The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tulungagung Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulungagung Heritage. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Ngujang

Stasiun Kereta Api Ngujang (NJG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ngujang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 87 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil. Stasiun Ngadiluwih terletak di Jalan Raya Ngantru, Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat (belakang) Pasar Ngantru ± 180 m.
Bangunan Stasiun Ngujang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar. Pembangunan jalur sepanjang 64 kilometer ini dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda. Jalur rel tersebut merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Kras dan arah selatan menuju Stasiun Tulungagung. Jalur 1 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini. Dulu, di sebelah utara dari bangunan stasiun ini terdapat jalur badug atau jalur buntu.
Stasiun ini tergolong kurang beruntung bila dibandingkan dengan Stasiun Kras yang sama-sama merupakan stasiun kelas III, karena di Stasiun Ngujang tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. Layanan yang ada di stasiun ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api saja. *** [170617]
Share:

Candi Sanggrahan

Informasi keberadaan Candi Sanggrahan ini didapat dari Pak Suyoto, seorang juru kunci Candi Mirigambar. Karena atas petunjuk Pak Yoto (nama panggilan dari Pak Suyoto), saya menyempatkan untuk menengok Candi Sanggrahan yang jaraknya berkisar 9 kilometer dari Candi Mirigambar.
Sebenarnya tidak masuk catatan kunjungan dalam rangka mudik ke Solo, tapi karena waktunya masih memungkinkan saya menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Candi Sanggrahan terletak di Dusun Sanggrahan, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi candi ini berada di depan Warkop Candi dan Karaoke, yang kiri kanannya terdapat kolam ikan mas koi.


Berdasarkan informasi dari lokasi candi, soal kapan persisnya pembangunan Candi Sanggrahan masih belum diketahui dengan pasti. Selain tidak ditemukan angka tahun, keberadaan Candi Sanggrahan juga tidak termuat dengan jelas dalam prasasti atau naskah seperti Kakawin Negarakertagama. Berbeda dengan Candi Boyolangu tempat pendharmaan Kertarajasapatni atau Rajapatni Dyah Gayatri yang berjarak sekitar 4 kilometer ini termuat dalam Kakawin Negarakertagama.
Karena informasi mengenai Candi Sanggrahan sangatlah kurang, memunculkan banyak perkiraan tentang keberadaan candi tersebut. Pendapat yang pertama, terdapat ceritera rakyat yang menceriterakan asal-usul Candi Sanggrahan. Di antara sekian banyak ceritera rakyat tersebut, ceritera rakyat versi Sina Wijoyo Suyono yang paling terkenal  (Mahfudhoh, 2016: 138).


Ceritera tersebut menyebutkan Candi Sanggrahan sebagai tempat beristirahatnya rombongan pembawa jenazah Gayatri (Rajapatni), pendeta wanita Buddha (bhiksuni) masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, penguasa Kerajaan Majapahit pada waktu itu. Jenazah itu dibawa dari Kraton Majapahit untuk menjalani upacara pembakaran di sebuah tempat di sekitar Boyolangu. Dalam versi tersebut, Candi Sanggrahan disebut Candi Cungkup, sedangkan Candi Boyolangu dikenal dengan nama Candi Gayatri. Sebutan Candi Cungkup untuk Candi Sanggrahan ternyata membekas sampai sekarang. Masyarakat sekitar masih menyebut Candi Sanggrahan dengan sebutan Candi Cungkup.
Pendapat yang kedua, beberapa sejarawan menduga Candi Cungkup merupakan peninggalan zaman Majapahit, berdasarkan bekas bangunan di bagian pintu gerbang dan di belakang candi serta bangunan dinding areal candi yang terbuat dari batu bata.


Karena namanya Candi Sanggrahan, sebagian arkeolog juga berpendapat bahwa candi ini pernah digunakan sebagai tempat mesanggrah rombongan istana yang akan mengikuti prosesi perabuan Rajapatni Dyah Gayatri di Candi Dadi. Rombongan dari Majapahit mendirikan perkemahan di areal Candi Sanggrahan yang memang berhalaman luas, berpagar keliling dan terdapat saluran air. Pada waktu abu jenazah Rajapatni Dyah Gayatri akan ditanam di Boyolangu, rombongan istana juga menggunakan Candi Sanggrahan sebagai tempat mesanggrah atau berkemah karena pada waktu itu lokasi wilayah antara Candi Sanggrahan dengan Boyolangu merupakan daerah rawa. Untuk menuju Candi Boyolangu harus menaiki perahu. Begitu pula ketika berziarah ke Candi Boyolangu, rombongan istana mesanggrah di Candi Cungkup.


Menurut Dr. Nicolaas Johannes Krom dalam tulisannya, Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst (1923), disebutkan bahwa Candi Sanggrahan untuk pertama kali dilaporkan oleh J. Knebel (1908) utamanya berkenaan dengan lima buah arca Dhyani-Buddha yang pada bagian kepalanya sudah hilang, kemudian bangunannya diselidiki oleh Oudheikundige Dienst pada tahun 1915, dicatat oleh Sir Thomas Stamford Raffles (1917) dalam bukunya, dan menyusul kemudian oleh N.W. Hoepermans (Sedyawati dkk, 2013: 204).
Selain dikenal dengan Candi Cungkup, Candi Sanggrahan ini juga dikenal oleh penduduk setempat dengan nama Candi Pruntung. Bangunan Candi Sanggrahan berdenah bujur sangkar, mempunyai ukuran panjang 12,16 m, lebar 9,05 m dan tinggi 5,86 m. Bahan candi terbuat dari batu andesit dan batu bata.
Bangunan candi ini berdiri di atas pelataran yang ditinggikan sehingga tidak ranap dengan permukaan tanah di sekitarnya. Tinggi pelataran yang menjadi halaman candi 2,25 m yang seluruh tepi pelataran candi diperkuat dengan struktur bata (turap) sehingga tanah pelataran tidak mudah longsor. Ukuran pelataran yang ditinggikan 51 x 42,75 m. Selain itu, terdapat juga beberapa sisa dasar tembok keliling dari batu bata di beberapa bagian tepi pelataran.
Sejak awal tahun 2015, Candi Sanggrahan mulai dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto. Sampai sekarang proses pemugaran belum selesai, Diperkirakan pemugaran ini memakan waktu 7 hingga 8 tahun untuk kembali terlihat seperti bentuk aslinya beserta bangunan perwara yang ada di kompleks pelataran candi tersebut. Hal ini dikarenakan sulitnya mendapatkan batu andesit pengganti konstruksi batu candi tersebut. *** [230617]

Kepustakaan:
Mahfudhoh, Lailatul. (2016). Antologi Sejarah Candi Boyolangu. Jakarta: Guepedia Online Publisher
Sedyawati, Edi dkk. (2013). Candi Indonesia: Seri Jawa. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman
Share:

Candi Mirigambar

Setelah keluar dari Kabupaten Blitar, perjalanan mudik dilanjutkan kembali menuju ke wilayah Kabupaten Tulungagung. Memasuki Kecamatan Sumbergempol, saya berusaha mengambil jalur ke kiri untuk mencari tempat istirahat (rest area) yang tidak terlalu ramai tapi mempunyai kisah arkeologis. Kurang lebih 5 kilometer, sampailah saya di sebuah candi bernama Mirigambar. Candi ini terletak di Dusun Gambar RT. 01 RW. 04 Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi candi ini berada sebelah tenggara lapangan Desa Mirigambar.
Menurut Suyoto, seorang juru kunci Candi Mirigambar, bahwa candi ini dulunya ditemukan oleh Rejosari pada tahun 1870. Pada waktu itu, Rejosari sedang membuka lahan untuk ditanami namun tiba-tiba menemukan tumpukan batu bata yang sudah tertutup tanah dan diselimuti oleh rerumputan. Setelah dibersihkan ternyata merupakan reruntuhan sebuah bangunan candi.
Rejosari, atau biasanya disebut Mbah Josari, merupakan pionir yang babat alas desa ini. Desa ini dibuka oleh Mbah Josari pada tahun 1830. Semula Desa Gambar ini bernama Taman Sari, kemudian menjadi Desa Gambar setelah ditemukan relief-relief candi tersebut. Foto lawas pemberian Lydia Kieven kepada Suyoto memperlihatkan bahwa literatur Belanda menyebut candi tersebut dengan nama Tjandi Gambar (Ingang van Tjandi Gambar).


Pada tahun 1921 dilakukan penggabungan dua desa, yaitu Desa Miridudo yang berada di sebelah utara dengan Desa Gambar. Hasil penggabungan dua desa tersebut kemudian dinamakan Desa Mirigambar. Akhirnya, literatur sekarang pun banyak menyebut candi tersebut dengan nama Candi Mirigambar.
Suasana Candi Gambar ini terlihat sempit dengan rerimbunan dedaunan pepohonan (Jawa: singub) yang ada di halaman candi tersebut. Pintu masuk candi ini diapit oleh dua pohon beringin besar, dan di belakang areal candi berupa kebun jati milik warga sekitar. Halamannya tampak sejuk akan tetapi bau dupa atau kemenyan yang ada di situ, membuat suasana ‘angker’ bila sendirian. Candi Mirigambar memang berada di tengah perkampungan yang masih dipenuhi dengan lahan luas untuk pertanian.


Lydia Kieven dalam bukunya, Menelusuri Figur Bertopi pada Relief Candi Zaman Majapahit: Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke-14 dan ke-15 (Kepustakaan Populer Gramedia, 2014) menjelaskan, bahwa fungsi dan latar belakang agama Candi Mirigambar tidak diketahui. Dua inskripsi, yang didokumentasikan arkeolog Belanda dan ditemukan di bangunan-bangunannya yang kemudian hancur, berangka tahun Saka yang sesuai dengan tahun 1129 M dan 1292 M. Dua prasasti berangka tahun 1310 Saka dan, mungkin, 1321 Saka – masing-masing sesuai dengan 1388 M dan 1399 M – ditemukan di situs ini.
Lempeng tembaga yang menyebut tempat suci bernama ‘Satyapura’ dan Raja Wikramawardhana (1389-1429 M), penerus Raja Hayam Wuruk, ditemukan di Desa Mirigambar. Mungkin lempeng ini dibawa ke Desa Mirigambar dari tempat lain. Namun, karena penanggalan dua prasasti tersebut kira-kira sama dengan kurun waktu ketika lempeng tembaga ini diterbitkan, dapat disimpulkan bahwa bangunan candi memang dibangun pada masa pemerintahan Raja Wikramawardhana, yaitu sekitar tahun 1400 M. Namun corak penggambaran reliefnya mengisyaratkan bahwa reliefnya dipahat pada awal atau pertengahan abad ke-15.
Kemungkinan besar, Candi Mirigambar dan bekas bangunan-bangunan lainnya merupakan bagian dari kompleks candi yang terus-menerus dibangun sejak zaman Kediri sampai Singasari, dan masih berlanjut setelah masa kejayaan Majapahit. Reliefnya mungkin dipahatkan sebagai tambahan, atau bagian dari perluasan candi pada awal atau pertengahan abad ke-15.
Dari urutan dalam sumber-sumber Belanda lama, tata ruang kompleks candi tidak jelas, tetapi bangunan-bangunannya tampaknya cukup berdekatan satu dengan yang lain, karena dalam satu kasus, Hoepermans menyebut jarak lima ratus langkah dari satu bangunan ke bangunan berikutnya, dan dalam kasus lain hanya lima puluh langkah. Menurut legenda, sebuah kraton pernah berdiri di lokasi ini. Informasi ini didukung oleh nama ‘Satyapura’, untuk menyebut istana, pada inskripsi lempeng tembaga. Satya berasal dari bahasa Sansekerta yang diadopsi ke dalam bahsa Jawa Kuno, berarti tulus hati, jujur, setia (terhadap suami, raja; dalam menunaikan tugas, janji) berbudi luhur, utama, ketulusan hati, kesetiaan, kebenaran. Pura berarti kota, istana, kraton. Dengan demikian, kita dapat menerjemahkan ‘Satyapura” sebagai ‘istana kebenaran’.
Para peneliti percandian bisa saja berspekulasi bahwa keseluruhan kompleks candi ini terkait dengan kraton. Hal ini juga selaras dengan asal muasal desa ini, yaitu Taman Sari. Taman Sari identik dengan taman yang penuh tanaman bunga untuk bersenang-senang keluarga raja di istana.
Candi Mirigambar yang memiliki ukuran panjang 8,50 m, lebar 7,70 m dan tinggi 2,35 m ini, dibangun dari bahan bata merah dan berpintu masuk di sisi barat. Tampak pada batur batu persegi beserta sebuah undakan pada sisi barat yang dipenuhi oleh ornamen. Pada sisi utara, timur, dan selatan terdapat panil-panil relief yang berceritera Panji, dan di sudut tenggara terdapat sebuah pilaster yang kedua sisinya melukiskan seekor burung garuda. *** [230617]

Kepustakaan:
Kieven, Lydia. (2014). Menelusuri Figur Bertopi pada Relief Candi Zaman Majapahit: Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke-14 dan ke-15. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan École française d’Extrême-Orient
Zoetmulder, Petrus Josephus. (1995). Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Share:

Candi di Tulungagung

Candi Boyolangu
Candi Boyolangu terletak di Dusun Dadapan, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Candi Mirigambar
Candi Mirigambar terletak di Dusun Gambar RT. 01 RW. 04 Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

CandiSanggrahan
Candi Sanggrahan terletak di Dusun Sanggrahan, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur
Share:

Stasiun Kereta Api di Tulungagung

Berikut ini adalah stasiun yang masih menunjukkan arsitektur lawas di Tulungagung. Stasiun-stasiun ini diurutkan dari arah utara ke selatan terus ke timur:

Stasiun Kereta Api Ngujang
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Ngantru, Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Pangeran Antasari No. 7 Kelurahan Kauman, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbegembol, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Lingkungan 06 Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Desa Rejotangan, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur
Share:

Situs Aryo Jeding Tulungagung

Perijinan dari Kantor Camat Rejotangan untuk melakukan Quick Survey Pemanfaatan Dana Desa di wilayah adminstratif Kecamatan Rejotangan belum bisa turun lantaran Camat Rejotangan sedang ada meeting di Kabupaten Tulungagung. Informasi yang didapat, Camat akan mengantor setelah pulang dari Kabupaten Tulungagung menjelang Dhuhur.
Di sela-sela penantian ini, saya mencoba mengunjungi sebuah situs yang tidak begitu jauh dari Kantor Camat Rejotangan yang berjarak sekitar 5 kilometer. Situs tersebut dikenal dengan sebutan Situs Aryo Jeding. Penamaan situs ini didasarkan pada nama desa di mana situs tersebut diketemukan. Situs ini terletak di Dusun Aryo Blitar, Desa Aryo Jeding, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi situs ini agak masuk ke permukiman warga, sehingga situs ini tidak terlihat dari jalan raya Tulungagung-Blitar. Tepatnya berada di belakang bangunan peternakan ayam, atau sekitar 400 meter utara Balai Desa Aryo Jeding.


Menurut informasi dari seorang juru pelihara situs yang bernama Warno, diperoleh sebuah ceritera bahwa Situs Aryo Jeding merupakan petilasan Ki Ageng Nilo Suwarno, seorang adipati dari Kadipaten Blitar di bawah otoritas Kerajaan Majapahit. Petilasan yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat, diyakini sebagai tempat berdirinya Kadipaten Blitar. Hal ini dilandasi pada penemuan sejumlah umpak yang merupakan bekas tempat menaruh soko guru pendopo Kadipaten Blitar. Sedangkan, di sebelah utaranya banyak ditemukan sumur-sumur kuno. Sumur-sumur kuno tersebut menandakan bahwa di daerah ini dulunya sudah membentuk sebuah permukiman yang cukup ramai.
Oleh karena itu, Situs Aryo Jeding memiliki berbagai sebutan, mulai dari Candi Nilo Suwarno hingga Sitihinggil. Sebutan Candi Nilo Suwarno ini didasarkan penemuan beberapa kala, yoni, arca-arca dan beberapa komponen candi lainnya di reruntuhan situs ini. Sedangkan, sebutan Sitihinggil diperkirakan karena ditemukannya bekas bangunan Kadipaten Blitar di daerah sekitar situs ini. Sitihinggil sebagai tempat yang tinggi, pada umumnya menggambarkan bahwa di daerah tersebut berdiri sebuah kerajaan besar maupun kecil. Kebetulan Kadipaten Blitar pada waktu merepresentasikan sebagai kerajaan kecil. Kadipaten ini kala itu dipimpin oleh seorang adipati bernama Ki Ageng Nilo Suwarno (Adipati I) dengan patihnya bernama Ki Ageng Sengguruh.


Setelah ada intrik yang dimainkan oleh Patih Ki Ageng Sengguruh, Kadipaten Blitar mengalami makar halus yang pada akhirnya menempatkan Ki Ageng Sengguruh sebagai Adipati II sepeninggal Nilo Suwarno. Lalu, posisi adipati akhirnya bisa direbut kembali oleh Joko Kandung yang tak lain adalah putranya Ki Ageng Nilo Suwarno. Namun, Joko Kandung tidak meneruskan kekuasaannya melainkan meninggalkan kadipaten dan tidak pernah kembali lagi ke Aryo Jeding.
Ada yang memperkirakan sejak itu, lokasi Kadipaten Blitar dipindahkan ke daerah yang sekarang dikenal dengan Blitar. Seiring pemekaran wilayah, daerah Aryo Jeding diberikan kepada Tulungagung. Dulu, menurut Warno, Aryo Jeding ini merupakan ibu kota Kadipaten Blitar. Hal ini dimulai pada abad ke-19 ketika itu Kabupaten Blitar menyumbangkan daerah Ngunut dan sekitarnya kepada Kabupaten Tulungagung yang masih baru berdiri. Untuk mengetahui kisah Ki Ageng Nilo Suwarno dan Ki Ageng Sengguruh, bisa di baca di sini.
Petilasan ini banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah dengan tujuan berbeda-beda. Pada masa G-30S/PKI, petilasan ini pernah dihancurkan warga. Kemudian pada tahun 1982 berhasil diketemukan lagi, dan sekarang telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang ada di Tulungagung. *** [250116]
Share:

Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung

Di sela-sela waktu luang dalam melakukan Quick Survey Pemanfaatan Dana Desa, saya berkesempatan mengunjungi sebuah bangunan klenteng di Tulungagung. Klenteng tersebut bernama Tempat Ibadah Tri Dharma Tjoe Tik Kiong, atau biasa disebut dengan Klenteng Tjoe Tik Kiong. Klenteng ini terletak di Jalan Wage Rudolf Supratman No. 10 Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di sebelah utara Hotel Panorama Tulungagung, dan menghadap ke arah Sungai Ngrowo.
Awalnya, bangunan klenteng ini masih sederhana. Didirikan tepat di depan Pasar Wage berbentuk menyerupai pendopo. Namun, pada tahun 1865 klenteng tersebut dipindahkan ke sebelah utara dengan menempati lahan yang luasnya sekitar 6.000 m². Pada waktu dipindahkan, bangunan klenteng ini juga belumlah semegah sekarang. Pembangunannya bertahap seiring terkumpulnya dana dari orang-orang Tionghoa yang merantau dan bermukim di Tulungagung.


Kala itu, orang-orang Tionghoa generasi pertama yang menetap di Tulungagung memang berasal dari Tiongkok. Mereka ke Tulungagung guna berdagang melalui Sungai Brantas yang ada di Surabaya kemudian menyusuri hingga sampai bertemu dengan Sungai Ngrowo. Pada saat itu, di daerah Tulungagung Sungai Ngrowo merupakan sungai yang penting sebagai jalan lalu lintas yang menghubungkan daerah sebelah selatan dengan daerah sebelah utara.
Sebelum memasuki bangunan utama klenteng, terdapat sebuah gerbang (shan men) dengan ornamen khas Tiongkok. Hanya saja, ornamen yang ada di atas gerbang tersebut tergolong tidak lazim seperti ornamen yang terdapat pada klenteng-klenteng yang ada di Indonesia. Di bagian atas gerbang pada Klenteng Tjoe Tik Kiong ini terdapat hiasan dua ekor ikan berkepala naga yang saling berhadapan, mengapit huo zhu (mutiara bola api milik Sang Buddha). Konon, ikan yang menjadi hiasan di atas gerbang tersebut berkaitan dengan sejarah awal dibangunnya klenteng ini. Karena dulunya lokasi tempat dibangunnya klenteng ini merupakan daerah rawa yang banyak dihuni oleh ikan. Akhirnya, untuk mengenang tempat awal didirikannya klenteng tersebut, digunakanlah ikan sebagai hiasan di Klenteng Tjoe Tik Kiong.
Setelah melewati shan men, pengunjung akan melewati halaman depan klenteng yang cukup luas yang sudah dipasangi paving block. Di halaman depan sebelah kiri terdapat tempat pembakaran kertas (kim lo) berbentuk pagoda. Di depan bangunan utama klenteng terlihat kie kwa, menara tiang bendera berwarna merah yang dulu berfungsi sebagai penunjuk bagi arah nelayan bila sedang melewati rawa-rawa yang begitu luas.


Bangunan utama Klenteng Tjoe Tik Kiong terbagi menjadi 3 ruangan. Ruang pertama yang menempati bagian depan dipergunakan untuk membakar hio. Di situ terdapat banyak lilin dari berbagai ukuran. Seperti bangunan klenteng pada umumnya, pada atap ruangan pertama terdapat beberapa ornamen. Akan tetapi, untuk klenteng ini memiliki ornamen yang berbeda. Di atas atap ruang pertama, terlihat di tengah-tengah ada pagoda yang diiringi oleh dua huo zhu dan dua xing long (naga berjalan). Pada ruang pertama ini terdapat altar untuk persembahyangan kepada Hok Tek Tjeng Sien (Dewi Bumi) dan Ka Lam Ya. Ka Lam Ya adalah salah satu ‘malaikat pintu’ versi Buddha yang sering digambar (berpakaian perang lengkap dengan membawa kampak sebagai senjatanya) di daun pintu bersama-sama Wie Tho (berpakaian perang dengan membawa gada penakluk iblis), sebagai pelindung bangunan-bangunan suci atau klenteng.
Ruang kedua yang berada di bagian tengah diperuntukkan untuk melakukan sembahyang kepada Kwan She Im Pho sat (Dewi Welas Asih), Kong Tek Cun Ong (Raja Mulia yang memberi berkah berlimpah), dan Co Su Kong (Dewa yang berwajah hitam dari Cadas Air Jernih). Sedangkan, ruang ketiga yang berada di bagian belakang digunakan untuk tempat kebaktian. Di klenteng ini, yang menjadi dewa utama adalah Mak Co Thian Siang Seng Bo. Mak Co Thian Siang Seng Bo merupakan Dewi Laut, penolong para pelaut serta pelindung etnis Tiongkok di wilayah selatan dan imigran di Asia Tenggara.
Pada 1979 klenteng ini mengalami renovasi bangunan dan melakukan peninggian 1 sampai 2 m karena lokasi klenteng sering mengalami kebanjiran. Setelah renovasi selesai maka dilanjutkan dengan pembangunan gedung olahraga bola basket dan gedung olahraga bulutangkis pada Juli 1983.
Klenteng Tjoe Tik Kiong yang merupakan klenteng megah dan besar di Tulungagung, terlihat terpelihara bangunannya. Hal ini tidak terlepas dari peran orang Tionghoa di Tulungagung yang masih peduli akan keberadaan Tempat Ibadah Tri Dharma ini, bahkan di lahan samping klenteng juga dibangun Aula untuk olahraga agar bisa memperkenalkan generasi muda kepada klenteng, sebagai warisan budaya para leluhurnya. *** [220116]

Share:

Candi Boyolangu

Informasi mengenai keberadaan Candi Boyolangu ini diperoleh ketika mengunjungi Museum Wajakensis Tulungagung. Kata petugas museum, sekitar 5 kilometer dari sini terdapat sebuah candi yang berada di tengah-tengah permukiman penduduk. Dari museum lurus ke selatan sampai menjumpai Puskesmas Boyolangu. Sebelum Puskesmas, ada gapura yang cukup besar dan tinggi bertuliskan Gang Candi Gayatri. Dari gapura tersebut, jalan saja terus ke barat sekitar 600 meter hingga berjumpa papan penunjuk arah Candi Gayatri. Dari papan nama tersebut, melewati gang kecil sampailah di areal kompleks Candi Boyolangu. Candi ini terletak di Dusun Dadapan, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi candi ini berada sekitar 600 meter arah barat Puskesmas Boyolangu.
Bertha L.A Wasisto dalam skripsinya yang berjudul Candi Boyolangu: Tinjauan Arsitektur dan Arkeologis (FIB UI, 2009) menjelaskan, penelitian mengenai Candi Boyolangu belum banyak dilakukan secara terperinci dan jelas. Candi Boyolangu pernah disebutkan dalam Oudheidkundige Verslag (OV) tahun 1917, pada tahun 1917 Raffles dalam History of Java menyebut sekilas tentang Candi Boyolangu.


Selain dalam OV, Candi Boyolangu juga disebut di dalam buku Inleiding tot De Hindoe-Javaansche Kunst, Krom menyebut nama lainnya yaitu Punden Gilang. Th. G. Th Pigeaud pada tahun 1960-1963 menyebutkan Candi Boyolangu termasuk dalam jenis candi Dharma Haji, yaitu candi-candi yang dimiliki oleh keluarga kerajaan.
Agus Aris Munandar pada tahun 1995 dalam laporan penelitiannya yang berjudul Candi Batur dalam Periode Klasik Muda (Abad 14-15 M), memasukkan Candi Boyolangu sebagai bangunan yang digunakan oleh kaum Resi karena bentuk arsitekturnya yang sederhana dan letaknya yang terpencil. Pada tahun 1999, hariani Santiko memasukkan Candi Boyolangu dalam candi-candi dengan gaya arsitektur Candi Naga.
Berdasarkan sisa bangunannya yang masih terlihat dapat diketahui bahwa Candi Boyolangu dibangun dengan bahan utama dari batu bata. Sisa bangunan candi yang masih dapat diamati adalah bagian batur candi, bagian kaki candi dan 11 batu umpak yang terbuat dari batu andesit. Candi Boyolangu berukuran 11,4 m², berdenah persegi. Mempunyai arah hadap barat, tangga naik terdapat di sisi barat. Tangga ini sekarang keadaannya sudah rusak. Dari arah utara dan selatan candi ini terdapat dua buah bangunan penyerta (perwara), berukuran lebih kecil, dan keadaannya sudah merupakan reruntuhan.
Tinggalan-tinggalan lain yang masih dapat dilihat adalah arca dewi tanpa kepala, bagian tangan kanannya juga sudah tak utuh lagi. Tangan kirinya terpotong hingga siku, sedangkan tangan kanannya bagian telapak tangan sudah terpotong. Arca ini terbuat dari batu. Arca ini berukuran tinggi 120 cm, lebar 112 cm dan tebal 100 cm. Tinggi lapik arca dengan lebar 168 cm dan tebal 140 cm. Selain itu juga terdapat 11 batu umpak dengan bentuk dan ukuran beragam, dua di antaranya mempunyai angka tahun yaitu 1291 Saka (1369 M) dan 1311 Saka (1389 M). Angka tahun yang dipahatkan di kedua umpak ini berbeda gayanya.


Candi Boyolangu dikenal juga sebagai Candi Gayatri oleh masyarakat sekitar. Diperkirakan Candi Boyolangu merupakan tempat pemuliaan dan penyimpanan abu jenasah Gayatri atau Tribhuana Tunggadewi Jayawisnuwardhana dengan gelar Rajapatni. Gayatri wafat pada tahun 1330 M. Dalam pemuliaan tersebut Gayatri diwujudkan sebagai Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan dharmacakra mudra, yaitu sikap sedang memberikan wejangan ajarannya.
Gayatri adalah putri tertua Raja Kertanegara, Raja Singosari terakhir yang memerintah pada tahun 1254-1294 M, yang diperistri oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya yang bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardana merupakan Raja Majapahit pertama yang memerintah dari tahun 1293 hingga 1309 M. Jadi, Gayatri merupakan nenek dari Hayam Wuruk, Raja Majapahit ketiga dan termashur yang memerintah dari tahun 1350 sampai 1389 M.
Semula candi ini tertimbun dengan tanah, dan diketemukan kembali oleh penduduk pada tahun 1914. Di sebelah utara halaman candi berbatasan dengan kebun kosong yang ditumbuhi dengan rumpun bamby, sebelah timur halaman candi berbatasan dengan kolam budidaya ikan milik penduduk, sebelah barat berbatasan dengan kebun milik penduduk, dan sebelah selatan berbatasan dengan rumah penduduk dan merupakan pintu masuk menuju lokasi candi ini. *** [250116]

Share:

Museum Wajakensis Tulungagung

Sebenarnya saya sudah pernah mengunjungi museum ini ketika terlibat dalam sebuah penelitian Financial Literacy Migrant Worker-3 di Blitar pada tahun 2012. Pada waktu mendapat jatah libur, teman-teman di lapangan pada pulang ke kampung halamannya masing-masing. Yang satu pulang ke Sukorejo, Pasuruan, dan yang satunya pulang ke Kota Malang. Tapi saya tetap stay di Blitar.
Libur dua hari itu, saya manfaatkan untuk berkelana ala backpacker. Karena base camp berada di Blitar, saya berkesempatan berkeliling ke Kediri dan Tulungagung yang jaraknya masih terjangkau dengan berkendara motor roda dua. Di Tulungagung, saya sempat mengunjungi museum di Tulungagung namun museum sudah tutup karena jam kerjanya sudah melampau. Hari Sabtu, kebetulan jam buka museum hanya sampai pukul 12.00 WIB sementara saya menjangkau museum lepas pukul 13.00 WIB. Sehingga, tak bisa menghasilkan tulisan. Pada waktu itu, museumnya masih bernama Museum Daerah Tulungagung.
Kesempatan itu rupanya datang lagi, saya mendapat tugas untuk melakukan Quick Survey Pemanfaatan Dana Desa pada tahun 2016 di Kabupaten Tulungagung. Apa yang tertangguhkan, terwujud jua akhirnya. My field, my adventure! Saya bisa berkunjung kembali ke museum tersebut. Kali ini, museumnya sudah berganti nama menjadi Museum Wajakensis Tulungagung. Museum ini terletak di Jalan Raya Boyolangu Km. 4 Desa Boyolangu, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di sebelah utara pintu gerbang SMKN 1 Tulungagung.


Berawal dari banyaknya temuan benda warisan sejarah dan purbakala di Kabupaten Tulungagung, muncul gagasan untuk mendirikan sebuah museum untuk menampung semua temuan tersebut, yang sebelumnya hasil temuan tersebut disimpan di Pendopo Kabupaten. Museum Wajakensis didirikan pada akhir tahun 1996 dengan menempati bangunan berukuran 8 x 15 m yang berdiri di atas lahan seluas 5.706 m². Dinamakan Wajakensis berdasarkan pertimbangan bahwa di daerah Tulungagung Selatan pernah mendunia berkat temuan fosil Wajak 1 dan Wajak 2 yang kemudian dikenal sebagai Homo Wajakensis (Manusia Purba dari Wajak).
Museum ini sebenarnya memiliki koleksi yang cukup tua dibandingkan dengan daerah lain. Namun, karena ruangan museum yang tidak begitu lebar dan lebih mirip dengan ruang kelas pada sekolahan, penataan koleksi tidak optimal. Bahkan, enam prasasti langka terpaksa diletakkan di teras bagian utara dari bangunan museum. Keenam prasasti ini pernah didatangi dan diteliti oleh arkeolog dari dalam maupun luar negeri, akan tetapi hingga sekarang belum terlihat apa isi dari prasasti tersebut.
Memasuki satu-satunya pintu yang ada di museum, pengunjung akan disambut petugas museum untuk mengisi buku tamu yang telah disediakan. Lalu, pengunjung akan dipersilakan melihat koleksi-koleksi yang dipajang di dalam museum tersebut. Penataan ini mengikuti denah ruangan yang berbentuk empat persegi panjang. Koleksi-koleksi ditaruh mepet dengan dinding, dan di bagian tengah diletakkan arca-arca secara berderet. Selain itu, di dinding sebelah timur dan selatan terpampang story line perihal situs maupun candi yang terdapat di Kabupaten Tulungagung.
Di antara pajangan yang mepet dengan dinding dan yang berada di tengah, terciptalah sebuah lorong yang akan dilalui oleh pengunjung museum. Sesuai arahnya, pengunjung mengikuti lorong ke selatan lalu ke barat, terus ke utara kemudian ke timur.


Searah lorong, pengunjung bisa melihat replika Homo Sapiens Wajakensis yang ditaruh dalam lemari kaca, yaitu sebuah fosil tengkorak manusia purba yang diperkirakan berusia ± 40.000 tahun yang lalu ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1880-1890 di daerah Wajak-Besole Tulungagung Selatan. Berdasarkan penelitian arkeologi yang dilakukan pada tahun 1889 di lereng barat Gunung Gamping, Desa Wajak, Kecamatan Campurdarat, ditemukan bukti bahwa pada masa lalu daerah ini telah didiami oleh Homo Sapiens Wajakensis. Fosil ini merupakan fosil homo sapiens pertama yang dijumpai di Indonesia. Dengan ciri-ciri memiliki volume otak 1.630 cc, bermuka datar dan lebar, akar hidungnya lebar dan bagian mulutnya menonjol sedikit. Fosil ini merupakan perpaduan antara ciri ras Mongoloid dan ras Austromelanosoid. Di daerah ini juga ditemukan fosil tapirus indicus (tapir), manik-manik dan benda perunggu.
Koleksi keris tilam sari dan keris tudung mediun bisa dilihat pengunjung di lemari kaca bagian barat. Keris tilam sari adalah keris lurus dengan warangka ladrangan, sedangkan keris tudung mediun merupakan keris luk 13 dengan warangka gayaman. Kemudian, pengunjung juga bisa melihat osrok mata dua yang terbuat dari dua lebar kayu berbentuk persegi yang pada salah satu sisinya dipenuhi dengan paku besar. Pegangan terdiri dari dua bilah kayu digunakan untuk membersihkan rumput di sawah. Dengan cara mendorong osrok di antara deretan tanaman padi dengan deretan padi yang lain.
Di dekat osrok, terlihat landak dan lesung sedang. Landak, dibuat dari besi dan pegangan dari kayu. Besi dipasang secara melingkar (seperti roda) dengan ketajaman pada tiap sisinya. Pegangan terdiri dari dua bilah kayu karena dibuat dari besi tajam, maka disebut landak (seperti binatang landak yang punya banyak duri pada kulitnya). Digunakan untuk membersihkan rumput di sawah dengan cara mendorong landak di antara deretan tanaman padi dengan deretan padi yang lain. Sedangkan, lesung terbuat dari kayu jati untuk yang bagian tengahnya diberi lubang memanjang, pada kedua sisinya terdapat lubang bulat kecil. Lesung digunakan untuk menumbuk padi dengan alu, secara beramai-ramai pada musim panen padi. Selain itu biasanya lesung juga bisa digunakan sebagai undangan tidak resmi apabila sebuah keluarga mempunyai hajatan. Bunyi padi yang ditumbuk di dalam lesung menandakan bahwa kegiatan secara resmi sudah dimulai dan tetangga sekitar yang ingin membantu biasanya langsung datang.
Selain itu, museum ini juga memiliki banyak peninggalan Hindu-Buddha berupa arca-arca yang terbuat dari batu andesit, prasasti maupun serpihan-serpihan candi yang ditemukan di Kabupaten Tulungagung seperti arca dwarapala, arca agastya, arca nandi, arca ganesha, arca kera, yoni maupun batu mirip altar.
Arca Dwarapala dalam museum ini terbuat dari batu porus berwarna keputihan (batu kapur). Arca ini ditemukan di daerah pegunungan kapur di sekitar Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, yang juga berbatasan dengan pegunungan marmer Besole Besuki. Dwarapala menggambarkan bentuk raksasa penjaga pintu gerbang masuk suatu bangunan suci, yang digambarkan dalam posisi duduk kaki kiri ditekuk (bersila) sedangkan kaki kanan dalam posisi jengkeng. Arca ini mempunyai dua tangan yang membawa gada. Gada dianggap salah satu atribut yang merupakan simbol penghancur kegelapan. Dwarapala selalu digambarkan dengan mata melotot dan mulut menyeringai memperlihatkan gigi-giginya.
Agastya adalah salah satu penggambaran Dewa Siwa sebagai Maha Guru, yang dalam ikonografinya selalu digambarkan sebagai seorang laki-laki tua berbadan gendut dalam sikap berdiri, mempunyai dua tangan yang masing-masing membawa kamandalu (kendi) dan aksamala (tasbih) yang sudah sangat aus. Pada bagian sandaran terdapat trisula (tombak bermata tiga) dan camara (alat pengusir lalat). Pada awalnya, agastya adalah seorang penyebar agama Hindu di India Selatan yang kemudian dalam perkembangannya sering dianggap sebagai salah satu perwujudan Dewa Siwa sendiri, dalam perannya sebagai penyebar ajaran agama Hindu.
Nandi adalah lembu sebagai wahana Dewa Siwa yang dalam perkembangannya dianggap sebagai salah satu perwujudan Dewa Siwa sendiri dan banyak dipuja terutama di daerah-daerah agraris yang banyak menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Lembu Nandi dianggap mampu memberikan kesuburan dan keberhasilan dalam pateon agama Hindu.
Ganesha adalah dewa berkepala gajah, putra Dewa Siwa dengan Parwati, yang dalam ikonografinya Ganesha seringkali digambarkan duduk uttuku tukasana (dua telapak kaki bertemu di tengah). Sikap duduk ini merupakan sikap duduk khas Ganesha. Ganesha dianggap sebagai simbol ilmu pengetahuan, Dewa Perang sekaligus pembasmi kejahatan dan kebodohan.
Lalu, arca kera. Arca ini ditemukan di sekitar Sungai Song yang berada di Desa Pucangan, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung pada 23 Mei 2013 oleh Jasmuni dalam timbunan tanah berbatu. Menurut sejumlah arkeolog, arca ini tergolong langka dan unik. Sampai sekarang arca ini masih dalam penelitian BPCB Trowulan.
Yoni yang terdapat dalam museum ini, terbuat dari batu andesit dan berbentuk persegi. Salah satu sudutnya terdapat cerat, bagian atas tepat di tengahnya terdapat lubang persegi tempat diletakkan Lingga. Yoni dianggap sebagai lambang sakti istri Dewa Siwa, yaitu Parwati. Dalam suatu kompleks candi, Yoni dan Lingga diletakkan di bilik utama sebagai pengganti Siwa dan Parwati. Lingga dan Yoni dianggap simbol kesuburan, kelangsungan hidup dan regenerasi dalam segala aspek kehidupan.
Sedangkan, batu mirip altar yang ada di museum ini berangka tahun 1295 Saka atau 1373 Masehi dan batu candi yang berangka tahu tahun 1304 Saka atau 1382 Masehi. Batu ini berasal dari Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung.
Dilihat dari koleksi-koleksi yang ada di Museum Wajakensis ini, sebenarnya memiliki kesejarahan yang cukup tua sehingga bisa menjadi rekaman perjalanan peradaban sebuah bangsa yang dapat dijadikan sarana pendidikan bagi masyarakat. Sebagai museum umum, museum ini masih bisa berkembang dan dikembangkan menjadi museum unggulan yang terdapat di Jawa Timur. *** [250116]
Share:

Stasiun Kereta Api Tulungagung

Stasiun Kereta Api Tulungagung (TA) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Tulungagung, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 85 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Pangeran Antasari No. 7 Kelurahan Kauman, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di depan Hotel Surakarta, dan tidak jauh dari Alun-alun Tulungagung.
Bangunan Stasiun Tulungagung ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pengerjaan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer. Pembangunan jalur tersebut dilakukan oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda. Pada proyek pembangunan jalur ini dimulai dari Stasiun Kediri hingga Stasiun Tulungagung yang selesai pada tahun 1883, kemudian dilanjutkan dari Stasiun Tulungagung menuju Stasiun Blitar yang rampung pada tahun 1884. Stasiun Tulungagung ini berada di jalur kereta api antara Stasiun Kediri dan Stasiun Blitar.


Pada awal pendirian Stasiun Tulungagung ini memang dirancang sebagai stasiun kelas I atau besar yang memiliki lima jalur dengan jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus, arah barat terus ke utara menuju ke Stasiun Kediri dan arah timur menuju ke Stasiun Sumbergempol. Sedangkan, jalur 4 dan 5 berfungsi untuk bongkar muat barang. Sebagai stasiun kelas I, Stasiun Tulungagung menggunakan prototype yang sama dengan stasiun untuk kota-kota yang setingkat. Bangunan stasiun ini memiliki ruang depan (hall), loket, fasilitas administratif (kantor kepala stasiun dan staf), fasilitas operasional (ruang sinyal, ruang teknik) maupun fasilitas umum lainnya, seperti toilet umum. Peron pada stasiun ini juga mempunyai bentuk yang hampir sama dengan stasiun kelas I pada umumnya, seperti tempat tunggu, naik-turun dari dan menuju kereta api serta tempat bongkar muat barang. Selain itu, emplasemen pada Stasiun Tulungagung ini terdiri atas sepur lurus, peron, dan sepur belok sebagai tempat kereta api berhenti untuk memberi kesempatan kereta lain lewat. Sayangnya, stasiun ini kurang memiliki halaman depan (front area) yang kurang memadai. Bangunan depan stasiun terlalu mepet dengan jalan umum atau Jalan Pangeran Antasari.
Dulu, dari Stasiun Tulungagung ini terdapat percabangan ke Stasiun Campurdarat (masih dalam wilayah Kabupaten Tulungagung) hingga ke Stasiun Tugu di kecamatan paling barat di Kabupaten Trenggalek. Pembangunan jalur percabangan tersebut dilakukan oleh Staatsspoorwegen secara bertahap. Pada tahun 1921 dibangun jalur rel kereta api dari Tulungagung menuju  Campurdarat, kemudian dilanjutkan pembangunannya dari Campurdarat-Trenggalek-Tugu. Pengerjaannya dimulai pada tahun 1922 dan selesai pada tahun 1923. Jalur rel kereta api yang digunakan dari Tulungagung menuju Tugu merupakan jalur rel kelas 2, atau dikenal dengan Dienst der Een voudige Lijnen (DE), yang merupakan layanan kereta api bukan pada jalur utama. Namun, sejak tahun 1932 jalur percabangan tersebut mengalami kerusakan (opgebroken) sehingga sekarang sudah tidak digunakan lagi (non-aktif). *** [220116]
Share:

Stasiun Kereta Api Sumbergempol

Stasiun Kereta Api Sumbergempol (SBL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sumbergempol, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 92 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di depan Kantor Koramil 0807/07 Sumbergempol.


Bangunan Stasiun Sumbergempol ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pengerjaan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer. Pembangunan jalur tersebut dilakukan oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda. Pada proyek pembangunan jalur ini dimulai dari Stasiun Kediri hingga Stasiun Tulungagung yang selesai pada tahun 1883, kemudian dilanjutkan dari Stasiun Tulungagung menuju Stasiun Blitar yang rampung pada tahun 1884. Stasiun Sumbergempol berada di jalur kereta api antara Stasiun Tulungagung dan Stasiun Blitar.
Stasiun ini memiliki dua jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus, arah barat menuju ke Stasiun Tulungagung dan arah timur menuju ke Stasiun Ngunut. Meski tergolong stasiun kecil, Stasiun Sumbergempol masih beruntung karena masih ada  kereta api yang berhenti di stasiun ini, yaitu Kereta Api Rapih Dhoho. Sehingga, masih tampak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini. Kereta api Rapih Dhoho merupakan kereta api kelas ekonomi AC dari Surabaya ke Blitar melalui Stasiun Kertosono.
Seperti kebanyakan stasiun sekelasnya, Stasiun Sumbergempol ini berbentuk persegi panjang dengan pintu utama berada di samping kiri, dan atapnya mengerecut ke atas. Bangunan stasiun ini memiliki ukuran 112 m² yang berdiri di atas lahan seluas 112 m², dan tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 001/7.66291/SBL/BD. *** [220116]
Share:

Stasiun Kereta Api Ngunut

Stasiun Kereta Api Ngunut (NT) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ngunut, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 104 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Lingkungan 06 Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat laut Pasar Ngunut, atau di sebelah utara SDN Ngunut III.


Bangunan Stasiun Ngunut ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pengerjaan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer. Pembangunan jalur tersebut dilakukan oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda. Pada proyek pembangunan jalur ini dimulai dari Stasiun Kediri hingga Stasiun Tulungagung yang selesai pada tahun 1883, kemudian dilanjutkan dari Stasiun Tulungagung menuju Stasiun Blitar yang rampung pada tahun 1884. Stasiun Ngunut berada di jalur kereta api antara Stasiun Tulungagung dan Stasiun Blitar.
Stasiun ini memiliki empat jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, arah barat menuju ke Stasiun Sumbergempol dan arah timur menuju ke Stasiun Rejotangan. Di stasiun ini masih terdapat aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang kereta api kelas ekonomi AC, seperti Matarmaja dan Rapih Dhoho. Kereta api Matarmaja merupakan kereta api kelas ekonomi AC dari Malang menuju Jakarta, dan sebaliknya, via Semarang. Sedangkan, kereta api Rapih Dhoho merupakan kereta api kelas ekonomi AC dari Surabaya ke Blitar melalui Stasiun Kertosono.
Seperti kebanyakan stasiun sekelasnya, Stasiun Ngunut ini berbentuk persegi panjang dengan pintu utama berada di tengah bangunan yang atapnya agak menonjol ke depan, dan atapnya mengerecut ke atas. Bangunan stasiun ini memiliki ukuran 408 m² yang berdiri di atas lahan seluas 408 m², dan tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 001/7.66292/NT/BD. *** [220116]
Share:

Stasiun Kereta Api Rejotangan

Stasiun Kereta Api Rejotangan (RJ) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Rejotangan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 116 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Tulungagung-Blitar, Desa Rejotangan, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada sekitar 100 meter timur Kantor Polsek Rejotangan, atau sekitar 100 meter sebelah utara Kantor Camat Rejotangan.


Bangunan Stasiun Rejotangan ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pengerjaan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer. Pembangunan jalur tersebut dilakukan oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda. Pada proyek pembangunan jalur ini dimulai dari Stasiun Kediri hingga Stasiun Tulungagung yang selesai pada tahun 1883, kemudian dilanjutkan dari Stasiun Tulungagung menuju Stasiun Blitar yang rampung pada tahun 1884. Stasiun Rejotangan berada di jalur kereta api antara Stasiun Tulungagung dan Stasiun Blitar.
Stasiun Rejotangan ini merupakan stasiun kelas III/kecil yang berada paling timur milik Daop 7 Madiun. Stasiun ini memiliki dua jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, arah barat menuju ke Stasiun Ngunut dan arah timur menuju ke Stasiun Blitar. Meski tergolong stasiun kecil, Stasiun Rejotangan masih beruntung karena masih ada  kereta api yang berhenti di stasiun ini, yaitu Kereta Api Rapih Dhoho. Sehingga, masih tampak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini.
Seperti kebanyakan stasiun sekelasnya, Stasiun Rejotangan ini berbentuk persegi panjang dengan pintu utama di tengah, dan atapnya mengerecut ke atas. Bangunan stasiun ini memiliki ukuran 140 m² yang berdiri di atas lahan seluas 140 m², dan tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 001/7.66293/RJ/BD. *** [220116]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami