The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Indonesian Heritage Tourism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesian Heritage Tourism. Tampilkan semua postingan

Daftar Bangunan Kuno di Lebak

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Lebak:

Alun-Alun Rangkasbitung
Alun-alun ini terletak di Kelurahan Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Gedung DPRD Kabupaten Lebak
Gedung ini terletak di Jalan Abdi Negara No. 8 Kampung Kaum, Kelurahan Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Gedung Kantor PLN Rayon Rangkasbitung
Gedung ini terletak di Jalan Raden Tumenggung Hardiwinangun No. 39 Kelurahan Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Menara Air Rangkasbitung
Menara air ini terletak di Jalan Raden Tumenggung Hardiwinangun No. 4 Kampung Pasirtariti RT. 01 RW. 03 Kelurahan Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Rumah Tahanan Klas IIB Rangkasbitung
Rutan ini terletak di Jalan Multatuli No. 12 Kelurahan Ciujung Baratm Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

SDN 1 Rangkasbitung Barat
SDN ini terletak di Jalan H.M. Iko Djatmiko No. 4 Kelurahan Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Stasiun Kereta Api Rangkasbitung
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Rangkasbitung No. 1, Desa Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Probolinggo

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Probolinggo:

Kota Probolinggo:

GPIB Jemaat Immanuel Probolinggo
Gereja ini terletak di Jalan Suroyo No. 32 Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur

Museum Probolinggo
Museum ini terletak di Jalan Suroyo No. 17 Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Probolinggo
Stasiun ini terletak di Jalan K.H. Mas Mansyur No. 26, Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur

Tempat Ibadat Tri Dharma Probolinggo
Tempat ibadat ini terletak di Jalan Wage Rudolf Supratman No. 127 Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur

Kab. Probolinggo:

Stasiun Kereta Api Bayeman
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Tongas atau Jalan Pantura, Desa Dungun, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Leces
Stasiun ini terletak di Jalan Leces, Dukuh Krajan I, Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Malasan
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Malasan, Dusun Krajan RT. 08 RW. 02 Desa Malasan Wetan, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur
Share:

Daftar Bangunan Kuno di Lumajang

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Lumajang:

Alun-Alun Lumajang
Alun-alun Lumajang terletak di Jalan Alun-Alun Utara, Kelurahan Rogotrunan, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

Jembatan Gladak Perak
Jembatan ini terletak di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Lumajang
Lapas ini terletak di Jalan Alun-alun Timur No. 5 Kelurahan Jogotrunan, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

Rumah Patih Lumajang RM Singowigoeno
Rumah itu terletak di Jalan Mayor Kamari Sampurna, Dukuh Krajan, Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

SDN Ditotrunan 01 Lumajang
SDN ini terletak di Jalan Alun-Alun Selatan No. 14 Kelurahan Ditotrunan, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

Situs Biting
Situs ini terletak di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Grobogan
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Dusun Krajan RT. 02 RW. 01 Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Jatiroto
Stasiun ini terletak di Dusun Krajan 2 RT 20 RW 04, Desa Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Klakah
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Klakah No. 11 Kidul Gn. RT. 02 RW. 01, Desa Mlawang, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Kereta Api Ranuyoso
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Dusun Kebonan RT. 08 RW. 03 Desa Meninjo, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur
Share:

Stasiun Kereta Api Sukoharjo

Stasiun Kereta Api Sukoharjo (SKH) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sukoharjo, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 98 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta api kelas 3 atau kecil.


Stasiun ini terletak di Jalan Bima, Dusun Larangan RT.03 RW.02 Kelurahan Gayam, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur SDN Gayam 5 Sukoharjo, dan tidak begitu jauh dengan Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo.
Bangunan Stasiun Sukoharjo ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Solokota-Wonogiri-Baturetno yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, dari tahun 1922 dan selesai pada tahun 1923, sepanjang 51 kilometer.


Stasiun ini hanya memiliki 2 jalur saja. Jalur 1 dan jalur 2 terhubung dalam persilangan di sebelah selatan maupun utara stasiun. Karena untuk jalur ini masih single track. Jalur yang ke utara menuju ke Stasiun Solo Kota, dan jalur yang ke selatan menuju ke Stasiun Pasar Nguter.
Stasiun ini tergolong sepi karena hanya dilewati oleh railbus Bathara Kresna saja, dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Wonogiri dan sebaliknya. *** [110716]
Share:

Stasiun Kereta Api di Tulungagung

Berikut ini adalah stasiun yang masih menunjukkan arsitektur lawas di Tulungagung. Stasiun-stasiun ini diurutkan dari arah utara ke selatan terus ke timur:

Stasiun Kereta Api Ngujang
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Ngantru, Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Pangeran Antasari No. 7 Kelurahan Kauman, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbegembol, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Lingkungan 06 Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Desa Rejotangan, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur
Share:

Stasiun Kereta Api di Blitar

Berikut ini adalah stasiun yang masih menunjukkan arsitektur lawas di Blitar. Stasiun-stasiun ini diurutkan dari arah barat ke timur:

Stasiun ini terletak di Jalan Mastrip No. 75, Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Desa Sumberdiren, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Kelurahan Talun, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Beru, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Kesamben, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Pohgajih, Desa Pohgajih, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
Share:

Stasiun Kereta Api di Malang

Berikut ini adalah stasiun yang masih menunjukkan arsitektur lawas di Malang. Stasiun-stasiun ini diurutkan dari arah utara ke selatan terus ke barat:

Stasiun ini terletak di Jalan Thamrin, Kelurahan Lawang, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Laksda Adi Sucipto-Stasiun Blimbing, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Trunojoyo No. 10 Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Kolonel Soegiono, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun RT. 15 RW. 03 Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Banurejo, Desa Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Ngebruk-Sumberpucung, Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Sumberpucung, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
Share:

Stasiun Kereta Api di Jakarta

Berikut ini adalah stasiun yang masih menunjukkan arsitektur lawas di Jakarta. Stasiun-stasiun ini diurutkan dari arah barat, utara ke selatan terus ke timur:

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Kota No. 1 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Taman Stasiun No. 1 RT. 05 RW. 08 Kelurahan Tanjung Priok, Kecamatan Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Senen, Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Manggarai Utara No. 1 Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Raya Bekasi Timur No. 1 RT. 13 RW. 16 Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta
Share:

Stasiun Kereta Api di Solo

Berikut ini adalah stasiun yang masih menunjukkan arsitektur lawas di Solo. Stasiun-stasiun ini diurutkan dari arah barat, timur dan ke tenggara:

Stasiun ini terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 502 RT.04 RW.02 Kelurahan Kerten, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kereta Api Solo Balapan
Stasiun ini terletak di Wolter Monginsidi No. 112 Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Jalan Ledoksari No. 1 Kelurahan Purwadiningratan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Jalan Sungai Sambas RT.03 RW.01 Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah
Share:

Hotel Niagara Lawang

Pada era kolonial, Lawang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai wilayah yang diperuntukkan sebagai daerah peristirahatan dan perkebunan yang kaya di lereng Gunung Arjuno. Sejak itulah banyak bermunculan bangunan kolonial yang berfungsi sebagai rumah peristirahatan atau villa. Salah satunya adalah Hotel Niagara, yang juga menjadi ikon dari Lawang karena merupakan bangunan lawas tertinggi kawasan tersebut. Hotel ini terletak di Jalan Dr. Soetomo No. 63 Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi hotel ini berada di sebelah utara Pasar Lawang, atau barat daya Kompleks Polisi Militer Divisi Infanteri 2 Kostrad.
Awalnya, bangunan Hotel Niagara ini merupakan sebuah villa pribadi milik Liem Sian Joe, seorang konglomerat Tionghoa (pengusaha pabrik gula dan kayu jati). Villa ini dibangun selama kurang lebih 15 tahun lamanya, dimulai dari tahun 1903 dan selesai pada tahun 1918. Soal desain bangunan, Liem Sian Joe menyerahkannya kepada Fritz Joseph Pinedo, seorang arsitek swasta Belanda profesional keturunan Portugis-Brazil.
Villa ini hanya difungsikan sebagai tempat peristirahatan keluarga selama dua tahun, karena pada tahun 1920 Liem Sian Joe dan keluarga pindah ke Negeri Belanda. Villa tersebut dipercayakan kepada ahli warisnya. Namun, karena jarang dipakai, villa tersebut lambat laun menjadi kurang terurus dan kemudian terlantar selama bertahun-tahun.


Kondisi yang demikian bertahan sampai tahun 1960, yang pada akhirnya salah seorang ahli waris keluarga Liem Sian Joe menjual villa tersebut kepada seorang pengusaha yang berasal dari Surabaya bernama Ong Kie Tjay. Oleh Ong Kie Tjay, bangunan berlantai lima itu kemudian dibenahi selama 4 tahun, dan selanjutnya difungsikan sebagai hotel dengan nama Hotel Niagara.
Menurut prasasti yang ada, Hotel Niagara merupakan bangunan tertinggi, paling megah dan mewah, tidak ada tandingannya (pada waktu itu). Unsur-unsur arsitektur Eropa seperti ornamen, tiang besi, konsep bangunan Eropa yaitu hoogbouw atau membangun tinggi ke atas (vertikal) merupakan efek gaya gedung pencakar langit (wolken krabber) serta konstruksi bata digunakan pada rumah-rumah orang kaya atau bangsawan pada abad ke-20 di Hindia Belanda.
Pendirian bangunan tersebut kala itu memang memiliki tujuan tertentu, menunjukkan sebuah kemegahan, kemewahan, peranan dan kedudukan atau identitas Liem Sian Joe. Penunjukkan identitas dirinya sebagai seorang yang kaya, terhormat itu terlihat dengan adanya pengacuan gaya masyarakat golongan lapisan atas (Eropa) pada ornamen plafond, kaca timah, keramik dan kayu jati pelapis dinding, makna komposisi simetris yang dipakainya, pemilihan bahan pada yang tidak lagi sederhana, dipilih yang berkualitas tinggi bahkan impor seperti pelapis dinding yang hanya digunakan pada ruang-ruang yang termasuk bagian dari area publik. Hal ini memiliki makna unjuk kemampuan Liem Sian Joe pada tamu-tamu yang diundangnya dari segi finansial.
Kini, hotel tersebut dikelola oleh Ongko Budihartanto, anak dari Ong Kie Tjay. Dalam perjalanan mengelola Hotel Niagara ini, memang pernah mengalami mendapat stigma sebagai hotel yang menyeramkan, ada tapak tangan berjalan, dan berhantu serta tempat bunuh diri. Hal ini tak terlepas dari lamanya bangunan ini pernah mangkrak sebelum difungsikan sebagai hotel.
Terlepas dari hal itu semua, Hotel Niagara ini memiliki arsitektur tempo doeloe dengan nuansa seni yang tinggi sebagai kombinasi gaya Brazil, Belanda, Tiongkok, dan Victoria yang menawan. Warisan kekunaan yang dipunyainya, sesungguhnya bisa mengantarkan nilai jual hotel tersebut kepada turis mancanegara bila dikelola dengan sebaik-baiknya. Punya story, nuasa tempo doeloe, antik dan unik. *** [180516]

Share:

RSU Lavalette Malang

Rumah Sakit Umum (RSU) Lavalette merupakan sebuah rumah sakit peninggalan era Hindia Belanda yang masih tetap beraktivitas hingga saat ini. Hal ini barangkali disebabkan oleh adanya upaya yang terus-menerus dari pihak rumah sakit tersebut dalam mengusahakan Penjaminan Mutu Pelayanan Rumah Sakit tanpa mengabaikan pengadaan program-program terbaru dari pemerintah dalam menunjang penyediaan fasilitas kesehatannya. Rumah sakit ini terletak di Jalan WR Supratman No. 10 Kelurahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah sakit ini berada di depan Pertokoan WR Supratman, dan tidak jauh dari bundaran Patung Kota.
Keberadaan rumah sakit ini tidak terlepas dari sejarah perkembangan Malang sebagai daerah perkebunan yang cukup maju pada waktu itu. Malang memiliki posisi yang bagus di antara berbagai kawasan lain untuk mengembangkan perkebunan. Tempat ini bukanlah tempat yang penting sebelumnya masuknya ekonomi perkebunan. Kebijakan di bidang ekonomi dari Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 telah membuat wilayah ini maju pesat.
Ekonomi perkebunan telah menjadikan Malang sebagai kabupaten yang menarik perhatian Pemerintah Hindia Belanda. Keberhasilan kemajuan ekonomi perkebunan telah memberikan dampak berantai berupa pembukaan jalur kereta api dari Surabaya-Malang melalui Bangil pada tahun 1879, pembangunan jalur trem Malang-Tumpang melalui Blimbing dan Malang-Dampit juga melalui percabangan Blimbing, munculnya perusahaan dagang, lembaga riset perkebunan, pertokoan, sekolah maupun rumah sakit. Salah satu rumah sakit yang dibangun adalah yang sekarang dikenal dengan RSU Lavalette.


Perhatian Pemerintah Hindia Belanda terhadap kepentingan usaha perkebunan dibuktikan dengan pembangunan klinik khusus untuk buruh perkebunan dan industri gula. Semula klinik ini menempati sebuah bangunan di daerah Kasin, Malang. Kemudian, pihak pengelola (manajemen) berusaha membeli tanah berupa sawah seluas 19.535 m² dan tanah pekarangan seluas 7.870 m² di daerah Celaket Malang pada tahun 1914 dan tahun 1917. Lalu, di atas tanah tersebut dibangunlah gedung yang memakan waktu kurang lebih satu tahun, dan soft launcing pada 9 Desember 1918. Klinik yang berkapasitas 25 tempat tidur tersebut sudah mulai digunakan untuk melayani pasien meskipun sebenarnya belum dibuka secara resmi. Baru pada 17 Januari 1919, klinik ini dibuka secara resmi, dan kala itu namanya masih Malangsche Ziekenverpleging. Kemudian pada 1922 klinik itu berubah namanya menjadi Lavalette (De Lavalette Kliniek). Nama ini mengambil dari nama akhir Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette. Ia adalah seorang pengusaha perkebunan terkemuka di Malang pada tahun 1912. Selain menjadi pengurus Algemeen Landbouw Syndicaat, ia juga merupakan anggota Gemeenteraad Malang pertama di tahun 1914.
Sepuluh tahun pertama (1918-1928), Klinik Lavalette belum mengalami perkembangan pesat. Baru tahun 1929, Klinik Lavalette mulai terlihat perkembangannya dengan adanya penambahan sarana dan prasarana. Sumbangsih Klinik Lavalette tak hanya pelayanan kesehatan saja tetapi juga memberikan pelayanan pendidikan dan pelayanan asuhan keperawatan, yang fungsinya adalah penyusunan rencana kebutuhan tenaga keperawatan, melaksanakan pelayanan rujukan bagi klinik lain, yaitu Klinik Sumber Arum, Klinik Glusing dan Klinik Sumber Telogo.
Pada waktu Jepang menduduki Malang, Klinik Lavalette ini diambil alih oleh pasukan Jepang dan dijadikan sebagai markasnya untuk keperluan perang Asia Timur Raya. Kondisi menjadikan Klinik Lavalette absen tidak bisa memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat setempat. Baru setelah Indonesia merdeka, klinik ini kembali dibuka. Namun, dalam perjalanannya klinik ini terseok-seok hingga mengalami defisit terus-menerus dalam neraca keuangannya. Pada 1948, beberapa anggota Yayasan Stichting Malangsche Ziekenpleging yang menaungi klinik tersebut, mengusulkan agar Klinik Lavalette dilikuidasi saja. Akan tetapi, usul likuidasi tersebut akhirnya dibatalkan dengan disertai berbagai usaha yayasan untuk menambah pemasukan keuangan, antara lain dengan jalan menjadikan sebagian Klinik Lavalette untuk Sanatorium Penyakit Paru-Paru, dan menyewakan ruangan-ruangan atau kamar-kamar dari Klinik Lavalette kepada pihak ketiga lainnya.
Dengan adanya nasionalisasi oleh Pemerintah RI terhadap perusahaan-perusahaan dan perkebunan milik Belanda, Klinik Lavalette diambil alih oleh Pusat Perkebunan Negara pada Mei 1958. Pada 7 Januari 1961, Klinik Lavalette diserahkan oleh Ketua Yayasan Stichting Malangsche Ziekenpleging kepada Pusat Perkebunan Negara (Baru) Cabang jawa Timur dan selanjutnya dinamakan Rumah Sakit (RS) Lavalette. Selanjutnya, pada 26 April 1962 pengelolaan RS Lavalette diserahkan oleh BPU PPN Perwakilan Jawa Timur kepada PPN Kesatuan Jawa Timur III, yang kemudian menjadi BPU PPN Gula Inspeksi Daerah VII.
Pada 1968, berdasarkan Surat Keputusan Panitia Likwidasi BPU PPN Gula dan PN Karung Goni Nomor XX-00050/68.005/L tanggal 19 Juni 1968, RS Lavalette diserahkan kepada PNP XXIV dengan nama RS PNP XXIV Malang, yang pengelolaan dan pembiayaan RS dilakukan oleh Kantor Direksi PNP XXIV di Surabaya. Pembiayaan tersebut dirasakan sebagai beban yang berat oleh karena adanya defisit yang terus-menerus pada neraca keuangannya. Apalagi peran RS PNP XXIV Malang tidak dirasakan langsung untuk pelayanan kesehatan karyawan pabrik-pabrik gula dalam wilayah PNP XXIV, karena letak pabrik-pabrik gula tersebut yang terlalu jauh dari Malang.
Berdasarkan situasi yang pelik seperti itu, Direksi PNP XXIV pernah merencanakan untuk menjual atau mengoperkan RS PNP XXIV Malang kepada pihak ketiga untuk dipergunakan sebagai rumah sakit juga. Tetapi rencana tersebut tidak terlaksana karena pihak ketiga tidak ada yang sanggup menanggung pembiayaan RS tersebut, dan Direktur Jenderal Perkebunan Negara di Jakarta tidak mengizinkan penjualan atau pengoperan tersebut. Akhirnya, Direksi PNP XXIV bertekad untuk tetap melakukan pengelolaan RS PNP XXIV Malang serta menanggung pembiayaannya.
Untuk lebih menangkatkan pengelolaannya, jajaran direksi pada tahun 1975 mengangkat seorang dokter tetap sebagai dokter yang merawat penderita karyawan PNP XXIV merangkap sebagai pemimpin rumah sakit tersebut. Pada tahun yang sama, PNP XXIV bergabung dengan PNP XXV menjadi PT Perkebunan XXIV-XXV (Persero). Konsekuensi ini juga mempengaruhi penamaan rumah sakit tersebut. Oleh karena nama Lavalette lebih dikenal oleh masyarakat Malang, maka nama Lavalette digunakan kembali secara resmi sehingga nama rumah sakit tersebut menjadi PT Perkebunan XXIV-XXV (Persero) RS Lavalette Malang.
Usaha untuk mengurangi atau meminimalisir defisit dalam pembiayaan rumah sakit, ditempuh dengan meningkatkan sarana pelayanan dan peralatan rumah sakit, seperti bangunan, peralatan atau perlengkapan dan mutu pelayanan, sehingga rumah sakit tersebut bisa berfungsi juga sebagai rumah sakit rujukan (Referral Hospital) bagi rumah-rumah sakit dan poliklinik-poliklinik pabrik gula dalam lingkungan PT Perkebunan XXIV-XXV (Persero).
Usaha tersebut dalam 3 tahun terakhir tampak menunjukkan hasilnya dengan berkurangnya defisit, bertambahnya jumlah penderita dari luar PT Perkebunan XXIV-XXV dan adanya perhatian atau partisipasi dari luar PT Perkebunan XXIV-XXV serta adanya perhatian atau partisipasi dari luar PT Perkebunan XXIV-XXV untuk ikut merombak RS Lavalette.
Pada 1991 nama RS Lavalette disempurnakan menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) Lavalette sampai sekarang. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 16 tanggal 11 Maret 1996, PT Perkebunan XXIV-XXV (Persero) dibubarkan. Lalu, dibentuk badan usaha baru dengan nama PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) atau dikenal sebagai PTPN XI (Persero) yang merupakan gabungan dari PT Perkebunan XXIV-XXV (Persero) dengan PT Perkebunan XX (Persero).
Pada 1 Januari 2014 RSU Lavalette menjadi unit usaha di bawah PT Nusantara Sebelas Medika yang merupakan anak perusahaan dari PTPN XI (Persero) yang memiliki core bussiness dalam perumahsakitan, dan sekarang RSU Lavalette menjadi rumah sakit yang ramai di Kota Malang. Hal ini tidak terlepas dari konsistensi rumah sakit tersebut yang sejak berdirinya sampai sekarang tetap memegang pesan dari para pendiri RSU Lavalette agar tetap dipergunakan untuk rumah sakit serta pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. *** [180516]

Kepustakaan:
Indun Retnowati, Klinik Lavalette 1918-1942: Perkembangan dan Kontribusi terhadap Pelayanan Kesehatan di Malang, dalam http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/sejarah/article/view/26638
Reza Hudiyanto, Kopi dan Gula: Perkebunan di Kawasan Regentschap Malang, 1832-1942, dalam Jurnal SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Kesembilan, Nomor 1, Juni 2015
http://www.lavalettehospital.com/history/
Share:

Stasiun Kereta Api Ngebruk

Stasiun Kereta Api Ngebruk (NB) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ngebruk merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 319 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3/kecil yang ada di Kabupaten Malang. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Ngebruk-Sumberpucung, Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di belakang Pasar Ngebruk, atau 250 m dari Jalan Raya Malang-Blitar.


Bangunan Stasiun Ngebruk ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen sepanjang 55 kilometer, yang dimulai pada tahun 1896 dan selesai pada tahun 1897. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, dengan searah. Artinya, pada jalur rel kereta api tersebut dilakukan dari arah barat , yaitu Blitar, terus ke timur sampai Kepanjen.


Dari arah barat, pembangunan jalur Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896 dan Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1897. Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Jadi, Stasiun Ngebruk ini sudah mulai ada sejak tahun 1897.
Stasiun Ngebruk memiliki 2 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat (Stasiun Sumberpucung) dan ke arah timur menuju Stasiun Kepanjen. Sedangkan, jalur 2 digunakan untuk berhentinya sepur yang lain saat terjadi persilangan kereta api pada jalur tersebut. Seperti stasiun kecil pada umumnya, Stasiun Ngebruk tidak memiliki emplasemen yang menaungi peron yang ada. Akan tetapi, dari ruang tunggu mau menuju ke peron diberi semacam teras kecil yang menonjol sampai ke peron yang mepet dengan bangunan stasiun. Dahulu, stasiun ini memang didirikan untuk mengantisipasi persilangan kereta api yang melintas di jalur tersebut. *** [190516]
Share:

Stasiun Kereta Api Malang Kota Lama

Stasiun Kereta Api Malang Kota Lama (MLK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Malang Kota Lama, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 429 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 1 yang berada di Kota Malang. Stasiun ini terletak di Jalan Kolonel Soegiono, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini tepat berada di belakang The Balava Hotel, yang berseberangan dengan Rumah Sakit (RS) Panti Nirmala.
Bangunan Stasiun Malang Kota Lama ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda (Het station Kotta Lama te Malang gelegen op 429 m hoogte), yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Bangil-Sengon-Lawang-Malang sepanjang 49 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1878 dan selesai pada tahun 1879.



Proyek jalur kereta api Bangil-Sengon-Lawang-Malang ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 1 (Oosterlijnen-1). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah, dan bertahap. Pertama, diselesaikan dulu jalur rel dari Bangil hingga Lawang pada tahun 1878, kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan jalur rel dari Lawang sampai Malang yang selesai pada tahun 1879.
Stasiun Malang Kota Lama ini merupakan stasiun kereta api yang berada di paling selatan Kota Malang, dan sekaligus merupakan stasiun yang tertua di kota tersebut. Penyebutan nama Kota Lama hanya sekadar untuk membedakan dengan Stasiun Malang yang dibangun belakangan, yaitu Stasiun Kota Baru Malang.
Stasiun ini memiliki 6 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, arah utara menuju ke Stasiun Kota Baru Malang, dan arah selatan menuju Stasiun Pakisaji. Sedangkan, jalur 4 merupakan jalur menuju ke Depo Pertamina. Pada peron 1 terdapat bangunan emplasemen yang menggunakan struktur kayu dan atap pelana serta di atas atapnya terdapat vestibule yang berfungsi untuk memasukkan cahaya matahari. Struktur ini hampir mirip dengan struktur emplasemen yang terdapat di Stasiun Blitar, yaitu dengan menggunakan sistem overkapping.



Dulu, dari Stasiun Malang Kota Lama ini juga terdapat jalur trem yang menghubungkan ke Blimbing sepanjang 6 kilometer yang dibangun oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) pada tahun 1903. MSM ini merupakan perusahaan trem yang mendapat konsensi pada tahun 1894 untuk membangun jaringan rel trem.
Dari Blimbing, jalur tersebut terhubung dengan Singosari, yang sebelumnya sudah dibangun jalur trem Singosari hingga Tumpang melalui Blimbing dan Pakis sepanjang 23 kilometer. Jadi, Stasiun Blimbing kala itu merupakan pertemuan jalur dari Singosari yang akan ke Tumpang dan ke Malang. Begitu pula, yang dari Stasiun Malang Kota Lama yang ingin ke Tumpang maupun Singosari, tremnya pasti melintasi Blimbing.
Jadi, pada waktu itu Stasiun Malang Kota Lama merupakan stasiun yang ramai dan sibuk. Karena dari stasiun tersebut terhubung ke beberapa stasiun. Selain jalur trem yang sudah diterangkan di atas, dari stasiun ini juga terhubung dengan Gondanglegi. Percabangan lengkapnya yang dari Gondanglegi, bisa dibaca di tulisan sebelumnya, yaitu Stasiun Kereta Api Kepanjen. Sayang, jalur trem tersebut sudah tidak aktif lagi.
Semenjak didirikan Stasiun Kota Baru Malang pada tahun 1941, pamor Stasiun Malang Kota Lama sedikit memudar hingga pada akhirnya oleh Pemerintah Hindia Belanda, stasiun tersebut dijadikan stasiun untuk mengangkut hasil bumi dan perdagangan dari Malang ke Surabaya dan sekitarnya. Meski sekarang, stasiun ini kembali beraktivitas sebagai stasiun yang menaikkan dan menurunkan penumpang, namun tingkat kesibukannya tidaklah seperti Stasiun Kota Baru Malang. Hal ini disebabkan lokasi Stasiun Malang Kota Lama semakin ‘terpencil’. Tidak kelihatan dari jalan besar karena terhalang bangunan The Balava Hotel yang menjulang, dan para pengantar penumpang pun sekarang merasa repot sejak di depan stasiun dibangun jalan layang. Lengkaplah rasa alienasi stasiun tersebut. *** [180516]
Share:

Stasiun Kereta Api Pakisaji

Stasiun Kereta Api Pakisaji (PSI) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Pakisaji (Station Pakisadji op de spoorlijn Malang-Blitar op Java), merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 386 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3/kecil yang ada di Kabupaten Malang. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun RT. 15 RW. 03 Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah utara Pasar Pakisaji ± 300 meter.
Bangunan Stasiun Pakisaji ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang sepanjang 74 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, dengan dua arah. Artinya, pada jalur rel kereta api tersebut dilakukan dari arah barat dan arah utara, dan bertemu di Stasiun Kepanjen.


Dari arah barat, pembangunan jalur Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896 dan Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1897. Sedangkan yang dari arah utara, jalur kereta api Malang-Kepanjen sepanjang 19 kilometer sudah terselesaikan pada tahun 1896. Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2).


Stasiun Pakisaji memiliki 3 jalur. Jalur 2 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah selatan (Stasiun Kepanjen) maupun arah utara (Stasiun Malang Kota Lama). Jalur 3 digunakan untuk menunggu persilangan kereta lain yang lewat. Sedangkan, jalur 1 sudah tidak diaktifkan lagi.
Dari 3 jalur tersebut, terdapat 3 peron. Satu peron sisi yang rendah (tidak berfungsi karena jalur 1 sudah tidak aktif), dan dua peron pulau yang rendah juga. Pada semua peron ini tidak dinaungi atap seng seperti kebanyakan pada stasiun yang berada di kecamatan.


Dibandingkan dengan foto lama yang diunggah di dunia maya dengan hasil jepretan sekarang, sedikit ada perubahan pada bangunan stasiunnya. Pada tahun 1921, foto lawas memperlihatkan bahwa bangunan stasiun tersebut masih bermassa padat di mana yang tampak di dekat rel memperlihatkan adanya pintu utama yang terbuka dan pintu untuk petugas kereta api yang mepet dengan tembok di bagian utara menghadap ke timur. Sedangkan, foto sekarang memperlihatkan bahwa bangunan stasiun dirombak menjadi sedikit terbuka sehingga sirkulasi udara menjadi leluasa dan ruang tunggu menjadi longgar dan dipasangi tralis besi. Pintu yang mempet tembok bagian utara sudah tak ada lagi. Selain itu, ada penambahan untuk ruang PPKA di sisi selatan, dan agak menonjol ke dalam.
Sejak diberlakukannya sistem tiket online kereta api, stasiun yang berjarak 200 meter dari jalan raya Malang-Blitar ini, sudah tidak digunakan lagi sebagai stasiun yang bisa menaikkan atau menurunkan penumpang lagi. Jadi, Stasiun Pakisaji kini berfungsi hanya untuk persilangan atau persusulan antarkereta api saja. Namun demikian, stasiun ini masih tergolong rapi dan terawat. *** [170516]
Share:

Gereja Katolik Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Malang

Kawasan Ijen merupakan bagian Kota Malang dalam lingkup urban space direncanakan untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan akan daerah hunian sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk Kota Malang yang berkembang seiring dengan dibangunnya infrastruktur perkotaan seperti jalan dan rel kereta api. Secara umum oleh Pemerintah Hindia Belanda, Malang diarahkan selain sebagai salah satu pusat pemerintahan, juga sebagai daerah peristirahatan untuk para petinggi dan pejabat pemerintahan Hindia Belanda.
Sehingga, wajah kawasan Ijen ini banyak peninggalan kolonial Belanda yang pada mulanya direncanakan oleh Ir. Herman Thomas Karsten dengan konsep lingkungan garden city dan sampai saat ini sebagian masih terjaga keasliannya serta dapat dinikmati oleh masyarakat umum.
Salah satu bangunan lawas yang masih berdiri sampai sekarang adalah Gereja Katolik Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Gereja ini terletak di Jalan Buring No. 60 Kelurahan Oro Oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di seberang SMAN 12 Malang, atau RSIA Husada Bunda Malang.
Awalnya, gereja ini bernama Gereja Santa Theresia atau Rooms Katholiek Theresiakerk, yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada 11 Februari 1934 dan pada 28 Oktober 1934 gereja ini diberkati serta diresmikan penggunaannya yang kemudian dipersembahkan kepada Santa Theresia, pelindung karya misi. Pengerjaan bangunan gereja ini hanya memerlukan waktu selama 8 bulan dengan pemborongnya adalah NV Bouwundig Bureau Sitzen en Louzada, sedangkan perancangnya dipercayakan kepada Henri Louis Joseph Marie Estourgie (1885-1964) dari Architectenbureau Rijksen en Estourgie.



Pembangunan gereja ini berkaitan dengan daya tampung atau kapasitas gereja Katolik di Kayutangan (dikenal dengan Gereja Paroki Hati Kudus Yesus) yang sudah tidak memadai lagi. Pada tahun 1929 Mgr. Clemens Van Der Pas, O. Carm mencita-citakan pembangunan suatu Gereja Katedral di Malang. Pada waktu itu baru ada satu gereja, yaitu Gereja Paroki Hati Kudus Yesus di Kayutangan yang dibangun pada 1905. Mgr. Clemens Van Der Pas, O. Carm menyatakan keinginannya membangun suatu Gereja Katedral yang diharapkan sudah berfungsi pada Hari Kristus Raja pada tahun 1934.
Lalu, dicarilah lahan yang akan digunakan untuk pembangunan gereja tersebut, dan dapat lokasi di sekitar Jalan Ijen. Kemudian diusahakan penggalangan dana untuk mewujudkan pembangunan gereja tersebut. Pada saat penghimpunan dana, tepatnya pada 16 Desember 1933, Mgr. Clemens Van Der Pas, O. Carm meninggal dunia. Pastor Linus Hecken, O. Carm yang melanjutkan tugas Mgr. Clemens Van Der Pas, O. Carm selaku Pro-Prefek meneruskan rencana pembangunan gereja tersebut.
Pada tahun 1961, berdasarkan Konstitusi Apostolik Paus Yohanes XXIII Quod Christus tentang pendirian Hirarki Gereja Katolik Indonesia yang mandiri, nama Gereja Santa Theresia secara resmi berganti menjadi Gereja Katolik Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Sejak saat itu, tak ada dokumen resmi lain yang menyatakan pergantian nama Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel dengan nama yang lain.
Namun demikian, di tengah-tengah masyarakat Malang gereja ini sering juga dikenal dengan sebutan Gereja Ijen, dan akrab dengan sebutan Gereja Katedral. Disebut Gereja Ijen, karena lokasi gereja ini berada di lingkungan kawasan Ijen yang dulu merupakan kawasan perumahan orang-orang Belanda, dan disebut Gereja Katedral karena Katedral berarti pusat atau area yang berada di tengah-tengah gereja atau area keuskupan utama.
Gereja ini pernah mengalami renovasi pada tahun 2002, tetapi masih mempertahankan bentuk asli arsitektur gereja. Renovasi hanya dalam rangka merawat bangunan, yaitu mengganti bahan plafon dari bahan gypsum buatan lama dengan gypsum buatan pabrik modern serta mengecat ulang dinding interior.
Dilihat dari fasad bangunan, gereja ini berlanggam Neo-Gothic. Pada tampak depan gereja terdapat pintu utama sebanyak 3 buah, rose window yang menjadi ciri khas gereja Katedral, serta jendela pada bagian depan dan samping bangunan. Gereja ini juga mempunyai menara kembar pada bagian depan gereja, yang digunakan untuk menyimpan lonceng gereja. Selain itu, juga terdapat ventilasi dengan bentuk persegi panjang yang diulang pada bagian atas menara yang bertujuan supaya suara lonceng dapat terdengar sampai luar gereja.
Gereja yang menghadap ke barat ini memiliki denah bangunan utama berbentuk simetri dengan ukuran panjang 41 meter, lebar 23 meter, dan tinggi 18,25 meter. *** [190915]

Kepustakaan:
Hendra Wijaya, 2010. Studi Gaya Desain Kolonial Belanda Pada Elemen Interior Gereja Katedral Ijen Malang, dalam Skripsi di Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra Surabaya
Asyra Ramadanta, Kajian Tipologi dalam Pembentukan Karakter Visual dan Struktur Kawasan (Studi kasus: Kawasan Ijen, Malang), dalam Jurnal SMARTek, Vol. 8, No. 2: 130-142, Mei 2010
Debora Budiyono dan Riyanto Djoko, Potensi Wisata Bangunan Kolonial di Kota Malang, dalam Buana Sains Vol. 10 No. 1: 83-92, 2010
https://www.genealogieonline.nl/genealogie-daudt/I11688.php
Share:

Stasiun Kereta Api Wlingi

Stasiun Kereta Api Wlingi (WG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Wlingi, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 274 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 1 yang ada di Kabupaten Blitar. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Beru, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat SMPN 1 Wlingi, atau di sebelah barat daya Kantor Pos Wlingi.
Bangunan Stasiun Wlingi ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang sepanjang 74 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, yang dimulai pada tahun 1896, dan selesai pada tahun 1897.


Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan dua arah. Setelah jalur rel Kediri-Tulungagung-Blitar selesai pada 1884, maka dilanjutkan pembangunan jalur rel Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896 dan Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1897. Sedangkan yang dari arah utara, jalur kereta api Malang-Kepanjen sepanjang 19 kilometer sudah terselesaikan pada tahun 1896.
Pembukaan jalur kereta api Blitar-Wlingi ini juga merupakan hasil dari desakan yang telah disampaikan oleh para pengusaha yang tergabung dalam Blitarsche Landbouwvereeniging pada 10 Oktober 1889. Dengan demikian sejak itu pengangkutan produk perkebunan dengan kereta api dari Blitar ke Surabaya dapat juga melalui Kepanjen dan Malang. Pada 1900 hampir semua kota-kota di Jawa Timur sudah dihubungkan dengan baik oleh jalur kereta api dan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas Belanda di Blitar. Dengan tersedianya jaringan kereta api tersebut, wilayah Blitar dapat memiliki akses menuju pelabuhan atau pusat layanan ekspor.
Perlu diketahui bahwa wilayah Blitar pada waktu itu dikembangkan menjadi pusat industri perkebunan, yang berada di lereng Gunung Kelud, dan lembah Sungai Brantas. Pada awalnya terdapat ratusan perkebunan yang berhasil dikembangkan oleh orang-orang Eropa tetapi pada 1939 tercatat 45 perusahaan perkebunan dengan tanaman budidaya kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong, dan kelapa.
Stasiun Wlingi memiliki 4 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Talun hingga Stasiun Blitar. Jalur 2 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Kesamben hingga ke Stasiun Kepanjen. Sedangkan, jalur 3 sampai 4 merupakan persediaan untuk langsiran kereta api di kala intensitas kereta api lumayan padat.
Dari lima jalur tersebut, terdapat 3 peron. Satu peron sisi yang rendah dan dua peron pulau yang rendah juga. Pada semua peron ini tidak dinaungi atap seng seperti kebanyakan pada stasiun yang berada di kecamatan.
Namun demikian, meski Stasiun Wlingi ini awalnya merupakan stasiun dengan prototype yang dibangun di kecamatan, stasiun ini tergolong maju karena pada stasiun tersebut juga melayani kereta api jarak jauh kelas komersial atau bisnis. *** [110516]

Share:

Stasiun Kereta Api Blitar

Stasiun Kereta Api Blitar (BL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Blitar, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 167 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun (besar) yang berada di paling barat di Daop 8 Surabaya. Stasiun Blitar terletak di Jalan Mastrip No. 75, Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di selatan Kantor Pos Blitar, atau di sebelah timur laut Pasar Templek.
Bangunan Stasiun Blitar ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, yang dimulai pada tahun 1883, dan diresmikan pada 16 Juni 1884.


Proyek jalur kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 1 (Oosterlijnen-1). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah. Setelah jalur rel Sidoarjo-Mojokerto-Sembung selesai, maka dilanjutkan jalur rel Sembung-Kertosono-Kediri (1881), dan Kediri-Tulungagung-Blitar (1883-1884).
Pembangunan jalan kereta api menuju Blitar ini terkait dengan rencana besar pengembangan jalan kereta api. Pada 1875 rencana itu telah tercantum dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Staatsspoorwegen dan pelaksanaan pembangunannya ditetapkan dengan Staatsblad No. 161/1875 tertanggal 6 April 1875. Proyek itu mencakup pembangunan jalan kereta api Buitenzorg-Bandung-Cicalengka dan Madiun-Blitar.
Pengadaan kereta api tersebut pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan pelayaran para pejabat Belanda dan pengusaha sebagai sarana mobilitas atau alat pengangkutan hasil produksi perkebunan dan industri mereka. Perlu diketahui bahwa wilayah Blitar pada waktu itu dikembangkan menjadi pusat industri perkebunan, yang berada di lereng Gunung Kelud, dan lembah Sungai Brantas. Pada awalnya terdapat ratusan perkebunan yang berhasil dikembangkan oleh orang-orang Eropa tetapi pada 1939 tercatat 45 perusahaan perkebunan dengan tanaman budidaya kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong, dan kelapa.


Melihat fungsinya yang seragam maka banyak bangunan stasiun kereta api di Jawa dirancang dengan prototype yang sama menurut besar kecilnya stasiun tersebut. Misalnya stasiun untuk daerah kota atau kabupaten, mempunyai prototype yang sama, demikian juga dengan stasiun untuk daerah-daerah yang setingkat kecamatan. Termasuk Stasiun Blitar ini, awalnya bangunan stasiunnya mirip dengan bangunan Stasiun Probolinggo dan Stasiun Sidoarjo yang bergaya arsitektur Indische Empire, dengan ciri-ciri teras depan yang luas, dan gevel depan yang menonjol. Tapi kemudian pada 1905, bangunan stasiun ini mengalami perombakan, terutama bagian tampak mukanya menjadi berlanggam Art Deco yang ditandai dengan ide bentuk menara, dan pola yang geometris (horisontal-vertikal).
Stasiun Blitar memiliki 5 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Rejotangan hingga Stasiun Tulungagung. Jalur 2 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Garum hingga ke Stasiun Malang. Sedangkan, jalur 3 sampai 5 merupakan persediaan untuk langsiran kereta api di kala intensitas kereta api lumayan padat, dan juga ada yang digunakan untuk menuju dipo. Selain itu, di areal stasiun ini juga terlihat bekas jembatan putar lokomotif.
Dari lima jalur tersebut, terdapat 3 peron. Satu peron sisi yang rendah dan dua peron pulau yang tinggi. Pada peron 1 dan 2 dinaungi oleh atap seng yang ditopang oleh rangka berbahan dasar kayu. Mungkin baru stasiun ini, yang ditemukan memakai sistem overkapping seperti ini. Sehingga, memiliki keunikan tersendiri untuk Stasiun Blitar ini. *** [110516]

Share:

Gedung Jasindo Pintu Besar

Sempatkanlah mengunjungi Kota Tua bila Anda sedang bepergian ke Jakarta. Begitu sampai di sana, Anda akan disambut oleh deretan bangunan tua yang punya ceritera. Memori-memori masa lampau akan terasa bermunculan di kawasan ini, di antaranya adalah Gedung Jasindo Pintu Besar. Gedung Jasindo Pintu Besar ini merupakan sebuah gedung yang ditempati oleh Kantor PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) Cabang Pintu Besar.
Gedung ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 4 RT. 04 RW. 06 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di belakang gedung Bank Mandiri Jakarta Kota atau di depan Museum Bank Indonesia.


Gedung ini, awalnya merupakan sebuah gedung kantor cabang asuransi peninggalan semasa kolonial Belanda yang bernama NV Assurantie Maatschappij De Nederlanden van 1845, atau biasa disingkat De Nederlanden van 1845 saja. Maskapai asuransi ini didirikan pada tahun 1845, dan berkantor pusat di Den Haag, Belanda. Maskapai ini berkecimpung dalam asuransi kerugian dalam perusahaan perkebunan yang marak di Hindia Belanda kala itu. Asuransi kerugian tersebut menjalankan usahanya untuk memberikan perlindungan resiko terhadap perusahaan perkebunan dan sebagainya.
Pembangunan gedung ini dilakukan pada tahun 1913 dengan menggunakan hasil rancangan Hendrik Petrus Berlage, seorang arsitek Belanda penganut gaya arsitektur modern. Di Hindia Belanda, Berlage cuma meninggalkan dua karya arsitekturnya, yaitu gedung Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente di Surabaya (sekarang dikenal dengan gedung Aperdi), dan gedung De Nederlanden van 1845 di Batavia.
Setelah Indonesia merdeka, perusahaan asuransi kerugian milik Belanda dan Inggris dinasionalisasi menjadi PT Asuransi Bendasraya. Seiring derap pembangunan nasional yang memerlukan jasa layanan perlindungan asuransi kerugian yang lebih luas untuk setiap proses pembangunan, maka pemerintah mengambil kebijakan berupa penggabungan usaha. Melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 764/MK/IV/12/1972, pada tanggal 2 Juni 1973, PT Asuransi Bendasraya yang bergerak dalam asuransi rupiah dan PT Umum Internasional Underwriters (PT UIU) yang bergerak dalam asuransi valuta asing dimerger menjadi PT Asuransi Jasa Indonesia, yang sekarang lebih dikenal sebagai Asuransi Jasindo.
Melihat perjalanan maskapai asuransi De Nederlanden van 1845 itulah, maka gedung tua peninggalannya yang berada di Jalan Pintu Besar Utara tersebut sekarang menjadi gedung Jasindo Pintu Besar. *** [290416]

Share:

Gedung OLVEH Jakarta

Pengguna jasa kereta api yang sering naik atau turun melalui Stasiun Jakarta Kota, tentunya familiar dengan bangunan lawas bercat putih yang ada di dekat stasiun tersebut. Begitu keluar dari pintu sebelah selatan, searah mata memandang lurus ke selatan akan tertuju kepada bangunan kuno tersebut.
Gedung tiga lantai bernuansa kolonial tersebut dikenal dengan sebutan Gedung OLVEH. Gedung ini terletak di Jalan Jembatan Batu No. 50, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di seberang selatan Stasiun Jakarta Kota, atau di seberang selatan Halte Busway Jakarta Kota.
Nama gedung tersebut terasa unik di telinga kita. OLVEH sebenarnya merupakan singkatan dari Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp (Mutual Life Assurance Society Personal Assistance), yaitu salah satu perusahaan asuransi jiwa yang ada di Hindia Belanda pada masa itu. Perusahaan asuransi ini didirikan pada 1 Juli 1879 oleh Jhr. Mr. G. De Bosch Kemper di Den Haag, Belanda. Oleh karena itu, perusahaan asuransi ini sering juga disebut dengan De OLVEH van 1879.
Pada waktu Pemerintah Hindia Belanda membuka keran bagi asuransi swasta asing untuk berekspansi di Hindia Belanda, maka berdatanganlah beberapa perusahaan asuransi swasta asing ke Batavia. Salah satunya adalah De OLVEH van 1879, yang juga membuka cabang pertamanya di Batavia, Hindia Belanda.
Semula kantor cabang ini menempati gedung yang berada di ujung persimpangan Jalan Pintu Besar Utara dan Jalan Kali Besar Timur 3. Di dalam gedung tersebut tidak hanya De OLVEH saja melainkan juga ada maskapai asuransi lainnya, yaitu Ongevallen Verzekering Mij FATUM. Setelah De OLVEH tumbuh dan berkembang di Batavia, maka ia berencana membangun gedung tersendiri yang lebih representatif.


Akhirnyam dipilihlah lokasi di Vorrij Zuid (nama lawas Jalan Jembatan Batu). Kemudian dibangunlah gedung baru pada tahun 1921. Desain arsitekturnya dibuat oleh Schoemaker bersaudara, yakni Richard Leonard Arnold Schoemaker dan Charles Prosper  Wolf Schoemaker yang mendirikan sebuah firma bernama C.P Schoemaker en Associatie-Architecten & Ingenieurs. Pengerjaan bangunan gedung tersebut memakan waktu sekitar setahun, dan kemudian diresmikan pada tahun 1922.
Konon, pembangunan gedung OLVEH ini menghabiskan anggaran sebesar 250 ribu gulden, termasuk dengan pembelian tanahnya. Lantai 1 dan lantai 2 disewakan kepada perusahaan lain, sedangkan operasional OLVEH hanya menempati lantai 3 atau yang paling atas, berdekatan dengan kubah gedung ini. Kubah ini terbuat dari kaca yang berfungsi untuk pencahayaan hingga lantai 1.
Perjalanan gedung OLVEH ini berlangsung hingga 40 tahun lamanya, dan berakhir ketika dilakukan nasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958, tanggal 23 Februari 1959 pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemenrintah Nomor 2 tahun 1959 tentang Pokok-Pokok Pelaksanaan Undang-Undang Nasionalisasi Perusahaan Belanda di mana perusahaan-perusahaan milik Belanda yang seluruhnya atau sebagian merupakan milik perorangan warga negara Belanda, badan hukum yang modalnya berasal dari perorangan dan berada di wilayah Republik Indonesia dapat dikenakan nasionalisasi.
Keberlakuan UU tersebut juga berimbas pada perusahaan asuransi Belanda yang berada di Hindia Belanda. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1960 tentang Penentuan Perusahaan Pertanggungan Jiwa Milik Belanda Yang Dikenakan Nasionalisasi menyebutkan ada 9 perusahan pertanggungan jiwa milik Belanda yang terkena nasionalisasi, salah satunya adalah De Olveh van 1879 ini, dan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 214 Tahun 1961 Tanggal 12 Juli 1961 tentang Pendirian Perusahaan Negara Asuransi Jiwa Eka Sejahtera, De Olveh van 1879 termasuk salah satu perusahaan asuransi milik Belanda yang dilebur ke dalamnya bersama dengan 8 perusahaan asuransi jiwa lainnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1965 tentang Pendirian Perusahaan Negara Asuransi Jiwasraya, dijelaskan bahwa Perusahaan Negara Asuransi Jiwa Eka Sejahtera dilebur ke dalam Perusahaan Negara Asuransi Jiwasraya.
Dinamika dalam Perusahaan Negara Asuransi Jiwasraya pun tidak berhenti di situ, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1972 tentang Perubahan Bentuk Perusahaan Negara Asuransi Jiwasraya menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Asuransi Jiwasraya yang dimuat dalam Lembaran Negara Nomor 48 Tahun 1972.
Sejak itu gedung OLVEH ini, berubah status kepemilikannya menjadi milik PT Asuransi Jiwasraya. Karena itu pula, kemudian gedung OLVEH ini juga dikenal dengan nama gedung Jiwasraya. Tapi entah kenapa kemudian setelah menjadi milik Jiwasraya, dalam perjalanannya gedung ini malah sempat mangkrak dan terbengkelai sekian tahun lamanya. Hal ini menyebabkan bangunan gedung tersebut menjadi rusak.
Sebelum bertambah parah karena terjadi pembiaran oleh pemiliknya, gedung kuno ini menemui dewi fortunanya. PT Pembangunan Kota Tua Jakarta atau Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) memasukan gedung OLVEH ini ke dalam deretan gedung tua yang akan direnovasi olehnya.
Kini, gedung OLVEH terlihat kokoh, megah dan cantik kembali setelah selesai direvitalisasi oleh JOTRC. Peresmiannya dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti pada 17 Maret 2016. Gedung bergaya Art Deco ini direncanakan akan difungsikan sebagai kantor dan workhsop industri kreatif. Di bawah pengelolaan Sarasvati Art Communication and Publication, gedung tua ini diharapkan bisa menjadi tempat berkumpulnya komunitas industri kreatif atau bisa juga disewakan untuk kegiatan diskusi, pemutaran film, seni, desain, dan aktivitas terkait, semisal pusat riset budaya. *** [290416]

Share:

Stasiun Kereta Api Tanjung Priok

Stasiun Kereta Api Tanjung Priok (TPK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Tanjung Priok, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian + 1,5 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun tua yang ada di Jakarta. Stasiun Tanjung Priok terletak di Jalan Taman Stasiun No. 1 RT. 05 RW. 08 Kelurahan Tanjung Priok, Kecamatan Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Pelabuhan Tanjung Priok, atau bersebelahan dengan Terminal Bus Tanjung Priok.
Bangunan Stasiun Tanjung Priok ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Jakarta-Tanjung Priok sepanjang 9 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1885.


Semula, bangunan Stasiun Tanjung Priok berada di sebelah utara bangunan yang ada sekarang. Pada awalnya pembangunan Stasiun Tanjung Priok ini sebagai penunjang transportasi orang dan barang dari dan ke wilayah pelabuhan. Sehingga, peranannya memang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Pelabuhan Tanjung Priok pada masa lalu. Karena aktivitas dan tingkat keramaian di Pelabuhan Tanjung Priok semakin meningkat dan melonjak, maka menyebabkan stasiun yang pertama tidak memadai lagi untuk menampung jumlah penumpang dan barang-barang kiriman yang terus meningkat dari dalam maupun luar negeri.
Kondisi tersebut menjadi pertimbangan Pemerintah Hindia Belanda kala itu untuk memindahkan stasiun tersebut agar lebih representatif. Akhirnya, dibangunlah stasiun baru yang lebih besar di lokasi yang sekarang ini. Proses pembangunannya dimulai pada tahun 1914 dengan luas lahan mencapai 46.930 m² dan luas bangunan sebesar 3.768 m². Arsitek yang dipercaya untuk mendesain stasiun ini adalah C.W. Koch, yang merupakan insinyur utama dari Staatsspoorwegen (SS) yang berdiri sejak 6 April 1875.
Untuk menyelesaikan stasiun yang dibangun semasa pemerintahan Gubernur Jenderal A.F.W. Indeenburg ini, diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa. Setelah selesai pengerjaannya, stasiun ini pertama kali dibuka untuk umum pada 6 April 1925 bertepatan dengan ulang tahun ke-50 Staatsspoorwegen yang bersamaan dengan pengoperasian trem (kereta api listrik) jurusan Tanjung Priok-Meester Cornelis, dengan menggunakan lokomotif listrik seri ESS 3200 buatan Werkspoor Belanda, dan merupakan lokomotif listrik pertama yang dioperasikan di Hindia Belanda.


Meskipun Stasiun Tanjung Priok bukan merupakan stasiun pusat, namun stasiun ini tergolong megah dan mewah, yang memiliki delapan peron sehingga besarnya nyaris menyamai Stasiun Jakarta Kota. Stasiun ini dulunya memang untuk mengakomodir perdagangan dan wisatawan Eropa di Batavia karena pada waktu itu wilayah Tanjung Priok yang terletak di bagian utara Jakarta, sebagian besar adalah hutan dan rawa-rawa yang berbahaya sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman untuk menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan kawasan kota melalui Stasiun Jakarta Kota.
Fungsinya pada masa itu pun sebenarnya tidak hanya untuk stasiun saja melainkan juga menyediakan penginapan bagi penumpang yang akan menunggu kedatangan kapal laut untuk melanjutkan perjalanan. Kamar-kamar penginapan tersebut berada di sayap kiri bangunan yang khusus disediakan untuk penumpang Belanda dan orang Eropa, serta dilengkapi dengan ruang di bawah tanah yang diperkirakan berfungsi sebagai gudang logistik.
Seperti halnya Stasiun Jakarta Kota, stasiun ini juga merupakan stasiun ujung (kop station) di mana rel berakhir pada bangunan stasiun dan kedudukan sepur tegak lurus dengan peron. Stasiun ini memiliki 8 jalur ganda, 6 jalur di dalam peron dan 2 jalur berada di luar peron. Atap peron berupa struktur baja bentang lebar dengan bentuk kuda-kuda melengkung yang menaungi ke delapan peron sekaligus.
Bangunan stasiun ini sempat mangkrak beberapa tahun lamanya. Stasiun menjadi terbengkelai, kurang terurus dan kumuh dipenuhi oleh para gelandangan. Kemudian pada tahun 2008 dilakukan renovasi besar-besaran terhadap fisik bangunan stasiun ini. Juga tak luput, dilakukan rehabilitasi fasilitas rel serta pembangunan perangkat sinyal elektrik pada awal tahun 2009. Pada 28 Maret 2009, Stasiun Tanjung Priok sudah dapat kembali difungsikan.
Pada awal penggunan kembali stasiun tersebut, stasiun ini sempat melayani kereta ekonomi jarak jauh dan lokal serta KRL Ekonomi AC atau Commuter Line rute Tanjung Priok-Bekasi. Akan tetapi, sejak 1 November 2014 semua kereta api yang tadinya berangkat dari Stasiun Tanjung Priok dipindahkan ke Stasiun Pasar Pasar Senen. Hal ini lantaran stasiun ini direncanakan akan dijadikan stasiun barang.
Sejak 21 Desember 2015, stasiun ini kembali melayani Commuter Line jurusan Tanjung Priok-Jakarta Kota yang sempat beberapa tahun tidak aktif. Sehingga, denyut aktivitas stasiun mulai terlihat kembali.
Renovasi bangunan Stasiun Tanjung Priok yang berlanggam Art Deco ini memang bukan semata hanya untuk keperluan transportasi namun juga bertujuan untuk melestarikan bangunan stasiun ini sebagai cagar budaya dan sekaligus dapat menjadi pusat studi serta tujuan wisata sejarah. Penetapannya sebagai cagar budaya berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan nomor PM.13/PW.007/MKP/2005 tertanggal 25 April 2005. *** [290416]

Kepustakaan:
Jurnal Ilmiah Desan & Konstruksi Nomor 2 Vol. 11 Desember 2012
https://www.google.co.id/?gws_rd=ssl#q=alamat+stasiun+priuk
https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Tanjung_Priok
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami