The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Lamongan Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lamongan Heritage. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Pucuk

Stasiun Kereta Api Pucuk (PC) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Pucuk, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 6 m di atas permukaan lain. Stasiun Pucuk terletak di Jalan Raya Pucuk atau Gresik-Babat, Desa Pucuk, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di depan Kantor Kecamatan Pucuk.
Bangunan Stasiun Pucuk ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur rel kereta api Surabaya (Pasarturi)-Lamongan-Babat. Pembangunan jalur tersebut dimulai dan selesai pada tahun 1900 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda, sepanjang 69 kilometer.


Proyek jalur Surabaya (Pasarturi)-Lamongan-Babat ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api Gundih-Surabaya. Pengerjaan proyek besar dilaksanakan dari dua arah. Arah barat dimulai dari Gundih-Gambringan-Kradenan-Cepu-Bojonegoro, sedangkan dari arah timur dimulai dari Surabaya (Pasarturi)-Kadangan-Sumari-Lamongan-Bojonegoro. Jadi, proyek besar tersebut akhirnya bertemu di Stasiun Bojonegoro. Proyek besar Gundih-Surabaya ini memakan waktu selama tiga tahun.
Stasiun ini memiliki 4 jalur dengan jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus (sepur utama) arah barat (menuju Bojonegoro) dan timur (menuju Surabaya). Layanan kereta api yang ada di stasiun ini untuk sementara masih kereta KRD Bojonegoro saja, yang berangkat dari Surabaya (Pasarturi) menuju Bojonegoro dan sebaliknya, yang berhenti di stasiun ini.
Stasiun Pucuk ini merupakan stasiun kelas III/kecil, berbentuk persegi panjang dengan bangunan stasiun berukuran 68 m² yang berdiri di atas tanah stasiun seluas 1.839 m². Stasiun ini tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 217/08.62257/PC/LMG.
Karena stasiun akan dikembangkan dengan double track, maka bangunan lama akan digantikan dengan bangunan stasiun yang telah dibangun di sisi selatan, dan rencanya sistem persinyalan mekanik juga akan diganti dengan eletrik. *** [121215]
Share:

Stasiun Kereta Api Sumlaran

Stasiun Kereta Api Sumlaran (SLR) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sumlaran, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 3 m di atas permukaan lain. Nama stasiun ini berasal dari nama lama Desa Sukodadi sebelum diubah menjadi namanya yang sekarang. Stasiun Sumlaran terletak di Jalan Raya Sukodadi atau Gresik-Babat, Desa Sukodadi, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di depan Pasar Baru Desa Sukodadi.
Bangunan Stasiun Sumlaran ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur rel kereta api Surabaya (Pasarturi)-Lamongan-Babat. Pembangunan jalur tersebut dimulai dan selesai pada tahun 1900 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda, sepanjang 69 kilometer.


Proyek jalur Surabaya (Pasarturi)-Lamongan-Babat ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api Gundih-Surabaya. Pengerjaan proyek besar dilaksanakan dari dua arah. Arah barat dimulai dari Gundih-Gambringan-Kradenan-Cepu-Bojonegoro, sedangkan dari arah timur dimulai dari Surabaya (Pasarturi)-Kadangan-Sumari-Lamongan-Bojonegoro. Jadi, proyek besar tersebut akhirnya bertemu di Stasiun Bojonegoro. Proyek besar Gundih-Surabaya ini memakan waktu selama tiga tahun.
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah barat (menuju Bojonegoro) dan timur (menuju Surabaya). Sejak 1 April 2015 stasiun ini tidak untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang lagi, namun sekadar berfungsi untuk perlintasan saja apabila terjadi simpangan kereta api. Sehingga, tak ada layanan jenis kereta apa pun di stasiun ini.
Stasiun Sumlaran ini merupakan stasiun kelas III/kecil, berbentuk persegi panjang dengan bangunan stasiun berukuran 70 m² yang berdiri di atas tanah stasiun seluas 1.317 m². Stasiun ini tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 218/08.62253/SLR/LMG.
Rencananya stasiun akan dijadikan lokasi sinyal blok intermediet, karena jika mau dikembangkan sudah tak memungkinkan mengingat lahan yang tersedia termasuk sempit untuk menambah jalur rel baru terkait pembangunan jalur ganda (double track) lintas utara. Sedangkan, aktivitas stasiun untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang akan dipindahkan ke stasiun yang baru dibangun dengan dua lantai. Stasiun tersebut nantinya dikenal dengan Stasiun Sukoanyar. *** [121215]
Share:

Stasiun Kereta Api Lamongan

Stasiun Kereta Api Lamongan (LMG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Lamongan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 2 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 1. Stasiun Lamongan terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 27 Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di depan Lamongan Plaza.
Bangunan Stasiun Lamongan ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Sebelum stasiun ini dibangun, terlebih dulu dilakukan pembangunan jalur rel kereta api Surabaya (Pasarturi)-Lamongan-Babat. Pembangunan jalur tersebut dimulai dan selesai pada tahun 1900 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda, sepanjang 69 kilometer.


Proyek jalur Surabaya (Pasarturi)-Lamongan-Babat ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api Gundih-Surabaya. Pengerjaan proyek besar dilaksanakan dari dua arah. Arah barat dimulai dari Gundih-Gambringan-Kradenan-Cepu-Bojonegoro, sedangkan dari arah timur dimulai dari Surabaya (Pasarturi)-Kadangan-Sumari-Lamongan-Bojonegoro. Jadi, proyek besar tersebut akhirnya bertemu di Stasiun Bojonegoro. Proyek besar Gundih-Surabaya ini memakan waktu selama tiga tahun.
Stasiun ini memiliki 4 jalur dengan jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus (sepur utama) arah barat (menuju Bojonegoro) dan timur (menuju Surabaya). Stasiun ini tergolong sebagai stasiun yang cukup padat akan layanan kereta api, baik kelas eksekutif, bisnis maupun ekonomi. Rute kereta apinya pun ada yang jalur pendek, menengah maupun jauh. Rute pendek dilayani oleh kereta Komuter Surabaya-Lamongan (SuLam), dan rute sedang dilayani oleh KRD Bojonegoro (Surabaya-Bojonegoro) dan Cepu Ekspres (Surabaya-Cepu). Sedangkan, rute jauhnya dilayani oleh kereta Sembrani, Harina, Gumarang, Kertajaya, dan Maharani.
Mengenai bentuk bangunan stasiun ini tergolong kecil bila dibandingkan dengan stasiun sekelas kabupaten atau kota yang ada di Pulau Jawa. Namun, biar pun kecil, stasiun ini masih menyisakan riwayat historis yang masih bisa disaksikan hingga saat ini. *** [121215]
Share:

Monumen Van Der Wijck

Liburan sehari di Paciran cukup mengesankan. Goresan tinta akan bangunan lawas menjadikan ‘oleh-oleh’ yang tiada terperi. Dulu, hanya mendengar lewat kisah fiksi dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), kini kami benar-benar berada di lokasi judul novel tersebut. Sebagai penanda akan musibah tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini didirikanlah sebuah monumen untuk mengenang peristiwa itu. Monumen itu dikenal dengan Monumen Van Der Wijck. Monumen ini terletak di Jalan Raya Pantura Lamongan No. 17 Desa Brondong, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi monumen ini berada di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, atau tepat berada di pojok gapura masuk ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong.
Sesuai prasasti yang terpampang pada monumen sebelah barat tertulis “Tanda-Peringatan Kapada Penoeloeng-Penoeloeng Waktoe Tenggelamnja Kapal “Van Der Wijck” DDO. 19-20 October 1936.” Prasasti ini menandakan bahwa monumen ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengenang kisah tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di perairan Lamongan pada tahun 1936, dan sekaligus untuk mengucapkan terima kasih dari pemerintah Hindia Belanda kepada warga Lamongan yang pada saat terjadi musibah, telah memberikan bantuan dalam berbagai bentuk dan usaha.


Kapal Van Der Wijck dikenal juga dengan SS Van Der Wijck. Istilah SS digunakan pada kapal bertenaga uap (Steam Ships atau screw-driven steamship). Biasanya inisial SS ditambahkan sebelum nama dari kapal yang dimaksud, seperti SS Van Der Wijck. SS Van Der Wijck merupakan kapal pengangkut penumpang dan barang (passenger and cargo ship) yang menggunakan tenaga uap. Kapal berbendera Belanda ini dibuat pada tahun 1921 di galangan kapal yang terletak di Pulau Fijenoord, terbuat dari besi dengan berat tonase 2.633 gross register ton (grt) dengan ukuran 97,5x13,4x8,5 m. Mesinnya menggunakan 1x3-cyl. Triple expansion engine, single shaft, 1 screw, dan memiliki kemampuan kecepatan jelajah 13,5 knot.
Perusahaan pembuat badan dan mesin kapal adalah Maatschappij Fijenoord N.V. Fyenoord, Rotterdam, dan kapal uap tersebut merupakan pesanan dari Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). KPM adalah sebuah perusahaan pelayaran yang mempunyai kedudukan hukum di Amsterdam, namun kantor pusat operasinya berada di Batavia. Perusahaan pelayaran ini mengelola pelayaran regional antar pulau di Hindia Belanda. KPM inilah yang merupakan cikal bakal Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI).
Kapal uap ini mengambil nama salah seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-61, yaitu Carel Herman Aart van der Wijck. Pria kelahiran Ambon pada 29 Maret 1840 ini diangkat sebagai Gubernur Jenderal oleh Ratu Emma van Waldeck-Pymont dan memimpin dari 17 Oktober 1893 sampai dengan 3 Oktober 1899, kemudian meninggal di Baarn, Utrecht, pada 8 Juli 1914 yang usianya menginjak 74 tahun. Pada tahun 1921 pemerintah Belanda mengabadikan nama Gubernur Jenderal ini sebagai nama kapal mewah milik perusahaan pelayaran milik pemerintah Belanda tersebut.
Charles Hocking dalam bukunya, Dictionary of Disasters at Sea during the Age of Steam: Including Sailing Ships and Ships of War Lost in Action 1824-1962 (Lloyd’s Register of Shipping, 1969) menyebutkan, pada saat pelayarannya yang terakhir, kapal Van Der Wijck berangkat dari Surabaya ke Tanjung Priok dengan membawa penumpang dan barang. Selepas berlabuh dari Surabaya untuk melanjutkan perjalanan ke Batavia, kapal tersebut terbalik dan tenggelam dalam cuaca yang buruk dekat Tanjung Pakis pada 20 Oktober 1936.
Setelah ada panggilan S.O.S. dari kapal Van Der Wijck, pesawat terbang dan kapal dari Angkatan Laut Hindia Belanda menuju ke lokasi untuk memberikan bantuan evakuasi. Dalam evakuasi tersebut berhasil diselamatkan 167 penumpang dan kru dari kapal maupun yang mengapung, sedangkan 34 orang ditemukan dalam keadaan meninggal. Lokasi ini diidentifikasi di Perairan Lamongan sekarang, tepatnya di Kecamatan Brondong.
Monumen Van Der Wijck ini menjadi saksi bisu tentang kisah tenggelamnya kapal Van Der Wijck di daerah Brondong. Hanya saja sangat disayangkan, lokasi monumen tersebut terhalang pandangan dengan adanya Pos Polisi yang berada gapura pintu masuk ke TPI Brondong, dan minimnya papan penunjuk adanya monumen tersebut. *** [071115]

Share:

Masjid Nur Rahmat Sendang Duwur

Atas informasi dan hantaran dari seorang teman asal Paciran, sampailah kami di sebuah masjid lawas yang berada di atas bukit. Dengan menaiki sekitar 25 undakan (anak tangga), kami memasuki halaman masjid yang berujud paving block atau conblock sehingga kelihatan bersih dan teratur.
Saat kunjungan ke masjid tersebut, suasana masjid cukuplah ramai karena kebetulan akan dilangsungkan shalat jenazah terhadap salah satu warga setempat yang meninggal karena kecelakaan di daerah Jember dalam perjalanan mengurus sekolah. Dari niat ingin melakukan shalat dhuhur, harus pending untuk mengikuti rangkaian shalat jenazah dulu.
Kami pun akhirnya mengambil air wudlu yang lokasinya berada di sebelah kiri. Pada saat mau masuk masjid, terlihat tulisan Arab berwarna putih dengan background warna hijau yang di pasang di atas pelisir bangunan sebelum memasuki serambi masjid. Tulisan Arab tersebut berbunyi Masjid Nur Rahmat Sendang Duwur. Masjid ini terletak di Jalan Nur Rahmat, Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi masjid ini berbatasan dengan rumah penduduk di sebelah timur, di sebelah barat dan utara berbatasan dengan kompleks makam Waliyullah Sunan Sendang Raden Nur Rahmat, dan di sebelah selatan dengan pemakaman umum.
Keingintahuan kami akan riwayat masjid ini, menyebabkan kami harus mengikuti prosesi shalat jenazah sampai akhir yang kemudian dilanjutkan shalat dhuhur berjamaah dengan teman yang mengantar saya. Jadi, kami harus berlama-lama sedikit di masjid tersebut.


Menurut riwayatnya, masjid ini didirikan oleh Raden Nur Rahmat pada tahun 1561 M dengan candrasengkala (kronogram) yang berbunyi Gunaning Sarira Tirta Hayu. Candrasengkala adalah rumusan tahun dengan kata-kata yang setiap kata melambangkan angka, dibaca dari depan dan ditafsirkan dari belakang. Kronogram Jawa ini menggunakan sistem perhitungan bulan. Pembuatan candrasengkala biasanya juga dihubungkan dengan suatu kejadian atau kondisi masyarakat pada waktu itu.
Jadi, candrasengkala yang ditemukan pada pahatan dalam masjid Nur Rahmat ini menunjukkan bahwa masa pembuatan masjid tersebut. Gunaning = 3, Sarira = 8, Tirta = 4, dan Hayu = 1. Sesuai aturan penafsirannya maka candrasengkala tersebut berarti tahun 1483 Saka, yang bila dikonversi ke dalam tahun Masehi menunjukkan tahun 1561. Sedangkan, candrasengkala tersebut juga menjelaskan bahwa pada waktu itu daerah tersebut sangatlah sulit air sehingga untuk membangun sebuah masjid haruslah ada air yang cukup untuk melaksanakan shalat. “Badan manusia akan selamat kalau dibasuh dengan air.” Artinya, manusia hendaknya senantiasa berwudlu, terus melakukan shalat jika hidupnya ingin selamat.
Raden Nur Rahmat lahir pada tahun 1320 M di Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan. Ia adalah putra Raden Abdul Kohar bin Malik bin Syekh Abu Yazid Al Baghdadi. Syekh Abu Yazid Al Baghdadi adalah seorang ulama terkenal yang berasal dari Baghdad (Irak), sehingga Raden Nur Rahmat masih memiliki darah seorang ulama dari Baghdad.
Pada saat Raden Nur Rahmat melakukan dakwah di daerah Bukit Tunon, kharisma ulama muda ini sampai terdengar kepada Sunan Drajat. Sunan Drajat pun akhirnya berkeinginan menemuinya. Setelah berdialog dan menguji kesaktian Raden Nur Rahmat, Sunan Drajat merasa yakin akan kemampuan Raden Nur Rahmat dalam mengajarkan agama Islam di daerah tersebut. Sunan Drajat pun berkenan membantu Raden Nur Rahmat dengan menunjukkan bahwa di sela bebatuan tersebut terdapat sumber mata air yang melimpah (membentuk sendang atau semacam kolam kecil). Setelah itu, Raden Nur Rahmat diberi gelar dengan sebutan Sunan Sendang oleh Sunan Drajat. Lalu, diperintahkanlah Sunan Sendang Duwur pergi ke Mantingan, Jepara, untuk membeli Langgar Mbok Rondo Mantingan (Ratu Kalinyamat) dengan membawa uang sajuta salebak, artinya pada saat itu uang tersebut hanya berupa nominal uang lokal pada zaman itu dan tidak bisa dirupiahkan.


Dalam perjalanannya Sunan Sendang berhasil menemui Mbok Rondo Mantingan, dan menyatakan maksud kedatangannya. Namun, mendapat jawaban dari Mbok Rondo Mantingan tersebut bahwa langgarnya tidak dijual dan tidak boleh dibeli. Kemudian Sunan Sendang pulang ke Paciran dengan bersedih karena tugas yang diembannya tidak berhasil.
Suatu hari Sunan Sendang sedang tertidur. Dalam tidurnya itu, ia didatangi oleh Sunan Kalijaga dan membangunkannya. Setelah Sunan Kalijaga memberikan nasihat kepadanya, kemudian Sunan Sendang berangkat lagi ke Mantingan, Jepara, untuk menemui Mbok Rondo kembali. Pada waktu kunjungan yang kedua ini, ternyata Mbok Rondo justru berkenan mengabulkan permintaan Sunan Sendang, bahkan tidak usah dibeli tapi diberikan dengan begitu saja asal Sunan Sendang dapat mengangkat bangunan itu dan memindahkannya. Sunan Sendang kemudian bermunajat kepada Allah SWT, dan lalu memboyong langgar dari Mantingan ke Sendang Duwur. Dalam proses memboyong langgar ke Sendang Duwur itu ada sebuah pintu yang jatuh di Paciran (beberapa waktu lalu pintu tersebut masih disimpan di Masjid Paciran). Peristiwa tersebut diabadikan penduduk setempat untuk menamai Desa Paciran, karena secara historis di lokasi tersebut ada sebagian dari bangunan langgar berupa pacira, seperti ampik-ampik omah (Jawa) yang cicir (jatuh).
Setelah langgar milik Mbok Rondo Mantingan tersebut berhasil diletakkan di atas Bukit Tunon, maka jadilah bangunan langgar seperti aslinya. Langgar tersebut akhirnya digunakan sebagai tempat untuk mengajarkan Islam di daerah Sendang Duwur. Ketelatenan Sunan Sendang dalam mengajarkan Islam di daerah tersebut, akhirnya lambat laun semakin bertambah penduduk setempat yang belajar Islam dan mengaji di langgar tersebut.
Sepeninggal Sunan Sendang, langgar tersebut dipelihara dan di rawat para santri yang pernah berguru kepada Sunan Sendang hingga beranak pinak. Sekarang langgar tersebut menjadi sebuah masjid yang bernama Masjid Nur Rahmat Sendang Duwur.
Bangunan masjid ini memiliki atap yang berbentuk tajug tumpang tiga dengan mustaka di puncaknya. Atap puncak masjid bertutupkan kayu sirap. Tumpang di bawahnya menggunakan genteng dan telah terjadi perombakan beberapa kali. Masjid ini memiliki ruang utama berukuran 16 x 16 m, yang dibatasi oleh empat dinding dari tembok. Di dalam ruang utama terdapat 17 buah tiang kayu, yaitu empat buah tiang di tengah-tengah, empat tiang sebelah timur, tiga tiang masing-masing di utara, barat, dan selatan. Di dalam ruang utama terdapat mihrab, mimbar dan maksurah, dan dekat pintu masuk ke ruang utama masjid ini terdapat tangga ke tumpang.
Masjid ini mengalami renovasi dengani timur terdapat s menambah serambi masjid di sebelah timur, utara, dan selatan. Serambi ini terbuat dari beton. Di dalam serambi ada dua bedug yang ditopang oleh rangka kayu. Di sebelah timur serambi masih tersisa lahan untuk halaman masjid yang diberi pagar tralis. Halaman masjid tersebut ada 3 gentong besar yang separuh badannya ditanam di tanah. Dulu gentong tersebut digunakan untuk menyimpan air yang akan dipakai untuk berwudlu. Airnya diambil dari sendang, terus di bawa ke atas, dan dimasukkan dalam gentong tersebut. *** [071115]

Share:

Makam Sunan Drajat

Kabupaten Lamongan mempunyai beberapa sumberdaya arkeologi masa Islam yang disakralkan yang digunakan sebagai destinasi wisata religi. Hal ini tidak terlepas dari adanya aktivitas penyebaran agama Islam di Lamongan yang dilakukan oleh Mbah Banjar, Mbah Mayang Madu, Sunan Drajat, dan Sunan Sendang Duwur.
Namun diakui, sumberdaya arkeologi masa Islam di Lamongan masih terpusat pada kompleks dan makam Sunan Drajat. Makam ini terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi makam ini berada di sebelah barat Museum Sunan Drajat.
Sunan Drajat adalah salah seorang putra Sunan Ampel dari perkawinannya dengan Nyi Ageng Manila atau dikenal juga dengan Dewi Condrowati, yang lahir pada tahun 1470 Masehi. Sewaktu masih kecil, ia dikenal sebagai Raden Qosim. Raden Qosim menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampel Denta, Surabaya dengan mengaji kepada ayahandanya yang sekaligus juga gurunya. Setelah dewasa, Raden Qosim diperintah oleh ayahandanya, Sunan Ampel, untuk melakukan dakwah di pesisir barat Gresik, yaitu daerah kosong dari ulama besar antara Tuban dan Gresik, dan sekaligus membantu Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu dalam menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.
Dikisahkan, Raden Qosim mulai perjalanannya dengan biduk nelayan dari Gresik sesudah ia singgah di tempat Sunan Giri. Dalam perjalanannya ke arah barat tersebut, perahu yang ditumpangi Raden Qosim terdapat lima awak perahu yang siap mengantarkannya. Menurut kepercayaan yang dianut oleh lima awak kapal tersebut, Laut Jawa yang dilayarinya itu mempunyai Dayang yang mbaureksa (menguasai dan mengatur) atau yang berkuasa adalah Dewa Baruna.


Oleh karena, para awak perahu yang juga nelayan itu harus memberi sesaji dan menyebarkan bunga yang semerbak bau wanginya agar laut bersahabat baik terhadap para nelayan dan memberi hasil yang berlimpah-limpah. Melihat hal itu, Raden Qosim menjelaskan hal itu semua menurut ajaran Islam terutama pengertian mengenai Sang Hyang Widi. Pada penjelasan ini, Raden Qosim memperkenalkan perihal Tuhan Yang Maha Esa, dan sekaligus mengajarkan bagaimana caranya sembah bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan melalui menjalankan rukun Islam. Raden Qosim mulai menjelaskan siapa yang tidak percaya dan menghina Tuhan Yang Maha Esa akan mendapatkan malapetaka.
Pada waktu Raden Qosim menjelaskan di perahu yang ditumpangi, awak perahu merupakan nelayan yang bengal dan tidak percaya kepada uraian Raden Qosim tersebut. Mereka malah mencemooh penjelasan Raden Qosim, dan pada pencomoohan yang terakhir tergoncanglah perahu tersebut. Isi perahu tercerai berai dan para penumpangnya terlempar ke laut. Kelima awak perahu timbul tenggelam dipermainkan ombak dan terkatung-katung dibawa ombak yang tak tentu arah. Mereka terheran-heran melihat Raden Qosim yang selalu berbicara tentang Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai orang daratan yang tidak bisa berenang serta belum pernah melihat lautan malah selamat dari permainan ombak tersebut.
Raden Qosim atas pertolongan Allah SWT, ditolong oleh ikan hiu yang diiringi ikan talang langsung menuju pantai. Dengan naik punggung ikan tersebut, ia selamat mencapai pantai dan mendarat di suatu kelompok perumahan. Di perkampungan tersebut, Raden Qosim disambut dengan antusias oleh orang kampung beserta tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu yang didampingi oleh Mbah Banjar, dan untuk sementara Raden Qosim tinggal di rumah pemangku kampung yang bernama Mbah Mayang Madu. Perkampungan ini merupakan rumah-rumah para nelayan, yang menurut ceritera rumah-rumah tersebut berjumlah 17 rumah dalam keadaan yang sangat menyedihkan atau memprihatinkan karena sangat sederhana sekali dan pedukuhan ini dinamai Jelak.


Selang lima hari sejak kedatangan Raden Qosim, perkampungan tersebut menjadi gempar karena ada lima orang terdampar dalam keadaan yang menyedihkan di tepi pantai. Ternyata mereka adalah awak perahu yang pernah ditumpangi Raden Qosim. Lalu, mereka ditolong penduduk setempat dan setelah keadaannya berangsur baik serta tahu kalau di tempat itu juga ada orang yang mendarat di tempat yang sama dengan menunggangi ikan hiu, maka mereka bersama-sama berusaha menemui Raden Qosim di rumah Mbah Mayang Madu. Setelah bertemu dengan Raden Qosim, bersimpuhlah mereka dan meminta ampun serta bertobat. Orang kampung yang melihatnya merasa heran dan terperanjat setelah mendapat keterangan bahwa Raden Qosim adalah seorang ulama penyebar agama baru, yaitu Islam.
Selama menetap di Kampung Jelak, Raden Qosim dinikahkan dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qosim mendirikan sebuah surau untuk mengumpulkan orang-orang kampung, mengajari agama Islam, dan beribadah. Surau tersebut akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk, dan diberi nama Pesantren Sunan Drajat.
Kampung Jelak yang semula hanyalah sebuah dusun kecil dan terpencil, lambat laut berkembang menjadi kampung yang besar dan ramai. Namanya pun berubah menjadi Banjaranyar. Kemudian, selang tiga tahun tinggal di Jelak, Raden Qosim berusaha mencari tempat sebagai pusat kegiatan dakwahnya ke arah selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak. Pencarian tempat baru ini didasari pertimbangan mencari tempat lebih tinggi yang menurut kepercayaan masyarakat pada waktu merupakan tempat yang sakral atau disucikan, dan tentunya terbebas dari banjir pada musim hujan.
Setelah mendapat izin dari Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan, Raden Qosim pun dengan dibantu oleh sejumlah muridnya yang ada di Kampung Jelag melakukan babat alas (membuka hutan belantara) yang dikenal penduduk sebagai daerah angker.
Alhasil, lahan seluas 9 hektar yang dibuka tersebut dibuatlah permukiman serta padepokan yang digunakan untuk tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk. Dari atas bukit tersebut, Raden Qosim menghabiskan waktunya dalam menjalankan dakwahnya. Dari sinilah orang-orang menamakannya dengan istilah Kadrajat, yang artinya kederajatan Raden Qosim menjadi bertambah tinggi. Ihwal itulah, yang kemudian daerah tersebut terkenal dengan sebutan Drajat, dan akhirnya menjadi nama desa hingga sekarang. Sedangkan, Raden Qosim yang menjadi cikal bakal membuka lahan tersebut dan akhirnya mengajarkan Islam di daerah tersebut diberi gelar nama baru sebagai Sunan Drajat, dan sekaligus menjadi salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
Dalam berdakwah, Sunan Drajat menyesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat setempat pada waktu itu. Untuk mengajak masyarakat setempat agar mau berkunjung ke surau yang didirikannya itu, Sunan Drajat sering melantunkan tembang dengan diiringi gamelan pada awalnya. Karena pada waktu itu, prasarana yang digemari oleh masyarakat adalah gamelan dan tembang. Sunan Drajat pun akhirnya menggubah tembang-tembang yang terkanal dengan tembang Pangkur. Pangkur artinya Pangudi Isine Al-Qur’an. Tembang tersebut dikumandangkan dengan membeberkan dan menceriterakan segala apa yang ada dalam Al-Qur’an atau syair-syair yang bersumber dari ajaran Al-Qur’an.
Setelah menembang, Sunan Drajat selalu memberikan wejangan baik terhadap masyarakat desa pada umumnya miskin untuk selau memiliki rasa gotong-royong, rasa persaudaraan dan rasa asih-asuh serta welas terhadap sesama. Dalam mewujudkan semua itu, Sunan Drajat mengajarkan sikap kepada penduduk setempat agar:

Memangun resep teyasing sasomo
(kita selalu membuat senang hati orang lain)

Jroning suko kudu eling lan waspodo
(di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)

Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah
(dalam perjalanan untuk mencapai cita-cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)

Meper Hardaning Pancadriya
(kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)

Heneng-Hening-Henung
(dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur)

Mulyo guno Panca Waktu
(suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan shalat lima waktu)

Menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe, menehono busono marang wong kang wudo, menehono ngiyup marang wong kang kodanan
(Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan kepada orang yang menderita)

Ajaran-ajaran yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits tersebut, akhirnya berkembang di Paciran. Lambat laun, penduduk desa menerimanya dengan suka cita. Biasanya selepas pulang dari sawah, tegalan maupun lautan bagi yang nelayan akan naik ke bukit tersebut untuk berguru kepada Sunan Drajat.
Setelah Sunan Drajat wafat, beliau dimakamkan di dalam lingkungan padepokan atau pondok pesantren mini yang didirikan di atas bukit tersebut. Bekas pusat dakwah milik Sunan Drajat inilah yang sekarang dikenal dengan kompleks makam Sunan Drajat, yang banyak diziarahi oleh masyarakat dari berbagai daerah.
Kepurbakalaan kompleks makam Sunan Drajat ini keseluruhan bangunannya berlokasi di atas perbukitan kecil, sedang makam utamanya berada di bagian paling tinggi dan pada posisi belakang. Peziarah bisa mengunjungi makam tersebut melalui pintu yang berada di selatan. Bagi yang rombongan naik bis, dari parkir di sisi timur makam berjalan menuju ke selatan. Sedangkan, bagi pengendara sepeda motor bisa diparkir tepat di depan pintu masuk makam.
Menuju makam Sunan Drajat, peziarah akan melewati pintu gapura terbuat dari kayu berbentuk paduraksa, dengan ukuran tinggi 170 cm dan lebar 145 cm. Pintu gapura ini dikelilingi pagar-pagar kayu yang terartur rapi. Kemudian peziarah akan dipandu dengan jalan setapak dan sejumlah atribut tulisan penunjuk arah.
Selurus pintu gapura, peziarah akan menemui sebuah pendopo. Pendopo ini berfungsi untuk tempat melepas sandal atau sepatu bagi para pengunjung yang akan berziarah ke makam Sunan Drajat. Pendopo ini berukuran panjang 10 meter dan lebar 6 meter. Di kanan kiri pendopo ini terdapat makam lama yang diperkirakan adalah para santri Sunan Drajat selama berguru di bukit ini.
Setelah melewati pendopo, peziarah akan melewati gapura berbentuk candi bentar yang sudah tidak utuh lagi, dan terbuat dari batu bata. Candi bentar merupakan bangunan bagian candi yang berbentuk gapura yang terbelah secara sempurna tanpa penghubung pada bagian atas. Candi bentar telah ditemukan pada masa Hindu-Buddha, yaitu pada masa Majapahit yang kemudian berkelanjutan pada masa Islam. Berdasarkan maknanya, candi bentar mempunyai makna antara lain konsep penciptaan manusia dan sebagai pintu keluar dan pintu masuk menuju tempat yang dianggap suci atau sakral. Memasuki candi bentar ini, peziarah akan melewati tujuh tangga.
Di sebelah timur gapura bentar terdapat balai rante. Bangunan ini beratap sirap, dan bertiang 6 buah. Keseluruhan balai rante ini terbuat dari kayu. Konon, balai rante ini berasal dari Kerajaan Majapahit. Dikisahkan, setelah Kerajaan Majapahit mulai mengalami masa suram, maka tatanan pemerintahan pusat kacau. Sehingga, banyak merajalela pencurian dan perampokan termasuk hilangnya dua benda pusaka kerajaan yang dianggap sakral, yaitu balai rante dan bayang gambang. Beberapa tahun kemudian, benda peninggalan Majapahit tersebut ditemukan di tepi laut pesisir pantai utara, tepatnya di wilayah Desa Kemantren, Kecamatan Paciran. Akhirnya penduduk Kemantren menyerahkan balai rante ke Desa Drajat, sedangkan bayang gambang dipelihara dalam kompleks Masjid Jami’ Desa Kemantren hingga sekarang.
Langkah peziarah berikutnya adalah tangga yang terbuat dari bebatuan kapur sebanyak 10 undakan atau tangga. Sepuluh tangga ini diapit oleh gapura berbentuk paduraksa, namun gapuranya sudah rusak akibat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1950. Setelah melewati gapura paduraksa ini, peziarah lanjut mendaki lagi dengan menaiki 3 undakan (anak tangga). Pada halaman ini terdapat bangunan berbentuk pendopo joglo yang tinggi dan luas di mana di tengah-tengahnya terdapat bangunan makam Sunan Drajat berbentuk cungkup yang beratap sirap dengan hiasan memolo atau mustaka di puncaknya.
Secara arsitektural, bentuk bangunan makam Sunan Drajat dibagi menjadi dua bagian, yaitu cungkup utama dan sitihinggil. Di dalam bangunan cungkup terdapat ruangan, yaitu ruang dalam tempat makam Sunan Drajat dan isterinya, dan ruang langkan yang berfungsi sebagai tempat berdoa para peziarah.
Jadi, cungkup yang merupakan bangunan utama makam Sunan Drajat ini terletak pada halaman paling belakang sebagai bangunan tersakral. Denah ini mengadopsi sistem punden berundak hasil akulturasi dari kepercayaan masyarakat sebelumnya, yaitu Hindu dan Buddha, di mana tempat yang paling tinggi merupakan tempat tersakral.
Setelah rangkaian nyekar Sunan Drajat paripurna, peziarah bisa menuju ke arah timut cungkup. Di situ ada replika surau yang didirikan oleh Sunan Drajat dan santrinya di lokasi asal surau tersebut. Di sebelah utara surau, terdapat sumur yang konon dibuat oleh Sunan Drajat. Di sekitaran surau dan sumur ini, udara terasa sejuk sekali karena adanya pohon beringin besar nan rindang.
Sambil menuju pintu keluar makam, peziarah akan melewati sebuah museum. Museum tersebut bernama Museum Khusus sunan Drajat. Dinamakan demikian karena koleksi yang dipamerkan pada museum tersebut berhubungan dengan Sunan Drajat. Peziarah bisa masuk ke dalam museum tersebut secara gratis, tapi bila tidak berkenan, peziarah bisa langsung keluar dari kompleks makam Sunan Drajat karena pintu keluarnya kebetulan berada di depan museum tersebut.
Pada pintu keluar ini, peziarah akan menuruni tangga yang kemudian terhubungan dengan halaman parkir yang sangat luas. Di antara undakan dengan halaman parkir tersebut, terdapat beberapa kios cindera mata maupun warung makan yang telah disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan. *** [071115]

Share:

Museum Khusus Sunan Drajat

Museum Khusus Sunan Drajat, atau yang selanjutnya disebut Museum Sunan Drajat saja merupakan salah satu Museum Daerah yang terdapat di Provinsi Jawa Timur, dan merupakan satu-satunya museum yang berada di Kabupaten Lamongan untuk saat ini. Museum ini terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di lingkungan makam Sunan Drajat, atau tepatnya berada di sebelah timur cungkup makam Sunan Drajat.
Museum ini mulai dibangun pada tahun 1991, dan selesai pada tahun 1992. Diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur pada 1 Maret 1992, dan mulai berfungsi pada 30 Maret 1992. Ide awal mendirikan museum ini diprakarsai oleh Bupati Kabupaten Lamongan, H.R. Mohamad Faried, S.H., untuk menghormati jasa-jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan, dan sekaligus untuk melestarikan budaya serta benda-benda bersejarah peninggalannya, keluarga, dan para sahabatnya yang berjasa untuk penyiaran agama Islam. Itulah kenapa dinamakan Museum Khusus, karena koleksi museum ini terdiri dari kumpulan bukti material manusia atau lingkungannya yang berkaitan dengan dakwah Sunan Drajat.
Bangunan Museum Sunan Drajat cukup sederhana. Atapnya menunjukkan gaya arsitektur joglo Jawa Timur, namun bagian ruangannya sudah berdinding tembok semua. Ruangannya tidak terlalu luas dan tidak bersekat sehingga semua koleksi museum ini berada dalam satu ruangan.


Memasuki museum ini, pengunjung akan langsung menatap sebuah bedug besar yang diletakkan di tengah ruang pamer museum ini. Lantainya yang digunakan untuk meletakkan bedug tersebut berbentuk oktagonal, sehingga pengunjung diharapkan akan mengikuti pajangan koleksi yang ada di museum ini. Bedug adalah alat bunyi yang terbuat dari kayu dan kulit, yang digunakan sebagai tanda waktu melaksanakan ibadah shalat bagi umat Islam. Bedug ini dibuat oleh Pangeran Wonotirto, keturunan Sunan Drajat ke III sekitar abad ke-17.
Setelah bedug, pengunjung akan melihat-lihat koleksi museum ini searah jarum jam. Pajangan pertama setelah bedug, pengunjung akan menemukan koleksi Fragmen Unsur Bangunan Masjid Sendang Duwur. Menurut legendanya, masjid Sendang Duwur adalah pemberian Mbok Rondo Mantingan dari Jepara kepada Raden Nur Rahmat (Sunan Sendang) sekitar abad 15. Konon, pemindahannya hanya memerlukan waktu satu malam.
Koleksi berikutnya adalah Keramik Asing. Keramik merupakan salah satu komoditi perdagangan sejak zaman dahulu. Dari sumber berita Tiongkok abad ke-10 – 18, dapat diketahui bahwa masyarakat Jawa pada saat itu sangat menggemari keramik. Jenis yang banyak ditemukan adalah guci, mengkok, vas bunga, sloki, piring, dan sebagainya. Di depan keramik ini, ada koleksi Kitab Amhjah dan Naskah Lontar. Kitab Amhjah berisi tentang sejarah dan hikayat 25 Rasul pilihan Allah SWT. Kitab yang berbahan kulit ini biasanya digunakan oleh sahabat Sunan Drajat untuk mengajar mengaji para pengikutnya. Sedangkan, naskah lontar yang ada terbuat dari lontar dan kayu. Naskah lontar ini memakai huruf Jawa baru, dan berisi Serat Yusuf dalam bentuk tembang macapat.


Lanjut ke pajangan koleksi berikutnya adalah Gamelan Singo Mengkok, Peralatan Kentrung, dan Alat Woro-woro. Gamelan Singo Mengkok merupakan seperangkat gamelan sebagai syiar agama Islam di daerah Paciran. Dahulu para sahabat Sunan Drajat mengiringi tembang Pangkur (Panguti Isine Al-Qur’an) ciptaan Sunan Drajat pada abad ke-16. Ukiran Singo Mengkok adalah ukiran berupa wujud singa yang duduk dengan sikap siap menerkam. Kesenian ini adalah sebuah akulturasi dari budaya Hindu Buddha dan Islam, mengingat masyarakat sekitar adalah pemeluk agama Hindu. Agar mudah diterima masyarakat sehingga gamelan tersebut dinamakan Singo Mengkok sebagai lambang kearifan, kelembutan, nafsu dan kesempurnaan manusia.
Peralatan kentrung yang dipamerkan berupa terbang dan jedor. Pada zaman dahulu, peralatan ini digunakan untuk media dakwah penyebaran agama Islam, yaitu sebagai pengiring pesan atau tutur. Biasanya menceriterakan kisah Nabi-Nabi serta ceritera yang ada di dalam kitab suci Al-Qur’an. Sedangkan, alat woro-woro adalah alat yang digunakan oleh santri Sunan Drajat dalam mengabarkan sesuatu atau memberi pengumuman, sesuai yang terpajang dalam museum ini adalah kentongan dan bende.
Koleksi berikutnya adalah genta gantung, jadug, batik Drajat, dan tombak. Genta gantung merupakan salah satu perlengkapan upacara dalam agama Hindu atau Buddha. Genta ini ditemukan di Desa Candisari, Kecamatan Sambeng, pada 6 November 1991, dan terbuat dari bahan perunggu. Sebelum agama Islam masuk ke Paciran, masyarakatnya masih banyak yang memeluk agama Hindu sehingga penemuan genta ini merupakan hal yang lumrah. Jadug, atau cuplek adalah tempat lampu ublik (pelita) yang digunakan untuk penerangan mengaji Sunan Drajat.
Batik Drajat adalah rangkaian motif dan perlambang flora dan fauna yang mempunyai makna hubungan vertikal dan horisontal. Motif batik Drajat terdiri atas bunga teratai, burung garuda, singa, mahkota dan kubah masjid. Sulur bunga teratai atau lotus, di dalam mitologi Jawa Kuno atau dalam khasanah budaya pra Islam memiliki makna lambang kelanggengan atau keabadian, kesucian, dan kebangkitan kembali. Burung garuda, dalam ekspresi budaya Jawa merupakan penggambaran salah satu dari delapan sifat kepemimpinan, yang biasa disebut dengan Asta Brata. Asta Brata ini merupakan ajaran keutamaan yang bijaksana, lebih mementingkan jagad (negara) di atas kepentingan pribadi. Binatang singa, dalam mitologi setempat dipenuhi atau diilhami sifat kebijaksanaan sebagai penangkal watak dan perilaku jahat. Sedangkan, mahkota dan kubah masjid melambangkan kekuasaan jagad atau negara serta simbol dan perlambang keesaan Tuhan.
Tepat di depan batik Drajat, atau di belakang bedug, terdapat koleksi beberapa pusaka, seperti tongkat, pedang suduk bliring wedok, dan mata tombak. Tongkat yang dipamerkan dalam museum ini terdiri atas tongkat yang terbuat dari besi dan yang terbuat dari bahan kayu. Tongkat ini umumnya digunakan oleh santri pengikut Sunan Drajat pada waktu menyebarkan agama Islam.
Melangkah lagi usai menikmati koleksi pusaka, pengunjung bisa menyaksikan kayu pagar pacak suci, kursi goyang kuno, padupan, kotak botekan, genteng sirap, sangku, pipisan, ukiran kayu, dan jadug panjang. Kayu pagar pacak suci merupakan bagian dari pagar yang ada di depan makam Sunan Drajat yang terbuat kayu. Kursi goyang merupakan salah satu peninggalan Sunan Drajat yang digunakan pada saat istirahat. Kursi ini bahannya dari kayu jati, dan dibuat pada abad ke-14. Koleksi padupan yang dimiliki museum ini terbuat dari tanah liat, yang dipergunakan untuk tempat membakar dupa pada saat berlangsung acara Maulud Nabi sehingga ruangan berbau harum. Sedangkan, sangku peninggalan Sunan Drajat terbuat dari tembaga sebagai alat takaran beras Sunan Drajat dalam membagikan zakat fitrah pada hari raya Idul Fitri. Pipisan merupakan alat perlengkapan rumah tangga yang digunakan untuk menumbuk racikan jamu.
Selain itu, pada outlet pajangan yang sama terdapat makna filosofis tujuh sap tangga menuju makam sitihinggil Sunan Drajat. Sap tangga kesatu adalah memangun resep teyasing sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain. Jroning suku kudu eling lan waspodo, merupakan makna filosofis pada sap tangga kedua, yang artinya dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada. Makna filosofis sap tangga ketiga adalah laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayangin lampah, yang berarti dalam perjalanan untuk mencapai cita-cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan. Sap keempat adalah memper harsaning pancadriya, yang bermakna kita harus elalu menekan gelora nafsu-nafsu.
Heneng-hening-henung, merupakan filosofi kelima yang memiliki makna bahwa dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur. Sap tangga keenam berbunyi mulyo guno panca waktu, yang artinya suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan shalat lima waktu. Dan, sap tangga ketujuh atau sap yang terakhir berbunyi menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe, menehono busono marang wong kang wudo, dan menehono ngiyup marang wong kang kudanan. Artinya, beri ilmu agar orang menjadi pandai, sejahterakan kehidupan masyarakat yang miskin, ajarilah kesusilaan orang yang tidak punya malu, dan berilah perlindungan orang yang menderita.
Setelah ini, pengunjung akan menemui koleksi keramik asing lagi yang di depannya terdapat pajangan koleksi kitab Al-Qur’an yang dibuat pada zaman Sunan Drajat pada abad ke-16, dan ditulis tangan. Kitab yang terbuat dari kulit domba ini, dulu digunakan oleh Sunan Drajat untuk mengajar mengaji para sahabat dan pengikutnya.
Koleksi yang dipamerkan berikutnya adalah koleksi batu, koin, keramik, dan fosil. Koleksi batu yang ada, meliputi batu relief, lumpang, dan batu bencet. Koleksi koin berupa mata uang Tiongkok yang berjumlah sekitar 423 yang terbuat dari perunggu. Koleksi keramik pada pajangan ini, terdiri atas fragmen gerabah, fragmen kerang, dan guci atau tempayan. Sedangkan, pada koleksi fosil kebanyakan adalah fosil kerang.
Usai koleksi ini, pengunjung bisa mengakhiri dalam melihat-lihat koleksi yang dimiliki oleh Museum Sunan Drajat ini, dan keluar dari ruang pamer tersebut melalui pintu yang sama, yaitu pintu utama museum.
Kehadiran Museum Sunan Drajat ini merupakan langkah baik yang telah diciptakan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam menghormati kulturnya, dan sekaligus untuk menyelamatkan warisan budaya bendawi yang ada di Kabupaten Lamongan. *** [071115]
Share:

Prasasti Patakan

Prasasti Patakan ditemukan di Desa Patakan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, dan diperkirakan dibuat pada abad 11 M (masa pemerintahan Raja Airlangga). Prasasti ini terbuat dari batu andesit tinggi 104 cm, lebar atas 90 cm, lebar bawah 80 cm, tebal 24 cm, dan menggunakan huruf Jawa Kuno. Prasasti ini sekarang menjadi koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.22.


Prasasti ini mengisahkan tentang adanya bangunan suci yang didirikan di Desa Patakan, sehingga daerah Patakan diresmikan menjadi sima karena harus memelihara bangunan suci Sanghyang Patahunan. ***
Share:

Prasasti Biluluk

Prasasti Biluluk terdiri dari empat lempeng tembaga dengan aksara dan bahasa Jawa Kuna. Prasasti ini terdiri atas:
  • ·         Biluluk I berangka tahun 1288 Saka (1366 M)
  • ·         Biluluk II berangka tahun 1315 Saka (1383 M)
  • ·         Biluluk III beangka tahun 1317 Saka (1385 M)
  • ·         Biluluk IV tidak berangka tahun
Isi prasasti Biluluk I sampai III sama, yaitu menyebutkan hak-hak yang dimiliki oleh Desa Biluluk dan Tanggulan. Pada prasasti keempat, selain menyebutkan nama Desa Biluluk dan Tanggulan, juga menyebutkan nama satu desa lagi, yakni Desa Papadang.
Selain itu, dari prasasti Biluluk I diketahui adanya keterangan mengenai pembuatan garam di daerah pesisir. Dalam prasasti tersebut, disebutkan adanya sumber air asin di Desa Biluluk, tempat orang-orang membuat garam. Setiap pendatang diperbolehkan membuat garam di tempat itu dengan membayar sejumlah pajak tertentu yang ditarik oleh penguasa Desa Biluluk.
Prasasti Biluluk I ditemukan di Desa Bluluk, Lamongan, Jawa Timur, yang merupakan daerah pesisir. Sampai saat ini di beberapa desa di wilayah Lamongan, penduduknya masih ada yang membuat garam sebagai komoditi perdagangan. ***

Sumber:

  • Titi Surti Nastiti, 2003, Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII – XI Masehi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya. Hal. 89
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami