The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Ambon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ambon. Tampilkan semua postingan

Daftar Bangunan Kuno di Ambon

Berikut ini adalah daftar bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Ambon:

Masjid Jami’ Ambon
Masjid ini terletak di Jalan Sultan Baabullah, Kelurahan Honipopu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku

Museum Siwalima
Museum ini terletak di Jalan Dr. Malaihollo Taman Makmur, Desa Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Provinsi Maluku

Share:

Hongi-Tochten, Pelayaran Membasmi Cengkeh

Cengkeh dan pala adalah komoditas unik. Keduanya sangat dibutuhkan, tetapi tidak boleh berlebihan agar harganya tidak jatuh. Mahalnya harga cengkeh dan pala pada masa lalu dipicu oleh langkanya kedua komoditas di pasar dunia. Penyebab utamanya adalah sulitnya akses ke pulau-pulau kecil penghasil rempah itu di Maluku. Jalur perdagangan yang panjang dan berbahaya membuat harga cengkeh dan pala di pasar Eropa setara dengan emas.
Kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), menyadari betul prinsip ini. Oleh karena itu, dengan segala cara mereka berupaya memonopoli perdagangan cengkeh dan membatasi produksi.
Prinsip dagang itu meruyakkan tragedi. Para penguasa setempat yang tidak bersedia menjual rempah hanya kepada VOC dihabisi. Pada 1621, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mengirim armada dari Batavia ke Banda untuk menghancurkan masyarakat setempat yang menolak monopoli Belanda.
Williard A Hanna dalam Indonesia Banda, Colonialism and its Aftermath in the Nutmeg Islands (1991) menyebutkan, pasukan VOC terdiri atas 1.655 orang Eropa (150 meninggal dalam perjalanan) ditambah 250 orang dari garnisun di Banda. Sebanyak 286 orang Jawa dijadikan pengayuh kapal. Selain itu, terdapat 80-100 orang Jepang, beberapa di antaranya dijadikan algojo pemenggal kepala.
Perlawanan rakyat Banda akhirnya dipatahkan. Semua pimpinan rakyat Banda yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda dihukum mati, sebagian lain dibawa ke Batavia untuk dijual sebagai budak. Jumlah seluruh warga Banda yang dibawa ke Batavia mencapai 883 orang, terdiri dari 287 pria, 356 perempuan, dan 240 anak-anak. Sebanyak 176 orang meninggal dalam perjalanan.
Belanda juga menyingkirkan pesaing-pesaing dari Eropa, yaitu Portugis, Spanyol, dan Inggris dengan kejam. Pada 1623, dua tahun setelah pembantaian rakyat Banda, para pedagang Inggris juga dibantai serdadu bayaran VOC, sebagaimana diungkapkan oleh Laurens van der Post dalam buku The Admiral’s Baby (1996): “… It was on Ambon in 1623 that the Dutch slaughtered the English traders they found there, cutting their throats like dogs …”
Kekejian ini terus berlangsung. Belanda menggunakan armada laut dengan perahu kora-kora yang dilengkapi senjata, lalu menghancurkan cengkeh yang ditanam warga. Pelayaran itu dikenal sebagai Hongi-Tochten. “Hongi-Tochten merupakan pelayaran dengan perahu kora-kora yang tujuannya merusak,” kata Sultan Ternate Mudaffar Syah.
Menurut Mudaffar, akibat pelayaran itu, penduduk Ternate sangat menderita. “Cengkeh itu adalah hidup rakyat Ternate, bahkan hingga kini cengkeh masih menjadi sumber penghidupan utama warga,” katanya.
Sejarawan Universitas Khairun Ternate, Nani Djafar, dalam paper-nya di Historia: Journal of Historical Studies berjudul Maluku sebagai Provinsi Maritim di Indonesia: Perspektif Kajian Sejarah, Ekonomi, dan Modernisasi (2007) menyebutkan, patrol perahu tradisional Maluku, kora-kora, yang digunakan Belanda itu bertujuan untuk mengurangi produksi cengkeh dan memonopoli perdagangannya.
Dalam tulisannya berjudul Mapping Buru: The Politics of Territory and Settlement on an Eastern Indonesian Island (dalam buku Sharing the Earth, Dividing the Land, 2006), Barbara Dix Grimes menyebutkan, pelayaran Hongi dilakukan oleh VOC setelah produksi cengkeh melampaui kebutuhan dunia waktu itu.
Untuk mengontrol produksi, VOC menetapkan Ambon dan Kepulauan Lease (Saparua, Haruku, dan Nusa Laut) menjadi satu-satunya daerah yang boleh ditanami cengkeh. Setiap kepala keluarga di kepulauan itu diperintah untuk menanam 10 pohon cengkeh per tahun. Untuk memastikan tidak ada pohon cengkeh di tanam di areal lain, setiap tahun VOC melakukan patrol di Maluku.
Patroli inilah yang kemudian dikenal dengan pelayaran Hongi. Menurut Mudaffar, warga yang menentang kemudian menanam cengkeh di hutan-hutan tersembunyi. Salah satu cengkeh tua yang masih selamat adalah cengkeh afo yang berusia lebih dari 300 tahun di Marikurubu, lereng Gunung Gamalama. ***


Sumber:
KOMPAS edisi Sabtu, 28 Juli 2012 hal. 37
 
Share:

New York Pun Ditukar dengan Pulau Run

Dari Kota Banda Neira, Pulau Run terlihat seperti sebongkah batu hitam yang mengapung di tengah Laut Banda. Hujan lebat yang tak kunjung reda dan hantaman gelora ombak setinggi 2 meter membuat salah satu pulau di Kepulauan Banda, Provinsi Maluku, itu seolah timbul-tenggelam. Di musim angin timur yang kerap mengirim badai, salah satu pulau penghasil pala itu adalah dataran terpencil dan nyaris dilupakan.
Di belahan dunia lain, di Amerika Serikat, Kota New York di Pulau Manhattan gemerlap dengan cahaya. Inilah kota teramai di dunia, yang dianggap sebagai simbol kemajuan peradaban dunia modern.
Sekitar 400 tahun lampau, Pulau Run dianggap lebih bernilai dibandingkan dengan Pulau Manhattan yang kala itu bernama Nieuw Amsterdam. Terdengar absurd saat ini, tetapi itulah ironi sejarah ketika harga 1 gram pala lebih mahal dibandingkan dengan 1 gram emas. Demi monopoli pala di Kepulauan Banda, Belanda rela menukar Pulau Manhattan dengan Pulau Run.
Saat ini, barangkali pala lebih banyak tersembunyi di pojok dapur. Namun, hingga abad ke-18 pala dan cengkeh adalah rempah-rempah yang paling didambakan dunia. Mitos yang berkembang adalah pala bisa mengobati segala macam penyakit. Perburuan menuju sumber penghasil rempah ajaib itu pun menjadi masalah hidup dan mati.
Belanda dan Inggris adalah bangsa Eropa yang datang belakangan ke tanah asal rempah di Maluku. Sebelumnya, Portugis dan Spanyol telah lebih dulu menguasai kawasan ini. Armada Belanda, yang terdiri dari tujuh buah kapal di bawah Steven van der Haghen pada 1605 dan merebut Leitimor dari Portugis, merupakan awal proses kolonialisasi Belanda yang panjang di Nusantara.
Berturut-turut Belanda merebut benteng Portugis yang kemudian dinamai benteng Toluko, Oranye, Kalamata (ketiganya di Ternate), Kota Laha yang kemudian disebut Victoria (Ambon), Belgica dan Nassau (Neira), Hollandia (Lonthoir), serta Ravenge (Pulau Ay).
Belanda akhirnya berhasil menguasai nyaris seluruh Kepulauan Banda, kecuali Pulau Run. Pulau kecil itu tetap dikuasai Inggris dan menjadi duri dalam usaha Belanda memonopoli rempah-rempah.
Pulau berbatu, dengan panjang 3,2 kilometer dan selebar 0,8 kilometer mil ini merupakan salah satu penghasil pala, selain pulau-pulau lain di Kepulauan Banda. Run adalah koloni pertama Inggris di dunia. Saat James I berkuasa sebagai raja pertama dari Dinasti Stuart, ia disebutkan sebagai Raja Inggris, Skotlandia, Irlandia, Perancis, dan Pulau Run.
Setelah berkali-kali bertempur, kedua negara akhirnya berkompromi. Belanda-Inggris, melalui perjanjian Breda, sepakat menukar wilayah koloni. Permusuhan dihentikan pada 1667 dengan Traktat Breda. Isinya, Inggris harus mengakhiri kekuasaan mereka di Pulau Run dan menyerahkan kepada Belanda. Sebagai gantinya, koloni Belanda, Nieuw Amsterdam di Amerika Utara (kini Amerika Serikat), harus diserahkan kepada Inggris. VOC sepertinya diuntungkan dengan menancapkan kekuasaannya dalam monopoli perdagangan pala dunia.
Belakangan Inggris mengganti nama Nieuw Amsterdam menjadi New York. Tahun demi tahun berganti. Sejarah kemudian memunculkan ironi. New York berkembang menjadi salah satu kota terbesar dunia dengan perdagangan dan budayanya. Sementara Pulau Run, seperti juga pulau-pulau kecil di Nusantara, jauh tertinggal, miskin, dan terlupakan. ***

Sumber:
KOMPAS edisi Sabtu, 28 Juli 2012 hal. 36
 
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami