The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madura. Tampilkan semua postingan

Daftar Bangunan Kuno di Sumenep

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Sumenep:

Asta Tinggi
Kuburan para raja ini terletak di Jalan Asta Tinggi, Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur

Benteng VOC Kalimo’ok
Benteng ini terletak di Jalan By Pass, Dusun Bara’ Lorong, Desa Kalimo’ok, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur

Klenteng Pao Sian Lin Kong
Klenteng ini terletak di Jalan Slamet Riyadi No. 27 Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur

Kraton Sumenep
Kraton ini terletak di Jalan Dr. Soetomo No. 5 Kelurahan Pajagalan, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur

Masjid Jamik Kabupaten Sumenep
Masjid ini terletak di Jalan Trunojoyo No. 6 Kelurahan Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur

Masjid Ladju Sumenep
Masjid ini terletak di Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan Kepanjin, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur

Museum Kraton Sumenep
Museum ini terletak di Jalan Dr. Soetomo No. 6 Kelurahan Pajagalan, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur


Share:

Daftar Bangunan Kuno di Bangkalan

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Bangkalan:

Benteng Erfprins
Benteng ini terletak di Jalan K.S. Tubun, Dusun Sumur Kembang, Kelurahan Pejagan, Kecamatan bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur

Klenteng Eng An Bio
Klenteng ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 116 Kelurahan Pejagan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur

Mercusuar Sembilangan
Mercusuar ini terletak di Desa Junganyar, Kecamatan Socah, Kabupaten bangkalan, Provinsi Jawa Timur

Museum Cakraningrat
Museum ini terletak di Jalan Soekarno Hatta No. 39A Kelurahan Malajah, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur

 

Share:

Sejarah Kabupaten Bangkalan

Keberadaan wilayah Bangkalan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang sejarah Kerajaan Madura Barat. Kerajaan Madura Barat muncul pertama kali pada tahun 1531 dengan pusat pemerintahan di Keraton Arosbaya, Bangkalan. Raja pertama adalah Panembahan Lemahdoewoer yang memerintah hingga tahun 1592. Wilayah kerajaan ini mencakup daerah Bangkalan dan Sampang. Pada tahun 1624, pusat pemerintahan berpindah ke Keraton Madeggan Sampang dengan Raja Pangeran Tjakraningrat I (1624-1648) dan selanjutnya digantikan oleh Panembahan Tjakraningrat II (1648-1707).
Pada masa pemerintahan Tjakraningrat III (1707-1718), pusat pemerintahan berpindah ke Keraton Toendjoeng di Bangkalan. Pada masa pemerintahan Raja Tjakraningrat IV (1718-1745)  pusat pemerintahan dipindahkan ke Keraton Sembilangan di Bangkalan Baru. Pada masa Tjakraningrat V (1745-1770), pusat pemerintahan pindah untuk pertama kalinya ke Keraton Bangkalan.  Pasca pemerintahan Tjakraningrat V terjadi kekosongan pemerintahan yang disebabkan putra mahkota meninggal muda. Tahta kemudian digantikan oleh cucu Tjakraningrat V yang bernama Sultan Tjakradiningrat I (1780-1815). Pada masa ini Kerajaan Madura Barat berubah menjadi kesultanan yang bersifat Islam. Tahta kemudian digantikan oleh Sultan Tjakradiningrat II (1815-1845) atau Raden Abdul Kadir (masyarakat menyebutnya dengan nama Sultan Kadirun). Tahta pemerintahan kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Raden Muhammad Yusuf atau Panembahan Tjakradiningrat VII (1847-1862). Ia kemudian digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Panembahan Tjakradiningrat VIII (1862-1882). Putra Tjakradiningrat VII yang dipersiapkan menjadi raja tidak dapat naik tahta karena meninggal tiga tahun sebelum Panembahan Tjakradiningrat VIII turun tahta.
Pada tahun 1885, Belanda kemudian melakukan intervensi terhadap kerajaan. Pemerintahan Kerajaan Madura Barat kemudian dihapuskan berdasarkan Besluit Goeverneur General Nederland Indie No. 2/c tanggal 22 Agustus 1885, semenjak itu Kerajaan Maduran Barat terbagi menjadi dua wilayah kabupaten, yaitu Bangkalan dan Sampang. Walaupun demikian, pada masa selanjutnya garis keturunan Tjakradiningrat masih tetap memimpin Bangkalan dengan menjadi Bupati. *** [060613]

Sumber:  Informasi dari Museum Cakraningrat Kabupaten Bangkalan

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami