The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label museum di Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label museum di Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Museum Prambanan

Puas mengelilingi Candi Prambanan, tanpa terasa hari pun sudah senja. Mentari menjelang di ufuk barat, tanpa sengaja menjumpai Museum Prambanan. Karena saat keluar dari Candi Prambanan di sebelah barat, jalan akan sampai pada pertigaan jalan. Ke kiri bisa menjumpai Candi Sewu, ke kanan mengarah ke pintu keluar kompleks Taman Wisata Candi Prambanan di mana di antaranya terdapat Museum Prambanan.
Mengingat pertimbangan waktu sudah tidak terkejar bila menuju Candi Sewu, maka penulis mengarahkan langkah ke kanan dari pertigaan tersebut. Di situlah keberuntungan bagi penulis karena ternyata dalam langkah tersebut bisa berjumpa dengan bangunan Museum Prambanan. Tanpa berkpikir panjang, penulis langsung masuk ke dalam Museum Prambanan di depan pintu utamanya terdapat miniatur kapal kuno.
Museum ini terletak di Jalan Raya Jogja-Solo Km 16 Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Museum ini berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan.


Museum Prambanan ini dibangun pada tahun 1998 sebagai salah satu fasilitas bagi wisatawan yang berkunjung di Taman Wisata Candi Prambanan untuk mengetahui lebih jauh tentang Candi Prambanan. Ide awalnya, adalah untuk mengumpulkan tinggalan arekologis yang ada di Candi Prambanan maupun candi-candi di sekitarnya berserta artefak-artefak yang berhubungan dengan candi-candi tersebut.
Museum Prambanan menempati areal tanah seluas 10.000 meter persegi dengan bangunan bercorak arsitektur Jawa dan mempunyai bagian-bagian berupa pendopo, ruang pameran, ruang kantor, dan ruang audio visual.
Memasuki halaman museum ini, pengunjung akan disambut dengan dua arca dwarapala. Dwarapala adalah patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Buddha, berbentuk buto (monster raksasa). Biasanya dwarapala diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain untuk melindungi tempat suci atau tempat keramat di dalamnya. Kemudian sambil melintas paving yang di ujung depan ada arca dwarapala tersebut, pengunjung bisa menjumpai pendopo yang sekarang digunakan untuk promosi jamu herbal.
Sementara itu, di pendopo bagian tengah dikelilingi empat ruangan yang masing-masing dihubungkan dengan teras beratap. Keempat ruangan tersebut digunakan untuk ruang koleksi milik Museum Prambanan.

Ruang Koleksi I
Ruang Koleksi I memajang sejumlah temuan artefak emas dari Wonoboyo, proses pembuatan relief Ramayana di Candi Siwa, arca Siwa, Brahma, Wisnu dan beberapa arca lainnya serta lingga yoni. Selain itu, ada pula sebuah fosil kepala kerbau dan mustaka masjid berukir kepala kala dari Bayat yang terbuat dari gerabah.

Ruang Koleksi II
Ruang Koleksi II atlas persebaran situs di kawasan Candi Prambanan, arca batu maupun patung perunggu, prasasti beraksara Jawa Kuno. Peta persebaran tersebut menunjukkan keberadaan candi Buddha di sekitar Prambabanan yang merupakan kompleks percandian Hindu terbesar di Indonesia, yaitu Candi Sewu, Candi Plaosan, dan Candi Sojiwan.



Ruang Koleksi III
Ruang Koleksi III memamerkan beberapa benda koleksi yang berhubungan dengan wujud Dewa Wisnu. Pertama, arca Wisnu dan Laksmi yang berdiri di atas lapik teratai. Kedua, arca perwujudan inkarnai Dewa Wisnu, dan ketiga, lapik arca burung Garuda yang merupakan kendaraan Wisnu.

Ruang Koleksi IV
Ruang Koleksi IV menampilkan foto-foto reruntuhan kompleks Candi Prambanan pada waktu ditemukan, candi-candi di sekitar Prambanan, dan foto tokoh-tokoh berjasa dalam merekonstruksi reruntuhan kompleks Candi Prambanan, seperti Jan Willem Ijzerman, NJ Krom, dan WF Stutterheim.

Keluar dari ruang Koleksi IV, pengunjung akan menemui ruang audio visual sebelum keluar dari Museum Prambanan. Ruang audio visual ini digunakan untuk memutar film berdurasi 20 menit yang berkisah mengenai latar belakang ditemukannya candi sampai kisah Dewa Siwa sebagai dewa tertinggi. Ruang berkapasitas sekitar 40 orang ini cukup nyaman dengan fasilitas AC dan berbayar.
Mengunjungi museum ini akan menambah wawasan kita akan benda-benda purbakala yang berhubungan dengan keberadaan kompeks Candi Prambanan yang nota bene pengetahuan akan kebudayan di masa Mataram Kuno. *** [220715]
Share:

Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama

Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama berlokasi di Jl. Jenderal Sudirman No. 75 Yogyakarta. Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama diresmikan oleh Kasad Jenderal TNI Poniman pada tanggal 30 Agustus 1982. Museum ini awalnya merupakan Markas Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro yang diabadikan menjadi gedung Museum Pusat TNI AD, mempunyai riwayat yang cukup panjang sesuai dengan fungsi/pemakaiannya.


Koleksi yang digelar merupakan benda-benda bersejarah yang dipergunakan oleh para pejuang dan lascar-laskar rakyat dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan RI. Jumlah koleksinya 4.289 buah.
Gedung yang dibangun pemerintahan kolonial Belanda tahun 1904 dengan luas sekitar 1.564 m², pada mulanya dipergunakan sebagai rumah dinas pejabat administrasi perkebunan Belanda di Jawa Tengah dan DIY. Pada zaman Jepang tahun 1942, gedung ini disita dan dipergunakan sebagai Markas Tentara Jepang di Yogyakarta (Syudokan).


Setelah Indonesia Merdeka, gedung ini digunakan sebagai Markas Besar TKR (MBT). Di markas ini diselenggarakan Konferensi TKR pada 12 November 1945, yang berhasil memilih Pimpinan Tertinggi Angkatan Perang yaitu Panglima Besar Jenderal Sudirman.


Di markas ini Panglima TKR mengendalikan komando ke seluruh wilayah tanah air Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan RI dan sebagai tempat Kepala Staf Letjen Urip Sumoharjo menyusun organisasi TKR yang selanjutnya berkembang menjadi TNI.
Gedung ini pernah digunakan sebagai Markas Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro dan saksi sejarah kebiadaban G 30 S/PKI pada tahun 1965, yang melakukan penculikan terhadap Kepala Staf Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro, Letkol Sugiyono dan akhirnya dibunuh secara kejam bersama dengan Danrem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro, Kolonel Inf. Katamso Dharmokusumo, yang diculik dari rumah dinas oleh oknum Yon L Kentungan Yogyakarta.

TATA RUANG DAN KOLEKSI MUSEUM

·         RUANG 1 : RUANG PENGANTAR
Terletak di bagian tengah depan gedung utama sebagai ruang pengantar para pengunjung untuk memahami nilai dan arti perjuangan serta pengabdian para pahlawan dan pejuang dalam merebut, mengisi dan mempertahankan kemerdekaan RI melalui aspek kesejarahan koleksi Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama.
Koleksi yang dipamerkan sebagai bukti sejarah perjuangan sesuai dengan tema kronologis historis perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah, prasasti peresmian Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama dan foto para mantan Kasad.


·         RUANG 2 : RUANG JENDERAL SUDIRMAN
Sebagai ruang kerja Jenderal Sudirman sewaktu menjabat Panglima Besar, yang terpilih dari hasil Konferensi TKR 12 November 1945 dan dilantik sebagai Panglima Besar 18 Desember 1945. Di ruangan ini, Jenderal Sudirman memimpin, memberikan komando dan membina TNI.


·         RUANG 3 : RUANG LETJEN URIP SUMOHARJO
Sebagai ruang kerja Letjen Urip Sumohardjo yang menjabat sebagai Kepala Staf. Di ruangan ini, Letjen Urip Sumohardjo merumuskan organisasi tentara yang memiliki jati diri sebagai tentara rakyat, tentara perjuangan dan tentara nasional.
Koleksi yang dipamerkan yaitu meja kerja, telepon, kursi tamu rotan, foto setengah badan. Suatu keteladanan pejuang sejati, yang menjabat Kepala Staf, ahli organisasi tentara yang berjuang tanpa pamrih dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.


·         RUANG 4 : RUANG PALAGAN
Di ruang ini dipamerkan koleksi senjata, alat perlengkapan, pakaian pejuang, seragam tentara PETA dan TKR serta lukisan 8 palagan besar yang menentukan dalam merebut, mengisi dan mempertahankan Kemerdekaan RI dari tentara Belanda, Sekutu dan Jepang. 8 palagan tersebut, yaitu Palagan Medan (Perjuangan Medan Area), Palagan Palembang (Pertempuran 5 hari 5 malam), Palagan Bandung (Bandung Lautan Api), Palagan Semarang (Pertempuran 5 hari), Palagan Ambarawa, Palagan Surabaya, Palagan Bali (Puputan Margarana) dan Palagan Makassar.


·         RUANG 5 : SENJATA MODAL PERJUANGAN
Koleksi berupa senjata tradisional (keris, trisula, tombak, klewang, panah, bambu runcing, meriam kecepek), senapan dan pistol yang dirampas dari tentara Jepang dan Belanda serta granat gombyok yang digunakan para pejuang untuk merebut, mengisi dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari penjajah.


·         RUANG 6 : RUANG DAPUR UMUM
Menggambarkan dapur tradisional rumah rakyat yang terbuat dari bambu dan atap rumbia, yang berperan dalam perjuangan dengan mendukung keperluan logistik dapur umum di setiap sector pertempuran. Koleksi: kukusan, dandang, kekep, bakul, tenggok, tungku api, kayu bakar dan kendil air.

·         RUANG 7 : RUANG ALHUB DAN ALKES
Koleksi yang digelar berupa alhub (telepon Belanda, baterai radio, radio pemancar TRT, pesawat induk TRT, pesawat penerima R. 107, pemancar BC-191-N, pesawat SCR 284/BC 694, pemancar dan penerima HF 156, pemancar dan penerima WS-19) dan Alkes berupa alat operasi yang digunakan untuk merawat prajurit yang sakit dan tertembak saat terjadi pertempuran.

·         RUANG 8, 9, 10 : RUANG PERANG KEMERDEKAAN
Di ruangan ini digambarkan dharma bakti Angkatan Darat dalam mempertahankan kemerdekaan RI dari Agresi Militer Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947 dan Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948.

·         RUANG 11 : RUANG PANJI-PANJI
Ruang Panji-panji memiliki koleksi, seperti Panji-panji Kesatuan TNI AD, Pataka Kotama/Balakpus, Dhuaja Resimen, Brig, Korem, Grup, Sempana Kodiklatad dan Rindam, Tunggul Batalyon serta Pathola Depo Pendidikan.


·         RUANG 12 : RUANG GAMAD
Di ruang ini dipamerkan berbagai bentuk dan tipe seragam Angkatan Darat meliputi PDH, PDU dan PDL beserta atributnya sejak tahun 1950 sampai dengan 1980.

·         RUANG 13 : RUANG TANDA JASA
Di ruang ini dipamerkan Tanda Jasa /Penghargaan berupa Bintang Jasa dan Satya Lencana sebagai pengakuan dan penghargaan atas jasa para prajurit yang telah berjuang, mengabdi kepada bangsa dan negara sehingga dapat memberikan dukungan moril dan kebanggaan kepada yang bersangkutan, keluarga dan generasi penerus.

·         RUANG 14, 15, 16 : RUANG PERISTIWA
Di ruang ini digambarkan peristiwa pemberontakan PKI, DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, DI/TII Sulawesi Selatan, kebiadaban gerakan separatis dan Operasi Militer yang digelar TNI dalam rangka memulihkan keamanan, mempertahankan keutuhan wilayah dan menjaga kedaulatan NKRI.

·         RUANG 17 : RUANG ALAT PERALATAN
Di ruang ini dipamerkan benda-benda bersejarah yang dipergunakan pada gelar operasi satuan Angkatan Darat dalam menanggulangi gangguan keamanan dari pihak-pihak yang merongrong NKRI sejak tahun 1950 hingga sekarang, yaitu: senjata, alat optic, alat perhubungan dan mesin elektronik.

·         RUANG 18 : RUANG PIAGAM KEUTUHAN AD DAN KONTINGEN GARUDA
Di ruang ini digambarkan situasi tahun 1950-an, peristiwa rakyat demonstrasi sebagai usaha menyatukan konflik internal Angkatan Darat yang dirintis oleh Kolonel Bambang Sugeng dan berhasil dilaksanakan upacara di Istana Yogyakarta yang dipimpin Presiden Soekarno dengan ditandatanganinya Piagam Keutuhan.
Koleksi yang dipamerkan: Piagam Keutuhan, penyangga pbor penerangan pada peristiwa penandatanganan Piagam Keutuhan TNI AD, benda-benda koleksi dan foto Kontingen Garuda di Kongo, Afrika dan Kamboja.

·         RUANG 19 : RUANG PAHLAWAN REVOLUSI
Di ruang ini digambarkan kebiadaban peristiwa pemberontakan G 30 S/PKI yang menculik dan menyiksa para pimpinan Angkatan Darat. Sembilan Perwira Angkatan Darat yang diangkat sebagai Pahlawan Revolusi yaitu: Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta R. Suprapto, Letjen TNI Anumerta M.T. Haryono, Letjen TNI Anumerta Suwondo Parman, Mayjen TNI Anumerta Donald Ignatius Panjaitan, Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, Brigjen TNI Katamso Dharmokusumo, Kolonel Inf Anumerta Sugiyono, Kapten Czi Anumerta Piere Tendean.
Koleksi yang dipamerkan berupa perlengkapan militer dan pribadi Pahlawan Revolusi, foto Pahlawan Revolusi dan riwayat hidup singkat.

·         RUANG 20 : RUANG PENUMPASAN G 30 S/PKI
Koleksi yang dipamerkan, antara lain: benda-benda bukti sejarah alat propaganda G 30 S/PKI yaitu senjata api, senjata tradisional, bendera PKI, buku-buku doktrin PKI dan alat transportasi sepeda; Operasi Militer penumpasan PGRS/Paraku di Kalimantan; mobil sedan Holden Special yang pernah digunakan Panglima Mandala Mayjen TNI Soeharto dalam Operasi Militer Pembebasan Irian Barat tahun 1963 serta seragam darah mengalir komandan RPKAD Kolonel Inf Sarwo Edhi Wibowo.

OUTDOOR DISPLAY
                Di Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama, benda koleksi yang dipamerkan bukan hanya di dalam gedung namun ada pula yang berada di luar gedung, tertata pada lokasi masing-masing:
·         Di halaman depan Gedung Museum dipamerkan seperti Tank Stuart MK I dan Tank Stuart MK III yang dipakai dalam operasi penumpasan pemberontakan AUI, MMC dan G 30 S/PKI di Jawa Tengah, Meriam Bofors, Meriam Gunung caliber 75 mm yang dipergunakan TNI pada Palagan Ambarawa tahun 1945 dan Meriam Gunung caliber 37 mm penyerahan dari Mayor Jenderal Meijer, Panglima Tentara Belanda di Jawa Tengah kepada Panglima Divisi III/Diponegoro, Kolonel Gatot Subroto.
·         Di taman sebelah kanan gedung induk museum terdapat Meriam AT, SMS Browning dan 2 buah bom.
·         Di taman sebelah kanan gedung belakang (R.11 – 18) terdapat Ruang Bawah Tanah yang dibangun bersamaan waktu dengan berdirinya gedung museum ini. Ruang ini oleh pendiri diperuntukkan sebagai tempat persembunyian bagi yang menempati. Di samping itu, terdapat pula Tank Stuart MK I. *** [130312]

Sumber:
  • _______________ , 2008, Buku Panduan Museum Pusat TNI AD “Dharma Wiratama”, Jakarta: Dinas Sejarah Angkatan Darat
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami