The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Archeology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Archeology. Tampilkan semua postingan

Kekunaan

Kekunaan adalah sebuah blog yang diluncurkan pada 25 Juli 2010 di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Kekunaan dibuat dengan konsep sederhana dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas mengenai benda cagar budaya, yang pada akhirnya akan turut andil dalam mengembangkan archeotourism di Indonesia. Oleh karena itu, Kekunaan berbasis pada arkeologi, antropologi, dan histori.
Berbekal ala pengelana (backpacker) yang didukung oleh sejumlah studi kepustakaan menjadi motivasi dalam menuangkan ke dalam bentuk tulisan.
Slogan Kekunaan adalah kekinian berawal dari kekunaan. Sadar menjadi manusia modern berarti sadar akan tempaan kekunaan yang telah berlangsung dalam hidup manusia. Kekunaan muncul dalam segala aspek kehidupan manusia. Menghargai kekunaan berarti mengerti menjadi modern.

***
Share:

Candi Miri

Candi Miri terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini berada di puncak sebuah bukit, yang tersisa dari bangunan Candi Miri hanya berupa sisa reruntuhan candid an 2 buah bangunan yoni.


Dahulu di situs ini juga terdapat arca nandi yang kini telah diamankan pihak BP3. Dengan adanya arca nandi dan yoni di situs candi ini, bisa dipastikan zaman dahulu Candi Miri digunakan untuk tempat peribadatan umat Hindu.


Lokasi situs ini sangatlah sulit untuk dijangkau kendati mempergunakan sepeda motor, karena sebelum tanjakan sudah tidak ada jalan lagi. Kendaraan harus diparkir di salah satu rumah penduduk sebelum tanjakan, dan kita harus rela berjalan kaki sekitar 2 - 3 Km untuk mencapai lokasi situs tersebut. Dan, lokasi situs tersebut jauh dari keramaian pemukiman pendudu, jadi insting adventure Anda benar-benar diuji. Tidak ada tempat bertanya, dan harus melintas hutan kecil. Namun, kita masih diberi tanda untuk menemukan lokasi tersebut, di dekat situs tersebut telah dipasang tower milik salah satu perusahaan seluler yang ada di Tanah Air. *** [270412]
Share:

Candi Abang

Candi Abang terletak di Dusun Candiabang, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentuk candi ini sudah tidak utuh lagi, dan tertutup oleh tanah dan rerumputan sehinggu nampak seperti bukit. Dari bukit ini, kita dapat memandang Kota Yogyakarta dan sekitarnya.



Candi yang mirip piramida ini terbuat dari batu bata merah, bukan terbuat dari batu andesit yang biasa untuk pembuatan candi di Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Karena terbuat dari batu bata merah, maka candi ini lebih dikenal sebagai Candi Abang. Abang merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa yang bermakna merah.
Dari sejumlah temuan hasil ekskavasi pada tahun 2002, diperkirakan candi merupakan peninggalan Hindu, dan dibangun pada abad 9 dan 10 semasa Kerajaan Mataram Kuna.
Bentuk candi ini berdenah segi empat dengan ukuran 36 m x 34 m, yang sekarang ditumbuhi rerumputan sehingga dari kejauhan tampak seperti sebuah bukit kecil atau gundukan tanah. Ketika ditemukan untuk pertama kalinya, dalam candi terdapat arca dan yoni sebagai simbol Dewa Siwa berbentuk segidelapan, dengan sisi berukuran 15 cm.


Sekitar 100 m di bawah Candi Abang terdapat Situs Gua Sentono. Situs Gua Sentono diduga merupakan pertapaan Hindu karena di dinding gua terdapat gambar atau relief para dewa agama Hindu. Pada malam Jumat Kliwon, lokasi ini sering ramai dikunjungi oleh para peziarah yang gemar melakukan tirakat atau semedi. *** [061012]
Share:

Candi Gebang

Pada bulan November 1936 seorang penduduk desa sedang menggali tanah untuk mencari batu untuk bahan bangunan, tetapi cangkulnya justru menemukan sebuah arca batu yakni arca Ganesha.
Penemuan ini kemudian ditindak lanjuti oleh Dinas Purbakala dengan melakukan sejumlah ekskavasi arkeologis. Dari penggalian ini diketahui bahwa di lokasi temuan arca Ganesha tersebut ternyata terdapat sisa sebuah bangunan candi yang telah runtuh dan terpendam tanah.
Selain temuan berupa bangunan juga ditemukan sejumlah artefak-artefak lain. Di antaranya adalah wadah gerabah, kotak batu berlubang (peripih), lingga serta sejumlah arca dewa.
Candi Gebang merupakan candi bercorak Hindu. Bangunan ini memiliki ukuran 5,25 x 5,25 m dengan tinggi 7,75 m. Bangunan candi menghadap ke arah timur dengan satu bilik tanpa tangga masuk. Di dalam bilik tersebut terdapat sebuah yoni.


Di sisi kanan pintu masuk terdapat arca Nandiswara. Nandiswara adalah dewa penjaga arah mata angin. Ia sering dijumpai dengan Mahakala. Untuk arca Mahakala di Candi Gebang seharusnya berada di sisi kiri pintu masuk tetapi arca ini telah hilang semenjak candi ditemukan.
Secara administratif, Candi Gebang terletak di Dusun Gebang, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, atau tepatnya berada di belakang Stadion Maguwoharjo hanya saja terhalang oleh sungai bila menuju candi tersebut dari arah stadion. Sedangkan secara astronomis, bangunan Candi Gebang berada pada 110° 24’ 53.62” BT dan 07° 45’ 04.01” LS.


Penamaan candi yang ditemukan pada tahun 1936 ini didasarkan pada lokasi candi itu berada, yakni di Desa Gebang. Penamaan sebuah candi selain dari keberadaannya, candi juga bisa dinamai berdasar legenda yang dikenal oleh masyarakat atau juga didasarkan pada penyebutan dari sebuah prasasti.
Pada saat pertama kali ditemukan, Candi Gebang dalam kondisi runtuh total hanya tersisa bagian kaki. Tampak jika Candi Gebang juga tertimbun endapan lahar Merapi. Di wilayah Yogyakarta cukup banyak ditemukan bangunan candi yang tertimbun oleh endapan vulkanik. Di antaranya Candi Kedulan, Candi Sambisari, Candi Kadisoka serta Candi Morangan.
Masa pendirian Candi Gebang belum bisa diketahui dengan pasti. Hanya berdasar ciri arsitekturnya, agaknya Candi Gebang didirikan dari periode yang tua yakni sekitar tahun ± 730 hingga 800 Masehi.
Ciri arsitektur tersebut tampak pada relief kepala manusia di bagian atap candi yang seolah-olah melongok dari sebuah jendela. Ciri semacam ini dinamakan dengan Kudu. Relief Kudu juga dijumpai pada Candi Bima di kompleks percandian Dieng.
Setelah selesai dipugar pada tahun 1940, terlihat bahwa sejumlah arca pengisi relung pada tubuh bangunan kosong yakni di relung candi sisi utara dan selatan. Hanya di sisi barat saja yang berisi arca Ganesha yang duduk di atas lapik berbentuk yoni. Ganesha merupakan dewa penghilang segala marabahaya.
Sebagai upaya pelestarian peninggalan sejarah dan budaya, maka di tahun 1937 hingga 1939 Candi Gebang dilakukan pemugaran oleh Dinas Purbakala (Oudheid Dienst) yang dipimpin oleh Prof. DR. Van Romondt.
Saat ini kita sebagai generasi penerus sudah seharusnya untuk turut menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah yang sangat berharga ini. *** [071012]
Share:

Candi Sambisari

Candi Sambisasri terletak di Dukuh Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara astronomis terletak pada 07° 45’ 48.13” LS dan 110° 26’ 46.43” BT. Candi Sambisari pertama kali ditemukan pada bulan Juli 1966, yakni ketika seorang petani yang sedang mencangkul sawahnya, tiba-tiba terbentur mengenai sebuah bagian batu candi yang berukir. Setelah melalui penelitian ternyata temuan tanpa sengaja tersebut merupakan bagian kecil dari sebuah gugusan candi yang terpendam hingga kedalaman 6,5 meter di dalam tanah yang merupakan endapan lahar vulkanik dari gunung Merapi.


Pada bulan September 1966 untuk pertama kalinya dilakukan kegiatan penelitian sistematis berupa ekskavasi arkeologis yang dilaksanakan oleh Kantor Cabang I Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional di Prambanan dengan dibantu oleh para mahasiswa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tahun 1975 hingga 1977 berhasil menampakkan satu buah bangunan induk dan tiga buah candi perwara. Kondisi candi-candi tersebut sudah dalam keadaan runtuh kecuali pada bagian kaki, sebagian pagar langkan dan sebagian bagian tubuh masih dalam kondisi aslinya.


Candi Sambisari merupakan candi Hindu yang dibangun sekitar abad 9 Masehi. Kemudian bangunan ini menghilang tertimbun endapan lahar Merapi. Di tahun 1986 pemugaran Candi Sambisari telah usai.
Candi Sambisari merupakan kelompok percandian yang terdiri dari sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara di depannya. Candi induk menghadap ke arah barat dengan denah berbentuk bujursangkar berukuran 13,65 x 13,65 m dengan tinggi 7,5 m. Hal menarik dari candi induk adalah dijumpainya batu-batu pipih semacam umpak di sepanjang selasarnya. Batu-batu tersebut mempunyai tonjolan berbentuk bulan dan persegi. Pada sisi luar tubuh candi induk terdapat relung-relung yang ditempati oleh beberapa arca yakni arca Durga (sisi utara), arca Ganesha (sisi timur), dan arca Agastya (sisi selatan). Untuk dua buah arca di pintu masuk yakni Mahakala dan Nandiswara telah hilang dicuri pada tahun 1971.
Di depan candi induk terdapat 3 buah candi perwara yang berukuran 4,8 x 4,8 m (perwara sisi utara dan selatan), dan 4,9 x 4,8 m (perwara tengah). Secara keseluruhan kompleks Candi Sambisari dikelilingi oleh pagar berukuran 50 x 48 m.
Pada tahun 1976 ditemukan prasasti emas di bawah salah satu umpak di candi induk. Prasasti tersebut berukuran 2 x 1 cm yang bertuliskan om siwasthana yang artinya ‘hormat, rumah bagi dewa Siwa’. Di halaman candi juga ditemukan arca perunggu berukuran tinggi 29 cm dan lebar 12 cm. Arca ini adalah arca Vajrapani, yakni salah seorang Bodhisattva. Selain itu, juga ditemukan sejumlah talam dan cawan perunggu serja sejumlah gerabah. *** [061012]
Share:

Candi Risan

Di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, selain ditemukan hasil budaya masa prasejarah juga ditemukan hasil budaya masa klasik. Hasil budaya yang termasuk dalam masa klasik ini berasal dari abad 6 – 10 Masehi. Hasil budaya masa klasik yang ditemukan di Kabupaten Gunung Kidul di antaranya Candi Risan di Kecamatan Semin dan Candi Plembutan di Kecamatan Playen.


Candi Risan terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, berada di koordinat ± 49 UTM X: 4644650, UTM Y: 9138820.
Candi masa klasik ini terdiri atas 2 buah bangunan candi yang berderet dari utara ke selatan dengan arah hadap ke barat. Hal ini diindikasikan dengan adanya penemuan trap tangga naik menuju candi. Candi utara berukuran 13 x 13 m; sedangkan candi selatan berukuran 11,5 x 11,5 m. Kedua bangunan candi ini terbuat dari batu putih.


Latar belakang agama di Candi Risan adalah Buddha. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan arca Awalokiteswara dan beberapa bangunan yang bercorak agama Buddha.
Arca Awalokiteswara merupakan emanasi (pancaran) Amitabha (Buddha yang menempati arah mata angin sebelah barat. Mudranya adalah Dhyani Mudra dan lambangnya adalah bunga teratai merah atau padma). Oleh karenanya, arca Dhyani Buddha Amitabha selalu terlihat pada mahkotanya.
Secara keseluruhan bentuk asli Candi Risan sudah tidak terlihat. Hal ini dikarenakan bangunan candi sudah teraduk pada bagian bawah. Selain itu, juga karena batunya yang terbuat dari batu putih yang mudah rusak oleh faktor cuaca, serta kondisi tanah yang mudah longsor. *** [051012]
Share:

Jejak Kejayaan Barus Di Lobu Tua

Pasir laut berserak di perkebunan kopi milik Rahima Manalu (51) di Desa Lobu Tua, Kota Barus, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Di bawah rimbun pohon kopi itulah, jejak kejayaan Barus masa lalu ditemukan.
Kebun ini berada pada ketinggian sekitar 10 meter dari permukaan laut dengan jarak sekitar 2 kilometer dari pantai. Di bawah tebing, sawah menghampar luas hingga ke tepi Samudra Hindia. Dua sungai besar, yaitu Aek Busuk dan Aek Raja mengapitnya.
Lubang-lubang bekas galian tersebar luas di perkebunan itu. Dasar lubang ditumbuhi semak dan tertutup daun kopi kering. Pada dinding galian lubang seluas rata-rata 4 meter persegi itu terlihat lapis tanah berpasir. “Di sini dulu ditemukan banyak peninggalan kuno, mulai keramik seperti piring, teko, juga barang-barang dari emas,” kata Rahima.
Melongok ke lubang galian itu, seakan menyusuri lorong waktu Barus masa lalu. Situs Lobu Tua diperkirakan sisa-sisa kejayaan bandar niaga internasional Barus yang terkenal di seluruh penjuru dunia sejak awal Masehi.
Penggalian tim gabungan dari Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO) Perancis berkerja sam dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua, Barus, pada 1995-2000, menemukan berbagai artefak yang membuktikan keberadaan peradaban kuno itu. Temuan itu kaya dan beragam. Temuan terbanyak berupa tembikar tanpa glasir.
“Pecahan yang ditemukan begitu banyak sehingga tidak dapat dijumlahkan satu per satu karena kekurangan tenaga manusia,” tulis Claude Gulliot dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008). Usai ditimbang, setidaknya mencapai 600 kilogram. Gulliot memperkirakan tembikar itu dibuat di India yang dekat Teluk Persia, sebelum abad pertengahan.
Kemakmuran Lobu Tua, menurut arkeolog Perancis, Marie-France Dupoizat, terlihat dari kualitas keramik China yang ditemukan dalam penggalian. Meski Barus terpencil di pesisir barat Sumatera, tempat ini memiliki hubungan maritime dengan daerah-daerah luar yang jauh.
Setidaknya, dari temuan keramik ini, diketahui Barus telah berhubungan dagang dengan daerah di China bagian selatan karena banyak ditemukan tungku-tungku dari Yue (wilayah Zhejiang), keramik berbahan batuan dan porselen dari Guangdong dan Jiangxi. Keramik-keramik ini diperkirakan dari abad ke-9 hingga ke-11.
Luasnya jaringan perdagangan Barus ditandai ditemukannya sekita 1.000 pecahan tembikar asal Mesopotamia di Timur Tengah dari abad ke-9 hingga abad ke-10.
Juga ditemukan kaca-kaca di Lobu Tua. Kaca ini bisa dipastikan bahan impor karena tim penggali tidak menemukan bekas-bekas tungku kaca di Lobu Tua. Diperkirakan kaca-kaca ini berasal dari Timur Tengah.
Temuan-temuan lain, manic-manik, logam, batu bata, dan mata uang emas. Temuan emas ini menunjukkan selain penghasil kapur barus, kawasan ini juga pengekspor emas. Tak mengherankan karena Barus terletak di Sumatera yang dikenal sebagai “Pulau Emas.”

Rekaman sejarah
Walaupun temuan arkeologis di Lobu Tua rata-rata berkisar dari abad ke-9 atau ke-10, namun Kota Barus diperkirakan berusia jauh lebih tua. Rekaman dari berbagai catatan kuno menunjukkan, Barus telah dikenal sejak awal abad Masehi. Catatan tertua yang diketahui berasal dari kitab Geographia yang dibuat Claudius Ptolomeus berupa peta abad ke-2, yang menyebut Barus sebagai barousai.
Berdasar buku Nuchbatuddar tulisan Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam sekitar abad ke-7. Makam tua di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, yang pada nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriah, menguatkan ada komunitas Muslim di daerah ini pada era itu.
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia juga memercayai sejak tahun 645 Masehi di daerah Barus telah masuk umat Kristen. Itu didasarkan buku kuno tulisan Shaikh Abu Salih al-Armini. Penjelajah dari Armenia Mabousahl mencatat, abad ke-12 telah terdapat Gereja Nestorian.

Menghilang
Sony Wibisono, arkeolog dari Puslit Arkenas mengatakan, peradaban di Lobu Tua tiba-tiba menghilang pada abad ke-12. “Berdasarkan data, tidak ada satu benda arkeologi yang dihasilkan setelah awal abad ke-12,” katanya.
Setelah ditinggalakan komunitas multietnis itu, Barus lalu dihuni orang-orang Batak yang datang dari kawasan sebelah utara kota ini. Situs Bukit Hasang merupakan situs Barus yang berkembang sesudah penghancuran Lobu Tua.
Sampai misi dagang Portugis dan Belanda masuk, peran Barus yang saat itu telah dikuasai raja-raja Batak masih dianggap menonjol sehingga menjadi rebutan kedua penjajah dari Eropa itu. Penjelajah Portugis Tome Pires yang melakukan perjalanan ke Barus awal abad ke-16 mencatat Barus sebagai pelabuhan ramai dan makmur. “Kami sekarang harus bercerita tentang Kerajaan Barus yang sangat kaya itu, yang juga dinamakan Panchur atau Pansur. Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatera namanya Baros (Barus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua,” demikian catatan Pires.
Tahun 1550, Belanda berhasil menghegemoni perdagangan di Barus. Tahun 1618, VOC, kongsi dagang Belanda, mendapat hak istimewa dari raja-raja Barus.
Belakangan, hegemoni Belanda ini menyebabkan pedagang dari daerah lain menyingkir. Dan sepak terjang Belanda mulai merugikan penduduk dan raja-raja Barus sehingga memunculkan perselisihan. Tahun 1694, Raja Barus Mudik menyerang kedudukan VOC di Pasar Barus. Banyak korban tewas. Raja Barus Mudik bernama Munawarsyah alias Minuassa lalu ditangkap Belanda, lalu diasingkan ke Singkil, Aceh.
Barus kian tenggelam saat Kerajaan Aceh Darussalam berdiri permulaan abad ke-17. Kerajaan baru itu membangun pelabuhan di pantai timur Sumatera, berhadapan dengan Selat Melaka.

Tamat riwayatnya
Dari berbagai temuan dan rekaman sejarah itu, bisa dipastikan Barus atau Lobu Tua pernah menjadi tempat perdagangan asing dari berbagai penjuru dunia. Namun, menyusuri Barus saat ini, jejak kejayaan itu tak terlihat lagi.
Kota ini kini sangat sepi. Jalan beraspal yang sebagian berlubang seperti tak terurus. Sebagaimana kota-kota tua di pantai barat Sumatera, kejayaan itu telah lama redup.
Dengan kekayaan temuannya itu, ternyata tak mudah mencari tahu sejarah Barus saat kita berada di kota itu. Jangankan museum, peta atau informasi tentang kawasan bersejarah itu pun tiada. Pengunjung hanya akan berhadapan dengan masyarakat yang kebanyakan tak lagi paham dengan sejarah mereka sendiri.
Satu-satunya sumber informasi yang bisa ditemui di Barus adalah sebuah rumah di Pasar Barus yang dijadikan gudang penyimpanan hasil penggalian para peneliti dari EFEO dan Puslit Arkenas beberapa tahun lalu.
Namun, sampai kini rumah tersebut masih tertutup untuk umum dengan alas an barang-barang tersebut masih dalam proses penyelidikan. Hasil penggalian sebagian besar disimpan di sebuah rumah di Pasar Barus, terbungkus kotak dan terpal berdebu.
Pelabuhan Barus yang pernah Berjaya pun, kini sangat sepi. Sahren Simatupang (42), nelayan setempat mengatakan, di Barus saat ini hanya ada 100 unit kapal yang beroperasi.
Lima tahun lalu, jumlahnya masih sekitar 200 unit. Riwayat Barus yang pernah jaya tersebut semakin pudar dan menghilang dalam pusara sejarah. (PRASETYO EKO, AGUNG SETYAHADI, INGKI RINALDI, AHMAD ARIF) ***

Sumber:
*) KOMPAS edisi Sabtu, 26 Mei 2012 hal. 24
Share:

Riwayat Pohon Kapur Dari Barus

Sebatang pobon tumbuh menjulang di tengah kebun karet. Lingkar batangnya tak terjangkau pelukan tangan orang dewasa, menandakan umurnya yang tak muda. Bekas sayatan pada akar menghasilkan getah berwarna putih berbau harum. Daunnya yang kecil lonjong pun mengeluarkan aroma wangi.
“Inilah pohon kapur itu,” kata Jahiruddin Pasaribu, Kepala Desa Aek Dakka, Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Pohon kapur (Dryobalanops aromatic) dengan kulit berwarna merah kehitaman merupakan tanaman langka yang pernah memasyhurkan Pulau Suamtera sejak ribuan tahun silam.
Penelitian Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menyebutkan, catatan tentang kamper yang tertua berasal dari awal abad ke-4 Masehi. Catatan ini terdapat dalam kumpulan dokumen yang disebut “Surat-surat Lama” yang ditemukan di Dunhuang (China) dan ditulis pedagang Sogdian yang menelusuri jalur sutra dengan istilah berdasarkan pada ejaan China, “kprwh”.
Istilah kamper, menurut Guillot, juga dimuat dalam kronik Dinasti Liang, China (502 – 557). “Sumber ini menarik sekali karena kamper dinamakan kamper Po-lu, satu nama tempat yang biasa disamakan dengan Barus,” tulis Guillot.
Catatan pertama mengenai kamper di dunia Barat terdapat dalam karya Actius dari Amida (502 – 578 M), dokter Yunani yang tinggal di Mesopotamia. Juga dilaporkan, tahun 638 ketika pasukan Arab merebut Istana Chosroes II di Madan, tepi Sungai Tigris, ditemukan sejumlah tempayan berisi kamper yang pada mulanya dikira garam.
Pada abad ke-9, ahli kimia dari Arab, Al-Kindi, menulis tentang manfaat dan pembuatan kapur barus dalam Kitab Kimiya’ al-‘Itr. Catatan ini semakin menguatkan popularitas kapur barus.
Hingga era kolonial, kapur barus masih menjadi komoditas menarik. Seperti disebut William Marsden, pegawai pemerintah kolonial Inggris di Bengkulu, dalam bukunya, History of Sumatera (1783), kapur barus memiliki peran penting dalam perdagangan di Sumatera.
Menurut catatan Marsden, harga kapur barus saat itu sekitar 6 dollar Spanyol per pon (0,5 kg). Harga ini sama dengan harga emas di Sumatera saat itu. Di pasaran China, harga kapur barus lebih mahal, 9-12 dollar Spanyol per pon.
Marsden menyebutkan, perdagangan kapur barus saat itu dimonopoli orang-orang Aceh yang bermukim di Singkel (Singkil). “Mereka (orang Aceh) menjual kepada orang Batak, selanjutnya dibeli orang China dan Eropa,” tulis Marsden.
Tingginya harga kapur barus saat itu karena banyak permintaan. “Kapur barus adalah obat berkhasiat yang membuat Sumatera dan Kalimantan termasyhur di kalangan tabib  Arab,” ujar Marsden.
Selain tingginya permintaan, menurut Marsden, mahalnya harga juga disebabkan kesulitan mendapatkan kapur barus. Marsden menyebutkan, pohon kapur atau kamper memang banyak ditemukan di bagian utara Pulau Sumatera, terutama di hutan-hutan dekat pesisir. Namun, tak semua pohon bisa menghasilkan kapur barus.
“Setiap rombongan pencari kapur barus biasanya ditemani seorang ahli ‘sihir’ yang dapat menentukan mana pohon (kamper) yang ada kapur barusnya,” sebut Marsden. “Sering orang-orang pencari kapur barus itu menjelajahi hutan selama 2-3 bulan tidak mendapatkan hasil memuaskan.”
Pohon yang telah ditebang, menurut Marsden, akan dikelompokkan dalam gelondongan-gelondongan kecil. Jika gelondongan itu mengandung kapur barus, minyak kapur barus mentah tinggal diambil dari bagian tengah kayu tersebut. Kapur barus berbentuk Kristal besar dan hampir transparan disebut kepala, yang lebih kecil dengan potongan yang bersih disebut perut, dan potongan kecil yang digerus dari kayunya langsung disebut kaki. Penamaan ini dibuat sesuai khasiatnya untuk obat.
Marsden juga menyebutkan, selain kapur yang diambil dari bentuk Kristal, pohon kapur juga akan mengeluarkan cairan minyak saat ditebang. Setelah dipanaskan di terik matahari selama seminggu, akan terlihat seperti kapur barus asli. “Tetapi, ini jenis kapur barus paling jelek,” tulis Marsden.
Mac Donald dalam makalah Hasil-hasil Alamiah Sumatera yang dimuat dalam Asiatic Volume VI, tahun 1795, menyebutkan, ada atau tidaknya Kristal kapur dalam pohon kapur bergantung pada usianya. Semakin tua pohon kapur, minyak di dalam pohon akan mengeras sehingga membentuk kapur yang lebih banyak.

Sintetis
Tingginya harga kapur barus membuat orang sejak dulu berupaya membuat tiruannya. Marsden mencatat, tahun 1700-an, pembuatan kapur barus tiruan telah dilakukan orang-orang China dan Jepang. “Kapur tiruan dikirim ke Belanda dan diperhalus sampai menyerupai aslinya,” tulis Marsden.
Belakangan diketahui, kapur dari China dan Jepang itu berasal dari tumbuhan yang berbeda. Pohon kapur dari China dari jenis Cinnamomum camphora, yang dari Jepang dari jenis Laurus camphora. Dalam Encyclopedia Britannica disebutkan, untuk menghasilkan kamper dari Cinnamomum camphora, potongan batang kayu ini harus disuling. Kandungan minyak kamper dalam kayu ini sekitar 5 persen. Dalam sumber yang sama disebutkan, sejak awal tahun 1930-an, kapur barus telah dibuat tiruannya dari alfa-pinene, zat organik yang disuling dari jenis pohon cemara.
Penemuan kamper sintetis berbahan dasar minyak pohon-pohon lain itu membuat harga kapur barus nyaris tak bernilai lagi. Kapur barus dengan mudah ditemukan dan harganya relatif murah. Kapur barus biasa digunakan untuk mengusir bau dan serangga.

Bahan bangunan
Walau pernah sangat populer, keberadaan pohon kapur saat ini semakin langka. Beberapa pohon kapur yang ada pun tak menghasilkan kapur barus. “Sekarang tak ada lagi pawang yang mengetahui pohon kapur mana yang ada kapur barusnya,” kata Camat Barus Safwan Pohan.
Safwan mengatakan, masyarakat Barus hanya mengenal pembuatan minyak dari kayu kapur yang dalam istilah lokal disebut minyak umbil. Namun, Kristal kapur barus yang langsung diambil dari batang kayu kamper saat ditebang tak pernah ditemukan lagi.
“Terakhir kali saya melihat kapur barus waktu remaja, tahun 1980-an. Bentuknya seperti garam, Kristal, berwarna putih,” kata Safwan. “Ayah saya yang bekerja di perusahaan kayu kebetulan mendapatkan. Waktu itu ada penebangan hutan besar-besaran di Barus.”
Anggota Satgas Dinas Kehutanan Tapanuli Tengah untuk Wilayah Sosor Gadong dan Barus, Tony Herbert Panggabean, mengatakan, pohon kapur nyaris punah akibat maraknya pembabatan hutan di Barus dan Singkil tahun 1970-an hingga 1990-an. Padahal, kedua kawasan ini yang jadi habitat alami pohon kapur. “Kualitas kayu kamper sangat bagus. Serangga dan rayap tak doyan sehingga kayu ini termasuk yang diburu untuk bahan bangunan,” katanya.
Sisa-sisa kayu kapur yang terpendam di rawa-rawa pun diburu. Ari (46), warga Desa Siordang, mengatakan, kayu-kayu kapur yang terpendam dalam tanah banyak dicari sebagai bahan bangunan. Kayu-kayu itu berasal dari pohon yang tumbang atau ditebang dan terbenam dalam tanah selama beberapa tahun.
“Kayu kapur bila terpendam dalam tanah semakin kuat,” kata Ari yang sebagian kedainya menggunakan konstruksi kayu kapur. Ari mengatakan, harga per meter kubik kayu kapur yang sudah terpendam Rp 3 juta – Rp 3,5 juta.
Setelah kayu kapur nyaris habis, kini Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah berupaya menanam kembali kapur barus. “Kami diperintahkan mengumpulkan bibit kayu kapur. Tapi di mana mencarinya?” kata Safwan. (AHMAD ARIF dan INGKI RINALDI) ***

Sumber:
*) KOMPAS edisi Sabtu, 26 Mei 2012 hal. 14
  
Share:

Gergasi, Tsunami Dari Samudra Hindia

Perjalanan menyusuri tepian Samudra Hindia, dituntun catatan tentang kejayaan masa lalu, hanya untuk menemui kenyataan: kota-kota yang pudar cahayanya. Barus dan Singkil telah tamat. Padang, Bengkulu, dan Aceh berada dalam bayangan tsunami.
Barus di tepian pantai barat Sumatera pernah menjadi kota yang sedemikian populer. Para pelaut Arab pada abad ke-7 hingga ke 11 menyebut pelabuhan itu Barus, Fansur, Pansur, atau Panchur.
Catatan lebih tua dari para pelaut China menyebut Barus sebagai P’o lu. Disebutkan, pendeta Buddha, I Tsing, dalam perjalanan ke India pada abad ke-7 singgah di tempat bernama P’o-lu-shih di dekat Sribhoga. Ini merupakan pelabuhan terakhir setelah Selat Malaka sebelum menyeberangi Samudra Hindia menuju India.
Catatan tertua mengenai Barus terdapat dalam kitab Geographia yang dibuat Claudius Ptolomeus pada bad ke-2, berdasarkan keterangan para pedagang India. Ptolomeus menyebut Barus sebagai Barousai.
Di pelabuhan yang berada di tepian Samudra Hindia itulah kapal-kapal dagang dari sejumlah negara mencari komoditas berharga, seperti kapur barus, emas, dan madu. Di Barus saat itu diperkirakan berkembang komunitas dagang multietnis.
Temuan prasasti berbahasa Tamil pada 1872 oleh pejabat Belanda, GJJ Deutz, menguatkan hal ini. Prasasti bertahun Saka 1010 atau 1088 Masehi ini, antara lain, menyebutkan tentang perkumpulan dagang suku Tamil sebanyak 1.500 orang di Lobu Tua, Barus, yang memiliki pasukan keamanan dan aturan perdagangan.
Panggilan tim gabungan dari Lembaga Kajian Perancis tentang Asia (Ecole française d’Extrême-Orient/EFEO) Perancis dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada 1995 – 2000 menemukan keragaman artefak di Lobu Tua, mulai dari barang-barang buatan China, India, hingga Arab.
Namun, jejak Barus tiba-tiba menghilang sekitar abad ke-12. Pada abad itu, jejak peninggalan Barus yang sebelumnya tersebar luas tiba-tiba lenyap.
Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menyebutkan, kehancuran Barus karena serangan gergasi. Cerita local menyebutkan, gergasi adalah sosok raksasa yang dating dari lautan.
Setelah hilang tiba-tiba pada sekitar abad ke-12, Barus kembali muncul sekitar empat abad kemudian. Jane Drakard dalam An Indian Ocean Port: Sources for the Earlier History of Barus (1989) menyebutkan, nama Barus dan Fansur kembali disebutkan dalam berbagai catatan pada abad ke-16 hingga abad ke-17. Selain Barus, kota tetangganya, Singkil (dulu disebut Singkel), juga berkembang pesat. Kapal-kapal dagang Belanda, Inggris, dan Portugis berlomba ke Barus dalam perburuan rempah-rempah dan hasil hutan.

Jejak tsunami
Selama ini, hilangnya Barus secara tiba-tiba pada abad ke-12 masih menjadi misteri. Sosok gergasi yang disebutkan Claude Guillot juga mengundang banyak tafsir. Sonny Ch Wibisono, peneliti Puslit Arkenas, menyebutkan, banyak ahli menafsirkan sosok gergasi ini adalah bajak laut yang pada periode itu menguasai perairan Nusantara.
Namun, setelah gelombang tsunami menggulung pantai barat Aceh pada 26 Desember 2004, mulai muncul kesadaran baru bahwa bencana alam itu berperan penting mengubah jalannya sejarah di pantai barat. Petaka delapan tahun lalu itu membuka kesadaran tentang rapuhnya kota-kota yang berada di depan zona penunjaman lempeng ini.
Penelitian Kerry Sieh dari California Institute of Technology sejak 1994 menemukan, wilayah zona subduksi pantai barat Sunatera Sumatera memilik riwayat panjang gempa dan tsunami. Menurut dia, gempa. Menurut dia, gempa dan tsunami pernah terjadi di wilayah ini pada 1381, 1608, 1797, dan yang terakhir tahun 1833.
Belakangan, pada 2008, Widjo Kongko, ahli tsunami dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dan Katrin Monecke dari Kent State University serta lima peneliti lain menemukan jejak tsunami raksasa pernah terjadi tahun 1290 – 1400. Dari temuan deposit tsunami yang tersebar luas, mulai dari Meulaboh hingga Thailand, Widjo memperkirakan, tsunami pada tahun tersebut sekuat dengan yang melanda Aceh pada 2004.
Apakah Barus yang tiba-tiba menghilang pada abad ke-12 itu disebabkan tsunami yang depositnya ditemukan Widjo dan timnya?
“Bisa jadi memang tsunami pernah melanda Barus,” kata Wibisono. Apalagi, dia menemukan, ada perpindahan masyarakat Barus pada masa lalu kea rah bukit. Temuan yang berusia lebih muda, sekitar abad ke-14, kebanyakan ada di sekitar Bukit Hasang.
Jejak tsunami ini pula yang kami temukan saat melihat lokasi penemuan peninggalan arkeologi di Lobu Tua. Hamparan pasir laut memenuhi kebun kopi dan kelapa, sejarak 2 kilometer dari laut. Kawasan ini pernah digali oleh arkeolog dari EFEO Perancis dan Puslit Arkenas.

Jauh dari pantai
Sebelum kedatangan colonial Barat, permukiman pribumi di pantai barat Sumatera kebanyakan menjauh dari laut. Misalnya, Kota Padang di Sumatera Barat. “Dulu, kota-kota di pantai barat Sumatera ada di hulu-hulu sungai, tidak di tepi pantai,” kata arsitek dan ahli tata kota dari Universitas Bung Hatta Padang, Eko Alvares.
Dia mencontohkan, Kota Padang dalam peta Belanda yang dibuat tahun 1781 menunjukkan, lokasi permukiman pribumi berada di sisi selatan Batang Arau di kaki Gunung Padang (Apenberg). Permukiman itu berjarak 1-2 kilometer menjauh dari pantai. Baru setelah kedatangan Belanda, lambat laun permukiman mendekati pantai.
Dalam pengantar buku Witnesses to Sumatra: A Travellers’ Anthology (1995), sejarawan Australian National University, Anthony Reid juga menyebutkan bahwa jantung peradaban Pulau Sumatera sebenarnya ada di pedalaman di sepanjang Bukit Barisan. Masyarakat pribumi Sumatera hanya mendekati pantai untuk berdagang.
Berbagai keeping informasi ini semakin menguatkan tentang jejak tsunami yang barangkali berperan besar dalam evolusi bandar-bandar besar di pantai barat Sumatera pada masa lalu.
Bayangan tsunami pula yang saat ini menghantui Kota Padang dan Bengkulu, dua bandar terbesar di pantai barat Sumatera. Belajar dari sejarah, masa depan dua kota ini tergantung dari kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman gergasi atau raksasa dari laut. (AHMAD ARIF dan AGUNG SETYAHADI) ***

Sumber:
*) KOMPAS edisi  Sabtu, 26 Mei 2012 hal. 1 dan 15.
Share:

Arca Mahakala

Mahakala adalah penjaga pintu masuk bangunan suci agama Hindu yang biasanya terletak di sebelah kiri. Biasanya berpasangan dengan Nandiswara yang terletak di sebelah kanan.
Arca Mahakala biasanya digambarkan dalam sikap berdiri. Bertangan dua dengan tangan kiri lurus ke bawah menempel pada ikatan kain di sebelah kiri pinggang, sedangkan tangan kanan dilipat di depan dada. Leher memakai kalung (hara), telinga beranting (kundala) dan kepala memakai mahkota. Di belakang kepala ada prabha. Pada bagian pinggang kanan terdapat ikatan kain sedangkan di sisi kana sandaran terdapat hiasan sebuah trisula. ***

Share:

Arca Nandiswara

Nandiswara adalah penjaga pintu masuk bangunan suci agama Hindu yang biasanya terletak di sebelah kanan. Biasanya berpasangan dengan Mahakala yang terletak di sebelah kiri.
Arca Nandiswara biasaya digambarkan berdiri. Bertangan dua dengan tangan kiri memegang sebuah gada yag bertumpu di sebelah kaki kiri sedangkan tangan kanan memegang paha kanan. Masing-masing lengan memakai kelat bahu (keyura) dan leher memakai kalung (hara) serta berambut keriting. ***

Share:

Arca Dwarapala

Arca Dwarapala merupakan arca penjaga yang biasanya letakanya berada di depan pintu masuk di kanan dan kiri candi.
Arca Dwarapala biasanya digambarkan berkepala raksasa dengan rambut di gelung ke belakang. Berwajah menyeramkan. Telingan memakai anting panjang (kundala). Leher berkalung (hara). Bertangan dua, tangan kiri berada di depan perut sedangkan tangan kanan membawa gada yang menopang pada bahu kanan. Arca ini dalam sikap berdiri di atas lapik berbentuk bulat. Memakai kain yang panjangnya sampai batas mata kaki. ***

Share:

Arca Ganesa

Ganesa adalah anak Siwa dengan Parwati. Dalam aparajita praccha disebutkan Ganesa mempunyai ciri-ciri berkepala gajah bertangan empat, dua tangan  belakang masing-masing membawa parasu dan aksamala, dua tangan di depan masing-masing membawa mangkuk dan gading, belalai menghisap ke dalam mangkuk. Ciri terakhir ini melambangkan Ganesa dalam kedudukannya sebagai dewa ilmu pengetahuan karena untuk mencari ilmu tidak ada batasan umur sebagaimana belalai yang selalu menghisap ke dalam mangkuk. Selain sebagai dewa ilmu pengetahuan, Ganesa juga dikenal sebagai dewa penolak bala yaitu dengan tangan membawa kapak (parasu).
Arca Ganesa biasanya digambarkan bermahkota, belalai menjulur ke kiri, bertangan empat, tangan kanan belakang membawa kapak (parasu), tangan kanan depan memegang patahan gading, tangan kiri depan membawa mangkuk (patra), tangan kiri belakang membawa tasbih (aksamala). Di belakang kepala ada prabha, leher memakai kalung (hara) dan tali kasta (upawita). Sikap kaki bersila dengan telapak kaki saling bertemu (utkutikasana) dan duduk di atas lapik yang berbentuk padma. ***

Share:

Arca Agastya

Agastya adalah seorang resi dari India yang berjasa dalam melakukan penyebaran agama Hindu hingga ke Indonesia.
Oleh karena kebesaran dan kesucian Maha Resi Agastya, maka ia juga disebut Batara Guru sebagai perwujudan Siwa di dunia mengajarkan dharma. Di dalam sejarah agama Hindu di Indonesia, Resi Agastya disucikan namanya dalam prasasti-prasasti dan kesusasteraan-kesusasteraan kuna. Yang pertama kali menyebut nama Resi Agastya ialah prasasti Dinaya di Jawa Timur tahun Saka 682 di mana seorang raja bernama Gajayana membuat pura suci yang sangat indah untuk Maha Resi Agastya dengan maksud untuk memohon kekuatan suci untuk mengatasi kekuatan yang gelap.
Arca Agastya biasanya digambarkan seorang lelaki tua berjenggot panjang dengan perut buncit. Posisi arca berdiri di atas padmasasana. Mempunya dua tangan dengan tangan kiri memegang sebuah kendi kamandalu dan tangan kanan memegang tasbih (aksamala). Terdapat hiasan trisula di bagian stella. Arca Agastya biasanya diletakkan di relung sebelah selatan Candi Hindu. ***

Share:

Arca Dewi Sri

Dewi Sri merupakan dewi pertanian, dewi padi dan sawah, serta dewi kesuburan di Pulau Jawa dan Bali. Ia dipercaya sebagai dewi yang menguasai ranah dunia bawah tanah juga bulan.
Perannya mencakup segala aspek Dewi Ibu, yakni sebagai pelindung kelahiran dan kehidupan. Ia juga dapat mengendalikan bahan makanan di bumi terutama padi: bahan makanan pokok masyarakat Indonesia; maka ia mengatur kehidupan, kekayaan dan kemakmuran. Berkahnya terutama panen padi yang berlimpah dan dimuliakan sejak masa kerajaan kuna di Pulau Jawa seperti Pajajaran dan Majapahit.
Arca Dewi Sri biasanya digambarkan di atas lapik. Memakai kain panjang. Mempunyai empat tangan dengan dua tangan depan bertemu di depan pusar, sedangkan dua tangan belakang memegang padi. Telinga memakai anting (kundala) dan leher memakai kalung (hara). Masing-masing tangan memakai gelang tangan (kankana) dan kelat bahu (keyura). Arca ini mengenakan mahkota dan pada bagian belakang terdapat prabha. ***

Share:

Arca Parwati

Parwati adalah isteri (sakti) Dewa Siwa dan ibu dari Ganesa. Oleh karena itu, atribut yang dipakainya berhubungan dengan atribut Siwa maupun Ganesa yaitu dua tangan belakang masing-masing membawa aksamala dan kamadalu. Dua tangan yang lain diletakkan di depan perut membawa bungan teratai.
Arca Parwati biasanya digambarkan seorang wanita berdiri di atas lapik yang berbentuk padma dan dipahatkan menjadi satu dengan stella. Kepala bermahkota candrakapala. Ujung telinga terdapat anting panjang (kundala) sampai dada. Di leher sampai di atas payudara terdapat kalung (hara). Di bagian perut terdapat sabuk sebagai pengikat kain yang dipakai sampai di atas telapak kedua kaki. Bertangan empat dengan dua tangan depan bertemu di atas pusar, tangan kanan belakang memegang tasbih (aksamala) dan tangan kiri belakang membawa kebut lalat (camara). Masing-masing tangan memakai kelat bahu (keyura) dan gelang tangan (kankana). Sikap kedua kaki berdiri rapat, ada sebagian untaian kain pada stella. ***

Share:

Arca Durga Mahisasuramardini

Durga Mahisasuramardini adalah salah satu isteri (sakti) Siwa. Nama tersebut mempunyai arti Durga yang membunuh kerbau jelmaan Asura yaitu raksasa yang mengganggu kahyangan. Durga dua tangannya menarik rambut Asura dan ekor kerbau sedangkan enam lainnya membawa cakra, kerang, perisai, pedang dan anak panah.
Arca Durga biasanya digambarkan berdiri di atas kerbau. Bermahkota. Payudara menonjol (natural). Bertangan delapan dengan tangan kanan depan memegang ekor kerbau, tangan kanan belakang satu memegang sesuatu, tangan kanan belakang dua memegang pedang, dan tangan kanan belakang tiga memegang cambuk. Sedangkan tangan kiri depan memegang rambut kepala raksasa, tangan kiri belakang satu memegang busur, tangan kiri belakang dua memegang sesuatu benda, dan tangan kiri belakang tiga memegang tasbih (aksamala). Di atas kerbau terdapat arca raksasa kerdil yang keluar. Sikap kerbau duduk mendekam. Arca ini biasanya diletakkan di relung sebelah utara candi Hindu. ***

Share:

Arca Wisnu

Wisnu adalah salah satu Dewa Trimurti berkedudukan sebagai dewa pemelihara. Diceritakan bahwa pada waktu melawan Vitra, raksasa yang menguasai kekeringan ia menang sehingga kemudian Dewa Wisnu disembah sebagai atau memelihara dunia.
Dewa Wisnu biasanya digambarkan bertangan empat, masing-masing membawa sankha lambang pembebasan manusia dari kesulitan, cakra lambang perputaran dunia, gada lambang kekuatan dan padma lambang kebebasan.
Arca Wisnu biasanya digambarkan dalam sikap berdiri di atas lapik berbentuk bulat telur. Memakai mahkota dan di belakang kepala terdapat prabha. Arca dan prabha dipahatkan menjadi satu dengan stella. Rambut terurai panjang sampai padan kanan dan kiri bahu. Mempunyai empat tangan dengan kedua tangan depan diletakkan di depan perut, tangan kiri belakang memegang siput (sankha) dan tangan kanan belakang memegang padma susun. Telinga memakai anting (kundala) dan leher memakai kalung (hara) serta memakai tali kasta (upawita). Di bagian kanan dan kiri stella terdapat teratai yang keluar dari pot bunga serta kuncup. ***

Share:

Arca Siwa

Siwa merupakan dewa tertinggi Trimurti yang dianggap sebagai dewa perusak. Dewa Siwa digambarkan bertangan empat, masing-masing memegang camara, aksamala, kamandalu dan trisula.
Di tengah mahkotanya terdapat simbol ardhacandrakapal, yaitu bulan sabit dan tengkorak, sedangkan pada keningnya terdapat mata ketiga (trinetra) yang dapat membakar apa saja yang tidak dikehendaki Siwa. Upawitanya berupa ular.
Arca Siwa biasanya digambarkan dalam sikap duduk bersila. Bertangan empat dengan dua tangan bertemu di depan pusar sedangkan dua tangan yang berada di belakang menempel pada stella dan memegang camara, aksamala, kamandalu atau pun trisula. Biasanya arca Siwa diletakkan di ruang utama candi. ***
Share:

Arca Brahma

Brahma merupakan salah satu dari Dewa Trimurti yang berkedudukan sebagai dewa pencipta. Brahma sering digambarkan berkepala empat dengan duduk bersila atau duduk di atas kereta yang ditarik oleh tujuh ekor angsa. Salah satu tangannya memegang aksamala dan tangan lainnya membawa kamandalu.
Secara simbolis keempat wajahnya melambangkan catur wedasasmitha, keempat lengannya melambangkan catur asrama, kamandalu melambangkan alam semesta yang keluar dari air, aksmala yang menggambarkan siklus waktu dan tujuh angsa kendaraannya melambangkan tujuh loka atau dunia.
Arca Brahma biasanya digambarkan duduk bersila. Berkepala empat. Mempunyai empat tangan dengan tangan kanan depan membawa bunga, tangan kanan belakang membawa tasbih (aksamala), tangan kiri depan membawa bunga dan tangan kiri belakang membawa kamandalu. ***

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami