The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Nalar Kultural Kuburan

Tak ada peradaban mengajarkan membuang atau memperlakukan raga mati seperti bangkai. Sikap etis terhadap raga mati bahkan bisa tampak lebih agung, kolosal, dan sakral daripada terhadap raga hidup, misalnya upacara penguburan jenazah yang dihadiri banyak orang.
Raga manusia mati bukan onggokan bangkai, melainkan “mayat” atau “jenazah”. Contoh-contoh penyebutan khusus ini simbol pemuliaan terhadap jasad yang terjemput maut. Pemuliaan ini muncul dari pandangan bahwa jasmani punya andil luhur dalam peradaban.
Kebe-raga-an, keber-tubuh-an, membuat manusia eksis sebagai manusia dan memungkinkannya berkiprah dalam peradaban. Penciptaan peradaban tak bisa lepas sama sekali dari partisipasi raga, bahkan bisa menjadi faktor utamanya.
Kematian raga batas akhir eksistensi manusia di dunia karena raga tak lagi berfungsi. Berpikir pun satu daya dari raga. Gegar otak atau sakit saraf yang merusak daya piker merupakan bukti bahwa berpikir merupakan bukti bahwa berpikir melibatkan raga, yaitu organ otak.

Kuburan kultural
Beragam pandangan terhadap raga. Masyarakat Yunani kuno yang paganis mengenal ungkapan “raga adalah pusara jiwa”. Jiwa di sini dalam pengertian teologis, bukan psikologis atau fisikal. Kendati nilai raga tak setara jiwa, masyarakat Yunani memberikan ritus bagi jenazah berupa pengkremasian.
Masyarakat yang memandang raga secara sakral atau profan, menilai raga seperti mesin atau pun kuburan, tetap menghormati mayat. Masyarakat primitif, modern, religious, dan sekuler tergetar naluri etiknya terhadap penistaan mayat.
Semua peradaban besar memuliakan raga mati dan memberi tempat khusus, misalnya kuburan dalam tradisi agama samawi atau upacara khusus seperti ngaben (pembakaran mayat) dalam masyarakat Hindu di Bali.
Pun ada masyarakat yang memumikan mayat di piramida pada masa Mesir kuno. Pada masa modern, mayat pemimpin negeri komunis-sosialis diawetkan dan disemayamkan di museum.

Ziarah kubur
Pada tradisi agama samawi, mayat dikubur di tanah. Kuburan diyakini sebagai perbatasan antara alam dunia dan akhirat.
Ziarah kubur atau mengunjungi candi tempat abu jenazah disimpan menjadi ritus dari zaman ke zaman yang cenderung lebih dianggap berdimensi spiritual atau religious. Dimensi kultural dari kuburan dan ziarah kubur kurang mengemuka meski makna dari dimensi ini lebih luas atau sekurangnya bisa juga “berguna” bagi yang hidup.
Ziarah kubur merupakan persapaan antara dunia ini dan yang setelah dunia ini. Kuburan merupakan situs simbolis tempat rendezvous (“perjumpaan”) yang hidup dan yang pernah hidup sehingga ziarah kubur melebur yang logis dan yang mistis, yang material dan yang immaterial.
Taburan bunga dalam ziarah kubur merupakan bahasa simbolis yang estetik. Bunga menjadi “media penghubung” peziarah dan yang diziarahi, dan bunga merupakan lambang cinta atau kasih sayang.
Kuburan tak semata persemayaman raga mati. Tak pula gundukan tanah belaka, melainkan artefak berdimensi spiritual dan kultural. Kuburan representasi kehadiran yang mati. Maka, di nisan terpahat nama.
Sembulan makna dari ziarah kubur adalah yang mati tak dilupakan yang hidup. Itu merawat kesadaran, masa depan yang hidup adalah kematian.
Makna yang historis dan yang “futuristik” ini juga menyiratkan pemahaman bahwa kehidupan dan kematian tak sama sekali terpisah, tak memilah yang mistis dan logis, yang rasional dan irasional. Pandangan ini berharga di tengah kecamuk pertentangan rasionalitas-irasionalitas, pertikaian teologi-filsafat, atau perseteruan akal-agama. [BINHAD NURROHMAT, penyair]

Sumber:

  • KOMPAS edisi Sabtu, 22 September 2012 hal. 12
Share:

Masyarakat Pegunungan Penjaga Tradisi

Di Pulau Bali masyarakat pegunungan sering mendapat sebutan Bali Aga atau Mula. Beberapa desa yang digolongkan sebagai desa Bali Aga, antara lain, Trunyan, Sembiran, Cempaga, Sidetapa, Pedawa, Tigawasa, dan Tenganan. Istilah Bali Aga berarti orang Bali pegunungan, sedangkan Bali Mula mengandung arti Bali asli.
Antropolog James Danandjaja dalam bukunya Kebudayaan Petani Desa Trunyan menuliskan, penduduk pegunungan di Bali sendiri tidak menyukai sebutan Bali Aga. Nama Bali Aga diperoleh dari penduduk Bali lainnya yang menyebut diri mereka sebagai orang Bali Hindu dan mereka ini merupakan penduduk mayoritas orang Bali.
Orang Trunyan lebih senang disebut orang Bali Mula dan lebih suka lagi disebut orang Bali Turunan. Orang Trunyan yang tinggal di dalam kepundan purba Gunung Batur meyakini leluhur mereka turun dari langit ke bumi Trunyan.
Mereka menganggap diri mereka berbeda dengan orang Bali Hindu yang mereka panggil dengan sebutan Bali Suku karena orang Bali Suku bukan penduduk asli Pulau Bali, melainkan pendatang dari Pulau Jawa yang masuk ke Pulau Bali dengan suku atau kaki, dengan kata lain berjalan kaki.
Orang Bali Aga dianggap sebagai penduduk asli yang memang beragama Hindu, tetapi tidak mendapatkan pengaruh Jawa. Pengaruh Majapahit meluas di Bali sekitar abad ke-14.
Mengutip Negarakertagama, penulis Pura Besakih; Pura, Agama, dan Masyarakat Bali, David J Stuart menuliskan, pasukan Gajah Mada masuk ke Bali tahun 1343. Majapahit pun menanamkan pengaruhnya, termasuk dalam aspek religi.
Patih Gajah Mada didampingi  sejumlah bangsawan (arya) Majapahit menguasai pasukan di daerah strategis. Namun, populasi daerah pegunungan di bagian tengah dan timur terus melawan.
James Danandjaja sendiri berkesimpulan, kebudayaan di Desa Trunyan juga terkena pengaruh kebudayaaan Hindu Bali dan Hindu Jawa Majapahit dari Jawa Timur. Namun, dalama bidang agama, pengaruh dari kedua kebudayaan itu hanya berupa sentuhan kulitnya saja.
Itu dilihat dari dewa-dewa yang dipuja di kuil utama Trunyan mtelah merupakan leluhur yang sudah telah meninggal yang dihindukan, bukan dewa-dewa Hindu dari India.
Arkeolog dari Balai Arkeologi Denpasar, Bali, I Made Geria, mengatakan, orientasi spiritual masyarakat Trunyan berbeda dengan masyarakat Hindu Bali dataran. Dalam konsep agama Hindu, dewa yang tertinggi adalah Trimurti, yakni Brahmana, Wisnu dan Siwa.
“Orientasi spiritual masyarakat Trunyan kepada Bathara Datonta yang merupakan peninggalan zaman megalitik dan masih bertahan sampai sekarang,” ujar Geria.
Thomas A Reuter dalam bukunya Custodians of the Sacred Mountains menyebutkan, bagi orang Hindu yang menganggap diri mereka sebagai orang beradab yang mendapatkan pengaruh kebudayaan Jawa-Majapahit, hal yang tidak terpengaruh kebudayaan Jawa-Majapahit dianggap kasar dan tidak beradab. Pandangan demikian meminggirkan orang Bali Aga.
Padahal, dia menuliskan, orang Bali Aga tetap sangat diperlukan, wakil dari Bali “yang lebih tua” lebih asli, dan dalam beberapa hal lebih suci.
Mereka memilih melanjutkan tradisinya di daerah pegunungan dan mempertahankan hubungan dengan nenek moyang.
Namun, menurut Reuter, tradisi Bali Aga tak pernah mengalami kemacetan. Mereka tetap menyediakan ruang bagi pendatang dan pengetahuan baru dari luar. ***

*) KOMPAS edisi Sabtu, 17 Desember 2011 hal. 40
Share:

Penyucian Agung, Konservasi Berbalut Budaya

Masyarakat Bali kuno dikenal sebagai masyarakat agraris dengan kultur spiritual yang kuat. Tanpa menyebutnya dengan konservasi, sumber-sumber air disucikan untuk melindungi para petani dari bencana kekeringan.
Sejak zaman raja-raja berkuasa di Bali, penyucian dilakukan di hampir semua kawasan vital bagi para petani, seperti gunung, danau, dan hutan. Kawasan itu sangat penting bagi berlangsungnya tradisi agraris masyarakat Bali.
Gunung-gunung yang membentang di tengah-tengah Pulau Bali mulai dari barat hingga timur adalah kawasan vital bagi pertanian Bali. Di bentangan gunung itu, rakyat dan raja-raja di Bali mendirikan pura hingga jumlahnya tak kurang dari 1.000 bangunan, baik pura kecil maupun pura besar.
Gunung Agung adalah gunung terbesar di Bali yang sangat disucikan penduduknya. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya pura terbesar di Bali, Pura Besakih di Kecamatan Rendang, dan beberapa pura besar lainnya, seperti Pasar Agung di Kecamatan Selat. Gunung Agung adalah sumber air terbesar bagi masyarakat petani zaman dulu.
Antropolog Universitas Udayana, Ida Bagus Gede Puja Astawa, mengatakan, pada zaman raja-raja, mereka tak pernah menyebut kegiatan penyucian sebagai kegiatan konservasi. “Rasionalitas konservasi itu dibalut dalam selubung budaya. Mereka hanya  di menyebutkan pantangan untuk tidak merusak dan mengganggu kelangsungan ekosistem di gunung,” kata Astawa.
Pada zaman raja-raja itu pulalah, berkembang konsep spiritual mengenai Gunung Agung yang menyebutkan bahwa gunung tak ubahnya seperti kepala manusia. Dalam penghayatan masyarakat Bali kuno, kepala adalah organ tubuh yang paling suci karena merupakan bagian tubuh yang paling penting. Gunung harus dihormati seperti layaknya menghormati dan menyucikan kepala.
“Konsepsinya sederhana, kalau kepala rusak, semua tubuh manusia tidak akan berfungsi baik. Demikian pula dengan gunung, yang kalau dirusak akan menimbulkan bencana bagi masyarakat Bali ketika itu, yaitu masyarakat petani. Bencana bagi masyarakat petani kala itu yang paling ditakuti adalah kekeringan,” kata Puja Astawa.
Masyarakat Bali memiliki pandangan bahwa hidup kita akan tenang kalau kepala dijaga dengan baik. “Kepala sangat dihargai, sangat dihormati. Kalau kepala pusing, akan pengaruhi hidup kita. Kalau Gunung Agung itu dieksploitasi, sama dengan mengobok-obok kepalanya Pulau Bali. Itulah kenapa ada pura besar dan banyak pura kecil lain di Gunung Agung. Itu adalah cara masyarakat Bali kuno menghormati dan melindungi Gunung Agung,” kata Puja Astawa.
Sampai sekarang, di Bali masih berkembang tradisi bagi para petani untuk memberikan sesajen ke pura di sekitar sumber air di Gunung Agung.
Konsep penyucian alam yang menjadi tempat hidup masyarakat Bali bahkan diperkirakan sudah ada sejak zaman megalitikum. “Dari konsep orientasi spiritual mereka, mereka sudah mengenal penyucian alam yang dianggap sebagai buana agung karena akan memberikan berkah dan rahmat kepada manusia sebagai buana alit,” kata Geria.
Bandesa Adat Desa Sebudi, Kecamatan selat, Kabupaten Karangasem Mangku Gede Umbara, mengatakan, masyarakat sangat menghormati Gunung Agung karena merasa sebagai pusat kehidupan yang harus disucikan. “Masyarakat menghormati Gunung Agung yang telah memberi air. Tidak banyak yang tahu bahwa cara menghormati gunung itu adalah cara menjaga air yang sejak dulu diwariskan nenek moyang kami,” kata Umbara. ***

*) KOMPAS edisi Sabtu, 17 Desember 2011 hal. 37
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami