Selasa, 02 Februari 2016

Museum Wajakensis Tulungagung

Sebenarnya saya sudah pernah mengunjungi museum ini ketika terlibat dalam sebuah penelitian Financial Literacy Migrant Worker-3 di Blitar pada tahun 2012. Pada waktu mendapat jatah libur, teman-teman di lapangan pada pulang ke kampung halamannya masing-masing. Yang satu pulang ke Sukorejo, Pasuruan, dan yang satunya pulang ke Kota Malang. Tapi saya tetap stay di Blitar.
Libur dua hari itu, saya manfaatkan untuk berkelana ala backpacker. Karena base camp berada di Blitar, saya berkesempatan berkeliling ke Kediri dan Tulungagung yang jaraknya masih terjangkau dengan berkendara motor roda dua. Di Tulungagung, saya sempat mengunjungi museum di Tulungagung namun museum sudah tutup karena jam kerjanya sudah melampau. Hari Sabtu, kebetulan jam buka museum hanya sampai pukul 12.00 WIB sementara saya menjangkau museum lepas pukul 13.00 WIB. Sehingga, tak bisa menghasilkan tulisan. Pada waktu itu, museumnya masih bernama Museum Daerah Tulungagung.
Kesempatan itu rupanya datang lagi, saya mendapat tugas untuk melakukan Quick Survey Pemanfaatan Dana Desa pada tahun 2016 di Kabupaten Tulungagung. Apa yang tertangguhkan, terwujud jua akhirnya. My field, my adventure! Saya bisa berkunjung kembali ke museum tersebut. Kali ini, museumnya sudah berganti nama menjadi Museum Wajakensis Tulungagung. Museum ini terletak di Jalan Raya Boyolangu Km. 4 Desa Boyolangu, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di sebelah utara pintu gerbang SMKN 1 Tulungagung.


Berawal dari banyaknya temuan benda warisan sejarah dan purbakala di Kabupaten Tulungagung, muncul gagasan untuk mendirikan sebuah museum untuk menampung semua temuan tersebut, yang sebelumnya hasil temuan tersebut disimpan di Pendopo Kabupaten. Museum Wajakensis didirikan pada akhir tahun 1996 dengan menempati bangunan berukuran 8 x 15 m yang berdiri di atas lahan seluas 5.706 m². Dinamakan Wajakensis berdasarkan pertimbangan bahwa di daerah Tulungagung Selatan pernah mendunia berkat temuan fosil Wajak 1 dan Wajak 2 yang kemudian dikenal sebagai Homo Wajakensis (Manusia Purba dari Wajak).
Museum ini sebenarnya memiliki koleksi yang cukup tua dibandingkan dengan daerah lain. Namun, karena ruangan museum yang tidak begitu lebar dan lebih mirip dengan ruang kelas pada sekolahan, penataan koleksi tidak optimal. Bahkan, enam prasasti langka terpaksa diletakkan di teras bagian utara dari bangunan museum. Keenam prasasti ini pernah didatangi dan diteliti oleh arkeolog dari dalam maupun luar negeri, akan tetapi hingga sekarang belum terlihat apa isi dari prasasti tersebut.
Memasuki satu-satunya pintu yang ada di museum, pengunjung akan disambut petugas museum untuk mengisi buku tamu yang telah disediakan. Lalu, pengunjung akan dipersilakan melihat koleksi-koleksi yang dipajang di dalam museum tersebut. Penataan ini mengikuti denah ruangan yang berbentuk empat persegi panjang. Koleksi-koleksi ditaruh mepet dengan dinding, dan di bagian tengah diletakkan arca-arca secara berderet. Selain itu, di dinding sebelah timur dan selatan terpampang story line perihal situs maupun candi yang terdapat di Kabupaten Tulungagung.
Di antara pajangan yang mepet dengan dinding dan yang berada di tengah, terciptalah sebuah lorong yang akan dilalui oleh pengunjung museum. Sesuai arahnya, pengunjung mengikuti lorong ke selatan lalu ke barat, terus ke utara kemudian ke timur.


Searah lorong, pengunjung bisa melihat replika Homo Sapiens Wajakensis yang ditaruh dalam lemari kaca, yaitu sebuah fosil tengkorak manusia purba yang diperkirakan berusia ± 40.000 tahun yang lalu ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1880-1890 di daerah Wajak-Besole Tulungagung Selatan. Berdasarkan penelitian arkeologi yang dilakukan pada tahun 1889 di lereng barat Gunung Gamping, Desa Wajak, Kecamatan Campurdarat, ditemukan bukti bahwa pada masa lalu daerah ini telah didiami oleh Homo Sapiens Wajakensis. Fosil ini merupakan fosil homo sapiens pertama yang dijumpai di Indonesia. Dengan ciri-ciri memiliki volume otak 1.630 cc, bermuka datar dan lebar, akar hidungnya lebar dan bagian mulutnya menonjol sedikit. Fosil ini merupakan perpaduan antara ciri ras Mongoloid dan ras Austromelanosoid. Di daerah ini juga ditemukan fosil tapirus indicus (tapir), manik-manik dan benda perunggu.
Koleksi keris tilam sari dan keris tudung mediun bisa dilihat pengunjung di lemari kaca bagian barat. Keris tilam sari adalah keris lurus dengan warangka ladrangan, sedangkan keris tudung mediun merupakan keris luk 13 dengan warangka gayaman. Kemudian, pengunjung juga bisa melihat osrok mata dua yang terbuat dari dua lebar kayu berbentuk persegi yang pada salah satu sisinya dipenuhi dengan paku besar. Pegangan terdiri dari dua bilah kayu digunakan untuk membersihkan rumput di sawah. Dengan cara mendorong osrok di antara deretan tanaman padi dengan deretan padi yang lain.
Di dekat osrok, terlihat landak dan lesung sedang. Landak, dibuat dari besi dan pegangan dari kayu. Besi dipasang secara melingkar (seperti roda) dengan ketajaman pada tiap sisinya. Pegangan terdiri dari dua bilah kayu karena dibuat dari besi tajam, maka disebut landak (seperti binatang landak yang punya banyak duri pada kulitnya). Digunakan untuk membersihkan rumput di sawah dengan cara mendorong landak di antara deretan tanaman padi dengan deretan padi yang lain. Sedangkan, lesung terbuat dari kayu jati untuk yang bagian tengahnya diberi lubang memanjang, pada kedua sisinya terdapat lubang bulat kecil. Lesung digunakan untuk menumbuk padi dengan alu, secara beramai-ramai pada musim panen padi. Selain itu biasanya lesung juga bisa digunakan sebagai undangan tidak resmi apabila sebuah keluarga mempunyai hajatan. Bunyi padi yang ditumbuk di dalam lesung menandakan bahwa kegiatan secara resmi sudah dimulai dan tetangga sekitar yang ingin membantu biasanya langsung datang.
Selain itu, museum ini juga memiliki banyak peninggalan Hindu-Buddha berupa arca-arca yang terbuat dari batu andesit, prasasti maupun serpihan-serpihan candi yang ditemukan di Kabupaten Tulungagung seperti arca dwarapala, arca agastya, arca nandi, arca ganesha, arca kera, yoni maupun batu mirip altar.
Arca Dwarapala dalam museum ini terbuat dari batu porus berwarna keputihan (batu kapur). Arca ini ditemukan di daerah pegunungan kapur di sekitar Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, yang juga berbatasan dengan pegunungan marmer Besole Besuki. Dwarapala menggambarkan bentuk raksasa penjaga pintu gerbang masuk suatu bangunan suci, yang digambarkan dalam posisi duduk kaki kiri ditekuk (bersila) sedangkan kaki kanan dalam posisi jengkeng. Arca ini mempunyai dua tangan yang membawa gada. Gada dianggap salah satu atribut yang merupakan simbol penghancur kegelapan. Dwarapala selalu digambarkan dengan mata melotot dan mulut menyeringai memperlihatkan gigi-giginya.
Agastya adalah salah satu penggambaran Dewa Siwa sebagai Maha Guru, yang dalam ikonografinya selalu digambarkan sebagai seorang laki-laki tua berbadan gendut dalam sikap berdiri, mempunyai dua tangan yang masing-masing membawa kamandalu (kendi) dan aksamala (tasbih) yang sudah sangat aus. Pada bagian sandaran terdapat trisula (tombak bermata tiga) dan camara (alat pengusir lalat). Pada awalnya, agastya adalah seorang penyebar agama Hindu di India Selatan yang kemudian dalam perkembangannya sering dianggap sebagai salah satu perwujudan Dewa Siwa sendiri, dalam perannya sebagai penyebar ajaran agama Hindu.
Nandi adalah lembu sebagai wahana Dewa Siwa yang dalam perkembangannya dianggap sebagai salah satu perwujudan Dewa Siwa sendiri dan banyak dipuja terutama di daerah-daerah agraris yang banyak menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Lembu Nandi dianggap mampu memberikan kesuburan dan keberhasilan dalam pateon agama Hindu.
Ganesha adalah dewa berkepala gajah, putra Dewa Siwa dengan Parwati, yang dalam ikonografinya Ganesha seringkali digambarkan duduk uttuku tukasana (dua telapak kaki bertemu di tengah). Sikap duduk ini merupakan sikap duduk khas Ganesha. Ganesha dianggap sebagai simbol ilmu pengetahuan, Dewa Perang sekaligus pembasmi kejahatan dan kebodohan.
Lalu, arca kera. Arca ini ditemukan di sekitar Sungai Song yang berada di Desa Pucangan, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung pada 23 Mei 2013 oleh Jasmuni dalam timbunan tanah berbatu. Menurut sejumlah arkeolog, arca ini tergolong langka dan unik. Sampai sekarang arca ini masih dalam penelitian BPCB Trowulan.
Yoni yang terdapat dalam museum ini, terbuat dari batu andesit dan berbentuk persegi. Salah satu sudutnya terdapat cerat, bagian atas tepat di tengahnya terdapat lubang persegi tempat diletakkan Lingga. Yoni dianggap sebagai lambang sakti istri Dewa Siwa, yaitu Parwati. Dalam suatu kompleks candi, Yoni dan Lingga diletakkan di bilik utama sebagai pengganti Siwa dan Parwati. Lingga dan Yoni dianggap simbol kesuburan, kelangsungan hidup dan regenerasi dalam segala aspek kehidupan.
Sedangkan, batu mirip altar yang ada di museum ini berangka tahun 1295 Saka atau 1373 Masehi dan batu candi yang berangka tahu tahun 1304 Saka atau 1382 Masehi. Batu ini berasal dari Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung.
Dilihat dari koleksi-koleksi yang ada di Museum Wajakensis ini, sebenarnya memiliki kesejarahan yang cukup tua sehingga bisa menjadi rekaman perjalanan peradaban sebuah bangsa yang dapat dijadikan sarana pendidikan bagi masyarakat. Sebagai museum umum, museum ini masih bisa berkembang dan dikembangkan menjadi museum unggulan yang terdapat di Jawa Timur. *** [250116]

0 komentar:

Posting Komentar