The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Benda Cagar Budaya di Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Benda Cagar Budaya di Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran

Kawasan Bintaran merupakan salah satu kawasan permukiman yang dikembangkan oleh Pemerintah Hnidia Belanda di Yogyakarta. Pengembangan kawasan ini lantaran permukiman orang-orang Belanda maupun Eropa yang lama di kawasan Kidul Loji atau Secodiningratan sudah padat. Kawasan Kidul Loji sendiri berada di sebelah selatan Benteng Vredeburg, yang berjarak satu kilometer dengan kawasan Bintaran.
Dalam pengembangan kawasan Bintaran tersebut, juga didirikan fasilitas keagamaan berupa gereja Katolik yang bernama Gereja Katolik Santo Yusup, atau yang dikenal juga dengan Gereja Bintaran. Gereja ini terletak di Jalan Bintaran Kidul No. 5, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gereja ini berada di depan Bintaran Mart, atau H Royal Residence Bintaran.


Gagasan mendirikan gereja di Bintaran ini berawal dari keprihatinan akan keterbatasan ruang gereja yang ada di Gereja Santo Frasiskus Xaverius Kidul Loji. Pada waktu itu, Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji masih didominasi oleh jemaat yang terdiri dari orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Orang-orang kulit putih menempati bangunan utama gereja, sedangkan jemaat orang-orang pribumi Katolik memilih menempati gudahng sisi timur gereja.
Seiring perkembangan waktu, gudang tersebut tak mampu lagi untuk menampung jemaat pribumi Katoilk. Situasi dan kondisi yang demikian menjadi perhatian Pastor Henri van Driessche SJ, untuk membangun gereja yang khusus untuk jemaat orang-orang pribumi Katolik tersebut.
Setelah penggalangan dana terkumpul, maka dibuatlah desain bangunan gereja yang dipercayakan kepada Ir. Johannes Theodorus van Oijen. Van Oijen adalah seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang telah banyak berkiprah di kota-kota yang ada di Hindia Belanda, seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya. Ia kelahiran Den Haag pada 3 Oktober 1896, dan meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung pada 11 Juli 1944.


Pembangunan gereja dimulai pada tahun 1933, dan kontraktor pelaksananya dilakukan oleh sebuah perusahaan bangunan milik Belanda bernama Naamloze Vennootschap (NV) “Hollandsche Beton Maatschappij”. Luas bangunan gereja adalah 720 m² yang berdiri di atas lahan seluas 5024 m². Tinggi bangunan gereja 13 m, lebar 20 m dan panjang 36 m.
Secara visual bangunan Gereja Bintaran memiliki keunikan bila dibandingkan dengan gereja-gereja lainnya yang ada di Yogyakarta. Gereja ini mempunyai atap plat beton lengkung tinggi yang diapit oleh atap datar. Langgam arsitektur gereja seperti itu hanya ada dua, yang satunya ada di Belanda yang menjadi induk dari gereja ini.
Gedung gereja ini diresmikan pada hari Minggu, 8 April 1934 bersamaan dengan misa ekaristi untuk pertama kalinya yangdihadiri sekitar 1800 jemaat Katolik pribumi. Peresmian gereja dilakukan oleh Mgr. A. Th. Van Hoof SJ, Vikaris Apolistik didampingi oleh Pastor Van Kalken SJ, Kepala Misi Jesuit di Jawa dan Pastor G. Riestra SJ, Pastor Kepala di Yogyakarta. Selain itu, juga dihadiri oleh dua orang wakil masyarakat Katolik pribumi, Raden B. Djajaendra dan Raden Mas L. Jama. Keduanya bekas murid sekolah guru Muntilan yang saat itu bekerja di sekolah Bruderan Yogyakarta.
Setelah itu, Pastor pertama yang berkarya di Bintaran adalah Pastor A.A.C.M. de Kuyper SJ dibantu oleh Pastor A. Soegijopranoto SJ. Mereka berdua sudah dipercaya memegang Paroki Bintaran sejak 12 Oktober 1933, satu tahun sebelum gereja diresmikan penggunaannya.
Menilik data antara Juli 1935 sampai Juni 1936 diketahui bahwa, jumlah jemaat Paroki Bintaran berjumlah 4.695 orang. Dari jumlah itu, hanya ada 26 jemaat orang Eropa. Selaras dengan ide awal pendirian gereja ini, perbandingan ini telah mengokohkan bahwa Gereja Bintaran memang merupakan Gereja Katolik Jawa pertama di Yogyakarta.
Anton Haryono dalam bukunya, Awal Mulanya Adalah Muntilan: Misi Jesuit di Yogykarta 1914-1940 (Kanisius, 2009) menjelaskan bahwa, daerah Yogyakarta merupakan tanah Misi paling subur di Jawa, yang tidak hanya tercermin dari pertumbuhan umat, tetapi juga dari kesuburan panggilan imamat dan hidup membiara. Dari daerah inilah untuk pertama kalinya di Indonesia muncul imam, biarawan, dan biarawati pribumi. Bahkan, kardinal pertama juga berasal dari daerah Yogyakarta.
Di sisi lain, gereja ini juga mempunyai peran dalam proses perjuangan kemerdekaan. Pada saat Ibu Kota Pemerintahan RI dipindahkan ke Yogyakarta, Gereja Bintaran menjadi tempat persembunyian keluarga Bung Karno dan Hatta yang kala itu dibuang ke bukit tinggi. Selain itu, gereja ini juga menjadi tempat rintisan sekolah pribumi Kolese Debrito, dan sering kali digunakan sebagai tempat pertemuan kelompok gereja Katolik, salah satunya adalah Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) yang berlangsung dari tanggal 12 sampai dengan 17 Desember 1949 yang menghasilkan Partai Katolik Indonesia.
Kini, Gereja Bintaran menjadi cagar budaya yang dilindungi oleh negara berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang Penetapan Situs Dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala Yang Berlokasi Di Wilayah Propinsi DIY Sebagai Benda Cagar Budaya Atau Kawasan Cagar Budaya. *** [210717]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Kepustakaan:
Haryono, Anton. (2009). Awal Mulanya Adalah Muntilan: Misi Jesuit di Yogykarta 1914-1940. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
http://journal.unpar.ac.id/index.php/rekayasa/article/viewFile/1355/1312
http://loncengbintaran.blogspot.co.id/2007/12/sejarah-gereja-santo-yusup-bintaran.html
http://lppmsintesa.fisipol.ugm.ac.id/mengunjungi-gereja-jawa-pertama-di-yogyakarta/
https://www.academia.edu/7666653/Rekam_Jejak_Arsitektur_Indis_di_Bintaran
Share:

Tugu Pal Putih Yogyakarta

Tugu Pal Putih, atau biasa disebut sebagai Tugu Jogja, merupakan salah satu landmark Kota Yogyakarta yang harus dikunjungi jika Anda berwisata di kota pelajar ini. Cerita yang beredar di kalangan pelajar pendatang di Yogyakarta, yaitu apabila kita menyentuh Tugu Jogja setelah kelulusan, maka kita akan memiliki kesempatan untuk kembali ke kota yang dikenal toleran ini.
Tugu ini merupakan sebuah bangunan monumen bersejarah yang terletak tepat di tengah perempatan antara Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jenderal Soedirman, Jalan A.M. Sangaji serta Jalan Diponegoro. Selain sebagai simbol dari Kota Yogyakarta, tugu ini juga mempunyai satu poros imajiner antara Laut Selatan,Kraton Yogyakarta dan Gunung Merapi. Hal ini dikarenakan ketiganya memiliki ikatan magis secara kultural yang diyakininya.


Tugu Jogja didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) I. Pada awalnya, tugu ini berbentuk Golong-Gilig setinggi 25 meter di mana tiang dari tugu ini berbentuk silinder (gilig), dan puncaknya berbentuk bulat (golong). Sehingga, pada masa itu tugu ini dikenal dengan sebutan Tugu Golong-Gilig. Filosofi dari tugu ini bermakna Manunggaling Kawula Gusti, yang menggambarkan semangat persatuan antara rakyat dan penguasa dalam melawan penjajah. Namun, di sisi lain juga bisa berarti sebagai hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.
Pada 10 Juni 1867, gempa besar mengguncang Kota Yogyakarta dan mengakibatkan runtuhnya bangunan tugu. Dan baru pada tahun 1889, tugu ini mulai diperbaiki oleh Pemerintah Hindia Belanda yang dilakukan oleh Opzichter van Waterstaat atau Kepala Dinas Pekerjaan Umum, JWS van Brussel di bawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V dengan melakukan sedikit renovasi pada bangunan tugu ini. Tugu ini dibangun dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula.
Tugu ini kemudian diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII pada 3 Oktober 1889. Semenjak itu, tugu ini disebut dengan nama De Witt Paal atau Tugu Putih.
Potensi kepurbakalaan kawasan Tugu di mana Tugu Pal Putih sebagai sentralnya, menjadikan Tugu ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI No. PM.25/PW.007/MKP/2007.  Sehingga, keberadaannya perlu dilindungi dan dilestarikan. ***

Fotografer: Agus Abidin
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami