The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata Sumenep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tujuan Wisata Sumenep. Tampilkan semua postingan

Masjid Jamik Kabupaten Sumenep

Masjid Jamik Kabupaten Sumenep merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara. Masjid ini terletak di Jalan Trunojoyo No. 6 Kelurahan Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Masjid yang berada di jantung Kota Sumenep ini berbatasan dengan Jalan Trunoyo di sebelah timur yang di seberangnya terdapat alun-alun, di sebelah barat berbatasan pemukiman penduduk, sebelah utara dengan deretan ruko, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Pasar Polowijo.
Masjid Jamik Kabupaten Sumenep dibangun oleh Panembahan Sumala, Adipati Sumenep ke-31, setelah selesai merampungkan tempat tinggal dan sekaligus sebagai pusat dalam menjalankan roda pemerintahannya yang dikenal dengan sebutan Kraton Sumenep. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1198 H (1779 M dan selesai pada tahun 1206 H (1787 M), dengan menggunakan aristek yang sama dalam pembangunan Kraton Sumenep, yaitu seorang Tionghoa bernama Lauw Piango. Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang merupakan salah satu di antara 6 orang Tionghoa yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat adanya Huru-hara Tionghoa (1740 M).
Adipati Pangeran Natakusuma, yang tidak lain adalah Panembahan Sumala, sengaja mendirikan Masjid Jamik Kabupaten Sumenep yang jauh lebih besar untuk menampung jamaah yang semakin bertambah, karena Masegit Laju (masjid lama) yang dibangun oleh Tumenggung Anggadipa pada tahun 1639 M di Desa Kepanjin, sudah tak lagi memadai kapasitasnya untuk menampung jamaah.


Setelah Masjid Jamik Kabupaten Sumenep selesai dibangun, dan diresmikan penggunaannya, Pangeran Natakusuma mengeluarkan wasiat yang ditulis pada tahun 1806 M yang berbunyi: “Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di Negeri/Kraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (selaku penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya masjid ini wakaf, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”
Kompleks bangunan Masjid Jamik Kabupaten Sumenep berdiri di atas lahan seluas 1,2 hektar dengan ukuran bujursangkar yaitu 100 meter x 100 meter. Memperhatikan fisik bangunannya, masjid ini memiliki arsitektural perpaduan antara kultur Arab, Persia, China, India maupun Jawa. Bangunan masjid ini tidak dibangun secara bersamaan namun diperluas secara bertahap.


Kompleks bangunan masjid menghampar dari sisi timur ke barat. Ruang utama masjid ini memiliki 13 soko (tiang penyangga) yang lumayan besar, dan beratapkan tumpang bersusun tiga dengan mustaka berbentuk bujursangkar yang menopang bola bersusun tiga yang makin ke atas kian meruncing. Di dalam ruang utama terdapat mihrab, mimbar, dan maksurah. Mihrab terletak di dinding barat. Pilaster bagian luar bersusun dua sedangkan bagian dalam bersusun tiga. Antara pilaster bagian luar dengan bagian dalam terdapat hiasan bingkai cermin. Sedangkan mimbar beratap rata yang ditempel tegel keramik, bagian atasnya terdapat hiasan pelipit rata dan setengah lingkaran. Ruang maksurah terletak di sebelah selatan dari mihrab. Maksurah merupakan artefak bangunan berukir peninggalan masa lampau yang mempunyai nilai estetika unik dan indah. Karya seni ini mendominasi keindahan dalam ruang dalam masjid. Maksurah ini biasanya berisi tulisan Arab yang memuliakan asma dan keesaan Allah SWT.
Selain itu, di dinding timur dalam ruang utama terdapat dua prasasti yang mengapit pintu masuk utama. Prasasti I yang berada di sebelah utara berhuruf Arab, sedangkan Prasasti II yang terletak di sebelah selatan, menggunakan huruf Arab dan Jawa.
Ruang utama masjid ini diapit oleh beberapa serambi, yaitu serambi utara, timur, dan selatan. Bedug utama masjid terlihat di serambi sebelah utara.


Searah timur laut dan tenggara dari serambi bagian timur, terdapat dua bangunan menyerupai cungkup. Kedua bangunan tersebut dulunya dipergunakan oleh musafir yang hendak melepaskan lelah dan bermalam. Sedangkan, searah timur dari garis lurus serambi sebelah timur, berdiri dengan megah dan kokoh sebuah gapura. Gapura masjid ini berupa paduraksa yang terdiri atas dua tingkat yang terbuat dari tembok. Pada kaki gapura terdapat dua ruangan di sebelah utara, dan selatan. Pada sisi utara dan selatan merupakan teras terbuka. Atap gapura merupakan atap ruangan tingkat dua berbentuk genta, dan lubang angin berbentuk bujursangkar.
Pada waktu R. Tumenggung Aria Prataningkusuma menjabat sebagai Bupati Sumenep (1901-1926), beliau membangun sebuah menara di Masjid Jamik Kabupaten Sumenep, yang ditempatkan di sebelah barat (belakang) masjid.
Masjid Jamik Kabupaten Sumenep ini pernah mengalami renovasi di tahun 1990-an pada pelataran depan, kanan dan kirinya. Namun demikian tanpa mengurangi nilai cultural heritage yang dimilikinya, keagungan dan eksotisme yang ada pada masjid ini masih terasa hingga kini, dan sekaligus menjadi lokasi wisata religi yang favorit. *** [071213]
Share:

Kraton Sumenep

Kraton Sumenep merupakan satu-satunya istana yang masih berdiri di Jawa Timur. Kraton Sumenep terletak di Jalan Dr. Soetomo No. 5 Kelurahan Pajagalan, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur.
Kraton ini dulunya merupakan kediaman Adipati yang sekaligus sebagai tempat untuk menjalankan roda pemerintahan. Sejatinya, kraton ini hanyalah merupakan vassal atau kerajaan kecil setingkat kadipaten yang masih tunduk di bawah kekuasaan kerajaan yang lebih besar. Mulai dari Kerajaan Singasari, Majapahit hingga Mataram sebelum akhirnya jatuh ke tangan VOC.
Berdasarkan catatan sejarah, Kraton Sumenep didirikan oleh Panembahan Sumala, seorang Adipati Sumenep ke-31, pada tahun 1781. Arsitek yang ditunjuk dalam pembangunan kraton ini adalah seorang Tionghoa bernama Lauw Piango. Ia adalah cucu dari Lauw Khun Ting. Lauw Khun Thing adalah salah satu di antara 6 orang Tionghoa yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Sedangkan, yang menjadi mandor dalam pembangunan kraton adalah seorang Tionghoa bernama Ka Seng An. Secara umum, gaya arsitektural Kraton Sumenep merupakan perpaduan antara gaya Eropa, Arab, China dan Jawa.


Kompleks bangunan Kraton Sumenep yang berdiri di atas lahan seluas 8 hektar ini, lebih sederhana dari kompleks kraton peninggalan Mataram yang masih ada, seperti Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta. Bangunan Kompleks Kraton Sumenep sendiri tidak dibangun secara bersamaan namun dibangun dan diperluas secara bertahap oleh para adipati berikutnya.
Kompleks Kraton Sumenep terdiri atas beberapa bangunan yang tersusun dari selatan ke utara. Pendapa Ageng terletak di tengah kraton beratapkan joglo yang ditopang oleh 10 soko (tiang penyangga). Dahulu, Pendapa Ageng merupakan paseban (tempat menghadap para kawula maupun tamu) yang kemudian hari juga difungsikan sebagai tempat sidang yang dipimpin langsung oleh sang Adipati dan dihadiri oleh seluruh pejabat tinggi kraton yang waktunya dilaksanakan pada hari-hari tertentu. Dibelakang pendapa, terdapat Kraton Dhalem yang terdiri atas dua lantai. Lantai atas merupakan tempat para putri sang adipati, sedangkan lantai bawah dijadikan kediaman sang adipati di mana di dalamnya terdapat empat kamar yang masing-masing diperuntukkan untuk kamar kamar pribadi raja, kamar permaisuri, kamar orangtua pria dan kamar orangtua perempuan. Pada mulanya antara Kraton Dhalem dan Pendapa Ageng letaknya terpisah. Namun, pada masa pemerintahan Sultan Abdurrachman Pakunataningrat, kedua bangunan tersebut dihubungkan dengan bangunan baru yang bernama mandiyasa.
Sedangkan, di halaman belakang kraton, terdapat sisir atau tempat para emban yang menjadi dayang para putri adipati, dan dapur. Namun kini, telah berubah wajah menjadi Rumah Dinas Bupati Sumenep.


Di sebelah barat bangunan utama Kraton Sumenep, yaitu Pendapa Ageng dan Kraton Dhalem, terdapat Dhalem Kraton Lama. Dhalem Kraton Lama merupakan bangunan kraton yang dibangun oleh Gusti R. Ayu Rasmana Tirtanegara bersama R. Tumenggung Tirtanegara (Bindara Moh. Saud) yang memerintah pada tahun 1750 sampai dengan tahun 1762. Dulu di depan Dhalem Kraton Lama juga terdapat pendapa laiknya bangunan kraton pada umumnya, namun ketika Sultan Abdurrachman Pakunataningrat bertahta, pendapa tersebut dipindahkan ke Asta Tinggi (kompleks makam adipati Sumenep beserta keturunannya). Bekas pendapa tersebut, lalu didirikan Kantor Koneng (konenglijk) atau kantor adipati. Pada masa pemerintahan Sultan Abdurrachman, Kantor Koneng digunakan sebagai tempat rapat-rapat rahasia para pejabat tinggi kraton.
Di sebelah timur Pendapa Ageng, terdapat Taman Sare yang dikelilingi tembok yang cukup tinggi dan tertutup. Taman Sare adalah taman yang luar biasa menariknya kala itu, dan dilengkapi dengan tiga tempat pemandian bagi permaisuri maupun putri adipati. Ketiga tempat pemandian tersebut memiliki tiga pintu, yaitu pintu I, II dan III. Konon, pintu I diyakini dapat membuat awet muda, dipermudah mendapatkan jodoh dan keturunan. Pintu II dipercaya dapat meningkatkan karir dan kepangkatan, sedang pintu III diyakini dapat meningkatkan iman dan ketaqwaan.
Antara Taman Sare dengan Kraton Dhalem terdapat lonceng yang berada di halaman kraton. Lonceng tersebut, dulunya difungsikan sebagai penanda panggilan bagi para abdi dalem yang bekerja di lingkungan kraton untuk berkumpul. Sedangkan searah lurus dengan lokasi lonceng ke arah selatan terlihat berdiri kokoh labang mesem. Dalam bahasa Madura, labang berarti pintu, dan mesem bermakna tersenyum. Dinamakan labang mesem karena ketika menyambut tamu, para abdi dalem diharapakan senantiasa tersenyum. Tapi, ada juga yang mengatakan bahwa di labang mesem tersebut dijaga oleh dua orang kretin (cebol), sehingga setiap tamu yang berkunjung ke kraton tersebut setelah dibukakan pintu oleh kedua orang cebol tadi pasti akan tersenyum. Dengan senyum, menandakan bahwa orang Sumenep ramah terhadap siapa pun yang berkunjung ke daerahnya.
Selain sebagai pintu utama masuk ke dalam Kraton Sumenep, labang mesem sebenarnya juga berfungsi sebagai tempat memantau segala aktivitas yang berlangsung di dalam lingkungan kraton, termasuk salah satunya adalah keadaan di Taman Sare. Labang mesem yang berarsitektur tajuk tumpang ini, tepat di atas pintu terdapat sebuah loteng yang menjadi tempat adipati duduk mengawasi keadaan Taman Sare tatkala permaisuri maupun putri-putrinya sedang mandi di dalamnya sambil bercengkerama. Hal ini tentunya dikarenakan adipati ingin menjamin bahwa keluarganya tidak dalam kondisi mara bahaya ketika berada di Taman Sare.


Lalu, di sebelah barat labang mesem, berdiri sebuah bangunan yang dinamakan Gedong Nagari (sekarang digunakan sebagai Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumenep). Gedong Nagari ini sebenarnya bukan merupakan bagian dari kraton meski berada di lingkungan Kraton Sumenep. Bangunan bergaya Eropa ini sengaja dibangun Belanda pada tahun 1931 untuk memantau segala gerak-gerik pemerintahan yang dijalankan oleh keluarga kraton. Belanda, pada waktu itu, tidak ingin kedudukannya terancam oleh kedudukan Kraton Sumenep.
Tepat di depan Gedong Nagari yang berada di seberang jalan, berdiri bangunan yang dinamakan kamarrata. Dulu, kamarrata merupakan tempat meletakkan kereta kencana (garasi) milik sang adipati dan dibelakangnya digunakan sebagai istal (kandang kuda). Namun sekarang, kamarrata difungsikan sebagai Museum I Kraton Sumenep.
Di sebelah timur kamarrata, dulunya adalah segaran. Segaran merupakan kolam yang menyerupai lautan, dan menjadi tempat bertamasya bagi putri-putri adipati. Namun, lokasi segaran telah berubah menjadi lapangan tenis dan pemukiman. Antara kraton dengan segaran maupun kamarrata terdapat jalan yang melintas dari barat ke timur. Yang ke barat menuju ke arah Masjid Jamik Sumenep yang melintasi alun-alun, dan yang ke timur menuju jalan yang mengarah ke Kalianget setelah melewati pintu gerbang keluar yang dinamakan labang galidigan.
Kendati Kraton Sumenep sudah tidak dihuni lagi oleh adipati beserta kerabatnya, akan tetapi bangunan kraton tersebut masih berdiri kokoh dan megah sampai sekarang ini. Sementara Pendapa Ageng acapkali difungsikan untuk acara rapat para aparat pemerintahan maupun pagelaran seni dan budaya setempat. *** [071213]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami