Minggu, 20 Desember 2015

Makam Sunan Drajat

Kabupaten Lamongan mempunyai beberapa sumberdaya arkeologi masa Islam yang disakralkan yang digunakan sebagai destinasi wisata religi. Hal ini tidak terlepas dari adanya aktivitas penyebaran agama Islam di Lamongan yang dilakukan oleh Mbah Banjar, Mbah Mayang Madu, Sunan Drajat, dan Sunan Sendang Duwur.
Namun diakui, sumberdaya arkeologi masa Islam di Lamongan masih terpusat pada kompleks dan makam Sunan Drajat. Makam ini terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi makam ini berada di sebelah barat Museum Sunan Drajat.
Sunan Drajat adalah salah seorang putra Sunan Ampel dari perkawinannya dengan Nyi Ageng Manila atau dikenal juga dengan Dewi Condrowati, yang lahir pada tahun 1470 Masehi. Sewaktu masih kecil, ia dikenal sebagai Raden Qosim. Raden Qosim menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampel Denta, Surabaya dengan mengaji kepada ayahandanya yang sekaligus juga gurunya. Setelah dewasa, Raden Qosim diperintah oleh ayahandanya, Sunan Ampel, untuk melakukan dakwah di pesisir barat Gresik, yaitu daerah kosong dari ulama besar antara Tuban dan Gresik, dan sekaligus membantu Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu dalam menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.
Dikisahkan, Raden Qosim mulai perjalanannya dengan biduk nelayan dari Gresik sesudah ia singgah di tempat Sunan Giri. Dalam perjalanannya ke arah barat tersebut, perahu yang ditumpangi Raden Qosim terdapat lima awak perahu yang siap mengantarkannya. Menurut kepercayaan yang dianut oleh lima awak kapal tersebut, Laut Jawa yang dilayarinya itu mempunyai Dayang yang mbaureksa (menguasai dan mengatur) atau yang berkuasa adalah Dewa Baruna.


Oleh karena, para awak perahu yang juga nelayan itu harus memberi sesaji dan menyebarkan bunga yang semerbak bau wanginya agar laut bersahabat baik terhadap para nelayan dan memberi hasil yang berlimpah-limpah. Melihat hal itu, Raden Qosim menjelaskan hal itu semua menurut ajaran Islam terutama pengertian mengenai Sang Hyang Widi. Pada penjelasan ini, Raden Qosim memperkenalkan perihal Tuhan Yang Maha Esa, dan sekaligus mengajarkan bagaimana caranya sembah bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan melalui menjalankan rukun Islam. Raden Qosim mulai menjelaskan siapa yang tidak percaya dan menghina Tuhan Yang Maha Esa akan mendapatkan malapetaka.
Pada waktu Raden Qosim menjelaskan di perahu yang ditumpangi, awak perahu merupakan nelayan yang bengal dan tidak percaya kepada uraian Raden Qosim tersebut. Mereka malah mencemooh penjelasan Raden Qosim, dan pada pencomoohan yang terakhir tergoncanglah perahu tersebut. Isi perahu tercerai berai dan para penumpangnya terlempar ke laut. Kelima awak perahu timbul tenggelam dipermainkan ombak dan terkatung-katung dibawa ombak yang tak tentu arah. Mereka terheran-heran melihat Raden Qosim yang selalu berbicara tentang Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai orang daratan yang tidak bisa berenang serta belum pernah melihat lautan malah selamat dari permainan ombak tersebut.
Raden Qosim atas pertolongan Allah SWT, ditolong oleh ikan hiu yang diiringi ikan talang langsung menuju pantai. Dengan naik punggung ikan tersebut, ia selamat mencapai pantai dan mendarat di suatu kelompok perumahan. Di perkampungan tersebut, Raden Qosim disambut dengan antusias oleh orang kampung beserta tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu yang didampingi oleh Mbah Banjar, dan untuk sementara Raden Qosim tinggal di rumah pemangku kampung yang bernama Mbah Mayang Madu. Perkampungan ini merupakan rumah-rumah para nelayan, yang menurut ceritera rumah-rumah tersebut berjumlah 17 rumah dalam keadaan yang sangat menyedihkan atau memprihatinkan karena sangat sederhana sekali dan pedukuhan ini dinamai Jelak.


Selang lima hari sejak kedatangan Raden Qosim, perkampungan tersebut menjadi gempar karena ada lima orang terdampar dalam keadaan yang menyedihkan di tepi pantai. Ternyata mereka adalah awak perahu yang pernah ditumpangi Raden Qosim. Lalu, mereka ditolong penduduk setempat dan setelah keadaannya berangsur baik serta tahu kalau di tempat itu juga ada orang yang mendarat di tempat yang sama dengan menunggangi ikan hiu, maka mereka bersama-sama berusaha menemui Raden Qosim di rumah Mbah Mayang Madu. Setelah bertemu dengan Raden Qosim, bersimpuhlah mereka dan meminta ampun serta bertobat. Orang kampung yang melihatnya merasa heran dan terperanjat setelah mendapat keterangan bahwa Raden Qosim adalah seorang ulama penyebar agama baru, yaitu Islam.
Selama menetap di Kampung Jelak, Raden Qosim dinikahkan dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qosim mendirikan sebuah surau untuk mengumpulkan orang-orang kampung, mengajari agama Islam, dan beribadah. Surau tersebut akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk, dan diberi nama Pesantren Sunan Drajat.
Kampung Jelak yang semula hanyalah sebuah dusun kecil dan terpencil, lambat laut berkembang menjadi kampung yang besar dan ramai. Namanya pun berubah menjadi Banjaranyar. Kemudian, selang tiga tahun tinggal di Jelak, Raden Qosim berusaha mencari tempat sebagai pusat kegiatan dakwahnya ke arah selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak. Pencarian tempat baru ini didasari pertimbangan mencari tempat lebih tinggi yang menurut kepercayaan masyarakat pada waktu merupakan tempat yang sakral atau disucikan, dan tentunya terbebas dari banjir pada musim hujan.
Setelah mendapat izin dari Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan, Raden Qosim pun dengan dibantu oleh sejumlah muridnya yang ada di Kampung Jelag melakukan babat alas (membuka hutan belantara) yang dikenal penduduk sebagai daerah angker.
Alhasil, lahan seluas 9 hektar yang dibuka tersebut dibuatlah permukiman serta padepokan yang digunakan untuk tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk. Dari atas bukit tersebut, Raden Qosim menghabiskan waktunya dalam menjalankan dakwahnya. Dari sinilah orang-orang menamakannya dengan istilah Kadrajat, yang artinya kederajatan Raden Qosim menjadi bertambah tinggi. Ihwal itulah, yang kemudian daerah tersebut terkenal dengan sebutan Drajat, dan akhirnya menjadi nama desa hingga sekarang. Sedangkan, Raden Qosim yang menjadi cikal bakal membuka lahan tersebut dan akhirnya mengajarkan Islam di daerah tersebut diberi gelar nama baru sebagai Sunan Drajat, dan sekaligus menjadi salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
Dalam berdakwah, Sunan Drajat menyesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat setempat pada waktu itu. Untuk mengajak masyarakat setempat agar mau berkunjung ke surau yang didirikannya itu, Sunan Drajat sering melantunkan tembang dengan diiringi gamelan pada awalnya. Karena pada waktu itu, prasarana yang digemari oleh masyarakat adalah gamelan dan tembang. Sunan Drajat pun akhirnya menggubah tembang-tembang yang terkanal dengan tembang Pangkur. Pangkur artinya Pangudi Isine Al-Qur’an. Tembang tersebut dikumandangkan dengan membeberkan dan menceriterakan segala apa yang ada dalam Al-Qur’an atau syair-syair yang bersumber dari ajaran Al-Qur’an.
Setelah menembang, Sunan Drajat selalu memberikan wejangan baik terhadap masyarakat desa pada umumnya miskin untuk selau memiliki rasa gotong-royong, rasa persaudaraan dan rasa asih-asuh serta welas terhadap sesama. Dalam mewujudkan semua itu, Sunan Drajat mengajarkan sikap kepada penduduk setempat agar:

Memangun resep teyasing sasomo
(kita selalu membuat senang hati orang lain)

Jroning suko kudu eling lan waspodo
(di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)

Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah
(dalam perjalanan untuk mencapai cita-cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)

Meper Hardaning Pancadriya
(kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)

Heneng-Hening-Henung
(dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur)

Mulyo guno Panca Waktu
(suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan shalat lima waktu)

Menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe, menehono busono marang wong kang wudo, menehono ngiyup marang wong kang kodanan
(Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan kepada orang yang menderita)

Ajaran-ajaran yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits tersebut, akhirnya berkembang di Paciran. Lambat laun, penduduk desa menerimanya dengan suka cita. Biasanya selepas pulang dari sawah, tegalan maupun lautan bagi yang nelayan akan naik ke bukit tersebut untuk berguru kepada Sunan Drajat.
Setelah Sunan Drajat wafat, beliau dimakamkan di dalam lingkungan padepokan atau pondok pesantren mini yang didirikan di atas bukit tersebut. Bekas pusat dakwah milik Sunan Drajat inilah yang sekarang dikenal dengan kompleks makam Sunan Drajat, yang banyak diziarahi oleh masyarakat dari berbagai daerah.
Kepurbakalaan kompleks makam Sunan Drajat ini keseluruhan bangunannya berlokasi di atas perbukitan kecil, sedang makam utamanya berada di bagian paling tinggi dan pada posisi belakang. Peziarah bisa mengunjungi makam tersebut melalui pintu yang berada di selatan. Bagi yang rombongan naik bis, dari parkir di sisi timur makam berjalan menuju ke selatan. Sedangkan, bagi pengendara sepeda motor bisa diparkir tepat di depan pintu masuk makam.
Menuju makam Sunan Drajat, peziarah akan melewati pintu gapura terbuat dari kayu berbentuk paduraksa, dengan ukuran tinggi 170 cm dan lebar 145 cm. Pintu gapura ini dikelilingi pagar-pagar kayu yang terartur rapi. Kemudian peziarah akan dipandu dengan jalan setapak dan sejumlah atribut tulisan penunjuk arah.
Selurus pintu gapura, peziarah akan menemui sebuah pendopo. Pendopo ini berfungsi untuk tempat melepas sandal atau sepatu bagi para pengunjung yang akan berziarah ke makam Sunan Drajat. Pendopo ini berukuran panjang 10 meter dan lebar 6 meter. Di kanan kiri pendopo ini terdapat makam lama yang diperkirakan adalah para santri Sunan Drajat selama berguru di bukit ini.
Setelah melewati pendopo, peziarah akan melewati gapura berbentuk candi bentar yang sudah tidak utuh lagi, dan terbuat dari batu bata. Candi bentar merupakan bangunan bagian candi yang berbentuk gapura yang terbelah secara sempurna tanpa penghubung pada bagian atas. Candi bentar telah ditemukan pada masa Hindu-Buddha, yaitu pada masa Majapahit yang kemudian berkelanjutan pada masa Islam. Berdasarkan maknanya, candi bentar mempunyai makna antara lain konsep penciptaan manusia dan sebagai pintu keluar dan pintu masuk menuju tempat yang dianggap suci atau sakral. Memasuki candi bentar ini, peziarah akan melewati tujuh tangga.
Di sebelah timur gapura bentar terdapat balai rante. Bangunan ini beratap sirap, dan bertiang 6 buah. Keseluruhan balai rante ini terbuat dari kayu. Konon, balai rante ini berasal dari Kerajaan Majapahit. Dikisahkan, setelah Kerajaan Majapahit mulai mengalami masa suram, maka tatanan pemerintahan pusat kacau. Sehingga, banyak merajalela pencurian dan perampokan termasuk hilangnya dua benda pusaka kerajaan yang dianggap sakral, yaitu balai rante dan bayang gambang. Beberapa tahun kemudian, benda peninggalan Majapahit tersebut ditemukan di tepi laut pesisir pantai utara, tepatnya di wilayah Desa Kemantren, Kecamatan Paciran. Akhirnya penduduk Kemantren menyerahkan balai rante ke Desa Drajat, sedangkan bayang gambang dipelihara dalam kompleks Masjid Jami’ Desa Kemantren hingga sekarang.
Langkah peziarah berikutnya adalah tangga yang terbuat dari bebatuan kapur sebanyak 10 undakan atau tangga. Sepuluh tangga ini diapit oleh gapura berbentuk paduraksa, namun gapuranya sudah rusak akibat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1950. Setelah melewati gapura paduraksa ini, peziarah lanjut mendaki lagi dengan menaiki 3 undakan (anak tangga). Pada halaman ini terdapat bangunan berbentuk pendopo joglo yang tinggi dan luas di mana di tengah-tengahnya terdapat bangunan makam Sunan Drajat berbentuk cungkup yang beratap sirap dengan hiasan memolo atau mustaka di puncaknya.
Secara arsitektural, bentuk bangunan makam Sunan Drajat dibagi menjadi dua bagian, yaitu cungkup utama dan sitihinggil. Di dalam bangunan cungkup terdapat ruangan, yaitu ruang dalam tempat makam Sunan Drajat dan isterinya, dan ruang langkan yang berfungsi sebagai tempat berdoa para peziarah.
Jadi, cungkup yang merupakan bangunan utama makam Sunan Drajat ini terletak pada halaman paling belakang sebagai bangunan tersakral. Denah ini mengadopsi sistem punden berundak hasil akulturasi dari kepercayaan masyarakat sebelumnya, yaitu Hindu dan Buddha, di mana tempat yang paling tinggi merupakan tempat tersakral.
Setelah rangkaian nyekar Sunan Drajat paripurna, peziarah bisa menuju ke arah timut cungkup. Di situ ada replika surau yang didirikan oleh Sunan Drajat dan santrinya di lokasi asal surau tersebut. Di sebelah utara surau, terdapat sumur yang konon dibuat oleh Sunan Drajat. Di sekitaran surau dan sumur ini, udara terasa sejuk sekali karena adanya pohon beringin besar nan rindang.
Sambil menuju pintu keluar makam, peziarah akan melewati sebuah museum. Museum tersebut bernama Museum Khusus sunan Drajat. Dinamakan demikian karena koleksi yang dipamerkan pada museum tersebut berhubungan dengan Sunan Drajat. Peziarah bisa masuk ke dalam museum tersebut secara gratis, tapi bila tidak berkenan, peziarah bisa langsung keluar dari kompleks makam Sunan Drajat karena pintu keluarnya kebetulan berada di depan museum tersebut.
Pada pintu keluar ini, peziarah akan menuruni tangga yang kemudian terhubungan dengan halaman parkir yang sangat luas. Di antara undakan dengan halaman parkir tersebut, terdapat beberapa kios cindera mata maupun warung makan yang telah disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan. *** [071115]

0 komentar:

Posting Komentar