The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Blitar Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blitar Heritage. Tampilkan semua postingan

LAPAS Klas IIB Blitar

Sewaktu menunggu dijemput ibu-ibu kader Kepanjen yang terlebih dahulu berada di Kota Blitar, saya pun menunggu di Alun-Alun Kota Blitar. Hal ini dilakukan agar mudah menemukannya, karena keberadaan alun-alun di suatu daerah pasti mudah dikenali.
Sambil menunggu jemputan, saya pun berusaha berkeliling di sekitaran alun-alun itu. Pada saat mengelilingi alun-alun di sebelah timur, saya melihat bangunan lawas dan luas. Ukurannya tampak muka dari bangunan kuno itu seimbang dengan ukuran lebar yang dimiliki oleh alun-alun itu.
Bangunan lawas itu merupakan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Blitar. Lapas ini terletak di Jalan Merapi No. 2 RT. 04 RW. 02 Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi Lapas ini berada di sebelah timur Alun-Alun Kota Blitar.
Menurut catatan sejarah yang ada, bangunan lapas ini didirikan pada tahun 1881 oleh pemerintah Hindia Belanda setelah alun-alun selesai dibangun. Dulu, masih bernama Rumah Penjara Blitar atau dalam bahasa Belandanya, De Gevangenis in Blitar lag aan de zuidkant van de alon-aloon (Penjara di Blitar berada di sisi selatan alun-alun).


Dalam tata letak alun-alun, diterapkan sebuah pakem Catur Tunggal yang juga digunakan oleh daerah-daerah lain di wilayah Jawa Timur seperti Lumajang, Probolinggo dan Jember, yakni dikelilingi oleh kediaman penguasa pada bagian utara, penjara pada bagian timur, kantor pemerintahan pada bagian selatan, dan masjid pada bagian barat. Jadi, penjara atau lapas umumnya berada di sebelah timur alun-alun. Bagi pemerintah Hindia Belanda, lokasi penjara yang demikian itu juga memungkinkan untuk mempermudah garis koordinasi antara penguasa dengan tempat tahanan.
Dalam laporannya Holterman yang termuat di Rapport internering Blitar (Laporan internal Blitar) dijelaskan, bahwa pada masa kepemimpinan A. Badal kondisi penjara kurang baik. Asupan nutrisi untuk para tahanan sangat sedikit. Selnya berjubel melebihi kapasitas. Hal ini juga diceriterakan oleh Walraven ketika berkesempatan mengunjungi penjara yang ada di sebelah timur alun-alun itu, bahwa penjara itu ‘jelek’.


Dalam perjalanannya, bangunan penjara yang memiliki luas 6.070 m² ini pernah mengalami beberapa kali perubahan nama. Di awali dari nama Rumah Penjara Blitar (1881-1964), kemudian berganti menjadi Lembaga Pemasyakatan Blitar (1964-1995), dan pada 1995-2003 bangunan itu berganti nama menjadi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Blitar. Selajuntnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.05.PR.07.03 Tahun 2003 Tanggal 16 April 2003, bangunan peninggalan Hindia Belanda berubah nama lagi menjadi Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Blitar. Oleh karena itu, bangunan tersebut sekarang dikenal dengan Lapas Klas IIB Blitar.
Lembaga pemasyarakatan (Lapas) merupakan tempat melaksanakan pembinaan narapidana, dan anak didik pemasyarakatan, termasuk juga dengan apa yang dilakukan oleh Lapas Klas IIB Blitar ini. Lapas ini juga melaksanakan tugasnya dengan melakukan pembinaan narapidana/anak didik, memberikan bimbingan, mempersiapkan sarana dan mengelola hasil kerja, dan melakukan bimbingan sosial/kerohanian narapidana/anak didik. Hal ini bertujuan agar supaya para narapidana atau anak didik pemasyarakatan setelah bebas bisa menjalani hidupnya secara ‘normal’ kembali. *** [100718]

Share:

Jembatan Lahor Karangkates

Usai meeting membahas Scaling Up SMARThealth di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, saya bergegas memacu sepeda motor Honda REVO tahun 2015 untuk menyusul ibu-ibu kader Kepanjen yang sedang melakukan touring ke Kota Blitar. Perjalanan dari Kepanjen menuju ke Blitar pun saya lakoni dengan kecepatan sedang. Setelah jalan besar sesudah melewati jembatan yang melintasi Sungai Lahor menanjak dan berbelok-belok, saya berhenti di tepi jalan di mana saya bisa melihat jembatan kereta api yang tinggi melintasi Sungai Lahor. Jembatan kereta api itu dikenal dengan Jembatan Lahor Karangkates (Spoorbrug op de Lahor-rivier bij Karangkates). Jembatan ini terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. Di sebelah timur jembatan masuk dalam wilayah administrasi Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, dan ujung jembatan yang berada di sebelah barat masuk Dusun Ngelahor, Desa Selorejo, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar.


Pembangunan jembatan ini berkaitan dengan adanya proyek pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen sepanjang 55 kilometer yang dikerjakan oleh Staatsspoorwagen (SS), dari tahun 1895 sampai dengan tahun 1897. SS adalah perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1875. SS menjadi perusahaan besar pesaing Nederlandsch-Indische Spooweg Maatschappij (NIS).
SS sendiri terbagi dalam beberapa wilayah operasional. SS Oosterlijnen mendominasi area jalur kereta api di Jawa Timur (terutama wilayah selatan dan timur) dan sedikit di wilayah Jawa Tengah. Termasuk jalur SS yang menyatu dengan jalur NIS di lintas Surakarta-Yogyakarta, yang berlanjut dari Surakarta ke Madiun. Sementara itu, SS Westerlijnen menguasai jalur selatan Jawa Tengah hingga Priangan. Mulai dari Yogyakarta menuju Kroya, di mana terdapat percabangan lintas selatan menuju Priangan selatan hingga Bandung-Bogor via Sukabumi dan utara menuju Cirebon hingga Batavia. Dari Batavia, jalur SS masih berlanjut hingga ujung barat Pulau Jawa.


Proyek jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api lintas timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Jalur kereta api sepanjang 55 kilometer itu, pembangunannya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896. Kemudian dilanjutkan pembangunan tahap kedua, yaitu Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1987.
Melihat keberadaan Jembatan Lahor berada di antara Stasiun Pohgajih dan Stasiun Sumberpucung, maka berarti Jembatan Lahor itu masuk dalam pembangunan tahap kedua. Jadi, Jembatan Lahor selesai dibangun pada tahun 1897.
Jembatan tua peninggalan Hindia Belanda ini sekarang menjadi salah satu spot menarik untuk foto-foto. Pemandangannya indah dengan lembah yang dalam dan menghijau serta latar belakang Bendungan Sutami dengan 3 batang cerobong PLTA Sutami, menjadi panorama eksotis yang memanjakan mata terlebih bila bisa menyaksikan kereta api yang melintas di atas Jembatan Lahor tersebut. *** [100718]
Share:

GPIB Jemaat Eben Haezer Blitar

Bangunan yang ada di suatu daerah merupakan simbol dari zaman yang pernah berlangsung pada saat itu. Di Kota Blitar, terdapat banyak bangunan lawas peninggalan masa Hindia Belanda yang didirikan. Salah satunya adalah Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Eben Haezer.
Gereja ini terletak di Jalan P.B. Sudirman No. 02 Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di selatan SMK Katolik Santo Yusup, atau sebelah utara PLN UPJ Blitar.
Dalam tulisannya Voorlopig overzicht van Nederlands kerkelij ergoed in Indonesië uit de periode 1815-1942 (Versi Oktober 2012), Chr. G.F. de Jong menjelaskan bahwa, bangunan GPIB ini adalah bekas bangunan Indische Kerk (voormalig gebouw Indische Kerk). Bangunan gereja ini didirikan pada tahun 1932 berdasarkan tulisan dalam sebuah prasasti berbentuk plakat yang tertempel di dinding, depan pintu masuk. Prasasti berbahasa Belanda itu menerangkan bahwa peletakan batu pertama pembangunan gereja ini dilakukan oleh W. van Hattem pada 9 Maret 1932.


Indische Kerk itu kependekan (nama singkat) dari Het Protestan Kerk in Nederlandsch-Indië, yakni kesatuan gereja-gereja Protestan di Indonesia yang dibentuk oleh pemerintah Kerajaan Belanda di Hindia Belanda pada tahun 1815 (baru rampung pada tahun 1835). Di dalam gereja ini segala sesuatu diurus oleh negara mulai dari tanah dan gedung gereja (biasanya yang dekat alun-alun). Oleh karena itu, Indische Kerk acapkali dikenal dengan gereja pemerintah (Staatskerk).
Pada masa pendudukan Jepang, Indische Kerk ini ditinggalkan oleh pendeta dan jemaat yang umumnya terdiri dari orang-orang Belanda. Sehingga, gereja ini sempat mengalami kevakuman dalam aktivitas gerejani. Kemudian setelah Jepang hengkang, dan Blitar kembali ke Hindia Belanda lagi maka gereja ini mulai aktif kembali secara penuh.


Pada 30 Mei – 10 Juni 1948 di Bogor diadakan Sidang Sinode Am Gereja Protestan Indonesia (GPI). Dalam sidang itu dibahas juga sisa wilayah GPI di luar GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa), GPM (Gereja Protestan Maluku) dan GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) yang juga memerlukan pelayanan gerejawi. Keputusan Sidang Sinode Am itu akhirnya memutuskan mengenai pembentukan gereja yang keempat di wilayah GPI yang tidak terjangkau ketiga gereja tersebut (GMIM, GPM, dan GMIT), diproses dalam waktu singkat, yaitu 3 bulan lamanya, dan pada 31 Oktober 1948 terwujudlah GPIB (De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesië).
Dari hasil Sidang Sinode Am itu berarti gereja-gereja Protestan di Indonesia selain GMIM, GPM, dan GMIT berkembang dari gereja-gereja warisan pemerintah Hindia Belanda yang disebut Indische Kerk. Jadi dengan demikian, GPIB Jemaat Eben Haezer yang ada di Blitar ini juga merupakan bagian dari GPI.
Dilihat dari fasadnya, bangunan gereja ini mencirikan gaya arsitektur Neo-Gothic yang ditandai dengan menara menjulang yang berada di atas pintu masuk utama gereja ini. Di samping itu, bangunan gereja ini juga memiliki impresi ramping dan tinggi. Kesan bangunannya sebagai warisan kolonial pun masih terlihat dengan jelas. Sehingga, sudah selayaknya bangunan GPIB Jemaat Eben Haezer ini menjadi bagian dari konservasi bangunan lawas yang ada di Kota Blitar. *** [100718]

Share:

Gedung Kampus 3 Universitas Malang

Universitas Malang, atau biasa disingkat UM, merupakan sebuah universitas berstatus negeri yang ada di Kota Malang. Selain memiliki kampus utama di Jalan Semarang No. 5 Malang, juga memiliki kampus cabang yang kedua yang berada di luar Malang. Kampus itu dikenal dengan Kampus 3 UM di Kota Blitar. Gedung Kampus 3 UM terletak di Jalan Ir. Soekarno No. 1 Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada di selatan Kantor Kementerian Agama Kota Blitar ± 240 m, atau timur Pasar Pon ± 230 m.
Awalnya gedung yang digunakan sebagai Kampus 3 UM ini adalah gedung Meisjes Normaalschool yang telah berdiri sejak 1909. Meisjes Normaalschool  merupakan sekolah guru khusus putri pada masa Hindia Belanda, dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima pelajar-pelajar lulusan vervolg atau Sekolah Kelas II serta bahasa pengantarnya adalah bahasa daerah.


Meisjes Normaalschool ini merupakan bagian dari lembaga keguruan yang ada di Hindia Belanda sejak permulaan abad ke-19. Selain Normaalschool, di Hindia Belanda ketika itu juga berdiri beberapa sekolah pendidikan guru lainnya seperti Kweekschool, sekolah guru empat tahun yang menerima lulusan berbahasa Belanda, Hollands Indlandsche Kweekschool (HIK), sekolah guru 6 tahun berbahasa pengantar Belanda dan bertujuan menghasilkan guru Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau Hollands Chineesche School (HCS), dan yang terakhir dari sekolah pendidikan guru yang ada di Hindia Belanda adalah Hogere Onderwijs. Sebelum itu pemerintah Hindia Belanda telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normaal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru-guru sekolah desa.
Kompleks bangunan Kampus 3 ini cukup luas, yaitu sekitar 24.570 m². Hal ini dikarenakan pada waktu itu, model sekolah keguruan umumnya berasrama. Sehingga, baik bangunan kampus maupun lahannya haruslah besar dan luas. Jadi, kemegahan bangunan Kampus 3  yang masih berdiri kokoh di sisi barat pintu masuk Kawasan Wisata Sejarah Makam Bung Karno (MBK) masih terlihat dengan jelas.


Meisjes Normaalschool yang ada di Kota Blitar ini tergolong maju kala itu. Banyak siswa Meisjes Normaalschool di sini sering menjuarai perlombaan antar-Normaalschool se-Hindia Belanda pada kurun waktu antara tahun 1930 sampai dengan tahun 1940. Selain itu yang tak kalah menariknya, Meisjes Normaalschool ini juga pernah menjadi rujukan dalam mendidik siswi Meisjes Normaalschool Makassar ketika sekolah mereka direnovasi pada 1940-an.
Pada masa pendudukan Jepang, sekolah guru ini juga dikuasai. Guru-guru yang berasal dari Belanda atau Eropa ditangkap dan dimasukkan dalam kamp interniran. Nama-nama yang berbau Belanda mulai dihapuskan. Setelah itu, sekolah guru bekas Meisjes Normaalschool ini mulai dibuka kembali, sedangkan beberapa sekolah guru swasta masih tetap ditutup. Jepang menganggap sekolah guru penting sekali, karena sekolah itu yang akan menyiapkan tenaga dalam jumlah yang besar untuk memompakan dan mempropagandakan semangat Jepang kepada anak didik.
Siswa-siswa sekolah guru swasta yang pada waktu Jepang mulai menguasai Hindia Belanda belum menamatkan pendidikannya, dipersilakan masuk di salah satu dari lima sekolah guru pemerintah yang dibuka, yaitu di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, dan Blitar. Pada masa penguasaan Jepang ini, masih ada pemisahan antara sekolah guru untuk siswa laki-laki dan sekolah guru untuk siswa perempuan. Dengan demikian di kelima kota tadi terdapat dua sekolah guru, yaitu Sekolah Guru Laki-Laki (SGL) dan Sekolah Guru Perempuan (SGP). Lama studi di Sekolah Guru ini juga masih empat tahun. Jadi, gedung bekas Meisjes Normaalschool yang ada di Blitar ini pun turut berubah nama menjadi SGP pada masa pendudukan Jepang.
Di SGP ini juga masih dilengkapi dengan asrama sebagai kelanjutan dari sistem internaat yang terdapat pada sekolah guru era Hindia Belanda. Sesuai dengan suasana politik yang ada pada waktu itu pengasramaan siswi SGP ini memudahkan pelaksanaan program-program pendidikan yang diselenggarakan di luar kelas dan menuntut partisipasi penuh dari siswi-siswinya.
Setelah Indonesia merdeka, gedung sekolah guru ini tetap dipertahankan sebagai sekolahan. SGP ini kemudian berubah menjadi Sekolah Guru Bawah (SGB). SGB merupakan sistem pendidikan untuk guru yang digelar mulai tahun 1953 yang dilanjutkan dengan Sekolah Guru Atas (SGA). Lama pendidikannya masih sama, yaitu empat tahun untuk lulusan sekolah dasar.
Pada 21 Juli 1964 kedua sekolah tersebut mulai ditingkatkan statusnya menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang setara dengan Sekolah Menengah Atas sekarang ini. Seiring dengan perkembangan dan peningkatan akan kualitas guru yang ada di Indonesia, kebijakan pendidikan menengah untuk para calon guru ini mengalami perombakan besar lagi ketika semua calon guru harus mengikuti pendidikan tinggi dengan dibentuknya Institut Keguruan dan Pendidikan (IKIP) di berbagai daerah di Indonesia.
Kebijakan yang mengharuskan calon guru harus menempuh pendidikan tinggi tersebut kemudian berimbas pula pada SPG Negeri Blitar. Pada tahun 1991 melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang saat itu dijabat oleh Fuad Hasan, pemerintah memutuskan untuk mengintegrasikan Sekolah Pendidikan Guru dan Sekolah Guru Olahraga ke dalam Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di bawah IKIP dan FKIP Universitas Negeri.
Pada keputusan tersebut, terdapat 86 SPG dan 37 SGO yang dialihkan termasuk didalamnya adalah SPG Blitar. Keputusan itu juga diikuti dengan pelimpahan aset, baik sarana dan prasarana maupun Sumber Daya Manusia (SDM) kepada IKIP Malang. Kemudian nama IKIP Malang berubah menjadi Universitas Negeri Malang berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 1999, dan pada 28 April 2011 Senat Universitas Negeri Malang memutuskan mengubah nama Universitas Negeri Malang menjadi Universitas Malang (UM). *** [100718]
   
Kepustakaan:
https://www.academia.edu/9514881/Pendidikan_Di_Indonesia_Pada_Masa_Penjajahan_Belanda_Filed_under_Makalah_by_Azkia_Alawi_Tinggalkan_komentar_15_April_2010
http://komunikasi.um.ac.id/2017/10/tiga-kampus-dua-kota-satu-jiwa-menautkan-raga-yang-terpisah/
Share:

Istana Gebang

Mendampingi ibu-ibu kader Kepanjen berkeliling Blitar dengan naik sepeda motor memang mengasyikan. Banyak spot-spot bersejarah yang mereka kunjungi, di antaranya adalah Istana Gebang. Istana ini terletak di Jalan Sultan Agung No. 57-59 dan 61, Kampung Gebang RT. 03 RW. 07 Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi istana ini berada di depan Kantor Dinas Pendidikan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten dan Kota Blitar, atau tenggara Taman Kebon Rojo ± 400 meter.


Istana Gebang ini semula merupakan kediaman atau rumah keluarga Soekarmini, kakak kandung Bung Karno. Rumah ini dulu dibeli oleh Raden Poegoeh Reksoatmodjo, suami dari Soekarmini, pada tahun 1917 dari seorang Belanda bernama C.H. Portier, seorang pejabat jawatan perkeretaapian Hindia Belanda di Blitar. Sedangkan, Raden Poegoeh Reksoatmodjo sendiri pada waktu itu adalah seorang pegawai Dinas Pekerjaan Umum di Malang. Tapi bangunan rumah ini sendiri sesungguhnya telah berusia tua karena konon, pembangunannya beriringan dengan pembangunan Stasiun Kereta Api Blitar.
Dalam documentary board yang dipasang di muka bangunan induk, dijelaskan bahwa Istana Gebang ini dulunya menjadi rumah bagi masa kecil hingga remajanya Bung Karno. Karena semenjak ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodiharjo, dipindah ke Blitar dari Mojokerto pada tahun 1917, mereka tinggal bersama dengan Soekarmini di rumahnya.


Ketika kuliah di Technische Hogere School di Bandung (sekarang ITB), Bung Karno pun masih harus sering berkunjung ke Istana Gebang baik di saat sedang liburan maupun meminta uang kuliah dan pemondokan kepada orangtuanya dan kakaknya Soekarmini. Demikian pula selepas kuliahnya di masa memimpin pergerakan kemerdekaan, Bung Karno masih sering ke Blitar untuk silaturahmi dengan orangtua dan keluarganya. Baru setelah masa pembuangan di Ende an Bengkulu, Bung Karno terpisah dengan rumah ini, orangtua, saudara dan handai taulannya.


Pada masa pendudukan Jepang, Bung Karno masih mengunjungi rumah ini meskipun tidak terlalu sering karena kegiatannya mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia dari rumahnya di Pergangsaan Timur No. 56 Jakarta. Ayah dan ibu Bung Karno sempat diboyong dari Blitar untuk tinggal di Jakarta menjelang Guntur Sukarnoputra lahir di tahun 1944, namun pada  8 Mei 1945 ayah Bung Karno berpulang kepada Sang Pencipta dan dimakamkan di pemakaman Karet (kemudian dipindah ke Blitar pada tahun 1978 bersamaan dengan pemugaran Kompleks Makam Bung Karno).
Ibu Bung Karno, Ida Aju Njoman Rai Sarimben, sepeninggal suaminya diboyong pulang ke Blitar oleh Soekarmini yang telah bersuamikan Wardojo sebagai suami keduanya yang menikah sejak tahun 1943, dan untuk selanjutnya ibu Bung Karno menjadi pepunden di rumah ini.


Rumah ini senantiasa dikunjungi oleh Bung karno setelah menjadi Presiden hingga ibunya meninggal pada 13 September 1958. Kunjungan Bung Karno ke rumah ini terus berlanjut untuk berziarah ke makam ibunya sampai awal tahun 1965 yang merupakan kunjungan terakhirnya ke rumah ini karena pergolakan perebutan kekuasaan dari tangan Bung Karno ke Soeharto yang memaksa Bung Karno untuk menjalani tahanan rumah di Wisma Yaso sampai meninggalnya pada 21 Juni 1970.
Pada tahun 2012, Istana Gebang yang dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan Dalem Gebang ini resmi diambil alih kepemilikan dan pengelolannya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar dengan membelinya seharga Rp 35 miliar dari para ahli warisnya. Dana sebanyak Rp 35 miliar diambil dari APBD Pemprov Jatim dan Rp 10 miliar dari APBD Pemkot Blitar.


Setelah menjadi milik Pemkot Blitar inilah yang semula dikenal dengan Dalem Gebang berubah menjadi Istana Gebang. Penamaan istana ini merujuk pada nama-nama tempat yang berkaitan dengan kegiatan Presiden Pertama Republik Indonesia seperti Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Batu Tulis, Istana Cipanas, dan istana-istana lainnya.
Istana Gebang memiliki luas lahan 17.000 m² ini terdiri dari 9 bangunan, yaitu rumah induk, bangunan belakang, rumah cikal bakal, paviliun, balai kesenian, dapur belakang, rumah pembantu, bekas kandang kudan, dan lumbung. Pada waktu dibeli oleh Pemkot Blitar masih 14.000 m² luasnya, kemudian lahan di samping kanan Istana Gebang juga dibeli dan disatukan dengan halaman istana tersebut.
Kini, Istana Gebang terbuka untuk umum, dan setiap harinya dijadikan tujuan wisata dan pendidikan. Banyak sekali peninggalan keluarga Bung Karno yang bisa ditemui di Istana Gebang, termasuk foto-foto keluarga, lukisan, perabotan kuno, dan mobil kepresidenan. Juga, terdapat pula replika Gong Perdamaian Dunia di area ini.
Pada peringatan hari-hari besar nasional, Istana Gebang selalu ramai kegiatan, baik oleh masyarakat setempat maupun tamu-tamu dari luar daerah. Di sini, pengunjung bisa merasakan atmosfer kehidupan Bung Karno kecil dan kentalnya ingatan sejarah tentang Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut. *** [100718]
Share:

Alun-Alun Kota Blitar

Penulis : Budiarto Eko Kusumo
Dari Keboen Kopi Karanganjar atau De Karanganjar Koffieplantage, perjalanan pun dilanjutkan menuju ke Alun-Alun Kota Blitar yang berjarak sekitar 16 kilometer. Alun-Alun Kota Blitar terletak di pusat Kota Blitar, tepatnya berada di sisi utara ruas Jalan Merdeka, Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasinya berada di antara Masjid Agung Kota Blitar (barat), Pendopo Kabupaten (utara), Kantor Wali Kota Blitar (barat daya), dan Penjara (timur).
Di alun-alun, saya besama tiga teman mencoba melepas lelah sambil menikmati rindangnya pohon beringin yang di atasnya banyak bertengger burung bangau putih. Orang Jawa menyebutnya Manuk Kuntul atau Blekok (Ardeola grayii).


Foto: Alun-alun Kota Blitar

Tiap sore burung-burung Kuntul itu akan bersarang di pepohonan beringin yang mengelilingi Alun-Alun Kota Blitar. Mereka bertengger untuk melepas lelah setelah perjalanan panjangnya mencari makanan di areal persawahan yang ada di Kabupaten Blitar.
Hingar bingar suara dan tingkah polah burung Kuntul akan mengundang siapapun untuk memandangnya di alun-alun itu. Alun-alun merupakan hamparan lapangan rumput atau pasir yang ditanami pohon beringin, baik di pinggir maupun di tengahnya (ringin kurung). Lapangan rumput tersebut dipisahkan oleh jalan akses masuk ke kantor kabupaten yang biasanya juga menjadi Kediaman Dinas Bupati (Pendopo Kabupaten).


Foto: Alun-alun Kota Blitar

Alun-Alun Kota Blitar merupakan salah satu peninggalan sejarah dalam perjalanan Kabupten Blitar. Sebelumnya pusat pemerintahan Kabupaten Blitar berada di pinggir Sungai Pakunden, namun terus dipindahkan kemari karena terkena aliran lahar letusan Gunung Kelud. Realisasi pembangunan alun-alun ini dilakukan oleh Bupati Blitar KPH Warsoekoesoemo berbarengan dengan pembangunan Pendopo Kabupaten Blitar yang akan menjadi Rumah Dinas sekaligus Kantor Bupati, yang dimulai pada tahun 1875 dan selesai pada tahun 1876.
Dalam pembangunan alun-alun itu, diterapkan sebuah pakem yang juga digunakan oleh daerah-daerah di wilayah Jawa pada umumnya, yakni dikelilingi oleh kediaman penguasa pada bagian utara, penjara pada bagian timur, kantor pemerintahan pada bagian selatan, dan masjid pada bagian barat.
Pada kurun waktu 1880 – 1910, Alun-Alun Kota Blitar sering digunakan sebagai lokasi pagelaran ritual “Rampogan Macan”. Rampogan Macan mengandung arti ‘Rebutan Macan”. Hal ini mengacu pada tradisi tersebut yang melibatkan para prajurit untuk beramai-ramai berebut kesempatan untuk membantai harimau atau macan di tengah alun-alun.


Foto: Alun-alun Kota Blitar

Di tanah Jawa, kebiasaan membunuh harimau sudah dilakukan pada zaman kerajaan Majapahit. Namun tradisi ini mencapai puncaknya dimulai pada masa pemerintahan Amangkurat II dari Kartasura, yang diselenggarakan secara besar-besaran pada momen-momen tertentu, terutama pada saat menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Tradisi ini pun menyebar hingga ke Kediri dan Blitar. Di Blitar, ritual rampogan macan ini diprakarsai oleh Patih Djojodigdo.
Ritual rampogan macan ini kemudian dilarang oleh Pemerintah Hindia Belanda karena tradisi pembantaian harimau ini akan mengakibatkan populasi harimaui di Jawa menurun drastis. Pada tahun 1910, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Undang-Undang Perlindungan bagi Mamalia Liar dan Burung Liar, sehingga praktis sejak saat itu tradisi Rampogan Macan ditiadakan.
Kini, alun-alun itu mulai berubah fungsi. Semula digunakan sebagai lokasi transit bagi para pamong praja atau khalayak untuk menghadap Bupati maupun untuk kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Bupati, sekarang ini lebih mengedepan menjadi sebuah Ruang Tata Hijau atau taman yang terkadang juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti upacara, olahraga, area bermain, dan fungsi sosial lainnya. *** [100518]

Kepustakaan:
Brahmantya, Wima. dkk. (2017). Ensiklopedia Seni Budaya Blitar. Blitar: Dewan Kesenian Kabupaten Blitar
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjatim/sejarah-alun-alun-kota-blitar/
Share:

Klenteng Poo An Kiong Blitar

Kehabisan tiket kereta api tahun ini tidak menjadikan halangan bagi saya untuk melakukan mudik lebaran dari Malang ke Solo. Jarak tempuh sekitar 300 kilometer pun dilalui dengan santai dan menyenangkan. Betapa tidak? Karena perjalanan yang lumayan jauh dengan menggunakan sepeda motor Honda REVO dengan plat nomor N 5026 HHC, berhasil dikemas dengan menyalurkan hobi yang selama ini saya tekuni yaitu mengumpulkan bangunan kuno yang ada di Indonesia.
Sewaktu perjalanan memasuki Kota Blitar, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah tempat peribadatan orang Tionghoa yang berada di sudut pertemuan antara Jalan Mawar dengan Jalan Merdeka. Tempat peribadatan tersebut merupakan bangunan kuno yang bernama Klenteng Poo An Kiong. Klenteng ini terletak di Jalan Merdeka No. 194 Keluranan Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, Provinsi JawaTimur. Lokasi klenteng ini berada di sebelah utara Pasar Legi, atau selatan Detasemen Kesehatan Wilayah 05.04.01 Poliklinik Kesehatan 05.09.03 Blitar.


Klenteng adalah nama yang biasa digunakan untuk menyebut tempat peribadatan dan kegiatan keagamaan masyarakat Tionghoa dan penganut ajaran Tridharma (Buddha, Tao dan Konghucu). Istilah ini hanya dikenal di Indonesia. Nama klenteng diambil dari suara yang terdengar dari genta yang dipukul dan menimbulkan bunyi teng, teng, teng. Akhirnya suara tersebut dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan klenteng.
Klenteng Poo An Kiong merupakan sebuah klenteng yang terdapat di Kota Blitar, yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Menurut informasi yang diperoleh dari petugas yang bisa ditemui, bangunan Klenteng Poo An Kiong didirikan oleh komunitas Tionghoa yang bermukim di Blitar pada masa Hindia Belanda, yaitu pada tahun 1829 Masehi. Meski bangunan klenteng yang berada di sudut jalan ini tidaklah terlalu besar, namun tergolong sudah tua usianya.


Poo An Kiong, kata yang disematkan untuk nama klenteng ini bermakna keselamatan. Pendirian tempat peribadatan bagi orang Tionghoa ini, pada waktu itu memang memiliki harapan agar diberi keselamatan bagi masyarakat Tionghoa, daerah Blitar pada khusunya, dan negara ini pada umumnya.
Klenteng Poo An Kiong di Blitar ini masih beruntung ketimbang Klenteng Poo An Kiong yang berada di Solo. Keberadaan Klenteng Poo An Kiong Solo ini tidak mempunyai pintu gerbang ketika memasuki persil. Sedangkan, Klenteng Poo An Kiong di Blitar masih menunjukkan kemegahan pintu gerbangnya yang di kalangan orang Tionghoa dikenal dengan men lou wu.


Memasuki men lou wu, pengunjung akan menemui sebuah pelataran klenteng yang sudah dipasangi con block. Pada halaman tersebut terdapat pagoda atau menara bertingkat delapan yang lokasinya berdekatan dengan Detasemen Kesehatan Wilayah 05.04.01 Poliklinik Kesehatan 05.09.03 Blitar. Fungsi pagoda ini ini adalah sebagai tempat untuk membakar kertas-kertas berwarna keemasan (kim cua) berisi doa dan keinginan yang dipanjatkan kepada para dewa. Oleh karena itu, di tingkat yang paling bawah pada pagoda tersebut terdapat sebuah pintu kecil seukuran jendela yang atasnya melengkung, yang fungsinya sebagai tungku untuk membakar kim cua.


Melangkah lagi menuju bangunan utama klenteng, pengunjung akan mendapati shi zi, sepasang singa batu yang ditempatkan di depan klenteng. Keunikan yang ada di klenteng ini adalah shi zi tersebut berwarna hitam legam, berbeda dengan shi zi yang berada di klenteng-klenteng lainnya yang pada umumnya berwarna emas atau beraneka warna. Shi zi ini diyakini sebagai hewan mistis masyarakat Tionghoa yang membantu menjaga klenteng tersebut. Di sela-sela shi zi merupakan jalan untuk masuk ke bangunan utama klenteng. Sebelum masuk lebih dalam, pengunjung akan melihat sebuah bejana besar yang dijaga oleh kedua naga yang terbuat dari kuningan. Bejana tersebut dinamakan hiolo yang berfungsi untuk meletakkan hio atau dupa.
Setelah itu, pengunjung bisa memasuki bangunan utama klenteng tersebut. Bangunan utama ini biasanya digunakan untuk menempatkan sejumlah altar di mana altar yang paling tengah umumnya merupakan altar utama. Sebelum memasuki ruang utama dalam bangunan tersebut, pengunjung akan menjumpai tiga pintu untuk masuk ke dalam. Pintu masuk sebelah kiri dikenal dengan pintu naga. Umat yang akan berdoa di depan altar utama hendaknya menyiapkan hati yang bersih dan tulus. Pintu tengah melambangkan pintu utama klenteng. Di kiri kanan pintu utama terdapat lukisan Tjin Siok Po dan Oet Ti Kong, kedua-keduanya merupakan dewa penjaga pintu. Sedangkan, pintu keluar sebelah kanan disebut sebagai pintu macan. Umat yang akan keluar dari klenteng hendaknya selalu waspada dan mawas diri, karena di luar banyak cobaan dan godaan yang akan menghampiri.
Di dalam ruang utama bangunan klenteng, pengunjung bisa menemukan altar-altar tempat untuk meletakkan patung para dewa atau nabi yang mereka yakini. Klenteng Poo An Kiong ini memiliki patung tuan rumah yang bernama Kongco Kong Tek Cun Ong.
Secara arsitektural, bangunan klenteng ini merupakan sebuah bangunan bergaya arsitektur tradisional Tionghoa. Di atas atap tampak huo zhu, bentuk bola api sebagai lambang mutiara Buddha, yang diapit oleh kedua naga sedang berjalan yang dikenal dengan xing long.
Sebagai klenteng kuno, bangunan peribadatan Tridharma ini merupakan bangunan cagar budaya bercirikan tradisonal Tionghoa yang ada di Kota Blitar. Bangunan ini juga menjadi salah satu ikon yang ada di Kota Blitar, dan menjadi bukti adanya jejak Tionghoa di Bumi Patria ini. *** [230617]
Share:

Pesanggrahan Djojodigdan Blitar

Perjalanan mudik tahun ini menempuh jarak sekitar 300 kilometer dengan rute Malang menuju Solo. Dengan berkendara sepeda motor Honda REVO bernopol N 5026 HHC, saya berusaha menikmati perjalanan jauh dengan hati senang dan lapang. Sehingga segala kepenatan akibat kemacetan yang menghinggapi setiap pemudik bisa teratasi.
Salah satunya adalah dengan menyinggahi beberapa bangunan kuno yang ditemui dalam perjalanan tersebut. Sambil mendinginkan motor sesaat dan raga pun juga beristirahat, saya berusaha mampir ke salah satu bangunan lawas yang ada di Kota Blitar, yaitu Pesanggrahan Djojodigdan. Pesanggrahan ini terletak di Jalan Melati No. 43 Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pesanggrahan ini berada di depan Perdana Paint Store, atau sebelah barat Kantor SAMSAT Kota Blitar.
Pesanggrahan Djojodigdan merupakan rumah peninggalan Raden Ngabehi (R.Ng.) Bawadiman Djojodigdo. Ia merupakan seorang Patih Blitar (patih van het regentschap Blitar Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo) semasa pemerintahan Bupati Blitar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Warsokoesoemo.
Bawadiman Djojodigdo lahir pada 29 Juli 1827 di Yogyakarta. Ayahnya bernama Raden Tumenggung (R.T.) Kartodiwirjo. R.T. Kartodiwirjo adalah seorang Bupati Gentan Kulon Progo, dan juga menjadi pengikut setia pasukan Pangeran Diponegoro yang sangat menguasai medan pertempuran. Ia meletakkan senjata setelah panglima perang laskar Diponegoro, Sentot Prawirodirjo, menyerah yang kemudian disusul oleh Kyai Mojo dan Pangeran Mangkubumi pada tahun 1829 serta meletakkan jabatannya sebagai Bupati Gentan Kulon Progo setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda.


Sentot dan Kartodiwirjo pernah dikirim oleh Belanda untuk membantu memadamkan Perang Padri di Sumatera Barat. Di sini Kartodiwirjo berpangkat Liutenant der Infanteri van Het Oost Indische Leger (Letnat Infanteri Angkatan Darat Hindia Timur). Karena dianggap bersekongkol dengan Kaum Padri, Sentot dengan legiunnya yang dipimpin oleh Kartodiwirjo dipulangkan kembali ke Jawa.
Selang beberapa waktu, Sentot diasingkan ke Bengkulu hingga wafatnya, dan Kartodiwirjo tidak diasingkan lagi tapi ia meninggal dan dimakamkan di Potrobangsan, Magelang. Sejak itu, sang ibu membawa Bawadiman Djojodigdo meninggalkan Yogyakarta menuju ke arah timur. Bawadiman Djojodigdo dibawa oleh ibunya ke rumah pamannya yang pada waktu itu menjabat sebagai Bupati Ngrowo bernama Raden Mas Tumenggung (RMT) Notowidjojo III.
Di dalam lingkungan rumah di Ngrowo, Bawadiman Djojodigdo mulai mengasah ilmu yang berkenaan dengan kepemerintahan di samping gemar melakukan tirakat. Setelah beranjak dewasa, Bawadiman Djojodigdo melanjutkan perjalanannya ke arah timur. Ia mencoba berguru kepada Eyang Djugo (yang dimakamkan di Gunung Kawi) hingga konon mendapatkan ilmu berupa ajian Pancasona, sebuah ajian yang menyebabkan orang tidak akan mati bila jasadnya masih menyatu dan menyentuh tanah.
Setelah merasa mempunyai ilmu yang cukup, Bawadiman Djojodigdo membentuk laskar kecil rakyat untuk melakukan perlawanan kepada pasukan Belanda di daerah Blitar selatan. Dalam masa gerilya ini, Bawadiman Djojodigdo berkesempatan mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting putri Bupati Berbek R.Ng. Pringgodikdo (1852-1866). R. Ng. Pringgodikdo sebenarnya bukanlah keturunan dari bupati sebelumnya, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sosrokoesoemo II, yang meninggal dunia. Pilihan jatuh pada Pringgodikdo ini karena putra-putra KRT Sosrokoesoemo II dianggap kurang mampu untuk menduduki jabatan tersebut. Sedangkan Pringgodikdo dinilai lebih cakap dan berbudi pekerti yang baik, selain itu juga memiliki pengalaman yang cukup ketimbang calon-calon lain yang diusulkan, sehingga ia dianggap mampu dan pantas untuk menggantikan KRT Sosrokoesoemo II.


Dalam sejumlah perlawanan, Bawadiman Djojodigdo beberapa kali sempat tertangkap dan ditembak tapi dia masih bisa selamat, yang akhirnya membuat Belanda menjadi takut terhadap kesaktian Bawadiman Djojodigdo dan pengikutnya. Hal ini yang kemudian menyebabkan pihak Belanda melepaskan pengawasan yang ketat terhadap Kadipaten Blitar.
Setelah wilayah Kadipaten Blitar dirasa aman dari campur tangan Belanda yang ketat, kemudian Adipati Blitar kala itu mengirim utusan untuk menemui Bawadiman Djojodigdo agar mau datang ke pendopo kadipaten untuk ditawari posisi sebagai patih. Pertama, permintaan tersebut ditolaknya dengan halus, kemudian pada kunjungan utusan yang kedua, Bawadiman Djojodigdo bersedia memenuhi undangan Adipati Blitar dan sekaligus mau menerima tawaran dari Adipati Blitar karena patihnya pada waktu itu dikabarkan meninggal dan harus segera dicarikan penggantinya.
Sebagai seorang keturunan darah biru dan pernah tinggal di kraton serta pernah ikut pamannya di Ngrowo, maka ketika diangkat menjadi patih di Kadipaten Blitar pada 8 September 1877, Bawadiman Djojodigdo sudah tak asing lagi dengan pemerintahan. Dalam tugasnya, Bawadiman Djojodigdo mampu mengambil kebijakan yang cakap. Hal inilah yang membuat senang dan puas sang Adipati Blitar. Karena kecakapan ini kemudian sang Adipati memberinya sebidang tanah yang luas di Jalan Melati, Blitar.
Di tanah perdikan ini, Bawadiman Djojodigdo membangun sebuah rumah besar untuk keluarganya pada tahun 1829, dan dulu rumah ini dikenal dengan Dalem Kepatihan. Rumah tersebut sampai sekarang masih berdiri kokoh dan kini dikenal dengan Pesanggrahan Djojodigdan.
Pengunjung dapat memasuki pesanggrahan tersebut setelah minta izin dulu kepada juru pelihara rumah tersebut. Di dalam pesanggrahan ini tersimpan berbagai perabotan rumah tanggan dari Patih R.Ng. Bawadiman Djojodigdo, seperti meja kursi, payung pusaka, ranjang, gentong penyimpan beras, silsilah maupun foto-foto keluarga. Di antara foto tersebut terdapat foto Kanjeng Raden Mas Adipati Ario (KRMAA) Singgih Djojoadiningrat yang menjadi Bupati Rembang. KRMAA Singgih Djojoadiningrat adalah putra dari R.Ng. Bawadiman Djojodigdo, yang juga merupakan suami dari Raden Ajeng Kartini.
Pada saat ini areal lahan Pesanggrahan Djojodigdan memiliki luas 2,7 hektar. Rumah ini pernah mengalami pembangunan besar-besaran yang dilakukan oleh KRMAA Singgih Djojoadiningrat sebagai bakti anak kepada orangtuanya. Keunikan lain yang dimiliki pesanggrahan ini adalah adanya makam Bawadiman Djojodigdo di pojok belakang pekarangan. Makam ini oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Makam Gantung karena kekhasan bentuk cungkupnya. Konon di cungkup inilah tersimpan busana kebesaran, pusaka-pusaka dan ajian Pancasona milik Bawadiman Djojodigdo.
Kontribusi R.Ng. Bawadiman Djojodigdo terhadap masyarakat Blitar erat kaitannya dengan peran patih sebagai figur priyayi Jawa pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sebagai Patih Blitar pada tahun 1877-1895, dia mempunyai andil besar dalam mendampingi Bupati Blitar KPH Warsokoesoemo mengelola puncak pemerintahan dan pembangunan Regentschap Blitar hingga membentuk kawasan Gemeente Blitar. *** [230617]

Kepustakaan:
https://daerah.sindonews.com/read/930765/29/kisah-patih-djojodigdo-pemilik-aji-pancasona-1417269062/26
https://www.facebook.com/kamatpace/posts/232398593604217
http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/sejarah/article/view/44999
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjatim/2017/02/22/sejarah-pesanggrahan-djojodigdan/
Share:

Candi di Blitar

Candi Kalicilik terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Candi Kotes terletak di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Candi Mleri terletak di Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Candi Pemandian Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Candi Plumbangan terletak di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Candi Sawentar terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Candi Simping terletak di Dusun Simping, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Candi Tepas terletak di Dusun Dawung RT. 02 RW. 03 Desa Tepas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
Share:

Stasiun Kereta Api Talun

Stasiun Kereta Api Talun (TAL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Talun, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 244 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3 atau stasiun kecil yang ada di Kabupaten Blitar. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun RT.02 RW.01 Kelurahan Talun, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Kantor Camat Talun, atau selatan lampu merah Talun.
Bangunan Stasiun Talun ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang sepanjang 74 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, yang dimulai pada tahun 1896, dan selesai pada tahun 1897.


Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan dua arah. Setelah jalur rel Kediri-Tulungagung-Blitar selesai pada 1884, maka dilanjutkan pembangunan jalur rel Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896.
Pembukaan jalur kereta api Blitar-Wlingi ini juga merupakan hasil dari desakan yang telah disampaikan oleh para pengusaha yang tergabung dalam Blitarsche Landbouwvereeniging pada 10 Oktober 1889. Dengan demikian sejak itu pengangkutan produk perkebunan dengan kereta api dari Blitar ke Surabaya dapat juga melalui Kepanjen dan Malang. Pada 1900 hampir semua kota-kota di Jawa Timur sudah dihubungkan dengan baik oleh jalur kereta api dan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas Belanda di Blitar. Dengan tersedianya jaringan kereta api tersebut, wilayah Blitar dapat memiliki akses menuju pelabuhan atau pusat layanan ekspor.


Perlu diketahui bahwa wilayah Blitar pada waktu itu dikembangkan menjadi pusat industri perkebunan, yang berada di lereng Gunung Kelud, dan lembah Sungai Brantas. Pada awalnya terdapat ratusan perkebunan yang berhasil dikembangkan oleh orang-orang Eropa tetapi pada 1939 tercatat 45 perusahaan perkebunan dengan tanaman budidaya kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong, dan kelapa.
Stasiun Talun memiliki 3 jalur. Jalur 2 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat (Stasiun Garum) maupun ke arah timur (Stasiun Wlingi). Jalur 1 dan 3 digunakan untuk jalur langsiran kereta api di kala intensitas kereta api lumayan padat, atau pas ada simpangan kereta api di jalur tersebut.
Dari tiga jalur tersebut, terdapat 2 peron. Satu peron sisi yang rendah dan 1 peron pulau yang rendah juga. Pada semua peron ini tidak dinaungi atap seng seperti kebanyakan pada stasiun yang berada di kecamatan.
Namun demikian, stasiun ini masih tergolong beruntung karena masih disinggahi KA Penataran, sehingga setiap harinya masih tampak adanya aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. *** [170716]
Share:

Stasiun Kereta Api di Blitar

Berikut ini adalah stasiun yang masih menunjukkan arsitektur lawas di Blitar. Stasiun-stasiun ini diurutkan dari arah barat ke timur:

Stasiun ini terletak di Jalan Mastrip No. 75, Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Desa Sumberdiren, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Kelurahan Talun, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Beru, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Kesamben, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Stasiun ini terletak di Jalan Pohgajih, Desa Pohgajih, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
Share:

Candi Tepas

Berbagai kerajaan besar pernah menancapkan pengaruhnya di Kabupaten Blitar, mulai dari Mataram Kuno di Jawa Tengah, Kerajaan Kediri, Singosari sampai dengan Majapahit. Oleh karena itu, di daerah Kabupaten Blitar ditemukan warisan cagar budaya, baik berupa prasasti, arca-arca, gapura maupun candi.  Salah satu tinggalan candi yang terdapat di Kabupaten Blitar adalah Candi Tepas. Candi ini terletak di Dusun Dawung RT. 02 RW. 03 Desa Tepas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi candi ini berada ± 200 meter sebelah barat laut Pasar Tepas, atau tepatnya berada di samping Pura Surya Darma. Dari Jalan Raya Blitar-Malang berjarak sekitar 3 kilometer ke arah utara dengan jalan menanjak, sedangkan dari Kota Blitar berjarak 22 kilometer ke arah timur.
Alvin Abdul Jabbaar Hamzah dalam skripsinya yang berjudul Identifikasi Bentuk Arsitektur Candi Tepas (FIB UI, 2011) menerangkan, bahwa penelitian terhadap Candi Tepas ini baru sebatas inventarisasi. Hal ini didapatkan dari catatan inventarisasi yang dilakukan oleh R.D.M. Verbeek dalam Oudheden van Java pada tahun 1891 dengan nomor inventarisasi 553. Dalam inventarisasi Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur dicatat dengan nomor 176/BLT/95. Selain itu, candi ini juga pernah ditulis oleh N.J. Krom dalam Inleiding tot de Hindoe-Javanische Kunst pada tahun 1923.
Dalam pencatatan tersebut, sebagian besar hanya menjelaskan secara singkat tentang keadaan candi pada waktu ditemukan. Ketika pertama kali ditemukan, candi ini memang sudah dalam keadaan runtuh. Dalam reruntuhan tersebut, tidak ditemukan tulisan angka tahun, arca, relief, dan batunya pun sudah mulai aus.


Candi Tepas ini terbuat dari susunan batu trasit dan batu bata (misra). Material batu trasit ini untuk batuan yang menyusuni candi, sedangkan bahan isian dari candi ini serta pondasinya terbuat dari batu bata. Batu trasit adalah batuan vulkanik yang terbentuk di luar perut bumi atau setelah terjadi erupsi. Batuan ini berwarna putih, abu-abu terang dan coklat terang, dan termasuk jenis batuan yang berpori sehingga sangat mudah aus dan lapuk.
Hal ini yang menyebabkan kapan candi tersebut didirikan sulit dipastikan. Kronologinya hanya didasarkan pada temuan fisik candi maupun dari sumber lainnya. Dilihat dari ukuran bata pada candi, dapat diperkirakan bahwa Candi Tepas berasal dari masa Majapahit. Informasi lain yang memperkuat dugaan tersebut berasal Kitab Negarakertagama, yang dirunut dari latar keagamaan Candi Tepas. Pada pupuh 76: 1-4 dari Kitab Negarakertagama berisi tentang wilayah-wilayah yang termasuk dari Dharmadhyaksa ring Kasogatan. Dharmadhyaksa ring Kasogatan merupakan salah satu pejabat dalam pemerintahan masa Majapahit yang mengawasi hal yang berkenaan dengan agama Buddha. Selain Dharmadhyaksa ring Kasogatan terdapat dua pejabat lagi yaitu Dharmadhyaksa ring Kasaiwan yang mengawasi hal yang berkenaan dengan agama Hindu dan Mantri Her Haji yang mengawasi hal yang berkenaan dengan para Resi dan Pertapa.


Pada baris ketiga (stanza 3) pada pupuh 76 tertulis “iwirniŋ darmma kasogatan kawinayanu ļpas i wipularā len kuți [haji, mwaŋ yānatraya rājaḍanya kuwunātha surayaça jarak/ laguṇḍi [wadari, wewe mwaŋ packan/ pasarwwan i lmaḥ surat i pamanikan/ [srańan/ pańiktan, pańhapwan/ damalaŋ tpas/ jita waṇnaçrama jnar i samudrawela [pamuluŋ.” Artinya, lokasi dari dharmas kasogatan kawinaya lěpas (wilayah pendeta Buddhis) adalah: Wipulārama, Kuți Haji, dan Yānatraya, Rājadhānya, Kuwu Nātha, Surayasha, Jarak, Wadari, Wéwé dan Pacěkan, Pasarwwan, Lěmah Surat, Pamaṇikan, Pangitkětan, Panghapwan, Damalung, Těpas Jita, Wanāshrama, Jěnar, Samudrawela, Pamulung.
Candi Tepas disebutkan dengan Těpas Jita. Dalam naskah tersebut, Candi Tepas berada dalam wilayah tanggung jawab dari Dharmadhyaksa ring Kasogatan, yang berarti Candi Tepas memiliki latar belakang agama Buddha. Secara struktural, Candi Tepas tidak menunjukkan ciri agama Buddha bahkan Candi Tepas memiliki batu tegak yang menyerupai lingga semu.
Dari keterangan yang termaktub dalam naskah Kitab Negarakertagama tersebut, Candi Tepas diperkirakan berdiri sekitar antara tahun 1355 M sampai dengan 1365 M. Karena Kitab Negarakertagama dibuat pada masa Hayam Wuruk dengan kronologi 1365 M, dan pada waktu Negarakertagama dituliskan, candi tersebut masih berfungsi untuk kegiatan keagamaan.
Menurut Darno, seorang juru pelihara Candi Tepas, candi ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8,00 x 8, 00 meter yang berdiri di atas lahan yang sekarang berukuran 29 x 21 meter. Namun, sebenarnya areal yang dimiliki oleh candi tersebut lebih luas. Hal ini didasarkan pada 4 patok yang diketemukan di sekitar candi, yang mirip dengan lingga semu dan juga sisa pagar candi.
Sekarang, Candi Tepas ini tinggal memiliki sisa bangunan berupa kaki yang sudah tidak utuh dan tubuh yang hanya mempunyai dua lapis batu trasit. Pintu masuk candi terdapat di sebelah barat, sedangkan untuk hiasan dan relung sudah tidak dapat ditemukan, karena sudah mengalami keruntuhan dan tidak ditemukan adanya sisa batu yang membentuk hiasan di tumpukan batuan candi yang ditemukan. *** [200516]

Kepustakaan:
Alvin Abdul Jabbaar Hamzah, 2011. Identifikasi Bentuk Arsitektur Candi Tepas, dalam Skripsi di FIB UI
Ari Sapto & Mashuri, Pengembangan Wisata Terpadu Berbasis Cagar Budaya, dalam Jurnal SEJARAH dan BUDAYA, Tahun Kedelapan, Nomor 2, Desember 2014: 126
Share:

Stasiun Kereta Api Kesamben

Stasiun Kereta Api Kesamben (KSB) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Kesamben merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 193 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3/kecil yang ada di Kabupaten Blitar. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Kesamben, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Mulyo, atau barat daya Masjid Jamik Kesamben.


Bangunan Stasiun Kesamben ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen sepanjang 55 kilometer, yang dimulai pada tahun 1896 dan selesai pada tahun 1897. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, dengan searah. Artinya, pada jalur rel kereta api tersebut dilakukan dari arah barat , yaitu Blitar, terus ke timur sampai Kepanjen.
Dari arah barat, pembangunan jalur Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896 dan Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1897. Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Jadi, Stasiun Kesamben ini sudah mulai ada sejak tahun 1897.
Stasiun Kesamben memiliki 2 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat (Stasiun Wlingi) dan ke arah timur menuju Stasiun Pohgajih. Sedangkan, jalur 2 digunakan untuk berhentinya sepur yang lain saat terjadi persilangan atau persusulan kereta api pada jalur tersebut. Seperti stasiun kecil pada umumnya, Stasiun Pohgajih tidak memiliki emplasemen yang menaungi peron yang ada.
Kendati stasiun ini tergolong kecil, namun masih beruntung dibandingkan Stasiun Ngebruk yang tak kalah strategisnya dalam letak lokasi. Karena di Stasiun Kesamben ini masih ada aktivitas dalam menaikkan maupun menurunkan penumpang dari kereta api yang melintasinya, meski hanya layanan kereta api kelas ekonomi, seperti Matarmaja maupun Penataran. *** [200516]
Share:

Stasiun Kereta Api Pohgajih

Stasiun Kereta Api Pohgajih (PGJ) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Pohgajih merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 205 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3/kecil yang berada di paling timur Kabupaten Blitar. Stasiun ini terletak di Jalan Pohgajih, Desa Pohgajih, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah Waduk Karangkates dan bendungan Sutami, atau sebelah barat PLTA Sutami. Antara bendungan Sutami dan stasiun ini terdapat dua terowongan kereta api, yaitu terowongan Eka Bakti Karya dan Dwi Bakti Karya, masing-masing memiliki panjang 850 dan 400 meter. Kedua terowongan tersebut dibangun tatkala ada pembangunan bendungan Sutami pada tahun 1969.


Bangunan Stasiun Pohgajih ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen sepanjang 55 kilometer, yang dimulai pada tahun 1896 dan selesai pada tahun 1897. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, dengan searah. Artinya, pada jalur rel kereta api tersebut dilakukan dari arah barat , yaitu Blitar, terus ke timur sampai Kepanjen.


Dari arah barat, pembangunan jalur Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896 dan Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1897. Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Jadi, Stasiun Pohgajih ini sudah mulai ada sejak tahun 1897.
Stasiun Pohgajih memiliki 2 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah timur (Stasiun Sumberpucung) dan ke arah timur menuju Stasiun Kesamben. Sedangkan, jalur 2 digunakan untuk berhentinya sepur yang lain saat terjadi persilangan kereta api pada jalur tersebut. Seperti stasiun kecil pada umumnya, Stasiun Pohgajih tidak memiliki emplasemen yang menaungi peron yang ada.
Letak stasiun ini sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya Wlingi-Karangkates ke arah selatan. Daerahnya tergolong terpencil dan jalanan menurun. Stasiunnya pun terlihat sepi dari aktivitas dalam menaikkan maupun menurunkan penumpang maupun barang. Dahulu, stasiun ini memang didirikan untuk mengantisipasi persilangan kereta api yang melintas di jalur tersebut. *** [200516]
Share:

Stasiun Kereta Api Wlingi

Stasiun Kereta Api Wlingi (WG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Wlingi, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 274 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 1 yang ada di Kabupaten Blitar. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Beru, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat SMPN 1 Wlingi, atau di sebelah barat daya Kantor Pos Wlingi.
Bangunan Stasiun Wlingi ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang sepanjang 74 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, yang dimulai pada tahun 1896, dan selesai pada tahun 1897.


Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan dua arah. Setelah jalur rel Kediri-Tulungagung-Blitar selesai pada 1884, maka dilanjutkan pembangunan jalur rel Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896 dan Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1897. Sedangkan yang dari arah utara, jalur kereta api Malang-Kepanjen sepanjang 19 kilometer sudah terselesaikan pada tahun 1896.
Pembukaan jalur kereta api Blitar-Wlingi ini juga merupakan hasil dari desakan yang telah disampaikan oleh para pengusaha yang tergabung dalam Blitarsche Landbouwvereeniging pada 10 Oktober 1889. Dengan demikian sejak itu pengangkutan produk perkebunan dengan kereta api dari Blitar ke Surabaya dapat juga melalui Kepanjen dan Malang. Pada 1900 hampir semua kota-kota di Jawa Timur sudah dihubungkan dengan baik oleh jalur kereta api dan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas Belanda di Blitar. Dengan tersedianya jaringan kereta api tersebut, wilayah Blitar dapat memiliki akses menuju pelabuhan atau pusat layanan ekspor.
Perlu diketahui bahwa wilayah Blitar pada waktu itu dikembangkan menjadi pusat industri perkebunan, yang berada di lereng Gunung Kelud, dan lembah Sungai Brantas. Pada awalnya terdapat ratusan perkebunan yang berhasil dikembangkan oleh orang-orang Eropa tetapi pada 1939 tercatat 45 perusahaan perkebunan dengan tanaman budidaya kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong, dan kelapa.
Stasiun Wlingi memiliki 4 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Talun hingga Stasiun Blitar. Jalur 2 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Kesamben hingga ke Stasiun Kepanjen. Sedangkan, jalur 3 sampai 4 merupakan persediaan untuk langsiran kereta api di kala intensitas kereta api lumayan padat.
Dari lima jalur tersebut, terdapat 3 peron. Satu peron sisi yang rendah dan dua peron pulau yang rendah juga. Pada semua peron ini tidak dinaungi atap seng seperti kebanyakan pada stasiun yang berada di kecamatan.
Namun demikian, meski Stasiun Wlingi ini awalnya merupakan stasiun dengan prototype yang dibangun di kecamatan, stasiun ini tergolong maju karena pada stasiun tersebut juga melayani kereta api jarak jauh kelas komersial atau bisnis. *** [110516]

Share:

Stasiun Kereta Api Blitar

Stasiun Kereta Api Blitar (BL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Blitar, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 167 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun (besar) yang berada di paling barat di Daop 8 Surabaya. Stasiun Blitar terletak di Jalan Mastrip No. 75, Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di selatan Kantor Pos Blitar, atau di sebelah timur laut Pasar Templek.
Bangunan Stasiun Blitar ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, yang dimulai pada tahun 1883, dan diresmikan pada 16 Juni 1884.


Proyek jalur kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 1 (Oosterlijnen-1). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah. Setelah jalur rel Sidoarjo-Mojokerto-Sembung selesai, maka dilanjutkan jalur rel Sembung-Kertosono-Kediri (1881), dan Kediri-Tulungagung-Blitar (1883-1884).
Pembangunan jalan kereta api menuju Blitar ini terkait dengan rencana besar pengembangan jalan kereta api. Pada 1875 rencana itu telah tercantum dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Staatsspoorwegen dan pelaksanaan pembangunannya ditetapkan dengan Staatsblad No. 161/1875 tertanggal 6 April 1875. Proyek itu mencakup pembangunan jalan kereta api Buitenzorg-Bandung-Cicalengka dan Madiun-Blitar.
Pengadaan kereta api tersebut pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan pelayaran para pejabat Belanda dan pengusaha sebagai sarana mobilitas atau alat pengangkutan hasil produksi perkebunan dan industri mereka. Perlu diketahui bahwa wilayah Blitar pada waktu itu dikembangkan menjadi pusat industri perkebunan, yang berada di lereng Gunung Kelud, dan lembah Sungai Brantas. Pada awalnya terdapat ratusan perkebunan yang berhasil dikembangkan oleh orang-orang Eropa tetapi pada 1939 tercatat 45 perusahaan perkebunan dengan tanaman budidaya kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong, dan kelapa.


Melihat fungsinya yang seragam maka banyak bangunan stasiun kereta api di Jawa dirancang dengan prototype yang sama menurut besar kecilnya stasiun tersebut. Misalnya stasiun untuk daerah kota atau kabupaten, mempunyai prototype yang sama, demikian juga dengan stasiun untuk daerah-daerah yang setingkat kecamatan. Termasuk Stasiun Blitar ini, awalnya bangunan stasiunnya mirip dengan bangunan Stasiun Probolinggo dan Stasiun Sidoarjo yang bergaya arsitektur Indische Empire, dengan ciri-ciri teras depan yang luas, dan gevel depan yang menonjol. Tapi kemudian pada 1905, bangunan stasiun ini mengalami perombakan, terutama bagian tampak mukanya menjadi berlanggam Art Deco yang ditandai dengan ide bentuk menara, dan pola yang geometris (horisontal-vertikal).
Stasiun Blitar memiliki 5 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Rejotangan hingga Stasiun Tulungagung. Jalur 2 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Garum hingga ke Stasiun Malang. Sedangkan, jalur 3 sampai 5 merupakan persediaan untuk langsiran kereta api di kala intensitas kereta api lumayan padat, dan juga ada yang digunakan untuk menuju dipo. Selain itu, di areal stasiun ini juga terlihat bekas jembatan putar lokomotif.
Dari lima jalur tersebut, terdapat 3 peron. Satu peron sisi yang rendah dan dua peron pulau yang tinggi. Pada peron 1 dan 2 dinaungi oleh atap seng yang ditopang oleh rangka berbahan dasar kayu. Mungkin baru stasiun ini, yang ditemukan memakai sistem overkapping seperti ini. Sehingga, memiliki keunikan tersendiri untuk Stasiun Blitar ini. *** [110516]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami