The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Alas Purwo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alas Purwo. Tampilkan semua postingan

Pura Luhur Giri Salaka: Melangkah di Tapak Suci Alas Purwo

Langit Alas Purwo siang itu seperti diselubungi selimut sunyi. Rimbun pohon-pohon tua dan desir angin dari arah pantai menciptakan alunan alam yang seakan berbicara dengan jiwa. Usai menyerap keheningan sakral di Situs Kawitan, Pak Dhe Suparno dan Bu Dhe Mardiyati mengajak Andhika Krisnaloka, S.Sos dan saya bergeser sekitar 50 meter menuju ke sebuah tempat yang tak kalah sakral, yaitu Pura Luhur Giri Salaka.

Pura ini bukan sekadar bangunan pemujaan biasa. Ia adalah perwujudan spiritualitas yang tumbuh dari akar kepercayaan masyarakat Hindu di wilayah Tegaldlimo dan Bali. Dibangun pada tahun 1996, Pura Luhur Giri Salaka hadir sebagai tempat penyangga bagi luberan peziarah yang membludak ke Situs Kawitan, terutama pada hari-hari besar seperti Pagerwesi. Dalam setiap perayaan, atmosfernya seolah menjelma menjadi lorong waktu - memanggil kembali nilai-nilai purba dan kesucian masa lampau.

Peziarah sedang melakukan ritual doa menghadap meru di Utama Mandala

Etimologi dan Makna Nama

Nama "Pura Luhur Giri Salaka" mengandung makna filosofis yang dalam. Pura berasal dari bahasa Sansekerta “pur” (kota, banteng) atau “pura” (kota, tempat suci). Sehingga, pura dalam pengertian ini bermakna tempat suci umat Hindu di Tegaldlimo, Banyuwangi, yang sering dikatikan dengan kompleks suci yang dikelilingi tembok.

Luhur berasal dari bahasa Jawa Kuno atau Kawi “luhur” (tinggi, mulia, suci). Sehingga, makna “luhur” di sini menunjukkan kesucian, keluhuran, atau kedudukan spiritual yang tinggi.

Giri berasal dari bahasa Sansekerta “giri” (gunung atau bukit). Dimaksudkan sebagai simbol kedekatan dengan alam dan kadéwan. Dalam konteks pura ini, mungkin merujuk pada letaknya di perbukitan atau wilayah tinggi di Alas Purwo.

Sedangkan, salaka berasal dari bahasa Jawa Kuno atau Kawi “salaka” (perak). Perak melambangkan kemurnian, kejernihan, dan cahaya spiritual.

Jika disatukan, Pura Luhur Giri Salaka dapat dimaknai sebagai “tempat suci yang mulia di bukit (gunung) yang bersinar suci laksana perak”, mencerminkan posisinya sebagai tempat pembersihan diri dan kontemplasi di tengah belantara Alas Purwo - yang dipercaya sebagai tanah pertama munculnya peradaban Jawa.

Candi bentar Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo, Banyuwangi

Tata Ruang dan Arsitektur Spiritual

Sebagaimana pura-pura di Bali, tata letak Pura Luhur Giri Salaka mengikuti filosofi Tri Mandala, yaitu tiga zona suci, yakni Nista Mandala (Jaban Pisan), Madya Mandala (Jaba Tengah), dan Utama Mandala (Jeroan).

Nista Mandala (Jaban Pisan)

Area paling luar, tempat penyucian diri sebelum masuk ke zona lebih dalam. Gerbang candi bentar berdiri tegak sebagai pemisah dunia profan dan sakral.

Madya Mandala (Jaban Tengah)

Zona tengah untuk persiapan ritual, tempat berdirinya bale kulkul dan bale pawedan, di mana mantra-mantra dibacakan dan kentongan (kulkul)  dibunyikan sebagai penanda dimulainya upacara.

Utama Mandala (Jeroan)

Zona paling sakral, inti dari pura. Di sinilah terdapat padmasana, meru bertingkat sebagai simbol Gunung Mahameru, dan berbagai pelinggih untuk pemujaan roh leluhur dan dewa-dewi.

Bangunan-bangunan ini dibuat dari batu andesit dan bata merah, dengan detail ornamen naga, garuda, dan padma - simbol-simbol spiritual yang merekatkan arsitektur Bali dengan nuansa Jawa Kuno. Atap meru bertingkat yang menjulang di pelataran utama menegaskan hubungan vertikal manusia dengan alam dan Sang Hyang Widhi.

Kori Agung Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo, Banyuwangi

Alam sebagai Simbol

Keunikan Pura Luhur Giri Salaka tak lepas dari lanskap alam di sekitarnya. Dikelilingi oleh lebatnya hutan tropis Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), tempat ini seolah menjadi jembatan antara dunia nyata dan dunia tak kasat mata. 

Seperti yang pernah ditulis oleh Charles Baudelaire (1821-1846), penyair, penulis esai, penerjemah, dan kritikus seni Prancis, dalam puisinya Correspondances:

“La Nature est un temple où de vivants piliers

Laissent parfois sortir de confuses paroles;

L'homme y passe à travers des forêts de symboles

Qui l'observent avec des regards familiers.”


“Alam adalah kuil tempat pilar-pilar hidup

Terkadang mengeluarkan kata-kata yang membingungkan;

Manusia mendekatinya melalui hutan simbol

Yang mengamatinya dengan tatapan yang familiar.”


Kutipan ini merefleksikan keberadaan Pura Luhur Giri Salaka: ia bukan sekadar tempat ibadah, tapi kuil yang tumbuh dari pangkuan alam, penuh simbol, dan menyimpan lapisan makna yang hanya dapat dirasakan oleh hati yang hening.

Gerbang menuju Utama Mandala

Ruang Spiritual di Tengah Rimba

Tak sedikit peziarah yang datang bukan hanya untuk bersembahyang, tapi juga untuk melukat - ritual penyucian diri - dan meditasi dalam keheningan hutan. Lokasinya yang berdampingan dengan Situs Kawitan, yang ditemukan tahun 1967, memperkuat aura tempat ini sebagai ruang spiritual yang menyambung masa lalu dan masa kini.

Pura ini menjadi saksi dialog hening antara manusia dan alam, antara doa dan daun-daun yang gemetar diterpa angin. Setiap elemen, dari batu candi hingga suara alam, seolah memanggil jiwa untuk kembali ke akar kesadaran.

Di tengah belantara Alas Purwo yang mistis, Pura Luhur Giri Salaka berdiri sebagai penjaga sunyi - menyatu dengan alam dan menjelma menjadi titik temu antara spiritualitas, sejarah, dan simbol-simbol semesta. Di sini, setiap langkah menjadi doa, dan setiap napas adalah bagian dari harmoni kosmik. *** [140725]



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami