.
Kini, gedung yang pernah digunakan untuk toko serba ada yang dikelola oleh NV Gebr. Sitorus & Co. ini menjadi kantor sejumlah advokat dan pengacara maupun notaris, seperti Kantor Advokat dan Pengacara Sjahrial Litoto, S.H. & Associates, dan Kantor Notaris Besri Zakaria, S.H. Sedangkan, di lantai satunya digunakan untuk Kantor Jasa Logistik TIKI. *** [250216]

Share:

Gedung Topjaya Jakarta

Pada zaman dahulu, Kali Besar yang bermuara di Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pusat kegiatan perdagangan yang menjadi rebutan antara Portugis, Belanda, dan Inggris. Pada waktu itu, perahu dan kapal dagang mancanegara bisa melayari Kali Besar untuk mengangkut rempah-rempah negeri tropis yang laku keras di pasaran dunia.
Sehingga lumrah, jika di sepanjang tepi Kali Besar banyak berdiri gedung perkantoran maupun gudang. Deretan bangunan perkantoran maupun gudang lawas tersebut seolah memagari Kali Besar. Salah satunya adalah gedung Topjaya. Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 40 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di selatan PT. Wira Pratama Kencana, atau sebelah utara Silk Kargo.


Dulu, gedung Topjaya ini merupakan gedung yang menjadi kantor NV John Peet & Co. atau Het kantoorgebouw van John Peet & Co. te Batavia. NV John Peet & Co. merupakan perusahaan perkebunan milik orang Inggris yang mengusahakan perkebunan di Hindia Belanda, dan di samping itu perusahaan ini juga menerima pengelolaan perkebunan milik para tuan tanah Belanda yang memutarkan uangnya di perkebunan.
Desain dari gedung ini diserahkan kepada Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung. Ghijsels merancang bangunan ini pada tahun 1919, dan pembangunan konstruksi fisiknya dilaksanakan pada tahun 1920 oleh NV Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA). AIA adalah sebuah biro umum sipil dan arsitektur yang didirikan pada tahun 1916 oleh Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, bersama Ir. Hein von Essen dan Ir. F. Stlitz. Biro arsitek ini tidak hanya merancang bangunan tetapi juga bertindak sebagai kontraktor.
Dilihat dari fasade bangunannya, gedung berlantai dua ini memiliki gaya arsitektur Art Deco dengan ciri khasnya berupa elemen geometris pada dinding eksteriornya. Art Deco merupakan salah satu langgam yang banyak diterapkan pada karya Ghijsels di Hindia Belanda.
Kini, gedung peninggalan NV John Peet & Co. ini menjadi gedung Topjaya. Nama Topjaya ini diambil dari pemilik gedung yang sekarang ini, yaitu PT Topjaya Sarana Utama, yang merupakan sole distributor Toshiba sejak tahun 1982. Yang dimaksud sole distributor di sini adalah PT Topjaya Sarana Utama sebagai badan usaha yang ditunjuk oleh pihak principal (Toshiba) sebagai wakilnya untuk menjual dan mendistribusikan barang-barang dalam suatu wilayah pemasaran tertentu serta melaksanakan pelayanan purna jual dari barang-barangnya, di mana penunjukan tersebut dilakukan berdasarkan perintah/pemberian kuasa dengan memberikan batas-batas kewenangan tertentu dalam bertindak untuk dan atas nama dari principal.
Oleh karena itu, pada dinding bagian atas ini juga dijumpai tulisan Toshiba dengan warna merah yang cukup besar juga. Tulisan tersebut diletakkan di sisi utara dan selatan menara gedung. Hal inilah yang menyebabkan sebagian masyarakat, menyebutnya dengan gedung Toshiba. *** [250216]

Share:

Gedung Samudera Indonesia Kali Besar

Membicarakan bangunan lawas di tepian Kali Besar, memang cukup menarik bagi peminat masalah heritage. Banyak bentuk bangunan yang mewakili zamannya berada di kawasan tersebut, dan masing-masing bangunan mempunyai kisahnya sendiri-sendiri.
Salah satunya adalah gedung Samudera Indonesia. Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 43 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah selatan Hotel De Rivier, atau sebelah utara gedung Wira Pratama Kencana.
Gedung ini dirancang oleh Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, dan dibangun oleh NV Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA) pada tahun 1920. AIA adalah sebuah biro umum sipil dan arsitektur yang didirikan pada tahun 1916 oleh Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, bersama Ir. Hein von Essen, dan Ir. F. Stlitz. Biro arsitek ini tak hanya merancang bangunan tetapi juga bertindak sebagai kontraktor.


Semula gedung ini digunakan sebagai kantor perusahaan dagang bernama Maintz & Co. (Handelsvennootschap v/h Maintz & Co.). R. Braad dan W.R. van Daatselaar dalam Inventaris van het archief van de NV Handelsvennootschap voorheen Maintz & Co. te Amsterdam, 1874-1970 (National Archief, Den Haag, 1973) menerangkan, bahwa Maintz & Co. didirikan di Amsterdam pada 28 Desember 1917 dengan Akta yang dikeluarkan Notaris F.H. van der Helm serta mendapat persetejuan dari Kerajaan Belanda pada 8 April 1918. Maintz & Co. berkantor pusat di Amsterdam, Belanda, dan memiliki kantor perwakilan di Hindia Belanda (Batavia, Semarang dan Surabaya), Paris, dan New York.
Tujuan dari perusahaan dagang Maintz & Co. ini adalah mengemudikan perdagangan dalam arti luas, dan melakukan perdagangan umum baik untuk kepentingan sendiri atau atas nama dan untuk pihak ketiga.
Jejak-jejak dari kiprah  Maintz & Co. bisa dilihat dari pengelolaan perusahaan-perusahaan NV Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteitmaatschappij (ANIEM) di Surabaya, NV Gebeo di Bandung, NV Waterkracht Exploitatie Maatschappij in Indonesie (WEMI) di Surabaya, NV Cultuur Maatschappij “Cibening” di Jakarta, NV Bouw Maatschappij “Insulinde” di Jakarta, dan NV Maatschappij tot Exploitatie van Waterleidingbedrijven in Indonesie (MEWAI).
Kemudian gedung ini juga pernah digunakan sebagai Konsulat Norwegia dan Portugal. Lalu, terakhir gedung ini beralih kepemilikan ke PT Samudera Indonesia. Oleh karena itu, gedung ini menjadi dikenal sebagai gedung Samudera Indonesia. Perlu diketahui, PT Samudera Indonesia Tbk merupakan perusahaan publik yang bergerak dalam bidang pelayaran, transportasi, dan logistik. Perusahaan ini didirikan pada 13 November 1964 oleh Soedarpo Sastrosatomo.
Pada 1 Februari 2008, gedung ini mengalami roboh di bagian sisi kirinya ketika banjir melanda Jakarta. Sehingga, gedung dua lantai jadi tampak memanjang ke arah selatan. Kemegahan gedung bergaya Art Deco ini sebenarnya masih kelihatan, hanya saja sudah tidak simetris lagi. *** [250216]

Share:

Gedung Singa Kuning Jakarta

Tatkala menyusuri Jalan Kali Besar Barat, Anda akan menemukan dua bangunan yang mirip bentuknya, yaitu Toko Merah dan gedung Singa Kuning. Tak hanya mirip gaya arsitekturnya, kedua bangunan lawas tersebut juga memiliki kisah yang menarik sebagai penunjang kawasan Kota Tua Jakarta (Jakarta Old Town). Kawasan tersebut dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah Oude Batavia (Batavia Tua).
Kendati tak setenar dengan Toko Merah, gedung Singa Kuning ini juga memberikan andil dalam khazanah heritage di sepanjang tepian Kali Besar. Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 3-4 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah utara bekas gedung Chartered Bank of India, Australia and China, atau sebelah selatan gedung Banteng.


Gedung ini dinamakan gedung Singa Kuning karena di muka pintu utamanya terdapat dua patung singa yang semula dicat dengan warna kuning. Tapi sesungguhnya banguna lawas ini merupakan Puri Belanda yang dibangun sekitar akhir abad 18 atau awal abad 19 di Kali Besar Barat. Kemudian puri ini pernah menjadi kantor Bank of China.
Tak hanya itu, beberapa alih fungsi bangunan masih terus berlangsung setelah ditinggalkan Bank of China. Windoro Adi dalam bukunya, Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008) menjelaskan, bahwa bangunan ini dipugar oleh North Borneo Company pada tahun 1921. Kala itu tangga dipindahkan ke rumah kecil, pintu sebelah kiri, dan di dalam lubang ventilasi di atas pintu utama dipasang ukiran kayu antik yang indah.
Rumah ini pernah digunakan sebagai kantor dan gudang Firma Houghton dan Tels & Co. Seorang bangsawan Jerman, Baron Friedrich von Wumb pun pernah tinggal di sini. Wumb adalah salah seorang pelopor pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen atau Perhimpunan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia. Selain itu, Wumb juga pendiri Perpustakaan Nasional yang pada tahun 1989 dipindahkan dari gedung Museum Nasional ke gedung bekas Koning Willem III School di Jalan Matraman Raya. *** [250216]

Share:

Gedung Wira Kencana Pratama Jakarta

Pada waktu silam, Kali Besar Barat merupakan kawasan perdagangan yang cukup ramai. Hal ini disebabkan karena Kali Besar Barat menghadap Kali Besar, yang dulunya kawasan ini sempat menjadi sebuah kawasan yang hidup dan menjadi daerah yang berkembang dengan pesat karena pada saat itu Kali Besar merupakan akses keluar masuknya kapal dari mancanegara.
Tidak heran jika bangunan-bangunan yang berada di sekitar kawasan Kali Besar adalah bangunan yang berfungsi sebagai gudang atau kantor perdagangan milik Belanda, di antaranya adalah gedung Wira Kencana Pratama. Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Barat No. 41 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah selatan PT Samudera Indonesia, atau berada di sebelah utara gedung Topjaya.


Awalnya gedung ini merupakan kantor pertama Nederlandsch Indische Handelsbank (NIHB), sebuah bank yang didirikan pada 1864. Gedung ini diperkirakan dibangun sekitar abad 19. Setelah NIHB pindah ke Stationplein (kini berada di sebelah utara halte busway Jakarta Kota), gedung ini pernah digunakan sebagai kantor Departemen Urusan Ekonomi bagian Inventarisasi Aset Tanah.
Setelah dinasionalisasi pada tahun 1957, gedung ini beberapa kali mengalami alih fungsi. Di antaranya gedung ini dipakai untuk kantor PT Wahana Andamari, anak perusahaan Group Tamara. Kemudian terakhir kalinya gedung ini digunakan sebagai kantor oleh PT Wira Kencana Pratama, yaitu perusahaan jasa yang bergerak dalam bidang jasa pengelolaan dan penyediaan tenaga keamanan dan ketertiban serta pengawalan khusus dalam segala bidang keamanan, dan termotivasi untuk meningkatkan standarisasi dalam industri pelayanan keamanan dan turut serta menciptakan keamanan lingkungan yang lebih baik, dengan mengoptimalkan sumber daya manusia dan teknologi yang terus berkembang serta pendekatan yang inovatif demi terciptanya rasa keamanan yang nyata.
Gedung ini terdiri dari dua lantai. Lantai satu memiliki teras sehingga pintunya agak masuk ke dalam, sedangkan lantai duanya tak ada teras. Dinding lantai dua langsung berada di tepi jalan, sehingga fasade lantai dua terdiri dari delapan jendela berjajar. Masing-masing jendela mempunyai kanopi kecil di atasnya. *** [250216]

Share:

Gedung Tjipta Niaga Jakarta

Jalan-jalan ke Kota Tua Jakarta (Oude Batavia) memang mengasyikan. Terasa kita dibawa ke masa lampau dengan nuansa Eropa. Cobalah mengarah ke Kali Besar, Anda akan menyaksikan deretan bangunan lawas peninggalan kolonial Belanda yang berjajar seolah-olah memagari sungai tersebut.
Dulunya kawasan ini sempat menjadi sebuah kawasan yang ramai dan menjadi daerah yang berkembang dengan pesat karena pada saat itu Kali Besar merupakan akses keluar masuknya kapal dari mancanegara. Tidak heran jika bangunan-bangunan yang berada di sekitar kawasan Kali Besar adalah bangunan yang berfungsi sebagai gudang atau kantor perdagangan milik Belanda.
Salah satu dari gedung lawas yang cukup menarik perhatian adalah Gedung Tjipta Niaga. Gedung ini terletak di Jalan Kali Besar Timur No. 19 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di utara Musholla Betawi Batavia Kota Tua, atau selatan gedung G. Kolff & Co.
Awalnya gedung ini merupakan gedung milik perusahaan Internationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam, atau yang biasa disingkat dengan Internatio. Gedung ini dibangun pada tahun 1912 dan merupakan gedung keempat di Batavia hasil rancangan dari biro arsitek yang bernama NV Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam, yang didirikan pada tahun 1910 oleh Eduard Cupers (1859-1927) dan Marius J. Hulswit bersama A.A. Fermont.


Internatio adalah salah satu dari lima perusahaan besar di Hindia Belanda, dikenal sebagai The Big Five yang titik berat kegiatannya bidang perkapalan. Beberapa perwakilan maskapai kapal dikelola oleh perusahaan ini, di samping beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang industri kimia, kertas, tekstil, perkebunan dan perbankan. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1863 ini memiliki 60 kantor cabang dan mempunyai buruh kurang lebih 2.000 orang.
Di akhir tahun 1957 semua perusahaan Belanda (termasuk The Big Five) dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia. Setelah dinasionalisasi, Internatio berganti nama menjadi PT Satya Negara Trading Corp. Selang beberapa tahun, PT Satya Negara dilebur ke dalam PN Tjipta Niaga yang kemudian menjadi PT Tjipta Niaga berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1971.
Dulu, gedung Tjipta Niaga ini tergolong mewah pada waktu itu sehingga melalui gedung Tjipta Niaga ini terlihat bukti kejayaan perekonomian Batavia. Namun karena kurangnya perawatan, gedung ini mengalami kerusakan. Salah satu kerusakan yang dapat terlihat adalah adanya dinding bangunan yang ditumbuhi tanaman, lumut, serta terdapat bagian bangunan yang sudah hilang atau roboh, sehingga jika ingin difungsikan kembali harus dilakukan upaya konservasi agar bangunan aman dan nyaman untuk digunakan.
PT Tjipta Niaga adalah satu dari 12 bangunan yang termasuk di dalam proyek Revitalisasi Kota Tua Jakarta yang dilakukan oleh Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC) yang merupakan konsorsium swasta dengan tujuan mengembangkan cara-cara inovatif untuk menghubungkan sektor swasta dengan Pemerintah DKI Jakarta. JOTRC memiliki misi merevitalisasi Kota Tua untuk tempat bekerja, tinggal, dan bermain. Di dalam revitalisasi ini terkandung unsur pelestarian cagar budaya, tujuan investasi, area turisme, dan promosi keberagamaan budaya.
Sebelum dilakukan revitalisasi yang kini tengah berjalan, sesungguhnya gedung Tjipta Niaga telah menjadi PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau Indonesia Trading Company. PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sendiri merupakan perusahaan hasil merger dari 3 BUMN Niaga, yaitu PT Pantja Niaga, PT Dharma Niaga, dan PT Tjipta Niaga, berlaku efektif sejak tanggal 31 Maret 2003 berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tahun 2003. Pelaksanaan merger ketiga eks BUMN Niaga ditujukan untuk meningkatkan efisiensi manajemen, memaksimalkan keuntungan, integrasi bisnis dan meningkatkan kepemilikan aset.
Berhubung terakhir kali yang menggunakan gedung ini adalah PT Tjipta Niaga, maka gedung ini pun tetap dikenal sebagai gedung Tjipta Niaga. Gedung ini terdiri dari dua lantai dengan luas lantai 2.223 m² dan di sisi kiri dan kanannya yang menghadap ke Kali Besar terdapat dua menara kembar. Lalu, gedung ini tidak berfungsi cukup lama hingga datangnya kerja sama revitalisasi gedung yang dilakukan oleh PPI dan JOTRC. *** [250216]

Share:

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 3 Jakarta Barat. Lokasi museum ini bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri atau berada di depan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota. Daerah ini termasuk kawasan Kota Tua Jakarta. Kota Tua adalah kawasan yang pertama kali dibangun oleh Belanda pada awal abad ke-16 dan menjadi pelabuhan penting tempat kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia berlabuh. Bergudang-gudang hasil bumi seperti rempah, kopi, dan teh, serta komoditas perdagangan lain seperti cita, disimpan dan diperdagangkan di sini.


Museum ini menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neoklasikal, dipadu dengan pengaruh lokal. Sebelum menjadi De Javasche Bank, bangunan Museum Bank Indonesia ini dulunya merupakan bekas rumah sakit bernama Binnenhospitaal. Setelah sekitar delapan puluh tahun, kapasitas gedung bekas Binnenhospitaal ini dirasa tak lagi memadai sebagai kantor bank besar. Oleh karena itu, De Javasche Bank memutuskan untuk melakukan pembangunan  gedung baru di atas lahan Binnenhospitaal , yang sudah ditempatinya sejak tanggal 08 April 1828. Tahun 1910, De Javasche Bank membangun kembali gedung dengan lima tahap pembangunan yang perancangan bangunan dilakukan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.
Tahun 1910 pembangunan tahap pertama dimulai dan selesai pada tahun 1912, bangunan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang jalan Binneninieuwpoorstraat atau sekarang dikenal dengan Jalan Pintu Besar Utara.
Tahun 1922 pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti rumah penjaga gedung (concierge), ruang simpan barang berharga (kluis), ruang pertemuan besar (ruang hijau), ruang arsip, garasi, dan ruangan lainnya.
Tahun 1924 pembangunan tahap ketiga dilakukan. Pembangunan tahap ketiga merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Dibuat juga bangunan di sepanjang Javabankstraat  atau sekarang dikenal dengan jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan yang baru dibangun ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang indah.
Tahun 1933 pembangunan tahap keempat dilaksanakan memenuhi kebutuhan ruang khasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan tahap keempat, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat (Jalan Pintu Besar Utara). Pembanguan termasuk renovasi yang dilakukan pada bagian depan di sisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.
Tahun 1935 pembangunan tahap kelima dilakukan dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Tujuan pembangunan tahap kelima untuk memodernisasi arsitektur pembangunan tahap- tahap sebelumnya. Perubahan yang dilakukan diantaranya menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya menjadi satu pintu untuk keluar-masuk. Perubahan yang lainnya seperti menghilangkan kubah yang sebelumnya menghiasi atap gedung bangunan. Setelah pembangunan ini, tidak banyak lagi perubahan yang dilakukan terhadap gedung.
Setelah pembangunan gedung yang baru selesai, bangunan lama bekas rumah sakit akhirnya sirna, digantikan sepenuhnya oleh bangunan megah yang kita lihat sekarang.
Peresmian Museum Bank Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu peresmian tahap I dan mulai dibuka untuk masyarakat (soft opening) pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah, dan peresmian tahap II (grand opening) oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009.
Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.
Selain berbagai koleksi yang dimiliki oleh Museum Bank Indonesia, juga terdapat fasilitas seperti ruang penitipan barang, pusat informasi tentang Bank Indonesia, ruang auditorium, kios buku dan cenderamata, banking expo, ruang serbaguna, café museum, fine dining restaurant, perpustakaan, ruang ibadah. *** [110712]
Share:

Museum Bank Mandiri

Museum Bank Mandiri terletak di Jalan Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta Kota. Museum ini menempati areal seluas 10.039 m², dan terletak persis di depan stasiun kereta api Kota. Bangunan museum ini terdiri atas 4 lantai dengan luas keseluruhan 21.509 m², dan mulai difungsikan sebagai museum sejak awal tahun 2004.
Kendati letaknya sangat strategis dan mudah dicapai, namun keberadaan museum ini kurang diketahui khalayak ramai, mungkin karena minimnya publikasi terlebih lagi karena papan nama “Museum Bank Mandiri” terletak di tengah bangunan, yang justru kurang eye catching karena pengendara tidak mungkin menolehkan kepala selagi berkendaraan. Sedangkan dari depan bangunan, papan nama ini tidak mungkin terlihat karena lapangan yang tepat di depannya terdapat pepohonan yang menghalangi dan ditambah lagi adanya shelter untuk busway Trans Jakarta. Akan lebih menarik perhatian orang jika papan ini diletakkan di sudut gedung yang merupakan persimpangan jalan Pintu Besar Selatan, Asemka, dan Jembatan Batu menuju Mangga Dua. Papan nama dari lokasi ini akan mempermudah masyarakat umum mengetahui keberadaan museum ini.


Gedung bergaya art-deco ini benar-benar megah. Dibangun oleh Biro Konstruksi NV Nedam pada tahun 1929 dan diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933 sebagai Kantor Cabang Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) untuk Dunia Timur dan dikenal sebagai Gedong Factorij Batavia. Sang arsitek gedung ini adalah J.J.J. de Bruin dan C. van der Linde.

Koleksi Bank Mandiri
 Selain kemegahan gedung Museum Bank Mandiri yang mengundang decak kagum para arsitek kita, museum ini memiliki banyak koleksi yang berkaitan dengan dunia perbankan maupun koleksi pendukung dalam operasional bank kala itu. Sebagai contoh adalah bermacam-macam alat penghitung (sempoa, kalkulator), mesin ketik, mesin ATM, alat timbangan, alat pembayaran yang pernah diproduksi, seragam satpam, prestasi pegawai bank, pakaian anti bahan peledak, buku keuangan tahunan abad 19, foto gedung-gedung bank yang tergabung dalam Bank Mandiri (Nederlandsche Handel-Maatschappij, Escomptobank, Chartered Bank) dan lain-lain.  Bank vault atau strong room atau khasanah juga tak luput mendapatkan perhatian.


Di lantai 3 terdapat display ruang kerja direktur bank. Di sini pengunjung bisa merasakan suasana para petinggi sedang mengerutkan kening memikirkan masalah moneter. Pada ruangan tertentu di pajang pula beberapa gubernur de Javasche Bank hingga Bank Indonesia. Juga ada ruangan yang khususnya memamerkan benda-benda numismatik, mulai dari uang zaman VOC hingga uang yang dipakai saat ini.


Luasnya areal museum ditambahnya banyaknya koleksi yang dimiliki museum ini memerlukan berjam-jam untuk bisa menikmati koleksi yang dimiliki museum ini secara detail. Seperti kulkas kayu tempo doeloe, brandkas, sensasi lift schindler tempo doeloe dan kemegahan lantai ubin kuno. *** [110712]
Share:

Nederlandsche Handel Maatschappij, Dari Perdagangan ke Perbankan

Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) adalah sebuah perusahaan milik Belanda yang didirikan berdasarkan Besluit No. 163 pada tanggal 29 Maret 1824 dengan prakarsa Raja Willem I. Tujuan pendirian NHM adalah untuk menggantikan VOC (Verenigde Oost Indische Company) yang bangkrut akibat korupsi yang dilakukan oleh pejabat VOC sendiri. Tujuan lainnya adalah menghidupkan kembali perekonomian Negeri Belanda yang hancur akibat peperangan dengan negara tetangganya, Belgia. Sejak awal berdirinya, NHM bertugas melakukan perdagangan ke seluruh dunia, yang meliputi Amerika, Asia Kecil, Cina, India, Persia, Jazirah Arab. Namun dalam perkembangan selanjutnya perusahaan NHM lebih memfokuskan ke Nusantara.
Pada tahun 1826 perwakilan NHM di Batavia dengan membuka cabangnya di Palembang, Banjarmasin, dan Banda. Kegiatan utamanya adalah melakukan pengiriman, pengapalan dan juga penjualan barang-barang ke Hindia Belanda. Di samping itu, perusahaan ini juga membantu pemerintah Hindia Belanda melakukan pengiriman uang ke Cina, Australia, dan India.
Pada tahun 1830 di Nusantara di perlakukan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) yang dipelopori oleh Gubernur Jenderal Graaf van de Bosch. Dengan berlakunya sistem tanam paksa maka NHM juga mempunyai fungsi ganda, yakni selain melakukan pengiriman barang, akan tetapi juga melakukan pembelian rempah-rempah dari pemerintah Hindia Belanda. Ternyata harapan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya melalui tanam paksa membuahkan hasil. Pemerintah Hindia Belanda banyak meraup keuntungan dari eksploitasi tenaga kerja pribumi. Namun keuntungan yang selama 40 tahun dinikmati berangsur-angsur menuai kemunduran. Hal tersebut disebabkan pada tahun 1870 sistem tanam paksa dicabut. Pada tahun 1882 Factorij NHM Batavia melakukan usaha penuh sebagai bank modern dengan menerima dana pihak ketiga dalam bentuk deposito, rekening Koran dan produk jasa lainnya.
Sejalan dengan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, pada tanggal 5 Desember 1960 NHM dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor. ***
Share:

Gedung Ex-Chartered Bank

Salah satu aset bangunan sejarah milik Bank Mandiri yang merupakan warisan zaman kolonial Hindia Belanda, adalah sebuah gedung tua di kawasan Oud-Batavia Jakarta Kota yang memiliki ciri kubah. Gedung tiga lantai di atas lahan seluas 2.279 m² yang terletak di sudut Jalan Kali Besar Barat No. 1-2, memiliki citra arsitektur klasik yang mengawali gaya modern dengan banyak ornament hias. Gedung yang dibangun tahun 1920 ini dirancang oleh arsitek EHGH Cuypers (1859-1927), saat di mana era perdagangan pemerintah Hindia Belanda sedang jaya dan pembangunan gedung di kota Batavia bagian utara cukup gencar dilakukan. Gedung yang berlokasi tidak jauh dari gedung Balaikota lama ini menggunakan konstruksi beton dan dinding bata.
Bangunan ini awal mulanya digunakan sebagai kantor cabang Chartered Bank of India, Australia dan Cina di Batavia, sejak 2 Maret 1965 diserahkan oleh Pemerintah pengelolaannya kepada Bank Umum Negara (BUNEG) yang kemudian menjadi Bank Bumi Daya (BBD) pada bulan Desember 1968. Melihat dari waktu pembangunannya, gedung ini juga menggunakan bahan lantai sebagian mozaik pada daerah yang dianggap penting dan lantai ubin untuk ruangan umum lainnya. Kayu yang dipakai untuk kusen pintu jendela dan railing tangga adalah kayu pilihan terbaik yang waktu itu sangat mudah didapatkan.


Gedung tua seluas 4.824 m² dengan ciri kubah warna kecoklatan di atasnya, menyimpan potensi besar untuk menunjang kawasan Oud Batavia sebagai lokasi tujuan wisata. Dari kejauhan sosok gedung dengan bentuk kubahnya yang menutupi seluruh ruang sudut depan di lantai tiga, terlihat masih sangat megah. Suasana lingkungan sekitar gedung yang hampir dipenuhi oleh bangunan-bangunan lama memang sangat kondusif sebagai bagian dari kawasan kota Oud Batavia yang perlu dilestarikan. Sehingga tidak sedikit pecinta fotografi yang selalu memanfaatkan background gedung sebagai obyeknya. ***

Share:

Gedung Ex-Nederlandsch-Indisch Handelsbank

Bangunan yang menghadap ke Taman Stasiun Jakarta Kota, merupakan gedung asset Bank Mandiri yang hingga kini difungsikan sebagai kantor perbankan.  Gedung bergaya Art-Deco yang tegak lurus ini, sangat mudah terlihat dari arah Stasiun Beos dan Shelter Busway terakhir Kota. Gedung yang sekarang menjadi Kantor Wilayah dan Cabang Bank Mandiri Jakarta-Kota, sebelumnya digunakan sebagai Kantor Cabang Bank Bumi Daya.
Bangunan cagar budaya ini dirancang oleh dua arsitek Belanda yang karyanya cukup banyak di Indonesia, yaitu J.F.L. Blankenberg (1888-1958) dan C.P. Wolf Schoemaker (1882-1949) pada tahun 1935. Tanahnya yang berada di Stationsplein-Binnen Nieuwpoortstraat –Magazijnsweg dibeli  pada akhir tahun 1920. Konstruksi gedung mulai dibangun pada April 1937 dan diresmikan pada 25 Mei 1940. Gedung ini direncanakan khusus sebagai kantor baru Nederlandsch-Indisch Handelsbank (NIHB) yang sedang mengembangkan bisnisnya ketika itu. Sebelumnya kantor NIHB Batavia berlokasi di Jalan Kali Besar Barat No. 41.


Bangunan satu lantai dengan luas 4.233 m² ini hampir menghabiskan keseluruhan tanahnya seluas 4.782 m². Dibangun dengan konstruksi beton, beratap seng dan asbes gelombang, memperlihatkan kekokohan bangunannya. Desain jendelanya sangat unik dibuat berjejer rapi simetris yang merupakan karakter kuat gedung ini. Pada beberapa bagian terlihat juga penggunaan kaca patri yang indah. Pemandangan indah dapat dijumpai mulai dari ruang lobby yang menampilkan desain tangga menuju banking hall di lantai yang posisinya lebih tinggi. Tangga kembar yang berbentuk lengkung ini menggunakan lantai marmer putih yang kontras dengan lantai granit pada hall-nya. Penampilan tangga ini terkesan monumental. Banking hall yang memiliki banyak kolom bulat di sekelilingnya membuat kesan seperti berada di ruang pendopo. Pengolahan lantai granitnya dan pemilihan warna serta tata cahayanya membuat nasabah dan tamu Bank pasti merasa nyaman di gedung antik yang terawatt baik ini. ***

Share:

Gedung Ex-Escomptobank

Gedung tua berarsitektur Indisch yang terletak di pojok pertemuan jalan Pintu Besar Utara dan jalan Bank, menempati lahan seluas 3.010 m² adalah milik Bank Mandiri. Bangunan cagar budaya ini awal mulanya merupakan Kantor Pusat Nederlandsch-Indische Escompto Maatschappij di Batavia yang dibeli tahun 1902. Pembangunan gedung kantor bank yang memiliki seluruhnya 6.729 m² ini dilakukan bertahap.
Gedung pertama yang menghadap ke jalan Pintu Besar Utara terdiri 2 lantai dibangun tahun 1904 dan mulai digunakan tahun 1905. Keunikan gedung Escomptobank ini pada bagian atas dinding luarnya terdapat ornament lambang-lambang kota Hindia Belanda seperti Surabaya, Batavia dan Semarang juga terdapat lambang kerajaan Belanda dan kota Amsterdam. Gedung kedua Escomptobank yang berada di pojok jalan dirancang oleh arsitek Biro Fermont & Cuypers tahun 1920. Gedung ini dibangun tahun 1921 dan selesai sekitar 1928.



Pada tanggal 30 Juni 1949, nama Nederlandsch-Indische Escompto Maatschappij diubah menjadi Escomptobank NV dan sejalan dengan kebijakan nasionalisasi badan-badan usaha milik Belanda, nama bank dan kepemilikan gedung ini pun berubah menjadi Bank Dagang Negara (BDN) pada 11 April 1960. Konstruksi utamanya semua beton bertulang dan kolom praktis serta menggunakan atap genteng tanah liat. Perlindungan pintu dan jendela dari terik matahari dan hujan dilakukan dengan membuat lubang ceruk di mana pintu atau jendela dipasang lebih ke dalam serta diberi sedikit kanopi dari pelat beton tipis yang sekaligus sebagai pemanis arsitekturnya. ***
Share:

Pasar Ikan

Sebuah daerah di tepi Sungai Ciliwung, yang dikenal dengan sebutan Pasar Ikan ini, sejak zaman kolonial Belanda telah menjadi daerah yang cukup penting dan merupakan cikal bakal dari perkembangan kota Jakarta sekarang. Pasalnya, di lokasi ini terdapat pelabuhan yang menjadi salah satu pintu gerbang menuju kota. Bandar Pasar Ikan pernah pula menjadi bagian dari serangkaian jaringan perniagaan Asia. Di kawasan ini dibangun pula kubu pertahanan yang disebut Culemborg dan galangan kapal, gudang, serta Menara Syahbandar.
Pada tahun 1631, Pasar Ikan yang terdapat di seberang timur sungai, masih merupakan bagian dari pasar daging yang bangunannya dari bambu beratap. Enam tahun kemudian dipindahkan ke pinggir sungai sebelah barat, berhadapan dengan lapangan luar kastil. Sebelum tahun 1739, penjualan ikan tidak diizinkan di luar Pasar Ikan, tetapi kemudian diperbolehkan dengan memberikan satu ketip kepada tengkulak sayuran dan pemilik-pemilik toko.
Kini, di antara pemukiman penduduk yang padat di Jalan Pasar Ikan, masih berdiri bangunan kuno yang sebelumnya merupakan kompleks gudang yang dibangun VOC tahun 1652, yang menjadi tempat menyimpan perolehan hasil bumi sebelum dikirim ke Belanda. Bangunan tersebut pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari. Fungsinya sebagai tempat untuk melestarikan, memelihara, merawat, dan menyajikan koleksi-koleksi yang berhubungan dengan kebaharian bangsa Indonesia. Sekarang, Museum Bahari yang berlokasi strategis sebagai ujung tombak kebaharian kota Jakarta itu memiliki lebih dari 1.835 koleksi. ***
Share:

Menara Syahbandar

Menara Syahbandar didirikan di atas situs bersejarah kubu Bastion Culemborg yang dibangun pada tahun 1645, merupakan bagian dari Tembok Kota Batavia. Culemborg ini dibangun oleh Gubernur Jenderal Antonio van Diemen, kubu ini menghadap ke arah barat laut Kota Batavia, merupakan pintu masuk Kota Batavia dari laut (Waterpoort). Nama Culemborg diambil dari nama sebuah kota kecil tempat di mana van Diemen dilahirkan. Pada tahun 1808, kubu ini dihancurkan oleh Gubernur Jenderal Daendels, kemudian di atasnya didirikan bangunan menara pengawas yang dikenal juga dengan menara syahbandar pada tahun 1839.


Menara Syahbandar (Uitkijk) didirikan pada tahun 1839, menggantikan tiang bendera lama yang berlokasi di Galangan Kapal VOC. Fungsi dari tiang bendera ini adalah untuk memberikan tanda-tanda kepada kapal yang akan berlabuh di Sunda Kelapa, tetapi sekaligus sebagai menara pengawas, baik wilayah laut maupun darat. Menara Syahbandar merupakan bangunan tertinggi pada waktu itu, sehingga sangat tepat dijadikan menara pengawasan.


Setelah pelabuhan Tanjung Priok dibangun pada tahun 1886, fungsi menara ini mulai berkurang. Pada tahun 1926 sampai dengan 1967, menara ini berfungsi sebagai Kantor Syahbandar Pelabuhan Pasar Ikan. Setelah pelabuhan Sunda Kelapa diresmikan pada tahun 1967, maka menara ini tidak lagi dijadikan kegiatan pelabuhan.

Bagian dari Menara Syahbandar
Di kompleks Menara Syahbandar ditemukan dua buah prasasti batu bertuliskan huruf China. Prasasti pertama berbunyi: Kantor Pengukuran dan Penimbangan “Di sini titik nol (kilometer) Batavia”. Artinya bahwa Menara Syahbandar dijadikan titik tolak pengukuran jarak dari Kota Batavia, yang ditetapkan oleh Kantor Pengukuran dan Penimbangan .
Sedangkan prasasti lainnya menyebutkan bahwa saudagar China yang berada/berdagang ke Batavia ikut berbelasungkawa/memperingati meninggalnya Kaisar Pu Yi yang meninggal di China. Hal ini membuktikan bahwa pada abad tersebut sudah terjadi hubungan perdagangan antara Batavia dan China.
Menara Syahbandar berukuran panjang 10 meter, lebar 6 meter dan tinggi 18 meter. Di bagian bawah menara terdapat ruangan yang difungsikan sebagai ruang tahanan bagi awak buah kapal yang melanggar peraturan. Mereka dikurung selama berhari-hari, dalam ruangan yang pengap dan lembab.
Di bagian puncak terdapat jendela di empat sisi menara untuk mempermudah pengawasan dari segala penjuru.
Selain itu, di sekitar menara terdapat tiga buah bangunan yang tetap dilestarikan hingga saat ini. Ketiga bangunan tersebut adalah (1) Bangunan di depan menara adalah gudang navigasi, (2) Bangunan yang berada di bawah berdekatan dengan tangga adalah kantor untuk melakukan transaksi perdagangan, dan (3) Bangunan di samping menara merupakan kantor pabean. *** [210612]


Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami