Rabu, 10 Oktober 2012

Candi Gebang

Pada bulan November 1936 seorang penduduk desa sedang menggali tanah untuk mencari batu untuk bahan bangunan, tetapi cangkulnya justru menemukan sebuah arca batu yakni arca Ganesha.
Penemuan ini kemudian ditindak lanjuti oleh Dinas Purbakala dengan melakukan sejumlah ekskavasi arkeologis. Dari penggalian ini diketahui bahwa di lokasi temuan arca Ganesha tersebut ternyata terdapat sisa sebuah bangunan candi yang telah runtuh dan terpendam tanah.
Selain temuan berupa bangunan juga ditemukan sejumlah artefak-artefak lain. Di antaranya adalah wadah gerabah, kotak batu berlubang (peripih), lingga serta sejumlah arca dewa.
Candi Gebang merupakan candi bercorak Hindu. Bangunan ini memiliki ukuran 5,25 x 5,25 m dengan tinggi 7,75 m. Bangunan candi menghadap ke arah timur dengan satu bilik tanpa tangga masuk. Di dalam bilik tersebut terdapat sebuah yoni.


Di sisi kanan pintu masuk terdapat arca Nandiswara. Nandiswara adalah dewa penjaga arah mata angin. Ia sering dijumpai dengan Mahakala. Untuk arca Mahakala di Candi Gebang seharusnya berada di sisi kiri pintu masuk tetapi arca ini telah hilang semenjak candi ditemukan.
Secara administratif, Candi Gebang terletak di Dusun Gebang, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, atau tepatnya berada di belakang Stadion Maguwoharjo hanya saja terhalang oleh sungai bila menuju candi tersebut dari arah stadion. Sedangkan secara astronomis, bangunan Candi Gebang berada pada 110° 24’ 53.62” BT dan 07° 45’ 04.01” LS.


Penamaan candi yang ditemukan pada tahun 1936 ini didasarkan pada lokasi candi itu berada, yakni di Desa Gebang. Penamaan sebuah candi selain dari keberadaannya, candi juga bisa dinamai berdasar legenda yang dikenal oleh masyarakat atau juga didasarkan pada penyebutan dari sebuah prasasti.
Pada saat pertama kali ditemukan, Candi Gebang dalam kondisi runtuh total hanya tersisa bagian kaki. Tampak jika Candi Gebang juga tertimbun endapan lahar Merapi. Di wilayah Yogyakarta cukup banyak ditemukan bangunan candi yang tertimbun oleh endapan vulkanik. Di antaranya Candi Kedulan, Candi Sambisari, Candi Kadisoka serta Candi Morangan.
Masa pendirian Candi Gebang belum bisa diketahui dengan pasti. Hanya berdasar ciri arsitekturnya, agaknya Candi Gebang didirikan dari periode yang tua yakni sekitar tahun ± 730 hingga 800 Masehi.
Ciri arsitektur tersebut tampak pada relief kepala manusia di bagian atap candi yang seolah-olah melongok dari sebuah jendela. Ciri semacam ini dinamakan dengan Kudu. Relief Kudu juga dijumpai pada Candi Bima di kompleks percandian Dieng.
Setelah selesai dipugar pada tahun 1940, terlihat bahwa sejumlah arca pengisi relung pada tubuh bangunan kosong yakni di relung candi sisi utara dan selatan. Hanya di sisi barat saja yang berisi arca Ganesha yang duduk di atas lapik berbentuk yoni. Ganesha merupakan dewa penghilang segala marabahaya.
Sebagai upaya pelestarian peninggalan sejarah dan budaya, maka di tahun 1937 hingga 1939 Candi Gebang dilakukan pemugaran oleh Dinas Purbakala (Oudheid Dienst) yang dipimpin oleh Prof. DR. Van Romondt.
Saat ini kita sebagai generasi penerus sudah seharusnya untuk turut menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah yang sangat berharga ini. *** [071012]

0 komentar:

Posting Komentar