Selasa, 29 Desember 2015

Masjid Nur Rahmat Sendang Duwur

Atas informasi dan hantaran dari seorang teman asal Paciran, sampailah kami di sebuah masjid lawas yang berada di atas bukit. Dengan menaiki sekitar 25 undakan (anak tangga), kami memasuki halaman masjid yang berujud paving block atau conblock sehingga kelihatan bersih dan teratur.
Saat kunjungan ke masjid tersebut, suasana masjid cukuplah ramai karena kebetulan akan dilangsungkan shalat jenazah terhadap salah satu warga setempat yang meninggal karena kecelakaan di daerah Jember dalam perjalanan mengurus sekolah. Dari niat ingin melakukan shalat dhuhur, harus pending untuk mengikuti rangkaian shalat jenazah dulu.
Kami pun akhirnya mengambil air wudlu yang lokasinya berada di sebelah kiri. Pada saat mau masuk masjid, terlihat tulisan Arab berwarna putih dengan background warna hijau yang di pasang di atas pelisir bangunan sebelum memasuki serambi masjid. Tulisan Arab tersebut berbunyi Masjid Nur Rahmat Sendang Duwur. Masjid ini terletak di Jalan Nur Rahmat, Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi masjid ini berbatasan dengan rumah penduduk di sebelah timur, di sebelah barat dan utara berbatasan dengan kompleks makam Waliyullah Sunan Sendang Raden Nur Rahmat, dan di sebelah selatan dengan pemakaman umum.
Keingintahuan kami akan riwayat masjid ini, menyebabkan kami harus mengikuti prosesi shalat jenazah sampai akhir yang kemudian dilanjutkan shalat dhuhur berjamaah dengan teman yang mengantar saya. Jadi, kami harus berlama-lama sedikit di masjid tersebut.


Menurut riwayatnya, masjid ini didirikan oleh Raden Nur Rahmat pada tahun 1561 M dengan candrasengkala (kronogram) yang berbunyi Gunaning Sarira Tirta Hayu. Candrasengkala adalah rumusan tahun dengan kata-kata yang setiap kata melambangkan angka, dibaca dari depan dan ditafsirkan dari belakang. Kronogram Jawa ini menggunakan sistem perhitungan bulan. Pembuatan candrasengkala biasanya juga dihubungkan dengan suatu kejadian atau kondisi masyarakat pada waktu itu.
Jadi, candrasengkala yang ditemukan pada pahatan dalam masjid Nur Rahmat ini menunjukkan bahwa masa pembuatan masjid tersebut. Gunaning = 3, Sarira = 8, Tirta = 4, dan Hayu = 1. Sesuai aturan penafsirannya maka candrasengkala tersebut berarti tahun 1483 Saka, yang bila dikonversi ke dalam tahun Masehi menunjukkan tahun 1561. Sedangkan, candrasengkala tersebut juga menjelaskan bahwa pada waktu itu daerah tersebut sangatlah sulit air sehingga untuk membangun sebuah masjid haruslah ada air yang cukup untuk melaksanakan shalat. “Badan manusia akan selamat kalau dibasuh dengan air.” Artinya, manusia hendaknya senantiasa berwudlu, terus melakukan shalat jika hidupnya ingin selamat.
Raden Nur Rahmat lahir pada tahun 1320 M di Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan. Ia adalah putra Raden Abdul Kohar bin Malik bin Syekh Abu Yazid Al Baghdadi. Syekh Abu Yazid Al Baghdadi adalah seorang ulama terkenal yang berasal dari Baghdad (Irak), sehingga Raden Nur Rahmat masih memiliki darah seorang ulama dari Baghdad.
Pada saat Raden Nur Rahmat melakukan dakwah di daerah Bukit Tunon, kharisma ulama muda ini sampai terdengar kepada Sunan Drajat. Sunan Drajat pun akhirnya berkeinginan menemuinya. Setelah berdialog dan menguji kesaktian Raden Nur Rahmat, Sunan Drajat merasa yakin akan kemampuan Raden Nur Rahmat dalam mengajarkan agama Islam di daerah tersebut. Sunan Drajat pun berkenan membantu Raden Nur Rahmat dengan menunjukkan bahwa di sela bebatuan tersebut terdapat sumber mata air yang melimpah (membentuk sendang atau semacam kolam kecil). Setelah itu, Raden Nur Rahmat diberi gelar dengan sebutan Sunan Sendang oleh Sunan Drajat. Lalu, diperintahkanlah Sunan Sendang Duwur pergi ke Mantingan, Jepara, untuk membeli Langgar Mbok Rondo Mantingan (Ratu Kalinyamat) dengan membawa uang sajuta salebak, artinya pada saat itu uang tersebut hanya berupa nominal uang lokal pada zaman itu dan tidak bisa dirupiahkan.


Dalam perjalanannya Sunan Sendang berhasil menemui Mbok Rondo Mantingan, dan menyatakan maksud kedatangannya. Namun, mendapat jawaban dari Mbok Rondo Mantingan tersebut bahwa langgarnya tidak dijual dan tidak boleh dibeli. Kemudian Sunan Sendang pulang ke Paciran dengan bersedih karena tugas yang diembannya tidak berhasil.
Suatu hari Sunan Sendang sedang tertidur. Dalam tidurnya itu, ia didatangi oleh Sunan Kalijaga dan membangunkannya. Setelah Sunan Kalijaga memberikan nasihat kepadanya, kemudian Sunan Sendang berangkat lagi ke Mantingan, Jepara, untuk menemui Mbok Rondo kembali. Pada waktu kunjungan yang kedua ini, ternyata Mbok Rondo justru berkenan mengabulkan permintaan Sunan Sendang, bahkan tidak usah dibeli tapi diberikan dengan begitu saja asal Sunan Sendang dapat mengangkat bangunan itu dan memindahkannya. Sunan Sendang kemudian bermunajat kepada Allah SWT, dan lalu memboyong langgar dari Mantingan ke Sendang Duwur. Dalam proses memboyong langgar ke Sendang Duwur itu ada sebuah pintu yang jatuh di Paciran (beberapa waktu lalu pintu tersebut masih disimpan di Masjid Paciran). Peristiwa tersebut diabadikan penduduk setempat untuk menamai Desa Paciran, karena secara historis di lokasi tersebut ada sebagian dari bangunan langgar berupa pacira, seperti ampik-ampik omah (Jawa) yang cicir (jatuh).
Setelah langgar milik Mbok Rondo Mantingan tersebut berhasil diletakkan di atas Bukit Tunon, maka jadilah bangunan langgar seperti aslinya. Langgar tersebut akhirnya digunakan sebagai tempat untuk mengajarkan Islam di daerah Sendang Duwur. Ketelatenan Sunan Sendang dalam mengajarkan Islam di daerah tersebut, akhirnya lambat laun semakin bertambah penduduk setempat yang belajar Islam dan mengaji di langgar tersebut.
Sepeninggal Sunan Sendang, langgar tersebut dipelihara dan di rawat para santri yang pernah berguru kepada Sunan Sendang hingga beranak pinak. Sekarang langgar tersebut menjadi sebuah masjid yang bernama Masjid Nur Rahmat Sendang Duwur.
Bangunan masjid ini memiliki atap yang berbentuk tajug tumpang tiga dengan mustaka di puncaknya. Atap puncak masjid bertutupkan kayu sirap. Tumpang di bawahnya menggunakan genteng dan telah terjadi perombakan beberapa kali. Masjid ini memiliki ruang utama berukuran 16 x 16 m, yang dibatasi oleh empat dinding dari tembok. Di dalam ruang utama terdapat 17 buah tiang kayu, yaitu empat buah tiang di tengah-tengah, empat tiang sebelah timur, tiga tiang masing-masing di utara, barat, dan selatan. Di dalam ruang utama terdapat mihrab, mimbar dan maksurah, dan dekat pintu masuk ke ruang utama masjid ini terdapat tangga ke tumpang.
Masjid ini mengalami renovasi dengani timur terdapat s menambah serambi masjid di sebelah timur, utara, dan selatan. Serambi ini terbuat dari beton. Di dalam serambi ada dua bedug yang ditopang oleh rangka kayu. Di sebelah timur serambi masih tersisa lahan untuk halaman masjid yang diberi pagar tralis. Halaman masjid tersebut ada 3 gentong besar yang separuh badannya ditanam di tanah. Dulu gentong tersebut digunakan untuk menyimpan air yang akan dipakai untuk berwudlu. Airnya diambil dari sendang, terus di bawa ke atas, dan dimasukkan dalam gentong tersebut. *** [071115]

0 komentar:

Posting Komentar