The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Indonesian heroic composer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesian heroic composer. Tampilkan semua postingan

Wage Rudolf Soepratman

Wage Rudolf Soepratman lahir di Purworejo, Jawa Tengah tahun 1903. Ia diberi nama sesuai dengan hari kelahirannya menurut kalender Jawa: Wage. Pada usia 11 tahun ia pindah ke Makassar (Sulawesi Selatan) bersama dengan saudara perempuannya yang menikah dengan seorang perwira Belanda. Agar dapat diterima di sekolah Belanda setempat, ia harus punya nama Barat; ia memilih nama Rudolf, nama kakak iparnya.
Rudolf berhasil di sekolah dan dengan ijazah yang diraihnya, ia memulai karier sebagai wartawan lepas di Jakarta.
Ketika lagu Indonesia Raya yang digubahnya dipilih secara bulat sebagai lagu kebangsaan tidak lama setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Soepratman tidak dapat menyaksikan peristiwa membanggakan tersebut karena ia telah meninggal pada tahun 1938. ***
Share:

Cornel Simandjuntak

Cornel Simandjuntak lahir dalam keluarga Kristen di Pematang Siantar, Sumatera Utara pada tahun 1921. Ia belajar musik Barat di sebuah seminari Belanda di Muntilan, Jawa Tengah, di tahun 1937. Berkat keterampilan musik, ia mengarang sederet lagu yang mengesankan, beberapa di antaranya dianggap sebagai pelopor “lagu seni” Indonesia, dengan gaya lied Jerman yang terkenal abad ke-19.
Lagun Simandjuntak yang terkenal adalah Maju Tak Gentar yang penuh semangat, ditulis pada masa revolusi kemerdekaan yang mulai pada tahun 1945. Gubahannya sangat patriotik, membuat ia dihormati. Baik melodi maupun liriknya diwarnai semangat kepahlawanan dan nuansa perjuangan. Karya lain, misalnya, Citra, Kupinta Lagi, Mekar Melati, Mari Berdendang, dan O, Angin.
Simandjuntak meninggal tahun 1946 di Yogyakarta. Pemerintah memberi medali budaya anumerta di tahun 1961. ***
Share:

Ismail Marzuki

Ismail Marzuki merupakan penggubah lagu nasional yang produktif, menulis lebih dari 240 lagu. Lahir di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat pada 11 Mei 1914, Marzuki mulai berkarya pada usia 17 tahun. Sebagai anggota orkes Lief Java (Jawa yang Tercinta), ia berkeliling Jawa hingga Malaya dalam lawatan pertunjukan. Tahun 1937, ia bergabung dengan orkes radio penjajah. Setelah kemerdekaan, hingga akhir hayat, ia tetap menjadi anggota orkes radio Jakarta.
Ismail Marzuki mewariskan karya sangat banyak. Salah satu lagunya, Halo-halo Bandung yang terkenal, merupakan karya patriotik berirama mars yang ditulis ketika Bandung dijilat lautan api pada pertempuran sengit tahun 1945. Karya lain, misalnya, Rayuan Pulau Kelapa, Aryati, Melati di Tapal Batas, Gugur Bunga, Sepasang Mata Bola, Juwita Malam, Sabda Alam, Indonesia Pusaka, Kalau Anggrek Berbunga, Siasat Asmara, Jauh Di mata Di hati Jangan, dan Irian Samba. Rayuan Kelapa ditulis tahun 1944, mendapat pujian dan kekaguman dari para penggubah lagu luar negeri.
Sebagai penghargaan atas pengabdiannya kepada Negara dan seni, Ismail Marzuki memperoleh kehormatan ketika tahun 1968 Pusat Kesenian Jakarta dinamai Taman Ismail Marzuki. Patung ukuran dada dibuat untuk menghormatinya dan hingga kini terpasang di halaman depan TIM.
Pada tahun 2004, Ismail Marzuki mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia karena pengabdiannya pada dunia musik dan karya-karyanya yang mempesona. Komponis besar ini wafat pada 25 Mei 1958 di Kampung Bali Jakarta. ***
Share:

Kusbini

Kusbini merupakan penggubah lagu berusia paling panjang di Indonesia. Kusbini, yang namanya berarti “putra intisari istimewa”, lahir di Mojokerto, Jawa Timur, tahun 1906. Kariernya berawal di radio (Jakarta) tempat ia bekerja sebagai konduktor orkes selama pendudukan Jepang. Minat khususnya adalah musik keroncong, suatu bentuk musik populer yang memadukan banyak idiom kesukuan dan asing. Ia dikenal sebagai buaya keroncong. “Buaya” diartikan sebagai yang tergila-gila; dan memang Kusbini gandrung pada musik keroncong.
Hingga meninggal tahun 1991, Kusbini memimpin sekolah musik miliknya sendiri di Yogyakarta. Ia dihormati karena pengabdiannya di bidang pendidikan musik bagi generasi muda. Sumbangannya yang terbesar adalah lagu Bagimu Negeri yang indah, ditulis pada tahun 1942. Bagimu Negeri nyaris menjadi lagu kebangsaan kedua, karena liriknya yang sederhana dan penuh makna. ***
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami