Senin, 24 September 2012

Nalar Kultural Kuburan

Tak ada peradaban mengajarkan membuang atau memperlakukan raga mati seperti bangkai. Sikap etis terhadap raga mati bahkan bisa tampak lebih agung, kolosal, dan sakral daripada terhadap raga hidup, misalnya upacara penguburan jenazah yang dihadiri banyak orang.
Raga manusia mati bukan onggokan bangkai, melainkan “mayat” atau “jenazah”. Contoh-contoh penyebutan khusus ini simbol pemuliaan terhadap jasad yang terjemput maut. Pemuliaan ini muncul dari pandangan bahwa jasmani punya andil luhur dalam peradaban.
Kebe-raga-an, keber-tubuh-an, membuat manusia eksis sebagai manusia dan memungkinkannya berkiprah dalam peradaban. Penciptaan peradaban tak bisa lepas sama sekali dari partisipasi raga, bahkan bisa menjadi faktor utamanya.
Kematian raga batas akhir eksistensi manusia di dunia karena raga tak lagi berfungsi. Berpikir pun satu daya dari raga. Gegar otak atau sakit saraf yang merusak daya piker merupakan bukti bahwa berpikir merupakan bukti bahwa berpikir melibatkan raga, yaitu organ otak.

Kuburan kultural
Beragam pandangan terhadap raga. Masyarakat Yunani kuno yang paganis mengenal ungkapan “raga adalah pusara jiwa”. Jiwa di sini dalam pengertian teologis, bukan psikologis atau fisikal. Kendati nilai raga tak setara jiwa, masyarakat Yunani memberikan ritus bagi jenazah berupa pengkremasian.
Masyarakat yang memandang raga secara sakral atau profan, menilai raga seperti mesin atau pun kuburan, tetap menghormati mayat. Masyarakat primitif, modern, religious, dan sekuler tergetar naluri etiknya terhadap penistaan mayat.
Semua peradaban besar memuliakan raga mati dan memberi tempat khusus, misalnya kuburan dalam tradisi agama samawi atau upacara khusus seperti ngaben (pembakaran mayat) dalam masyarakat Hindu di Bali.
Pun ada masyarakat yang memumikan mayat di piramida pada masa Mesir kuno. Pada masa modern, mayat pemimpin negeri komunis-sosialis diawetkan dan disemayamkan di museum.

Ziarah kubur
Pada tradisi agama samawi, mayat dikubur di tanah. Kuburan diyakini sebagai perbatasan antara alam dunia dan akhirat.
Ziarah kubur atau mengunjungi candi tempat abu jenazah disimpan menjadi ritus dari zaman ke zaman yang cenderung lebih dianggap berdimensi spiritual atau religious. Dimensi kultural dari kuburan dan ziarah kubur kurang mengemuka meski makna dari dimensi ini lebih luas atau sekurangnya bisa juga “berguna” bagi yang hidup.
Ziarah kubur merupakan persapaan antara dunia ini dan yang setelah dunia ini. Kuburan merupakan situs simbolis tempat rendezvous (“perjumpaan”) yang hidup dan yang pernah hidup sehingga ziarah kubur melebur yang logis dan yang mistis, yang material dan yang immaterial.
Taburan bunga dalam ziarah kubur merupakan bahasa simbolis yang estetik. Bunga menjadi “media penghubung” peziarah dan yang diziarahi, dan bunga merupakan lambang cinta atau kasih sayang.
Kuburan tak semata persemayaman raga mati. Tak pula gundukan tanah belaka, melainkan artefak berdimensi spiritual dan kultural. Kuburan representasi kehadiran yang mati. Maka, di nisan terpahat nama.
Sembulan makna dari ziarah kubur adalah yang mati tak dilupakan yang hidup. Itu merawat kesadaran, masa depan yang hidup adalah kematian.
Makna yang historis dan yang “futuristik” ini juga menyiratkan pemahaman bahwa kehidupan dan kematian tak sama sekali terpisah, tak memilah yang mistis dan logis, yang rasional dan irasional. Pandangan ini berharga di tengah kecamuk pertentangan rasionalitas-irasionalitas, pertikaian teologi-filsafat, atau perseteruan akal-agama. [BINHAD NURROHMAT, penyair]

Sumber:

  • KOMPAS edisi Sabtu, 22 September 2012 hal. 12

0 komentar:

Posting Komentar