Selasa, 09 Desember 2014

Klenteng Pao Sian Lin Kong

Sumenep merupakan salah satu kabupaten yang berada di paling ujung timur dari Pulau Madura. Meski terletak di ujung timur Pulau Madura, Sumenep ternyata menyimpan memori sejarah yang cukup panjang. Sehingga, wajar bila wilayah besutan Aria Wiraraja ini banyak terdapat peninggalan bangunan kuno yang menyimpan sejarah. Selain, Kraton Sumenep, Masjid Jamik Sumenep, Benteng Kalimo’ok, dan lain-lain. Di kalangan orang Tionghoa pun tak mau kalah dalam mengisi memori sejarah tersebut, dengan mendirikan Klenteng Pao Sian Lin Kong.
Klenteng Pao Sian Lin Kong terletak di Jalan Slamet Riyadi No. 27 Desa Pabian, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada sekitar 500 meter arah timur dari Stadion Ahmad Yani. Jaraknya tidak begitu jauh dari pusat Kota Sumenep atau hanya sekitar 2,8 kilometer kea rah timur dari alun-alun Kota Sumenep, atau hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Terminar Aria Wiraraja Sumenep.


Mengenai kapan berdirinya klenteng ini tidak ada bukti yang jelas, baik berupa inskripsi, naskah maupun cerita-cerita yang menceritakan kapan klenteng tersebut dibangun. Hanya saja, diperkirakan bahwa klenteng sudah ada sejak tahun 1821 berdasarkan keberadaan patung Makco Thiang Siang Sing Bo, dewi pelindung para pelaut, yang dibawa langsung oleh perantau asal Hokkian di Tiongkok selatan ke Sumenep.
Orang Hokkian adalah penduduk dari Provinsi Fujian bagian selatan di Tiongkok. Orang Hokkian dikenal sebagai pekerja keras dan pandai berdagang. Mereka merupakan mayoritas yang merantau di Nusantara. Daerah asal utama pendatang dari Hokkina kala itu merupakan pelabuhan utama yang melayani perdagangan lewat laut.
Semula klenteng ini didirikan di Desa Marengan, Kecamatan Kalianget. Daerah tersebut berada di dekat pantai, dan dikenal sebagai pusat perdagangan di Pulau Madura pada masa Hindia Belanda. Makin lama, klenteng yang menjadi destinasi orang Tionghoa untuk melakukan sembahyang dan melestarikan adat-istiadat Tionghoa ini, tak mampu menampung jemaat lagi.


Melihat situasi seperti itu, seorang kapiten Tionghoa pada masa Hindia Belanda berkenan menghibahkan tanahnya di Desa Pabian untuk merelokasi klenteng tersebut. Lokasinya berada di dekat rumah tinggal sang kapiten tersebut.
Klenteng yang menghadap ke selatan ini berdiri di atas lahan seluas 2.685 meter persegi. Halaman klenteng ini dibilang cukup luas di antara pintu gerbang dan bangunan utamanya. Setelah melewati men lou wu, pintu gerbang untuk masuk ke dalam bangunan utama, peziarah akan ketemu hiolo (tempat dupa besar). Di sebelah kiri dan kanan dari hiolo terdapat cok say (patung singa) yang menghadap ke hiolo. Di atas pintu utama terdapat kaligrafi dalam aksara Tionghoa di sebelah kanan dan kiri yang memiliki makna: “keramatnya mendunia” dan “negara dan lautan tenang”.
Memasuki ruang utama dari klenteng ini, peziarah akan menemukan tiga altar untuk pemujaan kepada Kongco Hok Tek Tjeng Sien (Dewa Bumi), Makco Thian Siang Sing Bo (Dewi pelindung bagi pelaut asal Fujian), dan Kong Tik Cung Ong. Kemudian di belakang ruang utama, terdapat bangunan oktagonal bercat merah yang menjadi rumah khusus bagi Dewi Kwam Im Posat (Dewi Welas Asih). Konon, patung Dewi Welas Asih yang juga dikenal sebagai Avalokitesvara Boddhisatva itu bisa berubah wajah sesuai dengan kondisi jemaat yang datang berdoa, terutama di bagian mata dan pipi. Hal ini pertanda tulus atau tidaknya niat seseorang yang berdoa tadi.
Berbeda dengan klenteng lainnya, Klenteng Pao Sian Lin Kong tergolong cukup bersih dan terawat. Hal ini tak lepas dari sumbangsih dana dari para peziarah yang nadzarnya terkabulkan di klenteng ini. ***

0 komentar:

Posting Komentar