Jumat, 13 Mei 2016

Stasiun Kereta Api Blitar

Stasiun Kereta Api Blitar (BL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Blitar, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 167 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun (besar) yang berada di paling barat di Daop 8 Surabaya. Stasiun Blitar terletak di Jalan Mastrip No. 75, Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di selatan Kantor Pos Blitar, atau di sebelah timur laut Pasar Templek.
Bangunan Stasiun Blitar ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, yang dimulai pada tahun 1883, dan diresmikan pada 16 Juni 1884.


Proyek jalur kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 1 (Oosterlijnen-1). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah. Setelah jalur rel Sidoarjo-Mojokerto-Sembung selesai, maka dilanjutkan jalur rel Sembung-Kertosono-Kediri (1881), dan Kediri-Tulungagung-Blitar (1883-1884).
Pembangunan jalan kereta api menuju Blitar ini terkait dengan rencana besar pengembangan jalan kereta api. Pada 1875 rencana itu telah tercantum dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Staatsspoorwegen dan pelaksanaan pembangunannya ditetapkan dengan Staatsblad No. 161/1875 tertanggal 6 April 1875. Proyek itu mencakup pembangunan jalan kereta api Buitenzorg-Bandung-Cicalengka dan Madiun-Blitar.
Pengadaan kereta api tersebut pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan pelayaran para pejabat Belanda dan pengusaha sebagai sarana mobilitas atau alat pengangkutan hasil produksi perkebunan dan industri mereka. Perlu diketahui bahwa wilayah Blitar pada waktu itu dikembangkan menjadi pusat industri perkebunan, yang berada di lereng Gunung Kelud, dan lembah Sungai Brantas. Pada awalnya terdapat ratusan perkebunan yang berhasil dikembangkan oleh orang-orang Eropa tetapi pada 1939 tercatat 45 perusahaan perkebunan dengan tanaman budidaya kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong, dan kelapa.


Melihat fungsinya yang seragam maka banyak bangunan stasiun kereta api di Jawa dirancang dengan prototype yang sama menurut besar kecilnya stasiun tersebut. Misalnya stasiun untuk daerah kota atau kabupaten, mempunyai prototype yang sama, demikian juga dengan stasiun untuk daerah-daerah yang setingkat kecamatan. Termasuk Stasiun Blitar ini, awalnya bangunan stasiunnya mirip dengan bangunan Stasiun Probolinggo dan Stasiun Sidoarjo yang bergaya arsitektur Indische Empire, dengan ciri-ciri teras depan yang luas, dan gevel depan yang menonjol. Tapi kemudian pada 1905, bangunan stasiun ini mengalami perombakan, terutama bagian tampak mukanya menjadi berlanggam Art Deco yang ditandai dengan ide bentuk menara, dan pola yang geometris (horisontal-vertikal).
Stasiun Blitar memiliki 5 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Rejotangan hingga Stasiun Tulungagung. Jalur 2 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Garum hingga ke Stasiun Malang. Sedangkan, jalur 3 sampai 5 merupakan persediaan untuk langsiran kereta api di kala intensitas kereta api lumayan padat, dan juga ada yang digunakan untuk menuju dipo. Selain itu, di areal stasiun ini juga terlihat bekas jembatan putar lokomotif.
Dari lima jalur tersebut, terdapat 3 peron. Satu peron sisi yang rendah dan dua peron pulau yang tinggi. Pada peron 1 dan 2 dinaungi oleh atap seng yang ditopang oleh rangka berbahan dasar kayu. Mungkin baru stasiun ini, yang ditemukan memakai sistem overkapping seperti ini. Sehingga, memiliki keunikan tersendiri untuk Stasiun Blitar ini. *** [110516]

0 komentar:

Posting Komentar